Anda di halaman 1dari 49

1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Fraktur
1. Definisi Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, yang
biasanya disertai dengan luka sekitar jaringan lunak, kerusakan otot,
rupture tendon, kerusakan pembuluh darah, dan luka organ-organ
tubuh dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadinya fraktur jika
tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang besar dari yang dapat
diabsorbsinya (Smeltzer, 2001), Fraktur atau patah tulang adalah
terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang
umumnya di sebabkan oleh rudapaksa (Sjamsuhidayat, 2005)
sedangkan menurut Doengoes (2000) memberikan batasan, fraktur
adalah pemisahan atau patahnya tulang. Fraktur adalah patahnya
tulang biasanya di sebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price,
1995). Sedangkan fraktur menurut Reeves (2001), adalah setiap retak
atau pada tulang yang utuh (Lukman, 2014)
Price&Wilson (2006) Fraktur adalah patah tulang, biasanya
disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari
tenaga tersebut, keadaan tulang dan jaringan lunak di sekitar tulang
akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak
lengkap (NANDA, 2015).
Berdasarkan batasan di atas dapat di simpulkan bahwa,
fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya
tulang utuh, yang di sebabkan oleh trauma atau rudapaksa atau tenaga
fisik yang di tentukan jenis dan luasnya trauma.

2. Anatomi dan fisiologi


a) Struktur tulang
Tulang sangat bermacam macam baik dalam bentuk
ataupun ukuran, tapi mereka masih punya satu struktur yang sama.

Lapisan yang paling luar disebut periosteum dimana terdapat


pembuluh darah dan saraf. Lapisan di bawah periosteum mengikat
tulang dengan benang kolagen disebut benang sharpey, yang masuk
ke tulang disebut korteks. Karena itu korteks sifatnya keras dan
tebal sehingga disebut tulang kompak. Korteks tersusun solid dan
sangat kuat yang disusun dalam unit struktural yang disebut sistem
Haversian. Tiap sistem terdiri atas kanal utama yang disebut kanal
Harversian.
Lapisan melingkar dari matriks tulang disebut Lemalle,
ruangan sempit antara Lemalle disebut lakune (didalamnya terdapat
osteosis) dan kanalikuli. Tiap sistem kelihatan seperti lingkaran
yang menyatu. Kanal Harvesian terdapat sepanjang tulang panjang
dan didalamnya terdapat pembuluh darah dan saraf yang masuk ke
tulang melalui kanal Volkman. Pembuluh darah inilah yang
mengangkut nutrisi untuk tulang dan membuang sisa metabolisme
keluar tulang. Lapisan tengah tulang merupakan akhir dari sistem
Harvesan, yang didalamnya terdapat Trabekulae (batang) dari
tulang.
Trabekulae ini terlihat sangat spon tapi kuat sehingga
disebut Tulang Spon yang didalamnya terdapat bone marrow yang
membentuk sel-sel darah merah. Bone Marrow ini terdiri atas dua
macam yaitu bone marrow merah yang memproduksi sel darah
merah melalui proses hematopoisis dan bone marrow kuning yang
terdiri atas sel-sel lemak dimana jika dalam proses fraktur bisa
menyebabkan Fat Embolism Syndrom (FES).
Tulang terdiri dari tiga sel yaitu osteoblast, osteosit, dan
osteoklast. Osteoblast merupakan sel pembentuk tulang yang
berada dibawah tulang baru. Osteosit adalah osteoblast yang ada
pada matriks. Sedangkan osteoklast adalah sel penghancur tulang
dengan menyerap kembali sel tulang yang rusak maupun yang tua.

Sel tulang ini diikat oleh elemen-elemen ekstra seluler yang disebut
matriks.
Matriks ini dibentuk oleh benang kolagen, protein,
karbohidrat, mineral, dan substansi dasar (gelatin) yang berfungsi
sebagai media dalam difusi nutrisi, oksigen, dan sampah
metabolisme antara tulang pembuluh darah. Selain itu, didalamnya
terkandung garam kalsium organik (kalsium dan fosfat) yang
menyebabkan tulang keras. Sedangkan aliran darah dalam tulang
antara 200 400 ml/menit melalui proses vaskulirasi tulang (Black,
J.M, et.al,1993 dan Ignatavicus, Donna. D,1995).
b) Tulang panjang
Adalah tulang yang panjang berbentuk silinder dimana
ujungnya bundar dan sering menahan beban berat (Ignativicus,
Dona, 1995). Tulang panjang terdiri atas epifisis, tulang rawan,
diafisis, periosteum, dan medula tulang. Epifisis (ujung tulang)
merupakan tempat menempelnya tendon dan mempengaruhi
kesetabilan sendi. Tulang rawan menutupi seluruh sisi dari ujung
tulang dan mempermidah pergerakan, karena tulang rawan sisinya
halus dan licin. Diafisis adalah bagian utama dari tulang panjang
yang memberikan struktural tulang. Metafisis merupakan bagian
yang melebar dari tulang panjang antara epifisi dan diafisis.
Metafisis ini merupakan daerah pertumbuhan tulang selama masa
pertumbuhan. Periosteum merupakan penutup tulang sedang
rongga medulla (Marrow) adalah pusat dari diafisis (Black, J.M
et.al, 1993).
c) Tulang Humerus
Tulang Humerus terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaput (ujung
atas), korpus, dan ujung bawah.
1) Kaput
Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah
kepala, yang membuat sendi dengan rongga glenoid dari
skapla dan merupakan bagian dari bangunan sendi bahu.

10

Dibawahnya terdapat bagian yang lebih ramping disebut leher


anatomik.disebelah luar ujung atas dibawah leher anatomik
terdapat sebuah benjolan, yaitu Tuberosistas Mayor dan
disebelah depan terdapat sebuah benjolan lebih kecil yaitu
Tuberositas Minor. Diantara tuberositas terdapat celah bisipital
(sulkus intertubukularis) yang membuat tendon dari otot bisep.
Dibawah tuberositas terdapat leher chirugis yang mudah terjadi
fraktur.
2) Korpus
Sebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah
semakin

pipih.

Disebelah

lateral

batang,

tepat

diatas

pertengahan disebut tuberositas deltoideus (karena menerima


insersi otot deltoid). Sebuah celah benjolan oblik melintas
sebelah belakang, batang, dari sebelah medail ke sebelah
lateral dan memberi jalan kepada saraf radialis atau saraf
muskulo-spiralis sehingga disebut celah spiralis atau radialis.
3) Ujung bawah
Berebntuk lebar dan agak pipih dimana permukaan
bawah sendi dibentuk bersama tulang lengan bawah. Troklhlea
yang

terlatidak

di

sisi

sebelah

dalam

bentuk

gelondonganbenang tempat persendian dengan ulna dan


disebalah luar terdapat kapitulum yang besendi dengan radius.
Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus terdapat
epikondil lateral dan medial. (Pearce, Evelyn C, 1997)
d) Fungsi Tulang
1)
Memberi kekuatan pada kerangka tubuh.
2)
Tempat melekatnya otot.
3)
Melindungi organ penting.
4)
Tempat pembuatan sel darah.
5)
Tempat penyimpanan garam mineral.
(Ignativicus, Dona D, 1993)
3. Klasifikasi Fraktur
Klasifikasi fraktur: (Chairuddin. 2003) Dalam buku aplikasi NANDA
(2015)
a) Klasifikasi Etiologis

11

1) Fraktur traumatic
2) Fraktur patologis

terjadi

pada

tulang

karena

adanya

kelainan/penyakit yang menyebabkan kelemahan pada tulang


(infeksi, tumor, kelainan bawaan) dan dapat terjadi secara
sepontan atau akibat trauma ringan
3) Fraktur stress terjadi karena adanya stress yang kecil dan
berulang ulang pada daerah tulang yang menopang berat
badan. Fraktur stress jarang sekali di temukan pada anggota
gerak ke atas
b) Klasifikasi Klinis
1) Fraktur tertutup (Simple fraktur), bila tidak terdapat hubungan
antara fragmen tulang dengan dunia luar
2) Fraktur terbuka (Compoun fraktur), bila terdapat hubungan
antara fragmen tulang dengan dunia luar, karena adanya
perlukaan di kulit
3) Fraktur dengan komplikasi, misal melunion, delayed, union,
nonunion, infeksi tulang
c) Klasifikasi Radiologis
1) Lokalisasi : diafisal, metafisal, intra-artikuler, fraktur dengan
dislokasi
2) Konfigurasi : fraktur transfersal, fraktur oblik fraktur spiral,
fraktur segmetal, fraktur komunitif (lebih dari deaf ragmen)
fraktur baji biasa pada vertebra karena trauma, fraktur avulse,
fraktur depresi, fraktur pecah, fraktur epifsis
3) Menurut ekstensi : fraktur total, fraktur tidak total, fraktur
buckle atau torus, fraktur garis rambut, fraktur green stick
4) Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya :
tidak bergeser, bergeser (bersampingan, angulasi, rotasi,
distraksi, over-riding, implikasi)
d) Fraktur terbuka dibagi atas 3 derajat (menurut R.Gustino) yaitu
1)Derajat I :
(a) Luka <1 cm
(b) Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka
remuk
(c) Fraktur sederhana, transversal, atau komunitif ringan

12

2)
(a)
(b)
(c)
(d)
3)

(d) Kontaminasi minimal


Derajat II
Leserasi >1 cm
Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/ avusi
Fraktur komunitif sedang
Kontaminasi sedang
Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur
kulit, otot, dan neurovasikuler serta kontaminasi derajat tinggi.

e) Fraktur dapat di kategorikan berdasarkan.


1) Jumlah garis
a. Simple fraktur
: Terdapat satu garis fraktur
b. Multiple fraktur
: Lebih dari satu garis fraktur
c. Comminutive fraktur
:Lebih banyak garis fraktur
dan patah menjadi fragmen kecil
2) Luas garis fraktur
a. Fraktur incompelete

: Tulang tidak terpotong

secara total
b. Fraktur komplikasi : Tulang terpotong total
c. Hair line fraktur : Garis fraktur tidak tampak
3) Bentuk fragmen
a. Green stick
: Retak pada sebelah sisi dari
tulang (sering pada anak-anak)
b. Fraktur transversal : Fraktur fragmen melintang
c. Fraktur obligue
: Fraktur fragmen miring
d. Fraktur spiral
: Fraktur fragmen melingkar
Gambar 2.1 Jenis-jenis fraktur

Gambar 2.2 Jenis -jenis fraktur dikategorikan menurut bentuk


fragmen

13

Gambar 2.3 Fraktur dikategorikan menurut garis luas

Klasifikasi fraktur menurut : Lukman Nurma Ningsih (2009)


Ada lebih dari 150 klasifikasi fraktur, pada tabel dapat dilihat
beberapa klasifikasi fraktur menurut beberapa ahli. Fraktur tertutup
(fraktur simple) adalah fraktur yang tidak menyebabkan robeknya
kulit atau kulit tidak tembus oleh fragmen tulang. Sedangkan fraktur
terbuka (fraktur, Komplikata /kompleks/ compound) merupakan
fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke
patahan tulang. Konsep penting yang harus diperhatikan pada fraktur
terbuka adalah apakah terjadi kontaminasi oleh lingkunagan pada
tempat terjadinya fraktur tersebut (Price, 1995)

14

Tabel 2.1
Klasifikasi fraktur
Price

Sjamsuhidayat

Doengoes

Reeves

Smeltzer

(1995)
Tranversal

(1996)
Tertutup

(2000)
Incomplete

(2001)
Tertutup

(2000)
Komplit

Oblik

Terbuka

Complete

Terbuka

Tidak komplit

Spiral

Fisura

Tertutup

Komplit

Tertutup

Segmental

Serong

Terbuka

Retak tak- komplit

Terbuka

Impaksi

Sederhana

Patologis

Oblik

Greenstick

Patologik

Lintang

Spiral

Tranversal

Greenstick

Sederhana

Tranversal

Oblik

Avusi

Komunitif

Segmental

Spiral

Sendi

Segmental

Kominutif

Komunitif

Beban lainnya

Dahan hijau

Depresi

Kompresi

Kompresi

Impikasi

Patologik

Impresi

Avusi

Patologis

Epifiseal
Impikasi

Sumber : Dimodifikasi dari Price (1995), Sjamsuhidayat (1997), Doengoes (2000),


Reeves (2001), dan Smiltzer (2002).

Sehingga fraktur terbagi dalam beberapa gradasi. Gradasi


fraktur terbuka di bagi menjadi tiga; grade I dengan luka bersih
kurang dari 1cm panjangnya; grade II luka lebih luas tanpa kerusakan
jaringan lunak yang ekstensif; dan grade III sangat terkontaminasi
serta mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif, merupakan yang
paling berat (Smeltzer, 2002).

15

Berdasarkan klasifikasi Price (1995), klasifikasi patah tulang


ditinjau menurut sudut patah terdiri atas fraktur tranversal, fraktur
oblik dan fraktur spiral. Fraktur transversal adalah fraktur garis
patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Pada fraktur
semacam ini, segmen-segmen tulang yang patah direposisi atau di
reduksi kembali ke tempatnya semula, maka segmen-segmen itu akan
stabil, dan biasanya mudah dikontrol dengan bidai gips. Fraktur oblik
adalah fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang.
Fraktur ini tidak stabil dan sulit di perbaiki. Sedangkan fraktur spiral
adalah fraktur fraktur meluas yang mengelilingi tulang (Reeves,2001).
Fraktur

menutir

biasanya

terjadi

di

seputar

batang

tulang

(Smeltzer,2002), timbul akibat torsi pada ektermitas dan merupakan


jenis fraktur rendah energi yang hanya menimbulkan sedikit
kerusakan jaringan lunak serta cenderung cepat sembuh dengan
immobilisasi luar (Price, 1995).
Fisura, disebabkan oleh beban lama atau trauma ringan yang
terus menurus yang disebut fraktur kelelahan, miaslnya diafisis
metatarsal (Sjamsuhidayat, 1997). Fraktur impikasi adalah fraktur
dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.
Sedangkan fraktur kompresi adalah fraktur dimana antara dua tulang
mengalami kompresi pada tulang ketiga yang berada di antaranya
(trjadi pada tulang belakang).

16

Tabel 2.2
Derajat patah tulang terbuka
Derajat
I

II

Luka
Leserasi < 2 cm

Fraktur
Sederhana

Leserasi < 1 cm, dengan luka

Dislokasi

bersih

Fragmen minimal

Leserasi > 2 cm, kontusi otot di

Dislokasi

sekitarnya

Fragmen jelas

Luka lebar
III

Rusak hebat atau hilang jaringan

Komunitif

di sekitarnya, terkontaminasi

Segmetal
Fragmen tulang ada yang
hilang

Sumber Sjamsuhidayat, 1997

Fraktur komunitif adalah fraktur dengan tulang pecah


menjadi beberapa bagian serpihan-serpihan dimana terdapat lebih dari
dua pragmen tulang. Sementara fraktur segmental adalah dua fraktur
berdekatan pada satu tulang yang menyebabkan terpisahnya segmen
sentral dari suplai darahnya. Untuk fraktur yang tidak sempurna,
dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok
dan sering terjadi pada anak anak dinamakan, fraktur greenstick.\
Fraktur yang ditandai dengan tertariknya fragmen tulang oleh
ligamen atau tendon pada perlekatannya disebut fraktur avusi. Fraktur
patologis adalah fraktur yang terjadi pada daerah tulang yang

17

berpenyakit karena terjadinya penurunan densitas tulang seperti kista


tulang, penyakit piaget, metastasis tulang, tumor

4. Etiologi
Fraktur di sebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk,
gerakan puntir mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem
(Smeltzer, 2002). Umumnya fraktur disebabkan oleh trauma dimana
terdapat tekananan yang berlebih pada tulang. Fraktur cenderung
terjadi pada laki-laki, biasanya fraktur terjadi pada umur di bawah 45
tahun dan sering berhubungan dengan olah raga, pekerjaan, atau luka
yang di sebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Sedangkan
pada orang tua, perempuan lebih sering mengelami fraktur daripada
laki-laki

yang

osteoporosis

berhubungan

yang

terkait

dengan

dengan

meningkatnya

perubahan

hormon

insiden
pada

menopouse (Reeves,2001)
5. Patofisiologi
Patah tulang biasanya terjadi karena benturan tubuh, jatuh
atau trauma (Long, 1996). Baik itu karena trauma langsung misalnya:
tulang kaki terbentur bemper mobil, atau tidak langsung misalnya:
seseorang yang jatuh dengan telapak tangan menyangga. Juga bisa
karena trauma akibat tarikan otot misalnya: patah tulang patela dan
olekranon, karena otot trisep dan bisep mendadak berkontraksi.
(Oswari, 2008).
Fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur tertutup.
Tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
dunia luar. Terbuka bila terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar oleh karena perlukaan di kulit. (Mansjoer, 2009).

18

Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar


tempat patah dan ke dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut,
jaringan lunak juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi
peradangan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel-sel darah putih
dan sel mast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran
darahketempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel
mati dimulai. Di tempat patah terbentuk fibrin (hematoma fraktur)
dan berfungsi sebagai jala-jala untuk melekatkan sel-sel baru.
Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru imatur
yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang
baru mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati (Corwin,
2008)
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf
yang berkaitan dengan pembengkakanyg tidak ditangani dapat
menurunkan asupan darah ke ekstremitas dan mengakibatkan
kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan dapat
mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dapat
berakibat anoksia jaringanyg mengakibatkan rusaknya serabut saraf
maupun

jaringan

otot.

Komplikasi

ini

dinamakan

sindrom

kompartemen (Brunner & suddarth, 2009)


6. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi,
deformitas, pemendekan ekstermitas, krepitus, pembengkakan lokal,
dan perubahan warna (Smeltzer, 2002). Gejala umum fraktur
menurut Reeves (2001) adalah rasa sakit, pembengkakan, dan
kelainan bentuk.
1) Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen
tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur
merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk
meminimalkan gerakan antara fragmen tulang

19

2) Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan


dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar
biasa) bukannya tetap rrigid seperti normalnya. Pergeseran
fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan
deformitas (terlihat maupun teraba) ekstermitas yang bisa di
ketahui

dengan

membandingkan

ekstermitas

normal.

Ekstermitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi


normal

otot

bergantung

pada

integritas

tulang

tempat

melekatnya otot.
3) Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang
sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan di
bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkapi satu
sama lain sampai 2,5-5 cm (1-2 inchi)
4) Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik
tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara
fragmen satu dengan lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan
kerusakan jaringan lunak yang lebih berat.
5) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi
sebagai akibat trauma dan pendarahan yang mengikuti fraktur.
Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah
cedera.
Tabel 2.3
Macam-macam fraktur dibagian ekstremitas
Fraktur
Falang (jari)
Metakarpal
Karpal
Skafoid
Radius dan ulna
Humerus:
Suprakondiler
Batang
Proksimal (impikasi)
Proksimal (dengan pergeseran)
Klavikula
Vertebra
Pelvis
Femur:
Intrakapsuler

Lamanya (minggu)
3-5
6
6
10 (sampai terlihat penyatuan)
10-12
3
8-12
3
6-8
6-10
16
6
24

20

Intratrokhanterik
Batang
Suprakondiler
Tibia:
Proksimal
Batang
Maleolus
Kalkaneus
Metatarsal
Falang (jari)
Sumber: Smeltzer S.C dan Bare B.G., 2002

1.

10-12
18
12-15
8-10
14-20
6
12-16
6
3

7. Penatalaksanaan kedaruratan
Penatalaksanaan dalam buku Lukman Nurma (2009)
a) Penatalaksanaan kedaruratan
Bila dicurigai adanya fraktur, penting

untuk

melakukan imobilisasi bagian tubuh segera sebelum klien di


pindahkan. Bila klien mengalami cedera, sebelum klien dapat
dilakukan pembidaian, ekstemitas harus di sangga diatas
sampai dibawah tempat patahan untuk mencegah gerakan rotasi
maupun angulasi. Pimbadaian sangat penting untuk mencegah
kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang.
Gerakan fragmen patahan tulang dapat menyebabkan
timbulnya rasa nyeri, kerusakan jaringan lunak, dan perdarahan
lebih lanjut. Nyeri yang terjadi karena fraktur yang sangat berat
dapat dikurangi dengan menghindari fragmen tulang. Daerah
yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara
dengan bantalan yang memadai, dan kemudian dibebat dengan
kencang namun tetap harus memperhatikan nadi perifer.
Imobilisasi tulang panjang ekstermitas bawah dapat juga
dilakukan dengan membebat ke dua tungkai bersama, dengan
ekstermitas yang sehat bertindak sebagai bidai bagi ekstermitas
yang cedera.
Luka ditutup dengan pembalut steril (bersih) untuk
mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam pada luka
terbuka. Jangan sekali-kali melakukan reduksi fraktur, bahkan
bila ada fragmen tulang yang keluar melalui luka/menembus
kulit. Evaluasi klien dengan lengkap. Pakaian di lepas dengan

21

lembut, diawali dari bagian tubuh yang sehat dan di lanjutkan


pada bagian tubuh yang cedera. Ekstermitas sebisa mungkin
jangan sampai di gerakan untuk mencegah kerusakan jaringan
lunak lebih lanjut.
Pertolongan pertama pada penderita patah tulang di luar rumah
sakit adalah sebagai berikut.
(1) Jalan napas
Bila penderita tak sadar, jalan napas dapat
tersumbat karena lidahnya sendirinyang jatuh kedalam
faring, sehingga menutup jalan napas atau adanya
sumbatan oleh lendir, darah, muntahan atau benda asing.
Untuk mengatasi keadaan ini, penderita dimiringkan
sampai tengkurap. Rahang dan lidah ditarik ke depan dan
di bersihkan faring dengan jari-jari.
(2) Perdarahan pada luka.
Cara yang paling efektif dan paling aman adalah
dengan meletakan kain yang bersih (kalau bisa steril) yang
cukup tebal dan dilakukan penekanan dengan tangan atau
dibalut dengan verban yang cukup menekan. Torniket
sendiri mempunyai kelemahan dan bahaya. Kalau
dipasang terlalu kendur menyebabkan pendarahan vena
berlebihan. Kalau dipasang terlalu kuat dan terlalu lama
dapat menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh darah.
Dalam melakukan penekanan atau pembebatan pada
daerah yang mengalami pendarahan, harus diperhatikan
denyut nadi perifer, serta pengisian kapiler untuk
mencegah terjadinya kematian jaringan.
(3) Syok.
Pada suatu kecelakaan kebanyakan syok yang
terjadi adalah syok hemoragik. Syok bisa terjadi bila orang
kehilangan darahnya 30% dari voleme darahnya. Pada
fraktur femur tertutup orang dapat kehilangan darah 10001500 cc.

22

Empat tanda syok yang dapat terjadi setelah trauma adalah


1)
2)
3)
4)

sebagai berikut.
Denyut nadi lebih dari 100 x/menit.
Tekanan sistolik kurang dari 100 mmHg.
Wajah dan kuku menjadi pucat atau sianosis.
Kulit tangan dan kaki dingin.
Gejala-gejala dapat berupa sakit (bukan gejala
dominan), otot-otot menjadi lunak, timbul rasa haus,
pernafasan menjadi cepat dan dalam, serta kesadaran
normal, apatis atau koma.
Paling baik untuk mengatasi syok karena
perdarahan adalah diberikan darah (tranfusi darah),
sedangkan cairan lainnya seperti plasma, dextran, dan
lain-lain kurang tepat karena tidak dapat menunjang
perbaikan karena tidak ada sel darah yang sangat
diperlukan untuk transportasi oksigen.

(4) Fraktur dan dislokasi.


Fraktur dan dislokasi dari anggota gerak harus
dilakukan imobilisasi sebelum penderita dibawa ke rumah
sakit. Guna bidai selain untuk imobilisasi atau mengurangi
sakit, juga untuk mencegah kerusakan jaringan lunak yang
lebih

parah.

Pada

fraktur/dislokasi

servikal

dapat

dipergunakan gulungan kain tebal atau bantalan pasir yang


di letakkan di sebelah kiri dan kanan kepala. Pada tulang
belakang cukup diletakkan di alas keras.
Fraktur/dislokasi di daerah bahu atau lengan atas
cukup diberikan sling (mitella). Untuk lengan bawah dapat
dipakai papan dan bantalan kapas. Fraktur femur atau
dislokasi sendi panggul dapat dipakai Thomas splint atau
papan panjang di pasang yang dari aksila sampai pedis dan
difiksasi dengan tungkai sebelah yang normal. Fraktur

23

tungkai bawah dan lutut dapat dipakai papan ditambah


bantalan kapas dari pangkal paha sampai pedis. Untuk
trauma di daerah pedis dapat dipakai bantalan pedis.
b) Prinsip penanganan fraktur.
Prinsip penanganan fraktur meliputi reduksi,
imobilisasi, dan pengembalian fungsi serta kekuatan normal
dengan rehabilitasi (Smiltzer, 2002). Reduksi fraktur berarti
mengembalikan fragmen tulang pada kesejajaranya dan rotasi
anatomis. Metode untuk mencapai reduksi fraktur adalah
dengan reduksi tertutup, traksi, dan reduksi terbuka. Metode
yang dipilih untuk mereduksi fraktur bergantung pada sifat
frakturnya.
Pada kebanyakan kasus, reduksi tertutup dilakukan
dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujungujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi
manual.

Selanjutnya,

traksi

dapat

dilakukan

untuk

mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi


disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan
pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi
interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku atau
batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan
fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang
solid terjadi.
Tahapan selanjutnya setelah fraktur direduksi adalah
mengimobilisasi dan mempertahankan fragmen tulang dalam
posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan.
Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi interna atau
eksterna. Metode fiksasi eksterna meleputi pembalut, gips,
bidai, treaksi kontinu, pin, dan teknik gips. Sedangkan implant
logam digunakan untuk fiksasi interna.
Mempertahankan dan mengembalikan

fragmen

tulang, dapat dilakukan dengan mempertahankan reduksi dam

24

imobilisasi. Pantau status neurovaskuler, latihan isometrik, dan


memotivasi klien untuk berpartisipasi dalam memperbaiki
kemandirian fungsi dan harga diri.
c) Empat R pada fraktur.
Latih Empat R pada fraktur disampaikan oleh Price
(1995), yaitu rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi.
Rekognisi menyangkut diagnosis fraktur pada tempat kejadian
dan kemudian dibawa ke rumah sakit. Riwayat kecelakaan,
derajat keparahan, jenis kekuatan yang berperan, dan deskripsi
tentang peristiwa yang terjadi oleh penderita sendiri,
menetukan apakah ada kemungkinan fraktur dan apakah perlu
dilakukan pemeriksaan spesifik untuk mencari adanya fraktur.
Reduksi adalah usaha dan tindakan memanipulasi
fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk
kembali seperti letak asalnya. Fraktur tertutup pada tulang
panjang sering ditangani dengan reduksi tertutup. Untuk
evaluasi awal biasanya dapat dilaksanakan pemasangan bidaigips dan untuk mengurangi nyeri selama tindakan, klien dapat
diberi narkotika intravena, sedatif atau blok saraf lokal.
Retensi, sebagai aturan umum, maka gips yang
dipasang untuknmempertahankan reduksi harus melewati sendi
diatas fraktur. Bila kedua sendi posisinya membentuk sudut
dengan sumbu longitudinal tulang patah. Maka koreksi
angulasi dan oposisi dapat dipertahankan, sekaligus mencegah
perubahan letak rotasional.
d) Penatalaksanaan fraktur terbuka
Patah tulang terbuka memerlukan pertolongan segera.
Penundaan waktu dalam memberikan pertolongan akan
mengakibatkan komplikasi infeksi karena adanya pemaparan
dari lingkungan luar. Waktu yang optimal untuk melaksanakan
tindakan sebelum 6-7jam sejak kecelakaan, disebut golden
period.

25

Secara klinis patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat


(Pusponegoro A.D., 2007), yaitu :
(1) Derajat I : Terdapat luka tembus kecil sejung jarum,
luka ini didapat dari tusukan fragmen-fragmen tulang
dari dalam.
(2) Derajat II : Luka lebih besar disertai dengan kerusakan
kulit subkutis. Kadang-kadang ditemukan adanya bendabenda asing disekitar luka.
(3) Drajat III : Luka lebih besar dibandingkan dengan luka
pada derajat II. Kerusakan lebih hebat karena sampai
mengenai tendon dan otot-otot saraf tepi.
Pada luka derajat I biasanya tidak mengalami
kerusakan kulit, sehingga penutupan kulit dapat ditutup secara
primer. Namun pada derajat II, luka lebih besar dan bila
dipakasakan menutup luka secara primer akan terjadi tegangan
kulit. Hal ini akan mengganggu sirkulasi bagian distal.
Sebaiknya luka dibiarkan terbuka dan luka ditutup setelah 5-6
hari (deleyed primary suture). Untuk fiksasi tulang pada
derajat II dan III paling baik menggunakan fiksasi eksterna.
Fikasasi eksterna yang sering dipakai adalah Judet, Roger
Anderson, dan

Methyl Methacrylate. Pemakaian gips masih

dapat diterima, bila peralatan tidak ada. Namun, kelemahan


pemakaian gips adalah perawatan yang lebih sulit.
Salah satu tindakan untuk fraktur terbuka yaitu
dilakukan debredemen. Debredemen bertujuan untuk membuat
keadaan luka yang kotor menjadi bersih, sehingga secara
teoritis fraktur tersebut dapat dianggap fraktur tertutup. Namun
secara praktis, hal tersebut tidak pernah tercapai. Tindakan
debredemen dilakukan dalam anastesi umum dan selalu harus
disertai dengan pencucian luka dengan air yang steril/NaCl
yang mengalir. Pencucian ini memegang peranan penting

26

untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada


tulang.
Pada fraktur terbuka tidak boleh dipaang torniket, hal
ini penting untuk menentukan batas jaringan yang vital dan
nekrotik. Daerah luka dicukur rambutnya, dicuci dengan
detergen yang lunak (misal Physohex), sabun biasa dengan
sikat lamanya kira-kira 10menit, dan dicuci dengan air
mengalir: dengan siraman air mengalir diharapkan kotorankotoran dapat terangkat mengikuti aliran air.
Tindakan pembedahan berupa eksisi pinggir luka,
kulit, subkutis, fasia, dan pada otot-otot nekrosis yang kotor.
Frsgmrn tulsng ysng kecil dan tidak mempengaruhi stabilitas
tulang dibuang. Fragmen yang cukup besar tetap di
pertahankan.

8.
1)

Penatalaksanaan fraktur dalam buku Aplikasi NANDA


Reduksi
Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang
pada kesejajarannya dan rotasi anatomis. Reduksi tertutup,
mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya
saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual. Alat
yang digunakan biasanya traksi, bidai dan alat yang lainnya.
Reduksi terbuka, dengan pendekatan bedah. Alat fiksasi interna

2)

dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku.


Imobilisasi
Imobilisasi dapat dilakukan dengan metode eksterna dan
interna mempertahankan dan mengembalikan fungsi status
neurovaskuler selalu dipantau meliputi peredaran darah, nyeri,
perabaan, gerakan. Perkiraan waktu imobilisasi yang di butuhkan

27

untuk penyatuan tulang yang mengalami fraktur adalah sekitar 3


bulan.
9.

Pemeriksaan diagnostik.
1) Pemeriksaan Rotgen : menentukan lokasi/ luasnya fraktur/
trauma, dan jenis fraktur.
2) Scan tulang, tomogram, CT Scan/MMRI : memperlihatkan
tingkat keparahan fraktur, juga dapat untuk mengidentifikasi
kerusakan jaringan lunak.
3) Arteriogram : dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler.
4) Hitung darah lengkap : Ht mungkin meningkat (homokonsentrasi)
atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ
jauh pada multiple trauma). Peningkatan jumlah SDP adalah
proses stres normal setelah trauma.
5) Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk

B.

klirens ginjal.
Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
A. Identitas Pasien
Nama
: Tn. L
Umur
: 21 Tahun
Jenis kelamin
: Laki-laki
Agama
: Islam
Alamat
: Kp Babakan Hernom RT 05 RW 06
Status
: Belum menikah
Suku/Bangsa
: Sunda
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
: Buruh
Tangal MRS
: 06 Juni 2016
Tanggal Pengkajian: 25 Juni 2016
Diagnosa medis
: Fraktur
B. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
Apa yang menjadi alasan pasien datang ke RS atau
tempat pelayanan kesehatan.Biasanya pasien dengan
fraktur mengeluh nyeri didaerah yang mengalami fraktur.
2) Riwayat Keluhan Utama

28

Apa yang menjadi penyebab keluhan utama,yang


memberatkan dan meringankan,seberapa berat keluhan
dirasakan,seberapa sering terjadinya,lokasi keluhan serta
apakah terjadi mendadak atau bertahap.Biasanya pasien
merasa nyeri pada saat mobilitas,pada daerah fraktur.
3) Riwayat Kesehatan Dahulu
Keadaan yang dapat berhubungan dengan dihadapi
pasien saat ini,seperti keadaan umum kesehatan yang
berupa penyakit-penyakit yang pernah dialami.
4) Riwayat Kesehatan Keluarga
Pengkajian riwayat kesehatan keluarga diperlukan
untuk menelusuri kemungkinan adanya kecenderungan
berhubungan dengan faktor ginetik,namun fraktur tidak ada
hubungan dengan herediter karena faktornya hanya
kecelakaan.
5) Riwayat Psikososial
Mengkaji situasi lingkungan,separti kebiasaan hidup
pasien,pola aktivitas,keadaan mantal pasian.Bisanya pasien
dengan fraktur marasa kurang percaya diri,karena adanya
perubahan status kesehatan.
C. Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum
b) Kesadaran
c) TTV

: Tampak lemah
: Compos mentis
: Tekanan darah
Respirasi
Nadi
Suhu badan

(1) kepala
Inspeksi
Palpasi
(2) Rambut
Warna
Penyebaran

: Bentuk bulat simetris kiri dan kanan


: Tidak ada nyeri tekan
: Hitam
: Rata di seluruh area kulit kepala

29

(3) Hidung

: Tidak ada secret,Nasal septum

berada di tengah
(4) Mata
: Sklera tidak ikterus,konjungtiva
tidak anemis
(5) Wajah
(6) Telinga
(7) Leher
Inspeksi

: Bentuk simetris kiri dan kanan


: Pendengaran (kiri dan kanan)
: Tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid,tidak ada
distensi Vena jugularis

Palpasi

: Tidak ada nyeri tekan

(8) Thorax
Inspeksi

: Simetriks kiri dan kanan,pergerakan


antara dada kiri dan dada Kanan
sama.

Palpasi

: Vibrasi fremitus kiri dan kanan


sama

Perkusi
Auskutasi

: Terdengar suara sonor


: Suara napas bronchovesikuler,tidak
ada suara pernapasan Tambahan.

(9) Abdomen
Inspeksi

: Terdapat pernapasan abdominalis


(pada laki-laki) Pernapasan Torakalis

Palpasi

(pada wanita)
: Tidak ada

pembesaran

pembengkakan,turgor
Perkusi
(10)Genetalia
(11)Ekstremitas

dan
kulit

elastic
: Bunyi pekak
: Tidak ada kelainan
: Jika fraktur terjadi diatas maka akan
terganggu,begitu pula sebaliknya
dengan di bawah.

30

D. Analisa data
Tabel 2.4
ANALISA DATA
No
1.

DATA
DS:Pasien mengatakan nyeri pada
daerah yang mengalami fraktur
DO : Wajah pasien tampak
meringis

ETIOLOGI
Trauma/benturan
karena kecelakaan

Fraktur

Terganggunya
neurosensorik

Terjadi proses nyeri

2.

DS : Pasien mengatakan tidak

Trauma/benturan

Gangguan

dapat beraktifitas

akibat kecelakaan

fisik

DO : Pergerakan pasien

MASALAH
Nyeri

Mobilitas

tampak terbatas,sehingga

Fraktur

aktifitas di bantu oleh

Kontiunitas jaringan

perawat.

tulang terputus

Terbatasnya
pergerakan pasien

Gangguan Mobilitas
fisik
3.

DS: pasien mengatakan tidak

Trauma/benturan

tahu

akibat kecelakaan

tentang

penyembuhan

proses

penyakit

dan

pemulihan kaki yang fraktur

Fraktur

DO: pasien terlihat bingung

Kurangnya informasi
yang di dapat

Kurang pengetahuan.

31

4.

Ds:

klien

mengatakan

tidak

nyaman dengan kondisi luka

Kurang pengetahuan
Trauma benturan
akibat kecelakaan

seperti itu (fraktur)


Do : taerdapat luka fraktur

Resiko tinggi terhadap


infeksi

Fraktur

Belum terjadi tanda tanda infeksi

Terdapat luka terbuka

Terpajan dengan dinia


luar

Mikroorganisme dari
luar bisa masuk ke
dalam luka

Resiko terjadi infeksi

E. Diagnosa Keperawatan.
1. Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan fraktur
DS : Klien mengatakan nyeri dan pusing.
DO: adanya perdarahan , adanya fraktur, pasien tampak gelisah.
a) Tujuan :
Tidak terjadi trauma tambahan dan menstabilkan posisi fraktur.
b) Kriteria hasil :
Mempertahankan stabilisasi dan posisi fraktur
Menunjukan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas pada sisi
fraktur.
Menunjukan pembentukan kalus/mulai penyatuan fraktur dengan tepat.
c) Intervensi dan rasional
(1) Intervensi : Pertahankan tirah baring/ekstermitas sesuai indikasi.
Berikan sokongan sendi diatas dan dibawah fraktur bila
bergerak/membalik.
Rasional : Meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan
gangguan posisi/penyembuhan.
(2) Intervensi : letakan papan dibawah tempat tidur atau tempatkan
pasein pada tempat tidur ortopedik.

32

Rasional : Tempat tidur lembut atau lentur dapat membuat


deformasi gips yang masih basah, mematahkan gips yang sudah
kering, atau mempengaruhi dengan penarikan traksi.
(3) Intervensi gips/bebat: Sokong fraktur dengan bantal/gulungan
selimut. Pertahankan posisi netral pada bagian yang sakit dengan
bantal pasir, pembebat, gulungan trokanter, papan kaki.
Rasional : Mencegah gerakan yang tak perlu dan perubahan posisi.
Posisi yang tepat dari bantal juga dapat mencegah tekanan
deformitas pada gips yang kering.
(4) Intervensi traksi : Pertahankan posisi/integritas traksi (contoh,
buck,dunlop,pearson, russel)
Rasional : Traksi memungkinkan tarikan pada aksis panjang fraktur
tulang

dan

mengatasi

tegangan

otot/pemendekan

untuk

memudahkan posisi/penyatuan. Tarksi tulang (pen, kawat,jepitan)


memungkinkan penggunaan berat lebih besar untuk penarikan
traksi daripada digunakan untuk jaringan kulit.
2. Nyeri akut berhubungan dengan Cedera pada jaringan lunak.
DS : klien mengatakan nyeri di bagian yang fraktur
DO: Terdapat luka fraktur
Klien tampak meringis
a) Tujuan :
Pasien mengatakan nyeri berkurang/hilang
b) Kriteria hasil :
Menunjukan tindakan santai; mampu berpartisipasi dalam aktivitas/
tidur/ istirahat dengan tepat.
Menunjukan pengguanaan keterampilan relaksasi dan aktivitas
terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual.

(1)

c) Intervensi dan rasional.


Intervensi: Pertahankan mobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring,
gips, pembebat, traksi
Rasional : Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi

(2)

tulang/tegangan jaringan yang cedera.


Intervensi : Tinggikan dan dukung ekstermitas yang terkena.
Rasional : Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema,
dan menurunkan nyeri.

33

(3)

Intervensi : Hindari penggunaan sprei/bantal plastik dibawah ekstermitas


dalam gips
Rasional

(4)

Dapat

ketidaknyamanan

karena

peningkatan produksi panas dalam gips yang kering.


Intervensi : Tinggikan penutup tempat tidur; pertahankan linen terbuka
pada ibu jari kaki.
Rasional :

(5)

meningkatkan

Mempertahankan

kehangatan

tubuh

tanpa

ketidaknyamanan karena terkena selimut pada bagian yang sakit.


Intervensi : Evaluasi keluhan nyeri, perhatiakan lokasi dan karakteristik,
termasuk intensitas (skala 0-10) perhatikan petunjuk nyeri nonverbal
(perubahan pada tanda vital dan emosi/prilaku)
Rasional : Mempengaruhi pilihan/pengawasan

keefektifan

intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi/reaksi


(6)

terhadap nyeri.
Intervensi : Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan
dengan cedera.
Rasional : Membantu untuk menghilangkan ansietas. Pasien dapat
merasakan

(7)

kebutuhan

untuk

menghilangkan

pengalaman

kecelakaan.
Intervensi : Jelaskan prosedur sebelum memulai.
Rasional : Memungkinkan pasien untuk siap secara mental untuk
aktivitas

juga

berpartisipasi

dalam

mengontrol

tingkat

ketidaknyaman.
(8)

(9)

Intervensi : Beri obat sebelum perawatan aktivitas


Rasional : Meningkatkan relaksasi otot dan meningkatkan
partisipasi.
Intervensi : Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif/aktif.
Rasional : Mempertahankan kekuatan/mobilitas otot yang sakit dan
memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
(10)
Intervensi :Berikan alternatif tindakan kenyamanan, contoh
pijatan, pijatan punggung, perubahan posisi.
Rasional :Meningkatkan sirkulasi umum; menurunkan area tekanan
lokal dan kelelahan otot.
(11)
Intervensi : Dorong menggunakan teknik menejemen stress,
contoh relaksasi progresif, latihan napas dalam, imajinasi
visualisasi. Sentuhan terapeutik.

34

Rasional : Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa


kontrol, dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam
menejemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih
lama.
(12)
Intervensi :Idintifikasi aktivitas terapeutik yang tepat untuk
usia pasien, kemampuan fisik, dan penampilan pribadi.
Rasional : Mencegah kebosanan, menurunkan ketegangan, dan
dapat meningkatkan kekuatan otot; dapat meningkatkan harga diri
dan kemampuan koping.
(13)
Intervensi : Selidiki adanya keluhan nyeri yang tak
biasa/tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif/buruk tidak hilang
dengan analgesik.
Rasional :Dapat menandakan terjadinya komplikasi, contoh infeksi,
iskemia jaringan, sindrom kompartemen.
(14)
Intervensi kolaborasi : bebat/buat spalk sesuai kebutuhan
Rasional : Mungkin dilakukan pada keadaan darurat untuk
menghilangkan

restriksi

sirkulasi

yang

diakibatkan

pembentukan edema pada ekstermitas yang cedera.


(15)
Intervensi Kolaborsi :
Kaji awasi

oleh

tekanan

intrakompartemen.
Rasional : Peningkatan tekanan (biasanya sampai 30 mmHg atau
lebih) menunjukan kebutuhan evaluasi segera dan intervensi
(16)
Intervensi Kolaborasi : Siapkan untuk intervensi bedah
(contoh, fibulektomi/fasiotomi) sesuai indikasi
Rasional : Kegagalan untuk menhilangkan tekanan/memperbaiki
sindrom kompartemen dalam 4 sampai 6 jam dari timbulnya dapat
mengakibatkan kontraktur berat/kehilangan fungsi dan kecacatan
ekstermitas distal cedera atau perlu amputasi.
(17)
Intervensi Kolaborasi : Awasi Hb/Ht,

pemeriksaan

koagulasi contoh kadar protrombin.


Rasional : Membantu dalam kalkulasi kehilangan darah dan
membutuhkan keefektifan terapi penggantian.
(18)
Intervensi
Kolaborasi
:
Berikan
antiebolitik/tekanan berurutan sesuai indikasi.

kaos

kaki

35

Rasional

Menurunkan

pengumpulan

vena

dan

dapat

meningkatkan aliran balik vena, sehingga menurunkan resiko


pembentukan trombus.
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka
neuromuskuler.
DS : klien megatakan sulit menggerakan kaki yang fraktur dan ketika di
gerakan kaki terasa sakit
DO : pergerakan pasien tampak terbatas sehingga pasien beraktifitas di
bantu oleh keluarga dan perawat
a) Tujuan :
Pasien dapat menggerakan daerah fraktur secara perlahan.
b) Kriteria hasil :
Meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi
yang mungkin.
Mempertahankan posisi fungsional.
Meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi
bagian tubuh.
Menunjukan teknik yang memampukan melakukan aktivitas.
c) Intervensi dan Rasional
(1) Intervensi : Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh
cedera/pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap
imobilisasi.
Rasional : Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi
diri

tentang

keterbatasan

fisik

aktual.

Memerlukan

informas/intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan.


(2) Intervensi : Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik/reaksi.
Pertahankan rangsang lingkungan contoh, radio, TV, koran,
barang

milik

pribadi/lukisan,

jam,

kalender,

kunjungan

keluarga/teman.
Rasional :Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi,
memfokuskan

kembali

perhatian,

meningkatkan

rasa

kontroldiri/harga diri, dan membantu menurunkan isolasi sosoial.


(3) Intervensi :intruksikan pasien untuk/bantu dalam rentang gerak
pasif/aktif pada ekstermitas yang sakit dan yang tak sakit.
Rasional : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk
meningkatkan

tonus

otot,

mempertahankan

gerak

sendi,

36

mencegah kontraktur/atrofi, dan resorpsi kasium karena tidak


digunakan.
(4) Intervensi : Dorong penggunaan latihan isometrik mulai dengan
tungkai yang tak sakit.
Rasional : Kontraksi otot isometrik tanpa menekuk sendi atau
menggerakan tungkai dan membantu mempertahankan kekuatan
dan masa otot. Catatan : Latihan ini dikontraindikasikan pada
perdarahan akut/edema.
(5) Intervensi : Berikan papan kaki, bebat pergelangan, gulungan
trokanter/tangan yang sesuai.
Rasional : Berguna dalam mempertahankan posisi fungsional
ekstermitas, tangan/kaki, dan mencegah komplikasi (contoh
kontraktur/kaki jatuh)
(6) Intervensi : Tempatkan dalam posisi telentang secara periodik bila
mungkin, bila traksi digunakan untuk menstabilkan fraktur
tungkai bawah.
Rasional : Menurunkan resiko kontraktur fleksi panggul.
(7) Intervensi : Instruksikan/dorong menggunakan trepeze dan pasca
posisi untuk fraktur tungkai bawah.
Rasional : Memudahkan gerakan selama hygine/perawatan kulit,
dan penggantian linen; menurunkan ketidaknyamanan dengan
tetap datar di tempat tidur. pasca posisi melibatkan penempatan
kaki yang tak sakit datar di tempat tidur dengan lutut menekuk
sementara menggenggam trapeze dan mengangkat tubuh dari
tempat tidur.
(8) Intervensi : Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan (contoh
mandi, mencukur)
Rasional : Meningkatkan

kekuatan

otot

dan

sirkulasi,

meningkatkan kontrol pasien dalam situasi, dan meningkatkan


kesehatan diri langsung.
(9) Intervensi : Berikan/bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda,
kruk, tongkat, sesegera mungkin. Intruksikan keamanan dalam
menggunakan alat mobilitas.
Rasional : Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring
(contoh,

flebitis)

dan

meningkatkan

penyembuhan

dan

37

normalisasi fungsi organ. Belajar memperbaiki cara menggunakan


alat penting untuk mempertahankan mobilisasi optimal dan
keamanan pasien.
(10)
Intervensi : Awasi TD dengan melakukan aktivitas,
perhatikan keluhan pusing
Rasional : Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai
tirah baring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus
(contoh kemiringan meja dengan peninggian secara bertahap
sampai posisi tegak).
(11)
Intervensi : Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk
latihan batuk/napas dalam.
Rasional
:Mencegah/menurunkan

insiden

komplikasi

kulit/pernapasan (contoh dekubitus, atelektasis, pneumonia)


(12)
Intervensi : Auskultasi bising usus. Awasi kebiasaan
eliminasi dan beikan keteraturan defekasi rutin. Tempatkan pada
pispot, bila mungkin, atau menggunakan bedpan fraktur. Berikan
frivasi.
Rasional : Tirah baring, penggunaan analgesik, dan perubahan
dalam kebiasaan diet dapat memperlambat peristaltik dan
menghasilkan

konstipasi.

Tindakan

keperawatan

yang

memudahkan eliminasi dapat mencegah/membatasi komplikasi.


Bedpan fraktur membatasi fleksi panggul dan mengurangi
tekanan lumbal/gips ekstermitas bawah.
(13)
Intervensi : Dorong peningkatan masukan cairan sampai
2000-3000 ml/hari, termasuk air asam/jam.
Rasional : Mempertahankan hindari tubuh, menurunkan resiko
infeksi urinarius, pembentukan batu, dan konstipasi
(14)
Intervensi : Berikan diet tinggi protein, karbohidrat,
vitamin, dan mineral. Pertahankan penurunan kandungan protein
sampai setelah defekasi pertama.
Rasional : Pada adanya cedera muskuloskeletal, nutrisi yang
diperlukan untuk penyembuhan berkurang dengan cepat, sering
mengakibatkan penurunan berat badan sebanyak 20-30 pon
selama traksi tulang. Ini dapat mempengaruhi masa otot, tonus,

38

dan

kekuatan.

Catatan

makanan

protein

meningkat

kandungannya pada usus halus, mengakibatkan pembentukan gas


dan konstipasi, sehingga fungsi GI harus secara penuh membaik
sebelum makanan berprotein meningkat.
(15)
Intervensi : Tingkatkan jumlah diet kasar. Batasi makanan
pembentuk gas.
Rasional : Penambahan bulk pada feses membantu mencegah
konstipasi. Makanan pembentuk gas dapat menyebabkan distensi
abdominal, khususnya pada adanya penurunan motilitas usus.
(16)
Intervensi Kolaborasi : Konsul dengan ahli terapi
fisik/okupasi dan/atau rehabilitasi spesialis.
Rasional : Berguna dalam mebuat aktivitas individual/program
latihan. Pasien dapat memerlukan bantuan jangka panjang dengan
gerakan, kekuatan, dan aktivitas yang mengandalkan berat badan,
juga penggunaan alat, contoh walker, kruk, tongkat, meninggikan
tempat duduk di toilet, tongkat pengambil/penggapai, khususnya
alat makan.
(17)
Intervensi Kolaborasi: Lakukan program defekasi (pelunak
feses, enema, laktasif) sesuai indikasi.
Rasional : Dilakukan untuk meningkatkan evakuasi usus.
(18)
Intervensi Kolaborasi: Rujuk ke perawat spesialis psikiatrik
klinikal/ahli terapi sesuai indikasi.
Rasional : Pasien/orang terdekat memerlukan tindakan intensif
lebih untuk menerima kenyataan kondisi/prognosis, imobilisasi
lama, mengalami kehilangan kontrol.
4. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.
DS : klien mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya dan proses
penyembuhan.
DO : klien tampak bingung dan banyak bertanya.
a) Tujuan :
Pasien mampu memahami tentang kondisi dan prosedur pengobatan
b) Kriteria hasil:
Menyatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan.
Melakukan dengan benar prosedur yang diperlukan dan menjelaskan
alasan tindakan.
c) Intervensi dan Rasional

39

(1) Intervensi : Kaji ulang patologi, prognosis, dan harapan yang


akan datang.
Rasional : Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat
membuat pilihan informasi. Catatan: fiksasi internal dapat
mempengaruhi kekuatan tulang dan intramedula, kuku/akar atau
piringan mungkin diangkat beberapa hari kemudian.
(2) Intervensi : Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai
intruksi dengan terapis fisik bila diindikasikan.
Rasional : Banyak fraktur memerlukan gips, bebat atau
penjepitselama proses selama proses penyembuhan. Kerusakan
lanjut dan pelambatan penyembuhan dapat terjadi sekuder
terhadap ketidaktepatan penggunaan alat ambulasi.
(3) Intervensi : Anjurkan penggunaan backpack.
Rasional : Memberi tempat untuk membawa artikel tertentu dan
membiarkan tangan bebas untuk memanipulasi kruk atau dapat
mencegah kelelahan otot yang tak perlu bila satu tangan di gips.
(4) Intervensi : Buat daftar aktivitas dimana pasien dapat
melakukannya secara mandiri dan memerlukan bantuan.
Rasional : Penyusunan aktivitas sekitar kebutuhan dan yang
memerlukan bantuan.
(5) Intervensi : Identifikasi tersedianya sumber pelayanan di
masyarakat, contoh tim rehabilitasi, pelayanan perawatan
dirumah.
Rasional : Memberikan bantuan untuk memudahkan perawatan
diri dan mendukung kemandirian. Meningkatkan perawatan diri
optimal dan pemulihan.
(6) Intervensi : Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk
sendi di atas dan di bawah fraktur.
Rasional : Mencegah kekakuan sendi, kontraktur, dan kelelahan
otot, meningkatkan kembalinya aktivitas sehari-hari secara dini.
(7) Intervensi : Diskusikan pentingnya perjanjian evaluasi klinis.
Rasional :Penyembuhan fraktur memerlukan waktu tahunan untuk
sembuh lengkap, dan kerjasama pasien dengan program
pengobatan membantu untuk penyatuan yang tepat dari tulang.
(8) Intervensi : Kaji ulang perawatan luka pen/luka yang teapat.

40

Rasional : Menurunkan resiko trauma tulang/jaringan dan infeksi


yang dapat berlanjut menjadi osteomielitis.
(9) Intervensi : Identifikasi tanda-tanda dan gejala-gejala yang
memerlukan

evaluasi

demam/menggigil,

bau

medik,
tak

contoh

enak,

nyeri

berat,

perubahan

sensasi,

pembengkakan, paralis, ibu jari atau ujung jari putih/dingin, titik


hangat, area lunak, gips retak.
Rasional : Intervensi cepat
komplikasi

dapat

menurunkan

beratnya

seperti infeksi/ gangguam sirkulasi.

Catatan;

beberapa kulit yang menjadi gelap dapat terjadi secara normal


bila berjalan pada ekstermitas yang digips atau menggunakan
tangan yang digips; ini harus membaik dengan istirahat dan
peninggian.
5. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan.
DS : klien mengatakan luka yang nya terasa panas ketika menjelang
malam dan klien menyatakan tidak nyaman.
DO : terdapat luka pada kaki , imobilisasi fisik.
a) Tujuan
Tanda tanda infeksi tidak ada dan infeksi tidak terjadi
b) Kriteria hasil
Menyatakan ketidaknyamanan hilang
Menunjukan prilaku/teknik untuk mencegah kerusakan

kulit/

memudahkan penyembuhan sesuai indikasi.


Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi.
c) Intervensi dan Rasional.
(1) Intervensi : inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan
kontinuitas
Rasional : pen atau kawat tidak harus di masukan melalui kulit
yang terinfeksi, kemerahan atau abrasi (dapat menimbulkan infeksi
tulang)
(2) Intervensi : kaji sisi pen/kulit perhatikan keluhan peningkatan
nyeri/rasa terbakar atau adanya edema, eritema,drainase/bau tak
enak.
Rasional : dapat mengindikasikan timbulnya infeksi lokal/nekrosis
jaringan, yang dapat menimbulkan osteomielitis.
(3) Intervensi : Berikan perawatan pen/kawat steril sesuai protokol dan
latihan mencuci tangan

41

Rasional : dapat mencegah kontaminasi silang dan kemungkinan


infeksi
(4) Intervensi : Instruksikan pasien untuk tidak menyebutkan sisi
insersi
Rasional : Meminimalkan kesempatan untuk kontaminasi.
(5) Intervensi : Tutupi pada akhir gips peritoneal dengan pelastik.
Rasional : Gips yang lembab, padat meningkatkan pertumbuhan
bakteri.
(6) Intervensi : Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi,
perubahan warna kulit kecoklatan, bau drainase yang tak
enak/asam.
Rasional : tanda perkiraan infeksi gas gangrene.
(7) Intervensi : kaji tonus otot, reflek tendon dalam dan kemampuan
untuk berbicara.
Rasional : kekuatan otot, spaseme tonik otot rahang, dan disfagia
menunjukan terjadinya tetanus
(8) Intervensi : selidiki nyeri tiba-tiba/keterbatasan gerakan dengan
edema lokal/eritema ekstermitas cedera.
Rasional : dapat mengindikasi terjadinya osteomielitis.
(9) Intervensi : lakukan prosedur isolasi.
Rasional : Adanya drainase purulen akan memerlukan
kewaspadaan luka/linen untuk mencegah kontaminasi silang.
(10)
Intervensi kolaborasi : berikan obat sesuai indikasi contoh :
antibiotik IV/topikal
Rasional : antibiotik spektrum luas dapat digunakan secara
profilaktif atau dapat di tujukan pada mikroorganisme khusus.
C. Konsep Alat bantu jalan Kruk
Alat bantu jalan yaitu alat yang di gunakan untuk membantu klien
supaya dapat berjalan dan bergerak, (suratun dkk,2008). Alat bantu jalan
merupakan sebuah alat yang dipergunakan untuk memudahkan klien
dalam berjalan agar terhindar dari resiko cidera dan juga menurunkan
ketergantungan pada orang lain. Alat bantu jalan pasien adalah alat bantu
jalan yang digunakan pada penderita/pasien yang mengalami penurunan
kekuatan otot dan patah tulang pada anggota gerak bawah serta gangguan
keseimbangan (kozier barbara dkk, 2009).

42

Kruk yaitu tongkat atau alat bantu untuk berjalan, biasanya


digunakan secara berpasangan yang di ciptakan untuk mengatur
keseimbangan pada saat akan berjalan (suratun dkk,2008).
Gambar 2.4 Kruk

1) Indikasi penggunaan kruk


a) Pasca amputasi kaki
b) Hemiparese
c) Paraparese
d) Fraktur pada ekstremitas bawah
e) Terpasang gibs
f) Pasca pemasangan gibs
2) Kontra Indikasi
a) Penderita demam dengan suhu tubuh lebih dari 37o C.
b) Penderita dalam keadaan bedrest.
3) Manfaat Penggunaan Kruk
a) Memelihara dan mengembalikan fungsi otot.
b) Mencegah kelainan bentuk, seperti kaki menjadi bengkok.
c) Memelihara dan meningkatkan kekuatan otot.
d) Mencegah komplikasi, seperti otot mengecil dan kekakuan sendi.
4) Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan kruk
a) Perawat atau keluarga harus memperhatikan ketika klien akan
menggunakan kruk.
b) Monitor klien saat memeriksa penggunaan kruk dan observasi untuk
beberapa saat sampai problem hilang.
c) Perhatikan kondisi klien saat mulai berjalan.
d) Sebelum digunakan, cek dahulu kruk untuk persiapan.
e) Perhatikan lingkungan sekitar.
5) Tujuan Penggunaan Kruk
a) Meningkatkan kekuatan otot,
b) pergerakan sendi dan kemampuan mobilisasi
c) Menurunkan resiko komplikasi dari mobilisasi
d) Menurunkan ketergantungan pasien dan orang lain
e) Meningkatkan rasa percaya diri klien
6) Fungsi Kruk
a) Sebagai alat bantu berjalan.
b) Mengatur atau memberi keseimbangan waktu berjalan.
c) Membantu menyokong sebagian berat badan klien

43

7) Tekhnik penggunaan kruk


a) Pastikan panjang kruk sudah tepat
b) Bantu klien mengambil posisi segitiga, posisi dasar berdiri
menggunakan kruk sebelum mulai berjalan.
c) Ajarkan klien tentang salah satu dari empat cara berjalan dengan kruk
d) Perubahan empat titik atau cara berjalan empat titik memberi
kestabilan pada klien, tetapi memerlukan panahanan berat badan pada
kedua tungkai. Masing-masing tungkai digerakkan secara bergantian
dengan masing-masing kruk, sehingga sepanjang waktu terdapat tiga
titikdukungan pada lantai
e) Perubahan tiga titik atau cara berjalan tiga titik mengharuskan klien
menahan semua beratbadan pada satu kaki. Berat badan dibebankan
pada kaki yang sehat, kemudian pada kedua krukdan selanjutnya
urutan tersebut diulang. Kaki yang sakit tidak menyentuh lantai
selama fase dini berjalan tiga titik. Secara bertahap klien menyentuh
lantai dan semua beban berat badan bertumpu pada
f) Cara berjalan dua titik memerlukan sedikitnya pembebanan berat
badan sebagian pada masing-masing kaki. Kruk sebelah kiri dan kaki
kanan maju bersama-sama. Kruk sebelah kanan dan kaki kiri maju
bersama-sama.
g) Cara jalan mengayun ke kruk ( swing to gait), klien yang mengalami
paralisi tungkai dan pinggul dapat menggunakan cara jalan mengayun
ini. Penggunaan cara ini dalam jangka waktu yang lama dapat
mengakibatkan atrofi otot yang tidak terpakai. Minta klien untuk
menggerakkan kedua kruk kedepan secara bersamaan.pindahkan
berat badan kelengan dan mengayun melewati kruk.
h) Cara jalan mengayun melewati kruk ( swing throughgait)
i) Cara jalan ini sangat memerlukan ketrampilan,kekuatan dan
koordinasi klien. Minta klien untuk menggerakkan kedua kruk
kedepan secara bersamaan. Pindahkan berat badan ke lengan dan
mengayun melewati kruk.
j) Ajarkan klien menaiki dan menuruni tangga
Gambar 2.5 Berjalan tiga titik menggunakan kruk

44

(1) Cara naik tangaga


(a) Lakukan posisi tiga titik
(b) Bebankan berat badan pada kruk
(c) Julurkan tungkai yang tidak sakit antara kruk dan anak
tangga
(d) Pindahkan beban berat badan dari kruk ketungkai yang tidak
sakit
(e) Luruskan kedua kruk dengan kaki yang tidak sakit diatas
anak tangga

Gambar 2.6 Cara naik tangga menggunakan kruk

45

(2) Cara turun tangga


(a) Bebankan berat badan pada kaki yang tidak sakit
(b) Letakkan kruk pada anak tangga dan mulai memindahkan
berat badan pada kruk, gerakkan kaki yang sakit kedepan
(c) Luruskan kaki yang tidak sakit pada anak tangga dengan
kruk
(d) Ajarkan klien tentang cara duduk di kursi dancara beranjak
dari kursi.
Gambar 2.7 Cara turun tanggan menggunakan kruk

(3) Cara duduk


(a) Klien diposisi tengah depan kursi dengan aspek posterior
kaki menyentuh kursi
(b) Klien memegang kedua kruk dengan tangan berlawanan
dengan tungkai yang sakit. Jika kedua tungkai sakit kruk
ditahan dan pegang pada tangan klien yang lebih kuat

46

(c) Klien meraih tangan kursi dengan tangan yang lain dan
merendahkan tubuh kekursi.
(4) Cara bangun
(a) Lakukan tiga langkah di atas dalam urutan sebaliknya.
(b) Cuci tangan.
(c) Catat cara berjalan dan prosedur yang diajarkan serta
kemampuan klien untuk melakukan cara berjalan dalam
catatan perawat.
Gambar 2.8 Cara duduk dan bangun menggunakan kruk

D. Satuan operasional pelaksanaan/lembar observasi pemakaian alat


bantu mobilisasi (Kruk)
Sebelum melaksanakan implementasi pemakaian alat bantu jalan
kruk pada pasien fraktur perawat terlebih dahulu harus mengetahui standar
operasional prosedur diantaranya perawat tahu definisi mobilisasi dan
imobilisasi tujuan Mobilisasi serta tujuan Range Of

Motion,

prinsif

mekanika dan prinsif ROM. Sebelumnya perawat harus mempersiapkan


alat mengetahui prosedur tindakan selanjutnya setelah melakukan tindakan
di akhiri dengan Evaluasi dan dokumentasi

47

Tabel 2.5
Satuan operasional pelaksanaan
No

Kegiatan

Hasil
Iya

Definisi
Mobilisasi atau mobilitas adalah : kemampuan
individu untuk bergerak secara bebas, mudah, dan
teratur dengan tujuan memenuhi kebutuhan aktivitas
guna mempertahankan kesehatannya.
Imobilisasi atau imobilitas adalah : keadaan dimana
seorang tidak dapat bergerak secara bebas karena
kondisi yang mengganggu pergerakan (aktivitas).
Misalnya mengalami trauma tulang, cedera otak berat
disertai fraktur pada ekstermitas dan sebagainya.

PRINSIF MEKANIKA
a. Untuk mendukung kesehatan dan mencegah
b.

kecacatan
Penggunaan yang tidak benar dapat mengganggu
kemampuan perawat untuk mengangkat,

memindahkan dan mengubah posisi pasien


PRINSIF ROM
a. Latihan dilakukan dengan benar tanpa menambah
cedera
3

TUJUAN MOBILISASI ANTARA LAIN


a. Memenuhi kebutuhan dasar manusia
b. Mencegah terjadinya trauma
c. Mempertahankan tingkat kesehatan
d. Mempertahankan interaksi sosial dan peran seharihari
e. Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh
TUJUAN (ROM) RANGE OF MONTION
a. Meningkatkan atau mempertahankan fleksibilitas
b.
c.
d.
e.

dan kekuatan otot


Mempertahankan fungsi jantung dan pernafasan
Mencegah kekakuan pada sendi
Merangsang sirkulasi darah
Mencegah kelainan bentuk, kekakuan dan
kontraktur

PERSIAPAN ALAT
Kruk

Tidak

Ket

48

PROSEDUR TINDAKAN
A. Interaksi
1. Salam terapeutik
2. Memperkenalkan diri perawat ke pasien
3. Validasi status pasien
B. PROSEDUR TINDAKAN ALAT BANTU
JALAN KRUK
1. GAYA BERJALAN DENGAN KRUK
a. Cara berdiri dasar kruk adalah posisi
tripod, dengan cara menempatkan kruk
15 cm di depan dan 15 cm di samping
b.

setiap kaki klien


Posisi ini digunakan sebelum kruk
berjalan dan BB tidak boleh ditahan

2.

oleh aksila
GAYA BERJALAN EMPAT TITIK
a. Penompang BB di kedua kaki. 3 titik
b.

penopang BB selalu berada di lantai.


Klien memposisikan kruk pertama kali
lalu memposisikan kaki yang
berlawanan (mis: kruk kanan dengan
kaki kiri). Klien kemudian mengulangi
urutan cara ini dengan kruk dan kaki

3.

yang lain secara bergantian.


GAYA BERJALAN TIGA TITIK
BERGANTIAN
Semua BB di satu kaki. BB ditopang di kaki
yang tidak sakit kemudian di kedua kruk, dan
urutan ini dilakukan berulang-ulang. Kaki yang
sakit tidak menyentuh tanah selama tahap awal
gaya berjalan tiga titik. Secara bertahap klien
mulai menyentuh tanah dan menopang berat

4.

secara penuh pada kaki yang sakit.


GAYA BERJALAN DUA TITIK
BERGANTIAN.
Memerlukan sedikit penopang berat sebagian di
setiap kaki. Setiap kruk digerakan bersamaan
dengan kaki yang berlawanan sehingga gerakan
kruk sama dengan gerakan lengan saat berjalan
normal.

EVALUASI

49

a.

Tindakan evaluasi hasil dilakukan melalui


tanya jawab dan demonstrasi yang dilakukan

b.
7

oleh keluarga pasien


Upaya tindak lanjut di rumuskan

DOKUMENTASI
a. Tindakan dan respon saat dan setelah tindakan
b.

dicatat dengan jelas dan ringkas


Paraf dan nama jelas dicantumkan pada
catatan pasien/status