Anda di halaman 1dari 14

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A. Proses Pendinginan
Proses Pendinginan atau Refrigeration adalah suatu proses perpindahan
panas antara cairan pendingin atau refrigeratant dan udara ruangan yang ada,
sehingga suhu ruangan menjadi lebih rendah dari suhu lingkungan. Mesin
pendingin atau pengkondisian udara terbagi atas beberapa macam, namun pada
dasarnya memiliki proses yang sama. Berikut gambar dari siklus pendingin.

Gambar. 1.Siklus Mesin Refrigerasi dalam Diagram T-s dan P-h. (Sumber :
ASHRAE Handbook Fundamental,2005).

1.
2.
3.
4.

Siklus pendinginan terdiri dari beberapa macam tipe, diantaranya :


Siklus pendingin kompresi-uap (vapour compression refrigeration cycle)
Siklus pendingin gas (gas refrigeration cycle)
Siklus pendingin absorbs (absorbtion refrigeration cycle)
Siklus pendingin cascade (cascade refrigeration cycle)
Siklus Pendingin Kompresi-Uap (Gas Refrigeration Cycle) merupakan

salah satu siklus pendingin yang banyak diapakai pada alat pendingin, system
pendinginan udara dan pompa kalor. Agar siklus ini berjalan maka temperatur
dalam kondensor harus lebih besar dari temperatur lingkungan dan temperatur
refrigeran yang keluar dari katup ekspansi harus lebih kecil dari temperatur ruang
yang didinginkan. Berikut gambar dari siklus pendingin kompresi uap:

Gambar 2. Siklus Pendingin Kompresi-Uap. (Sumber: Yunus A. Cengel,


Thermodinamyc 4th edition,hal. 567)
B. Komponen Komponen Utama Mesin Pendingin
Pada mesin pendingin terdapat 4 komponen utama yang dipergunakan ,
yaitu kompressor, kondensor, evaporator, dan juga katup ekspansi.Sedangkan
komponen-komponen pendukung yang terdapat dalam mesin pendingin, antara
lain yaitu: filter/drier, oil separartor, receiver tank, refrigerant sight glass, shut off
valve, akumulator.

1. Kompresor
Kompresor merupakan jantung dari sistem refrigerasi. Pada saat
kompresor menghisap uap refrigeran yang bertekanan rendah dari evaporator dan
mengkompresinya menjadi uap bertekanan tinggi sehingga uap akan tersirkulasi.
Empat jenis kompresor yang paling umum adalah kompresor torak, kompresor
sekrup, kompresor sentrifugal dan kompresor sudu. Dua dari karakteristik prestasi
yang terpenting untuk suatu kompresor adalah kapasitas refrigerasi dan kebutuhan
daya. Kedua karakteristik kompresor yang bekerja dengan kecepatan konstan

tersebut, banyak ditentukan oleh langkap hisap dan buang. Berikut salah satu
contoh dari jenis-jenis kompresor.

Gambar 3. Kompresor Hermatic. (Sumber: Althouse, Modern Refrigeration and


Air Conditioning 18thEdition, hal 147)
2. Kondensor
Kondenser juga merupakan salah satukomponen utama dari sebuah
mesin pendingin. Pada kondenser terjadi perubahan wujud refrigeran dari uap
super-heated bertekanan tinggi ke cairan sub-cooled bertekanan tinggi. Agar
terjadi perubahan wujud refrigeran, maka kalor harus dibuang dari uap
refrigeran. Kondensor dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: kondenser
berpendingin udara dan kondenser berpendingin air.

Gambar 4.Aliran Refrigerant pada Kondensor. (Sumber: Whitman, Refrigeration


and Air Conditioning Technology 5th edition, hal 506)
3. Evaporator
Pada evaporator, refrigeran menyerap kalor dari ruangan yang
didinginkan. Penyerapan kalor ini menyebabkan refrigeran mendidih dan
berubah wujud dari cair menjadi uap. Adanya proses perpindahan panas pada
evaporator dapat menyebabkan perubahan wujud dari cair menjadi uap.
Kapasitas evaporator adalah kemampuan evaporator untuk menyerap panas
dalam periode waktu tertentu, dan sangat ditentukan oleh perbedaan temperatur

evaporator. Kapasitas evaporator didefinisikan sebagai jumlah kalor yang


diserap oleh evaporator.

Gambar 5. Evaporator. (Sumber: Whitman, Refrigeration and Air Conditioning


Technology 5th edition, hal 393).

4. Katup Ekspansi
Setelah refrigeran terkondensasi di kondenser, refrigeran cair tersebut
masuk ke katup ekspansi yang menurunkan tekanan refrigeran cair dan
mengontrol jumlah refrigeran yang masuk ke evaporator serta menjaga
perbedaan tekanan antara tekanan tinggi dan tekanan rendah. Jenis-jenis katup
ekspansi adalah katup ekspansi pipa kapiler, katup ekspansi otomatis, dan
katup ekspansi termostatik.

Gambar 6. Katup TXV. (Sumber: Whitman, Refrigeration and Air


Conditioning Technology 5th edition, hal 445)
Komponenkomponen tambahan yang digunakan dalam mesin pendingin
adalah :
1. filter dan drier yang berfungsi untuk menyaring kotoran didalam sistem, agar
tidak sampai masuk kedalam alat ekspansi dan kompresor.

10

2. Oil separator yang berfungsi untuk memisahkan refrigeran dengan uap oli
dari kompresor, dan juga membatasi oli yang terbawa bersama refrigeran.
3. Receiver tank digunakan sebagai katup ekspansi untuk pengatur refrigeran.
4. Refrigerant Sight Glass digunakan untuk mengetahui apakah isi refrigeran
telah cukup didalam sistem atau adakah hambatan didalam saluran cair.
5. Shut off valve berfungsi sebagai pengisolir dari sistem apabila sistem tersebut
mengalami kerusakan.
6. Accumulator berfungsi sebagai tempat penampugan sementara, untuk
menahan

masuknya

campuran

dari

pelumas

refrigeran

dan

untuk

mengembalikan campuran pelumas refrigeran tersebut sehingga kompresor


dapat dikendalikan dengan aman.
C. Coefficient Of Performace (COP)
Unjuk kerja dari sebuah mesin kalor dapat dideskripsikan sebagai
efesiensi thermal. Unjuk kerja dari mesin pendingin dan pompa kalor dapat
diekspresikan oleh rasio dari penggunaan panas yang bekerja, atau dapat juga
disebut dengan rasio energi atau coefficient of performance (COP). (Cengel,
1998,p.266).
Unjuk kerja (COP) dari siklus pendingin dapat diekspresikan pada
sebuah sistem siklus efisiensi. Secara ketetapan matematika COP didefinisikan
sebagai rasio dari panas yang dihisap dari ruang yang didinginkan terhadap kerja
yang digunakan untuk memindahkan panas tersebut.
Untuk dapat menghitung COP secara benar, maka energi yang dialirkan
menuju kompresor harus diubah kedalam energi panas pada tiap unitnya. Dengan
kata lain COP secara teoritis sama dengan efek pendinginan dari panas yang
dihisap pada evaporator (qevaporator) dibagi dengan kerja kompresi dari kompresor
(wcompression).

11

Kerja input kompresor dapat dicari dengan hukum thermodinamika


seperti yang telah ditulis di atas. Pada gambar 10, proses kompresi pada
kompresor terjadi pada titik 4 adalah titik 3 4, dimana titik 3 menyatakan titik
masuk (inlet port) dan titik 4 adalah titik keluar (outlet). Berdasarkan hukum
thermodinamika Persamaan 12 menjadi:
2
2
Ve
Vi

QW = m e he +
+ gz e m i hi +
+ gz i
2
2

Dimana :

: Laju aliran kalor (m3/s)

: Laju kerja aliran (kJ)

m e
he
V e2

: Jumlah laju aliran massa yang keluar (m3/s)


: Entalphi keluar (kJ/kg)
: Kecepatan aliran keluar (m/s)

: Gravitasi (m/s2)

ze

: Ketinggian aliran keluar (m)

m i
hi
V i2
g

: Jumlah laju aliran massa yang masuk (m3/s)


: Entalphi masuk (kJ/kg)
: Kecepatan aliran masuk (m/s)
: Gravitasi (m/s2)

.... (1)

12

zi

: Ketinggian aliran masuk (m)


Bila diterapkan pada kompresor pada sistem pendingin digambar 9 maka

akan menjadi:

W
= m 4 h4 + V 4 + gz 4 m 3 h3 + V 3 + gz 3
Q
2
2
Dimana :

: Laju aliran kalor (m3/s)

: Laju kerja aliran (kJ)

m 4
h4
V 4

: Jumlah laju aliran massa yang keluar (m3/s)


: Entalphi keluar (kJ/kg)
: Kecepatan aliran keluar (m/s)

: Gravitasi (m/s2)

z4

: Ketinggian aliran keluar (m)

m 3
h3
V 3

: Jumlah aliran massa yang masuk (m3/s)


: Entalphi masuk (kJ/kg)
: Kecepatan aliran masuk (m/s)

: Gravitasi (m/s2)

z3

: Ketinggian aliran masuk (m)

(2)

13

Bila diasumsikan:

Steady sehingga m 4= m3

Proses reversible (isentropik) sehingga Q = 0

Efek energi kinetik dan energi potensial diabaikan


Maka persamaan diatas akan menjadi:
= m 4 ( h 4 ) m 3 ( h 3 )
W
(kW) . (3)
Jadi kerja kompresi dari kompresor pada sistem diatas adalah
w = h3-h4 (kJ/kg) ... (4)
sama halnya dengan kerja kompresor, efek pendinginan (refrigeration
effect)dari panas yang dihisap pada evaporator dapat dicari dengan hukum
thermodinamika seperti yang telah ditulis diatas. Pada gambar 9, proses panas
masuk pada evaporator terjadi pada titik 2 3, dimana titik 2 menyatakan titik
masuk (inlet port) dan titik keluar (outlet port). Berdasarkan hukum
thermodinamika persamaan 10:
2
2
W
= m e he + v e + gz e m i h i+ v i + gzi
Q
2
2

Dimana :

: Laju aliran kalor (m3/s)

: Laju kerja aliran (kJ)

m e
he
ve

: Jumlah laju aliran massa yang keluar (m3/s)


: Entalphi keluar (kJ/kg)
: Kecepatan aliran keluar (m/s)

: Gravitasi (m/s2)

ze

: Ketinggian aliran keluar (m)

.. (5)

14

m i

: Jumlah laju aliran massa yang masuk (m3/s)

hi

: Entalphi masuk (kJ/kg)

v i

: Kecepatan aliran masuk (m/s)

: Gravitasi (m/s2)

zi

: Ketinggian aliran masuk (m)

Bila diterapkan pada evaporator pada sistem pendingin digambar 9, maka akan
menjadi

W
= m 3 h3 + v 3 + gz 3 m 2 h 2+ v 2 + gz 2
Q
2
2
Dimana :

: Laju aliran kalor (m3/s)

m 3

: Laju kerja aliran (kJ)


: Jumlah laju aliran massa yang keluar (m3/s)

h3

: Entalphi keluar (kJ/kg)

v 3

: Kecepatan aliran keluar (m/s)

: Gravitasi (m/s2)

z3

: Ketinggian aliran yang keluar (m)

m 2

: Jumlah laju aliran massa yang masuk (m3/s)

h2

: Entalphi masuk (kJ/kg)

v 2

: Kecepatan aliran masuk (m/s)

: Gravitasi (m/s2)

z2

: Ketinggian aliran yang masuk (m)

Bila dirumuskan:

.. (6)

15

Steady state sehingga m 3= m 2

Tidak ada kerja yang terjadi sehingga W = 0


Efek energi kinetik dan energi potensial diabaikan
Maka persamaan diatas akan menjadi:

Q=
m 3 ( h3 ) m 2 ( h 2 ) (kW) (7)
Berdasarkan penurunan persamaan diatas COP dapat dicari dengan
menggunakan persamaan rumus sebagai berikut :
q
( h1h 4 )
COP= evaporator =
q kompresor ( h2 h1 ) (8)
COP dapat disederhanakan dengan rumusan sebagai berikut:
Q ( h1h 4 )
COP= =
..
W ( h2h1 )
(9)
Dimana COP = coefficient of formance
Qin

Efek pendinginan (refrigeration effect) dari panas yang dihisap pada


evaporator (kW)

Win

Kerja kompresi dari kompresor (kW)

(h1-h4) Perbedaan entalpi state 1 dengan entalpi state 4 yang terjadi pada
evaporator (kJ/kg)
(h2-h1) Perbedaan entalpi state 2 dengan entalpi state 1 yang terjadi pada
kompresor (kJ/kg)
D. Pressure Entalphy Diagram
Kondisi dari suatu refrigerant pada keadaan thermodinamika dapat
digambarkan atau ditunjukkan dari titik (point) pada p-h chart. Titik-titik yang
terdapat pada diagram p-h tersebut menggambarkan sebuah kondisi fakta (state)
refrigerant.Grafik dibedakan dalam 3 area yang masing-masing dipisahkan oleh

16

garis saturated liquid dan saturated vapor. Saturated liquid line pada garfik yang
terletak disebelah kiri disebut subcooled region. Disdembarang titik subcooled
region, refrigerant berada pada fase liquid dan temperaturnya berada dibawah
temperatur saturasi.(Dossat, 2001, p.188). Area yang berada disebelah kanan
saturated vapor line adalah superheated region dan refrigerant berada dalam
bentuk superheated vapor. Bagian grafik antara garis saturated liquid dan
saturared vapor adalah daerah pencampuran menunjukkan perubahan fase pada
refrigeran antara fase cair dan uap. Dossat, 2001, p.134), jarak antara dua garis
sepanjang garis tekanan konstan, sebagaimana dibaca dalam skala entalphi pada
dasar grafik merupakan panas yang tersembunyi (latent heat) dari vaporasi
refrigeran pada tekanan tersebut. Garis saturated liquid dan saturated vapor
adalah tidak tepat secara pararel pada keduanya karena panas yang tersembunyi
dari jenis vaporasi refrigerant bervariasi terhadap tekanan saat terjadi perubahan
fase.
Pada grafik, perubahan fase dari bentuk cair ke uap makin terlihat jelas
dari kiri ke kanan, dimana perubahan fase dari uap ke cair terlihat jelas dari kanan
ke kiri. Ketika mendekati garis saturated liquid, pencampuran liquid-vapor
sepenuhnya liguid, sebaliknya jika mendekati garis saturated vapor, pencampuran
liqiud-vapor adalah vapor. Contoh gambar diagram p-h dapat dilihat pada gambar
berikut:

17

Gambar 7. Contoh Gambar Diagram p-h. (Sumber: Arora, C.P. Refrigeration and
Air Conditioning. Second Edition. Tata Mc Graw Hill Publishing Company Ltd.
2000).
E. Refrigeran R-134a
R-134a sebagai salah satu refrigeran alternatif yang memiliki beberapa
properti yang baik, tidak beracun, tidak mudah terbakar dan relatif stabil. Namun
R-134a juga memiliki kelemahan di antaranya, tidak bisa dijadikan pengganti R12 secara langsung tanpa melakukan modifikasi sistem refrigerasi (drop in
subtitute), relatif mahal, dan masih memiliki potensi sebagai zat yang dapat
menyebabkan efek pemanasan global karena memiliki Global Warming Potential
(GWP) yang signifikan. Selain itu R-134a sangat bergantung kepada pelumas
sintetik yang sering menyebabkan masalah dengan sifatnya yang higroskopis.
Kelebihan dari refrigeran R-134a yaitu refrigeran ini merupakan
senyawa kimia utama yang stabil untuk membawa panas dan tidak mudah
terbakar, memiliki karakteristik yang tidak berbau, tidak berwarna dan tidak
bersifat korosif juga tidak beracun. Refrigerant ini juga dibuat agar seminimal
mungkin tidak menipiskan lapisan ozon.

F. Hidrokarbon MC-134
Hidrokarbon adalah senyawa yang tersusun atas atom hidrogen dan
karbon. Campuran hidrokarbon murni tersusun atas beberapa jenis molekul
hidrokarbon, sedangkan campuran hidrokarbon tak murni mengandung zat lain

18

selain hidrogen dan karbon (seperti sulfur dan nitrogen). Refrigeran hidrokarbon
merupakan gabungan dari semua susunan cairan hydrogen dan carbon dalam
berbagai bagian jenis diantaranya adalah methane (R-50), ethane (R-170), butane
(R-600), isobutene (R-600a), propene (R-1270), dan ethene (R-1150).
Dari semua jenis refrigeran tersebut sangat mudah terbakar dan meledak.
Ketika fluida kerja tersebut bekerja seperti obat bius pada tingkatan yang
bervariasi, maka fluida kerja tersebut dapat diklasifikasikan sebagai racun ringan.
Walaupun demikian, tidak secara keseluruhan senyawa-senyawa tersebut dapat
diserap dengan baik. Jenis-jenis hidrokarbon yang ada saat ini sebagai bahan
pendingin dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3. Jenis-Jenis Hidrokarbon
Refrigerant Number or
Chemical Name
Product Name
R-170
Ethane
R-1270
Propylene
R-290
Propane
R-600
n-Butane
R-600a
Isobutane
R-601
n-pentane
R-601a
Isopentane
(Sumber: http://www.pertamina.co.id)

Replaces
R-13, R-23, R-503
R-22, R-502
R-22
R-22
R-12, R-134a
R-123
R-123

Dalam hal ini hidrokarbon yang akan digunakan adalah MC-134, dimana
refrigeran MC-134 terbuat dari campuran hidrokarbon yang effisien dan ramah
terhadap lingkungan, sebagai pengganti dari CFC-12 dan semua senyawa yang
pengganti CFC-12 dan HFC-134a yang lainnya. MC-134 ini tidak membutuhkan
retrofitting dan sesuai dengan semua material, begitu juga dengan oli yang
diapakai dari sistem refrigeran ini.

19

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan perangkat NIST REFPROP


6.0 dimana penggunaan campuran refrigeran hidrokarbon atau MC-134 adalah
99.6 % untuk propane, 0.25 % untuk isobutana dan 0.15 % butane.