Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

FISIOLOGI KARDIOVASKULER

Disusun Oleh:
Nama

:Yohanes Sindu Nugraha

NIM

:41100039

Kelompok

:B

Tgl. Prak.

:25 Oktober 2011

Dosen

:dr. Yanti Ivana

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2011

BAB I
Pendahuluan
A.

Latar Belakang
Tekanan darah sangat penting dalam dinamika peredaran darah (hemodinamika). Nilai
tekanan darah pada berbagai macam pembuluh darah tidak sama; tekanan darah pada arteri
lebih tinggi daripada tekanan darah pada vena.
Tinggi tekanan darah arteri pada orang dewasa sehat dalam kondisi istirahat dengan
kondisi berbaring adalah 120 mmHg untuk tekanan sistolik dan 70 mmHg untuk tekanan
diastolik (ditulis 120/70 mmHg). Tinggi tekanan darah ini bervariasi antara lain karena
usia, jenis kelamin, dan posisi badan atau bagian badan. Variasi karena posisi badan atau
bagian badan ditimbulkan oleh adanya gaya berat (gravitasi).
Aktivitas fisik juga memiliki pengaruh pada hemodinamika kemampuan respon faal
terhadap tantangan kerja fisik berat paling baik dinilai dengan pengukuran langsung
kapasitas aerobik dalam bentuk penggunaan O2 maksimal. Kapasitas aerobik dapat ditaksir
dari frekuensi denyut jantung yang dihitung semasa waktu pemulihan. Walaupun tidak
tepat benar seperti cara langsung, cara ini cukup memadai dan dipergunakan secara luas
untuk penapisan.
Otot jantung mampu menghasilkan impuls secara otomatis dan ritmis serta menjalarkan
impuls tersebut ke seluruh otot jantung. Impuls tersebut menimbulkan eksitasi pada otot
jantung yang selanjutnya menyebabkan otot jantung berkontraksi.
Aktivitas listrik pada jantung menimbulkan arus listrik yang sangat lemah dan menjalar ke
seluruh tubuh. Arus listrik tersebut menimbulkan potensial listrik yang berubah-ubah
besarnya di beberapa bagian tubuh tergantung dari aktivitas jantung serta keadaan bagian
tubuh. Dengan mengkaji permukaan potensial listrik pada bagian tubuh tertentu dapat
diketahui secara tidak langsung berbagai peristiwa yang terjadi di jantung.
Perekaman potensial listrik dalam bentuk grafik di bagian tubuh tertentu adalah dasar
elektrokardiograf; alat yang dipergunakan pada perekaman ini disebut elektrokardiograf
dan hasil perekamannya disebut elektrokardiogram.
Dengan cara mengkaji elektrokardiogram, dapat diperkirakan secara tidak langsung
gangguan frekuensi, irama denyut jantung, gangguan penjalaran impuls, hipertrofi otot
jantung, iskemia otot jantung, infark otot jantung, dan sebagainya. Untuk mendeteksi
infark myocardium, elektrokardiografi yang paling praktis selain pemeriksaan enzim
serum.

Agar elektrokardiogram dapat dibaca secara umum, maka bagian tubuh yang menjadi
temat perekaman, teknik perekaman, dan cara kerja alat perekam harus dibakukan.
B. Tujuan
1.
2.

Mahasiswa mengerti dan memahami aktivitas listrik jantung.


Mahasiswa memahami respon fisiologis jantung terhadap

aktivitas listrik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sel-sel otot jantung mempunyai susunan ion yang berbeda antara ruang dalam
sel(intraseleluler) dan ruang luar sel(ekstraseluler). Dari kesemua ion ini yang terpenting
adalah ion Natrium (Na+) dan ion Kalium (K+). Kadar K+ intraseluler sekitar 30 kali lebih
tinggi di ruang ekstraselulerdaripada di ruang intraseluler. Membran sel otot jantung
ternyata lebih permeabel untuk ion negatif daripada untuk ion Na +. Dalam keadaan
istirahat, karena perbedaan kadar ion-ion, potensial membran bagian dalam dan luar tidak
sama. Membran sel otot jantung saat istirahat berada pada keadaan polarisasi, dengan

bagian luar berpotensial lebih positif dibandingkan dengan bagian dalam. Selisih potensial
ini disebut potensial membran, yang dalam keadaan istirahat berkisar -90mV. Bila
membran otot jantung dirangsang, sifat permeabel membran berubah sehingga ion Na+
masuk ke dalam sel, yang menyebabkan potensial membran berubah dari -90mV menjadi
+20mV (potensial diukur intraseluler terhadap ekstraseluler). Perubahan potensial
membran karena stimulus ini disebut depolarisasi. Setelah proses depolarisasi selesai,
maka potensial membran kembali mencapai keadaan semula, yang disebut proses
repolarisasi. (IPD, 2009)
Jantung merupakan sistem elektromekanikal dimana signal untuk kontraksi otot jantung
timbul akibat penyebaran arus listrik di sepanjang otot jantung. Sistem konduksi terdiri
dari sel otot jantung yang memiliki sifat unik, terdiri dari:
1. Nodus Sinoatrial (SA)
Nodus SA merupakan sekumpulan sel yang terletak di bagian sudut kanan atas
atrium kanan dengan ukuran panjang 10-20mm dan lebar 2-3mm serta merupakan
pacemaker jantung. Nodus SA mengatur ritme jantung (69-100x/menit) dengan
mempertahankan kecepatan depolarisasi serta mengawali siklus jantung ditandai
dengan sistol atrium. Impuls dari nodus SA menyabar pertama sekali ke atrium
kanan lalu ke atrium kiri (melalui berkas Bachman) yang selanjutnya diteruskan ke
nodus atrioventrikular(AV) melalui traktus internodus.
2. Nodus Atrioventrikular (AV)
Nodus AV terletak dekat dengan septum interatrial bagian bawah, di atas sinus
koronarius dan dibelakang katup trikuspid yang berfungsi memperlambat
kecepatan konduksi sehingga memberi kesempatan atrium mengisi ventrikel
sebelum sistol ventrikel serta melindungi ventrikel dari stimulasi berlebihan atrium
seperti pada fibrilasi atrial. Nodus AV menghasilkan impuls 40-60x/menit dan
kecepatan konduksi 0,005 meter/detik. Impuls dari nodus AV akan diteruskan ke
berkas His.
3. Sistem His-Purkinje
Berkas His terbagi atas berkas kanan dan kiri. Berkas His terbagi menjadi berkas
anterior kiri, posterior dan septal. Berkas kanan menyabarkan impuls listrik ke
ventrikel kanan, sedangkan berkas kiri menyrbarkan impuls ke septum inter-

ventrikel dan ventrikel kiri dengan kecepatan konduksi 2 meter/detik. Berkasberkas tersebut bercabang menjadi cabang-cabang kecil atau serabut purkinje yang
tersebar mulai dari septum interventrikel sampai ke musculus papilaris dan
menghasilkan impuls 20-40x/menit dengan kecepatan konduksi 4 meter/detik.
Impuls menyebar mulai dari endokardium ke miokardium dan terakhir mencapai
epikardium, yang selanjutnya otot jantung akan bergerak (twisting) dan memompa
darah keluar dari ruang ventrikel ke pembuluh darah arteri. (Sistematika
Interpretasi EKG Pedoman Praktis, oleh Dr. Surya Dharma, SpJP, FIHA, 2010)
Elektrokardiogram (EKG) adalah suatu alat pencatat grafis aktivitas kelistrikan jantung.
Pada EKG terlihat gelombang khas yang disebut sebagai gelombang P, QRS, dan T yang
sesuai dengan

penyebaran eksitasi listrik dan pemulihannya melalui sistem hantaran

miokardium. (Price & Wilson, 2006)

EKG dapat direkam dengan menggunakan elektroda aktif atau ekspolarisasi yang
dihubungkan ke suatu elektroda indiferen pada potensial nol (rekaman unipolar), atau
dengan menggunakan dua elektroda aktif (rekaman bipolar). Dalam konduktor volume,
jumlah potensial di titik sudut suatu segitiga sama sisi dengan sumber arus dipusatnya
adalah nol di setiap waktu. Segitiga dengan jantung pada pusatnya (segitiga Einthoven)
dapat diperkirakandengan menempatkan elektroda pada kedua lengan dan tungkai kiri.
Elektroda ini adalah tiga sadapan(lead) ekstremitas standar yang digunakan pada
elektrokardiografi. Bila semua elektroda tersebut dihubungkan ke ujung yang sama,
elektroda indeferen akan diperoleh dengan potensial yang tetap mendekati nol.
Depolarisasi yang bergerak menuju elektroda aktif dalam suatu konduktor volume
menghasilkan defleksi/penyimpangan positif, sedangkan depolarisasi yang bergerak ke
arah berlawanan menghasilkan defleksi negatif. (W.F.Ganong, 2008)
Sebuah elektrokardiograf khusus berjalan di atas kertas dengan kecepatan 25 mm/s,
meskipun kecepatan yang di atas daripada itu sering digunakan. Setiap kotak kecil kertas
EKG berukuran 1 mm. Dengan kecepatan 25 mm/s, 1 kotak kecil kertas EKG sama
dengan 0,04 s (40 ms). 5 kotak kecil menyusun 1 kotak besar, yang sama dengan 0,20 s
(200 ms). Karena itu, ada 5 kotak besar per menit. 12 sadapan EKG berkualitas diagnostik
dikalibrasikan sebesar 10 mm/mV, jadi 1 mm sama dengan 0,1 mV. Sinyal "kalibrasi"

harus dimasukkan dalam tiap rekaman. Sinyal standar 1 mV harus menggerakkan jarum 1
cm secara vertikal, yakni 2 kotak besar di kertas EKG. (Sistematika Interpretasi EKG
Pedoman Praktis, oleh Dr. Surya Dharma, SpJP, FIHA, 2010)

Kata sadapan memiliki 2 arti pada elektrokardiografi yaitu bisa merujuk ke kabel
yang menghubungkan sebuah elektrode ke elektrokardiograf, atau ke gabungan elektrode
yang membentuk garis khayalan pada badan di mana sinyal listrik diukur. Lalu, istilah
benda sadap longgar menggunakan arti lama, sedangkan istilah 12 sadapan EKG
menggunakan arti yang baru. Nyatanya, sebuah elektrokardiograf 12 sadapan biasanya
hanya menggunakan 10 kabel/elektroda. Definisi terakhir sadapan inilah yang digunakan
di sini.

Sebuah elektrokardiogram diperoleh dengan menggunakan potensial listrik

antara sejumlah titik tubuh menggunakan penguat instrumentasi biomedis. Sebuah sadapan
mencatat sinyal listrik jantung dari gabungan khusus elektrode rekam yang itempatkan di
titik-titik tertentu tubuh pasien.

Saat bergerak ke arah elektrode positif, muka gelombang depolarisasi (atau rerata
vektor listrik) menciptakan defleksi positif di EKG di sadapan yang berhubungan.

Saat bergerak dari elektrode positif, muka gelombang depolarisasi menciptakan


defleksi negatif pada EKG di sadapan yang berhubungan.

Saat bergerak tegak lurus ke elektrode positif, muka gelombang depolarisasi (atau
rerata vektor listrik) menciptakan kompleks equifasik (atau isoelektrik) di EKG,
yang akan bernilai positif saat muka gelombang depolarisasi (atau rerata vektor
listrik) mendekati (A), dan kemudian menjadi negatif saat melintas dekat (B).

Ada 2 jenis sadapan, yaitu unipolar dan bipolar. EKG lama memiliki elektrode tak berbeda
di tengah segitiga Einthoven (yang bisa diserupakan dengan netral stop kontak dinding)
di potensial nol. Arah sadapan-sadapan ini berasal dari tengah jantung yang mengarah ke
luar secara radial dan termasuk sadapan (dada) prekordial dan sadapan ekstremitas (VL,
VR, dan VF). Sebaliknya, EKG baru memiliki kedua elektrode itu di beberapa potensial
dan arah elektrode yang berhubungan berasal dari elektrode di potensial yang lebih rendah
ke tinggi, mis., di sadapan ekstremitas I, arahnya dari kiri ke kanan, yang termasuk
sadapan ekstremitas adalah I, II, dan III. (Buku Panduan Kursus Bantuan Hidup Jantung
Lanjut (BHJL). ACLS Indonesia. PERKI, 2010)
Sadapan Ekstremitas
Sadapan bipolar standar (I, II, dan III) merupakan sadapan asli yang dipilih oleh Einthoven
untuk merekam potensial listrik pada bidang frontal. Elektroda-elektroda diletakkan pada
lengan kiri ( LA = Left Arm), lengan kanan (RA = Right Arm), dan tungkai kiri (LL = Left
Leg). Sifat kontak dengan kulit harus dibuat dengan melumuri kulit dengan gel elektroda.
Sadapan LA, RS, dan LL kemudian dilekatkan pada elektroda masing-masing. Dengan
memutar tombol pilihan pada alat perekam pada 1, 2, dan 3, akan terekam sadapan standar
( I, II, dan III). Alat elektrokardiografi juga mempunyai elektroda, tungkai kanan (RL =
Right Leg), dan sadapan yang bertindak sebagai arde (ground) dan tidak mempunyai
peranan dalam pembentukan EKG. Sadapan bipolar menyatakan selisih potensial listrik
antara 2 tempat tertentu.

Hantaran I = Selisih potensial antara lengan kiri dan lengan kanan (LA-RA)

Hantaran II = Selisih potensial antara tungkai kiri dan lengan kanan (LL-RA)

Hantaran III = Selisih potensial antara tungkai kiri dan lengan kiri (LL-LA)

Sadapan Dasar

Sebuah elektrode tambahan (biasanya hijau) terdapat di EKG 4 dan 12 sadapan modern,
yang disebut sebagai sadapan dasar yang menurut kesepakatan ditempatkan di kaki kiri,
meski secara teoritis dapat ditempatkan di manapun pada tubuh. (Buku Panduan Kursus
Bantuan Hidup Jantung Lanjut (BHJL). ACLS Indonesia. PERKI, 2010)
Sadapan Prekordial
Sadapan prekordial V1 (merah), V2 (kuning), V3 (hijau), V4 (coklat), V5 (hitam), dan V6
(ungu) ditempatkan secara langsung di dada. Karena terletak dekat jantung, 6 sadapan itu
tak memerlukan augmentasi. Terminal sentral Wilson digunakan untuk elektrode negatif,
dan sadapan-sadapan tersebut dianggap unipolar. Sadapan prekordial memandang aktivitas
jantung di bidang horizontal. Sumbu kelistrikan jantung di bidang horizontal disebut
sebagai sumbu Z. Sadapan V1, V2, dan V3 disebut sebagai sadapan prekordial kanan
sedangkan V4, V5, dan V6 disebut sebagai sadapan prekordial kiri. (Buku Panduan Kursus
Bantuan Hidup Jantung Lanjut (BHJL). ACLS Indonesia. PERKI, 2010)
Makna gelombang dan interval pada EKG sebagai berikut :
1. Gelombang P : sesuai dengan depolarisasi atrium. Rangsangan normal untuk
depolarisasi atrium berasan dari nodus sinoatrial (SA). Namun besarnya listrik
yang berhubungan dengan eksitasi nodus SA terlalu kecil untuk terlihat dalam
EKG. Gelombang P dalam bentuk normal berbentuk melengkung dan arahnya ke
atas pada kebanyakan hantaran. Pembesaran atrium dapat meningkatkan amplitudo
gelombang P. Disritmia jantung juga dapt mengubah konfigurasi gelombang P.
2.

Interval PR : diukur dari permulaan gelombang P hingga awal kompleks QRS.


Dalam interval ini tercakup juga penghantaran impuls melalui nodus atrioventrikal
(AV). Interval normal adalah 0,12 sampai 0,2 detik. Perpanjangan interval PR
menandakan adanya gangguan hambatan impuls, yang disebut blok jantung tingkat
pertama.

3. Kompleks QRS : menggambarkan depolarisasi ventrikel. Amplitudo gelombang ini


besar karena banyak massa otot yang harus dilalui oleh impuls listrik. Namun
impuls menyebar cukup cepat. Normalnya kompleks QRS adalah antara 0,06
sampai 0,10 detik. Pemanjangan penyebaran impuls melalui berkas cabang disebut
blok berkas cabang akan melebarkan kompleks ventrikular. Irama jantung
abnormal dari ventrikel dan takikardia ventrikel juga akan memperlebar dan

mengubah bentuk kompleks QRS oleh sebab jalur khusus yang mempercepat
penyebaran impuls melalui ventrikel dipintas. Hipertrofi ventrikel akan
meningkatkan amplitudo kompleks QRS karena penambahan massa otot jantung .
4. Segmen ST : interval ini terletak di antara gelombang depolarisasi ventrikel dan
repolarisasi ventrikel. Perubahan ini terlalu lemah untuk ditangkap EKG.
Penurunan abnormal segemen ST dikaitkan dengan iskemia miokardium dan
peningkatan segmen ST akan dikaitkan dengan infark.
5. Gelombang T : repolarisasi ventrikel akan menghasilkan gelombang T. Dalam
keadaan normal gelombang T ini akan agak asimetris dan melengkung ke atas.
Inversi gelombang T berkaitan dengan iskemia miokardium. Hiperkalemia akan
meningkatkan puncak gelombang T.
6. Interval QT : Interval ini diukur dari awal kompleks QRS sampai akhir gelombang
T, meliputi depolarisasi dan repolarisasi ventrikel. Interval QT rata-rata 0,36
sampai 0,44 detik. Interval QT memanjang pada pemberian obat-obat antidisritmia.
(Price & Wilson, 2006)

Kompleks QRS negatif di sadapan V1 dan positif di sadapan V6. Kompleks QRS
harus menunjukkan peralihan bertahap dari negatif ke positif antara sadapan V2 dan V4.
Sadapan ekuifasik itu disebut sebagai sadapan transisi. Saat terjadi lebih awal daripada
sadapan V3, peralihan ini disebut sebagai peralihan awal. Saat terjadi setelah sadapan V3,
peralihan ini disebut sebagai peralihan akhir. Harus ada pertambahan bertahap pada
amplitudo gelombang R antara sadapan V1 dan V4. Ini dikenal sebagai progresi
gelombang R. Progresi gelombang R yang kecil bukanlah penemuan yang spesifik, karena
dapat disebabkan oleh sejumlah abnormalitas konduksi, infark otot jantung, kardiomiopati,
dan keadaan patologis lainnya. (Buku Panduan Kursus Bantuan Hidup Jantung Lanjut
(BHJL). ACLS Indonesia. PERKI, 2010)

Dalam melaporkan hasil EKG sebaiknya mencakup hal-hal beikut :


1.

Frekuensi (heart rate)

2.

Irama jantung (Rhyme)

3.

Sumbu jantung (Axis)

4.

Ada /tidaknya tanda tanda hipertrofi (atrium/ventrikel)

5.

Ada/tidaknya tanda tanda kelainan mikard (iskhemi/ injuri/infark)

6.

Ada/tidaknya tanda tanda akibat gangguan lain (efek obat obatan, gangguan
keseimbangan elektrolit, gangguan fungsi pacu jantung ) (Sistematika Interpretasi
EKG Pedoman Praktis, oleh Dr. Surya Dharma, SpJP, FIHA, 201

BAB III
METODOLOGI
A. Alat dan Bahan
1. Set elektrokardiograf
2. Gel / kapas beralkohol
3. Tissue
4. Sphygmomanometer
5. Stetoskop
6. Tempat tidur
7. Meja tinggi 40 cm untuk naik turun
8. Stopwatch
B. Cara Kerja
Pengukuran fungsi jantung saat istirahat
1. Naracoba diminta berbaring dengan kedua lengan lurus sejajar dengan sumbu badan
di tempat tidur
2. Hitunglah frekuensi nadi dan ukurlah tekanan darah naracoba pada saat beristirahat.
( Pengukuran dilakukan tiga kali dengan jeda 5 menit dan hasil yang diambil adalah
hasil rata-ratanya)
3. Hitunglah tekanan nadi (pulse pressure / PP) dan tekanan arteri rata-rata (mean
arterial pressure / MAP) dengan rumus : Tekanan nadi = tekanan sistolik tekanan
diastolik, Tekanan arteri rata-rata = tekanan diastolik + (1/3 x tekanan nadi)
4. Rekamlah aktivitas listrik jantung naracoba dengan elektrokardiograf :
a. Sebelum mengukur pastikan semua alat yang terbat dari logam dibebaskan dari
naracoba
b. Cek fungsi elektrokardiograf
c. Pasanglah elektroda-elektroda pada tubuh naracoba dengan terlebih dahulu
membersihkan area dan elektroda dengan alkohol kemudian menggosokan gel
pada permukaan elektroda yang menempel pada tubuh naracoba. Ada 4
elektroda yang menghubungkan anggota gerak dengan instrumen :

Lengan kanan : merah

Lengan kiri : kuning

Kaki kiri : hijau

Kaki kanan : hitam

Ada 4 elektroda hisap / tempel yang menghubungkan area prekordial dengan


instrumen

Pasanglah elektroda C4 di ruang interkostal 5 di linea midklavikula kiri


(putih / coklat)

C1 di ruang interkostal 4 di linea parasternalis kanan ( putih / merah )

C2 di ruang interkostal 4 di linea parasternalis kiri ( putih / kuning )

C3 di antara C2 dan C4 ( putih / hijau )

C6 sejajar C4 di linea midaksilaris kiri ( putih / ungu )

C5 antara C4 dan C6 ( putih / hitam )

d. Mulailah merekam
5. Analisislah elektrokardiogram saat beristirahat.
Pengukuran fungsi jantung setelah aktivitas fisik
1. Naracoba diminta naik turun bangku dengan 4 hitungan ( satu : kaki kiri/kanan
naik; dua : kaki kanan/kiri naik, lutut lurus; tiga : kaki kiri/kanan turun; empat :
kaki kanan/kiri turun) selama 1 menit dengan kecepatan 30 langkah lengkap per
menit selama 1 menit.
2. Naracoba disuruh berbaring kembali, segera rekamlah aktivitas listrik jantung
naracoba dengan elektrokardiograf.
3. Analisislah elektrokardiogram setelah beraktivitas.

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Data naracoba
Usia
: 20 tahun
Jenis kelamin
: laki-laki
Tinggi badan
: 168 cm
Berat badan
: 76 kg
Saat istirahat
No
1
2
3

Tekanan sistolik
120
120
120

Tekanan diastolik
70
70
70

PP
50
50
50

MAP
86,67
86,67
86,67

PP
55
55

MAP
93,3
93,3

Hasil pemeriksaan EKG saat istirahat


Frekuensi jantung

: 83,3

Axis

: normal

Interval

: PR

0,12

QRS 0,12
Irama
Posisi
Segmen PR
Segmen ST

QT 0,28
: sinus
: ke kiri
: 0,04
: 0,08

Setelah berkativitas
No
1
2

Tekanan sistolik
130
130

Tekanan diastolik
75
75

130

70

60

90

Hasil pemeriksaan EKG saat istirahat


Frekuensi jantung

: 88,4

Axis

: normal

Interval

: PR

0,12

QRS 0,08
Irama
Posisi
Segmen PR
Segmen ST

QT 0,32
: sinus
: ke kiri
: 0,08
: 0,08

B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pengukuran kelistrikan jantung dengan
menggunakan alat elektrokardiogram, percobaan dilakukan dua kali yang pertama
adalah saat naracoba dalam keadaan istirahat atau tidak dalam keadaan sesudah
beraktifitas dan yang kedua adalah saat naracoba dalam keadaan setelah melakukan
suatu aktivitas. Hal ini dilakukan untuk membandingkan hasil EKG dalam masa
istirahat dan setelah beraktifitas.
Sebelum melakukan pengukuran dengan EKG dilakukan pengukuran tekanan
darah terlebih dahulu untuk mengetahui tekanan darah dari naracoba, pengukuran
tekanan darah dilakukan tiga kali supaya didapatkan hasil rata-rata. Pada pengukuran
tekanan darah di saat istirahat dari tiga kali pengukuran hasil yang didapatkan sama,
yaitu 120/70. Hasil pengukuran ini menunjukan bahwa tekanan darah dari naracoba
normal. Sedangkan setelah melakukan aktivitas tekanan darah menjadi meningkat, pada
pengukuran pertama dan kedua hasilnya adalah 130/75 dan pada pengukuran ketiga
didapatkan hasil 130/60. Kenaikan pengukuran tekanan darah ini karena di saat sedang
melakukan aktivitas kebutuhan oksigen tubuh meningkat sehingga tekanan darah juga
meningkat untuk memenuhi kebutuhan oksigen dari tubuh yang meningkat. Pada
pengukuran tekanan darah ketiga tekanan darah sudah menurun dari 130/75 menjadi
130/70 karena jeda waktu dari melakukan aktivitas pada pengukuran ketiga lebih lama
dari pengukuran pertama dan kedua sehingga saat itu kebutuhan oksigen tubuh sudah
mulai kembali normal sehingga tekanan darah sudah mulai menurun
Setelah melakukan pengukuran tekanan darah kemudian naracoba diperiksa EKG
nya. Dari hasil EKG naracoba didapatkan bahwa frekuensi jantung saat istirahat adalah

83,33, sedangkan setelah melakukan aktivitas frekuensi jantung meningkat menjadi


88,24 permenit. hasil ini normal karena memang frekuensi jantung yang normal
berkisar diantara 60 100 permenit. pengukuran dilakukan dengan mengukur jumalh
kotak kecil dari gelombang R ke gelombang R selanjutnya, kemudian dihitung dengan
rumus 1500/jumlah kotak kecil.
Peningkatan frekuensi jantung. Frekuensi denyut jantung terendah diperoleh pada
keadaan istirahat berbaring. Pada posisi duduk sedikit meningkat dan pada posisi berdiri
meningkat lebih tinggi dari posisi duduk. Hal ini disebabkan oleh efek gravitasi yang
mengurangi jumlah arus balik vena ke jantung yang selanjutnya mengurangi jumlah isi
sekuncup. Untuk menjaga agar curah jantung tetap maka frekuensi denyut jantung
meningkat. Sebelum seseorang melakukan kerja fisik, frekuensi denyut jantung pra
kerja meningkat di atas nilai pada keadaan istirahat. Makin baik kondisi seseorang akan
diperoleh frekuensi denyut jantung yang lebih rendah untuk beban kerja yang sarna.
Kemudian pada ekg juga dapat ditentukan axis. Axis adalah letak atau posisi
pencitraan jantung yang bisa diketahui dari hasil EKG. Cara menentukan axis yaitu
dengan melihat 2 lead yang berbeda ekstremitas lead, yang terbaik adalah lead I & AVF.
Kemudian tentukan jumlah aljabar dari amplitudo QRS di lead I dan aVF. Hasilnya
dapat diketahui bahwa axis dari naracoba adalah normal. Ada dua kelainan dari axis
jantung yaitu right axis deviation (RAD) dan left axis deviation (LAD).
Kemudian diketahui juga interval dari interval PR, interval QRS, dan interval QT.
Pada keadaan istirahat hasil EKG dari ketiga interval tersebut adalah 0,12 detik,
kompleks QRS 0,12 detik, dan interval QT adalah 0,28 detik. Sedangkan setelah
melakukan aktivitas terjadi penurunan kompleks QRS menjadi 0,08 detik, dan
peningkatan interval QT menjadi 0,32 detik. nilai dari interval PR normal, kisaran nilai
normalnya adalah 0,12 sampai 0,2 detik. sedangkan kompleks QRS sebelum melakukan
aktivitas sedikit di atas normal yaitu 0,12 detik, dan setelah melakukan aktivitas terjadi
penurunan menjadi 0,08 detik, nilai normal dari kompleks QRS adalah 0,06 sampai
0,10 detik. untuk interval QT nilainya dibawah nilai normal yaitu 0,28 detik saat
istirahat dan 0,32 setalah melakukan aktivitas. Penurunan kompleks QRS mungkin
dikarenakan perubahan pada depolarisasi otot ventrikel setelah melakukan naracoba
melakukan aktivitas. Sedangkan peningkatan interval QT mungkin disebabkan
perubahan depolarisasi dan repolarisasi ventrikel, interval QT ini juga tergantung
dengan frekuensi jantung, peningkatan interval QT mungkin disebabkan karena
frekuensi jantung yang meningkat setelah melakukan aktivitas.

Kemudian juga dapat dilihat segmen PR dan segmen ST pada hasil EKG, hasil dari
segmen PR saat istirahat adalah 0,04 detik dan setelah melakukan aktivitas terjadi
peningkatan menjadi 0,08.
Pada hasil segmen ST baik saat istirahat maupun sesudah melakukan aktivitas tidak
didapatkan perubahan yaitu nilainya tetap 0,08 detik. nilai segmen ST ini terletak
diantara depolarisasi dan repolarisasi ventrikel. Nilai segmen ST memang tidak terlalu
terlihat di hasil EKG. Mungkin tidak terjadi perubahan signifikan diantara waktu
depolarisasi dan repolarisasi ventrikel sehingga nilai dari segmen ST ini tetap.
Dari hasil EKG juga diketahui bahwa irama jantung dari naracoba adalah sinus dan
posisi dari jantung agak ke kiri. Dan setelah melihat semua hasil pemeriksaan EKG
dapat disimpulkan bahwa naracoba memiliki ritme sinus yang normal.
Pemeriksaan EKG dapat mendeteksi kelainan pada jantung dilihat dari segmen atau
interval tertentu. . Kelainan gelombang P, pada gelombang P yang tinggi mungkin dapat
terjadi hipertropi atrium kanan (stenosis katup trikuspid/hipertensi pulmonal), jika
gelombang P melebar mungkin dapat terjadi hipertropi atrium kiri (stenosis katup
mitral). Kelainan lebar kompleks QRS menunjukan terjadinya blok cabang berkas
bertambahnya ketinggian kompleks QRS peningkatan massa otot pada satu ventrikel
menunjukkan peningkatan aktivitas listrik. Elevasi Segmen ST dapat terjadi pada
miokard akut, karena infark baru/ perikarditis atau mungkin juga terjadi cedera anterior
pada sadapan V, cedera inferior pada III, VF, pada perikarditis tidak terlokalisasi
sehingga elevasi pada segmen ST. Depresi Segmen ST dapat menunjukkan iskemi atau
bisa juga angina, saat istirahat EKG normal tapi selama latihan terjadi depresi segmen
ST.
C. Jawaban pertanyaan
1. Usia, jenis kelamin, penyakit yang sedang diderita, pekerjaan, aktivitas fisik, gaya
hidup.
2. Aktivitas jantung yang nampak dari hasil EKG adalah :
-Gelombang P : sesuai dengan depolarisasi atrium. Rangsangan normal untuk
depolarisasi atrium berasan dari nodus sinoatrial (SA). Namun besarnya listrik
yang berhubungan dengan eksitasi nodus SA terlalu kecil untuk terlihat dalam
EKG. Gelombang P dalam bentuk normal berbentuk melengkung dan arahnya ke
atas pada kebanyakan hantaran.

-Interval PR : diukur dari permulaan gelombang P hingga awal kompleks QRS.


Dalam interval ini tercakup juga penghantaran impuls melalui nodus atrioventrikal
(AV). Interval normal adalah 0,12 sampai 0,2 detik.
-Kompleks QRS : menggambarkan depolarisasi ventrikel. Amplitudo gelombang
ini besar karena banyak massa otot yang harus dilalui oleh impuls listrik. Namun
impuls menyebar cukup cepat. Normalnya kompleks QRS adalah antara 0,06
sampai 0,10 detik.
-Segmen ST : interval ini terletak di antara gelombang depolarisasi ventrikel dan
repolarisasi ventrikel.
-Gelombang T : repolarisasi ventrikel akan menghasilkan gelombang T. Dalam
keadaan normal gelombang T ini akan agak asimetris dan melengkung ke atas.
-Interval QT : Interval ini diukur dari awal kompleks QRS sampai akhir
gelombang T, meliputi depolarisasi dan repolarisasi ventrikel. Interval QT rata-rata
0,36 sampai 0,44 detik.
3. Hiperkalemia ditunjukan dari gelombang T yang menjadi tinggi dan lancip,
gelombang R menjadi pendek, segmen QRS menjadi lebih lebar.
Hipokalemia ditunjukan gelombang U menjadi prominen, gelombang T terbalik,
depresi segmen ST, interval PR memanjang.
Hiperkalsemia ditandai dengan interval QT yang memendek.
Hipokalsemia ditandai dengan perpanjangan segmen ST

BAB V
PENUTUP
Kesimpulan

Kerja jantung dipengaruhi banyak hal antara lain aktivitas, gaya hidup, umur, jenis
kelamin, dll
EKG adalah salah satu cara terbaik untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan pada
jantung

DAFTAR PUSTAKA
Ganong, William F, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 17 ,Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta, 1995.
Darma, Surya. 2009. Sistematika Interpretasi EKG Pedoman Praktis. Jakarta : EGC.
Sylvia A Price, Lorraine M Wilson. 2003.Patofisiologi konsep klinis proses-proses
6 volume 1. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EG

penyakit edisi