Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mekanisme umum Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah Pengusaha Kena
Pajak (PKP) mengurangkan atau mengkreditkan pajak masukan dalam suatu masa
dengan pajak keluaran dalam masa pajak yang sama. Apabila dalam masa pajak
tersebut lebih besar pajak keluaran maka kelebihan pajak keluaran tersebut harus
disetorkan ke kas Negara oleh PKP tersebut. Sebaliknya jika dalam masa pajak
tersebut ternyata lebih besar pajak masukan, maka kelebihan pajak masukan tersebut
dapat dikompensasikan ke masa pajak berikutnya atau dimintakan restitusi.
Dengan mekanisme umum tersebut, maka jumlah yang harus dibayar atau
kelebihan bayar oleh PKP bias berubah-ubah tergantung besarnya pajak masukan
yang dibayar dan pajak keluaran yang dipungut dalam suatu masa pajak.
Namun demikian Undang-undang PPN juga membuat ketentuan tentang
mekanisme pengkreditan lain selain mekanisme umum. Mekanisme ini disebut
Pedoman Pengkreditan Pajak Masukan. Dengan mekanisme ini, ditentukan besarnya
pajak masukan yang dapat dikreditkan berdasarkan persentase terhadap pajak
keluaran. Misal, pajak masukan yang dapat dikreditkan adalah 80% dari pajak
keluaran. Besarnya pajak keluaran dalam satu masa pajak adalah 10% dari omzet
sehingga pajak masukan yang bias dikreditkan adalah 8% dari omzet. Dengan
semikian PPN yang harus disetor dalam suatu masa pajak adalah 2% dari omzet
sebukan. Perhatikan bahwa besarnya PPN yang harus disetor hanya tergantung pada
omzet dalam suatu masa saja.

BAB II
ISI
A. Dasar Hukum Pengkreditan PPN Masukan dan Keluaran
1)

2)

3)

4)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan


Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan
Nilai barang dan Jasa dan Pajak Pertambahan Nilai Atas Barang Mewah.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.03/2010 tentang Pedoman
Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan Bagi Pengusaha Kena Pajak yang
Melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak dan Penyerahan yang Tidak Terutang
Pajak.
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 21/PMK.011/2014
tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.03/2010
tentang Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan Bagi Pengusaha
Kena Pajak yang Melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak dan Penyerahan
yang Tidak Terutang Pajak.
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 135/PMK.011/2014
Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor
78/PMK.03/2010 tentang Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan
Bagi Pengusaha Kena Pajak yang Melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak dan
Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak.

B. Pengertian Umum Pembahasan Pengkreditan PPN Masukan dan Keluaran


1.

2.

3.
4.
5.

6.

Dalam makalah ini, yang dimaksud dengan:


Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai adalah Undang-Undang Nomor 83
Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak penjualan
atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009.
Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha yang melakukan penyerahan Barang
Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai Pajak berdasarkan
Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai.
Barang Kena Pajak adalah barang yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang
Pajak Pertambahan Nilai.
Jasa Kena Pajak adalah jasa yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak
Pertambahan Nilai.
Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar
oleh Pengusaha Kena Pajak karena perolehan barang Kena Pajak dan/atau
perolehan Jasa Kena pajak dan/atau pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak
Berwujud dari luar Daerah Pabean dan atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar
Daerah Pabean dan/atau impor Barang Kena Pajak.
Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai terutang yang wajib dipungut oleh
Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak,
penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Barang Kena Pajak Berwujud, ekspor Barang
Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau ekspor Jasa Kena Pajak.

7.

8.

9.

Penyerahan yang Terutang Pajak adalah penyerahan barang atau jasa yang dikenai
Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Undang-Undang
Pajak Pertambahan Nilai, tidak termasuk penyerahan yang dibebaskan dari
pengenaan Pajak Petambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16B
Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai.
Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak adalah penyerahan barang atau jasa yang
tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4A
Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai, tidak termasuk penyerahan yang
dibebaskan dari pengenaan Pajak Petambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 16B Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai.
Pengusaha Kena Pajak yang melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak dan
Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak antara lain:
a. Pengusaha Kena Pajak yang melakukan dan/atau memanfaatkan kegiatan
usaha terpadu (integrated), misalnya Pengusaha Kena Pajak yang
menghasilkan jagung, dan juga mempunyai pabrik minyak jagung (minyak
jagung merupakan Barang Kena Pajak), yang sebagian jagung yang
dihasilkannya dijual kepada pihak lain dan sebagian lainnya diolah menjadi
minyak jagung.
b. Pengusaha Kena Pajak yang melakukan usaha jasa yang atas penyerahannya
terutang dan tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai, misalnya Pengusaha
Kena Pajak yang bergerak dibidang perhotelan, disamping melakukan usaha
jasa di bidang perhotelan, juga melakukan penyerahan jasa persewaan
ruangan untuk tempat usaha.
c. Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan barang dan jasa yang
atas penyerahannya terutang dan yang tidak terutang Pajak Pertambahan
Nilai, misalnya Pengusaha Kena Pajak yang kegiatan usahanya menghasilkan
atau menyerahkan Barang Kena Pajak berupa roti juga melakukan kegiatan di
bidang jasa angkutan umum yang merupakan jasa yang tidak dikenakan Pajak
Pertambahan Nilai.
d. Pengusaha Kena Pajak yang menghasilkan Barang Kena Pajak yang terutang
Pajak Pertambahan Nilai dan yang dibebaskan dari pengenaan Pajak
Pertambahan Nilai, misalnya pengusaha pembangunan perumahan yang
melakukan penyerahan berupa rumah mewah yang terutang Pajak
Pertambahan Nilai dan rumah sangat sederhana yang dibebaskan dari
pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.

Untuk pengusaha Kena Pajak yang melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak dan
Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak sebagaimana tersebut diatas, perla kuan
pengkreditan Pajak Masukan adalah sebagai berikut: .
a. Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang
nyata- nyata hanya digunakan untuk kegiatan yang terkait dengan penyerahan
yang terutang Pajak Pertambahan Nilai, dapat dikreditkan seluruhnya, seperti
misalnya:

Pajak Masukan untuk perolehan mesin-mesin yang digunakan untukmemproduksi


minyak jagung;
Pajak Masukan untuk perolehan alat-alat perkantoran yang hanya digunakan
untuk kegiatan penyerahan jasa persewaan kantor;
b. Pajak Masukan atas perolehan Bara ng Kena Pajak danjatau Jasa Kena Pajak yang
nyata-nyata hanya diguna kan untuk kegiatan yang terkait dengan penyerahan
yang tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai atau mendapatkan fasilitas
dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai, tidak dapat dikreditkan
seluruhnya, misalnya:
Pajak Masukan untuk pembelian truk yang digunakan untuk jasa angkutan
umum, karena jasa angkutan umum bukan merupakan Jasa Kena Pajak yang atas
penyerahannya tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai;
Pajak Masukan untuk pembelian bahan baku yang digunakan untuk membangun
rumah sangat sederhana,
karena atas penyerahan rumah sangat sederhana
dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.

Sedangkan Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak dan/ atau Jasa Kena
Pajak yang belum dapat dipastikan penggunaannya untuk Penyerahan yang Terutang
Pajak dan Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak, pengkreditannya menggunakan
pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan sebagaimana diatur dalam Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 135/PMK.011/2014, misalnya:

Pajak Masukan untuk perolehan truk yang digunakan baik untuk perkebunan
jagung maupun untuk pabrik minyak jagung, yang sebagian jagung tersebut dijual
kepada pihak lain dan tidak diolah sendiri oleh pemilik kebun jagung menjadi
minyak jagung;
Pajak Masukan untuk perolehan komputer yang digunakan baik untuk kegiatan
penyerahan jasa perhotelan maupun untuk kegiatan penyerahan jasa persewaan
kantor.

C. Mekanisme Pengkreditan Pajak Masukan


Prinsip dasar pengkreditan Pajak masukan adalah sebagai berikut:
1.
Pajak Masukan dalam suatu Masa Pajak dikreditkan dengan Pajak Keluaran untuk
Masa Pajak yang sama. (Pasal 9 ayat 2 UU PPN).
2.
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan tetapi belum dikreditkan dengan Pajak
Keluaran pada Masa Pajak yang sama, dapat dikreditkan pada Masa Pajak
berikutnya paling lama 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang
bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan
pemeriksaan. (Pasal 9 ayat 9 UU PPN).
3.
Bagi Pengusaha Kena Pajak yang belum berproduksi sehingga belum melakukan
penyerahan yang terutang pajak, Pajak Masukan atas perolehan dan/atau impor
barang modal dapat dikreditkan. (Pasal 9 ayat 2a UU PPN).
4.
Barang modal adalah harta berwujud yang memiliki masa manfaat lebih dari 1
(satu) tahun yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan termasuk
pengeluaran yang dikapitalisasikan ke barang modal tersebut. (PP 1/2012).

5.

6.

7.

8.

9.

Pajak Masukan yang dikreditkan harus menggunakan Faktur Pajak yang memenuhi
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) dan ayat (9). (Pasal 9
ayat 2a UU PPN).
Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BKP dan / atau JKP harus
dikreditkan dengan Pajak Keluaran di tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan.
Contoh : alamat di FP sama dg alamat di SK pengukuhan. Dalam hal impor BKP,
DJP karena jabatan atau berdasarkan permohonan tertulis dari PKP dapat
menentukan tempat lain selain tempat dilakukannya impor BKP sebagai tempat
pengkreditan Pajak Masukan. (PM dikreditkan di tempat PKP dikukuhkan,
Dikukuhkan di beberapa tempat maka dapat memilih). (PP 1/2012).
Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak
Masukan, selisihnya merupakan Pajak Pertambahan Nilai yang harus disetor oleh
Pengusaha Kena Pajak. Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai oleh Pengusaha Kena
Pajak harus dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya
Masa Pajak dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai
disampaikan. Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan
paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak. (Pasal 9 ayat 3
UU PPN).
Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan lebih
besar daripada Pajak Keluaran, selisihnya merupakan kelebihan pajak yang
dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya (Pasal 9 ayat 4 UU PPN).
Atas kelebihan Pajak Masukan tsb dapat diajukan permohonan pengembalian pada
akhir tahun buku. Termasuk dalam pengertian akhir tahun buku dalam ketentuan
ini adalah Masa Pajak saat Wajib Pajak melakukan pengakhiran usaha (bubar).
(Pasal 9 ayat 4a UU PPN).

Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan sesuai pasal 9 ayat 8 UU PPN adalah atas
pengeluaran sebagai berikut :
1.

2.

Perolehan BKP/JKP sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai PKP. Ketentuan ini


memberikan kepastian hukum bahwa Pajak Masukan yang diperoleh sebelum
pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak tidak dapat dikreditkan.
Contoh : Pengusaha A melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha
Kena Pajak pada tanggal 19 April 2010. Pengukuhan sebagai Pengusaha Kena
Pajak diberikan pada tanggal 20 April 2010 dan berlaku surut sejak tanggal 19
April 2010. Pajak Masukan yang diperoleh sebelum tanggal 19 April 2010 tidak
dapat dikreditkan berdasarkan ketentuan ini.
Perolehan BKP/JKP yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan
usaha. Yang dimaksud dengan pengeluaran yang langsung berhubungan dengan
kegiatan usaha adalah pengeluaran untuk kegiatan produksi, distribusi, pemasaran,
dan manajemen. Ketentuan ini berlaku untuk semua bidang usaha, oleh karena itu,
meskipun suatu pengeluaran telah memenuhi syarat adanya hubungan langsung
dengan kegiatan usaha, masih dimungkinkan Pajak Masukan tersebut tidak dapat
dikreditkan, yaitu apabila pengeluaran dimaksud tidak ada kaitannya dengan
penyerahan yang terutang Pajak Pertambahan Nilai.

3.
4.

5.

6.

7.

Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon,
kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan.
Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena
Pajak dari luar Daerah Pabean sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha
Kena Pajak. Ketentuan ini memberikan kepastian hukum bahwa Pajak Masukan
yang diperoleh sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak
tidak dapat dikreditkan. Contoh : Pengusaha A melaporkan usahanya untuk
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak pada tanggal 19 April 2010.
Pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak diberikan pada tanggal 20 April 2010
dan berlaku surut sejak tanggal 19 April 2010. Pajak Masukan atas pemanfaatan
Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean
yang diperoleh sebelum tanggal 19 April 2010 tidak dapat dikreditkan berdasarkan
ketentuan ini.
Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajaknya tidak
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) atau ayat (9)
atau tidak mencantumkan nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli
Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak.
pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena
Pajak dari luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6).
Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya
ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak. Dalam hal tertentu dapat terjadi
Pengusaha Kena Pajak baru membayar Pajak Pertambahan Nilai yang terutang atas
perolehan atau pemanfaatan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak setelah
diterbitkan ketetapan pajak. Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar atas ketetapan
pajak tersebut tidak merupakan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan.

D. Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Masukan Yang Tidak Bisa Di


Kreditkan
Dalam perhitungan PPN sangat penting bagi Pengusaha Kena Pajak untuk mengetahui
bahwa PPN atas barang kena pajak dan atau jasa kena pajak yang telah dibayarkan pada saat
perolehan barang kena pajak dan atau jasa kena pajak tidak semua dapat dikreditkan sebagai
Pajak Masukan.
Jenis Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Atas Pembelian / Perolehan Aktiva, Pembelian
Barang Kena Pajak (PKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP) dan Pengeluaran Untuk Biaya Bagi
Pengusaha Kena Pajak (PKP) Yang Tidak Dapat Dikreditkan Sebagai Pajak Masukan antara
lain:
2.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena
Pajak sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
3.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena
Pajak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha.
4.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas perolehan dan pemeliharaan kendaraan
bermotor berupa sedan danstation wagon, kecuali merupakan barang dagangan
atau disewakan.

5.

6.

7.

8.
9.

10.

11.

12.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak
Berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebelum
pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena
Pajak yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 13 ayat (5) atau ayat (9) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009
tentang PPN dan PPnBM atau tidak mencantumkan nama, alamat, dan Nomor
Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak
Berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean yang Faktur
Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat
(6) Undang-Undang nomor 42 Tahun 2009 tentang PPN dan PPnBM.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena
Pajak yang Pajak Masukannya ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena
Pajak yang Pajak Masukannya tidak dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa
Pajak Pertambahan Nilai, yang ditemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas perolehan Barang Kena Pajak selain barang
modal atau Jasa Kena Pajak sebelum Pengusaha Kena Pajak berproduksi
sebagaimana dimaksud pada ayat (2a) Undang-Undang nomor 42 Tahun 2009
tentang PPN dan PPnBM.
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan, tetapi belum dikreditkan dengan Pajak
Keluaran pada Masa Pajak yang sama, tidak dapat dikreditkan pada untuk Masa
Pajak lebih dari 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang bersangkutan.
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan tetapi telah dibebankan sebagai biaya atau
ditambahkan (dikapitalisasi) kepada harga perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa
Kena Pajak yang bersangkutan tidak boleh dikreditkan sebagai pajak masukan.

E. Contoh Perhitungan Pengkreditan PPN Masukan Dan Keluaran

Contoh 1
1) Pengusaha Kena Pajak B adalah perusahaan yang bergerak dibidang industri
pembuatan sepatu.
2) Pada bulan Januari 2014, Pengusaha Kena Pajak B tersebut membeli generator
listrik yang dimaksudkan untuk digunakan seluruhnya untuk kegiatan pabrik
dengan nilai perolehan sebesar Rp100.000.000,00 dengan Pajak Pertambahan Nilai
sebesar Rp10.000.000,00.
3) Pajak Masukan atas perolehan generator listrik sebesar Rp10.000.000,00 secara
keseluruhan dikreditkan pada Masa Pajak Januari 2014.
4) Masa manfaat generator listrik tersebut sebenarnya adalah 5(lima) tahun, tetapi
untuk penghitungan kembali Pajak Masukan ini, masa manfaat generator listrik
tersebut ditetapkan 4 (empat) tahun, sehingga alokasi pengkreditan Pajak Masukan
untuk setiap tahunnya adalah sebesar :
Rp 10.000 .000,00
=Rp 2.500 .000,00
4
5) Selama tahun 2014 ternyata generator listrik tersebut digunakan :
a. Untuk bulan Januari sampai dengan Juni 2014:

i.
ii.

10% untuk perumahan karyawan dan direksi;


90% untuk kegiatan pabrik, dan
b. Untuk bulan Juli sampai dengan Desember 2014:
i.
20% untuk perumahan karyawan dan direksi;
ii.
80% untuk kegiatan pabrik.
Berdasarkan data tersebut diatas, rata-rata penggunaan generator listrik untuk
kegiatan pabrik adalah :
90 +80
=85
2
6) Penghitungan kembali Pajak Masukan yang dapat dikreditkan untuk tahun buku
2014 dapat dilakukan paling lambat pada masa pajak Maret 2015. Pengusaha Kena
Pajak B melakukan penghitungan kembali Pajak Masukan pada Masa Pajak
Februari 2015. Pajak Masukan yang dapat dikreditkan untuk tahun buku 2014
seharusnya sebesar :
Rp 10.000.000,00
85
=Rp 2.125 .000,00
4
7) Pajak Masukan yang diperhitungkan kembali dengan mengurangi Pajak Masukan
untuk Masa Pajak Februari 2015 adalah sebesar:
Rp2.500.000,00 Rp2.125.000,00 = Rp375.000,00
8) Penghitungan kembali Pajak Masukan seperti penghitungan Pajak Masukan seperti
penghitungan diatas dilakukan sampai dengan masa manfaat generator listrik
berakhir.

Contoh 2
Selama bulan takwim terjadi kegiatan usaha sebagai berikut:
1.
Membeli bahan baku dan lain-lain dari pabrikan Rp. 100.000.000,2.
Menyerahkan hasil produksi dengan harga jual Rp. 60.000.000, Pajak Masukan yang dipungut oleh PKP lain adalah sebesar :
10 % x Rp. 100.000.000 = Rp. 10.000.000, Pajak Keluaran yang harus dipungut :
10 % x Rp. 60.000.000 = Rp. 6.000.000, PPN yang lebih dibayar dalam Masa Pajak yang bersangkutan :
Rp. 10.000.000 Rp. 6.000.000 = Rp. 4.000.000,Kelebihan tersebut dapat dikompensasi pada Masa Pajak berikutnya atau dapat diminta
kembali (restitusi). Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Keluaran lebih besar dari Pajak
Masukan, maka selisihnya merupakan pajak yang harus disetor ke kas negara oleh PKP.

Contoh 3
1) Pengusaha Kena Pajak N tersebut padaa contoh 3, pada bulan Mei 2014
membeli bahan bakar solar untuk truk yang digunakan baik untuk sektor
perkebunan dan distribusi jagung kepada pihak lain maupun untuk sektor

pabrikasi dan distribusi minyak jagung sebesar Rp50.000.000,00 dan Pajak


Pertambahan Nilai sebesar Rp5.000.000,00;
2) Pengusaha Kena Pajak dimaksud mengkreditkan Pajak Masukan tersebut
berdasarkan perkiraan persentase perbandingan jumlah penyerahan yang
terutang Pajak terhadap penyerahan seluruhnya sebesar 70%, sehingga Pajak
Masukan yang dikreditkan dalam SPT Masa PPN Masa Pajak Mei 2014 adalah
sebesar:
Rp5.000.000,00 x 70% = Rp3.500.000,00
3) Selanjutnya diketahui bahwa total peredaran usaha selama tahun buku 2014
adalah Rp100.000 .000.000,00, yang berasal dari penjualan jagung sebesar
Rp40.000.000.000,00
dan
penjualan
minyak
jagung
sebesar
Rp60.000.000.000,00.
4) Penghitungan kembali Pajak Masukan atas perolehan bahan bakar solar untuk
truk yang dapat dikreditkan selama tahun buku 2014 yang dilakukan pada
Masa Pajak Maret 2015 adalah:
Rp 60.000 .000.00,00
Rp5.000 .000,00=Rp 3.000 .000,00
Rp 100.000 .000.000,00
5) Pajak Masukan atas perolehan bahan bakar solar untuk truk yang telah
dikreditkan pada Masa Pajak Mei tahun 2014 adalah Rp3.500.000,00.
6) Pajak Masukan yang harus diperhitungkan kembali dengan mengurangi Pajak
Masukan untuk Masa Pajak Maret 2015 adalah sebesar:
Rp3.500.000,00 - Rp3.000.000,00 = Rp500.000,00

Contoh 4
1) Pengusaha Kena Pajak RSAP adalah perusahaan yang bergerak dibidang industri
tekstil.
2) Pada bulan Januari 2015, Pengusaha Kena Pajak RSAP tersebut membeli mobil
pick up yang dimaksudkan untuk digunakan seluruhnya untuk kegiatan pabrik
dengan nilai perolehan sebesar Rp300.000.000,00 dengan Pajak Pertambahan Nilai
sebesar Rp30.000.000,00.
3) Pajak Masukan atas perolehan mobil pick up sebesar Rp30.000.000,00 secara
keseluruhan dikreditkan pada Masa Pajak Januari 2015.
4) Masa manfaat mobil pick up tersebut sebenarnya adalah 6(enam) tahun, tetapi
untuk penghitungan kembali Pajak Masukan ini, masa manfaat mobil pick up
tersebut ditetapkan 4 (empat) tahun, sehingga alokasi pengkreditan Pajak Masukan
untuk setiap tahunnya adalah sebesar :
Rp 30.000 .000,00
=Rp7.500 .000,00
4
5) Selama tahun 2015 ternyata mobil pick up tersebut digunakan :
a) Untuk bulan Januari sampai dengan Juni 2015:
10% untuk keperluan pribadi;
90% untuk kegiatan pabrik, dan
b) Untuk bulan Juli sampai dengan Desember 2015:
20% untuk keperluan pribadi;
80% untuk kegiatan pabrik.

6) Berdasarkan data tersebut diatas, rata-rata penggunaan mobil pick up untuk


kegiatan pabrik adalah :
90 +80
=85
2
7) Penghitungan kembali Pajak Masukan yang dapat dikreditkan untuk tahun buku
2015 dapat dilakukan paling lambat pada masa pajak Maret 2016. Pengusaha Kena
Pajak RSAP melakukan penghitungan kembali Pajak Masukan pada Masa Pajak
Januari 2016. Pajak Masukan yang dapat dikreditkan untuk tahun buku 2015
seharusnya sebesar :
Rp 30.000.000,00
85
=Rp 6.375 .000,00
4
8) Pajak Masukan yang diperhitungkan kembali dengan mengurangi Pajak Masukan
untuk Masa Pajak Januari 2016 adalah sebesar:
Rp7.500.000,00 Rp6.375.000,00 = Rp1.125.000,00
9) Penghitungan kembali Pajak Masukan seperti penghitungan diatas dilakukan
sampai dengan masa manfaat mobil pick up berakhir.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh
Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak dan/atau penerimaan Jasa Kena
Pajak dan/atau pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean
dan/atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan atau impor Barang Kena
Pajak. Penghitungan Pajak Masukan harus sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang
berlaku agar tidak terjadi kesalahan dalam penghitungannya, peraturan serta undang-undang
tersebut harus dipahami betul apa makna dan isi yang terkandung didalamnya. Untuk
Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan Bagi Pengusaha Kena Pajak yang Melakukan
Penyerahan yang Terutang Pajak dan Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak, digunakan
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 78/PMK.03/2010, dan telah diubah
dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 21/PMK.011/2014 yang
telah diubah lagi dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
135/PMK.011/2014.

DAFTAR PUSTAKA
www.pajak.go.id/
www.google.co.id/

https://www.scribd.com/doc/52586095/BAB-VI-PENGKREDITAN-PAJAK-MASUKAN
http://www.slideshare.net/karomah95/6-ppn-pengkreditan-pajak-masukan
www.transformasi.net/articles/read/82/update-faktur-pajak-dan-peraturan-ppn-6.html
www.sjdih.depkeu.go.id/fulltext/2014/21~PMK.011~2014PerLamp.pdf
www.pajakita.net/2012/05/pedoman-penghitungan-pengkreditan-pajak.html