Anda di halaman 1dari 13

Diagnosa dan Penanganan Dini Karsinoma Tiroid

McGirt Lamberth Robert Uniplaita


102011088
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Kampus 2 Ukrida, Jl. ArjunaUtara no. 6 Jakarta 11510
Skenario 7
Seorang laki-laki, 60 tahun, datang ke klinik tempat anda bekerja dengan keluhan terdapat
benjolan dileher bagian depan yang kian hari makin membesar, sejak 1 tahun yang lalu.
Awalnya benjolan tersebut kecil dan tidak dihiraukan pasien, namun sekarang pasien menjadi
sulit menelan dan pasien mengeluh tidak bisa bernafas dengan lapang. Pasien juga mengeluh
suaranya menjadi serak akhir-akhir ini dan berat badannya menurun.
Pendahuluan
Kelenjar tiroid termasuk bagian tubuh yang jarang mengalami keganasan, terjadi
sekitar 0,85% dan 2,5% dari seluruh keganasan pada pria dan wanita. Tetapi diantara kelenjar
endokrin, keganasan tiroid termasuk jenis keganasan kelenjar endokrin yang paling sering
ditemukan. Secara klinis, antara nodul tiroid yang ganas dengan yang jinak sulit dibedakan,
bahakn baru dapat dibedakan setelah hasil evaluasi sitologi preparat biopsi jarum halus atau
histopatologi dari jaringan kelenjar tiroid yang diambil saat operasi.
Tampilan klinis karsinoma tiroid pada sebagian besar kasus umumnya ringan. Pada
odul tiroid yang ganas, bisa saja nodul tiroid tersebut baru muncul dalam beberapa bulan
terakhir, taoi dapat pula sudah mengalami pembesaran kelenjar tiroid berpuluh tahun lamanya
serta memberikan gejala klinis yang ringan saja, kecuali jenis karsinoma tiroid anaplastik
yang perkembangannya cepat dan sangat buruk. Dari berbagai penelitian, terdapat beberapa
petunjuk yang dapat digunakan untuk menduga kecenderungan nodul tiroid ganas atau tidak.
Dengan berbagai kemajuan teknologi kedokteran, kasinoma tiroid dapat lebih diteliti secara
cermat oleh para peneliti sampai pada diagnosis nodul jinak atau ganas.
Rumusan Masalah:
Hipotesis: Laki- laki tersebut menderita karsinona tiroid
Anamnesis1-2
1

Sebagian besar keganasan tiroid tidak memberikan gejala yang berat kecuali
keganasan jenis anaplastik yang sangat cepat membesar bahkan dalan hitungan minggu.
Sebagian kecil pasien, khususnya pasien dengan nodul yang besar, mengeluh adanya gejala
penekanan pada esofagus dan trakea. Biasanya nodul tiroid tidak disertai rasa nyeri, kecuali
timbul perdarahan ke-dalam nodul atau bila kelainannya tiroiditis akut. Keluhan lain pada
keganasan yang mungkin ada adalah suara serak. Dalam hal riwayat kesehatan, banyak faktor
yang perlu ditanyakan, apakah ke arah ganas atau tidak. Seperti misalnya usia pasien saat
pertama kalo modul tiroid ditemukan, riwayat radiasi pengion saat usia anak- anak, jenis
kelamin pria, meskipun prevalensi nodul tiroid lebih rendah, tapi kecederungan menjadi
ganas lebih tinggi dibanding dengan laki- laki.
Riwayat karsinoma tiroid medulare dalam keluarga, penting untik evaluasi nodul
tiroid ke arah ganas atau jinak. Sebagian pasien dengan karsinoma tiroid medulare herediter
juga memiliki penyakit lain yang tergabung dalam MEN (Multiple Endocrine neoplasia) 2A
atau MEN2B.

Pemeriksaan Fisik1-2
Pemeriksaan fisik diarahkan pada kemungkinan adanya keganasan tiroid. Pertumbuhan
nodul yang cepat merupakan salah satu tanda keganasan tiroid , terutama jenis karsinoma
tiroid yang tidak berdiferensiasi (anaplastik). Tanda lainnya ialah konsistensi nodul keras dan
melekat ke jaringan sekitar serta terdapat pembesaran kelenjar getah bening di daerah leher.
Pada tiroiditis, perabaan nodul nyeri dan kadang-kadang berfluktuasi.
Untuk memudahkan pendekatan diagnostik berikut ini adalah kumpulan riwayat
kesehatan dan pemeriksaan fisik yang mangarah pada nodul tiroid jinak, tanpa
menghilangkan kemungkinan adanya keganasan, yaitu :
-

Riwayat keluarga tiroidtis Hashimoto atau penyakit tiroid autoimun.


Riwayat keluarga dengan nodul tiroid jinak atau goiter
Gejala hipotiroiditisme atau hipertiroiditisme
Nyeri dan kencang pada nodul
Lunak, rata, dan tidak terfiksir
Struma multinodular tanpa nodul dominan dan konsistensi sama.

Sedangkan dibawah ini adalah kumpulan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik yang
meningkatkan kecurigaan ke arah keganasan tiroid, yaitu usia < 20 tahun atau > 60 tahun
2

mempunyai prevalensi tinggi keganasan pada nodul yang teraba. Nodul pada pria mempunyai
kemungkinan dua kali lebih tinggi menjadi ganas dari wanita.
-

Keluhan suara serak, susah nafas, batus, disfagia


Riwayat radiasi pengion pada saat kanak-kanak
Padat, keras, tidak rata atau terfiksir
Limfadenopati servikal
Riwayat keganasan tiroid sebelumnya.

Inspeksi:
-

Adanya benjolan di leher depan atau lateral


Bila terlihat sesak, waspada adanya penekanan pada trakea

Palpasi:
-

Benjolan di palpasi, kalau dari tiroid maka pada waktu menelan akan ikut ke atas.
Pada tumor primer dapat berupa suatu nodul soliter atau multipel dengan konsistensi
bervariasi dari kistik sampai dengan keras bergantung dari jenis patologi anatominya
tetapi biasanya massa yang merupakan suatu karsinoma berukuran > 4 cm dengan

konsistensi keras dan tidak bisa digerakkan dari dasarnya.


Bila kelenjar besar sekali tetapi belum terlihat gejala sesak napas, dicuriga ada
tidaknya penekanan pada trakhea, caranya dengan menekan lobus lateral kelenjar

maka akan timbul stridor akibat penekanan pada trakea.


Ada tidaknya benjolan pada tulang belakang, clavicula, sternum serta tempat
metastase jauh lainnya di paru, hati, ginjal dan otak.
Meskipun keganasan dapat saja terjadi pada nodul yang multiple, namun pada

umumnya pada keganasan nodulnya biasanya soliter dan konsistensinya keras sampai
sangat keras. Yang multiple biasanya tidak ganas kecuali apabila salah satu dari nodul
tersebut lebih menonjol dan lebih keras dari pada yang lainnya. Nodul soliter pada tiroid
kemungkinan ganasnya 15-20%, sedangkan nodul multipel mempunyai kemungkinan
5%. Apabila suatu nodul nyeri pada penekanan dan mudah digerakkan, kemungkinannya
ialah suatu perdarahan ke dalam kista, suatu adenoma atau tiroditis. Tetapi kalau nyeri
dan sukar digerakkan kemungkinan besar suatu karsinoma.
Nodul yang tidak nyeri, apabila multiple dan bebas dan digerakan mungkin ini
merupakan komponen struma difus atau hyperplasia tiroid. Namun apabila nodul multiple
tidak nyeri tetapi tidak mudah digerakkan ada kemungkinan itu suatu keganasan. Adanya
limfadenopati mencurigakan suatu keganasan dengan anak sebar.
3

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium1,3-5
Pemeriksaan kadar tiroglobulin serum untuk keganasan tiroid cukup sensitif
tapi tidak spesifik. Serum Thyoid-Stimulating Hormone sangat sensitif untuk
mendeteksi hipertiroid ataupun hipotiroid. Namun pada penyakit keganasan, kadar
TSH tidak bisa menentukan apakah nodul tersebu ganas atau jinak.
Peningkatan serum kalsitonin biasanya menunjukkan karsinoma tiroid tipe
medular. Serum kalsitonin, yang biasanya menjadi tolak ukur diagnosis folikularmedular karsinoma tiroid, sekarang digantikan dengan pemeriksaan PCR (polymerase
chain reaction) yang lebih sensitif pada mutasi RET proto-oncogene. Bagaimanapun,
kalsitonin dan pentagastrin digunakan sebagai penanda tumor untuk memantau pasien

yang menderita karsinoma tiroid medular.3


Fine Nodule Aspiration Biopsy (FNAB)1
Merupakan tindakan yang mudah dan aman hanya harus diperiksa oleh seorang

sitolog yang berpengalaman. Di tangan seorang ahli, hasil ketepatan FNAB dapat
mencapai 75-95%.
Pemeriksaan sitologi dari BAJAH (Biopsi aspirasi jarum halus) nodul tiroid ini
merupakan langkah pertama yang harus dilakuakan dalam proses diagnosis . BAJAH oleh
operator yang terampil saat ini dianggap sebagai sebagai metode yang efektif untuk
membedakan jinak atau ganas pada nodul soliter atau nodul dominan dalam struma
multinodular . Hasil BAJAH dibagi menjadi 4 kategori, yaitu jinak, mencurigakan
(termasuk adenoma folikulare, Hurthle dan gambaran sugestif tapi tidak konklusif
karsinoma papilare tiroid ), ganas dan tidak adekuat.
Jenis karsinoma yang dapat segera ditentukan ialah karsinoma papilare, medulare, dan
anaplastik. Sedangkan untuk jenis karsinoma folikulare, harus dilakukan pemeriksaan
histopatologi yang dapat memperlihatkan adanya invasi kapsul tumor atau invasi
vaskular.Mengingat secara sitologi tak dapat membedakan adenoma folikulare dari
karsinoma folikulare, maka keduanya dikelompokkan mennjadi neoplasma folikulare
intermediate atau suspicious. Pada kelompok suspicious. Pada kelompok suspicious
angka kejadian karsinoma folikulare berkisar 20% dengan anagka tertinggi terjadi pada
kelompok dengan ukuran nodul besar, usia bertambah dan kelamin laki-laki.
Pemeriksaan foto thoraks
Foto polos leher antero-posterior dan lateral dengan metode soft tissue teknik dengan
posisi leher hiperekstensi, bila tumornya besar untuk melihat ada tidaknya kalsifikasi (
4

tanda kemungkinan keganasan). Selain itu juga dilakukan pemeriksaan foto toraks
postero-anterior, untuk menilai ada tidaknya metastasis dan pendesakan trakea.

Working Diagnosis1,3-5
Berdasarkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diangnosis kerjanya karsinoma tiroid.
Karsinoma tiroid merupakan suatu penyakit keganasan yang relative jarang di temukan.
Subtype utama karsinoma tiroid dan frekuensi relatifnya adalah sebagai berikut:1,3-5

Karsinoma papilar (75%-85% kasus)


Karsinoma folikular (10%-29% kasus)
Karsinoma medular (5% kasus)
Karsinoma anaplastik (<5% kasus)

Karsinoma Papilar
Karsinoma papilar merupakan bentuk tersering kanker tiroid (80 % kasus).
Tumor ini dapat muncul pada usia berapa saja, dan merupakan bentuk utama dari
karsinoma tiroid yang berkaitan dengan riwayat terpajan radiasi pengion.
Gambaran klinis: karsinoma papilar adalah tumor nonfungsional sehinga
umumnya bermanisfestasi sebagai massa tak nyeri di leher, dalam tiroid maupun
sebagai manisfestasi ke kelenjar getah bening leher. Yang menarik, adanya metastasis
kelenjar getah bening saja, tampaknya tidak banyak berpengaruh pada prognosis

tumor ini yang umumnya baik.


Karsinoma Folikular
Karsinoma folikuler merupan bentuk tersering kedua kanker tiroid (15 % dari
semua kasus). Tumor ini biasanya timbul pada usia yang lebih tua dari pada
karsinoma papilar dengan insidensi puncak pada usia dewasa pertengahan. Insidensi
karsinoma folikular meningkat di daerah dengan defisiensi yodium, yang
mengisyaratkan bahwa, pada sebagian kasus, gondok nodular mungkin merupakan
predisposisi timbulnya neoplasma.
Gambaran klinis: karsinoma folikular umumnya bermanisfestasi sebagai nodul
tiroid soliter yang dingin. Pada kasus yang jarang, tumor ini mungkin
hiperfungsional. Neoplasma ini cendrung bermetastasis melalui aliran darah ke paru,

tulang, dan hati.


Karsinoma Medular
Karsinoma medular tiroid adalah neoplasma neuroendokrin yang berasal dari
sel parafolikel, atau sel C, tiroid. Seperti sel C normal, karsinoma medularis
mengeluarkan kalsitonin, yang pengukurannya berperan penting dalam diagnosis dan
5

tindak lanjut pasca operasi pasien. Pada sebagian kasus, sel tumor mengeluarkan
hormone polipeptida lain, seperti antigen karsinoembrionik, somatostatin, serotonin,
dan peptida usus vasoaktif. Karsinoma medular muncul secara sporadic pada sekitar
80% kasus. Sisa 20% adalah kasus familial yang timbul dalam kaitannya dengan
sindrom neoplasia endokrin multiple (MEN) tipe 2A atau 2B atau karsinoma medular
tiroid non-MEN familial.

Karsinoma Anaplastik
Kurang dari 10% kanker tiroid merupakan kanker anaplastik. Ini merupakan
jenis kanker tiroid yang sangat ganas. Kanker ini paling sering ditemukan pada wanita
usia lanjut. Kanker anaplastik tumbuh sangat cepat dan biasanya menyebabkan
benjolan yang besar di leher. Kanker ini mengakibatkan kematian dalam beberapa
minggu (bulan). Biasanya terjadi pada pasien-pasien tua dengan riwayat goiter yang
lama dimana kelenjar tiba-tiba (dalam waktu beberapa minggu atau bulan) mulai
membesar dan menghasilkan gejala-gejala penekanan, disfagia atau kelumpuhan pita
suara, kematian akibat perluasan lokal yang masif biasanya terjadi dalam 6-36 bulan.
Kanker ini sangat resisten terhadap pengobatan.

Gejala Klinis1,3-5
Tanda dan gejala kanker tiroid adalah:
1. Terdapat pembesaran kelenjar tiroid atau pembengkakan kelenjar getah bening di
daerah leher (karena metastasis).
2. Nodul ganas membesar cepat, dan nodul anaplastik cepat sekali (dihitung dalam
minggu), tanpa nyeri.
3. Merasakan adanya gangguan mekanik di daerah leher, seperti gangguan menelan yang
menunjukkan adanya desakan esofagus, atau perasaan sesak yang menunjukkan
adanya desakan / infiltrasi ke trakea.
4. Suara penderita berubah atau menjadi serak.
5. Bisa terjadi batuk atau batuk berdarah, serta diare atau sembelit.

Kecurigaan klinis tiroid didasarkan pada observasi yang dikonfirmasikan dengan


pemeriksaan patologis dan dibagi dalam kecurigaan tinggi, sedang dan rendah.

1. Kecurigaan tinggi
a. Riwayat neoplasma endokrin multipel dalam keluarga
b. Pertumbuhan tumor yang cepat
c. Nodul teraba keras
d. Fiksasi daerah sekitar
e. Paralisis pita suara
f. Pembesaran kelenjar limpa regional
g. Adanya metastasia yang jauh
2. Kecurigaan sedang
a. Usia <20 tahun atau >60 tahun
b. Adanya riwayat radiasi di leher
c. Jenis kelamin pria dengan nodul soliter
d. Tidak jelas adanya fiksasi daerah sekiar
e. Diameter lebih besar dari 4cm dan kistik
3. Kecurigaan rendah
a. Adanya benjolan di leher
b. Tidak adanya gejala seperti yang disebutkan pada kecurigaan tinggi dan
sedang

Etiologi3-5

Etiologi yang pasti dari karsinoma ini belum diketahui, tiga penyebab yang sudah jelas dapat
menimbulkan karsinoma tiroid:
1. Kenaikan sekresi hormone TSH (thyroid stimulating hormone) dari kelenjar hipofise
anterior disebabkan kekurangan sekresi hormone T3 dan T4 dari kelenjar tiroid oleh
karena kurangnya intake iodium. Ini menyebabkan tiroid yang abnormal dapat
berubah menjadi kanker.
2. Radiasi ion pada leher terutama anak-anak yang pernah mendapat terapi radiasi di
leher dan mediastinum.
3. Factor genetik.

Epidemiologi3-5
Insiden karsinoma tiroid di Indonesia belum diketahui hingga sekarang, disebabkan
belum adanya pendataan keganasan yang terpadu (sentralisasi pada Badan Litbang
Departemen Kesehatan RI. Yang ada adalah pendataan kanker di berbagai rumah sakit atau
lembaga pendidikan di Indonesia yang bervariasi dari angka yang satu ke angka yang lain).
Di Amerika Serikat insiden karsinoma tiroid pada tahun 1970 (1) adalah:
-

5,5/100.000 pada wanita.


2,4/100.000 pada laki-laki.
terbanyak pada usia usia 25-65 tahun.

Di Indonesia, Tambunan (2) di Jakarta, menemukan 2,4 % kasus keganasan dari 322
tumor tiroid selama tahun 1963 s/d 1969. Syarwani (3) di Surabaya tahun 1973 menemukan
15%

keganasan dari 180 kasus tumor tiroid; Ramli dkk (4) di Jakarta tahun 1978

menemukan 15 % keganasan dari 601 kasus tumor tiroid selama 10 tahun. Reksoprawiro dkk
(5), di Surabaya tahun 1982 menemukan keganasan 16,12 % dari 397 kasus tumor tiroid di
Surabaya; Simanjuntak dkk(6) di Jakarta menemukan 18,3% keganasan pada 60 kasus
dengan tonjolan tunggal pada tiroid pada tahun 1982, dan Tjindarbumi dkk(7) menemukan
10,7% keganasan dari 964 tumor tiroid selama 5 tahun di RS Dr.Cipto Mangunkusumo
Jakarta
Patofisiologi3-5
Terapi penyinaran di kepala, leher dan dada, riwayat keluarga yang menderita kanker
tiroid dan gondok menahun serta tetangga atau penduduk sekampung ada yang menderita
kelainan kelenjar gondok (endemis) dapat mencetuskan timbulnya neoplasma yang
8

menyebabkan timbulnya pertumbuhan kecil (nodul) di dalam kelenjar tiroid seseorang. Hal
ini dipengaruhi oleh pelepasan TRH oleh Hipotalamus. Dimana karena pengaruh TRH,
Hipofisis anterior akan merangsang peningkatan sekresi TSH sebagai reaksi adanya
neoplasma. Peningkatan TSH ini akan meningkatkan massa tiroid yang akan berdiferesiasi
sehingga memunculkan kanker tiroid. Kanker ini umumnya akan meluas dengan metastasis
dan invasi kelenjar dan organ tubuh. Berikut perluasan kanker pada organ tubuh yang lain :2-6
a. Pada kanker papiler, kanker ini biasanya meluas dengan metastasis dalam kelenjar
dan dengan invasi kelenjar getah bening lokal. Selama bertahun-tahun tumbuh sangat
lambat dan tetap berada dalam kelenjar tiroid dan kelenjar getah bening lokal. Pada
pasien tua kanker ini bisa jadi lebih agresif dan menginvasi secara lokal ke dalam otot dan
trakea. Selain itu, dapat tumbuh cepat dan berubah menjadi karsinoma anaplastik. Pada
stadium lanjut, dapat menyebar ke paru-paru.
b. Pada kanker folikuler cenderung menyebar melalui aliran darah, menyebarkan sel-sel
kanker ke berbagai organ tubuh. Kanker ini sedikit lebih agresif dari pada kanker papiler
dan menyebar dengan invasi lokal kelenjar getah bening atau dengan invasi pembuluh
darah disertai metastasis jauh ke tulang atau paru. Kanker-kanker ini sering tetap
mempunyai kemampuan untuk mengkonsentrasi iodin radioaktif untuk membentuk
tiroglobulin dan jarang untuk mensintesis T3 dan T4.
c. Pada kanker anaplastik, terjadi invasi lokal pada stadium dini ke struktur di sekitar
tiroid lalu bermetastasis melalui saluran getah bening dan aliran darah.
d. Kanker cenderung menyebar melalui sistem getah bening ke kelenjar getah bening
dan melalui darah ke hati, paru-paru dan tulang. Pada metastase stadium dini dapat
merupakan komplikasi dari masalah kelenjar lain (sindroma neoplasia endokrin multipel).

Penatalaksanaan1,3-5
Pembedahan (Surgical)
Pengobatan pilihan dari karsinoma tiroid adalah pembedahan. Jenis pembedahan
ditentukan oleh ektensi dari tumor. Dari indikasi pembedahan dapat dipilih jenis
pembedahan dari kelenjar gondok yang bersangkutan.

Untuk keganasan yang mengenai satu lobus dimana tidak ada fasilitas potong beku,
isthmo-lobektomi cukup. Jaringan dapat dikirim ke Lembaga Patologi terdekat. Bila
hasil menunjukkan adanya tumor multisentrik, karsinoma dengan bagian-bagian
anaplastik atau pinggir sayatan masih ada sisa tumor, tiroidektomi total dapat saja
dilakukan di kemudian hari..8,9
Untuk keganasan yang mengenai kelenjar gondok dengan kecurigaan metastasis pada
kelenjar getah bening leher.8,9
1. Keganasan terbatas pada satu lobus dan pembesaran kelenjar getah bening leher
homolateral dilakukan isthmo-lobektomi dan biopsi kelenjar getah bening leher
yang mencurigakan. Bila terbukti ganas dilakukan tiroidektomi total diikuti deseksi
kelenjar getah bening radikal leher yang bersangkutan satu atau dua tahap
bergantung dari fasilitas patologi.
2. Bila keganasan mengenai kedua lobus dan pembesaran kelenjar getah bening
belum ada, dilakukan tiroidektomi total.
3. Bila keganasan mengenai kedua lobus dan sudah ada pembesaran kelenjar getah
bening leher pada satu sisi, dalam hal ini dilakukan biopsi kelenjar getah bening
leher dulu, bila hasil positif suatu metastasis karsinoma tiroid dilakukan
tiroidektomi total dengan deseksi radikal kelenjar getah bening yang bersangkutan.
4. Bila keganasan mengenai kedua lobus dan ada pembesaran kelenjar getah bening
bilateral, dalam hal ini dilakukan biopsi kelenjar getah bening leher bilateral. Bila
satu sisi positif metastasis dari karsinoma tiroid dilakukan total tiroidektomi
dengan deseksi radikal kelenjar getah bening pada sisi yang bersangkutan. Bila
kedua sisi kelenjar getah bening leher positif dengan metastasis karsinoma tiroid
dilakukan tiroidektomi total dengan deseksi radikal kelenjar getah bening leher
bilateral satu tahap atau dua tahap.
Dalam hal sudah terdapat metastasis jauh (tulang atau paru-paru) bila teknik masih
memungkinkan dilakukan tiroidektomi total untuk menghindarkan penekanan terhadap
trakea dan pembuluh darah dan kemudian diteruskan dengan radiasi eksterna/interna.
Ini terutama pada jenis karsinoma folikuler.8,9
Penderita dengan karsinoma berdiferensiasi buruk (anaplastik) selama masih
terlokalisasi pada lobus tiroid dan belum meluas ke jaringan sekitarnya (ekstensif)
dilakukan tiroidektomi total bila mungkin, bila tak memungkinkan cukup dengan
tiroidektomi subtotal atau lobektomi langsung diikuti radiasi eksterna. Di beberapa
10

pusat kanker di dunia karsinoma tiroid jenis ini diberi terapi radiasi pre dan post
operasi. Berapa jauh hasil yang diperoleh dari cara pengobatan ini masih sulit untuk
dioevaluasi, tapi Sheline dan Suredal telah mengemukakan hasil yang baik dengan
cara pengobatan ini pada kasus-kasus yang sudah incurabel.8,9
Non pembedahan
Radiasi internal dengan I131:
Pemberian I131 pada karsinoma tiroid berdasarkan bahwa beberapa karsinoma tiroid
jenis folikuler atau campuran dapat menyerap I131. Karena jaringan tiroid normal lebih
banyak dan lebih baik daya penyerapannya dari jaringan karsinoma maka syarat utama
untuk melakukan terapi ini adalah bahwa semua jaringan tiroid yang ada harus
diangkat terlebih dahulu. Jadi sifat terapi ini adalah ablatif (menghancurkan sel-sel
tumor).8,9
Khemoterapi8,9
Cara ini masih dalam penyelidikan. Cara baru ini mendapat tempat bila cara yang lain
sudah mengalami kegagalan. Pengobatan ini tidak terlalu dipakai karena hasilnya yang
kurang memuaskan. Biasanya dengan kombinasi obat Adriamycin + Oncovin.
Hormonal
Digunakan sebagai terapi suplemen/supresi terutama untuk tipe papiler atau campuran
papiler-folikuler, juga untuk mengobati hipotiroidisme pada tipe yang lain. Prinsip cara
pengobatan ini adalah menekan stimulasi dari hormon TSH yang dapat merangsang
sekresi hormon sel kelenjar gondok tiroksin yang pada gilirannya dapat merangsang
pertumbuhan karsinoma yang ada pada kelenjar tiroid. Preparat yang digunakan adalah
triiodotironin atau tiroksin. Crile mengatakan bahwa pemberian dessicated thyroid
dapat mengontrol pertumbuhan karsinoma papiler.8,9

Komplikasi3-5
1.
2.
3.
4.

Hematom akut
Cedera N. Laryngeus recurrent (suara parau)
Tetani/ kejang. Karena glandula parathyroidea juga terangkat
Hipotiroid

Prognosis1

11

Prognosis bergantung pada:5,9


-

Tipe histopatologi

Stadium klinik patologi

Lamanya penyakit hingga terdiagnosa dan diberikan pengobatan

Usia penderita
1. Karsinoma papilaris
Kanker tiroid papilaris memiliki prognosis yang baik, dengan angka kelangsungan
hidup 10 tahun melebihi 95%. Sekitar 5% sampai 20% pasien mengalami
kekambuhan lokal atau regional, dan 10% sampai 15% memiliki metastase jauh.
Prognosisnya bergantung pada beberapa faktor termasuk usia, adanya perluasan
ekstra tiroid, dan adanya metastase jauh (stadium).5,9
2. Karsinoma folikularis
Prognosis terutama bergantung pada luas invasi dan stadium sewaktu penyakit
terdiagnosa. Karsinoma folikularis yang invasiv luas tidak jarang bermetastasis, dan
hampir separuh pasien meninggal akibat penyakit mereka dalam waktu 10 tahun.
Hal ini sangat berbeda dengan karsinoma folikularis minimal invasif yang angka
kelangsungan hidupnya 10 tahun lebih 90%. Sebagian besar karsinoma.5,9
3. Karsinoma medularis
Disebut juga karsinoma solidum karena jenis ini sangat keras seperti batu. Sering
didapatkan bersamaan dengan penyakit/golongan hoemonal lainnya seperti adenoma
paratiroid, pheokromositoma, jadi lebih sering terjadi kompliasi.5,9
4. Karsinoma anaplastik
Karsinoma jenis ini adalah yang paling jarang pada keganasan yang terjadi di tiroid,
1,6 %. Tapi walau bagaimanapun, karsinoma jenis ini memiliki tingkat keberhasilan
hidup sangat rendah dibanding yang lain. Seperti keganasan tiroid yang lainnya,
pada karsinoma anaplastik juga lebih banyak menyerang wanita dibanding pria.
Biasanya menyerang wanita pada dekade 6-7. Pada sebagain besar kasus, penyakit
telah menyebar keluar kapsul tiroid ke struktur leher sekitar atau telah
bermanifestasi ke paru. Meskipun metastasis ke tempat yang jauh sering terjadi,
pada sebagian besar kasus kematian terjadi dalam waktu kurang dari 1 tahun akibat
pertumbuhan agresif dan gangguan pada struktur-struktur vital di leher.5,9

12

Kesimpulan
Karsinoma tiroid berasal dari folikel tiroid. Keganasan tiroid dikelompookan menjadi
karsinoma tiroid berdiferensiasi baik, yaitu bentuk papiler, folikuler, atau campuran
keduanya. Seperti kasus diatas, karsinoma yang sudah mencapai stadium tinggi dapat
menekan N. Larryngeus recurrens yang menyebabkan suara serak pada pasien tersebut.
Nodul tersebut juga menyebabkan pasien susah menelan, sulit bernafas dan yang
menyebabkan benjolan pada lehernya. Jadi, hipotesis diterima.

Daftar Pustaka
1. Subekti I. Karsinoma tiroid. Dalam: Sudoyo, Aru W. et al (eds). Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid III. Edisi 5. Cetakan 1. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009. p. 2031-7.
2. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Interna Erlangga;
2005.h.23,90.
3. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2005.h.691-695.
4. Setiyohadi B, Alwi I, dkk. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid ke-1. Jakarta: Interna
publishing; 2009.h.25-7,44-5,442.
5. Mansjoer A. Kapita selekta kedokteran. Jilid I. Edisi ke - 3. Jakarta: FKUI;
2001.h.287-91.

13