Anda di halaman 1dari 19

SIALOLITHIASIS

OLEH
Moudi Faziani Moe
2015-16-087

PEMBIMBING
AKBP drg. M. Toto Sugiharto, SpBM

Fakultas Kedokteran Gigi


Universitas Prof.DR.Moestopo Beragama(B)
2016

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Rongga mulut setiap harinya dibasahi oleh 1.000 hingga 1500 ml saliva.
Kesehatan lapisan mukosa mulut dan faring serta fungsi pengunyahan dan
pernapasan dalam tingkatan yang lebih rendah, bergantung puda cukupnya aliran
saliva. Saliva berasal dari tiga pasang kelenjar saliva mayor, yaitu kelenjar
parotidea, kelenjar sublingualis, dan mandibularis, dan sejumlah kelenjar minor
pada mukosa dan submukosa bibir, palatum, dan lidah. Kelenjar saliva merupakan
sasaran dari keadaan-keadaan yang ditimbulkan oleh penyumbatan. infeksi,
trauma, dan neoplasia. Kebanyakan diagnosis awal kelainan kelenjar saliva
dideteksi oleh dokter gigi umum dan perawatannya dilakukan oleh spesialis
bedah.
Salah satu kelainan yang bisa terjadi adalah obstruksi pada kelenjar saliva,
misalnya sialolithiasis, sialolithiasis adalah pembentukan batu (calculi) diduga
karena penumpukan bahan degeneratif yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan
mengalami proses kalsifikasi hingga terbentuk batu, sialolit ini umumnya berasat
dari adanya deposit kalsium dan memberikan rasa tidak nyaman pada penderita.
Sialolithiasis menyumbangkan 30% dari penyakit saliva, kurang lebih 80%
sialolithiasis ini berasal dari ke1enjar submandibula, 6% pada kelenjar parotid dan
2% terjadi pada kelenjar sublingualis dan kelenjar minor. Sialolithiasis
kebanyakan terjadi pada orang dewasa, yaitu insidennya pada laki-laki lebih
sering dari pada perempuan. Rasa sakit biasanya timbul ketika ada makanan yang
sangat merangsang sekresi saliva.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Sialolithiasis merupakan salah satu penyebab terjadinya pembengkakan
pada kelenjar submandibula atau parotis, karena dapat menimbulkan obstruksi
pada duktus kelenjar saliva. Pembentukan batu (calculi) pada sialolithiasis diduga
karena penumpukan bahan degeneratif yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan
mengalami proses kalsifikasi hingga terbentuk batu.1
Sebagian besar (80% - 90%) sialolithiasis terjadi di duktus submandibula
(warthons duct) karena struktur anatomi duktus dan karakteristik kimiawi dari
sekresi kelenjar saliva. Kedua faktor ini mendukung terjadinya proses kalsifikasi
pada duktus submandibula sehingga muncul sialolithiasis.

EPIDEMIOLOGI
Sialolithiasis merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada kelenjar
saliva, diperkirakan terdapat 1,2% dalam populasi. Perbandingan angka kejadian
pada laki-laki dan perempuan adalah 1,04 banding 1, dan usia paling banyak
terjadi antara 25 tahun sampai 50 tahun. 3 80-90% sialolithiasis ditemukan pada
kelenjar submandibula, 6% pada kelenjar parotis, 2% pada kelenjar sublingual,
dan 2% ditemukan pada kelenjar liur minor. Terdapat dua faktor penting yang
menjadi alasan tingginya kejadian sialolithiasis pada kelenjar submandibula.
Pertama, sifat saliva yang dihasilkan oleh kelenjar submandibula mengandung
banyak mucin, bahan organik, enzim fosfatase, kalsium, fosfat, pH alkalin, karbon

dioksida rendah. Kedua, faktor anatomi dimana warthons duct panjang dan
berkelok, posisi orifisium lebih tinggi dari duktusnya dan ukuran duktus lebih
kecil dari lumennya. 2,4,5
ANATOMI KELENJAR SALIVA
Kelenjar saliva dapat dibedakan atas kelenjar parotidea, kelenjar
submandibularis, kelenjar lingualis, dan kelenjar assesorius.

Kelenjar parotidea terletak pada bagian samping, di atas m. masseter.


Bagian inferior menempel pada m. sternocleidomastoideus, dan pada bagian
posterior, kelenjar ini terletak di atas venter posterior m. digastricus. Kelenjar ini
dipisahkan dari kelenjar submandibularis oleh ligamentum stylomandibularis,
sedangkan bagian dalam, yaitu perluasan retromandibular berhubungan dengan
rongga parafaringeal . Cabang dan terminal n. facialis berjalan di dalam substansi
kelenjar tersebut. Ductus paroticus, misalnya ductus stensen, dengan panjang 5
sampai 6 cm, bermula dari aspek anterior kelenjar, melintasi m. masseter,

menembus m. buccinator, dan memasuki rongga mulut pada regio molar pertama
atau molar kedua rahang atas.
Kelenjar submandibula terletak di segitiga submandibula yang dibatasi
oleh muskulus digastrikus anterior posterior dan inferior dari os. mandibula.
Posisi kelenjar submandibula terletak di medial dan inferior ramus mandibula.
Bagian posterior kelenjar submandibula sebagian berada di atas dan sebagian di
bawah dari mandibula posterior. Kelenjar ini berbentuk seperti huruf C
mengelilingi batas anterior dari muskulus milohioid kemudian menjadi dua lobus,
superfisial dan profunda. Lobus bagian profunda lebih besar dari lobus
superfisialisnya.2,4
Kelenjar submandibula mendapatkan inervasi dari dua sumber, yaitu
simpatis dan para simpatis. Inervasi saraf simpatis dari ganglion cervikalis
superior melalui n. lingualis, dan inervasi saraf parasimpatis dari ganglion
Submandibula yang diberi makan oleh arteri lingualis. Bagian dalam kelenjar
submandibula mendapat vaskularisasi dari cabang submental arteri dan vena
fasialis yang kemudian berjalan sampai bagian superfisial melalui tepi inferior
mandibula. Lymph node pada kelenjar submandibula terdiri dari (A) superfisial,
(B) anterior, (C) posterior, dan (D) submental.
Duktus submandibula (whartons duct) berada di permukaan medial dari
kelenjar dan berjalan di antara lateral muskulus Milohioid dan muskulus
Hioglosus dan di atas muskulus Genioglosus, membentuk belokan tajam di lateral
m. Milohioid (sering menjadi tempat calculi). Duktus ini bermuara ke dalam
rongga mulut, lateral dari frenulum lingualis yang terlihat di bagian depan dasar

mulut. Panjangnya rata-rata sekitar 5 cm. Duktus Submandibula mendapat


inervasi dari n. Lingualis dan n. Hipoglosus yang berjalan di bawah dan mengikuti
duktus.1,3
Kelenjar sublingual menempati rongga sublingual bagian anterior dan
karena itu hampir memenuhi dasar mulut. Aliran dari sublingualis memasuki
rongga mulut melalui sejumlah muara yang terdapat sepanjang plica sublingualis.
yaitu suatu lingir mukosa anteroposterior di dasar mulut yang menunjukkan alur
dan ductus submandibularis atau melalu ductus utama yaitu ductus bartholin)
yang berhubungan dengan ductus mandibularis.
Kelenjar saliva minor dalam jumlah besar terletak pada submukosa atau
mukosa bibir, permukaan lidah bagian bawah, bagian posterior palatum durum
dan mukosa bukal. Pengetahuan atau pengenalan lokasi kelenjar minor ini
dibutuhkan karena banyak proses penyakit yang terdapat di kelenjar saliva mayor
juga rnengenai kelenjar assesorius ini Kemungkinan terjadinya penyakit kelenjar
saliva memberikan diagnosis altematif untuk patologis yang terbadap pada regio
ini.

ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI


Meskipun penyebab pasti sialolithiasis masih belum jelas, beberapa batu
saliva mungkin berhubungan dengan infeksi kronis (Staphylococcus aureus ,
Streptococcus viridans) dari kelenjar, Sjgren's sindrom dan atau peningkatan
kalsium, dehidrasi, yang meningkatkan viskositas saliva; asupan makanan
berkurang, yang menurunkan permintaan untuk saliva, atau obat yang

menurunkan produksi saliva, termasuk anti histamin tertentu, anti hipertensi


(diuretic) dan anti psikotik, tetapi dalam banyak kasus dapat timbul secara
idiopatik.
Sialolithiasis mengandung bahan organik pada pusat batunya, dan
anorganik

di

permukaannya.

Bahan

organik

antara

lain

glikoprotein,

mukopolisakarida, dan debris sel. Bahan anorganik yang utama adalah kalsium
karbonat dan kalsium fosfat. Sedangkan ion kalsium, magnesium, dan fosfat
sekitar 20-25%. Senyawa kimia yang menyusunnya antara lain mikrokristalin
apetit

[Ca5(PO4)OH]

atau

whitlokit

[Ca3(PO4)].1

Pengamatan

dengan

menggunakan transmisi mikroskop elektron dan


mikroanalisis X ray.
Pada batu sialolithiasis, didapatkan gambaran menyerupai struktur
mitokondria, lisosom, dan jaringan fibrous. Substansi tersebut diduga sebagai
salah satu penyebab proses kalsifikasi dalam sistem duktus submandibula.1
Etiologi sialolithiasis belum diketahui secara pasti, beberapa patogenesis dapat
digunakan untuk menjelaskan terjadinya penyakit ini. Pertama, adanya ekresi dari
intracellular microcalculi ke dalam saluran duktus dan menjadi nidus kalsifikasi.
Kedua, dugaan adanya substansi dan bakteri dari rongga mulut yang migrasi ke
dalam duktus salivary dan menjadi nidus kalsifikasi. Kedua hipotesis ini sebagai
pemicu nidus organik yang kemudian berkembang menjadi penumpukan substansi
organik dan inorganik. 1
Hipotesis lainnya mengatakan bahwa terdapat proses biologi terbentuknya
batu, yang ditandai menurunnya sekresi kelenjar, perubahan elektrolit, dan

menurunnya sintesis glikoprotein. Hal ini terjadi karena terjadi pembusukan


membran sel akibat proses penuaan.1
DIAGNOSIS KLINIS
Pada obstruksi parsial kadang-kadang sialolithiasis tidak menunjukkan
gejala apapun (asimptomatis). Nyeri dan pembengkakkan kelenjar yang bersifat
intermitten merupakan keluhan paling sering dijumpai dimana gejala ini muncul
berhubungan dengan selera makan (mealtime syndrome). Pada saat selera makan
muncul sekresi saliva meningkat, sedangkan drainase melalui duktus mengalami
obstruksi sehingga terjadilah stagnasi yang menimbulkan rasa nyeri dan
pembengkakan kelejar.4 Stagnasi yang berlangsung lama menimbulkan infeksi,
sehingga sering dijumpai sekret yang supuratif dari orifisium duktus di dasar
mulut. Kadang-kadang juga timbul gejala infeksi sistemik. Pada fase lanjut
stagnasi menyebabkan atropi pada kelenjar saliva yang menyebabkan hiposalivasi,
dan akhirnya terjadi proses fibrosis.

Palpasi bimanual di dasar mulut arah

posterior ke anterior sering mendapatkan calculi pada duktus submandibula, juga


dapat meraba pembesaran duktus dan kelenjar. Perabaan ini juga berguna untuk
mengevaluasi fungsi kelenjar saliva (hypofunctional atau non-functional gland). 4
Studi imaging sangat berguna untuk diagnosis sialolithiasis, radiografi oklusal
berguna dalam menunjukkan batu radiopaque.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Radiologis Imaging

Teknik imaging yang ada untuk menilai kelenjar dan duktus kelenjar saliva
antara lain Plain-film Radiography, Computed Tomography Scan (CTScan),
Sialography, Magnetic Resonance Imaging (MRI), Diagnostic Ultrasound, dan
Nuclear Scintigraphy. Masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan
tertentu dalam mengevaluasi pasien dengan nyeri, bengkak dan keluhan lainnya
yang berkaitan dengan gangguan kelenjar saliva, seperti pada Sialolithiasis
Submandibula.3
1. Plain - Film Radiography
Sebelum teknologi imaging berkembang pesat seperti sekarang, plainfoto
masih dapat digunakan untuk menentukan kelainan pada kelenjar saliva. Teknik
ini banyak memberikan informasi selain data dari pemeriksaan klinis. Pada
evaluasi sialolithiasis submandibula, masih efektif untuk melihat batu pada
duktus, tapi sulit untuk mengevaluasi batu di glandula atau batu yang kecil. Hanya
20% sialolith yang radiotransparent sehingga metode ini hanya digunakan untuk
skreening bila metode lainnya tidak tersedia.3 Untuk memaksimalkan hasil,
dianjurkan pengambilan film dari berbagai sudut yang berbeda, termasuk dari
sudut dasar mulut. Hal ini penting untuk mendapatkan gambaran yang jelas,
dimana batu kadang-kadang tertutup oleh tulang mandibula. Sehingga perlu
diambil gambaran dari rongga mulut dan regio submandibula, termasuk gambaran
oklusi duktus dengan dental-film atau anteroposterior view tulang mandibula.
2. Computed Tomography Scan (CT-Scan)
Kehadiran CT Scan merevolusi diagnostic imaging sejak ditemukannya
pada tahun 1970-an, terutama untuk kasus head and neck imaging. Dia sering

digunakan, karena cukup adekuat untuk mendiagnosis sialolithiasis dengan


potongan tiap milimeter. Akan tetapi CT scan tidak bisa menentukan lokasi batu
yang kecil secara tepat, kadang kala irisannya tidak mengenai duktus sehingga
tidak terlihat gambaran hyperdense.3
3.

Ultrasonography (USG)
Ultrasonografi merupakan metode diagnostik noninvasif, tapi penggunaan

dan hasil yang didapat sangat tergantung pada keahlian operator (operator
dipendent) dan image yang dihasilkan tidak bisa diintepretasi langsung oleh ahli
bedah, kecuali dia mengerjakan sendiri. USG memiliki keterbatasan untuk
mendeteksi sialolithiasis.3 Untuk memperjelas hasil bisa menggunakan resolusi
tinggi (7-12 MHz) dengan tranducer linier dan kontak permukaan yang kecil.
Gambar diperoleh terutama menggunakan bidang aksial submandibula dengan
setelan oblique untuk menentukan letak lesi dan menelusuri pembuluh darah.
Penekanan seminimal mungkin untuk menghindari distorsi anatomis.
4. Sialography (Sebagai Gold Standar)
Sialografi merupakan upaya untuk membuat gambaran radiopaque
(opacification) pada duktus kelenjar saliva dengan memasukkan bahan kontras
berupa water soluble radiopaque dye secara retrograde intracanular. Cara ini
dianggap sebagai gold standar karena dapat memberikan gambaran yang jelas
tidak hanya batu, tapi juga struktur morfologis duktus seperti lesi karena trauma,
massa, proses inflamasi, dan penyakit obstruktif lainnya.2 Keuntungan sialografi
bisa bersifat terapeutik, dimana cairan dye menyebabkan dilatasi pada duktus dan
batu terdorong keluar melalui orifisium duktus (caruncula sublingualis). Kerugian
metode ini antara lain, dapat menyebabkan nyeri, infeksi, anafilaktik shock, dan
perforasi dinding duktus, kadang-kadang justru mendorong batu menjauhi

caruncula. Oleh karena itu, sialografi tidak boleh dilakukan bila terjadi infeksi
akut karena akan memicu meningkatnya proses inflamasi. Kelemahan ini
diminimalisir dengan teknik pengembangan tanpa kontras, cukup dengan
merangsang saliva sebagai pengganti fungsi kontras (yaitu Magnetic Resonance
Sialography).2
5. Magnetic Resonance (MR) Sialography
MR Sialografi merupakan prosedur diagnostik nonivasif yang relatif baru
dengan akurasi tinggi untuk mendeteksi calculi, sensitifitas 91% spesifisitas 94%
nilai pediksi positif 97% dan nilai prediksi negatif 93%. Hal ini lebih baik dari
sialografi konvensional. Secara teknis fungsi bahan kontras digantikan oleh saliva
(natural contras) yang dirangsang produksinya dengan orange juice, dan
menggunakan imaging T2-Weighted turbo spin-echo slides bidang sagital dan
axial.. Keuntungannya adalah tidak invasif, tidak menggunakan bahan kontras,
tidak ada radiasi, tidak menimbulkan rasa nyeri, bahkan juga bisa mengevaluasi
kelainan fungsi kelenjar (Dynamic MR sialography). Kekurangan teknik ini
membutuhkan waktu yang lebih lama pada proses merangsang saliva sebagai
kontras alami, menimbulkan rasa tidak nyaman, dan biaya sangat mahal.2
b. Endoskopis
Endoskopi yang dikenal dengan Sialendoskopi merupakan prosedur
noninvasif yang dapat mengeksplorasi secara lengkap sistem duktus, termasuk
cabang sekunder dan tersier duktus. Sialendoskopi dapat dilakukan di klinik rawat
jalan dengan menggunakan anestesi lokal lidocain 2% dimana pasien duduk di
kursi atau setengah berbaring. Fungsi utama Sialendoskopi untuk konfirmasi
sekaligus diagnosis obstruksi dan striktur sistem duktus serta pengambilan

sialolith. Pada prinsipnya Sialendoskopi dilakukan dengan memasukkan sistem


semirigid ke intraluminar duktus melalui caruncula sublingualis. Diameter
Sialendoskop yang sering digunakan antara 0.8 mm - 1,6 mm. Visualisasi
intraluminar dan kondisi patologis dapat diamati secara langsung. Selain
diagnostik, metode ini bisa melakukan prosedur intervensi seperti dilatasi
progresif, pembersihan dan pembilasan, serta pengambilan batu dengan forcep
maupun laser fragmentation. Indikasi penggunaannya pada semua pembengkakan
dan nyeri intermitten pada kelenjar atau duktus saliva yang belum diketahui
sebabnya. Tidak ada kontra indikasi mutlak termasuk pada anak maupun manula,
karena selain minimal invasif Sialendoskopi hanya membutuhkan anestesi lokal
dan cukup rawat jalan saja.8 Pada keadaan tertentu Sialendoskopi dapat
menimbulkan komplikasi lesi pada saraf yang menimbulkan parastesi (0,4%),
terjadi infeksi (1,6%), perdarahan (0,5%), dan kerusakan sistem duktus seperti
striktur (2,5%).

PENATALAKSANAAN
1. Tanpa pembedahan
Pengobatan klasik silolithiasis (medical treatment) adalah penggunaan
antibiotik dan anti inflamasi, dengan harapan batu keluar melalui caruncula secara
spontan. pengobatan yang diberikan adalah simptomatik, nyeri diobati dengan
NSAID (e.g ibuprofen, 600 mg setiap 8 jam selama 7 hari) dan infeksi bacteria
diobati dengan antibiotik golongan penicillin dan Cephalosporins, (875mg

amoxicillin dan asam klavulanat 125 mg setiap 8 jam untuk jangka waktu satu
minggu ) atau augmentin, cefzil, ceftin, nafcillin, diet kaya protein dan cairan
asam termasuk makanan dan minuman juga dianjurkan untuk menghindari
pembentukan batu lebih lanjut dalam kelenjar saliva, sialologues (lemon tetes
yang merangsang Salivasi), batu dikeluarkan dengan pijat atau masase pada
kelenjar.
Pada beberapa kasus dimana batu berada di wharton papillae, dapat
dilakukan tindakan marsupialization (sialodochoplasty). Sering kali batu masih
tersisa terutama bila berada di bagian posterior Wartons duct, sehingga
pendekatan konservatif sering diterapkan.
2. Pembedahan
Sebelum teknik endoskopi dan lithotripsi berkembang pesat, terapi untuk
mengeluarkan

batu

pada

sialolithiasis

submandibula

delakukan

dengan

pembedahan, terutama pada kasus dengan diameter batu yang besar (ukuran
terbesar sampai 10 mm), atau lokasi yang sulit. Bila lokasi batu di belakang
ostium duktus maka bisa dilakukan tindakan simple sphincterotomy dengan
anestesia lokal untuk mengeluarkannya. Pada batu yang berada di tengah-tengah
duktus harus dilakukan diseksi pada duktus dengan menghindari injury pada n.
lingualis. Hal ini bisa dilakukan dengan anestesi lokal maupun general, tapi sering
menimbulkan nyeri berat post operative. Harus dilakukan dengan anestesi general,
bila lokasi batu berada pada gland's pelvis. Pada kasus ini harus dilalakukan
submaxilectomy dengan tingkat kesulitan yang tinggi, karena harus menghindari
cabang-cabang dari n. facialis.

3. Minimal invasiv
3.1 Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)
ESWL merupakan terapi dengan pendekatan non invasive yang cukup
efektif pada sialolithiasis. Setelah berhasil untuk penanganan batu di saluran
kencing dan pankreas, ESWL menjadi alternatif penanganan batu pada saluran
saliva, dimulai tahun 1990an. Tujuan ESWL untuk mengurangi ukuran calculi
menjadi fragmen yang kecil sehingga tidak mengganggu aliran saliva dan
mengurangi simptom. Diharapkan juga fragmen calculi bisa keluar spontan
mengikuti aliran saliva.5
Indikasi ESWL bisa dilakukan pada semua sialolithiasis baik dalam
glandula maupun dalam duktus, kecuali posisi batu yang dekat dengan struktur n.
facialis. Inflamasi akut merupakan kontra indikasi lokal dan inflamasi kronis
bukan merupakan kontra indikasi, sedangkan kelainan pembekuan darah
(haemorrhagic diathesis), kelainan kardiologi, dan pasien dengan pacemaker
merupakan kontraindikasi umum ESWL.5 Metode ini tidak menimbulkan nyeri
dan tidak membutuhkan anestesia, pasien duduk setengah berbaring (semireclining position). Shockwave benar-benar fokus dengan lebar 2,5 mm dan
kedalaman 20mm sehingga lesi jaringan sekitarnya sangat minimal. Energi yang
digunakan disesuaikan dengan batu pada kelenjar saliva, yaitu antara 5 30 mPa.
Tembakan dilakukan 120 impacts per menit, bisa dikurangi sampai 90 atau 60
impacts per menit. Setiap sesion sekitar 1500 + / - 500 impacts dan antar sesion
terpisah minimal satu bulan.5

Keberhasilan ESWL tergantung pada dimensi, lokasi, dan jumlah calculi.


Ketepatan posisi (pinpointing) calculi bisa dipandu dengan ultrasonography,
echography probe 7,5 Mhz. Calculi dengan ukuran > 10 mm sulit dipecah menjadi
fragmen.

5,17

Beberapa penelitian telah melakukan pengamatan dan follow up atas

keberhasilan penggunaan ESWL, antara lain Escidier et al mengamati 122 kasus


dimana 68% pasien terbebas dari simptom setelah difollow up selama 3 tahun,
Cappaccio et al dengan 322 kasus melaporkan 87,6% pasien terbebas dari
simptom setelah diamati 5 tahun sejak pengobatan menggunakan ESWL.5
3.2 Sialendoskopi
Sialendoskopi merupakan teknik endoskopi untuk memeriksa duktus
kelenjar saliva. Teknik ini termasuk minimal invasive terbaru yang dapat
digunakan untuk diagnosis sekaligus manajemen terapi pada ductal pathologies
seperti obstruksi, striktur, dan sialolith. Prosedur yang dapat dilakukan dengan
Sialendoskopi merupakan complete exploration ductal system yang meliputi
duktus utama, cabang sekunder dan tersier.8,15,20 Indikasi diagnostik dan intervensi
dengan Sialendoskopi adalah semua pembengkakan intermitten pada kelenjar
saliva yang tidak jelas asalnya. Koch et al lebih khusus menjelaskan indikasinya,
antara lain untuk :
1) deteksi sialolith yang samar,
2) deteksi dini pemebentukan sialolith (mucous or fibrinous plugs) dan
profilaksis pembentukan batu,
3) pengobatan stenosis post inflamasi dan obstruksi karena sebab lain,
4) deteksi dan terapi adanya variasi anatomi atau malformasi,
5) diagnosis dan pemahaman baru terhadap kelainan autoimun yang
melibatkan kelenjar saliva,
6) sebagai alat follow up dan kontrol keberhasilan terapi.

Tidak ada kontra indikasi khusus, karena merupakan teknik minimal


invasive yang hanya membutuhkan enestesi lokal dan cukup rawat jalan saja, baik
pada anak-anak, dewasa maupun usia lanjut.2 Teknik Intervensi Sialendoskopi.
Sialendoskopi dilakukan dengan anestesi lokal, papila untuk mencapai kelenjar
diinjeksi dengan bahan anestesi (xylocaine 1% dengan epinephrine 1:200000).
Papila dilebarkan bertahap dengan probe yang bertambah besar sampai sesuai
dengan diameter sialendoskop. Kemudian sialendoskop dimasukkan ke dalam
duktus kelenjar saliva diikuti pembilasan dengan cairan isotonik melalui probe.
Pembilasan ini dimaksudkan untuk dilatasi duktus dan irigasi debris. Duktus
kelenjar saliva ini diobservasi mulai dari duktus utama sampai cabang tersier
hingga probe tidak bisa masuk lagi, dengan catatan menghindari trauma dan
perforasi dinding duktus. Bila didapatkan obstruksi, kita bisa menggunakan
beberapa teknik untuk mengatasinya. Untuk pengambilan batu dengan diameter <
4 mm pada kelenjar submandibula atau < 3 mm pada kelenjar parotis, kita
dekatkan sialendoskop ke sialolith kemudian kita masukkan ke dalam working
chanel sebuah forsep penghisap yang fleksibel dengan diameter 1 mm atau stone
extractor (wire basket forcep). Berikutnya batu dihisap dan sialendoskop ditarik
dengan forcep penghisapnya .
Pada kasus dengan batu yang lebih besar, kita memasukkan probe laser
helium ke dalam working chanel dan batu dipecah menjadi beberapa bagian kecilkecil. Kemudian bagian kecil tersebut ambil (removed) dengan teknik yang sama.
Sedangkan pada kasus mucus plug, sekret yang lengket dimobilisasi dengan
pembilasan dan penghisapan.

Setelah intervensi Sialendoskopi, dilakukan stenting pada duktus


submandibula menggunakan stent plastik (sialostent) selama 2 sampai 4 minggu
dengan tujuan 1) menghindari striktur, 2) mencegah obstruksi karena udema
sekitar orifisium, dan 3) sebagai saluran irigasi partikel-partikel batu kecil oleh
aliran saliva. Pemberian hydrocortisone 100 mg injeksi intraductal atau langsung
pada daerah striktur juga dapat mempercepat proses penyembuhan pasca
sialoendokopi.
4. Decision Tree
Pada tindakan minimally invasive terdapat beberapa pilihan diagnostik
maupun terapi untuk managemen sebuah kasus dengan gejala klinis adanya
obstruksi pada saluran kelenjar saliva. pada kasus dengan gejala pembengkakan
berulang pada kelenjar saliva yang berhubungan dengan selera makan, dapat
menggunakan sialendoskopi atau MR sialografi sebagai pilihan modalitas
diagnostik. Sialendoskopi merupakan pilihan utama pada pembengkakan kelenjar
unilateral, sedangkan pada asus kelenjar bilateral direkomendasikan untuk
menggunakan MR silaografi untuk melihat tekstur kelenjar, jaringan sekitar, dan
sistem duktus beberapa kelenjar.
Bila didapatkan batu ukuran kecil (< 4 mm submandibular atau < 3 mm parotis)
maka dapat diintervensi dengan Wire Basket Extraxion. Pada batu dengan ukuran
> 4 mm submandibula atau > 3 mm parotis, batu harus dipecah menjadi bagian
yang lebih kecil menggunakan Laser Lithotripsy kemudian dikeluarkan dengan
Wire Basket Extraxion. Sedangkan stenosis pada sistem duktus cukup dilakukan

dilatasi menggunakan metalic dilator (main duct) atau dengan balloon catheter
bila stenosis terjadi pada cabang duktus.
Segala bentuk intervensi pada sialolithiasis, baik pembedahan terbuka
maupun minimally invasive dapat menimbulkan komplikasi antara lain:
1) kerusakan saraf, terutama n. Lingualis dan n. Hipoglosus
2) perdarahan post operative,
3) struktur sistem

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Sialolithiasis merupakan salah satu penyebab pembengkakan pada kelenjar
submandibula dan parotis. Diperkirakan terdapat 1,2% dalam populasi
dengan perbandingan laki - perempuan 1,04 : 1.
2. Sialolithiasis menyebabkan obstruksi mekanik duktus kelenjar saliva
dimana pembentukan sialolithnya diduga karena penumpukan bahan
degeneratif, migrasi substansi dan bakteri ke dalam duktus kelenjar saliva
yang kemudian menjadi nidus kalsifikasi.
3. Gejala yang ditimbulkan sering asimptomatis, nyeri dan pembengkakan
kelenjar yang intermitten berhubungan dengan selera makan (mealtime

syndrome). Stagnasi yang lama akan menimbulkan infeksi dan atropi,


hiposalivasi, fibrosis.
4. Pemeriksaan penunjang untuk diagnostik sialolithiasis dengan teknik
imaging, mulai dari Plain-film Radiography, CT-Scan,Ultrasonography,
Sialography, dan MR Sialography, Sialoendoskopi.
5. Terapi untuk penanganan sialolithiasis, antara lain medikamentosa dengan
antibiotik dan antiinflamasi, pembedahan, serta tindakan minimal invasif
(lithotripsi dan sialoendoskopi)
DAFTAR PUSTAKA

1. Mimura M, Tanaka N, Ichinose S, Kimijima Y, Amagasa T. Possible Etiology


of Calculi Formation in Salivary Glands: Biophysical Analisys of Calculus.
Med Mol Morphol 2005; 38: 189-95
2. Graney DO, Jacobs JR, Kern RC. Salivary Glands. In: Cumming CJ, editor.
Otolangology Head and Neck Surgery. 3rd ed. Mosby; 1999. p.1220.
3. Escudier MP, McGurk M. Symptomatic Sialoadenitis and Sialolithiasis in the
English Population, an Estimate of the Cost of Hospital Traetment. Br Dent J
1999 Mei; 186 (9): 463-6
4. Siddiqui SJ. Sialolithiasis : An Unusually Submandibular Salivary Stone. Br
Dent J 2002 July; 193: 89-91
5. Andretta M, Tregnaghi A, Prosenikliev V, Staffieri A. Current Opinion in
Sialolithiasis Diagnosis and Treatment. Acta Otorhinolaryngol Ital2005;
25:145-9