Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menyebabkan bertambahnya
jumlah lanjut usia (lansia). Hal ini merupakan tantangan bagi kita sekalian, khususnya
para profesi kesehatan, karena kehidupan lansia dan permasalahannya mempunyai
karakteristik tersendiri yang membutuhkan penanganan yang berbeda dengan orang
dewasa. Salah satu permasalahan yang akan dihadapi adalah meningkatnya kejadian
osteoporosis atau kropos tulang.
Osteoporosis adalah suatu keadaan berkurangnya massa tulang sedemikian
rupa sehingga dengan benturan yang ringan saja tulang akan menjadi patah.. Dengan
bertambahnya usia terjadi peningkatan hilangnya massa tulang, dan hal ini didapati
pada wanita 2-3 kali lebih banyak dibandingkan dengan pria. Kehilangan massa
tulang berkisar antara 0,5-1 % per tahun dari berat tulang pada wanita pasca
menopause dan pada pria di atas 80 tahun, dan lebih sering mengenai bahagian tengah
dari tulang dibandingkan bahagian pinggir dari tulang. Sepanjang kehidupan, tulang
mengalami pengrusakan yang dilakukan oleh sel osteoklas, sedangkan pembentukan
tulang dilakukan oleh sel osteoblas dan terjadi secara bersamaan, sehingga tulang
dapat membentuk modelnya sesuai dengan pertumbuhan badan, yang disebut dengan
proses pemugaran tulang (remodelling).
Berbagai faktor dapat mempengaruhi pembentukan dan pengrusakan tulang
yang dilakukan oleh kedua jenis sel tersebut di atas. Jika hasil akibat pengrusakan
tulang lebih besar dari pembentukannya maka akan timbul osteoporosis. Akibat yang
ditimbulkannya adalah patah tulang yang hampir semuanya memerlukan perawatan
khusus. Biasanya patah tulang sering terjadi pada tulang belakang, pangkal paha,
pergelangan tangan dan tulang pinggul. Di Asia dan negara-negara maju, patah tulang
pada pangkal paha paling sering ditemukan

Berbagai perubahan terjadi pada system musculoskeletal, meliputi tulang


keropos (osteoporosis), pembesaran sendi, pengerasan tendon, keterbatasan gerak,
penipisan disku intervertebralis, dan kelemahan otot, terjadi pada proses penuaan.
Masa tulang mencapai puncaknya pada usia 35 tahun, setelah itu terjadi kehilangan
tulang menyeluruh secara bertahap. Berbagai perubahan metabolic, meliputi
penurunan esterogen pada menopause dan penurunan aktivitas, berperan dalam
hilangnya masa tulang (osteoporosis). Wanita akan mengalami lebih banyak
kehilangan masa tulang dibanding pria. Pada usia 75 tahun, rata-rata wanita telah
kehilangan 25% tulang kortikalnya dan 40% tulang trabekkularnya. Selain itu, trejadi
perubahan bentuk dan kekurangan kekuatan. Bila terjadi patah tulang, tumbuhnya
jaringan fibrus lebih lambat pada lansia.
Pada lansia, struktur kolagen kurang mampu menyerap energi. Kartilago sendi
mengalami degenerasi di daerah yang menyangga tubuh dan menyembuh lebih lama.
Hal tersebut mengakibatkan terjadinya osteoporosis. Begitu pula masa otot dan
kekuatannya berkurang. Terjadi kehilangan jumlah serat otot akibat atrofi myofibril
dengan penggantian jaringan fibrus, yang mulai terjadi pada decade keempat
kehidupan
Selain itu, masalah musculoskeletal sebelumnya yang sudah pernah terkompensasi
dapat menjadi masalah baru dengan bertambahnya usia. Misalnya, pasien yang telah
sembuh dari polio dan sudah mampu berfungsi secara normal dengan menggunakan
kelompok otot sinergis bisa kehilangan kemampuanya lagi. Mereka mengalami
penurunan kemampuan kompensasinya.
Kebanyakan efek proses penuaan dapat diatasi bila tubuh dijaga tetap sehat dan
aktif

BAB II
ISI
A. Proses Penuaan Pada Sistem Muskuloskeletal dan Dampak Terhadap
Kesehatan Lansia
Proses penuaan adalah proses alami yang akan dialami oleh semua orang
seiring dengan bertambahnya usia. Sebagai dampak dari proses penuaan ini adalah
Osteoporosis (pengeroposan tulang ) sebagai akibat gangguan metabolisme
kalsium.
Osteoporosis adalah penyakit yang ditandai dengan berkurangnya massa
tulang dan kelainan mikroarsitektur ,yang berakibat meningginya kerapuhan
tulang. Osteoporosis banyak ditemukan pada orang lanjut usia dan sering terjadi
pada usia lanjut (http://www.google.com )
Dua sel yang sangat penting dalam proses ini adalah osteoblast yang
berfungsi dalam pembentukan tulang dan osteoklast yang berfungsi dalam proses
resorpsi tulang. Proses pembentukan dan resorpsi ini terjadi seumur hidup
Pada usia mulai 40 tahun masa tulang akan mulai berkurang sebagai akibat
dari mulai berkurangnya fungsi osteoblast. Penurunan massa tulang inilah yang
menyebabkan osteoporosis pada lansia. Massa tulang amat dipengaruhi oleh
kalsium karena 98 % dari kalsium tersimpan dalam tulang. Kalsium yang
berperan disini adalah Kalsium ion yang dipengaruhi oleh 3 hormon yaitu :
hormon Paratiroid , 1,25 dihidroksi vitamin D dan Kalsitonin. Hormon Paratiroid
berperan dalam proses resorpsi tulang dengan mengaktifkan Osteoklast dan akan
mengakibatkan meningkatnya kadar kalsium dalam darah. 1,25 dihidroksi vitamin
D akan merangsang osteoblast baru kemudian merangsang osteoklast. Sedangkan
Kalsitonin berperan sebagai pencegah osteoklast. Dari penelitian lebih lanjut juga
diketahui bahwa hormon Estrogen berperan dalam penekanan proses resorpsi

tulang. Akibat dari Osteoporosis maka orang akan mudah mengalami Fraktur
spontan atau patah tulang spontan.

B. Penyakit pada persendian tulang.


Penyakitpadainiadalahakibatdegenerasiataukerusakanpadapermukaan
sendisenditulangyangbanyakdijumpaipadalansia.Lansiaseringmrngeluhkan
linulinu, pegal, dan kadangkadang terasa nyeri.Biasanya yang terkena adalah
persendian pada jarijari, tulang punggung, sendisendi lutut dan panggul.
Gangguanmetabolismeasamuratdalamtubuh(gout)menyebabkannyeriyang
sifatnyaakut.
Terjadinyaosteoporosismenjadipenyebabtulangtulanglanjutusiamudah
patah Biasanya patah tulang terjadi karena lanjut usia tersebut jatuh, akibat
kekuatanototberkurang,koordinasianggotabadanmenurun,mendadakpusing,
penglihatanyangkurangbaikdanbisakarenacahayakurangterangdanlantai
yanglicin.
1. Jaringan penghubung (kolagen dan elastin)
Pada proses menua kolagen dan jaringanpengikat akan menjadi bentangan
cross linking yang tidak teratur dan terjadi penurunan hubungan tarikan linier
jaringan kolagen sehingga mengakibatkan mobilitas jaringan tubuh. Setelah
kolagen mencapai puncak fungsi atau daya mekaniknya karena proses
penuaan sehingga tensile strength dan kekakuan dari kolagen menurun
sehingga terjadi penurunan fleksibilitas pada lansia dan mengakibatkan:
a. Nyeri
b. Penurunan kemampuan untuk meningkatkan kekuatan otot
c. Kesulitan dalam pergerakan atau ambulasi
d. Hambatan dalam melakukan ADL
2. Kartilago

a. Jaringan kartilago pada persendian menjadi lunak dan mengalami


granulasi sehingga permukaan sendi menjadi rata
b. Kemampuan regenerasi dan degenerasi kartilago mengalami penurunan
secara progresif maka proteoglikan berkurang dan hilang secara bertahan
terjadi deteriorasi matriks kartilago sehingga kekuatan fibril pada kolagen
hilang maka terjadi fibrilasi kartulago
c. Kartilago mengalami klasifikasi di beberapa tempat melalui tulang rusuk,
tiroid sehingga fungsi kartilago menjadi tidak efektif dan mengakibatkan
sendi rentang terhadap gesekan, sendi mudah mengalami peradangan,
kekuatan/nyeri, keterbatasan gerak, sehingga mengganggu aktivitas seharihari.
3. Tulang

Berkurangnya kepadatan tulang dimana trabekula longitudinal menjadi tipis


dan trabekula transversal

terabsorbsi kembali sehingga jumlah tulang

spongisioa berkurang dan tilang kompakta menjadi tipis

Adanya penurunan estrogen sehingga produksi osteoklast tidak terkendali,


penurunan

penyerapan

kalsium

diusus,

peningkatan

kanal

haverst

mengakibatkan tulang keropos

Berkurangnya jaringan dan ukuran tulang mengakibatkan dan kekakuan tulang


menurun dan mengakibatkan osteoporosis menimbulkan nyeri, deformanitas
dan fraktur

4. Otot
Perubahan morfologis otot pada penuaan terjadi :

Penurunan jumlah serabut otot

Atrofi pada beberapa serabut otot

Fibril menjadi tidak teratur

Hipertrofi pada beberapa serabut otot

Berkurangnya 30% masa otot

Penumpukkan lipotusin

Peningkatan jaringan lemak dan jaringan penghubung

Adanya ringbinden

Degenerasi myofibril

Timbulnya berkas garis Z pada serabut otot mengakibatkan penurunan


kekuatan, penurunan fleksibilitas, peningkatan waktu reaksi, penurunan
kemampuan fungsional otot sehingga terjadi gangguan mobilitas

5. Sendi
Jaringan ikat sekitar sendi (tendon, logamen, fasia) mengalami penurunan
elastisitas
Ligament, kartilogo, jaringan particular mengalami penurunan daya lentur dan
elastisitas
Terjadi degenerasi, erosi dan kalsifikasi pada kartilogo dan kapsul sendi
sehingga kehilangan heksibilitas mengakibatkan penurunan luas gerak sendi
sehingga terjadi osteoporosis, arthritis reumatid, gount pseudogout, timbulm
sensasi pembengkakan, nyeri, kekuatan sendi, keterbatasan ruang luas gerak
sendi, gangguan jalan , gangguan aktivitas sehari-hari
C. Usia berhubungan dengan perubahan struktur dan fungsi
Proses penurunan dapat berakibat pada system muskulusteletal dimana pada
system tersebut akan mengalami perubahan otot termasuk penurunan masa otot dan
kekuatan otot secara berangsur-angsur dalam waktu yang lama. Hal ini disebabkan
oleh berbagai hal diantaranya menurunnya sejumlah sel otot pergantian jaringan tubuh
yang saling berhubungan, sehingga masa otot dan kekuatannya menurun. Pembatasan
gerak pada lansia akan menyebabkan hilangnya elastisitas menambah hilangnya
kelenturan dan peningkatan kekuatan.
Perubahan yang terjadi pada tulang adalah hilangnya masa tulang karena
proses penuaan, dengan adanya osteoporosis, peningkatan resiko fraktur. Kurangnya

latihan olahraga nutrisi buruk, dan malabsosrbsi kalsium menyebabkan hilangnya


masa tulang. Pada lansia juga terjadi kehilangan konsentrasi dengan cepat, kalkeneus
dan tulang belakang yang paling cepat mengalami yaitu

1% perminggu hal ini

ditandai oleh berkurangnya masa tulang. Pemendekkan tinggi badan juga terjadi pada
lansia hal ini terjadi karena berkurangnya masa tulang. Pemendekken tinggi badan
juga terjadi pada lansia hal ini terjadi karena berkurangnya cairan pada sendi pada
intervertebratal. Penurunan ini dapat menyebabkan kurangnnya 1,5-3 inci. Selain itu
perubahan bentuk tulang pada lansia juga sering terjadi antara lain lordosis atau tulang
vertebra membengkok kebelakang dan terjadi penurunan spina. Pengangkatan atau
pergerakkan posisi fleksi dan juga pemindahaan pusat gerak.
Semua perubahan ini menyebabkan nyeri, gangguan mobilitas, deficit
perawatan diri dan peningkatan resiko jatuh pada lansia. Kira-kira 1/3 dari lansia usia
65 tahun mengalami peningkatan resiko jatuh. Kira-kira 2% dari kelompok ini
mengalami hospitalisasi karena terjadi injuri pada saat jatuh. Jatuh juga menyebabkan
a cycle of disease, kejadian ini biasanya terjadi setelah individu mengalami jatuh
secara berkurang.
Penibanan pada

muskuloskeletal
Kehilangan kepadatan

Temuan subyektif dan

Peningkatan kesehatan dan

obektif
Penurunan tinggi badan

keperawatan
Berolah raga secara

tulang

rentan dengan fraktur,

teratur

Kehilangan ukuran dan

kifosis, keluhan nyeri

kekuatan

punggung, kehilangan

Tulang otot, dengan erasi

kekuatan, fleksibilitas

tulang rawan sendi

dan ketahan keluhan

mengandung fosfor, jika

nyeri sendi.

perlu mendapatkan

Makan makanan sesuai


anjuran

Batasi makanan

tambahan hormon dan


kalsium

D. Masalah yang biasa terjadi pada sistem muskulo


Faktor merupakan masalah yang biasa terjadi pada lansia yang
menyebabkan berkurangnya kemampuan fungsi tubuh. Fraktur adalah robeknya
penyambungan ras tulang. Fraktur terjadi karena trauma pada atau sendi atau oleh
karena proses patologok seperti osteoporosis. Stres pada tulang bisa disebabkan
karena trauma mayor seperti kecelakaan kendaraan/ jatuh. Dan jatuh merupakan
penyebab fraktur pada lansia. Fraktur yang sering terjadi pada lansia adalah hip
fraktur, fraktur femur proksimal, coller fraktur, fraktur vetebra dan fraktur
clafikula, fraktur inidapat diklasifikasi sebagai fraktur terbuka dan tertutup sesuai
lokasi dan tipe fraktur.
Proses komplit di penyambung tulang disebut UNION setelah terjadi
fraktur maka regeneratif sel, fibroplast dan osteolblas terjadi pada lokasi fraktur
dan terjadi fibroplast matrik pada collagen-callus. Calus akan terjadi pada daerah
fraktur dan jarak antara fragmen tulang menurun. Pada tahap akhir penyambungan
tulang terjadi remodeling.
Hip fraktur merupakan type ketidak mampuan dari fraktur lansia, hal ini
biasanya disebabkan karena jatuh dengan trauma langsung pada hip. Kira- kira
24% dari klien dengan hip fraktur meninggal dalam 1 tahun karena injuri.
Komplikasi ini termasuk pneumonia infeksi sepsis sel kemih dan penebalan
ulserasi.
Hip fraktur di klasifikasikan sesuai lokasinya yaitu intra kapsular dan fraktur
fraktur kapital yang terjadi pada hip kapsula ekstra kapsular fraktur diluar atau
dibawah kapsula dan ditunjukkan pada lokasi intertrochanterik.

D. Peningkatan Kesehatan Untuk Fungsi Muskuluskeletal


Peningkatan kesehatan tulang, perawat dapat menganjurkan:

Masukan tinggi kalsium ( produk susu dan sayuran hijau ) merupakan


sumber yang baik, seperti sup dan kaldu yang dibuat dari sup tulang dimasak
dengan tambahan cuka untuk melepas kalsium dari tulang.

Diet rendah fosfor ( rasio ideal kalsium 1:1 daging merah, minuman kola
dan makanan buatan pabrik yang rendah kalsium tinggi lemak harus
dihindari )

Olah raga ( tarikan insersi otot pada tulang panjang memperkuat otot dan
memperlambat reabsropsi kalsium ) penelitian menunjukkan bahwa olah
raga akan meningkatkan efisiensi kardiovaskuler dan pernafasan olah raga
akan meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraksi jantung dapat
meningkatkan ambilan oksigen oleh jantung dan skeletal. Olah raga terbukti
menurunkan kelelahan dan meningkatkan energi dan menurunkan resiko
kardiovaskuler. Ketahanan dan fleksibilitas otot yang semuanya merupakan
hasil olah raga teratur. Lansia harus melakukan olah raga secukupnya saja
dan harus beristirahat untuk menghindari keletihan. Berenang dan jogging
pagi dianjurkan untuk lansia.
Suplemen kalsium vitamin D flourida dan estrogen sering diresepkan bagi
yang beresiko tinggi yang menderita osteoporosis.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengaruh proses penuaan pada system muskuluskeletal diantaranya
kehilangan kepadatan tulang yang disebabkan oleh hilangnya estrogen inaktifitas dan
rendah kalsium, tinggi fosfat. Kehilangan ukuran dan kekuatan otot oleh karena
berkurangnya sel penyusun dan juga terjadi degenerasi tulang rawan dan sendi.
Akibat yang ditimbulkan dari perubahan-perubahan tersebut adalah
penurunan tinggi badan, rentan terhadap fraktur kifosis, keluhan nyeri punggung,
kehilangan kekuatan, fleksibilitas dan ketahanan keluhan nyeri sendi.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan pada
muskuluskeletal dengan cara berolahraga secara teratur, mengkonsumsi makanan
tinggi kalsium, batasi masukan fosfor mungkin mendapat resep menambah hormone
dan kalsium.

B. Saran.
1. Diharapkan agar para lansia dapat meningkatkan kesehatan otot dan tulang.
2. Untuk menjaga agar dampak dari proses penuaan dapat dihambat maka para
lansia diharapkan mengkonsumsi makanan tinggi kalsium dan melakukan diet
rendah fosfor serta mensuplai vitamin D, flourida dan estrogen.
3. Para lansia dianjurkan untuk berolahraga teratur.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth.2002. Keperawatan Medikal Bedah .Edisi 8.Jakarta:EGC
Lueckenotte,Annette.2002.Gerontologic Nursing.Second Edition.Philadelphia:Mosby
Mangoen Prasodjo.Setiono.2004.Sehat Di Usia Tua.Yogyakarta:Think Fresh
Watson,Roger.2003.Perawatan Pada Lansia.Jakarta:EGC
http://www.google.com