Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
Di Era Globalisasi saat ini kebanyakan manusia memerlukan
mobilisasi cepat dalam kehidupannya sehari-hari. Salah satu dampak
yang ditimbulkannya berupa trauma, yang dapat terjadi dari semua
aktivitas kehidupan sehari-hari baik dalam bekerja, olahraga, lalu lintas
dan lain-lainnya. Trauma yang terjadi dapat berupa trauma tumpul,
trauma tajam atau trauma lainnya.
Trauma adalah istilah kedokteran untuk cedera atau perlukaan.
Trauma menjadi masalah kesehatan paling mahal, karena dari empat
penyebab kematian pada semua usia, trauma menjadi penyebab
utama kematian pada anak dan dewasa di bawah usia 45 tahun. Dari
setiap akibat kematian akibat trauma, lebih dari 10 korban masuk
rumah sakit dan ratusan lainnya berobat di pelayanan gawat darurat.
Biaya yang dibutuhkan untuk penanganan trauma 2x lebih besar
dibanding penderita penyakit jantung dan kanker. Kerugian akibat
trauma meliputi cacat fisik dan materi sehingga mengharuskan adanya
usaha untuk mempelajari penanggulangan dan pencegahannya.
Dalam jam-jam awal setelah trauma, merupakan periode emas,
dimana pada waktu ini risiko kematian dan kecacatan dapat dicegah
dengan penanganan yang cepat dan tepat. Kematian yang terjadi
akibat trauma kebanyakan terjadi pada jam-jam awal trauma,
sedangkan kematian yang terjadi beberapa minggu akibat trauma
biasanya diakibatkan oleh komplikasi lambat dan mengalami
kegagalan organ multiple.
Trauma pada ekstremitas adalah salah satu trauma yang tidak
jarang menjadi penyebab dari ancaman nyawa dan ancaman
kehilangan ekstremitas itu sendiri. Maka dari itu sangatlah penting
untuk mengetahui pemeriksaan awal dan pengelolaan penderita
trauma ekstremitas (musculoskeletal) yang dapat mengancam nyawa
dan ancaman kehilangan anggota gerak.
Selama survey primer khususnya pada trauma ekstremitas,
perdarahan sebaiknya dihentikan. Cara yang dianjurkan dan paling
mudah dilakukan adalah dengan melakukan bebat tekan langsung
pada area perdarahan. Selanjutnya dapat dipasang bidai atau
imobilisasi yang bertujuan untuk mengurangi pergerakan sehingga
akan mengurangi nyeri, perdarahan dan kerudakan jaringan lunak lebih
lanjut. Pada penderita.pada patah tulang terbuka digunakan balut
steril. Pemberian cairan secara intravena juga dianjurkan untuk
mengembalikan volume perdarahan yang hilang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. JARINGAN LUNAK
Jaringan lunak dalam histologi, merujuk pada jaringan yang
menghubungkan, menyokong, atau mengelilingi struktur dan organ
tubuh. Jaringan lunak termasuk kulit, otot, tendon, ligamentum, fasia,
saraf, jaringan serabut, lemak, pembuluh darah, dan membran
sinovial.
Cedera jaringan lunak yang paling jelas adalah cedera pada kulit.
Kulit manusia merupakan mekanisme pertahanan tubuh lapisan
pertama terhadap gaya dari luar yang walaupun kuat, namun tetap
mudah mengalami cedera.
B. CEDERA JARINGAN LUNAK
1. Definisi
Cedera jaringan lunak adalah cedera yang melibatkan jaringan kulit,
otot, saraf dan pembuluh darah akibat suatu ruda paksa. Keadaan
ini umumnya dikenal dengan istilah luka. Beberapa penyulit yang
dapat terjadi adalah perdarahan, kelumpuhan serta berbagai
gangguan lainnya sesuai dengan penyebab dan beratnya cedera
yang terjadi.
2. Klasifikasi Luka
a. Luka terbuka
Cedera jaringan lunak disertai kerusakan/terputusnya jaringan
kulit yaitu rusaknya kulit bagian atas dan bisa disertai jaringan di
bawah kulit.
1. Luka lecet
Terjadi biasanya akibat gesekan dengan permukaan yang
tidak rata, sehingga permukaan kulit (epidermis) terkelupas,
mungkin tampak titik-titik perdarahan. Kadang-kadang sangat
nyeri karena ujung saraf juga cedera karena terbuka. Tepi luka
tidak teratur.
2. Luka sayat

3. Luka

4. Luka

5. Luka

6. Luka

7.

Diakibatkan oleh benda tajam yang mengenai tubuh manusia.


Bentuk lukanya biasanya rapi. Sering merupakan kasus
kriminal.
robek
Karakteristik luka sama seperti luka sayat, perbedaannya
terletak pada tepi luka yang tidak teratur, biasanya terjadi
akibat tumbukan dengan benda yang relatif tumpul.
Merupakan luka yang paling banyak ditemukan.
tusuk
Terjadi bila benda yang melukai bisa masuk jauh ke dalam
tubuh, biasanya kedalaman luka jauh dibandingkan lebar luka.
Bahayanya organ/alat-alat tubuh bagian dalam mungkin
terkena.
avulsi
Luka ini ditandai dengan bagian tubuh yang terlepas, namun
masih ada bagian yang menempel.
amputasi
Luka terbuka dengan jaringan tubuh terpisah. Sering terjadi
pada alat gerak, mulai dari jari, sampai kehilangan seluruh
anggota gerak.
Luka remuk
Pada keadaan yang hebat dapat terjadi remuk pada jaringan
tulang dan kehancuran jaringan bawah kulit lainnya. Terjadi
akibat himpitan gaya yang sangat besar. Biasanya tulang
menjadi patah di beberapa tempat.

b. Luka tertutup
Cedera jaringan lunak tanpa kerusakan/terputusnya jaringan
kulit, yang rusak hanya jaringan di bawah kulit.
1. Luka memar
Terjadi akibat benturan dengan benda tumpul, biasanya
terjadi di daerah permukaan tubuh, darah keluar dari
pembuluh dan terkumpul di bawah kulit sehingga bisa terlihat
dari luar berupa warna merah kebiruan.
2. Hematoma (darah yang terkumpul di jaringan)
Prinsipnya sama dengan luka memar tetapi pembuluh darah
yang rusak berada jauh di bawah permukaan kulit dan
biasanya besar, sehingga yang terlihat adalah bengkak,
biasanya kemerahan.
C. CEDERA JARINGAN LUNAK TERBUKA
>> CEDERA REMUK (CRUSH INJURY)
1. Definisi
3

Luka jenis ini adalah gabungan antara luka terbuka dan luka
tertutup, yang terjadi karena terjepitnya alat gerak korban dengan
alat-alat berat. Hampir seluruh jaringan lunak dan jaringan keras
seperti tulang dapat terlibat, tulang dapat patah dan pecahannya
atau patahannya dapat menembus sampai keluar. Hal ini akan
menimbulkan pembengkakan dan perdarahan, baik perdarahan luar
maupun perdarahan dalam.
2. Patofisiologi
Crush injury didefinisikan sebagai kompresi dari ekstremitas atau
bagian lain dari tubuh yang menyebabkan pembengkakan otot
dan/atau gangguan saraf di area tubuhyang terkena. Biasanya area
tubuh yang terkena adalah ekstremitas bawah (74%), ekstremitas
atas (10%), dan badan (9%). Crush syndrome merupakan lokalisasi
crush injury dengan manifestasi sistemik.
Crush syndrome adalah kondisi medis serius yang ditandai dengan
syok dan gagal ginjal yang terjadi setelah hancurnya otot rangka
akibat cedera, umumnya terjadi dalam kasus bencana seperti
gempa bumi atau perang, di mana korban terperangkap di bawah
puing-puing atau bebatuan. Ketika korban terbebas dari reruntuhan,
produk dari otot yang hancur masuk ke dalam aliran darah,
khususnya mioglobin, kalium dan fosfor yang merupakan hasil dari
rabdomiolisis (pemecahan otot rangka karena kondisi iskemik).
Ketika mioglobin mencapai ginjal, ia akan menyumbat tubulus dan
memproduksi bahan kimia yang merugikan yang disebut radikal
bebas. Radikal bebas ini akan menghancurkan membran lemak
dalam ginjal. Mereka juga memicu penyempitan darah, menyumbat
aliran darah ke ginjal dan filtrasi darah akan tersendat, dan dengan
cepat menyebabkan kematian melalui gagal ginjal. Rabdomiolisis
dapat menimbilkan komplikasi yang berat seperti asidosis
metabolic, hiperkalemia, hipokalsemia, hipovolemia dan DIC
(disseminated Intravascular Coagulation).
Mekanisme Cedera Sel Otot
Patofisiologi crush injury dimulai dengan cedera otot dan kematian
sel otot. Pada awalnya, ada tiga mekanisme yang bertanggung
jawab atas kematian sel otot :
a. Immediate Cell Disruption

Kekuatan lokal yang menghancurkan sel menyebabkan


Immediate Cell Disruption (lisis). Walaupun memiliki efek
immediate, mungkin inilah mekanisme yang paling tidak penting
dibandingkan dengan kedua mekanisme yang lain.
b. Direct pressure on muscle cell
Tekanan langsung dari crush injury menyebabkan sel otot menjadi
iskemik. Sel-sel kemudian beralih ke metabolisme anaerob,
menghasilkan
sejumlah
besar
asam
laktat.
Iskemia
berkepanjangan kemudian menyebabkan sel membran bocor.
Proses ini terjadi selama satu jam pertama setelah crush injury.
c. Vascular compromise
Kekuatan crush injury menekan pembuluh darah utama
mengakibatkan hilangnya suplai darah ke jaringan otot. Biasanya,
otot bisa bertahan sekitar 4 jam tanpa aliran darah (warm
ischemia time) sebelum kematian sel terjadi. Setelah waktu ini,
sel-sel mulai mati sebagai akibat dari kompromais vaskular.
Pelepasan Substansi Dari Otot Yang Cedera
Mekanisme yang tercantum di atas menyebabkan jaringan otot
yang terluka untuk menghasilkan dan melepaskan sejumlah
substansi yang dapat menjadi racun dalam sirkulasi. Mekanisme
tekanan pada crush injury sebenarnya berfungsi sebagai
mekanisme perlindungan, mencegah racun mencapai sirkulasi
pusat.
Setelah pasien terbebaskan dan tekanan dilepaskan, racun bebas
masuk dalam sirkulasi dan berefek sistemik. Mereka dapat
mempengaruhi organ yang jauh dari lokasi crush injury. Kebocoran
racun dapat berlangsung selama 60 jam setelah crush injury
terbebaskan. Beberapa substansi dan efeknya adalah sebagai
berikut :
a. Asam amino dan asam organik lainnya : berkontribusi terhadap
asidosis, aciduria, dandysrhythmia.
b. Creatine phosphokinase (CPK) dan enzim intraseluler lain :
berfungsi sebagai penanda dalam laboratorium untuk crush
injury.
c. Free radicals, superoxides, peroxides : terbentuk ketika oksigen
kembali pada jaringan iskemik, menyebabkan kerusakan jaringan
lebih lanjut.
d. Histamin : vasodilatasi, bronkokonstriksi.
e. Asam laktat : berperan besar terhadap terjadinya asidosis dan
disritmia.
f. Leukotrienes : cedera paru (ARDS), dan hepatic injury.
5

g. Lysozymes : enzim pencernaan sel yang menyebabkan cedera


selularlebih lanjut.
h. Mioglobin : presipitat dalam tubulus ginjal, khususnya dalam
pengaturan asidosis dengan pH urin rendah, mengarah ke gagal
ginjal.
i. Nitratoksida : menyebabkan vasodilatasi, yang memperburuk
hemodinamik.
j. Fosfat : hyperphosphatemia menyebabkan pengendapan kalsium
serum, yang mengarah ke hypocalcemia dan disritmia.
k. Kalium : hiperkalemia menyebabkan disritmia, terutama bila
dikaitkan dengan asidosis dan hypocalcemia.
l. Prostaglandin : vasodilatasi, cedera paru.
m. Purin (asam urat) : dapat tmenyebabkan kerusakan ginjal lebih
lanjut (nefrotoksik).
n. Thromboplastin : koagulasi intravaskuler diseminata (DIC).
Tidak ada hubungan antara tingkat zat beracun seperti potasium
atau myoglobin dengan tingkat keparahan dari crush injury atau
lamanya waktu yang pasien terjebak.

3. Manifestasi Klinis
Secara umum, ada beberapa tanda dan gejala lain yang mungkin
hadir :
a. Kerusakan jaringan lunak yang hebat
b. Kerusakan seluler, vaskuler, dan saraf
c. Hancurnya tulang dan otot
d. Nyeri
e. Tanda-tanda syok
4. Komplikasi
a.

Syok hipovolemik
Cedera remuk (crush injury) dapat membuat korban
kehilangan banyak darah. Hal itu meningkatkan resiko terjadinya
syok, utamanya syok hipovolemik.
Syok Hipovolemik adalah suatu kondisi medis yang ditandai
dengan ketidakmampuan jantung untuk memompa darah
secukupnya dalam menyediakan oksigen yang cukup untuk ke
seluruh tubuh dikarenakan volume darah yang rendah. Hal ini
biasanya disebabkan oleh kehilangan darah yang banyak atau
dehidrasi berat.

b.

Gagal ginjal

Jika terjadi syok, tubuh akan berusaha mempertahankan perfusi


organ-organ vital (jantung dan otak) dengan mengalirkan darah
lebih banyak ke bagian tersebut, namun terjadi hipoperfusi pada
organ lain misalnya ginjal. Akibat hipoperfusi ginjal, laju filtrasi
glomerolus menurun atau dengan kata lain kemampuan
glomerolus menyaring darah lebih sedikit dibanding normalnya,
dan output urine atau hasil penyaringan darah pun berkurang,
sehingga terjadilah yang dinamakan oliguria, yaitu salah satu
bentuk manifestasi dari gagal ginjal. Oliguria ialah keadaan
dimana pengeluaran urin kurang dari biasanya.
c.

Asidosis metabolik
Ketika terjadi syok, konsumsi oksigen dalam jaringan menurun
akibat berkurangnya aliran darah yang mengandung oksigen
atau berkurangnya pelepasan oksigen ke dalam jaringan.
Kekurangan oksigen di jaringan menyebabkan sel terpaksa
melangsungkan metabolisme anaerob dan menghasilkan asam
laktat. Keasaman jaringan bertambah dengan adanya asam
laktat, asam piruvat, asam lemak, dan keton. Yang penting dalam
klinik adalah pemahaman kita bahwa fokus perhatian syok
hipovolemik yang disertai asidosis adalah saturasi oksigen yang
perlu diperbaiki serta perfusi jaringan yang harus segera
dipulihkan dengan penggantian cairan. Asidosis merupakan
urusan selanjutnya, bukan prioritas utama.

d.

Sindroma kompartemen
Kelompok otot yang dikelilingi oleh lapisan keras dari fasia
jaringan membentuk kompartemen jaringan. Ketika jaringan otot
dalam kompartemen membengkak, tekanan dalam kompartemen
juga meningkat. Hal ini menyebabkan iskemia (tidak adekuatnya
suplai O2 ke jaringan) dan selanjutnya terjadi kerusakan otot.
Selain itu, pembuluh darah atau saraf yang berjalan melalui
kompartemen juga akan cedera.

D. PENUTUP DAN PEMBALUT LUKA


Penutup Luka
Penutup luka adalah bahan yang diletakan tepat di atas luka.
Penutup luka
Bahan bersifat menyerap
Menutupi seluruh permukaan luka.
Relatif bersih.
Jangan menggunakan bahan atau bagian dari bahan yang dapat
tertinggal pada luka (Tisue, kapas).
7

Berfungsi
untuk
mengendalikan
perdarahan,
mencegah
kontaminasi, mempercepat penyembuhan, dan mengurangi rasa
nyeri.
Contoh kasa steril.
2. Penutup luka oklusif (kedap)
Bahan kedap air dan udara yang dipakai pada luka untuk mencegah
keluar masuknya udara dan menjaga kelembaban organ dalam.
3. Penutup luka tebal (bantalan penutup luka)
Setumpuk bahan penutup luka setebal kurang lebih 2-3 cm.
Fungsi penutup luka
Membantu mengendalikan perdarahan
Mencegah kontaminasi lebih lanjut
Mempercepat penyembuhan
Mengurangi nyeri

Pembalut
Pembalut adalah bagian yang digunakan untuk mempertahankan
penutup luka. Bahan pembalut dibuat dari bermacam materi kain.
Fungsi pembalut
Penekan membantu menghentikan perdarahan
Mempertahankan penutup luka pada tempatanya
Menjadi penopang untuk bagian tubuh yang cedera
Beberapa jenis pembalut
Pembalut pita/gulung
Pembalut segitiga (mitela)
Pembalut penekan
Macam-macam pembalutan
Pembalutan segitiga pada kepala, kening
Pembalutan segitiga untuk ujung tangan atau kaki
Pembungkus segitiga untuk membuat gendongan tangan
Membalut telapak tangan dengan pembalut dasi
Pembalutan spiral pada tangan
Pembalutan dengan perban membentuk angka 8 ke tangan atau
pergelangan tangan yang cidera.
Pedoman Penutup Luka dan Pembalutan
1. Penutupan luka
Penutup luka harus meliputi seluruh permukaan luka.
Upayakan permukaan luka sebersih mungkin sebelum menutup
luka.
Pemasangn penutup luka harus dilakukan sedemikian rupa
sehingga permukaan penutup yang menempel pada bagian luka
tidak terkontaminasi.
2. Pembalutan
8

Jangan membalut terlalu kencang atau terlalu longgar.


Jangan biarkan ujung sisa terurai.
Bila membalut luka yang kecil sebaiknya daerah pembalutan
diperlebar agar memperluas daerah tekanan, hal ini dilakukan
untuk mencegah terjadinya kerusakan jaringan.
3. Penggunaan penutup luka penekan
Tempatkan beberapa penutup luka kasa steril langsung atas luka dan
tekan.
Beri bantalan penutup luka.
Gunakan pembalut rekat, menahan penutup luka.
Balut.
Periksa denyut nadi ujung bawah daerah luka (distal).

BAB III
PEMBAHASAN
A. ANALISA GAMBAR
Pada gambar, tampak kulit hingga bagian jaringan yang paling dalam
mengalami robekan yang sangat parah, hingga sekitar 70% dari
permukaan kulit tidak terlihat. Panjang robekan yang terlihat sekitar 30
cm. Tulang tibia juga terlihat dibawah jaringan kulit yang robek. Selain
itu terdapat penggumpalan darah pada daerah luka yang terbuka. Pada
tulang yang terlihat terdapat garis fraktur transfersal yang panjangnya
sekitar 2 cm.
B. CONTOH STUDI KASUS

Tn. A, berumur 36 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas di Tol


Reformasi. mobil depan Tn.A bertabrakan dengan mobil lainnya
menyebabkan Tn.A terjepit dan tidak dapat keluar dari mobilnya, butuh
beberapa menit sampai Tn.A dapat dievakuasi dari dalam mobilnya.
Pada saat dievakuasi kaki Tn.A mengalami luka yang amat parah
dimana kulitnya robek serta tulang kaki Tn.A terlihat. Tn.A mengalami
pendarahan hebat pada daerah ekstremitas bawah sebelah kanan.
C. PERTOLONGAN PERTAMA
Secara umum Pertolongan Pertama untuk korban yang mengalami luka
terbuka pada cedera jaringan lunak antara lain :
1. Luka harus terlihat.
Bagian tubuh yang mengalami luka terbuka harus tampak oleh
penolong, jika masih terhalangi oleh pakaian maka harus dibuka.
Lakukan dengan hati-hati karena bisa saja menyebabkan luka akan
semakin parah ketika pakaian tersebut dibuka. Cara paling mudah
adalah dengan memotong pakaian tersebut, namun banyak korban
yang tidak menyenangi tindakan ini.
2. Bersihkan daerah sekitar luka.
Membersihkan luka ini sangat penting untuk menghindari luka
terkontaminasi dan membuang kotoran yang menempel pada luka
tersebut. Gunakan penutup steril untuk menyikat bersih permukaan
luka. Tapi harus diingat, menghentikan perdarahan lebih penting
dari pada membersihkan lukanya.
3. Kontrol Perdarahan bila ada.
Terkadang perdarahan tidak terlihat disaat kita mendekati korban,
tapi baru dapat dilihat setelah pakaian yang menutup luka kita
buka.
4. Cegah Kontaminasi Lanjut.
Pelaku Pertolongan Pertama hendaknya menggunakan bahan yang
paling steril untuk membersikan serta menutup luka. Bahan terbaik
adalah penutup luka steril.
5. Beri Penutup Luka dan Balut.
Ada hal yang harus diperhatikan ketika kita menutup dan membalut
luka pada alat gerak, yaitu periksa nadi distal untuk memastikan
sirkulasi darah berjalan lancar. Periksa pembalutan secara berkala
dan pastikan tidak ada perdarahan baru.
6. Baringkan korban bila kehilangan banyak darah dan lukanya
cukup parah.
Pergerakan anggota tubuh korban akan mengakibatkan sirkulasi
semakin aktif, sehingga perdarahan dapat terjadi lagi.
7. Tenangkan korban.
10

Jika emosi korban terkendali akan sangat membantu menurunkan


frekuensi nadi dan tekanan darah sehingga perdarahan dapat
berkurang.
8. Lakukan Penatalaksanaan Syok pada luka yang parah atau jika
memang gejala dan tanda syok telah ada pada korban.
9. Rujuk ke Fasilitas Kesehatan terdekat.
Lakukan hal ini segera agar korban mendapat pertolongan medis
lebih lanjut.
C. PENATALAKSANAAN KEDARURATAN
Kontrol terhadap Syok Hipovolemik
Syok adalah kondisi kehilangan volume darah sirkulasi efektif
kemudian diikuti perfusi jaringan dan organ yang tidak adekuat, yang
akibat akhirnya gangguan metabolik selular. Pada beberapa situasi
kedaruratan adalah bijaksana untuk mengantisipasi kemungkinan syok.
Seseorang dengan cedera harus dikaji segera untuk menentukan
adanya syok. Penyebab syok adalah harus ditentukan (hipovolemik,
kardiogenik, neurologik, atau septik syok). Hipovolemia adalah
penyebab syok paling umum.
Pengkajian
Kaji tanda dan gejala yang mengikuti, dimana banyak variasi kombinasi
yang menunjukan bahwa pasien berada pada tingkat syok hipovolemia,
menurunnya tekanan arteri, meningkatnya pulsasi, dingin, kulit basah,
pucat, haus, diaphoresis, perubahan sensori, oliguria, asidosis
metabolik, dan hiperpnea. Dari semua ini, kriteria yang paling terlihat
adalah pada tingkat tekanan arteri darah.
Diagnosa keperawatan mencakup perubahan perfusi jaringan yang
berhubungan dengan kegagalan sirkulasi, gangguan pertukaran gas
yang berhubungan dengan keseimbangan perfusi-ventilasi, perubahan
eliminasi urine
(oliguria atau anuria) yang berhubungan dengan
penurunan perfusi ginjal, dan penurunan curah jantung yang
berhubungan dengan menurunnya volume darah sirkulasi.
Sasaran penatalaksanaan untuk memperbaiki mempertahankan perfusi
jaringan dan mengoreksi ketidaknormalan fisiologik.
Penatalaksanaan kedaruratan
1. Pastikan jalan napas pasien dan sirkulasi dipertahankan. Beri
bantuan ventilator tambahan sesuai kebutuhan.
2. Perbaiki volume darah sirkulasi dengan penggantian cairan dan
darah cepat sesuai ketentuan untuk mengoptimalkan preload
11

jantung, memperbaiki hipotensi, dan mempertahankan perfusi


jaringan.
a. Kateter tekanan vena sentral dimasukkan di dalam atau di dekat
atrium kanan untuk bertindak sebagai penunjuk penggantian
cairan. Pembacaan tekanan vena sentral kontinu (CVP) memberi
petunjuk dan derajat perubahan dari pembacaan data dasar .
kateter juga sebagai alat untuk penggantian volume cairan
darurat.
b. Jarum atau kateter vena IV diameter besar dimasukkan ke dalam
vena perifer. Dua atau lebih kateter mungkin perlu untuk
penggantian cairan cepat dan pengembalian ketidakstabilan
hemodinamika, penekanan pada penggantian volume.
1) Buat jalur IV di kedua ekstermitas atas dan bawah jika dicurigai
bahwa pembuluh utama di dada atau abdomen telah
terganggu.
2) Ambil darah untuk spesimen: gas darah arteri, pemeriksaan
kimia, golongan darah dan pencocokan silang dan hematokrit.
3. Mulai infus IV dengan cepat sampai CVP meningkat pada tingkat
yang memuaskan di atas pengukuran dasar atau sampai terdapat
perbaikan pada kondisi klinik pasien.
a. Infus larutan ringer laktat digunakan pada awal penanganan
karena cairan ini mendekati komposisi elektrolit plasma, begitu
juga dengan osmolalitasnya, sediakan waktu untuk pemerisaan
golongan darah dan bertindak sebagai tambahan terapi komponen
darah.
b. Mulai transfusi terapi komponen darah sesuai program, khususnya
saat kehilangan darah telah parah atau ketika pasien terus
mengalami hemoragi
c. Kontrol hemoragi, hemoragi menyertai status syok. Lakukan
pemeriksaan
hematokrit
seri
bila
dicurigai
berlanjutnya
pendarahan
d. Pertahankan tekanan darah sistolik pada tingkat yang memuaskan
dengan memberi cairan dan darah sesuai ketentuan.
4. Pasang kateter urine tidak menetap, catat keluaran urine setiap 1530 menit, volume urine menunjukkan keadekuatan perfusi ginjal.
5. Lakukan pemeriksaan fisik cepat untuk menentukan penyebab syok.
6. Pertahankan surveilens keperawatan terus menerus terhadap pasien
total, tekanan darah, denyut jantung, pernapasan, suhu kulit, warna,
CVP, EKG, hematokrit, Hb, gambaran koagulasi, elektrolit, haluaran
urine untuk mengkaji respon pasien terhadap tindakan. Pertahankan
lembar alur tentang parameter ini, analisis kecenderungan
menyatakan perbaikan atau penyimpangan pasien
7. Tinggikan kaki sedikit untuk memperbaiki sirkulasi serebral lebih baik
dan mendorong aliran darah vena kembali ke jantung (posisi ini
12

kontraindikasi pada pasien dengan cedera kepala). Hindarkan


gerakan yang tidak pasti.
8. Berikan obat khusus yang telah diresepkan (misalnya obat intropik
seperti dopamin) untuk meningkatkan kerja kardiovaskuler.
9. Dukung mekanisme defensi tubuh
a. Tenangkan dan nyamankan pasien sedasi mungkin perlu untuk
menghilangkan rasa khawatir.
b. Hilangkan nyeri dengan kewaspadaan penggunaan analgesik atau
narkotik.
c. Pertahankan suhu tubuh.
1) Terlalu panas menimbulkan vasodilatasi, yang merupakan
mekanisme kompensasi tubuh dari vasokonstriksi dan
meningkatnya kehilangan cairan karena respirasi.
2) Pasien yang mengalami syok septik harus dijaga tetap dingin,
demam tinggi meningkatkan efek metabolik seluler terhadap
syok.
D. MANAJEMEN CRUSH INJURY
Amputasi
Amputasi di lapangan merupakan pilihan terakhir. Merupakan strategi
penyelamatan untuk pasien yang hidupnya dalam bahaya langsung
dari crush injury tetapi sangat meningkatkan risiko pasien infeksi dan
perdarahan.
Fasiotomi
Fasiotomi juga merupakan prosedur yang kontroversial, yang
selanjutnya dapat mengekspos pasien terhadap risiko infeksi dan
bleeding. Mengkonversi cedera tertutup menjadi terbuka, beresiko
infeksi dan sepsis. Beberapa studi menunjukkan hasil yang buruk
dengan dilakukannya fasiotomi. Beberapa pengecualian untuk kasus
pada ekstremitas viable namun pulseless dan berpotensi terjadi
peningkatan tekanan intrakompartemen.
E. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Primer
1. Airway (A)
Penilaian kelancaran airway pada klien yang mengalami
cedera, meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan napas
yang dapat disebabkan oleh benda asing.
2. Breathing (B)
13

Jalan Napas yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik.


Pertukaran gas yang terjadi pada saat bernapas mutlak untuk
pertukaran oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari
tubuh.
3. Circulation (C)
TD dapat normal atau meningkat, hipotensi terjadi pada tahap
lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini,
distrimia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis
pada tahap lanjut.
b. Sekunder
Look
: kulit intake, pembengkakan, deformitas, kontusio
Feel
: nyeri, nadi dan sensori bagian distal
Movement : krepitas, range of movement (ROM), false
movement.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri Akut berhubungan dengan kerusakan jaringan lunak yang
parah
b. Gangguan
Mobilitas
Fisik
berhubungan
dengan
nyeri/ketidaknyamanan
c. Potensial terjadi Syok Hipovolemik berhubungan dengan
pendarahan akut
d. Potensial gangguan Perfusi Perifer berhubungan dengan
penurunan curah jantung
e. Resiko terjadi Infeksi berhubungan dengan luka terbuka
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
a.

Dx. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan lunak yang


parah
Tujuan : Klien Akan bebas dari nyeri selama perawatan
Kriteria Hasil: Keluhan nyeri hilang atau berkurang, ekspresi
wajah tenang.
Intervensi :
1. Mengkaji karakteristik nyeri : lokasi, durasi, intensitas nyeri
dengan menggunakan skala nyeri (0-10).
Rasional: Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat
menentukan jenis tindakannya
2. Mempertahankan immobilisasi
Rasional: Mencegah penekan pada jaringan yang terbuka.
3. Berikan sokongan pada ektremitas yang luka.
Rasional: Peningkatan vena return, menurunkan edema, dan
mengurangi nyeri
14

4. Menjelaskan seluruh prosedur di atas


Rasional: Untuk mempersiapkan mental serta agar pasien
berpartisipasi pada setiap tindakan yang akan dilakukan
5. Kolaborasi dalam Pemberian obat-obatan analgesic
Rasional: Mengurangi rasa nyeri.
b. Dx.
Gangguan
Mobilitas
Fisik
berhubungan
dengan
nyeri/ketidaknyamanan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam, klien
akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
Kriteria Hasil :
- melakukan pergerakkan dan perpindahan
- mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi
Intervensi :
1. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.
Rasional: Menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.
2. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.
Rasional: Mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan
ketahanan otot.
c. Dx. Potensial terjadi Syok Hipovolemik berhubungan dengan
pendarahan akut
Tujuan : untuk mencegah akibat dari pendarahan yang berujung
syok
Kriteria Hasil : klien terhindar dari tanda-tanda syok
Intervensi :
1. Observasi TTV, kesadaran, perfusi, dan keseimbangan cairan.
Rasional: Dengan pemantauan sedini mungkin dapat diambil
tindakan secara cepat dan tepat.
2. Cek Hb dan faal homeostatis.
Rasional: untuk mengoreksi terjadinya penurunan Hb dan
kelainan factor pembekuan darah.
3. Berikan cairan infuse atau transfusi bila Hb <10 gr %.
Rasional: merupakan bentuk kolaborasi untuk menggantikan
cairan/darah yang hilang.
4. Ukur intake dan output cairan.
Rasional: membantui ketepatan pemberian terapi cairan.
5. Anjurkan untuk banyak minum apabila sudah diperbolehkan
minum.
Rasional:
penambahan
cairan
dapat
meningkatkan
metabolisme sehingga kebutuhan cairan terpenuhi.
6. Kolaborasi
dalam
pemberian
koagulansia,
roborantia,
uteronika.
Rasional: koagulansia dan roborantia untuk meningkatkan
d. Dx. Potensial gangguan Perfusi Perifer berhubungan dengan
penurunan curah jantung
15

e.

Tujuan : Klien akan mempertahankan perfusi perifer yang normal


selama perawatan
Kriteria Hasil : Daerah perifer tidak pucat, Pengisian kapiler
daerah yang trauma < 3 detik, daerah perifer hangat.
Intervensi :
1. Kaji tanda-tanda penurunan perfusi perifer
Rasional: trauma menyebabkan edema jaringan dan
kehilangan darah yang menyebabkan menurunnya perfusi
jaringan. Ketidakadekuatan sirkulasi dan edema merusak saraf
perifer, mengakibatkan penurunan sensasi, gerakan dan
sirkulasi.
2. Kolaborasi terapi tindakan reposisi sesegera mungkin
Rasional: mencegah komplikasi lebih lanjut.
Dx. Resiko terjadi Infeksi berhubungan dengan luka terbuka
Tujuan : Klien akan bebas dari infeksi selama perawatan
Kriteria Hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi seperti edema,
rubor, kalor, dolor, fungsi laesa.
Intervensi :
1. Kaji keadaan luka (kontinuitas dari kulit) terhadap adanya:
edema, rubor, kalor, dolor, fungsi laesa.
Rasional: Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi.
2. Merawat luka dengan menggunakan tehnik aseptic
Rasional: Mencegah kontaminasi dan kemungkinan infeksi
silang
3. Anjurkan pasien untuk tidak memegang bagian yang luka.
Rasional: Meminimalkan terjadinya kontaminasi
4. Kolaborasi dalam Pemeriksaan darah : leokosit
Rasional: Leukosit yang meningkat artinya sudah terjadi
proses infeksi
5. Kolaborasi dalam Pemberian obat-obatan : antibiotika dan TT
(Toksoid Tetanus)
Rasional: Mencegah kelanjutan terjadinya infeksi dan
mencegah tetanus
6. Persiapan untuk operasi sesuai indikasi
Rasional: Mempercepat proses penyembuhan luka dan dan
penyegahan peningkatan infeksi.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Jaringan lunak dalam histologi, merujuk pada jaringan yang
menghubungkan, menyokong, atau mengelilingi struktur dan organ
tubuh. Jaringan lunak termasuk kulit, otot, tendon, ligamentum, fasia,

16

saraf, jaringan serabut, lemak, pembuluh darah, dan membran


sinovial.
Cedera jaringan lunak yang paling jelas adalah cedera pada kulit.
Kulit manusia merupakan mekanisme pertahanan tubuh lapisan
pertama terhadap gaya dari luar yang walaupun kuat, namun tetap
mudah mengalami cedera.
Cedera jaringan lunak adalah cedera yang melibatkan jaringan
kulit, otot, saraf
dan pembuluh darah akibat suatu ruda paksa.
Keadaan ini umumnya dikenal dengan istilah luka. Beberapa penyulit
yang dapat terjadi adalah perdarahan, kelumpuhan serta berbagai
gangguan lainnya sesuai dengan penyebab dan beratnya cedera yang
terjadi.
Cedera jaringan lunak terbagi menjadi dua yaitu luka terbuka dan
luka tertutup. Luka terbuka ialah cedera jaringan lunak disertai
kerusakan/terputusnya jaringan kulit yaitu rusaknya kulit bagian atas
dan bisa disertai jaringan di bawah kulit. Luka tertutup adalah cedera
jaringan lunak tanpa kerusakan/terputusnya jaringan kulit, yang rusak
hanya jaringan di bawah kulit.
Cedera remuk (Crush Injury) termasuk pada bagian luka terbuka.
Luka jenis ini adalah gabungan antara luka terbuka dan luka tertutup,
yang terjadi karena terjepitnya alat gerak korban dengan alat-alat
berat. Hampir seluruh jaringan lunak dan jaringan keras seperti tulang
dapat terlibat, tulang dapat patah dan pecahannya atau patahannya
dapat menembus sampai keluar. Hal ini akan menimbulkan
pembengkakan dan perdarahan, baik perdarahan luar maupun
perdarahan dalam.
Cedera remuk (crush injury) dapat membuat korban kehilangan
banyak darah. Hal itu meningkatkan resiko terjadinya syok, utamanya
syok hipovolemik.
Syok hipovolemik adalah suatu kondisi medis yang ditandai
dengan ketidakmampuan jantung untuk memompa darah secukupnya
dalam menyediakan oksigen yang cukup untuk ke seluruh tubuh
dikarenakan volume darah yang rendah. Hal ini biasanya disebabkan
oleh kehilangan darah yang banyak atau dehidrasi berat. Tindakan
yang cepat dan tepat dapat mencegah syok hipovolemik ini terjadi.
B. SARAN
Apabila ditemukan pasien yang mengalami trauma cedera maka
sebaiknya berikan pertolongan pertama dengan cepat dan tepat dan
segera bawa ke rumah sakit jika terdapat tanda-tanda yang
memperburuk keadaan.

DAFTAR PUSTAKA

17

Brunner & Suddarth/editor, Suzzane C. Smeltzer, Brenda G. Bare; alih


bahasa, Agung Waluyo .. [et.al.] : editor edisi bahasa Indonesia, Monica
Ester, Ellen Panggabean. Buku Ajar Keperawatan Medikal Medah. Ed.8.
Vol. 3. Jakarta: EGC, 2001.
Krisanty, Paula, dkk. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta: Trans
Info Medika, 2009.
Musliha, S.Kep. Ns.Keperawataan Gawat Darurat. Yogyakarta: Nuha
Medika, 2009.

18