Anda di halaman 1dari 4

PENGANTAR

Setelah gencarnya aksi penolakan di Pulau Bali, reklamasi menjadi pusat perhatian
banyak orang. pro dan kontra muncul di berbagai opini, baik di media sosial maupun
di media cetak. Reklamasi dikatakan adalah sebuah jawaban atas kurangnya lahan
di daratan sedangkan penduduk semakin meningkat. Atas dalil itu, reklamasi halal
dilakukan.
Secara bahasa, reklamasi berasal dari Bahasa Inggris to reclaim yang berarti
memperbaiki sesuatu yang rusak. Terminologi dalam Bahasa Indonesia mengartikannya
sebagai menjadikan tanah (dari laut/pantai). Sedangkan dalam ilmu teknik, reklamasi
adalah upaya untuk memanfaatkan kawasan yang relatif tidak berguna atau masih
kosong dan berair menjadi lahan berguna dengan dikeringkan. Misal, di kawasan
pantai, rawa, laut, tengah sungai yang lebar, maupun danau.
Reklamasi semakin mencuat setelah publik tahu bahwa akan ada beberapa pantai
di Indonesia yang akan segera di reklamasi. Salah satunya, pantai utara ibukota.
Reklamasi yang ditandatangani sejak zaman Fauzi Bowo ini diteruskan kembali di
masa kepemimpinan Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok. Diberlanjutkannya kegiatan
reklamasi ini, dirasa tidak tepat karena lebih banyak mudharat daripada maslahat yang
didapat. Terutama bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan dirinya dari laut.
Reklamasi pantai utara Jakarta memperparah kehidupan nelayan karena mereka harus
memutar rute lebih jauh ke daerah penangkapan ikan. Salah satu anggota serikat
nelayan mengatakan, jarak yang harus diputar sama dengan jarak antara Tangerang
Karawang. Jarak yang amat jauh itu membebani nelayan karena bahan bakar jelas
terkuras lebih banyak, daerah tangkapan ikan menjadi tidak jelas karena berdirinya
pulau, dan dampak jangka panjangnya pekerjaan mereka akan hilang.
Menurut beberapa sumber, reklamasi akan dilakukan di beberapa derah di Indonesia,
di antaranya Teluk Jakarta, Teluk Benoa, Mamuju, Manado, Semarang, Tangerang
dan Makasar. Isu yang dipakai kurang lebih sama. Kurangnya lahan untuk penduduk
membuat pemerintah harus menimbun tanah di pantai dan menjadikannya pulau. Isu
inilah yang menjadi dasar reklamasi dilakukan di beberapa daerah.
Dalil itu tentu tak bisa dibenarkan 100% sebab ada aspek lain yang mesti diperhatikan
dari diadakannya reklamasi.

TUJUAN REKLAMASI
Reklamasi sejatinya adalah upaya pemanfaatan suatu kawasan atau lahan yang tidak
berguna dan berair untuk dijadikan lahan yang berguna dengan cara dikeringkan.
Tempat-tempat yang biasa dijadikan sebagai tempat untuk melakukan reklamasi
seperti kawasan pantai, lepas pantai atau offshore, danau, rawa-rawa ataupun sungai
yang begitu lebar.
Oleh karena itu, tujuan reklamasi yaitu menjadikan kawasan yang tidak berguna atau
tidak bermanfaat menjadi kawasan yang mempunyai manfaat. Kawasan yang sudah
direklamasi tersebut biasanya dimanfaatkan untuk kawasan pertanian, pemukiman,
perindustrian, pertokoan/bisnis dan objek wisata. Pekerjaan reklamasi juga bertujuan
untuk memacu pembangunan sarana dan prasarana pedukung lainnya. Dalam
membangun suatu pelabuhan ataupun terminal pelabuhan yang berada pada perairan
maka dapat dilakukan pekerjaan reklamasi.
Tapi, alasan reklamasi tidak bisa dibenarkan 100% sekalipun niat itu berasal dari
pemerintah. Koordinasi harus dilakukan oleh masyarakat yang tinggal dekat dengan
proyek reklamasi, dalam hal ini masyarakat pesisir. Jika tidak, pelaksanaan reklamasi ini
akan sarat dengan pelanggaran hak asasi manusia. Di antaranya, hak atas pekerjaan,
hak atas lingkungan yang bersih, hak atas kondisi kerja yang adil dan menguntungkan.

MOTIF REKLAMASI
Reklamasi semestinya tidak dilakukan hanya dengan dalil kurangnya lahan, tetapi
harus memerhatikan betul dampak dan kondisi masyarakat di sekitar proyek reklamasi.
Namun masih saja pemimpin tetap menggunakan berbagai alasan untuk melakukan
reklamasi yang mana reklamasi itu harus mengorbankan hak-hak dari orang yang
terkena dampak reklamasi. Motif-motif itu di antaranya:
1. Kondisi pantai yang kotor
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, mengatakan bahwa pantai Jawa
sudah kotor 1. Menurut Ahok, sudah sejak lama ekosistem di laut Jawa tercemar. Hal
itu lantaran banyaknya pembuangan limbah dan kotoran sampah dari daratan Pulau
Jawa yang dibiarkan dibuang ke sana.
2. Dapat menanggulangi banjir
Ahok berkeyakinan reklamasi 17 pulau buatan di Pantai Utara Jakarta tidak akan
menyebabkan banjir. Sebab, jarak antara pulau buatan dan daratan Jakarta Utara
mencapai 200-300 meter. Dengan jarak itu, ia yakin aliran air dari daratan akan tetap
dapat terbuang ke Teluk Jakarta 2.Ia menyebut jarak tersebut sudah diatur dalam
Keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 1995 tentang Reklamasi Pantai Utara Jakarta.
Padahal, dengan adanya reklamasi tentu akan mengubah lanskap atau bentang
lahan yang ada, tentu juga akan berpengaruh pada kondisi alam yang ada, termasuk
masyarakat dan lainnya. Berubahnya pola arus air laut. Jadi air sungai yang menuju
ke laut harus menempuh jalur yang panjang untuk sampai ke laut. Jadi banjir itu makin
tinggi di Jakarta.
1
http://kriminalitas.com/ngotot-lakukan-reklamasi-ahok-laut-jawa-sudah-sangat-kotor/diakses
pada tanggal 20 April 2016 pukul 15.15
2
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/04/02/12024581/Ahok.Yakin.Reklamasi.Tak.
Sebabkan.Banjir diakses pada tanggal 20 April 2016 pukul 15.27

3. Kemajuan sebuah kota


Reklamasi dilakukan Belanda sejak beberapa tahun silam. Sistem reklamasi itu lantas
menjadi terkenal karena Belanda berhasil mengakali permukaan air laut yang lebih
tinggi dari permukaan tanah agar tidak menyebabkan banjir. Sistem reklamasi itu
dibantu dengan kincir angin yang menjadi simbol kota tersebut. Di sisi lain, keberhasilan
Belanda ingin ditiru pula di Indonesia. dengan kondisi masyarakat yang berbeda
dengan Belanda lantas tak serta merta itu bisa dilaksanakan sebagaimana Belanda
melakukan reklamasi. Kemajuan sebuah kota semestinya tidak boleh mengorbankan
hak-hak natural yang dimiliki oleh masyarakatnya. Kemajuan sebuah kota harus
melibatkan warga-warganya.
4. Tata ruang kota yang buruk
Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa reklamasi diberlakukan. Terutama
mereka yang tinggal di daerah pesisir. Perkampungan nelayan dianggap kumuh dan tak
layak huni. Padahal, belum tentu mereka yang tinggal di daerah tersebut menganggap
rumuh. Persepsi ini tentu salah. Sebab hanya dari satu pihak. Baiknya, tata ruang ini
juga melibatkan orang yang ditargetkan. Membiarkan mereka memutuskan apa yang
mereka inginkan.

5. Dorongan investor yang besar


Beberapa proyek reklamasi didukung oleh investor-investor. Baik dalam negeri,
maupun luar negeri. Investor dengan segala iming-iming keuntungan yang akan
didapat di daerah proyek reklamasi lebih kurang berhasil membujuk Pemprov untuk
mengamini proyek tersebut. Terlebih lagi, proyek reklamasi ini semata-semata hanya
menguntungkan pihak investor saja.
6. Lahan untuk Tempat Tinggal Menipis
Isu ini yang paling menjadi alasan diberlakukannya reklamasi. Beberapa pejabat
menyebut bahwa Jakarta membuat pulau-pulau di laut untuk menampung orangorang karena kekurangan lahan di daratan. Ini menjadi bukti bahwa tidak berjalannnya
otonomi daerah. Alasan untuk menampung warga sama saja membuktikan Indonesia
hanya bergaya sentralistik. Semestinya, dilakukan penguatan kota-kota di daerah agar
orang-orang tidak terpatok pada satu daerah saja, dalam hal ini, kota-kota besar.

KENYATAAN REKLAMASI
Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh Orang dalam rangkameningkatkan
manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan
cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase 3. Reklamasi yang dilakukan di
pesisir pantai, hal tersebut berdampak negative pada lingkungan hidup yang sudah
jelas nampak di depan mata.
Dampak Kerusakan Lingkungan
Dampak kerusakan lingkungan dari proyek reklamasi pantai adalah meningkatkan
potensi banjir. Hal itu dikarenakan proyek tersebut dapat mengubah bentang alam
(geomorfologi) dan aliran air (hidrologi) di kawasan reklamasi tersebut. Perubahan itu
antara lain berupa tingkat kelandaian, komposisi sedimen sungai, pola pasang surut,
pola arus laut sepanjang pantai dan merusak kawasan tata air. Potensi banjir akibat
proyek reklamasi itu akan semakin meningkat bila dikaitkan dengan adanya kenaikan
muka air laut yang disebabkan oleh pemanasan global. Dampak kerusakan lain yang
disebabkan oleh adanya reklamasi adalah kehancuran ekosistem berupa hilangnya
keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati yang diperkirakan akan punah
akibat proyek reklamasi itu antara lain berupa hilangnya berbagai spesies mangrove,
punahnya spesies burung, kerang, kepiting, ikan dan berbagai keanekaragaman
hayati lainnya.
Dampak Terhadap Masyarakat
Sementara itu, dengan hilangnya/punahnya keanekaragaman hayati yang terdapat
di dalam laut tersebut secara sosial dipastikan juga dapat menyebabkan nelayan
tradisional tergusur dari sumber-sumber kehidupannya. Penggusuran itu dilakukan
karena kawasan komersial yang akan dibangun mensyaratkan pantai sekitarnya bersih
dari berbagai fasilitas penangkapan ikan milik nelayan. Dan hasil tangkapan ikan
nelayan pun berkurang dikarenakan sudah punahnya keanekaragaman hayati yang
berada di laut biasanya para nelayan menangkap ikan dan hal tersebut pula berakibat
bahwa nelayan diharuskan berlayar lebih jauh daripada biasanya agar mendapatkan
hasil tangkapan yang maksimal dan hal tersebut berdampak pula pada pengeluaran
nelayan, karena harus menghabiskan bahan bakar lebih banyak daripada biasanya.
Dan hal tersebut berdampak pula pada kesejahteraan para nelayan.
Di satu sisi reklamasi menguntungkan para pengembang dan investor, namun di
sisi lainnya reklamasi berdampak sangat merugikan terhadap para nelayan serta
lingkungan hidup. Apakah hal ini dapat dikatakan adil untuk masyarakat kecil yang
mengandalkan hidupnya pada laut. Dan apabila para nelayan sulit untuk mendapatkan
ikan, maka ketersediaan ikan pada masyarakat akan sangat terbatas dan juga dengan
bertambahnya pengeluaran yang dikeluarkan oleh nelayan untuk menangkap ikan,
maka hal tersebut akan berpengaruh pula dengan harga ikan yang akan dijualnya
nanti. Dan dampaknya itu sebenarnya tidak hanya berdampak pada nelayan daerah
itu sendiri, namun lebih luas lagi.

3
Indonesia, Undang-undang Republik Indonesia No 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

DAERAH YANG DIRENCANAKAN REKLAMASI

Pantai Boulevard, Manado

Pantai Mamuju, Sulawesi Barat

Pantai Boulevard, Manado (medanbisnisdaily.com)


Pantai Mamuju (harnas.com)

Proyek reklamasi pantai Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat yang


direncanakan akan dilaksanakan oleh PT Egy Resourch. PT Egy Resourch berencana
akan melakukan reklamasi pantai Mamuju seluas 25 hektar mulai dari pesisir pantai
Kelurahan Karema dan Kelurahan Rimuku Kabupaten Mamuju yang akan menelan
dana mencapai Rp81 Milyar.
Sebelumnya sudah dilakukan Reklamasi pantai Manakarra, di lihat dari kondisinya saat
ini, gelombang air laut sangat tinggi di mamuju bahkan meluluh lantah rumah warga,
ini di akibatkan reklamasi pantai tersebut. Dan hal tersebut dapat diperparah kembali
apabila sudah di lakukan kembali reklamasi di pantai mamuju. Dan hal tersebut sangat
merugikan masyarakat setempat yang tinggal di daerah pinggiran pantai tersebut.
Teluk Jakarta, Jakarta

Teluk Jakarta, Jakarta (merdeka.com)

Pihak yang menentang akan mengaitkan reklamasi berdampak negatif pada lingkungan.
Sebut saja akan mengakibatkan ekosistem pesisir terancam punah. Kehancuran itu
antara lain berupa hilangnya berbagai jenis pohon bakau di Muara Angke, punahnya
ribuan jenis ikan, kerang, kepiting, dan berbagai keanekaragaman hayati lain. Selain
itu, reklamasi juga akan memperparah potensi banjir di Jakarta karena mengubah
bentang alam (geomorfologi) dan aliran air (hidrologi) di kawasan Jakarta Utara.
Perubahan itu antara lain berupa tingkat kelandaian, komposisi sedimen sungai, pola
pasang surut, pola arus laut sepanjang pantai, dan merusak kawasan tata air.
Tak hanya persoalan lingkungan, reklamasi berdampak juga pada masalah sosial,
seperti pada kehidupan nelayan Jakarta Utara. Reklamasi pantura Jakarta diyakini
menyebabkan 125.000 nelayan tergusur dari sumber kehidupannya dan menyebabkan
nelayan yang sudah miskin menjadi semakin miskin.4

Teluk Benoa, Bali

Teluk Benoa, Bali (mongabay.co.id)

Teluk benoa merupakan penampung beberapa aliran sungai dari daratan di Bali.
Ketika diubah dengan reklamasi sebesar 838 hektar, jika hujan minimal selama 4 jam,
maka debit air yg mengalir ke lautan akan lebih besar, (tidak tertampung lagi, karena
sudah terhalang oleh pulau reklamasi) dan permukaan air akan naik kurang lebih 4
meter dan menenggelamkan daerah pesisir bali. Dan bali memiliki siklus hujan yg
terjadi lebih dari 10 jam dalam sehari. Jika hujan selama 4 jam saja sudah naik sebesar
4 meter. Bagaimana jika hujan 10 jam? Bukan hanya pesisir yg akan tenggelam. Air
itu akan tumpah dan menyasar daerah yang lebih rendah. Air akan mengalir ke tempat
lebih rendah itu sudah pasti dan yang akan menjadi korban atau berpotensi banjir
adalah daerah sekitar teluk dengan ketinggian 0-2 meter seperti Sidakarya, Suwung,
Tanjung Benoa dan yang lainnya. Bila sudah banjir tiap tahun, apakah turis masih mau
datang ke Bali?
4
http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/04/jalan-panjang-reklamasi-di-teluk-jakarta/3 diakses
pada tanggal 21 April 2016 11:12 WIB

Reklamasi pantai boulevard sepanjang 76 hektar menyebabkan perubahan demi


perubahan terjadi di kawasan reklamasi teluk Manado yang dulunya dikenal dengan
kawasan pantai boulevard dimana masyarakat masih bisa menikmati pantai dan laut
secara alami,sekarang menjadi kawasan boulevard on Bisnis dimana akses public
perlahan tapi pasti mulai dihilangkan sejalan dengan pengembangan wilayah reklamasi
di sekitar kawasan tersebut yang ditandai dengan hilangnya ruang publik yang ada
berubah menjadi bangunan mall. Dampak negatif dari reklamasi pada lingkungan
meliputi dampak fisik seperti perubahan hidro-oseanografi, erosi pantai, sedimentasi,
peningkatan kekeruhan, pencemaran laut, perubahan rejin air tanah, peningkatan
potensi banjir dan penggenangan di wilayah pesisir. Sedangkan, dampak biologis
berupa terganggunya ekosistem mangrove, terumbu karang, padang lamun, estuaria
dan penurunan keaneka ragaman hayati.
Dampak utama dirasakan oleh masyarakat yang biasanya hidup dari hasil laut. Hal
tersebut dapat dilihat dari hasil penangkapan nelayan yang mulai berkurang dari
biasanya. Sebelum reklamasi, hasil tangkapan melaut bisa sampai 20 kg. setelah
reklamasi, hanya bisa dapat 3-4 kg. selain itu, reklamasi pantai lebih banyak
membawa dampak negatif, tanaman bakau dipesisir pantai boulevard sudah tidak
lagi ditemukan, padahal tanaman bakau adalah sumber bahan makanan dan sebagai
tempat berlindung bagi ikan-ikan yang ada. Suhu pun meningkat karena tanaman
bakau dihilangkan akibat reklamasi.

Pantai Marina, Semarang

yang mempertanyakan legalitas reklamasi Talise. Dalam suratnya, KKP menegaskan


belum pernah menerima dokumen-dokumen yang merupakan persyaratan pengajuan
rekomendasi Menteri Kelautan dan Perikanan terhadap reklamasi Pantai Teluk Palu
sehingga rekomendasi terhadap reklamasi tersebut belum pernah diterbitkan.
Pantai Ternate, Maluku

Pantai Marina, Semarang (via google earth)

Reklamasi di kota Semarang sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Pada saat
pemerintahan kolonial Belanda, reklamasi dilakukan tahun 1875 untuk pembangunan
Pelabuhan Semarang. Untuk Reklamasi pantai Marina, Pemerintah Kota Semarang
sebagai pemilik lahan telah mengeluarkan ijin prinsip melalui Surat Walikota Semarang
Nomor 590/04310 tanggal 31 Agustus 2004 tentang Persetujuan Pemanfaatan Lahan
Perairan dan Pelaksanaan reklamasi di kawasan Perairan pantai Marina. Kemudian
ditindaklanjuti dengan penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Pelaksanaan
Kegiatan reklamasi di Kawasan pantai Marina Kota Semarang tanggal 3 Desember
2004. Reklamasi ini diperkirakan membutuhkan tanah urugan paling sedikit 15 juta
m3. Hal tersebut tentunya akan menimbulkan berbagai dampak di antaranya aspek
sosial, budaya, dan ekonomi.
Pantai Dadap, Tangerang

Pantai Ternate, Maluku (lingkunganglobal.com)

Reklamasi Pantai Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Ternate di kawasan


Kelurahan Mangga Dua, Ternate Selatan, Malut, bermasalah lantaran belum
mengantongi surat ijin dari Dirjen Perhubungan laut, Kementerian Perhubungan6 Total
lahan yang telah direklamasi yaitu seluas 529.840 m2. Pelaku reklamasi pantai di
Kelurahan Gamalama terdiri atas badan usaha swasta (kontraktor/pengembang) dan
masyarakat secara perseorangan.Pelaku reklamasi pantai di Kelurahan Gamalama
terdiri atas badan usaha swasta (kontraktor/pengembang) dan masyarakat secara
perseorangan dari hasil analisis terhadap data tersebut diperoleh badan usaha yang
melakukan reklamasi 97,6%, sedangkan anggota masyarakat 2,4% dari total luas
lahan reklamasi. Proses reklamasi pantai di Kelurahan Gamalama telah berlangsung
sebelum dikeluarkan kebijakan pemerintah Kota Ternate untuk melakukan penataan
kawasan pantai kota Ternate pada tahun 2001.

PELANGGARAN HAM DAN REKLAMASI


Proyek reklamasi sarat dengan korupsi dan pelanggaran HAM. Nominal-nominal di
atas miliaran rupiah berputar di atas proyek reklamasi. Lebih dari satu perusahaan
terlibat dalam tiap proyek ini. semua berebut investasi demi keuntungan perusahaan di
masa depan. tidak hanya itu, masyarakat pesisi terkena imbas dari proyek reklamasi.
Pada kondisi tersebut, pelanggaran HAM terjadi pada masyarakat pesisir.

Pantai Dadap, Tangerang (merdeka.com)

Dari 9.000 hektare luas pesisir pantai utara Kabupaten Tangerang, 7.500 hektare
bakal di reklamasi oleh pihak Tangerang International City (TIC). Hal itu terungkap
saat sidang komisi analisa dampak lingkungan hidup (Amdal) pembangunan pulau
reklamasi kawasan kota baru Tangerang.
Ditempat yang sama, Miti Suhadi dari pihak TIC menambahkan, reklamasi akan
dilakukan minimal 200 meter dari bibir pantai dan seluas 7.500 hektare pesisir pantai
akan direklamasi5. Fungsi pulau-pulau buatan ini kelak. Melalui peta Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Tangerang Tahun 2011-2031, tampak kalau 5 dari 7 pulau
akan menjadi kawasan tinggal penduduk. Sementara sisanya menjadi kawasan
industri dan pelabuhan terpadu.
Pantai Losari, Makassar

Hak atas hidup


Jika proyek reklamasi terbukti menyulitkan nelayan mencari nafkah maka proyek
tersebut nyata melanggar HAM. Dalam hak atas hidup itu sendiri, ada hak untuk
meningkatkan taraf hidup dan hidup aman, tenteram, dan damai. Ini menjadi catatan
penting semestinya dalam mengadakan proyek reklamasi.
Hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat
Dilakukannya reklamasi di Teluk Jakarta, menurut Menteri Lingkungan Hidup, Siti
Nurbaya mengatakan setelah pertemuannya dengan nelayan bahwa telah terjadi
sedimentasi di areal pantai utara, mulai hilangnya air bersih, dan obyek vital di sana
terganggu. Tak hanya itu, Dampak negatif dari reklamasi pada lingkungan meliputi
dampak fisik seperti perubahan hidro-oseanografi, erosi pantai, sedimentasi,
peningkatan kekeruhan, pencemaran laut, perubahan rejin air tanah, peningkatan
potensi banjir dan penggenangan di wilayah pesisir. Sedangkan, dampak biologis
berupa terganggunya ekosistem mangrove, terumbu karang, padang lamun, estuaria
dan penurunan keaneka ragaman hayati. Seperti yang terjadi di Pantai Boulevard,
Manado.
Hak atas pekerjaan yang layak
Dengan dibuatnya pulau-pulau buatan, secara tidak langsung akan menyulitkan
nelayan mencari daerah tangkapan ikan. Lebih jauh lagi, profesi mereka akan
terancam. Dengan adanya proyek reklamasi teluk jakarta menjadikan mereka sangat
sulit untuk mendapatkan ikan. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka
sehari-hari berbagai cara harus dilakukan, salah satunya dengan beralih ke profesi
yang lain. Banyak dari para nelayan yang mulai tidak lagi melaut dan beralih profesi
menjadi buruh.

Pantai Losari, Makassar

Mengenai lokasi reklamasi, Pemerintah Kota Makassar telah menetapkan pembagian


kawasan dalam RTRW dan menetapkan satu kawasan untuk pelaksanaan kegiatan
reklamasi. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2006 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Kota Makassar 2005-2015 Pasal 9 juncto Raperda RTRW Kota
Makassar. Keberadaan reklamasi ini juga menghilangkan kawasan serapan air karena
menjadi jalan utama lintas Metro Tanjung Bunga, juga terjadinya sedimentasi di
kawasan pelalangan ikan. Atas pembuatan reklamasi ini, pada 10 Maret 2014, terjadi
pengusiran nelayan secara paksa tanpa kompensasi dan melanggar perundangundangan demi pemaksaaan pembangunan kawasan industri.

Teluk Palu, Sulawesi Tengah

Hak atas informasi


Dalam pembuatan AMDAL untuk reklamasi, tidak pernah dipublikasikan 7. Menurut
Bambang Pradowo, Mantan anggota Bapedal, AMDAL terkait reklamasi tidak pernah ia
terima. Ia mengakui baru mengetahui ketika ada permintaan AMDAL untuk diperbaiki.
Seharusnya, untuk proyek sebesar reklamasi ini AMDAL haruslah diperlihatkan
ke khalayak umum untuk uji publik. Semua orang bisa menilai tentang keberadaan
proyek reklamasi ini, baik dari nelayan hingga ahli lingkungan yang tidak terkait di luar
reklamasi.
Hak atas kebebasan bergerak
Pada saat aksi menyegel pulau G, dalam orasinya, salah seorang nelayan
menyebutkan bahwa dengan dibangunnya Giant Sea Wall, nelayan Muara Angke
harus memutar jauh yang jaraknya sama dengan Tangerang Karawang. Hal itu
jelas tidak membebaskan nelayan untuk mencari ikan karena dibangunnya 17 pulau.
Lebih dari itu, jarak tersebut akan membuat pengeluaran bahan bakar kapal menjadi
meningkat yang akan berpengaruh juga pada harga penjualan ikan.
Hak atas kesehatan
Terjadinya sedimen dan kotornya air membuat pantai di lokasi reklamasi menjadi
keruh. Hak atas dasar-dasar kesehatan masyarakat pesisir menjadi terlanggar. Tanah
dan air yang ada di pantai terkontaminasi oleh pembuatan pulau-pulau reklamasi yang
mempengaruhi kebutuhan hidup di lingkungan tersebut.

Teluk Palu (metrosulawesi.com)

Reklamasi pantai di pesisir Teluk Palu yang diselenggarakan oleh Pemkot Palu bukan
hanya di Pantai Talise oleh PT Yauri Properti Investama. beberapa izin reklamasi pantai
diterbitkan oleh pemerintah. Sebut saja, reklamasi milik PT Yauri Properti Investama, PT
Mujur Gemilang Abadi, pemilik Rizal Tjahyadi. Selain itu, reklamasi pantai milik Teddy
Halim, reklamasi milik I Made Sudarsana atau Made Toko di Kelurahan Buluri, reklamasi
milik PT Toloan di Pantoloan. Terungkap bahwa reklamasi Talise belum mendapat
rekomendasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Hal itu berdasarkan
surat KKP Nomor B.821/KP3K.3/IV/2014 tertanggal 16 April 2014. Surat ini adalah
jawaban atas usaha aktivis dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan dan Perikanan (KIARA)
5
http://tangerangnews.com/kabupaten-tangerang/read/8444/7500-Hektare-Pesisir-PanturaDireklamasi diakses pada tanggal 25 2016 14:02 WIB

Pengelolaan wilayah pesisir harus berpedoman pada prinsip open acces yaitu
masyarakat berhak untuk mengakses secara terbuka wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil. Kemudian prinsip common property, yakni nelayan memiliki hak hukum untuk
memanfaatkan, melindungi, mengelola dan melarang orang luar memanfaatkannya.
Ini yang mesti menjadi pegangan bagi pemerintah dalam membangun wilayah pesisir.
Pembangunan yang tidak melanggar hak-hak natural yang telah dimiliki warganya.
Pembangunan yang turut membangun warganya sesuai dengan potensinya.
6
http://www.deliknews.com/2015/10/16/reklamasi-pantai-pelabuhan-perikanan-nusantaraternate-bermasalah diakses pada tanggal 25 April 2016 15:31 WIB
7
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/16/04/16/o5q1tx354-amdalreklamasi-teluk-jakarta-tak-pernah-dipublikasi diakses pada tanggal 25 April 2016, pukul 11.51