Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 merupakan hal yang tidak
terpisahkan dalam sistem ketenagakerjaan dan sumber daya manusia.
Kesehatan dan keselamatan kerja tidak saja sangat penting dalam
meningkatkan jaminan sosial dan kesejahteraan para pekerjanya akan tetapi
akan jauh dari itu keselamatan dan kesehatan kerja berdampak positif atas
berkelanjutan produktivitas kerjanya. Oleh karena itu kesehatan dan
keselamatan kerja pada saat ini bukan sekedar kewajiban yang harus dipenuhi
oleh para pekerja, akan tetapi juga harus dipenuhi oleh sebuah sistem
pekerjaan. Dengan kata lain pada saat ini kesehatan dan keselamatan kerja
bukan semata sebagai kewajiban, akan tetapi sudah menjadi kebutuhan bagi
setiap para pekerja dan setiap bentuk pekerjaan.
Pencapaian kesehatan dan keselamatan kerja tidak lepas dari
ergonomi, karena telah menjadi tujuan penerapan dari ergonomi yaitu
meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera
dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban fisik dan mental, mengupayakan
promosi dan kepuasan kerja (Tarwaka, 2004:7).

Salah satu yang perlu diperhatikan dari ilmu ergonomi adalah manual
material handling atau penanganan beban secara manual. Meskipun proses
industri telah maju pada saat ini namun, kebutuhan untuk menggunakan tenaga
manusia masih dibutuhkan. Salah satunya yaitu pekerjaan mengangkat dan
membawa beban secara manual. Aktivitas tersebut masuk kedalam aktivitas
matterial manual handling (MMH) atau manual handling yang sering
dilakukan. Apabila aktivitas tersebut dilakukan dengan cara yang salah atau
melebihi kapasitas pengangkatnya akan menimbulkan ketidaknyamanan dan
cedera mulai yang ringan hingga yang cukup parah seperti cacat permanen.
Salah satu akibat yang ditimbulkan dari manual handling adalah
MSDs yang diantaranya menyebabkan kerusakan otot, tendon, ligamen, saraf,
dan pembuluh darah. Efek jangka panjang MSDs dapat menyebabkan sakit
menahun, cacat, perawatan medis, dan kerugian keuangan bagi mereka yang
menderita stres karena mengalami MSDs, perusahaan merugi baik secara
langsung maupun tidak langsung melalui kompensasi asuransi dan pada saat
yang sama perusahaan harus berupaya mengganti hilangnya produktifitas
pekerja mereka (NIOSH, 2007).
Dari penelitian yang dilakukan oleh Juntura, dkk (1996) di
Scandinavia dengan menggunakan kuesioner yang dibagiakan pada 2756
pekerja di departemen kehutanan setempat menunjukan persepsi nyeri pada
otot skeletal akibat pekerjaan yang bersifat heterogen bias terhadap beban
kerja. Postur tubuh yang baik saat bekerja dan teknik mengangkat yang benar
dapat mengurangi risiko MSDs. Berat beban yang diangkat harus sesuai
2

dengan umur dan kapasitas pekerja. Lamanya aktivitas (durasi) dan seberapa
sering (frekuensi) aktivitas manual handling turut berkonstribusi pada tingkat
risiko MSDs (Cohen, dkk. , 1997). Selain itu faktor pengalaman atau masa
kerja juga turut berhubungan dengan risiko MSDs (Tim Ergoinstitute).
Istilah Musculuskeletal Disorders atau MSDs digunakan pakar
ergonomi untuk menggambarkan berbagai bentuk cidera, nyeri atau kelainan
pada sistem otot rangka yang terdiri dari jaringan syaraf, otot, tulang, ligamen,
tendon dan sendi. MSDs merupakan masalah yang signifikan pada pekerja.
Data dari berbagai studi menunjukan bahwa kecelakaan kerja paling besar
adalah MSDs. Di Amerika Serikat, terjadi sekitar 6 juta kasus pertahun atau
rata-rata 300-400 kasus per 100 ribu pekerja. MSDs ini juga menimpa 22%
pekerja pemakai komputer. Masalah ini mengakiatkan pekerja harus istirahat
dirumah (lost day) selama rata-rata 20 hari, dengan variasi mulai dari cacat
ringan hingga cacat permanen. (Tim Ergoinstitute, 2008).
Menurut laporan dari International Labour Office (ILO), 2009 kasus
kejadian MSDs merupakan salah satu kegagalan dari penerapan ergonomi di
tempat kerja. MSDs menjadi penyebab utama jutaan pekerja absen dari
pekerjaannya (ketidakhadiran pekerja) hampir di semua anggota Uni Eropa. Di
beberapa negara, 40 persen dari biaya kompensasi pekerja dan 1,6 persen dari
National Gross Domestic Product (GDP) merupakan kompensasi biaya yang
berkaitan dengan MSDs. Seperti yang dijelaskan oleh badan-badan
internasional seperti, International Organization for Standardization (ISO) dan
International ergonomi Association (IEA) mengembangkan standar teknis pada
3

banyak aspek ergonomis yang berhubungan dengan unsur-unsur material kerja.


Ini merupakan cakupan variasi dari negara maju yang mana biasanya di ikuti
oleh negara maju lainnya.
Data statistik tentang ganti rugi pekerja menunjukan bahwa sepertiga
dari semua kecelakaan akibat kerja di Australia disebabkan oleh manual
handling. Ini tingkat kerugian yang belum dapat dikurangi oleh pendekatan
tradisional yang memusatkan pada cara mengangkat yang benar dan beban dari
objek sebagai satu-satunya sumber bahaya (Occupational Health and Safety
Act, 1985).
Penelitian yang dilakukan oleh Octarisya tahun 2009 pada pekerja jasa
pengiriman barang terdapat enam jenis aktivitas manual handling yang
berisiko tinggi pada tangan dan pergelangan tangan, bahu kiri dan kanan, leher
serta punggung. Keluhan MSDs terbanyak yang dirasakan oleh 27 pekerja
adalah leher, punggung dan kaki yang dirasakan lebih dari 60% pekerja.
Pekerja yang lebih dari 15 tahun mempunyai keluhan pada tangan dan
pergelangan tangan baik kiri maupun kanan sebesar 33,3%, pada siku kiri dan
kanan sebesar 33,3%, pada bahu baik kiri dan kanan sebesar 66,7%.
Hasil penelitian pada pekerja panen kelapa sawit oleh Raharja tahun
2009 menunjukan bahwa pekerjaan pemanenan kelapa sawit dan pemuatannya
ke atas truk memiliki risiko yang tinggi dan memerlukan tindakan perbaikan
segera. Keluhan MSDs dialami pada bagian leher dan punggung bawah dengan
responden berjumlah 98. Keluhan paling sedikit dialami pada bagian

pantat/bokong. Jenis pekerjaan, umur dan lama kerja merupan variabel yang
signifikan berhubungan dengan keluhan MSDs.
Hasil penelitian lain menunjukan bahwa kekuatan otot maksimal
terjadi pada saat umur antara 20-29 tahun, selanjutnya terus terjadi penurunan
sejalan dengan bertambahnya umur. Pada saat umur mencapai 60 tahun, rerata
kekuatan otot menurun sampai 20%. Pada saat kekuatan otot mulai menurun
maka risiko terjadinya keluhan otot akan meningkat. Riihimaki et a.l (1989)
dalam Tarwaka 2004 bahwa umur mempunyai hubungan yang sangat kuat
dengan keluhan otot, terutama untuk otot leher dan bahu, bahkan ada beberapa
ahli lainnya menyebutkan bahwa umur merupakan penyebab utama terjadinya
keluhan otot.
Penelitian yang dilakukan oleh Octarisya, 2009 mengenai keluhan
MSDs pada pekerja pengiriman barang. Menunjukan hasil yang signifikan
antara postur tubuh saat bekerja yang janggal dengan keluhan musculoskletal
disorders. Mayoritas keluhan terdapat pada leher dengan presentase 81%,
kemudian pada punggung sebesar 78%, pada kaki 63% dan pada bahu kanan
41%. Keluhan yang paling kecil presentasenya dengan nilai 7% terdapat pada
siku kiri dan kanan.
Penelitian yang dilakukan Iriani, 2009 pada pekerja porter
menunjukan bahwa dari 100% respondennya 91% memiliki kebiasaan
merokok. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kebiasaan berolahraga, yang
mana kebiasaan merokok ini dapat meningkatkan keluhan musculoskeletal

disorders. Sedanglan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tana pada


tenaga paramedis diperoleh hasil keluhan otot sebesar 48,3% pada pekerja
yang merokok.
Distribusi keluhan MSDs berdasarkan masa kerja didapatkan hasil
bahwa pekerja yang bekerja lebih dari 15 tahun 33,3% merasakan keluhan pada
tangan dan pergelangan tangan baik kiri maupun kanan, siku kiri dan kanan,
66,7% merasakan keluhan pada bahu, dan 100% merasakan keluhan pada
bagian kaki. Keluhan pada bagian leher, mayoritas dirasakan oleh responden
yang bekerja antara 0 sampai 5 tahun yaitu sebesar 84,6%. Keluhan pada
bagian punggung, mayoritas dirasakan oleh pekerja yang telah bekerja selama
6-10 tahun yaitu sebesar 85,7% (Octarisya, 2010).
Mail Processing Center merupakan salah satu anak dari PT. Pos
Indonesia yang bergerak dalam bidang pelayanan jasa pengangkutan barang
dan persuratan baik domestik maupun internasional yang mempunyai banyak
aktivitas manual handling seperti mengangkat, mendorong, menarik,
membawa box-box maupun paket barang dengan posisi janggal, frekuensi yang
sering dan durasi kerja yang lama.
Menurut data dan laporan penelitian diatas maka peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian untuk mengetahui tingkat risiko musculoskeletal
disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling oleh karyawan Mail
Processing Center Makassar tahun 2012.

B. Rumusan Masalah.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka peneliti merumuskan
masalah sebagai berikut :
1. Apakah ada hubungan antara umur dengan kejadian musculoskeletal
disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling oleh karyawan Mail
Processing Center Makassar tahun 2012?
2. Apakah ada hubungan antara posisi tubuh saat bekerja dengan kejadian
musculoskeletal disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling oleh
karyawan Mail Processing Center Makassar tahun 2012?
3. Apakah ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian
musculoskeletal disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling oleh
karyawan Mail Processing Center Makassar tahun 2012?
4. Apakah ada hubungan antara kebiasaan berolahraga dengan kejadian
musculoskeletal disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling oleh
karyawan Mail Processing Center Makassar tahun 2012?
5. Apakah ada hubungan antara masa kerja dengan kejadian musculoskeletal
disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling oleh karyawan Mail
Processing Center Makassar tahun 2012?
6. Apakah ada hubungan antara lama kerja dengan kejadian musculoskeletal
disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling oleh karyawan Mail
Processing Center Makassar tahun 2012?
7. Apakah ada hubungan antara beban

barang

dengan

kejadian

musculoskeletal disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling oleh


karyawan Mail Processing Center Makassar tahun 2012?
C. Tujuan Penelitian.
1. Tujuan Umum

Untuk

mengetahui

faktor

yang

berhubungan

dengan

kejadian

musculoskeletal disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling oleh


karyawan Mail Processing Center Makassar tahun 2012.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan umur dengan kejadian musculoskeletal
disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling karyawan Mail
Processing Center.
b. Untuk mengetahui hubungan postur tubuh saat bekerja dengan kejadian
musculoskeletal disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling
karyawan Mail Processing Center.
c. Untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian
musculoskeletal disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling
karyawan Mail Processing Center.
d. Untuk mengetahui hubungan kebiasaan berolahraga dengan kejadian
musculoskeletal disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling
karyawan Mail Processing Center.
e. Untuk mengetahui hubungan

masa

kerja

dengan

kejadian

musculoskeletal disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling


karyawan Mail Processing Center.
f. Untuk mengetahui hubungan

lama

kerja

dengan

kejadian

musculoskeletal disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling


karyawan Mail Processing Center.
g. Untuk mengetahui hubungan beban

barang

dengan

kejadian

musculoskeletal disorders (MSDs) pada aktivitas manual handling


karyawan Mail Processing Center.
D. Manfaat Penelitian.
1. Manfaat Bagi Institusi

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi salah satu sumber


informasi bagi instansi terkait khususnya bagi pihak Mail Processing
Center untuk lebih memperhatikan kondisi karyawannya.
2. Manfaat Keilmuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan sebagai
bahan acuan bagi peneliti selanjutnya.
3. Manfaat Bagi Peneliti
Bagi peneliti sendiri, penelitian ini dapat menjadi pengalaman yang
berharga

dalam

memperluas

wawasan

dan

pengetahuan

tentang

musculoskeletal disorders.