Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Nutrisi sangat penting untuk tubuh kita, ibarat sebuah bangunan, maka nutrisi
itu adalah pondasi. Tanpa pondasi yang kuat maka tubuh kita akan rapuh.
Nutrisi di dapat dari apa yang kita makan, jika makanan yang kita makan itu
baik, mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh secara lengkap maka tubuh
kita tidak akan kekurangan nutrisi, dan secara otomatis kekebalan tubuh kita akan
sangat baik. Banyak penyakit disebabkan oleh pola makan atau makanan yang
buruk. Seperti mengkonsumsi makanan cepat saji misalnya (junk food). Kadar
lemak dan kalori dalam makanan cepat saji sangat banyak, sehingga ketika kita
mengkonsumsinya kita akan menjadi kelebihan berat badan atau overweight.
Menurut BBC News 73% orang Amerika menderita kegemukan dan kurang
sehat, sedangkan di Indonesia sendiri, jumlah orang kegemukan adalah 35% dari
240 juta penduduk.
Beberapa fakta yang bersumber dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
menyebutkan bahwa 70% kematian di dunia disebabkan oleh diabetes, kanker,
serangan jantung, dan stroke. WHO juga menyebutkan bahwa 50% kematian
yang disebutkan sebelumnya berhubungan erat dengan pola makan buruk dan
kekurangan nutrisi dan 70% kunjungan ke dokter ternyata juga berhubungan erat
dengan pola makan buruk dan kekurangan nutrisi.
Pola makan yang buruk dan makanan yang mengandung toksin dapat
mengakibatkan usia sel tubuh kita bisa jadi lebih tua dari usia sebenarnya. Hal ini
dikarenakan terlalu banyak sel-sel yg sudah tua dan rusak sementara kemapuan
regenerasi sel tubuh kita rendah. Akibatnya, muncul gejala/keluhan yg kita
rasakan sebagai penyakit. Terapi nutrisi membantu tubuh menyingkirkan sel yg
rusak dan menggantinya dengan sel baru yang lebih sehat dan lebih kuat sehingga
kesehatan meningkat
Seringkali kita kesulitan mendapatkan makanan yang sehat dan kesulitan
mengkombinasikan berbagai jenis bahan makanan untuk mendapatkan formulasi
makanan berkualitas tinggi yang memiliki kandungan semua nutrisi yang

diperlukan tubuh secara lengkap dan seimbang. Dengan Terapi Nutrisi, kita akan
lebih mudah memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh tanpa perlu repot
mengkombinasikan berbagai jenis bahan makanan
Terapi nutrisi menggunakan bahan-bahan makanan alami yang aman bagi
tubuh sehingga tidak menimbulkan efek karsinogenik dibandingkan terapi obatobatan kimia.Bagi anda yang sedang menjalani perawatan medis, terapi nutrisi
akan membantu mempercepat proses penyembuhan.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Pengertian Nutrisi dan terapi nutrisi.
2. Jenis-Jenis terapi nutrisi.
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang
nutrisi sebagai terapi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Nutrisi adalah ikatan kimia yang yang diperlukan tubuh untuk melakukan
fungsinya yaitu energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur
proses-proses kehidupan (Soenarjo, 2000). Menurut Soenarjo (2000), Nutrisi
merupakan kebutuhan utama pasien kritis dan nutrisi enteral lebih baik dari
parenteral karena lebih mudah, murah, aman, fisiologis dan penggunaan nutrien
oleh tubuh lebih efisien.
Terapi nutrisi adalah terapi yang diberikan kepada pasien yang mengalami
gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi.
B. Jenis terapi
a. Oral Feeding
Pemberian makan melalui oral adalah memasukann nutrisi melalui mulut.
Pasien perlu didorong untuk makan, bukan hanya untuk mendapatkan nutrisi
secara optimal, namun pasien juga mendapatka manfaat kepuasan fisik dan
psikologis yang dihubungkan dengan makan.Perawat harus membiarkan klien
untuk mengosongkan mulutnya setelah setiap sendokan, berusaha menyelaraskan
kecepatan pemberian makan dengan kesiapan mereka dan seringkali menanyakan
apakah terlalu cepat atau lambat. Perawat juga harus memperbolehkan klien
untuk menunjukkan perintah tentang makanan pilihan klien yang ingin dimakan,
dan percakapan dengan topik selain makanan harus menjadi bagian integral
dalam proses. Perawat yang mempunyai tugas untuk memberi makan pada
beberapa klien harus mendelegasikan tanggung jawab pemberian makan ke orang
lain sehingga semua klien dapat diberi makan tepat waktu dan terencana dengan
baik.
1) Tujuan
a) Memperoleh nutrisi yang optimal.
b) Memberikan kepuasan fisik dan psikologis yang dihubungkan dengan
makan.
c) Meningkatkan berat badan.
3

d) Meningkatkan control diri dengan mampu melakukan aktivitas harian


secara mandiri.
2) Indikasi
a) Pasien yang dapat makan melalui oral.
b) Pasien dengan ketidakmampuan yang membutuhkan bantuan sebagian
atau total untuk makan.
b. Enteral Nutrition (EN)
Enteral Nutrition (EN) adalah pada nutrien yang diberikan melalui saluran
gastrointestinal.Hal ini termasuk makanan keseluruhan, campuran semua
makanan, suplemen oral, dan formula selang pemberian makan.Nutrisi enteral
adalah metode yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan nutrisi jika saluran
gastrointestinal klien berfungsi dengan menyediakan dukungan psikologi,
keamanan, dan nutrisi yang ekonomis.Pada klien yang mengalami kesulitan
makan, maka dapat diberikan nutrisi enteral dengan selang nasogastrik, jejunum,
atau lambung. Nutrisi enteral dan infuse dengan mudah diberikan dalam
lingkungan perawatan rumah oleh perawat atau keluarga.
EN telah digunakan dengan berhasil selama 24 hingga 48 jam setelah
operasi atau trauma untuk menyediakan cairan, elektrolit, dan nutrisi. Gastric
ileus dapat mencegah pemberian makan nasogastrik dalam kasus selang
nasointestinal atau jejunum memungkinkan pemberian makan postpilorik yang
berhasil (Kudsk, 1994)
Nutrisi Enteral
1. Definisi
Nutrisi enteral adalah semua makanan cair yang dimasukkan kedalam
tubuh lewat saluran cerna, baik melalui mulut ataupun oral, selang
nasogastrik, maupun selang melalui lubang stomagaster atau lubang stoma
jejunum.
Tujuan atau indikasi pemberian nutrisi enteral adalah untuk
suplementasi, untuk pasien yang masih dapat makan dan minum tetapi tidak
dapat mencukupi kebutuhan energy dan protein, untuk pengobatan, dan
digunakan untuk mencukupi seluruh kebutuhan zat gizi bila pasien tidak
dapat makan sama sekali.
4

2. Jenis Makanan / Nutrisi Enteral


a. Makanan / nutrisi enteral formula rumah sakit (blenderized) : Makanan ini
dibuat dari beberapa bahan makanan yang diracik dan dibuat sendiri
dengan menggunakan blender. Konsistensi larutan, kandungan zat gizi,
dan osmolaritas dapat berubah pada setiap kali pembuatan dan dapat
terkontaminasi. Formula ini dapat diberikan melalui pipa sonde yang agak
besar, harganya relatif murah.
Contoh :
1) Makanan cair tinggi energi dan tinggi protein (susu full cream, susu
rendah laktosa, telur, glukosa, gula pasir, tepung beras, sari buah).
2) Makanan cair rendah laktosa (susu rendah laktosa, telur, gula pasir,
maizena)
3) Makanan cair tanpa susu (telur, kacang hijau, wortel, jeruk)
4) Makanan khusus (rendah protein untuk penyakit ginjal, rendah purin
untuk penyakit gout, diet diabetes)
b. Makanan / nutrisi enteral formula komersial : Formula komersial ini
berupa bubuk yang siap di cairkan atau berupa cairan yang dapat segera
diberikan. Nilai gizinya sesuai kebutuhan, konsistensi dan osmolaritasnya
tetap, dan tidak mudah terkontaminasi.
Contoh :
1) Polimerik : mengandung protein utuh untuk pasien dengan fungsi
saluran gastrointestinal normal atau hampir normal (panenteral,
fresubin)
2) Pradigesti : diet dibuat dengan formula khusus dalam bentuk susu
elementar yang mengandung asam amino dan lemak yang langsung
diserap usus untuk pasien dengan gangguan fungsi saluran
gastrointestinal (pepti 2000)
3) Diet enteral khusus untuk sirosis (aminolebane EN, falkamin),
diabetes (diabetasol), gagal ginjal (nefrisol), tinggi protein (peptisol)
4) Diet enteral tinggi serat (indovita)

3. Sistem Pemberian Nutrisi Enteral dan Alatnya


Nutrisi enteral dapat diberikan langsung melalui mulut (oral) atau
melalui selang makanan bila pasien tak dapat makan atau tidak boleh per oral.
Selang makanan yang ada yaitu :
a. Selang nasogastrik
1) Selang nasogsatrik biasa yang terbuat dari plastic, karet, dan
polietilen. Ukuran selang ini bermacam-macam tergantung kebutuhan.
Selang ini hanya tahan dipakai maksimal 7 hari.
2) Selang nasogastrik yang terbuat dari polivinil. Selang ini berukuran 7
french, kecil sekali dapat mencegah terjadinya aspirasi pneumonia
makanan dan tidak terlalu mengganggu pernapasan atau kenyamanan
pasien. Selang ini tahan dipakai maksimal 14 hari.
3) Selang nasogastrik yang terbuat dari silicon. Ukuran selang ini
bermacam-macam tergantung kebutuhan. Selang ini maksimal 6
minggu.
4) Selang nasogastrik yang terbuat dari poliuretan. Selang ini berukuran
7 french dan dapat dipakai selama 6 bulan.
b. Selang Nasoduodenal / nasojejunal.
Ukuran selang ini bermacam-macam namun lebih panjang dari pada selang
nasogastrik.
c. Selang dan set untuk gastrotomi atau jejunostomi. Alat yang rutin dipakai
untuk pasien yang tidak dapat makan per oral atau terdapat obstruksi
esophagus / gaster.
4. Nutrisi Enteral Pada Beberapa Penyakit
a. Nutrisi Enteral pada penyakit saluran cerna.
Bila usus berfungsi baik, lebih baik diberikan nutrisi enteral
dibandingkan parenteral. Nutrisi enteral per oral diberikan bila makanan
masih dapat melalui mulut dan esophagus. Nutrisi enteral per selang
makanan diberikan bila makanan tak dapat diberikan melalui mulut dan
esofagus atau melalui gastrostomi esofagus atau melalui jejunostomi.
Nutrisi enteral sangat penting untuk saluran cerna karena dapat mencegah

atrofivili usus serta tetap menjaga kelangsungan fungsi usus enterosit, dan
kolonosit.
Pada penyakit saluran cerna direkomendasikan masukan enteral
dengan sumber energy asam amino atau peptida, sumber karbohidrat
glukosa polimer, sumber lemak trigliseril.
b. Nutrisi Enteral pada Pasien Kanker
Penggunaan saluran gastroinstestinal yang utuh bagi pemberian nutrisi
merupakan pilihan pertama pada pemberian nutrisi pasien kanker. Pasien
kanker yang akan mendapat suplementasi enteral dapat diberikan melalui
salah satu dari 3 jalur pemberian yang umum, yaitu oral nasoenterik atau
enterik.
c. Nutrisi Enteral pada Pasien Geriatri
Pasien geriatric (berusia 60 tahun atau lebih) lebih sering mengalami
malnutrisi, karena itu nutrisi merupakan hal yang penting diperhatikan
dalam pengobatan pasien tersebut. Kebutuhan kalori energy disesuaikan
dengan berat badan ideal dengan rumus yang ada.
d. Nutrisi Enteral pada Penyakit Ginjal
Pada pasien penyakit ginjal akut, harus diberikan diet bebas protein
atau rendah protein, mengandung energy kalori atau gula.
Pada pasien penyakit ginjal kronik tidak terkomplikasi, untuk
mencegah uremia, protein yang diberikan dalam bentuk protein nilai
biologi tinggi (asam amino esensial) 20g per hari.
Pada pasien gagal ginjal kronik tidak terkomplikasi (termasuk yang
menjalani dialisis) kebutuhan energi tidak berbeda dengan orang dewasa
normal. Keseimbangan nitrogen netral dicapai dengan pemasukan nutrisi
yang mengandung asam amino esensisal 0,55-0,60 gram / kg BB/hari dan
kalori energi 35 kkal/Kg BB/ hari.
Pada pasien gagal ginjal kronik dan katabolic berat kebutuhan kalori
energi dan nitrogen lebih tinggi, tidak berbeda dengan pasien yang tidak
menderita gagal ginjal. Pada pasien gagal ginjal dengan hiperkalemia atau
hipofosfatemia dilakukan pembatasan kalium atau diberikan fosfor. Pada
pasien gagal ginjal dengan hipomagnesemia perlu diberikan magnesium
dan pada kalsemia diberikan kalsium.
7

c. Parenteral Nutrition (PN)


Parenteral Nutrition adalah bentuk dukungan nutrisi yang khusus yaitu
pemberian nutrisi melalui rute intravena.Walaupun NP dapat mencegah
malnutrisi secara efektif pada klien yang tidak dapat diberikan makanan melalui
rute enteral, NP dapat menyebabkan komplikasi dan membutuhkan kemampuan
manajemen keperawatan yang terampil.Pemberian pengobatan yang aman dari
bentuk nutrisi ini bergantung pada pengkajian kebutuhan nutrisi yang tepat,
manajemen kateter vena sentral yang cermat dan pemantauan yang hati-hati
untuk mencegah atau menangani komplikasi metabolic.Nutrisi parenteral
diberikan dalam lingkungan yang bervariasi, termasuk di rumah klien. Tanpa
memperhatikan lingkungan, perawat mengikuti prinsip asepsis yang sama dan
manajemen pemompaan untuk memastikan keamanan dan dukungan nutrisi yang
tepat.
Tujuannya tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan energy basal dan
pemeliharaan kerja organ, tetapi jg menambah nutrisi untuk kondisi tertentu,
seperti keadaan stress ( sakit berat , troma ), untuk perkembangan dan
pertumbuhan. Terapi nutrisi parenteral di bagi menjadi 2 kategori :
a. Terapi nutrisi parenteral parsial ( supportive atau suplemen ) di berikan bila :
1) dalam waktu 5 sampai 7 hari, pasien diharapkan mampu menerima
nutrisi enteral kembali.
2) masih ada nutrisi enteral yang dapat diterima pasien. PN parsial ini
diberikan dengan indikasi relative
b. terapi nutrisi parenteral total , diberikan jika batasan jumlah kalori ataupun
batasan waktu tidak terpenuhi. PN total ini diberikan atas indikasi absolut.
Secara umum PN di indikasikan pada pasien yang mengalami
kesulitan mencukupi kebutuhan nutrisi untuk waktu tertentu.Tanpa bantuan
nutrisi, tubuh memenuhi kebutuhan energy basal rata rata 25 kkal /kg BB /
hari. Jika cadangan habis, kebutuhan glukosa selanjutnya dipenuhi melalui
proses gluconeogenesis, antara lain dengan lipolysis dan proteolysis 125-150
g/hari. Puasa lebih dari 24 jam menghabiskan glukosa darah (20 g), cadangan
glikogen di hati (70 g) dan otot (400 g). sedangkan cadangan energy lainnya,
lemak (12.000 g) dan protein (6.000 g) habis dalam waktu kira-kira 60 hari.

Keadaan yang memerlukan PN adalah sebagai berikut:


1. pasien tidak dapat makan ( obstruksi saluran pencernaan seperti stiktur
atau keganasan esophagus, atau gangguan absorbsi makanan)
2. pasien tidak boleh makan ( seperti fistula intestinal dan pangkreatitis)
3. pasien tidak mau makan (akibat pemberian kemoterapi)
Meskipun terdapat 3 hal tersebut, PN tidak langsung diberikan pada keadaan :
1. pasien 24 jam paska bedah yang masih dalam Ebb phase, masa dimana kadar
hormone stress masih tinggi. Sel-sel resisten terhadap insulin dan kadar gula
darah meningkat. Pada fase ini cukup diberikan cairan elektrolit dan dextosa
5%. Jika keadaan sudah tenang yaitu demam, nyeri, renjatan, dan gagal nafas
sudah dapat di atasi, krisis metabolism sudah lewat, maka PN dapat diberikan
dengan lancar dan bermanfaat. Makin berat kondisi pasien, makin lambat
dosis PN total (dosis penuh) dapat dimulai. Sebelum keadaan tenang tercapai,
PN total hanya menambahkan stress bagi tubuh pasien. Fase tenang ini
ditandai dengan menurunnya kadar kortisol, katekolamin, dan glucagon.
2. Pasien gagal napas (pO2 < 80 dan pCO2 > 50) kecuali dengan respirator.
Pada pemberian PN penuh, metabolism karbohidrat akan meningkatkan
produksi CO2 dan berakibat memperberat gagal napasnya.
3. Pasien renjatan dengan kekurangan cairan ekstraseluler.
4. Pasien penyakit terminal, dengan pertimbangan cost-benefit
Kondisi kondisi berikut yang sering diberikan TPN :
a) disfungsional GI , misalnya penyakit peradangan usus, sindroma usus
pendek, pangkreatitis, colitis, fistula, enteritis radiasi, ileus, diare
berkepanjangan, obstruksi usus, atau karsinoma lambung.
b) Gagal hepatic
c) Keadaan hipermetabolik, misalnya sepsis, luka bakar yang berat, fraktur
tulang panjang, peritonitis.
d) Anoreksia sekunder terhadap kondisi medis pasien, misalnya gagal ginjal.
e) Hyperemesis berat selama kehamilan
f) Candida GI berat pada pasien AIDS
g) Trauma multisystem

1. Pemberian TPN
Apabila asupan nutrisi pasien kurang secar bermakna dibanding yang
diperlukan oleh tubuh untuk memenuhi penggunaan energy, maka akan
mengakibatkan status keseimbangan nitrogen negative. Ini berarti bahwa lebih
banyak protein digunakan daripada yang dapat dibuat.TPN adalah metode
pemberian nutrisi pada tubuh dengan rute intravena.Nutrient ini mencakup
kestrosa, asam amino, elektrolit, vitamin, mineral, dan emulsi lemak. Sasaran
TPN adalah untuk mendapatkan status nutrisi yang baik, penambahan berat badan
dan mencapai proses penyembuhan.
TPN diindikasikan untuk pasien:
a. Yang asupannya kurang untuk mempertahankan status anabolis (mis., pasien
dengan luka bakar berat, malnutrisi, sindrom usus pendek, AIDS, sepsis,
kanker)
b. Pasien yang tidak mampu mencerna makanan secara oral atau dengan selang
(mis., pasien dengan ileus paralitik, penyakit Crohn dengan obstruksi, enteritis
pascaradiasi, hiperemesis, gravidarum berat pada kehamilan)
c. Pasien yang menolak untuk mencerna nutrisi secara adekuat. (mis., pasien
dengan anoreksia nervosa, pasien lansia pascaoperatif)
d. Pasien yang tidak boleh makan per oral atau dengan selang (mis., pasien
dengan pancreatitis akut atau fistula enterokutan tinggi)
e. Pasien yang memerlukan dukungan nutrisi praoperatif dan pascaoperatif
secara terus-menerus (mis., setelah pembedahan usus)
1) Nutrisi parenteral total (TPN)
Nutrisi parenteral total adalah suatu terapi kompleks yang dilakukan
untuk memenuhi keperluan nutrisi pasien melalui rute intraven. Larutan yang
digunakan dalam terapi ini adalah larutan hiperosmolar (konsentrasi tinggi).
Pemberian teraoi nutrisi parenteral total yang bertujuan untuk memberikan
kalori yang cukup besar yang terdiri dari protein, lipid, karbohidrat, vitamin,
dan mineral. Keberhasilan terapi ini bergantung pada jenis makanan yang
diresepkan , penanganan kateter intravena, perawatan luka insisi, penanganan
komplikasi akibat terapi. Terapi ini hanya digunakan apabila asupan

10

makanan secara enteral tidak memadai atau merupakan kontrakindikasi. TPN


tidak diberikan pada pasien yang pencernaan dapat berfungsi selama 7-10
hari, pasien yang masih dapat mencerna makanan dengan baik, dan pada
pasien yang mengalami stres atau trauma. (Mubarak&Chahyati,66,2007).
Indikasi TPN untuk paien :
a. Yang aasupan kuran untuk mempertahankan status anabolis misalnya
pasien dengan luka bakarv berat, malnutrisi, sindrom usus pendek, AIDS,
sepsis, kanker.
b. Pasien yang tidak mampu mencerna makanan secara oral atau dengan
selang misalnya pasien dengan ileus paraklitik, penyakit chohn dengan
obtruksi.
c. Pasien yang menolak mencerna makanan nutrient secara adekuat misalnya
pada pasien anoreksia nervosa, lansia pascaoperatif.
d. Pasien yang tidak boleh makanan peroral atau dengan selang misalnya
pada lasia dengan pankreatitits akut.
e. Pasien yang memerlukan dukungan nutrisi praoperatif dan pascaoperatif
secara terus menerus misalnya pada pasien disertai pembedahan usus.
Kreteria yang digunakan untuk mengevaluasi kebutuhan pasien terhadap
nutrisi parental ototal mencakup berat badan kurang dari 10% tidak mampu makan
oral atau minum dalam 7 hari oascaoperatif dan situasi hipermetabilik seperti pada
infeksi berat disertai demam.
Penatalaksaan
Larutan TPN diberikan dengan perlahan dan secara bertahap ditingkatkan setiap
hari dengan kecepatan yang diingikan dan sesuai toleransi cairan dan glukosa pasien.
Respon pasien terhadap terapi TPN dan nilai laboratarium dipantau terus menurus
oleh tim pendukung nutrisi. Standing order dilakukan untukj penimbngan berat
badan pasien, mendapatkan jumlah darah lengkap, jumlah trombosit, masa
protrombin, elektrolit, magnesium dan glokosa ujung jari.
Metode pemberian
Berbagai metode dan rute digunakan untuk memberikan larutan NPT pada
praktuk klinis :perifer,sentral,dan atrial.Metode ini tergantung pada kondisi pasien
dan lamanya antisipasi terapi.

11

1. Perifer
Larutan NPT digunakan sebagai masukan suplemen per oral bila larutan yang
digunakan kurang hipertonik dibanding larutan yang digunakan untuk
NPT.Konsentrasi dekstrosa diatas 10% tidak boleh diberikan melalui vena
perifer karena dapat mengiritasi intma vena kecil(dinding paling
dalam).lamanya terapi NPP kurang dari 2 minggu.
2. Sentral
Karena larutan NPT mempunyai lima atau enam kali konsentrasi darah dan
melebihi tekanan osmotic kira-kira 2000 mOsm/1 .maka larutan ini berbahaya
untuk intima perifer. Kerenanya untuk mencegah flebitis dan komplikasi vena
lainnya larutan ini diberikan ke dalam system sirkulasi melalui kateter yang di
masukan ke dalam pembuluh darah besar beraliran tinggi ( sering vena
subklavia). Larutan pekat kemudia diencerkan dengan sangat cepat sampai
ke tingkat isotonic oleh darah didalam pembuluh ini.
3. Atrial
Dua alat yang digunakan untuk terapi IV jangka panjang di rumah adalah :
a. Kateter atrial kanan eksternal ini dipasang melalui pembedahan.
Kateter ini dijahit di bawah kulit pada vena subklavia
b. Lubang subkutan ujung kateter dilekatkan pada serambi kecil yang
ditempatkan di kantung subkutan baik di dinding dada anterior atau
pada lengan.

12

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Nutrisi di dapat dari apa yang kita makan, jika makanan yang kita makan itu
baik, mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh secara lengkap maka tubuh
kita tidak akan kekurangan nutrisi, dan secara otomatis kekebalan tubuh kita akan
sangat baik. Banyak penyakit disebabkan oleh pola makan atau makanan yang
buruk. Seperti mengkonsumsi makanan cepat saji misalnya (junk food). Kadar
lemak dan kalori dalam makanan cepat saji sangat banyak, sehingga ketika kita
mengkonsumsinya kita akan menjadi kelebihan berat badan atau overweight.
Seringkali kita kesulitan mendapatkan makanan yang sehat dan kesulitan
mengkombinasikan berbagai jenis bahan makanan untuk mendapatkan formulasi
makanan berkualitas tinggi yang memiliki kandungan semua nutrisi yang
diperlukan tubuh secara lengkap dan seimbang. Dengan Terapi Nutrisi, kita akan
lebih mudah memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh tanpa perlu repot
mengkombinasikan berbagai jenis bahan makanan.Terapi nutrisi adalah terapi
yang diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan
nutrisi.
Terapi nutrisi menggunakan bahan-bahan makanan alami yang aman bagi
tubuh sehingga tidak menimbulkan efek karsinogenik dibandingkan terapi obatobatan kimia.Bagi anda yang sedang menjalani perawatan medis, terapi nutrisi
akan membantu mempercepat proses penyembuhan.
Jenis terapi antara lain : Oral feeding, Enteral nutrition dan Parenteral nutrition,
Pemberian TPN
B. Saran
Penyusun berharap dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua serta para pembaca. Penyusun mengucapkan terimakasih kepada para
pembaca atas kesediaan membaca makalah ini.

13

DAFTAR PUSTAKA
Pearce, C Evelyn . 2008 . Anatomi & Fisiologi untuk Paramedis . Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama.
Sediaoetama,A.D.1985.Ilmu Gizi.jil 1.Dian Rakyat : Jakarta.
Sloane, Ethel . 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk pemula . Jakarta : EGC
Suhardjo. 1988 . Perencanaan Pangan dan Gizi . Bumi Aksara : Jakarta.
Supariasa,I. Dewa Nyoman S. 2001. Penilaian Status Gizi. EGC : Jakarta.

14

Anda mungkin juga menyukai