Anda di halaman 1dari 18

PRESENTASI KASUS

SKIZOFRENIA PARANOID

Oleh:
Primarini Kusuma Dewi Astuti
110.2009.218

Pembimbing:
Dr. Salikur, Sp. KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


RUMAH SAKIT JIWA DR. SOEHARTO HEERDJAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
JAKARTA
2014

STATUS PSIKIATRI
Nomor Rekam Medis

: xx-xx-xx

Nama Pasien

: Tn. R

Nama dokter yang merawat

: dr. Safiyuni, Sp.KJ

Nama dokter muda

: Primarini Kusuma Dewi Astuti

Masuk RS pada tanggal

: 21 September 2014

Rujukan/datang sendiri/keluarga : Diantar oleh ibu dan kakak kandung


Usia
I.

: 25 tahun

IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis kelamin
Umur
Tempat/Tanggal lahir
Agama
Bangsa/Suku
Status Pernikahan
Pendidikan terakhir
Pekerjaan
Alamat

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Tn. R
Laki-laki
25 tahun
Jakarta, 14Agustus 1989
Islam
Indonesia
Belum Menikah
SMA
Tidak bekerja
Jalan Kramat RT 07/RW 010, Rengas Ciputat

Tanggal masuk RSJSH

Timur
: 21 September 2014

Riwayat Perawatan

Tanggal 3 September s/d 8 September pasien dirawat di Ruang Nuri


Tanggal 21 September 2014 pasien sempat dirawat di Ruang Elang PICU
laki-laki, selama 2 hari, namun pada hari Selasa, tanggal 23 September
2014 pasien dipindahkan ke Ruang Nuri hingga saat ini.

Riwayat Rehabilitasi
Pasien mengaku sempat berobat ke RS Tangerang. Disana pasien hanya
diberikan obat minum. Tapi tidak mengalami perubahan.

II.

RIWAYAT PSIKIATRI
Autoanamnesis : 21 September 2014 di IGD pukul 19.00 WIB
Alloanamnesis : 21 September 2014 di IGD pukul 19.00 WIB
Autoanamnesis : 22 September 2014 di ruang Elang pukul 10.00 WIB
Autoanamnesis : 30 September 2014 di ruang Nuri pukul 11.00 WIB
Autoanamnesis : 3 Oktober 2013 di ruang Nuri pukul 10.30 WIB
A. Keluhan Utama
Pasien datang ke IGD RS Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan diantar oleh
ibu dan kakak kandungnya karena pasien merasa ada orang yang ingin
membunuhnya sehingga pasien ketakutan dan merasa ingin bunuh diri
sejak 2 hari yang lalu.
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Alloanamnesis
Ibu dan kakak kandung pasien membawa pasien ke RS Jiwa
Soeharto Heerdjan karena pasien 2 hari SMRS sering merasa ketakutan
akan ada yang membunuhnya dan pasien berusaha ingin bunuh diri.
Menurut pengakuan keluarga, pasien memberitahu keluarganya jika ada
orang yang akan membunuhnya, dan sedang menunggu didepan rumah.
Pasien menjelaskan jika orang itu hampir setiap hari datang kerumah
untuk menemuinya lalu membunuhnya. Tapi keluarga pasien tidak
mempercayainya karena tidak pernah melihat sosok yang dibicarakan oleh
pasien. Keluarga pasien mengatakan pasien sangat ketakutan, dan ketika
ketakutan itu datang, pasien merasa dadanya sakit, dan seluruh badannya
gemetaran. Keluarga pasien mengatakan jika pasien sulit untuk tidur.
Pasien kadang suka terbangun di malam hari dan sulit untuk tidur kembali.
Keluarga pasien juga mengatakan pasien beberapa kali sempat ada usaha
bunuh diri dengan menyayatkan benda tajam ke pergelangan tangan kiri
pasien, tapi usaha tersebut diketahui oleh salah satu anggota keluarga dan
berhasil untuk mencegahnya. Pasien juga mencoba bunuh diri dengan cara
mematahkan kepalanya dengan tangannya sendiri.
Autoanamnesis

Pasien datang ke RS. Jiwa Grogol dr. Soeharto Heerdjan diantar


oleh ibu dan kakak kandungnya karena merasa takut ada orang yang ingin
membunuhnya.
Pasien 2 hari SMRS merasa diancam kembali akan dibunuh oleh
seorang laki-laki yang kira-kira berusia 20 tahun. Keluhan ini datang sejak
3 bulan yang lalu. Keluhan berawal dari kegemaran pasien bermain
Counter Strike, awalnya dari saling mengejek di chat permainan
tersebut, pasien mengaku orang yang ada di chat permainan tersebut tidak
diterima diejek oleh pasien, dan orang yang ada di permainan tersebut
mengatakan akan menghampirinya lalu membunuhnya. Sejak saat itu
pasien merasa selalu diterror akan dibunuh. Pasien mengatakan orang
tersebut

melacak

semua

identitasnya

melalui

Facebook.

Pasien

mengatakan orang tersebut akhirnya datang dengan membawa orang


banyak, sekitar 10 orang, dan membawa senjata tajam seperti pisau, golok,
dan juga balok kayu. Menurut pengakuan pasien, keesokan harinya orang
dalam permainan tersebut selalu datang ke depan rumahnya menunggu
sampai pasien keluar dan siap membunuhnya. Pasien sering mendengar
suara tembakan pistol, dan ada yang selalu membisikkan jika keluar rumah
akan mati.
Pasien merasa sangat kesal oleh keluarganya karena tidak ada
satupun yang mempercayai ceritanya. Pasien hanya ingin semua keluarga
besarnya berkumpul dirumahnya untuk melindunginya setiap saat. Pasien
merasa tidak aman tinggal dirumah, karena pasien merasa orang tersebut
selalu berkeliaran disekitar rumahnya.
Sehari-harinya pasien hanya makan, tidur, dan menonton televisi,
terutama film kartun Jepang. Semenjak mengalami gejala seperti ini
pasien tidak pernah lagi memainkan permainan tersebut.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya


1. Gangguan Psikiatrik
Pasien tidak pernah mengalami gangguan psikiatri sebelumnya.

2. Gangguan Medik
Pasien pernah merasa sakit diperut kanan bawah yang dicurigai
sebagai usus buntu, namun setelah di periksa ke dokter itu bukan suatu
penyakit usus buntu. Pasien belum pernah mengalami sakit serius yang
menyebabkan ia harus dirawat. Pasien juga belum pernah mengalami
kecelakaan ataupun dioperasi.
3. Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol
Sejak lulus SMA pasien mulai merokok karena ajakan temantemannya. Lalu berhenti merokok setelah mengalami gejala-gejala
yang

dialaminya

sekarang.

Pasien

mengaku

tidak

pernah

mengkonsumsi minuman alkohol atau obat-obatan terlarang.


D. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Pasien lahir spontan, cukup bulan, ditolong oleh bidan, tidak ada
komplikasi kelahiran, tidak ada trauma dan tidak ada cacat bawaan.
Ibu pasien tidak pernah sakit saat mengandung pasien dan pasien
merupakan anak yang diinginkan. Pasien merupakan anak ke empat
dari empat bersaudara.

2. Masa Kanak Awal (0-3 tahun)


Pasien tergolong anak yang sehat dengan proses tumbuh kembang
dan tingkah laku normal dengan anak seusianya. Pasien tidak pernah
mengalami trauma maupun kejang saat kecil.
3. Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)
Masa ini dilalui dengan baik, tumbuh kembang baik dan normal
seperti anak seusianya. Pasien tidak begitu banyak memiliki teman dan
tidak pernah tinggal kelas, prestasi belajar pasien rata-rata.

4. Masa Kanak Akhir (Pubertas Remaja)


a. Hubungan Sosial
Hubungan pasien dengan lingkungan cukup baik. Pasien tidak
begitu banyak memiliki teman dan kurang pandai bergaul. Semasa
duduk di bangku SMA, pasien menjadi bahan ejekan teman-teman
sekelasnya karena memiliki bibir yang maju seperti artis Dono. Pasien
mengaku sakit hati tapi tidak melakukan perlawanan.
b. Riwayat Pendidikan
Pasien pernah bersekolah di:

SDN 04, Jakarta Selatan (7-12 tahun). Pasien tidak pernah tinggal
kelas. Pasien memiliki cukup banyak teman dan dapat bergaul
dengan baik, prestasi belajar pasien cukup baik. Pasien
mendapatkan peringkat ke 1 atau 2 semasa duduk di kelas 1-6 SD.

SMP PERIGI, Tangerang, Bintaro (13-16 tahun). Pasien tidak


pernah tinggal kelas. Pasien memiliki cukup banyak teman, dan
sering bermain bersama teman-temannya. Pasien pernah menjuarai
lomba renang antar sekolah saat duduk dikelas 2 SMP, dan
mendapatkan juara 2, penghargaan yang dia dpt berupa piagam dan
uang sebesar Rp. 100.000,-.

SMA Arif Rahman Hakim, Bintaro (16-18 tahun). Pasien tidak


pernah tinggal kelas. Pasien masuk jurusan IPA. Pasien kurang
memiliki banyak teman, dan kurang bersosialisi karena kurang
percaya diri akan perawakan wajahnya. Pasien pernah dipuji oleh
gurunya karena gambarnya bagus. Hasil gambar pasien pernah
dipajang di mading sekolahnya. Semenjak duduk di bangku SMA,
pasien mengaku baru mengenal permainan-permainan di komputer
dan sering bermain PlayStation.

c. Riwayat Psikoseksual
Menurut dirinya, pasien termasuk tipe yang susah untuk
mendapatkan pasangan karena menurut pasien wajahnya tidak tampan

dan bukan orang yang mempunyai banyak uang. Pasien mengaku


pernah menjalani hubungan dengan seorang wanita semasa duduk di
bangku 2 SMP. Perempuan itu pasangan pertama sekaligus terakhir
untuknya. Hubungan itu berakhir karena terdapat kesalahpahaman
diantara mereka berdua. Pasien merasa sedih pada saat itu, tapi seiring
berjalannya waktu pasien bisa melupakannya. Setelah itu pasien tidak
pernah menjalani hubungan lagi dengan lawan jenis hingga sekarang.
d. Latar Belakang Agama
Pasien beragama Islam, dan taat dalam beribadah saat pasien
belum sakit maupun saat sakit. Pasien mengaku rajin sholat 5 waktu.
e. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien tidak memiliki riwayat penangkapan oleh pihak yang
berwajib.
5. Masa Dewasa
a. Riwayat Pekerjaan
Setelah lulus SMA, pasien mengaku sempat duduk di bangku
kuliah selama 1 bulan, namun berhenti karena masalah biaya. Pasien
sempat kuliah di jurusan Tehnik Informatika. Disana pasien diajarkan
belajar bahasa inggris. Setelah berhenti dari kuliah, pasien mengaku
bekerja sebagai satpam di Bank BTPN, dan hanya bertahan selama 1
bulan karena pasien mengaku gajinya selalu dipotong dan diambil oleh
kepala satpam yang ada disana, tanpa ada alasan yang jelas. Setelah itu
pasien bekerja sebagai Barista di Double Dipps. Pasien hanya
bertahan selama 6 bulan disana, karena pasien mengaku lelah harus
bolak-balik rumah dan tempat kerjanya yang jaraknya lumayan jauh.
b. Aktivitas sosial
Menurut ibu pasien, sebelum sakit pasien merupakan orang yang
tidak mudah bergaul dan hanya memiliki beberapa teman dekat. Pasien

tidak pernah terlibat perkelahian sebelumnya. Setelah sakit pasien


makin tidak mempunyai teman dan hanya mengurung diri didalam
rumah.
c. Riwayat Pernikahan
Pasien belum pernah menikah.
E. Riwayat Keluarga
Pasien anak ke empat dari empat bersaudara. Kakak pertama
pasien perempuan, sudah menikah dan memiliki 2 orang anak. Kakak
kedua pasien laki-laki belum menikah. Kakak ketiga pasien perempuan,
sudah menikah dan memiliki 1 orang anak. Ayahnya tinggal di Riau
bersama kakaknya yang pertama, dan ibunya tinggal di Jakarta bersama
kakak lakinya yang kedua.

POHON KELUARGA

Keterangan gambar:

F. Riwayat Sosial Ekonomi Sekarang


Saat ini pasien tidak memiliki pekerjaan dan tidak memiliki
penghasilan.
G. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya
Pasien mengetahui jika dirinya sedang berada di RSJSH daerah
Grogol. Pasien mengatakan dirinya dibawa kesini karena pasien merasa
ketakutan akan dibunuh oleh seseorang, dan sering mendengar suara yang
mengancam dan suara pistol.

A. STATUS MENTAL
Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien seorang laki-laki dengan tinggi sekitar 170 cm dengan
berat badan sekitar 50 kg, pasien tampak sesuai dengan usianya.
Bentuk tubuh proposional dan memiliki kulit kecoklatan. Pada saat
wawancara pasien mengenakan pakaian kaus berwarna coklat muda,
dan menggunakan celana panjang berwarna coklat muda, rambut lurus
dengan panjang kurang lebih 1cm bewarna hitam. Tubuh pasien
terawat cukup baik. Kuku tampak pendek namun agak kotor.
2. Kesadaran
Kesadaran Neurologis / sensorium
3. Perilaku dan aktivitas motorik

: Compos mentis

Sebelum wawancara

: Pasien terlihat duduk bersama temannya di

Selama wawancara

depan televisi.
: Pasien duduk dengan tenang di depan
pemeriksa, terdapat kontak mata antara
pasien dengan pemeriksa. Perhatian pasien
tidak mudah teralih. Pasien dapat menjawab
pertanyaan dengan jelas. Pasien menjawab
pertanyaan yang diajukan dengan panjang

Sesudah wawancara

lebar dan tidak terlihat ketakutan.


: Pasien kembali duduk dengan temannya.

4. Sikap terhadap pemeriksa


Kooperative, pasien menjawab semua pertanyaan pewawancara
dengan spontan dan cukup jelas.
5. Pembicaraan
Cara berbicara
Gangguan berbicara
Pembicaraan

: Spontan, dan jelas


: Tidak ada gangguan
: Baik, maksud tiap kata jelas.

B. Alam Perasaan
1. Keadaan perasaan (mood)
2. ekspresi afektif

: Eutim

Afek

: luas

Keserasian

: serasi

C. Fungsi Intelektual (Sensorium dan Kognitif)


1. Taraf pendidikan
: SMA
Taraf pengetahuan Umum
: Baik
Taraf kecerdasan
: Sesuai dengan pendidikannya
2. Daya konsentrasi
: Baik
3. Daya ingat jangka panjang
: Baik
Daya ingat jangka pendek
: Baik
Daya ingat sesaat
: Baik
4. Daya orientasi waktu
: Baik (pasien dapat mengetahui
waktu wawancara pada siang hari)
Daya orientasi tempat
: Baik (pasien sadar bahwa pasien
sekarang sedang berada di RSJSH)
10

Daya orientasi personal

: Baik (pasien mengetahui sedang


diwawancarai oleh dokter muda)
: Baik ( pasien tahu bahwa situasi
sekeliling saat wawancara tenang)
: Baik ( Pasien mengetahui pepatah
berakit rakit ke hulu berenang

Daya orientasi situasi


5. Pikiran abstrak

renang ke tepian, dan ada udang


dibalik batu )
6. Kemampuan menolong diri

: Baik ( pasien dapat mandi, makan,


minum, memakai atau mengganti
pakaian sendiri )

7. Kemampuan Visouspatial

: Baik

8. Bakat dan Kreatif

: Baik

Gangguan Persepsi
Halusinasi

: Halusinasi Audiotorik dan Visual (pasien


mendengar bisikan-bisikan jika dia keluar
rumah akan dibunuh, dan pasien melihat
seorang laki-laki yang selalu menunggunya
didepan rumah dengan membawa senjata

Ilusi
Depersonalisasi

tajam).
: Tidak Ada
: Tidak Ada

Derealisasi

: Tidak Ada

Proses Pikir
1. Arus pikir
Produktivitas
Kontinuitas pikiran
Hendaya berbahasa
2. Isi pikir
Preokupasi

: Cukup
: Koheren
: Tidak Ada

Waham

: Tidak Ada
: Waham Kejar (pasien merasa ketakutan
akan dikejar-kejar oleh orang yang akan
membunuhnya)

11

Pengendalian Impuls
Kemampuan mengendalikan impuls cukup baik (Pasien tidak marah bila
pada saat sesi wawancara ada pasien lain yang bertanya kepada
pewawancara).

Daya Nilai
1. Daya nilai sosial
2. Uji daya nilai
3. Daya nilai realita

: Baik
: Baik
: Terganggu (terdapat waham kejar dan

halusinasi auditorik dan visual)


Tilikan

: Derajat 2 (agak menyadari bahwa mereka

adalah sakit dan membutuhkan bantuan tetapi dalam waktu yang


bersamaan menyangkal penyakitnya)
Taraf dapat dipercaya : dapat dipercaya
IV.

STATUS FISIK
A. Status Internus
Keadaan Umum
Kesadaran

: Baik
: Compos mentis

Tanda vital:
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernafasan

:
:
:
:

110/80 mmHg
84x/ menit
febris
24 x/menit

Pemeriksaan Fisik:
Bentuk badan

: Normal

Kepala
Mata
Mulut
Leher
Thoraks

:
:
:
:
:

Normocephali
Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/Bibir berwarna kehitaman, pucat, agak kering.
KGB dan tiroid tidak teraba membesar
Cor : S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo : suara nafas vesikuler, rhonki -/-,
12

Urogenital
Ekstremitas

wheezing -/: Datar, tidak ada nyeri tekan, hepar dan lien tidak
teraba membesar, bising usus (+)
: Tidak dilakukan pemeriksaan
: Akral hangat, deformitas (-)

Dermatologis

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Abdomen

B. Status Neurologis
Tanda rangsang meningeal
Refleks fisiologis

V.

: Tidak ada kelainan


: Tidak ada kelainan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan darah lengkap
Laboratorium:

Hb

: 13,5 mg/dL

Eritrosit

: 4,5 juta/mm

LED

: 2 mm/ jam

Leukosit

: 8.200mm

Trombosit

: 219.000 U/L

Hematokrit

: 40 g%

Hitung jenis:
-

Basofil

: 0%

Eosinofil

: 3%

Batang

: 3%

Segmen

: 67 %

Limfosit

: 23 %

Monosit

: 4%

Kimia Darah

Glukosa sewaktu

: 124 mg/dl

SGOT

: 17

SGPT

: 25

13

Ureum

: 10

Kreatinin

: 0,7

VI.

IKTHISAR PENEMUAN BERMAKNA


Pasien seorang laki-laki berusia 25 tahun, beragama Islam, belum
menikah, penampilan pasien sesuai dengan usianya. Perawakannya sedang
dengan rambut berwarna hitam lurus dengan panjang 3cm, kulit sawo
matang, berpakaian cukup rapih berupa baju berwarna coklat muda polos
berlengan pendek, dan menggunakan celana panjang berwarna coklat muda.
Pasien datang ke RS. Jiwa dr Soeharto Heerdjan pada tanggal 21
September 2014, diantar oleh ibu kandung dan kakaknya karena pasien
merasa ketakutan dan berkeinginan untuk bunuh diri sejak 2 hari sebelum
masuk rumah sakit. Selama wawancara pasien cukup kooperatif dalam setiap
menjawab pertanyaan. Kontak mata pasien terlihat berani dalam menjawab
pertanyaan pewawancara dan konsentrasi pasien cukup baik. Cara berbicara
pasien spontan, jelas dan mudah di pahami. Keadaan perasaan (mood) pasien
Eutim, Afek pasien sesuai, keserasian pasien serasi. Pada fungsi Intelektual
(Sensorium dan Kognitif) taraf pendidikan pasien sekolah SMA, taraf
pengetahuan umum cukup baik, taraf kecerdasan pasien sesuai dengan
pendidikannya, daya konsentrasi pasien baik, daya ingat jangka panjang
pasien baik (pasien menceritakan riwayat kehidupan pasien saat sekolah),
daya ingat jangka pendek pasien baik (pasien dapat mengingat menu makan
pagi dan siang), daya ingat sesaat pasien baik (pasien dapat mengingat nama
dokter muda), daya orientasi waktu baik (pasien dapat mengetahui waktu
wawancara pada siang hari), daya orientasi tempat pasien baik (pasien sadar
bahwa sekarang pasien sedang berada di RSJSH), daya orientasi personal
pasien baik (pasien mengetahui sedang diwawancarai oleh dokter muda),
daya orientasi situasi pasien baik (pasien tahu bahwa situasi sekeliling saat
wawancara), pikiran abstrak pasien baik. Kemampuan menolong diri pasien
baik (pasien dapat mandi, makan, minum, memakai atau mengganti pakain

14

sendiri). Kemampuan Visouspatial pasien baik, Bakat dan Kreatif pasien


baik.
Terdapat halusinasi auditorik dan visual, arus pikir pasien baik,
produktivitas pasien cukup baik, kontuinuitas pikiran pasien koheren,
hendaya berbahasa tidak ada, ada gangguan isi pikir dimana pasien memiliki
waham kejar (pasien merasa ada seseorang yang mengikutinya dan akan
membunuhnya). Kemampuan mengendalikan impuls cukup baik (Pasien
tidak marah bila pada saat sesi wawancara ada pasien lain yang bertanya
kepada pewawancara), daya nilai sosial pasien baik, Uji daya nilai pasien
baik, daya nilai realita pasien terganggu. Derajat tilikan derajat 2 (agak
menyadari bahwa mereka adalah sakit dan membutuhkan bantuan tetapi
dalam waktu yang bersamaan menyangkal penyakitnya), taraf dapat
dipercaya pasien dapat dipercaya.
VII.

FORMULASI DIAGNOSTIK
Aksis I : Gangguan klinis dan kondisi klinis yang menjadi fokus
perhatian klinis.
Berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna, maka kasus ini dapat
digolongkan ke dalam :
Pasien Tn. R umur 25 tahun mengalami distress yang disebabkan hendaya
pada :

Isi pikir

halusinansi

auditorik dan visual, dan waham kejar

Dari adanya 2 gejala tersebut, menurut PPDGJ III termasuk ke dalam


diagnosis penyakit skizofrenia paranoid karena memenuhi kriteria
diagnostik :

Memenuhi kriteria umum skrizofrenia: waham kejar, halusinasi


akustik dan visual

Onset lebih dari 1 bulan

15

Maka oleh sebab itu pasien ini didiagnosis oleh Schizophrenia Paranoid
Gangguan jiwa ini sebagai GMNO karena tidak adanya :
-

Penurunan kesadaran patologis

Gangguan sensorium atau gangguan neurologik

Gangguan fungsi kognitif (memori, intelektual, dan belajar)

Faktor organik spesifik

Diangnosis banding : Gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif


Aksis II : Gangguan Kepribadian dan Retardasi Mental
Tidak ada diagnosis
Aksis III : Kondisi Medis Umum
Pasien menderita Herpes Zooster dengan ditemukannya vesikel-vesikel
kecil berkelompok di daerah dada kiri bagian depan dan belakang dan
lengan atas kiri.
Aksis IV : Problem Psikososial dan Lingkungan
Masalah dengan primary support group (keluarga)
Aksis V : Penilaian Fungsi Secara Global
Global Assesment of Functioning (GAF) Scale

Pada Aksis V GAF HLPY (highest level past year) 70-61,


beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi,
secara umum masih baik. GAF pada saat ini adalah 70-61 ,
beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi,
secara umum masih baik.

VIII.

EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I : F20.0 Skizofrenia Paranoid
Aksis II : Tidak ada diagnosis
Aksis III : Herpes Zooster
Aksis IV : Masalah dengan primary support group (keluarga) dan ekonomi
Aksis V : GAF pada saat ini adalah 70-61 , beberapa gejala ringan dan
menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik.

IX.

DAFTAR PROBLEM
1. Organobiologik

: Tidak ditemukan kelainan organik dan tidak

16

didapatkan faktor herediter


2. Psikologik

Afek : luas
Halusinasi auditorik dan visual
RTA terganggu
Tilikan derajat 2 (agak menyadari bahwa mereka adalah sakit dan
membutuhkan bantuan tetapi dalam waktu yang bersamaan
menyangkal penyakitnya.)
3. Sosiobudaya : tidak ada
X.

PROGNOSIS
Faktor yang mempengaruhi :
a. Faktor yang memperberat

Onset pada usia muda

Belum menikah

Riwayat sosial ekonomi rendah

Hubungan kurang dekat dengan keluarga

b. Faktor yang memperingan :

Keinginan pasien untuk sembuh

Kesimpulan: Dubia Ad Bonam


XI.

PENATALAKSANAAN
1. Psikofarmaka
Risperidone 2 x 2 mg per hari
THP 2 x 2 mg per hari
2.

Psikoterapi

Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menceritakan


masalahnya dan meyakinkan pasien bahwa ia sanggup mengatasi
masalah yang dihadapinya.

Memotivasi pasien agar selalu berpikir positif

17

Memberikan pujian jika pasien mampu melaksanakan tugas yang


diberikan

Memotivasi pasien agar rajin minum obat dengan teratur

3. Sosioterapi :

Melibatkan pasien dalam berbagai aktivitas di RSJSH, seperti


kegiatan rehabilitasi dengan melatih keterampilan pasien, selain itu
untuk memotivasi pasien agar mudah bergaul dengan pasien lain
dan diikut sertakan dalam kegiatan rohani.

18