Anda di halaman 1dari 12

BAB I

ORIENTASI DAN METODOLOGI PELATIHAN

A. Pengantar
Tenaga kerja Indonesia adalah orang yang rela berkerja diluar negri untuk
memenuhi kebutuhan keluarganya selain memenuhi kebutuhan keluarganya negara
juga mendapati devisa atas jasa yang diberikan mereka dinegri yang membutuhkan
tenaga kerja untuk membantu negara negara yang kekurangan tenaga kerja seperti
malaysia, singapura dan beberapa Negara lainnya.
Data tahun 2014 menunjukan angka keberangkatan TKI masih sangat tinggi,
berdasarkan laporan Badan Nasional Pemempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia (BNP2TKI) 429.872 orang Indonesia mencoba mencari peruntungan di
negeri orang. Dari data tersebut pula tercatat hanya 247.610 orang atau 58% sebagai
TKI Formal, sedangkan sisanya 182.262 jiwa masuk dalam kategori TKI non Formal.
Modul dalam buku ini dibagi dalam tujuh bagian, modul pertama menjadi
pembahasan awal dimana Bagian ini akan membahas mengenai bagaimana memulai
pelatihan, bagaimana membuat kesan pertaman yang baik terhadap peserta sehingga
peserta bersemangat mengikuti pelatihan, selain itu peserta diberikan pengetahuan
mengenai orientasi pelatihan, metodologi pelatihan dan aturan pelatihan. Modul ke
Dua Menjadi bagian pokok awal pelatihan, dimana peserta diberikan pengertianpengertian tentang has asasi manusia, sejarah hak asasi manusia dan bagaimana
perkembangan hak asasi manusia. Bagian ini adalah penjelasan mengenai apa itu
Tenaga Kerja Indonesia dan siapa saja Tenaga Kerja Indonesia.
Modul ke Tiga akan memberikan Penjabaran mengenai instrument Hukum
Nasional dan Hukum Internasional mengenai Tenaga Kerja Indonesia. Modul ke
Empat ini akan membahas mengenai HAM bagi TKI, spesifikasi HAM bagi TKI, hak
dan kewajiban TKI, Pengertian mengenai pelanggaran HAM dan apa saja yang harus
dilakukan jika terjadi pelanggaran HAM serta masalah-masalah HAM yang sering
terjadi.
Selanjutnya Modul ke Lima Akan membahas mengenai Pengertian Pra
Pemenpatan, Penempatan dan Purna Penempatan serta Pelanggaran HAM yang bisa
terjadi dalam setiap tahapan dan terakhir dalam Modul ke Enam Membahas
mengenai pengertian dan perbedaan TKI berdokuman dengan TKI tidak berdokumen
serta akibat hukum dari keduanya.

B. METODE TRAINING
Pelatihan ini menggunaka metode andragogi. Dari segi definisi, andragogi
adalah seni dan ilmu mengajar orang dewasa (Knowles, 1980). Sebagai ilmu, tidak
ubahnya seperti ilmu yang lain, tentunya andragogi dapat dipelajari oleh siapa saja
karena ia mengikuti hukum hukum keilmuan pada umumnya yang bersifat objektif.
Sebagai seni atau kiat, andragogi adalah krativitas yang merupakan kecakapan kreatif
dan keahlian seseorang yang terkait dengan rasa estetika, terikat dengan kepribadian,
karakter atau watak di pendidik. Ada pendidik yang sangat piawai dalam
memengaruhi dan memperlakukan anak anak didiknya yang berdampak pada rasa
senang dan simpati kepada si pendidik. Dengan kesabarannya, ketelatenannya dan
rasa humornya, seorang pendidik lebih memikat hari anak lebih dari yang lain. Begitu
sebaliknya, ada pendidik yang kurang dapat melakukan hal hal seperti dimaksudkan
tadi walaupun mungkin dia sangat menguasai dan pandai secara keilmuan.
Tampaknya ilmu mendidik saja belum cukup dan harus dipadukan dengan seni.
Demikianlah, sebenarnya mendidik merupakan perpaduan antara ilmu dan seni dalam
membantu orang lain, baik anak ataupun orang dewasa, dalam belajar.
Dalam Andragogi inilah, kita kenal istilah-istilah Enjoy Learning, Workshop,
Pelatihan Outbond,dll, Hal ini sejalan dengan pendapat Aristoteles tentang prinsip
pendidikan yaitu sebagai wahana pengkajian fakta-fakta, mencari yang obyektif,
melalui pengamatan atas kenyataan.
Kegiatan pendidikan baik melalui jalur sekolah ataupun luar sekolah memiliki
daerah dan kegiatan yang beraneka ragam. Pendidikan orang dewasa terutama
pendidikan masyarakat bersifat non formal sebagian besar dari siswa atau pesertanya
adalah orang dewasa, atau paling tidak pemuda atau remaja. Oleh sebab itu, kegiatan
pendidikan memerlukan pendekatan tersendiri. Dengan menggunakan teori andragogi
kegiatan atau usaha pembelajaran orang dewasa dalam kerangka pembangunan atau
realisasi pencapaian cita-cita pendidikan seumur hidup dapat diperoleh dengan
dukungan konsep teoritik atau penggunaan teknologi yang dapat dipertanggung
jawabkan.
ALOKASI WAKTU

No

Modul

Durasi

(menit)
1
2
3
4
5
6
7

ORIENTASI DAN METODE TRAINING

MEMAHAMI HAM DAN MENGENAL TKI


INSTRUMEN HUKUM

HAM, TKI DAN KEWAJIBANNYA


TAHAPAN MIGRASI
TKI BERDOKUMEN DAN TIDAK BERDOKUMEN
EVALUASI
TOTAL

180
180
120
180
120
120
120
1.020

Waktu yang diperlukan adalah selama 1020 menit atau 17 jam atau kira-kita 3
hari 2 malam.
TUJUAN MODUL
1. Peserta mengetahui latar belakang, tujuan, dan sasaran pelatihan
2. Peserta dapat saling mengenal
3. Peserta bersama-sama mengembangkan aturan bersama selama pelatihan untuk
memastikan terbanguya dinamika kelompok yang efektif
4. Peserta dapat memahami konteks HAM dan mengimplementasikan selama mejadi
buruh migrant (TKI).
Kegiatan pembukaan ini berisi Perkenalan,Orientasi Latihan, Metodologi
Latihan dan Kontrak Latihan.
1. Kegiatan Pembukaan 30 Menit
2. Kegiatan Perkenalan 90 Menit
3. Kegiatan Orientasi Latihan 20 Menit
4. Kegiatan Metodologi Latihan 20 Menit
5. Kegiatan Kontrak Latihan 20 Menit

Bahan Belajar yang akan dipakai adalah :


1. Name tag
2. Alur belajar

3. Jadual acara
4. Modul pelatihan
5. Modul bacaan
6. Spidol
7. Kertas plano dan papan flipchart
8. Kartu metaplan
9. Tape kertas

Kegiatan Pertama
PEMBUKAAN

TUJUAN
1. Peserta memahami latar belakang pelatihan termasuk lembaga-lembaga yang
bekerjasama dalam penyelenggaraan pelatihan ini.
2. Peserta paham tentang latar belakang, tujuan dan sasaran pelatihan
3. Peserta paham kapasitas pelaksana dalam mengintegrasikan HAM dan TKI

ALOKASI WAKTU
30 Menit

30 Menit Pembukaan
1. Kordinator kegiatan menyambut kehadiran peserta dan mengundang perwakilan
pejabat setempat dan dari organisasi penyelenggara untuk memberikan sambutan
pembukaan
2. Perwakilan organisasi menjelaskan pengatar kegiatan, menguraikan latar belakang
dan membuka acara pelatihan
3. Pejabat setempat memberikan sambutan diakhiri pembukaan acara secara resmi
4. Kordinator kegiatan memberiakan penjelasan yang bersifat teknis, termasuk jadual,
serta hal-hal yang mendukung terselenggaranya pelatihan.
5. Kordinator kegiatan memperkenalkan fasilitator untuk memandu kegiatan pelatihan

Kegiatan Kedua
PERKENALAN

TUJUAN
1. Peserta mengenal nama-nama peserta satu sama lain
2. Peserta mengenal latar belakang dan karakter peserta lain
3. Peserta dapat mulai bekerjasama dengan peserta lain

ALOKASI WAKTU
90 Menit

DESKRIPSI
10 Menit Metode A memperkenalkan Pasangan
1. Fasilitator menjelaskan tujuan sesi ini dan keterkaitan dengan sesi selanjutya.
2. Fasilitator membagi peserta dalam kelompok kecil berangotakan 2 orang dari asal
lembaga yang berbeda
3. Peserta mewawancarai data pribadi pasangannya seperti nama, jabatan, alamat dan
kebiasaan atau hobby.
80 Menit Metode B Perkenalan kelas
1. Peserta diminta memperkenalkan pasangannya dikepada seluruh kelas
2. Fasilitator mengudang peserta untuk menanyakan tentang bagaimana kesan dan
pengalaman tersebut bagi mereka

Kegiatan Ketiga
ORIENTASI DAN METODOLOGI LATIHAN
TUJUAN

1. Peserta dapat menyatakan harapan pribadi mereka dari pelatihan ini yang akan
dikembangkan oleh fasilitator menjadi harapan bersama dari seluruh peserta.
2. Peserta memahami metodologi pendidikan orang dewasa sebagai dasar asumsi dalam
perancangan pelatihan
3. Peserta mendapat modul pelatihan sebagai bahan belajar dan mengerti bagaimana
menggunakan modul tersebut.
ALOKASI WAKTU
40 Menit

DESKRIPSI
20 Menit Tahap I Orientasi
1. Fasilitator membuka wawasan tentang tujuan pelatihan sebagai awal untuk peserta

mulai mengemukakan harapannya.


2. Fasilitator memberikan kartu metaplan dan meminta mengisi harapannya dikartu
tersebut. Setiap kartu berisikan satu harapan.
3. Fasilitator mengumpulkan kembali kartu tersebut dan memulai membacakan harapanharapan dikartu tersebut. Fasilisator juga mengidetifikasikan harapan yang sejenis dan
menempelkan harapan tersebut dalam kertas plano.
4. Fasilitator mengembangkan harapan tersebut menjadi harapan bersama dan mulai
menjelaskan bagaimana metode latihan agar dapat menjawab harapan peserta.

20 Menit Tahap II Metodologi


1. Fasilitator akan menggali pandangan peserta tentang pendekatan pendidikan orang
dewasa.
2. Fasilitator menjelaskan alur belajar rancanan selama pelatihan.

Kegiatan keempat
KONTRAK PELATIHAN

TUJUAN

1. Peserta paham tentang hak dan kewajiban peserta.


2. Peserta dapat bersama-sama menyusun dan menyepakati aturan bersama untuk
dipatuhi selama pelatiha guna dapat melakukan dinamika kelompok yang efektif.
ALOKASI WAKTU
20 Menit

DEKSRIPSI
1. Fasilitor membantu peserta dalam mengembangkan sejumlah aturan dasar yang akan
berlaku selama pelatihan
2. Fasilitator memastikan peserta sepakat untuk menghormati aturan-aturan ini selama
pelatihan. Contoh aturan dasar misalnya :
a. Setiap peserta memiliki hak bicara dan didengarkan oleh seluruh kelas
b. Tepat waktu
c. Tidak merokok selama dikelas
d. Tidak menghidupkan suara HP silent
e. Dll
3. Fasilitator menuliskan pada kertas plano dan menayakan kembali kepada peserta
tentang hal yang telah disepakati dan meminta salah satu peserta untuk
menandatangani sebagai wujud komitmen bersama.

BAHAN BACAAN KEGIATAN III

Andragogi dan Pedagogi


Malcolm Knowles menyatakan bahwa apa yang kita ketahui tentang belajar
selama ini adalah merupakan kesimpulan dari berbagai kajian terhadap perilaku

kanak-kanak dan binatang percobaan tertentu. Pada umumnya memang, apa yang kita
ketahui kemudian tentang mengajar juga merupakan hasil kesimpulan dari
pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Sebagian besar teori belajar-mengajar,
didasarkan pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan
kebudayaan. Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah
"pedagogi" yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak
dan agogos berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin
anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai "suatu ilmu dan seni
mengajar kanak-kanak". Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum
sebagai "ilmu dan seni mengajar".
Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogi dengan pengertian
andragogi yang telah dikemukakan, harus dilihat terlebih dahulu empat perbedaan
mendasar, yaitu :
1. Citra Diri

Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada
saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat
membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Perubahan dari citra ketergantungan
kepada orang lain menjadi citra mandiri. Hal ini disebut sebagai pencapaian tingkat
kematangan psikologis atau tahap masa dewasa. Dengan demikian, orang yang telah
mencapai masa dewasa akan berkecil hati apabila diperlakukan sebagai anak-anak.
Dalam masa dewasa ini, seseorang telah memiliki kemauan untuk mengarahkan diri
sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk belajar terus berkembang dan seringkali
justru berkembang sedemikian kuat untuk terus melanjutkan proses belajarnya tanpa
batas. Implikasi dari keadaan tersebut adalah dalam hal hubungan antara guru dan
murid. Pada proses andragogi, hubungan itu bersifat timbal balik dan saling
membantu. Pada proses pedagogi, hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan
bersifat mengarah.
2. Pengalaman

Orang dewasa dalam hidupnya mempunyai banyak pengalaman yang sangat


beraneka. Pada anak-anak, pengalaman itu justru hal yang baru sama sekali.Anakanak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung sedemikian sering.
Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa justru dianggap
sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam pendekatan proses pedagogi,

pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak murid. Sebagian besar
proses belajar dalam pendekatan pedagogi, karena itu, dilaksanakan dengan cara-cara
komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan membaca dan
sebagainya. Pada proses andragogi, cara-cara yang ditempuh lebih bersifat diskusi
kelompok, simulasi, permainan peran dan lain-lain. Dalam proses seperti itu, maka
semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar.
3. Kesiapan Belajar

Perbedaan ketiga antara pedagogi dan andragogi adalah dalam hal pemilihan isi
pelajaran. Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan
bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan
diajarkan. Dalam pendekatan andragogi, peserta didiklah yang memutuskan apa yang
akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru sebagai fasilitator.
4. Nirwana Waktu dan Arah Belajar

Pendidikan seringkali dipandang sebagai upaya mempersiapkan anak didik untuk


masa depan. Dalam pendekatan andragogi, belajar dipandang sebagai suatu proses
pemecahan masalah ketimbang sebagai proses pemberian mata pelajaran tertentu.
Karena itu, andragogi merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah
nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih
baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu
pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan
yang ada saat ini. Untuk menemukan "dimana kita sekarang" dan "kemana kita akan
pergi", itulah pusat kegiatan dalam proses andragogi. Maka belajar dalam pendekatan
andragogi adalah berarti "memecahkan masalah hari ini", sedangkan pada pendekatan
pedagogi, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan informasi yang sedang
dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak.
Andragogi dapat disimpulkan sebagai :
1. Cara untuk belajar secara langsung dari pengalaman
2. Suatu proses pendidikan kembali yang dapat mengurangi konflik-konflik sosial,
melalui kegiatan-kegiatan antar pribadi dalam kelompok belajar itu
3. Suatu proses belajar yang diarahkan sendiri, dimana kira secara terus menerus
dapat menilai kembali kebutuhan belajar yang timbul dari tuntutan situasi yang
selalu
D. Prinsip-prinsip Belajar untuk Orang Dewasa

berubah.

1. Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam
kegiatan-kegiatan
2. Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi
dia dan ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari.
3. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan
praktis
4. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu
seseorang belajar lebih baik
5. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk
memanfaatkan

secara

penuh

pengetahuannya,

kemampuannya

dan

keterampilannya dalam waktu yang cukup


6. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari
warga belajar
7. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa
membantu pencapaian tujuan dalam belajar.