Anda di halaman 1dari 15

TUGAS PARASITOLOGI

CESTODA PADA UNGGAS

OLEH :
KELAS A KELOMPOK 5

Khoiriyah Safitri S
Prayogi
Cut Iusma Muzadin
Agusnaini Ragil
Ari Akhdan Ruska Putra
Rhoza Indra
Uci Herawati Guci
Ahmad Azhari
Hazizah
Nur Afriyanti

1402101010150
1402101010156
1402101010166
1402101010167
1402101010172
1402101010182
1402101010186
1402101010192
1402101010041
1402101010118

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2016

A. Raillietina spp
1. PENDAHULUAN
Cestodosis merupakan penyakit cacing pita yang menyerang ayam pada semua
umur. Penyebarannya melalui kotoran ayam yang sakit atau alat-alat yang digunakan.
Gejala yang terlihat antara lain lesu, pucat, kurus dan diikuti dengan sayap yang
menggantung serta kondisi yang berangsur-angsur menurun dan selanjutnya diikuti
kematian akibat komplikasi. Cacing Cestoda yang sering hidup pada ayam yaitu
Raillietina spp. Infeksi Cestoda memiliki tingkat penyebaran lebih luas daripada
infeksi oleh Nematoda dan trematoda. Pada usus ayam buras rata-rata ditemukan
132,27 ekor cacing yang antara lain terdiri dari cacing Cestoda Raillietina spp.
Cacing Raillietina spp tergolong dalam phylum Platyhelmintes, Class Cestoidea, Sub
Class Cestoda, Ordo Cyclophyllidea, Famili Davaineidea, Genus Railietina dan
Spesies Raillietina spp.

2. NOMENKLATUR
Phylum

: Platyhelminthes

Class

: cestoidea

Ordo

: cyclophllidea

Family

: davaineidea

Genus

: raillietina

Spesies

: R. cesticillus
R.echinobothrida
R.tetragona
R. giargiensis

3. MORFOLOGI
a. Raiilietina tetragona
Raiilietina tetragona merupakan cacing pita ayam yang terpanjang, mencapai
25 cm dan lebar proglottidnya 1 - 4 mm. Lebar skoleksnya 175 - 350 mikron dan
memiliki rostellum yang diameternya 200 - 300 mikron. Pada rostellumnya terdapat 2
atau 3 barisan yang terdiri dari 90 - 120 duri yang panjangnya 6 - 8 mikron. Alat
penghisapnya juga dilengkapi dengan 8 - 12 baris duri yang panjangnya 3 - 8 mikron.

Lubang kelaminnya biasanya unilateral, kadang-kadang saja berselang seling tak


teratur, letaknya di depan tengah-tengah sisi proglottid yang matang. Terdapat 18 - 32
testes pada setiap ruas. uterus berisi kapsul yang masing-maisng mengandung 6 - 12
telur yang berukuran 25 - 50 mikron (Soulsby, 1982). Kantong sirrusnya kecil, dengan
panjang 75 - 100 mikron (Reid, 1984). Gambar 1 menunjukkan skoleks dan segmen
serta lubang genital Raillietina tetragona.

b. Raillietina echinobothrida
Raillietina echinobothrida, panjangnya mencapai 250 mm dengan lebar 1 - 4
mm. Skoleksnya bergaris tengan 250 - 450 mikron, sedang rostelum bergaris tengah
100 - 250 mikron yang dilengkapi dengan dua baris kait-kait sebanyak 200 - 250 yang
panjangnya 10 - 13 mikron. Alat penghisapnya juga dilengkapi dengan 8 - 15 baris
duriduri dengan ukuran 5 - 15 mikron. Lubang kelaminnya hampir selalu unilateral,
terletak di tengah-tengah atau sedikit di belakang tengah-tengah sisi proglottid. Uterus
berakhir dengan kapsul yang mengandung 6 - 12 telur.

Kantong sirrus berjarak

sepertiga dari saluran ekskretori dan relatif besar, panjang 130 - 190 mikron. Testes
berjumlah antara 20 -45 buah dalam tiap segmen. Ciri khas cacing ini yaitu segmen
posterior akan melepaskan diri pada suatu bentukan yang mirip jendela terletak di
pertengahan segmen. Akan tetapi bentukan tersebut tidak selalu ditemukan pada
setiap individu.

c. Raiilietna cesticillus
Panjangnya Raiilietna cesticillus berkisar antara 100 - 130 mm dan lebarnya 1,5 3 mm, lebar skolek 300 - 600 mikron. Rostellumnya cukup besar dengan diameter 100
mikron, dilengkapi dengan dua baris terdiri dari 400 - 500 duri yang berukuran 8 - 10
mikron. Alat penghisapnya tidak berduri kait. Dalam tiap proglottid yang matang
terdapat 20 -230 testes. Lokasi lubang kelaminnya berselang seling tidak teratur.
Kapsul telur, masing-masing mengandung satu telur, mengisi seluruh proglottid yang
matang.

4. SIKLUS HIDUP
Penyebaran cacing Cestoda pada ayam sangat dipengaruhi oleh adanya inang
antara.. Telur cacing Cestoda yang termakan oleh inang antara akan menetas di dalam
saluran pencernaannya.Telur yang menetas berkembang menjadi onkosfir yaitu telur
yang telah berkembang menjadi embrio banyak sel yang dilengkapi dengan 6 buah kait.
Onkosfir selanjutnya berkembang menjadi sistiserkoid dalam waktu 3 minggu setelah
telur termakan oleh inang antara. Sistiserkoid tetep tinggal di dalam tubuh inang antara
sampai dengan inang antara tersebut dimakan oleh inang definitif yaitu ayam. Setelah
ayam memakan inang antara yang mengandung sistiserkoid, maka sistiserkoid
terbebaskan oleh adanya aktivitas enzim pencernaan. Segera setelah sistiserkoid bebas,
skoleksnya mengalami evaginasi dan melekatkan diri pada dinding usus. Segmen muda
terbentuk di daerah leher dan akan berkembang menjadi segmen yang matang dalam
waktu 3 minggu. Pada saat segmen atau strobila berproliferasi di dinding leher, dinding
sistiserkoid akan mengalami degenerasi dan menghilang. Selanjutnya sistiserkoid
berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus ayam dalam waktu 20 hari
Berdasarkan beberapa penelitian diperoleh hasil bahwa masing-masing spesies cacing
dari genus Raillietina spp mempunyai inang antara yang berbeda-beda. Raillietina
tetragona menggunakan semut dari genus tetramorium dan Pheidole serta lalat Musca
domestica sebagai inang antara. Raiilietina echinobothrida menggunakan inang antara
semut jenis yang sama dengan Raiilietina tetragona. Sedangkan Raillietina cesticillus
mempunyai inang antara berupa kumbang dan lalat Musca domestica.

5. PATOGENESA
Patogenesa ayam yang terinfeksi cacing Raillietina spp. yang hidup dalam saluran
pencernaan akan mengambil makanan dengan cara menyerap sari makanan dari induk
semangnya pada mukosa usus. Apabila tingkat infeksi cukup berat, induk semang akan
mengalami hypoglicemia dan hypoproteinemia yang nyata.

6. GEJALA KLINIS
Gejala umum pada ayam muda biasanya ditunjukkan oleh adanya penurunan
bobot badan, hilangnya napsu makan, kekerdilan, diare dan anemia. Penurunan produksi
telur dan kesehatan secara umum juga merupakan gejala umum akibat infeksi cacing

Cestoda. R. cesticillus menyebabkan degenerasi dan inflamasi villi selaput lendir usus di
tempat menempel ujung kait rostellum dan dalam keadaan infeksi berat dapat
menyebabkan kekerdilan.
Raillietina echinobothrida menyebabkan diarre berlendir tahap dini. Raillietina
echinobothrida dan Raillietina tetragona menyebabkan pembentukan nodul-nodul pada
dinding saluran pencernaan.
Diantara kedua jenis cacing Cestoda tersebut, yang paling banyak meninmbulkan
kerusakan adalah Raillietina echinobothrida. Raiillietina tetragona dapat menyebabkan
penurunan bobot badan dan produksi telur pada ras-ras ayam tertentu.

7. DIAGNOSA
Dengan melakukan pemeriksaan tinja secara mikroskopis dimana akan ditemukan
proglottid masak yang lepas atau telur cacing yang keluar bersama tinja. Pada
pemeriksaan pasca mati akan didapat diagnosis yang memuaskan karena ditemukan
spesies cacingnya. Teknik diagnosis yang lain adalah dengan melihat bungkul-bungkul
pada mukosa usus dimana cacing mengkaitkan diri pada infeksi R. echinobothrida,
Enteritis Catharallis chronica, hyperplasia dinding usus pada tempat cacing melekatkan
diri dan perdarahan serta pengelupasan selaput lendir usus

8. PROGNOSA
Jadi prognosa dari infeksi cacinng ini dapat disembuhkan jika pengobatan segera dilakukan.

9. TERAPI :
a. OBAT ( KIMIA)
Penanggulangan cacing pita membutuhkan pengendalian hospes antara untuk
mencegah infeksi ulang dan pengobatan ayam yang terinfeksi untuk membasmi
cacing tersebut. Suatu obat anti cacing pita harus merusak skoleks agar cacing
tersebut dapat mati. Jika skoleks masih berfungsi dan hanya segmen bagian
belakang yang rusak, maka segmen baru dapat dibentuk lagi dan ayam dapat
terinfeksi lagi oleh cacing tersebut

Pengobatan untuk cacing pita pada ayam dapat di lakukan dengan butinorat
(dibutiltin dilaurat) dilaporkan infektif untuk mengobati cacing pita pada ayam,
yaitu raillietina cesticillus, raillietina tentragona. Obat tersebut dapat juga di
berikan dalam bentuk kombinasi dengan pirazin dan fenotiazin melalui pakan. Di
samping itu juga dapat diberikan beberapa turunan benzimidazol, misalnya
mebendazol, fenbendazol, dan albendazol bersama pakan atau melalui air minum
dengan hasil yang bervariasi.

b. HERBAL ( TUMBUH-TUMBUHAN)
Obat alami infeksi cacing pita juga terbuat dari kulit manggis, kulit manggis
memiliki sifat antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas yang menjadi
faktor utama penyabab penyakit. Selain itu pada kulit manggis terdapat suatu
senyawa aktif XANTHONE yang mampu merangsang regenerasi/pemulihan sel
jaringan tubuh yang telah rusak, sehingga menjadi normal kembali.

10. PREVENTIF
Cara yang dilakukan agar peternakan terhindar dari penyakit cacingan adalah dengan
dilakukannya pencegahan yaitu:
a. Melakukan sanitasi kandang dan peralatan peternakan.
b. Mengurangi kepadatan kandang, karena dapat memberi peluang yang tinggi bagi
infestasi cacing.
c. Pemberian ransum dengan kandungan mineral dan protein yang cukup untuk
menjaga daya tahan tubuh tetap baik.
d. Mencegah kandang becek, seperti menjaga litter tetap kering, tidak menggumpal
dan tidak lembab

11. KERUGIAN
Jika luka pada usus bersifat parah, maka proses pencernaan dan penyerapan
nutrisi juga akan terganggu sehingga dampaknya pertumbuhan ayam akan terhambat

B.

Davainea sp
1.

PENDAHULUAN

Davainea proglottina adalah cacing pita dengan patogenitas yang sangat


berbahaya pada ayam. karena bagian skoleknya melakukan penetrasi ke dalam mukosa
duodenum dan menyebabkan terjadinya enteritis hemoragis yang berat. Cacing ini
berpredileksi di duodenum unggas dan memiliki host definitif seperti ayam, burung
merpati, dan bangsa burung lainnya.

2.

NOMENKLATUR
Phylum
Class
Ordo
Family
Genus
Species

3.

:
:
:
:
:
:

Platyhelminthes
Cestoda
Davaineidae
Davaineidae
Davaineidae
Davaineidae proglottina

MORFOLOGI
a. Cacing pita sangat kecil
b. Predileksi di usus halus
c. Pada skolek di temukan acetabula yang dipersenjatai
d. Rostellumnya rektraktil bisa memanjang dan memende serta dipersenjatai kait
berbentuk palu dengan jumlah banyak
e. Organ kelamin biasanya sepasang
f. Telur ditemukan dalam kapsul telur
g. Bentuk peralihannya adalah sistiserkoid

4.

SIKLUS HIDUP

Siklus hidup dari cacing ini biasanya terdiri dari telur, stadium larva dalam induk
semang antara, dan dewasa dalam vertebrata. Host intermediet dari Davaineidae
proglottina adalah siput (agrlimax, arion, cepoda, limax). Sedangkan host definitif
Davaineidae proglottina adalah ungas. Setelah 2-4 minggu cacing akan melepaskan
proglitid gravid 2 minggu post infeksi. Masa pre paten cacing ini selama 2 minggu.
Proglotid gravid dijumpai di tinja pada sore atau malam hari, telur menetas setelah di

telan molusca, di dalam molusca berkembang menjadi cysticercoid (+ 3 mg) kemudian


termakan ayam atau unggas lain dan menjadi dewasa 14 hari.
Proglotid gravid dijumpai di tinja pada sore atau malam hari, telur menetas
setelah di telan molusca, di dalam molusca berkembang menjadi cysticercoid (+ 3 mg)
kemudian termakan ayam atau unggas lain dan menjadi dewasa 14 hari. Larva
berkembang pada host intermediet antara dalam 2-4 minggu. Bentuk dewasa mulai
meletakkan telur pada ayam terinfeksi sekitar 2 minggu. Para ahli melaporkan bahwa
lebih dari 1.500 sistiserkoid (larva) cacing pita dapat berkembang di dalam saluran
pencernaan bekicot dan sistiserkoid tersebut akan tetap infektif selama lebih dari 11
bulan.

5.

PATOGENESA

Davainea proglottina merupakan cacing pita yang paling pathogen, karena


rostelumnya dipersenjatai dengan kait dan dapat masuk ke dalam villi duodenum
sehingga menyebabkan nekrosis dan enteritis hemoragika, menyebabkan penyerapan
sari makanan tidak sempurna. Jenis cacing pita yang lain umumnya tidak menimbulkan
kerusakan yang nyata, hanya bersaing mendapatkan makanan dengan hospes definitif

6.

GEJALA KLINIS

Gejala klinis, sangat tergantung dari intensitas infeksi dan jenis cacing pita yang
menginfeksi. Pada infeksi berat, ayam dewasa tampak yaitu produksi menurun,
pertumbuhan terhambat, gerakan lambat, diare, bulu mudah lepas dan kering, selaput
lendir pucat dan kurus. Pada anak ayam yang terlihat adalah pertumbuhan terhambat,
berjalan tidak tegap, berdiri dengan tumit terangkat, keadaan lebih lanjut diikuti
kekejangan pada kaki dan akhirnya lumpuh.

7.

DIAGNOSA

Diagnosa yang paling awal berdasarkan gejala klinis, kemudian mengamati


proglotid atau dalam rangkaian segmen yang keluar dari anus dan pengamatan bedah
bangkai untuk menemukan cacing pita di dalam usus halus. Penanggulangan cacing
pita membutuhkan pengendalian hospes perantara untuk mencegah infeksi ulangan dan
pengobatan ayam yang terinfeksi untuk membasmi cacing tersebut.

8.

PROGNOSA
Menurut Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia itu, pencegahan dan pengobatan
biasanya diberikan sekitar umur 5 minggu, kemudian diulang dengan interval 4 minggu
sampai ayam mencapai umur 21 minggu. Jadi prognosa dari infeksi cacinng ini dapat
disembuhkan jika pengobatan segera dilakukan.

9.

TERAPI :
a. Obat ( Kimia)
Pengobatan terhadap cacing pita pada ayam dapat dilakukan dengan
butinorat (dibutiltin dilaurat). Bahan tersebut dilaporkan efektif untuk mengobati
penyakit yang ditimbulkan oleh enam spesies cacing pita pada ayam yaitu
Raillietina cesticillus, Raillietina tetragona, Choanotaenia infundihulum,
Davainea proglottina, Hymenolepis carioca dan Amoehotaenia sphenoides

b. Herbal ( Tumbuh-Tumbuhan)
Obat alami infeksi cacing pita juga terbuat dari kulit manggis, kulit
manggis memiliki sifat antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas
yang menjadi faktor utama penyabab penyakit. Selain itu pada kulit
manggis terdapat suatu senyawa aktif XANTHONE yang mampu
merangsang regenerasi/pemulihan sel jaringan tubuh yang telah rusak,
sehingga menjadi normal kembali.
Bawang putih mengandung bahan berkhasiat anthelmintik alisin yang
setelah diteliti lebih lanjut terdiri dari dialil disulfida, dialil trisulfida,
propil alil disulfida, dialil mono sulfida, alil polisulfida dan squiterpene
(Watanabe, 1998) suatu enzim sulfidril (Handali, 1988) yang dapat
menembus dinding telur dan cacing. Enzim sulfhdril mempunyai
kemampuan kuat berikatan secara kovalen dengan enzim
fosfofruktokinase dari sel (telur dan cacing). Dengan dosis 30 gr dan
pemberian secara oral

10.

PREVENTIF

Preventif ditujukan untuk menghindarkan termakannya hospes intermedier yang


infektif atau membunuh hospes intermediet dengan menggunakan obat yang ada.
Karena cacing pita pada unggas ditularkan melalui inang perantara, maka menjauhkan
unggas dengan inang perantaranya (lalat, kumbang, bekicot dan serangga) merupakan
hal yang paling tepat. Memberantas insekta secara rutin merupakan cara yang paling
murah untuk mengendalikan cacing pita pada unggas (di samping penyakit lainnya).

11.

KERUGIAN

Unggas yang terinfeksi cacing Davainea proglottina akan menyebabkan usus


ayam terluka. Jika luka pada usus bersifat parah, maka proses pencernaan dan
penyerapan nutrisi juga akan terganggu sehingga dampaknya pertumbuhan ayam akan
terhambat

C. Amoebotaenia sphenoides
1. PENDAHULUAN
Amoebotaenia cuneata nama lainnya disebut juga Amoebotaenia sphenoides adalah
parasit spesies umum yang terdapat pada unggas domestik

2. NOMENKLATUR
Phylum

: Platyhelminthes

Class

: eucestoda

Family

: dilepididae

Genus

: Amoebotaenia

Species

: Amoebotaenia sphenoides

3. MORFOLOGI
Cacing ini merupakan cacing pita kecil . Panjangnya lebih dari 4 mm dan lebar 1 mm.
Tersusun lebih dari 20 proglotid yang semakin ke belakang semakin melebar di
pertengahan tubuh, sehingga cacing terlihat mengarah segitiga. Pada skolek
ditemukan rostelum yang dipersenjatai dengan 12-14 kait. Organ kelamin tunggal.
Lubang kelamin biasanyabermuaraselang seling pada tepi atas ujung posterior. Uterus
berbentuk kanting dan berlobus. Telur berbentuk bulat dengan diameter lebih dari 42
mikron dengan kulit yang bergranulasi

4. SIKLUS HIDUP
Hospes Intermediet adalah cacing tanah genus Allolobophora, Eisenia, Pheretina dan
Ocnerodrilus. Hospes definitif adalah unggas. Bentuk peralihan berupa sistiserkoid
berkembang selama 2 minggu. Periode prepatennyan selama kurang lebih 4 minggu.

5. GEJALA KLINIS
Symptomnya biasanya tidak terlihat dan tidak memperlihatkan tanda-tanda tertentu.
Infeksi besar-besaran bisa menyebabkan penghambatan pertumbuhan pada unggas
muda. Infeksi lebih dari 200 cacing bisa menyebabkan enteritis dan biasanya disertai
dengan hemoragi. Unggas yang terinfeksi bisa menjadi apatis dan terisolasi.
6. DIAGNOSA
Diagnosis dilakukan melalui deteksi segmen gravid dalam tinja. Pemeriksaan tinja
harus dilakukan pada kotoran segar, karena segmen gravid bermigrasi cepat di luar

kotoran. Telur biasanya tidak ditemukan dalam tinja karena mereka tetap berada di
dalam segmen gravid yang bermigrasi. Pada nekropsi, cacing dewasa dapat dilihat
pada vili-vili usus yang berwarna proyeksi keputihan.

7. PROGNOSA
Jadi prognosa dari infeksi cacinng ini dapat disembuhkan jika pengobatan segera dilakukan.

8. TERAPI :
Pemberian obat cacing pada ayam yang dipelihara di kandang postal non slat yaitu
pada umur 1 bulan dan perlu dilakukan pengulangan setelah 1-2 bulan kemudian.
Sedangkan jika ayam dipelihara di kandang postal slat/baterai maka pemberian obat
cacing pada saat masuk kandang, diulang pada 3 bulan kemudian. Obat cacing yang
dapat digunakan misalnya Levamid, karena obat ini mengandung niclosamide dan
levamisole HCl yang ampuh membasmi cacing pita maupun cacing gilik pada
ayam/unggas.

9. PREVENTIF
Menjaga unggas agar tetap kering dapat membantu untuk menghindari telur telur dari
cacing ini. Hal ini disebabkan oleh karena telur dari cacing ini menyenangi tempat
yang lembab. Sejauh ini tidak ada vaksin terhadap Amoebotaenia, sehingga tidak bisa
digunakan untuk mencegah amoebotaenia ini.

10. KERUGIAN
Jika luka pada usus bersifat parah, maka proses pencernaan dan penyerapan nutrisi
juga akan terganggu sehingga dampaknya pertumbuhan ayam akan terhambat

D. Choanotaenia infundibulum
1. PENDAHULUAN
Parasit cestoda yang berpredileksi pada usus ayam dan pada unggas domestik seperti
kalkun, burung, burung puyuh (host definitif). Parasit jenis ini sedikit kurang sering
ditemukan kasusnya dari pada parasit cestoda unggas lainnya misalnya Davainea
proglottina dan Raillietina spp.Host intermediet cacing ini adalah Musca domestica
dan beberapa spesies kumbang.

2. NOMENKLATUR
Phylum
Class
Family
Genus
Species

: Platyhelminthes
: eucestoda
: dilepididae
: Choanotaenia
: Choanotaenia infundibulum

3. MORFOLOGI
Predileksi pada bagian anterior usus halus ayam dan kalkun. Panjang 23 cm dan
lebar 3 mm. Bagian post lebih lebar di bandingkan dengan bagian anterior. pada
skoleks di temukan rostellum yang memiliki garis 16 sampai 20 kait. Pada Proglottid,
organ kelamin tunggal pada setiap segment Uterus berbentuk kantong. Ukuran telur
sekitar 47x55 mikron,berbentuk lonjong, dan memiliki filamen panjang dan kait
embrio.

4. SIKLUS HIDUP
Choanotaenia memiliki siklus hidup langsung. Para hosti ntermediate adalah beberapa
spesies lalat (misalnya lalat), kumbang, rayap dan belalang. Ini proglottids mampu
memanjat pada vegetasi hingga 10 cm dari tanah. Bentuk peralihannya adalah
sistiserkoid terbentuk setelah 3-8 minggu. Periode prepaten selama 3-5 minngu

5. PATOGENESA
Mampu menyebabkan penyakit; agen infektif; patogenik bacteria.Pertaining untuk
properti mirip dengan patogen.
6. GEJALA KLINIS
Gejala umum yang tampak pada unggas yang terserang cestodiosis adalah
lesu, pucat, kurus, anoreksia (tidak mau makan), dan sedikit diare. Jika terjadi infeksi

berat maka bisa saja akan menyebabkan kematian dan jika dalam jumlah yang besar
maka akan terjadi persumbatan usus. Pada unggas petelur yang sedang berproduksi
akan diikuti dengan merosotnya produksi telur

7. DIAGNOSA
Diagnosis penyakit didasarkan atas gejala klinik yang tampak. Selain itu dapat pula
dilakukan diagnosis dengan menemukan adanya cacing (Choanotaenia infundibulum),
telur cacing dan larva dalam tinja, urin, sputum, darah atau jaringan lain pada unggas
tersebut.
8. PROGNOSA
Jadi prognosa dari infeksi cacinng ini dapat disembuhkan jika pengobatan segera dilakukan.

9. TERAPI :
Obat-obatan yang diberikan pada jenis cacing pita satu ini sama dengan cacing pita
lainnya yang ada pada unggas, seperti diberikan butinorat, piperazin, fenotiazin, dan
sebagainya.

10. PREVENTIF
Cara pencegahannya pun sama dengan spesies lainnya, seperti menjauhkan unggas
dengan inang perantaranya, menjaga sanitasi kandang, dan lain sebagainya.

11. KERUGIAN
Jika luka pada usus bersifat parah, maka proses pencernaan dan penyerapan nutrisi
juga akan terganggu sehingga dampaknya pertumbuhan ayam akan terhambat

LAMPIRAN:
A. GAMBAR PARASIT (Davainea sp)

B. GAMBAR ORGAN NORMAL

C. GAMBAR ORGAN TERINFEKSI

DAFTAR PUSTAKA

Kadarsan, Sampurno. 2009, Binatang Parasit, Jakarta: Lembaga Biologi Nasional


Muslim. 2009. Parasitologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.
Natadisastra, Djaenudin., Agoes, Ridad. 2009. Parasitologi Kedokteran : Ditinjau dari
Organ Tubuh yang Diserang. Jakarta : EGC.
Tabbu, Carles Rangga, 2012, Penyakit pada Ayam dan Penanggulangannya, Yogyakarta:
Penerbis Kanisius
Soeharsono.2002.Zoonosis Penyakit menular dari Hewan ke Manusia.Volume I, Penerbit
Kaninus,Yogyakarta. hal.: 154-158
Staf Pengajar Departemen Parasitologi FKUI. 2008. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI.