Anda di halaman 1dari 8

A kite is an object which is made from a light material stretched

over a frame. Due to its light material a kite will lift off the ground
and fly when it is tilted into the wind.
A kite is uses wind to make it fly because it is heavier than air.
When wind travels over the surface of the kite, it is split into two
streams of air. One stream of the air goes over the kite while the
second stream goes under the kite.
The upper stream creates an area of low pressure above the kite.
The lower stream hits the kite at a shallow angle and creates an
area of high pressure.
The high pressure area has a pushing effect while the low
pressure area has a pulling effect. The combination of push and
pull can creates enough force to lift the kite into the air.
Kites have been known for thousand of years. They are used for
military or scientific purposes. Todays kites are much used for
leisure and competition.
Sebuah layang-layang adalah sebuah benda yang terbuat dari
bahan ringan membentang di atas bingkai. Karena bahan yang
ringan layang-layang akan mengangkat dari tanah dan terbang
ketika dimiringkan ke angin.
Sebuah layang-layang yang menggunakan angin untuk
membuatnya terbang karena lebih berat daripada udara. Ketika
angin perjalanan di atas permukaan layang-layang, itu terbagi
menjadi dua aliran udara. Salah satu aliran udara berjalan di atas
layang-layang sementara aliran kedua berjalan di bawah layanglayang.

Hulu menciptakan daerah tekanan rendah di atas layang-layang.


Semakin rendah aliran menyentuh layang-layang pada sudut

dangkal dan menciptakan daerah tekanan tinggi.


Daerah bertekanan tinggi memiliki efek mendorong sementara
daerah tekanan rendah memiliki efek menarik. Kombinasi
mendorong dan menarik dapat menciptakan kekuatan yang cukup
untuk mengangkat layang-layang ke udara.
Layang-layang telah dikenal selama ribuan tahun. Mereka
digunakan untuk tujuan militer atau ilmiah. Todays layangan yang
banyak digunakan untuk bersantai dan kompetisi.

Layang-layang merupakan lembaran bahan tipis berkerangka yang


diterbangkan ke udara dan terhubungkan dengan tali atau benang kedaratan
atau pengendali. Dikenal luas di seluruh dunia sebagai suatu permainan,
layang-layang diketahui juga memilki fungsi ritual, alat bantu memancing
atau menjerat, atau sebagai alat bantu penelitian ilmiah, serta media
alternative. Pada permasalahan sederhana, ketika seorang anak akan
menerbangkan layang-layang, maka ia harus berlari atau menyiapkan
ancang-ancang yang cukup jauh kemudian menarik talinya hingga layanglayang itu terbang ke atas dengan memanfaatkan hembusan angin.
Bagaimana suatu layang-layang tersebut akhirnya dapat terbang dan
bagaimana

mekanismenya?

Suatu layang-layang dapat terbang karena beberapa faktor. Pertama


adalah masalah desainnya, pada layang-layang desainnya dibuat simetris
artinya bila di potong membujur maupun melintang akan diperoleh dua
bagian sama ukuran. Sehingga saat terbang ia memiliki keseimbangan.

Kedua, Gaya angkat pada layang-layang, ketika kita lihat layang-layang


terbang dalam posisi miring hal itu terjadi karena ada gaya yang mengangkat
layang-layang tersebut. Gaya angkat (lift) dapat dihasilkan karena adanya
perbedaan kecepatan di antara dua permukaan sehingga terjadi perbedaan
tekanan antara permukaan atas dan permukaan bawah layang-layang. Aliran
udara di atas lebih besar daripada dibawah layag-layang sehingga tekanan di
atas lebih kecil daripada tekanan di bawah layang-layang, sehingga
menimbulkan gaya angkat pada layang-layang. Hal ini sesuai dengan hukum
Bernoulli. Ketiga, karena faktor Aliran udara yang dibelokkan. Ketika aliran
udara dibelokkan, terjadi gaya aksi-reaksi seperti pada hukum Newton III,
yaitu antara aliran udara dan objek (layang-layang) yang membelokkan
udara tersebut. Artinya udara tidak lewat begitu saja, tetapi mengikuti
bentuk permukaan di dekatnya. Streamline aliran fluida tersebut akan
berubah sesuai dengan bentuk permukaan di dekatnya. Hal ini menyebabkan
aliran udara terbelokkan ketika mengenai permukaan layang-layang.
Keempat, karena adanya tali atau benang sebagai penyangganya ketika
terbang atau akan terbang. Tali tersebut menyebabkan adanya tegangan tali
sehingga posisi layang-layang tetap berada di atas atau terbang. Jika tidak
ada tali, maka layang layang tersebut akan jatuh ke bawah karena adanya
gaya gravitasi bumi.
Mekanisme layang-layang sehingga dapat terbang adalah seperti
mekanisme yang terjadi pada sayap pesawat terbang. Pesawat terbang dapat
terbang dipengaruhi oleh weight (berat) dan lift yang bekerja pada pesawat
terbang. Setiap sesuatu yang yang menempati ruang memiliki massa. Setiap
massa yang terpengaruh oleh medan gravitasi, memiliki berat. Setiap
komponen pesawat terbang mulai dari kerangka pesawat, penumpang,
sampai dengan bagasi menambah berat pesawat terbang tersebut. Gaya berat

ini akan menjadikan pesawat jatuh ke bumi akibat penagruh gaya gravitasi
bumi. Sehingga, pesawat harus ditahan supaya tidak jatuh. Pesawat terbang
dapat mengudara karena ditahan oleh gaya angkat yang dihasilkan oleh
seluruh badan pesawat. Komponen terbesar yang menghasilkan gaya angkat
tersebut adalah bagian sayap pesawat.
Demikian juga dengan layang-layang, gaya berat yang dimiliki oleh
layang-layang ditahan oleh gaya angkat dari hembusan angin yang
menyebabkan layang-layang tidak dapat jatuh ke bawah. Sedangkan tali atau
benang digunakan sebagai penahan yang menjadikan kondisi layang-layang
stabil di angkasa. Gaya angkat (lift) ini diperoleh dari adanya perubahan
kecepatan udara yang yang menentang layang-layang. Bila ada udara dengan
massa m bergerak dengan kecepatan v, kemudian menabrak layang-layang
dalam selang waktu t (udara jadi berhenti), maka layang-layang akan
mendapat gaya sebesar F = m.v/t.

Kites is a framed sheet of thin material that was flown into the air and connected
by a rope or thread kedaratan or controllers. Widely known throughout the world
as a game, kite known also has the function of ritual, fishing or trapping tool, or as
a tool for scientific research, as well as alternative media. In simple problems,
when the child would fly a kite, then he should run or prepare to square off far
enough then pull the rope until the kite fly up to take advantage of wind gusts.
How does a kite was finally able to fly and how the mechanism?
A kite can fly because of several factors. The first is a matter of design, the kite is
made symmetrical design means when in longitudinal and transverse cut will be
two parts of equal size. So when he flew to have balance. Second, the lift force on
the kite, when we see a kite flying in a slanting position it happens because there is
a force that lifts the kite. Lift (elevator) can be generated due to the difference in
speed between the two surfaces so that the pressure difference between the top
surface and a bottom surface of the kite. Airflow over greater than under Layag-fly
so that the pressure at the top is smaller than the pressure at the bottom of the kite,
giving rise to lift the kite. This is in accordance with the laws of Bernoulli. Third,

because of the air flow is deflected. When the air flow is deflected, the case of
action-reaction force as in Newton's third law, which is between the airflow and the
object (kite) which deflect the air. This means that the air does not pass away, but
to follow the shape of the surface nearby. Streamline the flow of the fluid is
changed according to the shape of the surface nearby. This causes the air flow
deflected when the surface of the kite. Fourth, because of the rope or thread as a
buffer when flying or going to fly. The rope led to tension the rope so that the
position of the kite remain above or fly. If there are no ropes, then the kite will fall
down because of gravity.
Mechanism kite that can fly is like a mechanism that occurs on aircraft wings.
Airplanes can fly influenced by weight (weight) and the lift acting on the aircraft.
Every thing that occupies space has mass. Each mass is affected by the
gravitational field, has weight. Each aircraft components ranging from airframe,
passengers, baggage add weight to the aircraft. Gravity will make the plane
crashed into the earth due to gravity penagruh. Thus, the aircraft should be held so
as not to fall. Aircraft can be aired as retained by the lifting force generated by all
airframe. The largest component which produces the lifting force is part of an
aircraft wing.
Likewise, the kite, gravity owned by kite detained by the lifting force of the winds
that cause the kite can not fall down. While the rope or yarn used as a barrier that
makes the kite stable conditions in space. Lift (elevator) is obtained from the
change in air speed against the kite. If there is an air mass m moving with velocity
v, then hit the kite in the time interval t (air so stop), the kite will get a force of F =
mv / t.

enghasilkan reaksi dengan besar gaya yang sama namun arah yang berlawanan.
Secara simpel (dengan penyederhanaan bertingkat dan kompresi penjelasan tingkat
tinggi) burung mengepak untuk dapat terbang. Krik krik krik. Aki-aki juga tahu
kalau burung terbang dengan mengepak. Tapi, yang tidak diketahui aki-aki adalah
bagaimana burung melakukannya. Burung tidak pakai mikroprosesor 22mm
dengan delapan inti di kepalanya, tidak juga mereka mengambil kursus terbang.
Jadi, pertanyaannya adalah bagaimana?

Gambar 1. Peran bagian dalam dan luar sayap yang berbeda terkait proses terbang
(sumber: Ornithology 2007).

Sekarang kita masuk ke bagian fisikanya (huuu~) dan sebaiknya kalian bersiap
dengan bejibun istilah aneh yang akan segera muncul di sini. Sayap burung dapat
dianggap sebagai sebuah airfoil atau papan sayap sama dengan pada pesawat.
Untuk menghasilkan gaya angkat (lift), sebuah sayap harus berhadapan
dengan angin dengan sudut datang (angle of attack) yang tepat. Ya,
berhadapan. Burung tidak terbang dengan mengikuti angin, tapi melawan angin.
Sama dengan layangan yang tidak akan terbang kalau tidak berhadapan dengan
angin. Nah, sudut datang ini harus tepat dan jangkauannya (range) terbatas. Jika
sudut datang tidak tepat, maka sayap tidak dapat menghasilkan gaya angkat yang
cukup untuk tetap terbang dan burung akan kehilangan kendali (stall). Lha, lalu
mana bagian hukum ketiga Newton di sini? Begini, ketika sayap menerjang angin,
maka aliran udaranya akan terbelah ke atas dan bawah permukaan sayap. Aliran
udara di bawah sayap akan memberikan gaya angkat sebagai reaksi dari aliran ke
bawah akibat gravitasi dan aliran udara di atas sayap akan mengalir ke belakang
dan menghasilkan gaya gesek udara (air friction) sebagai reaksi gerakan maju pada
sayap.

Gambar 2. Alula berfungsi mengatur aliran udara di permukaan atas sayap agar
tetap stabil (sumber: Ornithology 2007).
Ingat ada bulu kontur primer dan sekunder pada sayap burung? Nah, bulu-bulu itu
membentuk luasan sayap dengan fungsi yang berbeda. Sayap bagian dalam (tempat
bulu kontur sekunder) berperan dalam menghasilkan dan mempertahankan
gaya angkat, sedangkan sayap bagian luar (bulu kontur primer) berperan dalam
menghasilkan gaya angkat dan gaya dorong. Tidak hanya itu peran bulu kontur

pada sayap. Bulu kontur pada sayap bisa digerakkan dan diatur dengan tepat posisi
dan arahnya (sebenarnya semua bulu kontur itu bisa digerakkan oleh burung)
sehingga burung bisa mengatur arah dan kecepatan terbang. Bulu primer pada
sayap burung bisa merapat atau terbuka untuk membentuk celah (slot) yang
berfungsi mengatur aliran dan tekanan udara. Kalau kalian perhatikan, celah
itu akan tampak paling jelas pada burung bersayap lebar dan besar, seperti elang
atau bangau, dan memberikan kesan menjari pada ujung sayap burung. Dengan
adanya celah itu, burung bisa tetap terbang meskipun angin berhembus sangat
pelan. Selain dengan membentuk celah pada sayap, burung juga punya bulu khusus
bernama alula untuk membantu mengatur aliran udara yang berkumpul di
atas permukaan sayap. Prinsipnya, untuk dapat terbang mulus diperlukan aliran
udara yang stabil. Ketika aliran udara sudah terkumpul banyak dan tidak tersalur
dengan baik, maka tekanan akan membesar dan menghasilkan hambatan (drag)
atau pusaran udara (turbulence) baik di bagian atas maupun bawah sayap yang bisa
menyebabkan kondisi stall. Nah, celah dan alula pada sayap berfungsi untuk
mengatur aliran udara agar tidak terjadi gangguan seperti di atas.

Proses pembuatan
Neon diperoleh dengan mencairkan udara dan melakukan pemisahan dari
gas lain dengan penyulingan bertingkat. Yakni udara diberi tekanan tinggi da
suhunya diturunkan sampai semua komponen udara menjadi cair. Kemudian
tekanan dinaikkan sedikit-sedikit sambil menaikkan suhu, maka gas akan tersuling
pada titik didihnya. Dengan cara ini kita bisa memisahkan komponen-komponen
gas yang ada di udara. Termasuk gas neon di dalamnya.