Anda di halaman 1dari 34

INSTRUMEN HAM NASIONAL DAN INTERNASIONAL

A. PENDAHULUAN
Banyak orang salah mengerti tentang hak asasi manusia
(HAM). Pertama, HAM dianggap sebagai senjata dari negaranegara

Barat

negara-negara

yang

dipaksakan

berkembang.

Ke

secara
dua,

sepihak

kepada

pelaksanaan

HAM

dianggap bukan hanya tanggungjawab negara tapi juga


tanggungjawab individu. Karena ituilah kemudian muncul
istilah "kewajiban asasi manusia". Kedua hal ini, terutama
yang ke dua, belakangan ini kerap diucapkan oleh kalangan
aparat dan pejabat di tanah air kita ini. Termasuk oleh
sejumlah akademisi dari sejumlah universitas.
Pemangku kewajiban HAM sepenuhnya adalah negara, dalam
hal ini adalah pemerintah. Kalau saja mau membuka-buka
dokumen tentang komentar umum mengenai pasal-pasal
dalam Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM), maka
kita akan menyadari akan kesalahan ini. Semua penjelasan
dalam komentar umum menyatakan bahwa perwujudan HAM
sepenuhnya

adalah

kewajiban

negara.

Negara

harus

menjalankan kewajiban pemenuhan HAM dalam bentuk


antara

lain

penghormatan (to respect), melindungi

(to

protect), dan memenuhi (to fullfil).


Semua aturan dan ketentuan mengenai HAM tak pelak lagi
selalu mengacu pada DUHAM. Salah seorang penggagas
DUHAM asal Lebanon, Rene Cassin, menyatakan bahwa isi
DUHAM sebetulnya bisa dibagi menjadi lima hal, yaitu hak

sipil (pasal 1-11), hak sosial (pasal 12-17), hak politik (pasal
18- 21), hak ekonomi dan budaya (pasal 22-27), serta
tanggungjawab negara 28-30.
Rene Cassin juga menyatakan bahwa ada beberapa kata
kunci yang memayungi pasal-pasal dalam DUHAM, yaitu
"biarkan saya menjadi diri saya sendiri" untuk pasal hak
sipil, "jangan campuri urusan kami" untuk pasal hak sosial,
"biarkan kami turut berpartisipasi" untuk pasal hak
politik, "beri kami mata pencaharian" untuk pasal hak
ekonomi dan budaya.
Adapun bangunan umum rujukan HAM bisa digambarkan
sebagaimana bagan berikut,
Bagan 1. Bangunan Instrumen HAM
Indonesia

pada

30

September

2005

meratifikasi

dua

perjanjian internasional tentang hak-hak manusia, yaitu


Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan
Budaya (International Covenant on Economic, Social and
Cultural Rights - ICESCR) dan Kovenan Interna-sional tentang
Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and
Political Rights- ICCPR).
Pada 28 Oktober 2005, pemerintah Indonesia mengesahkan
ICESCR menjadi UU No. 11/2005 dan ICCPR menjadi UU No.
12/2005. Dengan demikian, selain menjadi bagian dari sistem
hukum

nasional

maka

kedua

kovenan

ini

sekaligus

melengkapi empat perjanjian pokok yang telah diratifikasi

sebelumnya,

yaitu

CEDAW

(penghapusan

diskriminasi

perempuan), CRC (anak), CAT (penyiksaan), dan CERD


(penghapusan diskriminasi rasial). Pada 2011 pemerintah
Indonesia meratifikasi CRPD (perlindungan dan pemenuhan
hak penyandang disabilitas), dan pada 2012 meratifikasi
CMW (perlindngan buruh migran dan keluarganya).
Ratifikasi ini menimbulkan konsekuensi terhadap pelaksanaan
hak-hak

manusia,

karena

negara

Indonesia

telah

mengikatkan diri secara hukum. Antara lain pemerintah telah


melakukan kewqajiban untuk mengadopsi perjanjian yang
telah diratifikasi ini ke dalam perundang-undangan, baik yang
dirancang maupun yang telah diberlakukan sebagai UU. Yang
lain adalah pemerintah memiliki kewajiban mengikat untuk
mengambil

berbagai

langkah

dan

kebijakan

dalam

melaksanakan kewajiban untuk menghormati (to respect),


melindungi (to protect) dan memenuhi (to fullfil) hak-hak
manusia.

Kewajiban

ini

juga

diikuti

dengan

kewajiban

pemerintah yangh lain, yaitu untuk membuat laporan yang


bertalian dengan penyesuaian hukum, langkah, kebijakan dan
tindakan yang dilakukan.
Dalam hak-hak sipil dan politik, ada ba-tas antara hak-hak
yang tak dapat ditangguhkan (non-derogable rights) dengan
hak-hak yang dapat ditangguhkan. Yang termasuk dalam
kategori hak-hak yang tidak dapat ditangguhkan adalah hak
untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk tidak
diperbudak, hak atas kebebasan berpikir dan beragama serta
berkeyakinan, hak untuk diperlakukan sama di muka hukum,
hak untuk tidak dipenjara karena kegagalan memenuhi

kewajiban

kontraktual,

serta

hak

untuk

tidak

dipidana

berdasarkan hukum yang berlaku surut (retroactive). Hak


yang tak boleh dikurangi dalam kondisi apapun ini dinyatakan
secara jelas dalam Pasal 28i UUD 1945 dan juga dalam Pasal
4 Undang-Undang No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia.
Berikut adalah rincian hak-hak sipol sebagaimana tercantum
dalam UU No 12 Tahun 2005 yang merupakan ratifikjasi
terhadap kovenan internasional tentang hak sipil-politik.
Mengenai implementasi antara kedua kategori hak, baik yang
non- derogable maupun yang derogable. juga memiliki batasbatasnya, yaitu pada batas mana negara tak melakukan
intervensi dan pada batas mana pula intervensi harus
dilakukan.
Negara

tak

boleh

melakukan

intervensi

dalam

rangka

menghormati hak- hak setiap orang, terutama hak-hak yang


tak dapat ditangguhkan. Karena campur tangan negara justru
mengakibatkan

terjadinya

pelanggaran

atas

hak-hak

individu/kelompok. Sebaliknya, intervensi dapat dilakukan


atas dua hal; pertama, dalam situasi atau alasan khusus
untuk membatasi atau mengekang hak-hak atau kebebasan
berdasarkan UU; ke dua, dalam rangka untuk menegakkan
hukum atau keadilan bagi korban tindak pidana.
Karena itu, dalam menghormati dan melindungi hak-hak sipil
dan politik, ada dua jenis pelanggaran yang bertalian dengan
kewajiban negara. Pertama, seharusnya menghormati hak-

hak manusia, tapi negara justru melakukan tindakan yang


dilarang atau bertentangan ICCPR melalui campur-tangannya
dan

disebut

pelanggaran

melalui

tindakan

(violation

byaction). Kedua, seharusnya aktif secara terbatas untuk


melindungi hak-hak melalui tindakannya negara justru tak
melakukan apa-apa baik karena lalai dan lupa maupun absen,
disebut

pelanggaran

omission).

Jenis

melalui

pembiaran

pelanggaran

(violation

lainnya

adalah

by

tetap

memberlakukan ketentuan hukum yang bertentangan dengan


ICCPR yang disebut pelanggaran melalui hukum (violation by
judicial).
NO PASAL
1

HAK-HAK SIPIL DAN POLITIK

Pasal Hak untuk hidup (tidak dibunuh/dihukum


6

mati setidaknya bagi anak di bawah 18


tahun)
Pasal Hak untuk tidak disiksa, diperlakukan

2
7

atau dihukum secara keji, tak manusiawi


atau

merendahkan

martabat

manusia

(termasuk tidak diculik/dihiiangkan secara


paksa, diperkosa)
Pasal Hak untuk tidak diperbudak (larangan

3
8

segela bentuk perbudakan, perdagangan


orang, dan kerja paksa,)
Pasal Hak atas kebebasan dan

4
9

pribadi (tidak ditangkap atau di-tahan


dengan

keamanan

sewenang-wenang,

didasarkan

pada ketentuan hukum acara pidana)


Pasal Hak sebagai tersangka dan terdakwa
10

(diperlakukan

manusiawi,

anak

dipisahkan dari orang dewasa, sistem


penjara

bertujuan

reformasi

dan

rehabilitasi)
6

Pasal Hak untuk tidak dipenjara atas kegagalan


11

atau perjanjian lainnya)


Pasal Hak atas kebebasan
12

memenuhi kewajiban kon-traktual (utang


dan

berdomisili (termasuk meninggalkan dan

kembali ke negerinya sendiri)


Pasal Hak sebagai orang asing (dapat diusir
13

hanya sesuai hukum atau alasan yang


meyakinkan

bergerak

mengenai

kepentingan

keamanan nasional)
Pasal Hak atas kedudukan yang sama di muka
14

hukum (dibuktikan kesalah-annya oleh


pengadilan yang berwenang dan tidak
memihak, jaminan minimal, dapat ditinjau
kembali, tidak diadili dua kali dalam

10

perkara yang sama)


Pasal Hak untuk tidak dipidana berdasarkan
15

hukum yang berlaku surut (jika keluar


ketentuan hukum sebelum tindak pidana,
si

pelaku

harus

menda-patkan

keringanannya)
Pasal Hak sebagai subyek hukum (hak perdata

16
setiap orang seperti kewarga-negaraan)
12 Pasal Hak pribadi (tidak dicampuri atau
17

diganggu urusan pribadi seperti kerahasiaan, keluarga atau rumah tangga,


kehormatan,

13 Pasal
18

surat-menyurat

atau

komunikasi pribadi)
Hak atas kebebasan berpikir, beragama
dan

berkeyakinan

(menganut

ideologi

atau orientasi politik, memeluk agama


dan kepercayaan)

14

Pasal Hak
19

atas

(termasuk

kebebasan
mencari,

berpendapat

menerima

dan

menyebarkan informasi, dalam bentuk


karya seni/ekspresi atau melalui sarana
15

lainnya)
Pasal Hak untuk bebas dari propaganda perang
20

16

kebangsaan, ras, agama atau golongan)


Pasal Hak
atas
kebebasan
berkumpul
21

17

pertemuan,

arak-arakan

atau keramaian)
Pasal Hak
atas
kebebasan

berserikat

22
18

(mengadakan

(bergabung dalam perkumpulan, partai

politik atau serikat buruh)


Pasal Hak untuk menikah dan
23

19

dan hasutan rasial (kebencian atas dasar

keluarga

(tidak

membentuk

dipaksa,

termasuk

tanggung jawab atas anak)


Pasal Hak
anak
untuk
mendapatkan
24

perlindungan dan jaminan (setiap kelahiran anak didaftarkan dan memperoleh

20

kewarganegaraan tanpa diskriminasi)


Pasal Hak untuk berpartisipasi dalam politik
25

21

memilih,

dipilih

dan

tidak

memilih)
Pasal Hak untuk bebas dari diskriminasi dalam
26

22

(termasuk

hukum (semua orang dilindungi hukum

tanpa diskriminasi)
Pasal Hak
kelompok
27

minoritas

(perlu

mendapatkan perlindungan khusus)

Tabel 1: Hak-hak yang Dijamin dan Dilindungi UU No. 12/2005

Dalam pelaksanaan HAM ada berbagai instrumen baik


internasional maupun nasional yang menjadi acuan utama
sebagaimana tergambar dalam Bagan 2 dan Bagan 3.

Bagan 2 dan 3. Instrumen HAM Internasiona dan Nasional

B. KEWAJIBAN NEGARA YANG MENGIKAT


Setelah ratifikasi

ICCPR,

pemerintan Indonesia

memiliki

kewajiban yang mengikat secara hukum untuk melakukan


beberapa hal. Antara lain negara, dalam hal ini pemerintah,
harus

segera

melakukan

reformasi

hukum

dengan

menerjemahkan prinsip dan ketentuan yang terkandung


dalam ICCPR ke dalam hukum nasional. Pemerintah juga
harus segera melakukan harmonisasi hukum nasional dengan
menggunakan kerangka ICCPR. Semua peraturan perundangundangan yang tak sesuai dengan ICCPR harus dicabut dan
direvisi. Begitu juga dengan RUU yang telah dibahas dan
disiapkan hingga proses ratifikasi.
Selain itu pemerintah harus melakukan sosialisasi ICCPR yang
telah diratifikasi, sehingga banyak orang akan mengetahui
apa saja hak-hak sipil dan politik yang seharusnya dinikmati.
UU No 12/2005 berlakukan secara seragam di seluruh negeri
dan diharapkan tak ada yang bertentangan dengannya,
termasuk

yang

bertalian

dengan

kekuatiran

mengenai

kelemahan otonomi daerah atau otonomi khusus. Beberapa

provinsi dan ka-bupaten pun telah menerapkan pelaksana-an


syariat Islam dalam Peraturan Daerah (Perda), bahkan ada
yang mengusulkannya dalam revisi KUHP.
Namun demikian, hingga saat ini masih sering dijumpai
aparat penegak hukum harus bekerja dengan infrastruktur
pendukung hukum yang minim. INi adalah sebuah tantangan.
Penjara

dalam

kondisi

yang

sangat

memprihatinkan,

peraturan perundang-un-dangan tidak tersedia bagi para


hakim

dan

banyak

lagi

persoalan

lainnya.

Kebiasaan

pemerintah tanpa menyediakan infrastruktur pendukung atas


langkah-langkah

implementasi

hasil

ratifikasi

berbagai

perjanjian hak-hak manusia dapat dipandang sebagai sikap


tak mau (unwilling) atau abai untuk berbuat sesuatu,
termasuk bagaimana seharusnya semua aparatur berperilaku
yang dipertalikan dengan ICCPR tanpa kecuali pada lembagalembaga peradilan dan pengadilan, sehingga terasa kurang
berefek pada pelaksanaannya.
Dengan telah diratifikasinya ICCPR, pemerintah Indonesia
mempunyai kewajiban untuk membuat laporan mengenai
pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang harus disampaikan
pada Komite di PBB.

C. KEWAJIBAN NEGARA BERDASARKAN KOVENAN HAK


EKOSOB
Prinsip non-diskriminasi merupakan sebuah prinsip yang
secara

otomatis

menjadi

kewajiban

negara

dalam

pemenuhannya. Tidak dikenal implementasi prinsip nondiskriminasi secara bertahap. Karenanya, pemenuhannya
dilakukan secara seketika.
Obligasi negara dalam Pasal 2 ayat (2) Kovenan adalah
menjamin hak-hak dalam Kovenan Hak Ekosob dilaksanakan
tanpa diskriminasi apa pun seperti ras, warna kulit, jenis
kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat lainnya, asalusul kebangsaan atau status sosial, kekayaan atau lainnya.
Obligasi

Negara

dalam

konteks

ini

adalah

pernyataan

"komitmen" dan "kemauan baik", yang tidak mengenal


"setengah komitmen" atau "komitmen setengah-setengah"
melainkan "komitmen penuh" untuk menjamin prinsip nondiskriminasi, termasuk memastikan persamaan laki-laki dan
perempuan menikmati semua hak-hak ekosob yang dijamin
dalam Pasal 3 Kovenan.
Tabel 2: Hak-hak yang Dijamin dan Dilindungi UU No. 11/2005
NO

PASAL

Pasal 6

Hak atas Perkerjaan

Pasal 7

Hak untuk menikmati Kondisi Kerja yang adil

Pasal 8

dan Menyenangkan
Hak untuk membentuk dan Ikut serikat

Pasal 9

Buruh
Hak atas Jaminan Sosial termasuk asuransi

Pasal

sosial
Hak atas Perlindungan dan bantuan yang

10

seluas mungkin bagi keluarga, ibu, anak dan

Pasal

orang muda
Hak atas standar kehidupan yang memadai

3
4
5

HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA

11
7

Pasal

Hak

atas

untuk

menikmati

standar

12

kesehatan fisik dan mental tertinggi yang

Pasal

dapat dicapai
Hak atas Pendidikan

13
Pasal

Hak untuk ikut serta dalam kehidupan

14

budaya

Selain obligasi dalam Pasal 2 ayat (2) tersebut, obligasi dalam


Pasal 5 Kovenan juga dapat dipenuhi oleh Negara secara
seketika, yakni: menghancurkan hak-hak dan kebebasankebebasan

yang

diakui

dan

melakukan

pembatasan-

pembatasan melebihi prinsip yang diperbolehkan Kovenan.


Negara

dalam

hal

ini

dapat

mengimplementasikan

obligasinya dengan seketika.


Pada dasarnya semua pemenuhan hak ekosob memang
membutuhkan
(Pemda)

biaya.

belum

Misalnya,

mampu

jika

untuk

pemerintah

memberikan

daerah
fasilitas

perumahan yang layak dalam bentuk apapun, sebagaimana


menjadi obligasi negara berdasarkan Pasal 11 Kovenan maka
Pemda jangan melakukan penggusuran. Hal lain adalah
semua pemenuhan hak ekosob mesti menunggu sumber
daya yang berlimpah. Hal ini dinyatakan dalam Pasal 10
Kovenan memberikan perlindungan dan fasilitas bantuan
pada keluarga.
Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob

Dengan pengikatan Indonesia sebagai negara Pihak Kovenan


Hak Ekosob, maka penafsiran pasal-pasal dalam Kovenan,
maka penafsiran tentang isi kovenan ini tidak dapat "secara
sewenang-wenang" diklaim oleh lembaga- lembaga negara,
termasuk DPR dan pemerintah, namun mesti merujuk pada
naskah

asli

dan

sumber-sumber

yang

diakui,

seperti

penjelasan yang diadopsi Komite Hak-hak Ekonomi Sosial dan


Budaya (Komite Hak Ekosob)yang dibentuk berdasarkan
ketentuan Kovenan. Dalam konteks ini, UU No. 11 /2005,
Penjelasan

Pasal

ayat

(2)

dinyatakan,

jika

terdapat

perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa


Indonesia, naskah yang berlaku adalah naskah asli dalam
bahasa Inggris serta pernyataan (declaration) terhadap Pasal
1 Kovenan Hak Ekosob.
Hal tersebut penting kembali diingatkan. Sebagai contoh
berkaitan dengan "hak atas air" sebagai "hak asasi manusia"
sebagai elemen hak yang utama dalam Pasal 11 dan 12
Kovenan, maka DPR dan Pemerintah, mesti merujuk pada
pengertian "the right to water" sebagaimana dijabarkan
dalam Komentar Umum (General Comment) Komite Ekosob
No. 15 yang menjelaskan Pasal 11 dan 12 Kovenan. DPR dan
Pemerintah tidak dapat semena-mena menafsirkan hak atas
air sebagai "waterrights" ala Bank Dunia (World Bank) atau
penafsiran yang dianut UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya
Air, yang mengizinkan hak guna pakai dan hak guna usaha
atas

air,

yang

pada

prinsipnya

memperbolehkan

komersialisasi air untuk keuntungan orang seorang dan


badan usaha privat.

Jika didalami, Kovenan Hak Ekosob disusun, tidak lain dan


tidak bukan untuk perlindungan dan pemenuhan hak, agar
setiap orang dan kelompok masyarakat dapat menikmati
semua

katalog

hak

ekosob,

setinggi-tingginya

dan

semaksimal mungkin, yang bisa dicapai manusia. Di sinilah


kerangka kerja negara mesti disusun agar meningkatkan
penikmatan hak-hak ekosob semua orang, bukan sebaliknya
malah Negara berkontribusi terhadap penurunan (degradasi)
penikmatan hak ekosob warganegaranya.
Untuk tujuan tersebut, disiplin hukum internasional hak asasi
manusia

mengenalkan

"minimum

core

obligation"

atau

obligasi pokok yang paling minimum yang harus dipatuhi dan


diimplementasikan

negara.

Karenanya,

apakah

terjadi

pelanggaran obligasi negara atau tidak, akan dieksaminasi


dan diperiksa apakah negara yang bersangkutan telah
melakukan segala upaya menggunakan segala sumber daya
untuk melakukan obligasi pokoknya dalam pemenuhan hak
ekosob.
Atas jasa International Law Commission, disiplin hukum hak
asasi manusia mengenal 2 bentuk obligasi negara yang
pokok

berdasarkan

Kovenan

Hak

Ekosob:

obligations

ofconduct dan obligation ofresult.


Obligation of conduct, merupakan obligasi atau kewajiban
negara untuk melakukan sesuatu, semua upaya dan segala
tindakan untuk menerima (to mempromosikan (to promote),
menghormati (to respect), melindungi (to protect) dan

memenuhi

(to

fulfill)

memfasilitasi

(to

facilitate)

dan

menyediakan (toprovide) - penikmatan hak-hak ekosob.


Mengakui (to recognize)
Klasifikasi obligasi Negara dalam mengakui bahwa hak
ekosob merupakan hak asasi manusia. Dengan demikian jika
terjadi pelanggaran atau kejahatan hak-hak sipil politik, maka
semestinya

negara

mengakui

semua

mekanisme

dan

konsekwensi yang mesti ditanggung para pelaku pelanggaran


hak ekosob. Misalnya: jika banyak keluarga miskin yang tidak
dapat memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan;
tidak dapat memasukan anak-anaknya ke sekolah karena
mahalnya

biaya

berkompeten

pendidikan,
dalam

maka,
hal

mempertanggunjawabkannya

"dalam

pejabat

yang

ini,

mesti

sistem

hukum

di

Indonesia (justiciable).
Obligasi

negara

dalam

hal

mengakui

prinsip-prinsip

pemenuhan hak ekosob, juga secara tegas dinyatakan dalam


hal

upaya-upaya

bantuan

teknis

internasional.

Sebagai

contoh, negara berkewajiban untuk menerima "the essential


importance of international cooperation based on free
consent".
Mempromosikan (to promote)
Aparat

Negara,

termasuk

aparat

penegak

hukum

dan

birokrasi mesti melakukan promosi hak-hak ekosob. Promosi


bukan saja dilakukan melalui penyebaran iklan layanan

masyarakat tetapi juga melalui pelibatan masyarakat sipil


secara aktif.
Program-program promosi atau seringkali disebut dengan
sosialisasi mutlak wajib dilakukan. Hal ini agar dimungkinkan
adanya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan dan distribusi manfaat atau hasilhasil yang ingin dicapai oleh program pemenuhan hak
ekosob.
Partisipasi masyarakat semacam ini (full and meaningful
participation), dimungkinkan jika Negara mensosialisasikan
rencana, peraturan atau kebijakan "pembangunan" secara
luas agar dapat diketahui dan dipahami oleh publik.
Pentingnya negara dalam menjalankan obligasi promosi,
telah menjadi perhatian yang pokok oleh Komite Hak Ekosob,
termasuk dalam hal pelaporan yang dilakukan negara Pihak.
Menghormati (to respect)
Obligasi

penghormatan

yang

mesti

dilakukan

negara,

mempunyai makna, negara tidak melakukan tindakan yang


justru membatasi sebagian atau seluruhnya hak-hak ekosob
masyarakat. Pembatasan hanya dapat dilakukan dengan
maksud agar terpenuhinya hak-hak itu sendiri.
Dalam klasifikasi ini, antara lain, Negara wajib menghormati
persetujuan sukarela calon mempelai untuk melangsungkan
perkawinan (Pasal 10 ayat (1) Kovenan). Contoh lain, negara

tidak diperkenankan untuk melakukan intervensi baik melalui


peraturan perundangan atau kebijakan, maupun campur
tangan

langsung

hak

seseorang

atau

kelompok

untuk

membentuk serikat buruh/pekerja atas pilihannya sendiri atau


melakukan pemogokan (Pasal 8 Kovenan)
Melindungi (to protect)
Salah satu contoh yang paling prudent obligasi negara untuk
melindungi hak ekosob, yakni memastikan adanya "legal
security of tenure", 13 keamanan hukum kepemilikan atas
tanah. Keluarnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 35/2005
tentang

Pengadaan

Tanah

bagi

Pelaksanaan

Untuk

Kepentingan Umum, pada dasarnya bertentangan dengan


obligasi negara untuk melindungi hak atas tanah: karena
tidak diatur dengan jelas mekanisme perlindungan bagi
seseorang

atau

kelompok

masyarakat

yang

tanahnya

diambil-alih. Dalam Perpres ini seharusnya dimuat jaminan


reparasi (rehabilitasi, restitusi dan kompensasi) bagi si
pemilik tanah.
Contoh lain adalah memberikan perlindungan dalam bentuk
peraturan perundang-undangan agar setiap orang dapat
menikmati kondisi kerja yang adil dan menguntungkan,
termasuk memastikan pekerja/buruh memperoleh upah yang
adil, yang dapat menghidupi keluarganya secara layak,
kondisi kerja yang aman dan sehat, kesempatan memperoleh
promosi ke jenjang yang lebih tinggi, serta menikmati
istirahat, liburan dan pembatasan kerja yang wajar dan hakhak yang melekat didalamnya (Pasal 7 Kovenan).

Selanjutnya, Negara berdasarkan Pasal 10 ayat (2) Kovenan


wajib memberikan perlindungan khusus kepada para ibu
selama jangka waktu yang wajar sebelum dan sesudah
melahirkan,

karenanya

berhak

mendapat

cuti

dengan

upah/gaji dan jaminan sosial yang memadai. Sementara Pasal


10 ayat (3) Kovenan, meminta negara untuk melakukan
perlindungan bagi anak-anak dan remaja dari semua bentuk
eksploitasi ekonomi dan sosial.
Perlindungan, sebagai obligasi negara, juga dilakukan seperti
memastikan setiap orang bebas dari kelaparan (Pasal 11 ayat
(2) Kovenan) dan bebas untuk berpartisipasi dalam kehidupan
budaya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan).
Memenuhi: Memfasilitasi dan Menyediakan (to fulfill:
to facilitate and to provide)
Obligasi untuk memenuhi hak asasi manusia secara inheren
mempunyai

makna

Negara

melakukan

upaya

untuk

memfasilitasi dan menyediakanhak-hak ekosob setiap warga


negaranya. Perwujudan obligasi Negara untuk pemenuhan
hak ekosob, sebagaimana dimuat dalam Kovenan sebagai
berikut:
Menyediakan lapangan kerja dan memfasilitasi bimbingan
teknis, program-program pelatihan, dan kegiatan ekonomi
produktif (Pasal 6 Kovenan Hak Ekosob);
Menyediakan dan memfasilitasi jaminan sosial termasuk
asuransi sosial bagi setiap warga negara (Pasal 9 Kovenan
Hak Ekosob);

Menyediakan bantuan kepada keluarga untuk merawat


dan

mendidik

anak-anak

yang

masih

dalam

tanggungannya (Pasal 10 Kovenan Hak Ekosob);


Dengan kerjasama internasional, Negara menyediakan
dan memfasilitasi (akses) atas pangan, sandang dan
perumahan, dan perbaikan kondisi hidup semua orang
secara terus menerus (Pasal 11 Kovenan Hak Ekosob);
Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas standar
kesehatan fisik dan mental setinggi-tingginya yang dapat
dicapai (Pasal 12 Kovenan Hak Ekosob);
Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pendidikan,
termasuk

memenuhi

hak

setiap

orang

menikmati

pendidikan dasar yang wajib dan cuma-cuma (compulsory


and free of charge) (Pasal 13 dan 14 Kovenan Hak
Ekosob). Tidak seperti sekarang, "cuma" bayar SPP,
"cuma" bayar buku, dan seterusnya pungutan yang
membebani siswa dan orang tua murid;
Menyediakan dan memfasilitasi (akses) semua orang
untuk

menikmati

manfaat

dari

kemajuan

ilmu

pengetahuan dan penerapannya (Pasal 15 ayat (1)


Kovenan Hak Ekosob);
Obligasi Negara Menurut Pasal 2 Ayat (1) Kovenan Hak
Ekosob
Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob menyatakan: "Setiap
Negara

Peserta

Kovenan

iniberupaya

untuk

mengambil

langkahlangkah,secara sendiri maupun melalui bantuan dan


kerjasama internasional, khususnya dalam bidang ekonomi
dan teknis, sejauh dimungkinkan oleh sumberdaya yang
tersedia, yangmengarah pada pencapaian secara bertahap

demi

realisasi

sepenuhnyadari

hak-hak

yang

diakui

dalamKovenan ini dengan semua cara yangtepat, termasuk


pada

khususnya

dengan

mengadopsi

langkah-

langkah

legislatif".
Menurut Komite Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (Komite Hak
Ekosob), Pasal 2 tersebut mengandung kepentingan khusus
untuk mencapai pemahaman seutuhnya atas Kovenan dan
harus dilihat dalam hubungannya yang dinamis dengan
semua ketentuan Kovenan lainnya. Pasal 2 ini menjelaskan
sifat dari kewajiban yang umum ditempuh oleh Negara
Peserta Kovenan.
Selain itu, penting untuk memahami arti dari istilah-istilah
yang digunakan dalam Pasal 2 Kovenan untuk memahami
bagaimana

implementasi

kewajiban

Negara

seharusnya

dijalankan. Beberapa istilah seperti berupaya mengambil


langkah-langkah
dimungkinkan

(undertakes

oleh

sumberdaya

to

takesteps),

yang

tersedia

sejauh
(to

the

maximum available resources), pencapaian secara bertahap


demi realisasi sepenuhnya (achieving progressively the full
realization), dan dengan semua cara yang tepat, termasuk
pada

khususnya

dengan

mengadopsi

langkah-langkah

legislatif (by all appropriate means including particularly


adoption of legislative measures) adalah bersifat unik dan
tidak terdapat, atau tidak digunakan dalam obligasi yang
dimuat dalam Kovenan Internasional tentapg Hak-hak Sipil
dan Politik (Kovenan Hak Sipol).

Penggunaan

istilah

"Setiap

Negara

Peserta...

berupaya

mengambil langkah-langkah" sebagaimana tersebut dalam


Pasal

(1)

Kovenan

Hak

Ekosob,

memang

biasanya

ditafsirkan dengan kandungan arti implementasi Kovenan


secara bertahap. Namun demikian, Komite Hak Ekosob
melalui

Komentar

No.

telah

menjelaskan

bahwa,

"...walaupun realisasi sepenuhnya atas hak-hak yang relevan


bisa dicapai secara bertahap, namun langkahlangkah ke arah
itu harus diambil dalam waktu yang tidak lama setelah
Kovenan berlaku bagi Negara Peserta bersangkutan."
Langkah-langkah

tersebut

haruslah

dilakukan

secara

terencana, konkrit dan diarahkan kepada sasaran-sasaran


yang dirumuskan sejelas mungkin dalam rangka memenuhi
kewajiban-kewajiban Kovenan. Komite Hak Ekosob mengakui,
bahwa negaralah yang harus memutuskan langkah- langkah
yang tepat dan hal tersebut bergantung pada hak yang
hendak diimplementasikan.
Selanjutnya Komite menegaskan bahwa, laporan Negara
Peserta harus menyebutkan tidak hanya langkah-langkah
yang telah ditempuh namun juga alasan mengapa langkahlangkah tersebut dianggap sebagai paling tepat berikut
situasi-situasinya. Interpretasi Komite terhadap istilah 'all
appropriate measures' jelas berkaitan baik dengan kewajiban
melakukan (obligations ofconduct) maupun kewajiban hasil
(obligation ofresult).
Sementara itu berkait istilah 'mengadopsi langkah-langkah
legislatif' (adoption of legislative measures) Komite memberi

peringatan bahwa keberadaan hukum jelas penting tetapi hal


tersebut belumlah cukup membuktikan Negara Peserta telah
menjalankan kewajibannya sesuai Kovenan. Berdasarkan
pengalaman

Komite

ketika

membahas

laporan

Kanada

menyatakan, jika laporan difokuskan secara sempit pada


aspek-aspek legal semata, maka kecurigaan biasanya akan
muncul

berkenaan

dengan

adanya

kesenjangan

antara

peraturan perundang- undangan dengan praktik.


Dalam kenyataan, pembelajaran dan ekspresi dari banyak
Negara Peserta dalam mengimplementasikan kewajibannya
telah mendorong pentingnya aplikasi pendekatan berbasis
hakdalam "pembangunan". Suatu kebijakan ekonomi atau
pembangunan

memang

warganegaranya,
menunggu

tetapi

pemenuhan

untuk

mencapai

mereka
hak-hak

tidak
asasinya

kesejahteraan
dapat

dibuat

sampai

klaim

"pertumbuhan ekonomi" memungkinkan hal itu.


Kini ratifikasi Kovenan Hak Ekosob memberi pemahaman
mendasar bahwa peningkatan ekonomi haruslah secara nyata
didasarkan pada penghormatan dan realisasi hak asasi
manusia. Pada titik ini, Komite sekali lagi memberi peringatan
bahwa klausul realisasi secara progresif sepatutnya juga
dicerminkan pada pelaksanaan kewajiban yang menjamin
agar tidak terjadi perkembangan regresif atau kemunduran.
Jika hal itu pun terpaksa dilakukan dan terjadi, maka harus
dijalankan dengan pertimbangan yang sangat hati-hati,
dibutuhkan justifikasi penuh dengan mengacu pada inti hak
yang

ditentukan

dalam

Kovenan

dan

dalam

konteks

pemanfaatan sejauh mungkin atas sumberdaya yang ada.


Komite mengakui pentingnya sumberdaya bagi pemenuhan
hak-hak ini, tetapi tidak menganggap bahwa ketersediaan
sumberdaya sebagai alasan untuk lepaskan kewajibannya.
Dalam kasus semacam ini, Komite menyatakan bahwa, dalam
kasus dimana sejumlah cukup signifikan rakyat hidup dalam
kemiskinan dan kelaparan, maka Negara harus membuktikan
bahwa kegagalannya memenuhi hak-hak orangorang ini
memang diluar kendali. Disinilah konteks gagasan kewajiban
minimum (minimum core obligation) yang dikembangkan oleh
Komite.

Komite

melihat

bahwa

setiap

Negara

Peserta

mempunyai kewajiban minimum untuk memenuhi tingkat


pemenuhan yang minimum dari setiap hak yang terdapat
dalam Kovenan. Komentar Umum No. 3 memberi ilustrasi
yang sangat jelas untuk hal ini. Sebagai contoh, jika terdapat
penduduk secara massal, menderita kelaparan, tidak memiliki
akses terhadap pelayanan kesehatan, tak mempunyai tempat
bernaung dan perumahan, atau tidak menikmati pendidikan
dasar, maka dapat dinyatakan Negara gagal menjalankan
obligasinya berdasarkan Kovenan.
Lebih jauh Komite menjelaskan bahwa sekalipun didapati
kenyataan tidak cukupnya sumberdaya yang ada, kewajiban
Negara tetap dijalankan untuk menjamin pemenuhan hak
yang seluas-luasnya dalam kondisi yang sangat terbatas itu.
Bahkan, pada saat terjadi keterbatasan sumberdaya yang
akut, anggota masyarakat yang rentan dapat dan memang
harus

mendapatkan

perlindungan

dengan

program-program yang dirancang relatif murah.

diadopsinya

Pasal 2 ayat (1) Kovenan, juga menegaskan tentang perlunya


kerjasama dan bantuan internasional berkait dengan upaya
realisasi hak. Pada kenyataannya memang Negara Peserta
mengalami kesulitan dalam melaksanakan kewajiban untuk
melindungi dan memenuhi hak secara penuh. Dibutuhkan
keterlibatan pihak ketiga, yang biasanya menunjuk pada
keterlibatan lembaga atau badan pembangunan multilateral
dan keuangan internasional, untuk mendukung bantuan
teknis dan pinjaman dana.
Problemnya, pada banyak negara, bahwa pada akhirnya
mereka menjadi sangat tergantung pada aliran dana luar
negeri, terjebak pada hutang luar negeri yang sangat besar,
dan sementara itu sebagian besar penduduknya tetap dan
jatuh miskin. Kesulitan utama dari persoalan ini adalah
operasional
multilateral

dari
dan

lembaga
keuangan

atau

badan

internasional

pembangunan
itu

lepas

dari

kerangka kerja hak asasi manusia, dan negara pengutang


tidak

berdaya

karena

situasi

ketergantungan

dan

keterjebakan hutang yang dialaminya.


Pada suatu titik momentum ketika kelaparan dan kemiskinan
menjadi musuh nomor satu dari semua negara di dunia ini,
kerjasama pembangunan internasional ditandai oleh berbagai
perubahan cara pandang dan kebijakan yang merujuk pada
pemahaman bahwa realisasi hak asasi manusia merupakan
kunci untuk lepas dari situasi ini. Tetapi terpisahnya logika
globalisasi ekonomi dengan kerangka kerja hak asasi manusia
menjadikan harapan akan membaiknya situasi derita dunia
menjadi pupus kembali.

Komite

menegaskan

penduduknya

bahwa

dalam

jumlah

Negara

yang

Peserta

signifikan

yang

mengalami

kekurangan bahan pangan, kekurangan pelayanan kesehatan


dasar, tiada akses terhadap pemukiman dan perumahan yang
layak,

atau

tiada

akses

terhadap

pendidikan

dasar

merupakan petunjuk awal bagi kegagalan Negara untuk


memenuhi

kewajiban

Pemahaman
kewajiban

ini

sebagaimana

didasarkan

minimum

pada

(minimum

diatur

keberadaan

core

Kovenan.
gagasan

obligation)

yang

dikembangkan oleh Komite. Konsep kewajiban minimum


diajukan oleh Komite untuk menyangkal alasan tidak adanya
sumberdaya sebagai faktor yang mencegah pemenuhan
kewajiban. Komite menegaskan bahwa Negara mempunyai
kewajiban minimum guna memenuhi realisasi setiap hak
yang terdapat dalam Kovenan pada tingkat yang minimum.
Kegagalan

untuk

memenuhi

kewajiban

minimum

dapat

disebut sebagai pelanggaran terhadap hak yang termuat


dalam

Kovenan

Hak

Ekosob.

Dalam

perkembangannya,

penguatan konsep pelanggaran Hak Ekosob terus dilakukan


oleh banyak ahli hukum hak asasi manusia internasional yang
kemudian dituangkan dan dikenal sebagai Prinsip-Prinsip
Limburg

(the

Limburg

Principles).

Prinsip-prinsip

ini

memberikan kerangka dasar bagi pengembangan lebih lanjut


atas berbagai asumsi dan konsep pelanggaran Hak Ekosob.
Tapi yang penting dipahami di sini adalah bahwa kegagalan
Negara Peserta untuk memenuhi kewajiban yang terkandung
dalam Kovenan

jelas

merupakan

pelanggaran

terhadap

Kovenan. Pelanggaran terhadap Kovenan tersebut, dapat


dimaknai, dalam situasi dan kondisi di mana negara peserta:
a. gagal

mengambil

langkah-langkah

seperti

yang

disyaratkan dalam Kovenan;


b. gagal menyingkirkan segera atas berbagai hambatan
yang menghalangi realisasi hak secara penuh;
c. gagal untuk mengimplementasikan hak yang perlu segera
direalisasikan;
d. menerapkan pembatasan atas hak yang diakui dalam
Kovenan dengan alasan-alasan yang tidak sesuai seperti
yang disyaratkan Kovenan;
e. sengaja

menghambat

atau

menghalangi

realisasi

bertahap atas hak- hak yang diakui dalam Kovenan;


f.

gagal menyampaikan laporan sebagai ditentukan dalam


Kovenan.

Di sisi lain, karena pengembangan konsep pelanggaran hak


banyak

difokuskan

pada

pemenuhan

kewajiban,

maka

pemahaman akan penegakan realisasi hak ekonomi, sosial,


dan budaya merupakan wilayah eksekutif dengan berbagai
kebijakan

dan

programnya.

Komite

jelas

menolak

pemahaman ini. Komite menyatakan bahwa hak ekosob juga


menjadi urusan pengadilan. Dengan begitu, menurut Komite,
penegakan hak-hak yang terkandung dalam Kovenan Hak
Ekosob ini bisa ditangani oleh pihak yudikatif.
Untuk mengukur apakah negara berhasil atau sebaliknya
gagal dalam menjalankan obligasinya, seperti termuat dalam
Kovenan Hak Ekosob, dapat menggunakan kebijakan dan

Standard yang sudah ada. Jika belum maka, perlu dibuat


blue-print untuk masing-masing pemenuhan hak ekosob,
yang dimuat dalam katalog hak Kovenan. Sebagai contoh,
dalam rangka pemenuhan hak setiap orang untuk menikmati
Standard hidup yang layak bagi dirinya dan keluarganya,
termasuk ketercukupan pangan, pakaian dan perumahan
yang layak, serta peningkatan kondisi kehidupan secara
terusmenerus,
kebijakan

pemerintah

Strategi

Nasional

misalnya

telah

Penanggulangan

merumuskan
Kemiskinan

(SPNK). Menariknya, dokmen ini disusun dengan perspektif,


yang memandang problem kemiskinan berkait langsung
dengan tidak terpenuhinya hak-hak dasar, utamanya hak-hak
ekosob. Dalam dokumen ini juga ditegaskan, peristiwa
kemiskinan adalah masalah hak asasi manusia.
Selain

itu,

SPNK

juga

memuat

rekomendasi

caracara

penghapusan kemiskinan dan pencapaian tujuan Millenium


Development Goals (MDGs) dengan mekanisme implementasi
yang

diadopsi

oleh

Kovenan

Hak

Ekosob.

Memeriksa,

dokumen SNPK ini, dapat dikatakan, kebijakan ini merupakan


bentuk pengakuan, di satu sisi, kualitas kehidupan seseorang
sangat bergantung pada realisasi hak-hak asasinya, dan di
sisi

lain

adalah

menjadi

kewajiban

Negara

untuk

melaksanakan realisasi hak-hak asasi itu sepenuhnya.


Mekanisme Monitoring Pelaksanaan Obligasi Negara
Selain memberikan penafsiran dan elaborasi terhadap pasalpasal

dalam

melakukan

Kovenan,

pemantauan

fungsi

utama

terhadap

Komite

Ekosob,

implementasi

obligasi

Negara

Pihak

dalam

mempromosikan,

menghormati,

melindungi dan memenuhi (memfasilitasi dan menyediakan)


hak-hak

ekosob

implementasi

masyarakat.

ketentuan

dalam

Mekanisme
Kovenan

monitoring
Hak

Ekosob,

dilakukan antara lain melalui pengawasan yang dilakukan


Komite Hak Ekosob yang dibentuk berdasarkan Kovenan, atau
disebut

dengan

mekanisme

berdasarkan

perjanjian

(treatybasedmechanism).
Walaupun "terlambat" lahir, dibandingkan "Komite Hak Asasi
Manusia", Komite Hak Ekosob mulai menjalankan fungsinya
sebagai

lembaga

pengawas

pada

1986,

menggantikan

sebuah Kelompok Kerja (Working Group) yang dibentuk


Dewan Ekonomi dan Sosial - Economic and Social Council
(ECOSOC). Komite ini terdiri dari 18 pakar independen yang
bekerja untuk memeriksa (mengeksaminasi) laporan Negara
Pihak

dalam

tercantum

di

menjalankan
Kovenan

obligasi

Internasional

(kewajiban)
tentang

yang

Hak-hak

Ekonomi, Sosial dan Budaya (Kovenan Hak Ekosob). Lihat


Tabel 5.
Dalam menjalankan fungsinya, Komite bekerjasama dengan
lembaga- lembaga khusus PBB yang lain. Sebagai contoh,
dalam memeriksa laporan yang berkaitan dengan obligasi
negara untuk memenuhi hak atas pangan, seperti dinyatakan
dalam Pasal 11 Kovenan, Komite bekerja sama dengan
Organisasi Pangan dan Pertanian - Food and Agriculture
Organisation (FAO). Contoh lain, dalam memeriksa obligasi
pemenuhan hak atas pendidikan, Komite mengambil manfaat
dan bekerjasama dengan para pakar yang bekerja pada

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan


PBB - United Nations Educational, Scientific and Cultural
Organisation (UNESCO).
Demikian

juga

kerjasama

dengan

Organisasi

Buruh

Internasional - International Labor Organisation (ILO) dalam


kaitan dengan hak-hak buruh atau bekerjasama dengan UN
Centre for Human Settlement (Habitat) berkaitan dengan hak
setiap orang untuk menikmati perumahan yang layak. Dialog
yang terjadi antara Komite dengan perwakilan Negara
dikembangkan,

untuk

selanjutnya

Komite

memberikan

rekomendasi tentang hal-hal yang perlu dilakukan Negara


selanjutnya.
Dalam hal ini, Komite dituntut selalu mengembangkan praktik
kreatif

untuk

mendorong

Negara

Pihak

benarbenar

menjalankan kewajibannya. Dalam melaksanakan fungsinya,


Komite juga memperhatikan dokumen yang berkaitan dengan
hak-hak ekosob, seperti Prinsip-prinsip Limburg (Limburg
Principles), yang kemudian dikembangkan di Maastricht pada
1986.
Selain treaty-based mechanism tersebut, maka dimungkinkan
juga pengawasan dilakukan berdasarkan nontreaty based
seperti prosedur khusus (special procedure) dibawah Komisi
Hak Asasi Manusia (Commission on Human Rights) - yang
sekarang diganti oleh Dewan Hak Asasi Manusia (Human
Rights Council). Komite Hak Ekosob dalam menjalankan
fungsinya juga mendengarkan pendapat dan masukan dari
para pelapor khusus ini Penting untuk diingatkan lagi,

partisipasi dan keterlibatan masyarakat dimungkinkan secara


penuh, berdasarkan Kovenan Hak Ekosob, dimana Komite
senantiasa meminta atau terbuka untuk menerima masukan
dari organisasi-organisasi non-pemerintah ketika memeriksa
laporan yang disampaikan Negara Pihak.

DIMENSI-DIMENSI HAK ASASI MANUSIA


1.PENGHORMATAN

1.PERLINDUNGA

1.PEMENUHAN

(tidak

(penyediaan

(mencegah

sumberdaya

pelaksanaan Hak)

pelanggaran oleh

dan hasil-hasil

Hak-Hak

Pemerintah

pihak ketiga)
Pemerintah harus

kebijakan)
Pemerintah

Sipil

berkewajiban

mengupayakan

harus

dan

membuat

tindakan

melakukan

Politik

untuk melindungi

mencegah

dan menjamin hak

pelaku

setiap

negara

warganegara,

melakukan

dan

meratifikasi

pelanggaran

memberikan

kovenan

seperti

subsidi

internasional,mela

penyiksaan,

bidang

kukan harmonisasi

kekerasan

hukum

intimidasi kepada

penjara,

(UU,PP,Keppres,Pe

setiap

kepolisian,

rmen,

Perpres

warganegara

tenaga medis,

hingga

Perda)

ada

gangguan

dalam

UU

untuk

investasi,
non-

dan

mengalokasika
anggaran,

dalam

kehakiman,

serta

alokasi

agar tidak terjadi

sumberdaya

penggunaan

dan

hukum

untuk

anggaran

pendidikan

penyiksaan,

buat

petugas

pembunuhan

agar

memiliki

tanpa pengadilan,

pengetahuan

penghilangan

dan

paksa, penahanan

kemampuan

sewenang-

dalam

wenang,

melaksanakan

pengadilan

yang

tidak

pemenuhan

adil,

intimidasi
saat

hak sipil-politik

pada

setiap

pemilihan

warganegara

umum,
pencabutan

hak

Hak-

pilih, dll
Pemerintah

Pemerintah harus

Pemenuhan

Hak

berkewajiban

mengupayakan

secara

Ekonom

membuat

tindakan

progresif;

i, Sosial

untuk melindungi

mencegah

dan

dan menjamin hak

pelaku

Budaya

setiap

negara

kesehatan,

warganegara agar

berperilaku

pendidikan

tak

diskriminatif

dan

diskriminasi etnis,

sehingga

kesejahteraan

ras,

membatasi akses

lainnya

dalam

alokasi

UU

mengalami
jender

bahasa

atau
dalam

untuk

Investasi
non-

bidang

di

bidang

bidang
serta

bidang kesehatan,

kesehatan,

sumberdaya

pendidikan

pendidikan serta

untuk

kesejahteraan,

bidang

kemampuan

serta

kesejahteraan

masyarakat

dan
alokasi

sumberdaya yang
kurang

lainnya

Tabel 3. Kewajiban Yang Harus Dipenuhi Negara


D. MEKANISME

PELAPORAN

SEBAGAI

SEBUAH

PERTANGGUNGJAWABAN
Berbeda dengan hak-hak Sipol yang jaminan utamanya ada
dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik
(ICCPR) dengan Protokol Pertamanya, Kovenan Internasional
tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (ICESCR) tidak
memiliki badan yang memonitor pelaksanaan kovenan oleh
negara pihak. Badan yang mengurusi persoalan hak-hak ini
dalam sistem PBB adalah Komite Hak Ekonomi, Sosial, dan
Budaya (selanjutnya disebut Komite), yang dibentuk pada
1987 di bawah ECOSOC. Aktivitas utamanya adalah menguji
laporan-laporan

negara

pihak

hingga

mengambil

hasil

observasi, membuat resolusi serta Komentar Umum.


Melalui proses demikian masalah tidak adanya mekanism
menuntut keadilan secara bertahap dicoba diatasi. Sebab,
komite berhak untuk memonitor derajat realisasi hak-hak
yang ada dalam Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi,
Sosial, dan Budaya. Saat ini bahkan sedang digagas adanya
protokol tambahan bagi hak ekonomi, sosial, dan budaya
khusus mengenai mekanisme 'komplain individu' terhadap
dilanggarnya hak asasi mereka.
Adapun untuk memonitor, menilai dan mengukur tindakan
atau langkah- langkah yang telah dilakukan negara dalam

memenuhi hak ekonomi, sosial, dan budaya setidaknya


melibatkan:
Penggunaan indikator-indikator. Karena indikator inilah
persis yang akan jadi ukuran sejauh mana negara dari
waktu ke waktu merealisasikan pemenuhan hak-hak asasi
tersebut. Indikator ini digunakan untuk mengukur situasi
tertentu dan perubahan-perubahan yang telah dicapai
(harus diingat bahwa hak itu dicapai secara bertahap). Dan
sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, standardstandar hak ekonomi, sosial, dan budaya belum seluruhnya
berkembang.

Untuk

itu

penting

membuat

indikator

mengenai kandungan dari hak-hak ini untuk kegiatan


monitoring

maupun

advokasi.

Mungkin

diantaranya

melakukan penelitian sehingga bisa ditemukan standar


dengan

pemahaman

yang

lebih

mendalam.

Adakah

misalnya metode produksi pangan atau perbaikan dalam


konservasi dan sistem distribusi pangan?
Monitoring pada baik tindakan pemerintah dan hasil-hasil
dari tindakan yang bersangkutan.
Mengajukan tuntutan ke hadapan pengadilan berdasarkan
standar-

standar

hak

asasi

manusia.

Seperti

pernah

disinggung sebelumnya di India dan sejumlah negara lain,


tuntutan hak atas tempat tinggal layak dapat diajukan dan
diproses ke pengadilan.
Memonitor alokasi anggaran pembangunan.
Memonitor sejauh mana standar-standar hak asasi manusia
menjadi ukuran dalam perencanaan hingga evaluasi proses
pembangunan.

Salah satu kewajiban pemerintah Indonesia yang telah


meratifikasi ICCPR adalah keharusan untuk menyampaikan
pelaporan pelaksanaan isi konvensi ini kepada Sekjen PBB
untuk kemudian diteruskan kepada Komite HAM sebagaimana
dalam sistem HAM PBB (lihat Bagan 4). Komite HAM ini
dibentuk

oleh

para

negara

pihak

untuk

mengawasi

pelaksanaan kovenan sebagaimana dalam Bagan 5 dengan


periodisasi sebagaimana tergambar dalam Tabel 5.
Sesuai Pasal 40 ICCPR, laporan pendahuluan (initial report)
pelaksanaan kovenan sudah harus disampaikan kepada
Sekjen PBB dalam kurun waktu 1 tahun setelah kovenan
berlaku bagi negara pihak. Setelah itu kewajiban pelaporan
negara pihak tergantung pada permintaan Komite. Monitoring
terhadap pelanggaran dan pengaduan yang masuk ke komite.
Bagan 5

PERIODE PELAPORAN BERDASARKAN PERJANJIANPERJANJIAN


Kovenan Internasional tentang
1 Tahun
Penghapusan

Segala

Bentuk

Diskriminasi Rasial
Kovenan Internasional tentang
Hak

Ekonomi,

2 Tahun

Sosial

2 Tahun

5 Tahun

1 Tahun

4 Tahun*

1 Tahun

4 Tahun*

dan

Budaya*
Kovenan Internasional tentang
Hak Sipil dan Politik
Konvensi tentang Penghapusan
Segala

Bentuk

Diskriminasi

terhadap Perempuan

Konvensi

Menentang

1 Tahun

4 Tahun

Penyiksaan
Konvensi Hak Anak

2 Tahun

5 Tahun

Kovenan Internasional tentang

1 Tahun

5 Tahun

2 Tahun

Perlindungan
Pekerja

Migran

Hak

Semua

&

Anggota

Keluarganya
Protokol Opsional Konvensi Hak

Tahun

Anak tentang Penjualan Anak

atau

(CRC-OPSC)

bersama
dengan
laporan CRC

Protokol Opsional Konvensi Hak


Anak

tentang

Tentara

2 Tahun

Anak

berikutnya
5
Tahun
atau

(CRC-OPAC)

bersama
dengan
laporan CRC

berikutnya
* Pasal 17 dari Kovenan tidak menentukan adanya pelaporan
yang bersifat berkala, tetapi pasal ini memberikan Dewan
Ekonomi dan Sosial diskresi untuk membuat pelaporannya
sendiri.
* Pasal 41 dari Kovenan memberikan diskresi kepada Komite
Hak Asasi Manusia untuk menentukan kapan laporan berkala
harus

diserahkan.

Pada

umumnya,

disyaratkan setiap empat tahun sekali

laporan

tersebut