Anda di halaman 1dari 56

TUGAS KELOMPOK

PSIKOSOSIAL KEBIDANAN
Masa Dewasa dalam Asuhan Kebidanan

Dosen Pembimbing ;
Ulvi Mariati, S.Kep, M.Kes
Meilinda Agus, S.SiT, M.Keb
Dra. Yetti Leoni M.Irawan, MSc

Disusun Oleh :
Eka Safitri Yanti
Yohana Suganda
Refni Zilmawati

1420332031
1420332041
1420332049

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015
KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis ucapkan kehadiran Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
tugas pribadi kelompok ini dengan judul Masa Dewasa dalam Asuhan
Kebidanan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Psikososial Kebidanan yang
akan di presentasikan dalam bentuk seminar.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa penyusunan
makalah ini tidak akan selesai dengan lancar dan tepat waktu tanpa adanya
bantuan, dorongan serta bimbingan dari berbagai pihak. Tidak ada manusia yang
sempurna, dalam makalah ini masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki
sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun akan penulis terima.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat menambah
khasanah keilmuan dalam bidang pendidikan kebidanan dan dapat diterapkan
dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang serupa khususnya dalam
kebidanan.
Padang, September 2015

Penulis

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Tujuan Penulisan...........................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................3
A. Pengertian Dewasa........................................................................................3
B. Masa Dewasa Awal.......................................................................................4
C. Masa Dewasa Madya..................................................................................11
D. Masa Dewasa Akhir....................................................................................18
E. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Orang Dewasa dalam
Kehidupannya.....................................................................................................29
F. Kebutuhan Wanita Dewasa.........................................................................32
G. Pembahasan Jurnal Terkait Masa Dewasa Lanjut dan Masa Remaja.........33
BAB III PENUTUP...............................................................................................36
A. Kesimpulan....................................................................................................36
B. Saran..............................................................................................................36
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................37

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan merupakan proses perubahan secara progress baik
secara fisik maupun non fisik menuju kesempurnaan. Perkembangan secara
fisik merupakan perkembangan yang terjadi pada aspek-aspek biologis
seorang individu. Sedangkan perkembangan non fisik didalamnya terdapat
perkembangan emosi, perkembangan kognitif, dan perkembangan pada aspek
sosial manusia. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan peran
lingkungannya atau bantuan dari orang lain untuk dapat tumbuh kembang
menjadi manusia yang utuh. Dalam perkembangannya, pendapat dan sikap
seseorang dapat berubah karena interaksi dan saling berpengaruh dengan
proses sosialisasi.

Dalam psikologi perkembangan, banyak dibahas mengenai bagaimana


tahap perkembangan sosial seorang anak hingga dewasa, diantara tokoh yang
memberi kontribusi dalam hal ini adalah teori perkembangan psikososial Erik
H. Erikson. Erikson mengatakan bahwa istilah psikososial dalam kaitannya
dengan perkembangan manusia berarti bahwa tahap-tahap kehidupan
seseorang dari lahir sampai mati dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial
yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik
dan psikologis.
Manusia adalah makhluk sosial yang eksploratif dan potensial.
Manusia dikatakan makhluk yang eksploratif karena manusia memiliki
kemampuan untuk mengembangkan diri baik secara fisik maupun psikis.
Manusia sebagai makhluk potensial karena pada diri manusia tersimpan
sejumlah kemampuan bawaan yang dapat dikembangkan secara nyata.
Selanjutnya manusia disebut sebagai makhluk yang memiliki prinsip tanpa
daya karena untuk tumbuh dan berkembang secara normal memerlukan
bantuan dari luar dirinya. Bantuan yang dimaksud antara lain adalah dalam
bentuk bimbingan serta pengarahan. Binbingan dan pengarahan yang
diberikan dalam membantu perkembangan tersebut pada hakekeatnya
diharapkan sejalan dengan kebutuhan manusia itu sendiri, yang sudaah
tersimpan sebagai potensi bawaannya. Karena itu bimbingan tidak searah
dengan potensi yang dimiki akan berdampak negative bagi perkembangan
manusia.
Sebagai akhir dari masa remaja adalah masa dewasa, atau biasa disebut
dengan masa adolesen. Ketika manusia meginjak masa dewasanya sudah
terlihat adanya kematangan dalam dirinya. Kematangan jiwa tersebut
menggambarkan bahwa manusia tersebut sudah menyadari makna hidupnya.
Dengan kata lain manusia dewasa sudah mulai memilih nilai nilai atau
norma yang telah dianggap mereka baik untuk dirinya serta mereka berusaha
untuk mempertahankan nilai nilai atau norma norma yang telah dipilihnya
tersebut.

Perkembangan psikososial masa dewasa akhir ditandai dengan adanya


perubahan fisik. Akibat perubahan fisik yang semakin menua maka
perubahan ini akan sangat berpengaruh terhadap peran dan hubungan dirinya
dengan lingkunganya. Dengan semakin lanjut usia seseorang secara
berangsur-angsur ia mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya karena
berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi
sosial para lansia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitasnya
sehingga hal ini secara perlahan mengakibatkan terjadinya kehilangan dalam
berbagai hal yaitu: kehilangan peran ditengah masyarakat, hambatan kontak
fisik dan berkurangnya komitmen. Menurut Erikson, perkembangan
psikososial masa dewasa akhir ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu
keintiman, generatif, dan integritas.

B. Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk membahas mengenai :

1. Masa dewasa Awal dalam Asuhan Kebidanan

2. Masa dewasa madya dalam Asuhan Kebidanan

3. Masa dewasa akhir dalam Asuhan Kebidanan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Dewasa

Istilah adult berasal dari kata kerja latin, yang berarti tumbuh menjadi
kedewasaan. Adult berasal dari bentuk lampau partisipel dari kata kerja
adultus yang berarti telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang
sempurna atau telah menjadi dewasa. Oleh karena itu, orang dewasa adalah
individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima
kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya.

Setelah melalui 20 tahun pertama sebagai anak dan sebagai remaja,


seseorang hidup dalam harapan-harapan yang sesuai dengan usianya.
Sekarang, sebagai seorang dewasa muda, dia timbul dari norma dari sistem
tingkatan umur dan melangkah ke masa depan yang ia buat sendiri. Mulai saat
itu, keberhasilan dan kegagalan sebagian besar tergantung dari pilihan yang
dibuatnya sendiri. Seorang dewasa muda harus membuat pilihan karir dan
mendapatkan pelajaran atau pendidikan sehubungan dengan itu. Setiap orang
muda mencoba untuk mendapatkan otonomi baik sebagai pribadi tunggal
maupun sebagai suami atau istri.

Tidak ada periode hidup lain yang mempunyai begitu banyak momen
untuk belajar sekaligus dalam diri seseorang. Berhadapan langsung dengan
dunia orang dewasa dan bersiap-siap untuk belajar langsung melalui tindakan.
Dalam periode hidup ini, juga tersedia beberapa peluang untuk mempelajari
apa yang dibutuhkan dalam membuat keputusan hidup yang penting. Tentu
saja dewasa muda adalah periode hidup yang paling individualistik, paling
kesepian, harus melakukan sedikitnya perhatian dan bantuan pada sosial untuk
memenuhi tugas hidup yang paling utama.

Secara hukum seseorang dikatakan dewasa bila ia sudah menginjak usia


21 tahun (meski belum menikah) atau sudah menikah (meskipun belum
berusia 21 tahun). Di Indonesia batas kedewasaan adalah 21 tahun. Pada usia

tersebut seseorang dianggap sudah dewasa dan dianggap sudah mempunyai


tanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatannya. Hurlock dalam Marmi &

Margiyati (2013) bahwa seseorang dikatakan dewasa bila telah memiliki


kekuatan tubuh secara maksimal, siap berproduksi, dan telah dapat diharapkan
memiliki kesiapan kognitif, afektif dan psikomotor serta dapat diharapkan
memainkan peranannya bersama dengan individu-individu lain dalam
masyarakat.

Setiap kebudayaan dapat membuat perbedaan usia seseorang dapat


dikatakan dewasa secara resmi, yang pada umumnya didasarkan pada
perubahan-perubahan fisik dan psikologis tertentu.

Lavinson membagi masa dewasa dalam 3 tahap yaitu masa dewasa awal
(17-45 tahun), masa dewasa madya (40-65 tahun) dan masa dewasa akhir (60
tahun ke atas).

B. Masa Dewasa Awal

Menurut Vailant (1998), membagi masa dewasa awal menjadi tiga


masa, yaitu masa pembentukan (20 30 tahun) dengan tugas perkembangan
mulai memisahkan diri dari orang tua, membentuk keluarga baru dengan
pernikahan dan mengembangkan persahabatan. Masa konsolidasi (30 40
tahun), yaitu masa konsolidasi karir dan memperkuat ikatan perkawinan. Masa
transisisi (sekitar usia 40 tahun), merupakan masa meninggalkan kesibukan
pekerjan dan melakukan evaluasi terhadap hal yang telah diperoleh.

Menurut Teori Erikson, Tahap Dewasa Awal yaitu mereka di dalam


lingkungan umur 20 an ke 30 an. Pada tahap ini manusia mulai menerima dan

memikul tanggungjawab yang lebih berat. Pada tahap ini juga hubungan intim
mulai berlaku dan berkembang.

1. Perkembangan Fisik Masa Dewasa Awal

Kebanyakan orang dewasa awal berada di puncak kesehatan,


kekuatan, energi, daya tahan dan fungsi motorik. Ketajaman visual paling
menonjol di usia 20-40thn, pengecapan, pembauan serta sensitivitas
terhadap rasa sakit dan suhu umumnya bertahan hingga usia paling tidak
45thn. Namun, pendengaran secara bertahap berkurang, terutama suara
nada-tinggi, mulai hilang sejak remaja dan makin jelas setelah usia 25thn.

Pada masa ini organ reproduksi telah berfungsi sepenuhnya dimana


pada masa ini juga disebut sebagai usia reproduktif. Setelah mengalami
perubahan seksual sekunder pada masa remaja, pada periode dewasa awal
dibawah pengaruh hormonal seluruh organ reproduksi telah berkembang
secara sempurna.

Kematangan reproduksi baik secara anatomi dan fungsi akan


dialami oleh pria dan wanita. GnRH yang dihasilkan oleh hipotalamus
akan mengaktifkan produksi LH dan FSH di hipofisis anterior yang
kemudian akan merangsang fungsi gonad unruk mengeluarkan hormon
steroid yang penting untuk fungsi reproduksi. Pada wanita normal, siklus
hormonal ini akan mempengaruhi siklus menstruasi setiap bulannya.
Selain itu karena usia ini juga usia reproduktif, hormon juga akan
mempengaruhi libido (gairah seksual). Wanita dewasa awal telah dapat
melaksakan tugas reproduksinya yaitu hamil, melahirkan dan menyusui.
Pada pria dewasa, proses spermatogenesis telah berkembang secara
sempurna. Pria pada masa ini telah dapat melaksanakan fungsi reproduksi
untuk dapat melakukan fertilisasi pada ovum wanita. Kematangan
seksualitas juga telah dicapai pada masa ini.

Perkembanagan fisik sesudah masa ini mengalami degradasi sedikit


demi sedikit mengikuti bertambahnya umur. Pada masa dewasa awal
motivasi untuk meraih sesuatu yang sangat besar didukung oleh kekuatan
fisik yang prima, sehingga ada steriotipe yang mengatakan bahwa masa
dewasa awal adalah masa dimana kekuatan fisik daripada kekuatan rasio
dalam menyelesaikan suatu masalah.

Ciri-ciri fisik dewasa awal, yaitu:

a. Efisiensi fisik mencapai puncaknya, terutama pada usia 23-27 tahun;

b. Kemampuan reproduktif mereka berada di tingkat yang paling tinggi,


pada perempuan menjadi masa kesuburan yang baik

c. Kekuatan tenaga dan motorik mencapai masa puncak

d. Kesehatan fisik berada pada keadaan baik.

2. Perkembangan Intelektual Masa Dewasa Awal

Menurut anggapan Piaget (dalam Grain, 1992; Miller, 1993;


Santrock, 1999; Papalia, Olds, & Feldman, 1998), kapasitas kognitif
dewasa muda tergolong masa operational formal, bahkan kadang-kadang
mencapai masa post-operasi formal (Turner & Helms, 1995). Taraf ini
menyebabkan, dewasa muda mampu memecahkan masalah yang
kompleks dengan kapasitas berpikir abstrak, logis, dan rasional. Dari sisi

10

intelektual, sebagian besar dari mereka telah lulus dari SMU dan masuk ke
perguruan tinggi (uniiversitas/akademi).

Kemudian,

setelah

lulus

tingkat

universitas,

mereka

mengembangkan karier untuk meraih puncak prestasi dalam pekerjaannya.


Namun demikian, dengan perubahan zaman yang makin maju, banyak di
antara mereka yang bekerja, sambil terns melanjutkan pendidikan yang
lebih tinggi, misalnya pascasarjana.

Hal

ini

mereka

lakukan

sesuai

tuntutan

dan

kemajuan

perkembangan zaman yang ditandai dengan masalah-masalah yang makin


kompleks dalam pekerjaan di lingkungan sosialnya.

Sementara itu, para ahli (seperti Baltes dan Baltes, Baltes dan
Schaie, Willis dan Baltes} mengatakan ada beberapa tipe intelektual, yaitu
inteligensi kristal (cristalized intelligence), fleksibilitas kognitif (cognitive
flexibility], fleksibilitas visuo-motor (visuomotor flexibility], dan
visualisasi (visualization)

a. Inteligensi kristal adalah fungsi keterampilan mental yang dapat


dipergunakan individu itu, dipengaruhi berbagai pengalaman yang
diperoleh melalui proses belajar dalam dunia pendidikan. Misalnya,
keterampilan

pemahaman

bahasa

(komprehensif

verbal/verbal

comprehensive), penalaran berhitung angka (numerical skills), dan


penalaran induktif (inductive reasoning). Jadi, keterampilan kognitif
merupakan akumulasi dari pengalaman individu alcibat mengikuti kegiatan pendidikan formal ataupun nonformal. Dengan demikian, polapola pemikiran intelektualnya cenderung bersifat teoretis-praktis (text
book thinking).

11

b. Fleksibilitas kognitif adalah kemampuan individu me-masuki dan


menyesuaikan diri dari pemikiran yang satu ke pemikiran yang lain.
Misalnya, kemampuan memahami melakukan tugas reproduksi, yaitu
mampu melakukan hubung-an seksual dengan lawan jenisnya, asalkan
memenuhi persyarat-an yang sah (perkawinan resmi). Untuk sementara
waktu, dorong-an biologis tersebut, mungkin akan ditahan terlebih
dahulu. Mereka akan berupaya mencari calon teman hidup yang cocok
untuk

dijadikan

pasangan

dalam

perkawinan

ataupun

untuk

membentuk kehidupan rumah tangga berikutnya. Mereka akan


menentukan kriteria usia, pendidikan, pekerjaan, atau suku bangsa
tertentu,

sebagai

prasyarat

pasangan

hidupnya.

Setiap

orang

mempunyai kriteria yang berbeda-beda.

c. Fleksibilitas Visuamotor adalah kemampuan untuk menghadapi suatu


masalah dari yang mudah ke hal yang lebih sulit,yang memerlukan
aspek kemampuan visual/ motorik (penglihatan, pengamatan, dan
keterampilan tangan)

d. Visualisasi,yaitu kemampuan individu untuk melakukan proses


visual.misalnua,bagaimana individu memahami gambar-gambar yang
sederhana sampai yang lebih kompleks

3. Perkembangan Psikososial Masa Dewasa awal

Menurut Anderson terdapat 7 ciri kematangan psikologi pada masa dewasa


awal, ringkasnya sebagai berikut:

12

a. Berorientasi pada tugas, bukan pada diri atau ego; minat orang matang
berorientasi pada tugas-tugas yang dikerjakannya,dan tidak condong
pada perasaan-perasaan diri sendri atau untuk kepentingan pribadi.

b. Tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan-kebiasaan kerja yang efesien;


seseorang yang matang melihat tujuan-tujuan yang ingin dicapainya
secara jelas dan tujuan-tujuan itu dapat didefenisikannya secara cermat
dan tahu mana pantas dan tidak serta bekerja secara terbimbing menuju
arahnya.

c. Mengendalikan perasaan pribadi; seseorang yang matang dapat


menyetir perasaan-perasaan sendiri dan tidak dikuasai oleh perasaanperasaannya dalam mengerjakan sesuatu atau berhadapan dengan
orang

lain.

Dia

tidak

mementingkan

dirinya

sendiri,

tetapi

mempertimbangkan pula perasaan-perasaan orang lain.

d. Keobjektifan; orang matang memiliki sikap objektif yaitu berusaha


mencapai keputusan dalam keadaan yang bersesuaian dengan
kenyataan.

e. Menerima kritik dan saran; orang matang memiliki kemauan yang


realistis, paham bahwa dirinya tidak selalu benar, sehingga terbuka
terhadap kritik-kritik dan saran-saran orang lain demi peningkatan
dirinya.

f. Pertanggungjawaban terhadap usaha-usaha pribadi; orang yang matang


mau memberi kesempatan pada orang lain membantu usahan-usahanya
untuk mencapai tujuan. Secara realistis diakuinya bahwa beberapa hal
tentang usahanya tidak selalu dapat dinilainya secara sungguh-sunguh,
sehingga untuk itu dia bantuan orang lain, tetapi tetap dia
brtanggungjawab secara pribadi terhadap usaha-usahanya.

13

g. Penyesuaian yang realistis terhadap situasi-situasi baru; orang matang


memiliki cirri fleksibel dan dapat menempatkan diri dengan
kenyataan-kenyataan yang dihadapinya dengan situasi-situasi baru.

Ciri-ciri perkembangan dewasa awal adalah:

a. Usia reproduktif (Reproductive Age)

Masa dewasa adalah masa usia reproduktif. Masa ini ditandai dengan
membentuk rumah tangga.Tetapi masa ini bisa ditunda dengan
beberapa alasan. Ada beberapa orang dewasa belum membentuk
keluarga sampai mereka menyelesaikan dan memulai karir mereka
dalam suatu lapangan tertentu.

b. Usia memantapkan letak kedudukan (Setting down age)

Dengan

pemantapan

kedudukan

(settle

down),

seseorang

berkembangan pola hidupnya secara individual, yang mana dapat


menjadi ciri khas seseorang sampai akhir hayat. Situasi yang lain
membutuhkan perubahan-perubahan dalam pola hidup tersebut, dalam
masa setengah baya atau masa tua, yang dapat menimbulkan kesukaran
dan gangguan-gangguan emosi bagi orang-orang yang bersangkutan.

Ini

adalah

masa

dimana

seseorang

mengatur

hidup

dan

bertanggungjawab dengan kehidupannya. Pria mulai membentuk


bidang pekerjaan yang akan ditangani sebagai karirnya, sedangkan
wanita muda diharapkan mulai menerima tanggungjawab sebagai ibu
dan pengurus rumah tangga.

c. Usia Banyak Masalah (Problem age)

14

Masa ini adalah masa yang penuh dengan masalah. Jika seseorang
tidak siap memasuki tahap ini, dia akan kesulitan dalam menyelesaikan
tahap perkembangannya. Persoalan yang dihadapi seperti persoalan
pekerjaan/jabatan, persoalan teman hidup maupun persoalan keuangan,
semuanya memerlukan penyesuaian di dalamnya.

d. Usia tegang dalam hal emosi (emostional tension)

Banyak orang dewasa muda mengalami kegagalan emosi yang


berhubungan dengan persoalan-persoalan yang dialaminya seperti
persoalan jabatan, perkawinan, keuangan dan sebagainya. Ketegangan
emosional seringkali dinampakkan dalam ketakutan-ketakutan atau
kekhawatiran-kekhawatiran. Ketakutan atau kekhawatiran yang timbul
ini pada umumnya bergantung pada ketercapainya penyesuaian
terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi pada suatu saat tertentu,
atau sejauh mana sukses atau kegagalan yang dialami dalam
pergumulan persoalan.

e. Masa keterasingan sosial

Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjunnya seseorang ke


dalam pola kehidupan orang dewasa, yaitu karir, perkawinan dan
rumah tangga, hubungan dengan teman-teman kelompok sebaya
semakin menjadi renggang, dan berbarengan dengan itu keterlibatan
dalam kegiatan kelompok diluar rumah akan terus berkurang. Sebai
akibatnya, untuk pertama kali sejak bayi semua orang muda, bahkan
yang populerpun, akan mengalami keterpencilan sosial atau apa yang
disebut krisis ketersingan (Erikson:34).

f. Masa komitmen

15

Mengenai komitmen, Bardwick (dalam Marmi dan Margiyati)


mengatakan: Nampak tidak mungkin orang mengadakan komitmen
untuk selama-lamanya. Hal ini akan menjadi suatu tanggungajwab
yang trrlalu berat untuk dipikul. Namun banyak komitmen yang
mempunyai sifat demikian: Jika anda menjadi orangtua menjadi orang
tua untuk selamanya; jika anda menjadi dokter gigi, dapat dipastikan
bahwa pekerjaan anda akan terkait dengan mulut orang untuk
selamanya; jika anda mencapai gelar doctor, karena ada prestasi baik
disekolah sewaktu anda masih muda, besar kemungkinan anda sampai
akhir hidup anda akan berkarier sebagai guru besar.

g. Masa Ketergantungan

Masa dewasa awal ini adalah masa dimana ketergantungan pada masa
dewasa biasanya berlanjut. Ketergantungan ini mungkin pada
orangtua, lembaga pendidikan yang memberikan beasiswa sebagian
atau sepenuh atau pada pemerintah karena mereka memperoleh
pinjaman untuk membiayai pendidikan mereka.

h. Masa perubahan nilai

Beberapa alasan terjadinya perubahan nilai pada orang dewasa adalah


karena ingin diterima pada kelompok orang dewasa, kelompokkelompok sosial dan ekonomi orang dewasa.

i. Masa Kreatif

Bentuk kreativitas yang akan terlihat sesudah orang dewasa akan


tergantung pada minat dan kemampuan individual, kesempatan untuk
mewujudkan keinginan dan kegiatan-kegiatan yang memberikan
kepuasan sebesar-besarnya. Ada yang menyalurkan kreativitasnya ini

16

melalui hobi, ada yang menyalurkannya melalui pekerjaan yang


memungkinkan ekspresi kreativitas.

4. Asuhan Kebidanan pada Masa Dewasa Awal

Dewasa Awal merupakan masa dewasa atau satu tahap yang


dianggap kritikal selepas alam remaja yang berumur dua puluhan (20-an)
sampai tiga puluhan (30-an). Ia dianggap kritikal karena disebabkan pada
masa ini manusia berada pada tahap awal pembentukan karir dan keluarga.
Pada peringkat ini, seseorang perlu membuat pilihan yang tepat demi
menjamin masa depannya terhadap pekerjaan dan keluarga. Pada masa ini
juga seseorang akan menghadapi dilema antara pekerjaan dan keluarga.
Berbagai masalah mulai timbul terutama dalam perkembangan karir dan
juga hubungan dalam keluarga dan masalah yang timbul tersebut
merupakan salah satu bagian dari perkembangan sosio-emosional.

Sebagai bidan, yang dapat kita lakukan pada masa dewasa awal ini
adalah

a. Membantu mempersiapkan seorang wanita dalam menjalankan fungsi


reproduksinya

b. Karena kehamilan, persalinan dan nifas merupakan periode yang


termasuk dalam masa ini, maka konseling psikologis dalam
menghadapi ketiga masa tersebut dapat dilakukan.

17

C. Masa Dewasa Madya

Masa Dewasa Madya adalah masa peralihan dewasa yang berawal dari masa
dewasa muda yang berusia 40- 65 tahun. Pada masa dewasa madya, ada
aspek- aspek tertentu yang berkembang secara normal, aspek-aspek lainnya
berjalan lambat atau berhenti. Bahkan ada aspek- aspek yang mulai
menunjukkan terjadinya kemunduran- kemunduran.

Aspek jasmaniah mulai berjalan lamban, berhenti dan secara berangsur


menurun. Aspek- aspek psikis (intelektual- sosial- emosional- nilai) masih
terus berkembang, walaupun tidak dalam bentuk penambahan atau
peningkatan kemampuan tetapi berupa perluasan dan pematangan kualitas.
Pada akhir masa dewasa madya (sekitar usia 40 tahun), kekuatan aspek- aspek
psikis ini pun secara berangsur ada yang mulai menurun, dan penurunannya
cukup drastic pada akhir usia dewasa. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan
disajikan uraian secara lebih rinci tentang perkembangan fisik, intelektual,
moral, dan karier pada masa dewasa.

Menurut Lavinson, Masa Dewasa Madya berusia 40-50 tahun. Masa Dewasa
Madya adalah masa peralihan dari masa dewasa awal. Pada usia 40 tahun
tercapailah puncak masa dewasa. Setelah itu mulailah peralihan ke masa
madya (tengah baya antara usia 40-45 tahun), dalam masa ini seseorang
memiliki tiga macam tugas:

a. Penilaian kembali pada masa lalu

b. Perubahan struktur kehidupan

c. Proses individuasi

18

Artinya seseorang menilai masa lalu dengan kenyataan yang ada saat ini, dan
dengan pandangan ke depan seseorang merubah struktur kehidupannya
dengan penyesuaian pemikiran rasional pada zaman ini pula. Proses
individuasi akan membangun struktur kehidupan baru yang berlangsung
sampai fase penghidupan yang berikutnya yaitu permulaan masa madya (4550 tahun)

1. Perkembangan Fisik Masa Dewasa Madya

Masa usia dewasa madya diartikan sebagai suatu masa


menurunnya keterampilan fisik dan semakin besarnya tanggung jawab,
suatu periode dimana orang menjadi sadar akan polaritas muda-tua dan
semakin berkuranggya jumlah waktu yang tersisa dalam kehidupan, suatu
masa ketika orang mencapai dan mempertahankan kepuasan dalam karier,
dan suatu titik ketika individu berusaha meneruskan suatu yang berarti
pada generasi berikutnya. Perhatian terhadap agama lebih besar
dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan
perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.

Menurut Hurlock (2005), baik pria maupun wanita selalu terdapat


ketakutan, dimana penampilannya pada masa ini akan menghambat
kemampuannya

untuk

mempertahankan

pasangan

mereka,

atau

mengurangi daya tarik lawan jenis. Selain itu, sebuah penelitian


menemukan bahwa perempuan berusia dewasa madya lebih memfokuskan
perhatiannya pada daya tarik wajah dari pada perempuan yang lebih muda
atau tua. Dalam penelitian ini, wanita dewasa madya lebih mungkin
menganggap tanda-tanda penuaan sebagai pengaruh negative terhadap
penampilan fisiknya.

Adapun beberapa perubahan fisik mulai tampak lebih awan di usia


30 tahun, tetapi pada beberapa titik atau bagian terjadi di usia 40 tahun,

19

menurunnya perkembangan fisik menunjukan bahwa masa dewasa madya


telah datang.

Pada wanita masa ini merupakan masa dimana terjadinya


penurunan produksi hormonal yang otomatis akan mempengaruhi fungsi
tubuh yang terkait dengan hormon yang tidak lagi dihasilkan. Siklus
menstruasi, sindrom klimakterium, perapuhan tulang, dan pengkerutan
kulit merupakan kondis-kondisi yang terpengaruh akibat perubahan
hormonal yang terjadi. Beberapa perubahan fisik yang terjadi pada masa
dewasa madya antara lain:

a. Berat badan bertambah, bahu seringkali membentuk bulat, dan terjadi


penggemukan seluruh tubuh yang membuat perut kelihatan menonjol
sehingga seseorang kelihatan lebih pendek

b. Otot menjadi lembek dan mengendur disekitar dagu, pada lengan


dibagian atas dan perut.

c. Mulai menurunnya kekuatan fisik, fungsi motorik dan sensori

d. Penurunan kebugaran fisik. masalah kesehatan utama pada masa


dewasa madya antara lain penyakit kanker, kardivaskuler, dan obesita.

e. Gangguan pada persendian, tungkai, lengan yang membuat mereka


sulit berjalan dan memegang benda yang jarang terjadi pada usia muda

f. Mulai terjadinya proses menua secara gradual, maksudnya terlihat


tanda-tanda bahwa dirinya mulai tua, seperti tumbuhnya uban di
kepala, rambut pada wajah tumbuh lebih lambat dan kurang subur,
adanya kerutan-kerutan pada bagian wajah, kemampuan fungsi mata
berkurang.

20

g. Rambut pada pria mulai jarang, menipis, dan terjadi kebotakan pada
bagian atas kepala, rambut di hidung, telinga, dan bulu mata menjadi
lebih kaku

h. Rambut pada wanita semakin tipis dan rambut di atas bibir dan dagu
bertambah banyak;

i. Terjadinya perubahan-perubahan seksual. Kaum laki-laki dapat


mengalami Climacterium dan

wanita

dapat

mengalami Menopause. Climacterium dan menopause merupakan


tanda berhentinya kemampuan menghasilkan keturunan dan dapat
menimbulkan penyakit Melancholia involutive (cemas dan merasa diri
tak berguna) peristiwa ini bagi laki-laki lebih lambat datangnya
daripada wanita

Ciri-ciri fisik sindrom Menopause:

1) Sistem reproduksi menurun dan berhenti

2) Penampilan kewanitaan menurun

3) Ketidaknyamanan fisik

4) Berat badan bertambah

5) Penonjolan pada jari

6) Perubahan kepribadian

Ciri-ciri sindrom Climaterium pada pria:

21

1) Rusaknya fungsi organ seksual

2) Nafsu seksual menurun

3) Penampilan kelakian menurun

4) Gelisah akan kepribadian

5) Ketidaknyamanan fisik

6) Menurunnya kekuatan dan daya tahan tubuh.

2. Perkembangan Intelektual dan Psikososial Masa Dewasa Madya

Ciri-ciri masa dewasa madya :

a. Usia madya merupakan periode yang sangat ditakuti

Diakui bahwa semakin mendekati usia tua, periode usia madya


semakin lebih terasa menakutkan. Pria dan wanita banyak mempunyai
alasan untuk takut memasuki usia madya. Diantaranya adalah :
banyaknya stereotip yang tidak menyenangkan tentang usia madya.
Yaitu : kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental dan fisik
yang diduga disertai dengan berhentinya reproduksi.

b. Usia madya merupakan masa transisi

22

Usia ini merupakan masa transisi seperti halnya masa puber, yang
merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja.
Dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku
masanya dan memasuki periode dalam kehidupan yang akan diliputi
oleh ciri-ciri jasmani dan perilaku baru.

c. Usia madya adalah masa stress

Bahwa usia ini merupakan masa stress. Penyesuaian secara radikal


terhadap peran dan pola hidup yang berubah, khususnya bila disertai
dengan

berbagai

perubahan

fisik,

selalu

cenderung

merusak

nomeostatis fisik dan psikologis dan membawa ke masa stress, suatu


masa bila sejumlah penyesuaian yang pokok harus dilakukan di rumah,
bisnis dan aspek sosial kehidupan mereka.

d. Usia madya adalah usia yang berbahaya

Cara biasa menginterpretasi usia berbahaya ini berasal dari kalangan


pria yang ingin melakukan pelampiasan untuk kekerasan yang berakhir
sebelum memasuki masa usia lanjut. Usia madya dapat menjadi dan
merupakan berbahaya dalam beberapa hal lain juga. Saat ini
merupakan suatu masa dimana seseorang mengalami kesusahan fisik
sebagai akibat dari terlalu banyak bekerja, rasa cemas yang berlebihan,
ataupun kurangnya memperhatikan kehidupan. Timbulnya penyakit
jiwa datang dengan cepat di kalangan pria dan wanita dan gangguan
ini berpuncak pada suicide. Khususnya di kalangan pria.

e. Usia madya adalah usia canggung

23

Sama seperti pada remaja, bukan anak-anak bukan juga dewasa.


Demikian juga pada pria dan wanita berusia madya. Mereka bukan
muda lagi, tetapi juga bukan tua.

f. Usia madya adalah masa berprestasi

Menurut Errikson, usia madya merupakan masa kritis diamana baik


generativitas / kecenderungan untuk menghasilkan dan stagnasi atau
kecenderungan untuk tetap berhenti akan dominan. Menurut Errikson
pada masa usia madya orang akan menjadi lebih sukses atau
sebaliknya mereka berhenti (tetap) tidak mengerjakan sesuatu apapun
lagi. Menurutnya apabila orang pada masa usia madya memiliki
keinginan yang kuat maka ia akan berhasi, sebaliknya dia memiliki
keinginan yang lemah, dia akan stag (atau menetap) pada hidupnya.

g. Usia madya adalah masa evaluasi

Pada usia ini umumnya manusia mencapai puncak prestasinya, maka


sangatlah logis jika pada masa ini juga merupakan saat yang pas untuk
mengevaluasi prestasi tersebut berdasarkan aspirasi mereka semula dan
harapan-harapan orang lain, khususnya teman dan keluarga-keluarga
dekat.

h. Usia madya dievaluasi dengan standar ganda

Bahwa pada masa ini dievaluasi dengan standar ganda, satu standar
bagi pria dan satu standar bagi wanita. Walaupun perkembangannya
cenderung mengarah ke persamaan peran antara pria dan wanita baik
di rumah, perusahaan perindustrian, profesi maupun dalam kehidupan
sosial namun masih terdapat standar ganda terhadap usia. Meskipun
standar ganda ini mempengaruhi banyak aspek terhadap kehidupan

24

pria dan wanita usia madya tetapi ada dua aspek yang perlu
diperhatikan : pertama aspek yang berkaitan dengan perubahan
jasmani dan yang kedua bagaimana cara pria dan wanita menyatakan
sikap pada usia tua.

i. Usia madya merupakan masa sepi

Dimana masa ketika anak-anak tidak lagi tinggal bersama orang tua.
Contohnya anak yang mulai beranjak dewasa yang telah bekerja dan
tinggal di luar kota sehingga orang tua yang terbiasa dengan kehadiran
mereka di rumah akan merasa kesepian dengan kepergian mereka.

j. Usia madya merupakan masa jenuh

Banyak pria atau wanita yang memasuki masa ini mengalami


kejenuhan yakni pada sekitar usia 40 akhir. Pra pria merasa jenuh
dengan kegiatan rutinitas sehari-hari dan kehidupan keluarga yang
hanya sedikit memberi hiburan. Wanita yang menghabiskan waktunya
untuk memelihara rumah dan membesarkan anak-anak mereka.
Sehingga ada yang merasa kehidupannya tidak ada variasi dan
monoton yang membuat mereka merasa jenuh.

3. Asuhan Kebidanan pada Masa Dewasa Madya


Wanita yang mengalami menopause umumnya seperti hotflashes
perasaan hangat diseluruh tubuh yang terutama terasa pada dada dan
kepala), gangguan emosi, kekeringan pada vagina, dan menurunya
keinginan berhubungan seksual.

25

a. Gejala jangka pendek : vaso motorik: hotflashes, gangguan tidur,


palpitasi, sakit kepala. Perubahan psikis atau gejala psikologis steroid
seks sangat berperan terhadap fungsi susunan syaraf pusat, suasana
hati, fungsi kognitif dan sensorik seseorang. Perubahan ini berdampak
pada perubahan psikis yang berat dan fungsi kognitif. Kurangnya
aliran darah ke otak, menyebabkan sulit berkonsentrasi, dan mudah
lupa. Akibat kekurangan estrogen pada wanita menopause mudah
timbul keluhan tersinggung dan merasa ertekan. Kejadian depresi ini
juga dijumpai pada laki-laki. Stress social juga dapat mempengaruhi
perasaan sejahtera seorang wanita disekitar masa menopause dan
mungkin berhubungan dengan kejadian-kejadian:

1) Kematian atau sakitnya orang tua

2) Perpisahan atau ketidak harmonisan perkawinan

3) Kurangnya kepuasan pada pekerjaan

4) Penambahan berat badan dan kegemukan

5) Anak reaja yang sulit emptiness Syndrom sering dikutip dalam


kontek ini, tetapi anak beranjak dewasa yang tetap berada
dilingkungan keluarga lebih sering menimbulkan masalah.
Kepribadian, faktor budaya dan sikap terhadap menopause jelas
mempengaruhi insiden gejala psikologis pada masa klimakterik.

b. Gejala menengah berupa : penurunan keinginan berhubugan seksual,


kekeringan pada vagina urogenital, ovarium, uterus, servik, vulva,
organ lain : rambut, kulit, mulut dan hidung, mata, otot dan sendi,
saluran pernafasan, payudara.

26

c. Gejala jangka panjang: osteoporosis, penyakit cardiovascular.

Respon masing-masing orang dalam menghadapi masa ini berkaitan


dengan keluhan dan perubahan yang dialaminya berbeda-beda antara
orang yang satu dan yang lainnya. Sehingga perbedaan itulah yang harus
mendapatka perhatian. Tindakan kita sebagai bidan dapat melaksanakan
konseling sehubungan dengan gejala yang timbul, diantaranya adalah:

Mendiskusikan tentang perubahan-perubahan dan gejala-gejala yang


umum terjadi pada masa menopause dengan teknik konseling dan
pendekatan yang bisa diterima mereka, sehingga akan muncul sikap
positif dan menerima perubahannya sebagai proses fisiologis.

Memberikan kesempatan berbicara tentang penurunan kemampuan,


menvalidasi

apa

yangmereka

sampaikan,

dan

bersama-sama

menemukan solusi untuk mengurangi kecemasannya.

Membantu agar merasa nyaman terhadap dirinya sendiri dan apa yang
masih dapat mereka lakukan. Kita perlu memberikan dukungan ketika
mereka mempelajari hal-hal baru untuk berhasil mensikap fase
kehidupan baru.

D. Masa Dewasa Akhir

Masa dewasa lanjut usia merupakan masa lanjutan atau masa dewasa
akhir (60 ke atas). Perlu memperhatikan khusus bagi orangtuanya yang sudah
menginjak lansia dan anaknya yang butuh dukungan juga untuk menjadi
seorang dewasa yang bertanggungjawab. Di samping itu permasalahan dari

27

diri sendiri dengan perubahan fisik, mulai tanda penuaan yang cukup menyita
perhatian.

Saat individu memasuki dewasa akhir, mulai terlihat gejala penurunan


fisik dan psikologis, perkembangan intelektual dalam lambatnya gerak
motorik, pencarian makna hidup selanjutnya. Menurut erikson tahap dewasa
akhir memasuki tahap integrity vs despair yaitu kemampuan perkembangan
lansia mengatasi krisis psikososialnya. Banyak stereotip positif dan negatif
yang mampu mempengaruhi kepribadian lansia. Integritas ego penting dalam
menghadapi kehidupan dengan puas dan bahagia. Hal ini berdampak pada
hub.sosial dan produktivitasnya yang puas. Lawannya adalah despair yaitu
rasa takut mati dan hidup terlalu singkat, rasa kekecewaan. Beberapa cara
hadapi krisis dimasa lansia adalah tetap produktif dalam peran sosial, gaya
hidup sehat, dan kesehatan fisik.

Menurut Erikson, perkembangan psikososial masa dewasa akhir


ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, generatif, dan integritas.

a. Perkembangan Keintiman

Keintiman dapat diartikan sebagai suatu kemampuan memperhatikan


orang lain dan membagi pengalaman dengan mereka. Orang-orang yang
tidak dapat menjalin hubungan intim dengan orang lainakan terisolasi.
Menurut Erikson, pembentukan hubungan intim ini merupakan tantangan
utama yang dihadapi oleh orang yang memasuki masa dewasa akhir.

b. Perkembangan Generatif

Generativitas adalah tahap perkembangan psikososial ketujuh yang


dialami individu selama masa pertengahan masa dewasa. Ketika seseorang
mendekati usia dewasa akhir, pandangan mereka mengenai jarak

28

kehidupan cenderung berubah. Mereka tidak lagi memandang kehidupan


dalam pengertian waktu masa anak-anak, seperti cara anak muda
memandang kehidupan, tetapi mereka mulai memikirkan mengenai tahun
yang tersisa untuk hidup. Pada masa ini, banyak orang yang membangun
kembali kehidupan mereka dalam pengertian prioritas, menentukan apa
yang penting untuk dilakukan dalam waktu yang masih tersisa.

c. Perkembangan Integritas

Integritas merupakan tahap perkembangan psikososial Erikson yang


terakhir. Integritas paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan yang
dicapai seseorang setelah memelihara benda-benda, orang-orang, produkproduk dan ide-ide, serta setelah berhasil melakukan penyesuaian diri
dengan bebrbagai keberhasilan dan kegagalan dalam kehidupannya.
Lawan dari integritas adalah keputusan tertentu dalam menghadapi
perubahan-perubahan siklus kehidupan individu, terhadap kondisi-kondisi
sosial dan historis, ditambah dengan kefanaan hidup menjelang kematian.

Tahap integritas ini ini dimulai kira-kira usia sekitar 65 tahun, dimana
orang-orang yang tengah berada pada usia itu sering disebut sebagai usia
tua atau orang usia lanjut. Usia ini banyak menimbulkan masalah baru
dalam kehidupan seseorang. Meskipun masih banyak waktu luang yang
dapat dinikmati, namun karena penurunan fisik atau penyakit yang
melemahkan telah membatasi kegiatan dan membuat orang tidak menrasa
berdaya.

Terdapat beberapa tekanan yang membuat orang usia tua ini menarik diri
dari keterlibatan sosial: (1) ketika masa pensiun tiba dan lingkungan berubah,
orang mungkin lepas dari peran dan aktifitas selama ini; (2) penyakit dan
menurunnya kemampuan fisik dan mental, membuat ia terlalu memikirkan diri
sendiri secara berlebihan; (3) orang-orang yang lebih muda disekitarnya
cenderung menjauh darinya; dan (4) pada saat kematian semakin mendekat,
29

oran ingin seperti ingin membuang semua hal yang bagi dirinya tidak
bermanfaat lagi.

Jadi, tumbuh kembang dewasa muda, menengah dan akhir berbeda.


Persamaannya dilihat dari tanda-tanda memasuki usia dewasa seseorang/
individu, yaitu:

a. Membuat keputusan penting dalam menunjang karir, kesehatan dan


hubungan personalnya.

b. Memiliki kedudukan dan peranana sebagai orang penting seperti pekerja,


orang tua dan pasangan hidup.

c. Mencapai kematangan psikologis sebagai orang dewasa dan segala macam


tanggung jawabnya serta berpikir sistematis dan analitis.

Menurut Lavinson, Dewasa Akhir mulai berumur 50-55 tahun sering kali
merupakan

krisis

bila

sesorang

tidak

sepenuhnya

berhasil

dalam

pensstrukturan kembali hidupnya pada peralihan ke dewasa madya. Sesudah


itu langkah puncak (55-60 tahun) sekaligus menandai masa dewasa akhir.

Penelitian Levinson mengemukakan tahun-tahun usia yang eksak dengan


pergeseran maksimum lima tahun, hal ini cenderung menuju pada eksak semu,
pengertian struktur kehidupan harus diteliti akan ketetapan penggunaannya.
Namun lavinson menitikberatkan bahwa pandangan akan siklus penghidupan
yang terlalu kaku atau terlambat tidak dapat dipertahankan lagi.

1. Perkembangan Fisik Maa Dewasa Akhir

Perkembangan masa dewasa akhir atau usia lanjut, membawa penurunan


fisik yang lebih besar dibandingkan dengan periode periode usia

30

sebelumnya. Kita akan mencatat rentetan perubahan perubahan dalam


penurunan fisik yang terkait dengan penuaan, dengan penekanan
pentingnya perkembangan perkembangan baru dalam penelitian proses
penuaan yang mencatat bahwa kekuatan tubuh perlahan lahan menurun
dan hilangnya fungsi tubuh kadangkala dapat diperbaiki.

Dalam buku Psikologi Perkembangan Anak: Mengenal Sifat, Bakat, dan


Kemampuan Anak oleh Reni Hawadi Akbar pada tahun 2001, berikut
adalah beberapa penurunan dan hilangnya fungsi tubuh dalam hal
fisiologis masa perkembangan masa dewasa akhir atau usia lanjut:

a. Otak dan system syaraf

Saat kita tua kita kehilangan sejumlah neuron, unit unit sel dasar dari
sistem syaraf. Beberapa peneliti memperkirakan kehilangan itu
mungkin sampai 50% selama tahun tahun dewasa. Walaupun
penelitian lain percaya bahwa kehilangan itu lebih sedikit dan bahwa
penyelidikan yang tepat terhadap penyelidikan hilangnya neuron
belum dibuat di dalam otak.

Barangkali penyelidikan yang lebih masuk akal adalah bahwa 5 sampai


10 persen dari neuron kita akan berhenti tumbuh sampai kita mencapai
usia 70 tahun. Setelah itu, hilangnya neuron akan lebih cepat.

Aspek yang signifikan dari proses penuaan mungkin adalah bahwa


neuron neuron itu tidak mengganti dirinya sendiri. Meskipun demikian
otak dapat cepat sembuh dan memperbaiki kemampuannya, hanya
kehilangan sebagian kecil dari kemampuannya untuk bisa berfungsi di
masa dewasa akhir.

b. Perkembangan Sensori

31

Perubahan sensori fisik masa dewasa akhir melibatkan indera


penglihatan, pendengaran, perasa, pembau, dan indera peraba. Pada
masa dewasa akhir penurunan indera penglihatan bisa mulai dirasakan
dan terjadi mulai awal masa dewasa tengah. Adaptasi terhadap gelap
lebih menjadi lambat, yang berarti bahwa orang rang lanjut usia
membutuhkan waktu lama untuk memulihkan kembali penglihatan
mereka ketika keluar dari ruangan yang terang menuju ke tempat yang
agak gelap.

Penurunan penglihatn ini biasanya dapat dirunut dari pengurangan


kualitas dan intensitas cahaya yang mencapai retina. Di puncak usia
tua, perubahan ini mungkin disertai oleh perubahan perubahan
kemunduran dalam retina, menyebabkan beberapa kesulitan dalam
penglihatan.

Meskipun pendengaran dapat mulai pada masa dewasa tengah, hal itu
biasanya tidak banyak membawa kesulitan sampai masa dewasa akhir.
Pada saat itu banyak sekali alat bantu pendengaran yang bisa dipakai
untuk

bantuan

pendengaran.

Tuli,

biasanya

disebabkan

oleh

kemunduran selaput telinga, syaraf penerima penerima suara didalam


telinga.

Selain berukurangnya penglihatan dan pendengaran juga mengalami


penurunan dalam kepekaan rasa dan bau. Kepekaan terhadap rasa pahit
dan masam bertahan lebih lama dibandingkan dengan rasa manis dan
asin.

c. Sistem Peredaran Darah

Tidak lama berselang terjadi penurunan jumlah darah yang dipompa


oleh jantung dengan seiringnya pertambahan usia sekalipun pada orang

32

dewasa yang sehat. Bagaimanapun, kita mengetahui bahwa ketika sakit


jantung tidak muncul, jumlah darah yang dipompa sama tanpa
mempertimbangakan usia pada masa dewasa. Kenyataannya para ahli
penuaan berpendapat bahwa jantung yang sehat dapat menjadi lebih
kuat selama kita menua dengan kapasitas meningkat bukan menurun.

d. Sistem Pernafasan

Kapasitas akan menurun pada usia 20 hingga 80 tahun sekalipun tanpa


penyakit. Paru paru kehilangan elatisitasnya, dada menyusut, dan
diafragma melemah. Meskipun begitu berita baiknya adalah bahwa
orang dewasa lanjut dapat memperbaiki fungsi paru paru dengan
latihan latihan memperkuat diafragma.

e. Seksualitas

Penuaan menyebabkan beberapa perubahan penurunan dalam hal


seksualitas manusia, lebih banyak pada laki laki dari pada perempua.
Orgasme menjadi lebih jarang pada laki laki, terjadi dalam setiap 2
sampai 3 kali hubungan seksual bukan setiap kali. Rangsangan yang
lebih langsung biasanya dibutuhkan untuk ereksi. Sekalipun hubungan
seksual terganggu oleh kelemahan, relasi lainnya harus dipertahankan,
diantara kedekatan sensualitas, dan nilai sebagai seorang laki laki
maupun wanita.

2. Perkembangan Intelektual Dewasa Akhir

33

Salah satu pertanyaan yang paling banyak menimbulkan kontroversial


dalam studi tentang perkembangan rentang hidup manusia adalah
kemampuan

kognitif

orang

dewasa,

seperti

memori,

kreativitas,

intelegensi, dan kemampuan belajar, paralelel dengan penurunan


kemampuan fisik. Pada umumnya orang percaya bahwa proses belajar,
memori, dan intelegensi mengalami kemerosotan bersamaan dengan terus
bertambahnya usia.

Kecepatan dalam memproses informasi mengalami penurunan pada masa


dewasa akhir. Selain itu, orang-orang dewasa lanjut kurang mampu
mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan dalam ingatannya.
Kecepatan memproses informasi secara pelan-pelan memang akan
mengalami penurunan pada masa dewasa akhir, namun factor individual
differences juga berperan dalam hal ini. Nancy Denney menyatakan bahwa
kebanyakan tes kemampuan mengingat dan memecahkan masalah
mengukur bagaimana orang-orang dewasa lanjut melakukan aktivitasaktivitas yang abstrak atau sederhana.

Ada 3 komponen penting yang berpengaruh terhadap fungsi kognitif


individu berusia lanjut, antara lain sebagai berikut :

a. Pendidikan

Fasilitas pendidikan, semakin tahun memang semakin meningkat,


sehingga generasi sekarang memiliki kesempatan untuk mendapatkan
pendidikan

yang

lebih

baik

daripada

generasi

sebelumnya.

Pengalaman-pengalaman di dunia pendidikan, ternyata berkorelasi


positif dengan hasil skor pad tes-tes inteligensi dan tugas-tugas
pengolahan informasi (ingatan). Dinegara-negara maju, beberapa
lansia masih berusaha untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi.
Alasan-alasan yang dikemukakan antara lain:

34

1) Ingin memahami sifat dasar penuaan yang dialaminya.

2) Ingin mempelajari perubahan social dan teknologi yang dirasakan


mempengaruhi kehidupannya.

3) Ingin menemukan pengetahuan yang relevan dan mempelajari


ketrampilan-ketrampilan

yang

relevan

untuk

mengantisipasi

permintaan-permintaan masyarakat dan tuntutan pekerjaan, agar


tetap dapat berkarier secara optimal dan mampu bersaing dengan
generasi sesudahnya.

4) Ingin mengisi waktu luang agar lebih bermanfaat, serta sebagai


bekal untuk mengadakan penyesuaian diri dengan lebih baik pada
masa pensiunnya.

b. Pekerjaan

Searah dengan kemajuan teknologi biasanya orang-orang dewasa


lanjut, sesuai dengan kompetensi yang dimiliki, cenderung bekerja
dengan jenis pekerjaan yang belum mengarah ke orientasi kognitif,
seperti generasi sesudahnya. Hal ini mengakibatkan banyak tenaga
dewasa lanjut yang harus tersingkir dari dunia kerja karena tidak
mampu lagi bersaing dengan generasi yang berikutnya.

c. Kesehatan

Dari hasil penelitian kondisi kesehatan berkorelasi positif dengan


kemampuan intelektual individu. Seperti satu hasil penelitian yang
menemukan

bahwa

hipertensi

35

ternyata

berkorelasi

dengan

berkurangnya performance pada tes WAIS pada individu berusia di


atas 60 tahun. Semakin tua, semakin banyak masalah kesehatan yang
dihadapi. Jadi beberapa penurunan kemampuan intelektual yang
ditemukan

pada

orang-orang

dewasa

lanjut

sangat

mungkin

disebabkan oleh factor-faktor yang terkait dengan kesehatan daripada


factor usia semata.

Gaya hidup individu juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan


fisiknya. Pada satu penelitian ditemukan bahwa ada hubungan antara
aktivitas olahraga dengan kecakapan kognitif pada Subjek pria dan
wanita berusia 55-91 tahun. Orang-orang yang giat berolahraga
memiliki kemampuan penalaran, ingatan dan waktu reaksi lebih baik
daripada mereka yang kurang/tidak pernah berolah raga.

3. Perkembangan Psikososial Masa Dewasa Akhir

Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya


penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi
satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah
kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.

Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa


lansia. Faktor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para
lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa
faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan
jiwa mereka adalah sebagai berikut:

a. Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain :

36

1) Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada


lansia

2) Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta


diperkuat oleh tradisi dan budaya.

3) Kelelahan

atau

kebosanan

karena

kurang

variasi

dalam

kehidupannya.

4) Pasangan hidup telah meninggal.

5) Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah


kesehatan jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dsb.

b. Perubahan Aspek Psikososial

Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia


mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif
meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian
dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi
makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi halhal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan,
tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang
cekatan.

Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga


mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan
keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat
dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut:

37

1) Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya


tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap
sampai sangat tua.

2) Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini


ada kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika
pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat
memberikan otonomi pada dirinya.

3) Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe


ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila
kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak
bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan
yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera
bangkit dari kedukaannya.

4) Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini


setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan
kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak
diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi
ekonominya menjadi morat-marit.

5) Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia


tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit
dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.

c. Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat

Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan,


gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau
bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk,

38

pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya


sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah
dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang
bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau
diasingkan.

Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk


berkomunikasi dengan orang lain dan kdang-kadang terus muncul
perilaku

regresi

seperti

mudah

menangis,

mengurung

diri,

mengumpulkan barang-barang tak berguna serta merengek-rengek dan


menangis bila ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak
kecil.

d. Penyesuaian Diri Pada Masa Tua (Adjustment)

Yang dimaksud dengan penyesuaian diri pada lanjut usia adalah


kemampuan orang yang berusia lanjut untuk menghadapi tekanan atau
konflik akibat perubahan perubahan fisik, maupun sosial psikologis
yang dialaminya dan kemampuan untuk mencapai keselarasan antara
tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan dari lingkungan, yang disertai
dengan kemampuan mengembangkan mekanisme psikologis yang
tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan dirinya tanpa
menimbulkan masalah baru.

Penyesuaian diri lanjut usia pada kondisi psikologisnya


berkaitan dengan dimensi emosionalnya dapat dikatakan bahwa lanjut
usia dengan keterampilan emosi yang berkembang baik berarti
kemungkinan besar ia akan bahagia dan berhasil dalam kehidupan,
menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka.
Orang yang tidak dapat menghimpun kendali tertentu atas kehidupan
emosinya akan mengalami pertarungan batin yang merampas

39

kemampuan mereka untuk berkonsentrasi ataupun untuk memiliki


pikiran yang jernih.

Ohman & Soares melakukan penelitian yang menghasilkan


kesimpulan bahwa sistem emosi mempercepat sistem kognitif untuk
mengantisipasi hal buruk yang mungkin akan terjadi. Stimuli yang
relevan dengan rasa takut menimbulkan reaksi bahwa hal buruk akan
terjadi. Terlihat bahwa rasa takut mempersiapkan individu untuk
antisipasi datangnya hal tidak menyenangkan yang mungkin akan
terjadi. Secara otomatis individu akan bersiap menghadapi hal-hal
buruk yang mungkin terjadi bila muncul rasa takut. Ketika individu
memasuki fase lanjut usia, gejala umum yang nampak yang dialami
oleh orang lansia adalah perasaan takut menjadi tua. Ketakutan
tersebut bersumber dari penurunan kemampuan yang ada dalam
dirinya. Kemunduran mental terkait dengan penurunan fisik sehingga
mempengaruhi kemampuan memori, inteligensi, dan sikap kurang
senang terhadap diri sendiri.

4. Asuhan Kebidanan pada Masa Dewasa akhir

Akibat perubahan Fisik yang semakin menua maka perubahan ini


akan sangat berpengaruh terhadap peran dan hubungan dirinya dengan
lingkunganya. Dengan semakin lanjut usia seseorang secara berangsurangsur ia mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya karena berbagai
keterbatasan yang dimilikinya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial
para lansia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitasnya sehingga
hal ini secara perlahan mengakibatkan terjadinya kehilangan dalam
berbagai hal yaitu: kehilangan peran ditengah masyarakat, hambatan
kontak fisik dan berkurangnya komitmen.

40

Sebagai bidan, hal yang dapat kita lakukan adalah:

a. Membantu lansia memahami konsep dirinya

b. Membantu lansia dalam mengisi waktunya dengan lebih berkualitas

c. Membantu lansia dalam menghadapi lingkungan sosial di sekitarnya.

E. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Orang Dewasa


dalam Kehidupannya

Adapun faktor- faktor tertentu dalam kehidupan orang dewasa yang akan
mempermudah perkembangan orang dewasa. Faktor- faktor yang paling
berpengaruh adalah :

1. Kekuatan Fisik

Bagi banyak individu, puncak kekuatan fisik dicapai dalam usia


pertengahan dua puluhan. Kekuatan fisik yang prima dapat mengatasi atau
memecahkan persoalan- persoalan yang timbul pada masa orang dewasa.
Untuk memelihara kekuatan fisik yang prima perlu dijaga kesehatan. Ada
6 kebiasaan hidup sehat yang perlu dilakukan oleh orang dewasa untuk
memelihara kekuatan fisik, yaitu:

a. Sarapan pagi.

b. Makan secara teratur.

41

c. Makan secukupnya untuk memelihara badan yang normal.

d. Tidak merokok.

e. Olahraga secukupnya.

f. Tidur secara teratur 7- 8 jam setiap malam.

Kekuatan fisik yang prima pada orang dewasa, memungkinkan mereka


untuk optimal dalam bekerja, berkeluarga, memperoleh keturunan, dan
mengelola kehidupan keluarganya. Sebaliknya, kekuatan fisik yang tidak
prima menghambat orang dewasa untuk mengerjakan apa yang seharusnya
dilakukan oleh orang dewasa dan dapat menggagalkan sebagian atau
secara total tugas- tugas perkembangan orang dewasa.

2. Kemampuan Motorik

Kemampuan motorik orang dewasa mencapai kekuatannya antara usia 20an dan 30-an. Kecepatan respons maksimal terdapat antara usia 20-an dan
25-an dan sesudah itu kemampuan ini sedkit demi sedikit menurun.

Kemampuan motorik ini mempunyai hubungan yang positif dengan


kondisi fisik yang baik dan kesehatan yang baik. Kondisi fisik yang kuat
dan kesehatan yang baik memungkinkan orang dewasa melatih
keterampilan- keterampilannya secara lebih baik. Di samping itu, orang
dewasa yang mempunyai kemampuan motorik yang baik cenderung akan
dapt menyelesaikan dengan baik pekerjaan yang menuntut kemampuan
fisik.

Dalam mempelajari keterampilan-keterampilan motorik baru, orang


dewasa yang berusia 20-an, menunjukkan hasil yang lebih baik

42

dibandingkan dengan hasil mereka yang mempelajarinya dalam usia


mendekati masa setengah baya.

3. Kemampuan Mental

Kemampuan mental yang diperlukan untuk menyesuaikan diri pada


situasi- situasi baru adalah mengingat kembali hal-hal yang dulu pernah
dipelajari, penalaran analogis dan berpikir kreatif. Kemampuan mental ini
mencapai puncaknya dalam usia 20-an, kemudian sedikit demi sedikit
menurun.

Kemampuan mental yang dimiliki orang dewasa ini sangat penting


kedudukannya

dalam

menyesuaikan

diri

terhadap

tugas-tugas

perkembangan, jauh melebihi pentingnya kemampuan motorik.

Kemampuan mental seperti penalaran dengan menggunakan analogi,


mengingat kembali informasi yang telah dipelajari, dan berpikir secara
kreatif sangat diperlukan dalam mempelajari dan menyesuaikan diri
terhadap keterampilan- keterampilan dan kecakapan-kecakapan yang
dituntut oleh tugas- tugas perkembangan orang dewasa. Baik pria maupun
wanita pada umumnya memiliki kemampuan berpikir yang sama dalam
usaha- usaha mereka memilih teman- teman bergaul sebagai calon istri
naupun suami.

4. Motivasi Untuk Berkembang

Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan orang dewasa adalah


motivasi untuk berkembang. Apabila remaja telah mencapai usia dewasa
secara hukum, mereka berkeinginan kuat untuk dianggap sebagai orangorang dewasa yang mandiri oleh kelompok sosial mereka. Hal ini menjadi
motivasi bagi orang- orang dewasa untuk mengembangkan dirinya.

43

Pada masa dewasa, individu terdorong untuk mulai bekerja, memilih


pasangan hidup, belajar hidup dengan tunangan, mulai membina keluarga,
mengasuh anak, mengelola rumah tangga, mengambil tanggung jawab
sebagai warga negara dan mencari kelompok sosial yang menyenangkan.

Motivasi untuk berkembang memiliki peranan yang strategis dalam


perkembangan orang dewasa. Individu yang merasa butuh dan perlu untuk
menuasai

tugas-

tugas

perkembangan

orang

dewasa

cenderung

mengarahkan perilakunya ke arah terkuasainya tugas- tugas perkembangan


orang dewasa. Sebaliknya individu yang tidak memiliki motivasi untuk
berkembang menjadi orang dewasa. Individu tersebut cenderung
mengabaikan tugas- tugas perkembangan orang dewasa yang harus
dikuasainya.

5. Model Peran

Faktor lingkungan perkembangan orang dewasa sangat berpengaruh


terhadap perkembangan orang dewasa. Orang dewasa yang berinteraksi
dengan orang dewasa lainnya mempunyai model peran untuk diteladani.
Karena berinteraksi dengan orang dewsa lainnya mereka memperoleh
motivasi untuk mencontoh perilaku sesuai dengan ketentuan- ketentuan
yang dianut oleh masyarakat orang dewasa.

Sebaliknya orang dewasa yang masih beriteraksi dengan remaja dan


mengikuti garis- garis perilaku remaja akan tetap berperilaku seperti
remaja dan bukan pola perilaku dewasa. Jika mereka tetap dalam status
ketergantungan, mereka hampir tidak memperoleh kesempatan atau
motivasi untuk menguasai tugas- tugas perkembangan orang dewasa.

44

F. Kebutuhan Wanita Dewasa


Teori Biologis (biogenic theories) yang menyangkut proses biologis yang
lebih menekankan pada mekanisme pembawaan biologis yang lebih
menekankan pada mekanisme pembawaan biologis, seperti insting dan
kebutuhan-kebutuhan biologis. Dan teori sosiologis (sosiogenic theories) lebih
menekankan pengaruh kebudayaan atau kehidupan masyarakat. Hal ini
menunjukkan bahwa orang dewasa melakukan aktivitas karena diidorong oleh
adanya faktor-faktor biologis serta adanya pengaruh perkembangan budaya
manusia.

Murray dan Edwards mengungkapkan lima belas aspek kebutuhan orang


dewasa, yaitu sebagai berikut:

1. Kebutuhan berprestasi (achievementi)

Mengacu pada dorongan untuk mencapai hasil sebaik mungkin

2. Kebutuhan rasa hormat (deference)

Mengacu pada dorongan untuk mendapat pengaruh dari orang lain, dan
lain sebagainya

3. Kebutuhan keteraturan (order)

Mengacu pada dorongan untuk melakukan pekerjaan secara rapi serta


teratur dan lain sebagainya

4. Kebutuhan memperlihatkan diri (exhibition)

45

Mengacu pada dorongan untuk memperlihatkan diri agar menjadi pusat


perhatian orang dan lain sebagainya

5. Kebutuhan otonomi (autonomy)

Mengacu pada dorongan untuk menyatakan kebebasan diri dalam berbuat


atau mengatakan apapun dan lain sebagainya.

6. Kebutuhan afiliasi (affiliation)

Mengacu pada dorongan untuk setia kawan, dan lain sebagainya

7. Kebutuhan intrasepsi (intraception)

Mengacu pada dorongan untuk menganalisis motif dan perasaan diri dan
lain sebagainya

8. Kebutuhan berlindung (succorance)

Mengacu pada dorongan untuk memperoleh bantuan orang lain apabila


mendapat kesulitan dan lain sebagainya

9. Kebutuhan dominan (dominance)

Mengacu pada dorongan untuk membantah pendapat orang lain dan lain
sebagainya

10. Kebutuhan merendah (abasement)

46

Mengacu pada dorongan untuk mengakui berdosa apabila berbuat keliru


dan lain sebagainya

11. Kebutuhan memberi bantuan (nurturance)

Mengacu pada dorongan untuk menolong kawan yang kesulitan dan lain
sebagainya

12. Kebutuhan perubahan (change)

Mengacu pada dorongan untuk menggarap hal-ghal yang baru dan lain
sebagainya

13. Kebutuhan ketekunan (endurance)

Mengacu pada dorongan untuk bertahan pada suatu pekerjaan hingga


selesai dan lain sebagainya

14. Kebutuhan heteroseksualitas (heterosexuality)

Mengacu pada dorongan untuk bepergian dengan kelompok yang


berlawanan jenis kelamin dan lain sebagainya

15. Kebutuhan agresi (aggression)

Mengacu pada dorongan untuk menyerang pandangan yang berbeda dan


lain sebagainya.

47

G. Pembahasan Jurnal Terkait Masa Dewasa


1. Change in body weight and body image in young adults: a
longitudinal study; published on BMC Public Health (2015) by Gicele
Costa Mintem, Denise Petrucci Gigante and Bernardo Lessa Horta.
a. Permasalahan
Terjadi perubahan pada berat tubuh dan kesan tubuh pada dewasa
muda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi akibat
perubahan pada BMI (Body Mass Index) dari masa anak-anak hingga
dewasa dan pada kepuasan kesan tubuh pada usia 23 tahun di Brazil
b. Hasil
Studi ini menggunakan follow-up study yang menunjukkan hasil
bahwa kepuasan terhadap bentuk tubuh mengalami kenaikan dengan
menggunakan

skala

Stunkard.

Ketidakpuasan

bentuk

tubuh

diidentifikasi sebagai perbedaan antara figur yang dimiliki sekarang


dengan keadaan ideal yang ingin dicapai.
Of the participants exhibiting increased BMI z-scores, 17% perceived
themselves as thinner than ideal, whereas 48% perceived themselves
as fatter than ideal. The prevalence of dissatisfaction was higher in
women because they perceived themselves as fatter than ideal on the
three categories of z-score change ( + 0.5 sd; 0.49 to + 0.49 sd and
0.5 sd); 81% of women exhibiting an increased BMI z-score
reported dissatisfaction. The analysis adjusted for confounding factors
revealed that women with increased BMI z-scores were less prone to
feel thinner than ideal. Additionally, the increased risk of
dissatisfaction due to perceiving oneself as fatter than ideal was
similar between men and women (RRR = 3.52 95% CI: 2.17 to 4.56
and RRR = 4.08 95% CI: 3.00 to 5.56, respectively) using 0.49 to
+0.49 sd as the reference category.
c. Kesimpulan
Seseorang yang memperlihatkan kenaikan BMI z-scores antara 4 dan
23

tahun

dilaporkan

mempunyai

risiko

lebih

tinggi

dalam

ketidakpuasan tubuh pada usia 23 tahun. Penemuan penting karena


ketidakpuasan terhadap tubuh dapat menyebabkan masalah dalam
psikologis, sosial dan kepercayaan diri serta kebahagiaan.
2. Personality Trait Change in Adulthood; Published in final edited
form as: Curr Dir Psychol Sci. 2008 February 1; accessed in NIH Public
Access; by Brent W. Roberts and Daniel Mroczek
a. Permasalahan
Adanya perubahan karakteristik seiring dengan pertambahan usia.
Perubahan yang terjadi meliputi peningkatan kepercayan diri, pribadi
48

yang lebih hangat, pengendalian diri yang labih baik dan emosi yang
lebih stabil. Perubahan ini umumnya terjadi pada dewasa muda. Tapi
kemudian perubahan kepribadian juga terjadi pada dewasa madya dan
dewasa akhir, yang membuktikan bahwa karakter pribadi sesorang
dapat berubah pada usia berapapun.
b. Hasil
Pada studi cross sectional menunjukkan bahwa kelompok dewasa
madya cenderung mempunya skor yang lebih tinggi dari pada dewasa
awal dalam keramahan dan kehati-hatian. Dan kelompok dewasa akhir
memliki nilai lebih tinggi dibanding dewasa madya dalam hampir
semua dimensi.
c. Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil pada studi ini:
1) Perubahan kepribadian paling sering terjadi pada usia 20 dan 40
tahun. Tampaknya ini dikarenakan dewasa muda merupakan masa
yang paling penting.
2) Karakteristik pribadi dapat terus berubah, bahkan di usia lanjut
3) Waktu mempunyai pengaruh positif terhadap perubahan
kepribadian
4) Arah perubahan sudah bisa dipastikan ke arah yang positif. Seiring
usia, orang akan menjadi lebih percaya diri, lebih ramah,
bertanggung jawb dan tenang atau dengan kata lain matang secara
sosial.

3. Biological psychological and social determinants of old age: Biopsycho-social aspects of human aging; Published on Annals of
Agricultural and Environmental Medicine 2014, Vol 21, No 4, 835838;
by Magorzata Dziechcia1, Rafa Filip.
Penuaan manusia adalah sebuah proses psikologis yang dinamik
seiiring dengan bertambahnya waktu. Proses tersebut kompleks dan sangat
individualis, tiap orang berbeda dengan yang lainnya. Proses perubahan
tersebut terjadi secara biologis, psikologis dan lingkungan sosial.
Perubahan biologis ditandai dengan perubahan metabolisme dan
psikokimia sel, mengarah pada melemahnya pengaturan mandiri,

49

regenarasi dan perubahan jaringan dan organ baik secara struktural


maupun fungsional. Perubahan biologi yang terjadi seiiring dengan
bertambahnya usia pada tubuh manusia akan mempengaruhi suasana hati,
sikap terhadap lingkungan sekitarnya, kondisi fisik dan aktivitas sosial dan
ini menjadi pertanda mempunyai tempat yanng senior dalam keluarga dan
masyarakat. Perubahan fisik mengacu pada kesadaran manusia dan
kemampuan adaptasinya dalam proses penuaan. Pada perubahan perilaku
dapat dibagi menjadi konstruktif, ketergantungan, sikap bermusuhan
terhadap sesama maupun terhadap sikapnya sendiri. Seiring dengan
bertambahnya usia, menyesuaikan diri dengan situasi baru menjadi
semakin sulit, penurunan dalam kognitif dan intelektual, proses dalam
menanggapi sesuatu menjadi semakin rumit, lebih sulit dalam menerima
sensasi dan informasi dan proses berpikir mengalami perubahan.
Kehidupan sosial mengacu pada bagaimana manusia merasakan proses
penuaan dan bagaimana masyarakat melihat hal tersebut.

Keismpulan yang dapat diambil pada artikel ini adalah bahwa pada
proses penuaan manusia terjadi proses yang berbeda-beda pada berbagai
lingkungan kehidupan termasuk biologi, fisik dan sosial. Proses penuaan
tersebut mungkin menguntungkan, khas atau patologis. Hal tersebut
ditandai dengan perubahan yang rumit pada sistem dan organ, mengarah
pada penurunan efisiensi tubuh, kemunculan berbagai penyakit dan
perubahan pada gejala-gejala yang dialami. Pada ranah fisik, terjadi
penurunan memori dan fungsi kognitif dan terdapat kemungkinan yang
lebih tinggi akan terjadi depresi dan ketakutan. Perubahan sosial terkait
dengan hilangnya peran dalam kehidupan sosia, pernurunan hubungan
interpersonal dan perasaan kesepian. Sebuah faktor penting dalam
meningkatkan fungsi psikososial pada usia tua adalam penerimaan pada
kepuasan akan kehidupan dan melakukan aktifitas.

50

4. Psychological wellbeing, health and ageing; Published on Lanset.


February 14, 2015; by Andrew Steptoe, DPhil [Prof], Angus Deaton, PhD
[Prof], and Arthur A. Stone, PhD [Prof]
a. Permasalahan

Sikap psikologis yang baik dan kesehatan terkait dengan bertambah


tuanya usia. Tiga aspek psikologis dapat dibedakan menjadi:
evaluative wellbeing (or life satisfaction), hedonic wellbeing (feelings
of happiness, sadness, etc), and eudemonic wellbeing (sense of
purpose and meaning in life).

b. Hasil

Survei pada 160 negara menunujukkan bentuk U hubungan antara


kemampuan mengevaluasi dengan pertambahan usia. Pada negara
Inggris, level terendah berada pada usia 40-45 tahun. Hubungan antara
kesehatan fisik dan kebahagiaan berlangsung secara dua arah. Orang
yang lebih tua menderita berbagai penyakit seperti jantung, arttiris dan
penyakit paru yang kronis menunjukkan kenaikan tingkat depresi,
melemahnya kebahagiaan hedonic dan kebahagiaan eudaimonic.
Perilaku yang baik juga mempunya peran dalam melindungi
kesehatan.

Data menunjukkan bahwa semakin bahagia seseorang, semakin


panjang umurnya. In an illustrative analyses from the English
Longitudinal Study of Ageing (ELSA), we find that eudemonic
wellbeing is associated with longer survival; 29.3% of people in the
lowest wellbeing quartile died over the average follow-up period of
8.5 years compared with 9.3% of those in the highest quartile

c. Kesimpulan

51

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kebahagiaan merupakan


objek yang penting baik dalam kondisi ekonomi maupun kesehatan.
Terdapat hubungan antara usia, gender, faktor demografi dan kondisi
kesehatan fisik dan mental.

5. Problem Adaptation Therapy for Older Adults With Major


Depression and Cognitive Impairment: A Randomized Clinical Trial;
Published online in JAMA Psychiatry on November 5, 2014; .by Dimitris
N. Kiosses, PhD; Lisa D. Ravdin, PhD; James J. Gross, PhD; Patrick
Raue, PhD; Nabil Kotbi, MD; George S. Alexopoulos, MD
a. Permasalahan
Penelitian ini membahas tentang penggunaan PATH (Problem
Adaptation Therapy) sebagai cara untuk menangani depresi pada
kelompok dewasa tua.

b. Hasil

Dari hasil penelitian secara RCT pada theWeill Cornell Institute of


Geriatric Psychiatry mulai dari 1 April

2006 sampai dengan 30

September 2011 pada 74 orang dewsa tua ( 65 tahun) ditemukan


bahwa terjadi pengurangan yang berarti pada tingkat depresi dan
disabilitas.

c. Kesimpulan

52

Penerapan PATH sebagai cara pengobatan efektif untuk mengurangi


depresi pada dewasa tua. Karena pada PATH diterapkan strategi yang
berimbang, adaptasi lingkungan, dan pengasuh yang berpartisipasi
aktif dalam meningkatkan pengaturan emosi pasien dewasa tua.

53

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Makhluk hidup mempunyai fase dimana manusia yang paling besar


adalah fase manusia dewasa awal merupakan masa dewasa atau satu tahap
yang dianggap kritikal selepas alam remaja yang berumur dua puluhan (20-an)
sampai tiga puluhan (30- an). Ia dianggap kritikal karena disebabkan pada
masa ini manusia berada pada tahap awal pembentukan karir dan keluarga.
Pada peringkat ini, seseorang perlu membuat pilihan yang tepat demi
menjamin masa depannya terhadap pekerjaan dan keluarga. Pada masa ini juga
seseorang akan menghadapi dilema antara pekerjaan dan keluarga. Berbagai

54

masalah mulai timbul terutama dalam perkembangan karir dan juga hubungan
dalam keluarga.

Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang.


Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai meninggal, yang ditandai
dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin
menurun. Proses menua (lansia) adalah proses alami yang disertai adanya
penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu
sama lain.

Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang


menunjukkan proses penuaan yang berlangsung secara nyata dan seseorang
telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah
kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi.

B. Saran

Dengan adanya pembahasan makalah ini, maka diharapkan kepada tenaga


kesehatan khususnya bidan dapat meningkatkan pengetahuan terkait masa
dewasa sehingga dapat lebih bmeningkatkan pelayanan dalam memberikan
asuhan kebidanan.

DAFTAR PUSTAKA

55

F.J. Monk dkk, 2004. Psikologi Perkembangan.Yogyakarta : Gadjah Mada


Universty Press
Hurlock Elizabeth B., Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentan Kehidupan, Erlangga, Jakarta, 2005.
Janiwarty, Bethsaida & Pieter, Herri Zan. 2013. Pendidikan Psikologi untuk
Bidan: Suatu teori dan Penerapannya. Yogyakarta: ANDI offset.
Kiosses, Dimitris N and Lisa D. Ravdin. 2014. Problem Adaptation Therapy for
Older Adults With Major Depression and Cognitive Impairment: A
Randomized Clinical Trial. Journal JAMA Psychiatry, November 5, 2014
Marmi & Margiyati. 2013. Pengantar Psikologi Kebidanan Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Muhibbin, Syah. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya
Nurdin, Adnil Edwin. 2009. Tumbuh Kembang Perilaku Manusia. Jakarta: EGC.
Roberts, Brent W & Mroczek, Daniel. Personality Trait Change in Adulthood.
Published in final edited form as: Curr Dir Psychol Sci. February 1, 2008.
Sears, Davis O. 2009. Psikologi Sosial Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga

56