Anda di halaman 1dari 5

PROSES PENYISIHAN GAS ASAM (ACID GAS REMOVAL PROCESS)

Proses penyisihan gas asam atau acid gas removal, biasa disingkat AGR dalam
istilah Bahasa Inggris, dalam satu plant berfungsi untuk memisahkan gas asam
seperti H2S, CO2, dan sulphur organik. Proses AGR secara luas telah digunakan di
berbagai plant seperti plant pemrosesan gas alam dan plant gasifikasi. Diagram
proses dari AGR dapat dilihat di Gambar 1. Gas asam harus dipisahkan karena gas
produk (gas alam atau syngas ke konsumen atau proses selanjutnya) harus
memenuhi standard tertentu dari kandungan gas asam. Gas asam bersifat korosif
jika bersamaan dengan molekul air dan merupakan sumber utama problem
perbaikan di system perpipaan.

Gambar 1. Diagram proses dari AGR.

Unit AGR biasanya terletak di bagian akhir dari proses pemisahan komponen yang
tidak diinginkan dari gas alam ataupun syngas. Kerusakan di proses ini berakibat
pada penurunan kinerja di downstream dan/atau menjadi sumber polusi ketika gas
asam terpapar langsung ke lingkungan dan orang-orang di sekitar. BFD (block flow
diagram) umum dari unit AGR dapat dilihat di Gambar 2.

(a)

(b)
Gambar 2. Unit AGR dan unit-unit di sekitarnya di (a) plant pemrosesan gas alam
dan (b) plant gasifikasi.

Proses AGR menggunakan solvent untuk menyerap gas asam. Ada beberapa tipe
solvent yang umum digunakan seperti yang ditunjukkan di Gambar 3 [1, 2].

Gambar 3. Klasifikasi solvent di proses AGR.

Physical solvent menyerap gas asam tanpa terjadinya reaksi kimia. Gas asam lebih
terlarut dalam physical solvent dibandingkan dengan komponen lainnya di aliran
gas sehingga gas asam dapat terserap dengan mudah. Physical solvent komersial
yang tersedia di pasaran saat ini tercantum di bawah ini:

Selexol (dimethyl ethers of polyethylene glycol) dilisensi oleh UOP LLC


Rectisol (methanol) dilisensi oleh Linde AG dan Lurgi AG
Purisol (n-methyl-2-pyrrolidone) dilisensi oleh Lurgi AG
Sepasolv MPE (polyethylene glycol dandialkyl ethers)
Fluor solvent (propylene carbonate)
Sulfolane (tetrahydrothiphenedioxide)
Estasolvan (tributyl phosphate)
Sementara itu, chemical solvent menyerap gas asam melalui reaksi kimia. Ada dua
subtipe chemical solvent berdasarkan reversibilitas reaksi, pertama adalah solvent
yang dapat menyerap dan melepaskan gas asam karena reaksi reversibel, kedua
adalah solvent yang hanya dapat menyerap gas asam tanpa dapat melepaskannya.
Di plant komersial, solvent subtype kedua hamper tidak pernah digunakan karena
mengakibatkan biaya operasional yang besar. Jika dibandingkan dengan physical
solvent, chemical solvent lebih efektif untuk gas asam dengan tekanan parsial
rendah (lihat Gambar 4). Contoh dari chemical solvents subtype pertama tercantum
di bawah ini:

1. Primary Amines spt:

MEA (methanolamine)
DGA (diglycolamine)
2. Secondary Amines spt:

DEA (diethanolamine)
DIPA (diisopropanolamine)
Sterically hindered
3. Tertiary Amines spt:

MDEA (methyldiethanolamine)
TEA (triethanolamine)
4. Dan lainnya seperti potassium carbonate

Gambar 4. Grafik kemampuan penyerapan solvent dan hubungannya dengan


tekanan parsial.

Perkembangan terakhir dari teknologi solvent adalah pencampuran physical solvent


dan chemical solvent atau lebih dikenal dengan mixed solvent. Ide awal dari
pencampuran ini adalah untuk menggabungkan kelebihan masing-masing solvent
sehingga dapat menangani gas dengan tekanan parsial rendah maupun tinggi.
Contoh dari mixed solvent komersial tercantum di bawah ini:

1. Sulfinoldilisensi oleh Shell:

Sulfinol-X (sulfolane, MDEA, piperazine, dan water)


Sulfinol-M (sulfolane, MDEA, dan water)
Sulfinol-D (sulfolane, DIPA, dan water)
2. Flexsorb (hindered/unhindered amine dan physical solvent) dilisensi oleh
ExxonMobil spt:

Flexsorb SE, Flexsorb SE Plus, Flexsorb SE Hybrid, Flexsorb PS

3. Amisol (methanol dengan MDEA ataudiethylamine)

Dalam mendesain proses AGR, pemilihan solvent sangatlah vital karena hal itu akan
menentukan kecepatan penyerapan gas asam dan juga gas yang terserap. Selain
itu, hal tersebut juga penting ketika mendesain skema proses, termasuk skema
kontrol proses. Contohnya, kinerja solvent dan sifat-sifatnya dapat berdampak pada
lokasi inlet dari make-up solvent ke proses. Lokasi inlet dapat ditempatkan di bagian
bawah regenerator atau pada aliran lean solvent ke absorber. Dua pilihan ini dapat
memberikan skema kontrol proses yang berbeda.

Referensi:

[1] Korens, N., Simbeck D.R. and Wilhelm D.J., 2002, Process Screening Analysis of
Alternative Gas Treating and Sulfur Removal for Gasification. SFA Pacific, Inc.,
Mountain View.
[2] Kohl, A. and Nielsen R., 1997, Gas Purification, Fifth Edition. Gulf Publishing
Company, Houston.