Anda di halaman 1dari 2

Penerapan Visi Taqwa, Mandiri dan Cendekia

Sebagian besar manusia atau kumpulan manusia terikat dalam suatu tujuan yang ingin selalu dicapai
dalam hidup masing-masing. Tujuan tersebut lalu direfleksikan oleh manusia ke dalam wadah yang
dinamai sebagai visi. Melalui visi tersebut manusia akan berjalan agar sesuai dengan alur yang
dikehendaki. Namun banyak pula manusia yang tidak mempunyai visi dan berjalan layaknya
kembang tebu sek kebur keno angin, seolah tidak tau apa yang menjadi tujuan hidupnya, sehingga
tidak ada tumpuan adalah yang sering kita temui. Adapula manusia yang memiliki visi ataupun
diberikan hak milik atas visi itu sendiri namun tidak dapat memaknai visi, akibatnya ia tidak mampu
mengimplementasikan visi tersebut sebagai sarana pencapaian tujuan.
Dalam hal ini yang dapat dicontohkan adalah bagaimana kita memaknai dari apa itu Taqwa, Mandiri
dan Cendekia. Bagi sebagian orang, tiga kata tersebut jika diartikan bahwa taqwa itu ya sebatas
menurut dengan Tuhan, mandiri itu ya berdiri sendiri dan cendekia itu ya pintar dan intelek. Jika kata
tersebut dipisah memang hanya akan menghasilkan tafsir yang tunggal. Berbeda jika ketiga kata
tersebut berdiri sejajar beriringan maka akan mengandung tafsir yang jamak meskipun ketiga kata itu
dibolak-balik letaknya. Dalam visi ini taqwa memiliki kedudukan yang paling tinggi diantara
ketiganya, sedangkan mandiri dan cendekia adalah jalan yang menjembatani manusia menuju taqwa
itu sendiri.
Taqwa dapat dimaknai sebagai bentuk cinta kasih yang tertinggi dari manusia terhadap Tuhannya.
Taqwa diwujudkan dalam sikap-sikap yang dipaparkan manusia dalam rangka menjalankan perintahNya serta menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya. Taqwa juga merupakan bentuk dari segala cinta
dan romantisme manusia yang tujuan akhirnya bermuara kepada Tuhan. Untuk mencapai level paling
atas dari hubungan antara manusia dan Tuhannya dibutuhkan tahap dan sikap-sikap tertentu. Maka
dari itu mandiri dan cendekia itu berdiri sebagai penghantar ke muara tersebut.
Untuk mencapai tingkat ketaqwaan yang sebenarnya manusia harus dapat membebaskan dirinya dari
segala macam bentuk kemudharatan sikap dan perilaku yang akan menjurus pada penghianatan
kepada Tuhan. Selain itu manusia juga seharusnya mampu meninggalkan berbagai rayuan gombal
setan yang selalu menggunakan topeng dunia sebagai alat penariknya. Bahwa kekuasaan, kekayaan,
derajat, pangkat dan kedudukan manusia di dunia selalu mengalihkan pandangan agar tidak menuju
ke arah ketaqwaan. Oleh sebab itu mandiri digunakan agar manusia mampu menanggalkan segala
bentuk perilaku yang mengarah kepada kemudharatan tersebut untuk kemudian berdiri sendiri tanpa
pengaruh negatif dari dunia dan seisinya.
Setelah dapat terlepas dari segala bentuk kemudharatan manusia akan mengalami level atau taraf
yang lebih tinggi dimana pada saat itu akan menggunakan akal dan pikirannya untuk menalarkan apa
saja yang ditemuinya di kehidupann, yang kemudian direfleksikan ke dalam sebuah sikap dan wujud
dari cintanya kepada Tuhan. Atau dapat dikatakan bahwa makna dari cendekia dalam visi diatas

adalah sebuah gambaran dari penggunaan kekayaan intelektual manusia dalam rangka mendekatkan
diri kepada Yang Maha Kuasa. Artinya manusia menggunakan otak dan akal sehatnya untuk berfikir
bagaimana caranya untuk membuat Tuhan juga jatuh cinta. Dengan pemahaman yang demikian maka
manusia akan mengerahkan segala pemikirannya bagaimana caranya agar tetap selalu berada dalam
romantisme bersama Tuhan. Ia akan berusaha melakukan apa saja yang disukai oleh Tuhan yang bisa
diwujudkan lewat cara beribadah. Tanpa mengesampingkan perasaan, bahwa nantinya kecendekiaan
manusia itulah juga yang akan menuntun agar dapat membedakan mana yang disukai dan tidak
disukai oleh Tuhan.
Dari ketiga pemaknaan kata dalam visi tersebut dapat disimpulkan bahwasannya taqwa adalah bentuk
cinta kasih tertinggi manusia kepada Tuhannya yang dicerminkan dengan tindakan-tindakan tertentu.
Dimana tidakan tersebut berupa pendekatan diri yang dilambangkan melalui kecendekiaan.
Sedangkan sikap yang selanjutnya adalah menjauhkan diri dari kemudharatan dan apa saja yang tidak
disukai oleh Tuhan melalui pembebasan yang mandiri. Dengan cara demikian diharapkan terciptanya
manusia yang bertaqwa kepada Tuhan.