Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN HYPOSPADIA

A. Pengertian
Hipospadia sendiri berasal dari dua kata yaitu hypo yang berarti di bawah dan
spadon yang berarti keratan yang panjang.
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terdapat di penis bagian
bawah, bukan di ujung penis. Hipospadia merupakan kelainan kelamin bawaan
sejak lahir.
Hipospadia merupakan kelainan bawaan yang terjadi pada 3 diantara 1.000 bayi
baru lahir. Beratnya hipospadia bervariasi, kebanyakan lubang uretra terletak di dekat
ujung penis, yaitu pada glans penis.
Bentuk hipospadia yang lebih berat terjadi jika lubang uretra terdapat di tengah
batang penis atau pada pangkal penis, dan kadang pada skrotum (kantung zakar) atau di
bawah skrotum. Kelainan ini seringkali berhubungan dengan kordi, yaitu suatu jaringan
fibrosa yang kencang, yang menyebabkan penis melengkung ke bawah pada saat
ereksi.
Menurut refrensi lain definisi hipospadia, yaitu:
1. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra
externa terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya
yang normal (ujung glans penis). (Arif Mansjoer, 2010).
2. Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi hambatan penutupan uretra penis
pada kehamilan miggu ke 10 sampai ke 14 yang mengakibatkan orifisium uretra
tertinggal disuatu tempat dibagian ventral penis antara skrotum dan glans penis.
(A.H Markum, 2011).
3. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak di
bagian bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2011).
4. Hipospadia adalah keadaan dimana uretra bermuara pada suatu tempat lain pada
bagian belakang batang penis atau bahkan pada perineum (daerah antara
kemaluan dan anus) (Davis Hull, 2010 ).
B. Klasifikasi
Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/ meatus :
1. Tipe sederhana/ Tipe anterior
Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe ini,
meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat
asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat
dilakukan dilatasi atau meatotomi.
2. Tipe penil/ Tipe Middle
Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal.
Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Biasanya disertai
dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral,
sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada
kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat

kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak
dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan bedah
selanjutnya.
3. Tipe Posterior
Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umumnya
pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan skrotum bifida, meatus
uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun.
C. Etiologi
Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui
penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa factor yang oleh para ahli
dianggap paling berpengaruh antara lain :
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormone
Hormone yang dimaksud di sini adalah hormone androgen yang mengatur
organogenesis kelamin (pria). Atau biasa juga karena reseptor hormone
androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga
walaupun hormone androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila
reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang
semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormone androgen tidak
mencukupi pun akan berdampak sama.
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena
mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi
dari gen tersebut tidak terjadi.
3. Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan
zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.
D. Manifestasi Klinis
1. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah
penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.
2. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung
penis.
3. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang
hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
4. Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
5. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
6. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
7. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
8. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
9. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.
E. Patofisiologis
Fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap sehingga terjadi meatus
uretra terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan letak meatus

ini, dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian disepanjang batang
penis, hingga akhirnya di perineum. Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan
menyerupai topi yang menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal
sebagai chordee, pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari
penis.
F. Pathway

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik berupa pemeriksaan fisik. Jarang dilakukan pemeriksaan
tambahan untuk mendukung diagnosis hipospadi. Tetapi dapat dilakukan pemeriksaan
ginjal seperti USG mengingat hipospadi sering disertai kelainan pada ginjal.
H. Komplikasi

Komplikasi yang timbul paska repair hipospadia sangat dipengaruhi oleh banyak
faktor antara lain faktor usia pasien, tipe hipospadia, tahapan operasi, ketelitian teknik
operasi, serta perawatan paska repair hipospadia. Macam komplikasi yang terjadi yaitu:
1. Perdarahan
2. Infeksi
3. Fistel urethrokutan
4. Striktur urethra, stenosis urethra
5. Divertikel urethra
Komplikasi paling sering dari reparasi hipospodia adalah fistula, divertikulum,
penyempitan uretral dan stenosis meatus (Ombresanne, 1913). Penyebab paling sering
dari fistula adalah nekrosis dari flap yang disebabkan oleh terkumpulnya darah
dibawah flap. Fistula itu dapat dibiarkan sembuh spontan dengan reparasi sekunder 6
bulan sesudahnya. Untuk itu kateter harus dipakai selama 2 minggu setelah fistulanya
sembuh, dengan harapan tepi-tepinya akan menyatu kembali, sedangkan kegunaannya
untuk terus diversi lebih lama dari dua minggu.
I. Penatalaksanaan
Diagnosis hipospadia biasanya jelas pada pemeriksaan inspeksi. Kadang-kadang
hipospadia dapat didiagnosis pada pemeriksaan ultrasound prenatal. Jika tidak
teridentifikasi sebelum kelahiran, maka biasanya dapat teridentifikasi pada
pemeriksaan setelah bayi lahir. Pada orang dewasa yang menderita hipospadia dapat
mengeluhkan kesulitan untuk mengarahkan pancaran urine. Chordee dapat
menyebabkan batang penis melengkung ke ventral yang dapat mengganggu hubungan
seksual. Hipospadia tipe perineal dan penoscrotal menyebabkan penderita harus miksi
dalam posisi duduk, dan hipospadia jenis ini dapat menyebabkan infertilitas. Beberapa
pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu urethtroscopy dan cystoscopy
untuk memastikan organ-organ seks internal terbentuk secara normal. Excretory
urography dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya abnormalitas kongenital pada
ginjal dan ureter.
Diagnosis bias juga ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik. Jika hipospadia
terdapat di pangkal penis, mungkin perlu dilakukan pemeriksaan radiologis untuk
memeriksa kelainan bawaan lainnya. Bayi yang menderita hipospadia sebaiknya tidak
disunat. Kulit depan penis dibiarkan untuk digunakan pada pembedahan. Rangkaian
pembedahan biasanya telah selesai dilakukan sebelum anak mulai sekolah. Pada saat
ini, perbaikan hipospadia dianjurkan dilakukan sebelum anak berumur 18 bulan. Jika
tidak diobati, mungkin akan terjadi kesulitan dalam pelatihan buang air pada anak dan
pada saat dewasa nanti, mungkin akan terjadi gangguan dalam melakukan hubungan
seksual.
Untuk saat ini penanganan hipospadia adalah dengan cara operasi. Tujuan operasi
pada hipospadia adalah agar pasien dapat berkemih dengan normal, bentuk penis
normal dan memungkinkan fungsi seksual yang normal. Hasil pembedahan yang
diharapkan adalah penis yang lurus, simetris dan memiliki meatus uretra eksternus

pada tempat yang seharusnya, yaitu di ujung penis. Ada banyak variasi teknik
diantaranya :
Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap, yaitu :
- Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan terowongan
yang berepitel pada glans penis. Dilakukan pada usia 1-2 tahun. Penis
diharapkan lurus, tapi meatus masih pada tempat yang abnormal. Penutupan
luka operasi menggunakan preputium bagian dorsal dan kulit penis
- Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi, saat parut sudah
lunak. Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke
glans, lalu dibuat pipa dari kulit dibagian tengah. Setelah uretra terbentuk,
luka ditutup dengan flap dari kulit preputium dibagian sisi yang ditarik ke
bawah dan dipertemukan pada garis tengah. Dikerjakan 6 bulan setelah tahap
pertama dengan harapan bekas luka operasi pertama telah matang.
Teknik Horton dan Devine, dilakukan 1 tahap, yaitu :
- Dilakukan pada anak lebih besar dengan penis yang sudah cukup besar dan
dengan kelainan hipospadi jenis distal (yang letaknya lebig ke ujung penis).
Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis
dengan pedikel (kaki) kemudian dipindah ke bawah.
J. Rencana Asuhan Keperawatan
N
o
1.

Diagnosa
Cemas b/d krisis
Situasional,
hospitalisasi

NOC

NIC

Anxiety Reduction
(penurunan kecemasan)
- Gunakan pendekatan
yang menenangkan
Kriteria Hasil:
- Nyatakan dengan jelas
harapan terhadap
- Klien mampu
pelaku pasien
mengidentifikasi dan - Jelaskan semua
mengungkapkan
prosedur dan apa
gejala cemas
yang dirasakan selama
- Mengidentifikasi,
prosedur
mengungkapkan dan - Pahami prespektif
pasien terhdap situasi
menunjukkan teknik
stres
untuk mengontol
Temani pasien untuk
cemas
memberikan
- Tanda-tanda vitak
keamanan dan
dalam batas normal
mengurangi takut
- Postur tubuh, ekspresi
- Berikan informasi
wajah, bahasa tubuh
faktual mengenai
dan tingkat aktivitas
diagnosis, tindakan

Anxiety control
Coping
Impulse control

menunjukkan
berkurangnya
kecemasan

prognosis
Dorong keluarga untuk
menemani anak
Lakukan back / neck
rub
Dengarkan dengan
penuh perhatian
Instruksikan pasien
menggunakan teknik
relaksasi mengurangi

kecemasan
2.

Nyeri
akut
b/d
agens
cidera
fisiologis
-

Pain Level
Pain control
Comfort level
Kriteria Hasil :
Mampu mengontrol
nyeri (tahu
penyebab nyeri,
mampu
menggunakan
tehnik
nonfarmakologi
untuk mengurangi
nyeri, mencari
bantuan)
Melaporkan bahwa
nyeri berkurang
dengan
menggunakan
manajemen nyeri
Mampu mengenali
nyeri (skala,
intensitas, frekuensi
dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa
nyaman setelah
nyeri berkurang
Tanda vital dalam
rentang normal

Pain Management
Lakukan pengkajian
nyeri secara
komprehensif
termasuk lokasi,
karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan
faktor presipitasi
- Observasi reaksi
nonverbal dari
ketidaknyamana
- Gunakan teknik
komunikasi terapeutik
untuk mengetahui
pengalaman nyeri
pasien
- Kaji kultur yang
mempengaruhi respon
nyeri
- Evaluasi pengalaman
nyeri masa lampau
- Evaluasi bersama
pasien dan tim
kesehatan lain tentang
ketidakefektifan
control nyeri masa
lampau
- Bantu pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
menemukan dukungan
- Kontrol lingkungan
yang dapat
mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
- Kurangi faktor
-

3.

Resiko Infeksi b/d


tindakan invasive

Immune Status
Knowledge :
Infection control
Risk control
Kriteria Hasil :
Klien bebas dari
tanda dan gejala
infeksi
- Mendeskripsikan
proses penularan
penyakit, factor
yang
mempengaruhi
penularan serta
penatalaksanaann
ya,
- Menunjukkan
kemampuan untuk
mencegah
timbulnya infeksi
- Jumlah leukosit
dalam batas
normal
- Menunjukkan
perilaku hidup
sehat
-

presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan
interpersonal)
Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk
menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik
non farmakologi
Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
Evaluasi keefektifan
control nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan
dokter jika ada
keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil

Infection Control (Kontrol


infeksi)
- Bersihkan lingkungan
setelah dipakai pasien
lain
- Pertahankan teknik
isolasi
- Batasi pengunjung bila
perlu
Instruksikan pada
pengunjung untuk
mencuci tangan saat
berkunjung dan
setelah berkunjung
meninggalkan pasien
- Gunakan sabun
antimikrobia untuk
cuci tangan
- Cuci tangan setiap
sebelum dan sesudah
tindakan keperawatan
- Gunakan baju, sarung
tangan sebagai alat
pelindung
- Pertahankan
lingkungan aseptik
selama pemasangan
alat

Ganti letak IV perifer


dan line central dan
dressing sesuai
dengan petunjuk
umum
Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan infeksi
kandung kencing
Tingkatkan intake
nutrisi
Berikan terapi
antibiotik bila perlu

Berikan obat
K. Daftar Pustaka
Mansjoer, Arif, dkk. (2010).Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2, Jakarta : Media
Aesculapius.
Price, Sylvia Anderson. (2008). Pathofisiologi. Jakarta: EGC
Purnomo, B Basuki. (2010). Dasar dasar urologi. Jakarta : Infomedika
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (2010). Buku Kuliah Ilmu Kesehatan
Anak. Jakarta: EGC.
Suriadi SKp, dkk. (2011). Asuhan keperawatan pada anak. Jakarta : Fajar Interpratama