Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM

APLIKASI TEKNOLOGI NUKLIR


Teknik Radiografi Sinar-X pada Sampel Pipa Besi

Disusun Oleh:
Nama

: Ari Nurul Pangestu

NIM

: 011300326

Prodi

: Teknokimia Nuklir

Rekan kerja

: Arif Fajar Kurniawan


Avrillya Linda Gayatri
Fikri Ahmad F.
Hera Herdiyanti
Moch. Reza Pachlevi
Rikh Galatia
Siva Fauziah
Suci Sujiani

Kelompok

:1

Asisten Praktikum

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2016

TEKNIK RADIOGRAFI SINAR-X PADA SAMPEL PIPA


BESI
I.

TUJUAN
1.
Membuat gambar radiografi besi las-lasan bentuk pipa dengan hasil yang
diharapkan sesuai dengan standar, dengan menggunakan radiasi dari pesawat
2.

sinar-X.
Melakukan proses film yang telah dilakukan penyinaran radiografi sesuai dengan

3.

prosedur.
Mengukur densitas film, sensitivitas radiograp serta menentukan lokasi dan jenis
cacat dari radiograp yang telah dihasilkan.

II.

DASAR TEORI
Radiasi berdaya tembus tinggi dapat dipakai untuk melakukan pemeriksaan bahan
tanpa merusak bahan yang diperiksa (non destructive testing). Teknik pemeriksaan
dengan radiasi ini disebut juga radiografi industri. Uji tak merusak ini biasanya
memanfaatkan radiasi jenis foton berdaya tembus tinggi, baik berupa sinar gamma yang
dipancarkan oleh radioisotop maupun sinar-X dari suatu pesawat. Sifat dari radiasi itu
sendiri adalah sebagian diserap dan sebagian diteruskan oleh bahan yang diperiksa. Oleh
sebab itu, radiasi akan mengalami pelemahan di dalam bahan. Tingkat pelemahannya
bergantung pada tebal bagian bahan yang menyerap radiasi.
Prinsip dasar dalam uji tak merusak ini adalah bahwa radiasi akan menembus
benda yang diperiksa, namun karena adanya cacat dalam bahan maka banyaknya radiasi
yang diserap oleh bagian-bagian pada bahan tidak sama. Dengan memanfaatkan sifat
interaksi antara radiasi foton dengan bahan seperti ini, maka radiasi dapat dimanfaatkan
untuk memeriksa cacat yang ada di dalam bahan. Rongga maupun retak sekecil apapun
dapat dideteksi dengan teknik radiografi ini.
Apabila radiasi yang diteruskan dan keluar dari bahan ditangkap oleh film
fotografi yang dipasang di belakang bahan tersebut, maka perbedaan intensitas radiasi
akan menimbulkan kehitaman yang berbeda pada film, sehingga cacat dalam bahan yang
diperiksa akan tergambar pada film. Dengan teknik ini dapat diketahui mutu sambungan
las, kualitas logam cor dan juga keadaan dalam diri suatu sistem. Untuk mendapatkan
ketelitian pemeriksaan yang lebih tinggi, maka teknik radiografi dapat dikombinasikan
dengan teknik pemeriksaan lainnya. Karena tiap cacat pada benda menimbulkan gambar

yang berlainan, maka untuk membaca gambar pada film diperlukan pengalaman dan
keahlian tersendiri, sehingga kemungkinan terjadinya salah interpretasi dapat dihindari
atau dikurangi.

Radiasi yang berasal dari fokus sinar-X dengan diameter f merambat ke dalam
benda uji (specimen) dengan tebal t. Di dalam specimen radiasi akan terabsorbsi
bervariasi bergantung pada tebal dan kerapatan massa bagian-bagian benda uji. Bagian
yang lebih tipis dan kerapatan masa yang lebih kecil, contoh : defect gas inclusion, akan
menghasilkan akumulasi paparan sinar transmisi yang lebih besar.
Apabila sinar transmisi ini diproyeksikan ke film radiografi maka oleh karena
reaksi photochemical, bagian-bagian ini akan menjadi lebih hitam dibandingkan dengan
bagian sebelah-menyebelahnya.
Bayangan yang terbentuk pada film radiografi bersifat diperbesar dan membentuk
penumbra (unsharpness geometry = Ug). Hal ini disebabkan karena sinar yang datang
bersifat divergen dan sumbernya mempunyai dimensi f (mm).
Agar supaya pembesaran dan penumbra bayangan tidak terlalu besar maka
hubungan antara jarak sumber dengan film (source to film distance = SFD), dimensi
sumber f dan tebal benda uji (t) untuk pemeriksaan tingkat biasa distandarkan sebagai
berikut (dengan asumsi film dipasang menempel pada benda uji).
a.
ASME Section V
SFD > 2 t (f+0,5)
b.
JIS Z 3104
SFD > t (2,5f +1 )
Skema proses radiografi dapat digambarkan sebagai berikut:

Film radiografi yang sudah diproses di ruang gelap dikatakan mempunyai kualitas
baik bila film tersebut dapat mendeteksi cacat yang dimensinya tertentu sesuai dengan
yang diinginkan atau lebih kecil. Film radiografi yang dapat mendeteksi cacat yang
ukurannya relatif kecil dikatakan mempunyai sensitifitas radiografi tinggi.
- Sensitifitas radiografi (s) absolut dinyatakan dalam (mm)
- Sensitifitas radiografi (s) relatif dinyatakan dalam % ketebalan
Untuk memperoleh kualitas gambar radiografi yang baik, dua faktor yang harus
diperhatikan yaitu Kontras dan Definisi. Indikator yang menunjukkan sensitifitas
radiografi adalah munculnya bayangan penetrameter. Material bahan penetrameter adalah
sama dengan bahan benda uji.
Pemilihan nomor penetrameter yang digunakan adalah sesuai dengan %
sensitifitas radiografi yang diinginkan dan tebal benda uji. Penentuan waktu paparan
diperoleh dari grafik Exposure Chart mA-menit versus ketebalan benda uji.
Teknik radiografi ini sangat bermanfaat dalam berbagai bidang,salah satu bidang
yang sering memakai teknik ini adalah bidang industri. Berikut sedikit gambaran teknik
radiografi yang telah diaplikasikan dalam bidang industri.

Teknik radiografi dipakai untuk memeriksa sambungan las-lasan pada pipa

Film radiografi dikatakan baik bila parameter : densitas cukup, distorsi minimal,
definisi tajam serta kontras yang tinggi dapat terpenuhi, sehingga film akan mampu
mendekteksi diskontinyuitas yang kecil. Dalam teknik radiografi pemilihan film
tergantung pada benda uji tebal dan jenis material, serta kualitas yang diinginkan.
Film radiografi industri, tersedia dalam beberapa macam kemasan, antara lain :
1. Film lembaran : kemasan yang banyak dijumpai. Setiap lembar film diapit
dengan kertas pelindung yang memisahkan film yang satu dengan yang lain.
Film dikemas dalam kotak karton yang kedap cahaya.
2. Kemasan Amplop : film yang telah dikemas dalam amplop kertas kedap cahaya.
Dalam penggunaannya film tidak perlu dikeluarkan dari amplop sehingga
meniadakan waktu loading dan terhindar dari debu dan noda jari tangan.
3. Kemasan amplop dengan screen timbal oksida : film ini sudah dilengkapi
dengan screen timbal oksida yang mengapitnya dan terbungkus dalam amplop
kertas, sehingga terjadi kontak yang baik antara film dengan screen.
4. Kemasan Roll : film ini memiliki bentuk panjang yang sangat ekonomis untuk
radiografi las melingkar.
Film harus ditangani dengan hati-hati untuk menghidarkan regangan atau
tegangan fisik pada film akibat tekanan, bengkokan, lipatan atau gesekan kontaminasi
bahan kimia atau tersentuh jari basahyang mengakibatkan cacat film atau artifac.
Radiografi dapat diterima sebagai alat uji tak rusak (UTR) harus memiliki kualitas yang
baik dan bebas dari cacat film.
Tabel T-276

Tabel ASME Sec V, T 233

Grafik Penentuan lama Penyinaran

Tabel T-285 Geometric Unsharpness Limitations

Grafik Lama Perendaman

III.

ALAT DAN BAHAN


1. Alat
a. Dosimeter saku
b. Surveymeter
c. Pesawat sinar-X
d. Penetrameter
e. Densitometer
f. Termometer
g. Stopwatch
h. Dryer
i. Amplop
j. Penggaris
k. Marker
l. Lembar timbal
m. Tanda radiasi dan tali kuning
2. Bahan
a. Film radiografi
b. Larutan developer, stop bath, fixer, dan washer

c. Besi las-lasan bentuk pipa (specimen)


IV.

LANGKAH KERJA
A. Persiapan sebelum penyinaran:
Dilakukan pengukuran dimensi dan tebal benda uji, dan dihitung / ditentukan:
1. Teknik penyinaran.
2. Tegangan kerja, mA, waktu penyinaran pesawat yang akan digunakan.
3. Jarak aman
4. Jarak Sumber ke film SFD
5. Penetrameter dan shim yang digunakan
Penetrameter yang digunakan sesuai dengan standard yang digunakan.
Jenis penetrameter standard yang disediakan untuk praktek radiografi, yaitu
ASTM kawat dan ASTM plat , DIN.
Penempatan penetrameter ada 2 cara, ke arah sumber radiasi ( Source side)
dan

didekat

dengan

film

(film

side).

Penempatan penetrameter

disesuaikan dengan ketentuan teknik penyinaran yang digunakan.


Penempatan/ Lokasi marker.
Loading film

Lampu penerangan dinyalakan dan ruangan proses film dibersihkan.

Film radiografi (masih dalam kemasan), screen Film, kaset dan lakban
disiapkan pada meja loading.

Pastikan kaset tidak rusak dan screen dalam kondisi bersih dan baik.

Susunan peralatan tersebut (Film,Screen,kaset,lakban) diatur sehingga mudah


diambil dalam kondisi gelap.

Lampu penerangan dimatikan.

Mata dibiarkan menyesuaikan selama beberapa menit.

Film dikeluarkan dari kemasan dan amplop pembungkus, ambil selapis film.

Kertas pengapit dilepas pelan-pelan, filmnya diambil.

Film ditempatkan diantara screen Pb (atas dan bawah), kemudian film yang
berscreen dalam kaset dimasukkan dengan mulut saling menutup.

Untuk mencegah kebocoran, dilakban ujung kasetnya.

Ditutup kembali amplop film dan dimasukkan kedalam kemasan kardusnya.

Lampu penerang dinyalakan, lalu meja loading dibersihkan dari sampah.

B. Benda Uji Pipa.


1. Dilakukan set up penyinaran seperti gambar dibawah ini:
Diusahakan spesimen dan film melekat/kontak

Catatan:
SFD : Jarak sumber film
OD : Diameter luar lasan
ID : Diameter dalam nominal
2. Dilakukan set up spesimen, pemasangan penetrameter, kode film, sesuai
ketentuan.

C. Selama akan penyinaran.


1. Alat ukur radiasi diperiksa dan digunakan (TLD, surveymeter)
2. Alat sinar-X diperiksa.
3. Jendela sinar-X dan specimen ditempatkan pada posisi penyinaran sambil membawa
surveymeter.
4. kV, mA, dan timer diatur pada harga yang telah ditentukan sehingga alat siap bekerja.
D. Selama penyinaran.
1. Kunci pesawat dibuka, tombol sinar-X ON ditekan sesuai Wp yang telah ditentukan.
2. Survey daerah radiasi.
3. Sesudah penyinaran selesai, tombol mA diatur pada harga NOL , kunci dicabut/ off.
E. Setelah Penyinaran

1. Survey kedalam ruangan dengan menggunakan surveymeter untuk memastikan tidak


terdapat radiasi.
2. Ambil specimen dan film.
3. Matikan lampu tanda bahaya ( lampu tanda bahaya yang terhubung dengan control
panel akan mati secara otomatis setelah timer penyinaran dicapai). Lepas tanda-tanda
radiasi (rambu) serta peralatan lainnya.
4. Baca dosimeter saku

dan baca penunjukkannya.( catat dan bandingkan dengan

bacaan sebelum penyinaran).


5. Matikan surveymeter.
F. Pembongkaran film (unloading) dan proses film.
1. Kaset film yang telah diradiografi dibawa ke ruang proses film. Dinyalakan lampu
2.

penerang ruang proses film.


Diaduk larutan developer dan fixer (masing masing larutan punya pengaduk

dan jangan dicampur), kemudian diukur temperatur larutan developer.


3. Dengan suhu pengukuran, dilihat dalam tabel waktu yang diperlukan untuk
pengembangan film dalam larutan developer. Normal bila dirasa larutan bagus, dan
4.
5.
6.
7.

extended jika dirasa larutan sudah lama pemakaian.


Lampu penerangan dimatikan dan digunakan lampu intensitas rendah (safelight)
Dibuka lakban penutup kaset film, screen dan film dari kaset dikeluarkan
Film diambil, dipegang bagian tepi.
Dimasukkan dalam larutan developer untuk proses pengembangan film dengan

waktu yang telah ditentukan, sambil diagitasi ( agitasi naik turun)


8. Setelah waktu pengembangan selesai, ditiriskan sebentar kemudian dimasukkan dalam
stopbath untuk menghentikan proses pengembangan film, kira-kira setengah waktu di
developer. Dalam stopbath agitasi tetap dilakukan.
9. Selesai waktu stopbath, ditiriskan sebentar, kemudian masukkan dalam fixer untuk
penetapan bayangan pada film, dengan waktu kira-kira 2 kali waktu developer, dan
tetap dilakukan agitasi. Pada keadaan difixer, lampu penerangan boleh dinyalakan.
10. Selesai waktu fixer, tiriskan sebentar, kemudian dimasukkan dalam air untuk
pencucian film.
11. Pencucian film dilakukan dengan air kran, sambil digosok dengan jari sehingga film
tidak licin (peret).
12. Terakhir, dilakukan pengeringan di dalam mesin pengering. Bersihkan dan rapikan
ruang peoses film.

G. Pembacaan Film
1. Disiapkan viewer dan densitometer.
2. Dinyalakan viewer, dan atur kuat penerangannya.
3. Dipasang film hasil radiografi yang telah kering, diperhatikan bentuk bayangan
radiograpnya.
4. Diamati bayangan penetrameter, diamati kawat terkecil pada las yang nampak dalam
radiograp. Hitung jumlah bayangan penetrameter.
5. Dengan densitometer, diukur densitas pada las disekitar kawat terkecil yang nampak
sebagai densitas penetrameter (Dp).
6. Diukur densitas pada base material (diluar las dalam bayangan benda uji)
sebagai densitas material.
7. Diukur densitas pada las (kira-kira 1 cm diatas dan dibawah sumbu) pada kondisi
paling terang dan paling gelap, biasanya 3 pengukuran, sebagai densitas las yang
mempunyai harga densitas minimum (Dmin) dan harga densitas maksimum (Dmaks).
8. Diamati cacat yang tergambar dalam radiograp, dan ditentukan jenisnya.
9. Bila pengamatan sudah selesai, densitometer dimatikan, dan dimatikan viewer.
10. Dirapikan dan dibersihkan ruang baca film tersebut.
V.
1.
2.

3.

4.

5.

DATA PERCOBAAN
Material
Bahan
: Besi
Bentuk
: Silinder
Pengukuran parameter
Diameter luar (OD) : 61.79 mm
Diameter dalam (ID) : 53.48 mm
Pergeseran
: 12.64 cm
Tebal (LL)
: 12.22 mm
kV
: 120 kV
Waktu penyinaran : 1.5 menit
Jenis penny
: penny A
Sumber
Jenis
: X-Ray
Merk
: Rigaku
Arus
: 5 mA
kV max
: 250 kV
kV min
: 110 kV
Focal spot
: 2 mm
Film
Jenis
: AGFA D7
Screen
- Depan
: 0,125 mm (Pb)
- Belakang : 0,125 mm (Pb)
Pembacaan film

Densitas material
Densitas las
Densitas penny

: 2.79
: 1.94 ; 2.01 ; 2.24
: 2.11

VI. PERHITUNGAN
1. Penentuan parameter
Diketahui:
Diameter luar specimen (OD)

= 6.179 cm
= 61.79 mm
= 2.43 inch

Karena OD < 3,5 inch, maka dilakukan teknik pengukuran Double Wall Double Image
(DWDI).
a. Penentuan kV penyinaran
Penentuan kV menurut IIW:
kV = A + Bx
Keteranagan:
A, B = konstanta ( berdasarkan tebal, menurut jenis bahan )
x
= OD-ID
OD = 61.79 mm
ID = 53.48 mm
x
= OD ID
= (61.79 53.48) mm
= 8.31 mm
Tabel 1. Konstanta untuk Besi
Tebal (mm)
0,5 < x 5
5 < x 50

kV

Besi (Fe)
A
40
75

B
10
4,5

= A + Bx
= 75 + 4,5 ( 8.31 )
= 112.4 kV
= ~120 kV

Pada pesawat sinar-X tidak terdapat KV dengan besar 112.4 kV, maka dibulatkan
keatas menjadi 120 kV.

b. Penentuan waktu penyinaran

Grafik Tebal Material (mm) vs mA-menit

Dari kurva penyinaran (Exposure Chart) di atas, maka untuk kV = 120 kV


diperoleh persamaan :
Log y = 0,10333x + 0,26777
Dimana, x = 8.31 mm
Maka,
Log y

= 0,10333x + 0,26777

Log y

= 0,10333 (8.31) + 0,26777

Log y

= 1.126

= 13.38 mA.menit

Sehingga waktu Grafik

=
=

2,676 menit

1) SFD

= 510 mm

2) SFD min =

=
= 304.104 mm
= 30.4 cm
3) Pergeseran (P)
Pergeseran (P)

SFD + 2LL

(510 mm) + (2) (12.22 mm)

= 102 mm + 24.44 mm
= 126.44 mm
= 12.64 cm
4) SFD Elips
SFD elips = ( SFD2 + P2)1/2
= [( 51 cm)2 + (12.64cm)2]1/2
= [2760.87 cm2]1/2
= 52.54 cm
5) Waktu Penyinaran (Wp)
Wp

x Wp grafik

x 2.676menit

= 1.5 menit

c. Penentuan Penetrameter

Penetrameter
Rentang tebal (in)
Sisi sumber
Sisi film
No. IQI No. IQI No. IQI No. IQI
Lubang Kawat Lubang Kawat
Sampai/termasuk 0,25 in.
12
5
10
4
Lebih 0.25 hingga 0.375
15
6
12
5
Lebih 0.375 hingga 0.50
17
7
15
6
Lebih 0.50 hingga 0.75
20
8
17
7
Lebih 0.75 hingga 1.00
25
9
20
8
Lebih 1.00 hingga 1.50
30
10
25
9
Lebih 1.50 hingga 2.00
35
11
30
10
Lebih 2.00 hingga 2.50
40
12
35
11
Lebih 2.50 hingga 4.00
50
13
40
12
Lebih 4.00 hingga 6.00
60
14
50
13
Lebih 6.00 hingga 8.00
80
16
60
14
Lebih 8.00 hingga 10.00
100
17
80
16
Lebih 10.00 hingga 12.00
120
18
100
17
Lebih 12.00 hingga 16.00
160
20
120
18
Lebih 16.00 hingga 20.00
200
21
160
20
Pada praktikum digunakan sisi sumber (source side) dan berdasarkan tabel diatas
maka rentang tebal spesimen < 0,25 inchi maka no kawat yang digunakan adalah 5
sehingga berdasarkan tabel di bawah ini :

Maka kawat yang digunakan adalah ASTM set A dan kawat yang diharapkan muncul
adalah 2 kawat dengan diameter kawat terkecil adalah 0,20 mm.
Penetrameter yang digunakan :

Kawat

Source Side

Penetrameter jenis A

2. Proses pencucian film


Waktu pencucian film ditentukan dengan grafik normal development berdasarkan suhu
larutan developer.

Suhu larutan developer (T)

= 81

Dari grafik tersebut diperoleh waktu pencelupan pada larutan developer adalah selama 2
menit.
Perbandingan waktu pencelupan pada masing-masing larutan pencuci adalah sebagai
berikut :
Developer

2 menit

Stop Bath

Fixer

Washer

2t

1 menit

1 menit

3. Pembacaan Radiograph
Perhitungan Densitas dan Sensitifitas

Densitas material
Densitas las
Densitas penny
Variasi densitas
VDmax

: 2,79
: 1.94 ; 2,01 ; 2.24
: 2,11

x 100%

4 menit

=
= 6.16 %

VDmin

=
=

x 100%
x 100%

= -8.06 %

Sensitifitas

Sensitifitas

x 100%

=
= 1.56 %
Dari hasil perhitungan diperoleh :
VD maksimum
= 6.16 %
VD minimum
= -8.06 %

VD maksimum 30% (diterima)


VD minimum -15% (diterima)

Nilai Ug

Unsharpness geometry (Ug) untuk pipa :

T-285 Geometric Unsharpness Limitations

Berdasarkan percobaan, diperoleh Ug < Ug max (0,194 mm < 0,51 mm), maka nilai
tersebut dikatakan dapat diterima.

Dari keseluruhan perhitungan diperoleh hasil sebagai berikut :


No.
Parameter
1 Ug
2
3
5
6

VII.

Sensitivitas
Variasi
densitas
Artifact
Penetrameter

ASME V, Article
Hasil
Max 0,02 (0,51 0,194 mm
mm)
Tidak lebih dari 20% 1.56 %
-15% s/d +30%
-8.06 % s/d 6.16 %

Ket
Diterima

Tidak ada
Ada
No.5 set A, 2 kawat 4 kawat
(5 dan 6)

Dit
Diterima

Diterima
Diterima

PEMBAHASAN
Praktikum ini bertujuan untuk gambar radiografi besi las-lasan bentuk pipa
dengan hasil yang diharapkan sesuai dengan standar menggunakan radiasi dari pesawat
sinar-X, melakukan proses film yang telah dilakukan penyinaran radiografi sesuai dengan
prosedur, dan mengukur densitas film serta menentukan lokasi dan jenis cacat dari
radiograp yang telah dihasilkan.
Spesimen yang dipakai adalah besi las-lasan berbentuk pipa/silinder dengan
diameter luar (OD) mm, diameter dalam (ID) mm, dan tebal (LL) mm. Penentuan
parameter meliputi dimensi bahan, tegangan kerja, arus kerja, lama penyinaran, metode
penyinaran, SFD, pergeseran, dan jenis penetrameter. Metode DWDI dipilih karena
specimen yang digunakan adalah pipa dengan diameter kurang dari 3,5 in. SFD pada
percobaan kali ini adalah 510 mm, dengan pergeseran 126.44 mm. Tegangan kerja yang
dipakai selama penyinaran yaitu 120 kV dengan lama penyinaran yaitu 1.5 menit. Selain
parameter tadi, sebelum melakukan penyinaran kita perlu melakukan loading film.
Adapun loading film ini adalah dengan meletakkan film di antara dua screen timbal (Pb)
dengan ketebalan masing-masing screen adalah 0,125 mm. Fungsi dari screen Pb bagian
atas adalah untuk mengintensifikasi penyinaran. Sedangkan screen bagian bawah adalah
untuk menahan adanya radiasi hambur.
Langkah awal yang dilakukan dalam percobaan ini adalah menyiapkan film
(loading). Preparasi film sangat penting dilakukan agar menghasilkan gambar yang baik.
Preparasi dilakukan di ruang gelap agar film yang akan digunakan tidak rusak akibat

sinar Ultraviolet. Hal ini dikarenakan bahan yang ada di dalam film cukup sensitif
terhadap energi radiasi tinggi. Ketika radiasi mengenai film, maka akan terjadi reaksi
oksidasi garam
AgBr AgBr*
Tanda * menyatakan AgBr tereksitasi oleh cahaya. Ketika keadaan film telah
teroksidasi, maka film tidak dapat digunakan lagi. Setelah preparasi film, dilakukanlah
penembakan pada sudut 90o. Dalam radiografi yang sebenarnya, paling tidak diperlukan
dua kali penyinaran pada pipa, yaitu pada sudut 0o dan 90o. Hal ini dimaksudkan agar
seluruh bagian las dapat teramati.
Setelah selesai, film dibiarkan beberapa saat baru kemudian dicuci agar dapat
dibaca. Secara umum proses pencucian film secara reaksi kimia adalah sebagai berikut:

2 AgBr *(s) + C6H6O2 (aq) 2 Ag(s) + 2 HBr (aq) + C6H4O2 (aq)

Cairan pengembang C6H6O2 atau dalam istilah disebut hidrokuinon, dalam hal ini
bertindak sebagai zat pereduksi. Jadi dalam reaksi itu terjadi proses reaksi redoks.
Oksidasi :
Reduksi:

C6H4O2 (aq) C6H4O2 (aq) + 2 H+ + 2 e2 Ag+ + 2 e - 2 Ag (s)

Prinsip dasar dalam radiografi yang merupakan uji tak merusak ini adalah bahwa
radiasi yang berasal dari focus sinar-X dengan diameter tertentu merambat ke dalan
benda uji (specimen) yang diperiksa. Di dalam specimen radiasi akan terabsorbsi
bervariasi tergantung pada tebal dan kerapatan massa bagian-bagian benda uji. Dengan
memanfaatkan sifat interaksi antara radiasi foton dengan materi seperti ini, maka radiasi
dapat dimanfaatkan untuk memeriksa cacat yang ada di dalam bahan. Radiasi yang
diteruskan dan keluar dari bahan kemudian ditangkap oleh film fotografi yang dipasang
di belakang bahan tersebut. Perbedaan intensitas radiasi akibat keadaan sistem dalam diri
specimen akan menimbulkan kehitaman yang berbeda pada film sehingga cacat dalam
bahan yang diperiksa akan tergambar pada film. Dengan teknik ini dapat diketahui mutu

sambungan las. Untuk melihat kecacatan dapat menggunakan penetrameter. Penetrameter


yang digunakan dalam praktek ini adalah jenis ASME set A bentuk kawat. Selanjutnya
dilakukan penyinaran dengan menggunakan pesawat sinar-X dengan ketentuan yang
sudah ditentukan sebelumnya. Selama penyinaran dilakukan pengukuran dosis paparan di
beberapa titik untuk mengetahui kebocoran pesawat sinar X yang mungkin terjadi. Dari
hasil pengukuran selama penyinaran berlangsung tidak terukur dosis yang melebihi batas
yang diijinkan.
Untuk melihat gambar maka dilakukan pencucian film. Dalam pencucian film
harus dilakukan di ruang gelap, karena film akan rusak jika terkena cahaya. Film
radiografi diproses dengan pertama kali dilakukan pencelupan ke dalam larutan developer
selama 2 menit, dilanjutkan ke dalam stopbath selama 1 menit, kemudian ke dalam
larutan fixer selama 4 menit dan terakhir dilakukan pencucian dengan air. Penentuan
lamanya proses pencucian ini ditentukan berdasarkan gafik hubungan suhu larutan yaitu
81

F dengan waktu pencucian menggunakan normal development. Fungsi dari

pencelupan ke dalam larutan developer adalah untuk proses pengembangan film.


Developer mempunyai fungsi sebagai akselerator karena dapat menghilangkan lapisan
proteksi pada lapisan film bagian atas dan reducer karena mampu mereduksi AgBr yang
terekpos menjadi Ag dan menghambat supaya Ag yang terbentuk tidak termakan larutan.
Jika terlalu lama dalam developer film yang terekpos akan berinteraksi dengan yang
tidak terekpos sehingga film akan kabur, oleh karena itu sangat penting dalam
menentukan lama waktu pencucian film hasil radiografi. Selanjutnya proses
pengembangan dihentikan di stopbath dan dilanjutkan dengan penetapan bayangan pada
film oleh larutan fixer. Pencucian film dari ketiga larutan sebelumnya dilakukan oleh
washer yang dalam hal ini digunakan air. Selanjutnya film dikeringkan di dalam alat
pengering dengan cara digantungkan. Setelah kering dilakukan pengukuran densitas
dengan densitometer. Dari hasil pembacaan itu, diperoleh densitas material sebesar 2,79
sedangkan densitas penetrameter 2,11 dan densitas las diperoleh 2,24 ; 2,01 ; dan 1,94.
Dari hasil perhitungan, diperoleh hasil variasi densitas maksimumnya adalah 6.16 % dan
variasi densitas minimumnya adalah -8.06%. Hasil ini sudah memenuhi variasi densitas
yang diijinkan yaitu -15 % < D < +30%, sehingga film dapat diterima.

Selanjutnya dilakukan pembacaan film dengan menggunakan viewer untuk


melihat cacat yang ada. Selain itu dapat dilihat pula kawat penetrameter yang muncul
dalam film. Dari hasil pembacaan, diketahui bahwa kawat penny yang muncul berjumlah
4 kawat. Hal ini sudah sesuai parameter yang ditentukan sebelumnya bahwa kawat yang
harus muncul minimal ada 2 buah. Diameter kawat terkecil yang muncul yaitu 0,13 mm,
digunakan untuk menentukan sensitivitas radiografi dan diperoleh hasil sebesar 1.56%.
Hasil ini sesuai dengan syarat sensitivitas radiografi yaitu kurang dari 20 %, sehingga
film dapat diterima. Pembacaan dengan viewer juga dapat menampilkan cacat yang ada
pada bahan. Pada lasan bahan pipa yang digunakan dalam percobaan diketahui terdapat
berbagai cacat antara lain porosity dan tungsten. Porosity atau Porositas merupakan cacat
las berupa lubang-lubang halus atau pori-pori yang biasanya terbentuk di dalam logam las
akibat terperangkapnya gas yang terjadi ketika proses pengelasan. Penyebab utama dari
porositi adalah kontaminasi atmosfir, oksidasi yang tinggi pada permukaan benda kerja,
kurangnya paduan oksidasi pada elektroda, gas pelindung yang digunakan tidak sesuai,
benda kerja basah, dan terdapat karat. Kontaminasi atmosfir dapat diakibatkan oleh ;
Kurangnya aliran gas pelindung, aliran gas pelindung yang berlebihan, adanya kerusakan
pada peralatan gas plindung, dan adanya angin pada tempat kerja. Sedangkan cacat
tungsten adalah tercemarnya bagian las oleh partikel tungsten.

Gambar: Cacat porosity

Gambar : Cacat tungsten

VIII. KESIMPULAN
1. Dari praktikum radiografi yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:
No.
Parameter
1 Ug
2
3
5
6

Sensitivitas
Variasi
densitas
Artifact
Penetrameter

ASME V, Article
Hasil
Max 0,02 (0,51 0,194 mm
mm)
Tidak lebih dari 20% 1.56 %
-15% s/d +30%
-8.06 % s/d 6.16 %

Ket
Diterima

Tidak ada
Tidak ada
No.5 set A, 2 kawat 4 kawat
(5 dan 6)

Diterima
Diterima

Diterima
Diterima

2. Las pada pipa besi yang diuji pada sudut 90 dengan teknik radiografi terdapat cacat
yang berupa porosity dan tungsten.

IX.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Diktat Las MIG Teknik Pengelasan


Anonim. http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/sains/sains20.htm. Diakses
pada tanggal 30 Mei 2016.
Anonim. https://dikapmn.wordpress.com/tag/industri/ Diakses pada tanggal 30
Mei 2016.
Bagyono. 2015. Pengetahuan Material. Tangerang: PUSDIKLAT BATAN.
Bagyono. 2015. Radiografi Film dan Tanpa Film. Tangerang: PUSDIKLAT
BATAN.
Maryanto, Djoko. 2016. PETUNJUK PRAKTIKUM RADIOGRAFI SINAR-X.
Yogyakarta : STTN BATAN.

Yogyakarta, 03 Juni 2016


Asisten

Praktikan

Drs. Djoko Marjanto

Ari Nurul Pangestu