Anda di halaman 1dari 50

PPSAK 12 (2013), ISAK 29 (2013), IFRS 6, PSAK 64 Provisi, Liability Kontinjensi, Aset

Kontinjensi, PSAK 57 (2009), IAS 37

Kelompok 4 :
1. Dwi Hartanto
2. Franciska Ni PutuR ( 123131026
3. Erick Wijayanto(
4. Adrian

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER AKUNTANSI


UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2014

PENDAHULUAN
Industri minyak memiliki karakteristik yang unik dibanding industrilainnya. Salah satunya
adalah mengenai aktivitas pencarian (eksplorasi) minyak dan gas bumi yang bersifat
gambling atau untung-untungan. Sejak tahun 1994 hingga tahun 2011 akuntansi minyak dan
gas bumi di Indonesia telah diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 29
(revisi 1994): Akuntansi Minyak dan Gas Bumi. Pernyataan tersebut mengatur akuntansi
untuk kegiatan eksplorasi, pengembangan, produksi, pengolahan, transportasi, pemasaran dan
lain-lain.
PSAK No. 29 diadopsi dari United States Generally Accepted Accounting Principles (US
GAAP) yang memperbolehkan perusahaan untuk mengikuti baik metode Successful Efforts
(SE) maupun Full Cost (FC) dalam menetapkan perlakuan akuntansi terhadap biaya
eksplorasi minyak dan gas bumi.
International Financial Reporting Standards (IFRS) telah dijadikan kiblat standar akuntansi
baru bagi banyak negara. Tujuan dari diterapkannya IFRS ini adalah untuk meningkatkan
transparansi dan komparabilitas laporan keuangan di seluruh dunia. Sejak tahun 2008
Indonesia mulai melakukan kovergensi IFRS sebagai wujud kesepakatan pemerintah
Indonesia atas hasil pertemuan pemimpin negara G20 forum di Washington DC. Salah satu
standar akuntansi keuangan yang dikonvergensi terhadap IFRS adalah standar mengenai
minyak dan gas bumi. Oleh karena itulah pada 1 Januari 2012 PSAK No. 29 (revisi 1994)
yang berlandaskan US GAAP dicabut dan diganti dengan PSAK No. 64 (2011): Aktivitas
Eksplorasi dan Evaluasi pada Pertambangan Sumber Daya Mineral yang telah mengadopsi
IFRS 6: Exploration for and Evaluation of Mineral Resources.Perbedaan mendasar antara
PSAK No. 64 (2011) dengan PSAK No. 29 (revisi 1994) terletak pada ruang lingkupnya.
PSAK No. 29 (revisi 1994) mencakup ruang lingkup yang lebih luas, yaitu mengenai
perlakuan akuntansibagi industri minyak dan gas bumi mulai dari aktivitas eksplorasi,
pengembangan,produksi, pengolahan, transportasi, hingga pemasaran, sedangkan PSAK No.
64(2011) hanya mencakup aktivitas eksplorasi dan evaluasi saja. Hal tersebut dikarenakan
semua pengaturan dalam PSAK No. 29 (revisi 1994) saat ini telah mengacu pada Standar Ak
untansi Keuangan yang relevan sehingga dirasa tidak perlu untuk dikemukakan kembali
karena hal tersebut tidak sesuai dengan tujuan Standar Akuntansi Keuangan sendiri, yaitu
membuat standar yang dapat digunakan dan diterima oleh umum, bukan industri-industri
tertentu saja. Selain itu perbedaan juga terletak pada pengakuan biaya eksplorasi dan
evaluasi. PSAK No. 64 mengakui biaya eksplorasi dan evaluasi sebagai aset, sedangkan

PSAK No. 29 mengakui biaya tersebut sebagai aset dengan negarasebagai pusat biaya
(metode Full Cost) dan sebagai aset bagi sumur yang memiliki cadangan terbukti (metode
Successful Efforts). Perlakuan akuntansi tersebut akan diterapkan terhadap biaya eksplorasi
dan biaya evaluasi mulai dari tahap pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan.
PSAK No. 64 (2011) cenderung menyajikan pernyataan secara general.
Hal tersebut merupakan konsekuensi dari diadopsinya IFRS yang menganut principle based,
bukan lagi rule based sebagaimana yang dianut US GAAP. Pernyataan yang tidak eksplisit
tersebut menyebabkan terjadinya permasalahanpermasalahan dalam praktik yang berkaitan
dengan perlakuan akuntansi bagi biaya eksplorasi dan evaluasi.
Tinjauan Pustaka
Pengertian minyak bumi yang lebih lengkap dapat dibaca dalam Pasal 1 ayat (1) Undangundang No. 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (UUMigas).
Usaha Minyak dan Gas Bumi adalah Kegiatan usaha minyak dan gas bumi (migas) dibagi
menjadi dua macam, yaitu kegiatan usaha hulu dan kegiatan usaha hilir, ini terdapat di dalam
Pasal 5 UU Migas, tetapi pada kesempatan kali ini akan dibahas lebih mendalam tentang
kegiatan usaha hulu.
Kegiatan Usaha Hulu
Kegiatan usaha hulu diatur dalam pasal 1 angka 7, pasal 5 dan 6, pasal 9 sampai dengan pasal
22 UU Migas. Dimana kegiatan usaha hulu adalah kegiatan usaha yang berintikan atau
bertumpu pada kegiatan usaha, yaitu usaha eksplorasi dan usaha eksploitasi. Tujuan kegiatan
eksplorasi adalah :
1. memperoleh informasi mengenai kondisi geologis,
2. menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan minyak dan gas bumi,
3. tempatnya diwilayah kerja yang ditentukan. Wilayah kerja tertentu adalah daerah
tertentu di dalam wilayah hokum pertambangan Indonesiauntuk melaksanakan
eksplorasi. Wilayah hokum pertambangan Indonesia adalah seluruh wilayah :
1. daratan,

2. perairan,
3. landas kontinen Indonesia
tujuan kegiatan eksploitasi adalah untuk menghasilkan migas dari wilayah kerja yang
ditentukan, yang terdiri atas :
1. pengeboran dan penyelesaian sumur,
2. pembangunan sarana pengangkutan,
3. penyimpanan,
4. pengolahan untuk pemisahan dan pemurnian minyak dan gas bumi dilapangan, serta
5. kegiatan lain yang mendukungnya.

Biaya Eksplorasi
Menurut Jennings, dkk (2000: 64), biaya eksplorasi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan
dalam mengidentifikasi daerah yang mungkin memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dalam
mencari cadangan minyak dan gas dan melakukan pemeriksaan terhadap daerah tertentu yang
mungkin mengandung cadangan minyak dan gas, termasuk pengeboran sumur eksplorasi dan
eksplorasi-sumur tes stratigrafi.
Jenis biaya utama yang pada umumnya terdapat dalam tahap eksplorasi, dikategorikan dalam
Statement of Financial Accounting Standards (SFAS) No. 19 paragraf 17 sebagai berikut
(Gallun dan Wright, 2002:65):
1.

Biaya-biaya penyelidikan topografi, geologi, dan geofisika, biaya hak untuk mengolah
properti yang terkait dengan penyelidikan (topografi, geologi, dan geofisika), gaji dan
biaya-biaya lainnya untuk para ahli geologi, petugas geofisik, dan biaya-biaya lain yang
terkait dengan penyelidikan tersebut. Biaya-biaya tersebut secara keseluruhan disebut
sebagai biaya geologi dan geofisika (biaya G&G).

2.

Biaya untuk mempertahankan undeveloped properties, seperti delayrentals, biaya pajak,


biaya perijinan untuk mempertahankan kontrak, serta biaya-biaya untuk merawat dan
mencatat lease atau kontrak. 3. Kontribusi dry hole dan bottom hole.

4.

Biaya pemboran dan peralatan sumur eksplorasi. 5. Biaya pemboran exploratory type
stratigraphic test well (sumur tes stratigrafi).

Tiga biaya pertama merupakan biaya-biaya yang terjadi sebelumdimulainya kegiatan


pemboran (pre-drilling). Untuk membedakannya maka biaya yang termasuk dalam poin 1, 2,
dan 3 dikategorikan sebagai biaya non-drilling, sedangkan biaya yang termasuk dalam poin 4
dan 5 dikategorikan sebagai biaya drilling. Biaya non-drilling merupakan biaya eksplorasi
yang tidak terkait dengan aktivitas pemboran. Biaya drilling merupakan biaya-biaya yang
terkait dengan pemboran sumur, baik sumur eksplorasi maupun sumur tes stratigrafi.

PPSAK 12 - Pencabutan PSAK 33: Aktivitas Pengupasan Lapisan Tanah dan


Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pertambangan Umum
PPSAK ini menjelaskan apa alasan pencabutan PSAK 33: Aktivitas Pengupasan
Lapisan Tanah dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pertambangan Umum? dan
bagaimana ketentuan transisi atas pencabutan PSAK 33.
Alasan pencabutan
PSAK 33 yang diterbitkan pada 29 Juni 2011 mengatur dua transaksi yaitu transaksi
pengupasan lapisan tanah dan transaksi pengelolaan lingkungan hidup. PSAK 33 terkait
dengan pengaturan transaksi pengupasan lapisan tanah mengacu pada IFRIC 20 yang saat itu
masih menjadi eksposur draf. Sehubungan pengaturan pengupasan lapisan tanah telah ada
pengaturannya dalam IFRIC 20, maka entitas dapat menggunakan ISAK 29 yang diadopsi
dari IFRIC tersebut. Untuk provisi pengelolaan lingkungan hidup entitas dapat mengacu pada
PSAK 57: Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi.
Tujuan
Pernyataan ini bertujuan untuk mencabut pemberlakuan PSAK 33: Aktivitas
Pengupasan Lapisan Tanah dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pertambangan Umum.
PSAK 33: Aktivitas Pengupasan Lapisan Tanah dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada
Pertambangan Umum mengatur perlakuan akuntansi atas aktivitas pengupasan lapisan tanah
dan aktivitas pengelolaan lingkungan hidup pada pertambangan umum.
Dasar pertimbangan
Dasar pertimbangan pencabutan PSAK 33: Aktivitas Pengupasan Lapisan Tanah dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pertambangan Umum adalah, dampak dari konvergensi
ke standar akuntansi internasional (International Financial Reporting Standard atau IFRS)
yang mengakibatkan perlunya mencabut pengaturan mengenai aktivitas pengupasan lapisan

tanah dan pengelolaan lingkungan hidup yang sudah ada pengaturannya dalam SAK lain
yang mengacu ke IFRS.
Ketentuan Pencabutan
PSAK 33: Aktivitas Pengupasan Lapisan Tanah dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
pada Pertambangan Umum dinyatakan tidak berlaku sejak tanggal efektif Pernyataan ini.
Pernyataan ini berlaku untuk semua entitas yang menerapkan PSAK 33: Aktivitas
Pengupasan Lapisan Tanah dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pertambangan Umum.
Pengaturan untuk transaksi dan peristiwa lainnya yang ada dalam PSAK 33: Aktivitas
Pengupasan Lapisan Tanah dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pertambangan Umum
mengacu ke SAK lain yang relevan.
Ketentuan Transisi
Dengan dikeluarkannya Pernyataan ini, entitas menerapkan SAK lain terkait, yang
prinsip di dalamnya menggantikan prinsip-prinsip PSAK 33: Aktivitas Pengupasan Lapisan
Tanah dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pertambangan Umum, secara retrospektif.
Tanggal Efektif
Pernyataan ini berlaku efektif untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau
setelah 1 Januari 2014.

ISAK 29 - Penerapan Biaya Pengupasan Lapisan Tanah tahap Produksi pada


Pertambangan Terbuka (Stripping Costs in the Production Phase of a Surface Mine)

ISAK 29: Biaya Pengupasan Lapisan Tanah dalam Tahap Produksi pada Tambang
Terbuka mengatur, ketika entitas pertambangan akan menambang pada suatu daerah tertentu,
dan harus memindahkan material tanah yang menutupi tambang. ISAK ini memberikan
panduan terkait biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memindahkan meterial tanah penutup,
apakah diakui sebagai aset atau dibebankan langsung. Bagaimana entitas harus mencatat
seluruh pengeluaran atas aktivitas pengupasan lapisan tanah jika terkait dengan persediaan
tambang atau jika tidak terkait dengan persedian tambang? Apa kriteria pengeluaran yang
boleh dikapitalisasi sesuai dengan ISAK ini? ISAK ini memberikan panduan atas pertanyaanpertanyaan tersebut.
Interpretasi ini mengatur biaya pemindahan material yang timbul dalam aktivitas
penambangan terbuka selama tahap produksi (biaya pengupasan lapisan tanah pada tahap
produksi). Beberapa isu terkait dengan biaya pengupasan lapisan tanah menjadi bahasan
dalam Interpretasi ini, di antaranya:

A. Pengakuan biaya pengupasan lapisan tanah pada tahap produksi sebagai aset;
B. Pengukuran awal aset aktivitas pengupasan lapisan tanah; dan
C. Pengukuran selanjutnya aset aktivitas pengupasan lapisan tanah.

Latar belakang ISAK 29


Dikarenakan entitas di pandang perlu untuk memindahkan material sisa penambangan
yang harus dibuang (permukaan tanah yang dibuang/overburden) untuk memperoleh akses
menuju cadangan mineral. Aktivitas pemindahan material sisa tersebut dikenal sebagai
pengupasan lapisan tanah.
Selama tahap pengembangan tambang (sebelum produksi dimulai), biaya pengupasan
lapisan tanah umumnya dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya pembangunan,
pengembangan dan konstruksi tambang yang dapat disusutkan. Biaya kapitalisasian tersebut
akan disusutkan atau diamortisasi menggunakan dasar yang sistematis, umumnya
menggunakan metode unit produksi, begitu produksi dimulai.
Entitas pertambangan dapat melanjutkan pemindahan overburden dan menimbulkan
biaya pengupasan lapisan tanah selama tahap produksi tambang. Material yang dipindahkan
ketika pengupasan lapisan tanah pada tahap produksi tidak selamanya adalah 100% limbah;
seringkali merupakan kombinasi antara mineral dan limbah. Rasio dari mineral terhadap
limbah dapat berkisar dari yang berkualitas rendah yang tidak memiliki nilai ekonomi hingga
yang berkualitas tinggi yang dapat menguntungkan. Pemindahan material dengan rasio
mineral terhadap limbah yang rendah dapat menghasilkan material yang berguna yang dapat
diolah menjadi persediaan. Pemindahan ini mungkin juga membuka akses menuju material di
lapisan yang lebih dalam yang memiliki rasio mineral terhadap limbah yang lebih tinggi.
Dengan demikian dari aktivitas pengupasan lapisan tanah entitas akan memperoleh dua
manfaat :
1. Material yang masih bermanfaat (usable ore) dapat diolah menjadi persediaan
2. Peningkatan akses menuju jumlah material yang lebih besar yang akan ditambang di
masa depan.
Ruang Lingkup ISAK 29
Interpretasi ini diterapkan untuk biaya pemindahan material yang timbul dalam
aktivitas penambangan terbuka selama tahap produksi (biaya pengupasan lapisan tanah pada
tahap produksi)
Permasalahan dalam ISAK 29
Interpretasi ini membahas beberapa permasalahan, di antaranya :
1. Pengakuan biaya pengupasan lapisan tanah pada tahap produksi sebagai aset;
2. Pengukuran awal aset aktivitas pengupasan lapisan tanah; dan

3. Pengukuran selanjutnya aset aktivitas pengupasan lapisan tanah

Pengakuan Biaya Pengupasan Lapisan Tanah pada Tahap Produksi Sebagai Aset
Sepanjang manfaat dari aktivitas pengupasan lapisan tanah direalisasikan dalam
bentuk produksi persediaan, entitas mencatat biaya aktivitas pengupasan lapisan tanah sesuai
dengan prinsip-prinsip dalam PSAK 14: Persediaan. Sepanjang manfaat tersebut adalah
peningkatan akses menuju material, entitas mengakui biaya tersebut sebagai aset tidak lancar,
jika kriteria terpenuhi. Interpretasi ini merujuk aset tidak lancar tersebut sebagai aset
aktivitas pengupasan lapisan tanah.
Entitas mengakui aset aktivitas pengupasan lapisan tanah jika dan hanya jika seluruh kriteria
berikut terpenuhi :
1. Besar kemungkinan bahwa manfaat ekonomik masa depan (peningkatan akses
menuju bijih mineral) yang terkait dengan aktivitas pengupasan lapisan tanah akan
mengalir kepada entitas;
2. Entitas dapat mengidentifkasi komponen bijih mineral yang aksesnya telah
ditingkatkan; dan
3. Biaya yang terkait dengan aktivitas pengupasan lapisan tanah dengan komponen
tersebut dapat diukur secara andal.
Aset aktivitas pengupasan lapisan tanah dicatat sebagai penambahan atau peningkatan
aset yang telah ada. Dengan kata lain, aset aktivitas pengupasan lapisan tanah akan dicatat
sebagai bagian dari aset yang telah ada.
Pengukuran Awal Aset Aktivitas Pengupasan Lapisan Tanah
Pada saat pengakuan awal entitas mengukur aktivitas pengupasan lapisan tanah pada
biaya perolehan, biaya ini merupakan akumulasi dari biaya-biaya yang secara langsung
terjadi untuk melakukan aktivitas pengupasan lapisan tanah yang meningkatkan akses
terhadap komponen mineral teridentifkasi, ditambah alokasi biaya overhead yang dapat
diatribusikan secara langsung.
Beberapa aktivitas insidentil mungkin terjadi pada saat yang bersamaan dengan
aktivitas pengupasan lapisan tanah, namun aktivitas insidentil tersebut tidak harus ada untuk
melanjutkan aktivitas pengupasan lapisan tanah sebagaimana direncanakan. Biaya yang
terkait dengan aktivitas insidentil tersebut tidak dapat dimasukkan sebagai biaya perolehan
aset aktivitas pengupasan lapisan tanah.
Ketika biaya perolehan aset aktivitas pengupasan lapisan tanah dan persediaan yang
dihasilkan tidak dapat diidentifkasi secara terpisah, maka entitas mengalokasikan biaya
pengupasan lapisan tanah pada tahap produksi antara persediaan yang dihasilkan dan aset
aktivitas pengupasan lapisan tanah menggunakan basis alokasi berdasarkan ukuran produksi

yang relevan. Ukuran produksi tersebut dihitung untuk komponen mineral teridentifkasi, dan
digunakan sebagai patokan untuk mengidentifkasi sejauh mana aktivitas tambahan yang
menciptakan manfaat di masa depan telah terjadi.
Contoh pengukuran termasuk di antaranya :
1. Biaya persediaan yang produksi dibandingkan dengan biaya ekspektasian;
2. Volume limbah yang diekstrak dibandingkan dengan volume ekspektasian, untuk
setiap volume produksi mineral; dan
3. Kandungan mineral yang diekstrak dibandingkan dengan kandungan mineral
ekspektasian, untuk setiap jumlah yang dihasilkan.
Pengukuran Selanjutnya Aset Aktivitas Pengupasan Lapisan Tanah
Setelah pengakuan awal, aset aktivitas pengupasan lapisan tanah dicatat menggunakan
biaya perolehan atau jumlah revaluasian dikurangi penyusutan atau amortisasi dan rugi
penurunan nilai, dengan cara yang sama seperti aset yang telah ada yang mana aset tersebut
merupakan bagiannya.
Aset aktivitas pengupasan lapisan tanah disusutkan atau diamortisasi menggunakan
dasar yang sistematis, selama masa manfaat ekspektasian dari komponen mineral yang
teridentifkasi yang menjadi lebih mudah diakses sebagai akibat dari aktivitas pengupasan
lapisan tanah. Metode unit produksi diterapkan kecuali ada metode lain yang lebih tepat.
Masa manfaat ekspektasian dari komponen mineral teridentifkasi yang digunakan
untuk menyusutkan atau mengamortisasi aset aktivitas pengupasan lapisan tanah akan
berbeda dengan masa manfaat ekspektasian yang digunakan untuk menyusutkan atau
mengamortisasi pertambangan itu sendiri dan masa manfaat dari aset tambang yang terkait.
Pengecualian terhadap hal ini adalah dalam kondisi terbatas ketika aktivitas pengupasan
lapisan tanah memberikan peningkatan akses menuju sisa mineral yang belum ditambang.
Sebagai contoh, hal ini mungkin terjadi menjelang akhir masa manfaat tambang ketika
komponen yang teridentifkasi komponen akhir dari mineral (ore body) yang akan diekstraksi.
Tanggal Efektif dan Ketentuan Transisi
Entitas menerapkan Interpretasi ini untuk tahun buku yang dimulai pada atau setelah
tanggal 1 Januari 2014. Entitas menerapkan Interpretasi ini untuk biaya pengupasan lapisan
tanah pada tahap produksi yang terjadi pada atau setelah permulaan dari periode sajian
terawal.
Pada permulaan dari periode sajian terawal, setiap saldo aset yang sebelumnya telah
diakui yang dihasilkan dari aktivitas pengupasan lapisan tanah selama tahap produksi (aset

pengupasan lapisan tanah terdahulu) diklasifkasikan kembali sebagai bagian dari aset yang
telah ada yang terkait dengan aktivitas pengupasan lapisan tanah, sejauh aset pengupasan
lapisan tanah terdahulu tersebut dapat dikaitkan dengan komponen mineral tersisa yang
teridentifkasi. Saldo tersebut disusutkan atau diamortisasi selama masa manfaat ekspektasian
dari komponen mineral utama yang teridentifkasi yang terkait dengan setiap saldo aset
pengupasan lapisan tanah terdahulu.
Jika tidak ada komponen mineral utama yang teridentifkasi yang terkait dengan aset
pengupasan lapisan tanah terdahulu, maka entitas mengakuinya dalam saldo laba awal dari
periode sajian terawal.

Case ISAK 29
PT. BAYAN RESOURCES Tbk.
DAN ENTITAS ANAK
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN
31 DESEMBER 2013,20121 JANUARI DAN 2012

IFRS 6 dan PSAK 64


Penerbitan ED PSAK 64: Eksplorasi dan Evaluasi Sumber Daya Mineral bertujuan untuk
meminta tanggapan atas semua pengaturan dan paragraf dalam ED PSAK 64 tersebut.
Untuk memberikan panduan dalam memberikan tanggapan, berikut ini hal yang diharapkan
masukannya:
1.

Adopsi IFRS 6 Exploration for and Evaluation of Mineral Resources


IFRS 6 Exploration for and Evaluation of Mineral Resources merupakan standar
akuntansi yang bersifat sementara dan saat ini masih terus dilakukan kajian oleh
International Accounting Standards Board untuk menentukan apakah kegiatan
pertambangan memerlukan standar akuntansi keuangan tersendiri atau bisa
menggunakan standar akuntansi keuangan yang ada. IFRS 6 hanya mengatur aktivitas
eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral, sedangkan aktivitas lainnya tidak diatur
dalam IFRS 6. Pendekatan konsep yang digunakan dalam IFRS 6 terkait dengan
aktivitas eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral berbeda dengan PSAK 29:
Akuntansi Minyak dan Gas Bumi dan PSAK 33: Akuntansi Pertambangan Umum:
a.

IFRS 6: biaya eksplorasi dan evaluasi diakui sebagai aset.

b.

PSAK 29: biaya eksplorasi dan evaluasi diakui sebagai aset di dalam suatu
negara sebagai pusat biaya (full cost) dan diakui sebagai aset untuk sumur
yang mempunyai cadangan terbukti (successful efforts).

c.

PSAK 33: biaya eksplorasi dan evaluasi diakui sebagai aset jika terdapat
cadangan terbukti dan belum terdapat

cadangan terbukti ketika aktivitas

eksplorasi dan evaluasi yang signifikan masih berjalan.

Sebagian berpendapat bahwa tidak perlu dilakukan adopsi atas IFRS 6 dengan alasan
sebagai berikut:
a.

IFRS 6 merupakan standar akuntansi yang bersifat sementara sebagaimana


dijelaskan di atas dan hal yang diatur menyangkut industri yang memberikan
kontribusi terbesar terhadap perekonomian Indonesia dan bersifat strategis
baik secara ekonomi dan politik. IFRS 6 hanya mengatur sebagian aktivitas
industri pertambangan, sementara SAK yang telah ada yaitu PSAK 29 dan
PSAK 33 mengatur seluruh aktivitas pertambangan minyak dan gas bumi dan
pertambangan umum.

b.

IFRS 6 masih memberikan pilihan untuk menggunakan kebijakan akuntansi


yang ada dan mengabaikan panduan pemilihan kebijakan akuntansi yang
diatur di IAS 8 Accouting Policies, Changes in Accounting Estimates and
Errors (PSAK 25 (revisi 2009): Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi
Akuntansi, dan Kesalahan). Hal ini menunjukkan IASB,belum yakin bahwa
hal yang diatur dalam IFRS 6 merupakan pengaturan yang bersifat mandatori.
Jika IFRS 6 diadopsi secara penuh, maka pencatatan biaya eksplorasi dan
evaluasi sumber daya mineral kemungkinan akan tetap mengacu pada SAK
yang telah ada yaitu PSAK 29 dan PSAK 33 ketika pengaturan dalam PSAK
tersebut akan menghasilkan informasi yang lebih relevan dan andal. Hal ini
ditunjukkan empat dari empat belas anggota IASB memberikan dissenting
opinions atas IFRS 6.

Sebagian berpendapat bahwa perlu dilakukan adopsi atas IFRS 6 dengan alasan
sebagai berikut:
a.

Adopsi IFRS 6 akan membuat laporan keuangan perusahaan pertambangan


nasional dapat dibandingkan dengan perusahaan luar negeri mengingat secara
umum perusahaan pertambangan nasional melakukan aktivitas lintas negara
dan hal ini terkait dengan program konvergensi SAK dengan IFRS yang mana
tidak terdapat alasan valid untuk menjustifikasi bahwa tidak perlu mengadopsi
IFRS 6. Pengaturan dalam IFRS 6 tidak berbeda secara substantif dengan
PSAK 29 dan PSAK 33. Hal ini hanya perbedaan pendekatan yang digunakan
dalam mencatat biaya eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral yangdapat
digambarkan dalam bagan berikut:

Sehingga, hal ini dianggap tidak akan memberikan dampak yang signifikan
terhadap perlakuan akuntansi yang telah ada.
b.

Pengecualian yang diatur dalam IFRS 6 merupakan hal yang tidak relevan
untuk diadopsi ke dalam PSAK 64 karena hal ini akan mengakibatkan tidak
ada manfaatnya mengadopsi IFRS 6 jika mengadopsi juga bagian yang
dianggap kontroversial. Hal tersebut bukan merupakan alasan valid untuk
tidak mengadopsi IFRS 6.

ED PSAK 64 menggunakan pendapat kedua yaitu mengadopsi IFRS 6 dengan


menghilangkan pengecualian untuk dapat terus menggunakan kebijakan akuntansi
yang lama.
PSAK 64: Aktivitas Eksplorasi dan Evaluasi pada Pertambangan Sumber Daya Mineral
A. Tujuan dan Ruang Lingkup PSAK 64
PSAK 64 ini merupakan adopsi dari IFRS 6: Exploration for and Evaluation of Mineral
Resources. Perbedaan dengan IFRS 6 hanya terletak pada pengaturan tanggal efektifnya.
Berikut disampaikan perbedaan yang ada pada PSAK 64 :
Tujuan dan ruang lingkup PSAK 64 diuraikan pada Tabel II.10. Seperti dinyatakan dalam
paragraf 28 PSAK 64, PSAK ini menggantikan :
a. PSAK 29: Akuntansi Minyak dan Gas Bumi; dan
b. PSAK 33: Akuntansi Pertambangan Umum (untuk pengaturan yang terkait dengan
aktivitas eksplorasi dan aktivitas pengembangan dan konstruksi).

Tabel II.10 Tujuan & Ruang Lingkup PSAK 64


rihal

Deskripsi

Tujuan PSAK 64 adalah untuk menetapkan pelaporan keuangan atas


eksplorasi dan evaluasi pada pertambangan sumber daya mineral [par.1].

PSAK 64 secara khusus mensyaratkan:


a) pengembangan terbatas atas praktik akuntansi yang ada untuk
pengeluaran eksplorasi dan evaluasi;
b) entitas yang mengakui aset eksplorasi dan evaluasi untuk menilai apakah
aset tersebut mengalami penurunan nilai sesuai dengan PSAK 64 dan

Tujuan

mengukur setiap penurunan nilai sesuai dengan PSAK 48 (revisi 2009):


Penurunan Nilai Aset;
c) pengungkapan yang mengidentifikasi dan menjelaskan jumlah dalam
laporan keuangan yang timbul dari eksplorasi dan evaluasi sumber daya
mineral serta membantu pengguna laporan keuangan untuk memahami
jumlah, waktu, dan kepastian atas arus kas masa depan dari setiap aset
eksplorasi dan evaluasi yang diakui [par.2].

Entitas menerapkan PSAK 64 terhadap pengeluaran yang terjadi atas


eksplorasi dan evaluasi [par.3].

PSAK 64 tidak mengatur aspek akuntansi lain dari entitas yang melakukan
eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral [par.4].

Ruang
lingkup

Entitas tidak menerapkan PSAK 64 untuk pengeluaran yang terjadi:


a) sebelum eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral, seperti
pengeluaran yang terjadi sebelum entitas memperoleh hak hukum untuk
mengeksplorasi suatu wilayah tertentu.
b) setelah dapat dibuktikan kelayakan teknis dan kelayakan komersial atas
penambangan sumber daya mineral [par.5]

B. Konsep Utama
1. Cakupan eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral
Seperti dikutip dari ED PSAK 64, IFRS 6 merupakan standar akuntansi yang bersifat
sementara. Saat ini masih terus dilakukan kajian oleh IASB untuk menentukan apakah
kegiatan pertambangan memerlukan standar akuntansi keuangan tersendiri atau bisa
menggunakan standar akuntansi keuangan yang ada.
Definisi eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral di dalam Lampiran PSAK 64 adalah
pencarian sumber daya mineral, termasuk barang tambang, minyak, gas alam, dan sumber
daya alam lain yang tidak dapat diperbarui.
Setelah entitas memperoleh hak kontraktual untuk mengeksplorasi pada suatu wilayah
tertentu,sebagaimana telah ditetapkan dalam kelayakan teknis dan kelangsungan usaha
komersial atas penambangan sumber daya mineral. Jika terjadi pengeluaran yang
dilakukan entitas terkait dengan eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral sebelum
dapat dibuktikan kelayakan teknis dan komersil atas penambangan sumber daya mineral,
pengeluaran ini disebut pengeluaran eksplorasi dan evaluasi.
Paragraf 9 PSAK 64 memberikan contoh pengeluaran yang termasuk dalam pengukuran
awal aset eksplorasi dan evaluasi (tidak terbatas hanya pada daftar berikut), yaitu:
1.

perolehan untuk eksplorasi;

2.

kajian topografi, geologi, geokimia, dan geofisika;

3.

pengeboran eksplorasi;

4.

parit;

5.

pengambilan contoh; dan

Aktivitas yang terkait dengan evaluasi kelayakan teknis dan kelangsungan usaha
komersial atas penambangan sumber daya mineral.
Pengertian sumber daya mineral di dalam Lampiran PSAK 64 tidak dapat dilepaskan dari
pengertian yang ada di dalam dua undang-undang, yaitu:
a.

UU No. 22/2001 tentang minyak dan gas bumi, serta

b.

UU No. 4/2009 tentang pertambangan mineral dan batubara.

Pengertian minyak, gas bumi, mineral, dan batubara terlihat pada Tabel II.11.
Bagaimanapun juga, pengusahaan sumber daya mineral dalam bentuk minyak dan gas
bumi mengacu pada UU No.22/2001, sedangkan pengusahaan mineral dan batubara
tunduk pada UU No. 4/2009.
Tabel II.11 Jenis dan Pengertian Sumber Daya Mineral
Jenis
Pengertian
Minyak atau Hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan dan
minyak

temperatur atmosfer berupa fasa cair atau padat, termasuk aspal, lilin mineral

bumi

atau ozokerit, dan bitumen yang diperoleh dari proses penambangan, tetapi tidak
termasuk batubara atau endapan hidrokarbon lain yang berbentuk padat yang
diperoleh dari kegiatan yang tidak berkaitan dengan kegiatan usaha Minyak dan

Gas Bumi

Gas Bumi
Hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan dan
temperatur atmosfer berupa fasa gas yang diperoleh dari proses penambangan

Mineral

Minyak dan Gas Bumi


Senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat fisik dan kimia
tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan,

Batubara

baik dalam bentuk lepas atau padu


Endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara alamiah dari sisa
tumbuh-tumbuhan

Sumber: Pasal 1 angka 1 s.d. 3 UU No. 22/2001 dan Pasal 2 dan 3 UU No. 4/2009.
2. Cakupan kegiatan eksplorasi dan evaluasi pada pertambangan mineral dan batubara.
Kegiatan utama pertambangan mineral dan batubara terlihat pada uraian di bab
sebelumnya. Setiap kegiatan pertambangan harus berdasarkan izin. Ada tiga bentuk izin
pertambangan yang berlaku, yaitu IUP (Izin Usaha Pertambangan), IPR (Izin
Pertambangan Rakyat), dan IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus). Selain ketiga izin
tersebut, masih ada dua izin lainnya yang berasal dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun
1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Kedua izin pertambangan
tersebut adalah kontrak karya dan perjanjian karya perjanjian karya pengusahaan
pertambangan batubara (PKP2B).

Pasal 169 UU 4/2009 di antaranya menjelaskan bahwa pada saat UU 4/2009 mulai
berlaku,yaitu 12 Januari 2009, kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan
pertambangan batubara (PKP2B) yang telah ada sebelum berlakunya UU 4/2009 tetap
diberlakukan sampai jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian. Ketentuan yang
tercantum dalam pasal kontrak karya dan PKP2B disesuaikan selambat-lambatnya 1 (satu)
tahun sejak UU 4/2009 diundangkan kecuali mengenai penerimaan negara.
Jika dikaitkan antara definisi eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral dengan
kegiatan utama pertambangan mineral dan batubara di dalam Tabel II.11, PSAK 64
diterapkan untuk kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan. Ketiga
tahapan tersebut harus berdasarkan IUP Eksplorasi atau IUPK Eksplorasi. IPR sepertinya
tidak relevan dengan penerapan PSAK 64 karena pemegang IPR terdiri dari penduduk
setempat, baik orang perseorangan maupun kelompok masyarakat, serta koperasi.
C. Perlakuan Akuntansi
Perlakuan akuntansi dalam Tabel II.12 dikutip dari paragraf-paragraf di dalam PSAK 64 yang
dicetak dengan huruf tebal dan miring yang mengatur prinsip-prinsip utama. Meskipun
demikian, ada beberapa paragraf yang hurufnya tidak dicetak tebal dan miring juga, tetapi
tetap dikutip untuk lebih memperjelas perlakuan akuntansinya.
Tabel II Perlakuan Akuntansi Aset Eksplorasi dan Evaluasi Menurut PSAK 64
Perihal
Pengakuan

Deskripsi
Ketika mengembangkan kebijakan akuntansinya, entitas mengakui aset
eksplorasi dan evaluasi menggunakan PSAK 25 (Revisi 2009): Kebijakan

Pengukuran
Komponen
biaya

Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan paragraf 10 [par.6]


Aset eksplorasi dan evaluasi diukur pada biaya perolehan [par.7 dan 8].

Entitas menentukan suatu kebijakan akuntansi yang mengatur


pengeluaran yang diakui sebagai aset eksplorasi dan evaluasi dan

perolehan

menerapkannya secara konsisten. Dalam menentukan kebijakan


akuntansi ini, entitas mempertimbangkan tingkat pengeluaran yang
dapat dikaitkan dengan penemuan sumber daya mineral spesifik
[par.9].

Pengeluaran yang terkait dengan pengembangan sumber daya mineral

tidak diakui sebagai aset eksplorasi dan evaluasi [par.10].

Sesuai dengan PSAK 57 (revisi 2009): Provisi, Liabilitas Kontinjensi,


dan Aset Kontinjensi, suatu entitas mengakui setiap kewajiban untuk
pemindahan dan restorasi yang terjadi selama periode tertentu sebagai
konsekuensi dari eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral

Pengukuran
Setelah

Setelah pengakuan awal, entitas menerapkan salah satu model biaya


atau model revaluasi atas aset eksplorasi dan evaluasi [par.11].

Pengakuan

Jika entitas menerapkan model revaluasi (model dalam PSAK 16


(2007): Aset Tetap atau model dalam PSAK 19 (Revisi 2010): Aset
Tak Berwujud), entitas menerapkannya secara konsisten dengan
klasifikasi atas aset tersebut (lihat paragraf 15) [par.11]

Perubahan
Kebijakan

Entitas dapat mengubah kebijakan akuntansinya atas pengeluaran


ekplorasi dan evaluasi jika perubahan kebijakan tersebut dapat

Akuntansi

membuat laporan keuangan menjadi lebih relevan bagi kebutuhan


pengguna dalam pengambilan keputusan dan andal, atau lebih andal
dan relevan bagi kebutuhan pengambilan keputusan [par.13].

Entitas mempertimbangkan unsur relevan dan keandalan dengan


menggunakan kriteria dalam PSAK 25 (Revisi 2009): Kebijakan
Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan [par.13]

Penyajian

Entitas mengklasifikasi aset eksplorasi dan evaluasi sebagai aset


berwujud atau aset tak berwujud sesuai dengan sifat aset yang
diperoleh & menerapkan klasifikasi tersebut secara konsisten [par.15]

Suatu aset tidak diklasifikasikan sebagai aset eksplorasi dan evaluasi


ketika kelayakan teknis dan kelangsungan usaha komersial atas
penambangan sumber daya mineral dapat dibuktikan. Aset eksplorasi
dan evaluasi diuji penurunan nilainya, dan setiap rugi penurunan nilai

diakui, sebelum direklasifikasi [par.17]


Penurunan
Nilai

Penurunan nilai aset eksplorasi dan evaluasi diuji ketika fakta dan
kondisi menyatakan bahwa jumlah tercatat aset eksplorasi dan
evaluasi melebihi jumlah terpulihkan. Ketika fakta dan kondisi
menyatakan bahwa jumlah tercatat aset eksplorasi dan evaluasi
melebihi jumlah terpulihkan, entitas mengukur, menyajikan dan
mengungkapkan setiap rugi penurunan nilai sesuai dengan PSAK 48
(revisi 2009): Penurunan Nilai Aset, kecuali seperti yang disajikan
dalam paragraf 21 [par.18].

Entitas menentukan suatu kebijakan akuntansi untuk mengalokasikan


aset eksplorasi dan evaluasi ke unit penghasil kas atau kelompok unit
penghasil kas untuk tujuan penilaian aset yang mengalami penurunan
nilai. Setiap unit penghasil kas atau kelompok unit penghasil kas yang
mana aset eksplorasi dan evaluasi telah dialokasikan tidak lebih besar
dari segmen operasi yang telah ditentukan sesuai dengan PSAK 3
(revisi 2009): Segmen Operasi [par.21]

Sumber: PSAK 64 (IAI, 2011))

Secara umum ringkasan pengaturan dalam ED PSAK 64 : Eksplorasi dan Evaluasi Sumber
Daya Mineral adalah sebagai berikut :
Perihal

Perlakuan Akuntansi

Ruang Lingkup

Biaya eksplorasi dan evaluasi sumber daya


mineral

Pengakuan dan pengukura awal

Biaya eksplorasi dan evaluasi diakui sebagai


aset sebagai biaya perolehan

Pengukuran selanjutnya

Merujuk pada PSAK 16 (revisi 2007) : Aset


Tetap dan PSAK 19 (Revisi 2010) : Aset tak
berwujud

Penurunan Nilai

Merujuk pada PSAK 48 ( Revisi 2009) :


Penurunan Nilai Aset, Kecuali terkait dengan
penentuan unit penghasil kas untuk tujuan uji
penurunan nilai

D. Contoh Kasus PSAK 64


Contoh kasus untuk PSAK 64 adalah PT. Antam (Persero), Tbk. Berikut disampaikan
contoh kasus untuk PSAK 64.
1. Pengakuan
Ketika mengembangkan kebijakan akuntansinya, entitas mengakui aset eksplorasi dan
evaluasi menggunakan PSAK 25 (Revisi 2009): Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi
Akuntansi, dan Kesalahan paragraf 10 [par.6]
2. Pengukuran pada saaat pengakuan
Pengukuran pada saat Pengakuan terdapat dalam PSAK 64 par 7 dan par 8 yang berbunyi:
Par 7

: Aset Eksplorasi dan evaluasi diukur pada biaya perolehan

Contoh Kasus
Laporan Keuangan

Kebijakan Akuntansi

dapat disimpulkan bawa PT. Antam P(Persero), Tbk pengakuan atas biaya eksplorasi
dan eikploitasi sudah sesuai.
3.

Komponen Biaya Perolehan Aset Eksploasi dan Evaluasi


Par 8

: Entitas menentukan suatu kebijakan akuntansi yang spesifik yang mana


pengeluaran diakui sebagai aset eksplorasi dan evaluasi dan menerapkannya
secara konsisten. Dalam menentukan kebijakan akuntansi ini, entitas
mempertimbangkan tingkat pengeluaran yang dapat dikaitkan dengan

penemuan sumber daya mineral spesifik. Berikut contoh pengeluaran yang


dapat termasuk dalam pengukuran awal aset eksplorasi dan evaluasi (tidak
terbatas hanya pada daftar berik ut):
(a) perolehan untuk eksplorasi;
(b) kajian topografi, geologi, geokimia, dan geofisika;
(c) pengeboran eksplorasi;
(d) parit;
(e) pengambilan contoh; dan
(f) aktivitas yang terkait dengan evaluasi kelayakan teknis dan kelangsungan
usaha komersial atas penambangan sumber daya mineral

Contoh Kasus :
Laporan Keuangan

Kebijakan Akuntansi

Note Par 7 dan 8

Par 9 : Pengeluaran yang terkait dengan pengembangan sumber daya mineral tidak diakui
sebagai aset eksplorasi dan evaluasi. Kerangka dasar Penyusunan dan Penyajian
Laporan Keuangan dan PSAK 19 (revisi : 2010) : Aset Tak Berwujud memberikan
panduan pengakuan aset yang timbul dari pengembangan.

Laporan Keuangan

Note :

IAS 37 ini bertujuan untuk mengatur :


pengakuan dan pengukuran provisi, liabilitas kontinjensi, kewajiban kontinjensi dan
Aset Kontinjensi
untuk memastikan informasi memadai telah diungkapkan dalam Catatan atas
laporan keuangan
Agar para pengguna dapat memahami sifat, waktu, dan jumlah yang terkait dengan
informasi tersebut
Standar diterapkan oleh semua entitas dalam akuntansinya, kecuali yang timbul dari:
(a) kontrak eksekutori, kecuali jika kontrak tersebut bersifat memberatkan
(onerous);bersifat memberatkan (onerous);

(b) hal-hal yang telah dicakup dalam PSAK lain.


Contoh: PSAK 34; 46; 30; 24; 28; 36
Pernyataan ini tidak berlaku untuk instrumen keuangan (termasuk garansi) yang
termasuk dalam ruang lingkup
PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.
Definisi
Kontrak eksekutori adalah kontrak yang kedua belah pihak terkaitnya belum
melaksanakan kewajiban kontrak atau telah melaksanakan sebagian kewajiban
mereka dengan proporsi yang sama.
Provisi adalah liabilitas yang waktu dan jumlahnya belum pasti
Liabilitas adalah kewajiban kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu yang
penyelesaiannya dapat mengakibatkan arus keluar sumber daya entitas yang
mengandung manfaat ekonomi.
Pengakuan Provisi
Provisi diakui jika:
(a) entitas memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif)
sebagai akibat peristiwa masa lalu;
(b) kemungkinan besar penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar
sumber
daya yang mengandung manfaat ekonomi;
(c) estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban ter sebut dapat dibuat.
Dan Jika kondisi di atas tidak terpenuhi, maka kewajiban diestimasi tidak diakui.
Kewajiban Kontijensi
Entitas tidak diperkenankan mengakui kewajiban kontinjensi mengakui kewajiban
kontinjensi. (PSAK 57 par 27)
Kewajiban kontinjensi adalah:
(a) kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaannya
menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa
datang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas; ataudalam kendali
entitas; atau

(b) kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak diakui
karena:
(i) tidak terdapat kemungkinan besar entitas mengeluarkan sumber daya yang mengan
dung manfaat ekonomis (selanjutnya disebut sebagai sumber daya) untuk
menyelesaikan kewajibannya; atau
(ii) jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur secara andal.
Pengukuran
1. Estimasi terbaik
Jumlah yang diakui sebagai provisi adalah hasil estimasi terbaik pengeluaran yang
diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini pada akhir periode pelaporan. (par
36)
2. Risiko dan Ketidakpastian
Jumlah yang diakui sebagai provisi adalah hasil estimasi terbaik pengeluaran yang
diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban pg yg kini pada akhir periode pelaporan.
(par 42)
3. Nilai Kini
Jika dampak nilai waktu uang cukup material maka jumlah Jika dampak nilai waktu
uang cukup material, maka jumlah provisi adalah nilai kini dari perkiraan pengeluaran
yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban. (par 45)
4. Peristiwa Masa Depan
Peristiwa masa depan yang dapat mempengaruhi jumlah yang diperlukan untuk
menyelesaikan suatu kewajiban harus tercermin dalam jumlah provisi jika ada bukti
obyektif bahwatercermin dalam jumlah provisi jika ada bukti obyektif bahwa
peristiwa itu akan terjadi. (PSAK 57 par 48)
5. Rencana Pelepasan Aset
Keuntungan sehubungan dengan rencana pelepasan aset tidak boleh dipertimbangkan
dalam menghitung suatu provisi (PSAK 57 par 51)