Anda di halaman 1dari 21

LEMBAR PENGESAHAN

Nama mahasiswa
Bagian
Periode
Judul
Pembimbing

: Christopher Daniel Halomoan


: Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak RSUD Bekasi
: Periode 19 Mei 2016 23 Juli 2016
: Tetanus pada Anak
: dr. Mas Wishnuwardhana, Sp.A

Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal :


Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan Kepaniteraan Klinik
Ilmu Kesehatan Anak RSUD Bekasi

Jakarta,

Juni 2016

dr. Mas Wishnuwardhana, Sp.A

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan atas segala nikmat,
rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang
berjudul Tetanus pada Anak dengan baik dan tepat waktu.
Case report ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Kepaniteraan Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia di RSUD Bekasi
Periode 19 Mei 23 Juli 2016. Di samping itu, laporan kasus ini ditujukan untuk
menambah pengetahuan bagi kita semua tentang infeksi Tetanus pada anak.
Melalui kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar
besarnya kepada dr. Mas Wishnuwardhana, Sp.A selaku pembimbing dalam
penyusunan laporan kasus ini, serta kepada dokterdokter pembimbing lain yang telah
membimbing penulis selama di Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak RSUD Bekasi.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekanrekan anggota Kepaniteraan
Ilmu Kesehatan Anak RSUD Bekasi serta berbagai pihak yang telah memberi
dukungan dan bantuan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari sempurna dan
tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, penulis sangat berharap adanya masukan,
kritik maupun saran yang membangun. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih yang
sebesarbesarnya, semoga tugas ini dapat memberikan tambahan informasi bagi kita
semua.

Jakarta,

Maret 2016
Penulis

Christopher Daniel Halomoan

DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan ......................................................................................

Kata Pengantar .................................................................................. ..........

Daftar Isi .......................................................................................................

BAB I

Pendahuluan ..........................................................................

BAB II

Laporan Kasus ......................................................................

BAB III

Analisis Kasus .......................................................................

15

BAB IV

Tinjauan Pustaka ....................................................... ...........

18

BAB I
PENDAHULUAN
Tetanus terjadi diseluruh dunia dan endemik pada 90 negara yang
sedang berkembang, tetapi insidensinya sangat bervariasi. Bentuk yang paling
sering, tetanus neonatorum (umbilicus), membunuh sekurang-kurangnya
500.000 bayi setiap tahun karena ibu tidak terimunisasi, lebih dari 70%
kematian ini terjadi pada sekitar 10 negara Asia dan Afrika tropis. Lagipula,
diperkirakan 15.000 30.000 wanita yang tidak terimunisasi di seluruh dunia
meninggal setiap dengan C.tetani luka pascapartus, pascaabortus, atau
pascabedah. Sekitar 50 kasus tetanus dilaporkan setiap tahun di Amerika
Serikat kebanyakan pada orang-orang umur 60 tahun atau lebih tua, tetapi
sesuai anak belajar jalan dan kasus neonates juga terjadi (Stephen, 2000).
Di negara sedang berkembang seperti Indonesia, insiden dan angka
kematian dari penyakit tetanus masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena
tingkat kebersihan masih sangat kurang, mudah terjadi kontaminasi, perawatan
luka kurang diperhatikan, kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya
kebersihan dan kekebalan terhadap tetanus.Oleh karena itu tetanus masih
merupakan masalah kesehatan. Akhirakhir ini dengan adanya penyebarluasan
program imunisasi di seluruh dunia, maka angka kesakitan dan angka
kematian telah menurun secara drastis (Ozluk, 2010).

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
RS PENDIDIKAN : RSUD KOTA BEKASI
STATUS PASIEN
Nama Mahasiswa
NIM

: Christopher D.
: 012.610.50. 262

Pembimbing : dr. Mas Wishnuwardhana, Sp.A


Tanda tangan :

BAB II
ILUSTRASI KASUS
I. IDENTITAS
Data
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Agama
Suku bangsa
Pendidikan
Pekerjaan
Penghasilan
Tanggal Masuk

Pasien
An. I
8 Tahun
Laki laki
Islam
Indonesia
12 Juli 2016

Ayah
Tn. A
27 Tahun
Laki laki
Kota Bekasi
Islam

Ibu
Ny. H
25 tahun
Perempuan

SMP
Wiraswasta
-

SMP
Ibu Rumah Tangga
-

Islam

RS (IGD)
II. ANAMNESIS
Dilakukan secara alloanamnesis kepada ibu dan ayah kandung pasien pada
tanggal 12 Juli 2016 di IGD RSUD Kota Bekasi.
A. Keluhan Utama
Pasien kaku dari bibir, dada kanan sampai ke kaki.
B. Keluhan Tambahan

Luka karena jatuh

Sulit berbicara

Dada sakit

C. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSUD Kota Bekasi pada tanggal 12 Juli 2016
dengan keluhan badan kaku. Menurut keluarga pasien keluhan dirasakan sejak 3
5

hari yang lalu saat pasien jatuh saat bermain layangan dengan teman-temannya.
Keluhan ini dirasakan terus menerus seharian dan menyebabkan pasien harus
dibopong apabila mau bergerak kemana-mana. Keluhan kaku dimulai dari dada
bagian kanan kemudian menjalar sampai ke kaki. Rasa sakit di dada juga
dirasakan dan ada luka di sekitar bibir penderita. Pasien tidak menerima
imunisasi apapun sejak lahir.
D. Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit

Umur

Penyakit

Umur

Penyakit

Umur

Alergi

Candidiasis

Jantung

Cacingan

Diare

Ginjal

DBD

Kejang

Darah

Thypoid

Gastritis

Radang paru

Otitis

Herpes

Tuberkulosis

Zooster
Parotis

Operasi

paru
-

Morbili

E. Riwayat Penyakit Keluarga :


Dalam keluarga tidak ada yang sedang mengalami penyakit serupa.

F. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :

KEHAMILAN

Morbiditas kehamilan

Tidak ditemukan kelainan

Perawatan antenatal

Kontrol rutin ke bidan dan


ke Rumah Sakit 1 kali
sebulan.

KELAHIRAN

Tempat kelahiran

Rumah Bersalin

Penolong persalinan

Bidan

Cara persalinan

Normal

Masa gestasi

39 Minggu

Berat lahir 3100 g


Panjang badan 48 cm
Keadaan bayi

Lingkar kepala tidak ingat


Tidak ada kelainan
bawaan

G. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan :


Pertumbuhan gigi pertama

: 5 bulan

Tengkurap dan berbalik sendiri

: 6 bulan

Duduk

: 7 bulan

Merangkak

: 8 bulan

Berdiri

: 10 bulan

Berjalan

: 11 bulan

Berbicara

: 12 bulan

Gangguan perkembangan
Kesan

:-

: Baik (perkembangan sesuai dengan usia)

H. Riwayat Makanan
Umur (bulan)

ASI/PASI

Buah/biscuit

Bubur susu

Nasi tim

0-2

ASI

2-4

ASI

4-6

ASI

6-8

ASI + Susu
formula

8-10

ASI + Susu

+
7

formula
10-12

ASI + Susu
formula

Kesan: Pasien belum mendapatkan ASI karena mengkonsumsi susu BBLR


I. Riwayat Imunisasi :
Vaksin
Dasar (umur)
Ulangan (umur)
BCG
DPT/DT
POLIO
CAMPAK
HEPATITIS B
Kesan: Pasien belum pernah mendapatkan imunisasi.

J. Riwayat Perumahan dan Sanitasi :


Pasien tinggal di rumah pribadi, dinding terbuat dari tembok, atap terbuat dari
genteng, dan ventilasi cukup. Menurut pengakuan keluarga pasien, keadaan
lingkungan rumah padat, ventilasi, dan pencahayaan baik, sumber air bersih
berasal dari PAM, sumber air minum dari galon.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan dilakukan di IGD pada tanggal 12 Juli 2016
Status generalis
a. Keadaan umum
: Tampak sakit berat
b. Tanda Vital
Kesadaran
: Compos mentis
Frekuensi nadi
: 80 x/m
Frekuensi pernapasan
: 30 x/m
Suhu tubuh
: 36,70C
c. Data antropometri
Berat badan
Tinggi badan

: 30 kg
: 130 cm
8

d. Kepala

Bentuk
Rambut

: Normocephali, simetris, ubun-ubun sudah menutup


: Rambut hitam, distribusi merata.
Mata : Edema palpebra -/-, konjungtiva anemis -/-, air
mata +, sklera ikterik -/-, pupil bulat isokor, RCL +/+,
RCTL +/+
Telinga
: Normotia, serumen -/Hidung : Bentuk normal, NCH -/-, sekret -/-, konka

oedem-, hiperemis -, terdapat hematom

Mulut : Deformitas (-), bibir kering (+), sianosis


perioral (-),

Leher : Bentuk simetris, trakea di tengah, faring


hiperemis -,

tonsil T1-T1, hiperemis -, kripta -,

pembesaran kelenjar getah bening , kuduk kaku +


e. Thorax

Inspeksi
: Pergerakan dinding dada simetris, retraksi -/Palpasi
: Gerak napas simetris, vocal fremitus simetris, nyeri dada +
Perkusi
: Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi
Pulmo

: Suara napas vesikuler, ronki basah halus -/-, wheezing -/-

Cor

: BJ I dan II reguler, murmur -, gallop

f. Abdomen

Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi

g. Kulit
h. Extremitas

: Perut datar
: Bising usus +
: Supel, turgor kulit baik
: Shifting dullness -, nyeri ketuk : Sawo matang
: Akral hangat, sianosis (-), oedem (-), ikterik (+), CRT < 2
detik

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Belum dilakukan pemeriksaan penunjang pada pasien ini
V. RESUME
Pasien datang ke IGD RSUD Kota Bekasi pada tanggal 12 Juli 2016 dengan
keluhan badan kaku. Menurut keluarga pasien keluhan dirasakan sejak 3 hari
9

yang lalu saat pasien jatuh saat bermain layangan dengan teman-temannya.
Keluhan ini dirasakan terus menerus seharian dan menyebabkan pasien harus
dibopong apabila mau bergerak kemana-mana. Keluhan kaku dimulai dari dada
bagian kanan kemudian menjalar sampai ke kaki. Rasa sakit di dada juga
dirasakan dan ada luka di sekitar bibir penderita. Pasien tidak menerima
imunisasi apapun sejak lahir.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan trismus pada bibir, kaku kuduk dan
kuduk kaku pada leher, kaku badan mulai dari dada sampai ke kaki, dan nyeri
pada dada. Di daerah sekitar bibir ada bekas-bekas luka sehabis jatuh.
VI. DIAGNOSIS KERJA
VII.

Tetanus

DIAGNOSIS BANDING
- Meningitis bakterialis

VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN


LCS
EKG dan EEG
Kultur dari nanah pada luka
IX.

PENATALAKSANAAN

ATS 1 x 20.000 iu 3 hari

Inj. Ceftriaxon 2 x 1 gram iv

Metronidazole 3 x 250 mg iv

Diazepam 30 mg

X. PROGNOSIS
Ad vitam
Ad fungsionam
Ad sanationam

: ad bonam
: ad bonam
: dubia ad bonam

XI. FOLLOW UP

13 Juli 2016
Keluhan sudah mulai berkurang, masih dirasakan rasa sakit di dada
Suhu: 35,6, trismus +, kuduk kaku
Terapi:
10

ATS 1 x 20.000 iu 3 hari

Inj. Ceftriaxon 2 x 1 gram iv

Metronidazole 3 x 250 mg iv

Diazepam 30 mg

BAB III
ANALISIS KASUS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan keluhan-keluhan yang dialami pasien di
atas. Pada pasien di atas dapat dilihat bahwa ada beberapa faktor risiko yang dimiliki
si anak yang menyebabkan kita dapat mengarahkan diagnosis ke penyakit tetanus.
Faktor risiko tersebut adalah:

Tidak mendapatkan imunisasi pada saat kecil

Jatuh dan mengalami luka terbuka

Ada pembengkakan di sekitar luka

Pasien dibiarkan selama 3 hari semenjak luka dan baru dibawa ke rumah sakit

Pemberian ATS terlambat

Pada kasus ini keluhan muncul pada hari ketiga (sesuai dengan teori masa inkubasi
kuman Clostridium tetani yaitu 3-4 hari. Manifestasi klinis yang muncul akan

11

dijelaskan di tinjauan pustaka pada bab berikutnya. Untuk penatalaksanaan dan


pemberian obat pada kasus di atas juga sesuai dengan teori:

ATS digunakan untuk menangkal toksin dari kuman Clostridium tetani.

Ceftriaxon digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.

Metronidazole

digunakan

untuk

membunuh

bakteri-bakteri

anaerob,

Clostridium tetani merupakan bakteri anaerob.

Diazepam digunakan untuk melemaskan otot terutama otot-otot yang kaku


akibat racun tetanus dan mencegah terjadinya paralisis pernapasan.

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
A.

DEFINISI
Tetanus adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan meningkatnya
tonus otot dan spasme, yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu toksin protein
yang kuat yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Tetanus ini biasanya akut dan
menimbulkan paralitik spastik yang disebabkan tetanospasmin. Tetanospamin
merupakan neurotoksin yang diproduksi oleh Clostridium tetani (Dire, 2005).

B.

EPIDEMIOLOGI
Tetanus tersebar di seluruh dunia dengan angka kejadian tergantung pada
jumlah populasi masyarakat yang tidak kebal, tingkat populasi masyarakat yang
12

tidak kebal, tingkat pencemaran biologi lingkungan peternakan/ pertanian, dan


adanya luka pada kulit atau mukosa. Tetanus pada anak tersebar di seluruh dunia,
terutama pada daerah risiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah
angka kejadian pada anak laki-laki lebih tinggi, akibat perbedaaan aktivitas
fisiknya (Merdjani, 2003).
Reservoir utama kuman ini adalah yang mengandung kotoran ternak,
kuda dan sebagainya, sehingga risiko penyakit ini didaerah peternakan sangat
besar. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan terhadap kekeringan dapat
bertebaran di mana-mana; misalnya dalam debu jalanan, lampu operasi, bubuk
antiseptic (dermatol), ataupun pada alat suntik dan operasi (Merdjani, 2003).
Pada dasarnya tetanus adalah penyakit akibat penyakit pencemaran
lingkungan oleh bahan biologis (spora), sehingga upaya kausal menurunkan
attack rate berupa cara mengubah lingkungan fisik atau biologic. Port dentre tak
selalu dapat diketahui dengan pasti, namun diduga melalui:
1. Luka tusuk, patah tulang komplikasi kecelakaan, gigitan binatang, luka
bakar yang luas
2. Luka operasi, luka yang tak dibersihkan (debridement) dengan baik.
3. Otitis media, karies gigi, luka kronik
4. Pemotongan tali pusat yang tidak steril, pembubuhan punting tali pusat
dengan kotoran binatang, bubuk kopi, bubuk ramuan dan daun-daunan
merupakan penyebab utama masuknya spora pada punting tali pusat yang
menyebabkan terjadinya kasus tetanus neonatorum (Merdjani, 2003).
C.

ETIOLOGI
Kuman tetanus yang dikenal sebagai Clostridium Tetani; berbentuk batang
yang langsing dengan ukuran panjang 25 um dan lebar 0,30,5 um, termasuk
gram positif dan bersifat anaerob. Kuman tetanus ini membentuk spora yang
berbentuk lonjong dengan ujung yang bulat, khas seperti batang korek api (drum
stick) Sifat spora ini tahan dalam air mendidih selama 4 jam, obat antiseptik
tetapi mati dalam autoclaf bila dipanaskan selama 1520 menit pada suhu 121C.
Bila tidak kena cahaya, maka spora dapat hidup di tanah berbulanbulan bahkan
sampai tahunan (Barkin, 1999).
13

Kuman tetanus tidak invasif. tetapi kuman ini memproduksi 2 macam


eksotoksin yaitu tetanospasmin dan tetanolisin. Tetanospasmin disebut juga
neurotoksin karena toksin ini melalui beberapa jalan dapat mencapai susunan
saraf pusat dan menimbulkan gejala berupa kekakuan (rigiditas), spasme otot dan
kejangkejang. Tetanolisin menyebabkan lisis dari selsel darah merah (Barkin,
1999).

D.

PATOFISIOLOGI
Biasanya penyakit ini terjadi setelah luka yang dalam misalnya luka yang
disebabkan tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng atau luka tembak, karena luka
tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal. Selain itu luka laserasi yang
kotor, luka bakar dan patah tulang juga akan mengakibatkan keadaan anaerob
yang ideal untuk pertumbuhan C. tetani ini. Walaupun demekian luka-luka ringan
seperti luka gore, lesi pada mata, telinga atau tonsil dan traktus digestivus serta
gigitan serangga dapat pula gores, lesi pada mata, telinga atau tonsil dan traktus
digestivus serta gigitan serangga dapat pula merupakan porte dentre (tempat
masuk) dari C. tetani. Dibagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta,
sering ditemukan telinga dengan otitis media perforate merupakan tempat
masuknya C. tetani, bila anamnestik tidak ada luka (Merdjani, 2003).
Hipotesis mengenai cara absorbsi dan bekerjanya toksin:
1. Toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindrik
dibawa ke kornu anterior susunan saraf pusat.
2. Toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk ke dalam sirkulasi darah
arteri kemudian masuk ke dalam susunan saraf pusat.
Spora yang masuk ke dalam tubuh dan berada dalam lingkungan
anerobik, berubah menjadi vegetatife dan berbiak cepat sambil menghasilkan
toksin. Dalam jaringan yang anaerobic ini terdapat penurunan potensial oksidasi
reduksi jaringan dan turunnya tekanan oksigen jaringan akibat adanya benda
asing, seperti bambu, pecahan kaca dan sebagainya.
Hipotesa bahwa toksin pada awalnya merambat dari tempat luka lewat
motor endplate dan aksis silinder saraf tepi ke kornu anterior sumsum tulang
belakang dan menyebar ke seluruh susunan saraf pusat, lebih banyak dianut
daripada lewat pembuluh limfe dan darah. Pengangkuan toksin ini melewati saraf
14

motorik, terutama serabut motor. Reseptor khusus pada ganglion menyebabkan


fragmen C toksin tetanus menempel erat dan kemudian melalui proses perlekatan
dan internalisasi, toksin diangkut kea rah sel secara ekstra aksional dan
menimbulkan perubahan potensial membrane dan gangguan enzim yang
menyebabkan kolin-esterase tidak aktif, sehingga kadar asetilkolin menjadi
sangat tinggi pada sinaps yang terkena. Toksin menyebabkan blockade pada
simpul yang menyalurkan impuls pada tonus otot, sehingga tonus otot meningkat
dan menimbulkan kekakuan. Bila tonus makin meningkat akan timbul kejang,
terutama pada otot yang besar.
Dampak Toksin:
1. Dampak pada ganglion pra sumsum tulang belakang disebabkan oleh
karena eksotoksin memblok sinaps jalur antagonis, mengubah keseimbangan
dan koordinasi impuls sehingga tonus otot meningkat dan otot menjadi kaku.
2. Dampak pada otak, diakibatkan oleh toksin yang menempel pada cerebral
gangliosides diduga menyebabkan kekakuan dan kejang yang khas pada
tetanus
3. Dampak pada saraf autonom, terutama mengenai saraf simpatis dan
menimbulkan gaya keringat yang berlebihan, hipertermia, hipotensi,
hipertensi, aritmia, heart block atau tokikardia
E.

MANIFESTASI KLINIS
Variasi masa inkubasi sangat lebar, biasanya berkisar anatara 5-14 hari.
Makin lama masa inkubasi, gejala yang timbul makin ringan. Derajat berat
penyakit selain berdasarkan gejala klinis yang tampak juga dapat diramalkan dari
lama masa inkubasi atau lama period of onset. Kekakuan dimulai pada otot
setemapat atau trismus, kemudian menjalar ke seluruh tubuh, tanpa disertai
gangguan kesadaran. Kekakuan tetanus sangat khas, yaitu fleksi kedua lengan
dan ekstensi pada kedua kaki, fleksi pada kedua kaki, tubuh kaku melengkung
bagai busur.
Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang
makin bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam waktu 48 jam penyakit
ini menjadi nyata dengan :
1. Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastikatoris.
15

2. Kaku kuduk sampai epistotonus (karena ketegangan otot-otot erector trunki)


3. Ketegangan otot dinding perut (harus dibedakan dengan abdomen akut)
4. Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin terdapat di kornu
anterior.
5. Risus sardonikus karena spasme otot muka (alis tertarik ke atas),sudut
mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi.
6. Kesukaran menelan,gelisah, mudah terangsang, nyeri anggota badan sering
merupakan gejala dini.
7 Spasme yang khas , yaitu badan kaku dengan epistotonus, ekstremitas
inferior dalam keadaan ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat. Anak
tetap sadar. Spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi.
Kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai rasa nyeri. Kadangkadang terjadi perdarahan intramusculus karena kontraksi yang kuat.
8. Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan dan
laring. Retensi urine dapat terjadi karena spasme otot urethral. Fraktur
kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat.
9. Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.
10. Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian
tekanan cairan otak (Ritarwan, 2009).
Ada 4 bentuk klinik dari tetanus, yaitu:
1. tetanus local: otot terasa sakit, lalu timbul rebiditas dan spasme pada bagian
paroksimal luak. Gejala itu dapat menetap dalam beberapa minggu dan
menhilang tanpa sekuele.
2. Tetanus general merupakan bentuk paling sering, timbul mendadak dengan
kaku kuduk, trismus, gelisah, mudah tersinggung dan sakit kepala merupakan
manifestasi awal. Dalam waktu singkat konstruksi otot somatik meluas.
Timbul kejang tetanik bermacam grup otot, menimbulkan aduksi lengan dan
ekstensi ekstremitas bagian bawah. Pada mulanya spasme berlangsuang
beberapa detik sampai beberapa menit dan terpisah oleh periode relaksasi.
3. Tetanus sephal : varian tetanus local yang jarang terjadi masa inkubasi 1-2
hari terjadi sesudah otitis media atau luka kepala dan muka.
Paling menonjol adalah disfungsi saraf III, IV, VII, IX dan XI tersering adalah
saraf otak VII diikuti tetanus umum.

16

4. Neonatal tetanus :Biasanya disebabkan infeksi C. tetani, yang masuk


melalui tali pusat sewaktu proses pertolongan persalinan. Spora yang masuk
disebabkan oleh proses pertolongan persalinan yang tidak steril, baik oleh
penggunaan alat yang telah terkontaminasi spora C.tetani, maupun
penggunaan obat-obatan Wltuk tali pusat yang telah terkontaminasi.
Kebiasaan menggunakan alat pertolongan persalinan dan obat tradisional yang
tidak steril,merupakan faktor yang utama dalam terjadinya neonatal tetanus 4
Menurut berat gejala dapat dibedakan 3 stadium :
1. Trismus (3 cm) tanpa kejang-lorik umum meskipun dirangsang.
2. Trismus (3 cm atau lebih kecil) dengan kejang torik umum bila dirangsang.
3. Trismus (1 cm) dengan kejang torik umum spontan.
F.

DIAGNOSIS
Biasanya tidak sukar. Anamnesis terdapat luka dan ketegangan otot yang
khas terutama pada rahang sangat membantu. Anamnesis yang teliti dan terarah
selain membantu menjelaskan gejala klinis yang kita hadapi juga mempunyai arti
diagnostic dan prognostic. Anamnesis yang dapat membantu diagnosis antara
lain:
Apakah dijumpai luka tusuk, luka kecelakaan/patah tulang terbuka, luka
dengan nanah atau gigitan binatang
Apakah pernah keluar nanah dari telinga
Apakah menderita gigi berlobang
Apakah sudah pernah mendapat imunisasi DT atau TT, kapan imunisasi yang
terakhir
Selang waktu antara timbulnya gejala klinis pertama (trismus atau spasme
local) dengan kejang yang pertama (periode of onset) (Merdjani,200).

G.

PENATALAKSANAAN
A. Umum
Tujuan terapi ini berupa mengeliminasi kuman tetani, menetralisirkan
peredaran toksin, mencegah spasme otot dan memberikan bantuan pemafasan
sampai pulih. Dan tujuan tersebut dapat diperinci sbb :
1. Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya, berupa:
17

Membersihkan luka, irigasi luka, debridement luka (eksisi jaringan


nekrotik),membuang benda asing dalam luka serta kompres dengan H202
,dalam hal ini penatalaksanaan, terhadap luka tersebut dilakukan 1 -2 jam
setelah ATS dan pemberian Antibiotika. Sekitar luka disuntik ATS.
2. Diet cukup kalori dan protein, bentuk makanan tergantung kemampuan
membuka mulut dan menelan. Hila ada trismus, makanan dapat diberikan
personde atau parenteral.
3. Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara dan tindakan terhadap
penderita
4. Oksigen, pernafasan buatan dan trachcostomi bila perlu.
5. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit (Ritarwan, 2009).
B. Obat- obatan
1. Antibiotika :
Diberikan parenteral Peniciline 1,2juta unit / hari selama 10 hari, IM.
Sedangkan tetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50.000 Unit /
KgBB/12 jam secafa IM diberikan selama 7-10 hari. Bila sensitif terhadap
peniciline, obat dapat diganti dengan preparat lain seperti tetrasiklin dosis 3040 mg/kgBB/ 24 jam, tetapi dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam
dosis terbagi ( 4 dosis ). Bila tersedia Peniciline intravena, dapat digunakan
dengan dosis 200.000 unit /kgBB/24 jam, dibagi 6 dosis selama 10 hari.
Antibiotika ini hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C.tetani,
bukan untuk toksin yang dihasilkannya. Bila dijumpai adanya komplikasi
pemberian antibiotika broad spektrum dapat dilakukan (Ritarwan, 2009).
2. Antitoksin
Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin ( TIG) dengan
dosis 3000-6000 U, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan
secara intravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of
globulin ", yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius. Bila
TIG tidak ada, dianjurkan untuk menggunakan tetanus antitoksin, yang
berawal dari hewan, dengan dosis 40.000 U, dengan cara pemberiannya adalah
: 20.000 U dari antitoksin dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaC1 fisiologis
18

dan diberikan secara intravena, pemberian harus sudah diselesaikan dalam


waktu 30-45menit. Setengah dosis yang tersisa (20.000 U) diberikan secara
IM pada daerah pada sebelah luar (Stephen, 2000).
3.Tetanus Toksoid
Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama,dilakukan bersamaan dengan
pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang
berbeda. Pemberian dilakukan secara I.M. Pemberian TT harus dilanjutkan
sampai imunisasi dasar terhadap tetanus selesai. Berikut ini, tabel 4.
Memperlihatkan petunjuk pencegahan terhadap tetanus pada keadaan luka
Pencegahan
1. Mencegah terjadinya luka
2. Perawatan luka yang adekuat
3. Pemberian anti tetanus (ATS) dalam beberapa jam setelah luka yaitu untuk
memberikan kekebalan pasif, sehingga dapat dicegah terjadinya tetanus
gejalanya ringan. Umumnya diberikan 1.500 U intramuskulus dengan
didahului oleh uji kulit dan mata.
4. Pemberian toksoid tetanus pada anak yang belum pernah mendapat
imunisasi aktif pada minggu-minggu berikutnya setelah pemberian ATS,
kemudian diulangi lagi dengan jarak waktu 1bulan 2 kali berturut-turut.
5. Pemberian penisilin prokain selama 2-3 hari setelah mendapat luka berat
(dosis 50.000 U/kgBB/hari).
6. Imunisasi aktif. Toksoid tetanus diberikan agar anak membentuk kekebalan
secara aktif. Sebagai vaksinasi dasar diberikan bersama vaksinasi terhadap
pertusis dan difteria, dimulai pada umur 3 bulan. Vaksinasi ulangan (booster)
diberikan 1 tahun kemudian dan pada usia 5 tahun serta selanjutnya setiap 5
tahun diberikan hanya bersama toksoid difteria (tanpa vaksin pertusis).
Bila terjadi luka berat pada seseorang anak yang telah mendapat imunisasi
atau toksoid tetanus 4 tahun yang lalu, maka kepadanya wajib diberikan
pencegahan dengan suntikan sekaligus antioksin dan toksoid pada kedua
ekstremitas (berlainan tempat suntikan) (Hasan, 2005).
H.

KOMPLIKASI
19

1. Spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saliva) di


dalam rongga mulut dan hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi sehingga
dapat terjadi pneumonia aspirasi.
2. Asfiksia
3. Atelektasis karena obstruksi oleh secret
4. Fraktura kompresi
Komplikasi pada tetanus yang sering dijumpai: laringospasm, kekakuan
otot-otot pernafasan atau terjadinya akumulasi sekresi berupa pneumonia dan
atelektase serta kompressi fraktur vertebra dan laserasi lidah akibat kejang.
Selain itu bisa terjadi rhabdomyolisis dan renal failure (Hasan, 2005).
I. PROGNOSIS
Dipengaruhi oleh beberapa factor dan akan buruk pada masa tunas
yang pendek (kurang dari 7hari), usia yang sangat muda (neoatus) dan usia
lanjut, bila disertai frekuensi kejang yang tinggi, kenaikan suhu tubuh yang
tinggi, pengobatan yang terlambat, periode of onset yang pendek (jarak antara
trismus dan timbulnya kejang) dan adanya komplikasi terutama spasme otot
pernafasan dan obstruksi saluran pernafasan.
Prognosis tetanus diklassikasikan dari tingkat keganasannya, dimana :
1. Ringan; bila tidak adanya kejang umum ( generalized spasm )
2. Sedang; bila sekali muncul kejang umum
3. Berat ; bila kejang umum yang berat sering terjadi.
Masa inkubasi neonatal tetanus berkisar antara 3 -14 hari, tetapi bisa lebih
pendek atau pun lebih panjang. Berat ringannya penyakit juga tergantung pada
lamanya masa inkubasi, makin pendek masa inkubasi biasanya prognosa
makin jelek.
Prognosa tetanus neonatal jelek bila:
1. Umur bayi kurang dari 7 hari
2. Masa inkubasi 7 hari atau kurang
3. Periode timbulnya gejala kurang dari 18 ,jam
4. Dijumpai muscular spasm
Case Fatality Rate (CFR) tetanus berkisar 44-55%,sedangkan tetanus
neonatorum >60% (Hasan, 2005).
20

21