Anda di halaman 1dari 31

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini menjelaskan tentang beberapa konsep dasar yang akan
digunakan sebagai acuan yang meliputi: (1) konsep pengetahuan, (2) konsep
masyarakat, (3) konsep filariasis, (4) kerangka konsep.
2.1 Konsep Dasar Pengetahuan
2.1.1 Pengertian pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari "Tahu" dan ini terjadi setelah
orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan
umumnya datang dari pengindraan manusia, yaitu: indra penglihatan, pendengar,
pencium, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata
dan telinga (Notoatmodjo, 2007).
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan adalah apa
yang kita ketahui didasarkan pada panca indera dan menghasilkan sebuah
pengetahuan.
2.1.2 Tingkat pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan mempunyai enam tingkat,
yaitu :
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah di pelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall ) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang di
pelajari atau ransangan yang diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang

tahu tentang apa yang di pelajari antara lain menyebutkan, menguraikan,


mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut, Orang yang telah paham terhadap objek dapat menjelaskan dan
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap
objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi dapat diartikan sebagai
aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, konsep dan sebagainya
dalam konteks atau situasi yang lain.
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan dalam menjabarkan materi atau suatu objek
ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan
masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini hanya dapat dilihat
dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan),
membedakan, memisahkan, mengelompokan, dan sebagainya.
5. Sintetis (synthetis)
Sintetis

menunjukan

kepada

suatu

kemampuan

meletakkan

atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan baru. Dengan


kata lain sintetis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada.

6. Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek penilaian-penilaian itu didasarkan pada
suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang
telah ada.
2.1.3 Tahap/ Proses Penelitian Pengetahuan
1. Awarness ( kesadaran )
Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu
terhadap stimulus.
2. Interest (merasa tertarik)
Dimana seorangg mulai merasa tertarik terhadap stimulus/ objek tersebut.
Di sini sikap objek mulai timbul.
3. Evaluation (menimbang-nimbang)
Dimana seorang mulai menimbanh-nimbang terhadap baik tidaknya
stimulus tersebut bagi sirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik.
4. Trial (mencoba)
Dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
5. Adoption
Dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus (Notoatmodjo 2003:121).

2.1.4

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

1. Umur
Umur/usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang.
Semakin bertambah usia maka akan semakin berkembang pula daya tangkap dan
pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik
(ProHealt,17 Juni 2013).
2. Intelegensi
Intelegensi diartikan sebagai kemampuan untuk belajar dan berfikir abstrak
guna menyesuaikan diri secara mental dalam situasi baru. Intelegensi merupakan
salah satu factor yang mempengaruhi hasil dari proses belajar. Intelegensi
merupakan salah satu modal berfikir dan mengolah berbagai informasi secara
terarah sehingga ia mampu menguasai lingkungan (Khayan, 1997:34).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan intelegensi dari
seseorang akan berpengaruh pula terhadap tingkat pengetahuan.
3. Lingkungan
Lingkungan adalah sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik,
biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya
pengetahuan ke dalam individu yang berada di dalam lingkungan tersebut (Pro
Healt, 17 Juni 2013).
4. Social Budaya
Social budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang. Seseorang
memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungannya dengan orang lain, karena
hubungan ini seseorang mengalami suatu proses belajar dan memperoleh suatu
penglihatan.

10

5. Informasi
Informasi yang diperoleh dari pendidikan formal dan non formal dapat
memberikan pengaruh jangka pendek ( immediate impact) sehingga menghasilkan
perubahan atau peningkatan pengetahuan (Pro Healt, 17 Juni 2013).
6. Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain
terhadap suatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa
semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah pula mereka
menerima informasi ( Mubarak, 2007).
7. Minat
Minat sebagai suatu kencenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap
sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal
yang pada akhirnya di peroleh pengetahuan yang lebih mendalam (Mubarak,
2007).
8. Pekerjaan
Menurut Notoadmojo 2003 yang menyatakan bahwa adanya informasi baru
mengenai suatu hal memberikan landasan kognitif yang dibawa oleh informasi
tersebut. Apabila sikap kuat akan memberi dasar objektif dalam menilai suatu hal,
sehingga terbentuk kearah sifat tertentu. Tetapi pada penelitian ini bertolak
belakang dengan teori tersebut, karena pada responden yang bekerja sebagai
buruh masih banyak memiliki pengetahuan yang kurang.

11

2.1.5 Pengukuran Pengetahuan


Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur di subjek penelitian atau
responden (Notoatmodjo, 2007).
Pengukuran

pengetahuan

dapat

dilakukan

dengan

memberikan

seperangkat alat tes/ kuesioner tentang object pengetahuan yang mau diukur dari
subjek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin kita ketahui
atau kita ukur dapat kita sesuaikan.
Selanjutnya dilakukan penilaian dimana setiap jawaban benar dari masingmasing pertanyaan di beri nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0. Penilaian dilakukan
dengan cara membandingkan jumlah skor jawaban dengan skor yang diharapkan
(tertinggi) kemudian dikalikan 100% dan hasilnya berupa prosentase dengan
rumusan yang di gunakan sebagai berikut:
Nilai :
=

100%

Keterangan :
N = Nilai pengetahuan
Sp = Skor yang didapat
Sm = Skor tertinggi maksimum
Selanjutnya persentase jawaban diinterprestasikan dalam kalimat kualitatif
dengan acuan sebagai berikut :
1) Baik : Nilai = 76- 100%
2) Cukup : Nilai = 56-75%
3) Kurang : Nilai = 40- 55% (Notoatmodjo, 2007).

12

2.2

Konsep Masyarakat

2.2.1 Definisi Masyarakat


Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, atau dengan
istilah lain saling berinteraksi. Kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut
suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu
rasa identitas bersama (Kontjaraningrat:1990).
Masyarakat atau komuitas adalah menunjuk pada bagian masyarakat yang
bertempat tinggal di suatu wilayah (dalam arti geografi) dengan batas-batas
tertentu, dimana yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar dari
anggota-anggotanya, dibandingkan dengan penduduk di luar batas wilayahnya
(Soerdjoni Soekanto: 1982).
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang mendiami teritorial tertentu
dan adanya sifat-sifat yang saling tergantung, adanya pembagian kerja dan
kebudayaan bersama (Mac Iaver:1957).
Masyarakat merupakan sekelompok manusia yang telah cukup lama hidup
dan bekerja sama, sehingga dapat mengorganisasikan diri dan berfikir tentang
dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu (Linton: 1936).
2.2.2 Ciri Masyarakat
Dari berbagai pengertian masyarakat di atas maka dapat disimpulkan
bahwa masyarakat itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Interaksi
Di dalam masyarakat terjadi interaksi sosial yang dinamis yang menyangkut
hubungan antara perseorangan, antara kelompok-kelompok maupun antara

13

perseorangan dan kelompok, untuk terjadinya interaksi social harus memiliki dua
syarat, yaitu kontak sosial dan komunikasi.
2. Wilayah Tertentu
Suatu kelompok masyarakat menempati suatu wilayah tertentu menurut suatu
keadaan geografis sebagai tempat tinggal komunitasnya, baik dalam ruang
lingkup yang kecil RT/ RW, desa kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan
bahkan Negara.
3. Saling Ketergantungan
Anggota masyarakat yang hidup pada suatu wilayah tertentu saling tergantung
satu denagn lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tiap-tiap anggota
masyarakat mempunyai keterampilan sesuai dengan kemampuan dan profesi
masing-masing. Mereka hidup saling melengkapi, saling memenuhi agar tetap
berhasil dalam kehidupannya.
4. Adat Istiadat dan Kebudayaan
Adat istiadat diciptakan untuk mengatur tatanan kehidupan bermasyarakat,
yang mencakup bidang yang sangat luas di antara tata cara berinteraksi antara
kelompok-kelompok yang ada di masyarakat, apakah itu dalam perkawinan,
kesenian, mata pencaharian, sistem kekerabatan dan sebagainya.
5. Identitas
Suatu kelompok masyarakat memiliki identitas yang dapat dikenali oleh
anggota masyarakat lainnya, hal ini penting untuk menopang kehidupan dalam
bermasyarakat yang lebih luas. Identitas kelompok dapat berupa lambanglambang bahasa, pakaian, simbol-simbol tertentu dari perumahan, benda-benda

14

tertentu seperti alat pertanian, mata uang, senjata tajam, kepercayaan dan
sebagainya (Nasrul Effendi:1997).
2.2.3 Tipe-tipe Masyarakat
Menurut Gilin and Gilin lembaga masyarakat dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
1. Dilihat dari Sudut Perkembangannya
A. Cresive Institution
Lembaga masyarakat yang paling primer, merupakan lembaga-lembaga
yang secara tidak sengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat, misalnya
yang menyangkut hak milik, perkawinan, agama dan sebagainya.
B. Enacted Institution
Lembaga kemasyarakatan yang sengaja dibentuk untuk memenuhi tujuan
tertentu, misalnya yang menyangkut lembaga utang-piutang, lembaga
perdagangan, pertanian, pendidikan yang semuanya berakar kepada
kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat. Pengalaman-pengalaman dalam
melaksanakan kebiasaan-kebiasaan tersebut disistematisasi, yang kemudian
dituangkan ke dalam lembaga-lembaga yang disahkan oleh Negara.
2. Dari Sudut Sistem Nilai yang Diterima oleh Masyarakat
A. Basic Institution
Adalah kemasyarakatan yang sangat penting untuk memelihara dan
mempertahankan tata tertib dalam masyarakat, di antaranya keluarga,
sekolah-sekolah yang dianggap sebagai institusi dasar yang pokok.

15

B. Subsidiary Institution
Lembaga-lembaga kemasyarakatan yang muncul tetapi dianggap kurang
penting, karena untuk memenuhi kegiatan-kegiatan tertentu saja. Misalnya
pembentukan panitia rekreasi, pelantikan/wisuda bersama dan sebagainya.
3. Dari Sudut Penerimaan Masyarakat
A. Approved atau Social Sanctioned Institution
Adalah lembaga yang diterima oleh masyarakat seperti sekolah,
perusahaan, koperasi, dan sebagainya.
2. Unsanctioned Institution
Adalah lembaga-lembaga masyarakat yang ditolak oleh masyarakat,
walaupun kadang-kadang masyarakat tidak dapat memberantasnya, misalnya
kelompok penjahat, pemeras, pelacur, gelandangan dan pengemis dan lainlain.
4. Dari Sudut Penyebarannya
A. General Institution
Adalah lembaga masyarakat didasarkan atas faktor penyebarannya.
Misalnya agama karena dikenal hampir semua masyarakat dunia.
B. Restricted Institution
Adalah lembaga-lembaga agama yang dianut oleh masyarakat tertentu
saja, misalnya Budha banyak dianut oleh Muangthai, Vietnam, Kristen
Katholik banyak dianut oleh masyarakat Itali, Prancis, Islam oleh masyarakat
Arab dan sebagainya.

16

5. Dari Sudut Fungsi


A. Operative Institution
Adalah lembaga masyarakat yang menghimpun pola-pola atau tata cara
yang diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan, seperti
lembaga industri.
B. Regulative Institution
Adalah lembaga yang bertujuan untuk mengawasi adat istiadat atau tata
kelakuan yang tidak menjadi bagian mutlak daripada lembaga itu sendri,
misalnya lembaga hukum diantaranya kejaksaan, pengadilan dan sebagainya.
2.2.4 Ciri Masyarakat Indonesia
Dilihat dari struktur sosial dan kebudayaan masyarakat Indonesia dibagi
dalam 3 kategori dengan ciri-ciri sebagai berikut:
A. Masyarakat desa memiliki 8 ciri sebagai berikut, yaitu:
1. Hubungan keluarga dan masyarakat sangat kuat,
2. hubungan didasarkan kepada adat-istiadat yang kuat sebagai organisasi
sosial,
3. percaya kepada kekuatan-kekuatan gaib,
4. tingkat buta huruf relatif tinggi,
5. berlaku hukum tidak tertulis yang intinya diketahui dan dipahami oleh
setiap orang,
6. tidak ada lembaga pendidikan khusus di bidang tekhnologi dan
keterampilan diwariskan oleh orang tua langsung kepada keturunannya,

17

7. sistem ekonomi sebagian besar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan


keluarga dan sebagian kecil dijual di pasaran untuk memenuhi kebutuhan
lainnya,
8. semangat gotong royong dalam bidang sosial ekonomi sangat kuat.
B. Masyarakat madya memiliki 8 ciri sebagai berikut, yaitu:
1. Hubungan keluarga masih tetap kuat, dan hubungan kemasyarakatan mulai
mengendor,
2. adat istiadat masih dihormati, dan sikap masyarakat mulai terbuka dari
pengaruh luar,
3. timbul rasionalitas pada cara berfikir, sehingga kepercayaan terhadap
kekuatan-kekuatan gaib mulai berkurang dan akan timbul kembali apabila
telah kehabisan akal,
4. timbul pendidikan formal dalam masyarakat terutama pendidikan dasar
dan menengah,
5. tingkat buta huruf sudah mulai menurun,
6. hukum tertulis mulai mendampingi hukum tidak tertulis,
7. ekonomi masyarakat lebih banyak mengarah kepada produksi pasaran,
sehingga menimbulkan diferensiasi dalam struktur masyarakat karenanya
uang semakin meningkat penggunaannya,
8. gotong royong tradisional tinggal untuk keperluan sosial di kalangan
keluarga dan tetangga. kegiatan-kegiatan lainnya didasarkan upah.
C. Ciri masyarakat modern memiliki 7 ciri sebagia berikut, yaitu:
1. Hubungan antar manusia didasarkan atas kepentingan-kepentingan
pribadi,

18

2. hubungan antar masyarakat dilakukan secara terbuka dalam suasana saling


pengaruh dan mempengaruhi,
3. kepercayaan masyarakat yang kuat terhadap manfaat ilmu pengetahuan
dan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat,
4. strata masyarakat digolongkan menurut profesi dan keahlian yang dapat
dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga-lembaga keterampilan dan
kejuruan,
5. tingkat pendidikan formal tinggi dan merata,
6. hukum yang berlaku adalah hukum tertulis yang kompleks,
7. ekonomi hampir seluruhnya ekonomi pasar yang didasarkan atas
penggunaan uang dan alat pembayaran lainnya.

2.3

Konsep Filariasis

2.3.1 Pengertian Filarisis


Filariasis atau dengan nama lain penyakit kaki gajah termasuk salah satu
jenis penyakit yang mendapat perhatian khusus di dunia kesehatan. Walaupun
jarang menyebabkan kematian, pada stadium lanjut penyakit ini dapat menjadikan
seseorang menderita cacat fisik permanen (DEPKES RI, 2008)
Filariasis atau penyakit kaki gajah merupakan penyakit menular yang
mengenai saluran kalenjar limfe (getah bening) disebabkan oleh cacing filaria dan
ditularkan oleh serangga. Penyakit ini juga menyerang semua umur dan bersifat
menahun. Jika seseorang terkena penyakit ini dan tidak mendapatkan pengobatan

19

sedini mungkin maka dapat menimbulkan cacat permanen berupa pembesaran


kaki, lengan, buah dada dan alat kelamin (Mohd Hasrul Sidek, 2008).
2.3.2 Penyebab Filariasis
Filariasis di Indonesia disebabkan oleh 3 spesises cacing filaria, yaitu:
1. Whucereria bancrofti
2. Brugia malayi
3. Brugia timori
Microfilaria mempunyai perioditas tertentu, artinya, microfilaria berada di
darah tepi pada waktu-waktu tertentu saja. Misalnya pada W. Bancrofti bersifat
periodik nokturna. Artinya, microfilaria banyak terdapat di dalam darah tepi pada
malam hari, sedangkan pada siang hari banyak terdapat di kapiler organ dalam
seperti paru, jantung dan ginjal.
Daerah endemis filariasis pada umumnya adalah daerah dataran rendah,
terutama pedesaan, pantai, pedalaman, persawahan, rawa-rawa dan hutan. Secara
epidemiolgi cacing filaria dibagi menjadi 6 tipe, yaitu:
1. Wuchereria bancrotti tipe perkotaan (urban).
Ditemukan di daerah perkotaan seperti Jakarta, bekasi, tangerang,
semarang, pekalongan dan sekitarnya yang memilki periodisitas nokturna,
ditularkan oleh nyamuk culex quinquefasciatus yang berkembang biak di
dalam air limbah rumah tangga.
2. Wuchereria bancrofti tipe pedesaan (rural)
Ditemukan di daerah pedesaan di luar pulau jawa, terutama
tersebar luas di Papua dan Nusa Tenggara Timur. Mempunyai periodisitas

20

nokturna yang ditularkan melalui berbagai spesies nyamuk anopheles,


culex dan aedes.
3. Brugia malayi tipe periodic nokturna
Microfilaria ditemuka di darah tepi pada malam hari. Nyamuk
penularannya adalah anopheles

barbirotis yang ditemukan di daerah

persawahan.
4. Brugia malayi tipe subperiodik nokturna
Microfilaria ditemukan di darah tepi pada siang hari dan malam
hari, tetapi lebih banyak ditemukan pada malam hari. Nyamuk
penularannya adalah mansonia spp yang ditemukan di daerah rawa.
5. Brugia malayi tipe non periodic
Microfilaria ditemukan di darah tepi baik malam maupun siang
hari. Nyamuk penularannya adalah mansosnia bonnease dan mansonia
uniformis yang ditemukan di hutan rimba.
6. Brugia timori tipe periodic nokturna
Microfilaria ditemukan di darah tepi pada malam hari. Nyamuk
penularannya adalah anopheles barbirotis yang ditemukan di daerah
persawahan

di

Nusa

Tenggara

Timur,

dan

Maluku

Gambar 2.1 jenis cacing penyebab filariasis (kaki gajah)

Tenggara.

21

2.3.3 Vektor filariasis


Di Indonesia hingga saat ini telah teridentifikasi 23 spesies nyamuk dari 5
genus yaitu: mansonia, anopheles, culex, aedes dan armigeres yang menjadi
vector filariasis. Sepuluh spesies nyamuk anopheles diidentifikasi sebagai vector
wuchereria bancrofti tipe pedesaan. Culex quinquefasciatus merupakan vector
wuchereria bancrofti tipe perkotaan. Enam spesies mansonia merupakan vector
brugia malayi. Di Indonesia bagian timur, mansonia dan anopheles barbirostris
merupakan vector filariasis yang penting. Beberapa spesies mansonia dapat
menjadi vektor Brugia malayi tipe sub periodic nokturna. Sementara anopheles
barbirotis merupakan vector penting terhadap brugia timori yang terdapat di Nusa
Tenggara Timur dan Kepulauan Maluku Selatan.
2.3.4 Hospes
A. Manusia
Pada dasarnya setiap orang dapat tertular filariasis apabila digigit oleh
nyamuk infektif (mengandung larva stadium 3). Nyamuk infektif mendapat
microfilaria dari pengidap, baik pengidap dengan gejala klinis maupun pengidap
yang tidak menunjukkan gejala klinis. Pada daerah endemis filariasis, tidak semua
orang terinfeksi filariasis dan tidak semua orang yang menunjukkan gejala klinis.
Seseorang yang terinfeksi filariasis tetapi belum menunjukkan gejala klinis
biasanya sudah terjadi perubahan-perubahan patologis di dalam tubuhnya.
Penduduk pendatang pada suatu daerah endemis filariasis mempunyai
resiko terinfeksi filariasis lebih besar dari pada penduduk asli. Penduduk
pendatang dari daerah non endemis ke daerah endemis, misalnya transmigran,

22

walaupun pada pemeriksaan darah jari belum atau sedikit mengandung


microfilaria. Akan tetapi sudah menunjukkan gejala klinis yang lebih berat.
B. Hewan
Beberapa jenis hewan dapat berperan sebagai sumber penularan filariasis.
Dari semua spesies cacing filarial yang menginfeksi manusia di Indonesia, hanya
brugia malayi tipe sub periodic nokturna dan non periodic yang ditemukan pada
lutung, kera dan kucing. Pengendalian filariasis pada hewan reservoir ini tidak
mudah, oleh karena itu juga akan menyulitkan pemberantasan filariasis pada
manusia.
2.3.5 Karakteristik Lingkungan
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap distribusi kasus filariasis dan
mata rantai penularannya. Biasanya daerah endemis Brugia malayi adalah daerah
dengan hutan rawa, sepanjang sungai atau badan air lain yang ditumbuhi tanaman
air. Sedangkan daerah endemis wuchereria bancrofti tipe perkotaan adalah
daerah-daerah perkotaan yang kumuh, padat penduduknya dan banyak genangan
air kotor sebagai habitat dari vector yaitu nyamuk culex quinquefasciatus.
Sedangkan daerah endemis wuchereria bancrofti tipe pedesaan secara umum
kondisi lingkungannya sama daerah endemis brugia malayi.
Secara umum lingkungan dapat di bedakan menjadi lingkungan fisik,
lingkungan biologic dan lingkungan social, ekonomi, dan budaya.
A.

Lingkungan fisik
Linkungan fisik mencakup antara lain keadaan iklim, keadaan geografis,

struktur geologi dan sebagainya. Lingkungan fisik erat kaitannya dengan


kehidupan vector, sehingga berpengaruh terhadap munculnya sumber-sumber

23

penularan filariasis. Lingkungan fisik dapat menciptakan tempat-tempat


perindukan dan beristirahtnya nyamuk. Suhu dan kelembapan berpengaruh
terhadap pertumbuhan, masa hidup serta keberadaan nyamuk. Lingkungan dengan
tumbuhan air di rawa-rawa dan adanya hospes reservior berpengaruh terhadap
penyebaran B. malayi sub periodic nokturna dan non periodic.
B.

Lingkungan biologic
Lingkungan biologic dapat menjadi rantai penularan filariasis. Contoh

lingkungan biologic adalah adanya tanaman air sebagai tempat pertumbuhan


nyamuk mansonia spp.
C.

Lingkungan social, ekonomi dan budaya


Lingkungan social, ekonomi dan budaya adalah lingkungan yang timbul

sebagai akibat adanya interaksi antar manusia termasuk perilaku, adat istiadat,
budaya, kebiasaan dan tradisi penduduk. Kebiasaan bekerja di kebun pada malam
hari atau kebiasaan keluar pada malam hari, atau kebiasaan tidur perlu
diperhatikan karena berkaitan dengan intensitas kontak dengan vector. Insiden
pada laki-laki lebih tinggi daripada insiden filariasis perempuan karena umumnya
laki-laki lebih sering kontak dengan vector karena pekerjaannya.

24

2.3.6 Rantai penularan filariasis


Penularan filariasis dapat terjadi bila ada 3 unsur, yaitu:
1. Adanya sumber penularan, yakni manusia atau hospes reservior yang
mengandung microfilaria dalam darahnya
2. Adanya vector, yakni nyamuk yang dapat menularkan filariasis
3. Manusia yang rentan dengan filariasis

Gambar 2.2 Rantai perkembangan hidup cacing filariasis

2.3.7 Patologi
Gejala klinis filariasis malayi sama dengan gejala klinis filariasis timori.
Gejala klinis kedua penyakit tersebut berbeda dengan gejala klinis filariasis
bankrofti. Stadium akut ditandai dengan serangan demam dan peradangan saluran
limfe dan kelenjar limfe. Limfedianitis biasanya mengenai kelenjar limfe inguinal
di satu sisi dan peradangan ini sering timbul setelah penderita bekerja berat di
ladang atau sawah. Limfedenitis biasanya berlangsung 2-5 hari dan dapat sembuh
tanpa pengobatan. Kadang-kadang peradangan pada kelenjar limfe ini menjalar ke

25

bawah, mengenai saluran limfe dan menimbulkan limfangitis retrogard, yang


bersifat has untuk filariasis. Peradangan pada saluran limfe ini dapat terlihat
sebagai garis merah yang menjalar ke bawah dan peradangan ini dapat pula
menjalar ke jaringan sekitarnya, sehingga menimbulkan infiltrasi pada saluran
paha atas.
Pada stadium ini tungkai bawah biasanya ikut membegkak dan
menimbulkan gejala limfedema. Limfedenitis dapat pula berkembang menjadi
bisul, pecah menjadi ulkus. Ulkus pada pangkal paha ini, bila sembuh
meninggalkan bekas sebagai jaringan parut dan tanda ini merupakan salah satu
gejala obyektif filariasis limfatik. Limfedenitis dengan gejala komplikasisnya
dapat berlangsung beberapa minggu sampai tiga bulan lamanya. Pada filariasis
brugia, system limfe alat kelamin tidak pernah terkena, berbeda dengan filariasis
bancrofti. Limfedema biasanya hilang lagi setelah gejala peradangan sembuh,
sehingga timbullah elephantiasis. Selain kelenjar limfe inguinal, kelenjar limfe
lain di bagian medial tungkai, di ketiak dan di bagian medial lengan juga sering
terkena. Pada filariasis brugia, elefentiasis hanya mengenai tungkai bawah, di
bawah lutut atau kadang-kadang lengan bawah di bawah siku. Alat kelamin dan
payudara tidak pernah terkena, kecuali di daerah filariasis brugia yang bersamaan
dengan filariasis bankrofti. Kiluria bukan merupakan gejala klinis filarial brugia
(Departemen Parasitologi FKUI, 2008).
2.3.9 Tanda dan Gejala peradangan umum
Gejala peradanagan umum berupa demam, sakit kepala, sakit otot, rasa
lemah dan lain-lainnya. Gejala klinis filariasis terdiri dari gejala klinis akut dan
gejala klinis kronis. Pada dasarnya gejala klinis filariasis yang disebabkan oleh

26

infeksi W. Bancroft, B. malayi, dan B. timori adalah sama, tetapi gejala klinis akut
tampak lebih jelas dan lebih berat pada infeksi oleh B. malayi dan B. timori.
Infeksi W. bancrofti dapat menyebabkan kelainan pada saluran kemih dan alat
kelamin, tetapi infeksi oleh B. malayi dan B. timori tidak menimbulkan kelainan
pada saluran kemih dan alat kelamin.
A. Gejala klinis akut dapat berupa:
-

Limfadenitis yaitu kondisi medis yang ditandai dengan kelejar getah


bening yang keras, membengkak dan nyeri, biasanya di daerah leher,
ketiak dan lipat paha

Limfangitis adalah kondisi medis yang ditandai dengan goresan


berwarna merah yang teraba hangat dan nyeri yang berasal dari daerah
yang terinfeksi ke daerah ketiak atau lipat paha

Adenomelimfangitis yang disertai demam, sakit kepala, rasa lemah dan


timbulnya abses

B. Gejala kilins kronis dapat berupa:


-

Limfadema adalah kondisi medis yang ditandai dengan pembengkakan


pada salah satu lengan atau tungkai.

Lymph scrotum adalah Pembengkakan pada skrotum biasanya


disebabkan oleh varikokel pembuluh variks yang mengelilingi testis

Kiluria adalah kebocoran/pecahnya saluran limfe dan pembuluh darah


di ginjal (pelvis renal) oleh cacing filaria dewasa species w.brancrotti
sehingga cairan limfe dan darah masuk ke dalam saluran kemih

27

Hidrokel yaitu kondisi medis yang ditandai dengan adanya carian yang
mengisi kantung di sekitar satu atau kedua testis yang menyebabkan
skrotum tampak membesar, tidak nyeri.

Gambar 2.3 Beberapa penderita yang terinfeksi penyakit kaki gajah yang
sudah kronis

2.3.10 Penentuan stadium limfedema


Limfedema terbagi dalam 7 stadium atas dasar hilang tidaknya bengkak,
ada tidaknya bengkak lipatan kulit, ada tidakya nodul, mossy foot (gambaran
seperti lumut), serta adanya hambatan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari.
Penentuan stadium ini penting bagi penentuan stadium ini penting bagi petugas

28

kesehatan untuk memberikan perawatan dan penyuluhan yang tepat kepada


penderita.
Penentuan stadium limfadema mengikuti criteria sebagai berikut:
1. Penentuan stadium limfedema terpisan antara anggota tubuh bagian kiri
dan kanan, lengan dan tungkai
2. Penentuan stadium limfedema lengan (atas, bawah) atau tungkai (atas,
bawah) dalam satu sisi, dibuat dalam satu stadium limfedema.
3. Penentuan stadium limfedema berpihak pada tanda stadium yang terberat
4. Penentuan stadium limfedema dibuat 30 hari setelah serangan akut
sembuh
5. Penentuan stadium limfedema dibuat sebelum dan sesudah pengobatan
dan penatalaksanaan kasus

29

Gejala

1 Bengkak di kaki

Std 1

Std 2

Std 3

Std 4

Std 5

Std 6

Std 7

Menghilang waktu
bangun tidur pagi

Menetap

Menetap

Menetap

Menetap, meluas

Menetap, meluas

Menetap,
meluas

Lipatan kulit

Tidak ada

Tidak
ada

Dangkal

Dangkal

Dalam, kadang
dangkal

Nodul

Tidak ada

Tidak
ada

Tidak ada

Ada

Kadang-kadang

Kadang-kadang

Kadang-kadang

Mossy lesions

Tidak ada

Tidak
ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Ada

Kadang-kadang

Hambatan berat

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

ya

Tabel : 2.1 klasifikasi stadium limfadema

Dangkal, dalam Dangkal, dalam

30

2.3.11 Diagnosis
Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis, hipereosinofilia, peningkatan
kadar IgE yang tinggi, peningkatan zat anti terhadap microfilaria dan gambaran
rongten paru.
Konfirmasi diagnosis tersebut adalah dengan menemukan benda Meyers
Kouwenaar pada sediaan biopsy atau dengan melihat perbaikan gejala setelah
pengobatan DEC ( Departemen Parasitologi FKUI, 2008).
2.3.12 Tatalaksana Kasus Klinis Filariasis
Tatalaksana kasus klinis filariasis terdiri dari pengobatan dan perawatan
yang dikerjakan secara bersamaan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
A. Pengobatan kasus klinis (individual)
Pada semua kasus klinis filariasis di daerah endemis maupun endemis
diberiakn DEC 3X1 tablet 100mg selama 10 hari dan parasetamol 3X1 tablet
500mg dam 3 hari pertama untuk orang dewasa. Dosis anak disesuaikan dengan
berat badan. Tetapi haru menjadi perhatian bahwa pada kasus klinis yang dengan
gejala klinis akut dan kasus klinis kronis yang sedang mengalami serangan akut
harus diobati terlebih dahulu gejala akutnya dengan obat-obatan simptomatik
seperti demam, peghilang rasa sakit atau antibiotic apabila ada infeksi sekunder.
B. Perawatan kasus klinis (mandiri)
1. Perwatan dengan gejala klinis akut
Gejala

klinis

akut

berupa:

demam

adenolimfangitis, abses, epididmitis dan orkitis.


Perawatannya:

berulang,

limfangitis,

31

a. Istirahat yang cukup dan banyak minum.


b. Pengobatan simptomatis demam, rasa sakit dan gatal dan sesuai
dengan keadaan sakitnya diberikan antibiotic atau anti jamur local
atau sistemik.
c. Pembersihan luka atau lesi kulit dan bila abses diinsisi.
d. Pengobatan luka atau lesi di kulit dengan salep antibiotika atau anti
jamur.
e. Bila dengan pengobatan simptomatis selama 3 hari keadaan
penderita tidak membaik maka dianjurkan untuk dirujuk ke
puskesmas/rumah sakit.
2. Perawatan kasus dengan gejala klinis kronis
a. Limfedema
1) Ada 9 komponen dalam perawatan kasus limfedema
a) Pencucian
b) Pengobatan luka dan lesi di kulit
c) Latihan
d) Meninggikan tungkai/lengan
e) Pemakaian alas kaki yang cocok
f) Pemakaian verban elastic
g) Pemakaian salep antibiotika/anti jamur
h) Antibiotika sistemik
i) Bedah kosmetik

32

Dari komponen-kompone tersebut di atas yang harus


dilakukan sendiri oleh penderita/keluarganya minimal lima
komponen pokok perawatan kasus limfedema yaitu:
a) Pencucian
b) Pengobatan luka/lesi
c) Meninngikan tungkai/kaki
d) Latihan/exercise tubuh yang bengkak
e) Pemakaian alas kaki yang cocok
2) Persiapan perawatan kasus limfedema
a) Persiapan bahan, peralatan dan obat
(1) Peralatan pencucian (air bersih dalam temperature
ruangan, baskom, sarung tangan, sabun mandi, kursi,
handuk, kasa/perban, meteran kain, alas kaki)
(2) Obat

(krim

antibiotika/anti

jamur,

DEC

obat

simptomatis, antibiotic)
(3) Kartu status perawatan (formulir) kasus klinis
b) Pemeriksaan lika dan lesi di kulit
Luka/lesi di kulit dicari disela jari-jari tangan/kaki,
lipatan kulit, pada bagian yang bermulut, payudara, buah zakar,
vulva dan di bagian tubuh lain yang bengkak
c) Pengukuran anggota tubuh yang bengkak
Diukur pada bagian yang paling bengkak dengan
meteran kain pada jarak tertentu dari bagian tubuh yang telah
ditetapkan.

33

3) Pelaksanaan perawatan kasus limfedema


Pada kasus limfedema, kebersihan dan pengobatan lesi
merupakan prioritas tindakan dan diusahakan sedini ungkin pada
bagian tubuh yang bengkak. Tindakan ini akan mengurangi jumlah
dan kemampuan kuman menginfeksi kulit, sehingga tidak terjadi
serangan akut dan tidak memperberat limfedema yang sudah ada.
b. Lymph scrotum
Perawatan lymph scrotum
1) Menjaga kebersihan buah zakar
2) Perawatan luka dan lesi di kulit dengan salep antibiotic atau
jamur
3) Bila ada serangan akut diobati dengan obat simptomatis
4) Pengobatan individual DEC 100mg, 3X1 perhari selama 10
hari
5) Lika-luka di kulit dapat ditutupi dengan verba steril
c. Hidrokel
Perawatan hidrokel
1) Menjaga kebersihan di bagian buah zakar
2) Perawatan luka dan lesi jika ada
3) Dirujuk ke rumah sakit untuk terapi bedah
d. Kiluria
Perawatan kiluria
1) Diit rendah lemak, tinngi protein

34

2) Banyak minum air, minimal dua gelas per jam selama air
kencing seperti susu
3) Istirahat yang cukup
4) Bila demam, atau kiluria lebih dari 30 hari walaupun sudah
diberikan diit rendah lemak, atau disertai kencing warna merah
dianjurkan untuk dirujik ke puskesmas/rumah sakit
e. Limfedema skrotum
Perawatan limfedema skrotum
1) Membersihkan skrotum minimal dua kali sehari
2) Perawatan luka dan lesi pada kulit skrotum
3) Salep antibiotika atau anti jamur untuk luka dan lesi di kulit
skrotum
4) Dirujuk ke rumah sakit untuk terapi bedah
C. Pengendalian Vektor
Kegiatan

pengendalian

perkembangbiakan

nyamuk

vector
melalui

adalah

pemberantasan

pembersihan

got

atau

tempat
saluran

pembuangan air, pengaliran air yang tergenang, dan penebaran bibit ikan
pemakan jentik. Kegiatan lainnya adalah menghindari gigitan nyamuk dengan
memasang kelambu, menggunakan obat nyamuk oles, memasang kasa pada
ventilasi udara dan menggunakan obat nyamuk bakar atau obat nyamuk
semprot.

35

D. Peran serta masyarakat


Warga masyarakat diharapkan bersedia datang dan mau diperiksa
darahnya pada malam hari pada saat ada kegiatan pemeriksaan darah,
bersedia minum obat anti nyamuk-penyakit kaki gajah secara teratur sesuai
dengan ketentuan yang diberitahukan oleh petugas, memberitahukan kepada
kader atau petugas kesehatan bila menemukan penderita filariasis dan
bersedia

bergotong

royong

untuk

membersihkan

sarang

nyamuk.

36

Masyarakat

Factor yang
mempengaruhi
pengetahuan:
-

Usia
Pendidikan
Pengalaman
Informasi
pekerjaan

Keterangan :

Tingkat pengetahuan:
1. tahu
2.
3.
4.
5.
6.

Definisi filariasis
Etiologi filariasis
Tanda dan gejala filariasis
Penatalaksanaan filariasis
Pengendalian filariasis

Paham
Aplikasi
Analisis
Sintesis
evaluasi

Hasil
Perilaku masyarakat dalam pencegahan filariasis

diteliti

- baik (76%-100%)
- cukup (56%-75%)
- kurang (<56%)

Tidak diteliti

Gambar 2.4 Kerangka konsep gambaran tingkat pengetahuan masyarakat tentang filariasis di kelurahan badean RT 7 RW 1
kecamatan kota kabupaten Bondowoso