Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Shaken baby syndrome merupakan penyebab utama kematian dan disfungsi

neurologis berat pada anak-anak berusia di bawah tiga tahun.1 Subdural hematom, retinal
hemoragik, dan fraktur tulang terbuka menunjukkan keadaan trauma kepala pada bayi dan
anak-anak yang biasanya dilakukan oleh orang tua atau pengasuh. 2,3 Konsep ini berubah
menjadi kumpulan lesi (ensefalopati akut, perdarahan subdural, dan perdarahan retina)
yang disebut sebagai Non-Accidental Head Injury (NAHI). Tipe kekerasan pada anak ini
disebut sebagai shaken baby syndrome atau

shaken impact syndrome. Menurut The

American Academy of Pediatrics (AAP) Committee on Child Abuse and Neglect, cedera
kepala adalah penyebab utama kematian akibat trauma pada anak.4,5
Insiden shaken baby syndrome di Amerika Serikat tiap tahunnya berkisar antara
1.200-1.600 anak, yang sebagian besar berusia 3-8 bulan, dimana sepertiganya dapat
bertahan hidup dengan tidak atau sedikit mengalami kerusakan lebih lanjut, sepertiganya
menderita cedera permanen dan sisanya meninggal. Di Jerman, sekitar 100 bayi setiap
tahunnya mengalami kerusakan parah di otak karena mengalami guncangan keras dari
pengasuh.4,8
Angka kejadian shaken baby syndrome diperkirakan sebanyak 25-31 kasus per
100.000 pada anak usia satu tahun dengan tingkat mortalitas sebesar 38%.8-10 Korban yang
bertahan hidup akan mengalami disabilitas neurologis, kognitif, perkembangan, dan
gangguan penglihatan. Kerusakan pada otak tersebut disebabkan oleh karena kekerasan
pada anak yang disertai dengan ancaman dan guncangan yang keras, dimana konsekuensi
jangka panjang dapat menyebabkan kesulitan dalam belajar, cacat secara fisik, kebutaan
total atau parsial, kerusakan pendengaran, cacat suara atau cara bicara, cacat teori,
kelumpuhan, tingkah laku yang abnormal dan kematian. Hampir semua korban selamat,
baik yang dirawat di rumah sakit maupun di komunitas, membutuhkan perawatan
multidisiplin sepanjang hidup mereka.11-12
Mengingat banyaknya kejadian shaken baby syndrome terjadi dan buruknya
komplikasi yang dapat ditimbulkan pada bayi atau anak, penulis tertarik untuk mengetahui
lebih dalam mengenai shaken baby syndrome. Telaah ilmiah ini diharapkan dapat
bermanfaat untuk memberikan informasi dan menjadi salah satu sumber bacaan mengenai
shaken baby syndrome.
1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Anatomi Kepala dan Otak Bayi

2.1.1 Anatomi Kepala Bayi

1. Tulang Pembentuk Kepala Bayi


a. Bagian Muka
Tulang hidung (os nasale)
Tulang pipi (os zigomaticum)
Tulang rahang atas (os maxilaris)
Tulang rahang bawah (os mandibularis)
b. Bagian Tengkorak
Tulang dahi (os fontale)
Tulang ubun-ubun (os parietale)
Tulang pelipis (os temporal)
2

Tulang belakang kepala (os occipital)


2. Sutura
a. Sutura sagitalis (sela panah) adalah antara kedua os parietale
b. Sutura coronaria ( sela mahkota) adalah antara os frontale dan os parietale
c. Sutura lamdoidea adalah antara os occipital dan kedua os parietal
d. Sutura frontalis adalah antara os frontalis kiri dan kanan
3. Ukuran Kepala Bayi
a. Ukuran muka belakang
Diameter Suboccipito Bregmatica : foramen magnum ke ubun-ubun besar (9,5 cm)
Diameter Suboccipito Frontalis : foramen magnum ke pangkal hidung (11 cm )
Diameter Fronto Occipitalis : pangkal hidung ke titik terjauh di belakang kepala (12
cm)
Diameter Mento Occipitalis : dagu ke titik terjauh di belakang kepala (13, 5 cm)
Diameter Submento Bregmatica : bawah dagu ke ubun-ubun besar (9,5 cm)
b. Ukuran melintang
Diameter biparietalis (9,5 cm)
Diameter bitemporal (8,5 cm)
c. Ukuran lingkaran
Circumferentia Suboccipito Bregmatica (lingkaran kecil kepala) 32 cm
Circumferentia Fronto Occipitalis (lingkaran sedang kepala) 34 cm
Circumferentia Mento Occipitalis (lingkaran besar kepala) 35 cm
4. Fontanela/ Ubun-ubun
a. Ubun-ubun besar (Fontanela Mayor/ Bregmatica), berbentuk segiempat
b. Ubun-ubun kecil (Fontanela Minor), berbentuk segitiga.
2.1.2 Anatomi Otak Bayi
Otak mengatur dan mengkoordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh
homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu
tubuh. Otak manusia berfungsi mengatur seluruh badan dan pemikiran manusia.

1. Otak dilindungi tiga lapisan selaput meninges.

a. Duramater atau Lapisan Luar


Duramater disebut juga dengan pachimeningen atau meningen fibrosa karena tebal, kuat,
dan mengandung serabut kolagen. Pada duramater terdapat serabut elastis, fibrosit, saraf,
pembuluh darah, dan limfe. Lapisan dalam duramater terdiri dari beberapa lapis fibrosit
pipih dan sel-sel luar dari lapisan arachnoid.
b. Arachnoid atau Lapisan Tengah
Arachnoid merupakan selaput halus yang memisahkan duramater dengan piamater.
Lapisan arachnoid terdiri atas fibrosit berbentuk pipih dan selaput kolagen. Arachnoid
berbentuk seperti jaring laba-laba. Antara arachnoid dan piamater terdapat ruangan berisi
cairan yang berfungsi untuk melindungi otak bila terjadi benturan.
c. Piamater atau Lapisan Dalam
Piamater merupakan membran yang sangat lembut dan tipis penuh dengan pembuluh darah
dan sangat dekat dengan permukaan otak. Lapisan ini berfungsi untuk memberi oksigen
dan nutrisi serta mengangkut bahan sisa metabolisme.

2. Bagian - bagian Otak

a. Otak Depan
- Cerebrum (Otak Besar)
Bagian terbesar dari otak manusia disebut cerebrum disebut juga sebagai cortex cerebri.
Cerebrum membuat manusia memiliki kemampuan berpikir atau intelektual, analisis,
logika, bahasa, kesadaran, persepsi, memori, aktivitas motorik yang kompleks, dan
kemampuan visual.
Cerebrum dibagi menjadi dua belahan, yaitu hemisfer kanan dan hemisfer kiri. Kedua
belahan tersebut terhubung oleh saraf. Secara umum, hemisfer kanan berfungsi mengontrol
sisi kiri tubuh dan terlibat dalam kreativitas serta kemampuan artistik. Sedangkan hemisfer
kiri berfungsi mengontrol sisi kanan tubuh dan untuk logika serta berpikir rasional.
Cerebrum dibagi menjadi empat lobus. Bagian lobus yang menonjol disebut gyrus dan
bagian lekukan disebut sulcus.
1. Lobus frontalis merupakan bagian lobus depan dari cerebrum. Lobus ini
berhubungan dengan kemampuan membuat alasan, kemampuan, gerak, kognisi,
5

perencanaan, penyelesaian masalah, memberi panilaian, kreativitas, kontrol


perasaan, perilak, dan kemampuan bahasa umum.
2. Lobus parietal berada di tengah, berhubungan dengan proses perasaan seperti
tekanan, sentuhan dan rasa sakit.
3. Lobus temporal berada di bagian bawah berhubungan dengan kemampuan
pendengaran, pemaknaan informasi, dan bahasa dalam bentuk suara.
4. Lobus oksipitalis berada di bagian paling belakang, berhubungan dengan rangsangan
visual guna melakukan interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata.

- Dienchepalon
1. Thalamus berfungsi sebagai station relay dari sensoris, berperan dalm perilaku dan
emosi sejalan dengan sistem limbic, serta mempertahankan kesadaran.
2. Hypothalamus terletak dibawah thalamus yang berfungsi mengatus emosi, hormon,
temperatur tubuh, kondisi tidur dan bangun, keseimbangan kimia tubuh, serta makan dan
minum.
3. Subthalamus merupakan nukleus motorik ekstrapiramida yang penting.
4. Epithalamus berhubungan dengan sistem limbik dan berperan pada beberapa dorongan
emosi dasar dan integrasi informasi olfaktorius.
b. Mesencephalon (Otak Tengah)
Mesencephalon menghubungkan cerebrum dan cerebellum yang berfungsi mengontrol
penglihatan, gerakan mata, pembesaran pupil mata, pendengaran, dan pergerakan tubuh.
Pedunculus cerebri cerebri:
1. Tractus corticospinal & corticopontin: sinyal motorik ke saraf tulang belakang &
pons
2. Substansi nigra: bagian dari sistem kontrol motorik ganglia basalis
6

3. Tegmentum : nukleus merah (relay sinyal dari otak kecil), formatio reticularis
(merangsang seluruh otak, kontrol tonus otot), nukleus saraf III & IV (kontrol gerakan
mata), lemniscus medial (sinyal sensoris ke thalamus)
Tectum: membantu kontrol gerakan mata, reaksi motorik terhadap sinyal auditoris
c. Otak belakang
- Cerebellum berfungsi mengkoordinasi perencanaan gerak, pengaturan keseimbangan,
tonus, keserasian gerak, dan kontrol postur. Berfungsi juga sebagai pengatur sistem saraf
otonom seperti pernafasan, mengatur ukuran pupil, dan lain-lain. Jika terjadi cedera akan
mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot.
- Pons berfungsi mengirimkan data ke pusat otak bersama dengan formasi reticular. Pons
yang menentukan kita terjaga atau tertidur.
- Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah kiri badan menuju
bagian kanan badan, dan sebaliknya. Medulla oblongata mengontrol fungsi otomatis otak
seperti detak jantung, sirkulasi darah, pernapasan, dan pencernaan.

2.2 Shaken Baby Syndrome


2.2.1 Definisi Shaken Baby syndrome
Shaken Baby Syndrome (SBS) adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menyebut kekerasan atau penyiksaan yang dialami oleh bayi, umumnya dilakukan
oleh orang tua atau pengasuh baik secara sengaja maupun tidak. Bayi yang diguncangguncang dengan kuat oleh orang dewasa dengan tujuan untuk menghentikan tangisan atau
rengekan bayi merupakan penyebab nomor satu terjadinya kekerasan pada bayi yang
berakibat SBS selain karena bayi atau anak yang sulit makan. SBS biasanya dialami oleh
anak yang berusia di bawah 1 tahun dan dapat mengakibatkan cedera otak parah yang
permanen, cedera saraf tulang belakang, perdarahan pada mata bahkan kematian. 1,12,13
Diagnosis SBS didasarkan pada tiga gejala klinis yaitu ensefalopati,
perdarahan retina (Retinal Hemorrhage) dan perdarahan subdural (Subdural Hemorrhage)
pada bayi, biasanya dibawah usia enam bulan, yang tiba-tiba meninggal atau memiliki
kelainan neurologis. Istilah non-accidental head injury (NAHI) menjadi pilihan untuk
digunakan karena tidak menggambarkan mekanisme cedera. Diagnosis cedera menjadi
kurang bermakna karena bukti objektif kekerasan, seperti memar, patah tulang, atau luka
bakar tidak ada.2,13,14
8

Gambar 1. Ekstensi dan Fleksi yang Berlebihan pada Kepala Bayi Akibat Gerakan Mengguncang

2.2.2 Epidemiologi Shaken Baby syndrome


Data di Amerika Serikat menunjukkan terdapat sekitar 1000 hingga 1500 kasus
Shaken Baby Syndrome (SBS) setiap tahunnya dimana sebagian besar korban adalah bayi
berusia 3-8 bulan. Kasus yang lebih sedikit ditemukan pada balita hingga usia 4 tahun.
Data lain menunjukkan umumnya bayi yang menderita SBS berlatar belakang keluarga
tertentu, yaitu pada kelompok keluarga yang memiliki masalah dalam kehidupan rumah
tangga atau kehidupan keluarganya tidak harmonis.2
Dalam perbandingan dengan trauma kepala lainnya pada bayi, trauma
akibat SBS memiliki gejala sisa yang lebih buruk. Kematian pada anak yang
menderita SBS berkisar antara 15-38% dari total kasus. Pada beberapa kasus, bayi
atau anak yang selamat dari guncangan keras akan menderita gangguan neurologis
atau gangguan mental seperti cerebral palsy atau retardasi mental. Bahkan pada
kasus

ringan

dimana

bayi

tampak

normal,

mungkin

saja

bayi

mengalami

salah satu atau lebih gejala-gejala tersebut dan baru tampak pada saat anak masuk
sekolah.8
Tak ada angka yang jelas menunjukkan berapa kali guncangan yang bisa
menimbulkan akibat medis atau berapa lama guncangan bisa memunculkan akibat
yang fatal terhadap bayi. Kebanyakan guncangan berlangsung selama sekitar 20
detik atau kurang. Pada beberapa kasus, periode mengguncang berlangsung antara
5-10 detik dan dibutuhkan kekuatan yang cukup untuk membuat kerusakan otak
yang dapat dideteksi sebagai akibat SBS.14

2.2.3 Etiologi
Tindakan mengguncang yang mengarah ke sindrom bayi terguncang terjadi begitu
9

keras yang jika diamati termasuk bahaya dan cenderung untuk membunuh anak. Cedera
dari sindrom ini adalah hasil dari trauma kekerasan. Konstelasi cedera ini tidak terjadi
dengan jatuh jarak pendek, kejang, atau sebagai konsekuensi dari vaksinasi. Tindakan
mengguncang sendirinya dapat menyebabkan cedera serius atau fatal.10,11
Para pengasuh yang beresiko untuk tindakan abusif umumnya memiliki harapan
yang tidak realistis dari anak-anak mereka dan mungkin menunjukkan pembalikan peran
dimana pengasuh berharap kebutuhan mereka yang harus dipenuhi oleh anak.8,13
Selain itu, orang tua yang mengalami stres akibat situasi lingkungan, sosial, biologis,
atau keuangan juga lebih rentan terhadap perilaku impulsif dan agresif. Mereka yang
terlibat dengan kekerasan dalam rumah tangga dan / atau penyalahgunaan zat juga
mungkin berisiko lebih tinggi menimbulkan sindrom bayi terguncang. Anak-anak kecil
sangat rentan menjadi korban karena perbedaan besar dalam ukuran antara mereka dan
pelaku dewasa.14
2.2.4 Faktor Resiko
Terdapat beberapa faktor yang akan meningkatkan resiko terjadinya Shaken Baby
Syndrome (SBS), terutama apabila orang tua atau pengasuh belum memiliki kemampuan
yang memadai untuk merawat bayi.2,13
1.
Bayi berusia kurang dari 1 tahun, terutama bayi berusia 2-4 bulan memiliki resiko
SBS yang dikarenakan ukuran tubuh yang kecil dibandingkan ukuran tubuh dewasa
yang mengangkat dan menggoncang tubuh bayi. Selain itu, bayi berusia 2-4 bulan
lebih cenderung untuk menangis lebih sering dan lebih lama dibandingkan bayi yg
2.
3.
4.
5.
6.

lebih tua.
Prematur infan atau infan yang memiliki disabilitas
Salah satu dari bayi kembar
Bayi yang sering menangis
Setelah mendapatkan kekerasan fisik atau goncangan
Kebanyakan korban SBS adalah laki-laki
Kebanyakan pelaku SBS adalah orang tua dan pengasuh, dimana kebanyakan pelaku

berjenis kelamin laki-laki. Faktor-faktor berikut ini meningkatkan resiko bagi orang tua
atau pengasuh untuk menggoncang bayi, terutama apabila orang tua atau pengasuh yang
bersangkutan belum memiliki kemampuan yang memadai untuk merawat bayi.2
1.
Frustasi atau kemarahan akibat bayi yang menangis terus menerus
2.
Merasa lelah
3.
Mempunyai kemampuan mengontrol kemarahan atau menyesuaikan diri yang rendah
4.
Keterbatasan dukungan sosial
5.
Umur orang tua atau pengasuh yang masih muda
6.
Lingkungan keluarga yang tidak stabil
7.
Status sosioekonomik yang rendah
10

8.
9.
10.

Ekspektasi yang tidak sesuai mengenai perkembangan anak


Perasaan diisolasi dan depresi
Pengalaman masa kecil yang buruk, seperti ditolak dan mengalami kekerasan.

2.2.5 Patofisiologi
Pada prinsipnya, goncangan kuat yang dilakukan terhadap bayi dapat berakibat fatal
karena struktur tubuh bayi masih lemah. Akselerasi rotasional yang terjadi pada kepala
bayi saat bayi diguncang dapat mengakibatkan trauma goncangan. Hal ini berbeda dengan
cedera akibat jatuh atau melemparkan bayi atau anak ke atas, yang merupakan gaya linear.
Guncangan yang keras pada bayi menyebabkan gerakan kepala bayi yang tidak terkendali,
karena otot leher bayi yang belum cukup kuat menopang kepalanya. Anatomi bayi
menempatkan bayi pada risiko yang tinggi akibat cedera SBS. Otak bayi berusia di bawah
1 tahun masih berisi banyak cairan dan selain itu otot-otot leher yang masih belum mampu
menyangga dengan baik dan stabil dikarenakan bayi memiliki otot leher yang sangat
lemah. Di sisi lain, bayi memiliki kepala yang berat dan besar jika dibandingkan dengan
ukuran tubuh mereka. Otak bayi sangatlah rentan dan memerlukan ruang untuk tumbuh.
Karena itulah terdapat rongga atau celah antara tengkorak kepala dan otak yang dapat
mendukung pertumbuhan tersebut. Adanya goncangan akan mengakibatkan terjadinya
rentangan atau tarikan antara otak dan selaput otak yang melekat pada tulang kepala.
Rentangan tersebut nantinya akan menyebabkan terjadinya robekan pembuluh-pembuluh
darah yang menghubungkan antara otak dengan selaput otak itu. Robekan sekecil apapun
akan berakibat fatal dan apabila telah terjadi perdarahan di otak maka akan sulit untuk
diatasi. Terjadinya perdarahan di otak ditandai dengan muntah-muntah dan kejang-kejang.
Kondisi yang paling parah dapat menyebabkan bayi tidak sadarkan diri bahkan
kematian.2,13,14

11

Gambar 2. Perbandingan Proporsi Kepala dan Tubuh pada Anak hingga Dewasa

Pada saat otak bayi mengalami perpindahan acak ketika diguncang, akibatnya otak
bayi membengkak dan pembuluh darah di sekitarnya akan pecah. Selain pada otak, cedera
akibat guncangan itu juga menyebabkan kerusakan pada saraf tulang belakang, yang
disebabkan gerakan akselerasi - deselerasi (whiplash injuries).12

Gambar 3. Mekanisme Whiplash Injury

12

Gambar 4. Patofisiologi Shaken Baby Syndrome (SBS)

2.2.6 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis pada Shaken Baby Syndrome (SBS) dapat bervariasi dari ringan
sampai berat yaitu kejang, kesadaran berkurang, perubahan perilaku, mengantuk yang
berlebihan, apatis, sulit bernafas, kulit yang pucat, kehilangan nafsu makan, muntah yang
proyektil, perdarahan pada retina mata yang dalam jangka panjang dapat menjadi
kebutaan, sulit menelan atau menghisap, penurunan nafsu makan, tidak bersuara atau
tersenyum, ketakutan, tidak mampu mengangkat kepala, besar pupil mata berbeda
(anisokor) dan mata tidak fokus. Biasanya juga didapatkan tanda-tanda trauma seperti
pembengkakan dan perdarahan pada daerah kepala.2,3,13,14
Selain itu, goncangan atau ayunan yang kuat juga bisa membuat tulang kaki, tungkai,
serta lengan patah. Hal ini dapat terjadi karena saat mengayun bayi, yang dipegang bukan
badannya, melainkan lengan, kaki atau ketiaknya.
Triad injury pada Shaken Baby Syndrome (SBS) berupa perdarahan retina (retinal
hemorrhage), ensefalopati, dan perdarahan subdural (subdural hemorrhage).2,3,13,14
1.

Perdarahan retina
Retinal Hemorrhage (RH) atau pendarahan retina telah dianggap sebagai
13

indikator penting pada cedera tetapi banyak penyebab lain perdarahan retina pada
bayi, misalnya dikarenakan oleh peningkatan tekanan intrakranial, diskrasia,
hemoglobinopati, ataupun post-operasi katarak. Perdarahan retina merupakan hasil
dari obstruksi vena, yang mungkin merupakan hasil dari kompresi saraf optik
akibat peningkatan tekanan intrakranial atau intravaskuler ataupun akibat jaringan
retina yang robek selama tindakan mengguncang kepala bayi. Pemeriksaan
biomekanis dapat dilakukan untuk mengetahui secara pasti mekanisme perdarahan
retina.

Gambar 5. Perdarahan retina


2.

Ensefalopati
Manifestasi klinis dari ensefalopati dapat berupa kesulitan makan, muntah, sering
mengantuk, kejang, dan edema serebral. Pada umumnya sering ditemukan cedera
hipoksia-iskemik dan pembengkakan otak, namun manifestasi ini tidak spesifik
disebabkan oleh trauma. Identifikasi cedera aksonal bergantung pada
immunocytochemical dari beta amyloid precursor protein (BAPP). Pemeriksaan
BAPP ini adalah penanda yang sangat sensitif untuk mendeteksi gangguan aliran
aksonal normal,
tetapi dapat juga meningkat pada cedera hipoksia-iskemik, gangguan
metabolik, serta trauma.
Penelitian neuropatologi pada bayi yang meninggal menunjukkan gambaran patologi
otak berupa cedera hipoksia yang tersebar luas dan trauma aksonal yang tidak
menyebar. Dalam hal ini trauma aksonal terlihat dalam distribusi terbatas di batang
otak yang lebih rendah. Pada trauma otak fatal terdapat interval jelas antara cedera
dan munculnya manifestasi klinis. Interval lucid lebih sering ditemukan pada bayi
berusia kurang dari dua tahun karena pada bayi dengan umur kurang dari dua tahun
tulang tengkorak belum menutup secara sempurna.
Kerusakan akar saraf serviks telah didokumentasikan sebagai bagian dari
patologi cedera terguncang. Belum ditetapkan bahwa ini adalah hasil dari
14

guncangan, sebagai perpindahan dari korda spinalis yang dapat menyebabkan traksi
di sekitar korda spinalis.
Pada pemeriksaan autopsi yang dilakukan terhadap manusia, didapatkan bahwa
korda spinalis bergerak selama ekstensi dan fleksi leher dan tetap kemungkinan
bahwa hyperextension pada leher dapat menyebabkan kerusakan traksi akar saraf
seluruh panjang korda spinalis tetapi hal ini tidak terdokumentasi pada bayi hidup.
3.

Perdarahan subdural (subdural hemorrhage)


Perdarahan subdural mungkin yang paling penting dan sering terjadi pada Shaken
Baby Syndrome (SBS). Pada bayi dengan SBS, seringkali ditemukan perdarahan
subdural yang diidentifikasi dengan pemeriksaan CT-scan otak. Pada autopsi dan
pencitraan menunjukkan bahwa bayi dengan perdarahan subdural biasanya
menunjukkan bilateral film tipis dan tidak tebal dan terdapat klot yang menempati
ruang seperti yang terlihat pada trauma perdarahan subdural pada anak-anak yang
lebih tua dan orang dewasa.
Penyebab perdarahan subdural yang paling umum pada bayi adalah

Benign

Enlargement Extra Cerebral Spaces (BEECS), gangguan pembekuan, penyakit


hemoragik bayi yang baru lahir, malformasi pembuluh darah, dan setelah prosedur
bedah saraf.

15

Gambar 6. Mekanisme Perdarahan Subdural

Gambar 7. Gambaran CT-Scan Perdarahan Subdural


2.2.7 Penegakan Diagnosis
Banyak kasus Shaken Baby Syndrome (SBS) datang ke bagian emergensi sebagai
silent injury. Kemungkinan SBS harus dicurigai apabila pada anamnesis diperoleh
bahwa terdapat kehadiran orang dewasa baru dirumah bayi yang bersangkutan, riwayat
keterlambatan mendapatkan perlakuan medis, riwayat kekerasan terdahulu, ketidakhadiran
orang tua saat injuri berlangsung, bukti fisik injuri multipel pada berbagai stage
penyembuhan, atau perubahan status neurologik, syok, kolaps kardiovaskular yang tidak
dapat dijelaskan. Disisi lain, orang tua dan pengasuh sebaiknya tidak menyembunyikan
riwayat bahwa bayi telah mengalami siksaan. Jika seorang bayi dicurigai sebagai SBS,
sebaiknya perhatikan:
a.
Hemoragik pada retina.
b.
Fraktur tengkorak.
c.
Edema otak.
d.
Hematoma subdural (darah terkumpul pada permukaan otak).
e.
Fraktur pada dada & tulang panjang.
f.
Memar di sekitar kepala, leher dan dada.
Terdapat
standar
diagnosis
untuk
SBS
yang

dikenal

dengan

shaken baby triad, yaitu perdarahan subdural (subdural hemorrhage), perdarahan retina
(retinal hemorrhage), dan ensefalopati tanpa riwayat cedera akibat kecelakaan lalu lintas
16

ataupun jatuh dari tempat tinggi. Selain itu, setiap trauma bukan kebetulan sebaiknya
dicurigai sebagai SBS.
Pada bayi yang mengalami SBS, mungkin juga tidak terdapat tanda-tanda
trauma

sehingga

dalam

beberapa

kasus

sulit

untuk

menegakkan

diagnosis.

Biasanya dokter mencari adanya shaken baby triad dan peningkatan ukuran kepala yang
mengindikasikan akumulasi berlebihan cairan pada jaringan otak. CT-Scan dan MRI
digunakan untuk membantu menunjukkan letak kelainan di otak. Selain itu, pemeriksaan
oftalmologi dapat digunakan untuk mengetahui adanya perdarahan retina. Pemeriksaan
skeletal untuk mengetahui apakah ada fraktur tulang dada atau tulang panjang.2
2.2.8 Pemeriksaan Autopsi
Pada pemeriksaan autopsi bayi dengan kecurigaan Shaken Baby Syndrome (SBS),
penemuan bermakna ditemukan pada bagian kepala. Kelainan yang ditemukan pada kepala
yaitu adanya perdarahan subdural dan perdarahan retina. Perdarahan subdural (subdural
haemorrhage) yang ditemukan biasanya bilateral. Kelainan ini yang membedakannya
dengan cedera akibat benturan, dimana pada SBS, kepala bayi mengalami akselerasi
berputar. Selain itu, dapat juga dijumpai contra coup injuries, diakibatkan oleh gerakan
otak yang acak, menimbulkan cedera pada bagian yang berlawanan dari arah cedera.
Penemuan pemeriksaan autopsi perdarahan subdural pada SBS bersifat makroskopis.
Penyebab perdarahan retina belum diketahui secara pasti. Banyak ahli menduga hal
ini diakibatkan oleh peningkatan cepat tekanan intrakranial, peningkatan tekanan vena,
ekstravasasi darah subarachnoid, traksi dari pembuluh darah di vitreo-retinal, dan
kemungkinan hipoksia. Perdarahan retina pada SBS juga terjadi secara bilateral.
Selain kelainan pada kepala, terdapat juga kelainan di tempat lain, yaitu tulang dada.
Fraktur tulang dada pada bayi telah lama menjadi tanda klasik untuk diagnosis SBS, tetapi
hanya kurang dari 10% kasus SBS yang mengalami fraktur iga. Fraktur pada tulang
metafisis dapat juga menjadi tanda bahwa bayi telah mengalami penyiksaan.3
2.2.9 Penatalaksanaan
Usaha untuk mencegah Shaken Baby Syndrome (SBS) sebagian besar terpusat pada
edukasi orang tua dan pengasuh, karena sekitar 25% - 50% orang tua dan pengasuh tidak
mengetahui bahwa guncangan bisa membunuh bayi. Biasanya SBS terjadi akibat orang tua
yang marah ketika bayinya tidak berhenti menangis. Hal yang dapat dilakukan pada saat
itu antara lain:4
1.
Letakkan bayi di tempat yang aman pada saat menangis, sehingga tidak
2.

mengganggu.
Mendengarkan musik, menarik nafas dengan dalam sambil menatap bayi.
17

3.

Menutup

mata

4.

yang telah dialami bersama bayi.


Meminta bantuan kepada sanak keluarga atau kerabat untuk menenangkan

5.

bayi
Jangan

6.

ketika marah.
Jangan
memegang

pernah

sambil

mengingat

mengguncangkan
anak

kembali

bayi

ketika

Ketika orang tua sedang merasa

atau

memori

anak

orang

yang

saat

tua

menyenangkan

bermain

sedang

ataupun

bertengkar.

terganggu atau jengkel dengan bayi,

letakkan bayi di ranjang dan cobalah untuk menenangkan diri. Mintalah


7.

bantuan orang lain bila tidak dapat menenangkan diri.


Pengasuh anak dan keluarga harus menemui

8.

kesulitan menghadapi bayi atau anak yang rewel.


Jangan berdiam diri jika mengetahui adanya

konsultan
kekerasan

bila
pada

terdapat
anak

di

sekitar lingkungan.
Terdapat program yang dibuat CDC untuk memberikan edukasi kepada orang tua
mengenai pattern tangisan pada infan normal guna memberikan respons terhadap tangisan
bayi dan bahaya dari goncangan pada bayi.
P- Peak Pattern
Puncak tangisan sekitar usia 2 bulan, lalu menurun
U- Unpredictable
Tangisan yang lama dapat muncul dan hilang tanpa alasan
R- Resistant to Soothing
Bayi dapat menangis terus menerus dalam waktu yang lama
P- Pain-like Look on Face
L- Long Bouts of Crying
Tangisan dapat bertahan hingga berjam-jam
E- Evening Crying
Bayi menangis lebih cenderung pada siang hari dan malam hari
Prinsip terapi pada SBS ialah pengawasan terhadap peningkatan tekanan intrakranial,
drainase cairan pada ventrikel serebral, dan drainase hematoma jika ditemukan terdapat
perdarahan serebral.2
2.2.10 Komplikasi
Komplikasi pada Shaken Baby Syndrome (SBS) dapat berupa3
1.
Hidrosefalus
2.
Pertumbuhan dan perkembangan otak yang terhambat mikrosefali
3.
Epilepsi
4.
Gangguan motorik, kuadriplegia, hemiplegia
5.
Gangguan penglihatan
6.
Gangguan pendengaran
7.
Defisit kognitif
8.
Gangguan makan
9.
Gangguan perilaku
10. Ketidakmampuan dalam berinteraksi sosial
18

2.2.11 Prognosis
Prognosis Shaken Baby Syndrome (SBS) tergantung dari tingkat keparahannya.
Sepertiga pasien SBS mengalami kematian dan sisanya lagi mengalami cacat berat dan
cacat permanen, seperti kesulitan belajar, kejang-kejang, gangguan bicara, hidrosefalus,
gangguan kognitif, serebral palsy dan gangguan penglihatan.4

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran

19

DAFTAR PUSTAKA
1.

Finnie JW, Blumbergs PC, Manavis J, Turner RJ, Helps S, Vink R, Byard RW,
Chidlow G, Sandoz e B, Dutschke J, Anderson RWG. Neuropathological changes in
a lamb model of non-accidental head injury (the shaken baby syndrome). Journal of
Clinical Neuroscience 2012;19:11591164.

2.

Caffey J. On the theory and practice of shaking infants: its potential residual effects
of permanent brain damage and mental retardation. Am J Dis Child 1972;124:1619.

3.

Caffey J. The whiplash shaken infant syndrome: manual shaking by the extremities
with whiplash-induced intracranial and intraocular bleedings, linked with residual
permanent brain damage and mental retardation. Pediatrics 1974;54:396403.

4.

American Academy of Paediatrics Committee on Child Abuse and Neglect. Shaken


baby syndrome: inflicted cerebral trauma. Pediatrics 1993;92:8725.

5.

Blumbergs PC, Reilly PL, Vink R. Trauma. In: Louis DN, Love S, Ellison DW,
editors. Greenfields neuropathology. London: Edward Arnold; 2008. p. 7936

6.

Barlow KM, Minns RA. Annual incidence of shaken impact syndrome in young
children. Lancet.2000;356:15711572.

7.

Keenan HT, Runyan DK, Marshall SW, Nocera MA, Merten DF, Sinal SH. A
population-based study of inflicted traumatic brain injury in young children.
JAMA.2003;290:621 626.

8.

American Academy of Pediatrics, Committee on Child Abuse and Neglect. Shaken


baby
syndrome:
rotational
cranial
injuriestechnical
report.
Pediatrics.2001;108:206 210.
20

9.

Health Canada.Joint Statement on Shaken Baby Syndrome. Ottawa:Minister of


Public Works and Government Services; 2001.

10.

Ettaro L, Berger RP, Songer T. Abusive head trauma in young children:


characteristics and medical charges in a hospitalized population. Child Abuse Negl.
2004;28:1099 1111.

11.

King WJ, MacKay M, Sirnick A; Canadian Shaken Baby Study Group. Shaken baby
syndrome in Canada: clinical characteristics and outcomes of hospital cases. CMAJ.
2003;168:155159

12.

Reece RM, Kirschner M, Robert H. 2008. Shaken Baby Syndrome: A Tutorial and
Review of the Literature. Available at: http://www.sbsdefense.com/SBS_101.html.

13.

Dimaio, Vincent J, et al. 2001. The Shaken Baby Syndrome. Forensic


Pathology second edition, CRC Press Washington, D.C, page 358-362.

14.

Duhaime AC, Christian C, Rorke L, Zimmerman R. 1998. Nonaccidental Head


Injury in Infants: The Shaken Baby Syndrome. NEJM 388:1822-9.

15.

Showers J. 1992. Dont shake the baby: the effectiveness of a prevention


program. Child abuse & neglect, 16, 11-18.

21