Anda di halaman 1dari 29

Produksi

Tanaman Karet
(Hevea
Brasiliensis) Di
Daerah
Bercurah Hujan
Tinggi
Di
Kabupaten
Bogor
Izi Ceta
n
k

Tatang Sopian
Dinas Kehutanan dan Perkebunan / Konservasi Sumber
Daya Alam Kabupaten Purwakarta ; United Graduate
School of Agricultural Science, Tokyo University of
Agriculture and Technology
E-mail: tsopian@yahoo.com
Abstrak
Budidaya tanaman karet di daerah bercurah hujan tinggi
kurang optimal bagi pertumbuhan dan produksi tanaman karet
itu sendiri, sebagaimana ditampilkan pada kajian ini. Di
daerah yang bercurah hujan tinggi seperti di Kabupaten Bogor
produktivitas karet per areal tanam menjadi lebih rendah
dibandingkan dengan produktivitas rata-rata wilayah sepropinsi Jawa Barat. Dalam kondisi wilayah yang memiliki
curah hujan tinggi, lama penyinaran matahari yang
bermanfaat untuk fotosintesis tanaman menjadi lebih rendah.
Hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Kabupaten Bogor
sering disertai dengan angin kencang atau angin berkecepatan
tinggi yang dapat menumbangkan pohon atau mematahkan
batang tanaman karet dan mengakibatkan menurunnya
populasi tanaman per hektar. Intensitas hujan yang tinggi juga
menyebabkan kelembaban udara yang tinggi dan
mengakibatkan mudahnya tanaman karet terserang penyakit.
Siklus musim setahun turut mempengaruhi pula siklus produksi
tanaman karet yaitu, terdapat musim-musim dengan
produktivitas rendah dan terdapat pula musim-musim dengan

produktivitas tinggi.
1. Pendahuluan
Karet alam adalah salah satu komoditas utama sub sektor
perkebunan di Indonesia. Data tahun 2006 menunjukkan luas
areal tanaman karet di Indonesia adalah seluas 3,31 juta hektar
(ha) dan menempati areal perkebunan terluas ketiga setelah
kelapa sawit (pertama) dengan luas 6,07 juta ha dan kelapa
(kedua) dengan luas 3,82 juta ha. Setelah karet, kopi adalah
tanaman perkebunan yang menempati posisi keempat dengan
areal penanaman seluas 1,26 juta ha dan kakao (kelima) seluas
1,19 juta ha (Deptan, 2006). Produksi nasional karet pada tahun
2006 adalah sebesar 2,27 juta ton karet kering (KK) dengan
produksi terbanyak berasal dari Sumatera (termasuk BangkaBelitung dan Riau Kepulauan) dengan total produksi sebesar
1,66 juta ton. Produktivitas karet nasional pada tahun tersebut
mencapai 868 kg KK / ha dan telah mengalami peningkatan
yang signifikan bila dibandingkan dengan satu dekade yang lalu
yang hanya mencapai 575 kg KK / ha (tahun 1996).
Bila dibandingkan produktivitas areal tanaman karet antar
propinsi, terdapat kecenderungan produktivitas tertinggi berasal
dari propinsi-propinsi di Sulawesi dan Jawa yang mencapai
lebih dari 1000 kg KK / ha, sedangkan di pulau-pulau lainnya
hanya mencapai kurang dari 1000 kg KK / ha (Gb.1). Hal ini
diperkirakan sangat terkait dengan kondisi kesuburan lahan
yang berbeda di kepulauan yang ada di Indonesia.

Gb.1. Produktivitas areal tanaman karet di 23 propinsi di Indonesia (Diolah dari


basis data Deptan, 2006). Anak panah berwarna merah menunjukkan nilai
produktivitas 1.000 kg KK/ha yang menjadi petunjuk batas produktivitas tinggi dan

rendah dalam deskripsi pada tulisan ini.

Bila ditinjau lebih spesifik lagi dengan mengambil kasus pada


daerah yang lebih sempit lagi dibandingkan dengan daerah
sekitarnya, akan tampak adanya pengaruh keadaan iklim
(agroklimat) lokal terhadap produktivitas areal tanaman karet.
Setidaknya hal ini dapat dilihat dengan rendahnya produktivitas
lahan kebun karet di lokasi studi yang terletak di Kabupaten
Bogor, yang pada saat studi dilakukan pada tahun 1997
memiliki produktivitas rata-rata sebesar 771 kg KK / ha
sedangkan produktivitas tingkat propinsi Jawa Barat pada saat
itu adalah sebesar 804 kg KK / ha dan produktivitas sementara
karet nasional pada saat itu adalah sebesar 601 kg KK / ha.
Berdasarkan studi tersebut, tulisan ini akan menguraikan
bagaimana pertumbuhan dan produksi tanaman karet di wilayah
bercurah hujan tinggi.
2. Metodologi
2.1. Lokasi Studi dan Keadaan Iklim
Studi dilakukan di salah satu kebun di Kabupaten Bogor, Jawa
Barat (nama perusahaan perkebunan tidak disebutkan).
Kabupaten dan Kota Bogor adalah daerah yang dikenal
memiliki curah hujan yang cukup tinggi, bahkan khusus untuk
Kota Bogor diberi julukan sebagai Kota Hujan di Indonesia.
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh pihak kebun selama 5
tahun sebelum studi dilakukan, curah hujan rata-rata di daerah
tersebut sebanyak 4.470 mm dengan frekuensi rata-rata 191,2
hari hujan setahun. Dari sebaran data di dalamnya diketahui
bahwa curah hujan terendah dalam periode tersebut adalah
sebanyak 4.009 mm dengan frekuensi 178 hari hujan setahun
dan curah hujan tertinggi sebanyak 5.407 mm dengan frekuensi
213 hari hujan setahun (Gb.2a). Hujan yang turun dalam sehari
lebih sering terjadi pada waktu sore hari (pukul 12.00-15.00)
(Gb.2b).
Lokasi kebun tersebar di daerah dengan ketinggian rata-rata 64
m di atas permukaan laut (dpl), 360 m dpl dan 707 m dpl (Gb.3)
dengan kondisi tanah didominasi oleh jenis latosol. Lokasi
kebun memiliki pembatas geologis di sebelah utara merupakan
dataran rendah yang seterusnya menghadap ke Laut Jawa, di
sebelah timur merupakan sub-daerah aliran sungai (DAS)
Cisadane, sebelah barat merupakan sub-DAS Cidurian, dan
sebelah selatan merupakan dataran tinggi yang terdapat dua
buah gunung masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung
Halimun-Salak (TNGHS) yaitu Gunung Salak (selatantenggara) dan Gunung Halimun (selatan-barat daya). Pembatas
geologis pegunungan (termasuk dengan adanya Gunung Gede

dan Gunung Pangrango) di bagian selatan ini diduga merupakan


salah satu penyebab tingginya curah hujan di daerah Kabupaten
Bogor yang umumnya terkait dengan pembentukan hujan
orografik yaitu hujan yang terbentuk akibat pendinginan uap air
(awan) yang disebabkan karena desakan angin dari arah pantai
naik ke atas pegunungan.
(a)

(b)

Gb.2. Grafik curah hujan dan hari hujan di lokasi studi selama 5 tahun terakhir
sebelum studi (a) dan waktu terjadinya hujan dalam 24 jam (b). (Data kebun, diolah)

Gb.3. Peta lokasi kebun yang terkonsentrasi pada elips yang ditunjuk oleh anak
panah berwarna merah (360 m dpl), sebaran lainnya terletak agak ke utara (64 m dpl)
dan agak ke selatan (707 m dpl). Dimodifikasi dari Peta Topografi skala 1:250.000,
(Direktorat Topografi AD, 1955)

2.2. Pengumpulan dan Pengolahan Data


Data-data pertumbuhan dan produksi tanaman karet bersumber
dari data-data yang dimiliki oleh kebun. Demikian pula datadata iklim yang berupa curah hujan dan hari hujan bersumber
dari data-data yang dimiliki kebun yang sejak tahun 1960
pengukuran data-data tersebut telah dilakukan untuk keperluan
yang terkait dengan usaha kebun. Data-data lain yang berupa
lama penyinaran, suhu udara dan kecepatan angin diperoleh dari
Stasiun Klimatologi Darmaga - Bogor, sedangkan data curah
hujan dan hari hujan yang diperoleh dari stasiun klimatologi ini
dipergunakan pula untuk perbandingan. Data-data produksi /
produktivitas karet nasional dan propinsi menggunakan data
yang diperoleh dari basis data Departemen Pertanian.
Data-data yang terkumpul direkapitulasikan dan diolah secara
sederhana dengan menggunakan program worksheet MSExcel dan disajikan dalam bentuk gambar ataupun grafik di
dalam tulisan ini.
3. Pembahasan
3.1. Produktivitas Karet Relatif Rendah
Berdasarkan data produktivitas areal yang terkumpul pada

periode 1990-1996 produktivitas tanaman karet di kebun yang


terdapat di daerah Kabupaten Bogor relatif lebih rendah
dibandingkan daerah sekitarnya di Propinsi Jawa Barat (Gb.4).
Jika dibandingkan dengan daerah lainnya pada skala nasional
produktivitasnya masih relatif lebih tinggi berhubung di
beberapa propinsi terdapat daerah-daerah yang mempunyai
produktivitas yang sangat rendah yaitu khususnya yang terletak
di luar Pulau Jawa dan di luar Pulau Sulawesi dan
mengakibatkan rendahnya produktivitas tanaman karet di
propinsi tersebut (Gb.1).

Gb.4. Grafik perbandingan produktivitas tanaman karet kebun lokasi studi di


Kabupaten Bogor dengan rata-rata produktivitas propinsi Jawa Barat dan nasional
Indonesia.

3.2. Hubungan Antar Parameter-Parameter Iklim dan


Siklus Musim
Berdasarkan data-data iklim tahunan dalam rentang periode
1989-1996 maupun siklus musim di kebun lokasi studi, terdapat
hubungan antar parameter iklim yang satu dengan yang
lainnya. Curah hujan yang tinggi di daerah studi berhubungan
erat dengan frekuensi hari hujan yang sering terjadi (Gb.5a).
Frekuensi hari hujan yang semakin sering terjadi dalam siklus
musim berakibat semakin rendahnya rata-rata frekuensi
penyinaran matahari (Gb.5b), di samping itu juga
mengakibatkan semakin tingginya rata-rata kelembaban udara
(Gb.5c) dan rata-rata kecepatan angin yang datang per bulannya
(Gb.5d).

(a)

(c)

(b)

(d)

Gb.5. Hubungan antara curah hujan per tahun dengan frekuensi hari hujan per tahun
(a) serta hubungan antara frekuensi hari hujan per bulan dengan lama penyinaran
matahari (b), kelembaban udara (c) dan kecepatan angin (d).

Siklus musim dalam setahun menunjukkan bahwa puncak

musim hujan ditandai dengan curah hujan tertinggi yang jatuh


pada bulan Desember sampai dengan Februari (Gb.6a).
Demikian pula frekuensi hari hujan (Gb.6b) dan kecepatan
angin yang tinggi (Gb.6a) sering terjadi pada bulan Desember
sampai dengan Februari tersebut bersamaan pula terjadi
penyinaran matahari dengan lama penyinaran yang rendah
(Gb.6b). Sedangkan sebaliknya puncak musim kemarau jatuh
pada bulan Juni sampai dengan Agustus ditandai dengan curah
hujan terendah (Gb.6a) dan frekuensi hari hujan yang rendah
(Gb.6b). Kelembaban udara yang tinggi dengan suhu udara
terendah dialami pada puncak musim hujan yaitu pada bulan
Januari dan Februari (Gb.6c). Suhu udara mengalami dua kali
puncak panas tertinggi yaitu pada awal musim kemarau pada
bulan Mei dan pada awal musim hujan yaitu pada bulan
September dan Oktober (Gb.6c).

(a)

(b)

(c)
Gb.6. Siklus musim di kebun lokasi studi dengan parameter curah hujan dan
kecepatan angin (a) serta frekuensi hari hujan dan lama penyinaran matahari (b).

3.3. Hubungan Antara Parameter-Parameter Iklim dengan


Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Karet
Parameter lingkungan khususnya iklim dapat mempengaruhi
produksi tanaman karet (Raj et al. 2005 ; Rao et al, 1998).
Curah hujan yang terlalu tinggi di atas 4000 mm mengakibatkan
penurunan produktivitas tanaman karet per pohon (Gb.7a).
Parameter hari hujan pada frekuensi kurang dari 190-200 hari
hujan per tahun cenderung meningkatkan produktivitas tanaman
karet per hektar lahan kemudian menurun setelah melampaui
200 hari hujan (Gb.7b), hal ini terkait pula dengan lama
penyinaran matahari di mana peningkatan produktivitas lahan
tanaman karet kuadratik terhadap lama penyinaran matahari
(Gb.7c). Sedangkan kecepatan angin yang tinggi cenderung
meningkatkan jumlah kerusakan tanaman karet (Gb.7d) dalam
bentuk patah batang ataupun tumbang.
Curah hujan yang cukup sebetulnya dapat meningkatkan
produktivitas setiap tanaman karet akan tetapi pada kasus di
kebun lokasi studi secara jelas mengalami penurunan, hal ini
diduga karena curah hujan di atas 4000 mm per tahun sudah
melampaui curah hujan optimal untuk produksi tanaman karet.
Penyebab lainnya yaitu bahwa sebagaimana digambarkan di
awal yaitu, di kebun lokasi studi sering terjadi hujan di sore hari
(Gb.2b). Hal ini menyebabkan saat dilakukan sadap pada
keesokan harinya, keadaan tanaman karet masih belum kering
dan kadar air dalam lateks yang dihasilkan masih tinggi,
akibatnya kadar karet kering relatif lebih rendah daripada
keadaan normal.

(a)

(b)

(c)

(d)

Gb.7. Grafik hubungan antara curah hujan dengan produktivitas karet per pohon (a),
hubungan antara frekuensi hari hujan dengan produktivitas karet per hektar (b),
hubungan antara lama penyinaran matahari dengan produktivitas karet per hektar (c)
dan hubungan antara kecepatan angin dengan jumlah pohon karet yang rusak (patah
atau tumbang) per hektar (d).

Produktivitas per pohon karet dan produktivitas per hektar


lahan tanaman karet agak berbeda parameter iklim yang
mempengaruhinya. Jika produktivitas per pohon dipengaruhi
langsung oleh curah hujan, maka produktivitas per hektar lahan
sebetulnya dipengaruhi langsung oleh lama penyinaran
matahari (Gb.7c), hal ini diduga karena kepadatan populasi
tanaman karet turut berpengaruh di dalam keefektifan dan
efisiensi fotosintesis tanaman karet. Berhubung lama
penyinaran matahari mempunyai korelasi linier yang kuat
dengan frekuensi hari hujan (Gb.5b), maka di sini ditampilkan
pula hubungan antara hari hujan dengan produktivitas lahan
(Gb.7b). Menurut Darmandono (1995) produksi karet menurun
dengan semakin banyaknya hari hujan setahun. Dalam
penjelasannya disebutkan bahwa hal tersebut disebabkan karena
semakin tingginya resiko kerusakan lateks sebelum
dikumpulkan atau meningkatnya serangan penyakit daun dan
bidang sadap seiring dengan meningkatnya curah hujan.
Kecepatan angin yang tinggi telah banyak dilaporkan
mengakibatkan kerusakan terhadap tanaman karet dalam bentuk
pohon tumbang, patah batang, patah cabang dan terpuntir /
bengkok sebagaimana dilaporkan pula oleh Thomas (1993) di
Sumatera Utara dengan gambaran keadaan angin yang
disebabkan oleh pergerakan angin muson barat. Pada kasus di
kebun lokasi studi, ditemukan hubungan langsung (korelasi
polynomial kuadratik) antara semakin cepatnya rata-rata
kecepatan angin dengan kecenderungan semakin banyaknya
tanaman karet yang rusak (Gb.7d). Berhubung korelasi pula

dengan frekuensi hari hujan, maka diperkirakan ada hubungan


tidak langsung antara frekuensi hari hujan dengan jumlah
tanaman karet yang rusak. Kerusakan tanaman karet ini
mengakibatkan rendahnya populasi tanam kebun lokasi studi
yaitu hanya rata-rata 271 pohon karet/ha, sementara potensi
populasi dapat mencapai 400-450 pohon/ha sesuai perhitungan
jarak tanam yang umum di perkebunan karet.
Di samping karena kerusakan tanaman karet akibat angin,
kerusakan tanaman karet juga terjadi akibat serangan penyakit.
Di berbagai tempat terlihat adanya tanaman karet yang
menderita penyakit batang dan ditambah dengan penyakit akar
yang turut mengakibatkan mudah patah atau tumbangnya pohon
karet (Gb.8a). Di pembibitan tanaman karet, serangan penyakit
yang terjadi saat curah hujan tinggi mengakibatkan keadaan
bibit yang tidak seragam (Gb.8b). Serangan-serangan penyakit
ini juga diduga terkait dengan keadaan iklim yang bercurah
hujan tinggi dan menjadi tempat yang nyaman bagi bakteri dan
cendawan penyebab penyakit.
(a)

(b)

Gb.8. Serangan penyakit batang pohon karet (anak panah berwarna kuning) dan akar
pohon karet (anak panah berwarna merah) (a), serta keragaan pembibitan tanaman
karet setelah terserang penyakit pada pembibitan (b)

3.4. Siklus Musim dan Fluktuasi Produksi Tanaman Karet


Siklus musim di kebun lokasi studi dalam setahun
mempengaruhi fluktuasi produksi tanaman karet. Puncak
produktivitas tertinggi tanaman karet terjadi pada awal musim
kemarau yaitu pada bulan Mei dan puncak terendah produksi
terjadi pada akhir musim kemarau dan awal musim hujan yaitu
pada bulan Agustus, September dan Oktober (Gb.9) atau
disingkat bulan ASO.
(a)

(b)

Gb.9a. Fluktuasi produksi tanaman karet dalam siklus curah hujan (a) dan
kelembaban udara (b) selama setahun.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa puncak musim kemarau di


kebun lokasi sebetulnya terjadi pada bulan Juni, Juli, dan
Agustus yang diindikasikan dengan curah hujan yang rendah
(Gb.6a) dan frekuensi hari hujan yang tinggi (Gb.6b). Namun
puncak terendah produktivitas agak bergeser dua bulan
setelahnya (Gb.9a), Hal ini diduga terkait respon fisiologis
tanaman karet sendiri yang pada bulan-bulan puncak musim
kemarau (khususnya Juli-Agustus) terjadi pengguguran daun.
Pada bulan Juli saat mulai terjadi pengguguran daun, hasil
fotosintesis pada bulan sebelumnya (Juni) masih cukup
membantu produksi lateks tanaman karet itu sendiri, sedangkan
pada bulan September saat ada pucuk baru (daun muda) hampir

tidak ada simpanan hasil fotosintesis bulan sebelumnya


(Agustus) sehingga tidak mampu membantu produksi lateks.
Di samping penyebab tersebut, ada pula penyebab lain yang
diduga mengakibatkan rendahnya produktivitas pada periode
tersebut, yaitu serangan embun tepung Oidium heveae saat
terbentuknya pucuk baru setelah pengguguran daun (sekitar
akhir Agustus - awal September). Serangan penyakit ini rutin
terjadi di setiap blok (31 blok) lahan tanaman karet pada
periode tersebut sebagaimana terdapat di dalam laporan tahunan
pihak kebun. Penyakit embun tepung Oidium heveae
merupakan penyakit yang cukup dikenal menyerang tanaman
karet di Amerika Latin maupun Asia Tenggara (Limkaisang et
al. 2005) termasuk di Indonesia.
Puncak tertinggi produktivitas lahan tanaman karet (bulan Mei)
terjadi agak bergeser 4 bulan setelah puncak tertinggi musim
hujan (bulan Januari) (Gb.9a). Hal ini diduga terkait dengan
curah hujan yang terlalu tinggi (lebih dari 450 mm) per bulan
kurang optimal bagi produksi karet, di mana saat curah hujan
(Gb.9a) dan kelembaban tinggi (Gb.9b) kadar karet kering
dalam lateks cenderung lebih rendah. Selain itu, pengaruh
efisiensi fotosintesis saat kematangan daun yang terjadi pada
bulan April - Mei turut berperan dalam produktivitas tanaman
karet.
4.Kesimpulan
Curah hujan berpengaruh terhadap produktivitas tanaman
karet. Kabupaten Bogor mempunyai keunikan karena curah
hujannya yang relatif sangat tinggi. Curah hujan yang tinggi ini
mengakibatkan produktivitas tanaman karet di kebun karet yang
terdapat di dalamnya menjadi relatif lebih rendah dibandingkan
produktivitas tingkat Propinsi Jawa Barat meskipun bila
dibandingkan dengan skala nasional masih lebih tinggi.
Selain faktor utama curah hujan yang tinggi, penyebab
produktivitas yang relatif rendah ini juga disebabkan karena
inefisiesi fotosintesis akibat rendahnya intensitas / lama
penyinaran matahari, dan rendahnya populasi tanaman per
hektar akibat rusaknya tanaman karet yang merupakan
pengaruh langsung dari tingginya kecepatan angin selama
hujan. Faktor penyebab lainnya adalah serangan penyakit, yang
selain mempengaruhi produksi karet juga turut mengganggu
pertumbuhan tanaman karet.
Kesemua faktor-faktor penyebab tersebut, ternyata bermuara
pada permasalahan parameter iklim curah hujan yang parameter
iklim lainnya turut terkait. Demikian pula dengan fluktuasi

produksi tanaman karet turut dipengaruhi pula oleh musim yang


dikaitkan pula dengan volume curah hujan yang terjadi setiap
bulannya.
7. Daftar Pustaka
1.

Darmandono. 1995. Pengaruh Komponen Hujan Terhadap Produktivitas Karet.


Jurnal Penelitian Karet, 13(3), 223-238.

2.

Deptan. 2006. Basis Data Statistik Pertanian ( http://database.deptan.go.id/ )

3.

Direktorat Topografi AD. 1955. dalam T. Sopian. 1998. Laporan Keterampilan


Profesi Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian IPB( data sekunder).

4.

P.S. Rao, C.K. Saraswathyamma, M.R. Sethuraj. 1998. Studies on the


Relationship Between Yield and Meteorological Parameters of Para Rubber
Tree (Hevea brasiliensis), Agric. & For. Meteorol, 90(3), 235-245.

5.

S. Limkaisang, S. Kom-un, E.L. Furtado, K.W. Liew, B. Salleh, Y. Sato &


S. Takamatsu. 2005. Molecular Phylogenetic and Morphological Analyses of
Oidium heveae, a Powdery Mildew of Rubber Tree. Myoscience, 46(4), 220226.

6.

S. Raj, G. Das, J. Pothen, S.K. Dey. 2005. Relationship Between Latex Yield of
Hevea brasiliensis and Antecedent Environmental Parameters. Intl J.
Biometeorol, 49 (3), 189-196.

7.

Thomas. 1993. Beberapa Usaha untuk Mengatasi Kerusakan Tanaman Karet


Karena Angin. Warta Perkaretan, 12(2), 27-29.

http://io.ppijepang.org/old/article.php?id=242

PENGARUH UNSUR UNSUR IKLIM DAN FAKTOR


PEMBATAS UTAMA PADA TANAMAN KARET
March 9, 2011 | gtshirtadmin

INTERAKSI KINERJA KLON KARET DENGAN UNSUR UNSUR IKLIM


1. Curah Hujan
Curah hujan minimum bagi tanaman karet adalah 1500 mm/tahun dengan distribusi merata
(Dijkman, 1951 dan William et al. 1980). Secara umum tanaman karet dapat tumbuh dengan
baik pada kisaran curah hujan 1500 3000 mm/tahun dengan distribusi merata. Besarnya
evapotranpirasi atau kebutuhan air tanaman karet adalah setara dengan evaporasi yang diukur
dengan panci klas A atau 3 5 mm per hari untuk kondisi di Indonesia (Haridas, 1985).

Curah hujan 100 150 mm akan dapat mencukupi kebutuhan air tanaman karet selama 1
bulan (Rao dan Vijayakumar, 1992).
Curah hujan yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan pada penyadapan, dan
meningkatkan serangan penyakit. Serangan penyakit gugur daun Collectrichum yang berat
terjadi pada wilayah dengan curah hujan diatas 3000 mm/tahun (Basuki, 1990).
Kekeringan sebaliknya akan menekan pertumbuhan, dan produksi tanaman karet. Pada
penelitian didaerah kering di Dapchari (India) dengan 7 bukan kering per tahunnya, tanaman
karet klon RRIM 600 pada umur 9 tahun hanya dapat mencapai lilit batang 40 cm
(Devakumar et al. 1998). Setelah tanaman masuk matang sadap, produktivitasnya hanya
mencapai 1000 kg/ha/tahun (Vijayakumar, personal communication).
Pengaruh kekeringan terhadap pertumbuhan, dan produksi tanaman karet biasanya
dinyatakan dengan menggunakan suatu indeks yang merupakan rasio antara evapotranpirasi
aktual dengan evapotranspirasi potensial (Ortolani et al. 1998). Rao dan Vijayakumar (1993)
menyatakan bahwa produksi karet menurun secara linear dengan menurunnya ratio antara
evapotranpirasi aktual dengan evapotranspirasi aktual. Karena evapotranpirasi dipengaruhi
oleh faktor tanaman, unsur iklim, dan sifat fisik tanah, suatu program komputer untuk
menghitung neraca air tanaman pada berbagai tekstur tanah akan sangat membantu dalam
mengkuantifikasikan dampak kekeringan.
Thomas (1996) membuat suatu model meraca air tanah secara sederhana dalam bahasa
BASIC untuk keperluan simulasi dampak kekeringan pada tanaman karet. Model tersebut
dapat dijabarkan sebagai berikut :
Eta/Eto = 1 e(-kv)
Dimana

Eta = evapotranpirasi aktual

Eto = evapotranpirasi potensial


K = konstanta, masing masing adalh -7.5, -3.5, -1.5 untuk tekstur tanah lempung berpasir,
lempung berliat, dan liat.
X = fraksi ketersediaan air tanah

Input yang diperlukan adalah tekstur tanah, curah hujan dan evaporasi panci klas A atau
Evapotranspirasi potensial yang ditetapkan secara empiris dengan metode Penman. Dengan
model tersebut, faktor pembatas yaitu curah hujan yang rendah dapat dievaluasi dengan
cepat.
Respon klon terhadap kekeringan juga berbeda. Pada tanaman karet belum menghasilkan,
diketahui bahwa klon RRIM 600, RRIM 501 DAN RRIM 612 lebih toleran terhadap
kekeringan dibandingkan dengan PB 235, RRII 300, GT 1 dan PR 107 (Chandrasekar, 1994).
Hal lain yang menarik adalah klom yang pertumbuhannya tinggi pada kondisi kecukupan air
tidak selalu memiliki pertumbuhan yang baik pada kondisi kekeringan.
2. Suhu Udara
Suhu udara di daratan rendah tropika adalah sekitar 28 0C, dan suhu udara menurun sekitar
0.6 0C untuk setiap kenaikan 100 m (Watson, 1989). Pengaruh suhu secara intensif diteliti di
Cina. Pengaruh suhu udara terhadap pertumbuhan, dan produksi disajikan pada Tabel
berikut :
Tabel pengaruh suhu udara terhadap pertumbuhan dan produksi karet
Suhu udara (0C)

Pengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi

Kerusakan tanaman karena suhu rendah

10

Fotosintesis terhenti

18 24

Optimum untuk aliran lateks

27 33

Optimum untuk fotosintesis

35

Stomata menutup

40

Respirasi tinggi dan laju fotosintesis rendah

Respon klon karet terhadap suhu bervariasi. Hasil penelitian di India menunjukkan bahwa
pada elevasi tinggi (840 m diatas permukaan air laut), klon RRIM 600 merupakan klon yang
baik dan hanya mengalami hambatan pertumbuhan lilitan batang sebesar 10%. Sedangkan

klon lain terhambat pertumbuhannya antara 37 59% dibandingkan pertumbuhan tanaman


pada elevasi rendah.
3. Angin
Angin kencang merupakan kendala bagi pengusaha tanaman karet. Kerusakan tanaman karet
yang ditimbulkan dapat berupa patah cabang, patah cabang maupun tumbang. Pengaruh
angin terhadap kerusakan tanaman karet disajikan pada tabel berikut :
Tabel Pengaruh angin terhadap kerusakan tanaman
Skala angin

Kerusakan tanaman (%)

8(17.2-20.7 m/detik)

2-5

9(20.8-24.4 m/detik)

5-10

10(24.5-28.4 m/detik)

10-16

11(28.5-32.6 m/detik)

16-24

12(32.7-36.6 m/detik)

24-33

13(37.0-41.4 m/detik)

33-45

14(41.5-46.1 m/detik)

45-55

15(46.1-50.9 m/detik)

55-66

16(51-56 m/detik)

66-80

17(56.1-61.2 m/detik)

>80

Pada skala Beaufort 7, biasanya tidak ada kerusakan tanaman, namun pada skala angin 8,
kerusakan terjadi pada klon karet yang peka angin seperti RRIM 600, dan PB 86. Pada skala
angin diatas 10, kerusakan terjadi pada semua klon (Huang dan Zieng, 1985). Santosa, dan
Siregar (1992) melaporkan bahwa klon PR 107 merupakan klon yang paling tahan terhadap
angin di Sumatera Utara kemudian diikuti klon AVROS 2037 dan GT 1.
BEBERAPA FAKTOR PEMBATAS UTAMA

Produktivitas suatu klon merupakan ekspresi dari faktor genetik, faktor lingkungan serta
interaksi faktor genetik dan lingkungan. Hubungan ini menggambarkan, bahwa adanya
perbedaan respon klon pada lingkungan (agroekosistem) yang berbeda. Walaupun tanaman
karet Hevea dikenal sebagai tanaman yang dapat beradaptasi luas pada berbagai kondisi
agroekosistem, namun untuk memperoleh produktivitas optimal diperlukan suatu lingkungan
tumbuh yang sesuai.
Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan kinerja klon di pertanaman komersial
memperlihatkan bahwa, beberapa faktor lingkungan utama yang menjadi kendala (pembatas
produktivitas) dalam optimasi potensi klon, dapat diuraikan sebagai:
1. Curah hujan merupakan salah satu faktor lingkungan yang membatasi
produktivitas karet. Tanaman karet tumbuh ideal pada wilayah yang
memilki kisaran curah hujan 2000-2500 mm/tahun dengan1-2 bulan
kering (Aidi Daslin et al. 1997; Sugiyanto et al. 1998). Oleh karena itu
pengusaha karet untuk tujuan komersial, harus memperhatikan kesesuain
klon yang ditanamam dengan iklim sehingga diperoleh produktivitas
optimal. Pada daerah dengan agroklimat basah (curah hujan > 3500
mm/th, tanpa bulan kering) sangat berpengaruh kepada produktivitas klon
kerana besarnya gangguan penyakit gugur daun, jamur upas dan tidak
normalnya pertumbuhan tanaman. Sedangkan pada daerah yang kering
(< 1500 mm/th)juga sangat mengganggu petumbuhan tanaman karet,
karena akan terjadi defisit air yang tidak mencukupi bagi kebutuhan
tanaman akibat evapotranspirasi yang tinggi (Thomas, 1994).
2. Masalah angin sangat potensial mengganggu tanaman karet. Menurut
Santoso dan Basuki (1990) dan Murdiyarso (1990) kecepatan angin
dengan kisaran 30-50 km/jam sudah mempunyai potensi untuk
menyebabkan patah batang dan cabang bagi klon klon karet yang
memiliki kepekaan terhadap angin akibat sifat dari batang yang rapuh da
tipe percabangan yang berat.
3. Komponen tanah yang menjadi pertimbangan utama adalah ketinggian
tempat (elevasi) dan bentuk muka lahan. Karet sangat optimal
dikembangkan pada daerah dengan ketinggian 0-300 m dari permukaan
laut. Namun sampai ketinggian 600 m masih dapat ditanami dengan
memilih klon klon yang sesuai. Menurut hasil penelitian Darmandono
(1996), bahwa elevasi mempengaruhi produktivitas melalui pengaruhnya
terhadap peningkatan frekuensi hujan. Pada ketinggian 380-700 m dimana
jumlah hari hujan > 175 hari, sudah memberikan pengaruh yang kurang
baik terhadap produktivitas tanaman karet. Demikian juga bentiuk muka
lahan yang datar sampai bergelombang dengan kemiringan 0 16 %
sangat sesuai untuk karet. Tetapi pada daerah bergelombang s.d. sedikit
berbukit dengan kemiringan 17 40 % masih dapat ditanami karet,
namun harus memperlihatkan kesesuaian klon untuk daerah tersebut.
Sedangkan untuk daerah berbukit dengan kemiringan > 40 % sudah tidak
sesusai lagi untuk tanaman karet (Sugiyanto et al. 1998)

4. Masalah gangguan penyakit gugur daun dan cabang merupakan faktor


lingkungan biologi yang sangat mempengaruhi produktivitas tanaman
karet. Respon klon terhadap gangguan penyakit berbeda, tergantung
kepada tingkat resistensinya terhadap suatu penyakit serta kelembaban
udara didaerah penanaman. Menurut Soekirman et al. (1992), bahwa
penyakit gugur daun Oidium, Collectrichum, dll merupakan penyakit
penting yang dapat menimbulkan kerugian besar dalam usaha agribisnis
karet. Klon klon unggulan anjuran memiliki ketahanan genetik yang
berbeda satu sama lain terhadap gangguan penyakit tersebut. Klon klon
yang agak rentan sampai dengan rentan tidak dikembangkan didaerah
lembab yang dapat menimbulkan resiko kerugian akibat gangguan
penyakit secara eksplosif. Klon klon yang agak rentan tetapi potensi
produksinya bagus, dapat dikembangkan didaerah penanaman dengan
agroklimat sedang s.d. kering. Oleh karena itu pemilihan klon dapat
dilakukan dengan menyesuaikan karakteristik resistensi klon dengan
kondisi lingkungan tumbuh di daerah penanamannya.

Tabel Beberapa karakteristik sekunder klon karet anjuran


Klon

BPM 24

BPM 107

BPM 109

IRR 104

PB 217

PB 260

BPM 1

PB 330

PB340

RRIC 100

AVROS 2037

Klon lateks

Klon lateks- kayu

IRR 5

IRR 32

IRR 39

IRR 42

IRR 112

IRR 118

Keterangan : 1 = buruk

A = Ketahanan terhadap angin

2 = kurang

B = Ketahanan terhadap kekeringan alur sadap

3 = sedang

C = Respon terhadap stimulan

4 = baik

D = Resistensi terhadap Oidium

5 = sangat baik

E = Resistensi terhadap Collectrichum


F = Resistensi terhadap Corynespora
G = Resistensi terhadap Jamur Upas

https://gtuneland.wordpress.com/2011/03/09/pengaruh-unsur-unsur-iklim-danfaktor-pembatas-utama-pada-tanaman-karet/
http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=164122&val=4122&title=PENGARUH%20KETINGGIAN%20TEMPAT
%20DAN%20KEMIRINGAN%20LERENG%20TERHADAP%20PRODUKSI%20KARET
%20%28Hevea%20brasiliensis%20Muell.%20Arg.%29%20DI%20KEBUN
%20HAPESONG%20PTPN%20III%20TAPANULI%20SELATAN

MAKALAH AGROKLIMATOLOGI NYA AAN

MAKALAH AGROKLIMATOLOGI
PENGARUH DARI IKLIM TERHADAP TANAMAN KARET

O
L
E
H

NAMA

: ABDUL ARFAN

NIM

: 1209008832

PRODI
GRUP

: AGROEKOTEKHNOLOGI
: A

AGROKLIMATOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA


MEDAN
2013

KATA PENGANTAR

Bissmillahirrahmanirrahim,,

Alhamdulillah

hirobilalamin.

Puji

syukur

kepada Allah SWT atas limpahan karunia Nya sehingga saya sebagai mahasiswa
dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik mungkin. Ucapan terima kasih
saya sampaikan kepada kakanda dosen yang telah membimbing saya dalam
penyelesaian makalah Agroklimatologi ini. Adapun makalah ini merupakan karya
saya yang memiliki kekurangan dan kelebihan yang bisa dikoreksi oleh kakanda
dosen Agroklimatologi. Harapan saya sebagai penulis adalah dengan adanya
makalah ini saya sebagai mahasiswa dapat memenuhi tugas yang telah
diberikan

oleh

kakanda

dosen

kepada

saya.

Dengan

demikian

saya

mengucapkan terima kasih dengan adanya tugas makalah ini saya dapat
memahami pengaruh iklim terhadap tanaman karet, semoga makalah ini dapat
dipertimbangkan pemberian nilainnya.
Medan. 01 Desember 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... i


Daftar isi . ii
PENDAHULUAN... 1
1. Latar Belakang... 1
2. Pengaruh Iklim Terhadap Tanaman karet.... 2
Daftar Pustaka....4

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Tanaman karet (Havea brasiliensis) berasal dari Negara Brazil.
Tanaman ini merupakan sumber utama bahan tanaman karet alam
dunia. Jauh sebelum tanaman karet ini dibudidayakan, penduduk asli di
berbagai tempat seperti : Amerika Serikat, Asia, dan Afrika selatan
menggunakan pohon lain yang juga menghasilkan getah. Getah yang
mirip lateks juga dapat diperoleh dari tanaman Castillaelastica (family
moraceae). Sekarang tanaman tersebut kurang dimanfaatkan lagi
getahnya karena tanaman karet telah dikenal secara luas dan banyak
dibudidayakan.

Sebagai

penghasil

lateks

tanaman

karet

dapat

dikatakan satu-satunya tanaman yang dikebunkan secara besarbesaran (Nazarudin, 1992).


Pohon karet pertama kali hanya tumbuh di Amerika Selatan,
namun setelah percobaan berkali-kali oleh Henry Wickham, pohon ini
berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, dimana sekarang ini tanaman
ini banyak dikembangkan, sekarang Asia merupakan sumber karet
alami. Tanaman karet memiliki sifat gugur daun sebagai respon
tanaman pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan
(kekurangan air/kemarau).
Pada saat ini sebaiknnya penggunaan stimulan dihindarkan. Daun
ini akan tumbuh kembali pada awal musim hujan. Tanaman karet juga
memiliki

sistem perakaran yang ekstensif/menyebar cukup

luas

sehingga tanaman karet dapat tumbuh pada kondisi lahan yang kurang
menguntungkan. Akar ini juga digunakan untuk menyeleksi klon-klon
yang dapat digunakan sebagai batang bawah pada perbanyakan
tanaman karet. Tanaman karet memiliki massa belum menghasilkan
selama lima tahun (masa TBM 5 tahun) dan sudah mulai dapat disadap

pada awal tahun keenam. Secara ekonomis tanaman karet dapat


disadap selama 15 sampai 20 tahun (Setiawan, 2005).

2. Pengaruh Iklim Terhadap Tanaman karet


Secara garis besar tanaman karet dapat tumbuh baik pada kondisi iklim
sebagai berikut : suhu rata-rata harian 28 0C (dengan kisaran 25-350C) dan curah
hujan tahunan rata-rata antara 2.500-4.000 mm dengan hari hujan mencapai
150 hari per tahun. Pada daerah yang sering turun hujan pada pagi hari akan
mempengaruhi kegiatan penyadapan. Daerah yang sering mengalami hujan
pada pagi hari produksinya akan kurang. Keadaan daerah di Indonesia yang
cocok untuk pertanaman karet adalah daerah- daerah Indonesia bagian barat,
yaitu Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, sebab iklimnya lebih basah.
Tanaman karet tumbuh dengan baik pada daerah tropis. Daerah yang
cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 15 oLS dan 15oLU. Bila
ditanam di luar zona tersebut, pertumbuhannya agak lambat, sehingga memulai
produksinya pun lebih lambat, sehingga memulai produksinya pun lebih lambat.
Tanaman karet tumbuh optimal didataran rendah, yakni pada ketinggian sampai
200 meter diatas permukaan laut. Makin tinggi letak tempat, pertumbuhannya
makin lambat dan hasilnya lebih rendah. Ketinggian lebih dari 600 meter dari
permukaan laut tidak cocok lagi untuk tanaman karet.
Angin juga dapat mempengaruhi pertumbuhan pertanaman karet, angin
yang kencang dapat mematahkan tajuk tanaman. Di daerah berangin kencang
dianjurkan untuk ditanami penahan angin di sekeliling kebun. Selain itu angin
menyebabkan kelembapan udara di sekitar tanaman menipis. Dengan keadaan
demikian akan memperlemah turgor tanaman. Tekanan turgor yang lemah
berpengaruh terhadap keluarnya lateks pada waktu sadap, walaupun tidak
berpengaruh

nyata, tetapi angin akan berpengaruh terhadap jumlah produksi

yang diperoleh. Seperti halnya dengan tanaman lain, karet membutuhkan


persediaan air yang cukup bagi pertumbuhannya. Air diperoleh dari tanah
berasal dari hujan. Air hujan sebagian akan diserap oleh tanah, sebagian
diuapkan dan sisanya mengalir diatas permukaan tanah. Jumlah air dalam tanah
yang tersedia bagi tanaman selain ditentukan oleh jenis tanah juga oleh curah
hujan.
Karet membutuhkan curah hujan minimum 1500 mm per tahun dengan
jumlah hari hujan 100-150 hari. Curah hujan optimum bagi karet 2500-4000 mm.
Di beberapa tempat karet masih dapat hidup dengan baik pada curah hujan
5000-6000

mm.

Hujan

selain

bermanfaat

bagi

pertumbuhan

karet

ada

hubungannya dengan pemungutan hasil, terutama jumlah hari hujan sering

turun pada pagi hari. Daerah dengan jumlah hari hujan yang terlalu banyak akan
mengganggu dalam penyadapan, apalagi bila hujan sering turun pada pagi hari.
Oleh karena itu jumlah hari hujan dan waktu hujan turun ada suatu pengalaman
yang cuku berharga. Bila setelah beberapa hari panas terik, kemudian turun
hujan lebat pada sore hari selama dua sampai tiga jam, keesokan harinnya dapat
diharapkan produksi akan tinggi.
Unsur iklim lainnya yang perlu diperhatikan ialah angin. Angin kencang
dapat mematahkan tajuk karet. Di daerah berangin kencang di anjurkan untuk
ditanam penahan angin di sekeliling kebun. Angin berpengaruh pula terhadap
kelembapan

sekitar

tanaman.

Angin

bertiup

akan

membawa

uap

air,

menyebabkan uap air sekitar tanaman menipis. Keadaan demikian mempercepat


penguapan dari tanaman. Penguapan ini akan memperlemah turgor dalam
tanaman. Tekanan turgor yang lemah berpengaruh terhadap keluarnya lateks
pada waktu disadap. Walaupun mungkin tidak berpengaruh terhadap jumlah
produksi yang diperoleh.
Erat hubungannya dengan kedua unsur iklim tersebut ialah tinggi tempat.
Karet tumbuh baik antara 0-600 meter. Di atas permukaan laut lebih dari 600
meter tidak dianjurkan, paling baik antara 0-200 meter. Di atas 200 meter, setiap
naik 100 meter matang sadap akan terlambat enam bulan. Tinggi tempat
berhubungan erat dengan suhu. Di dataran rendah (0-200 meter), suhu rata-rata
280C, setiap naik 100 meter temperature akan turun 0,50C. Kecepatan angin
maksimum kurang atau sama dengan 30 km/jam.

Daftar Pustaka
Nazaruddin. 1998. Karet. Penerbit Penebar Swadaya : Jakarta.
Setiawan. 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Penerbit Agromedia Pustaka :
Jakarta.
Haryanto, B. 2012. Budidaya Karet Unggul. Penerbit Pustaka Baru : Yogyakarta.