Anda di halaman 1dari 2

Panduan Praktik Klinis

SMF ILMU PENYAKIT PARU


RSUD SIDOARJO, SIDOARJO
2012 - 2014

BATUK DARAH
1. Pengertian (Definisi)

Batuk yang disertai darah yang berasal dari saluran napas


bawah atau parenkim paru. Batuk darah masif bila jumlah darah
yang keluar > 600 ml dalam 24 jam.

2. Anamnesis

Karakter, jumlah darah keluar, pola batuk darah, lama keluhan


dan penyakit paru yang mendasari.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan saluran napas atas harus dilakukan untuk


menentukan sumber perdarahan di tempat tersebut. Rongga
mulut harus diperiksa dengan cermat. Suara napas tambahan
seperti wheezing dan ronki dapat timbul akibat penyempitan
saluran napas oleh gumpalan darah.

4. Kriteria Diagnosis

1. Pasien mengalami batuk darah lebih dari 600 cc / 24 jam dan


dalam pengamatannya perdarahan tidak berhenti.
2. Pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam
dan tetapi lebih dari 250 cc / 24 jam jam dengan kadar Hb
kurang dari 10 g%, sedangkan batuk darahnya masih terus
berlangsung.
3. Pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam
dan tetapi lebih dari 250 cc / 24 jam dengan kadar Hb kurang
dari 10 g%, tetapi selama pengamatan 48 jam yang disertai
dengan perawatan konservatif batuk darah tersebut tidak
berhenti.

5. Diagnosis

Batuk Darah

6. Diagnosis Banding

Muntah darah (gastrointestinal)

7. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah,
Foto toraks
Bronkoskopi
CT Scan

8. Terapi

Terapi tergantung pada penyebab dan status penderita.Tujuan


pengobatan adalah mencegah aspirasi, menghentikan
perdarahan dan mengobati penyakit yang menyebabkan
perdarahan. Batuk darah masif jarang menimbulkan kematian
karena kehilangan darah namun lebih sering karena
asfiksi/sufokasi oleh sebab itu proteksi saluran napas atas
adalah sangat vital pada penanganan awal batuk darah.
Jika batuk merupakan problem atau menambah perdarahan maka
perlu diberikan antitusif seperti codein.
Setelah hemodinamik stabil, asidosis dan hipoksemi dikoreksi,
pemeriksaan bronkoskopi harus dikerjakan untuk menentukan
lokasi perdarahan. Suction dan lai'age harus dikerjakan untuk
mengeluarkan bekuan darah. Diupayakan menghentikan

perdarahan dengan ice saline dan epinephrine (1:20.000)


dilution. Perdarahan dapat juga dihentikan dengan dengan
kateter Fogarty yang mempunyai bola pada ujungnya.
Hindari manipulasi dada berlebihan seperti perkusi dada dan
pemeriksaan faal paru/spirometri.
9. Edukasi

Diupayakan tirah baring

10. Prognosis

Ad vitam
Ad sanationam
Ad fungsionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens

IV

12. Tingkat Rekomendasi

13. Penelaah Kritis

1. dr. Dwiraras Radityawan, SpP


2. dr. Fitri Sriyani, SpP

14. Indikator Medis

a. Terhentinya perdarahan
b. Gejala klinis membaik

15. Kepustakaan

1. Murray J F. 2000. History and physical examination. In:


Textbook of respiratory medicine. Eds: Murray JF and Nadel
J A. 311. Ed. Philadelphia; W B Saunders Comp, 585-606
2. Wiese T and Kvale PA. 2004. Bronchoscopy . In : Baums
textbook of pulmonary diseases. Eds: Crapo J D, Glassroth
J, Karlinsky J and King TE. 7 " ed, Philadelphia: Lippincott
Williams and Wilkins,79-96.

Ketua Komite Medik

dr. M. Tauhid Rafii, SpM


NIP. 19580505 198610 1 005

Sidoarjo, 1 Juli 2013


Ketua SMF Paru

dr. Dwiraras Radityawan, SpP


NIP. 19610330 198903 1 004

Direktur RSUD Sidoarjo

dr. Eddy Koestantono M., MM


NIP. 19551008 198801 1 001