Anda di halaman 1dari 2

Bagian 1

Seri Smart Phone yang terbaru bergetar di atas meja kaca berukuran dua kali
satu meter dalam sebuah kamar hotel di pusat kota Palembang. Sekitar lima belas
detik handphone itu bergetar di antara dua sofa bergaya klasik yang terbuat dari
kayu kualitas bagus yang dicat dengan warna gelap. Masing-masing sofa ada di
arah timur dan barat tempat meja berpijak. Tepat di tengah meja persegi itu
terdapat vas bunga dari keramik yang ukurannya tampak pas dengan ukuran meja.
Tak lama setelah panggilan masuk yang ketiga di handphone berwarna putih itu
muncul sesosok pria tua dari arah tenggara meja.
Laki-laki dengan kepala yang dipenuhi uban itu sedikit mempercepat langkahnya.
Langkahnya lumayan cepat untuk orang tua berumur enam puluhan tahun. Begitu
handphone yang bergetar ada dalam jarak jangkau tangan kanannya, segera dia
melihat nama kontak yang memanggil dan mengangkat panggilan pada handphone
tersebut.
Hallo, selamat pagi !. kata pria yang masih mengenakan setelan piyama berwarna
merah.
Pria dari ujung telepon juga menyahut. Selamat pagi Professor Gunawan,
bagaimana tidurnya semalam Prof. ?, saya mendapat kabar dari Armand lewat
pesan singkat jam dua pagi tadi. Katanya, anda sudah cukup baik sekarang.
Ya, baik.. ada apa kamu menelpon jam segini?. Nadanya datar. Prof. Gunawan
tahu bahwa pria di ujung telpon itu hanya berbasa-basi dengan pertanyaannya. Itu
hanya permulaan dari sesuatu hal penting yang akan dikumandangkan pria
bersuara serak di ujung sambungan telponnya.
Hari ini seharusnya menjadi hari yang menyenangkan untuk Prof. dan juga
tentunya saya dan rekan-rekan yang lainnya.
Lalu ?. jawab si professor.
Tim yang diutus dua minggu yang lalu memberikan laporan menarik tengah
malam kemarin, nampaknya apa yang kita cari telah ditemukan (raut muka
Professor Gunawan seketika itu berubah). Saya sendiri sengaja baru memberi kabar
pagi ini karena takut mengganggu tidur Prof. semalam.
Apa?, professor tampaknya masih belum lepas dari ekspresi terkejutnya. Namun,
dia langsung menguasai diri dan kembali berkata Jadi di mana benda itu
sekarang?, apa sudah dipindahkan?. Suara professor terasa berat.
Belum Prof. sejujurnya kami belum berani memastikan apakah benda yang ada di
dalam kotak perak yang ditemukan adalah kalung Rudrawikrama atau bukan.
Soalnya kotak itu belum kami angkat, kami masih menunggu keputusan Professor
sebagai ketua tim.

Laki-laki tua itu membentuk lingkaran kecil dengan kepalan jari-jari di tangan
kirinya sambil batuk-batuk beberapa kali. Lima hari yang lalu, sekitar pukul empat
sore waktu sekitar Professor Gunawan meninggalkan situs penggalian yang
berkoordinat S 2 45 33 dan E 104 35 12 salah satu daerah lembah di Plaju.
Professor mendadak demam tinggi dan memilih untuk kembali ke pusat kota
Palembang yang ditemani mahasiswa semester akhir di Universitas Indonesia yang
menempuh pendidikan di jurusan Arkeologi yang dipimpin oleh Prof. Gunawan
Sutejo. Armand Gunanjar, begitulah dunia mengenal namanya. Anak muda yang
baru berumur dua puluh satu tahun itu masih terlelap di dalam tidurnya di kamar
204. Kamar dengan interior yang indah itu ada di samping kamar Professor
Gunawan Sutejo.
Baiklah, jangan biarkan pihak-pihak yang tidak berkepentingan memasuki area
situs kita. Sekitar dua jam lagi kita akan bertemu di sana. Kata Professor setelah
reda dengan batuknya.
Bagaimana dengan Dr.