Anda di halaman 1dari 6

RENI ANGGRAENI / E131261110

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT / JURUSAN K3


UNIVERSITAS VETERAN REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2016

KASUS AKTIVITAS PENAMBANGAN BATUBARA


TERHADAP LINGKUNGAN

Batubara merupakan salah satu bahan galian strategis yang sekaligus menjadi sumber daya
energy yang sangat besar. Indonesia pada tahun 2006 mampu memproduksi batu bara sebesar
162 juta ton dan 120 juta ton diantaranya diekspor. Sementara itu sekitar 29 juta ton diekspor
ke Jepang. indonesia memiliki cadangan batubara yang tersebar di Pulau Kalimantan dan
Pulau Sumatera, sedangkan dalam jumlah kecil, batu bara berada di Jawa Barat, Jawa
Tengah, Papua dan Sulawesi. Indonesia memiliki cadangan batu bara yang sangat besar dan
menduduki posisi ke-4 di dunia sebagai negara pengekspor batubara. Di masa yang akan
datang batubara menjadi salah satu sumber energi alternatif potensial untuk menggantikan
potensi minyak dan gas bumi yang semakin menipis. Pengembangan pengusahaan
pertambangan batubara secara ekonomis telah mendatangkan hasil yang cukup besar, baik
sebagai pemenuhan kebutuhan dalam negeri maupun sebagai sumber devisa.
Bersamaan dengan itu, eksploitasi besar-besaran terhadap batubara secara ekologis sangat
memprihatinkan karena menimbulkan dampak yang mengancam kelestarian fungsi
lingkungan hidup dan menghambat terselenggaranya sustainable eco-development. Untuk
memberikan perlindungan terhadap kelestarian fungsi lingkungan hidup, maka kebijakan
hukum pidana sebagai penunjang ditaatinya norma-norma hukum administrasi
ladministrative penal law) merupakan salah satu kebijakan yang perlu mendapat perhatian,
karena pada tataran implementasinya sangat tergantung pada hukum administrasi. Diskresi
luas yang dimiliki pejabat administratif serta pemahaman sempit terhadap fungsi hukum
pidana sebagai ultimum remedium dalam penanggulangan pencemaran dan atau perusakan

lingkungan hidup, seringkali menjadi kendala dalam penegakan norma-norma hukum


lingkungan. Akibatnya, ketidaksinkronan berbagai peraturan perundang-undangan yang
disebabkan tumpang tindih kepentingan antar sektor mewarnai berbagai kebijakan di bidang
pengelolaan lingkungan hidup. Bertitik tolak dari kondisi di atas, maka selain urgennya
sinkronisasi kebijakan hukum pidana, diperlukan pula pemberdayaan upaya-upaya lain untuk
mengatasi kelemahan penggunaan sarana hukum pidana, dalam rangka memberikan
perlindungan terhadap kelestarian fungsi lingkungan hidup dan korban yang timbul akibat
degradasi fungsi lingkungan hidup. Industri batu bara sangat memperhatikan masalah
keselamatan. Tambang batu bara bawah tanah yang dalam memiliki risiko keselamatan yang
lebih tinggi daripada batu bara yang ditambang pada tambang terbuka. Meskipun demikian,
tambang batu bara moderen memliki prosedur keselamatan standar kesehatan dan
keselamatan serta pendidikan dan pelatihan pekerja yang sangat ketat, yang mengarah pada
peningkatan yang penting dalam tingkat keselamatan baik di tambang bawah tanah maupun
tambang terbuka.

DAMPAK
1.

Pencemaran air,

Permukaan batubara yang mengandung pirit (besi sulfide) berinteraksi dengan air
menghasilkan Asam sulfat yang tinggi sehingga terbunuhnya ikan-ikan di sungai, tumbuhan,
dan biota air yang sensitive terhadap perubahan pH yang drastis.
Batubara yang mengandung uranium dalam konsentrasi rendah, torium, dan isotop
radioaktif yang terbentuk secara alami yang jika dibuang akan mengakibatkan kontaminasi
radioaktif. Meskipun senyawa-senyawa ini terkandung dalam konsentrasi rendah, namun
akan memberi dampak signifikan jika dibung ke lingkungan dalam jumlah yang besar. Emisi
merkuri ke lingkungan terkonsentrasi karena terus menerus berpindah melalui rantai makan
dan dikonversi menjadi metilmerkuri, yang merupakan senyawa berbahaya dan
membahayakan manusia. Terutama ketika mengkonsumsi ikan dari air yang terkontaminasi
merkuri. Solusi untuk pencemaran air:
Kebocoran pada kolam penampungan limbah adalah salah satu dari beberapa perkiraan
penyebab utama pencemaran air dari pertambangan.Maka untuk mencegah terjadinya
pencemaran air, kolam penampunganlimbah harus:
a. Dibangun jauh dari sumber-sumber air atau saluran pembuangan daerah-daerah aliran
sungai.
b. Dilapisi untuk menghindari rembesan ke air tanah.
c. Dibangun sesuai dengan standar internasional yang terbaik.
d. Diawasi untuk menghindari kebocoran atau rembesan dan tumpah. Jika operasi tambang
selesai, kolam penampungan limbah harus ditutupdan limbah beracun dikosongkan.

2.

Pencemaran udara

Polusi/pencemaran udara yang kronis sangat berbahaya bagi kesehatan. Menurut


logika udara kotor pasti mempengaruhi kerja paru-paru. Peranan polutan ikut andil dalam
merangsang penyakit pernafasan seperti influensa,bronchitis dan pneumonia serta penyakit
kronis seperti asma dan bronchitis kronis. Solusi untuk pencemaran udara :
1. Pengusaha tambang harus menyediakan peralatan untuk mengurangi debu di lokasi
tambang. Pompakan udara segar ke dalam lubang tambang bawah tanah. Tambang-tambang
harus memiliki beberapa saluran udarayang terbuka ke permukaan tanah. Pompa udara dan
kipas angin dapatmengalirkan udara segar masuk ke dalam dan mengeluarkan debutambang
dan udara kotor ke luar.
2. Sediakan kran percikan air untuk mengendapkan debu agar tidak beterbangan
3.Menggunakan alat pelindung diri (APD)

3.

Pencemaran Tanah

Penambangan batubara dapat merusak vegetasi yang ada, menghancurkan profil


tanah genetic, menggantikan profil tanah genetic, menghancurkan satwa liar dan habitatnya,
degradasi kualitas udara, mengubah pemanfaatan lahan dan hingga pada batas tertentu dapat
megubah topografi umum daerah penambangan secara permanen..

RESIKO
Risk (resiko) didefinisikan sebagai peluang terpaparnya seseorang atau alat pada suatu
bahaya.Namun ada faktor-faktor resiko yang sangat khas yang sering dijumpai pada
perusahaan pertambangan batubara yakni sebagai berikut:
a. Ledakan
Ledakan dapat menimbulkan tekanan udara yang sangat tinggi disertai dengan nyala api.
Setelah itu akan diikuti dengan kepulan asap yang berwarna hitam. Ledakan merambat pada
lobang turbulensi udara akan semakin dahsyat dan dapat menimbulkan kerusakan yang fatal.
Selain ledakan karena faktor alam misalnya gas, ledakan juga bisa timbul karena disengaja
menggunakan bahan peledak untuk keperluan operasi tambang.

b. Longsor
Longsor di pertambangan biasanya berasal dari gempa bumi, ledakan yang terjadi di dalam
tambang,serta kondisi tanah yang rentan mengalami longsor. Hal ini bisa juga disebabkan
oleh tidak adanya pengaturan pembuatan terowongan untuk tambang.
c. Kebakaran
Bila akumulasi gas-gas yang tertahan dalam terowongan tambang bawah tanah mengalami
suatu getaran hebat, yang diakibatkan oleh berbagai hal, seperti gerakan roda-roda mesin,
tiupan angin dari kompresor dan sejenisnya, sehingga gas itu terangkat ke udara
(beterbangan) dan kemudian membentuk awan gas dalam kondisi batas ledak (explosive
limit) dan ketika itu ada sulutan api, maka akan terjadi ledakan yang diiringi oleh kebakaran.

Pengendalian risiko diperlukan untuk mengamankan pekerja dari bahaya yang ada di tempat
kerja sesuai dengan persyaratan kerja Peran penilaian risiko dalam kegiatan pengelolaan
diterima dengan baik di banyak industri.Pendekatan ini ditandai dengan empat tahap proses
pengelolaan risiko manajemen risiko adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi risiko adalah mengidentifikasi bahaya dan situasi yang berpotensi
menimbulkan bahaya atau kerugian (kadang-kadang disebut kejadian yang tidak
diinginkan).
2. Analisis resiko adalah menganalisis besarnya risiko yang mungkin timbul dari peristiwa
yang tidak diinginkan.
3. Pengendalian risiko ialah memutuskan langkah yang tepat untuk mengurangi atau
mengendalikan risiko yang tidak dapat diterima.
4. Menerapkan dan memelihara kontrol tindakan adalah menerapkan kontrol dan memastikan
mereka efektif.
Manajemen resiko pertambangan dimulai dengan melaksanakan identifikasi bahaya untuk
mengetahui faktor dan potensi bahaya yang ada yang hasilnya nanti sebagai bahan untuk
dianalisa, pelaksanaan identifikasi bahaya dimulai dengan membuat Standart Operational
Procedure (SOP). Kemudian sebagai langkah analisa dilakukanlah observasi dan inspeksi.
Setelah dianalisa,tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah evaluasi resiko untuk
menilai seberapa besar tingkat resikonya yang selanjutnya untuk dilakukan kontrol atau
pengendalian resiko. Kegiatan pengendalian resiko ini ditandai dengan menyediakan alat
deteksi, penyediaan APD, pemasangan rambu-rambu dan penunjukan personel yang
bertanggung jawab sebagai pengawas. Setelah dilakukan pengendalian resiko untuk tindakan
pengawasan adalah dengan melakukan monitoring dan peninjauan ulang bahaya atau resiko.

PEMANTAUAN
Pemantauan lingkungan secara rutin di sekitar area penambangan bertujuan meminimalisasi
kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi, sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko
lingkungan. Kegiatan pemantauan lingkungan yang dilakukan Perseroan terdiri dari kegiatan
mencakup pemantauan kualitas air, kualitas udara, kualitas tanah, pencemaran tanah, erosi
hingga satwa liar dan biota air yang hidup di sekitar area pertambangan dan lainnya. Aktivitas
pemantauan rutin yang dilakukan Perseroan Kegiatan pemantauan secara rutin menunjukkan
bahwa seluruh indikator cemaran yang diukur mememenuhi ketentuan BML. Disamping itu,
terdapat berbagai kemajuan dari sisi kualitas lingkungan hidup di sekitar maupun dalam area
kelolaan seperti:
a. Pemantauan satwa liar menunjukan bahwa lahan-lahan lokasi bekas penimbunan yang
telah direhabilitasi dan direvegetasi telah mampu mendukung kehidupan satwa liar.
b. Pemantauan revegetasi menunjukan bahwa secara keseluruhan kegiatan penanaman
sudah berjalan dengan baik, dengan tingkat keberhasilan tumbuh tanaman revegetasi
di atas 80%.
c. Pemantauan Sosial Ekonomi dan Budaya (SOSEKBUD) menunjukan bahwa secara
keseluruhan pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan pemantauan lingkungan telah
sesuai dengan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tertuang dalam
dokumen AMDAL.

PENGELOLAAN
Caranya adalah melakukan penataan konsep pengelolaan usaha pertambangan yang baik dan
benar. Menyadari bahwa industri pertambangan adalah industri yang akan terus berlangsung
sejalan dengan semakin meningkatnya peradaban manusia, maka yang harus menjadi
perhatian semua pihak adalah bagaimana mendorong industri pertambangan sebagai industri
yang dapat memaksimalkan dampak positif dan menekan dampak negatif seminimal mungkin
melalui konsep pengelolaan usaha pertambangan berwawasan jangka panjang.
Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2010 tentang reklamasi
dan pasca tambang prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pertambangan
meliputi :
1. Perlindungan terhadap kualitas air permukaan, air tanah, air laut, dan tanah serta udara
berdasarkan standar baku mutu atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup sesuai dengan
ketentuan peraturan perundangundangan;
2. Perlindungan dan pemulihan keanekaragaman hayati;
3. Penjaminan terhadap stabilitas dan keamanan timbunan batuan penutup, kolam tailing,
lahan bekas tambang, dan struktur buatan lainnya;

4. Pemanfaatan lahan bekas tambang sesuai dengan peruntukannya;


5. Memperhatikan nilai-nilai sosial dan budaya setempat; dan
6. Perlindungan terhadap kuantitas airtanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

PENANGGULANGAN
Upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap dampak yang ditimbulkan oleh penambang
batu bara dapat ditempuh dengan beberapa pendekatan, untuk dilakukan tindakan-tindakan
tertentu. Pertama pendekatan teknologi, dengan orientasi teknologi preventif
(control/protective) yaitu pengembangan sarana jalan/jalur khusus untuk pengangkutan batu
bara sehingga akan mengurangi keruwetan masalaht ransportasi. Pejalan kaki (pedestrian)
akan terhindar dari ruang udara yang kotor. Menggunakan masker debu (dust masker) agar
meminimalkan risikoterpapar/terekspose oleh debu batu bara (coal dust). Kedua, pendekatan
lingkungan yang ditujukan bagi penataan lingkungansehingga akan terhindar dari kerugian
yang ditimbulkan akibat kerusakanlingkungan. Upaya reklamasi dan penghijauan kembali
bekas penambangan batu bara dapat mencegah perkembangbiakan nyamuk malaria.
Dikhawatirkan bekas lubang/kawah batu bara dapat menjadi tempat perindukan nyamuk
(breeding place). Ketiga, pendekatan administratif yang mengikat semua pihak
dalamkegiatan pengusahaan penambangan batu bara tersebut untuk mematuhi ketentuanketentuan yang berlaku (law enforcement) dan keempat pendekatan edukatif, kepada
masyarakat yang dilakukan serta dikembangkan untuk membina dan memberikan
penyuluhan/penerangan terus menerus memotivasi perubahan perilaku dan membangkitkan
kesadaran untuk ikut memeliharakelestarian lingkungan. Selain itu perlu diupayakan kajian
penelitian yanglebih mendalam.