Anda di halaman 1dari 4

BNPT

POLICY BRIEF

Kontra-Radikalisme dan Terorisme Berbasiskan


Masyarakat di Jawa Tengah
Sri Wahyuni
Dapur Gerakan Anti-Negara hingga Panggung Aksiaksi Anarkistis
Jawa Tengah merupakan barometer perkembangan
kelompok Islam radikal dan teroris. Sejumlah aksi terorisme
juga masih kerap terjadi di wilayah Jawa Tengah. Pada tanggal
25 September 2011, Aksi bom bunuh diri -dilakukan oleh
Achmad Yosepa Hayat- terjadi di Gereja Bethel Injil Sepenuh
(GBIS), Solo. Kemudian, pada tahun 2012, teroris melakukan
aksi aksi teror penembakan dengan sasaran anggota polisi,
Bripka Dwi Data Subekti, di Pos Polisi Plasa Singosaren, Solo.
Sederet peristiwa tersebut pada akhirnya menempatkan Solo
sebagai target utama operasi penangkapan teroris. Di Solo,
Densus 88 berhasil menangkap dan menembak mati sejumlah
teroris pada bulan September 2012. Terakhir, di Kebumen dan
Batang, Densus 88 berhasil menangkap dan menembak mati
sejumlah teroris pada bulan Mei 2013. Posisi Jawa Tengah
sentral dalam kasus-kasus terorisme tersebut, mulai sebagai
basis rekrutmen, wilayah aksi teror, hingga tempat
persembunyian teroris.
Sejumlah organisasi radikal, anti-negara, hingga terroris
lahir dan beroperasi di wilayah ini, misalnya gerakan NII dan
Jamaah Islamiyyah. Latar historis menjadi jawaban mengapa
Jawa Tengah menjadi ladang subur rekrutmen radikalis dan
teroris. Selepas kemerdekaan Indonesia, Darul Islam/Tentara
Islam Indonesia (DI/TII) menjadikan Jawa Tengah sebagai
basis perlawanan terhadap negara. Setelahnya, sejumlah
organisasi anti-negara melanjutkan cita-cita Darul Islam, salah
satunya bahkan bertansformasi menjadi organisasi teroris
paling berpengaruh di kawasan Asia Tenggara, Jamaah
Islamiyyah/JI.
Peran sentral Jawa Tengah dalam melahirkan organisasi
radikal-teroris tidak bisa dilepaskan dari peran sentral Abu
Bakar Ba'asyir. Bersama Abdullah Sungkar, Ba'asyir

Ringkasan Eksekutif
Jawa Tengah menjadi lahan subur aktifisme
gerakan Islam radikal-teroris. Gerakangerakan tersebut aktif melakukan rekrutmen
di kalangan pemuda. Namun, Jawa Tengah
memperlihatkan kecenderungan unik jika
ditinjau dari aspek respon masyarakatnya
dalam menyikapi aksi-aksi radikal-teroris.
Mereka mengembangkan mekanisme sosial
yang unik melalui aktifitas yang bertujuan
untuk menghadang narasi dan aksi radikal,
ekstrimis dan teroris. Pesantren, Kyai,
masjid, dan tarekat adalah empat pilar
penting dalam masyarakat Jawa Tengah
dalam menghalau ancaman ideologi radikalekstrimis-teroris.
mendirikan Pesantren Al-Mukmin lebih dikenal
sebagai pesantren Ngruki- pada tahun 1972 yang
menjadi kawah candradimuka kader-kader
DI/TII semasa Orde Baru (ICG 2002). Meski
reformasi dalam tubuh Pesantren Ngruki terjadi,
namun tetap saja Ba'asyir menjadi inspirasi bagi
banyak santri dan alumni Ngruki dalam
membentuk karakter Islam yang militan dan
radikal. Belakangan, loyalis Ba'asyir tersebar di
berbagai organisasi Islam, utamanya Jamaah
Ansharut Tauhid/JAT. Ba'asyir mendeklarasikan
JAT pada tanggal 17 September 2008 di Solo
setelah konflik internal dalam tubuh Majelis
Mujahidin Indonesia/MMI organisasi yang juga
didirikan Ba'asyir pada tahun 2000- terjadi.
Sejumlah loyalisnya mengikuti jejak Ba'asyir,
seperti Haris Amir Falah, Akhwan, dan Afif Abdul
Majid. JAT kemudian dapat berkembang dengan

BNPT

pesat. Beberapa cabang JAT didirikan di beberapa kota


di Jawa Tengah dan kota-kota lain di Indonesia. Pada
tahun 2012, pemerintah Amerika memasukkan JAT
sebagai salah satu organisasi teroris. Beberapa tokoh
dalam JAT, seperti Ahmad Sungkar, Abdul Rohim
Ba'asyir, dan Afif Abdul Majid, bahkan disebut dalam
daftar teroris yang dirilis oleh pemerintah Amerika.
Meski pada tahun 2011, Ba'asyir dijatuhi hukuman
15 tahun penjara karena keterlibatannya dalam aktifitas
Jamaah Islamiyyah dan membidani pendanaan aktifitas
teroris di Aceh, dia masih aktif melakukan kampanye
jihadisnya dari balik jeruji penjara. Sementara itu,
aktifitas Pesantren Ngruki masih terus berlanjut.
Bahkan, Ngruki berhasil berkembang menjadi simpul
ideologi beberapa pesantren di wilayah Jawa Tengah.
Ini ditandai dengan berdirinya beberapa pesantren
salafi oleh alumni Ngruki, seperti Isy Kariman
(Surakarta), Al-Muttaqien (Jepara), dan Darus
Syahadah (Boyolali), dan pengiriman tenaga pendidik
dari Ngruki ke pesantren-pesantren tersebut. Selain itu,
JAT bersama-sama GPK, FPI, LUISS, membidangi
aksi-aksi anarkistis di sejumlah wilayah di Jawa Tengah,
seperti pengerusakan dan penyerangan terhadap
tempat-tempat yang dianggap sarang maksiat, aksi
demonstrasi intoleran, hingga kampanye anti-Barat.
Kontra-ekstrimisme dan Radikalisme
berbasiskan Masyarakat
Masyarakat menjadi bagian penting dalam kontra
radikalisme-terorisme, seperti dijelaskan dalam
Resolusi PBB mengenai Global Counter-Terrorism
Strategy 60/288 yang ditetapkan pada 8 September
2006. Dalam resolusi tersebut dijelaskan bahwa
masyarakat merupakan bagian penting dalam
pencegahan radikalisme-terorisme melalui gerakan
pendidikan dan kampanye berlandasakan toleransi,
perdamaian, dan keadilan. Indonesia tentu saja menjadi
satu bagian penting dalam resolusi PBB tersebut.
Meski tidak dijelaskan melalui satu ratifikasi khusus
tentang kontra terorisme, berbagai upaya dilakukan
pemerintah untuk mengedukasi masyarakat dan

POLICY BRIEF
menanamkan kewaspadaan terhadap ancaman
radikalisme-terorisme.
Masyarakat Jawa Tengah, seperti dijelaskan dalam
riset Narasi dan Politik Identitas: Pola Penyebaran dan
Penerimaan Radikalisme dan Terorisme di Jawa
tengah yang ditulis oleh Tim Peneliti FKPT Jawa
Tengah tahun 2013, sebenarnya memiliki ketahanan
terhadap ideologi-ideologi radikal dan ekstrimis.
Bahkan, mereka tidak saja diam dan pasif menyaksikan
aksi-aksi radikal-ekstrimis dan kampanye intoleran
yang diperlihatkan sekelompok organisasi Islam
radikal-militan dan teroris, tapi terlibat aktif
menghadang dan memprotes narasi dan aksi tersebut,
misalnya dengan menghadang kelompok JAT dan
elemen organisasi militan lainnya yang akan melakukan
sweeping tempat maksiat. Respon tersebut merupakan
karakter unik dapat ditemukan di Jawa Tengah. Karena
itu, layak jika disebutkan bahwa kunci keberhasilan
kontra-radikalisme dan terorisme di Jawa Tengah
terletak pada masyarakat.
Pemberdayaan Pesantren, Kyai, Komunitas
Tarekat dan Masjid
Pesantren menjadi bagian penting dalam program
kontra radikalisme dan terorisme di Jawa Tengah.
Secara kuantitatif, pada tahun 2010, di Jawa Tengah
terdapat 4,473 pesantren. Sebagian besarnya terdapat
di wilayah utara Jawa Tengah, meliputi kabupaten
Jepara, Kudus, Grobogan, dan Pati. Jumlah ini
meningkat 13% (489 buah) dari tahun sebelumnya
(3984 pesantren). Peningkatan juga dapat ditemukan
dalam jumlah santri. Pada tahun 2009, santri pesantren
mencapai angka 422,069 orang, sementara pada tahun
2010 mencapai 451,501 orang; naik 7%. Sebagian
pesantren tersebut memiliki ikatan erat dengan Islam
tradisionalis dan Nahdlatul Ulama yang juga menjadi
karakter penting keberagamaan masyarakat Jawa
Tengah.
Temuan lain yang juga perlu diapresiasi melalui riset
FKPT Jawa Tengah adalah peran kyai dalam
menanamkan prinsip Islam moderat di tengah-tengah

BNPT

masyarakat. Di Jawa Tengah dan seperti halnya di


beberapa provinsi lain, kyai berperan penting sebagai
cultural broker, yakni sebagai elit agama yang memiliki
kapasitas dan otoritas untuk menginterpretasi doktrin
Islam. Dalam masyarakat muslim, kyai berperan
penting tidak saja sebagai elit agama, tapi juga elit
masyarakat, termasuk dalam bidang ekonomi dan
politik. Peran kyai semakin kentara dalam aspek
pendidikan. Mereka biasanya pemimpin pesantren dan
jamaah pengajian yang terlibat aktif dalam aktifitasaktifitas keagamaan dan pendidikan. Karena itu, peran
kyai dalam program kontra-radikalisme dan terorisme
mutlak diperlukan sebagai irisan sosial yang terjun dan
terlibat langsung dalam agenda-agenda keagamaan
dalam masyarakat.
Selain menjadi pemimpin pesantren, kyai biasanya
juga menjadi pemimpin tarekat atau tasawwuf.
Tasawwuf kerap diidentikkan sebagai bentuk Islam
yang mengedepankan spiritualitas yang berorientasi
pada pemantapan dimensi inter nal dalam
keberagamaan. Sifatnya yang immanen biasanya sering
diposisikan secara berseberangan dengan dimensi
lahiriyah dalam beragama. Karena itu, tasawwuf
menentang ekspresi formalistik dalam beragama,
seperti penerapan syariat Islam dan berdirinya negara
Islam. Di Jawa Tengah, kelompok tarekat dapat
ditemukan di sebagian besar wilayah pedesaan dan
menjadi kelompok dalam masyarakat yang perlu
dilibatkan dalam aktifitas kontra-radikalisme dan
terorisme.
Masjid merupakan elemen penting dalam kontra
radikalisme dan terorisme. Masjid-masjid di Jawa
Tengah memiliki mekanisme khusus untuk
membendung narasi radikal-teroris, misalnya dalam
pemilihan takmir masjid dan khatib/penceramah
untuk acara-acara keagamaan. Beberapa masjid
melakukan screening penceramah guna menghindari
interpretasi dan doktrin Islam yang berpotensi
memunculkan kekacauan di teng ah-teng ah
masyarakat. Selain itu, dalam menentukan struktur
keorganisasi masjid, takmir dan Remas, mekanisme

POLICY BRIEF
screening juga diterapkan untuk menghindari ancaman
kelompok ekstrimis, radikalis, dan teroris yang kerap
membajak dan melakukan rekrutmen melalui aktifitas
yang dilaksanakan di masjid.
Mewaspadai LDK dan Organ Kemahasiswaan
Lainnya
Hal yang juga perlu diperhatikan dalam laporan
penelitian FKPT Jawa Tengah adalah aktifitas
rekrutmen kelompok radikal-ekstrimis melalui
Lembaga Dakwah Kampus atau lembaga studi kajian
Islam di banyak kampus/universitas di Jawa Tengah.
Narasi radikal-ekstrimis jelas terpapar dalam laporan
tersebut yang menjelaskan pola rekrutmen melalui
aktifitas diskusi 'semi-akademik' di universitas. Selain
melalui diskusi keislaman, pola rekrutmen radikalektrimis juga dilakukan di lembaga-lembaga
mahasiswa yang tidak memiliki kaitan dengan
persoalan keag amaan, misalnya lembag a
kemahasiswaan Pencinta Alam, Korps Sukarelawan
dan lain sebagainya. Tentu saja, rekrutmen melalui
lembaga-lembaga tersebut harus diwaspadai karena
mencerminkan pola rekrutmen baru radikal-teroris;
yaitu melalui lembaga-lembaga yang 'netral agama.
'
Rekomendasi
Jawa Tengah memiliki karakter unik dalam konteks
perkembangan radikalisme-terorisme dan gerakan
kontra-radikal-teroris. Penelitian yang dilakukan FKPT
Jawa Tengah membuktikan bahwa terorisme dan
radikalisme masih menjadi ancaman bagi masyarakat
Jawa Tengah, utamanya terhadap pemuda. Ini
kemudian diperparah dengan semakin banyaknya
organisasi-organisasi ektrimis dan radikal berdiri di
provinsi ini. Beberapa hal penting perlu dilakukan
untuk menindaklanjuti temuan-temuan penting
penelitian:
Keterlibatan masyarakat dalam program kontra
?
radikalisme-terorisme mutlak diperlukan.
Keterlibatan masyarakat bisa dilaksanakan melalui
beberapa bentuk, utamanya dengan

BNPT

memberdayakan simpul-simpul keberagamaan


masyarakat.
Mempertegas keterlibatan kyai dalam program
kontra-terorisme. Sebagai elit dalam masyarakat,
pemberdayaan kyai bisa dilakukan dengan
mendorong mereka secara aktif terlibat dalam
kampanye Islam rahmatan lil alamin dan
menanamkan kewasapadaan terhadap acaman
radikalisme dan terorisme di tengah-tengah
masyarakat.
Meningkatkan peran komunitas dan mursyid
tarekat dalam aktifitas kontra radikalismeterorisme. Dengan keterlibatan mereka
diharapkan orientasi keberagamaan yang bercorak
formalistik yang dibangun melalui narasi
kebencian dapat dihadang dan digantikan dengan
narasi Islam yang mengajarkan perdamaian dan
spiritualitas yang menjadi esensi ajaran Islam.
Masjid menjadi bagian penting dalam program
kontra radikalisme-terorisme. Masjid menjadi area
di mana Islam dihadirkan di tengah-tengah
masyarakat, karena itu harus disterilkan dari
narasi-narasi militan, radikal, ektrimis, dan teroris.
Komponen penting dalam masjid, utamanya
takmir, harus diberdayakan untuk membangun
kesadaran perlunya 'Islam yang ramah' di tengahtengah masyarakat dan menanamkan
kewaspadaan mereka terhadap ancaman sabotase
kelompok radikal-teroris terhadap masjid.
Program kontra radikal-teroris mau-tidak-mau
juga harus memperhatikan pemuda sebagai target
audien utama narasi radikal-teroris. Kelompok
pemuda harus dilibatkan dalam kontra radikalteroris melalui aktifitas keagamaan yang
berlandaskan pada ajaran Islam moderat dan
mewaspadai ancaman radikal-teroris. Ini bisa
dilakukan dengan aksi-aksi bersama lintas identitas
guna menjembatani ketegangan dan persingungan
yang diakibatkan perbedaan identitas.
Kontra radikal-teroris juga harus melibatkan
unsur universitas dengan mendorong mereka

POLICY BRIEF
terlibat aktif dalam fungsi pengawasan dan
edukasi terhadap jenis kajian dan aktifitas yang
dilaksanakan oleh lembaga-lembaga
kemahasiswaan di dalam kampus. Fungsi
pengawasan dan edukasi tersebut tidak saja
terhadap lembaga/aktifitas lembaga kajian Islam
di kampus, tapi juga lembaga/aktifitas
kemahasiswaan yang tidak terkait langsung dengan
aktifitas keagamaan.

Kerjasama:
BNPT