Anda di halaman 1dari 29

RADANG

Pada wanita terdapat hubungan dari dunia luar dengan rongga peritoneum
melalui vulva, vagina, uterus dan tuba Falloppii Untuk mencegah terjadinya
infeksi dari luar dan untuk menjaga jangan sampai infeksi meluas, masingmasing
alat traktus genitalis memiliki mekanisme pertahanan. Vulva umumnya lebih
resisten terhadap infeksi, sehingga luka-luka ringan lekas sembuh, kecuali jika
kemasukan kuman-kuman yang benar-benar patogen. Penutupan vulva oleh
labia mayora dan labia minora sedikit banyak memberi perlindungan terhadap
infeksi.

Pada vagina wanita dewasa adanya epitel yang cukup tebal dan glikogen serta
basil Doderlein yang memungkinkan pembuatan asidum laktikum sehingga
terdapat reaksi asam dalam 'vagina, memperkuat daya tahan vagina. Dalam
Vagina terdapat banyak kuman lain, akan tetapi dalam keadaan normal basil
Doderlein dominan. Pada masa kanak-kanak dan dalam masa sesudah
menopause epitel lebih tipis dan glikogen serta basil Doderlein berkurang, dan
ini merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya infeksi.

Pada serviks uteri kelenjar-kelenjar mengeluarkan lendir yang alkalis serta


mengental di bagian bawah kanalis servikalis, dan ini menyukarkan masuknya
kuman ke atas. Jika terdapat infeksi di endometrium, maka terlepasnya dan
dikeluarkannya sebagian besar endometrium pada waktu haid, menyukarkan
radang untuk terus bertahan.

Getaran rambut getar pada mukosa tuba Falloppii ,menyebabkan jalannya arus
ke arah uterus, dan ini disokong oleh gerakan peristaltik tuba yang merupakan
halangan pada infeksi untuk terus meluas ke rongga peritoneum.

Kuman-kuman dapat memasuki traktus genitalis wanita dengan berbagai jalan.


Koitus dapat menyebabkan penyakit kelamin (STD = Sexual Transmitted
Diseases) seperti gonorea, sifilis, ulkus molle, AIDS (aquired immune deficiency
syndrome), granuloma inguinale dan limphogranuloma venereum. Di samping itu
ada penyakit-penyakit lain seperti herpes genitalis dan trikomoniasis yang untuk
sebagian besar ditularkan melalui koitus. Trauma pada vulva dan vagina sebagai
akibat perlukaan, kebakaran dan lain-lain merupakan pula portedentree bagi
kuman-kuman dari luar. Selanjutnya adanya benda asing (korpus alienum) di
vagina atau uterus, melakukan tindakan atau pemeriksaan dengan alat-alat yang
tidak suci hama, dapat menimbulkan infeksi. Pada waktu dan sesudah partus
atau abortus, kemungkinan infeksi dan meluasnya infeksi itu juga lebih besar
karena 1) kadang-kadang keadaan umum mundur; 2) terdapat luka besar di
uterus di bekas tempat plasenta, serta luka-luka kecil pada serviks uteri, vagina,
dan vulva; 3) hubungan antara kavum uteri dan dunia luar lebih terbuka; 4) lokia

terdiri atas darah, dan sisa-sisa desidua merupakan tempat pembiakan baik
untuk kuman-kuman.

Kuman-kuman dapat pula menjalar dari alat-alat di sekitarnya yang sedang


mengalami peradangan misalnya appendisitis akuta. Selain itu dapat pula infeksi
dibawa dari tempat yang jauh dengan jalan darah, misalnya tuberkulosis paruparu dapat menyebabkan adneksitis tuberkulosa. Demikian pula walaupun lebih
jarang -dengan jalan yang sama dapat terjadi infeksi alat-alat genital dari tempat
focal infection misalnya pada gigi. Akhirnya kuman-kuman yang terdapat di
vagina sebagai saprofit yang tidak patogen, dapat menjadi patogen dan
menimbulkan peradangan, bila daya tahan badan dan alat genital oleh salah
satu sebab menurun.

Radang pada alat-alat genital dapat timbul secara akut dengan akibat
meninggalnya penderita, atau penyakit bisa sembuh sama sekali tanpa bekas,
atau dapat meninggalkan bekas seperti penutupan lumen tuba. Penyakit akut
bisa juga menjadi menahun, atau penyakit dari permulaan sudah menahun.

Infeksi pada uterus menjalar ke tuba Falloppii dan rongga peritoneum melalui 2
jalan. Pada gonorea penyakit menjalar dari endometrium ke mukosa tuba terus
ke ovarium dan rongga peritoneum, sedang pada infeksi puerperal

kuman-kuman dari uterus melalui darah dan limfe menuju ke parametrium, tuba,
ovarium dan rongga peritoneum.

Leukorea

Leukorea (white discharge, fluor albus, keputihan) adalah nama gejala yang
diberikan kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital yang tidak
berupa darah. Mungkin leukorea merupakan gejala yang paling sering dijumpai
pada penderita ginekologik; adanya gejala ini diketahui penderita karena
mengotori celananya.

Dapat dibedakan antara leukorea yang fisiologik dan yang patologik. Leukorea
fisiologik terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa mukus yang
mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang, sedang pada leukorea
patologik terdapat banyak leukosit.

Leukorea fisiologik ditemukan pada:

a) bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari; di sini sebabnya ialah
pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin;

b) waktu di sekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen; leukorea


di sini hilang sendiri, akan tetapi dapat menimbulkan keresahan pada orang
tuanya;

C) wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus,


disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina;

(1) waktu di sekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri
menjadi lebih encer;

e) pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada

wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan
ektr0pion porsionis uteri.

Penyebab paling penting dari leukorea patologik ialah infeksi. Di sini cairan
mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai
hijau, seringkali lebih kental dan berbau. Radang vulva, vagina, serviks dan
kavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik; pada adneksitis gejala
tersebut dapat pula timbul. Selanjutnya leukorea ditemukan pada neoplasma

jinak atau ganas, apabila tumor itu dengan permukaannya untuk sebagian atau
seluruhnya memasuki lumen saluran alat-alat genital.
VULVA

Vulva terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut: mons veneris, labia

mayora, labia minora, klitoris, vestibulum dengan orifisium urethra eksternum,


glandula Bartholim, dan glandula paraurethralis.

Pada radang vulva (vulvitis) vulva membengkak, merah dan agak nyeri, kadangkadang disertai dengan gatal. Umumnya vulvitis dapat dibagi dalam 3 golongan:

a) yang bersifat lokal;

b) yang timbul bersama-sama atau sebagai akibat vaginitis;


c) yang merupakan permulaan atau manifestasi dari penyakit umum.

Yang termasuk ke dalam golongan vulvitis lokal ialah:

1) infeksi pada kulit, termasuk rambut, kelenjar-kelenjar sebasea dan


kelenjarkelenjar keringat. Infeksi ini timbul karena trauma luka atau sebab lain,
dan dapat menimbulkan folikulitis, furunkulosis, hidradenitis, dan sebagainya;

2) infeksi pada orifisium urethra eksternum, glandula paraurethralis. Infeksi ini

biasanya disebabkan oleh gonorea dan akan dibahas pada bab ini;
3) infeksi pada glandula Bartholini.

Infeksi pada glandula Bartholini (Bartholinitis) sering kali timbul pada gonorea,
akan tetapi dapat pula mempunyai sebab lain, misalnya streptokokus, atau basil
koli. Pada Bartholinitis akuta kelenjar membesar, merah, nyeri dan lebih panas
daripada daerah sekitarnya. Isinya cepat menjadi nanah yang dapat keluar
melalui duktusnya, atau jika duktus tersumbat, mengumpul di dalamnya dan
menjadi abses yang kadang-kadang dapat menjadi sebesar telur bebek. Jika
belum menjadi abses, keadaan bisa diatasi dengan antibiotika, jika sudah
bernanah mencari jalan sendiri atau harus dikeluarkan dengan sayatan. Radang
pada glandula Bartholini dapat terjadi berulang-ulang dan akhirnya dapat
menjadi menahun dalam bentuk kista Bartholini.

Kista Bartholini tidak selalu menyebabkan keluhan, akan tetapi kadangkadang


dirasakan sebagai benda berat dan/atau menimbulkan kesulitan pada koitus. Jika
kistanya tidak besar dan tidak menimbulkan gangguan, tidak perlu dilakukan
tindakan apa-apa; dalam hal lain perlu dilakukan pembedahan. Tindakan itu
terdiri atas ekstirpasi, akan tetapi tindakan ini bisa menyebabkan perdarahan,
Akhir-akhir ini dianjurkan marsupialisasi sebagai tindakan tanpa risiko dan
dengan hasil yang memuaskan. Pada tindakan ini setelah diadakan sayatan dan
isi kista dikeluarkan, dinding kista yang terbuka dijahit pada kulit vulva yang
terbuka pada sayatan.

Golongan vulvitis yang timbul bersama atau sebagai akibat vaginitis, hal ini akan
dibahas pada pembicaraan vaginitis
Dalam golongan vulvitis sebagai permulaan atau manifestasi penyakit umum,
terdapat antara lain:

1) penyakit-penyakit kelamin. Yang dianggap penyakit kelamin klasik ialah


gonorea, sifilis, ulkus molle, limfogranuloma venereum, dan granuloma inguinale;

2) tuberkulosis; juga dibicarakan dalam bab ini (infeksi-infeksi khusus);

3) vulvitis disebabkan oleh infeksi karena virus. Termasuk di Sini limfogranuloma


venereum, herpes genitalis dan kondiloma akuminatum. Limfogranuloma
venereum dibahas dalam bab ini (infeksi-infeksi khusus)

4) vulvitis pada diabetes mellitus.

Herpes genitalis

Herpes genitalis disebabkan oleh tipe 2 herpes virus hominis, yang dekat
.hubungannya dengan tipe 1 herpes virus Simpleks, penyebab herpes labialis.
Herpes genitalis umumnya dianggap sebagai akibat hubungan seksual dan
terjadi dalam 3 sampai 7 hari sesudah koitus. Jika. penyakit timbul, di tenga
tengah daerah dengan radang dan edema tampak sejumlah Vesikel yang
biasanya berlokasi pada labia minora, bagian dalam labia mayora dan prepusium
klitoridis. Tempat-tempat itu dirasakan panas dan gatal, dan karena digaruk
sering timbul infeksi sekunder. Kadang-kadang tampak pula ulkus-ulkus kecil
yang dangkal. Selain pada vulva penyakit ditemukan pula pada vagina dan
serviks uteri yang menyebabkan leukorea, perdarahan, dan disuria. Dengan
pengobatan simptomatis biasanya penyakit sembuh sendiri, akan tetapi ada
kemungkinan timbul kembali. Timbulnya kembali ini mungkin merupakan
reaktivasi dari infeksi yang sesungguhnya tidak sembuh, dan tinggal laten.
Selanjutnya virus mungkin memegang peranan dalam tumbuhnya karsinoma
servisis uteri. Penelitian ke jurusan itu kini sedang dilakukan dengan giat.
Diagnosis herpes genitalis dapat dibuat dengan jalan pembiakan pada lukaluka
di vulva, vagina, atau serviks dan dengan tes serologik. Sebagai terapi dapat
dilakukan terapi simptomatis dengan obat-obat yang mengurangi rasa nyeri dan
gatal, dan yang mengeringkan daerah yang kena infeksi. Akhir-akhir ini
ditemukan bahwa virus dapat diberantas dengan aplikasi lokal dari 1% larutan
neutral-red atau 0,1% larutan proflavine, diikuti dengan penyinaran sinar
fluoresensi (20-30 watt) untuk 10-15 menit dengan jarak 15-20 cm.

Kondiloma akuminatum

Kondiloma akuminatum berbentuk seperti kembang kubis (cauliflower) dengan di


tengahnya jaringan ikat dan ditutup terutama di bagian atas oleh epitel dengan

hiperkeratosis. Penyakit terdapat dalam bentuk kecil dan besar, sendirian atau
dalam suatu kelompok. Lokasinya ialah pada berbagai bagian vulva, pada
perineum, pada daerah perianal, pada vagina dan serviks uteri. Dalam hal-hal
yang terakhir ini terdapat leukorea Kondiloma akuminata kiranya disebabkan
oleh suatu jenis virus yang banyak persamaannya dengan penyebab veruka
vulgaris. Adanya leukorea oleh sebab lain memudahkan tumbuhnya virus dan
kondiloma akuminata. Kelainan ini juga lebih sering ditemukan pada kehamilan
karena lebih banyak vaskularisasi dan cairan pada jaringan. Umumnya diagnosis
kondiloma akuminata tidak sukar dibuat, dan dapat dibedakan dari kondilomata
lata, suatu manifestasi dari sifilis.

Kondiloma akuminatum yang kecil dapat disembuhkan dengan larutan 10%


podofilin dalam gliserin atau dalam alkohol. Pada waktu pengobatan daerah
sekitarnya harus dilindungi dengan vaselin, dan setelah beberapa jam tempat
pengobatan harus dicuci dengan air dan sabun. Pada kondiloma yang luas,
terapinya terdiri atas pengangkatan dengan pembedahan atau kauterisasi.
Untuk mencegah timbulnya residif, harus diusahakan kebersihan pada tempat
bekas kondiloma akuminata, dan leukorea harus diobati.

Vulvitis diabetika

Pada vulvitis diabetika vulva merah dan sedikit membengkak. Keluhan terutama
rasa gatal, disertai rasa nyeri. Jaringan pada penderita diabetes mengandung
kadar glukosa yang lebih tinggi, dan air kencing dengan glukosuria menjadi
penyebab peradangan. Oleh karena itu pada penderita dengan vulvitis yang
sebabnya tidak terang, perlu dipikirkan adanya diabetes. Vulvitis diabetika
kadang-kadang dapat disertai dengan moniliasis.

Terapi terdiri atas penguasaan'penyakit diabetes mellitus dan pengobatan lokal.

VAGINA

Flora vagina terdiri atas banyak jenis kuman, antara lain basil Doderlein,
streptokokus, stafilokokus, difteroid, yang dalam keadaan normal hidup dalam
simbiosis antara mereka. Jika simbiosis ini terganggu, dan jika kuman-kuman
seperti streptokokus, stafilokokus, basil koli, dan lain-lain dapat berkembang
biak, timbullah vaginitis nonspesifik. Umumnya vaginitis nonspesifik dapat
disembuhkan dengan antibiotika. Selain itu, terdapat vaginitis karena trikomonas
vaginalis, kandida albikans, dan hemofilus vaginalis. Perlu dikemukakan di sini
bahwa pada masa dewasa vagina lebih tahan terhadap infeksi-infeksi, terutama
gonorea, pada masa sebelum pubertas dan setelah menopause vagina lebih
peka terhadap infeksi.

Gejala yang penting pada vaginitis ialah leukorea, terdiri dari cairan yang
kadang-kadang bercampur dengan lendir, dan dapat menjadi mukopurulen.
Gejala ini sering disertai oleh rasa gatal dan membakar. Vaginitis biasanya
disertai oleh vulvitis. Permukaan vagina dan vulva pada vulvovaginitis menjadi
merah dan agak membengkak, pada vagina dapat ditemukan pula bintik-bintik
merah (vaginitis granularis). Pada vaginitis basil Doderlein jarang terdapat atau
tidak ada; fluor yang dikeluarkan mengandung banyak leukosit.

Trikomoniasis

Vulvovaginitis ini disebabkan oleh trikomonas vaginalis. Trikomonas dapat


ditemukan dalam jumlah kecil dalam vagina tanpa gejala apa pun, akan tetapi
dalam beberapa hal yang ada hubungannya dengan perubahan kondisi
lingkungan, jumlah dapat bertambah banyak dan menimbulkan radang. Peterson
melaporkan bahwa 24,6% dari apusan vagina yang diambil secara rutin pada
penderita obstetri dan ginekologi menunjukkan adanya trikomonas vaginalis.

Trikomonas vaginalis adalah suatu parasit dengan flagella yang bergerak sangat
aktif. Walaupun infeksi dapat terjadi dengan berbagai cara, penularan dengan
jalan koitus ialah cara yang paling sering terdapat. Dalam hubungan ini parasit
pada pria dengan trikomonas biasanya terdapat (tanpa gejala) di urethra dan
prostat.
Vaginitis karena trikomonas menyebabkan leukorea yang encer sampai kental,
berwarna kuning-kuningan dan agak berbau. Penderita mengeluh tentang
adanya fluor yang menyebabkan rasa gatal dan membakar. Di samping itu
kadang-kadang ada gejala urethritis ringan seperti disuria dan sering kencing.
Parasit biasanya dengan mudah dijumpai di tengah-tengah leukosit pada sediaan
yang dibuat dengan mengambil sekret dari dinding vagina dicampur dengan
satu tetes larutan garam fisiologik di atas gelas objek. Sediaan diperiksa di
bawah mikroskop dengan pembesaran sedang dan dengan cahaya yang
dikurangi sedikit.

Parasit dapat dikenal dengan melihat gerakan-gerakannya, bentuknya lonjong


dengan flagella yang panjang dan membran yang bergerak bergelombang, dan
dengan ukuran sebesar 2 kali leukosit. Akan tetapi trikomonas tidak

selalu dapat ditemukan dengan cara pemeriksaan tersebut; bila dianggap perlu,
dapat pula dilakukan pembiakan.

Terapi

Terapi yang baik ialah dengan metronidazole (1(beta-hidroksil) -2-metil-nitroimidazole), yang di pasaran antara lain terkenal dengan nama Flagyl.
Metronidazol yang diberikan per os dapat diserap dengan baik dalam traktus
digestivus, dan mempunyai toksisitas rendah. Keluhan karena minum obat hanya
terdapat pada 10% kasus, biasanya ringan dan terdiri atas mulut kering,
anoreksia, nausea, rasa nyeri di daerah epigadtrium, kadang-kadang sakit
kepala, dan vertigo. Pada penderita yang perlu diberi mitronidazole berulang,
sebaiknya dilakukan pemeriksaan darah sebelum dan sesudah terapi. Pemberian
per os berguna untuk memberantas trikomonas tidak saja pada alat genital, akan
tetapi pada urethra dan kandung kencing. Pemberian obat intravaginal dapat
membantu pemberian obat per os.

Pengobatan metronidazole per os ialah dalam dosis 500 mg setiap 12 jam


selama 5 hari, jadi dosis total ialah 5 gram. Pengobatan per vaginam `saja dapat
mengurangi gejala-gejala, akan tetapi tidak menyembuhkan penyakit. Terapi
hanya secara per vaginam dianjurkan pada kehamilan kurang dari 20 minggu,
atau pada penderita yang peka terhadap metronidazole.

Sebagai obat per vaginam dapat diberikan pula supositoria flagyl, supositoria
atau krem AVC, dan supositoria Tricofuron.

Sangat perlu bahwa bersamaan dengan pengobatan penderita wanita, suami


juga harus diberi metronidazole per os dalam dosis yang sama untuk mencegah
terjadinya reinfeksi. Akhir-akhir ini selain pemberian metronidazole, dianjurkan
pula tinidazole (Fasygin) dan brnidazole (Tiberal). Kadang-kadang terdapat
trikomoniasis persistens. Hal itu disebabkan oleh kurang baiknya penyerapan
metronidazole oleh traktus digestivus, atau oleh karena resistensi trikomonas
terhadap obat.
Kandidiasis Kandidiasis disebabkan oleh infeksi dengan kandida albikans, suatu
jenis jamur gram positif yang mempunyai benang-benang pseudomiselia yang
terbagi dalam kelompok blastospores. Jamur ini tumbuh baik dalam suasana
asam (PH 5.0-6.5) yang mengandung glikogen; ia dapat ditemukan dalam mulut,
daerah perianal dan vagina tanpa menimbulkan gejala. Ia dapat tumbuh dengan
Cepat dan menyebabkan vaginitis pada wanita hamil, wanita yang minum Pil
kontrasepsi hormonal, wanita yang diberi terapi antibiotika berspektrum luas,
wanita dengan diabetes, dan wanita dengan kesehatan yang mundur.
Vulvovaginitis karena infeksi dengan kandida albikans menyebabkan leukorea
berwarna keputih-putihan dan perasaan sangat gatal.

Pada pemeriksaan ditemukan radang vulva dan vagina, pada dinding sering juga
terdapat membran-membran kecil berwarna putih, yang jika diangkat
meninggalkan bekas yang agak berdarah.

Diagnosis dibuat dengan cara pemeriksaan seperti pada trikomonas vaginalis;


pada sediaan tampak jamur di tengah-tengah leukosit. Dapat pula usapan di atas
gelas objek dicat dengan cara Gram; jika perlu, dapat pula dilakukan pembiakan.
Terapi

Pengobatan dengan gentian violet 5-10% sekarang tidak banyak dilakukan oleh
karena mewarnai pakaian. Obat yang memberi hasil baik ialah Nystatin, suatu
antibiotika dihasilkan oleh Streptomises noursei (formula C46 - H 77 No.19). Yang
banyak dipakai ialah tablet vaginal Mycostatin (10.000 Unit) dimasukkan dalam
vagina 1 sampai 2 tablet sehari selama 14 hari. Pemakaian Mycostatin per os
untuk kandida yang masih bersarang dalam traktus digestivus. Untuk mencegah
timbulnya residif tablet Mycostatin dapat diberikan per vaginam satu minggu
sebelum haid selama beberapa bulan.

Akhir-akhir ini banyak juga diberikan derivat dari imidazole sebagai salep untuk
dimasukkan dalam vagina, dengan hasil baik. Begitu pula Econazole

(Gyno-Pevaryl) dalam bentuk supositorium dianjurkan. Derivat-derivat lain


adalah iniconazole, clotrinazole.

Hemofilus vaginalis vaginitis

Sembilan puluh persen dari kasus-kasus yang dahulu disebut vaginitis


nonspesifik kini ternyata disebabkan oleh hemofilus vaginalis, suatu basil kecil
yang gram negatif. Gejala vaginitis ialah leukorea yang berwarna putih bersemu
kelabu, kadang-kadang kekuning-kuningan dengan bau yang kurang sedap.
Vaginitis ini menimbulkan pula perasaan sangat gatal. Penyakit ini ditularkan
melalui hubungan seksual.

Diagnosis dibuat dengan cara pemeriksaan seperti yang digambarkan pada


pemeriksaan trikomonas vaginalis. Pada sediaan dapat ditemukan beberapa
kelompok basil, leukosit yang tidak seberapa banyak, dan banyak sel-sel epitel
yang untuk sebagian besar permukaannya berbintik-bintik. Sel-sel ini yang
dinamakan Clue-cells, merupakan ciri vaginitis yang disebabkan oleh hemofilus
vaginalis.

Terapi harus diberikan kepada suami-isteri, berupa ampisillin 2 gram sehari untuk
5 hari, atau jika peka terhadap penisillin dapat diberikan tetrasiklin. Di samping
itu, kepada wanitanya dapat diberi Betadin vaginal douche.

(Vulvo)-vaginitis-atrofikans

Sesudah menopause (atau sesudah fungsi ovarium ditiadakan dengan jalan


pembedahan atau penyinaran) epitel vagina menjadi atrofis dengan hanya
tertinggal lapisan sel basal. Epitel demikian itu mudah kena infeksi, dan radang
dapat menjalar ke jaringan di bawah epitel. Penyakit ini menyebabkan leukorea
dan rasa gatal dan pedih. Vaginitis ini juga dinamakan vaginitis senilis. Urethra
dan kandung kencing dapat ikut terlibat dan menimbulkan gejala disuria dan
sering kencing.

Terapi terdiri atas pemberian estrogen per os (Premarin 1,25 mg atau


Oestrofeminal 1,25 mg) tiap malam dan pemberian dienestrol krem, premarin
vaginal cream, atau 0,1 mg suposotorium dietil stilbestrol per vaginam untuk 30
malam. Dewasa ini dapat dianjurkan pemakaian Synapause tablet dan
Synapause krim.
RADANG

Pada wanita terdapat hubungan dari dunia luar dengan rongga peritoneum
melalui vulva, vagina, uterus dan tuba Falloppii Untuk mencegah terjadinya
infeksi dari luar dan untuk menjaga jangan sampai infeksi meluas, masingmasing
alat traktus genitalis memiliki mekanisme pertahanan.

Vulva umumnya lebih resisten terhadap infeksi, sehingga luka-luka ringan lekas
sembuh, kecuali jika kemasukan kuman-kuman yang benar-benar patogen.
Penutupan vulva oleh labia mayora dan labia minora sedikit banyak memberi
perlindungan terhadap infeksi.

Pada vagina wanita dewasa adanya epitel yang cukup tebal dan glikogen serta
basil Doderlein yang memungkinkan pembuatan asidum laktikum sehingga
terdapat reaksi asam dalam 'vagina, memperkuat daya tahan vagina. Dalam
Vagina terdapat banyak kuman lain, akan tetapi dalam keadaan normal basil
Doderlein dominan. Pada masa kanak-kanak dan dalam masa sesudah
menopause epitel lebih tipis dan glikogen serta basil Doderlein berkurang, dan
ini merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya infeksi.

Pada serviks uteri kelenjar-kelenjar mengeluarkan lendir yang alkalis serta


mengental di bagian bawah kanalis servikalis, dan ini menyukarkan masuknya
kuman ke atas. Jika terdapat infeksi di endometrium, maka terlepasnya dan
dikeluarkannya sebagian besar endometrium pada waktu haid, menyukarkan
radang untuk terus bertahan.

Getaran rambut getar pada mukosa tuba Falloppii ,menyebabkan jalannya arus
ke arah uterus, dan ini disokong oleh gerakan peristaltik tuba yang merupakan
halangan pada infeksi untuk terus meluas ke rongga peritoneum.

Kuman-kuman dapat memasuki traktus genitalis wanita dengan berbagai jalan.


Koitus dapat menyebabkan penyakit kelamin (STD = Sexual Transmitted
Diseases) seperti gonorea, sifilis, ulkus molle, AIDS (aquired immune deficiency
syndrome), granuloma inguinale dan limphogranuloma venereum. Di samping itu
ada penyakit-penyakit lain seperti herpes genitalis dan trikomoniasis yang untuk
sebagian besar ditularkan melalui koitus. Trauma pada vulva dan vagina sebagai
akibat perlukaan, kebakaran dan lain-lain merupakan pula portedentree bagi
kuman-kuman dari luar. Selanjutnya adanya benda asing (korpus alienum) di
vagina atau uterus, melakukan tindakan atau pemeriksaan dengan alat-alat yang
tidak suci hama, dapat menimbulkan infeksi. Pada waktu dan sesudah partus
atau abortus, kemungkinan infeksi dan meluasnya infeksi itu juga lebih besar
karena 1) kadang-kadang keadaan umum mundur; 2) terdapat luka besar di
uterus di bekas tempat plasenta, serta luka-luka kecil pada serviks uteri, vagina,
dan vulva; 3) hubungan antara kavum uteri dan dunia luar lebih terbuka; 4) lokia
terdiri atas darah, dan sisa-sisa desidua merupakan tempat pembiakan baik
untuk kuman-kuman.

Kuman-kuman dapat pula menjalar dari alat-alat di sekitarnya yang sedang


mengalami peradangan misalnya appendisitis akuta. Selain itu dapat pula infeksi
dibawa dari tempat yang jauh dengan jalan darah, misalnya tuberkulosis paruparu dapat menyebabkan adneksitis tuberkulosa. Demikian pula walaupun lebih
jarang -dengan jalan yang sama dapat terjadi infeksi alat-alat genital dari tempat
focal infection misalnya pada gigi. Akhirnya kuman-kuman yang terdapat di
vagina sebagai saprofit yang tidak patogen, dapat menjadi patogen

dan menimbulkan peradangan, bila daya tahan badan dan alat genital oleh salah
satu sebab menurun.

Radang pada alat-alat genital dapat timbul secara akut dengan akibat
meninggalnya penderita, atau penyakit bisa sembuh sama sekali tanpa bekas,
atau dapat meninggalkan bekas seperti penutupan lumen tuba. Penyakit akut
bisa juga menjadi menahun, atau penyakit dari permulaan sudah menahun.

Infeksi pada uterus menjalar ke tuba Falloppii dan rongga peritoneum melalui 2
jalan. Pada gonorea penyakit menjalar dari endometrium ke mukosa tuba terus
ke ovarium dan rongga peritoneum, sedang pada infeksi puerperal

kuman-kuman dari uterus melalui darah dan limfe menuju ke parametrium, tuba,
ovarium dan rongga peritoneum.

Leukorea

Leukorea (white discharge, fluor albus, keputihan) adalah nama gejala yang
diberikan kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital yang tidak
berupa darah. Mungkin leukorea merupakan gejala yang paling sering dijumpai
pada penderita ginekologik; adanya gejala ini diketahui penderita karena
mengotori celananya.

Dapat dibedakan antara leukorea yang fisiologik dan yang patologik. Leukorea
fisiologik terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa mukus yang
mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang, sedang pada leukorea
patologik terdapat banyak leukosit.

Leukorea fisiologik ditemukan pada:

a) bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari; di sini sebabnya ialah
pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin;

b) waktu di sekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen; leukorea


di sini hilang sendiri, akan tetapi dapat menimbulkan keresahan pada orang
tuanya;

C) wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus,


disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina;

(1) waktu di sekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri
menjadi lebih encer;

e) pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada

wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan
ektr0pion porsionis uteri.

Penyebab paling penting dari leukorea patologik ialah infeksi. Di sini cairan
mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai
hijau, seringkali lebih kental dan berbau. Radang vulva, vagina, serviks dan

kavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik; pada adneksitis gejala


tersebut dapat pula timbul. Selanjutnya leukorea ditemukan pada neoplasma

jinak atau ganas, apabila tumor itu dengan permukaannya untuk sebagian atau
seluruhnya memasuki lumen saluran alat-alat genital.

VULVA

Vulva terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut: mons veneris, labia

mayora, labia minora, klitoris, vestibulum dengan orifisium urethra eksternum,


glandula Bartholim, dan glandula paraurethralis.

Pada radang vulva (vulvitis) vulva membengkak, merah dan agak nyeri, kadangkadang disertai dengan gatal. Umumnya vulvitis dapat dibagi dalam 3 golongan:

a) yang bersifat lokal;

b) yang timbul bersama-sama atau sebagai akibat vaginitis;


c) yang merupakan permulaan atau manifestasi dari penyakit umum.

Yang termasuk ke dalam golongan vulvitis lokal ialah:

1) infeksi pada kulit, termasuk rambut, kelenjar-kelenjar sebasea dan


kelenjarkelenjar keringat. Infeksi ini timbul karena trauma luka atau sebab lain,
dan dapat menimbulkan folikulitis, furunkulosis, hidradenitis, dan sebagainya;

2) infeksi pada orifisium urethra eksternum, glandula paraurethralis. Infeksi ini

biasanya disebabkan oleh gonorea dan akan dibahas pada bab ini;
3) infeksi pada glandula Bartholini.

Infeksi pada glandula Bartholini (Bartholinitis) sering kali timbul pada gonorea,
akan tetapi dapat pula mempunyai sebab lain, misalnya streptokokus, atau basil
koli. Pada Bartholinitis akuta kelenjar membesar, merah, nyeri dan lebih panas

daripada daerah sekitarnya. Isinya cepat menjadi nanah yang dapat keluar
melalui duktusnya, atau jika duktus tersumbat, mengumpul di dalamnya dan
menjadi abses yang kadang-kadang dapat menjadi sebesar telur bebek. Jika
belum menjadi abses, keadaan bisa diatasi dengan antibiotika, jika sudah
bernanah mencari jalan sendiri atau harus dikeluarkan dengan sayatan. Radang
pada glandula Bartholini dapat terjadi berulang-ulang dan akhirnya dapat
menjadi menahun dalam bentuk kista Bartholini.

Kista Bartholini tidak selalu menyebabkan keluhan, akan tetapi kadangkadang


dirasakan sebagai benda berat dan/atau menimbulkan kesulitan pada koitus. Jika
kistanya tidak besar dan tidak menimbulkan gangguan, tidak perlu dilakukan
tindakan apa-apa; dalam hal lain perlu dilakukan pembedahan. Tindakan itu
terdiri atas ekstirpasi, akan tetapi tindakan ini bisa menyebabkan perdarahan,
Akhir-akhir ini dianjurkan marsupialisasi sebagai tindakan tanpa risiko dan
dengan hasil yang memuaskan. Pada tindakan ini setelah diadakan sayatan dan
isi kista dikeluarkan, dinding kista yang terbuka dijahit pada kulit vulva yang
terbuka pada sayatan.

Golongan vulvitis yang timbul bersama atau sebagai akibat vaginitis, hal ini akan
dibahas pada pembicaraan vaginitis.

Dalam golongan vulvitis sebagai permulaan atau manifestasi penyakit umum,


terdapat antara lain:

1) penyakit-penyakit kelamin. Yang dianggap penyakit kelamin klasik ialah


gonorea, sifilis, ulkus molle, limfogranuloma venereum, dan granuloma inguinale;

2) tuberkulosis; juga dibicarakan dalam bab ini (infeksi-infeksi khusus);

3) vulvitis disebabkan oleh infeksi karena virus. Termasuk di Sini limfogranuloma


venereum, herpes genitalis dan kondiloma akuminatum. Limfogranuloma
venereum dibahas dalam bab ini (infeksi-infeksi khusus)

4) vulvitis pada diabetes mellitus.

Herpes genitalis

Herpes genitalis disebabkan oleh tipe 2 herpes virus hominis, yang dekat
.hubungannya dengan tipe 1 herpes virus Simpleks, penyebab herpes labialis.
Herpes genitalis umumnya dianggap sebagai akibat hubungan seksual dan

terjadi dalam 3 sampai 7 hari sesudah koitus. Jika. penyakit timbul, di tenga
tengah daerah dengan radang dan edema tampak sejumlah Vesikel yang
biasanya berlokasi pada labia minora, bagian dalam labia mayora dan prepusium

klitoridis. Tempat-tempat itu dirasakan panas dan gatal, dan karena digaruk
sering timbul infeksi sekunder. Kadang-kadang tampak pula ulkus-ulkus kecil
yang dangkal. Selain pada vulva penyakit ditemukan pula pada vagina dan
serviks uteri yang menyebabkan leukorea, perdarahan, dan disuria. Dengan
pengobatan simptomatis biasanya penyakit sembuh sendiri, akan tetapi ada
kemungkinan timbul kembali. Timbulnya kembali ini mungkin merupakan
reaktivasi dari infeksi yang sesungguhnya tidak sembuh, dan tinggal laten.
Selanjutnya virus mungkin memegang peranan dalam tumbuhnya karsinoma
servisis uteri. Penelitian ke jurusan itu kini sedang dilakukan dengan giat.
Diagnosis herpes genitalis dapat dibuat dengan jalan pembiakan pada lukaluka
di vulva, vagina, atau serviks dan dengan tes serologik. Sebagai terapi dapat
dilakukan terapi simptomatis dengan obat-obat yang mengurangi rasa nyeri dan
gatal, dan yang mengeringkan daerah yang kena infeksi. Akhir-akhir ini
ditemukan bahwa virus dapat diberantas dengan aplikasi lokal dari 1% larutan
neutral-red atau 0,1% larutan proflavine, diikuti dengan penyinaran sinar
fluoresensi (20-30 watt) untuk 10-15 menit dengan jarak 15-20 cm.

Kondiloma akuminatum

Kondiloma akuminatum berbentuk seperti kembang kubis (cauliflower) dengan di


tengahnya jaringan ikat dan ditutup terutama di bagian atas oleh epitel dengan
hiperkeratosis. Penyakit terdapat dalam bentuk kecil dan besar, sendirian atau
dalam suatu kelompok. Lokasinya ialah pada berbagai bagian vulva, pada
perineum, pada daerah perianal, pada vagina dan serviks uteri. Dalam hal-hal
yang terakhir ini terdapat leukorea.

Kondiloma akuminata kiranya disebabkan oleh suatu jenis virus yang banyak
persamaannya dengan penyebab veruka vulgaris. Adanya leukorea oleh sebab
lain memudahkan tumbuhnya virus dan kondiloma akuminata. Kelainan ini juga
lebih sering ditemukan pada kehamilan karena lebih banyak vaskularisasi dan
cairan pada jaringan. Umumnya diagnosis kondiloma akuminata tidak sukar
dibuat, dan dapat dibedakan dari kondilomata lata, suatu manifestasi dari sifilis.

Kondiloma akuminatum yang kecil dapat disembuhkan dengan larutan 10%


podofilin dalam gliserin atau dalam alkohol. Pada waktu pengobatan daerah
sekitarnya harus dilindungi dengan vaselin, dan setelah beberapa jam tempat
pengobatan harus dicuci dengan air dan sabun. Pada kondiloma yang luas,
terapinya terdiri atas pengangkatan dengan pembedahan atau kauterisasi.
Untuk mencegah timbulnya residif, harus diusahakan kebersihan pada tempat
bekas kondiloma akuminata, dan leukorea harus diobati.

Vulvitis diabetika

Pada vulvitis diabetika vulva merah dan sedikit membengkak. Keluhan terutama
rasa gatal, disertai rasa nyeri. Jaringan pada penderita diabetes mengandung
kadar glukosa yang lebih tinggi, dan air kencing dengan glukosuria menjadi
penyebab peradangan. Oleh karena itu pada penderita dengan vulvitis yang
sebabnya tidak terang, perlu dipikirkan adanya diabetes. Vulvitis diabetika
kadang-kadang dapat disertai dengan moniliasis.

Terapi terdiri atas penguasaan'penyakit diabetes mellitus dan pengobatan lokal.

VAGINA

Flora vagina terdiri atas banyak jenis kuman, antara lain basil Doderlein,
streptokokus, stafilokokus, difteroid, yang dalam keadaan normal hidup dalam
simbiosis antara mereka. Jika simbiosis ini terganggu, dan jika kuman-kuman
seperti streptokokus, stafilokokus, basil koli, dan lain-lain dapat berkembang
biak, timbullah vaginitis nonspesifik. Umumnya vaginitis nonspesifik dapat
disembuhkan dengan antibiotika. Selain itu, terdapat vaginitis karena trikomonas
vaginalis, kandida albikans, dan hemofilus vaginalis. Perlu dikemukakan di sini
bahwa pada masa dewasa vagina lebih tahan terhadap infeksi-infeksi, terutama
gonorea, pada masa sebelum pubertas dan setelah menopause vagina lebih
peka terhadap infeksi.

Gejala yang penting pada vaginitis ialah leukorea, terdiri dari cairan yang
kadang-kadang bercampur dengan lendir, dan dapat menjadi mukopurulen.
Gejala ini sering disertai oleh rasa gatal dan membakar. Vaginitis biasanya
disertai oleh vulvitis. Permukaan vagina dan vulva pada vulvovaginitis menjadi
merah dan agak membengkak, pada vagina dapat ditemukan pula bintik-bintik

merah (vaginitis granularis). Pada vaginitis basil Doderlein jarang terdapat atau
tidak ada; fluor yang dikeluarkan mengandung banyak leukosit.

Trikomoniasis

Vulvovaginitis ini disebabkan oleh trikomonas vaginalis. Trikomonas dapat


ditemukan dalam jumlah kecil dalam vagina tanpa gejala apa pun, akan tetapi
dalam beberapa hal yang ada hubungannya dengan perubahan kondisi
lingkungan, jumlah dapat bertambah banyak dan menimbulkan radang. Peterson

melaporkan bahwa 24,6% dari apusan vagina yang diambil secara rutin pada
penderita obstetri dan ginekologi menunjukkan adanya trikomonas vaginalis.

Trikomonas vaginalis adalah suatu parasit dengan flagella yang bergerak sangat
aktif. Walaupun infeksi dapat terjadi dengan berbagai cara, penularan dengan
jalan koitus ialah cara yang paling sering terdapat. Dalam hubungan ini parasit
pada pria dengan trikomonas biasanya terdapat (tanpa gejala) di urethra dan
prostat.

Vaginitis karena trikomonas menyebabkan leukorea yang encer sampai kental,


berwarna kuning-kuningan dan agak berbau. Penderita mengeluh tentang
adanya fluor yang menyebabkan rasa gatal dan membakar. Di samping itu
kadang-kadang ada gejala urethritis ringan seperti disuria dan sering kencing.
Parasit biasanya dengan mudah dijumpai di tengah-tengah leukosit pada sediaan
yang dibuat dengan mengambil sekret dari dinding vagina dicampur dengan
satu tetes larutan garam fisiologik di atas gelas objek. Sediaan diperiksa di
bawah mikroskop dengan pembesaran sedang dan dengan cahaya yang
dikurangi sedikit.

Parasit dapat dikenal dengan melihat gerakan-gerakannya, bentuknya lonjong


dengan flagella yang panjang dan membran yang bergerak bergelombang, dan
dengan ukuran sebesar 2 kali leukosit. Akan tetapi trikomonas tidak

selalu dapat ditemukan dengan cara pemeriksaan tersebut; bila dianggap perlu,
dapat pula dilakukan pembiakan.

Terapi

Terapi yang baik ialah dengan metronidazole (1(beta-hidroksil) -2-metil-nitroimidazole), yang di pasaran antara lain terkenal dengan nama Flagyl.
Metronidazol yang diberikan per os dapat diserap dengan baik dalam traktus
digestivus, dan mempunyai toksisitas rendah. Keluhan karena minum obat hanya
terdapat pada 10% kasus, biasanya ringan dan terdiri atas mulut kering,
anoreksia, nausea, rasa nyeri di daerah epigadtrium, kadang-kadang sakit
kepala, dan vertigo. Pada penderita yang perlu diberi mitronidazole berulang,
sebaiknya dilakukan pemeriksaan darah sebelum dan sesudah terapi. Pemberian
per os berguna untuk memberantas trikomonas tidak saja pada alat genital, akan
tetapi pada urethra dan kandung kencing. Pemberian obat intravaginal dapat
membantu pemberian obat per os.

Pengobatan metronidazole per os ialah dalam dosis 500 mg setiap 12 jam


selama 5 hari, jadi dosis total ialah 5 gram. Pengobatan per vaginam `saja dapat

mengurangi gejala-gejala, akan tetapi tidak menyembuhkan penyakit. Terapi


hanya secara per vaginam dianjurkan pada kehamilan kurang dari 20 minggu,
atau pada penderita yang peka terhadap metronidazole.

Sebagai obat per vaginam dapat diberikan pula supositoria flagyl, supositoria
atau krem AVC, dan supositoria Tricofuron.

Sangat perlu bahwa bersamaan dengan pengobatan penderita wanita, suami


juga harus diberi metronidazole per os dalam dosis yang sama untuk mencegah
terjadinya reinfeksi. Akhir-akhir ini selain pemberian metronidazole, dianjurkan
pula tinidazole (Fasygin) dan brnidazole (Tiberal). Kadang-kadang terdapat
trikomoniasis persistens. Hal itu disebabkan oleh kurang baiknya penyerapan

metronidazole oleh traktus digestivus, atau oleh karena resistensi trikomonas


terhadap obat.

Kandidiasis Kandidiasis disebabkan oleh infeksi dengan kandida albikans, suatu


jenis jamur gram positif yang mempunyai benang-benang pseudomiselia yang
terbagi dalam kelompok blastospores. Jamur ini tumbuh baik dalam suasana
asam (PH 5.0-6.5) yang mengandung glikogen; ia dapat ditemukan dalam mulut,
daerah perianal dan vagina tanpa menimbulkan gejala. Ia dapat tumbuh dengan
Cepat dan menyebabkan vaginitis pada wanita hamil, wanita yang minum Pil
kontrasepsi hormonal, wanita yang diberi terapi antibiotika berspektrum luas,
wanita dengan diabetes, dan wanita dengan kesehatan yang mundur.

Vulvovaginitis karena infeksi dengan kandida albikans menyebabkan leukorea


berwarna keputih-putihan dan perasaan sangat gatal.

Pada pemeriksaan ditemukan radang vulva dan vagina, pada dinding sering juga
terdapat membran-membran kecil berwarna putih, yang jika diangkat
meninggalkan bekas yang agak berdarah.

Diagnosis dibuat dengan cara pemeriksaan seperti pada trikomonas vaginalis;


pada sediaan tampak jamur di tengah-tengah leukosit. Dapat pula usapan di atas
gelas objek dicat dengan cara Gram; jika perlu, dapat pula dilakukan pembiakan.

Terapi

Pengobatan dengan gentian violet 5-10% sekarang tidak banyak dilakukan oleh
karena mewarnai pakaian. Obat yang memberi hasil baik ialah Nystatin, suatu

antibiotika dihasilkan oleh Streptomises noursei (formula C46 - H 77 No.19). Yang


banyak dipakai ialah tablet vaginal Mycostatin (10.000 Unit) dimasukkan dalam
vagina 1 sampai 2 tablet sehari selama 14 hari. Pemakaian Mycostatin per os
untuk kandida yang masih bersarang dalam traktus digestivus. Untuk mencegah
timbulnya residif tablet Mycostatin dapat diberikan per vaginam satu minggu
sebelum haid selama beberapa bulan.

Akhir-akhir ini banyak juga diberikan derivat dari imidazole sebagai salep untuk
dimasukkan dalam vagina, dengan hasil baik. Begitu pula Econazole

(Gyno-Pevaryl) dalam bentuk supositorium dianjurkan. Derivat-derivat lain


adalah iniconazole, clotrinazole.

Hemofilus vaginalis vaginitis

Sembilan puluh persen dari kasus-kasus yang dahulu disebut vaginitis


nonspesifik kini ternyata disebabkan oleh hemofilus vaginalis, suatu basil kecil
yang gram negatif. Gejala vaginitis ialah leukorea yang berwarna putih bersemu
kelabu, kadang-kadang kekuning-kuningan dengan bau yang kurang sedap.
Vaginitis ini menimbulkan pula perasaan sangat gatal. Penyakit ini ditularkan
melalui hubungan seksual.

Diagnosis dibuat dengan cara pemeriksaan seperti yang digambarkan pada


pemeriksaan trikomonas vaginalis. Pada sediaan dapat ditemukan beberapa
kelompok basil, leukosit yang tidak seberapa banyak, dan banyak sel-sel epitel
yang untuk sebagian besar permukaannya berbintik-bintik. Sel-sel ini yang
dinamakan Clue-cells, merupakan ciri vaginitis yang disebabkan oleh hemofilus
vaginalis.

Terapi harus diberikan kepada suami-isteri, berupa ampisillin 2 gram sehari untuk
5 hari, atau jika peka terhadap penisillin dapat diberikan tetrasiklin. Di samping
itu, kepada wanitanya dapat diberi Betadin vaginal douche.

(Vulvo)-vaginitis-atrofikans

Sesudah menopause (atau sesudah fungsi ovarium ditiadakan dengan jalan


pembedahan atau penyinaran) epitel vagina menjadi atrofis dengan hanya
tertinggal lapisan sel basal. Epitel demikian itu mudah kena infeksi, dan radang
dapat menjalar ke jaringan di bawah epitel. Penyakit ini menyebabkan leukorea
dan rasa gatal dan pedih. Vaginitis ini juga dinamakan vaginitis senilis. Urethra

dan kandung kencing dapat ikut terlibat dan menimbulkan gejala disuria dan
sering kencing.

Terapi terdiri atas pemberian estrogen per os (Premarin 1,25 mg atau


Oestrofeminal 1,25 mg) tiap malam dan pemberian dienestrol krem, premarin
vaginal cream, atau 0,1 mg suposotorium dietil stilbestrol per vaginam untuk 30
malam. Dewasa ini dapat dianjurkan pemakaian Synapause tablet dan
Synapause krim.

Vaginitis emfisematosa

Penyakit ini jarang terdapat, dan pada umumnya dijumpai pada wanita hamil.
Pada vaginitis ini ditemukan radang dengan gelembung-gelembung kecil berisi
gas pada dinding vagina dan porsio uteri. Penyebab infeksi belum diketahui, dan
pengobatannya simptomatis.
INFEKSI-INFEKSI KHUSUS

Dalam bagian ini dibicarakan penyakit-penyakit kelamin klasik dan tuberkulosis


genital. Tergolong sebagai penyakit-penyakit klasik ialah gonorea, sifilis, ulkus
molle, granuloma venereum, dan limfogranuloma inguinale, walaupun sekarang
diketahui bahwa ada penyakit-penyakit lain, yang penularannya terutama terjadi
sebagai akibat hubungan seksual. Penyakit-penyakit yang terakhir itu dibahas
dalam bagian-bagian lain.

Gonorea

Etiologi

Pada tahun 1832 Ricord membuktikan bahwa gonorea bukan suatu jenis sifilis
yang ringan seperti anggapan sebelumnya, melainkan suatu penyakit infeksi
yang berdiri sendiri dan mempunyai perbedaan fundamental dari penyakit sifilis.

Pada tahun 1879 Neisser menemukan kuman yang menyebabkan penyakit ini,
dan yang sejak itu dikenal dengan nama gonokokus, atau demi menghargai
penemunya, Neisseria gonoreae.

Gonorea adalah suatu penyakit kelamin yang sangat umum. Penyakit dijumpai di
seluruh penjuru dunia. Diperkirakan bahwa dewasa ini di Amerika Serikat
terdapat lebih dari 3 juta kasus baru tiap tahun. Kejadian penyakit gonorea

terutama tergantung pada banyaknya prostitusi dan kebebasan hubungan


seksual di luar perkawinan di negeri yang bersangkutan.

Gonokokus adalah diplokokus yang gram negatif, berbentuk seperti biji kopi.
Kuman ini mudah diwarnai dengan metilen biru alkalis dari Loeffler, dengan
karbol-fukhsin yang dicairkan, dan dengan pironin (zat methil-pironin dari
Pappenheim). Burdo menganjurkan agar-agar darah coklat yang dipanaskan
sebagai medium pembiakan yang baik untuk gonokokus. Gonokokus adalah
parasit yang tidak dapat hidup dalam segala macam keadaan, dan kuman ini
hanya patogen terhadap manusia. Pada manusia ia menimbulkan benda
penangkis yang dapat didemonstrasikan. Gonokokus menyerang selaput
mukosa, terutama yang mempunyai epitel torak, sendi, endokard, epitel tatah
konjunktiva, epitel vagina pada wanita belum dewasa dan yang tua juga mudah
diserang gonokokus.

Patologi

Infeksi genital pada wanita biasanya terjadi dengan jalan bersetubuh, dan jarang
sekali dengan cara lain. Vulvovaginitis gonoroika pada anak-anak perempuan
terjadi lewat tangan, handuk dan sebagainya, dari orang yang menderita
gonorea. Masa inkubasi berbeda-beda, yaitu dari beberapa jam sampai 2 atau 3
hari.

Urethra, kelenjar Skene, kelenjar Bartholini dan serviks biasanya adalah bagian
dari alat genital yang pertama-tama kena infeksi. Rektum dapat primer kena
infeksi sebagai akibat koitus anal, tetapi biasanya rektum terlibat secara
sekunder. Ostium uteri internum adalah penglalang terhadap meluasnya
gonokokus ke atas; tetapi, jika penyakitnya tidak segera disembuhkan,
penghalang ini dapat diterobos pada waktu haid atau puerperium, pada waktu
ostium terbuka. Jaringan endometrium yang sebagian nekrotik bercampur darah
merupakan tempat pertumbuhan baik bagi kuman. Endometritis akuta yang
disebabkan oleh gonorea cepat sembuh, akan tetapi sementara itu infeksi dapat
menyebar ke tuba, ovarium, dan peritoneum.

Pada infeksi mukosa orifisium urethra eksternum dan jaringan sekitarnya


menjadi merah dan membengkak. Nanah dapat dikeluarkan dengan tekanan jari
dari atas ke bawah pada urethra. Kelenjar Skene dapat ikut terlibat dan dari
salurannya dapat dikeluarkan nanah; pembentukan abses kadang-kadang
terjadi. Pada kelenjar Skene muaranya dapat dikelilingi oleh areola yang merah
(makula gonorea dari Sanger). Saluran glandula Bartholini dapat terkena radang
pula, sedang kelenjar sendiri tidak selalu ikut serta. Saluran-salurannya dapat
tetap terbuka atau dapat tersumbat karena pembengkakan dan perlekatan, dan
kelenjar dapat berubah menjadi abses. Abses ini dapat pecah secara spontan
atau dapat berubah menjadi kista.

Vagina hanya mudah kena infeksi gonorea pada anak-anak, pada wanita hamil,
dan pada wanita sesudah menopause. Pada wanita masa reproduksi, yang tidak
hamil vagina kebal terhadap gonorea oleh karena epitel tatah yang menebal, dan
oleh karena kuatnya pertahanan biologiknya, Serviks sering terkena infeksi
gonorea yang menyebabkan servisitis akuta dengan pengeluaran cairan
mukopurulen. Serviks dapat menyimpan gonokokus untuk waktu yang lama, dan
oleh karena itu, menjadi sebab utama kambuhnya penyakit ini pada kasus-kasus
yang tidak kelihatan lagi gejala-gejalanya.

Penyelidikan Schroder menunjukkan bahwa gonorea pada korpus uteri biasanya


sembuh dalam beberapa minggu sesudah terjadi perubahan siklik pada lapisan
fungsional endometrium. Infiltrat radang yang kecil-kecil pada lapisan basal
dapat bertahan untuk waktu yang lebih lama.

Kelainan-kelainan yang paling nyata yang diakibatkan oleh gonorea adalah pada
mukosa tuba. Pada stadium akut dijumpai pembengkakan dari dinding tuba
dengan penebalan dalam bentuk benjolan pada lipatan-lipatan tuba, hilangnya
silia, epitel, dan adanya eksudat yang purulen. Ostium tuba abdominalis tertutup
oleh eksudat dari peritoneum yang bersifat fibrin0purulen, tetapi paling sering
oleh fimbria tuba yang membelok ke dalam atau melekat satu sama lain. Dalam
perkembangan penyakit selanjutnya, lipatan tuba yang berhadapan mengalami
aglutinasi pada beberapa tempat dan terbentuk kelompok ruangan-ruangan
kosong (pseudofollicular salpingitis). Lumen tuba dapat mengalami obliterasi,
terutama bagian istmusnya; pada bagian interstisial kadang-kadang terjadi
proliferasi mukosa ke dalam dinding tuba yang menjadi noduler dan menebal
(istbmic nodular salpingitis). Bentuk tuba dapat kembali seperti biasa dengan
terjadinya resorbsi eksudat, atau tuba berubah menjadi piosalping atau
hidrosalping. Serosa tuba melekat ke bagian belakang ligamentum latum, ke
peritoneum di kavum Douglasi, ke ovarium atau ke usus-usus di dekatnya.

Ovarium biasanya menunjukkan kelainan radang hanya pada permukaannya.


Kelainan radang tersebut mengakibatkan kecenderungan ovarium melekat pada
alat-alat di dekatnya. Kadang-kadang dapat terjadi abses pada ovarium, dan
apabila abses ini bersatu dengan piosalping, terjadilah abses tubo-ovarial.
Demikian pula hidrosalping dapat bersatu dengan kista folikel ovarium, dan
membentuk kista tubo-ovarial.

Radang peritoneum pelvik (pelvioperitonitis) biasanya dijumpai bersamasama


dengan salpingo-ooforitis. Peritonitis umum jarang terjadi; peritonitis karena
gonorea cenderung untuk tetap di pelvis dan membuat adhesi-adhesi yang
multipel. Kadang-kadang terjadi kumpulan nanah di kavum Douglasi`

Infeksi rektum oleh gonokokus terjadi pada 10% dari kasus-kasus. Penyakit ini
hanya terbatas pada bagian bawah rektum dan menunjukkan gejala proktitis.

Gambaran klinik

Gejala klinik lnfeksi gonorea yang akut adalah perasaan sakit sewaktu kencing
dan Sering kencing, gatal pada vulva, sekret yang purulen dari urethra, kelenjar
para-urethralis, dan kelenjar Bartholini, dan sekresi yang mukopurulen dari
serviks. Juga dijumpai kasus-kasus di mana gejala-gejalanya sama sekali tidak
ada, atau tanda-tanda radang tidak seberapa menonjol. Rasa nyeri yang tidak
seberapa nyata pada bagian bawah perut, demam yang tidak seberapa tinggi,
dan rahim yang nyeri jika ditekan, menunjukkan keterlibatan korpus uteri.
Penyebaran infeksi ke tuba diikuti oleh gejala-gejala seperti nyeri yang lebih
hebat pada kedua belah perut bagian bawah, hipogastrium yang tegang, kavum
Douglasi yang nyeri pada palpasi, dan demam yang tidak teratur. Gejala-gejala
salpingo-ooforitis dan peritonitis pelvik yang akut mengurang sesudah beberapa
minggu, tetapi tidak selalu terjadi penyembuhan yang sempurna. Tumor pada
adneksa yang lambat kembali ke keadaan semula, memperlambat kesembuhan.
Jika terjadi abses di kavum Douglasi, nanah harus dikeluarkan dengan kolpotomi
posterior.

Pada gonorea menahun gonokokus dapat tetap bersarang biasanya pada serviks
uteri tanpa menyebabkan gejala apa pun. Fokus infeksi ini dapat menimbulkan
gejala-gejala akut sesudah koitus, haid, atau partus. Selain itu wanita dengan
gonorea laten ini dapat menularkan penyakitnya kepada partnernya pada
hubungan seksual.

Pada infeksi menahun genitalia interna, penderita sering kali tidak pernah
merasa sembuh betul. Keadaan baik silih berganti, dengan rasa kurang sehat
dan rasa nyeri di perut bawah. Siklus haid sering kali terganggu karena radang
ovarium; umumnya siklus haid menjadi pendek, tetapi perdarahan waktu haid
menjadi lebih lama; amenorea jarang terjadi. Haid sering kali disertai oleh
dismenorea, dan dapat terjadi pula dispareunia; laju endapan darah meningkat,
dan suhu badan agak lebih tinggi dari normal.

Pada pemeriksaan bimanual dapat ditemukan perut bagian bawah nyeri tekan,
uterus terletak dalam retroversiofleksio dan tidak mudah digerakkan, atau
tertarik ke sebelah kiri atau kanan karena perlekatan, dan sering kali dapat
diraba tumor di samping uterus.

Salpingitis gonoroika sering menyebabkan penutupan tuba, dan proses ini dapat
terjadi di sebelah kanan dan kiri yang mengakibatkan infertilitas. Pada one child
sterility penyumbatan tuba terjadi dalam masa Duerperium.

Diagnosis

Hampir semua kasus gonorea akut sekarang dapat disembuhkan dengan Obat
obat antibiotika dan sulfonamid. Prognosis untuk penyembuhan yang sempurna
paling baik bila penyakit gonorea hanya terbatas pada urethra, vulva dan
serviks. Infeksi pada genitalia interna pada umumnya sembuh dengan
meninggalkan perubahan-perubahan yang permanen

Pencegahan penyakit gonorea

Cara profilaksis yang terbaik untuk menghindarkan infeksi gonorea adalah


menghindari hubungan seksual di luar perkawinan. Tetapi, pencegahan penyakit
gonorea dengan cara tersebut di atas tidak selalu dapat dilaksanakan. Cara-cara
yang berikut dapat dipergunakan: (1) anak-anak muda harus diberi penerangan
mengenai bahaya penyakit kelamin dan cara bagaimana mencegah penyakit ini;
(2) koitus di luar perkawinan tanpa kondom harus segera diikuti dengan
memberikan obat-obat yang efektif dalam dosis terapeutik dalam waktu 24 jam;
(3) di asrama-asrama militer militer kondom-kondom dan cara-cara profilaktik
lain harus disediakan dengan cuma-cuma; (4) pessarium okklusivum tidak dapat
melindungi urethra dan vulva terhadap infeksi, tetapi dapat mencegah infeksi
pada serviks; (5) harus diadakan pengobatan cuma-cuma untuk tiap-tiap orang
yang kena infeksi dan meminta pertolongan.

Terapi

Setiap orang yang menderita gonorea harus dicurigai menderita sifilis juga, dan
pemeriksaan harus diarahkan ke situ. Terapi pada gonorea akut terdiri atas
pemberian: (1) Penisillin G-Prokain 4.8 juta satuan intramuskulus masingmasing
pada bokong kiri dan kanan didahului dengan 1 gram probenesid oral. Obat yang
terakhir ini menghambat ekskresi penisillin, sehingga kadar penisillin dalam
darah tetap tinggi untuk waktu yang lama; (2) Ampisillin 3,5 gram oral, ditambah
dengan 1 gram probenesid oral; (3) Tetrasiklin 1,5 gram oral, diikuti oleh 500 mg
empat kali sehari selama 4 hari, jika penderita peka terhadap penisillin.
Pemakaian penisillin dan juga tetrasiklin dapat menyebabkan jenis-jenis
gonokokus menjadi resisten; (4) Spektinomisin, 2 gram intramuskulus adalah
terapi yang dianjurkan jika pengobatan dengan penisillin, ampisillin, dan
tetrasiklin gagal,

Pada penanganan salpingo-ooforitis akut disebabkan gonokokus harus dipikirkan


juga kemungkinan infeksi sekunder oleh kuman-kuman lain. Penanganan ialah
seperti berikut: a) Salpingo-ooforitis ringan dan sedang (temperatur 38-39C,
gejala-gejala pada perut bagian bawah tidak seberapa, penyakit pasien kelihatan

tidak berat): Penderita dinasihatkan istirahat baring, dan diberi terapi Penisillin G
Prokain sebanyak 4,8 juta satuan intramuskulus (satu kali pemberian), dengan
probenesid 1 gram oral, dan selanjutnya tetrasiklin 500 mg oral, 4 kali sehari
selama sepuluh hari. Ampisillin dapat dipakai jika tidak ada tetrasiklin.
Pembiakan N. gonorea dari serviks harus dibuat 7-14 hari setelah pengobatan
selesai; b) Salpingo-ooforitis berat (suhu lebih tinggi dari 39C; perasaan nyeri
cukup keras pada perut bagian bawah, pasien kelihatannya berpenyakit berat):
Penderita harus dirawat di rumah sakit sebab ia memerlukan pengobatan yang
intensif dan harus diawasi kemungkinan timbulnya komplikasi dan bertambah
gawatnya keadaan. Harus diambil tindakan-tindakan berikut: (a) istirahat di
tempat tidur dengan posisi semi-Fowler: (b) makan per oral dibatasi, terutama
jika timbul nausea dan muntah; (c) pemberian infus untuk memperbaiki
dehidrasi dan asidosis; (d) jika perlu, melakukan pengisapan cairan lambung
melalui hidung bila lambung kembung; (e) pemberian penisillin G sebanyak 5-10
juta satuan secara intravena 3 kali sehari, atau jika penderita sensitif terhadap
penisillin, dengan kanamisin 15 mg/ kg/hari secara intramuskulus, dibagi dalam
3 dosis. Dengan terapi ini biasanya dalam 24~48 jam keadaan mereda, dan
dapat diberi ampisillin atau tetrasiklin 500 mg per os 4 kali sehari selama 10
hari. `jika sesudah beberapa hari pengobatan keadaan tidak lekas membaik,
perlu dipikirkan terjadinya piosalping, abses tuboovarial, atau abses di kavum
Douglasi. Pada abses di kavum Douglasi perlu dilakukan kolpotomi posterior;
laparotomi eksploratif dilakukan apabila ada kekuatiran bahwa piosalping atau
abses tubaovarial memerah. Dari hasil kolpotomi dapat diadakan pemeriksaan
tes resistensi dan kepekaan untuk dapat diberikan anti biotika yang benar.
Evaluasi yang terus-menerus oleh seorang dokter yang berpengalaman adalah
penting sekali untuk pengelolaan yang baik. Pengobatan pada salpingoooforitis
subakut atau menahun terdiri atas pembatasan aktivitasaktivitas, pemanasan
daerah pelvis (douche, diatermi, dan lain-lain) dan larangan koitus untuk
sementara waktu.
Kankroid (ulkus molle)

Etiologi

Ulkus molle adalah penyakit kelamin dengan ulkus genital yang nyeri sekali.
Kuman penyebabnya adalah Hemofilas dacreyi, suatu 'basil gram negatif yang
berbentuk batang. Penularan biasanya berlangsung lewat koitus, tetapi dapat
juga melalui tangan. Masa inkubasinya pendek; biasanya luka sudah kelihatan
dalam waktu 3-5 hari atau lebih dini lagi, sesudah terkena infeksi.

Gambaran klinik

Luka dini kelihatan berupa vesikopustula pada vulva, vagina atau serviks, nyeri
tanpa indurasi. Kemudian, luka ini mengalami degenerasi, melebar dan
bertambah besar dengan bawahnya tidak rata dan kasar; di sekitarnya tampak
lingkaran yang meradang disertai dengan edema. Luka ini sangat nyeri dan

mengeluarkan getah yang berbau, kental, dan dapat menular. Ulkus ini kemudian
dapat berkembang menjadi kumpulan ulkus-ulkus. Kadang-kadang kankroid
dapat berkembang menjadi ulkus-ulkus serpiginus dan fagedenitis. Kira-kira
setengah dari pasien akan menderita limfadenitis inguinal yang terasa nyeri;
bubo dapat membesar dan menjadi abses.

Diagnosis

Hemofilus Ducreyi dapat dibiakkan pada agar darah dari luka-luka terbuka atau
bubo. Tes kulit intradermal dengan vaksin basil menjadi positif 1-2 minggu
sesudah infeksi (tes kulit Ducrey). Reaksi ini dapat tetap positif selama bertahuntahun. Pencatan Gram yang dilakukan pada bahan yang diambil dari luka dapat
menunjukkan basil berbatang gram negatif yang bertumpuk-tumpuk seperti
dalam satu ikatan. Pembiakan yang dibuat dari bahan yang diambil secara biopsi
adalah cara yang paling akurat untuk diagnosis.

Penanganan

Penanganan lokal yang terdiri atas kebersihan sangat penting; luka dini harus
dibersihkan dengan larutan sabun yang encer. Pengobatan terdiri atas
pemberian salah satu jenis sulfonamid, misalnya sulfisoxazole selama 7-10 hari.
Pengobatan ini dapat diulang. Keuntungan pemberian sulfonamid adalah karena
obat ini tidak menutupi adanya infeksi campuran dengan sifilis. Streptomisin 1
gram intramuskulus setiap hari mungkin dapat menyembuhkan kankroid; dan
kadang-kadang pengobatan ini dapat dikombinasikan dengan Tetrasiklin 500 mg
oral 3-4 kali sehari selama 2 minggu, atau sampai sembuh.

Granuloma inguinale

Etiologi

Granuloma inguinale adalah suatu penyakit granulomatik ulseratif yang

menahun, dan yang biasanya terdapat pada vulva, perineum, dan daerah
inguinal. Penularan terjadi melalui koitus. Masa inkubasinya ialah 8-12 minggu.

Gambaran klinik

Walaupun granuloma inguinale paling sering dijumpai pada kulit dan


jaringanjaringan subkutan vulva dan daerah inguinal, namun pernah juga
dilaporkan terdapatnya penyakit ini pada serviks. Penyakit ini pada
mulanyakehhatan sebagai papula yang kemudian mengalami ulserasi dan
berubah menjadi suatu daerah granuler yang berwarna merah-daging, dibatasi
pinggir yang tajam dengan eksudat yang baunya menusuk hidung. Ulkus ini
susah sembuhnya, dan ulkus-ulkus dapat bersatu menjadi ulkus yang besar
dengan proliferasi jaringan granulasi. Dapat terjadi limfadenitis; pembengkakan
kelenjar inguinal adalah suatu kejqdian yang sering terdapat, yang kemudian
dapat menjadi abses.
kadang-kadang dapat terjadi luka serviks; luka ini biasanya berbentuk ulkus yang
merah atau jaringan granular yang menghasikan eksudst. Eksudat ini
mengandung limfosit, sel raksasa, dan histiosit. Luka ini dapat menyerupai
karsinoma serviks.

Diagnosis

Apusan langsung yang diambil dari dasar ulkus dapat menunjukkan adanya
batang-batang bipolar gram negatif (Donovan bodies) di dalam sel-sel
mononuklear. Ini dapat dilihat pada apusan dengan pencatan Wright. Bila apusan
negatif, harus dilakukan biopsi. Biopsi luka ini umumnya akan menunjukkan
jaringan granulasi yang diinfiltrasi oleh sel-sel plasma dan makrofag yang besarbesar dengan di dalamnya gelembung-gelembung berisi Donovan bodies.
Diagnosis ditegakkan bila pada biopsi atau apusan yang dicat dengan cat perak,
Gimesa atau Wright dapat didemonstrasikan adanya satu atau lebih gelembunggelembung yang berisi Donovan bodies.

Penanganan

Tetrasiklin adalah obat terpilih; dosis yang dianjurkan adalah 500 mg oral 4 kali
sehari, selama 2-3 minggu. Eritromisin atau Khloramfenikol 500 mg 4 kali sehari
selama 2 minggu juga efektif. Pengobatan dengan Penisillin tidak efektif.
Streptomisin dapat dipakai, tetapi harus diingat bahwa obat ini lebih toksik.
Dosisnya 1 gram intramuskulus, 2-3 kali sehari selama 7-10 hari, sampai
berjumlah 21 gram.

Kambuhnya penyakit ini dijumpai pada 10% kasus. Pada kasus-kasus resisten
tindakan bedah kadang-kadang diperlukan. Radiasi bersama-sama dengan
antibiotika juga efektif. Penting diperhatikan keberhasilan pada perawatan lukaluka pada penyakit ini. Desinfeksi dengan fenol harus dilakukan terhadap barang
apa saja yang mungkin telah berhubungan dengan luka-luka.

Limfogranuloma venereum

Etiologi
penyebab adalah klamidia trakhomatis. penyakit ini dipindahkan melalui koitus
sesudah inkubasi beberapa hari. Dari tempat masuknya, kuman menyebar
melalui saluran dan kelenjar limfe ke daerah genital, inguinal, dan perianal;
penyebaran melalui jalan darah.

Gambaran klinik

Mula-mula terdapat erupsi berupa vesikopustula yang dapat hilang dengan


cepat, tetapi kemudian timbul limfadenitis inguinalis, yang menjadi abses dan
kemudian menyebabkan ulserasi, dan fibrosis. Penutupan jalan limfe
menyebabkan limfedema dan elefantiasis pada vulva. Penyakit menyebabkan
nyeri keras, sehingga menimbulkan kesulitan untuk duduk atau berjalan. Proses
tersebut di atas, biasanya terjadi dalam waktu 10-30 hari sesudah terkena
infeksi, dan dapat terjadi bilateral. Limfedema anorektal dapat terjadi dini,
defekasi terasa nyeri, dan tinja dapat mengandung darah. Kemudian sesudah
masa limfedema dan ulserasi, terjadi perubahan berupa terjadinya sikatriks;
striktur pada rektum mengakibatkan defekasi sulit, dan penyempitan vagina
dapat mengakibatkan dispareunia. Pada fase lanjut dapat timbul gejala-gejala
sistemik, seperti demam, sakit kepala, arthralgia, menggigil, dan kejang
abdominal. Elefantiasis vulvae menyebabkan distorsi genitalia eksterna.

Diagnosis

Frei test menjadi positif sesudah 12-40 hari munculnya luka primer. Jika sudah
terbentuk benda penangkis, maka tes akan positif sampai bertahun-tahun.
Antigen dibuat dari nanah bubo, atau otak tikus diinfeksi dengan Virus. Untuk
melakukan tes, antigen disuntikkan pada lengan bawah, sampai terbentuk
benjolan intradermal, dan kemudian reaksinya dibaca sesudah 48 jam. Hasilnya
dianggap positif kalau terjadi eritema noduler yang berdiameter 6 mm, dengan
atau tanpa pembentukan vesikula atau nekrosis.

Tes Frei ini tidak dipakai lagi sekarang karena dianggap kurang efektif. Tes yang
lebih peka ialah tes fiksasi komplemen. Tes yang akhir ini menjadi positif pada
lebih dari 80% kasus. Tes micro immunoflorescence adalah suatu tes yang paling
sensitif dibandingkan dengan tes-tes lain.

Pada pem'buatan diagnosis perlu dilakukan biopsi untuk menyingkirkan


kemungkinan karsinoma, skistosomiasis, atau granuloma inguinale.

Penanganan

Pengobatan terdiri atas pemberian Tetrasiklin setiap hari, dengan dosis 2 gram
oral, selama 2-4 minggu. Jika penyakit belum juga sembuh, maka pengobatan ini
diulangi lagi. Obat Sulfonamid bersifat supresif dan bukan kuratif. Obat ini
diberikan dalam dosis 1 gram 4 kali sehari selama 2 minggu, kemudian sesudah
istirahat 1 minggu, pengobatan diulangi lagi. Pengobatan ini tidak mempercepat
penyembuhan, tetapi mencegah infeksi sekunder, ulserasi, dan striktur. Striktur
anal harus dilebarkan secara manual sekali seminggu; striktur berat memerlukan
tindakan kolostomi. Abses-abses yang ada harus diisap, jangan dieksisi. Jika
penyakitnya sudah sembuh, maka vulvektomi perlu dilakukan atas alasan
kosmetik.

Semua yangmerawat penderita dengan limfogranuloma harus mengindahkan


keberSIhan, misalnya mengenai pakaian, mencuci tangan, dan menggunakan
sarung tangan. Oleh karena kuman penyebabnya ada di dalam eksudat, maka
pakaian-pakaian yang terkena kontaminasi harus dibakar.