Anda di halaman 1dari 14

Fraktur pada Bagian Femur

Ricky Suryamin*
102012141
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA
Alamat Korespondensi: Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
e-mail: rickysuryamin@hotmail.com

Pendahuluan
Femur adalah tulang yang terbesar di seluruh tubuh manusia, femur dapat patah atau fraktur
karena traumatik, fraktur spontan/patologis, dan atau karena stress fracture/ fatigue. Fraktur
traumatik dapat terjadi pada saat kecelakaan lalu lintas, pada saat femur terbentur tekanan
yang dihasilkan lebbih besar daripada tekanan yang bisa di tahan oleh femur maka akan
terjadi fraktur. Fraktur spontan atau patologis disebabkan oleh trauma ringan, seperti yang
terjadi pada orang tua karena pada orang tua kepadatan tulang sudah menurun jauh.
Sedangkan pada stress fractur karena trauma ringan yang berlangsung terus-menerus, seperti
pada pelari marathon kaki pelari tersebut menahan beban selama berjam-jam pada saat
mereka berlari dan tulang fibula mereka mengalami trauma ringan yang terus-menerus
sehingga dapat menimbulkan patah di tulang fibula.

Anamnesis
Anamnesis adalah pengumpulan data status pasien yang didapat dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan keadaan pasien.Tujuan dari anamnesis
antara lain: mendapatkan keterangan sebanyak mungkin mengenai penyakit pasien,
membantu menegakkan diagnosa sementara dan diagnosa banding, serta membantu
menentukan penatalaksanaan selanjutnya. Wawancara yang baik seringkali sudah dapat
mengarah masalah pasien dengan diagnosa penyakit tertentu. Adapun anamnesis meliputi:
pencatatan identitas pasien, keluhan utama pasien, riwayat penyakit sekarang, riwayat
penyakit dahulu, serta riwayat penyakit keluarga.
Berdasarkan kasus, anamnesa yang harus dilakukan terhadap pasien ialah:
Menanyakan identitas pasien seperti umur dan pekerjaannya.
Menanyakan keluhan utama pasien.
Menanyakan riwayat penyakit yang deskriptif & kronologis dan faktor-faktor yang
memperberat penyakit seperti demam,lelah atau gejala sistemik lainnya(panas,
penurunan BB, kelelahan, lesu, rasa tidak enak badan
Menanyakan riwayat penyakit dahulu seperti riwayat trauma dan aktivitas sosial yang
dilakukan sehari-hari.

Menanyakan riwayat penyakit keluarga ada pernah menderita penyakit yang sama
seperti pasien atau ada riwayat trauma.1

Pemeriksaan Fisik

Look
Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal, angulasi, rotasi,
pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh, atau
robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cidera terbuka.

Feel
Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari fraktur untuk
merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat
yang memerlukan pembedahan.
Move
-

Krepitasi: terasa krepitasi bila fraktur digerakkan, tetapi ini bukan cara yang baik dan

kurang halus. Krepitasi timbul oleh pergeseran atau beradunya ujung tukang kortikal
Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif dan pasif
Memeriksa seberapa jauh gangguan fungsi, gerakan yang tidak mampu dilakukan,

range of motion dan kekuatan


Gerakan yang tidak normal: gerakan yang terjadi tidak pada sendi. Misalnya:
pertengahan femur dapat digerakan. Ini adalah bukti paling penting adanya fraktur.
Hal ini penting untuk membuat visum, misalnya: bila tidak ada fasilitas rontgen.

Pemeriksaan penunjang (radiologi)


Radiologi

untuk

lokasi

fraktur

harus

menurut

rule

of

two,

terdiri

dari

1. Dua gambaran, ateroposterior (AP) dan lateral


2. Memuat dua sendi di proksimal dan distal fraktur, contoh panggul dan lutut
Fraktur dapat terjadi pada setiap bagian batang, tetapi tempat yang paling sering adalah
sepertiga bagian tengah. Fraktur dapat berbentuk spiral atau melintang, atau mungkin
terdapat fragmen berbentuk segitiga (kupu-kupu) yang terpisah pada satu sisi. Pergeseran
dapat terjadi pada setiap arah. Kadang-kadang terdapat dua fragmen melintang, sehingga
segmen femur akan terisolasi.
Pemeriksaan penunjang yang lain ialah MRI dan CT scan. MRI jarang dipakai untuk deteksi
awal penyakit tetapi sangat berguna menunjukkan kondisi penyakit karena ia memperlihatkan
jaringan lunak di sekitar sendi. Bagi pasien yang ada kontraindikasi dengan MRI,CT scan
digunakan sebagai ganti.2

Gambar 1. Fraktur femur.

Etiologi fraktur femur


Fraktur adalah gangguan pada kontinuitas tulang. Frktur paling sering disebabkan oleh
trauma, tetapi dapat terjadi fraktur patologik pada tulang yang sakit hanya oleh regangan otot
ringan pada aktivitas sehari-hari. Tujuan perbaikan fraktur adalah memulihkan susuan tulang,
mempertahankan reduksi tulang samppai terjadi penyembuhan, dan mempertahankan dan
memulihkan fungsi otot-rangka. Fraktur sering dipersulit oleh adanya cedera jaringan lunak
dan struktur neurovaskular di sekitar fraktur, serta oleh efek sistemik yang terjadi selama
trauma.3
Fraktur pada regio femur sering disebabkan oleh beberapa faktor :
Osteoporosis
Kecelakaan lalu lintas
Jatuh dari tempat yang tidak terlalu tinggi ( seperti terpeleset di kamar mandi)
Trauma yang hebat
Jatuh dari tempat yang tinggi
Trauma langsung

Klasifikasi Fraktur: 4
1. Menurut Depkes RI (1995), berdasarkan luas dan garis fraktur meliputi:
Fraktur Komplit Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas
sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya menyeberang
dari satu sisi ke sisi lain serta mengenai seluruh korteks.
Fraktur Inkomplit Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan
garis patah tidak menyeberang, sehingga tidak mengenai korteks (masih ada
korteks yang utuh).
2. Menurut Black dan Matassarin(1993), fraktur berdasarkan hubungan dengan dunia
luar meliputi:
Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi,kulit masih utuh dan
tulang tidak menonjol melalui kulit.
Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit karena ada hubungan
dengan dunia luar,maka berpotensi mendapat infeksi.
3. Menurut Long(1996) fraktur dibagi menurut garis patah tulang yaitu:
Tabel : Jenis Fraktur Menurut Garis Patah Tulang
Jenis Fraktur
Linier

Penjelasan
Fraktur berbentuk 1 garis lurus biasanya pada antebrachii, cruris
atau cranium. Fraktur yang tegak lurus terhadap sumbu panjang

Cominutiva

tulang. Pada fraktur ini mudah dikontrol dengan bidai gips.


Biasa pada trauma hebat atau terkena peluru. Terputusnya keutuhan

Spiral dan oblique

jaringan dengan lebih dari dua fragmen tulang.


Traumanya bersifat rotary dan diikuti interposisi dengan jaringan
sekitarnya, biasa pada antebrachii dan cruris. Yang oblique, garis

Avulsi

patahnya membentuk sudut terhadap tulang.


Fraktur yang disertai dengan robekan ligament, tendon, dan otot
(memisahkan fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun

Epifise

ligament)
Merupakan pure cartilaginous fraktur yang mengenai epifise.

Impresi/Kompresi

Salter&Harris membagikan fraktur ini kepada 5 tipe.


Fraktur berbentuk linier atau kominutiva dimana ada fragmen yang
menekan ke dalam. Fraktur Kompresi biasa terjadi pada columna

Gambar 2: Jenis Fraktur Tulang

Greenstick

vertebralis.
Fraktur tidak sempurna, sering terjadi pada anak- anak, Korteks

tulangnya sebagian masih utuh begitu juga periosteumnya. Fraktur


ini akan segera sembuh dan mengalami remodeling ke bentuk dan
Segmental

fungsi normal.
Dua fraktur berdekatan pada satu tulang yang menyebabkan
terpisahnya segmen sentral dari suplai darah. Sulit ditangani karena
biasanya salah satu ujung yang tidak memiliki pembuluh darah
menjadi sulit untuk menyembuh sehingga perlu proses pembedahan.

Gejala Fraktur Tulang:


1) Nyeri: Dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya spasme
otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya.
2) Bengkak/oedema: Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang
terlokalisir pada daerah fraktur dan daerah di jaringan sekitarnya.
3) Memar : Disebabkan karena pendarahan dibawah kulit.
4) Spasme Otot: Kontraksi otot involunter yang terjadi di sekitar fraktur.
5) Penurunan sensasi: Akibat kerusakan saraf, terkenanya saraf karena oedema.
6) Gangguan fungsi: Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur,nyeri atau
spasme otot paralysis.
7) Mobilitas abnormal: Kebanyakannya terjadi pada fraktur tulang panjang.
8) Krepitasi: Rasa gemertak yang terjadi jika bagian-bagian tulang digerakkan.
9) Deformitas: Abnormalitas dari tulang hasil trauma dan pergerakan otot yang
mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal.
10) Shock hipovolemik: Terjadi sebagai kompensasi jika terjadi pendarahan hebat.

Patofisiologi

Fraktur leher femur


Fraktur leher femur merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan pada orang tua
terutama wanita umur 60 tahun ke atas disertai tulang yang osteoporosis dan
terjadinya di daerah proksimal femur. Jatuh pada daerah trokanter baik karena
kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari tempat yang tidak terlalu tinggi seperti
terpeleset di kamar mandi dimana panggul dalam keadaan flexi dan rotasi.
Fraktur daerah trochanter
Fraktur daerah trokanter biasa disebut trokanterik adalah semua fraktur yang terjadi
antara trokanter mayor dan minor. Fraktur ini bersifat ekstra-artikuler dan sering
terjadi pada orang tua diatas umur 60 tahun. Fraktur trokanterik terjadi bila
penderita jatuh dengan trauma langsung pada trokanter mayor/ pada trauma yang
bersifat memuntir. Keretakan tulang terjadi antara trokanter mayor dan minor
dimana fragmen proximal cendrung bergeser secara varus. Fraktur dapat bersifat
komunitif terutama pada korteks bagian posteromedial
6

Fraktur Subtrochanter
Fraktur subtrokanter dapat terjadi pada setiap umur dan biasanya akibat yang hebat.
Fraktur diafisis femur/Batang femur
Fraktur spiral terjadi apabila jatuh dengan posisi kaki lekat erat pada dasar sambil
terjadi putaran yang diteruskan pada femur. Fraktur yan bersifat tranversal dan oblik
terjadi karena trauma langsung dan trauma angulasi.

Fraktur Suprakondiler
Fraktur terjadi karena tekanan varus / valgus disertai kekuatan aksial dan putaran.
Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior,
hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot otot gastrocnemius,
biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena
kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan
disertai gaya rotasi.
Fraktur kondilus femur/ Intrakondiler
Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondilar, sehingga
umumnya terjadi bentuk T fraktur atau Y fraktur
Manifestasi klinis
Terjadi syok hebat dan pada fraktur tertutup, dan fat emboli sering ditemukan. Kaki
berotasi keluar, memendek dan deformitas. Paha membengkak dan memar. Patah
pada daerah ini menimbulkan pendarahan yang cukup banyak. Penderita biasanya
tidak hanya nyeri bahkan tidak bisa bangun. Hal ini terjadi karena ketidakstabilan
fraktur.
Komplikasi yang timbul pada fraktur femur
Syok, terjadi perdarahan 1-2 liter, walaupun fraktur bersifat tertutup
Fat emboli, sering didapatkan pada penderita muda dengan fraktur femur perlu
dilakukan pemerikasaan gas darah
Trauma pembuluh darah besar, ujung fragment H menembus jaringan lunak dan
merusak A. Femoralis

Trauma saraf, trauma pada pembuluh darah akibat tusukan fragment dapat
disertai kerusakan saraf yang dapat bervariasi
Infeksi, dapat terjadi pada fraktur terbuka akibat kontaminasi dari luka,tetapi
infeksi dapat terjadi setelah tindakan operasi

Penatalaksanaan
Prinsip umum penanganan fraktur terdiri dari 4R:
Recognition-Membuat diagnosis yang benar berdasarkan anamnesis,waktu kejadian
dan lokalisasi yang cedera.
Reposition-Mengembalikan tulang yang patah ke arah/alignment yang benar,
pengembalian fragment distal terhadap proksimal dan memastikan kedudukan serta
neurovascular terjamin baik.
Retaining-Tindakan mempertahankan kedudukan hasil reposisi, fiksasi luar dengan
gips dan dalam dengan implant seperti K-wire,plate&screw.
Rehabilitation-Mengembalikan fungsi alat atau anggota gerak karena penyambungan
fraktur butuh waktu yang lama.

Tujuan pengobatan fraktur adalah mengembalikan fungsi tulang yang patah dan
ekstremitasnya dalam keadaan normal, dalam jangka waktu sesingkat mungkin dengan cara
konservatif atau operatif:
Konservatif:
1

Dengan proteksi saja.


8

Dengan imobilisasi dengan memasang gips atau bidai pada fraktur yang inkomplit
atau fraktur dengan keadaan baik.

Reposisi tertutup dan fiksasi externa( gips) pada fraktur supra kondiler humeri,
fraktur colles, fraktur smith.

Traksi- manual- fiksasi externa

Perbaikan gizi atau asupan calcium yang lebih untuk memperkuat tulang.

Pengobatan dari segi farmakologis.

Fraktur distal femur seringkali menembus intra artikular dan ia membutuhkan reposisi
anatomis sendi. Reposisi ini merupakan indikasi mutlak untuk operasi fraktur femur
distal. Komplikasi neurovascular sering terjadi terutama pada a.poplitea. Penanganan
yang lambat mengakibatkan tungkai bawah terpaksa diamputasi.

Operatif :
1

Reposisi tertutup dengan bimbingan radiologis.

Reposisi terbuka (ORIF)-menggunakan plate & screw serta Intramedullary rod untuk
menstabilkan tulang yang mengalami fraktur.

Fiksasi externa
Peranti fiksasi luaran yang melekat pada tulang dengan menggunakan pin atau
kabel dan terdiri daripada frame luaran. Alat fiksasi eksterna terdiri dari
pelbagai jenis dari frame uniaksial sederhana hingga ke frame lingkaran

kompleks untuk masalah fraktur yang lebih sukar.


Keuntungan utama adalah operasi minimal invasif dan aplikasi lebih fleksibel.
Kekurangan menggunakan fiksasi externa adalah infeksi pada pin-track,
penerimaan pasien yang rendah dan tahap yang lebih tinggi untuk timbulnya

malunion.
Alat ini sangat sesuai untuk digunakan dalam situasi di mana pelaksanaan
fiksasi dalaman mungkin sukar atau berisiko. Contohnya termasuk fraktur
metafisis distal tulang di mana telah ada sebelumnya osteomyelitis, fraktur
multipel atau kerosakan kulit luas dan pembengkakan berikutan trauma energy
9

tinggi. Fiksasi luaran boleh digunakan untuk sementara dalam situasi ini

sampai fiksasi dalaman dianggap selamat.


Antara indikasi untuk fiksasi luaran adalah:
Fraktur tertutup dengan cedera jaringan lunak di sekitarnya.
Beberapa fraktur terbuka
Fraktur Juxta-artikular dimana nail&plate secara teknikal sukar.
Stabilisasi sementara fraktur tulang panjang pada multipel trauma
Kaki memanjang selepas pemendekkan pasca-trauma
Koreksi deformitas sudut / putaran kompleks pasca-trauma.

Gambar 3: External Fixation

Fiksasi Interna

Peranti fiksasi dalaman terbagi dalam dua kategori utama: peranti intramedulla
dan plate. Variasi lain yang digunakan, seperti skrup atau teknik pengkabelan.
Intramedulla nail banyak digunakan dalam rawatan patah tulang tungkai bawah
tulang panjang pada orang dewasa. Implant ini boleh dimasukkan dengan operasi
minimal invasif dan sangat baik untuk memulihkan keselarasan panjang dan

10

putaran. Peranti ini mempunyai tahap potensi yang sangat rendah terhadap

malunion serta komplikasi lain, seperti jangkitan.


Fiksasi interna merupakan pilihan rawatan menggantikan fraktur tidak stabil di
mana reduksi yang lemah akan lebih compromise untuk penyembuhan dan
memberikan hasil yang fungsional. Hal ini sering digunakan dalam patah tulang
terbuka

high energy trauma dan patah tulang dengan saraf yang berkaitan

kecederaan pembuluh darah, untuk menghasilkan persekitaran/lingkungan luka


yang stabil.

Gambar 4: Contoh Operasi Plate&Screw

Indikasi dilakukannya operasi adalah :

Fraktur yang tidak bisa dengan terapi konservatif atau timbulnya bahaya avaskuler
nekrosis tinggi.

Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup.

Fraktur yang dapat direposisi secara tertutup tapi sulit dipertahankan.

11

Fraktur yang berdasarkan pengalaman, memberi hasil yang lebih baik dengan operasi.

Excisional arthroplasty (membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi) dan
eksisi fragmen.5,6

Pencegahan
Bagi mengelakkan terjadinya fraktur,terutama fraktur pada femur, tindakan yang perlu
dilakukan ialah:

Makanlah makanan yang kaya akan kalsium dan vitamin D bagi meningkatkan
kekuatan tulang dan mengelak tulang menjadi keropos atau mudah patah apabila

diberi tekanan.
Menjadi aktif untuk mencegah terpeleset dan terjadinya fraktur yaitu dengan Weightbearing exercise, seperti bola sepak, berjalan atau melompat tali, membantu membina

tulang yang kuat. Olahraga juga penting untuk menjaga berat badan yang sehat..
Selalu mengenakan sabuk pengaman saat mengemudi atau mengandarai mobil bagi

mengurangi efek fraktur jika terjadinya kecelakaan atau trauma.


Pakailah padding yang benar dan peralatan keselamatan ketika berpartisipasi dalam
kegiatan olahraga.

Mendapat paparan sinar UV matahari (pagi dan sore) yang cukup.

Meningkatkan bekalan vitamin C: Vitamin C penting dalam penyembuhan luka, dan


membantu menghasilkan protein kolagen yang penting untuk pembentukan tulang
sihat. Makan kaya dengan vitamin C seperti jeruk, semangka, betik, paprika merah,
stroberi, brokoli.

Meningkatkan pengambilan makanan yang kaya vitamin K. Selain membantu


pembekuan darah, vitamin K merupakan sebahagian penting daripada proses biokimia
yang mengikat kalsium ke tulang. Ini juga diperlukan untuk pembentukan osteocalcin,
protein tulang. Selain itu, vitamin K membantu mempertahankan kalsium tubuh
dengan mengurangkan kehilangan kalsium dalam urin. Vitamin K didapatkan dari
makanan hijau, sayur-sayuran dan minyak sayur (canola, zaitun dan kacang soya).7

12

Prognosis
Prognosis tergantung pada jenis dan lokasi fraktur femur, usia dan status kesehatan
individu serta adanya cedera secara bersamaan. Pemulihan umumnya memang sudah
dijangka, namun, individu-individu di atas usia 60 dengan fraktur femur tertutup memiliki
tingkat kematian 17%. Tingkat non-union adalah sekitar 1%. Masalah permanen dengan gaya
berjalan mungkin terjadi, dan kecacatan/defromitas dapat diakibatkan dari cedera lain yang
berkelanjutan pada saat fraktur.

Daftar Pustaka
1. Mark H.B, Fletcher A.J, Jones T.V, Porter R. The Merck Manual Of Medical
Information Dictionary. 4th home edition. Pocket books reference; 2007.
2. Pradip PR. Radiologi. Edisi 2. Jakarta : penerbit erlangga;2005.h.8.
3. Barbara J. Comprehensive perioperative nursing. Vol II. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 1996.
4. R. sjamsuhidajat dan Wim de jong. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC;
2004.h.874-877.
5. Luqmani R., Robbs J., Porter D., Keating J. Trauma. Textbook of Orthopaedics,
Trauma, and Rheumatology. 1st ed. Mosby Elsevier; 2008.
6. Corwin EJ. Patofisiologi. Edisi 3. Jakarta : EGC;2009.h.335-339.
7. Femoral Fracture. Ebsco Publishing;2011. Diunduh dari http://www.thirdage.com.
Diakses tanggal 15/03/2014.
13

14