Anda di halaman 1dari 1

Pariwisata Sebagai Ilmu

Dalam perjalanan sejarah, karena adanya keinginan berbagai pihak untuk mengetahui
seluk-beluk pariwisata, akhirnya mendorong sebagian orang untuk mempelajari dan
menjadikan pariwisata untuk menjadikan sebuah ilmu baru untuk dipelajari. Jika dilihat dari
perspektif filsafat ilmu, maupun kajian komparatif terhadap ilmu-ilmu lainnya ataupun
komparasi dengan pendidikan tinggi lainnya di negara-negara lain di luar negeri
Secara Konseptual , Ilmu adalah suatu pengetahuan sistematis yang beradarkan
pengalaman (emperik) dan percobaan (eksperimen) dengan menggunakan metode yang diuji.
Oleh sebab itu, menurut suriasmantri(1978) setiap ilmu harus memenuhi tiga syarat dasar,
yakni :
1. Ontologi , objek atau focus of interest yang dikaji
2. Epismologi, metodelogi untuk memperoleh pengetahuan
3. Aksiologi, nilai manfat pengetahuan
Telah lama menjadi perdebatan apakah pariwisata adalah sebuah ilmu yang mandiri atau
hanya objek studi dari ilmu-ilmu yang telah mapan dengan pendekatan multidisipliner. Pada
tahun 1980-an merupakan wacana pertama tentang keilmuan pariwisata yang dilontarkan.
Setelah hampir 20 tahun mati suri , akhirnya tahun 2006 perjuangan tersebut diggerakan lagi
melalui kerjasama Depudpar dengan Hildiktipari. Dari rapat koordnasi yang dilakukan kedua
lembaga tersebut, melahirkan suatu Deklarasi Sebagai Ilmu. Isi poin pokok dari deklarasi
tersebut yaitu :
1. Pariwisata adalah cabang ilmu yang mandiri, yang sejajar dengan ilmu-ilmu lain.
2. Program S1, S2, dan S3 Ilmu pariwisata di berbagai lembaga pendidikan sudah layak
untuk diberikan ijin oleh Departement Pendidikan Nasional.
Tanggal 31 Maret 2008 merupakan salah satu tonggak sejarah pengakuan pariwisata sebagai
ilmu. Pada tanggal tersebut keluar surat dari Dirjen Dikti Depdiknas No. 947/D/T/2008 dan
948/D/T/2008 yang ditujukan kepada menteri Kebudayaan dan Pariwisata, yang secara
eksplisit menyebutkan bahwa Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi menyetujui pembukaan
jenjang Program Sarjana (S1) dalam beberapa progra studi pada STP Bali dan STP Bandung.
Dengan ini merupakan adanya pengakuan formal bahwa pariwisata adalah disiplin ilmu, yang
sejajar dengan ilmu-ilmu lainnya.