Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekauan otot, spasme tanpa

disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan kuman secara langsung,
tetapi sebagai dampak eksotoksin (tetanospasmin) yang dihasilkan oleh kuman pada
sinaps ganglion sambungan sumsumtulang belakang, sambungan neuromuscular
(neuromuscular junction) dan saraf autonomy.
Manifestasi sistemik tetanus disebabkan oleh absorbsi eksotoksin sangat akut
yang dilepaskan oleh Clostridium tetani pada masa pertumbuhan aktif dalam tubuh
manusia.
Penyakit tetanus kebanyakan terdapat pada anak-anak yang belum pernah
mendapatkan imunisasi tetanus (DPT). Dan pada umumnya terdapat pada anak dari
keluarga yang belum mengerti imunisasi dan pemeliharaan kesehatan, seperti
kebersihan lingkungan dan perorangan. Penyebab penyakit seperti pada tetanus
neonatorum, yaitu Clostridium tetani yang hidup anaerob, yang berbetuk spora
selama diluar tubuh manusia, tersebut luas di tanah. Juga terdaoat di tepat yang kotor,
besi berkarat sampai oada tusuk sate bekas. Basil ini bila kondisinya baik (didalam
tubuh manusia) akan mengeluarkan toksin. Toksin ini dapat menghancurkan sel darah
merah, merusak leukosit dan merupakan tetanospasmi, yaitu nerotropik yang dapat
menyebabkan ketegangan dan spasme otot.
Kebanyakan kasus tetanus dihubungkan dengan jelas traumatis, sering luka
tembus yang diakibatkan oleh beda kotor, sperti paku, serpihan, fragmen gelas, atau
injeksi tidak steril, tetapi suatu kasus yang jarang mungkin tanpa riwayat trauma.
Tetanus pasca injeksi obat terlarang menjadi lebih sering, sementara keadaan yang
tidak lazim adalah gigitan binatang, abses (termasuk abses gigi), pelubangan cuping
telinga, ulkus kulit kronis, luka bakar, fraktur komplikata, radang dingin (froste bite),
gangrene, pembedahan usus, goresan upacara, dan sirkumsisi. Penyakit ini juga
terjadi sesudah penggunaan benang jahit yang terkontaminas atau sesudah injeksi
1

intramuscular, obat-obatan, paling mrnonjol kinin untuk malaria falciparum resistenklorokuin


Tetanus sudah dikenal oleh orang-orang di masa lalu karena hububgna antara
luka-luka dan kekejangan-kekejangan otot fatal. Pada tahun 1884, Arthur Nicolaier
mengisolasi toksin tetanus yang seperti strychnine dari tetanus yang hidup bebas,
bakteri lahan anaerob. Etiologi dari penyakit itu lebih lanjut diterangkan pada tahun
1884 oleh Anthonio Charle yang mempertunjukkan sifat tetanus untuk pertama kali.
Mereka mengembangkan tetanus di dalam tubuh kelinci-kelinci dengan menyuntuk
saraf mereka di pangkal paha dengan nanah dari suatu kasus tetanus meanusia yang
fatal di tahun yang sama. Kemudian hasilnya menunjukkan bahwa organisme bias
menghasilkan penyakit ketika Clostridium tetany terisolasi di suntikkan ke dalam
tubuh dan bahwa toksin bias dinetralkan oleh zat darah penyerang kuman spesifik,
tahun 1897 ditemukan bahwa penolak toksin tetanus membangkitkan kekebalan pasif
didalam tubuh manusia dan bias digunakan untuk perlindungan dari penyakit dan
perawatan. Vaksin lirtoksin tetanus dikembangkan oleh P. Descombey pada tahun
1924 dan secara luan dipergunakan untuk mencegah tetanus yang disebabkan oleh
luka-luka pertempuran selama perang dunia II.
1.2. Tujuan Umum
Untuk lebih memahami dan mengetahui tentang penyakit tetanus.
1.3 Tujuan Khusus

Untuk mengetahui definisi tetanus


Untuk mengetahui etiologi tetanus
Untuk mengetahui epidemiologi tetanus
Untuk mengetahui patogenesis tetanus
Untuk mengetahui gejala klinis tetanus
Untuk mengetahui diagnosis tetanus
Untuk mengetahui diagnosis banding tetanus
Untuk mengetahui terapi tetanus
Untuk mengetahui penjegahan tetanus
Untuk mengetahui komplikasi tetanus

Untuk mengetahui prognosis tetanus

1.4 Manfaat

Menambah pengetahuan tentang penyakit tetanus


Menambah literatur kedokteran

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Tetanus adalah kelainan neurologik, yang ditandai oleh peningkatan tonus dan
spasme otot, yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu toksin protein kuat yang
dihasilkan oleh Clostridium tetani.
2.2. Etiologi
Agen etiologi dari tetanus adalah Clostridium tetani, yaitu kuman gram-positif
berbentuk batang anaerob, motil, yang membentuk spora terminalis berbentuk
lonjong tidak berwarna. Spora ini menyerupai bentuk raket tenis atau drumstick.
Kuman ini ditemukan diseluruh dunia yaitu pada tanah, lingkungan bersih, pada feses
binatang dan kadang pada feses manusia. Spora dapat hidup bertahun-tahun pada
berbagai lingkungan dan resisten terhadap berbagai disinfektan dan jika dididihkan
selama 20 menit. Meskipun demikian sel vegetatif mudah di inaktifkan dan rentan
terhadap beberapa antibiotik (penisilin dan lain-lain)
Tetanospasmin dibentuk pada sel vegetatif dibawah kendali plasmid.
Toksin ini merupakan rantai polipeptida tunggal. Pada autolisis, toksin rantai tunggal
ini dibebaskan dan dipecah menjadi bentuk heterodimer yang mengandung rantai
berat (berat molekul 100.000) dan rantai ringan (50.000) yang dihubungkan oleh
ikatan disulfida. Struktur asam amino kedua toksin yang dikenal sangat kuat, yaitu
toksin botulinum dan tetanus, adalah sebagai homolog.
2.3. Epidemiologi
Tetanus terdapat secara sporadik dan hampir selalu menjangkiti orang yang
tak kebal atau yang mendapat imunisasi tetapi tidak lengkap, atau orang yang
terimunisasi lengkap tapi tidak mendapatkan booster. Walaupun dapat dicegah
dengan imunisasi, diseluruh dunia beban penyakit ini besar sekali. Penyakit ini umum
di daerah yang tanahnya dibudidayakan, daerah pedalaman, beriklim panas, selama
musim panas dan laki-laki. Di negara tanpa program imunisasi, tetanus neonatal dan
tetanus pada orang muda mendominasi. Di seluruh dunia diperkirakan 80.000
4

neonatus meninggal setiap tahun. Di Amerika Serikat dan negara-negara lain yang
berhasil dengan program imunisasinya, tetanus neonatus jarang sekali terjadi, dan
penyakit ini menjangkiti kelompok usia yang lain dan pada kelompok yang secara
tidak adekuat dicapai oleh imunisasi seperti pada orang bukan kulit putih. Kasus ini
lebih banyak menyerang usia lanjut. Kurang dari seratus kasus telah dilaporkan pada
the centers for disease control (CDC) setiap tahun: 94 persen kasus terjadi pada orang
berusia 20 tahun dan 68 persen pada orang berusia lebih dari 50 tahun. Walaupun
demikian, beban penyakit ini lebih besar karena pelaporan tidak lengkap.
Di Amerika Serikat, sebagian besar tetanus terjadi setelah cedera akut, seperti
luka tusuk, laserasi, atau abrasi dan sering didapat didalam rumah, selama berkebun
atau berternak, atau dalam kegiatan diluar rumah lainnya. Cederanya bisa besar tetapi
seringkali yang sepele, sehingga tidak mencari pertolongan secara medis. Penyakit ini
dapat merupakan komplikasi pada penyakit menahun seperti ulkus kulit, abses, dan
gangren. Tetanus juga dikaitkan dengan luka bakar, frostbite, infeksi telinga,
pembedahan, aborsi, partus, dan penyalahgunaan obat, terutama popping kulit. Pada
beberapa pasien tidak ditemukan adanya jalan masuk.
Kasus tetanus neonatorum di indonesia masih tinggi, data tahun 2007 sebesar
12,5 per 1000 kelahiran hidup; sedangkan target eliminasi Tetanus Neonatorum
(ENT) yang ingin dicapai adalah 1 per 1000 kelahiran hidup (Supas 2008).
Pada tahun 2007, filipina dan Indonesia mencatatkan jumlah kasus tetanus
neonatorum tertinggi di antara 8 negara ASEAN, dengan 175 kasus terjadi di
Indonesia dan 121 kasus terjadi di filipina. Jika dibandingkan dengan jumlah
penduduk, angka tertinggi kasus tetanus neonatorum terjadi di kamboja. Indonesia
menduduki urutan ke-5. Jumlah kasus tetanus neonatorum di Indonesia pada tahun
2007 sebanyak 175 kasus dengan angka kematian (case fatality rate (CFR) 56%)
(DepkesRI,2008)
Tetanus

neonatorum

menyebabkan

50%

kematian

perinatal

dan

menyumbangkan 20% kematian bayi. Angka kejadian 6-7/100 kelahiran hidup di


perkotaan dan 11-23/100 kelahiran hidup di pedesaaan. Sedangkan angka kejadian
tetanus pada anak dirumah sakit 7-40 kasus/tahun, 50% terjadi pada kelompok 5-9
5

tahun, 30% kelompok 1-4 tahun, 18% kelompoik >10 tahun, dan sisanya pada bayi
<12 bulan. Angka kematian keseluruhan antara 6,7-30% (BAPPENAS, 2010).
2.4. Patogenesis
Kontaminasi luka dengan spora mungkin paling sering.
Walaupun demikian, germinasi dan produk toksin hanya terjadi
pada luka dengan potensial reduksi-oksidasi yang rendah seperti
luka yang mengandung jaringan devitalisasi, benda asing, atau
infeksi aktif. Clostridium tetani sendiri tidak menyebabkan inflamasi,
dan pintu gerbang jalan masuk tampak jinak kecuali bila terdapat
infeksi dari organism lainnya.
Toksin yang dilepaskan dalam luka mengikat motor alfa
neuron terminal perifer, memasuki akson, dan ditransport ke sel
saraf tubuh dalam batang otak dan medulla spinalis dengan system
transport

intraneuron

menyebrangi

sinaps

retrograde.
ke

Kemudian toksin bermigrasi

terminal

presinaps,

dimana

toksin

menghambat pelepasan neurotransimitter penghambat glisin dan


asam

gama-aminobutirat

(GABA).

Dengan

mengurangi

penghambatan, kecepatan letupan istirahat dari neuron motor alfa


meningkat, menyebabkan rigiditas. Dengan penurunan aktivitas
releks,

yang

membatasi

penyebaran

impuls

(suatu

aktivitas

glisinergik) polisinaptik, agonis dan antagonis mungkin diterima


daripada

dihambat,

Kehilangan

dengan

penghambatan

demikian

juga

dapat

menyebabkan
mempengaruhi

spasme.
neuron

simpatik preganglion pada bagian lateral substansia grisea medulla


spinalis dan menyebabkan hiperaktivitas simpatik dan kadar
katekolamin sirkulasi yang tinggi. Tetanospasmin, sperti toksin
botulinum, juga mungkin menghambat pelepasan neurotransmitter
pada neuromuscular junction dan menyebabkan kelemahan atau
paralisis; pemulihan memerlukan pertunasan ujung saraf yang baru.
6

Gambar 2.1 Algoritma klinis dan patologi tetanus


Pada tetanus lokal, hanya saraf yang menyuplai otot yang
terkena. Tetanus generalisata terjadi bila toksing yang dilepaskan
dalam luka memasuki aliran darah dan disebarkan ke ujung saraf
lainnya. Sawar otak-darah langsung menghambat jalan masuk ke
dalam

susunan

saraf

pusat.

Menganggap

waktu

transport

intraneuron adalah sama untuk semua saraf, saraf yang pendek


dipengaruhi sebelum saraf yang panjang; bukti ini menjelaskan
bahwa rangkaian keterlibatan saraf dari kepala, batang tubuh, dan
ekstrimitas pada tetanus generalisata.
2.5. Gejala Klinis
Masa inkubasi 5-14 hari, tetapi bisa lebih pendek (1 hari atau lebih lama 3
atau beberapa minggu) (Ritarwan, 2004).
Ada tiga bentuk tetanus yang dikenal secara klinis, yaitu (Ritarwan, 2004):

1. Localited tetanus ( Tetanus Lokal )


2. Cephalic Tetanus
3. Generalized tetanus (Tetanus umum)
Selain itu ada lagi pembagian berupa neonatal tetanus (Ritarwan, 2004).
Karekteristik dari tetanus adalah sebagau berikut (Ritarwan, 2004):

Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama, dan menetap selama 5 -7 hari.
Setelah 10 hari kejang mulai berkurang frekuensinya
Setelah 2 minggu kejang mulai hilang.
Biasanya didahului dengan ketegangaan otot terutama pada rahang dari leher.
Kemudian timbul kesukaran membuka mulut ( trismus, lockjaw ) karena

spasme otot masetter.


Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk ( opistotonus , nuchal rigidity )
Risus sardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik
Ke atas, sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah, bibir tertekan kuat .
Gambaran Umum yang khas berupa badan kaku dengan opistotonus, tungkai
dengan eksistensi, lengan kaku dengan mengepal, biasanya kesadaran tetap

baik.
Karena kontraksi otot yang sangat kuat, dapat terjadi asfiksia dan sianosis,
retensi urin, bahkan dapat terjadi fraktur collumna vertebralis ( pada anak ).

1. Tetanus Lokal
Pada lokal tetanus dijumpai adanya kontraksi otot yang persisten, pada daerah
tempat dimana luka terjadi. Hal inilah merupakan tanda dari tetanus lokal. Kontraksi
otot tersebut biasanya ringan, bisa bertahan dalam beberapa bulan tanpa progressif
dan biasanya menghilang secara bertahap (Ritarwan, 2004).
Lokal tetanus ini bisa berlanjut menjadi generalized tetanus, tetapi dalam bentuk yang
ringan dan jarang menimbulkan kematian. Bisa juga lokal tetanus ini dijumpai
sebagai prodromal dari klasik tetanus atau dijumpai secara terpisah. Hal ini terutama
dijumpai sesudah pemberian profilaksis antitoksin (Ritarwan, 2004).

2. Cephalic tetanus
Cephalic tetanus adalah bentuk yang jarang dari tetanus. Masa inkubasi
berkisar 1 2 hari, yang berasal dari otitis media kronik (seperti dilaporkan di India),
luka pada daerah muka dan kepala, termasuk adanya benda asing dalam rongga
hidung (Ritarwan, 2004).
3. Generalized Tetanus
Bentuk ini yang paling banyak dijumpai. Sering menyebabkan komplikasi
yang tidak diketahui oleh karena gejala timbul asymptomatis. Trismus merupakan
gejala utama yang sering dijumpai ( 50 %), yang disebabkan oleh kekakuan otot-otot
masseter, bersamaan dengan kekakuan otot leher yang menyebabkan terjadinya kaku
kuduk dan kesulitan menelan. Gejala lain berupa Risus Sardonicus (Sardonic grin)
yakni spasme otot-otot muka, opistotonus ( kekakuan otot punggung), kejang dinding
perut. Spasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa menimbulkan sumbatan
saluran nafas, sianose asfiksia. Bisa terjadi disuria dan retensi urine,kompressi fraktur
dan pendarahan didalam otot. Kenaikan temperatur biasanya hanya sedikit, walaupun
begitu temperature dapat meningkat hingga 40 C. Bila dijumpai hipertermi ataupun
hipotermi, tekanan darah tidak stabil dan dijumpai takhikardia, penderita biasanya
meninggal. Diagnosa ditegakkan hanya berdasarkan gejala klinis (Ritarwan, 2004).
4. Neotal tetanus
Biasanya disebabkan infeksi C. tetani, yang masuk melalui tali pusat sewaktu
proses pertolongan persalinan. Spora yang masuk disebabkan oleh proses pertolongan
persalinan yang tidak steril, baik oleh penggunaan alat yang telah terkontaminasi
spora C.tetani, maupun penggunaan obat-obatan untuk tali pusat yang telah
terkontaminasi (Ritarwan, 2004).
Kebiasaan menggunakan alat pertolongan persalinan dan obat tradisional yang
tidak steril, merupakan faktor yang utama dalam terjadinya neonatal tetanus
(Ritarwan, 2004).
9

2.6. Diagnosis
Diagnosis tetanus ditegakkan berdasarkan temuan klinis.
Tetanus tidak mungkin terjadi jika mempunyai riwayat vaksinasi
primer yang lengkap dan telah menerima dosis-dosis booster
yang sesuai. Biakan luka harus dikerjakan. Walaupun demikian, C.
tetani dapat dibiakkan dari luka pasien tanpa tetanus. Jumlah
leukosit dapat meninggi. Pemeriksaan cairan otak biasanya normal.
Elektromiogram dapat memperlihatkan adanya pelepasan muatan
unit motorik secara terus menerus dan pemendekan atau tanpa
interval yang tenang, yang biasanya tampak setelah potensial aksi.
Perubahan nonspesifik dapat tampak pada eltromiogram. Kadar
enzim otot dapat meningkat. Kadar antitoksin serum 0,01 unit/mL
atau lebih tinggi dianggap protektif dan membuat tetanus tidak
mungkin terjadi.
Diagnosis banding yaitu suatu keadaan yang menimbulkan
trismus seperti abses alveolaris, keracunan striknin, reaksi obat
distonik (misalnya fenotiazin dan metoklopramid), dan tetani
hipokalsemik. Keadaan lain yang mungkin dapat dikacaukan dengan
tetanus

adalah

meningitis/ensefalitis,

rabies,

dan

proses

intraabdomen akut (karena abdomennya kaku). Peningkatan tonus


pada otot pusat (wajah, leher, dada, punggung, dan perut) disertai
spasme generalisata dan tidak tidak ditemukan gejala pada tangan
dan kaki, sangat mendukung diagonsis tetanus.
2.7. Diagnosa Banding
Untuk membedakan diagnosis banding dari tetanus tidak sukar dijumpai pada
pemeriksaan fisik dan tes laboratorium. Berikut adalah table diagnosa banding tetanus
(Ritarwan, 2004):

10

Tabel 2.1 Diagnosa banding tetanus (Ritarwan, 2004)


Penyakit

Gambaran diffeterntial

INFEKSI
Meningoencephalitis

Demam, trismus tidak ada, kesadaran


menurun, abnormal CSF.

Polio

Trismus tidak ada, paralise tipe flaccid,


abnormal CSF.

Rabies

Gigitan binatang, trismus tidak ada,


hanya oropharyngeal spasm.

Lesi oropharyngeal

Hanya lokal, rigiditas seluruh tubuh atau


spasme tidak ada.

Peritonitis

Trismus atau spamse seluruh tubuh.

KELAINAN METABOLIK
Tetany

Hanya carpopedal dan laryngeal spasm,


hypocalcemia.

Keracunan Strychnine

Relaksasi komplit diantara spasme.

Reaksi Phenothiazine

Dystonia,

respon

dengan

diphenhydramine.
PENYAKIT CNS
Status Epilepticus

Penurunan kesadaran

Hemorrhage suatu tumor

Trismus tidak ada, sensorium depresi.

KELAINAN PSYCHIATRIC

Trismus inkonstan, relaksasi komplit

Histeria

diantara spasme.

KELAINAN MUSKULOSKELETAL

Hanya lokal.

Trauma

11

2.8. Terapi
Sasaran pengobatan adalah untuk menghilangkan sumber toksin, menetralkan
toksin yang tidak terikat, mencegah spasme otot, dan terapi suportif terutama jalan
napas yang adekuat. Intubasi atau trakeostomi, dengan atau tanpa ventilasi mekanik
diperlukan untuk pasien yang mengalami hipoventilasi akibat laringospasme,
menghindari aspirasi, disfagia. Luka juga harus dibersihkan dan debridemen jaringan
nekrotik serta benda asing (Isselbacher dkk, 1995).
2.8.1 Antibiotik
Walaupun pemberian antibiotik masih dipertanyakan manfaatnya, penisilin
parenteral (10-12 juta unit per hari selama 10 hari) diberikan untuk membasmi sel
vegetatif, sumber toksin. Klindamisin, eritromisin, atau metronidazol dapat diberikan
pada pasien yang alergi penisilin (Isselbacher dkk, 1995).
2.8.2 Imunisasi pasif (TIG)
Tetanus immune globulin (TIG) direkomendasikan untuk orang yang
terinfeksi tetanus. TIG hanya dapat menghilangkan toxin tetanus yang tidak
berikatan, TIG tidak berpengaruh terhadap toksin yang berikatan dengan ujung saraf.
TIG 3.0005.000 unit umumnya diberikan secara intramuskular kepada anak-anak
dan dewasa. TIG merupakan antitoksin yang memberikan imunitas sementara (CDC,
2012).
2.8.3 Pengendalian spasme otot
Diazepam, suatu benzodiazepin dan agonis GABA banyak dipakai untuk
mengobati spasme otot yang menimbulkan rasa nyeri dan mengancam ventilasi akibat
laringospasme atau kontraksi otot pernapasan. Dosisnya 250mg/hari atau lebih. Bisa
juga diberikan Lorazepam dengan masa kerja lebih lama, Midazolam yang waktu
paruhnya lebih singkat yang diberikan secara intravena. Pilihan lainnya yaitu
Barbiturat dan Klorpromazin (Isselbacher dkk, 1995).

12

2.8.4 Tindakan tambahan


Hidrasi untuk mengendalikan kehilangan cairan, kebutuhan gizi yang
meningkat, fisioterapi untuk mencegah kontraktur, dan heparin untuk mencegah
emboli paru. Fungsi pencernaan, ginjal dan kandung kemih harus dipantau.
Perdarahan saluran cerna dan ulkus dekubitus harus dicegah dan infeksi opurtunitis
harus diobati (Isselbacher dkk, 1995).
2.9 Pencegahan
2.9.1 Imunisasi aktif
Semua orang dewasa yang belum terimunisasi dan imunisasi toxoid nya tidak
lengkap harus menerima vaksin. Tetanus jarang terjadi pada orang yang sudah
mendapat tetanus toxoid lengkap. Orang yang mendapat luka kecil yang bersih dan
telah mendapat 0-2 dosis tetanus toxoid atau yang memiliki riwayat imunisasi toxoid
yang tidak jelas sebaiknya mendapatkan TIG dan DT atau DPaT. Ini karena dosis
awal toxoid mungkin belum menginduksi imunitas (CDC, 2012).
2.9.1.1 Management luka
Tabel 2.2 Vaksinasi untuk management luka
Usia

Riwayat Vaksinasi

Luka kecil dan bersih

Luka lainnya

Tidak diketahui

TIG

DPaT

(tahun)
0-6

Lengkap
Tidak diketahui atau tidak dpaT
7-10

lengkap

dilanjutkan

DPaT lengkap
DPaT lengkap tapi > 5 thn Tidak diketahui atau < 3 dpaT
11

dan

dan

TIG
imunisasi dpaT dan imunisasi
dilanjutkan
TIG
Td
imunisasi dpaT dan imunisasi

dosis

dilanjutkan

dilanjutkan

3 dosis dan < 5 thn


3 dosis dan 5-10 thn
3 dosis dan > 10 thn

Td

TIG
Td
Td
13

Tetanus Toxoid
Komponen: Tetanus toxoid terdiri dari toksin formaldehyde yang sudah
dimodifikasi. Terdapat dua tipe toxoid, adsorbed toxoid dan fluid toxoid. Meskipun
kecepatan serokonversinya hampir sama, adsorbed toxoid lebih dipilih karena respon
antitoksinnya lebih tinggi dan lebih bertahan lama daripada fluid toxoid. Tetanus
toxoid tersedia dalam sediaan antigen tunggal dan dikombinasikan dengan diphteria
(DT untuk anak-anak, dT untuk dewasa) atau diphteria toxoid dan vaksin pertussis
aseluler (DPaT untuk anak-anak, dpaT untuk dewasa). Yang membedakan antara
vaksin anak-anak dan dewasa adalah kandungan diphteria toxoid dan pertussisnya
sedangkan tetanus toxoidnya sama (CDC, 2012).
Jadwal Vaksinasi dan Penggunaannya
DPaT merupakan vaksin yang diberikan kepada anak-anak yang berusia 6
minggu sampai 6 tahun, Jadwal pemberiannya diberikan empat kali yaitu pada usia 2,
4, 6 dan 15-18 bulan. Interval antara pemberian pertama, kedua, ketiga minimum 4
minggu, sedangkan interval pemberian yang keempat minimal 6 bulan dan jangan
diberikan sebelum usia 12 bulan (CDC, 2012).
Jika anak memiliki kontraindikasi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya
diberikan vaksin DT. Jika anak menerima vaksin DT untuk pertama kalinya saat
berusia kurang dari 12 bulan, maka anak tersebut mendapat empat kali pemberian.
Namun jika ia mendapat vaksin untuk pertama kalinya saat usia lebih dari 12 bulan,
maka anak tersebut mendapat tiga kali pemberian (interval pemberian ketiga, 6-12
bulan setelah pemberian kedua). Jika DPaT atau DT diberi secara lengkap sebelum
usia 4 tahun, booster diberikan antara usia 4-6 tahun (CDC, 2012).
Karena melemahnya titer antitoksin, banyak orang memiliki level antitoksin
dibawah optimal setelah 10 tahun pemberian DPaT, DTP, DT atau dT. Karena itu
dibutuhkan tetanus dan diphteria toxoid setiap 10 tahun sekali untuk mempertahankan
titer antitoksin. Pemberian booster terlalu sering tidak diindikasikan dan dilaporkan
menyebabkan reaksi lokal yang berat (CDC, 2012).
14

dT diberikan sebagai vaksin pilihan pada anak-anak yang berusia 7 atau lebih
dan riwayat vaksinasi yang tidak jelas. Pemberiannya diberi tiga kali dengan interval
pemberian pertama ke kedua selama 4 minggu dan pemberian ketiga setelah 6-12
bulan pemberian kedua. Biasanya diberikan dpaT pada pemberian pertama (CDC,
2012).
Kontraindikasi Pemberian Vaksin
Reaksi anaphylaxis terhadap komponen yang terkandung dalam tetanus
toxoid. Penyakit sedang atau berat yang akut merupakan alasan untuk menunda
vaksinasi rutin. Jika terdapat kontraindikasi untuk vaksinasi tetanus toxoid, imunisasi
pasif dengan Tetanus Immune Globulin (TIG) dipertimbangkan ketika terjadi luka
yang kotor dan besar (CDC, 2012).
Efek Samping Pemberian Vaksin
Efek samping lokal (eritema, indurasi, nyeri pada tempat injeksi) umumnya

terjadi tetapi biasanya sembuh sendiri dan tidak memerlukan terapi.


Nodul pada tempat injeksi menghilang dalam beberapa minggu.
Abses bisa terjadi.
Demam dan gejala sistemik tidak lazim.
Reaksi lokal yang lebih luas kadang-kadang dilaporkan dengan gejala
pembengkakan disertai rasa nyeri yang luas dari bahu ke siku. Ini umumnya
mulai dari 2 8 jam setelah injeksi dan sering terjadi pada orang dewasa,
terutama meraka yang sering menerima diphteri atau tetanus toxoid. Mereka
biasanya memiliki serum antitoksin yang sangat tinggi karena mendapat
multiple booster dan mereka sebaiknya hanya diberi booster setiap 10 tahun

sekali.
Reaksi sistemik yang parah seperti urticaria generalisata, anapylaxis atau
komplikasi neurologi pernah dilaporkan seperti periferal neuropati dan
Guillain Barre Syndrome (GBS).

2.10. Komplikasi
2.10.1. Pada saluran pernapasan

15

Oleh karena spasme otototot pernapasan dan spasme otot laring dan
seringnya kejang menyebabkan terjadi asfiksia. Karena akumulasi sekresi saliva serta
sukarnya menelan air liur dan makanan atau minuman sehingga sering terjadi aspirasi
pneumoni, atelektasis akibat obstruksi oleh sekret. Pneumotoraks dan mediastinal
emfisema biasanya terjadi akibat dilakukannya trakeostomi.
2.10.2. Pada kardiovaskuler
Komplikasi berupa aktivitas simpatis yang meningkat antara lain berupa
takikardia, hipertensi, vasokonstriksi perifer dan rangsangan miokardium.
2.10.3. Pada tulang dan otot
Pada otot karena spasme yang berkepanjangan bisa terjadi perdarahan dalam
otot. Pada tulang dapat terjadi fraktura columna vertebralis akibat kejang yang terus
menerus terutama pada anak dan orang dewasa. Beberapa peneliti melaporkan juga
dapat terjadi miositis ossifikans sirkumskripta.
2.10.4. Komplikasi yang lain
Komplikasi yang lain berupa :
-

Laserasi lidah akibat kejang;


Dekubitus karena penderita berbaring dalam satu posisi saja
Panas yang tinggi karena infeksi sekunder atau toksin yang menyebar
luas dan mengganggu pusat pengatur suhu.

Penyebab

kematian

penderita

tetanus

akibat

komplikasi

yaitu:

Bronkopneumonia, cardiac arrest, septikemia dan pneumotoraks.


2.11. Prognosis
Prognosis tetanus diklasifikasikan dari tingkat keganasannya, dimana :
1. Ringan; bila tidak adanya kejang umum ( generalized spasm )
2. Sedang; bila sekali muncul kejang umum.
3. Berat ; bila kejang umum yang berat sering terjadi.
Masa inkubasi neonatal tetanus berkisar antara 3 -14 hari, tetapi bisa lebih
pendek atau pun lebih panjang. Berat ringannya penyakit juga tergantung pada
16

lamanya masa inkubasi, makin pendek masa inkubasi biasanya prognosa makin jelek.
Prognosa tetanus neonatal jelek bila:
1. Umur bayi kurang dari 7 hari
2. Masa inkubasi 7 hari atau kurang
3. Periode timbulnya gejala kurang dari 18 jam
4. Dijumpai muscular spasm.
Case Fatality Rate ( CFR) tetanus berkisar 44-55%, sedangkan tetanus neonatorum >
60%.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
17

Tetanus (rahang terkunci [lockjaw]) adalah penyakit akut, paralitik yang


disebabkan oleh tetanospasmin, neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot spasme tanpa disertai
gangguan kesadaran. Gambaran penyakit ini berupa : trismus (kaku pada rahang, sulit
membuka rahang bawah), risus sardonicus (muka seperti monyet meringis), kaku
kuduk (leher kaku, tidak bisa untuk mengangguk), opistotonus (badan kaku seperti
busur), kaku perut, kejang, dan kemungkinan adanya luka sebagai tempat masuknya
kuman. Penyakit tetanus biasanya timbul di daerah yang mudah terkontaminasi
dengan tanah dan dengan kebersihan dan perawatan luka yang buruk.
3.2 Saran
Jangan sepelekan luka kecil di tubuh, terutama di bagian kaki atau tangan
yang mudah terkena kotoran seperti debu atau tanah. Luka kecil ini bisa menjadi
pemicu tetanus, penyakit yang sudah jarang terjadi tapi cukup mematikan. Tetanus
merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Bakteri ini akan
memproduksi racun yang menyebabkan kejang otot kronis. Tetanus ini sangat
berbahaya

tapi

mudah

diatasi

jika

teliti

dan

bertindak

cepat.

DAFTAR PUSTAKA
Adams, E. B.; Holloway, Thambiran, A.K.; Dessy, S. D.: Usefulness of Intermittent
Positive Pressure Respirations in The Treatment of Tetanus. Lancet 1996;1176-1180.
Annonymus. Human Antitoxin for Tetanus Prophylaxis. Lancet 1974; 51-52.

18

CDC, 2014, Tetanus Prevention After a Disaster,


http://www.bt.cdc.gov/disasters/disease/tetanus.asp,
CDC, 2012, Tetanus,
http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/tetanus.pdf,
Harrisson, 1999, Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam, editor edisi bahasa
inggris, Kurt J. Isselbacher (et al) ; editor edisi bahasa Indonesia, Ahmad H. Asdie
Ed. 13 Jakarta : EGC
Badan Pembangunan Nasional, 2010.
Harrisons 15th Edition, Principles of Internal Medicine, Braunwald, Fauci, Kasper,
Hauser, Longo,Jameson.

19