Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
Banyak kematian dari kasus yang wajar terjadinya tak dapat diramalkan sebelumnya,
mendadak atau merupakan kematian tak ada yang melihat. Kematian mendadak sering terjadi
dan didapatkan pada orang yang sebelumnya tampak dalam keadaan yang sehat. Kematian
mendadak yang disebabkan oleh penyakit, seringkali mendatangkan kecurigaan baik bagi
penyidik maupun masyarakat umum, khususnya bila kematian tersebut menimpa orang yang
cukup dikenal oleh masyarakat, kematian di hotel, cottage atau motel.
Kematian mendadak oleh karena penyakit misalnya pada Penyakit Jantung Koroner
salah satu penyebabnya dapat disebabkan akibat penggunaan steroid pada kalangan
bodybuilder dan masyrakat gym seperti penggunaan anabolik androgenik steroid (AAS).
Suplemen ini sangat umum diperjualbelikan secara bebas.
Hal yang sangat ironis adalah para pemakai steroid umunya memiliki pengetahuan
yang sangat terbatas mengenai suplemen ini.
Hasil otopsi yang pernah dilaporkan selama lebih dari lima setengah tahun, pada
Office Chief Medical Examiner, New York, dilaporkan 2030 kasus kematian yang wajar,
yang dianalisis oleh Helpern dan Repson. Dari hasil tersebut penyakit sistem kardiovaskuler
merupakan penyebab kematian mendadak yang menduduki peringkat pertama sebesar 44,9
%, lalu sistim pernpasan sebesar 23,1 %, sistim saraf (otak dan selaput otak) sebesar 17,9 %,
sistim pencernaan dan urogenital sebesar 9,7 % dan sebab-sebab lainnya sebesar 4,4 %. Paper
ini dibuat untuk membahas mengenai hormon yang berperan dalam kematian mendadak
dibagian Forensik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN KEMATIAN MENDADAK
Definisi WHO untuk kematian mendadak adalah kematian yang terjadi pada 24
jam sejak gejala-gejala timbul, namun pada kasus-kasus forensik, sebagian besar kematian
terjadi dalam hitungan menit atau bahkan detik sejak gejala pertama timbul.
Kematian mendadak dapat berupa:
1. Kematian seketika (Instantaneous death)
2. Kematian tak terduga (Unexpected death)
3. Kematian tanpa saksi atau sebab kematian yang tidak jelas (Unwitness death)
Cara menangani kematian mendadak:
1. Keterangan dari korban dikumpulkan baik dari keluarga, teman-teman, polisi dan
saksi-saksi yang meliputi :
a. Usia
b. Penyakit yang pernah diderita
c. Kesehatan akhir-akhir ini, apa telah berobat dan dimana serta bagaimana hasil

2.

3.

4.
5.

laboratoriumnya.
d. Tingkah laku yang aneh.
Apakah ada hal-hal yang mencurigakan, misalnya:
a. Makan soto kemudian meninggal
b. Habis bertengkar dengan seseorang kemudian meninggal
c. Apakah pernah kedatangan tamu
Keadaan sekitar korban bagaimana
a. Teratur atau berantakan
b. Kamar terkunci dari dalam atau tidak
c. Apakah ditemukan barang-barang yang mencurigakan
Apakah korban tersebut diasuransikan.
Pada pemeriksaan luar, apakah ditemukan tanda-tanda kekerasan atau hal-hal lain
yang mencurigakan.

B. PREVALENSI KEMATIAN MENDADAK


Kematian mendadak terjadi empat kali lebih sering pada laki-laki dibandingkan
pada perempuan. Penyakit pada jantung dan pembuluh darah menduduki urutan pertama
dalam penyebab kematian mendadak, dan sesuai dengan kecenderungan kematian
2

kematian mendadak pada laki-laki yang lebih besar, penyakit jantung dan pembuluh darah
juga memiliki kecenderungan serupa.
Penyakit jantung dan pembuluh darah secara umum menyerang laki-laki lebih
sering dibanding perempuan dengan perbandingan 7 :1 sebelum menopause, dan menjadi
1 : 1 setelah perempuan menopause. Di Indonesia,seperti yang dilaporkan Badan Litbang
Departemen Kesehatan RI, persentase kematian akibat penyakit ini meningkat dari 5,9%
(1975) menjadi 9,1% (1981), 16,0% (1986) dan 19,0% (1995).
Tahun 1997 -2003 di Jepang dilakukan penelitian pada 1446 kematian pada
kecelakaan lalu lintas dan dari autopsi pada korban kecelakaan lalu lintas di Dokkyo
University dikonfirmasikan bahwa 130 kasus dari 1446 kasus tadi penyebab kematiannya
digolongkan dalam kematian mendadak, bukan karena trauma akibat kecelakaan lalu
lintas.
C. TINDAKAN PADA KASUS KEMATIAN MENDADAK
Setiap kematian mendadak harus diperlakukan sebagai kematian yang tidak wajar,
sebelum dapat dibuktikan bahwa tidak ada bukti-bukti yang mendukungnya. Dengan
demikian dalam penyelidikan kedokteran forensik. Pada kematian mendadak atau terlihat
seperti wajar, alasan yang sangat penting dalam otopsi adalah menentukan apakah terdapat
tindak kejahatan.
Dari sudut kedokteran forensik, tujuan utama pemeriksaan kasus kematian
mendadak adalah menentukan cara kematian korban.

D. ASPEK MEDIKOLEGAL NATURAL SUDDEN DEATH


Pada tindak pidana pembunuhan, pelaku biasanya akan melakukan suatu
tindakan/usaha agar tindak kejahatan yang dilakukanya tidak diketahui baik oleh
keluarga, masyarakat dan yang pasti adalah pihak penyiidik (polisi) , salah satu modus
operandus yang bisa dilakukan adalah dengan cara membawa jenazah tersebut ke rumah
sakit dengan alasan kecelakaan atau meninggal di perjalanan ketika menuju kerumah sakit
(Death On Arrival) dimana sebelumnya almarhum mengalami serangan suatu penyakit
( natural sudden death).

Pada kondisi diatas, dokter sebagai seorang profesional yang mempunyai


kewenangan untuk memberikan surat keterangan kematian harus bersikap sangat hati-hati
dalam mengeluarkan dan menandatangani surat kematian pada kasus kematian mendadak
(sudden death) karena dikhawatirkan kematian tersebut setelah diselidiki oleh pihak
penyidik merupakan kematian yang terjadi akibat suatu tindak pidana.
Kesalahan prosedur atau kecerobohan yang dokter lakukan dapat mengakibatkan
dokter yang membuat dan menandatangani surat kematian tersebut dapat terkena sangsi
hukuman pidana. Ada beberapa prinsip secara garis besar harus diketahui oleh dokter
berhubungan dengan kematian mendadak akibat penyakit yaitu:
1. Apakah pada pemeriksaan luar jenazah terdapat adanya tanda-tanda kekerasan yang
signifikan dan dapat diprediksi dapat menyebabkan kematian ?
2. Apakah pada pemeriksaan luar terdapat adanya tanda-tanda yang mengarah pada
keracunan ?
3. Apakah almarhum merupakan pasien (Contoh: Penyakit jantung koroner) yang rutin
datang berobat ke tempat praktek atau poliklinik di rumah sakit ?
4. Apakah almarhum mempunyai penyakit kronis tetapi bukan merupakan penyakit
tersering penyebab natural sudden

death ?

Adanya kecurigaan atau kecenderungan pada kematian yang tidak wajar


berdasarkan kriteria tersebut, maka dokter yang bersangkutan harus melaporkan
kematian tersebut kepada penyidik (polisi) dan tidak mengeluarkan surat kematian.

Alasan pemeriksaan kasus kematian mendadak perlu beberapa anatara lain :


1. Menentukan adakah peran tindak kejahatan pada kasus tersebut
2. Kalim pada asuransi
4

3. Menentukan apakah kematian tersebut karena penyakit akibat industry atau


merupakan kecelakaan belaka, terutama pada pekerja industry.
4. Adakah faktor keracunan yang berperan
5. Mendeteksi epidemiologi penyakit untuk pelayanan kesehatan masyarakat.
Pada kasus kematian yang terjadi seketika atau tidak terduga, khususnya bila tak ada
tanda-tanda penyakit sebelumnya dan kemungkinan sangat kecil, untuk menetukan
penyebabnya hanya ada satu cara yaitu dilakukannya pemeriksaan otopsi pada jenazah,
bila perlu dilengkapi dengan pemeriksaan tambahan lain seperti pemeriksaan toksikologi.
Hal ini sangat penting untuk menentukan apakah termasuk kematian mendadak yang
wajar.
Adapun kepentingan otopsi antara lain :
1. Untuk keluarga korban, dapat menjelaskan sebab kematian
2. Untuk kepentingan umum, melindungi yang lain agar dapat terhindar dari
penyebab kematian yang sama.
Penentuan kasus kematian adalah berdasarkan proses interpretasi yang meliputi :
1. Perubahan patologi anatomi, bakteriologi dan kimia
2. Pemilihan lesi yang fatal pada korban.
Pada kasus kematian mendadak yang sering kita hadapi, tindakan yang mampu
dilakukan pada kematian mendadak adalah :
1. Semua keterangan almarhum dikumpulkan baik dari keluarga, teman, polisis, atau
saksi-saksi, yang meliputi : usia, penyakit yang pernah diderita, pernah berobat di
mana, hasil pemeriksaan laboratorium, tingkah laku yang aneh, dll
2. Keadaan korban dan sekitar korban saat ditemukan, pakaian yang ditemukan,
tanda-tanda kekerasan atau luka, posisi tubuh, temperature, lebam mayat, situasi
TKP rapi atau berantakan, adanya barang-barang mencurigakan
3. Keadaan sebelum korban meninggal
4. Bila sebab kematian tidak pasti, sarankan kepada keluarga untuk melapor kepada
polisi, jika polisi tidak meminta visum et repertum dapat diberi surat kematian
5. Dalam mengisi formulir B, pada sebab kematian bila tidak diketahui sebab
kematiannya ditulis tidak diketahui atau mati mendadak
6. Bila dilakukan pemeriksaan dalam, buat preparat histopatologi bagian organ-organ
tertentu diperiksa dan pemeriksaan toksikologiSebaiknya jangan menandatangani

surat kematian tanpa memeriksa korban, jangan menyentuh apapun terutama yang
dipakai sebagai barang bukti.
Dari hasil pemeriksaan kemungkinan :
1. Korban meninggal secara wajar dan sebab kematian jelas, misalnya coronay heart
disease, maka diberi surat kematian dan dikuburkan
2. Sebab kematian tidak jelas, keluarga/dokter lapor ke polisi, kemudian polisi minta
visum et repertum, setelah SPVR dating maka korban diotopsi untuk menetukan
sebab kem,kmatian korban
3. Korban meninggal secara tidak wajar, misalnya ditemukan adanya tanda-tanda
kekerasan, maka keluarga atau dokter lapor ke polisi
4. Korban diduga meninggal secara wajar, misalnya CVA tetapi juga ditemukan
tanda-tanda kekerasan, maka keluarga atau dokter lapor ke polisi
5. Keadaan korban dan sekitar korban saat ditemukan, pakaian yang ditemukan,
tanda-tanda kekerasan atau luka, posisi tubuh, temperature, lebam mayat, situasi
TKP rapi atau berantakan, adanya barang-barang mencurigakan
6. Keadaan sebelum korban meninggal
7. Bila sebab kematian tidak pasti, sarankan kepada keluarga untuk melapor kepada
polisi, jika polisi tidak meminta visum et repertum dapat diberi surat kematian
8. Dalam mengisi formulir B, pada sebab kematian bila tidak diketahui sebab
kematiannya ditulis tidak diketahui atau mati mendadak
9. Bila dilakukan pemeriksaan dalam, buat preparat histopatologi bagian organ-organ
tertentu diperiksa dan pemeriksaan toksikologi
10. Sebaiknya jangan menandatangani surat kematian tanpa memeriksakorban, jangan
menyentuh apapun terutama yang dipakai sebagai barang bukti.

E. ANABOLIK ANDROGENIK STEROID

Gambar 1. Suplemen steroid oral


Steroid merupakan sebuah istilah dalam ilmu biokimia yang berarti suatu campuran
atau senyawa organik yang laryt lemak.
Steroid yang sering digunakan oleh para bodybuilder dan masyarakat gym dikenal
dengan nama Anabolik Androgenik Steroid (AAS). Anabolik berarti membangun,
sedangkan androgenik artinya memiliki karakteristik androgenik. Steroid jenis umumnya
diproduksi secara sintetis termasuk eksogen testosteron, testosteron sintetis, dan
testosteron sintetis turunannya.
Tabel AAS yg umum digunakan
Oral drugs
Ethylesternol, Fluvoxymesterone

Injectable drugs
Testoterone salts : cypionate, decanoate,
propionate, phenopropiate

Methyltestosterone, Danazol, Furazabol

Nadrolone salts : decanoate, phenopropionate


Methanolone enathenate

Metandienone, Stanozolol

F. FUNGSI DAN KEGUNAAN AAS SERTA HUBUNGANNYA DENGAN


KEMATIAN MENDADAK
Sebenarnya efeknya sama persis dengan androgen (seperti testosterone). Dua efek
utama dari hormon tersebut, antara lain efek anabolik dan efek androgenik.

Efek anabolik yang dimaksud antara lain meningkatkan sintesis protein dan
pertumbuhan massa otot, memiliki efek anti-katabolisme (menghentikan penghancuran
jaringan/terutama protein-otot), menstimulasi masukan kalsium kedalam otot dan
stimulasi pertumbuhan tulang, meningkatkan kekuatan kontraksi otot, meningkatkan
pembentukan sel darah merah, menurunkan persentase lemak tubuh dan pembentukan
otot dengan kandungan lemak yang rendah.

Gambar 2. Efek Anabolik


Sedangkan efek androgenik terhadap tubuh manusia sering dikenal dengan efek
maskulin meliputi perkembangan karakteristik seksual pria (ukuran kelamin,
pertumbuhan prostat, produksi sperma, pertumbuhan rambut, dan suara yang berat) dan
perubahan psikologis pria.
Akibatnya AAS menjadi salah satu suplemen yang sangat umum digunakan oleh
para bodybuilder dan masyarakat gym yang menambahkan tubuh yang ideal dalam
waktu yang relatif cepat.
Hormon steroid tersebut sebenarnya memiliki indikasi medis, antara lain :
-

Pada penderita gangguan produksi sex hormone (penyakit hypogonadisme

Ggn metabolisme ggn pertumbuhan

Pengecilan otot

Perbaikan jaringan tulang yg trgg

Pengeroposan tulang
Penggunaan obat ini kebanyakan digunakan oleh laki-laki, remaja akhir dan

pertengahan tiga puluhan. Terlepas dari perkembangan otot, penggunaan rutin AAS
8

dikaitkan dengan sejumlah perubahan fisiologis langsung, termasuk atrofi testis dan
spermatogenesis, sementara bagi perempuan biasanya digunakan untuk maskulinisasi.
Penggunaan AAS menimbulkan sindrom ketergantungan yang dikaitkan dengan
peningkatan risiko kematian dini, kematian terjadi terutama karena toksisitas obat,
kemudian bunuh diri dan pembunuhan.
Banyak dari risiko ini diduga berasal dari gejala sisa fisiologis dan psikologis AAS
serta penyebab kematian adalah karena abnormal rasio testosteron atau epitestosterone,

diikuti oleh metabolit dari nandrolone , stanozolol dan methandienone. Zat selain steroid
yang terdeteksi, paling sering lants psychostim.
Efek yang ditimbulkan adalah:
1. Atrofi testis (fibrosis testis dan mengganggu spermatogenesis )
2. Penyakit kardiovaskular
- Yaitu melalui peningkatan kandungan kolesterol LDL dan pembesaran otot
-

jantung
Peningkatan LDL dalam darah risiko tersumbatnya pembuluh darah jantung

(Penyakit Jantung Koroner).


Gagal jantung (heart failure) dan kematian mendadak (sudden death)

konsekuensi dari pembesaran jantung akibat konsumsi AAS.


3. Penyakit hati
Seperti peningkatan risiko hepatitis, kolestasis, dan tumor hati.
4. Psikotropika
Meningkatnya agresivitas, agitasi, ideation paranoid, perubahan suasana hati, dan
depresi. .

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

Dari penjabaran sebelumnya dapat disimpulkan bahwa kematian mendadak adalah


kematian pada 24 jam saat gejala-gejala timbul, namun dalam kasus forensik kematian
9

mendadak tersebut biasanya timbul beberapa detik atau menit setelah gejala dimana
prevalensi nya lebih banyak pada pria dibandingkan wanita yang semakin tahun semakin
meningkat.
Kematian mendadak salah satu penyebabnya dapat terjadi karena penyakit jantung
koroner akibat penggunaan suplemen Anabolik Androgenik Steroid di kalangan bodybuilder
dan masyarakat gym, hal ini dikarenakan kurang ketidaktahuan tentang suplemen tersebut.
Untuk itu bagi bodybuilder dan masyarakat gym sebaiknya melakukan fitnes tanpa
menggunakan suplemen tersebut agar terhindar dari berbagai efek yang ditimbulkan yang
dapat mengganggu kesehatan tubuh danmenimbulkan risiko terjadinya kematian mendadak.

10