Anda di halaman 1dari 590

Pembahasan

Paket Soal 1

1. E. Insulin
Keywords: tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran
sejak satu jam SMRS. Pasien tampak bingung disertai
keringat dingin. Pemeriksaan penunjang didapatkan:
GDS 20 mg/dl. Pasien lalu diberi injeksi bolus dekstrosa
40% oleh dokter ugd. Setelah itu, kesadaran pasien
berangsur-angsur membaik dan GDS menjadi 105
mg/dl. Pasien ternyata memiiki riwayat DM.
Diagnosis: penurunan kesadaran ec. hipoglikemia, Riw.
Dm tipe II
Tatalaksana: Inj. Dextrose 40% 2 flc
Obat yang sering dan cepat menyebabkan hipoglikemia
adalah insulin.

Dasar teori
Hipoglikemia: suatu keadaan klinis yang terjadi akibat penurunan
kadar glukosa darah dibawah rentang batas normal.
Etiologi:

Pelepasan insulin berlebihan oleh pankreas


Dosis insulin atau obat lainnya yang berlebihan
Asupan karbohidrat kurang
Konsumsi alkohol berlebihan

Gejala:

Fase pertama: palpitasi, berkeringat banyak, tremor, lapar, mual, rasa


gelisah (glukosa 50 mg/dl)
Fase kedua: pusing, penglihatan kabur, ketajaman mental menurun,
hilangnya ketrampilan motorik yang halus, penurunan kesadaran, kejangkejang dan koma (glukosa 20 mg/dl)

Dasar teori
Diagnosis hipoglikemi ditegakkan berdasarkan trias Whipple,
yaitu:

Adanya gejala dan tanda hipoglikemia


Kadar glukosa plasma yang rendah
Terjadi pemulihan gejala setelah kadar glukosa plasma kembali normal

Tatalaksana:

Pasien sadar: pemberian cairan glukosa


Pasien tidak sadar: inj dextrosa 40% 2 flc dilanjutkan infus D10%/6jam

2. E. Peningkatan
Glukoneogenesis
Keywords: keluhan sering merasa lemas sejak satu
bulan lalu. Padahal, pasien mengaku dirinya sering
makan karena cepat merasa lapar. Pasien juga
mengeluh cepat haus meskipun dia tidak
beraktifitas berat. Setiap malam, pasien sering
keluar masuk toilet karena kencing hingga 10x tiap
malamnya. Pemeriksaan penunjang: GDS 185
mg/dl, GDP 168 mg/dl.
Diagnosis: DM tipe II
Tatalaksana: insulin, obat hipoglikemia oral

Dasar teori
Patofisiologi DM tipe
I dan II

3. C. Graves disease
Keywords: mengalami penurunan berat badan yang
begitu drastis dalam satu bulan terakhir. Berat badan
pasien turun 10 kg dalam satu bulan ini. Pasien juga
mengeluh
gampang berkeringat meskipun tidak
beraktifitas berat, lebih mudah tersinggung, serta
tangannya selalu gemetar. Mata kanan pasien tampak
menonjol keluar. Dari pemeriksaaan fisik ditemukan:
nadi 110x/menit, teraba massa pada leher yang
mengikuti gerakan menelan.
Diagnosis: graves disease
Tatalaksana: obat anti tiroid

Dasar teori
Graves disease: penyakit kelenjar tiroid yang disebabkan oleh autoimun
Gejala dan tanda:

Pembesaran kelenjar tiroid difus


TSH dan FT4
Eksoftalmus
Iritabilitas
Mudah lelah
Keringat berlebih
BB turun
Palpitasi
BAB sering
Oligomenore atau amenore
Gejala tirotoksikosis: takikardia, atrial fibrilasi, tremor halus, refleks meningkat,
berkeringat lebih, , rambut rontok.

Dasar teori
Patofisiologi

4. D. Gangguan toleransi
glukosa
Keywords: keluhan sering kencing setiap malam
hari dalam satu bulan terkahir. Pasien juga sering
makan dan minum banyak karena cepat merasa
lapar dan haus. Pemeriksaan penunjang GDS 175
mg/dl, GDP 100 mg./dl, dan OGTT 150 mg/dl.
Diagnosis: Gangguan toleransi glukosa
Tatalaksana: modifikasi lifestyle

Dasar teori
Alur diagnosis DM
tipe II (PERKENI)

5. D. HT urgency
Keywords: mengalami sakit kepala sejak tiga jam
SMRS. Pasien mengaku pertama kali merasakan
sakit kepala seperti itu. Pasien tidak pernah cek
kesehatan sebelumnya. Dari pemeriksaaan fisik
ditemukan: TD 250/140 mmHg, nadi 100x/menit,
suhu 36,7oC, napas 18xmenit.
Diagnosis: HT urgency (belum ada kerusakan organ
target)

Tatalaksana: obat anti hipetensi

Dasar teori
Krisis hipertensi adalah suatu keadaan peningkatan tekanan darah, yang

mendadak (sistole >180 mmHg dan/atau diastole >120 mmHg), pada


penderita hipertensi, yang membutuhkan penanggulangan segera.
Diklasifikasikan menjadi dua:
Hipertensi emergency: peningkatan drastis tekanan darah dengan gejala dan

tanda kerusakan organ target, yang harus segera diturunkan dalam hitungan
menit menggunakan terapi parenteral.
Hipertensi urgency: peningkatan tekanan darah tanpa kerusakan organ target
sehingga penurunan bisa menggunakan terapi oral agar tercapai dalam hitungan

jam.

Target Penurunan TD
Hipertensi emergensi
Diastolik 110 mmHg atau berkurangnya MAP 25%
dalam 2 jam
Setelah itu penurunan dilanjutkan dalam 12-16 jam
hingga mendekati normal

Hipertensi urgensi
Penurunan bertahap dalam 24 jam

Sumber : Emed

Hipertensi Urgensi
Obat

Dosis

Awitan

Kaptopril
Klonidin

6,25-50 mg oral atau sublingual


Awal per oral 0,15 mg, selanjutnya 0,15 mg
tiap jam, dosis total 0,9 mg

15 menit
0,5-2 jam

Labetalol
Furosemid

100-200 mg per oral


20-40 mg per oral

0,5-2 jam
0,5-1 jam

HipertensiEmergensi
Obat
Nicardipine

Furosemid
Nitrogliserin
Diltiazem

Dosis
Mulai dgn dosis 5mg/jam,
naikkan 2,5mg/jam tiap 15 menit
bila target belum tercapai
20-40 mg (hanya bila ada retensi
cairan)
Infus 5-100 mcg/menit

Awitan
5-20 menit

Lama Kerja
1-4 jam

5-15 menit

2-3 jam

2-5 menit

5-10 menit

Segera

1-2 menit

Bolus IV 10 mg (0,25mg/kgBB)
dilanjutkan infus 5-10 mg/jam

Klonidin

6 ampul dalam 250 ml cairan


infus, dosis titrasi

Nitropusid

Infus 0,25-10 mcg/kgBB/menit


(maks 10 menit)

6. A. Sirosis Hepatis
Dekompensata
Keywords: karena perutnya membesar sejak tiga
minggu SMRS. Selain itu, pasien juga mengeluh sering
merasa lemas dan nafsu makan berkurang. Kulit dan
matanya juga tampak kuning yang mulai muncul empat
hari lalu. Dari pemeriksaaan fisik ditemukan: TD 100/60
mmHg, nadi 100x/menit, suhu 36,7oC, napas 24xmenit,
sklera ikterik, hepar dan lien tidak teraba, shifting
dullness (+), spider nevi (+), palmar eritema (+).
Diagnosis: sirosis hepatis dekompensata (banyak gejala
dan tanda)
Tatalaksana: terapi masing-masing komplikasi

Dasar teori
Sirosis hepatis adalah uatu penyakit dimana sirkulasi mikro, anatomi
pembuluh darah besar, dan seluruh struktur hati mengalami perubahan
menjadi irregular, dan terbentuknya jaringan ikat (fibrosis) di sekitar
parenkim hati yang mengalami regenerasi.
Dibagi menjadi kompensata (gejala minimal, hanya sebatas cepat lelah
dan nafsu makan turun) dan dekompensata (banyak gejala dan tanda)
Etiologi:

Hepatitis C (26%)
Alcoholic Liver Disease (21%)
Penyebab Cryptogenik/Tidak diketahui (18%)
Hepatitis C + Alkohol (15%)
Hepatitis B (15%)
Lain-lain (5%

Dasar teori
Gejala dan tanda:
Hipertensi portal
Edema dan asites
Hepatorenal syndrome
Hepatic Encephalopathy

Mudah lelah, nafsu makan menurun

7. B. Doxazosin
Keywords: mengalami sakit kepala sejak satu hari lalu. Sakit

kepala dirasakan berdenyut-denyut dan dirasakan di seluruh sisi


kepala. Dari pemeriksaaan fisik ditemukan: TD 180/100 mmHg,
nadi 100x/menit, suhu 36,7oC, napas 20xmenit. Pasien memiliki

riwayat hipertensi dan BPH.


Diagnosis: HT gr. II dan BPH
Tatalaksana: obat antihipertensi, yang tepat pada penderita BPH

adalah golongan alfa-1 bloker yaitu terasozin dan doxazosin.

Dasar teori
Alfa-1 bloker:
Selektif menghambat reseptor a-1.
Berkerja di pembuluh darah perifer dan
menghambat pengambilan katekolamin pada
sel otot halus dan menyebabkan vasodilatasi
dan penurunan tekanan darah
Memberikan keuntungan pada pasien BPH
karena memblok reseptor postsinaptik alfa
adrenergik pada prostat sehingga menyebabkan
relaksasi dan aliran urin berkurang.
Efek samping: pusing sementara, hipotensi
ortostatik, palpitasi

8. C. Bisoprolol
Keywords: mengeluh nyeri dada sebelah kiri sejak satu
jam SMRS. Nyeri dirasakan tembus ke belakang dan
disertai dengan keringat dingin. Nyeri tersebut semakin
terasa saat pasien beristirahat dan mulai muncul sejal
satu tahun lalu. Pasien selama ini rutin kontrol ke
puskesmas dan rutin meminum captopril. Dari
pemeriksaaan fisik didapatkan: TD 170/90 mmHg, nadi
90x/menit, suhu 36,7oC, napas 16xmenit.
Diagnosis: Acute coronary syndrome + HT gr. II
Tatalaksana: Morfin, Oksigen, Nitrogliserin, Aspilet,
obat anti hipertensi

Dasar teori
ACS: sekumpulan keluhan dan tanda klinis yang
sesuai dengan iskemia miokardium akut, yaitu:

Nydada retrosternal, pasien sulit melokalisir rasa


nyeri
Nyeri seperi ditindih, diremas,
Nyeri menjalar ke lengan kiri, bahu, punggung,

leher, rahang abwah


Nyeri biasanya > 20 menit
Disertai gejala sistemik: mual, muntah, dan
keringat dingin.

Terbagi menjadi 3 tipe: UAP, NSTEMI, STEMI

Dasar teori
ALGORTIMA ACUTE CORONARY SYNDROME
Terapi: MONA+BAH
Morfin, Oksigen, Nitrogliserin, Aspirin, Beta bloker,
ACE-I inhibitor/ARB, Heparin
Beta bloker ( Class I level A):
Mengurangi 14% risiko kematian pada 7 hari
pertama setelah onset
Mengurangi 13% progretivitas PJK

9. D. PPOK
Keywords:
Laki-laki 65 tahun, sesak napas sejak 6 bulan memberat 1
minggu terakhir
Batuk berdahak kental kuning kehijauan, perokok berat
sejak 43 tahun yang lalu.

Kemungkinan diagnosis pada pasien ini adalah


PPOK.

PPOK
Definisi:

Hambatan aliran udara yang tidak


sepenuhnya reversibel, progresif,
berhubungan dengan respon
inflamasi paru terhadap
partikel/gas berbahaya, disertai
efek ekstraparu
Gabungan antara obstruksi
saluran napas kecil & kerusakan
parenkim

Faktor Risiko:

Asap rokok, polusi udara, stres


oksidatif, genetik, tumbuh
kembang paru, sosial ekonomi

Manifestasi Klinis:

Sesak progresif, persisten,


memberat dengan aktivitas,
berat, sukar bernapas
Batuk kronik
Batuk kronik berdahak
Riwayat faktor risiko

Pemeriksaan Penunjang:

Spirometri
DPL & AGD
Radiologi toraks (hiperinflasi,
hiperlusens, ruang retrosternal
melebar, diafragma mendatar,
jantung pendulum)

Klasifikasi PPOK

Tatalaksana PPOK

Bronkiektasis
Bronkiektasis adalah pelebaran
abnormal bronkus ukuran
medium disertai destruksi
jaringan dinding bronkus,
umumnya akibat infeksi lama.
DIAGNOSIS
Anamnesis
Batuk kronik produktif, dahak
tiga lapis
Hemoptisis
Sesak napas
Malaise

Pemeriksaan Fisis
Ronki basah, ronki kering,
mengi
Pemeriksaan Penunjang
X-ray dan CT-scan:
honeycombing
TATA LAKSANA
Antibiotik
Terapi dada

10. A. Plasmodium vivax


Keywords: mengeluh demam menggigil sejak lima
hari SMRS, mual dan muntah, baru pulang bertugas
dari wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia,
suhu 38,7oC, pemeriksaan darah tepi ditemukan
eritrosit membesar dan ameboit.
Diagnosis: malaria vivax
Tatalaksana: obat anti malaria

Dasar teori
Malaria vivax:

Penyakit: malaria tersiana, malaria vivax


Host definitif: nyamuk Anopheles
Host perantara:manusia
Patologi: demam,suhu badan bisa 40,6oC,menggigil,anemia,
splenomegali
Diagnosis: temukan parasit plasmodium vivax pada sediaan darah
Terapi: klorokuin, artemisinin,primakuin

Dasar teori

Dasar teori

11. B. Kultur darah


Keywords
Laki-laki, 35 tahun, demam sejak 1 minggu yang lalu
disertai gejala-gejala demam tifoid.
Pemeriksaan yang tepat?

Thypoid
Gejala khas pada typhoid
Stepwise fever pattern polademamdimanasuhuakanturun di
pagidansuhusemakintinggidariharikehari.
Minggu pertama: gejala gastrointestinal (nyeriperut, konstipasi),
batuk, sakitkepala.
Akhir minggu pertama: suhu masuk fase plateau (39-400C), muncul
rose spot (salmon-colored, blanching, truncal, maculopapules)
Minggu kedua: gejala di atas meningkat, dapat ditemukan
splenomegali. Bradikardirelatif, dicrotic pulse (double beat, the
second beat weaker than the first)
Minggu ketiga:takipnue, distensiperut, diarehijau-kuning (pea soup
diarrhea), dapat masuk thypoid state(apatis, confusion, psychosis),
dapat terjadi perforasi ususdan peritonitis
Minggu keempat: jika individu tersebut bertahan, gejala akan
membaik

Pemeriksaan tifoid: pada minggu pertama dapat


dilakukan pemeriksaan tubex atau kultur darah
dengan media empedu dimana kuman
tersekuestrasi di empedu

Pada minggu kedua, mengalami bakteremia


sehingga dapat diperiksa menggunakan widal
Hasil positif jika terjadi kenaikan titer 4x lipat atau Anti-O
1/320 atau anti-H 1/640

12. C. DHF derajat II


Keywords: mengalami mimisan setelah bangun
tidur. Pasien juga memiiki riwayat demam sejak tiga
hari lalu. Dari pemeriksaaan fisik didapatkan: TD
100/60 mmHg, nadi 100x/menit, suhu 37,7oC,
napas 23xmenit, petekie (+), hepar teraba dua jari
di bawah arcus costae. Pemeriksaan penunjang Hb
13 g/dl, leukosit 4500/ul, ht 42, trombosit 9000/ul.
Diagnosis: DHF derajat II

Tatalaksana: terapi cairan, antipiretik

Dasar teori
DHF: penyakit yang
disebabkan oleh infeksi
virus dengue.

Manifestasi klinis:

Demam
Nyeri otot/sendi
Leukopenia
Ruam
Limfadenopati
Trombositopenia
Diatesis hemoragik

Dasar teori
PATOFISIOLOGI DAN KLASIFIKASI
DHF

13. D. Hepatitis B Kronik


Keywords:

Mual dan cepat lelah


Riwayat sakit kuning
Pucat dengan hepatosplenomegali
, HbsAg (+), anti HBc (+), HBeAg (+)

pembahasan
Diagnosis Hepatitis B pada pasien ini terutama
dapat diperoleh dari intrepretasi pemeriksaan
serologi:

14. C. Omeprazole +
metronidazole + klaritromicin
Keywords:

Nyeri ulu hati sejak 1 bulan yang lalu


Sering minum promag
Ditemukan Helicobacter pylori

Pembahasan
Penatalaksanaan infeksi Helicobacter pylori
diantaranya adalah:

15. A. Leptospirosis
Keywords: demam menggigil sejak tiga hari SMRS.
Pasien juga mengeluh sakit kepala serta nyeri otot.
Satu minggu sebelumnya, di kompleks perumahan
pasien terkena banjir bandang. Dari pemeriksaaan
fisik didapatkan: TD 130/90 mmHg, nadi
90x/menit, suhu 39,1oC, napas 20xmeni, injeksi
konjungtiva (+), ikterik (+), hepar teraba satu jari di
bawah arcus costae, nyeri tekan gastrocnemius (+)
Diagnosis: leptospirosis
Tatalaksana: antibiotik, terapi simtomatik

Dasar teori
Leptospirosis: suatu penyakit zoonosis yang
disebabkan oleh mikroorganisme Leptospira interogans
tanpa memandang bentuk spesifiknya.
Manifestasi klinis:

Faktor risiko:

Dasar teori
Tatalaksana dan patofisiologi leptospirosis

16. E. Kolesistisis
Keywords: mengeluh nyeri perut kanan atas sejak tidak
hari SMRS. Nyeri dirasakan tembus ke punggung.
Pasien mengaku sering mengkonsumsi gulai otak.
Pasien juga mengeluh mual dan agak demam. Dari
pemeriksaaan fisik didapatkan: TD 110/80 mmHg, nadi
90x/menit, suhu 37,9oC, napas 20xmenit, murphy sign
(+). Pemeriksaan penunjang Hb 12,5 g/dl, leukosit
11.500/ul, kolesterol total 480 mg/dl, trigliserida 308
mg/dl.
Diagnosis: kolesistisis
Tatalaksana: antibiotik

Dasar teori
Kolesistisis: reaksi inflamai akut dinding kandung empedu yang
disertai keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan, dan demam.
Manifestasi klinis:

Kolik perut di sebelah kanan atas atau epigastrium


Nyeri tekan
Demam
Teraba masa kandung empedu, nyeri tekan, disertai tanda-tanda
peritonitis lokal (tanda Murphy)

Penyebab:

Batu kandung empedu (90%)


Infeksi
Iskemia dinding kandung empede
Kolesterol

Dasar teori

17. B. SLE
Keywords: mengeluh lemas sejak satu bulan SMRS.
Pasien juga mengeluh muncul bercak kemerahan pada
dahi, hidung, dan sekitar pipi sejak dua bulan lalu. Satu
minggu terkahir, pasien sering mengalami nyeri sendi
dan sariawan pada mulut. Dari pemeriksaaan fisik
didapatkan: TD 120/70 mmHg, nadi 80x/menit, suhu
36,7oC, napas 18xmenit, jantung/paru dalam batas
normal. Pemeriksaan penunjang: Hb 10 gr/dl, leukosit
3000/ul, trombosit 250.000/ul, dan ANA test 160.
Diagnosis: SLE
Tatalaksana: steroid, terapi simtomatik

Dasar teori
SLE adalah:
Salah satu kelompok penyakit rematik yang sangat fatal
Merupakan penyakit autoimun yang menyerang seluruh organ tubuh
Banyak dijumpai pada wanita khususnya usia produktif (usia subur)

Etiologi dari penyakit SLE belum diketahui dengan pasti. Selain factor
keturunan (genetis) dan hormon, diketahui bahwa terdapat beberapa hal
lain yang dapat menginduksi SLE, diantaranya adalah virus (Epstain Barr),
obat (contoh : Hydralazin dan Procainamid), sinar UV, dan bahan kimia

seperti hidrazyn yang terkandung dalam rokok, mercuri dan silica.

Dasar teori
Adanya empat atau lebih dari 11 kriteria baik secara serial maupun simultan cukup untuk menegakkan diagnosis. Kriteria
diagnosis untuk SLE diantaranya adalah :
ruam di daerah malar
ruam discoid
fotosensitivitas
ulkus pada mulut
arthritis : tidak erosive, pada dua atau lebih sendi-sendi perifer
serositis : pleuritis atau perikarditis
gangguan pada ginjal ; proteinuria persisten yang lebih dari 0,5 g/hari
gangguan neurulogik : kejang atau psikosis
gangguan hematologik : anemia hemolitik, leukopenia, limfopenia, atau trombositopenia
gangguan imunologik : sel-sel lupus eritematosus (LE) positif, anti DNA
antibody antinuclear (ANA)

Dasar teori
Patogenesis SLE

18. C. II, III, aVF


Keywords: mengalami nyeri dada kiri sejak satu jam SMRS.
Nyeri dirasakan seperti ditindih dan menjalar ke lengan kiri.
Pasien juga mengeluh mual disertai keringat dingin. Dari
pemeriksaaan fisik didapatkan: TD 150/100 mmHg, nadi
100x/menit, suhu 36,7oC, napas 18xmenit. Pemeriksaan
elektrokardiografi diperoleh gambaran ST elevasi
Diagnosis: ACS tipe STEMI inferior
Tatalaksana: MONACO (morfin, oksigen, nitrogliserin,
aspilet, clopidogrel)

Dasar teori
ACS: sekumpulan keluhan dan tanda klinis yang sesuai
dengan iskemia miokardium akut, yaitu:
Nyeri dada retrosternal, pasien sulit melokalisir rasa nyeri

Nyeri seperi ditindih, diremas,


Nyeri menjalar ke lengan kiri, bahu, punggung, leher, rahang
abwah
Nyeri biasanya > 20 menit
Disertai gejala sistemik: mual, muntah, dan keringat dingin.

Terbagi menjadi 3 tipe: UAP, NSTEMI, STEMI

Dasar teori

19. A. Mitral regurgitasi


Keywords: mengeluh sesak yang semakin memberat
sejak satu bulan SMRS. Sesak dirasakan semakin
memberat jika pasien beraktifitas. Pasien juga
mengeluh kedua kakinya bengkak. Dari pemeriksaaan
fisik didapatkan: TD 140/100 mmHg, nadi 110x/menit,
suhu 36,7oC, napas 36xmenit, bunyi bising jantung pan
sistolik dengan punctum maksimum di daerah apex,
ronki (+) di kedua lapang paru.
Diagnosis: penyakit jantung katup tipe mitral
regurgitasi
Tatalaksana: bedah

Dasar teori
Mitral regurgitasi: suatu keadaan dimana terdapat
aliran darah balik dari ventrikel kiri ke dalam atrium
kiri pada saat sistol, akibat tidak dapat menutupnya
katup mitral secara sempurna.
Gejala dan tanda:
Sesak napas (DOE, PND) karena edema paru
Pembesaran
ventrikel kanan dan
kiri
Akut:
Kronik:
Non iskemik: sistolik,
ruptur korda minimal derajat
Reumatik
Murmur
sedang, pungtum
spontan, EI, degenerasi
Degeneratif
maksimum
terdengar
di apeks, dan
menjalar ke aksila.
mikromatous valvular,
trauma,
EI
hipovolemia pada mitral prolapse
Iskemi pada muskulus papilaris
Kardiomiopati

Etiologi:

Iskemia
Sindrom marfan
SLE

Dasar teori

20. B. RJP 30:2


Keywords: tiba-tiba mengalami penurunan
kesadaran sejak 30 menit SMRS. Sesampainya di
IGD, pasien lalu kejang-kejang. Dokter UGD lalu
mengecek tanda vital pasien dan hasilnya pasien
tidak memberikan respon serta nadi tidak teraba.
Diagnosis: cardiac arrest
Tatalaksana: RJP, epinefrin, defib jika ada indikasi

Dasar teori
Algoritma Tatalaksana Cardiac Arrest
(AHA 2010):
Pasien tidak sadar cek respon dan
napas tidak ada respon dan napas
aktifkan EMS cek pulse tidak ada
pulse RJP 5 siklus (kompresi: ventilasi
30:2)cek iramajika irama shockable
(VF atau VT pulseless) defibrilasi (360 J
monofasik; 200 J bifasik), dst.

21. C. Gangguan eritropoietin


Keywords: lemas yang semakin memberat sejak tiga minggu
SMRS. Keluhan tersebut sudah mulai dirasakan sejak satu tahun
lalu. Pasien juga mengeluh mual dan nafsu makan sedikit
menurun. Pasien tampak pucat dan kedua kakinya bengkak. Dari
pemeriksaaan fisik didapatkan: TD 100/60 mmHg, nadi
90x/menit, suhu 36,7oC, napas 20xmenit, konjungtiva pucat (+/+),
jantung paru dalam batas normal, abdomen dalam batas normal,
pitting edema (+) bilateral. Pemeriksaan penunjang Hb 6,2 g/dl,
leukosit 10.500/ul, trombosit 200.000/ul, ur 124 mg/dl, cr 2,8
mg/dl, SGPT 26 U/l, SGOT 20 U/l.
Diagnosis: CKD
Tatalaksana: terapi penyakit mendasar, HD, terapi gejala dan
komplikasi

Dasar teori
CKD: suatu proses patofisiologis dengan etilogi yang beragam,
mengakibatkan penurunan fungs ginjal yang progresif, dan pada
umumnya berakhir dengan gagal ginjal. kriteria CKD:

Gambaran klinis:1. sesuai dengan penyakit yang mendasari (mis: HT


atau DM), 2. sindrom uremia (lemah, letargi, anoreksia, mual, muntah,
nokturia, volume overload, neuropati perifer, pruritus, uremic frost,
perikarditis, , kejang, koma, 3. komplikasi (hipertensi, anemia,
osteoporosis, asidosis, dll)

Dasar teori
Derajat, tatalaksana, dan patofisiologi CKD

22. A. Pyelonefritis
Keywords :
- Perih saat buang air kecil (anyang-anyangan)
polakisuria
- Keluhan disertai rasa menggigil
- Pasien punya kebiasaan menahan kencing
- Urinalisis : warna kuning keruh, nitrit +, leukosit
esterase +, leukosit urin 15-25/LPB, eritrosit urin 04/LPB, epitel ++, bakteri +

Diagnosis : Pyelonefritis

Infeksi Saluran Kemih non Komplikata


Akut pada Wanita
Definisi :

Episode sistitis akut dan pielonefritis akut pada


wanita sehat dan tidak memiliki faktor resiko
seperti kelainan struktural dan fungsional saluran
kemih atau penyakit yang mendasari

Sistitis non Komplikata


Definisi
Peradangan pada mukosa buli-buli yang tidak memiliki faktor resiko.
Gejala dan Tanda
Gejala iritatif berupa disuria, frekuensi, urgency, berkemih dengan jumlah urin
yang sedikit, dan nyeri supra-pubis. Pada wanita sering didahului riwayat
hubungan seksual sebelumnya (Honey-moon cystitis).
Pemeriksaan Laboratorium
Urinalisis rutin untuk menilai piuria, hematuria dan nitrit. Diagnosis ditegakkan
dengan bakteriuria bermakna. Standar tradisional untuk bakteriuri bermakna
adalah > 105 koloni/ml.

Pielonefritis non Komplikata


Akut
Definisi
Pielonefritis akut non komplikata adalah peradangan parenkim dan pelvis ginjal.
Definisi lain adalah sindrom klinis berupa demam, menggigil dan nyeri pinggang
yang berhubungan bakteriuri dan piuri serta tidak memiliki faktor resiko seperti
kelainan struktural dan fungsional saluran kemih atau penyakit yang mendasari.
Gejala dan Tanda

Gejala klasik : Demam dan menggigil yang terjadi tiba-tiba, nyeri pinggang
unilateral atau bilateral. Sering disertai gejala sistitis berupa frekuensi, nokturia,
disuri, dan urgensi. Kadang-kadang menyerupai gejala gastrointestinal berupa
nausea, muntah, diare atau nyeri perut.

Diagnosis

Urinalisis dilakukan untuk mencari piuria dan


hematuria. Pyelonefritis akut ditegakkan dengan
bakteriuri bermakna > 105 koloni/ml

Hubungan antara
lokasi infeksi
dengan gejala
klinis

Urinalisis
Laboratorium : Pemeriksaan urinalisis dilakukan
untuk menentukan dua parameter, yaitu leukosit
dan bakteri. Pemeriksaan rutin lainnya seperti
deskripsi warna, berat jenis dan pH, konsentrasi
glukosa, protein, keton, darah dan bilirubin tetap
dilakukan.

Pemeriksaan dipstik :
Pemeriksaan dengan dipstik merupakan salah satu
alternatif pemeriksaan leukosit dan bakteri di urin
dengan cepat.
Untuk mengetahui leukosituri, dipstik akan bereaksi
dengan leucocyte esterase (suatu enzim yang terdapat
dalam granul primer netrofil).
Sedangkan untuk mengetahui bakteri, dipstik akan
bereaksi dengan nitrit (yang merupakan hasil
perubahan nitrat oleh enzym nitrate reductase pada
bakteri).

Pemeriksaan mikroskopik urin :

Pemeriksaan mikroskopik dilakukan untuk


menentukan jumlah leukosit dan bakteri dalam
urin. Jumlah leukosit yang dianggap bermakna
adalah > 10 / lapang pandang besar (LPB).

Pemeriksaan kultur urin :


Deteksi jumlah bermakna kuman patogen
(significant bacteriuria) dari kultur urin masih
merupakan baku emas untuk diagnosis ISK.
Bila jumlah koloni yang tumbuh > 105 koloni/ml urin bakteri yang tumbuh
merupakan penyebab ISK.
Koloni dengan jumlah < 103 koloni / ml urin kontaminasi flora normal dari
muara uretra
Koloni antara 103 - 105 koloni / ml urin kemungkinan kontaminasi belum
dapat disingkirkan dan sebaiknya dilakukan biakan ulang dengan bahan urin
yang baru.

PILIHAN LAIN
Vesicolithiasis Sering ditemukan secara tidak
sengaja pada penderita dengan gejala obstruktif dan
iritatif saat berkemih seperti disuria, nyeri suprapubik,
hematuria dan buang air kecil berhenti tiba-tiba.
Ureterolithiasis Batu yang terbentuk di dalam sistim
kalik ginjal, yang turun ke ureter. Terdapat tiga
penyempitan sepanjang ureter yang biasanya menjadi
tempat berhentinya batu yang turun dari kalik yaitu
ureteropelvic junction (UPJ), persilangan ureter dengan
vasa iliaka, dan muara ureter di dinding buli.

Glomerulonefritis akut Gejala klinis merupakan


konsekuensi langsung akibat kelainan struktur dan
fungsi glomerulus, ditandai dengan proteinuria,
hematuria, penurunan fungsi ginjal, dan perubahan
ekskresi garam dengan akibat edema, kongesti
aliran darah, dan hipertensi.

23. C. Nefrolitiasis kanan


Keywords: nyeri pinggang kanan sejak satu minggu
SMRS. Nyeri dirasakan menyebar ke perut sebelah
kanan. Pasien tinggal di daerah pedesaan dengan
sumber air minum dari air sumur. Dari pemeriksaaan
fisik didapatkan: TD 120/70 mmHg, nadi 80x/menit,
suhu 36,7oC, napas 20xmenit, jantung paru dalam
batas normal, balotement (+/-), nyeri ketok CVA (+/-).
Pemeriksaan penunjang: foto polos abdmen ditemukan
gambaran radiopaque berukuran beragam di subcostal
XII kanan.
Diagnosis: nefrolitiasis
Tatalaksana: analgetik, ESWL, operasi

Dasar teori
Nefrolitiasis atau batu ginjal: keadaan tidak normal di dalam
ginjal, dan mengandung komponen kristal dan matriks organik.
Sebagian besar merupakan batu kalsium
Faktor risiko:
Diet (konsumsi berlebih makanan yang mengandung asam urat, sumber
air minum berkapur,
Infeksi (ISK)
Aktivitas (terlalu lama duduk)
Sedikit minum

Manifestasi klinis:

Nyeri kolik di daerah pinggang kanan atau kiri


Nyeri, sulit, bahkan tidak bisa BAK
Hematuria

Dasar teori

24. B. Ruptur varises esofagus


Keywords: mengeluh muntah darah sejak satu hari
SMRS. Darah muntahan berwarna merah
kehitaman. Pasien memiliki riwayat mengkonsumsi
minuman beralkohol. Dari pemeriksaaan fisik
didapatkan: TD 110/70 mmHg, nadi 100x/menit,
suhu 36,7oC, napas 18xmenit, spider navi (+), asites
(+), caput medusa (+).
Diagnosis: sirosis hepatis dekompensata

Tatalaksana: terapi komplikasi

Dasar teori
Sirosis hepatis: suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium
akhir fibrosis hepatis yang berlangsung progresif yang ditandai dengan
distorsi dari arsitektur hepar dan pembentukan nodulus regeneratif.
Sirosis secara klinis dibagi menjadi 2, yaitu: sirosis kompensata yang
belum terdapat gejala klinis dan sirosis dekompensata yang disertai
gejala klinis.
Gejala sirosis kompensata: perasaan mudah lelah dan lemas, nafsu
makan berkurang, perasaan kembung, mual, berat badan menurun,
perasaan gatal yang hebat, impotensi, dan hilangnya dorongan
seksualitas.
Gejala klinis sirosis dekompensata: gejala kegagalan hati dan hipertensi
porta meliputi hilangnya rambut badan, gangguan tidur, demam tak
begitu tinggi, adanya gangguan pembekuan darah, perdarahan gusi,
epistaksis, gangguan siklus haid, icterus, muntah darah dan atau
melena, serta perubahan mental hingga koma.

Dasar teori

25. D. Ulkus Duodenum

Keywords:

Perempuan 48 tahun dengan muntah hitam pekat sejak 1 hari,


riwayat sering nyeri ulu hati & perut kiri atas perdarahan
saluran cerna atas, penyebab?
Nyeri membaik saat makan, memberat 4 jam setelah makan
lebih mengarah pada ulkus duodenum
Riwayat penggunaan OAINS
PF: KP +/+, NT epigastrium (+)
Hb 11g/dL akibat perdarahan?

Diagnosis Sindrom dispepsia Ulkus duodenum

Ulkus Duodenum X Ulkus


Gaster
Ulkus Duodenum

Ulkus Gaster

Nyeri saat lapar, hilang setelah Nyeri setelah makan


makan, bisa kembali 90 mnt 3
jam setelah makan
Sebelah kanan garis tengah
perut

Sebelah kiri garis tengah perut

Bisa membangunkan tengah


malam

Jarang

Pilihan lain
Pecah varises esofagus perdarahan saluran
cerna atas komplikasi dari hipertensi portal
(seringkali karena sirosis hepatitis cari stigmata
sirosis)

Mallory-Weiss tear perdarahan saluran cerna


atas karena robekan pada gastroesophageal
junction atau mukosa atas lambung, umumnya
pada pasien dengan muntah-muntah berat
berulang (cth: hiperemesis gravidarum)

26. B. Anemia defisiensi B12


Keywords: Dalam enam bulan terahir, dia
menjalankan
program
diet
ketat
untuk
menurunkan berat badannya. Namun, dalam
beberapa minggu terkakhir, dia sering merasa
lemas. Dia lalu cek darah di laboratorium dan
hasilnya Hb 9 g/dl, leukosit 5000/ul, trombosit
200.000/ul. Pemeriksaan darah tepi ditemukan
gambaran makrositik pada eritrosit.
Diagnosis: anemia defisiensi vitamin B12
Tatalaksana: pemberian asupan vitamin

Dasar teori
Anemia makrositik adalah anemia
yang disebabkan oleh gangguan
sintesis DNA dan ditandai oleh sel
megaloblastik.
Paling sering disebabkan oleh
defisiensi vitamin B12 dan asam
folat
Defisiensi vitamin B12sintesis
DNA
tidak
sempurnaperlambatanpembelaha
n sel+perkembangan sitoplasmik
normalmegaloblastik

Dasar teori

27. A. Buerger disease


Keywords: mengeluh nyeri di kaki kiri yang semakin
memberat sejak tiga minggu SMRS. Selain nyeri, pasien
juga merasa kaki kanannya kadang-kadang kram.
Riwayat trauma sebelumnya disangkal oleh pasien.
Pasien memiliki riwayat merokok sejak usia 15 tahun.
Dari pemeriksaaan fisik didapatkan: TD 110/70 mmHg,
nadi 90x/menit, suhu 36,7oC, napas 16xmenit,
pemeriksaan neurologis dalam batas normal, pulsasi
arteri tibialis anterior tidak teraba.
Diagnosis: Buerger disease
Tatalaksana: bedah

Dasar teori
Buerger disease/ tromboangitis obliterans:

Penyakit oklusi kronis pembuluh darah arteri dan vena yang berukuran kecil dan sedang
Pembuluh darah mengalami konstriksi atau obstruksi sebagian yang dikarenakan oleh inflamasi dan
bekuan sehingga mengurangi aliran darah ke jaringan.
Penyebab: idiopatik, studi lain: ada kaitannya dengan merokok
Gambaran klinis:

Gambaran klinis:

Jari iskemik yang nyeri pada ekstremitas atas dan bawah


Klaudikasio kaki
Umumnya pria dewasa muda
Perokok berat
Adanya gangren yang sukar sembuh
Riwayat tromboflebitis yang berpindah
Tidak ada tanda (sign) arterosklerosis di tempat lain
Yang terkena biasanya ekstremitas bawah
Diagnosis pasti dengan patologi anatomi
Sindrom reynauld

28. E. Sindrom metabolik


Keywords :

Obesitas
Hipertensi
Dislipidemia
Suspek DM

Sesuai dengan tanda-tanda sindrom metabolik

NCEP( National Cholesterol Education Program) ATP ( Adult


Treatment Panel) III - 2001

29. E. Pirazinamid
Keywords: mengeluh batuk berdahak sejak tiga minggu SMRS.
Selain itu, pasien juga sering berkeringat pada malam hari
meskipun saat istirahat. Pasien juga merasa kurusan dalam satu
bulan terkhir ini. Pasien mengaku sering mengalami nyeri sendi
terutama pada pagi hari dalam satu bulan terakhir. Dari
pemeriksaaan fisik didapatkan: TD 110/80 mmHg, nadi
60x/menit, suhu 36,7oC, napas 18xmenit, ronki (+) di kedua
lapang paru. Pemeriksaan sputum BTA SPS (+++).
Diagnosis: TB paru
Tatalaksana: OAT kategori I

Dasar teori
TB paru: penyakit yang disebabkan oleh
infeksi

Mycobacterium

tuberculosis complex
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis
yang menyerang jaringan paru, tidak
termasuk pleura. Dibagi menjadi:

Dasar teori

30. E. OAT 2 minggu, lanjut


OAT bersama ARV
Keywords: karena mengeluh batuk berdahak sejak
empat minggu SMRS. Selain itu, pasien juga sering
mengeluh demam disertai pilek. Berat badan pasien
turun drastis 20 kg dalam dua bulan terakhir. Pasien
adalah seorang sopir bus antar provinsi. Dari
pemeriksaaan fisik didapatkan: TD 130/70 mmHg, nadi
100x/menit, suhu 37,7oC, napas 18xmenit, ronki (+) di
kedua lapang paru. Pemeriksaan penunjang: sputum
BTA SPS (+++), CD4 50.
Diagnosis: TB paru+ HIV
Tatalaksana: OAT plus ARV

Dasar teori
Pasien TB paru yang berisiko tertular HIV sebagai
berikut: perlu tes HIV
a. Ada riwayat perilaku risiko tinggi tertular HIV
b. Hasil pengobatan OAT tidak memuaskan
c. MDR TB / TB kronik
Gambaran klinis:

Dasar teori
Panduan pengobatan TB-HIV:

31. D. Bronkiektasis
Keyword:
Pria, 40 th
Sesak napas sejak 1 hari
Batuk berdahak kuning kental
Radiologi: Honeycomb appearance

Asma bronkhial
Penyakit jalan nafas
obstruktif intermitten,
reversible, disebabkan
rangsangan/alergen tertentu
Gejala Klinis:
Batuk berdahak putih
Sesak
Mengi

Ro thoraks: umumnya
normal

Asma Kardiale
Sesak yang muncul akibat gagal
jantung
Gejala klinis:

Sesak
Mirip asma
Mengi
bronchial
Batuk
+ gejala gagal jantung lain
PND (+), DOE (+)

Ro thorax: sugestif ke arah gagal


jantung

Kardiomegali
penonjolan vaskular pada lobus atas,
efusi pleura
kongesti vena paru (garis Kerley B) atau edema
paru

PPOK
Obstruksi saluran pernafasan yang
progresif dan tidak sepenuhnya
reversibel
Penyebab:
Rokok
Polusi

Gejala Klinis:
Batuk kronik
Sesak

PF: barrel chest, ekspirasi memanjang,


fremitus melemah, hipersonor
Ro thorax:
Paru hiperinflasi atau hiperlusen
Diafragma mendatar
Sela iga melebar

Emfisema
Pelebaran secara abnormal
saluran napas bagian distal
bronkus terminalis, disertai
dengan kerusakan dinding
alveolus yang ireversibel
Ro thoraks:

Diafragma letak rendah dan datar


Ruang retrosternal melebar
Gambaran vaskuler berkurang
Jantung tampak sempit memanjang.

Bronkiektasis (BE)
Dilatasi abnormal permanen
+ rusaknya dinding bronkus
Gejala Klinis:
Spesifik: Batuk berdahak purulen,
terutama pagi hari
Non-spesifik: dispneu, nyeri dada
pleuritik, mengi, batuk darah,
demam, lemah, kehilangan berat
badan

Ro thorax: honeycomb
appearance

32. D. Intususepsi
Keyword:
Anak laki-laki, 8 bulan
BAB berdarah dan berlendir
Pucat, lemas
PF: massa berbentuk sosis perut kanan atas, kosong di
perut kanan bawah, BU ()
Radiologi: coiled spring appearance

Divertikulosis
Pembentukan kantung
(divertikular) di usus besar
Kantung terbentuk karena tekanan
intrakolon akibat konstipasi
kronik
Dipicu makanan rendah serat
Penumpukan sisa makanan
inflamasi divertikulitis
Sering tidak bergejala
Gejala divertikulitis:

Perut keram, terutama kiri bawah


Konstipasi
Demam, menggigil
Mual muntah

Intususepsi/invaginasi
Masuknya segmen usus proksimal (ke
arah oral) ke rongga lumen usus yang
lebih distal (ke arah anal) gejala
obstruksi strangulasi
Sering pada anak laki2, rentang 1-2
tahun
Trias intususepsi:
Nyeri perut tiba-tiba, hilang timbul periodik
Teraba massa curved sausage pada bagian
kanan atas, kanan bawah, atas tengah, kiri
bawah atau kiri atas
BAB bercampur darah dan lendir (red currant
jelly stool)

Barium enema: coiled spring


appearance

33. D. Foto Polos Abdomen 3 Posisi


Keyword:
Nona 27 tahun
Nyeri seluruh perut
Tidak bisa BAB dan flatus
PF: Abdomen cembung, defans muscular (+)
Chess board phenomenon

Peritonitis TB
Lebih sering pada wanita dibandingkan pria
Riwayat TB paru (+)
Gejala:
Nyeri perut
Pembengkakan perut
Tidak nafsu makan
Batuk, demam

Chess board phenomenon (fenomena papan catur)


peritonitis TB

Pemeriksaan penunjang: Foto Polos abdomen 3 posisi (melihat


cairan bebas/terlokalisasi dalam rongga abdomen)
Foto BNO: Sama dengan foto polos abdomen biasa, namun dengan
persiapan puasa terlebih dahulu, dengan tujuan untuk melihat organ
ginjal dan saluran kemih lebih jelas

34. A. Osteofit
Keyword:
Pria 52 tahun
Nyeri lutut kiri terutama saat
berjalan
Lutut tampak kemerahan,
bengkak, teraba hangat
Krepitasi (+)

Sugestif osteoarthritis

Osteoarthritis
Penyakit degeneratif
Lebih sering pada wanita
Gejala Klinis:
Nyeri bila sendi digerakkan,
berkurang bila istirahat
Krepitasi (+)
Pembesaran sendi/deformitas
Kaku pagi hari
Pembengkakan sendi + tanda
inflamasi (nyeri tekan, gangguan
gerak, rasa hangat, kemerahan)
Bouchards Node (PIP) &
Heberdens Node (DIP)

Diagnostik: pemeriksaan
radiologi
Gambaran OA pada
radiologi:
Penyempitan celah sendi,
cenderung asimetris
Sclerosis (peningkatan
densitas tulang subkondral)
Kista tulang
Osteofit di pinggir sendi
Perubahan struktur
anatomi sendi

Osteoporosis juxta-artikuler pada RA

Robekan meniskus ada riwayat cedera


sebelumnya
Bursitis
Peradangan kantung cairan sendi (bursa) bengkak,
kemerahan, nyeri bila digerakkan
Penyebab: cedera ringan berulang

BEDA OA dengan RA

35. D. Osteogenik Sarkoma


Keyword:
Remaja 17 tahun
Nyeri lutut sebelah kiri, memberat di malam hari
PF: teraba massa di distal femur diameter 24 cm teraba
padat
Radiologi: sunburst appearance dan Codmann triangle
Diagnosis : osteogenik sarcoma osteosarkoma

Sunburst appearance

Gambaran reaksi periosteum hasil dari


ekstensi tumor, membentuk seperti
pancaran matahari
Ditemukan paling sering pada
osteosarcoma dan Ewing sarcoma

Codmann triangle

Merupakan sisa dari destruksi tulang dan


reaksi perioesteum akibat pertumbuhan
neoplasma
Ditemukan pada:
osteosarcoma
Ewing sarcoma
osteomyelitis
active aneurysmal bone cyst
giant cell tumour
chondrosarcoma

Pilihan lain..
Ewings Sarcoma
Merupakan kanker tulang kedua terbanyak pada anakanak/remaja setelah osteosarcoma
Frekuensi paling sering menyerang usia 10-20 tahun
Lebih banyak pada pria dibanding wanita

36. B. PTU
Keywords:
-Bayi usia 9 minggu, pembesaran pada leher
-Tampak lesu, hipotonia, jaundice, dan makroglosia
-TSH serum meningkat dan FT4 menurun.
Diagnosis ? Hipotiroid kongenital
Kemungkinan obat yang dikonsumsi ibu saat hamil
?
PTU (suatu obat anti tiroid)

Ibu hamil dengan hipertiroid seringkali harus


diberikan pengobatan antitiroid. Obat terpilih yang
digunakan adalah PTU.
PTU lebih dipilih dibandingkan metimazol karena
memiliki efek samping lebih sedikit.
Meskipun demikian, kejadian hipotiroid kongenital
masih dapat terjadi akibat PTU.

37. A. Rifampicin
Keyword:
Ny. Aminah, 44 tahun
Penderita DM tipe II, saat ini konsumsi rutin glibenklamid
3 minggu terakhir: batuk-batuk, bercak darah (+), BB sulit
naik (+), keringat malam (+) TB paru

Rifampisin merupakan pemacu metabolisme obat


yang cukup kuat, sehingga berbagai obat
hipoglikemik oral (terutama glibenklamid),
kortikosteroid, dan kontrasepsi oral akan berkurang
efektivitasnya bila diberikan bersama rifampisin.

Sumber: Farmakologi dan Terapi FKUI, edisi 5,


2007

38.C. Beta Blocker


Keyword:
Tn. Setyo, 54 tahun
KU: pusing
Riwayat HT (+), pengobatan tidak teratur
Riwayat HT pada ayah kandung (+)
Os juga pengidap asma, pencetus: debu

Beta Bloker MENINGKATKAN RESISTENSI JALAN


NAPAS memperberat serangan asma pada
pasien dengan riwayat asma
Semua beta bloker SEDAPAT MUNGKIN harus
dihindari pada pasien dengan penyakit obs.
jalan napas
Jika beta bloker BENAR-BENAR DIBUTUHKAN,
harus dipilih yang KARDIOSELEKTIF dan harus
diberikan BERSAMAAN dengan beta 2 agonis

Sumber: Farmakologi dan Terapi FKUI, 2007

39.E. Menghambat Aktivitas 3-Hidroksi 3Metilglukoronil KoA Reduktase


Keyword:
Ny. Juminten, 52 tahun
LDL dan kolesterol total meningkat
Nyeri otot (+) setelah minum obat

Statin
Menghambat sintesis
kolesterol dalam hati,
dengan menghambat
enzim HMG CoA
reduktase
Efek samping yang
potensial berbahaya
adalah miopati dan
rhabdomiolisis
Sumber: Farmakologi dan Terapi FKUI, edisi 5,
2007

40. A. ACE-inhibitor
Keywords:

Pasien laki-laki, usia 56 tahun DM, hipertensi,


CHF
Pilihan terapi hipertensi untuk memperlambat
perburukan ginjal?

41. E.Miringotomi
Keywords :
Pasien nyeri telinga kiri sejak 3 hari
Riwayat ISPA (+)
Otoskopi : Membran timpani menonjol dengan
pulsasi
Mengarah ke OMA stadium supuratif
Tatalaksana?

Miringotomi
Parasentesis/ Miringotomi / Miringosentesis /
Timpanotomi: Insisi/pungsi pada membran timpani
dengan semprit dan jarum khusus untuk
mendapatkan sekret guna pemeriksaan
mikrobiologi

Miringoplasti/Timpanoplasti
tipe 1
Indikasi: OMSK tipe benigna yang sudah tenang
dengan tingkat ketulian ringan yang hanya akibat
perforasi membran timpani
Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran
timpani
Bertujuan mencegah berulangnya infeksi telinga
tengah pada OMSK tipe aman dengan perforasi
yang menetap

Timpanoplasti
Indikasi: OMSK tipe aman dengan kerusakan yang
lebih berat atau yang tidak bisa ditenangkan
dengan medikamentosa
Tujuan: menyembuhkan penyakit dan
memperbaiki pendengaran
Dilakukan rekonstruksi membran timpani dan
tulang pendengaran
Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang, dibagi
menjadi timpanoplasti tipe 2,3,4,5

Mastoidektomi sederhana
Indikasi: OMSK tipe aman yang dengan
pengobatan konservatif tidak sembuh
Dilakukan pembersihan ruang mastoid dari
jaringan patologik

Tujuan: agar infeksi tenang dan teling tidak berair


lagi
Operasi ini tidak memperbaiki fungsi pendengaran

Mastoidektomi Radikal
Indikasi: OMSK tipe bahaya dengan infeksi atau
kolesteatom yang sudah meluas
Tujuan: membuang semua jaringan patologik,
mencegah komplikasi intrakranial.

Fungsi pendengaran tidak diperbaiki

42. B. Otitis Media Supuratif


Kronik
Keyword:

Keluar cairan bening tidak berbau (1 tyl)


Penurunan pendengaran 2 bulan + cairan berbau
Wajah asimetris
Membran timpani perforasi (+), J. Granulasi (+)

Diagnosa: Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)

OMSK
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) >2 bulan
OMSK:
a. Tipe aman (benign) Terbatas pada mukosa, Perforasi sentral
b. Tipe bahaya (malignant) Invasi hingga tulang pendengaran,
kolesteatoma, Perforasi marginal/atik, Abses/fistel retroaurikular, J.
Granulasi, sekret bernanah & berbau
Pemeriksaan:
a. Rontgen Mastoid
b. Audiometri nada murni

c. BERA

Tatalaksana
Tipe Aman

Tipe Bahaya

a. Irigasi telinga :
Larutan H2O2 3% (3-5
hari)

a. Matoidektomi +
Timpanoplasti

b. Obat tetes telinga


(Antibiotik,
kortikosteroid)
c. Antibiotik oral

b. Antibiotik oral

43. C. Sunisitis Maksilaris


Kronik
Keywords:
Sering pusing, Ingus kental, Tenggorokan berlendir, pipi
berat untuk menunduk
Diagnosa: Bacterial infection of URTI, Sinusitis maxillaris
chronic
Tatalaksana: Antibiotik (gram +),: amoksisilin, cefalosporin
gen 2, amoxiclav (7-14 hari)
Dekongestan oral/topikal: Peudoephedrin, Fexofenadin
Analgestik: Paracetamol

Sinusitis
Inflamasi mukosa sinus paranasal
Akut : 0-4 minggu
Subakut : 4 minggu 3 bulan
Kronik : >3 bulan
Etiologi: Rinitis ec infeksi virus/bakteri, deviasi septum,
hipertrofi konka, tonsilitis, dsb
Streptococcus pneumonia (30-50%0, Hemophillus
influenza (20-40%)

Gejala Klinis:
Ingus purulen, batuk

Post nasal drip


Referred pain (pipi = maksila, retroorbita = ethmoid, dahi = frontal)
Tanda Klinik:
Pus di meatus medius/meatus superior
Edema mukosa & hiperemis
Hipertrofi & hiperemis kantus medius
Pemeriksaan: Rontgen (waters, PA, lateral), CT scan sinus

44. D. Hallpike manuver


Keywords:

Terasa berputar, mual, muntah


Pusing dipengaruhi posisi
Pendengaran berkurang
Diagnosa: Vertigo

Vertigo
Pusing berputar

Tipe & penyebab vertigo


Sentral: Stroke, neoplasma, trauma kepala, perdarahan otak, degenerasi spinoserebelar
Perifer: BPPV, Neuronitis vestibular, Menieres disease, Trauma, neuroma akustik
Pemeriksaan:
Hallpike manuver (tes nistagmus posisi) membedakan sentral/perifer
Tes kalori
Pemeriksaan keseimbangan/posturografi: romberg, romberg dipertajam, stepping test
Elektronistagmografi

45. A. Corynobacterium
Diphteria
Keywords:

Pseudomembran abu-abu
Mudah berdarah
Diagnosis: Tonsilitis Diphteria

Tonsilitis
Tonsilitis Viral: Eipstein barr-virus, Hemofilus influenza (sering)
Tonsilitis bakteri: Streptococcus B Hemolitikus (sering)
Gejala & tanda:
Nyeri menelan
Demam, lemah, nyeri sendi
Otalgia (nyeri telinga)
Detritus (+)
Tatalaksana: Analgetik (paracetamol), Antibiotik (penisilin,
eritromisin, cefalosporin), obat kumur, istirahat

Tonsilitis Diphteri
Tonsilitis diphteri: Corynobacterium Diphteria
Gejala & tanda:
Pseudomembran mudah berdarah jika diangkat
Pembengkakan kel. Limfe leher (bull neck/burgermeesters hals)

Tatalaksana:
Anti Difteri Serum (ADS) 20.000-100.000 IU
Antibiotik: Penisilin, eritromisin, Cefalosporin
Kortikosteroid

46. B. Otitis Media Stadium


Hiperemis
Keywords:
Nyeri telinga kanan
Batuk pilek
Membran timpani intak, hiperemis (+)
Diagnosa: Otitis Media Akut st. Hiperemis
Tatalaksana: HCL efedrin 0.5-1 % tetes/spray nasal
Antibiotik: penisilin, eritromisin, cefalosporin (7 hari)

Otitis Media Akut


Stadium:
1. Oklusi: membran timpani retraksi, keruh
2. Hiperemis: Membran timpani hiperemis, edem
3. Supurasi: Membran timpani bulging, eksudat
purulen
4. Perforasi: Membran timpani perforasi, sekret
putih-abu
5. Resolusi

Tatalaksana:

1. Stadium oklusi: Efedrin 0.5-1% nasal spray,


antihistamin, antibiotik
2. Stadium supurasi: analgesik, antibiotik,
miringotomi
3. Stadium perforasi: Irigasi telinga H2O2 3% (3-5
hari), antibiotik, analgesik

47. B.Rinitis Alergi


Keywords:
Bersin & hidung gatal
Garis hitam inferior palpebra
Garis hitam dorsum nasal
Riwayat asma (+)
Diagnosa: Rinitis alergi
Tatalaksana: Antihistamin, analgesik, kortikosteroid

Rinitis Alergi
Klasifikasi:
1. Intermiten: <4 hari/minggu atau <4 minggu
2. Persisten: >4 hari/minggu atau >4 minggu
Penyerta: Asma bronkial, Konjungtivitis alergi, Dermatitis
alergi
Gejala:
Bersin pagi hari, Bersin terkena debu, keluar ingus cair,
pilek, mata gatal & berair

Tanda:
Rinoskopi anterior: Mukosa edem, livid, sekret encer
Allergic shiner : bayangan gelap di bawah mata (stasis vena
sekunder karena obstruksi hidung)
Allergic salute: Ssering menggosok dengan punggung tangan
Allergic Crease: Garis melintang sepertiga bawah dorsum nasi
Facies adenoid: mulut sering terbuka, gangguan pertumbuhan
gigi
Geographic tongue: Lidah seperti gambaran peta
Cobblestone appearance: Dinding posterior faring granuler, edem

Pemeriksaan:
- Skin Prick Test
- IgE total
- Hitung jenis eosinofil

Tatalaksana:
- Avoidance
- Medikamentosa: antihistamin, kortikosteroid, anti kolinergik
- Operatif: konkotomi, turbinoplasty

48. E. Telinga kiri normal, Telinga


kanan tuli sensorineural
Keywords:

wanita, 52 tahun
Rinne (+), Weber lateralisasi kiri, Swabach
memendek telinga kanan
Diagnosa: Tuli Sensorineural telinga kanan

Pemeriksaan telinga
AD
AS

Rinne
Weber

Lateralisasi kiri

Scwabah

Memendek

Normal

Rinne (+) normal / tuli sensorineural


Scwabah Memendek pada tuli sensorineural. Memanjang pada tuli konduktif
Weber:
Tuli sensorineural: Lateralisasi ke telinga sehat
Tuli konduktif: Lateralisasi ke telinga sakit

49. B. Schuller & Stenver


Keywords:

Bengkak di belakang telinga 1 minggu


Keluar cairan kuning kental, berbau (2 tyl)
Benjolan kemerahan di belakang telinga kanan
Diagnosa: OMSK tipe bahaya (kolesteatom)

Tatalaksana: Mastoidektomi

Pemeriksaan kolesteatom
Rontgen:

1. Schuller Penampakan lateral mastoid (melihat


gambaran mastoid & lateral sinus)
2. Stenver Penampakan canalis semicircular,
cohlea, vestibulum, mastoid
3. Towne Mastoid, canalis auditori internal.
4. Submentovertical tulang temporal, tuba
eustachius, telinga tengah, mastoid

50. D. Rinitis Medikamentosa


Keywords :
Perempuan, 32 tahun pilek dan hidung tersumbat
sejak 10 hari yang lalu
Awalnya demam, sekarang demam (-)
Terapi sebelumnya obat tetes hidung setiap hari

Diagnosis : Rinitis medikamentosa

RINITIS MEDIKAMENTOSA

RIWAYAT PENGGUNAAN OBAT TETES HIDUNG DEKONGESTAN >5 HARI


REBOUND (HIDUNG MALAH TERSUMBAT)

RINITIS VASOMOTOR

RINITIS ALERGI

PENCETUS NON-ALERGIK. EKLUSI


ALERGIK BISA DENGAN PEMERIKSAAN
IgE TOTAL
GEJALA: HIDUNG TERSUMBAT,
RHINOREA. GATAL DAN BERSIN TIDAK
MENONJOL.
PENCETUS: BAU TERTENTU (ROKOK,
PARFUM, PAINT, INK), MAKANAN
PEDAS, BAHKAN CAHAYA SILAU

MOST COMMON RHINITIS, FAMILY RELATED


GEJALA: BERSIN, HIDUNG TERSUMBAT,
RHINOREA+GATAL, MATA MERAH, ANOSMIA, POSTNASAL DRIP, GATAL LANGIT MULUT
PF: NASAL CREASE, ALERGIC SHINNER, MUKOSA
PUCAT/LIVID
PENCETUS: ALERGEN (MIS. DEBU)
TATALAKSANA: DEKONGESTAN + ORAL
ANTIHISTAMIN

51. B. Tension Pneumothorax


Dextra
Keywords:

Laki-laki, 28 tahun, hipotensi, takipnea, jejas (+)


hemithoraks dekstra, hemithoraks dekstra
tertinggal, perkusi hipersonor, fremitus menurun,
suara napas menghilang, JVP meningkat, suara
jantung normal, dan trakea tertarik ke sisi kiri.
Diagnosis?

Dasar Teori
Trauma Thorax
(Mengancam Jiwa)

Segera:

Potensial:

-AIRWAY Obstruksi jalan


napas akut
-BREATHING Gagal
ventilasi: tension
pneumothorax, open
pneumothorax, flail chest
-CIRCULATION
Hemotoraks masif,
tamponade jantung

-Trauma tumpul jantung


-Kontusio paru
-Ruptur aorta
-Hernia diafragma
-Ruptur tracheobronchial
-Ruptur oesofagus
-Simple hemothorax
-Simple pneumathorax

Sumber: ATLS Student Course Manual; Penanganan Trauma Toraks; Manual Pemasangan WSD

Pneumothorax
Ada udara masuk dalam ruang antar pleura viseral dan parietal
menyebabkan paru kolaps
pada sisi sakit: suara napas menurun, perkusi hipersonor
Open Pneumothorax: akibat defek pada dinding toraks yang terus terbuka (sucking
chest wound)
Tension Pneumothorax: terjadi bila udara yang masuk dalam rongga pleura
terperangkap tekanan dalam rongga meningkat progresif timbul gangguan
pernapasan dan/atau kardiovaskular
Tanda patognomonik: perkusi hipersonor, suara napas menghilang, hipotensi
Klinis lain: nyeri, sesak napas, fremitus menurun

Hematothorax/Hemotoraks
Adanya darah mengisi ruang antar pleura viseral dan parietal

Klinis (bila masif):


nyeri, sesak napas, gerakan napas tertinggal saat inspirasi, fremitus sisi sakit
lebih lemah, perkusi pekak, bunyi napas melemah/menghilang
Terapi:
bila sedikit dapat berhenti sendiri, namun bila masif (>750 cc) perlu operasi

Tamponade Jantung
Adanya darah mengisi perikardium

Diagnostik klasik Triad Becks = peningkatan tekanan


vena, penurunan tekanan arteri, suara jantung menjauh
DD: tension pneumothorax
Khas tamponade tanda Kussmaul: peningkatan tekanan
vena pada inspirasi saat bernapas spontan
Pemeriksaan Penunjang ekokardiogram, FAST, pericardial
window
Terapi: evakuasi darah perikardiosentesis, definitif:
bedah

Kontusio Paru
Timbulnya cedera/laserasi pada jaringan paru, bisa
terjadi tanpa fraktur
Flail Chest

Ketidakmampuan dinding dada menjalankan fungsi


napas yang normal
Fraktur Iga
Adanya krepitasi dan nyeri terlokalisir

52. A. Needle Decompression


Keywords:

Laki-laki, 22 tahun, sulit bernapas, post KLL 3 jam,


hipotensi, takikardia, takipnea, gerakan paru kanan
tertinggal, perkusi hipersonor, auskultasi menurun.

Diagnosis: Tension Pneumothorax


Pada fase awal terjadi mekanisme kompensasi dan
pasien masih sadar
Prinsip terapi:
dekompresi cepat dan adekuat, dilanjutkan upaya
pengembalian tekanan intrapleura jadi negatif kembali
(WSD)
Dekompresi jarum di sela iga 2/3 garis midklavikula sisi
ipsilateral

Sumber: Manual Pemasangan WSD

53. D. Luka Bakar Derajat III


Keywords:

Laki-laki, 40 tahun, tanda vital dbn, luka bakar:


lengan kiri (4.5%), tungkai bawah kiri (4.5%), dan
punggung (9%), dasar luka berwarna putih dan
tidak nyeri.

Derajat
Luka
Bakar
Derajat I
Eritema, nyeri, tanpa bulla
Tidak bahaya, tidak perlu terapi cairan

Derajat II (partial-thickness)
Kemerahan/campuran, nyeri hebat, sensitif terhadap
udara, bengkak, bulla (+), permukaan basah berair
Derajat III (full-thickness)
Kerusakan seluruh lapisan kulit, ujung saraf, subkutan
Warna bisa putih, kemerahan, sampai hitam; tidak nyeri,
kulit rusak, tampak jaringan lemak, edema, permukaan
kering
Sumber: ATLS Student Course Manual

Kedalaman Luka Bakar

54. E. Fimosis dengan Retensi


Smegma
Keywords:

Anak laki-laki, 5 tahun, benjolan di penis 3 cm;


BAK dbn, nyeri (-).
PF: benjolan soliter, mobile, batas tegas, kenyal, di
bawah kulit prepusium. OUE tidak terlihat,
preputium tidak bisa ditarik ke belakang.
Diagnosis?

Fimosis:
penyempitan ujung prepusium (biasanya disebabkan
fibrosis tepi prepusium akibat radang)
Parafimosis:
Prepusium terperangkap di belakang tepi glans penis di
dalam sulkus koronarius
Kasus fimosis biasanya disertai dengan retensi smegma
(menumpuknya kotoran dalam prepusium)

Sumber: Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat & de Jong

55. D. Ruptur Uretra


Keywords:

Laki-laki, 30 tahun, jatuh membentur stang motor,


pasien tidak mengeluhkan apapun nyeri (-),
darah menetes keluar dari OUE, jejas pada
pinggang & perut bawah (-), nyeri tekan abdomen
(-).
Diagnosis?

Lokasi Ruptur

Penjelasan

Ginjal

Tampak jejas di regio kostovertebra, nyeri


abdomen & nyeri tekan, hematuria
Curiga bila ada fraktur tulang iga

Ureter

hematuria mikroskopik (pd trauma tajam),


urinoma, fistel ureterokutan, tanda rangsang
peritoneum, peningkatan kadar ureum & kreatinin

Vesika

Darurat bedah butuh tatalaksana segera, krn bs


komplikasi peritonitis atau sepsis
Curiga bila ada fraktur tulang panggul

Uretra

Tanda klasik: darah segar menetes di meatus uretra


Hematom penis&skrotum (anterior) atau
suprapubik&abdomen bagian bawah (posterior)

Korpus Penis

Tampak luka yang jelas, bisa ada perdarahan /


iskemia / nekrosis

Sumber: Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat & de Jong

56. B. Dislokasi hip joint


posterior
Keywords: Anak 13 tahun, kecelakaan lalu lintas,
lutut kanan pasien terbentur dashboard, paha
kanan dalam keadaan fleksi, aduksi, dan internal
rotasi, pasien mengeluhkan tidak dapat melakukan
dorso fleksi maupun plantar fleksi
Diagnosis?

Pola dan arah dislokasi sendi


panggul
Direction of the hip

Disorder

Flexion, adduction, internal


rotation
Partial flexion, less adduction,
internal rotation
Abduction + extension

Pure posterior dislocation


Posterior fracture dislocation
Anterior dislocation

Tornetta P. Hip dislocations and fractures of the femoral head. in: Bucholz RW,
Heckman JD, Court-Brown CM, editors. Rockwood & Green's Fractures in Adults. 6th
ed. New York: Lippincott Williams & Wilkins. 2006. p. 1715-52.

Dislokasi hip ke posterior:


gambaran radiologis & tatalaksana

57. C. Kalsium Oksalat


Perempuan, 51 tahun, nyeri pinggang kiri, jarang
minum air. Radiografi: radioopaque, kesan batu
saluran kemih.
Apa penyusun batu paling mungkin?

Radiologi Batu Saluran Kemih

Guideline on Urolithiasis, European Association of Urology 2013

Guideline on Urolithiasis, European Association of Urology 2013

Etiologi Batu Saluran Kemih


Sebagian Idiopatik
Jenis Batu

Yang Berperan

Asam Urat

Makananan tinggi purin, pemberian sitostatik pada terapi


keganasan, dehidrasi kronis, obat-obatan: tiazid, lasix, salisilat

Kalsium

Hiperkalsiuria absorptif: gangguan metabolisme (absorpsi usus


berlebih), vitamin D, hiperpartiroid
Hiperkalsiuria renalis: kebocoran pada ginjal

Oksalat

Primer autosomal resesif; ingesti-inhalasi: vitamin C, ethylen glycol,


methoxyflurane, anestesi; hiperoksalouria enternik: inflamasi
saluran pencernaan, reseksi usus halus, bypass jejunoileal, sindrom
malabsorpsi

Fosfat
Amonium
Magnesium

Infeksi kronik (bakteri menghasilkan urease sehingga urin menjadi


alkali karena pemecahan ureum)

Sumber: Kapita Selekta Kedokteran

58. C. Epididimitis
Keywords: Laki-laki, 21 tahun, nyeri pada buah
zakar sisi kiri, nyeri timbul tiba-tiba pada saat
bangun tidur, testis kiri sedikit bengkak dan
kemerahan, Prehn sign (+)
Diagnosis pada pasien ini adalah...

dd/ nyeri skrotum

Phrens sign
Positif bila nyeri berkurang dengan melakukan
elevasi pada testis yang nyeri
Negatif bila nyeri tidak berkurang dengan
melakukan elevasi pada testis yang nyeri
Pherns sign positif khas untuk epididimitis

Epididimitis
Radang epididimis nyeri
skrotum
Biasanya disebabkan refluks
bakteri dari vas deferens

Biasanya onset-nya gradual,


namun bisa juga akut dan tibatiba
Biasanya disertai tanda &
gejala ISK (nyeri, demam,
ditemukan peningkatan
leukosit pada urin)

59. C. Fraktur os nasal dan blow


out
Laki-laki, 42 tahun, post KLL sepeda motor; racoon
eyes (+), hidung tersumbat (+), pandangan kabur
(+), keluar darah dari hidung.
Apakah kelainan yang paling mungkin?

Raccoon Eyes = ekimosis periorbital bilateral tanda fraktur basis


cranii
Tripod fracture: fraktur kompleks zigomatik arkus zigomatik, tepi orbita,
penopang frontozigomatik, dan penopang zigomatik-maksilaris
Klinis: edema, ekimosis periorbita, hematoma subkonjungtiva, retraksi
kelopak mata bawah, epistaksis, maloklusi, teraba pergeseran
Blow out fracture: fraktur pada dasar orbita
Klinis: ekimosis, edema, enophtalmus, diplopia (pandangan ganda/kabur),
anestesi saraf infraorbita
Fraktur Mandibula
Klinis: asimetri, maloklusi, teraba garis fraktur, mati rasa bibir bawah

Fraktur nasal
Klinis: pembengkakan, epistaksis, deviasi hidung, nyeri tekan, krepitasi,
teraba garis fraktur

Sumber: Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat & de Jong

Le Fort
(Fraktur Tulang Wajah, Maksila)

Fraktur Le Fort III = Craniofacial disjunction biasa disertai


cedera kranioserebral (trauma intrakranial)

60. B. 8
Perempuan, 61 tahun, pasca KLL, mengerang,
rangsang nyeri membuka mata, bergerak refleks
menjauhi nyeri.
Berapa skor GCS pasien tersebut?

Glasgow Coma Scale (GCS)


PENILAIAN
Eye Opening (E)
Spontan
Terhadap suara
Terhadap nyeri
Tidak ada

SCORE
4
3
2
1

Verbal Response (V)


Berorientasi baik
Berbicara meracau (bingung)
Kata-kata tidak teratur
Suara tidak jelas
Tidak ada

5
4
3
2
1

Motoric (M)
Mengikuti perintah
Melokalisir nyeri
Fleksi normal (menarik anggota tubuh yang dirangsang)
Fleksi abnormal (dekortikasi)
Ekstensi abnormal (deserebrasi)
Tidak ada

6
5
4
3
2
1

Sumber: ATLS Student Course Manual

Skor total =
E+V+M

Tertinggi: 15
Terendah 3

Pada soal:
E2 + V2 + M4 =
8

61. E. McBurney Sign


Keywords:

Jika ditekan pada perut kanan bawah, timbul nyeri


pada bagian tersebut.
Tanda tersebut adalah?

Psoas sign

Nyeri perut kanan bawah pada


hiperekstensi sendi panggul kanan /
fleksi aktif sendi panggul kanan dan
paha kanan ditahan

Obturator
sign

Nyeri perut kanan bawah pada


gerakan fleksi dan endorotasi sendi
panggul pada posisi telentang

Rebound
tenderness

Nyeri dirasakan saat bagian perut


yang ditekan tiba-tiba dilepas

Rovsing
sign
Mc Burney
sign

Nyeri perut kanan bawah bila perut


kiri bawah ditekan

Nyeri perut kuadran kanan bawah

Sumber: Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat & de Jong

62. C. Appendisitis Akut


Keywords:

Laki-laki, 19 tahun, nyeri perut (2 hari), awalnya di


ulu hati menjalar ke kanan bawah, mual muntah
(+), febris (+); nyeri tekan & lepas Mc burney;
leukosit 18.000, neutrofil 80%.
Diagnosis?

Diagnosis Banding
Nyeri Abdomen Kanan Bawah
Tambahan DD pada wanita:
Appendisitis

Endometriosis

Hernia inkarserata
Divertikulitis

Kehamilan Ektopik
Terganggu

Ileitis

Kista Ovarium Terpuntir

Perforasi caecum

Adneksitis

Batu ureter
Abses psoas
Sumber: Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah FKUI

Appendisitis Akut
Peradangan appendiks akibat infeksi bakteri
Gejala:
-Nyeri di epigastrium, berpindah ke kanan bawah
(titik McBurney) dalam beberapa jam;
-mual muntah; nafsu makan ;
-konstipasi;
-demam ringan
Lab: Leukositosis

63. C. Hemoroid interna grade III


Keywords:

Perempuan, 45 tahun, darah menetes saat BAB


(tidak bercampur feses), benjolan keluar dari anus
& bisa dimasukkan kembali
Apa diagnosisnya?

Darah menetes dari lubang anus & tidak bercampur


feses tanda darah segar, bukan melena

Adanya darah menetes dari lubang anus merupakan


gejala hemoroid
Hemoroid: pleksus arteri-vena yang berfungsi sebagai
katup dalam saluran anus membantu sistem sfingter
anus, mencegah inkontinensia
H. interna: pleksus vena hemoroidalis superior
H. eksterna: pelebaran & penonjolan pleksus hemoroid
inferior

64. B. Bedah elektif


Laki-laki, 35 tahun, benjolan hilang-timbul pada
lipat paha kanan, kadang turun hingga skrotum
saat berdiri atau batuk namun kembali lagi saat
tidur. Nyeri (-)

Apakah terapi yang paling tepat?

HERNIA
= Penonjolan isi rongga melalui defek dari dinding rongga
bersangkutan
Sifat: reponibel (dapat keluar-masuk) & ireponibel (tidak dapat
kembali ke dalam rongga perut)
Hernia bisa menjadi inkarserata / strangulata bila isinya terjepit
oleh cincin hernia sehingga tidak bisa kembali ke rongga perut
Inkarserata terjadi gangguan pasase
Strangulata terjadi gangguan vaskularisasi
Tatalaksana hernia: operasi elektif, kecuali sudah
inkarserata/strangulata CITO

Sumber: Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat & de Jong

65. B. Fraktur Colles Tertutup


Perempuan, 53 tahun, nyeri dan sulit
menggerakkan lengan kanannya pasca terjatuh.
Lengan bawah kanan: dinner fork deformity (+),
NVD dbn, luka terbuka (-).

Radiologi: fraktur distal radius extraarticular


dengan angulasi dorsal.
Diagnosis?

Fraktur Monteggia

Fraktur antebrachii patah tulang ulna + luksasi kaput os


radius
Fraktur Colles
Pergelangan tangan fraktur tulang radius distal dengan
dislokasi ke arah dorsal
Lengan bawah & tangan tampak seperti garpu dari samping

Faktur Reverse Colles / Smith


Fraktur os radius distal dengan dislokasi ke arah palmar/volar
Fraktur Barton
Bagian dari fraktur Smith
Fraktur intra-artikular, patah tulang radius distal

Fraktur Galleazi
Fraktur distal radius + dislokasi / subluksasi sendi radioulnar
distal
Sumber: Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat & de Jong

66. A. Epicondylitis Medial


Keywords:

Perempuan, 60 tahun, nyeri siku, penjual rujak


(sehari-hari mengulek sambal dan memotong
buah). ROM aktif dan pasif dbn (normal). Nyeri
terutama saat palpasi siku bagian medial.
Apa diagnosisnya?

EPICONDYLITIS
Robekan kecil pada tendon di siku, terjadi pada aktivitas
fisik berulang yang melibatkan tumpuan pada siku
Lateral Tennis elbow
Medial Golfers elbow
Faktor risiko: > 40 tahun, aktivitas fisik berulang
Tatalaksana: terapi fisik + analgetik; bedah; injeksi
kortikosteroid
Catatan: Pada kasus di soal ini, fraktur dan dislokasi
disingkirkan karena tidak ada gangguan pada ROM

Sumber: Medscape

67. B. Kuning
Laki-laki, 32 tahun, post kecelakaan, sadar, tanda
vital normal, deformitas tungkai bawah dekstra
tanpa luka terbuka.
Apakah kategori triase untuk pasien tersebut?

TRIAGE
Simple Triage And Rapid Treatment:

4: Hitam, Merah, Kuning, Hijau


Advanced Triage System
5: Hitam, Merah, Kuning, Hijau, Putih

Sumber: Medical Triage: Code Tags and Triage Terminology (medicine.net)


Disaster triage: START, then SAVE--a new method of dynamic triage for victims of a catastrophic
earthquake (pubmed)

TRIAGE
Hitam

Expectant
Meninggal / cedera fatal yang tidak
memungkinkan resusitasi

Merah

Immediate
Cedera berat / mengancam jiwa, membutuhkan
penanganan segera

Kuning

Observation
Saat ini dalam keadaan stabil / tidak mengancam
jiwa dalam waktu dekat, penanganan cedera
dapat ditunda dalam beberapa jam, namun
dapat membutuhkan re-triage

Hijau

Wait
Walking wounded, cedera tidak membutuhkan
penanganan segera oleh tenaga medis

Putih

Dismiss
Luka ringan, tidak membutuhkan perawatan
dokter

68. D. Neurogenik
Laki-laki, 34 tahun, jatuh dari lantai 2, kesemutan
pada kedua tungkai bawah, sadar, hipotensi, tanda
vital lain normal.
Jenis syok?

SYOK
Merupakan sindrom gangguan perfusi dan
oksigenasi sel secara menyeluruh sehingga
kebutuhan metabolisme jaringan tidak terpenuhi
Penilaian: denyut nadi, laju pernapasan, perfusi
kulit, dan tekanan nadi (perbedaan antara sistolik
dan diastolik)

Sumber: ATLS Student Course Manual; Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat & de Jong

Hipovolemik

Tidak cukupnya volume sirkulasi, karena perdarahan / kehilangan cairan tubuh


Klinis: takikardia, hipotensi, takipnea, urine , gangguan kesadaran

Kardiogenik

Kegagalan fungsi pompa jantung sehingga curah jantung menurun


Penyebab: kelainan dalam jantung, disfungsi miokard (terutama ventrikel kiri)
Klinis: hipotensi / penurunan tek.sistol mendadak (30 mmHg), hipoperfusi
(urine 20cc/jam, gangguang fungsi saraf pusat, vasokonstriksi perifer / akral
dan keringat dingin)

Obstruktif

Obstruksi mekanis aliran darah di luar jantung sehingga perfusi sistemik


menurun
Penyebab: tamponade jantung, tromboemboli paru, obstruksi
a.pulmonalis, hipertensi pulmonal, tension pneumothorax

Distributif

Penyebab: Kesalahan distribusi aliran dan volume darah


Termasuk: syok septik, syok anafilaktik, dan syok neurogenik

Sumber: Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat & de Jong

Syok Distributif
Syok Septik
Akibat infeksi yang menyebar dalam darah
Endotoksin basil Gram (-) menyebabkan
vasodilatasi kapiler, peningkatan permeabilitas
kapiler
Terjadi peningkatan curah jantung, percepatan
peredaran darah tapi hipotensi sistemik, perfusi
berlebihan

Syok Anafilaktik
Reaksi hipersensitivitas umum tipe I
Antigen terikat dengan antibodi di permukaan sel
mast terjadi degranulasi, pengeluaran histamin
& zat vasoaktif lain permeabilitas meningkat &
seluruh kapiler berdilatasi hipovolemia relatif.

Syok Neurogenik
Reaksi vasovagal berlebih,
menyebabkan vasodilatasi
menyeluruh di regio splanknikus
sehingga perdarahan berkurang
Penyebab: suhu panas, takut,
terkejut, nyeri

Pada trauma akibat hilangnya


tonus simpatis pada cedera tulang
belakang atau batang otak.
Klinis: hipotensi tanpa takikardia
atau vasokonstriksi perifer

Terjadi bronkospasme ventilasi

Sumber: Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat & de Jong

69. B. Pasang Mayo / Goedell


Keywords:

Laki-laki, 43 tahun, post KLL, penurunan


kesadaran, suara snoring (mendengkur).

Suara napas abnormal / berisik penanda pernapasan


yang tersumbat

Sumbatan parsial pada faring / laring:


Snoring (mendengkur): karena terhalang lidah
bebaskan dengan pemasangan mayo/goedell
Gargling (berkumur): karena ada cairan menumpuk
finger sweeps, suction
Stridor/crowing (bersiul): karena kelainan anatomis
Hoarseness (suara parau) sumbatan pada laring / plika
vokalis
Sumber: ATLS Student Course Manual

70. D. Pemasangan Cervical Collar


Keywords:

Perempuan, 29 tahun, post-KLL, jejas pada kepala


dan leher, sadar, nadi teraba kuat
Tatalaksana awal?

TRAUMA: PRIMARY SURVEY


A
AIRWAY
Jaga patensi jalan napas + kontrol servikal

BREATHING
Jaga ventilasi

CIRCULATION
Cek nadi, kontrol perdarahan

DISABILITY
Status neurologis

EXPOSURE / ENVIRONMENTAL CONTROL


Buka pakaian pasien, cegah hipotermia

Manuver untuk menjaga patensi jalan napas (airway)


pada pasien dengan penurunan kesadaran yang
bernapas spontan:
Head tilt + chin lift

Jaw thrust

Cervical collar untuk imobilisasi/stabilisasi servikal

71.D.12 minggu
Keyword:

Perempuan, 25 tahun,
Menstruasi (-) 4 bulan
Selama ini menstruasi teratur
HPHT lupa
Sering mual-muntah

TFU: 8 cm

72.A.Abortus inkomplit
Keyword:
Perempuan, 23 tahun,
keluar gumpalan darah segar dari jalan lahir.
G1P0A0 hamil 18 minggu
tanda vital dbn.
inspeksi genitalia: bercak darah keluar (+)
TFU sesuai usia kehamilan
OUE terbuka 4 cm.

Abortus
Ancaman/pengeluaran hasil konsepsi
pada umur kehamilan < 20 minggu /
berat janin < 500 gr
Anamnesis: amenorea < 20 minggu
PF tanda vital:
bisa normal / KU lemah + TD +
takikardia + suhu , perdarahan
pervaginam dengan/tanpa
pengeluaran hasil konsepsi, mulas
perut bagian bawah

PF Ginekologi:
Inspeksi Vulva + Inspekulo + Vaginal
toucher
Penunjang:
tes kehamilan, Doppler/USG, periksa
kadar fibrinogen pada missed abortion
Komplikasi:
Perdarahan, perforasi, syok, infeksi, pd
missed abortion kelainan
pembekuan darah

Kapita Selekta Kedokteran

Klasifikasi Abortus
Berdasarkan terjadinya:
1. Abortus Spontan
2. Abortus Provokatus

Secara Klinis:
1. Abortus iminens
2. Abortus insipien
3. Abortus inkomplit
4. Abortus komplit
5. Missed abortion
6. Abortus habitualis
(3berturut)
PPM Departemen Obsgyn RSCM
7. Abortus
septik

Abortus Iminens

Tanpa tanda dilatasi serviks meningkat / OUE menutup

Abortus Insipiens

Ada tanda dilatasi serviks meningkat / OUE membuka

Abortus Inkomplit

Sebagian jaringan keluar dari uterus

Abortus Komplit

Seluruh jaringan janin sudah keluar dari uterus

Missed Abortion

Kematian janin tidak diketahui / dikeluarkan selama 8 minggu

Kapita Selekta Kedokteran

73.D.Misoprostol
Keyword:

Perempuan
hamil 30 minggu
keluhan nyeri ulu hati dan mual
sering terlambat makan

Misoprostol
Kategori obat pada kehamilan = X

Merupakan sintetik prostaglandin E1 yang dapat digunakan


untuk mencegah ulkus gaster
Konsumsi misoprostol pada kehamilan dapat memicu
kontraksi uterus menginduksi persalinan

Medscape

74.C. Kehamilan Ektopik


Terganggu
Keyword:

Perempuan, 22 tahun,
nyeri perut bagian bawah
G1P1A0 hamil 12 minggu
Riw.menstruasi sebelumnya teratur
TD 60/palpasi, takikardia, akral dingin

konjungtiva pucat (+).

Kehamilan Ektopik
= Kehamilan dengan gestasi di luar kavum uteri
KET menimbulkan gejala nyeri karena ruptur

Anamnesis: amenorea, nyeri abdomen,


perdarahan pervaginam (tergantung lokasi
gestasi)
PF: umum, abdomen, pelvis
Penunjang: tes HCG, USG, dsb

Tatalaksana: operasi, transfusi bila ada anemia


berat
PPM Departemen Obsgyn RSCM

75.D. Pimpin Persalinan


Keyword
Perempuan, 26 tahun,
G1P0A0 aterm
KPD 24 jam
Telah dipimpin mengejan 1
jam.

PF: janin tunggal, presentasi


kepala, DJJ 180 x/menit.
His teraba kuat.
PD: vulva bengkak,
pembukaan lengkap, selaput
ketuban tidak teraba, dan
teraba ubun-ubun kecil kiri.
Diagnosis: KPD dengan
Persalinan Lama dan Tandatanda gawat janin

Pembahasan
His/kontraksi baik sementara tidak memerlukan
forceps/vakum
Presentasi kepala bukan sungsang, tidak
membutuhkan manuver versi luar
Vulva bengkak, kecurigaan: antara kesalahan
memimpin persalinan atau CPD (bayi
besar/panggul sempit). Segera berikan ibu oksigen
dan pimpin persalinan. Bila tidak ada kemajuan
(terutama bila molage +) persiapkan untuk sectio
caesaria.

76. B. Distosia ec CPD


Keywords:

G2P1 hamil 39 minggu


Kenceng2 1 hari
Keluar air2 1 jam lalu

DJJ 150 x/menit, his baik


Pembukaan 8 cm, pendataran 75%, serviks lunak, anterior,
hodge -1
Tidak ada kemajuan moulase maksimal dan caput (+)
Diagnosis: distosia ec CPD

Persalinan dipengaruhi oleh tiga aspek


(3P) :

Tanda-tanda CPD

Power yaitu kekuatan his dan kekuatan


mengedan

Pemeriksaan abdominal
Ukuran anak besar.
Kepala anak menonjol di simphisis pubis.
Pemeriksaan pelvis
Servik mengecil setelah pemecahan
ketuban
Edema servik
Penempatan kepala tidak baik lagi di
servik
Kepala belum dipegang pintu atas
panggul
Ditemukan kaput
Ditemukan molage
Ditemukan kepala defleksi
Ditemukan asinklitismus

Pelvis yaitu keadaan jalan lahir.

Passenger yaitu keadaan janin yang


dikandung
Arrest of descent: Failure of the
presenting fetal part to continue to
descend during the second stage of
labor despite uterine contraction and
maternal effort (pushing)
Cephalopelvic Disproportion (CPD)
merupakan 50% penyebab Arrest of
descent pada nulipara dan pada
multipara hanya 29,7%

77. A. Hiperemesis
Gravidarum
Keywords: Perempuan, usia 24 tahun, mual dan
muntah terus menerus, lemas, anoreksia, nyeri ulu
hati. Menstruasi terlambat. PF: mata sedikit
cekung. HCG (+).

Diagnosis: A. Hiperemesis gravidarum

Hiperemesis Gravidarum
Hiperemesis gravidarum adalah muntah hebat yang
terjadi pada awal kehamilan sampai umur
kehamilan 20 minggu
Menyebabkan penurunan BB >5% atau ketosis

Bisa juga menyebabkan dehidrasi, gangguan


elektrolit, asam basa, defisiensi nutrisi

Sumber: Buku Ajar Kebidanan


FKUI, 2010

Diagnosis
Amenore + muntah hebat,
pekerjaan sehari-hari
terganggu
Fungsi vital:
Nadi 100x/menit
TD (keadaan berat)
Subfebris
Gangguan kesadaran (apatis-koma)

Sumber: Buku Ajar Kebidanan


FKUI, 2010

Fisik:
Dehidrasi
Kulit pucat
Ikterus
Sianosis
BB
VT: uterus besar sesuai
besar kehamilan, konsistensi
lunak
Inspekulo serviks: biru
(livide)

Pemeriksaan
USG:
Kondisi kesehatan kehamilan
Kemungkinan kehamilan kembar/ mola hidatidosa

Laboratorium:
Hb dan Ht relatif
Shift to the left
Benda keton
Proteinuria

Sumber: Buku Ajar Kebidanan


FKUI, 2010

Tatalaksana
Nonfarmakologis
Istirahat
Small frequent meals
Menghindari makanan yang asam, pedas, dan berlemak
Minum banyak cairan
Jahe
Akupuntur

Sumber: Buku Ajar Kebidanan


FKUI, 2010

Tatalaksana
Farmakologis
Cairan parenteral: saline, dekstrose
Obat-obatan:
Vitamin B6
Anti-emetik: ondansentron, meclizine, dimenhydrinate, prometazine,
prochlorperazine, metoklopramide, diphenhydramine,

Sumber: Buku Ajar Kebidanan


FKUI, 2010

Emesis gravidarum: mual muntah fisiologis pada


ibu hamil trimester awal (tidak menyebabkan
gangguan penurunan BB dll)
Dispepsia: nyeri atau rasa tidak nyaman terutama
di bagian perut atas
Gastritis: inflamasi mukosa lambung
Ulkus peptikum: defek mukosa lambung atau
duodenum
Sumber: Buku Ajar Kebidanan
FKUI, 2010
dan Emedicine

78. B. Solusio Plasenta


Keywords: perempuan, usia 41 tahun, hamil 34
minggu, perdarahan pervaginam warna merah
jumlah minimal, nyeri perut hebat
Diagnosis: Solusio Plasenta

Perdarahan Antepartum
Terdapat perbedaan definisi dalam
menentukanrtum batasan usia gestasi perdarahan
ante
Perdarahan yang terjadi >24 minggu kehamilan
sampai sebelum kelahiran bayi (menurut RCOG)
Ada juga yang mendefinisikan >20 minggu

Sumber: Buku Ajar Kebidanan


FKUI, 2010

Perdarahan Antepartum
SOLUTIO PLASENTA

Darah warna
gelap/kecokelatan
Perdarahan banyak namun
tidak bisa keluar
Ibu tampak sangat sakit
perut dan pucat
DJJ janin dapat tidak
ada/distress, tidak teraba
bagian janin
Tx/Harus SC cito
Sumber: Buku Ajar Kebidanan
FKUI, 2010

Perdarahan Antepartum
PLASENTA PREVIA
Darah warna merah segar, tidak nyeri,
janin tidak distress (DJJ baik).
Perdarahan 100 cc yg keluar darahnya
100cc. Ibu tidak kesakitan. Sering
terjadi pada hamil muda (30%)
Prinsip: tunggu sampai anak bisa
hidup diluar, atau ada indikasi mutlak
SC

Pemeriksaan: USG. Jika perdarahan


tidak boleh VT, inspekulo terlebih
dahulu
Tx/Sectio caesarea
Sumber: Buku Ajar Kebidanan
FKUI, 2010

Vasa Previa
Pembuluh darah janin
berada dalam selaput
ketuban dan mekewati
ostium uteri internum
yang kemudian sampai ke
dalam insersinya di tali
pusat
Angka kematian janin
tinggi
Bila dapat dideteksi
sebelum persalinan
sectio caesarea
Sumber: Buku Ajar Kebidanan
FKUI, 2010

79.B.Asam folat
Keyword:

Perempuan, 29 tahun
riwayat epilepsi (+)
hamil 6 bulan
rutin mengonsumsi obat antiepilepsi

Obat yang mengurangi efek samping OAE?

Asam Folat & OAE


Beberapa obat antiepilepsi (OAE) dapat menurunkan kadar folat
(melalui induksi enzim hati atau menurunkan absorpsi)

Risiko kelainan kongenital (seperti neural tube defect) menjadi 2x lipat


Konsensus rekomendasi suplementasi:
0.4-0.8mg asam folat/hari untuk semua wanita yang merencanakan
kehamilan;
4 mg/hari untuk wanita yang memiliki riwayat neural tube defect di
kehamilan sebelumnya

Penelitian tentang efektivitas dan dosis asam folat sebagai prevensi


Medscape
teratogenitas OAE masing kurang

80.A. Insulin
Keyword:

Perempuan, 31 tahun
G2P1A0 dengan riw. DM
GDS terakhir 280 mg/dL
Obat DM?

DM Pada Kehamilan
1. Pre-gestasional: DM sudah didiagnosis sebelum hamil
2. DM gestasional: DM baru didiagnosis saat hamil
Skrining: pemeriksaan beban 50 g glukosa pada kehamilan
24-28 minggu
Tatalaksana:
terapi insulin --> mencegah makrosomia janin dan
morbiditas perinatal; dosis individual; target < 140 mg/dl
Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo (Buku Merah)
alternatif metformin, sulfonilurea

81.E.Pemeriksaan TORCH
Keyword:
Perempuan, 28 tahun,
menikah 4 tahun belum punya anak
hamil 2 kali, keguguran
pasien dan suami memelihara kucing, hamster, dan
burung dara

Rekomendasi pemeriksaan?

Pemeriksaan TORCH
TO Toxoplasma
R Rubella
C Cytomegalovirus

Pemeriksaan TORCH mencari


penyebab abortus berulang
Pada kasus ini terdapat faktor risiko
infeksi Toxoplasma (dari perantara hewan
peliharaan)

H Herpes
Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo (Buku Merah)

82. D. Letak Lintang


Keywords: wanita, 27 tahun, primigravida, hamil
36 minggu, Leopold 1 bagian janin di fundus
uteri sulit diidentifikasi, Leopold 2 teraba keras
pada sisi kanan dan teraba lunak pada sisi kiri,
Leopold 3 bagian janin juga sulit ditentukan
Posisi janin?

Sumber: Buku Ajar Kebidanan


FKUI, 2010

Pemeriksaan Leopold
Leopold I: Tinggi fundus
uteri dan bagian janin
yang berada di fundus
Leopold II: Bagian janin
yang berada di kedua sisi
uterus
Leopold III: Bagian janin
yang berada di bawah
Leopold IV: Menentukan
engangement

Pada pasien...
Pada Leopold II didapati bagian besar yang keras di
kanan dan bagian besar yang lunak di kiri
Bagian besar keras kepala
Bagian besar lunak bokong

Maka dapat disimpulkan janin melintang


Letak lintang

83. A. OAT kategori I


Keywords:
Wanita 23 tahun, hamil 6 minggu, batuk lama
Dahak SPS hasil +/+/-

Terapi yang sesuai: OAT kategori I (2RHZE/4RH)

TB Paru pada kehamilan dan


menyusui
Tidak ada indikasi pengguguran pada penderita TB dengan
kehamilan
OAT tetap dapat diberikan kecuali streptomisin karena efek
samping streptomisin pada gangguan pendengaran janin
Pada penderita TB dengan menyusui, OAT & ASI tetap dapat
diberikan, walaupun beberapa OAT dapat masuk ke dalam
ASI, akan tetapi konsentrasinya kecil dan tidak
menyebabkan toksik pada bayi
Wanita menyusui yang mendapat pengobatan OAT dan
bayinya juga mendapat pengobatan OAT dianjurkan tidak
menyusui bayinya, agar bayi tidak mendapat dosis
berlebihan

84. A. Swab vagina


Keyword:

Perempuan, 35 tahun
keputihan berbau 3 hari
OUE tertutup, portio livide, fluor (+) warna
kehijauan.

Portio livid (kebiruan) tanda hipervaskularisasi =


tanda Chadwick, merupakan tanda dugaan kehamilan
Pada kehamilan awal (trimester 1) para ibu seringkali
mengalami keputihan (bisa karena hormonal maupun
infeksi)

Dapat dilakukan pemeriksaan apusan vagina untuk


mencari penyebab keputihan

85. C. ischium, illium, sakrum,


coccyx, pubis
Struktur tulang yang menyusun panggul antara
lain:
A. ischium, illium, pubis
B .ischium, illium, sakrum, pubis
C. ischium, illium, sakrum, coccyx, pubis
D. trochanter, illium, sakrum, coccyx, pubis

E. illium, sakrum, coccyx, pubis

Anatomi Panggul
Struktur panggul
disusun oleh:
1. Os coccae (os ilium +
os ischium + os pubis)

2. Os sacrum
3. Os coccygis

86. B. Bakterial vaginosis


Keyword:

Perempuan, 24 tahun
keputihan encer, berbau, tidak gatal 2 minggu
haid teratur
pH vagina 5.5, sediaan KOH: fishy odor (+), clue
cells (+).

Bakterial vaginosis
= vaginitis nonspesifik infeksi bakteri
Klinis: keputihan (abu-abu, encer, homogen),
vaginal odor (bau), iritasi vulva, disuria
Penunjang: clue cell (+), pH >4.5, bau amis
sebelum/sesudah ditetes KOH = whiff test (+)
Terapi: antibiotik metronidazol /
klindamisin oral / vaginal supposituria;
metronidazol vaginal gel
Medscape

87.B.AKDR
Keyword:

Perempuan, 28 tahun,
akseptor KB suntik
ingin mengganti KB karena BB signifikan
memiliki 1 anak umur 2 tahun
masih ingin punya anak lagi dalam beberapa tahun
ke depan.

Pemilihan Kontrasepsi
Penggunaan kontrasepsi hormonal dapat
mempengaruhi BB, oleh sebab itu pada pasien
dapat direkomendasikan yang sifatnya nonhormonal.

Sterilisasi dihindari karena pasien masih ingin


menambah anak lagi.
Pilihan: IUD / AKDR

88. E. 26- 29 hari setelah haid


Keyword:

Perempuan, 22 tahun
baru menikah
ingin menunda keturunan
siklus menstruasi antara 28-36 hari
program KB alamiah pantang berkala

Kontrasepsi Alamiah
Pantang Berkala
Prinsip: tidak melakukan senggama pada masa
subur
Masa Ovulasi: 14 2 hari sebelum hari pertama
haid yang akan datang

Fase ovulasi: mulai 48 jam sebelum hingga 24 jam


setelah ovulasi (3 hari)

Kasus: siklus haid 28-36 hari


1

1
2

1
4

1
6

Garis merah menunjukkan masa


subur, sehingga senggama tidak
aman dilakukan pada masa itu

2
8

hindari senggama di periode


waktu 12-24 hari setelah haid
1

2
0

2
2

2
4

3
6

di luar area itu, aman

72. D. Positif IVA


Keywords:
Wanita 46 tahun, keputihan
Pernah menikah 3 kali, mempunyai 6 orang anak,
menikah usia 16 tahun
IVA: bercak putih IVA positif

Pemeriksaan IVA
IVA (Inspeksi Visual
Prinsip: Melihat
dengan Asam asetat) perubahan warna
Pemeriksaan dengan
menjadi putih
mengamati leher rahim (acetowhite) pada lesi
yang telah diberi asam
prakanker jaringan
asetat/asam cuka 3-5% ektoserviks rahim yang
secara inspekulo dan
diolesi larutan asam
dilihat dengan
asetoasetat
penglihatan mata
telanjang

Apabila hasil skrining positif, perempuan yang diskrining menjalani


prosedur selanjutnya yaitu konfirmasi untuk penegakan diagnosis
melalui biopsi yang dipandu oleh kolposkopi
Jika jaringan abnormal tidak dapat terlihat dengan kolposkopi,
dapat dilakukan cone biopsi

Karsinoma Serviks
Kanker servix disebabkan 99,7% oleh HPV.
95% infeksi HPV oleh hubungan seksual
70% ca servix oleh strain ganas 16 dan 18 (onkogenik).
Strain 6 dan 11 (jinak) lebih jarang menimbulkan
Infeksi HPV menetap menjadi sel kanker butuh waktu 317 tahun
Faktor risiko: hub seksual usia muda, kehamilan sering,
merokok, KB hormonal jangka panjang (10 tahun
meningkatkan risiko 2 kali), infeksi HSV 2 dan chlamidya,
pasangan tidak di sirkumsisi

Gejala Karsinoma serviks


Post-coital/contact bleeding

Menometroragia spontan
Keputihan bercampur darah dan berbau
Nyeri panggul, gangguan BAK
Nyeri ketika berhubungan/dispaurenia
Diagnosis: deteksi dini: IVA, papsmear, thinprep/LBC, pap-net, hybrid capture

90.C. Kista Bartholin


Keyword:

Perempuan, 32 tahun
benjolan pada kemaluan
PF: benjolan di sisi dalam dari labia mayora kiri,
hiperemis, nyeri (+) , dan fluktuasi (+).

Tumor Vulva & Vagina


NYERI

TIDAK NYERI

Kista Bartholin Terinfeksi

Kista Bartholin (di vulva)

Adenokarsinoma Bartholin
Kista Duktus Skene

Kista Duktus Gardner (di


dalam vagina)

Kista Inklusi

Kista Sebasea

Mioma Geburt

Lipoma
Hidradenoma
Ilmu Kandungan. Hanifa Wiknjosastro. (Buku Biru)

Kista Bartholin
Penyebab: tersumbatnya bagian distal dan duktus
kelenjar yang menyebabkan retensi dan sekresi
sehingga terjadi pelebaran duktus dan pembentukan
kista
Kelenjar Bartholin terletak bilateral di posterior
introitus dan bermuara dalam vestibulum (arah jam 4
dan 8)
Kista dapat terinfeksi menjadi abses

Pada awal asimtomatik, bila sudah terinfeksi menjadi


nyeri, dispareunia (nyeri saat hubungan seksual)

91. C. Dakriosistitis
Keywords:

Tanda peradangan pada saccus lakrimalis medial


Dx:
Dakriosistitis

Dakriosistitis: infeksi pada kantong air mata (sakus lakrimalis)


Etiologi: Penyumbatan pada duktus nasolakrimalis (saluran yang
mengalirkan air mata ke hidung)
Gejala:

Nyeri, merah, bengkak di sekitar kantong mata


Mata merah, berair, kadang bernanah
Penekanan kantong air mata keluar nanah dari lubang di sudut mata sebelah
dalam (dekat hidung)
Demam

Tx:

Kompres hangat
Antibiotik
Drainase pada abses
Infeksi kronik pembukaan sumbatan duktus lakrimalis

Uveitis: peradangan pada uvea (lapisan antara sklera-retina iris,


badan siliar, koroid) mata merah, nyeri, visus turun, fotofobia

Dakrioadenitis: peradangan kelenjar lakrimal nyeri, bengkak, merah


di sekitar glandula lakrimal (temporal atas rongga orbita)
Hordeolum: infeksi/radang kelenjar di tepi kelopak atas/bawah ec
bakteri (Staphylococcus aureus) benjolan di palpebra, merah, nyeri,
mata berair, fotofobia

Calazion: peradangan lebih ringan bengkak, benjolan biasanya tidak


merah
Canaliculitis: infeksi/radang pada duktus lakrimal merah, berair,
bengkak(benjolan) di sebelah mata dekat hidung punctum &
canaliculi tampak tanda radang, sedangkan dakriosistitis bagian tsb
tenang
Medscape, Buku ajar Ilmu Penyakit Mata

92. A. Miopia
Keywords:
Rabun jauh, visus 3/6
Dikoreksi S -, visus membaik 6/6
Riwayat ibu menggunakan kacamata

Dx:
Miopia

Emetropia: Semua sinar yang sejajar datang dari jarak tak terhingga ke mata
akan dibiaskan tepat di fovea sentralis retina (istirahat/tidak akomodasi)

Visus abnormal <6/6


Ametropia: sinar tidak tepat jatuh di fovea sentralis retina
Miopia: dibiaskan di depan retina S - terkecil
Hipermetropia: dibiaskan di belakang retina S+ terbesar
Astigmatisma: tidak difokuskan pada satu titik pada retina C
dg/tanpa S
Presbiopi: akibat usia, kemampuan akomodasi lensa,tidak
mampu memfokuskan bayangan yang dekat S +

Miopia: Gangguan pembiasan mata, dimana sinar yang datang sejajarpada


mata yang tidak berakomodasi difokuskan di depan retina

Berdasarkan derajatnya :
Miopia sangat ringan
Miopia ringan
Miopia sedang
Miopia tinggi
Miopia sangat tinggi

:<1D
:13D
:36D
: 6 10 D
: > 10 D

Tx:

Koreksi kacamata Sferis negatif terkecil


Misal:

Visus 6/10 fokus di depan retina


Dengan S 0,5 D fokus mendekati retina 6/7,5
Dengan S- 0,75 D fokus tepat di retina
Dengan S- 1,00 D fokus di belakang retina, dg akomodasi fokus tepat di
retina (visus 6/6)
Koreksi yg diberikan S- 0,75 D

Medscape, Buku ajar Ilmu Penyakit Mata

93. D. Blefaritis
Keywords:
Mata gatal
Skuama & silia hiperemis pada margo palpebra

Dx:
Blefaritis

Blefaritis: peradangan pada tepi kelopak mata (margo palpebra) yang dapat
disertai ulkus pada tepi kelopak mata,serta dapat melibatkan folikel rambut

Diagnosis:

Gatal pada regio palpebra


Skuama/krusta di margo palpebra
Bulu mata rontok
Ulkus dangkal pada margo palpebra
Pembengkakan & merah pada palpebra

Tatalaksana:

Menjaga higienitas palpebra


Kompres hangat
Antibiotik topikal bila terdapat ulkus

Konjungtivitis: peradangan konjungtiva (selaput lendir yg menutupi bagian putih


mata&kelopak mata dalam) mata merah, gatal, berair, sekret (+)

Trichiasis : kelainan tumbuh pada bulu mata, yang bergesekan dengan bola mata, pada
seseorang yang tidak mengalami entropion
Skleritis: peradangan pada sklera (lapisan putih dibawah konjungtiva) mata merah,
nyeri hebat, visus turun
Dakriosisititis: infeksi pada kantong air mata (sakus lakrimalis) Nyeri, merah, bengkak
di sekitar kantong mata (sakus lakrimalis)

Medscape, Buku ajar Ilmu Penyakit Mata

94. B. Keratitis
Keywords:
Mata terkena lumpur
Mata merah, visus turun
Injeksi siliar, bercak putih

Dx:
Keratitis

Keratitis: kelainan akibat infiltrat sel radang pada kornea keruh


Gejala:
Mata merah, silau, perih, sekret +
Visus turun
Terdapat lesi pada kornea dengan tes fluoresensi

Pemeriksaan:

Slitlamp
Tes fluoresensi
Pemeriksaan mikrobiologi

Tx:
Disesuaikan dengan penyebab

General Ophtalmology, Buku ajar Ilmu Penyakit Mata

95. C. Fluoresensi
Keywords:
Mata terkena lumpur
Mata merah, visus turun
Injeksi siliar, bercak putih

Dx:
Keratitis
Pemeriksaan penunjang: Tes fluoresensi lihat
lesi kornea

Keratitis: kelainan akibat infiltrat sel radang pada kornea keruh


Gejala:
Mata merah, silau, perih, sekret +
Visus turun
Terdapat lesi pada kornea dengan tes fluoresensi

Pemeriksaan:

Slitlamp
Lihat lesi pada
Tes fluoresensi
kornea
Pemeriksaan mikrobiologi

Tx:
Disesuaikan dengan penyebab

General Ophtalmology, Buku ajar Ilmu Penyakit Mata

96. A. Konjungtivitis vernal


Keywords:
Mata merah, gatal, berair
Px palpebra cobble stone

Dx:
Konjungtivitis vernal

Konjungtivitis: peradangan konjungtiva (selaput lendir yg menutupi bagian putih


mata&kelopak mata dalam) mata merah, gatal, berair, sekret (+)

Akut: onset tibat-tiba, unilateral bilateral dalam 1 minggu; durasi <4minggu


Kronik: durasi >3 sampai 4 minggu
Tanda

Bakterial

Viral

Alergik

Injeksi Konjungtiva

Mencolok

Sedang

Ringan-Sedang

Kemosis

++

+/-

++

Hemoragik

Eksudat

Purulen/Mukopurulen

Jernih, air

Berserabut, putih

Pseudomembran

+/-(Strep,C. Diph)

+/-

Papil

+/-

Folikel

Nodul Preaurikuler

++

Panus

- (kec. Vernal)

Konjungtivitis vernal salah 1 konjungtivitis alergi

Inflamasi konjungtiva bilateral, rekuren yang berhubungan dengan riwayat sensitivitas serbuk sari, debu, bulu, dll
Bertambah parah saat musim panas
Pria > wanita, prapubertas

Gejala

Gatal
Fotofobia
Lakrimasi
Rasa terbakar
Sekret mukoid berserat
Ptosis

Mucoid nodule

Trantas dots

Terapi:

Hindari alergen
Steroid topikal
Vasokontriktor, kromolin topikal
Kompres dingin
General Ophtalmology, Buku ajar Ilmu Penyakit Mata

97. E. Pterigium
Keywords:
Terdapat selaput di mata
Terpapar sinar matahari
Terdapat jaringan fibrovaskuler bentuk segitiga dari
konjungtiva (antara pupil & limbus)

Dx:

Pterigium

Pterigium: jaringan fibrovaskular yang bersifat invasif dan degeneratif,


berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah temporal maupun nasal konjungtiva menuju
kornea pada daerah interpalpebra.

Klinis:
Grade I : pterigium terbatas pada limbus kornea
Grade II : pterigium melewati tepi limbus kornea, < 2mm
Grade III: pterigium melewati tepi limbus kornea, > 2mm
tidak melewati pinggiran pupil dalam keadaan cahaya
normal ( pupil 3-4 mm)
Grade IV: pterigium melewati pupil gangguan
penglihatan (+)

Perbedaan pesudopterigium, penguikula dan pterigium

Perbedaan

Pterigium

Pingekuela

Pseudopterigium

Definisi

Jaringan fibrovaskular konjungtiva


bulbi berbentuk segitiga

Benjolan pada konjungtiva bulbi

Perlengketan konjungtiva bulbi


dengan kornea yang cacat

Warna

Putih kekuningan

Putih-kuning keabu-abuan

Putih kekuningan

Letak

Celah kelopak bagian


Celah kelopak mata terutama
nasal/temporal yang meluas ke arah bagian nasal (tidak melebihi
kornea
limbus)

Di konjungtiva yang terdekat


dengan proses kornea
sebelumya

Rasio jenis kelamin

>

Progresivitas

Sedang

Tidak

Tidak

Kerusakan kornea
sebelumnya

Tidak ada

Tidak ada

Ada

Pembuluh darah konjungtiva

Lebih menonjol

Menonjol

Normal

Sonde

Tidak dapat diselipkan

Tidak dapat diselipkan

Dapat diselipkan di bawah lesi

Puncak

Ada pulau Funchs (bercak kelabu)

Tidak ada

Tidak ada head, cap, body

Histopatologi

Epitel ireguler & degenerasi hialin


dalam stroma

Degenerasi hialin jaringan


submukosa konjungtiva

Perlengketan
General Ophtalmology, Buku ajar Ilmu Penyakit Mata

98. D. ODS Astigmatisme miopia simplek

Keywords:
Kabur melihat jauh
Mata lelah dan nyeri kepala saat membaca
Koreksi ODS dengan C

Dx:
ODS Astigmatisme miopia simplek

Astigmatisma: bayangan tidak difokuskan pada satu titik


pada retina
Penyebab: Kelainan kelengkungan kornea, kekeruhan lensa
Gejala: penglihatan kabur melihat jauh/dekat, nyeri kepala,
mata lelah
Astigmatisma reguler terdiri dari 5 macam :

Astigmatisma miopikus simpleks titik fokus 1 di depan, 2 di retina koreksi C Astigmatisma miopikus kompositus kedua titik fokus di depan retina koreksi C - SAstigmatisma hipermetropikus simpleks titik fokus 1 di belakang, 2 di retina koreksi C +
Astigmatisma hipermetropikus kompositus kedua titik fokus di belakang retina koreksi C+ S+
Astigmatisma mikstus titik fokus 1 di depan, 2 di belakang retina koreksi C+ S-, C- S+

*miopia levio= miopia ringan <3D


Buku ajar Ilmu Penyakit Mata

99. B. OD S+1.00/ OS S+1.00


Keywords:
Penglihatan kabur, pusing bila membaca terlalu lama
Visus membaik dengan koreksi lensa S +

Dx:
Hipermetropi
Tx:
Koreksi kacamata dengan lensa sferis positif terbesar

Hipermetropia: gangguan pembiasan, sinar sejajar yang


masuk pada mata tidak berakomodasi difokuskan di
belakang retina
Penyebab:
kurvatur kelainan kelengkungan lensa (lebih datar)
Aksial sumbu bola mata anteroposterior lebih pendek
dari normal

Koreksi visus dengan lensa sferis + terbesar


Buku ajar Ilmu Penyakit Mata

100. D. +2.5 D
Keywords:
Usia 55 th
Penglihatan kabur bila membaca
Visus 6/6

Dx:
Presbiopi
Tx:
Koreksi sesuai usia 55 tahun +2.50 D

Presbiopia: perkembangan normal yang berhubungan dengan usia, dimana

akomodasi yang diperlukan untuk melihat dekat perlahan-lahan berkurang


punctum proksimum (titik terdekat yang dapat dilihat dengan akomodasi yang
maksimal) telah begitu jauh sehingga pekerjaan dekat yang halus seperti membaca,
menjahit sukar dilakukan

Gejala Keluhan bila melihat dekat:


lelah, keluar air mata, bertambah buruk pada penerangan yang kurang dan malam hari
Terjadi pada usia 40 tahun

Koreksi:

+1.00 D 40 th
+1.50 D 45 th
+2.00 D 50 th
+2.50 D 55 th
+3.00 D >60 th

Refraksi jauh dikoreksi dulu, melihat dekat ditambah lensa adisi sesuai umur
Buku ajar Ilmu Penyakit Mata

101. A. Carpal Tunnel


Syndrome
Keywords :
Pasien seorang juru ketik
Nyeri dan rasa kesemutan pada ibu jari, jari
telunjuk dan jari tengah tangan kanannya sejak 2
bulan yang lalu
PF : Tinel sign (+) dan phalen sign (+)

Diagnosis : carpal tunnel syndrome

Carpal Tunnel Syndrome


PATOGENESIS

Terjadi karena
penekanan nervus
medianus

PEMERIKSAAN

Tinel sign (+)

Phalen sign (+)

102. A. N.Medianus
Keywords :

Pasien seorang juru ketik


Nyeri dan rasa kesemutan pada ibu jari, jari telunjuk
dan jari tengah tangan kanannya sejak 2 bulan yang lalu

PF : Tinel sign (+) dan phalen sign (+)


Diagnosis : carpal tunnel syndrome
Nervus yang terlibat N. Medianus

103. B. Migrain Dengan Aura


Keywords :
Pasien mengeluh nyeri kepala berdenyut pada sisi kiri
Mual (+), muntah (+), makin nyeri ketika di tempat
bising
Sebelum keluhan terjadi, pasien merasa melihat kilatan
cahaya
Keluhan sering mengganggu aktivitas
Diagnosis : migrain dengan aura

Tension Type Headache


(TTH)

Migrain

Cluster Headache

Lokasi di kepala

Bilateral

Unilateral

Bilateral

Sensasi

Seperti diikat

Berdenyut

Seperti ditusuk-tusuk

Intensitas

Ringan - sedang

Sedang - berat

Sangat berat

Mual

+/-

Muntah

Fotofobia

Fonofobia

Memberat dengan
aktivitas

Aura

Classic migrain aura


(+)
Common migrain aura
(-)

Penyerta

Injeksi konjungtiva,
lakrimasi, rinore,
perpirasi pada sisi wajah
ipsilateral

Aura : gejala neurologik fokal yang


mendahului/menyertai serangan migraine
berupa visual, sensorik, atau motorik

104. E. Bells Palsy


Keywords :
Pasien, 21 tahun, mengeluh kekakuan wajah di sisi kiri
sejak tadi pagi
Dahi kiri tidak dapat dikerutkan, kelopak mata kiri sulit
ditutup, mulut mencong
Satu hari yang lalu, pasien naik motor tanpa helm
dalam cuaca yang dingin dan gerimis

Diagnosis : Bells palsy

Bells Palsy
Bells palsy : paralisis akut wajah terkait inflamasi dan pembengkakan
N. fasialis di dalam kanalis fasialis paresis N. fasialis

Gejala klinis :

Terapi : kortikosteroid

105. B. Myasthenia Gravis


Keywords :

Pasien tidak bisa membuka mata dan badan terasa


lemah sejak 2 bulan yang lalu memberat pada
sore hari.
PF : ptosis bilateral (+), tes wartenberg (+)
Diagnosis : myasthenia gravis

Myasthenia Gravis
Patofisiologi : autoimun autoantibodi terhadap
reseptor asetilkolin di neuromuscular junction

Normal vs. Myasthenia Gravis


Normal : saat akan kontraksi otot, asetilkolin
dilepaskan ke celah sinaps dan menempel ke reseptor
postsinap impuls (+) kontraksi (+). Setelah
transmisi selesai asetilkolin dihancurkan enzim
asetilkolinesterase

Myastenia gravis : reaksi imunologi merusak reseptor


asetilkolin dan membran postsinap jarak antara
membran presinaps dan postsinaps menjadi besar dan
jumlah asetilkolin yang ditangkap reseptor lebih kecil
lebih banyak asetilkolin dapat dipecahkan oleh
kolinesterase kelemahan otot (+)

Gejala klinis : kelemahan otot yang dimulai dari


ptosis, lalu menyebar ke wajah, lengan, tubuh, dan
tungkai (dari atas ke bawah) keluhan memberat
dengan aktivitas, membaik dengan istirahat
PF : tes wartenberg (+) pasien diminta melihat
suatu objek dalam waktu lama tanpa kedip, jika
myasthenis gravis (+) maka kelopak mata pasien
akan ptosis
Terapi : inhibitor kolinesterase (contoh :
piridostigmin), kortikosteroid

106. B. Carbamazepine
Perempuan, 27 tahun mengalami pandangan berkunangkunang, lalu merasa asing dengan dirinya
(depersonalisasi) merupakan gejala emosional
lobus temporalis kejang fokal
Simpleks atau Kompleks? Tidak ada penjelasan tentang
penurunan kesadaran. Jadi kita harus melihat gejala lain,
yaitu:
Pandangan berkunang-kunang aura
Bengong, lalu diikuti kejang

Diagnosis: Kejang Fokal Kompleks


Tatalaksana : Carbamazepine

Tatalaksana Kejang
Kejang umum
Tonik-klonik: asam valproat (DOC), carbamazepine
Absans: asam valproat (DOC)

Kejang fokal: carbamazepine (lini ke-1), fenitoin**


(lini ke-1), asam valproat
**Fenitoin banyak efek samping (mis. hiperplasia
gingival) dan interaksi obatnya, sehingga lebih sering
dipilih asam valproat atau carbamazepine

catatan

Bedakan kejang fokal kompleks dengan absans


kalau absans pasien akan bengong saja,
tidak ada gejala fokal, tidak ada aura

107. E. Absans Umum


Keywords :
Pasien, usia 8 tahun sering bengong disertai
mata berkedip-kedip sejak 5 bulan yang lalu
Keluhan tiba tiba, durasi sekitar 10 15 detik
Setelah tersadar dari bengong, pasien beraktivitas
seperti tidak terjadi apa apa

Diagnosis : absans umum

Klasifikasi Epilepsi
Epilepsi Umum
Absans
Tonik
Klonik
Tonik klonik
Mioklonik
Atonik

Epilepsi Parsial
Parsial sederhana
Parsial kompleks
Secondary generalized

Absans / Petit Mal / Lena


Absans melamun / bengong beberapa detik,
automatisme (+), kegiatan motoric berhenti,
penderita diam tanpa reaksi

Klasifikasi absans :
Absans umum / tipikal setelah serangan, pasien
beraktivitas seperti tidak terjadi apa - apa
Absans atipikal setelah serangan, pasien bingung

Epilepsi umum lainnya


Tonik tonus tonus otot meningkat (kaku)

Klonik kelojotan / menghentak - hentak


Tonik klonik (grand mal) gambaran kejang tonik
yang kemudian dilanjutkan gambaran klonik
Mioklonik gerakan menghentak pada otot
tertentu, tiba tiba melempar barang
Atonik pasien tiba tiba jatuh

Epilepsi
Parsial

Parsial Sederhana perubahan kesadaran (-), awalnya


kejang fokal lalu menyebar di sisi yang sama, kepala
menengok ke arah sisi tubuh yang kejang

Parsial Kompleks kejang fokal disertai dengan


terganggunya kesadaran, automatisme (+)
Secondary Generalized kejang parsial kemudian menjadi
kejang umum (kejang umum bersifat tonik klonik)

108. D. Menieres Disease


Keywords :

Pasien, usia 47 tahun pusing berputar, telinga


berdenging dan penurunan pendengaran sejak 2
bulan yang lalu
Diagnosis : Menieres disease

Vertigo
Vertigo Sentral
Onset gradual
Intensitas serangan rendah,
mual (-), muntah (-)
Ada riwayat hipertensi, ggn.
Serebrovaskular, ggn.
Keseimbangan dan
koordinasi

Vertigo Perifer
Onset mendadak /
serangan mendadak
Serangan hebat, mual (+),
muntah (+)
Keluhan telinga (+)
tinitus, penurunan
pendengaran, dsb

Menieres Disease
Patofisiologi : tekanan system endolimfatik telinga
dalam yang meningkat
Gejala klinis
Trias Menieres disease :
Vertigo
Tinitus
Penurunan pendengaran

Termasuk dalam vertigo perifer


Terapi : beta histin, diazepam, bedah

Pilihan lain
Labirinitis komplikasi dari otitis media atau
meningitis, gejala berupa adanya gangguan
pendengaran dan gangguan keseimbangan
Neuritis vestibularis vertigo terjadi secara
mendadak dan tanpa pencetus, pendengaran
normal

109. A. E2 V4 M5
Keywords :

Pasien penurunan kesadaran


Pemeriksaan GCS pasien membuka mata
dengan rangsang nyeri, dapat menampik tangan
pemeriksa saat diberi rangsangan nyeri, dan
bicaranya melantur

Nilai GCS : 11 E2 V4 M5

110. D. Area Wernicke


Keywords :
Pasien tidak mampu memahami tulisan yang dibacanya
dan tidak mampu mengulang pembicaraan lawan
bicaranya
Kemampuan bicaranya lancar namun isi
pembicaraannya tidak bermakna
Riwayat stroke (+)

Area yang mengalami kelainan : area wernicke

Afasia
Afasia : gangguan berbahasa, bisa berupa
gangguan sensorik maupun motorik
Afasia Sensorik

Afasia Motorik

Area yang kelainan

Area Wernicke

Area Broca

Kemampuan memahami
pembicaraan dan tulisan

Tidak mampu

Mampu

Kemampuan mengulang
pembicaraan

Tidak mampu

Mampu

Kemampuan bicara lisan

Mampu, namun isi


pembicaraan tidak
bermakna

Tidak mampu / terganggu

111. E. MRI
Keywords :
Pasien, usia 46 tahun nyeri yang menjalar dari
pinggang kanan sampai ke tungkai kanan pada saat
mengangkat ember air sehingga pasien tidak berani
berjalan
PF : tanda laseq (+), kernig (+), parese ekstremitas (-)
Diagnosis : HNP
Pemeriksaan penunjang : MRI

HNP (Herniated Nucleus


Pulposus)
HNP : nucleus pulposus yang
tadinya dilingkupi anulus
mengalami bulging atau
hernia melewati annulus
menuju kanalis spinalis
(biasanya di lokasi
posterolateral intervertebral)
memicu pelepasan
mediator inflamasi nyeri
Etiologi : degenerasi anulus
fibrosus, trauma, cedera
akibat mengangkat benda
berat

Gejala klinis : nyeri menjalar dari punggun ke salah


satu sisi tubuh
PF : kernig (+), laseq (+)
Penunjang : MRI

112. C. Status Epileptikus


Keywords :
Pasien, usia 7 tahun kejang seluruh tubuh selama 35
menit
Di antara kejang pasien tidak sadar
Demam dan batuk pilek
PF : suhu 38,6o C
Riwayat kejang tanpa demam (-)

Diagnosis : Status epileptikus

Status Epileptikus
Bangkitan kejang yang berlangsung lebih dari 30
menit ATAU kejang berulang dimana di antaranya
tidak ada pemulihan kesadaran

Kejang Demam
Bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (> 38 C) yang disebabkan oleh proses
ekstrakranium, biasanya pada usia 6 bulan 5 tahun

Kejang Demam
Kejang Demam
Sederhana
Kejang < 15 menit
Kejang umum
Tidak berulang dalam
24 jam

Kejang Demam
Kompleks
Kejang lama > 15
menit ATAU berulang >
2x dan diantara kejang
pasien tidak sadar
Kejang fokal / parsial /
kejang umum yg
didahului parsial
Berulang dalam 24 jam

Jika anak usia <6 bulan atau >5 tahun mengalami


kejang yang didahului demam pikirkan
kemungkinan selain kejang demam, misalnya
infeksi SSP atau epilepsi yang kebetulan terjadi
bersama demam

113. D. Epilepsi
Keywords :
Pasien, usia 4 tahun kejang selama 2 menit pada 1
jam yang lalu
Tidak sadar selama kejang
Gejala seperti ini pernah dialami pasien 1 bulan yang
lalu dan tidak disertai demam
PF : dbn
Diagnosis : Epilepsi

Epilepsi
Suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan
(seizure) berulang sebagai akibat dari adanya
gangguan fungsi otak secara intermiten, yang
disebabkan oleh lepas muatan listrik abnormal
dan berlebihan di neuron neuron secara
paroksismal, dan disebabkan oleh berbagai
etiologi

114. A. Meningitis Bakterial


Keywords :

Pasien, usia 8 tahun, demam tinggi dan sakit kepala


sejak 1 minggu yang lalu
PF : suhu 39 C, kaku kuduk (+), dan kernig sign (+)

Pemeriksaan CSF : Nonne (+++), Pandy (+++), keruh (+),


glukosa menurun, dan protein sangat meningkat
Diagnosis : Meningitis bakterial

Meningitis Bakterial
Meningitis kumpulan gejala akibat inflamasi meningens
Trias meningitis demam, sakit kepala, kaku kuduk
Etiologi :
0-2 bulan Streptococcus group B, E.coli
2 bulan - 5 tahun Streptococcus pneumoniae, N.meningitidis,
H.influenzae
>5 tahun Streptococcus pneumoniae, N.meningitidis

Terapi :
Cefotaxim 200-300 mg/kgBB/hari IV bagi 3-4 dosis, ATAU
Ceftriaxon 100 mg/kgBB/hari IV dibagi 2 dosis, ATAU
Ampisilin 200-400 mg/kgBB/hari IV dibagi 4 dosis + kloramfenikol 100
mg/kgBB/hari bagi 4 dosis

Hasil Pemeriksaan CSF


Bakterial

Virus

TB

WBC

100 - 5000

10 - 300

100 500

Glukosa

(<40)

Protein

(>100)

N/

Diff. count

>80% PMN

Limfosit

Limfosit

Warna

Keruh

Jernih

Xantokrom

Tekanan pungsi lumbal

Tes Nonne dan Tes Pandy


Tujuan : mengetahui kadar protein secara kasar
dalam CSF
Tes Nonne
Deteksi : globulin
Hasil (+) jika pada CSF timbul cincin putih setelah 0,5-1 ml CSF
yang dimasukkan ke 0,5-1 ml reagen (dibiarkan selama 3 menit)

Tes Pandy
Deteksi : albumin + globulin
Hasil (+) jika CSF jadi keruh setelah 1 tetes CSF dimasukkan ke 1
ml reagen

115. C. Perdarahan Epidural


Keywords :

Pasien, usia 9 tahun kesadaran hilang timbul


post kecelakaan interval lucid
Diagnosis : perdarahan epidural

Perdarahan Epidural

Perdarahan Subdural

Perdarahan
Subarachnoid

Lokasi

Antara duramater dan


tabula interna

Antara duramater dan


arachnoid

Subarachnoid

Pembuluh darah yang


pecah

Arteri meningia media

Bridging veins (jembatan


vena-vena)

Biasanya dari aneurisma


atau AVM

CT Scan

Hiperdens (perdarahan)
berbentuk bikonveks

Hiperdens (perdarahan)
berbentuk bulan sabit

Hiperdens (perdarahan)
di ruang subarachnoid

Gejala khas

Interval lucid (pingsan


sadar pingsan, dst)

Kaku kuduk (+), nyeri


kepala sangat hebat

Perdarahan Epidural

Perdarahan Subarachnoid

Perdarahan
Subdural

116. B. Skizofrenia
Keywords :
Pasien sering mengamuk, tidak bisa tidur, dan
berbicara sendiri sejak 2 bulan ini
Merasa ada sekelompok orang yang mengejarnya
dan ingin membunuhnya
Bicara pasien tidak karuan dan sulit dimengerti

Diagnosis : skizofrenia

Diagnosis Skizofren
Minimal 2 gejala dari :
Waham
Halusinasi
Bicara tidak teratur
Perilaku tidak teratur
atau katatonik
Gejala negatif (afek
datar, kehilangan
gairah)

Satu gejala dari :

ATAU

Waham
Halusinasi auditorik
Gangguan isi pikir
(thought echo,
thought
broadcasting, dst)

Diagnosis Skizofren (lanjutan)


Gejala berlangsung > 1 bulan

Fungsi sosial maupun pekerjaan terganggu

Pilihan lain
Gangguan waham menetap waham waham
sebagai satu satunya ciri khas klinis atau gejala yang
paling mencolok
Skizoafektif skizofrenia dan gejala afektif sama
sama menonjol di saat bersamaan atau bergantian
dalam satu episode penyakit
Gangguan paranoid gangguan kepribadian yang
cenderung curiga tanpa dasar
Psikotik akut gejala psikotik yang berlangsung < 1
bulan

117. D. Haloperidol
Keywords :

Pasien gangguan jiwa yang sedang terapi rutin


Saat ini kedua tangan bergetar (tremor) dan tubuh
kaku seperti robot
Diagnosis : sindrom ekstrapiramidal parkinsonism
Obat yang mencetuskan sindrom ekstrapiramidal :
antipsikotik tipikal haloperidol

Gejala Sindrom Ekstrapiramidal


Akathisia

Perasaan gelisah pasien


tidak bisa diam

Parkinsonism

Tremor
Rigiditas
Akinesia gerakan kecil kecil
Postural reflex loss

Distonia Akut

Kontraksi spastis otot di


mata, leher, dsb

Tardive
Dyskinesia

Gangguan gerak involunter


tik, mioklonus, dsb

Antipsikotik
Antipsikotik Tipikal
Antagonis reseptor dopamin
Efek samping ekstrapiramidal
Cocok untuk skizofren dengan
gejala positif dominan (waham,
halusinasi, bicara kacau, ngamuk)
Contoh : Haloperidol,
Chlorpromazine (efek
ekstrapramidal Haloperidol >
Chlorpromazine)

Antipsikotik Atipikal
Antagonis reseptor dopamine
dan serotonin
Cocok untuk skizofren dengan
gejala negatif dominan (afek
tumpul, penarikan diri, isi pikir
miskin)
Efek Ekstrapiramidal
Contoh : Risperidon

118. B. Gangguan Panik


Keywords :

Pasien sering merasa gelisah, takut, dan gemetar


tiba tiba tanpa pencetus yang jelas
Kejadian berulang selama 1 bulan
Saat kejadian gangguan aktivitas atau pekerjaan

Diagnosis : gangguan panik

Gangguan Panik
Serangan panik berulang dalam 1 bulan

Pemicu tidak jelas (unpredictable situations)


Di antara serangan panik tidak ada gejala apaapa

Pilihan lain
Gangguan fobik ansietas yang timbul akibat pemicu
yang jelas
Gangguan cemas menyeluruh ansietas yang
berlangsung hampir setiap hari, disertai gejala somatis,
dan tidak disertai penyebab yang jelas
Gangguan penyesuaian Ada stresor yang jelas,
menghilang setelah stresor diatasi
Reaksi stress akut onset stress terjadi segera atau
beberapa saat setelah stressor luar biasa (fisik atau
mental)

119. B. Gangguan Obsesif


Kompulsif
Keywords :

Pasien bolak - balik mengecek dan mengunci pintu


sebelum tidur
Berulang kali membongkar dan merapikan isi lemarinya

Pasien tidak mampu melawan keinginannya


Kegiatan sehari hari terganggu
Diagnosis : Gangguan Obsesif Kompulsif

Gangguan Obsesif Kompulsif


Gejala obsesif dan tindakan kompulsif terjadi hampir
setiap hari, minimal 2 minggu berturut turut
Gejala obsesif :
Harus disadari dan impuls dari diri sendiri
Impuls tidak mampu dilawan
Pikiran tersebut bukan sesuatu yang memberi
kepuasan / kesenangan
Pikiran atau impuls merupakan pengulangan
yang tidak menyenangkan

120. C. Retardasi Mental Berat


Keywords :
Pasien, usia 19 tahun, marah-marah karena ingin
dibelikan sepeda motor
Keterlambatan tumbuh kembang (+), hendaya
motorik (+), hendaya social (+)
IQ : 30

Diagnosis : retardasi mental berat

Retardasi Mental
Suatu keadaan perkembangan jiwa yang
terhenti/tidak lengkap dan ditandai dengan
hendaya ketrampilan selama masa perkembangan
mempengaruhi tingkat kecerdasan secara
menyeluruh (kognitif, bahasa, motorik, sosial)
Klasifikasi IQ:
Ringan: 50-69
Sedang: 35-49
Berat: 20-34
Sangat berat: < 20

121. D. Gangguan Somatisasi


Keywords :
Pasien mengeluh penyakit yang datang silih
berganti seperti nyeri (dada, lengan, tengkuk,
leher), nyeri saat berhubungan seksual dan lain
lain keluhan di berbagai organ
Sudah sering ke dokter dikatakan normal
pasien tidak percaya

Diagnosis : Gangguan somatisasi

Gangguan Somatisasi
Hipokondriasis

Keluhan fisik bermacam macam min. 1 tahun


Tidak menerima penjelasan dokter bahwa tidak ada
kelainan (normal)
Disabilitas fungsi sehari - hari
Keyakinan menetap akan adanya satu penyakit fisik serius
Tidak menerima penjelasan dokter bahwa ia normal

Psikosomatik

Penyakit fisik yang punya aspek mental pasien memang sakit


Contoh : hipertensi dengan stress

Malingering

Pura pura sakit untuk tujuan eksternal contoh : malas kerja


Bukan penyakit

Factitious Disorder

Pura pura sakit untuk dapat perhatian atau perawatan


Termasuk penyakit

Gangguan konversi keluhan fisik tiba-tiba yang


terjadi setelah adanya stressor, namun saat
diperiksa hasilnya normal

122. A. Depresi
Keywords :

Pasien sering melamun dan merenung


Merasa tidak memiliki harapan hidup, tidak mau
makan, hanya berdiam diri di kamar, tidak mau
keluar rumah terjadi sejak kematian anaknya 1
bulan yang lalu

Diagnosis : depresi

Diagnosis Depresi
Gejala Utama
Afek depresif
Kehilangan minat dan
kegembiraan
Mudah lelah dan aktivitas
menurun

Gejala Tambahan
Konsentrasi dan perhatian

Rasa harga diri


Rasa percaya diri
Gagasan rasa bersalah dan
tidak berguna
Pesimis
Ide atau usaha bunuh diri
Tidur terganggu
Nafsu makan berkurang

Penegakan diagnosis episode depresi minimal 2 minggu

Klasifikasi Depresi
Depresi ringan min. 2
gejala utama + 2 gejala
tambahan
Depresi sedang min.2
gejala utama + 3 gejala
tambahan
Depresi berat 3 gejala
utama + 4 gejala
tambahan

123. C. ADHD
Keywords :

Anak usia 7 tahun tidak bisa diam di rumah


maupun sekolah
Tidak dapat mengikuti perintah, sering mengganggu teman,
prestasi menurun, sering kehilangan barang
Diagnosis : ADHD

Pilihan lain
Autisme onset dimulai sejak usia < 3 tahun,
gejala : gangguan interaksi sosial, komunikasi,
perilaku terbatas dan berulang punya dunia
sendiri

Gangguan sikap menentang sejak usia < 9


tahun, sikap provokatif, kasar, tidak suka kerja
sama, menentang otoritas

124. D. Ekshibisionisme
Keywords :

Pasien suka mengeluarkan alat kemaluannya di


depan umum, tanpa ada niat untuk berhubungan
lebih lanjut
Diagnosis : ekshibisionisme

Ekshibisionisme
Kecenderungan berulang atau menetap untuk
menunjukkan alat kelamin pada orang lain, tanpa
ajakan atau niat untuk berhubungan lebih akrab
Kegairahan meningkat jika yang melihat
kelaminnya terkejut, takut, atau terpesona

Pilihan lain
Fetishisme dorongan atau kepuasan seksual melalui
benda mati
Masokisme kepuasan seksual didapat dengan
disiksa
Transeksualisme hasrat untuk hidup dan diterima
sebagai anggota dari kelompok lawan jenisnya, merasa
risih / tidak serasi dengan anatomi tubuhnya, minimal 2
tahun
Voyeurisme kepuasan seksual didapat dengan
mengintip orang lain yang sedang berhubungan seks
atau berperilaku intim seperti sedang melepas baju

125. D. SSRI dan Lithium


Keywords :
Pasien selalu tampak murung sejak 3 bulan ini
sering mengurung diri di kamarnya, bolos kerja, dan
malas makan
Satu bulan sebelumnya tampak sangat aktif dan
ceria, namun masih dapat bekerja
Diagnosis : Bipolar tipe 2
Terapi : SSRI dan lithium

Gangguan Afektif Bipolar


Bipolar : gangguan afek dimana pada waktu
tertentu terjadi peningkatan energy dan aktivitas
(manik atau hipomanik) dan di waktu lain terjadi
penurunan afek, pengurangan energy dan aktivitas
(depresi)
Khas : di antara episode terdapat penyembuhan
sempurna
Episode manik 2 minggu s/d 4-5 bulan
Episode depresi s/d 6 bulan

Klasifikasi
Bipolar
Tipe 1

Minimal satu episode manik DENGAN


ATAU TANPA episode depresi mayor
Terapi : Lithium

Bipolar
Tipe 2

Minimal satu episode hipomanik DAN


minimal satu episode depresi mayor (tidak
boleh ada episode manik)
Terapi : Lithium dan antidepressant (SSRI)

Manik vs.
Hipomanik

Depresi Mayor
vs. Depresi
Minor

Manik

Depresi mayor

mengganggu aktivitas,
menurunkan fungsi
serta kualitas hidup

sangat mengganggu
aktivitas dan fungsi
sehari hari

Hipomanik

Depresi minor

tidak mengganggu
aktivitas maupun
fungsi dan kualitas
hidup

tidak sampai
mengganggu
aktivitas dan fungsi

126. A. Dermatitis Atopi


Keywords :
Gatal pada regio lipat siku dan lipat lutut
Keluhan gatal berulang
Memiliki kulit yang cenderung kering xerosis (biasanya
ditemukan pada pasien DA)
Riwayat bersin-bersin di pagi hari suspek rinitis alergi
(riw.atopi)
PF : plak eritematosa dengan sedikit skuama, likenifikasi, batas
tegas.
Diagnosis : dermatitis atopi

Kriteria
Tampilan

: polimorfik

Gejala

: pruritus (kronis residif)

Disertai riwayat atopi pada pasien atau keluarga


(riw. Atopi rinitis alergi, asma bronkial)

Klasifikasi Dermatitis Atopi


DA Infantil (usia 2
bulan 2 tahun)

DA Anak (usia 2 10
tahun)

Lokasi wajah yang


dapat meluas ke
scalp, leher,
pergelangan tangan,
lengan dan tungkai
Lesi eritema,
papulo-vesikel yang
halus, eksudatif,
krusta

Lokasi lipat siku,


lipat lutut,
pergelangan tangan
bangian fleksor,
jarang di wajah
Lesi lebih banyak
papul, likenifikasi,
sedikit skuama, erosi

DA Remaja dan
Dewasa
Lokasi lipat siku,
lipat lutut,
pergelangan tangan
bangian fleksor,
jarang di wajah
Lesi plak papulareritematosa,
berskuama,
likenifikasi

DA Tipe Juvenile

DA Tipe Anak

DA Tipe Remaja
dan Dewasa

Tata Laksana
Hidrasi kulit melembabkan kulit dengan lotion
karena kulit penderita dermatitis atopi cenderung
kering
Kortikosteroid topical potensi kortikosteroid dan
vehikulum disesuaikan dengan bagian kulit yang
terkena, usia pasien, dan tampilan klinis kulit
Antihistamin

Pilihan lain
Dermatitis numularis dermatitis berupa lesi
berbentuk koin, papulovesikel, berbatas tegas,
dengan predileksi di tungkai bawah, badan, lengan,
punggung tangan
Dermatitis seboroik dermatitis dengan tampilan
eritama dan skuama berminyak kekuningan,
predileksi di area sebore (kulit kepala, lipat
nasolabial, lipat payudara pada wanita, dsb)

Pilihan lain
Dermatitis kontak alergi riwayat paparan
terhadap bahan tertentu
Dermatitis kontak iritan riwayat pajanan kronis
terhadap bahan yang bersifat iritatif

127. C. Impetigo Krustosa


Keyword :

Anak usia 6 tahun


Bintil bintil pada sekitar lubang hidung dan mulut
Status dermatologis : papulopustul eritematosa
dengan krusta tebal berwarna kuning di atasnya

Diagnosis : impetigo krustosa

Impetigo
Impetigo Krustosa

Impetigo Bulosa

Etiologi

Infeksi Streptococcus B
hemolyticus

Infeksi Staphylococcus aureus

Penderita

Anak

Anak dan dewasa

Predileksi

Wajah sekitar mulut dan hidung Ketiak, dada, punggung

Tampilan

Eritema dan vesikel yang cepat


pecah krusta kuning madu

Eritema, bula, bula hipopion


bula pecah koleret

Terapi

Krusta dibersihkan dan diberi


salep antibiotik (contoh :
Mupirosin), bisa juga antibiotik
sistemik

Bula dipecahkan dan diberik salep


antibiotik atau cairan antiseptik,
antibiotik sistemik

Impetigo
Krustosa
Impetigo
Bullosa

Pilihan lain
Tinea korporis : tinea infeksi jamur dengan tampilan
tepi lebih aktif (central healing); korporis regio
batang tubuh
Impetigo vesikobulosa impetigo bulosa
Herpes simpleks : infeksi virus herpes dengan tampilan
vesikel multiple pada regio tertentu (virus HSV 1 : regio
pinggang ke atas, sering di sekitar mulut dan hidung;
virus HSV 2 : regio pinggang ke bawah, sering di genital)
Karbunkel : kumpulan dari furunkel (furunkel radang
folikel rambut dan sekitarnya; folikulitis radang
folikel rambut saja)

128. B. Liken Simpleks Kronik


Keywords :
Usia 47 tahun
Sisik pada daerah sekitar punggung kaki dan lutut ysng dirasa gatal
Keluhan hilang timbul
Keluhan muncul saat pasien sedang stress pasien sering mengaruk

Status dermatologis plak eritematosa yang sebagian


hiperpigmentasi, berskuama, likenifikasi, serta garis kulit yang terlihat
lebih jelas
Diagnosis : neurodermatitis

Liken Simpleks Kronik


Nama lain : neurodermatitis sirkumskripta
Gejala klinis : pruritus garukan kronik
Biasanya gatal dipicu oleh stress, terutama saat pasien
sedang tidak melakukan kegiatan sehingga makin sering
menggaruk
Predileksi : tempat yang mudah terjangkau garukan
scalp, tengkuk, samping leher, lengan sisi ekstensor, regio
genital, paha sisi medial, lutut, tungkai bawah sisi lateral,
punggung kaki

Tampilan klinis : plak eritematosa, berskuama,


likenifikasi, ekskoriasi
Terapi : kortikosteroid topikal atau sistemik,
antipruritus

Pilihan lain
Dermatitis numularis : dermatitis dengan lesi
berbentuk koin atau mata uang (ukuran numular)
Tinea pedis : infeksi jamur dermatofita pada regio
pedis, tampilan klinis central healing
Herpes zoster : infeksi virus varisela zoster dengan
tampilan vesikel multiple berkelompok sesuai
dermatomal tertentu
Tinea korporis : tinea infeksi jamur dengan tampilan
tepi lebih aktif (central healing); korporis regio
batang tubuh

129. A. Dermatitis Kontak


Iritan
Keywords :

Gatal di sela-sela jari tangan


Bercak kemerahan dan skuama halus
Keluhan muncul setelah menggunakan detergen
Diagnosis : Dermatitis kontak iritan

Dermatitis Kontak
Dermatitis Kontak Iritan

Dermatitis Kontak Alergi

Pemicu

Bahan yang bersifat iritatif

Bahan biasa sehari-hari

Onset

Setelah pajanan lama/kronis

Setelah pajanan kedua

Orang yang terkena

Semua orang

Orang yang alergi terhadap bahan


tersebut saja

Patofisiologi

Reaksi iritasi langsung

Reaksi hipersensitivitas tipe 4 /


tipe lambat

Tampilan

Perih sering lebih dominan


daripada gatal, fisura, likenifikasi

Gatal, nyeri, eritema, vesikel, bula

Patch test

Decrescendo

Crescendo

Pilihan lain
Psoriasis : penyakit kulit autoimun, kronik residif,
tampilan berupa bercak bercak eritema berbatas
tegas, skuama kasar dan berlapis
Neurodermatitis : peradangan kulit kronis, gatal,
sirkumskrip, lesi tebal/likenifikasi. Gatal biasanya
dipicu oleh stress, hilang timbul dan biasanya
timbul saat tidak sibuk
Dermatitis numularis : dermatitis dengan lesi
berbentuk koin atau mata uang (ukuran numular)

130. B. Vesikel
Keywords :
Seorang pegawai salon yang sering melakukan
rebonding
Gatal-gatal di telapak tangannya dan muncul
lenting - lenting berisi air berdiameter 0,5 cm
Diagnosis : dermatitis kontak alergi
Efloresensi : vesikel

Efloresensi
Vesikel : gelembung berisi cairan serum, beratap,
ukuran 0,5 cm, mempunyai dasar
Bula : gelembung berisi cairan yang ukurannya lebih
besar daripada vesikel
Papul : penonjolan di atas permukaan kulit,
sirkumskrip, ukuran 0,5 cm, berisi zat padat
Pustul : vesikel yang berisi nanah
Ekskoriasi : kehilangan jaringan kulit melampaui
stratum basal sampai ke ujung papilla dermis
keluar darah dan serum

131. B. Morbili
Keywords :
Usia 4 tahun
Bercak-bercak kemerahan di kulit yang dirasa sangat gatal sejak 3 hari
yang lalu
Bercak awalnya muncul di wajah lalu menyebar ke badan sentripetal
Satu minggu yang lalu, pasien mengeluh demam, batuk, dan pilek

Mukosa oral tampak ada bercak keputihan koplik spot


PF : makula dan papul multipel di wajah dan badan
Diagnosis : morbili

Morbili
Infeksi virus

Prodromal dahului demam, batuk, pilek sekitar


4-7 hari
Tampilan klinis :
Patognomonik koplik spot
Ruam kulit berupa makula dan papul yang muncul di wajah, tepi leher,
atau belakang telinga yang kemudian menyebar ke badan (sentripetal)
Dapat disertai limfadenopati

Pilihan lain
Varicella didahului demam lalu diikuti munculnya
vesikel multipel yang awalnya muncul di tubuh dan
menyebar ke sisi luar (sentrifugal), disebabkan virus
varicella
Psoriasis penyakit autoimun yang ditandai dengan
plak eritematosa dengan skuama kasar berlapis
Impetigo infeksi kulit yang dapat bermanifestasi
dalam bentuk krusta (impetigo krustosa) maupun
dalam bentuk bula (impetigo bulosa) tergantung
kuman yang menginfeksi

132. D. Reaktivasi varicella


zoster virus
Keywords :
Lenting- lenting putih jernih di dada yang terasa nyeri
Sebelumnya, pasien demam dan merasa akan flu
PF : lesi vesikel berkelompok yang berisi cairan jernih
dengan dasar kulit eritematosa pada dermatom N.
Thoracic V-VI
Diagnosis : herpes zoster
Patofisiologis : reaktivasi virus varicella zoster

Herpes Zoster
Etiologi : virus varicella zoster

Pasien punya riwayat varicella sebelumnya (infeksi


primer) yang kemudian sembuh
Patogenesis :
virus varicella berdiam di ganglion posterior susunan saraf
tepi dan ganglion kranialis kelainan kulit yang timbul
setingkat dengan daerah persarafan ganglion tersebut

Gejala klinis :
Didahului gejala prodromal (demam, nyeri otot, dsb), lalu
muncul vesikel berkelompok dengan dasar eritematosa
dan edema
Lokalisasi unilateral dan bersifat dermatomal sesuai
tempat persarafan

Terapi : Asiklovir oral 5 x 800 mg selama 7 hari

133. B. Skabies
Keywords :

Gatal pada di selangkangan dan skrotum


Gatal terutama malam hari
Keluhan yang sama pada teman satu kamarnya
Diagnosis : skabies

Skabies
Etiologi : Sarcoptes scabiei

Transmisi : kontak langsung (skin to skin), kontak


tak langsung (melalui benda yang dipakai bersama)
Predileksi : tempat dengan stratum korneum tipis
sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian
volar, lipat ketiak, areola mammae (wanita),
umbilikus, bokong, genitalia eksterna (pria)

Diagnosis minimal 2 dari 4 tanda cardinal :


Pruritus norturna
Penyakit menyerang komunitas
Ditemukan terowongan pada tempat predileksi
Ditemukan tungau
Pemeriksaan :
Burrow ink test untuk melihat terowongan /
kunikulus
Mikroskopik untuk melihat tungau

Terapi Skabies
Permetrin 5% (DOC) krim; efektif untuk semua
stadium; aplikasi sekali dan dihapus setelah 10 jam;
kontraindikasi pada bayi usia < 2 bulan
Sulfur presipitatum 4-20% salep atau krim; tidak
efektif untuk stadium telur; pemakaian > 3 hari;
bisa iritasi; dapat dipakai untuk usia < 2 tahun
Emulsi benzyl benzoate 20-25% efektif terhadap
semua stadium, dipakai setiap malam selama 3
hari; bisa iritasi

Terapi Skabies
Gameksan 1% krim; efektif untuk semua
stadium; sekali pemberian; kontraindikasi pada usia
< 6 tahun dan wanita hamil
Krotamiton 10% krim atau losio

134. B. Malathion 1%
Keywords :
Usia 18 tahun
Gatal gatal di kepalanya, terutama di bagian temporal dan oksiput
Pasien jarang membersihkan rambut panjangnya karena malas
PF : telur telur kecil berwarna abu abu mengkilat di rambut dan kulit
kepalanya

Pemeriksaan penunjang didapatkan gambaran parasit Pediculus


Diagnosis : Pedikulosis kapitis
Terapi : Malathion 1%

Pedikulosis Kapitis
Etiologi : Pediculus humanus var. capitis

Patogenesis :
Pediculus menghisap darah manusia untuk
mempertahankan hidup efek : timbul rasa gatal karena
pengaruh liur dan ekskreta dari kutu

Faktor risiko : higiens yang buruk, tinggal di


lingkungan yang padat (panti asuhan atau asrama)

Transmisi : perantara benda (sisir, bantal, kasur,


topi)
Gejala klinis : gatal pada kepala terutama regio
temporal dan oksiput

Tampilan klinis : akibat garukan timbul erosi,


ekskoriasi, dan infeksi sekuder
Telur kutu di rambut

Pemeriksaan :
daerah

Ditemukan telur kutu berupa telur bulat abu abu mengkilat, terutama di
temporan dan oksiput
Mikroskopik ditemukan Pediculus

Terapi :
Malathion 0,5% atau 1% malam sebelum tidur rambut dicuci dengan sabun
lalu
pakai losio malathion, lalu kepala ditutup kain dan baru dicuci lagi keesokan
harinya, dan
kemudian disisir dengan sisir yang halus dan rapat (sisir serit)

sisir

Gameksan 1% oleskan lalu diamkan 12 jam lalu dicuci dan disisir dengan
serit

Pilihan lain
GONORE

SIFILIS

Infeksi menular seksual

Infeksi menular seksual

Etiologi : Neisseria gonorrhoeae

Etiologi : Treponema pallidum

Gejala : gatal, panas di distal uretra, dysuria,


polakisuria, keluar duh tubuh mukopurulen
dari ujung uretra

Gejala klinis :
Stadium primer ulkus durum
Stadium sekunder ruam kulit, selaput
lendir, dan organ tubuh, demam (+),
malaise (+)
Stadium laten gejala (-), serologi (+)
Stadium lanjut gumma, kelainan SSP
dan kardiovaskular

135. B. Tepi Lesi


Keywords :
Bercak dan gatal pada lipat paha
Status dermatologis central healing (bagian tepi
lebih aktif)
Diagnosis : Tinea kruris
Pemeriksaan : KOH 20% dengan sediaan yang
diambil dari tepi lesi (bagian yang lebih aktif)

Tinea
Etiologi : jamur dermatofit menyerang jaringan
berkeratin contoh : Microsporum,
Epidermophyton, dan Tricophyton

Gambaran klinis :
Plak eritematosa berbatas tegas dengan skuama dan tepi lebih aktif (central healing)
Untuk tinea kapitis alopesia dan skuama di kepala, grey patch ringworm, kerion, black
dot ringworm

Pemeriksaan :
Tes KOH : KOH 10% untuk sediaan rambut, KOH 20% untuk
sediaan kulit dan kuku positif jika ditemukan hifa
panjang bersekat
Lampu wood : positif kuning kehijauan

Terapi : Griseofulvin oral 0,5-1 gr/hari dibagi 4


dosis

Tinea

Kandidosis

P. versicolor

Etiologi

Jamur dermatofita

Candida albicans

Malassezia furfur (flora


normal kulit)

Tampilan klinis

Central healing /tepi


lebih aktif

Bercak kemerahan,
Makula hiper- atau
batas tegas, berskuama, hipopigmentasi dengan
basah, dikelilingi
skuama halus di atasnya
vesikel2 dan pustul2
kecil Lesi satelit (+)

Temuan tes KOH

Hifa panjang bersekat;


arthrospora (spora
berderet)

Pseudohifa dan budding Hifa pendek dan spora


yeast; blastospora
bulat berkelompok
(spaghetti and
meatball)

Temuan lampu wood

Kuning kehijauan

Kuning keemasan

Tinea khas :
central healing
Kandidiasis khas :
lesi satelit

Pitiriasis versicolor
khas : skuama
halus

136. B. Psoriasis Vulgaris


Keywords :
Bercak kemerahan yang gatal pada siku dan lututnya
Status dermatologis lesi eritema multipel, skuama
yang berlapis, kasar berwarna putih seperti mika
Saat digores tampak seperti lilin yang digores
fenomena tetesan lilin
Diagnosis : psoriasis

Psoriasis
Autoimun, bersifat kronik residif
Tampilan klinis : bercak bercak eritema berbatas tegas
dengan skuama kasar, berlapis, dan transparan
Fenomena penyerta :
Fenomena tetesan lilin saat lesi digores tampak seperti lilin
yang digores
Fenomena Auspitz saat skuama dikerok tampak bintik-bintik
perdarahan di dasar lesi
Fenomena Kobner saat bagian kulit pasien yang sehat
mengalami trauma maka di bagian tersebut timbul lesi psoriasis

Etiopatogenesis : genetik, autoimun, faktor


pencetus stress psikik, infeksi fokal, trauma
(fenomena Kobner), obat, dsb
Terapi : kortikosteroid sistemik atau topikal,
metotreksat, etretinat, preparat ter topikal

Psoriasis

Pilihan lain
Parapsoriasis eritema dan skuama kronik, umumnya
asimtomatik (kadang gatal ringan)
Pemfigus vulgaris autoimun; panas dan nyeri, bula
kendur dan mudah pecah, tanda Nikolski (+)
Pitiriasis rosea lesi inisial berbentuk eritema dan
skuama halus yang kemudian disusul oleh lesi lesi
kecil di badan yang susunannya sejajar dengan kosta
sehingga mirip pohon cemara terbalik
Pitiriasis alba bercak bula/oval multiple
kemerahan/sewarna kulit dengan skuama halus,
setelah eritema hilang tampak depigmentasi

137. D. Alopesia Areata


Keywords :
Laki laki, usia 32 tahun
Rambut rontok sejak 3 bulan
Kulit kepala bercak bercak berbentuk oval pada kulit
kepala dengan diameter 3-5 cm, exclamation mark (+)
Diagnosis : alopesia areata

Hair Growth Stage

Alopesia Areata
Gejala klinis :
Bercak bercak berbentuk bulat / lonjong dengan kerontokan rambut kepala, alis,
janggut, bulu mata
Tepi botak ada rambut rambut terputus dicabut tampak bulbus atrofi
Exclamation mark hair batang rambut yang ke arah pangkal makin halus

Patogenesis :
Fase telogen lebih pendek dan diganti dengan pertumbuhan rambut anagen yang distrofik
Beberapa factor penyebab genetik, autoimun

Terapi : Injeksi triamsinolon intralesi, kortikosteroid


topical, penutulan fenol 95% yang dinetralisir alcohol
tiap minggu

Alopesia Areata

Pilihan lain
Trikotilomania : gangguan impuls dimana pasien
terdorong untuk menarik dan mencabuti
rambutnya

138. B. Badan Moluskum


Keywords :
Anak usia 5 tahun
Bintil-bintil berwarna putih di perutnya, gatal (-),
nyeri (-)
Status dermatologis lesi lentikuler multipel,
berbentuk kubah, dan terdapat delle ditengahnya

Diagnosis : Moluskum kontagiosum

Moluskum kontagiosum
Etiologi : virus pox
Gejala klinis : papul multiple dengan lekukan (delle) di
tengahnya, berisi massa yang mengandung badan
moluskum (massa putih seperti biji nasi)
Predileksi : anak muka, badan, ekstremitas; dewasa
pubis dan genitalia eksterna
Pasien dewasa termasuk IMS
Terapi : mengeluarkan massa yang mengandung badan
moluskum dengan ekstraktor komedo, elektrokauter,
bedah beku CO2

139. D. Gonococcal Urethritis


Keywords :

Gatal pada genital dan keluar cairan kental


berwaarna putih keabu-abuan dari penis
Sempat berhubungan dengan PSK 1 minggu yang
lalu
Diagnosis : Gonore / Gonococcal Urethritis

Gonore
Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh
Neisseria gonorrhoeae
Pria gatal dan panas di bagian distal uretra sekitar
OUE, dysuria, polakisuria, duh tubuh mukopurulen,
nyeri saat ereksi
Wanita biasanya asimtomatik dan bergejala saat
komplikasi (nyeri pada panggul bawah, serviks
kemerahan dengan erosi dan sekret mukopurulen)
Pemeriksaan : pewarnaan gram diplokokus gram
negatif

Terapi Gonore
Sefiksim 400 mg oral dosis tunggal, atau
Levofloksasin 250 mg oral dosis tunggal, atau

Tiamfenikol 3,5 gr oral dosis tunggal, atau


Kanamisin 2 gr IM dosis tunggal
Atau
Spektinomisin 2 gr IM dosis tunggal
+
Azitromisin 1 gr dosis tunggal, atau
Doksisiklin 2 x 100 mg selama 7 hari, atau
Tetrasiklin 4 x 500 mg selama 7 hari, atau
Eritromisin 4 x 500 mg selama 7 hari

Pilihan lain
Ulkus mole ulkus pada regio genital, bergaung,
tertutup jaringan nekrotik, dasar ulkus berupa
granulasi yang mudah berdarah; disebabkan oleh
infeksi H. ducreyi
Ulkus durum ulkus regio genital, soliter, nyeri (-)
disebabkan oleh sifilis
Non gonococcal urethritis peradangan uretra yang
bukan disebabkan oleh N. gonorrhoeae, duh tubuh
uretra (+) jernih sampai keruh, dysuria, gatal pada
genital, nokturia
Herpes genitalis vesikel multiple regio genital karena
infeksi HSV 2

140. Kondiloma Akuminata


Keywords :

Kutil di kemaluan
PF : massa pada vulva dengan ukuran berbedabeda, rata-rata 1x1 cm, menyerupai jengger ayam
Diagnosis : kondiloma akuminata

Kondiloma Akuminata
Etiologi : virus HPV tipe 6 dan 11

Termasuk infeksi menular seksual


Transmisi : kontak langsung
Tampilan klinis : vegetasi bertangkai, permukaannya
berjonjot
Predileksi : daerah lipatan yang lembab; pria perineum,
sekitar anus, sulkus koronarius, glans penis, pangkal penis;
wanita vulva, introitus vagina, porsio uteri
Terapi : podofilin 25%, elektrokauterisasi, bedah beku,
bedah scalpel, laser CO2

Pilihan lain
Moluskum kontagiosum papul papul milar-lenticular
berbentuk kubah dan di tengahnya terdapat delle, yang jika
dipijit keluar massa putih seperti nasi
Herpes genitalis vesikel multiple regio genital karena
infeksi HSV 2
Veruka vulgaris hyperplasia epidermis akibat infeksi HPV,
predileksi di ekstremitas, tampilan berupa kutil bulat
berwarna abu-abu lenticular-plakat dengan permukaan
kasar (verukosa)
Ulkus mole ulkus pada regio genital, bergaung, tertutup
jaringan nekrotik, dasar ulkus berupa granulasi yang mudah
berdarah; disebabkan oleh infeksi H. ducreyi

141. A. Luka Robek


Keywords :

Pasien mengalami KDRT


PF : trauma tumpul
Luka yang ditemukan : luka robek

Luka robek : luka terbuka akibat trauma benda


tumpul yang menyebabkan kulit teregang ke satu
arah sehingga batas elastisitas kulit terlampaui
Luka tusuk : tepi dan dinding luka rata, tidak ada
jembatan jaringan, berbentuk garis, terdapat sudut
luka yang dapat memperkirakan benda penyebab
pisau bermata dua (kedua sudut lancip); pisau
bermata satu (satu sudut lancip dan yang lain
tumpul)

Luka sayat : tepi dan dinding luka rata, tidak ada


jembatan jaringan, berbentuk garis, kedua sudut luka
lancip dan kedalaman luka tidak melebihi panjang luka
Luka iris = luka sayat
Luka gores termasuk luka lecet luka lecet gores :
oleh karena benda runcing yang menggeser kulit
(epidermis) di depannya dan menyebabkan lapisan
tersebut terangkat sehingga dapat menunjukkan arah
kekerasan yang terjadi

142. C. VeR Lanjutan


Keywords :
Pasien terluka di lengan atas kiri bagian bawah
Pasien dinyatakan membutuhkan perawatan di RS
Setelah dirawat dan diperbolehkan pulang, 7 hari
kemudian pasien datang kembali untuk control dan polisi
meminta surat keterangan dari dokter
Jenis VeR : VeR lanjutan

VeR Definitif
Pembuatan VeR

Dibuat saat itu juga

Korban butuh perawatan

Tidak bisa langsung


pulang

Kualifikasi luka

Langsung ditulis
biasanya luka derajat 1

VeR Sementara
Dibuat untuk sementara

Ya

Tidak ditulis karena


pasien masih dirawat

VeR Lanjutan
Dibuat setelah luka
pasien sembuh
Korban sudah selesai
perawatan
Ya

143. C. Fornix cervix posterior


Keywords :

Jenazah wanita yang dicurigai sebagai korban


pemerkosaan
Untuk mengetahui bukti persetubuhan diambil
spesimen dari introitus vagina

Pemeriksaan Korban
Pemerkosaan
Anamnesis
Status perkawinan, waktu kejadian, tempat kejadian

Pemeriksaan tanda kekerasan dan perlawanan


Contoh : kerokan kuku korban untuk melihat sel epitel
kulit dan darah penyerang

Pemeriksaan pakaian
Cari trace evidence yang melekat di pakaian

Pemeriksaan tubuh korban


Tanda kekerasan, kesadaran (cek toksikologi jika dibius),
pemeriksaa genitalia (cari bukti persetubuhan dan trace
evidence, untuk cek adanya mani dan sperma maka
diambil cairan tubuh dari fornix posterior)

Pemeriksaan laboratorium
Cek cairan dan sel mani dari lendir vagina

144. B. Korban masih hidup saat digantung (tanda


intravital)
Keywords :
Korban ditemukan meninggal dalam keadaan
tergantung
PF :
Jejas pada leher dengan lebar 4cm, warna coklat tua dan
tepi jejas bengkak, serong dari depan ke belakang atas
Wajah korban tampak kehitaman dan matanya merah
Mukosa bibir dan ujung-ujung jari tampak kebiruan
Pada organ dalam didapatkan bendungan darah
Tidak ditemukan adanya tanda kekerasan lain

Korban Gantung
Jejas Gantung
Jerat kecil dan keras hambatan total arteri muka
pucat, petekie (-) pada kulit maupun konjungtiva
Jerat lebar dan lunak hambatan pada sal.napas dan
vena hambatan vena dari kepala ke leher
menyebabkan adanya perbendungan pada daerah
sebelah atas ikatan
Pada kasus : tepi jejas bengkak akibat perbendungan
vena berarti saat tergantung masih terdapat aliran
vena (masih hidup)

Arah jejas :
Serong dari depan ke belakang jejas gantung
(gantung
diri/bunuh diri)
Mendatar jejas penjeratan (pembunuhan)

Wajah kehitaman dan mata merah akibat


perbendungan
Tidak ada tanda kekerasan lain bunuh diri
Lebam mayat mengarah ke bawah (kaki, tangan,
genitalia eksterna)

Mekanisme Kematian Kasus


Gantung
Kerusakan batang otak dan medulla spinalis

Asfiksia akibat terhambatnya aliran udara


pernapasan
Iskemia otak akibat terhambatnya aliran arteri
leher
Refleks vagal

145. E. Terdapat busa halus


pada hidung dan mulut
Keywords :

Nelayan menemukan sesosok mayat di pinggir


sungai diduga meninggal akibat tenggelam.
Pada PL ditemukan busa halus pada hidung dan mulut

Pemeriksaan Luar Jenazah


Tenggelam
Mayat dalam keadaan basah

Busa halus pada hidung dan mulut


Mata setengah terbuka atau tertutup, jarang ada
perdarahan atau perbendungan
Kutis anserina
Tampilan kulit seperti merinding (bintil2 seperti kulit
jeruk) akibat kontraksi otot erector pili yang terjadi karena
rangsang dinginnya air

Washer womans hand telapak tangan dan kaki


keputihan dan keriput yang disebabkan imbalans
cairan ke dalam kutis
Cadaveric spasme (tanda intravital) terjadi saat
korban berusaha menyelamatkan diri dengan
memegang apa saja
Luka-luka lecet pada tubuh akibat benturan dan
gesekan benda benda dalam air

146. A. Benda Tumpul


Keywords :

Pasien, usia 42 tahun baru saja dianiaya oleh


orang mabuk
PF : luka robek dengan lebar 3 cm, tepi tidak
beraturan, sudut tumpul, terdapat jembatan
jaringan, dan rambut yang terpotong

Jenis kekerasan : benda tumpul

Luka robek : luka terbuka akibat trauma benda


tumpul yang menyebabkan kulit teregang ke satu
arah sehingga batas elastisitas kulit terlampaui
Luka robek oleh karena benda tumpul tepi tidak
beraturan, sudut tumpul, terdapat jembatan
jaringan

147. A. Luka derajat ringan


Keywords :
Luka robek pada pipi kanan 8 cm dari garis tengah dan 4 cm dari
sudut mata kanan luar bukan di tempat atau organ vital
Dasar luka jaringan, terdapat jembatan antar jaringan yang jika
disatukan akan jadi sepanjang 3 cm
Ditemukan juga jejas kemerahan ukuran 1x1 cm di luar muka
Kategori luka : derajat ringan karena bukan di tempat / organ
vital, tidak menimbulkan penyakit/gangguan fungsi organ dan
tidak mengganggu pekerjaan

Derajat Luka
Luka derajat ringan (pasal 352 KUHP) : luka yang
tidak membutuhkan perawatan tanpa luka
atau luka lecet atau memar kecil di lokasi tidak
berbahaya / yang tidak menurunkan fungsi alat
tubuh tertentu
Luka derajat sedang (pasal 351 (1) atau 353 (1) :
luka membutuhkan perawatan tetapi tidak
memenuhi kriteria luka berat

Luka berat (Pasal 90 KUHP) :


Jatuh sakit / luka yang tidak memberi harapan sembuh sama sekali
Menimbulkan bahaya maut
Menimbulkan ketidakmampuan secara terus menerus untuk
menjalankan pekerjaan
Kehilangan salah satu dari panca indera

Cacat berat
Sakit lumpuh
Terganggunya daya piker > 4 minggu
Gugur / matinya kandungan seorang wanita

148. B. Surat Keterangan


Medis
Keywords :
Pasien perempuan usia 15 tahun mengalami
perubahan perilaku setelah keluar malam dengan
pacarnya
Dibawa ibunya untuk dicek keperawanannya
Laporan yang dibuat : Surat keterangan medis
karena pasien ini dibawa oleh ibunya TANPA adanya
surat permintaan visum dari kepolisian, maka laporan
yang dapat dibuat saat ini hanya surat keterangan
medis

Surat Keterangan Medis vs. Visum et Repertum


SURAT KETERANGAN MEDIS

Catatan seluruh hasil


pemeriksaan tindakan
pengobatan
Milik pasien tidak
boleh membocorkan ke
pihak lain tanpa seizin
pasien (terkait rahasia
kedokteran)

VISUM ET REPERTUM

Keterangan yang dibuat


dokter atas permintaan
penyidik untuk
kepentingan peradilan
Dokter tidak dituntut
karena membuka rahasia
kedokteran, untuk
digunakan dalam proses
peradilan (boleh tanpa izin
pasien)

Pasal 7 (1) butir h dan pasal 11 KUHAP yang


berwenang meminta keterangan ahli adalah
penyidik dan penyidik pembantu
Korban kejahatan susila yang butuh VeR korban
dengan dugaan adanya persetubuhan yang
diancam pidana oleh KUHP
Persetubuhan yang diancam pidana oleh KUHAP :
Pemerkosaan
Persetubuhan pada wanita yang tidak berdaya
Persetubuhan dengan wanita yang belum cukup umur

Pada kasus ini, pasien adalah wanita belum cukup


umur sehingga sebenarnya masuk dalam kriteria
persetubuhan yang diancam pidana, namun karena
tidak ada surat permintaan VeR dari penyidik
berwenang maka tidak dapat dibuat VeR

149. E. Antara pukul 19.0020.45 tanggal 31 Januari 2014


Keywords :

Waktu ditemukan mayat 31 Januari 2014, pukul


21.00
Lebam mayat masih dapat hilang dengan penekanan

Kaku mayat (-), tanda pembusukan (-)


Perkiraan waktu kematian : Antara pukul 19.00 20.45,
tanggal 31 Januari 2014

Tanda
Pasti
Kematian

Lebam mayat mulai tampak 20 30 menit, menetap setelah 8


12 jam

Kaku mayat mulai tampak setelah 2 jam, dari luar ke tengah,


lengkap setelah 12 jam sejak kematian dan dipertahankan 12 jam
berikutnya, lalu menghilang dalam urutan yang sama
Pembusukan mulai tampak 24 jam setelah meninggal, berupa
warna kehijauan pada perut kanan bawah; larva lalat muncul 3648 jam, menetas 24 jam kemudian

Pada kasus :
Lebam mayat belum menetap < 8 jam, dan mulai munculnya
20 menit setelah kematian
Kaku mayat (-) < 2 jam
Pembusukan (-) < 24 jam

Jawaban paling tepat Antara pukul 19.00-20.15, tanggal 31


Januari 2014

150. B. Cukup bulan, viable,


tidak pernah bernapas
Keywords :
Mayat janin laki-laki, PB 45 cm, BB 2500 gram
Tali pusat terhubung ke tubuh janin, bagian
ujungnya terpotong, tepi luka yang tidak rapi.
Paru-paru merah tua, tepi tajam, dan tes apung
paru negatif
Lambung terdapat mekonium

Kesimpulan pada VeR cukup bulan, viable, tidak


pernah bernapas

1. Tentukan apakah bayi sudah sempat lahir atau


belum?
2. Bila sudah sempat lahir, tentukan apakah lahir
hidup atau lahir dalam keadaan mati

3. Bila lahir hidup, apakah sudah ada perawatan


atau belum
4. Tentukan bayi viable atau non-viable

Belum sempat
lahir
Sempat lahir?

Aborsi

Lahir Mati
Sudah sempat
lahir

Still birth
Tanda
Perawatan (+)

pembunuhan

Tanda
Perawatan (-)

infanticide

Lahir Hidup

Lahir Hidup vs. Lahir Mati


Lahir Hidup (Sudah Pernah Bernapas)

Lahir Mati (Belum Pernah Bernapas)

Paru memenuhi rongga dada

Paru masih tersembunyi di belakang jantung

Tes apung paru (+)

Tes apung paru (-)

Gambaran mozaik (seperti marmer) pada paru


adanya berbagai tingkatan aerasi

Warna kelabu ungu merata seperti hati

Krepitasi (+) sperti spons

Krepitasi (-)

Tepi paru tumpul

Tepi paru lancip

Tanda Perawatan (-)

Tanda Perawatan (+)

Plasenta

Masih melekat pada tali pusat

(-)

Tali pusat

Masih terhubung dengan


umbilikus

Sudah diputuskan dengan gunting


secara rapi

Verniks kaseosa (lemak bayi)

(+)

(-)

Lanugo

(+)

(-)

Pakaian

(-)

(+)

Viable
Viable : keadaan bayi/janin yang dapat hidup di luar
kandungan lepas dari ibunya
Kriteria viable :
Umur kehamilan > 28 minggu
PB > 35 cm (kepala tumit)
BB > 1000 gr
LK > 32 cm
Cacat bawaan (-)

Pada kasus ini janin viable

Maturitas
Kriteria cukup bulan (matur) :
Umur kehamilan > 36 minggu
PB > 48 cm (kepala tumit)
BB 2500 3000 gr
LK 33 cm
Testis kedua-duanya sudah turun (laki-laki), labia mayor sudah
menutupi labia minor (perempuan)
Panjang kuku melebihi panjang jari

Pada kasus ini janin cukup bulan

151. C. Diare dengan dehidrasi


berat
Keywords: BAB cair >4x per hari sejak 3 hari SMRS.
Pasien tampak malas minum dan gelisah. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan: mata tampak cekung,
turgor kulit menurun. Tidak ditemukan lendir
maupun darah pada feses.
Diagnosis: diare dengan dehidrasi berat
Tatalaksana: terapi cairan, zinc 1x20 mg selama 10
hari

Dasar teori
DERAJAT DIARE (WHO)

Keterangan: tatalaksana di setiap derajat diare berbeda-beda, pemberian zinc


(selama 10 hari) tetap diberikan untuk semua derajat diare, dengan dosis:

Dasar teori
Diare tanpa dehidrasi

Diare dengan
dehidrasi ringansedang
Diare dengan
dehidrasi berat

Keterangan: tatalaksana cairan diare akut sesuai derajat, jenis larutan yang dapat diberikan berupa RL, NaCl 0,9%, dan KaEN 3B.

152. A. Atresia biliaris


Keywords: bayi (3 minggu) badannya kuning sejak
pasien lahir. Warna kencing seperti teh pekat dan
BAB warna dempul. PF: sklera ikterik,
hepatosplenomegali. Lab : bilirubin direk
meningkat.
Diagnosis: atresia biliaris
Tatalaksana: operasi (mis: Kasai procedure,
transplantasi hati)

Dasar teori
Atresia biliaris: skar progresif pada duktus bilier baik di dalam maupun di luar organ hepar yang
menyebabkan obstruksi total pada aliran empedu yang terjadi pada 3 bulan pertama semenjak
bayi lahir.
Gejala dan tanda:

Ikterik
BAB dempul
Urin gelap
Perdarahan
Hepatomegali/hepatosplenomegali
Pembesaran abdomen

Gangguan tumbuh kembang


Lab: abnormal LFT

Pilihan lain
Atresia ani: kelainan kongenital yang dikenal
sebagai anus imperforate meliputi anus, rectum
atau keduanya. Pasien tidak dapat BAB.
Hepatitis neonatorum: infeksi virus hepatitis pada
neonatus. Keluhan: ikterik, disertai gejala
prodromal
Anemia hemolitik: anemia yang terjadi karena
meningkatnya penghancuran sel darah merah.
terjadi karena ketidaksesuaian gilongan darah ibu
dan bayi.

153. C. Bronkopneumonia
Keywords: sesak napas disertai batuk berdahak
sejak satu hari SMRS. Demam (+). PF: nafas
39x/menit, suhu 39,5oC, napas cuping hidung,
retraksi pada dada di septum intercostal, ronki (+)
di kedua lapang paru. Radiologi:perselubungan
difus di basal kedua lapang paru.
Diagnosis: bronkopneumonia
Tatalaksana: antibiotik

Dasar teori
Bronkopneumonia adalah infeksi akut parenkim paru yang meliputi alveolus
dan jaringan intertisial. Bronkopnemonia sering terjadi pada anak-anak.
Gejala dan tanda:

Batuk kering-produktif
Sesak napas
Deman
Kesukitan makan/minum
Lemas

Napas cuping hidung, retraksi otot intercostal


Radiologi: infiltrat, konsolidasi, Lab: leukositosis

Pilihan lain
Asma: riwayat wheezing berulang
TB paru: riwayat kontak positif, uji tuberkulin
positif (10 mm), BB turun, demam 2 minggu,
batuk kronis 3 minggu, pembesaran kelenjar limfe.
ARDS: kondisi kedaruratan paru berupa gagal
napas berat.
Efusi pleura: bila masif terdapat tanda
pendorongan organ intra toraks, pekak pada saat
perkusi.

154. C. Obstruksi jalan napas


Keywords: suaranya serak sejak 3 hari SMRS. Nyeri
ketika menelan serta demam. Riwayat imunisasi tidak
lengkap. Pada pemeriksaan fisik ditemukan: nadi
110x/menit, napas 34x/menit, suhu 38oC,
pembengkakan leher (bull neck), pembesaran KGB
leher (+), pada pemeriksaan faring, ditemukan
gambaran pseudomembran putih.
Diagnosis: difteri
Tatalaksana: antibiotik, anti toksin.
Komplikasi: obstruksi jalan napas (paling
dikhawatirkan), kerusakan organ jantung, saraf.

Dasar teori
Difteri: penyakit infeksi yang menyerang selaput lendir pada
hidung dan tenggorokan. Disebabkan oleh dua jenis bakteri,
yaitu

Corynebacterium

diphtheriae

danCorynebacterium

ulcerans. Masa inkubasi: dua hingga lima hari. Gejala dan


tanda:
Terbentuknya membran abu-abu yang menutupi
tenggorokan dan amandel.
Demam dan menggigil.
Sakit tenggorokan dan suara serak.

Sulit bernapas atau napas yang cepat.


Pembengkakan kelenjar limfa pada leher.
Lemas dan lelah.
Hidung beringus. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi
kental dan terkadang berdarah.

Bull neck

Pseudomembra
n

155. C. Streptoccus beta hemolitik grup A


Keywords: demam sejak 3 hari SMRS. Disertai
dengan nyeri sendi disertai bengkak. Memiliki
riwayat nyeri tenggorokan 2 minggu sebelumnya.
PF: suhu 38,5oC, murmur sistolik (+).

Diagnosis: demam rematik akut


Tatalaksana: bed rest, penisilin benzatin, asetosal
(kasus sedang), prednison (kasus berat).

Dasar teori
Diagnosis demam rematik akut: berdasarkan
Kriteria Jones (Revisi 1992). Ditegakkan bila
ditemukan 2 kriteria mayor, atau 1 kriteria mayor +
2 kriteria minor, ditambah dengan bukti infeksi
streptokokus Grup A tenggorok positif +
peningkatan titer antibodi streptokokus.

156. B. Asidosis metabolik


Keywords: mengeluh BAB cair >10x sejak 3 hari
SMRS. Pasien tampak lemas dan malas minum,
mata cekung, serta turgor melambat.
Diagnosis: diare akut dehidrasi berat

Tatalaksana: terapi cairan


Komplikasi: asidosis metabolik

Dasar teori
Cairan tubuh
keluar

ion natrium
bikarbonat

Diare berat

Asidosis
metabolik

157. D. 7
Keywords: pasien anak, keluhan batuk berdahak
lebih dari tiga minggu. Keluhan disertai dengan
demam yang tidak terlalu tinggi serta keringat
malam. Pasien juga mengalami penurunan nafsu
makan, lesu, iga gambang (+), baggy pants (+). Ayah
pasien ternyata menderita TBC dan sedang dalam
pengobatan
Analisis: riwayat kontak pasien TB (3)+ batuk
berdahak > 3 minggu (1)+gizi buruk (2)+demam
(1)= 7

Dasar teori
Sistem Skoring TB Anak

158. B. Kwasiorkor
Keywords: seorang pasien anak berusia 10 tahun (BB 18 kg).
Pasien
tersebut mengalami pembengkakan di daerah
punggung tangan dan kaki, serta wajah tampak tua. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan crazy pavement dermatosis.
Diagnosis: kwasiorkor
Tatalaksana: mengatasi/mencegah hipoglikemia,
hipotermia, dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit,
infeksi, mulai pemberian makana, fasilitasi tumbuh-kejar
(catch up growth), mengkoreksi defisiensi nutrien mikro,
melakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental,
menyiapkan dan merencanakan tindak lanjut setelah
sembuh.

Dasar teori
Kwasiorkor: alah satu bentuk malnutrisi
protein berat yang disebabkan oleh intake
protein yang inadekuat dengan intake
karbohidrat yang normal atau tinggi.
Gejala dan tanda:
Tidak mau makan, rewel
Edema

Rambut kusam, kering


Crazy pavement dermatosis : bercak-bercak
putih atau merah muda dengan tepi hitam
ditemukan pada bagian tubuh yang sering
mendapat tekanan.

Dekalsifikasi tulang dan gigi


Perlemakan hepar

159. A. Meningoensefalitis
Keywords: mengalami penurunan kesadaran
disertai kejang yang tidak berhenti selama 10
menit. Pasien sebelumnya memiliki riwayat
demam sejak tiga hari lalu. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan: Nadi 105x/menit, napas 30x/menit,
suhu 39,5oC, kaku kuduk (+).
Diagnosis: meningoensefalitis
Tatalaksana: oksigen, diazepam, antibiotik (jika
penyebabnya bakteri)

Dasar teori
Meningoensefalitis: kondisi inflamasi
dari selaput otak (meningens) dan
meliputi bagian jaringan syaraf otak.

Gejala dan tanda:


Demam
Penurunan kesadaran
Kejang
Tanda rangsang meningeal

Pilihan lain
Meningitis: infeksi pada meningens, gejala: demam
subfebril, kejang, kaku kuduk, kesaran menurun
Kejang demam kompleks: kejang disertai demam,
berulang, fokal, > 15 menit

Kejang demam simplex: kejang disertai demam,


satu kali, seluruh badan, < 15 menit
Status epileptikus: kejang lebih dari 30 menit

160. A. DM tipe 1
Keywords: anak 12 tahun, penurunan kesadaran
sejak 3 jam SMRS. Sering merasa lemas, cepat
lapar, dan sering kencing. Berat badan pasien juga
turun 10 kg dalam 3 bulan terakhir. GDS 560
mg/dl.
Diagnosis: HONK ec DM tipe 1
Tatalaksana: terapi cairan, insulin

161. B. Breast Feeding


Jaundice
Keywords :
Bayi, usia 3 hari kuning sejak 1 hari lalu
ASI eksklusif (+)
PF : Gerak aktif, ikterus Kramer 3
Lab : Bilirubin terkonjugasi 1 mg/dl, bilirubin total 12 mg,
golongan darah bayi O rhesus + dan golongan darah ibu O
rhesus +

Diagnosis : breast feeding jaundice

162. E. IgM HAV (+)


Keywords: badannya kuning sejak satu hari SMRS,
demam disertai mual dan muntah, sering jajan
sembarangan di sekolah, suhu 38oC, ikterik (+).
Diagnosis: hepatitis A

Tatalaksana: bed rest total, simtomatik

Dasar teori
Hepatitis A:
Sangat sering terjadi pada anak-anak

Faktor risiko: adanya outbreak, sumber penularan,


higiene buruk
Terjadi secara tiba-tiba, dimulai dari keluhan
sistemik yang tidak khas, seperti demam, malaise,
nausea, emesis, anorexia, dan rasa tidak nyaman di
perut, hingga ikterik

Dasar teori

BERBAGAI PENANDA
DIAGNOSIS HEPATITIS

163. A. Tipe I
Keywords: sering bersin di pagi hari. keluhan
tersebut bertambah berat jika pasien terpapar
debu atau udara AC.
Diagnosis: rinitis alergi

Tatalaksana: antihistamin, jauhi faktor pencetus

Dasar teori
Rinitis alergi (hay fever): kelainan pada gejala bersin-bersin, rinore, rasa
gatal, dan terseumbat, setelah mukosa hidung terpapar alergen yang
diperantai oleh Ig E.
Diagnosis:

Anamnesis:

Trias alergiingus encer dari hidung (rinorea), bersin, hidung tersumbat dan rasa gatal pada hidung
Terjadi berulang, terutama pada pagi hari
Mata gatal dan banyak air mata
Adanya riwayat atopi
Ada faktor pencetus

PF: allergic salute (gerakan menggosok hidung dengan tangan karena gatal),
allergic shiners (dark circles di sekitar mata vasodilatasi atau obstruksi hidung),
nasal crease (lipatan horizontal di setengah bagian bawah hidung karena gerakan
menggosok), mulut sering terbuka dan lengkung langit-langit meninggi (facies
adenoid), dinding faring posterior tampak granuler dan edema (cobblestone
appearance), lidah kayak peta (geograhic tongue).
Pemeriksaan penunjang: eosinofil dan Ig E meningkat

Dasar teori

REAKSI
HIPERSENSITIVITAS TIPE I

164. D. Transient tachypnea of


the newborn
Keywords :
Bayi, lahir saat usia gestasi 36 minggu secara SC
Dua jam setelah lahir napas cuping hidung (+), retraksi
dinding dada (+)
Lab : pCO2 38 mmHg

Diagnosis : transient tachypnea of the newborn

Transient tachypnea of the newborn


SESAK NAFAS PADA BAYI

TANPA RETENSI CO2 (NORMAL TEKANAN CO2 PADA AGD)


FAKTOR RISIKO: SC ELEKTIF
PADA PERSALINAN NORMAL, PASASE BAYI MELEWATI PELVIS IBU
YANG SEMPIT AKAN MEMERAS CAIRAN KELUAR DARI PARU-PARU
TRANSIENT = GEJALA MEMBAIK MAXIMAL DALAM 72 JAM

HYALINE MEMBRAN DISEASE/


RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (RDS)

PENYEBAB TERSERING DISTRESS NAFAS NEONATUS


ETIOLOGI: DEFISIENSI SURFAKTAN KARENA IMATURITAS ATAUPUN KETERLAMBATAN
PEMATANGAN PARU PADA IBU DIABETES
GAMBARAN RADIOLOGI: HIPOAERASI (RETIKULOGRANULER DIFUS BILATERAL)

KONGENITAL
PNEUMONIA

PNEUMONIA DALAM 24 JAM PASCA LAHIR


RISIKO TINGGI:
UNEXPLAINED PRETERM LABOR
UTERINE TENDERNES
FOUL-SMELLING AMNIOTIC FLUID
TAKIKARDIA FETAL
GEJALA KLINIK:
TACHYPNEA (RR> 60X/MENIT)
SIANOSIS SENTRAL
TEMPERATUR TIDAK STABIL, RASH
JAUNDICE AT BIRTH
KONJUNGTIVITIS
VESICLES OR OTHER FOCAL SKIN LESSIONS
UNUSUAL NASAL SECRETION

165. D. FEV1 sangat berkurang


Keywords: mengeluh sesak napas sejak 2 hari
SMRS, pilek dan bunyi mengi, timbul ketika rumah
pasien sedang direnovasi, pernapasan 34x/menit,
wheezing di kedua lapang paru.

Diagnosis: asma akut derajat sedang


Tatalaksana: oksigen, bronkodilator

Dasar teori
Asma: keadaan inflamasi kronik
dengan
penyempitan
saluran
pernapasan yang reversibel.

Diagnosis:

Episode batuk dan atau wheezing


berulang
Hiperinflasi dada
Tarikan dinding dada bagian bawah ke
dalam
Ekspirasi memangjang
Respon baik terhadap bronkodilator

Dasar teori
Berdasarkan pemeriksaan spirometri,
menandakan asma (obstruksi) jika:
VEP1 < 80%
VEP1/KVP< 75%
Obstruksi ringan 75% > VEP1/KVP > 60%
Obstruksi sedang 60% > VEP1/KVP > 30%
Obstruksi ringan VEP1/KVP < 30%

166. C. Sindrom nefrotik


Keywords: mengalami bengkak di kedua kelopak
mata perut, dan kedua tungkainya, setiap bulan
mengalami keluhan yang sama, edema kelopak
mata (+), shifting dullness (+), edema pretibial
bilateral (+), proteinuria +3, eritrosit urin 23/lapang pandang.
Diagnosis: sindrom nefrotik
Tatalaksana: steroid

Dasar teori
Sindrom nefrotik: sindrom klinis dengan gejala
proteinuria masif, hipoalbuminemia, edema, dan
hiperkolesterolemia,

kadang

disertai

dengan

hematuria, hipertensi, dan penurunan fungsi ginjal.


Dibagi menjadi:
Sindrom nefrotik kongenital
Sindrom nefrotik primer
Sindrom nefrotik sekunder

Dasar teori

167. D. Gizi kurang


Keyword :
Pemeriksaan antropometri, berat bayi 7,5 kg (berat badan
lahir 3 kg) dan dengan panjang badan 74 cm.
Plot ke dalam kurva WHO, berat/panjang badan bayi
berada di antara -2 dan -3 z.

Status gizi bayi Gizi kurang

BB/TB

BB/TB

IMT

(% median)

WHO 2006

CDC 2000

Obesitas

>120

> +3 SD

>P95

Overweight

>110

> +2 SD hingga +3 SD

P85-P95

Normal

>90

+2 SD hingga -2 SD

Gizi kurang

70-90

< -2 SD hingga -3 SD

Gizi buruk

<70

< -3 SD

Status Gizi

168. A. Tetap memberikan imunisasi


DTP dan polio
Keywords
Anak berusia 6 bulan
Akan diberikan imunisasi DTP dan polio
Anak demam (suhu 38C), batuk dan pilek
Pada anak ini tidak ditemukan adanya kontraindikasi
pemberian vaksin DTP dan polio sehingga pemberian
imunisasi dapat terus dilanjutkan dan selanjutnya
pasien diterapi untuk penyakitnya.
Jawaban: A. Tetap memberikan imunisasi DTP dan
polio

Vaksin Polio
OPV (ORAL)
Jadwal: lahir, 2, 4, 6, 18-24 bulan; 5 tahun

Isi: live attenuated polio virus tipe 1, 2 dan 3


(Sabin)
Metode pemberian: 2 tetes oral (0,1 ml)
sesaat sebelum pulang dari RS (pada bayi baru
lahir)
Dosis: 2 tetes oral (0,1 ml)

Kontraindikasi: penyakit akut, demam >38,5C,


muntah/diare, imunosupresi/imunodefisiensi,
hamil 4 bulan pertama, kombinasi dengan
vaksin tifoid oral, alergi terhadap AB
KIPI: diare ringan, nyeri otot, VAPP

IPV (INJEKSI)

Jadwal: lahir, 2, 4, 6, 18-24


bulan; 5 tahun
Isi: virus polio tipe 1, 2
dan 3 mati (Salk)
Metode pemberian:
suntikan subkutan 3x
berturut-turut dalam
interval 2 bulan
Dosis: 0,5 ml

Vaksin DifteriTetanusPertusis
(whole/acellular)
DTPW
Jadwal: 2,4, 6, 18-24 bulan; 5, 10-12 (dT), 18 (dT)
tahun

Isi: toksoid difteri 40 Lf, toksoid tetanus 15 Lf, whole


cell pertusis 24 CU, Al3(PO4)2, thimerosal

DTPA
Jadwal: 2,4, 6, 18-24 bulan; 5, 1012 (dT), 18 (dT) tahun

Metode pemberian: suntikan IM

Isi: Isi: toksoid difteri 40 Lf, toksoid


tetanus 15 Lf, acellular cell pertusis

Dosis: 1 ml

Metode pemberian: suntikan IM

Kontraindikasi

Dosis: ?

Absolut: anafilaksis dan ensefalopati


Relatif: riw. Hiperpireksia, hipotonik-hiporesponsif dalam
48 jam, inconsolable crying, kejang (3 hari sesudah
imunisasi)

KIPI: reaksi lokal, demam > 38,5C, lesu, iritabel,


inconsolable crying, kejang, hipotonik hiporesponsif,
anafilaksis, ensefalopati

Kontraindikasi: idem DTPw


KIPI: idem DTPw tetapi lebih
ringan dan jarang

169. C. 6 bulan
Keyword :
Bayi sudah bisa mengangkat kepala
bicara tidak jelas
menoleh kearah suara
sudah bisa mempertahankan posisi duduk

Sesuai dengan usia perkembangan 6 bulan

170. D. ITP
Keyword:
Anak usia 5 tahun Petekie pada tubuh dan ekstremitas
sejak 1 hari lalu, didahului demam 2 minggu sebelumnya
Splenomegali (-), limfadenopati (-) menyingkirkan
keganasan
Trombosit 18.000; Hb, Ht, leukosit normal

Diagnosis: ITP

Pilihan yang tersedia:


Hemofilia (tersingkirkan) laki, delayed bleeding dan
hemarthrosis
Anemia aplastik (tersingkirkan) pansitopenia
Von Wildebrand Disease (tersingkirkan) prolonged
bleeding, riwayat keluarga (+)
DIC (tersingkirkan) perdarahan spontan atau trombus,
didahului penyakit berat

Immune Thrombocytopenic Purpura


Adalah trombositopeni dengan sumsum tulang
yang normal dan tidak adanya penyebab
trombositopeni lainnya.
ITP memiliki dua gambaran klinis: akut pada anakanak dan kronik pada dewasa.
Etiologi: IgG autoantibodi terhadap permukaan
trombosit. Muncul dari spleen antibodinya

ITP
ITP akut sering mengikuti infeksi akut dan akan
mengalami resolusi spontan dalam dua bulan
walau pada 5-10% kasus menjadi kronik (>6 bulan).
Pada 75% kasus terjadi sesudah vaksinasi atau
infeksi
PF:
Nonpalpable petechiae
Purpura
Perdarahan
Limpa tidak teraba.

ITP
Pemeriksaan Lab:

Trombositopenia
Hitung leukosit dan hemoglobin biasanya normal
Sumsum tulang: megakariosit normal atau meningkat.

Uji koagulasi normal, bleeding time bertambah, PT dan


PTT normal.
Tes untuk autoantibodi tidak tersedia secara luas
Diagnosis ITP hanya dilakukan sesudah penyebab
defisiensi trombosit lainnya telah dieksklusi.

Hemofilia
Kekurangan faktor pembekuan darah yang
diturunkan secara sex-linked recessive pada
kromosom X
Hemofilia A (80-85%) defisiensi/disfungsi faktor
VIII
Hemofilia B defisiensi/disfungsi faktor IX
Hemofilia C defisiensi/disfungsi faktor XI

Hemofilia
Tanda perdarahan yang sering dijumpai yaitu
hemartrosis, hematoma subkutan atau
intramuskular, perdarahan mukosa mulut,
perdarahan intrakranial, epistaksis, dan hematuria.

Pemanjangan APTT dengan PT yang normal


menunjukkan adanya gangguan pada jalur intrinsik
sistem pembekuan darah

Von Willebrand Disease


Inherited bleeding disorder akibat
defisiensi/disfungsi von Willebrand factor (VWF)
mempengaruhi platelet adhesion atau menurunkan
konsentrasi Faktor VIII

Autosom dominan/resesif
Isolated prolonged PTT atau normal
Pemeriksaan VWF antigen; VWF ristocetin cofactor
activity; dan Faktor VIII

Konsep hemostasis singkat


Hemostasis: untukmenghentikanperdarahan, ada
hemostasis primer dansekunder.
Primer: trombosit
Sekunder: faktorkoagulasi
Bilagangguannyaprimer, perdarahanterletak di
kulit/mukosa. Contoh: petekiae, ekimosis, purpura
(hanyabedaukuran, intinyasama), hemoptisis,
epistaksis, gusiberdarah
Bilagangguannyasekunder, perdarahanterletak di
otot/sendidan bersifatdelayed bleeding: hemartrosis,
abis cabut gigi berdarah lagi

171. A. Syok anafilaktik


Keywords: sesak nafas di ruang perawatan RS,
tampak lemas disertai akral dingin, muncul setelah
disuntik antibiotik, TD 80/60 mmHg, napas
35x/menit, wheezing di kedua lapang paru.

Diagnosis: syok anafilaktik


Tatalaksana: oksigen, infus cairan, injeksi epinefrin

Dasar teori
Syok anafilaktik: syok yang diakibatkan oleh reaksi imunologis (reaksi
alergi) yang bersifat sistemik, cepat, dan hebat, yang dapat
menyebabkan gangguan respirasi, sirkulasi, pencernaan, dan kulit.
Insidensi: 40-60% (gigitan serangga), 20-40% (zat kontras radiografi),
10-20% (injeksi antibiotik)
Gejala dan tanda:

Sesak napasedema laring dan bronkospasme


Hipotensi
Takikardia
Edema preorbital
Mata berair
Hiperemia konjungtiva
Urtikaria atau eritema
Muntah, diare

Dasar teori

172. A. Atasi hipoglikemia,


hipotermia, dehidrasi
Keyword :

Anak 3 tahun, BB 5 kg, tampak sangat kurus, kulit kering


bersisik, atrofi otot, asites, dan edema pretibial

Gizi buruk tipe kwashiorkor

BB/TB > -3SD(kwashiorkor) atau <-3SD (marasmik-kwashiorkor)


Edema pada punggung kaki atau seluruh tubuh
Bila BB/TB tidak bisa diukur gunakan tanda klinis seperti : anak
tampak sangat kurus, hilangnya jaringan lemak bawah kulit,
tulang iga terlihat sangat jelas
Tatalaksana : rawat inap, letakkan di ruang yang hangat, 10
pilar tatalaksana gizi buruk menurut WHO
Sumber : Pocket Book of Hospital Care for Children: Guidelines for the Management
of Common Childhood Illnesses. 2nd edition.

Sumber : Pocket Book of Hospital Care for Children: Guidelines for the Management of
Common Childhood Illnesses. 2nd edition.

Option lain
Diet TKTP : pemberian makan dalam jumlah sedikit
tapi sering dan rendah osmolaritas dan laktosa. Untuk
initial refeeding digunakan F-75 (75kkal/1000 ml)
Suplementasi Vit A dan Fe : vitamin A pada hari
pertama, Fe mulai minggu kedua
IVFD RL 150cc/kg : jangan gunakan infus untuk
rehidrasi kecuali kasus dehidrasi berat dengan syok.
Untuk rehidrasi beri resomal per oral atau NGT
F-100 3x150 cc pada hari pertama : hari pertamaketujuh F-75, diberikan dengan frekuensi sesering
mungkin, tiap 2 jam atau 3 jam.

173. C. Ayah normal, ibu karier


hemofilia
Keyword :

Anak laki laki, usia 7 tahun, perdarahan yang tidak kunjung berhenti
setelah jatuh dari sepeda.
Sering mengalami perdarahan serupa ketika imunisasi.
Tidak terdapat keluhan yang sama pada sauara-saudara pasien yang
lain.

Hemofilia

X-linked resesif, perdarahan spontan maupun pasca trauma


Riwayat kelainan yang sama dalam keluarga (yaitu laki-laki)
Ibu diduga sebagai karier bila memiliki lebih dari 1 anak laki-laki yang
menderita hemophilia
Tatalaksana : fresh frozen plasma, kriopresipitat, terapi pengganti
factor VIII atau IX

Sumber : Pedoman pelayanan medis IDAI Jilid I.2010

Sumber : www.hemophilia-information.org

174. A. ALL
Keyword :
Anak, usia 4 tahun, demam dan bercak kemerahan sejak 1
minggu yang lalu
petekie dan hepatosplenomegali (+)
leukosit 189.000/mm3, Hb 5 g/dL dan trombosit
33.000/mm3, sel blast sebanyak 68%

Leukemia Akut
Leukemia : leukositosis + anemia dan trombositopenia,
karena sel ganasnya menekan produksi eritrosit dan
trombosit
Karena anemia anak pucat, bisa sampai sesak
Karena trombositopenia lebam, mudah berdarah
Organomegali system hematopoietic ekstramedular
berusaha kompensasi produksi
Yang membantu menegakkan leukemia AKUT adalah
adanya sel blast > 20%

Penyakit

Pucat/Anemia

Perdarahan

Organomegali

Anemia defisiensi Fe

Anemia hemolitik akut

Anemia hemolitik kronik/Thalasemia

-/+

Anemia aplastic

Leukemia akut

Infeksi kronik

-/+

Anemia yang punya pucat dan organomegali adalah thalassemia dan leukemia akut. Soal ini lebih ke
leukemia akut karena ada sel blast > 20%
Berdasarkan epidemiologi, leukemia akut yang onsetnya masak kanak-kanak adalah ALL
ALL : precursor limfoid berproliferasi jadi ganas dan menekan bone marrow, ada kromosom Philadelphia
AML : onset masa remaja/dewasa, khasnya ada hyperplasia gusi
CLL: onset > 55 tahun, 2/3 nya laki-laki
CML : utamanya pada dewasa walaupun pada anak juga bisa

175. C. Hep B
Keywords: membawa bayinya yang baru berusia
satu bulan ke puskesmas untuk mendapatkan
imunisasi dasar. Imunisasi yang sudah diberikan
adalah BCG dan polio.

Analisis: dari kasus di atas, pemberian imunisasi


berikutnya pada usia satu bulan adalah Hep B

Dasar teori
Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Anak

176. A. Ascariasis
Keywords: mengeluh keluar cacing dari duburnya.
Cacing yang dikeluarkan sebesar jari tengah orang
dewasa. Sering tertidur di kelas dan prestasi
belajarnya menurun.
Analisis: dari ukuran cacing yang keluar dari dubur
serta gejala penurunan fungsi kognitif ascariasis
-Tatalaksana:
- pirantel pamoat 10 mg/kgBB atau
- mebendazol 500 mg atau
- albendazol 400 mg

Dasar teori
Ascariasis: penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing
Ascariasis lumbricoides. Gejala (cacing dewasa):
Ringan: nausea, anoreksia,
diare, konstipasi
Berat:
- malabsorbsi malnutrisi,

gangguan kognitif, pertumbuhan terlambat


- ileus
- obstruksi usus, saluran empedu, apendiks dll
Gejala (larva):
- perdarahan kecil di alveolus
- batuk, demam
- eosinofilia
- foto toraks: infiltrat
sindrom loeffler menghilang setelah 3 minggu

Pilihan lain
Trichiurasis: penyakit infeksi disebabkan oleh
cacing Trichuris trichiura, gejala:
Strongiloidesis
Ancylostomiasis: penyakit infeksi yang disebabkan
oleh cacing ancylostoma duodenale, gejala:

177. A. Plasmodium
falciparum
Keywords: mengalami demam menggigil sejak tiga hari
yang lalu, riwayat berpergian ke Papua, suhu 39oC,
jantung paru dalam batas normal, apusan darah tepi:

banana shape.
Diagnosis: malaria falciparum

Tatalaksana: obat anti malaria, antipiretik

Dasar teori

Perkembangan Plasmodium Falciparum

Plasmodium falsiparum
Stadium TROFOZOIT
(Sediaan darah tipis)
Pulasan Giemsa

-MORFOLOGI ERITROSIT
tidak membesar,
Titik Maurer
PARASIT
bentuk cincin, accole, marginal.
infeksi multipel
Terdapat 2 butir kromatin
ukuran 1/6 eritrosit

Plasmodium falsiparum
Stadium SKIZON
(Sediaan darah tipis)
Pulasan Giemsa

-MORFOLOGIERITROSIT

tidak membesar,
titik Maurer

PARASIT
inti (skizon muda): <8 inti
Inti (skizon tua): 8 24 inti, mengisi 2/3 eritrosit
Terdapat pigmen hitam menggumpal di tengah

Dasar hidup
SIKLUS HIDUP PLASMODIUM FALCIPARUM

178. C. Oxyuris Vermicularis


Keywords :

Anak, usia 5 tahun kesulitan tidur karena gatal


perianak
Analisa feses : telur asimetris

Oxyuris Vermicularis

OXYURIS VERMICULARIS (KREMI-AN)


DIAGNOSIS:
TRANSPARANT TAPE SETIAP PAGI SELAMA 3 HARI (MENCARI
TELUR)
TATALAKSANA:
PYRANTEL PAMOAT 10-12 MG/KGBB SEKALI, DAN DIULANG
2 MINGGU KEMUDIAN
ALBENDAZOLE
MEBENDAZOLE

179. B. Ancylostoma
braziliense
Keywords: mengeluh gatal pada punggung kaki kanan
sejak 8 hari lalu. Keluhan tersebut muncul setelah
pasien pulang dari berlibur di Sulawesi. Dari
pemeriksaan fisik ditemukan: lesi ventrikel melingkar di
regio dorsum pedis. Pemeriksaan laboratorium:
peningkatan limfosit dan eusinofil, larva cacing (+).
Diagnosis: cutaneus larva migrans
Penyebab paling sering: Ancylostoma braziliense

Tatalaksana: mebendazol atau albendazol 2-3% topikal.

Cutaneous larva migrans


Disebut juga creeping eruption
Akibat penetrasi langsung larva cacing tambang /
hookworm (A.braziliense, A.caninum, Uncinaria
stenocephala) ke kulit.
PF kulit : Track / jalur kemerahan menonjol di kulit,
sangat gatal, ditemukan pada ekstremitas.
Tidak ada pemeriksaan darah khusus.
Cacing hanya bertahan 5-6 minggu dalam tubuh
manusia, tidak perlu pengobatan khusus. Terkadang
tetap diberikan antiparasit : mebendazole, albendazole

180. B. Sistiserkosis
Keywords: memiliki riwayat Kejang epileptik. Memiliki hewan
ternak babi di sekitar rumahnya. Hasil pemeriksaan MRI
ditemukan lesi kalsifikasi di temporal, hasil histology: skoleks di
kelilingi granulomatosis.
Analisis: pada pasien ini memilki peternakan babi, dimungkinkan
juga memakan daging babi. Dalam daging babi terdapat parasit
tenia solinum. Penyakit oleh tenia solinum ada dua yaitu: taeniasis
dan sistiserkosis. Manifestasi SSP sistiserkosis.
Diagnosis: sistiserkosis
Tatalaksana:
Praziquantel 10mg/kg, dosis tunggal
Albendazol

Dasar teori
Taeniasis adalah penyakit akibat parasit
berupa cacaing di usus tubuh manusia
Sistiserkosis adalah infeksi jaringan
dalam bentuk larva taenia (sistiserkus)
akibat memakan telur taenia solium
dalam babi.
Sistiserkosis menimbulkan gejala dan
efek beragam tergantung lokasi larva di
jaringan. Sistiserkosis sering ditemukan
di otak (neurosistiserkosis).

181. E. Outbreak
Keywords: kasus diare encer berwarna putih pada
beberapa desa yang jumlahnya meningkat, pada
feses ditemukan telur vibriocholera, dalam 5 tahun
terakhir tidak pernah terjadi.

Identifikasi kasus: outbreak kolera

Dasar teori
Outbreak adalah peningkatan insidensi kasus yang
melebihi ekspektasi normal secara mendadak pada
suatu komunitas, di suatu tempat terbatas, mis:
desa, kecamatan, kota, atau institusi yang tertutup
(mis: asrama, pesantren) pada periode waktu
tertentu.
Outbreak mirip dengan epidemi (wabah) hanya
lebih terbatas areanya.

Pilihan lain
Endemi: penyakit menular yang terus menerus terjadi
di suatu tempat . Contohnya: DBD
Pandemi:Penyakit yang berjangkit menjalar ke
beberapa Negara atau seluruh benua.Contohnya :H1N1
2009 (Flu Babi)
Epidemi: Kenaikkan kejadian suatu penyakit yang
berlangsung cepat dan dalam jumlah insidens yang di
perkirakan.Contohnya : Filariasis
Sporadik: Kejadiannya relatif singkat, berlangsung di
beberapa tempat, dan masing-masing kejadian tidak
saling berhubungan, misalnya dalam proses
penyebarannya. Contohnya: Necrotic enteritis.

182. B. Bebas E. Coli 100%


Menurut Litbang Depkes RI 2006, ciri-ciri air layak
minum:
Jernih, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
Bebas unsur-unsur kimia yang berbahaya seperti besi
(Fe).
Tidak mengandung unsur mikrobiologi yang
membahayakan

Suhunya sebaiknya sejuk dan tidak panas sesuai suhu


tubuh manusia.

183. D. Kejadian diare meningkat


2x lipat dari periode sebelumnya
Kriteria KLB:
Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak
ada atau tidak dikenal
Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus
selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis
penyakitnya (jam, hari, minggu)
Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau
lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari,
minggu, bulan, tahun).
Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan
kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan
angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

184. A. Primary prevention


Keywords:telah terjadi peningkatan angka kejadian
malaria di desa C. Petugas puskesmas kemudian
membagikan kelambu ke seluruh warga desa.
Analisis: tujuan dibagikan kelambu ke warga adalah
untuk mencegah warga terinfeksi malaria (mencegah
sakit).
Maka, kegiatan tersebut termasuk primary prevention.
Catatan: primary prevention merupakan pencegahan
timbulnya penyakit, meliputi: promosis kesehatan dan
pencegahan khusus.

Pilihan lain
Secondary prevention: diagnosis dini dan
pengobatan yang tepat (tatalaksana sesuai
guideline)
Tertiary prevention: pencegahan agar tidak terjadi
kecacatan (mis: rehabilitasi)
Primary health care: pelayanan kesehatan tingkat
pertama (mis:puskesmas)
Secondary health care: pelayanan kesehatan
lanjutan (mis: rumah sakit)

185. A. Ask
Keywords: konseling dokter, pertanyaan dokter: apakah anda
pernah berhenti merokok seharian kecuali saat sedang sakit?
Analisis: dalam metode penyuluhan berhenti merokok, dikenal
istilah 5As:
Ask: bertanya ke pasien, frekuensi dan intensitas merokoknya
Advice: memberikan nasehat ke pasien, bahaya merokok,
manfaat berhenti merokok, dll
Asess: membuat skala 0-10 sebagai nilai motivasi untuk berhenti
merokok
Assist:mendampingi pasien mengikuti program berhenti
merokok
Arrange:memberikan jadwal kunjungan satu minggu kemudian

186. E. Crash progam


Keywords: telah terjadi wabah penyakit campak di daerah
Mangga Tiga. Petugas puskesmas memutuskan untuk
memberikan vaksinasi
Analisis: telah terjadi wabah penyakit, lalu diberikan
imunisasi untuk mencegah timbulnya KLB. Maka, jenis
kegiatan imunisasi yang tepat adalah Crash program.
Catatan: crash program adalah imunisasi tambahan yang
ditujukan untuk wilayah yang memerlukan intervensi secara
cepat untuk mencegah terjadinya KLB. kriteria lokasi
imunisasi : 1. Angka kematian bayi dan angka PD3I tinggi 2.
Kekurangan tenaga, sarana, dana 3. Desa yang selama 3
tahun berturut-turut tidak mencapai target UCI

Pilihan lain
Back log fighting program: upaya aktif melengkapi imunisasi dasar pada
anak yang berumur 1 3 tahun. Sasaran prioritas adalah
desa/kelurahan yang selama dua tahun berturut turut tidak mencapai
desa UCI
Catch up campaign program: pemberian vaksin campak pada anak
sekolah dan balita tanpa melihat status imunisasinya
Pekan imunisasi nasional: pemberian vaksin polio pada balita atau bayi
baru lahir, sebanyak dua kali, tanpa melihat status imunisasinya
Sub pin: pemberian vaksin polio pada wilayah tertentu yang telah
ditemukan satu pasien polio
Ket: UCI (Universal Child Immunization)semua anak telah diimunisasi
PD3I (penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi)polio, campak, dll

187. A. Evaluasi proses


Keywords: Setelah penyuluhan terdapat
peningkatan pengetahuan yang signifikan pada
kelompok masyarakat yang hadir, walaupun tingkat
kehadiran masyarakat hanya 65% dari target.

Analisis: agar jumlah peserta meningkat maka


harus dilakukan evaluasi proses

Dasar teori
Evaluasi proses adalah proses penyelidikan proses
aktivitas program promosi kesehatan, mulai dari
persiapanselesai kegiatan.
Yang dievaluasi:
Capaian jumlah partisipan
Capaian materi
Target waktu dan durasi program
Capaian penggunaan media

Pilihan lain
Evaluasi impact: evalusi dampak jangka menengah
dari promosi kesehatan (mis: warga mengetahui
tentang penyakit TB)
Evaluasi outcome: evaluasi dampak jangka panjang
dari promosi kesehatan (mis: menurunnya angka
prevalensi TB)

188. C. Attack rate


Keywords: mengetahui tentang kecepatan dan
jangkauan penyakit DBD di wilayah cakupannya
Maka, pilihan yang tepat adalah menghitung attack
rate.
Attack rate= jumlah kasus (mulai pertama hingga
berakhirnya masa inkubasi kasus terakhir) per jumlah
penduduk wilayah terkena wabah dalam periode waktu
yang sama
Selain itu, tujuan dari attack rate adalah mengetahui
keberhasilan upaya pencegahan dan penanggulangan
wabah

Pilihan lain
Incidence rate: jumlah kasus baru/jumlah
penduduk berisiko (potret masalah penyakit)
Prevalence rate: jumlah kasus lama dan
baru/jumlah penduduk berisiko (durasi penyakit)

Risk ratio: perbandingan probabilitas


pengembangan suatu penyakit
Case fatality rate: jumlah kematian/jumlah kasus
(tingkat keganasan penyakit)

189. B. Sumber mata air telah


tercemar
Keywords: terjadi kasus diare yang berobat ke
puskesmas. Diketahui bahwa warga mengambil air
minum dari sumur galian dan tidak dimasak kembali.
Maka, berdasarkan teori segitiga epidemiologi:
E. coli banyak: agent
Sumber mata air telah tercemar e.coli: environment
Perilaku hidup bersih masih minim: host
Program puskesmas kurang berhasil: host
Pengetahuan masyarakat tentang diare masih rendah:
host

190.B. Drama
Teori kerucut Edgar
Dale: semakin konkrit
pengalaman yang
diberikan semakin
menjamin terjadinya
proses belajar

191. A. T independen
Keywords: riwayat merokok pada ibu dengan BBLR,
variabel merokok adalah perokok dan bukan
perokok, variable BBLR adalah berat badan bayi
selama 0-24 jam setelah lahir dlm kg

Uji statistik yg digunakan adalah Uji T


independent Varibel dependent BB bayi (skala
numerik) & Variabel independent merokok dan
tidak merokok (skala kategorik, 2 kelompok dan
tidak berpasangan).

Variabel Tergantung

2
kelompok

Variabel
Bebas
Kategorik
>2
kelompok

Tidak
Berpasangan

Berpasangan

Nominal

X2

McNemar

Ordinal

Mann Whitney

Wilcoxon

Numerik

T unpaired

T paired

Nominal

X2

Cochran

Ordinal

Kruskall-Wallis

Friedman

Numerik

ANOVA

Two way/related
ANOVA

192. D. 65
Keywords: penelitian tentang uji diagnosis baru untuk
limfoma maligna terhadap 100 pasien yang sudah
terdiagnosis limfoma maligna dan diperoleh 65 orang
positif. Kemudian, 100 pasien yang terdiagnosis
benjolan non limfoma, hasilnya 30 orang positif

Analisis:
Sensitivitas= true positive/(true positif+negative false)
65/(65+35)=65%

Dasar teori

193. B. Cohort
Keywords: ingin melihat pengaruh dari kebiasaan
mengkonsumsi makanan fast food dengan angka
kejadian dislipidemia, cukup waktu, ingin melihat
faktor sebab akibat dengan lebih kuat

Desain penelitian yang paling tepat Cohort


dapat melihat causal relationship namun
membutuhkan waktu yang lama

Desain Penelitian
CROSS SECTIONAL

Sewaktu
Deskriptif
Analisis hubungan
asosiasi, tapi sulit
menilai kausalitas
Cepat, murah

COHORT

Studi Longitudinal
Mengikuti subjek dalam
jangka waktu tertentu
Mengidentifikasi kausa
kemudian mengamati
hasil/efek
Dapat melihat hubungan
kausalitas
Butuh waktu lama

Desain Penelitian
CASE CONTROL

UJI KLINIS

Sewaktu
Studi longitudinal
Retrospektif
Melihat hubungan
Mengidentifikasi efek baru
kemudian mencari faktor risiko kausalitas
Depat melihat hubungan
Memberikan intervensi
kausalitas, namun level of
pada 1 atau lebih
evidence-nya di bawah cohort
kelompok dan
Biasa digunakan untuk kasus
yang prevalensinya kecil
membandingkannya

dengan kelompok kontrol

194. D. Anova
Keywords: mengetahui hubungan/perbedaan antara
jumlah penderita diare dengan sumber air minum
Analisis:
Jumlah penderita diare: data numerik (variabel
terikat)
Sumber air minum: data nominal, lebih dari dua
kelompok (PAM, air sungai, air rawa)variabel kontrol

Maka, uji hipotesis yang sesuai adalah uji anova

Dasar teori

Cara menginterpretasi tabel ini, kolom


pertama (paling kiri) adalah jenis data
variabel terikat, semetara kolom kedua dan
ketiga adalah tujuan penelitian dan jenis data
variabel kontrol

195. A. T-tes
Keywords: untuk mengetahui perbedaan antara
siswa SLTP A dan B terhadap kadar trigliserida
Analisis:
Siswa SLTP: data nominal, dua kelompok (A dan
B)variabel kontrol
Kadar trigliserida: mg/dldata numerik (variabel
terikat

Maka, uji hipotesis yang sesuai adalah uji T-tes

Dasar teori

Cara menginterpretasi tabel ini, kolom


pertama (paling kiri) adalah jenis data
variabel terikat, semetara kolom kedua dan
ketiga adalah tujuan penelitian dan jenis data
variabel kontrol

196. C. (160X120)/(80X40)
KATARAK KONGENITAL KATARAK KONGENITAL
(+)
(-)
RUBELLA (+)

160 (A)

80 (B)

RUBELLA (-)

40 (C)

120 (D)

Total

200

200

Odds Ratio
KASUS DENGAN RISIKO : KASUS TANPA RISIKO

OR =

KONTROL DENGAN RISIKO : KONTROL TANPA RISIKO


A

A+C
B
B+D

C
A+C

B+D

197. D. Paired T-tes


Keywords: untuk mengetahui perbedaan efek obat
hipertensi A dan B terhadap plasebo dengan target
outcome TDS dan TDD
Analisis:
Obat hipertensi A-B dan plasebo: data nominal, dua
kelompok, dan berpasanganvariabel kontrol
Efek obat: TD dalam satuan mmHgdata numerik
(variabel terikat
Maka, uji hipotesis yang tepat adalah uji paired T-tes

Dasar teori

Cara menginterpretasi tabel ini, kolom


pertama (paling kiri) adalah jenis data
variabel terikat, semetara kolom kedua dan
ketiga adalah tujuan penelitian dan jenis data
variabel kontrol

198. B. Cross sectional


Keywords: Dokter tersebut ingin melakukan penelitian
hubungan antara konsumsi makanan berbahan formalin
dengan keluhan nyeri kepala. Waktu yang dimiliki
dokter sedikit
Analisis:
Desain cross sectional: untuk mengetahui hubungan
antara faktor risiko dan efek dengan pendekatan
observasi dan pengumpulan data pada saat yang sama
(point time approach)cocok untuk waktu singkat.
Maka desain cross sectional tepat pada kasus tersebut

Pilihan lain
Case control: untuk mengetahui hubungan antara
paparan dengan keadaan yang sesungguhnya
(mengetahui penyakitnya lalu menelusuri
penyebabnya)

Cohort: mengkaji hubungan antara faktor risiko


dengan dampaknya
Prospektif: idem

Case review: mengkaji suatu kasus klinis

199 C. 160x120/80x40
Keywords:200 anak yang menderita katarak kongenital. Hasilnya
160 anak diantaranya memiliki riwayat ibu terinfeksi rubella
selama mengandung. Kontrolnya adalah 200 anak dengan
penglihatan normal dan ternyata 80 diantaranya terdapat ibu
yang mempunyai riwayat terkena rubella saat mengandung
Rumus odds ratio= AD/BC
Maka, besar odds ratio adalah 160x120/80x40
Rubella
ya
tidak

Katarak Kongenital
ya
tidak
A 160 B
80
C
40 D
120

Odds Ratio
KASUS DENGAN RISIKO : KASUS TANPA RISIKO

OR =

KONTROL DENGAN RISIKO : KONTROL TANPA RISIKO


A

A+C
B
B+D

C
A+C

B+D

200. C. 5/10
TROMBUS
(+)

TROMBUS
(-)

PIL KB KOMBINASI

5 (A)

25 (B)

PLASEBO

10 (C)

20 (D)

RR =

:
A+B

C+D

= (5/30):(10/30) = 5/10