Anda di halaman 1dari 26

PAPER PERPAJAKAN

KEWAJIBAN PENDAFTARAN BAGI SUBJEK PAJAK DAN


REFORMASI PAJAK

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa / Tuhan
Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nyalah penyusunan paper ini dapat
saya selesaikan tepat pada waktunya.
Adapun judul dari paper ini adalah Kewajiban Pendaftaran Bagi
Subjek Pajak dan Reformasi Pajak. Paper ini menguraikan tentang pengertian
pajak, jenis-jenis pajak, fungsi pajak, subjek pajak, kewajiban subjek pajak dan
reformasi pajak. Tidak lupa pula saya ingin mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam pembuatan paper ini.
Saya menyadari bahwa paper yang saya tulis masih jauh dari sempurna,
mengingat terbatasnya kemampuan sebagai seorang manusia. Oleh karena itu,
saran dan kritik yang bersifat konstruktif sangat saya harapkan. Atas saran-saran
tersebut saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Semoga paper ini benar-benar akan bermanfaat bagi para mahasiswa serta
masyarakat pada umumnya.

Penulis

ii

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.............................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................1
1.1. Latar Belakang................................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah..........................................................................................2
1.3. Tujuan.............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................4
2.1. Pengertian Pajak.............................................................................................4
2.2. Jenis-Jenis Pajak.............................................................................................6
2.3. Fungsi Pajak...................................................................................................9
2.4. Pengertian Subjek Pajak serta Hak dan Kewajiban Subjek Pajak..................10
2.5. Reformasi Pajak..............................................................................................14
2.6. Proses Reformasi Pajak dan Hasilnya bagi Indonesia....................................15
BAB III PENUTUP...............................................................................................22
3.1. Simpulan.........................................................................................................22
3.2. Saran...............................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................24

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara
untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public
saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment.
Pada mulanya pajak belum merupakan suatu pungutan, tetapi hanya
merupakan pemberian sukarela oleh rakyat kepada raja dalam memelihara
kepentingan negara, seperti menjaga keamanan negara, menyediakan jalan
umum, membayar gaji pegawai dan lain-lain. Bagi penduduk yang tidak
melakukan penyetoran dalam bentuk natura maka ia diwajibkan melakukan
pekerjaan-pekerjaan untuk kepentingan umum untuk beberapa hari lamanya
dalam satu tahun.
Setelah terjadinya reformasi, pajak mempunyai peranan yang sangat
penting dalam kehidupan bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan
pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk
membiayai

semua

pengeluaran

termasuk

pengeluaran

pembangunan.

Pembayaran pajak merupakan perwujudan dari kewajiban kenegaraan dan


peran serta Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama
melaksanakan kewajiban perpajakan untuk pembiayaan
pembangunan

nasional.

Sesuai

falsafah

undang-undang

negara dan
perpajakan,

membayar pajak bukan hanya merupakan kewajiban, tetapi merupakan hak


dari setiap warga Negara untuk ikut berpartisipasi dalam bentuk peran serta
terhadap pembiayaan negara dan pembangunan nasional. Tanggung jawab
atas kewajiban pembayaran pajak, sebagai pencerminan kewajiban kenegaran
di bidang perpajakan berada pada anggota masyarakat sendiri untuk
memenuhi kewajiban tersebut. Hal tersebut sesuai dengan sistem self
assessment yang dianut dalam Sistem Perpajakan Indonesia. Pemerintah
dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak, sesuai dengan fungsinya
berkewajiban

melakukan

pembinaan/penyuluhan,

pelayanan,

dan

pengawasan. Dalam melaksanakan fungsinya tersebut, Direktorat Jenderal

Pajak berusaha sebaik mungkin mengembangkan dan memperbaharui sistem


perpajakan sehingga mendorong kepada pembangunan.
Dalam pemungutan pajak subjek dan objek pajak harus jelas. Oleh
karena itu harus dikelola dengan baik dan benar sehingga data wajib pajak
sesuai. Selain itu, tarif pajak harus ditentukan berdasarkan ketentuan yang
berlaku saat itu. Dengan demikian para wajib pajak dapat rutin dan patuh
membayar pajak. Subjek pajak adalah orang, badan atau kesatuan lainnya
yang telah memenuhi syarat-syarat subjektif, yaitu bertempat tinggal atau
berkedudukan di Indonesia. Subjek pajak baru menjadi wajib pajak bila telah
memenuhi syarat-syarat obyektif. Objek pajak adalah apa yang dikenakan
pajak. Mengingat penting dan strategisnya objek pajak karena menyangkut
apa yang dikenakan atau tidak dikenakannya pajak atas objek dimaksud,
sehingga dalam UU perpajakan kita selalu dengan tegas dinyatakan apa yang
menjadi objek setiap jenis pajak.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam paper ini adalah sebagai berikut.
1. Apa pengertian dari pajak?
2. Apa saja jenis-jenis serta pengelompokan dari pajak?
3. Apa fungsi dari pajak?
4. Siapa yang disebut sebagai subjek pajak dan apa hak dan kewajiban dari
5.
6.

subjek pajak yang telah memenuhi syarat sebagai wajib pajak?


Apa yang dimaksud dengan reformasi pajak?
Bagaimana proses reformasi pajak dan hasilnya bagi Indonesia?

1.3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan pada makalah ini
adalah untuk:
1. mengetahui pengertian dari pajak
2. mengetahui jenis-jenis serta pengelompokan dari pajak
3. mengetahui fungsi dari pajak
4. mengetahui orang yang disebut sebagai subjek pajak dan hak kewajiban
5.
6.

dari subjek pajak yang telah memenuhi syarat sebagai wajib pajak
memahami penjelasan mengenai reformasi pajak
mengetahui dan memahami proses reformasi pajak dan hasilnya bagi
indonesia

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Pajak
Beberapa ahli memberikan pengertian pajak antara yang satu dengan
yang lainnya. Diantara beberapa pengertian yang diberikan oleh para ahli
adalah sebgai berikut.
3

1.

Menurut Sommerfeld : pajak adalah suatu pengalihan sumbersumber yang wajib dilakukan dari sektor swasta kepada sektor
pemerintah berdasarkan peraturan tanpa mendapat suatu imabalan
kemabali

yanglangsung

dan

seimbang,

agar

pemerintah

dapat

melaksanakan tugastugasnya dalam pemerintahan.


2.

Menurut

Prof.

DR.

M.J.H.

Smeets

pajak

adalah

prestasi

kepada pemerintah yang terutang melalui norma-norma umum, dan yang


dapatdipaksakan tanpa ada kontra prestasi yang dapat ditunjukkan dalam
hal individual; maksudnya adalah untuk membiayai pengeluaran
pemerintah
3.

Menurut Prof. Dr. P. J. A. Adriani, pajak adalah iuran masyarakat kepada


negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib
membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang)
dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk
dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran
umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.

4.

Menurut Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro SH, pajak adalah iuran rakyat
kepada Kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan)
dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yang langsung dapat
ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
Definisi tersebut kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai berikut:
Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara
untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk
public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public
investment.

5.

Sedangkan menurut Sommerfeld Ray M., Anderson Herschel M., &


Brock Horace R, pajak adalah suatu pengalihan sumber dari sektor
swasta ke sektor pemerintah, bukan akibat pelanggaran hukum, namun
wajib dilaksanakan, berdasarkan ketentuan yang ditetapkan lebih dahulu,
tanpa mendapat imbalan yang langsung dan proporsional, agar
pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya untuk menjalankan
pemerintahan.
4

6.

Sementara pemahaman pajak dari perspektif hukum menurut Soemitro


merupakan suatu perikatan yang timbul karena adanya undang-undang
yang

menyebabkan

timbulnya

kewajiban

warga

negara

untuk

menyetorkan sejumlah penghasilan tertentu kepada negara, negara


mempunyai kekuatan untuk memaksa dan uang pajak tersebut harus
dipergunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan. Dari pendekatan
hukum ini memperlihatkan bahwa pajak yang dipungut harus
berdasarkan undang-undang sehingga menjamin adanya kepastian
hukum, baik bagi fiskus sebagai pengumpul pajak maupun wajib pajak
sebagai pembayar pajak.
Dari berbagai definisi tentang pajak di atas, dapat diambil suatu
kesimpulan bahwa pajak memiliki beberapa aspek dasar:
a.

Pembayaran pajak harus berdasarkan undang-undang;

b.

Sifatnya dapat dipaksakan;

c.

Tidak ada kontraprestasi yang dapat langsung dirasakan oleh pembayar


pajak;

d.

Pemungutan pajak dilakukan oleh negara baik pemerintah pusat maupun


daerah;

e.

Pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran pemerintah.


Namun pajak menurut Pasal 1 UU No.28 Tahun 2007 tentang

Ketentuan umum dan tata cara perpajakan adalah "kontribusi wajib kepada
negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapat timbal balik secara
langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
2.2. Jenis-Jenis Pajak
Secara umum, pajak yang berlaku di Indonesia dapat dibedakan
menjadi Pajak Pusat dan Pajak Daerah. Pajak Pusat adalah pajak-pajak yang
dikelola oleh Pemerintah Pusat yang dalam hal ini sebagian dikelola oleh
Direktorat Jenderal Pajak - Departemen Keuangan. Sedangkan Pajak Daerah
adalah pajak-pajak yang dikelola oleh Pemerintah Daerah baik ditingkat
Propinsi maupun Kabupaten/Kota.
a. Pajak-pajak Pusat yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak meliputi :
5

1) Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan kepada orang


pribadi atau badan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh
dalam suatu Tahun Pajak. Yang dimaksud dengan penghasilan adalah
setiap tambahan kemampuan ekonomis yang berasal baik dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat digunakan untuk
konsumsi atau untuk menambah kekayaan dengan nama dan dalam
bentuk apapun. Dengan demikian maka penghasilan itu dapat berupa
keuntungan usaha, gaji, honorarium, hadiah, dan lain sebagainya.
2) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas
konsumsi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak di dalam Daerah
Pabean. Orang Pribadi, perusahaan, maupun pemerintah yang
mengkonsumsi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dikenakan
PPN. Pada dasarnya, setiap barang dan jasa adalah Barang Kena
Pajak atau Jasa Kena Pajak, kecuali ditentukan lain oleh Undangundang PPN. Tarif PPN adalah tunggal yaitu sebesar 10%. Dalam
hal ekspor, tarif PPN adalah 0%. Yang dimaksud Dengan Pabean
adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat,
peraian, dan ruang udara diatasnya.
3) Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn BM) Selain dikenakan
PPN, atas barang-barang kena pajak tertentu yang tergolong mewah,
juga dikenakan PPn BM. Yang dimaksud dengan Barang Kena Pajak
yang tergolong mewah adalah : a) Barang tersebut bukan merupakan
barang kebutuhan pokok; atau b) barang tersebut dikonsumsi oleh
masyarakat tertentu; atau c) pada umumnya barang tersebut
dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi; atau d) barang
tersebut dikonsumsi untuk menunjukkan status; atau e) apabila
dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral masyarakat, serta
mengganggu ketertiban masyarakat.
4) Bea Meterai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen, seperti
surat perjanjian, akta notaris, serta kwitansi pembayaran, surat
berharga, dan efek, yang memuat jumlah uang atau nominal diatas
jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan.
5) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah pajak yang dikenakan atas
kepemilikan atau pemanfaatan tanah dan atau bangunan. PBB
6

merupakan Pajak Pusat namun demikian hampir seluruh realisasi


penerimaan PBB diserahkan kepada Pemerintah Daerah baik
Propinsi maupun Kabupaten/Kota.
6) Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah
pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau
bangunan. Seperti halnya PBB, walaupun BPHTB dikelola oleh
Pemerintah Pusat namun realisasi penerimaan BPHTB seluruhnya
diserahkan kepada Pemerintah Daerah baik Propinsi maupun
b.

Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan.


Pajak-pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah baik Propinsi
maupun Kabupaten/Kota antara lain meliputi : 1) Pajak Propinsi (Pajak
Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air, Bea Balik Nama
Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air, Pajak Bahan Bakar
Kendaraan Bemotor; Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah
Tanah dan Air Permukaan) 2) Pajak Kabupaten/Kota (Pajak Hotel, Pajak
Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak
Pengambilan Bahan Galian Golongan C, Pajak Parkir).
Pengelompokan Jenis Pajak Dalam Hukum Pajak terdapat pembagian

jenis-jenis pajak yang dibagi dalam berbagai pengelompokan atau pembagian,


sebagai berikut :
a.

Pengelompokan Menurut Golongan


1) Pajak Langsung yaitu pajak yang dimaksudkan untuk dipikul sendiri
oleh yang membayarnya. Jadi pajak jenis ini tidak bisa dilimpahkan
atau digeser kepada pihak lain. Misalnya Pajak Penghasilan ( PPh ),
PPh tidak bisa dilimpahkan atau digeser kepada orang / pihak lain
untuk menanggungnya.
2) Pajak Tidak Langsung yaitu pajak yang dimaksudkan dapat
dilimpahkan Atau dibebankan oleh yang membayar kepada pihak
lain. Misalnya Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, pajak jenis ini bisa dilimpahkan atau digeserkan

b.

oleh penjual kepada pembeli.


Pengelompokan Menurut Sifat
1) Pajak Subyektif ( Pajak yang Bersifat Perorangan ) yaitu pajak yang
dalam pengenaannya memperhatikan keadaan atau kondisi pribadi
7

wajib pajak ( status kawin atau tidak kawin, mempunyai tanggungan


keluarga atau tidak ). Misalnya Pajak Penghasilan, keadaan / kondisi
wajib pajak akan mempengaruhi dalam hal Penghasilan Tidak Kena
Pajak ( PTKP ) nya.
2) Pajak Obyektif ( Pajak yang Bersifat Kebendaan ) yaitu pajak yang
dalam pengenaannya hanya memperhatikan sifat obyek pajaknya
saja, tanpa memperhatikan keadaan atau kondisi diri wajib pajak.
Misalnya Bea Meterai, yang dipungut apabila obyek pajak telah ada
dan memenuhi syarat sebagai suatu dokumen yang dikenakan pajak
tanpa melihat kondisi dari wajib pajak. Begitupun dalam Pajak
Pertambahan Nilai yang pengenaannya juga tidak dilihat dari kondisi
pribadi wajib pajak tetapi tergantung pada obyek tersebut apakah
sudah memenuhi syarat untuk dikenakan PPN.
c. Pengelompokan Menurut Lembaga Pemungutan
1) Pajak Pusat ( Pajak Negara ) yaitu pajak yang wewenang
pemungutannya ada ditangan pemerintah pusat dan digunakan untuk
membiayai rumah tangga Negara. Misalnya Pajak Penghasilan,
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah,
Pajak Bumi dan Bangunan.
2) Pajak Daerah yaitu pajak yang wewenang pemungutannya ada pada
pemerintah daerah dan digunakan untuk kepentingan pembiayaan
rumah tangga pemerintah daerah tersebut.
2.3. Fungsi Pajak
Pajak merupakan salah satu pendapatan negara yang didapat dari
rakyat sebagai wajib pajak. Ada beberapa jenis fungsi pajak yang belum
banyak dikenal dan dipahami oleh masyarakat. Pajak juga diwajibkan kepada
seluruh instansi pemerintahan, lembaga swasta dan juga perorangan untuk
membayar pajak. Tata cara pemungutan pajak itu sendiri sudah melalui
kesepakatan terlebih dahulu dan harus berdasar pada norma hukum yang
berlaku

yang

dilandaskan

kepada

tujuan

dari

pemerintah

untuk

mensejahterakan rakyatnya. Pembayaran wajib pajak ini bukan hanya


dilakukan di negara kita Indonesia saja, namun di seluruh penjuru dunia juga
melakukan hal yang sama karena hal itu semata-mata untuk memberikan
kesejahteraan pada rakyat negara tersebut.
8

1.

Pajak reguler atau pajak pengatur kegiatan ekonomi


Pajak reguler atau disebut juga sebagai pengatur ekonomi adalah salah
satu bentuk dari pajak yang berfungsi sebagai pengatur juga menjalankan
kebijakan dari pemerintah dalam bidang khusus ekonomi dan sosial
untuk mencapai tujuan tertentu. Contohnya pajak pada minuman keras,
iurannya ditinggikan agar para pemuda yang hobi mabuk-mabukan bisa

2.

dikurangi karena mahalnya harga dari miras tersebut.


Pajak distribusi atau pendapatan
Adalah salah satu dari bentuk pajak yang fungsinya untuk mendanai
masalah pembangunan ekonomi pada masyarakat sehingga dicapainya
tujuan taraf hidup yang lebih baik. Selain itu juga pendapatan dari pajak
yang satu ini bisa dijadikan sebagai alat pemerata penghasilan.
Contohnya dibangunnya taman kota.

3.

Pajak Alokasi pembiayaan pembangunan


Merupakan pajak yang sumbernya berasal dari kas negara yang sudah
terhimpun dan dikumpulkan. Fungsi dari pajak yang satu ini adalah agar

4.

dapat diperuntukan untuk pembangunan dalam segala bidang.


Pajak budgetair atau menggunakan sumber utama kas negara
Adalah salah satu pajak yang bersumber dari kas negara dan
diperuntukan bagi pembiayaan pengeluaran dari kas negara tersebut.

2.4. Subjek Pajak serta Hak dan Kewajiban Subjek Pajak


Subjek pajak adalah pihak yang mempunyai kewajiban-kewajiban
subjektif, atau terhadap siapa pajak akan ditagih. Dengan kata lain subjek
pajak adalah orang, badan atau kesatuan lainnya yang telah memenuhi syaratsyarat subjektif, yaitu bertempat tinggal atau berkedudukan di Indonesia.
Subjek pajak tidak identik dengan subjek hukum, oleh karena itu untuk
menjadi subjek pajak tidak perlu menjadi subjek hukum. Sehingga firma,
perkumpulan, warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan dapat
menjadi subjek pajak. Demikian juga orang gila, anak yang masih di bawah
umur dapat menjadi subjek atau wajib pajak, tetapi untuk mereka perlu
ditunjuk orang atau wali yang dapat dipertanggungjawabkan untuk memenuhi
kewajiban-kewajibannya. Dalam UU PPH 2008 pasal 2 yang dapat dikatakan
subjek PPH adalah:
1. Orang pribadi atau perseorangan.
9

2.

Warisan yang belum terbagi sebagai satu keastuan mengantikanm yang


berhak. Kedudukan orang pribadi sebagai subjek pajak dapat bertempat
tinggal atau berada di Indonesia ataupun di luar Indonesia. Orang pribadi
tidak melihat batasan dan juga jenjang sosial ekonomi, dengan kata lain
berlaku sama untuk semua ( nondicrimination). Dalam hal ini, Warisan
yang belum terbagi sebagai satu kesatuan merupakan subjek pajak
pengganti, menggantikan mereka yang berhak yaitu ahli waris.
Penunjukan ahli warisan tersebut dimaksudkan agar pengenaan pajak
atas penghasilan yang berasal dari warisan tersebut tetap dapat

3.

dilakasanakan, demikian juga dengan tindakan penagihan selanjutnya.


Badan
Badan adalah sekumpulan orang atau modal yang merupakan kesatuan

4.

baik yang melakukan usaha atau tidak melakukan usaha.


Bentuk usaha tetap (BUT).
Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang digunakan oleh
orang pribadi yang tidak bertepat tinggal di Indonesia atau berada berada
di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam
dalam jangka waktu 12 bulan, atau juga badan yang didirkan atau tidak
bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan di Indonesia.
Subjek pajak akan dikenakan pajak penghasilan apabila subjek pajak

tersebut memperoleh atau menerima penghasilan. Dalam hal ini subjek pajak
dapat dibedakan menjadi seubjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar
negeri.
1. Subjek pajak dalam negeri adalah subjek pajak yang bertempat tinggal
atau berkedudukan di Indonesia daan badan yang didirikan atau
bertempat kedudukan di Indonesia. Subjek pajak dalam negeri ini dapat
memperoleh atau menerima penghasilan di Indonesia maupun di luar
Indonesia.
a. Orang pribadi atau perseorangan
Orang pribadi akan menjadi subjek pajak dalam negeri apabila
bertempat tinggal di Indonesia, bertempat tinggal di Indonesia lebih
dari 183 hari dalam kurun waktu 12 bulan dan mempunyai niat
b.

untuk bertempat tinggal di Indonesia.


Warisan belum terbagi
10

Warisan belum terbagi dianggap sebagai subjek pajak pengganti,


c.

yaitu mengganti pihak yang berhak atas warisan tersebut.


Badan
Suatu badan dikatakan sebagai subjek pajak dalam negeri pada saat
badan tersebut didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia.
Didirikan dalam UU PPH 2008 dikatakan tempat kedudukan
badan ditetapkan oleh Direktur Jendral Pajak menurut keadaan yang
sebenarnya dalam pasal 2 ayat (6), hal ini untuk memberikan
kepastian hukum. Badan itu sendriri dapat berbentuk PT, CV,

2.

BUMN, dan BUMD.


Subjek pajak luar negeri Subjek pajak luar negeri meliputi subjek pajak
bertempat tinggal, bertemapt kedudukan, yang didirikan di luar Indonesia
yang menerima atau memperoleh penghasilan di Indonesia. Subjek pajak
luar negeri dapat berbentuk orang pribadi ataupun badan.
a. Orang pribadi
Orang pribadi yang tergolong sebagai subjek pajak luar negeri tidak
bertempat tinggal di Indonesia, berada di Indonesia tidak lebih dari
183 hari dalam jangja waktu 12 bulan dan menerima atau
memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan
b.

usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.


Badan
Badan sebagai subjek pajak luar negeri adalah badan yang
memperoleh penghasilan dari Indonesia tetapi tidak dari hasil usaha
atau kegiatan yang dilakukan BUT di Indonesia.
Adapun hak dan kewajiban subjek pajak antara lain sebagai berikut.

1.

Kewajiban mendaftarkan diri


Sesuai dengan sistem self assessment maka Wajib Pajak mempunyai
kewajiban untuk mendaftarkan diri ke KPP atau KP2KP yang wilayahnya
meliputi tempat tinggal atau kedudukan Wajib Pajak untuk diberikan
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Disamping melalui KPP atau
KP2KP, pendaftaran NPWP juga dapat dilakukan melalui e-register, yaitu
suatu cara pendaftaran NPWP melalui media elektronik on-line
(internet). Bagi UMKM baik perseorangan maupun badan (PT, CV,
BUMD, firma, kongsi, koperasi, persekutuan, perkumpulan, yayasan,
organisasi massa, organisasi sosial politik) yang memenuhi syarat
11

sebagai Wajib Pajak, wajib mendaftarkan sendiri ke KPP atau K2KP


untuk memperoleh NPWP. UMKM milik perseorangan yang wajib
memiliki NPWP adalah yang telah memenuhi persyarat subjektif dan
syarat objektif. Syarat subjektifnya adalah orang pribadi, sedangkan
syarat objektifnya adalah memiliki penghasilan yang akan dikenakan
pajak melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Setiap instansi
pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain, wajib memberikan data
dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan kepada Direktorat
Jenderal Pajak yang ketentuannya diatur pada Pasal 35A UU Nomor 6
Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
Sebagaimana Telah Diubah Dengan UU Nomor 16 Tahun 2009. Dalam
rangka pengawasan kepatuhan pelaksanaan kewajiban perpajakan
sebagai konsekuensi penerapan sistem self assessment, data dan
informasi yang berkaitan dengan perpajakan yang bersumber dari
instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain sangat diperlukan
oleh Direktorat Jenderal Pajak. Data dan informasi dimaksud adalah data
dan informasi orang pribadi atau badan yang dapat menggambarkan
kegiatan atau usaha, peredaran usaha, penghasilan dan/atau kekayaan
yang bersangkutan, termasuk informasi mengenai nasabah debitur, data
transaksi keuangan dan lalu lintas devisa, kartu kredit, serta laporan
keuangan dan/atau laporan kegiatan usaha yang disampaikan kepada
instansi lain di luar Direktorat Jenderal Pajak. Setiap orang yang dengan
sengaja tidak memenuhi kewajiban memberikan data dan informasi yang
berkaitan dengan perpajakan dipidana dengan pidana kurungan paling
lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah). Sedangkan untuk setiap orang yang dengan sengaja
menyebabkan tidak terpenuhinya kewajiban pejabat dan pihak lain
(kewajiban memberikan data dan informasi yang berkaitan dengan
perpajakan) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh)
bulan atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta
rupiah).
2.

Hak wajib pajak


12

Dalam hal pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih
kecil dari jumlah kredit pajak, atau dengan kata lain pembayaran pajak
yang dibayar atau dipotong atau dipungut lebih besar dari yang
seharusnya terutang, maka Wajib Pajak mempunyai hak untuk
mendapatkan kembali kelebihan tersebut. Pengembalian kelebihan
pembayaran pajak dapat diberikan dalam waktu 12 (dua belas) bulan
sejak surat permohonan diterima secara lengkap. Untuk Wajib Pajak
masuk kriteria Wajib Pajak Patuh, pengembalian kelebihan pembayaran
pajak dapat dilakukan paling lambat 3 bulan untuk PPh dan 1 bulan
untuk PPN sejak permohonan diterima. Perlu diketahui pengembalian ini
dilakukan tanpa pemeriksaan. Wajib Pajak dapat melakukan permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak melalui dua cara :
a. melalui Surat Pemberitahuan (SPT),
b. dengan mengirimkan surat permohonan yang ditujukan kepada
Kepala KPP.
2.5. Reformasi Pajak
Reformasi pajak menjadi tema yang makin menarik saat ini. Makna
reformasipun terus meluas dan berkembang. Williamson (dalam masoed,
1994) menyatakan bahwa reformasi perpajakan meliputi perluasan basis
perpajakan, perbaikan administrasi pajak, penegasan regulasi untuk
mengurangi terjadinya penghindaran dan penggelapan pajak, serta mengatur
pengenaan pada aset yang berada di luar negeri. Abimanyu (2003) memberi
sebutan reformasi sebagai perpajakan sebagai perubahan mendasar di segala
aspek elemen perpajakan yang memiliki 3 (tiga) tujuan utama, yaitu
meningkatkan kepatuhan wajib pajak secara sukarela, meningkatkan
kepercayaan terhadap administrasi perpajakan yang tinggi, dan meningkatkan
produktivitas aparat perpajakan yang tinggi.
Langkah pemerintah untuk meningkatkan penerimaan dari sektor
perpajakan dimulai dengan melakukan reformasi perpajakan secara
menyeluruh pada tahun 1983, dan sejak saat itulah, Indonesia menganut
sistem self assesment. Penerapan self assesment system akan efektif apabila
kondisi kepatuhan sukarela (voluntary compliance) pada masyarakat telah
13

terbentuk

(Darmayanti,

2004).

Kenyataan

yang

ada

di

Indonesia

menunjukkan tingkat kepatuhan masih rendah, hal ini bisa dilihat dari belum
optimalnya penerimaan pajak yang tercermin dari tax gap dan tax ratio.
Data yang akurat mengenai berapa jumlah tax gap Indonesia belum
tersedia. Namun dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia, Gunadi mengutip hasil laporan Badan
Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tentang audit kinerja
Direktorat Jenderal Pajak, bahwa Indonesia mengalami tax gap yang cukup
signifikan. Dari sisi lain, tax ratio Indonesia paling rendah di kawasan
ASEAN yaitu hanya rata-rata sebesar 12,2 13,5 % untuk tahun 2001 2006
(Berita Pajak, 1 September 2005). Sementara itu, tax ratio negara-negara
ASEAN sebesar: Malaysia (20,17%), Singapura (21,4%), Brunai (18,8%),
dan Thailand (17,28%). Angka tax gap yang signifikan dan tax ratio yang
masih rendah ini menunjukkan usaha memungut pajak (tax effort) Indonesia
rendah (Gunadi, 2004).
2.6. Proses Reformasi Pajak dan Hasilnya Bagi Indonesia
Reformasi perpajakan adalah perubahan yang mendasar di segala
aspek perpajakan. Reformasi pajak dilakukan agar sistem perpajakan dapat
lebih efektif dan efisien, sejalan dengan perkembangan globalisasi yang
menuntut daya saing tinggi dengan negara lain. Tentu saja dengan
memperhatikan prinsip-prinsip perpajakan yang sehat seperti persamaan
(equality), kesederhanaan (simplicity), dan keadilan (fairness), sehingga tidak
hanya berdampak terhadap peningkatan kapasitas fiskal, melainkan juga
terhadap perkembangan kondisi ekonomi makro.
Adapun langkah-langkah reformasi perpajakan tersebut antara lain
meliputi :
a. Langkah-langkah pembaruan kebijakan (tax policy reform); melalui
Perubahan UU PPh, Perubahan UU PPN dan PPnBM, Perubahan UU
PBB, Perubahan UU Bea Materai, serta UU Kepabeanan dan UU cukai.
Pada intinya Paket Amandemen Undang-Undang Perpajakan ini lebih
dititik-beratkan pada pemberian rasa keadilan dan kepastian hukum di
bidang perpajakan, yang bertujuan untuk mendorong investasi, serta
mengoptimalkan penerimaan perpajakan.
14

b.

Langkah-langkah pembaruan administrasi perpajakan (tax administrative


reform); meliputi : 1) penyempurnaan peraturan pelaksanaan undangundang perpajakan; 2) pembentukan dan perluasan Kantor Pelayanan
Pajak (KPP) khusus Wajib Pajak (WP) Besar (Large Taxpayer Office,
LTO), diantaranya meliputi pembentukan organisasi berdasarkan fungsi,
pengembangan sistem administrasi perpajakan yang terintegrasi dengan
pendekatan fungsi, dan implementasi dari prinsip-prinsip Good
Corporate Governance; 3) pembangunan KPP khusus WP menengah, dan
KPP khusus WP kecil di Kanwil VI Direktorat Jenderal Pajak; 4)
pengembangan basis data, pembayaran pajak dan penyampaian SPT
secara online; 5) perbaikan manajemen pemeriksaan pajak; serta 6)
peningkatan efektivitas penerapan kode etik di jajaran Direktorat

c.

Jenderal Pajak dan Komisi Ombudsman Nasional.


Reformasi perpajakan pertama, tahun 1983, dengan diundangkannya: 1)
Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan (UU KUP); 2) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan (UU PPh 1984); 3) Undang-undang Nomor 8
Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah (UU PPN 1984); 4) Undang-undang No.
12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi (UU PBB) dan Bangunan; dan 5)

d.

Undang-undang No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai (UU BM).


Reformasi undang-undang perpajakan tersebut benar-benar mengganti
perpajakan warisan Belanda seperti Pajak Perseroan 1944. Adapun
perubahan yang telah dilakukan adalah : 1) UU KUP telah diubah dengan
UU No. 9 Tahun 1994 (perubahan pertama), UU No. 16 Tahun 2000
(perubahan kedua) dan UU No. 28 Tahun 2007 (perubahan ketiga). 2)
UU PPh 1984 telah diubah dengan UU No. 7 Tahun 1991 (perubahan
pertama), UU No. 10 Tahun 1994 (perubahan kedua), UU No. 17 Tahun
2000 (perubahan ketiga) dan UU No. 36 Tahun 2008 (perubahan
keempat). 3) UU PPN dan PPn BM 1984 telah diubah dengan UU No. 11
tahun 1994 (perubahan pertama), UU No. 18 tahun 2000 (perubahan
kedua) dan UU No. 42 TAhun 2009 (perubahan ketiga). 4) UU PBB telah
diubah dengan UU No. 12 tahun 1994 (perubahan pertama), UU No. 20
15

tahun 2000 (perubahan kedua) dan Undang-undang Nomor 28 tahun


2009 (perubahan ketiga).
Perkembangan Sistem Perpajakan di Indonesia, laju inflasi yang
relatif tinggi selama 1971-1978 berakibat merosotnya daya saing ekonomi
Indonesia baik dalam maupun luar negeri. Kesulitan lainnya adalah berasal
dari Perusahaan Tambang Nasional (Pertamina), menurut laporan The Asian
Wall Street Journal Pertamina tidak mampu membayar utang kepada
beberapa kontraktor dan leveransirnya yang diperkirakan mencapai ratusan
juta Dolar. Dan,kesulitan ketiga adalah masalah pangan di mana produksi
padi tidak memenuhi sasaran sebagai akibat musim kering yang
berkepanjangan dan serangan hama.
Akibatnya, harapan terhadap hasil ekspor minyak dan gas tidak seperti
sebelumnya, sehingga Indonesia tidak lagi memegang migas sebagai variable
permanen untuk jangka waktu lama. Patokan harga minyak yang menurun
memengaruhi pajak perseroan migas Indonesia, sehingga pemerintah perlu
melakukan rancangan ulang untuk menutup kekurangan target penerimaan
APBN 1983/1984 yang sebagian dicari dari utang luar negeri.
Pinjaman luar negeri telah mengandung banyak aspek politik dan
modal asing juga memiliki aspek yang berada di luar kekuasaan Indonesia.
Sehingga, jika state dan teknokrasi tak didukung oleh kemampuan
menciptakan mobilisasi dana dalam negeri yang lebih terkontrol, maka tidak
akan mampu membawa keberhasilan pembangunan Usaha ekstensifikasi dan
intensifikasi pajak untuk meningkatkan jumlah penerimaan negara dengan
tidak mengandalkan pada penerimaan dari sektor migas kemudian dilakukan.
Reformasi perpajakan sebagai perubahan peraturan lama sampai keakarakarnya, dasar falsafah dan sistem pemungutan diterapkan di indonesia.
Karena, bagaimanapun juga dengan mengandalkan sistem perpajakan yang
sebelumnya akan menghalangi usaha peningkatan efisiensi industri dalam
negeri, dimana sistem perpajakan. Dan, secara jelas IGGI (International
Government Group of Indonesia) menyebutkan bahwa sistem perpajakan di
Indonesia berada di bawah standar sistem perpajakan Internasional.
Terdapat begitu banyak pengertian mengenai reformasi perpajakan
diberbagai negara maju maupun negara berkembang. Hal tersebut disebabkan
karena adanya perbedaan pengertian dan pola reformasi perpajakan yang
16

dianut oleh Negara berkembang dan yang dianut oleh negara maju. Hal ini
dikarenakan terdapat perbedaan struktur pajak yang umumnya seragam di
negara maju tapi ada bermacammacam struktur pajak di negara berkembang.
Menurut Ghaizi Nasucha, reformasi administrasi perpajakan adalah
penyempurnaan atau perbaikan kinerja administrasi, baik secara individu,
kelompok, maupun kelembagaan agar lebih efisien, ekonomis, dan cepat.
Malcolm Gillis mengemukakan atribut yang menjadi dasar suatu
reformasi perpajakan :
a. Breadth of reform
Reformasi perpajakan memfokuskan pada struktur pajak atau sistem
b.

pajak, dan administrasi pajak.


Scope of reform
Reformasi perpajakan dilakukan secara comprehensive (semua sumber
penerimaan yang penting), atau dilakukan secara parsial (hanya meliputi

c.

satu atau dua komponen penting dari sistem perpajakan.


Revenue goals
Reformasi perpajakan untuk meningkatkan penerimaan dalam persentase
terhadap PDB, yaitu rasio pajak (revenue enhancing) ; untuk mengganti
penerimaan (revenue neutral reform) ; atau bahkan untuk mengurangi

d.

penerimaan (revenue decreasing reform).


Equity goals
Reformasi perpajakan untuk menegakkan keadilan (redistributive). Orang
berpenghasilan tidak sama, pajaknya diperlakukan tidak sama juga,
namun jika reformasi perpajakan tidak dimaksudkan untuk mengubah
distribusi pendapatan yang sudah ada, maka disebut distributionally
neutral reform.

e.

Resource allocations goals


Reformasi perpajakan yang berusaha mengurangi pengenaan pajak pada
sumber daya agar dapat dialokasikan lebih efisien (euconomically
neutral), jika sistem perpajakan untuk mempengaruhi aliran sumber daya
sector ekonomi atau aktivitas tertentu, maka disebut interventionist

f.

reforms.
Timing of reform
Dilakukan dengan mengubah seluruh kebijakan perpajakan secara
bersamaan disebut contemporaneous reforms, dengan implementasi
bertahap disebut phased reforms, atau perubahan kebijakan perpajakan
17

yang tidak berkaitan dilakukan dalam beberapa tahun lebih disebut


successive reforms.
Tujuan dari reformasi administrasi perpajakan adalah bahwa
administrasi perpajakan yang ada di suatu negara mengimplementasikan
struktur perpajakan yang efisien dan efektif, guna mencapai sasaran
penerimaan pajak yang optimal. Hal ini meliputi pengembangan sumber daya
manusia, baik itu peningkatan kuantitas dan kualitas pegawai pajak maupun
peningkatan kesadaran Wajib Pajak untuk patuh dalam kewajiban
perpajakannya.
Selain itu, pengembangan teknologi informasi pada instansi
perpajakan untuk mengimbangi keberadaan teknologi informasi yang telah
dimiliki terlebih dahulu oleh Wajib Pajak untuk menjawab tantangan
globalisasi. Kemudian, masalah perbaikan struktur organisasi instansi pajak,
proses, dan prosedur administrasi perpajakan, serta sumber daya financial
bagi pengembangan sarana dan prasarana yang menunjang perbaikan secara
menyeluruh sistem perpajakan dan insentif yang cukup bagi pegawai pajak.
Reformasi perpajakan yang dilakukan oleh suatu negara merupakan
suatu cara untuk memperbaiki dan meningkatkan perekonomian global
melalui pajak. Reformasi dalam perpajakan akan berimplikasi terhadap
luasnya dasar pengenaan pajak (tax base), dalam hal ini menambah jenis
penghasilan sebagai objek pajak dan mempengaruhi pengenaan tarif pajak
(tax rate), dan usaha memperbaiki administrasi perpajakan menjadi lebih
sempurna.
Suatu negara mengharapkan memiliki suatu sistem perpajakan yang
sempurna, agar apa yang menjadi tujuan dari suatu pemerintahan negara
dapat tercapai. Setiap usaha penyempurnaan memerlukan suatu perubahan,
baik secara parsial maupun secara keseluruhan atau mendasar.
Alasan negara melakukan reformasi dalam perpajakan antara lain
adalah : a) Untuk menstabilkan perekonomian yang tidak menentu karena
pengaruh

perekonomian

internasional

maupun

nasional,

b)

Upaya

mengalihkan sektor penerimaan APBN dari migas yang semula sebagai sektor
primadona menjadi pajak sebagai sumber yang lebih dapat menjanjikan,
karena secara rasional pajak adalah penerimaan yang berkelanjutan, tidak
seperti migas, c) Usaha mengikuti ketentuan dunia terutama dalam hal
18

pendanaan (pinjaman luar negeri) yang mensyaratkan struktur pajak yang ada
harus disesuaikan dengan kondisi seharusnya, d) Meningkatkan penerimaan
negara dari sektor pajak.
Adapun Tujuan Reformasi Perpajakan, menurut Sony Devano, yaitu:
a) Meningkatkan kualitas pelayanan kepada wajib pajak (taxpayers quality
services) sebagai sumber aliran dana untuk mengisi kas Negara, b) Menekan
terjadinya penyeludupan pajak (tax evasian) oleh wajib pajak, c)
Meningkatkan kepatuhan bagi wajib pajak dalam penyelenggaraan kewajiban
perpajakannya, d) Menerapkan konsep good governance, adanya transparansi,
responsibility, keadilan, dan akuntabilitas dalam meningkatkan kinerja
instansi pajak sekaligus publikasi jelasnya pos penggunaan pengeluaran dana
pajak, e) Meningkatkan penegakan hukum pajak, pengawasan yang tinggi
dalam pelaksanaan administrasi pajak, baik kepada fiskus maupun kepada
wajib pajak.
Reformasi perpajakan yang dilakukan di Indonesia dimulai sejak
tahun 1984. Diawali dengan reformasi perpajakan (first tax reform) dilakukan
pada tahun 1984, perubahan mendasar pada ketentuan peraturan perundangundang perpajakan dilakukan di Indonesia. Pembaruan sistem perpajakan di
Indonesia ini diusahakan tersusun system perpajakan yang sederhana, adanya
kepastian

hukum,

dan

bertujuan

untuk

memberikan

pemerataan

perekonomian. Kesederhanaan diperlukan agar mudah dimengerti dan


dilaksanakan oleh wajib pajak ataupun fiskus. Dan, penyerahanaan di sini
bukan berarti harus mengorbankan pemerataan, karena sistem yang baru tetap
mempunyai progresivitas.
Pembaruan sistem perpajakan melakukan pembenahan aparatur
perpajakan dengan meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam
rangka memahami, menguasai, dan melaksanakan peraturan perpajakan yang
baru. Bagi instansi pajak juga menekankan pada peningkatan pelayanan
kepada Wajib Pajak, agar dapat mendorong kepatuhan Wajib Pajak yang
akhirnya akan mempengaruhi peningkatan pajak. Selain itu juga membenahi
baik menyangkut prosedur, tata kerja, disiplin, maupun mental.

19

BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Dari pembahasan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
1.

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang,
dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung dan digunakan
untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

2.

Pajak yang berlaku di Indonesia dapat dibedakan menjadi Pajak Pusat


yaitu Pajak Penghasilan (PPh) PPh, Pajak Pertambahan Nilai (PPN),
Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn BM), Bea Meterai, Pajak
Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan
Bangunan (BPHTB) dan Pajak Daerah yaitu 1) Pajak Propinsi (Pajak
20

Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air, Bea Balik Nama


Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air, Pajak Bahan Bakar
Kendaraan Bemotor; Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah
Tanah dan Air Permukaan) 2) Pajak Kabupaten/Kota (Pajak Hotel, Pajak
Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak
Pengambilan Bahan Galian Golongan C, Pajak Parkir).
3.

Pajak reguler berfungsi sebagai pengatur juga menjalankan kebijakan


dari pemerintah dalam bidang khusus ekonomi dan sosial untuk
mencapai tujuan tertentu. Pajak distribusi atau pendapatan fungsinya
untuk mendanai masalah pembangunan ekonomi pada masyarakat
sehingga dicapainya tujuan taraf hidup yang lebih baik. Pajak Alokasi
pembiayaan pembangunan agar dapat diperuntukan untuk pembangunan
dalam segala bidang. Pajak budgetair atau menggunakan sumber utama
kas negara diperuntukan bagi pembiayaan pengeluaran dari kas negara
tersebut.

4.

Subjek pajak adalah pihak yang mempunyai kewajiban-kewajiban


subjektif, atau terhadap siapa pajak akan ditagih. Dengan kata lain subjek
pajak adalah orang, badan atau kesatuan lainnya yang telah memenuhi
syarat-syarat subjektif, yaitu bertempat tinggal atau berkedudukan di
Indonesia. Adapun hak dan kewajiban subjek pajak antara lain kewajiban
mendaftarkan diri, dalam hal pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak
ternyata lebih kecil dari jumlah kredit pajak, atau dengan kata lain
pembayaran pajak yang dibayar atau dipotong atau dipungut lebih besar
dari yang seharusnya terutang, maka Wajib Pajak mempunyai hak untuk
mendapatkan kembali kelebihan tersebut.

5.

Reformasi perpajakan meliputi perluasan basis perpajakan, perbaikan


administrasi pajak, penegasan regulasi untuk mengurangi terjadinya
penghindaran dan penggelapan pajak, serta mengatur pengenaan pada
aset yang berada di luar negeri.

6.

Reformasi perpajakan yang dilakukan di Indonesia dimulai sejak tahun


1984. Diawali dengan reformasi perpajakan (first tax reform) dilakukan
pada tahun 1984, perubahan mendasar pada ketentuan peraturan
21

perundang-undang perpajakan dilakukan di Indonesia. Pembaruan sistem


perpajakan di Indonesia ini diusahakan tersusun system perpajakan yang
sederhana, adanya kepastian hukum, dan bertujuan untuk memberikan
pemerataan perekonomian. Reformasi perpajakan yang dilakukan oleh
suatu

negara

merupakan

suatu

cara

untuk

memperbaiki

dan

meningkatkan perekonomian global melalui pajak. Reformasi dalam


perpajakan akan berimplikasi terhadap luasnya dasar pengenaan pajak
(tax base)
3.2. Saran
Penghasilan negara terbesar adalah dari pajak. Pajak memiliki perana
penting dalam pembangunan suatu negara khususnya Indonesia. Oleh karena
itu, pengelolaan pajak harus dikelola dengan baik dan benar agar manfaatnya
dapat dirasakan oleh rakyat. Selain itu juga para wajib pajak harus rutin
dalam membayar pajak demi tercapainya pembangunan dan pertumbuhan
ekonomi bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad,

Bagus.

2013.

Makalah

Pajak.

http://bagus-

ahmad.blogspot.co.id/2013/12/makalah-pajak.html. Diakses tanggal


26 Mei 2016
Anonim. TT. Pajak. https://id.wikipedia.org/wiki/Pajak. diakses tanggal 26 Mei
2016
Silva, Leonardo. 2014. Kewajiban Pendaftaran Bagi Subjek Pajak yang Telah
Memenuhi

Syarat

Sebagai

Wajib

https://www.academia.edu/6509554/Tugas_paper_pajak.

Pajak.
Diakses

tanggal 26 Mei 2016

22

Soemitro, Rochmat. 1992.Pengantar Singkat Hukum Pajak. Bandung : PT Eresco


Soemitro, Rocmat.1991. Pajak Ditinjau Dari SegiHukum. Bandung : PT Eresco

23