Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Dalam proses manufaktur, proses permesinan dilakukan untuk
mendapatkan hasil yang presisi, dibandinkan dengan proses
forming dan casting. Salah satu proses permesinan yang
digunakan secara luas di industri maupun di workshop/bengkelbengkel mesin adalah proses bubut. Proses bubut penting terutama
untuk menghasilkan suatu produk yang berbentuk silindris,
contohnya poros bertingkat beserta atributnya seperti alur dan
chamfer yang merupakan elemen mesin berbentuk silindris yang
paling banyak dijumpai. Selain itu proses bubut juga dapat
digunakan untuk membuat ulir, poros tapered, membuat bore,
membuat lubang (drilling). Bahkan proses bubut tidak hanya
terbatas pada bentuk silindris yang simetris, seperti proses bubut
dengan mesin yang automatis (diprogram dengan komputer)
mampu menghasilkan bentuk poros tak sesumbu, contohnya
adalah membentuk crankshaft dengan sangat presisi.
Penggunaannya yang luas merupakan alasan pentingnya untuk
memahami konsep dasar proses bubut melalui Praktikum Proses
Bubut pada mata kuliah MS2260 Proses Manufaktur I.

1.2.

Tujuan Praktikum
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah
1. Mengetahui konstruksi, cara kerja, pengoperasian dan aspek
keselamtan kerja mesin bubut.
2. Mengetahui proses apa saja yang dapat dikerjakan dengan
mesin bubut.
3. Mampu memilihjenis pahat yang akan digunakan untuk
membuat produk dengan proses tertentu.
4. Mengetahui parameter proses pada proses bubut dan cara
menentukan parameter tersebut pada mesin bubut.

5. Memahami gerak relatif pahat dengan benda kerja dan


proses terbentuknya geram.

Nama

: Hafidz Fitrian Basri

NIM

: 13114011

BAB 4
ANALISIS
4.1 Prosedur Praktikum
1. Mempersiapkan mesin dan alat : cek kondisi dan kelengkapan.
2. Pengukuran dimensi awal benda kerja.
3. Atur kecepatan putar spindel dengan memutar tuas pengubah
kecepatan.
4. Memasang benda kerja pada chuck spindel.
5. Memasang pahat pada tool post (jenis pahat tergantung pada
proses apa yg akan dilakukan). Pastikan mata pahat se-level
dengan ujung center tail stock.
6. Proses #1: Facing, meratakan permukaan ujung benda kerja.
a. Gunakan pahat untuk facing, sama dengan pahat reduksi
diameter. Atur sudut pahat supaya sejajar dengan bidang
ujung benda kerja.
b. Set titik nol pahat dengan kondisi kerja sudah berputar.
c. Ambil kedalaman makan 0.3-0.5 mm ke kiri.
d. Lakukan gerak makan maju sampai mata pahat mencapai
pusat lingkaran benda kerja
e. Ulangi gerak makan sampai permukaan ujung benda kerja
rata.
7. Buat lubang pada ujung benda kerja dengan center drill. Lubang ini
akan ditumpu oleh ujung center agar pada saat reduksi diameter
dan pembuatan ulir benda kerja tidak bending.
8. Proses #2: Reduksi diameter:
a. pilih pahat untuk reduksi diameter, lalu pasang pada tool
post.
b. Tandai sampai mana bagian dari benda kerja yang akan
direduksi dengan menggunakan tipe-x.
c. Posisikan mata pahat pada titik nol makan

d. Atur kedalaman makan dengan memajukan pahat dihitung


dari titik nol. Ambil kedalaman makan 0.3-0.5 mm
e. Lakukan gerak makan ke kiri sampai ke batas yg telah
ditandai.
f. Lakukan reduksi sampai ke diameter yang diinginkan. Ukur
diameter dengan jangka sorong untuk memastikan.
9. Proses #3: Membuat groove/alur
a. Siapkan pahat alur, letakkan pada tool post
b. Tandai bagian yang akan di beri alur
c. Posisikan mata pahat pada bagian yang telah ditandai.
Lakukan gerak makan dengan menggerakkan pahat maju,
lakukan secara pelan-pelan (parameter pelan adalah suara
gesekan pahat denggan benda kerja tidak terlalu tinggi),
sampai sedalam alur pada gambar teknik.
d. Ukur dengan jangka sorong untuk mengecek. Jika masih
kurang lakukan alur lagi.
10. Proses #4: Membuat ulir
a. Set kecepatan putar spindel pada kecepatan yang rendah
b. Atur kecepatan gerak makan pahat untuk mendapatkan
lebar pitch yang sesuai pada gambar. Dengan cara mengeset tuas kecepatan ulir penggerak.
c. Lihat ukuran roda gigi yang tertera pada tabel. Pastikan
ukuran roda gigi sudah sesuai.
d. Pasang mata pahat ulir dengan posisi tegak lurus benda
kerja.
e. Tentukan titik nol makan
f. Atur kedalaman makan sedalam 0.3-0.5 mm dari titik nol.
g. Lakukan gerakan makan ke-kiri dan berulang-ulang. Sampai
terbentuk ulir.
h. Ukur diameter minor ulir, pasatikan sesuai dengan standar.
11. Proses #5: Chamfering
a. Ambil pahat reduksi diameter tadi, atur pahat agar mata
pisaunya membentuk sudut 45 terhadap permukaan ujung
benda kerja.
b. Lakukan gerak makan ke-kiri secara perlahan sampai
termakan sejauh 1 mm
12. Prioses #6: Finishing ulir dengan Taping/Senai
a. Jepit benda kerja dengan ragum

b. Oleskan pelumas pada benda kerja


c. Putar senai searah jarum jam sampai masuk ke ulir dengan
sedikit paksaan.
d. Putar senai maju searah jarum jam lalu kembali berlawanan
jarum jam, agar gram yang dihasilkan bisa keluar.
e. Lakukan putaran sampai ke ujung ulir, lalu bersihkan benda
kerja dari geram dan pelumas dengan semprotan udara.
4.2 Analisis Hasil Benda Kerja
A. Sekrap
Bentuk awal dari benda kerja adalah balok aluminium.
Balok aluminum ini sebelumnya sudah pernah dilakukan untuk
praktikum

sekrap,

jadi

bentuk

awal

benda

pada

praktikum

ini

permukaannya sudah terdapat bekas alur-alur yang tidak berpola.


Sifat perlakuan pada benda kerja pada praktikum ini adalah
mencoba. Tidak ada bentuk dan dimensi akhir yang dituju. Pada parktikum
ini, benda kerja ini akan di sekrap untuk meratakan sebagian
permukaannya.
Terlihat permukaan yang sebelumnya bergelombang menjadi lebih
rapi.
B. Broaching

4.3 Analisis Parameter Proses Bubut


1. Kecepatan putar
Semakin cepat kecepatan putar, hasil permukaan potongan
akan semakin halus, ini bagus untuk proses facing, reduksi
diameter, dan chamfering yang biasanya menggunakan kecepatan
putar >150rpm. Beda halnya pada saat membuat ulir, dibutuhkan

kecepatan putar yang pelan, <100rpm karena membutuhkan


kepresisian dan torsi putar yang besar.
2. Kedalaman potong
Idealnya semakin besar kedalaman potong, proses bubut akan
semakin cepat. Namun terdapat constraint yang membatasi
besarnya kedalaman potong, diantaranya adalah daya mesin dan
kekuatan pahat. Pemotongan yang dalam akan membutuhkan torsi
yang

besar.

Jika

pemotongan

terlalu

dalam

pahat

akan

menanggung gesekan yang sangat besar, gram benda kerja bisa


meleleh dan menempel di pahat, dan pahat akan cepat aus.
3. Kecepatan makan
Semakin cepat gerak makan dan gerak makan yang tidak
konstan akan membuat permukaan benda kerja menjadi tidak
merata. Karena tidak semua permukaan benda kerja terpotong oleh
mata pahat. Pada dasarnya pemotongan pada proses bubut seperti
membuat pitch-pitch. Pitch ini akan terlihat jelas saat membuat ulir,
karena kecepatan potong sangat lambat dibandingan kecepatan
makan. Jika kecepatan potong sangat cepat, atau kecepatan
makan yang dibuat lambat, maka jarak antar pitch ini menjadi
sangat sempit dan tidak terlihat, sehingga permukaannya dikatakan
halus.
4. Sudut potong
Sudut potong pahat tergantung dari proses apa yang ingin
dilakukan. Untuk proses facing dan reduksi diameter, posisi pisau
pahat sejajar dengan bidang ujung benda kerja. Pada proses
grooving dan membuat ulir, posisi pahat tegak lurus terhadap
benda kerja. Dan untuk proses chamfering, sudut mata pahat
membentuk sudut 45 terhadap benda kerja.
4.4 Fenomena yang Terjadi selama Praktikum
Fenomena Umum
Timbul getaran pada saat dilakukan pemotongan

Benda kerja menjadi panas, ini terjadi karena adanya gesekan


pada saat pemotongan.
Warna geram berubah-ubah, ada yang abu, coklat
keemasan danjuga biru. Tergantung temperatur geram yang
dihasilkan pada saat pemotongan. Warna warna ini disebut
warna tempering baja. Warna cokelat keemasan (200 C)
adalah warna normal geram yang dihasilkan dari proses
bubut. Sedangkan warna biru menunjukkan temperatur
pemotongan yang tinggi (300 C), [http://www.engineeringtoolbox.com/].
Artinya telah terjadi gesekan yang sangat besar, karena
kedalaman potong yang berlebih pada kecepatan putar yang
cepat.
Fenomena Khusus
Timbul suara yang melenjit saat proses grooving, ini terjadi
karena bagian mata pahat yang memotong benda kerja lebih
lebar dari mata pahat lain, sehingga permukaan
potong/gesekan juga makin lebar. Akibatnya timbul suara
yang bising dan waktu makan lebih lama.

BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Pahat tertentu digunakan untuk proses terntentu. Pahat reduksi
diameter digunakan untuk reduksi diameter dan facing, dan
chamfering. Pahat centering digunakan untuk membuat lubang

center. Pahat alur digunakan untuk membuat alur. Dan pahat ulir
digunakan untuk membuat ulir.
Pada proses bubut, gerak potong terjadi akibat benda kerja yang
diputar bergoresan dengan pahat. Gerak makan terjadi dengan
menggeser pahat ke kiri-kanan atau depan-belakang.
Parameter yang diatur pada proses bubut adalah kecepatan
putar, kecepatan makan, kedalaman makan, dan sudut potong.
Proses-proses yang dapat dilakukan dengan bubut diantaranya
reduksi diameter, facing, chamfering, membuat ulir, drilling, dan
membuat alur.
5.2 Saran
Waktu shift praktikum lebih ditegaskan lagi, karena ada
kelompok yang jatah shift-nya sudah habis tapi masih melajutkan
praktikum. Sehingga menghambat praktikum kelopok lain. Jika
benda kerja belum selesai, hendaknya dilanjutkan pada waktu
yang bukan jam shift kelompok lain.
Mesin bubut yang paling barat perlu perawatan. Terutama tuas
untuk gerak maju-mundur yang sulit untuk diputar karena berat.

Sumber
http://www.engineeringtoolbox.com/tempering-colors-steel-d_1530.html

Lampiran
Tabel I. Warna Baja yang Dipanaskan