Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

EPILEPSI
A. KONSEP MEDIS
1. DEFINISI
Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang akibat
lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat reversibel (Tarwoto, 2007).
Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang
datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik
abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi (Arif, 2000).
2. ETIOLOGI
Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui (idiopatik), sering
terjadi pada:
a) Trauma lahir, asphyxia neonatorum
b) Cedera Kepala, infeksi sistem syaraf
c) Keracunan CO, intoksikasi obat/alkohol
d) Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)
e) Tumor otak
f) Kelainan pembuluh darah (Tarwoto, 2007).
Faktor etiologi berpengaruh terhadap penentuan prognosis. Penyebab utama ialah
epilepsi idopatik, Remote Simtomatik Epilepsi (RSE), epilepsi simtomatik akut dan epilepsi
pada anak-anak yang didasari oleh kerusakan otak pada saat peri- atau antenatal. Dalam
klasifikasi tersebut ada dua jenis epilepsi menonjol, ialah epilepsi idiopatik dan RSE dari
kedua tersebut terdapat banyak etiologi dan sindrom yang berbeda, masing-masing dengan
prognosis yang baik dan yang buruk.

PENYEBAB KEJANG PADA EPILEPSI SESUAI UMUR

Bayi (0- 2 th)

1. Hipoksia dan iskemia paranatal


2. Cedera lahir intrakranial
3. Infeksi akut
4.

Gangguan

hipokalsemia,

metabolik

(hipoglikemia,

hipomagnesmia,

defisiensi

piridoksin)
5. Malformasi kongenital
Anak (2- 12 th)

6. Gangguan genetic
1. Idiopatik
2. Infeksi akut
3. Trauma

Remaja (12- 18 th)

4. Kejang demam
1. Idiopatik
2. Trauma
3. Gejala putus obat dan alcohol

Dewasa Muda (18- 35 th)

4. Malformasi anteriovena
1. Trauma
2. Alkoholisme

Dewasa lanjut (> 35)

3. Tumor otak
1. Tumor otak
2. Penyakit serebrovaskular
3. Gangguan metabolik (uremia, gagal hepatik,
dll )
4. Alkoholisme

3. PATOFISIOLOGI
Otak merupakan pusat penerima pesan (impuls sensorik) dan sekaligus merupakan
pusat pengirim pesan (impuls motorik). Otak ialah rangkaian berjuta-juta neuron. Pada
hakekatnya tugas neuron ialah menyalurkan dan mengolah aktivitas listrik saraf yang
berhubungan satu dengan yang lain melalui sinaps. Dalam sinaps terdapat zat yang

dinamakan neurotransmiter. Asetilkolin dan norepinerprine ialah neurotranmiter eksitatif,


sedangkan zat lain yakni GABA (gama-amino-butiric-acid) bersifat inhibitif terhadap
penyaluran aktivitas listrik sarafi dalam sinaps. Bangkitan epilepsi dicetuskan oleh suatu
sumber gaya listrik di otak yang dinamakan fokus epileptogen. Dari fokus ini aktivitas
listrik akan menyebar melalui sinaps dan dendrit ke neron-neron di sekitarnya dan
demikian seterusnya sehingga seluruh belahan hemisfer otak dapat mengalami muatan
listrik berlebih (depolarisasi). Pada keadaan demikian akan terlihat kejang yang mulamula setempat selanjutnya akan menyebar ke bagian tubuh/anggota gerak yang lain pada
satu sisi tanpa disertai hilangnya kesadaran. Dari belahan hemisfer yang mengalami
depolarisasi, aktivitas listrik dapat merangsang substansia retikularis dan inti pada
talamus yang selanjutnya akan menyebarkan impuls-impuls ke belahan otak yang lain
dan dengan demikian akan terlihat manifestasi kejang umum yang disertai penurunan
kesadaran.
Selain itu, epilepsi juga disebabkan oleh instabilitas membran sel saraf, sehingga sel

lebih mudah mengalami pengaktifan. Hal ini terjadi karena adanya influx

+
Na

ke

intraseluler. Jika natrium yang seharusnya banyak di luar membrane sel itu masuk ke
dalam membran sel sehingga menyebabkan ketidakseimbangan ion yang mengubah
keseimbangan asam-basa atau elektrolit, yang mengganggu homeostatis kimiawi neuron
sehingga terjadi kelainan depolarisasi neuron. Gangguan keseimbangan ini menyebabkan
peningkatan berlebihan neurotransmitter aksitatorik atau deplesi neurotransmitter
inhibitorik.
Kejang terjadi akibat lepas muatan paroksismal yang berlebihan dari sebuah fokus
kejang atau dari jaringan normal yang terganggu akibat suatu keadaan patologik.
Aktivitas kejang sebagian bergantung pada lokasi muatan yang berlebihan tersebut. Lesi
di otak tengah, talamus, dan korteks serebrum kemungkinan besar bersifat apileptogenik,
sedangkan lesi di serebrum dan batang otak umumnya tidak memicu kejang. Di tingkat

membran sel, sel fokus kejang memperlihatkan beberapa fenomena biokimiawi,


termasuk yang berikut :
a) Instabilitas membran sel saraf, sehingga sel lebih mudah mengalami pengaktifan.
b) Neuron-neuron hipersensitif dengan ambang untuk melepaskan muatan menurun dan
apabila terpicu akan melepaskan muatan menurun secara berlebihan.
c) Kelainan polarisasi (polarisasi berlebihan, hipopolarisasi, atau selang waktu dalam
repolarisasi) yang disebabkan oleh kelebihan asetilkolin atau defisiensi asam gamaaminobutirat (GABA).
d) Ketidakseimbangan ion yang mengubah keseimbangan asam-basa atau elektrolit,
yang mengganggu homeostatis kimiawi neuron sehingga terjadi kelainan depolarisasi
neuron.

Gangguan keseimbangan

ini

menyebabkan

peningkatan berlebihan

neurotransmitter aksitatorik atau deplesi neurotransmitter inhibitorik.

Perubahan-perubahan metabolik yang terjadi selama dan segera setelah kejang


sebagian disebabkan oleh meningkatkannya kebutuhan energi akibat hiperaktivitas
neuron. Selama kejang, kebutuhan metabolik secara drastis meningkat, lepas muatan
listrik sel-sel saraf motorik dapat meningkat menjadi 1000 per detik. Aliran darah otak
meningkat, demikian juga respirasi dan glikolisis jaringan. Asetilkolin muncul di cairan
serebrospinalis (CSS) selama dan setelah kejang. Asam glutamat mungkin mengalami
deplesi (proses berkurangnya cairan atau darah dalam tubuh terutama karena pendarahan;
kondisi yang diakibatkan oleh kehilangan cairan tubuh berlebihan) selama aktivitas
kejang.

4. MANIFESTASI KLINIK
a. Kehilangan kesadaran
b. Aktivitas motorik
1) Tonik klonik
2) Gerakan sentakan, tepukan atau menggarau
3) Kontraksi singkat dan mendadak disekelompok otot
4) Kedipan kelopak mata
5) Sentakan wajah
6) Bibir mengecap ecap
7) Kepala dan mata menyimpang ke satu sisi
c. Fungsi pernafasan
1) Takipnea
2) Apnea

3) Kesulitan bernafas
4) Jalan nafas tersumbat
Sedangkan manifestasi klinik berdasarkan proses terjadinya keadaan epilepsi
yang dialami pada penderitagejala yang timbul berturut-turut meliputi di saat
serangan, penyandang epilepsi tidak dapat bicara secara tiba-tiba. Kesadaran
menghilang dan tidak mampu bereaksi terhadap rangsangan. Tidak ada respon
terhadap rangsangan baik rangsang pendengaran, penglihatan, maupun rangsang
nyeri. Badan tertarik ke segala penjuru. Kedua lengan dan tangannya kejang,
sementara tungkainya menendang-nendang. Gigi geliginya terkancing. Hitam bola
mata berputar-putar. Dari liang mulut keluar busa. Napasnya sesak dan jantung
berdebar. Raut mukanya pucat dan badannya berlumuran keringat. Terkadang diikuti
dengan buang air kecil. Manifestasi tersebut dimungkinkan karena terdapat
sekelompok sel-sel otak yang secara spontan, di luar kehendak, tiba-tiba melepaskan
muatan listrik.
5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. CT Scan dan Magnetik resonance imaging (MRI) untuk mendeteksi lesi pada otak,
fokal abnormal, serebrovaskuler abnormal, gangguan degeneratif serebral. Epilepsi
simtomatik yang didasari oleh kerusakan jaringan otak yang tampak jelas pada CT
scan atau magnetic resonance imaging (MRI) maupun kerusakan otak yang tak jelas
tetapi dilatarbelakangi oleh masalah antenatal atau perinatal dengan defisit neurologik
yang jelas
b. Elektroensefalogram(EEG) untuk mengklasifikasi tipe kejang, waktu serangan
c. Kimia darah: hipoglikemia, meningkatnya BUN, kadar alkohol darah.
mengukur kadar gula, kalsium dan natrium dalam darah
menilai fungsi hati dan ginjal
menghitung jumlah sel darah putih (jumlah yang meningkat menunjukkan adanya

infeksi).
Pungsi lumbal utnuk mengetahui apakah telah terjadi infeksi otak

6. PENATALAKSAAN MEDIS
a. Atasi penyebab dari kejang
b. Tersedia obat obat yang dapat mengurangi frekuensi kejang yang didalam seseorang
Anti konvulson
Sedatif
Barbirorat

Obat yang dapat mencegah serangan epilepsi


fenitoin (difenilhidantoin)
karbamazepin
fenobarbital dan asam valproik
Dalam memberikan terapi anti epilepsi yang perlu diingat sasaran pengobatan yang
dicapai, yakni:

Pengobatan harus di berikan sampai penderita bebas serangan.


Pengobatan hendaknya tidak mengganggu fungsi susunan syaraf pusat yang normal.
Penderita dapat memiliki kualitas hidup yang optimal.
c. Operasi dengan reseksi bagian yang mudah terangsang
d. Menaggulangi kejang epilepsi
1. Selama kejang
a) Berikan privasi dan perlindungan pada pasien dari penonton yang ingin tahu
b) Mengamankan pasien di lantai jika memungkinkan
c) Hindarkan benturan kepala atau bagian tubuh lainnya dari bendar keras, tajam atau
panas. Jauhkan ia dari tempat / benda berbahaya.
d) Longgarkan baju . Bila mungkin, miringkan kepalanya kesamping untuk mencegah
lidahnya menutupi jalan pernapasan.
e) Biarkan kejang berlangsung. Jangan memasukkan benda keras diantara giginya,
karena dapat mengakibatkan gigi patah. Untuk mencegah gigi klien melukai lidah,
dapat diselipkan kain lunak disela mulut penderita tapi jangan sampai menutupi jalan
pernapasannya.
f) Ajarkan penderita untuk mengenali tanda2 awal munculnya epilepsi atau yg biasa
disebut "aura". Aura ini bisa ditandai dengan sensasi aneh seperti perasaan bingung,
melayang2, tidak fokus pada aktivitas, mengantuk, dan mendengar bunyi yang
melengking di telinga. Jika Penderita mulai merasakan aura, maka sebaiknya berhenti
melakukan aktivitas apapun pada saat itu dan anjurkan untuk langsung beristirahat
atau tidur.
g) Bila serangan berulang-ulang dalam waktu singkat atau penyandang terluka berat,
bawa ia ke dokter atau rumah sakit terdekat.
2. Setelah kejang
a) Penderita akan bingung atau mengantuk setelah kejang terjadi.
b) Pertahankan pasien pada salah satu sisi untuk mencegah aspirasi. Yakinkan bahwa
jalan napas paten.
c) Biasanya terdapat periode ekonfusi setelah kejang grand mal
d) Periode apnea pendek dapat terjadi selama atau secara tiba- tiba setelah kejang

e) Pasien pada saaat bangun, harus diorientasikan terhadap lingkungan


f) Beri penderita minum untuk mengembalikan energi yg hilang selama kejang dan
biarkan penderita beristirahat.
g) Jika pasien mengalami serangan berat setelah kejang (postiktal), coba untuk
menangani situasi dengan pendekatan yang lembut dan member restrein yang lembut
h) Laporkan adanya serangan pada kerabat terdekatnya. Ini penting untuk pemberian
pengobatan oleh dokter.
B. KONSEP KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Perawat mengumpulkan informasi tentang riwayat kejang pasien. Pasien ditanyakan
tentang faktor atau kejadian yang dapat menimbulkan kejang. Asupan alkohol dicatat. Efek
epilepsi pada gaya hidup dikaji: Apakah ada keterbatasan yang ditimbulkan oleh gangguan
kejang? Apakah pasien mempunyai program rekreasi? Kontak sosial? Apakah pengalaman
kerja? Mekanisme koping apa yang digunakan?
1. Identitas
Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa,alamat,
tanggal masuk rumah sakit, nomor register, tanggal pengkajian dan diagnosa medis.
2. Keluhan utama
Merupakan kebutuhan yang mendorong penderita untuk masuk RS. Pasien sering
mangalami kejang.
3. Riwayat penyakit sekarang
Merupakan riwayat klien saat ini meliputi keluhan, sifat dan hebatnya keluhan, mulai
timbul. Biasanya ditandai dengan anak mulai rewel, kelihatan pucat, demam, anemia,
terjadi pendarahan (pendarah gusi dan memar tanpa sebab), kelemahan. nyeri tulang atau
sendi dengan atau tanpa pembengkakan.
4. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan keadaan
penyakit sekarang perlu ditanyakan.
5. Riwayat kehamilan dan kelahiran.
Dalam hal ini yang dikaji meliputi riwayat prenatal, natal dan post natal. Dalam
riwayat prenatal perlu diketahui penyakit apa saja yang pernah diderita oleh ibu. Riwayat
natal perlu diketahui apakah bayi lahir dalam usia kehamilan aterm atau tidak karena
mempengaruhi sistem kekebalan terhadap penyakit pada anak. Trauma persalinan juga
mempengaruhi timbulnya penyakit contohnya aspirasi ketuban untuk anak. Riwayat post

natal diperlukan untuk mengetahui keadaan anak setelah kelahariran dan pertumbuhan dan
perkembanagannya.
6. Riwayat penyakit keluarga
Merupakan gambaran kesehatan keluarga, apakah ada kaitannya dengan penyakit
yang dideritanya. Pada keadaan ini status kesehatan keluarga perlu diketahui, apakah ada
yang menderita gangguan hematologi, adanya faktor hereditas misalnya kembar
monozigot.
Obsevasi dan pengkajian selama dan setelah kejang akan membantu dalam
mengindentifikasi tipe kejang dan penatalaksanaannya.
a) Selama serangan :
Apakah ada kehilangan kesadaran atau pingsan.
Apakah ada kehilangan kesadaran sesaat atau lena.
Apakah pasien menangis, hilang kesadaran, jatuh ke lantai.
Apakah disertai komponen motorik seperti kejang tonik, kejang klonik, kejang

tonik-klonik, kejang mioklonik, kejang atonik.


Apakah pasien menggigit lidah.
Apakah mulut berbuih.
Apakah ada inkontinen urin.
Apakah bibir atau muka berubah warna.
Apakah mata atau kepala menyimpang pada satu posisi.
Berapa lama gerakan tersebut, apakah lokasi atau sifatnya berubah pada satu sisi
atau keduanya.

b) Sesudah serangan
Apakah pasien : letargi , bingung, sakit kepala, otot-otot sakit, gangguan bicara
Apakah ada perubahan dalam gerakan.
Sesudah serangan apakah pasien masih ingat apa yang terjadi sebelum, selama dan

sesudah serangan.
Apakah terjadi perubahan tingkat kesadaran, pernapasan atau frekuensi denyut

jantung.
Evaluasi kemungkinan terjadi cedera selama kejang.
c) Riwayat sebelum serangan
Apakah ada gangguan tingkah laku, emosi
Apakah disertai aktivitas otonomik yaitu berkeringat, jantung berdebar.
Apakah ada aura yang mendahului serangan, baik sensori, auditorik, olfaktorik
maupun visual.
d) Riwayat Penyakit
Sejak kapan serangan terjadi.
Pada usia berapa serangan pertama.
Frekuensi serangan.

Apakah ada keadaan yang mempresipitasi serangan, seperti demam, kurang tidur,

keadaan emosional.
Apakah penderita pernah menderita sakit berat, khususnya yang disertai dengan

gangguan kesadaran, kejang-kejang.


Apakah pernah menderita cedera otak, operasi otak
Apakah makan obat-obat tertentu
Apakah ada riwayat penyakit yang sama dalam keluarga

Pemeriksaan fisik
1. Tingkat kesadaran pasien
2. Sirkulasi
Gejala : palpitasi.
Tanda : Takikardi, membrane mukosa pucat.
3. Penglihatan (mata)
Perubahan pada posisi bola mata, dan perubahan pupil
4. Makanan / cairan
Gejala : anoreksia, muntah, penurunan BB, disfagia.
Tanda : distensi abdomen, penurunan bunyi usus, perdarahan pada gusi
5. Ekstremitas:
Adanya kelemahan otot ekstremitas, distrosia osteo atau tidak
6. Integritas ego
Gejala : perasaan tidak berdaya / tidak ada harapan.
Tanda : depresi, ansietas, marah.
7. Neurosensori
Gejala : penurunan koordinasi, kacau, disorientasi, kurang konsentrasi, pusing.
Tanda : aktivitas kejang, otot mudah terangsang.
8. Nyeri / kenyamanan
Gejala : nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri tulang / sendi, kram otot.
Tanda : gelisah, distraksi.
9. Pernafasan

Gejala : nafas pendek dengan kerja atau gerak minimal, akumulasi cairan.
Tanda : dispnea, apnea, batuk

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d spasme pada jalan napas, obstruksi trakeobronkial
2. Kerusakan memori b/d gangguan neurologis
3. Resiko cedera b/d resiko tingkat kesadaran, gelisah, gerakan involunter dan kejang
4. Hambatan mobilitas fisik b/d penurunan kendali dan masa otot, gangguan senori preseptual
5. Ansietas b/d kemungkinan yang terjadi, perubahan pola interaksi social
6. Defisiensi pengetahuan b/d kurangnya informasi penatalaksanaan kejang
3. RENCANA KEPERAWATAN
NO

DIAGNOSA

KEPERAWATAN

1.

RENCANA KEPERAWATAN
TUJUAN & KRITERIA
INTERVENSI (NIC)
HASIL (NOC)
NOC

NIC

Respiratory ststus :

Airway suction

(00031)

ventilation

- paatikan kebutuhan oral / tracheal

Domain11:

Respiratory status :

suctioning

keamanan/perlindungan

Airway patency

- auskultasi suara nafas sebelum

Kelas 2: Cedera fisik

Kriteria hasil

dan sesudah susctioning

Ketidakefektifan
bersihan

jalan

nafas

Mendemonstrasikan

Definisi:

- informasikan pada klien dan

ketidakmampuan untuk

batuk efektif dan suara

keluarga tentang suctioning

membersihkan

sekresi

nafas yang bersih, tidak

- minta klien nafas dalam sebelum

dari

ada sianosis dan dyspneu

suction dilakukan

(mampu

- berikan o2 dengan menggunakan

atau
saluran

obstruksi
napas

untuk

mengeluarkan

mempertahankan

sputum, bernafas dengan

nasal untuk mefasilitasi suctioning

bersihan jalan nafas.

mudah, tidak ada pursed

- gunakan alat yang steril setiap

Batasan karakteristik:

lips)

melakukan tindakan

tidak ada batuk

suara

nafas

Menunjukkan jalan

- anjurkan pasien untuk istirahat

nafas yang paten (klien

dan nafas dalam setelah kateter

tambahan

tidak

merasa

tercekik,

dikeluarkan dari nasotrakeal

perubahan frekuensi

irama

nafas,

frekuensi

- monitor status oksigen pasien

nafs

pernafasan dalam rentang

- ajarkan keluarga bagaimna cara

normal, tidak ada suara

melakukan suction

nafas abnormal)

- hentikan suction dan berikan

perubahan

irama

nafas
sianosis

oksigen apbila pasien menunjukkan


Saturasi O2 dalam batas
berbicara

kesulitan
atau

mengeluarkan

suara
penurunan

bunyi

normal
Foto thorak dalam
batas normal

bradikardi, peningkatan saturasi o2


Airway management
- buka jalan nafas, gunakan tehnik
chin lift atau jaw thrust bila perlu

napas

dispneu

memaksimalkan ventilasi

sputum dalam jumlah

yang berlebihan

pemasangan

batuk

yang

tidak

posisikan

pasien

identifikasi

pasien
alat

untuk

perlunya

jalan

nafas

bantuan

efektif

- pasang mayo bila perlu

gelisah

- lakukan fisioterapi dada bila perlu

mata terbuka lebar

- keluarkan secret dengan batuk

Faktor

atau section

yang

berhubungan :

- auskultasi suara nafas, catat

lingkungan : perokok

adanya suara tambahan

pasif,

- lakukan suction pada mayo

merokok,

menhisap asap

- berikan broncodilator bila perlu

obstruksi jalan nafas :

- berikan pelembab udara kasa

spasme

jalan

napas,

basah NaCl lembab

mokus

dlam

jumlah

sekresi

mengoptimalkan keseimbangan

berlebihan,

atur

intake

untuk

cairan

- monitor respirasi dan status o2

dalam bronki
fisiologis
napas

jalan

alergik,

asma,

penyakit
2.

paru

obstruktif, infeksi
Kerusakan
memori

NOC

(00131)

Tissue

Domain5:

cerebral

- memantau ukuran pupil, bentuk,

Presepsi/kognisi

Acute confusion level

simetri dan reaktivitas

Kelas4: Kognisi

Enviroment

- memantau tingkat kesadaran

Definisi:

interpretation

ketidakmampuan

impaired

- memantau tren GCS

mengingat

Kriteria hasil

- monitor memori baru, rentang

beberapa

informasi

atau

NIC
perfusion

syndrome

mampu

untuk

Neurologi monitoring

- memantau tingkat orientasi

perhatian,

memori

masa

lalu,

keterampilan perilaku

melakukan proses mental

suasana hati, mempengaruhi dan

Batasan

yang kompleks

perilaku

karakteristik :

orientasi kognitif :

- memonitor tanda-tanda vital :

lupa

mampu

untuk

suhu, tekanan darah, denyut nadi

mengidentifikasi

orang,

dan pernapasan

perilaku

melakukan
pada

waktu

yang telah dijadwalkan

tempat dan waktu secara

- memonitor status pernapasan :

ketidakmampuan

akurat

ABG

mempelajari informasi

konsentrasi : mampu

kedalaman, pola, tingkat dan usaha

baru

focus

- memantau ICP dan CPP

ketidakmampuan

tertentu

- memantau refleks kornea

mempelajari

ingatan (memori) :

- memantau refleks batuk dan

keterampilan baru

mampu

muntah

ketidakmampuan

mendapatkan

mempelajarai

secara

pada

stimulus

untuk
kembali

kognitif

dan

tingkat,

oksimetri

pulsa,

- memantau otot gerak motorik,


kiprah dan propriocepsion

keterampilan yang telah

menyampaikan

dipelajari sebelumnya

informasi yang disimpan

- memantau kekuatan cengkraman

ketidakmampuan

sebelumnya

- memantau untuk gemetar

mengingat peristiwa

kondisi neurologis :

- memantau simetri wajah

Faktor

kemampuan fisik normal

Memantau tonjolan lidah

berhubungan :

- memantau tanggapan pengamatan

Anemia,

seimbang

berat badan

karakteristik tatapan

yang

penurunan

curah

jantung,

status

kembali

nutrisi

- memantau untuk drift pronator

memantau

EOMs

dan

ketidakseimbangan

- memantau untuk gangguan visual,

elektrolit,

gangguan

diplopia, nystagmus, pemotongan

lingkungan berlebihan,

bidang visual, penglihatan kabur

ketidakseimbangan

dan ketajaman visual

cairan

- catatan keluhan sakit kepala

dan

elektrolit,

hipoksia dan gangguan


3.

neurologi
Resiko cedera (00035)

NOC

NIC

Domain11:

Risk control

Environment

Keamanan/perlindunga

Kriteria hasil :

(manajemen lingkungan)

klien terbebas dari

- sediakan lingkungan yang aman

Kelas2: cedera fisik

cidera

untuk pasien

Definisi:

beresiko

Management

mampu

- identifikasi kebutuhan keamanan

cedera

menjelaskan faktor resiko

pasien, sesuai dengan kondisi fisik

sebagai akibat kondisi

dari lingkungan/ perilaku

dan fungsi kognitif pasien dan

lingkungan

yang

personal

riwayat penyakit terdahulu pasien

berinteraksi

dengan

mampu memodifikasi

- menghindarkan lingkungan yang

gaya

berbahaya (misalnya memindahkan

mengalami

sumber
sumber
individi

adaptif

dan

defensive

klien

hidup

untuk

mencegah injury

perabotan)

menggunakan fasilitas

- memasang side trail tempat tidur

yang ada

mampu

- menyediakan tempat tidur yang


mengenali

perubahan

status

nyaman dan bersih


-

menempatkan

saklar

lampu

ditempat yang mudah dijangkau

kesehatan

- membatasi pengunjung
- menganjurkan keluarga untuk
menemani pasien
-

mengontol

lingkungan

dari

kebisingan
- memindahkan barang-barang yang
dapat membahayakan
- berikan penjelasan pada pasien
dan

keluarga

atau

pengunjung

adanya perubahan status kesehatan


4.

NOC

dan penyebab penyakit


NIC

fisik (00085)

Joint movement :

Exercise therapy : ambulation

Domain4:

active

Aktivitas/Istirahat

Mobility level

sebelum/sesudah latihan dan lihat

Kelas2:

Self care : ADLs

respon pasien saat latihan

Aktivitas/Latihan

Transfer performance

- konsultasikan dengan terapi fisik

Definisi:

Kriteria hasil :

tentang rencana ambulasi sesuai

pada pergerakan fisik

kebutuhan

tubh atau satu atau lebih

dalam beraktivitas

- bantu klien untuk menggunakan

ekstremitas

mengerti tujuan dari

tongkat saat berjalan dan cegah

mandiri dan terarah

peningkatan mobilitas

terhadap cedera

Batasan

Hambatan

mobilitas

keterbatasan

karakteristik

secara

klien

meningkat

memverbalisasikan

perasaan

dalam

monitoring

ajarkan

kesehatan

vital

pasien
lain

sign

atau

tenaga

tentang

tehnik

penurunan waktu reaksi,

meningkatkan

kesulitan

dan

balik

membolak-

posisi,

bergetar,

gerakan

keterbatasab

kemampuan

melaukan

keterampilan

motorik

halus
Faktor

kemampuan

berpindah

ambulasi
- kaji kemampuan pasien dalam
mobilisasi

memperagakan

- latih pasien dalam pemenuhan

penggunaan alat

kebutuhan ADLs secara mandiri

bantu untuk mobilisasi

sesuai kemampuan

(walker)

- dampingi dan bantu pasien saat

yang

mobilisasi

dan

bantu

penuhi

berhubungan :

kebutuhan ADLs

Intoleran

aktivitas,

- berikan alat bantu jika klien

ansietas,

kontraktur,

penurunan

5.

kakuatan

memerlukan

kekuatan

ajarkan

pasien

bagaimana

otot, kekakuan sendi

merubah posisi dan berikan bantuan

Ansietas (00146)

NOC

jika diperlukan
NIC

Domain9:

Anxiety self control

Anxiety Reduction (penurunan

Koping/Toleransi stress

Anxiety level

kecemasan)

Kelas2: Respon koping

Coping

Definisi: perasaan tidak

Kriteria hasil :

menenangkan

nyaman

atau

kekhawatiran

yang

mengidentifikasi

dan

samar disertai respons

mengungkapkan

gejala

autonom (sumber sering

cemas

kali tidak spesifik atau

tidak

mengungkapkan

diketahui

oleh

klien

mampu

gunakan

pendekatan

yang

- nyatakan dengan jelas harapan


terhadap pelaku pasien
- jelaskan semua prosedur dan apa
yang dirasakan selama prosedur

mengidentifikasi,
dan

- pahami prespektof pasien terhadap


situasi stress

individu) perasaan takut

menunjukkan

yang disebabkan oleh

untuk mengontrol cemas

keamanan dan mengurangi takut

antisipasi

vital sign dalam batas

- dorong keluarga untuk menemani

terhadap

tehnik

- temani pasien untuk memberikan

bahaya.

normal

anak

Batasan karakteristik:

postur tubuh, ekspresi

- lakukan back/neck rub

perilaku

wajah, bahasa tubuh dan

yang relevan, gelisah,

tingkat

perhatian

insomnia

menunjukkan

- identifikasi tingkat kecemasan

afektif : kesedihan

berkurangnya kecemasan

- bantu pasien mengenal situasi

yang

gerakan

aktivitas

distress, ketakutan
:

dengan

penuh

yang menimbulkan kecemasan

mendalam,

fisiologis

dengarkan

dorong

pasien

mengungkapkan

wajah

untuk
perasaan,

tegang, tremor tangan,

ketakutan, presepsi

gemtar, suara bergetar

- instruksikan pasien menggunakan

Faktor

teknik relaksasi

yang

- berikan obat untuk mengurangi

berhubungan :
Pemajanan
terkait

kecemasan

toksin,
keluarga,

herediter,
infeksi/kontaminan
interpersonal,

stress,

penyalahgunaan
stress,

zat,

ancaman

kematian

6.

Defisiensi pengetahuan

NOC

NIC

(00126)

Knowledge : disease

Teaching : disease process

Domain5:

process

- berikan penilaian tentang tingkat

Presepsi/Kognisi

Knowledge : health

pengetahuan pasien tentang proses

Kelas4: Kognisi

behavior

penyakit yang spesifik

Definisi: ketiadaan atau

Kriteria hasil :

defisiensi

informasi

pasien dan keluarga

penyakit dan bagaimana hal ini

kognitif yang berkaitan

menyatakan pemahaman

berhubungan dengan anatomi dan

dengan topic tertentu

tentang penyakit

fisiologi dengan cara yang tepat

Batasan karakteristik:

pasien dan keluarga

- gambarkan tanda dan gejala yang

perilaku

mampu

muncul pada penyakit dengan yang

hiperbola,

melaksanakan

jelaskan

patofisiologi

ketidakakuratan

prosedur yang dijelaskan

tepat

melakukan tes, perilaku

secara benar

tidak

pasien dan keluarga

dengan cara yang tepat

pengungkapan masalah

mampu

menjelaskan

Faktor

kembali

apa

penyebab, dengan cara tepat

tepat,

yang

berhubungan:
Keterbatasan
salah

dijelaskan
kognitif,

interpretasi,

yang

perawat/tim

keehatan lainnya

gambarkan

proses

identifikasi

dari

penyakit

kemungkinan

- sediakan informasi pada pasien


tentang kondisi dengan cara yang
tepat

kurang

pajananan,

- hindari jaminana yang kosong

kurang

dapat

- sediakan bagi keluarga informasi

mengingat,

tidak

tentang kemajuan psien dengan cara

familier dengan sumber

yang tepat

informasi

- diskusikan perubahan gaya hidup


yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi dimasa yang
akan

dating

dan

atau

proses

pengontrolan penyakit
- diskusikan pilihan atau terapi
penanganan
-

dukung

pasien

untuk

mengeksplorisasi atau mendapatkan


second opinion

Idiopatik, herediter, trauma kelahiran, infeksi perinatal, meningitis,


dll
aliran listrik pada sel saraf
SystemKetidakseimbangan
saraf

Hambatan mobilitas fisik Epilepsy

Hialng tonus otot

Petitmal
Akimetis
PATHWAY TEORI / PENYIMPANGAN KDM TEORI

Mylonik

Keadaan lemah dan tidak


sadartidak sadar yang mendadak
Kontraksi

Perubahan status kesehatan


Defisiensi pengetahuan
Aktivitas kejang

Ketidakmampuan
keluarga mengambil tindakan yan
Hipoksia

Jatuh
Resiko cedera

Kerusakan memori

Pengobatan, keperawatan, keterbatasan


Ansietas

psikomotor

Penyakit kronik

Grandmal

Perubahan proses keluarga


Spasme otot pernapasan
Obstruksi trakheobroncial

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas

DAFTAR PUSTAKA

Asuhan Keperawatan Epilepsi, 2008. www.google.com


Brunner and Sudarth, 2002. Buku ajar keperawatan medikal-bedah. Jakarta ; EGC
Nurait, Amin Huda dkk. 2013 Aplikasi keperawatan Medis & NANDA NIC NOC.
Mediaction Publishing. Yogyakarta
Herdman, T. Heather. 2012-2014. Diagnosis Keperawatan definisi dan klasifikasi. Jakarta :
ECG