Anda di halaman 1dari 17

KAJIAN TEKNIS SISTEM PENYALIRAN TAMBANG

LOKASI PENAMBANGAN BATU GAMPING PT. SEMEN PADANG DI BUKIT KARANG


PUTIH SUMATRA BARAT INDONESIA

SISTEM PENYALIRAN TAMBANG


PT. SEMEN PADANG

Oleh :

HENDRA PRATAMA
2013 / 1306426

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGRI PADANG
2016
1

HALAMAN PENGESAHAN

KAJIAN TEKNIS SISTEM PENYALIRAN TAMBANG


LOKASI PENAMBANGAN BATU GAMPING PT. SEMEN PADANG DI BUKIT KARANG
PUTIH SUMATRA BARAT INDONESIA

Disusun Oleh :

HENDRA PRATAMA
2013 / 1306426

Diajukan sebagai syarat mengikuti Ujian Akhir Semester Pendek mata kuliah
Hidrogeologi dan Penyaliran Tambang

Disahkan Oleh :

Drs. Murad MS, MT


Nip. 1963 1109 198903 1001

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGRI PADANG
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadiran Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan sehingga
tugas Kajian Teknis Sistem Penyaliran Tambang di Lokasi Tambang Bukit Karang Putih PT.
Semen Padang dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Kajian ini merupakan bagian dari
tugas selama mengikuti perkuliahan Hidrogeologi dan Penyaliran Tambang sebagai
mahasiswa fakultas teknik pertambangan, Universitas Negri Padang.
PT. Semen Padang sebagai perusahaan tujuan saya memilih judul untuk Kajian Teknis
Sistem Penyaliran Tambang. Dalam menyusun tugas Kajian Teknis Sistem Penyaliran
Tambang ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu saya ingin mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu dalam
kesempatan ini.
Sebagai manusia biasa yang tidak lepas dari berbagai kekurangan, saya menyadari
bahawa didalam tugas ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran
sangat saya harapkan guna penyempurnaan tugas ini.
Akhir kata semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi kita semua, sekian dan
terimakasih.

Padang, Juli 2016


Penyusun

HENDRA PRATAMA

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ......................................................................................................
i
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................................
ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................................
iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................................
iv
DAFTAR TABEL GAMBAR ........................................................................................
v
BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

PENDAHULUAN .......................................................................................
.
A. Latar
Belakang ........................................................................................
B. Tujuan Penelitian ....................................................................................
C. Batasan Masalah .....................................................................................
D. Metoda Penelitian ...................................................................................
E. Sistem Penelitian ....................................................................................
TINJAUAN UMUM ....................................................................................
A. Sejarah Singkat Perusahaan ....................................................................
B. Lokasi .....................................................................................................
C. Topografi ................................................................................................
D. Curah
Hujan ............................................................................................
E. Keadaan Geologi ....................................................................................
KAJIAN PUSTAKA ....................................................................................
A. Sistem Penyaliran Tambang ...................................................................
B. Perencanaan Pengelolaan Air .................................................................
C. Sumber Air .............................................................................................
D. Air Limpasan Hujan ...............................................................................
E. Mine Drainage ........................................................................................
F. Mine Dewatering ....................................................................................
PEMBAHASAN ..........................................................................................
A. Hasil ........................................................................................................
B. Pembahasan ............................................................................................
PENUTUP ....................................................................................................
A. Kesimpulan .............................................................................................
B. Saran .......................................................................................................

DAFTAR KEPUSTAKAAN ..........................................................................................


LAMPIRAN-LAMPIRAN .............................................................................................

1
1
1
1
2
3
5
5
6
6

7
7
8
9
9
11
12

DAFTAR TABEL GAMBAR


Tabel 1.
Tabel 2.
Tabel 3.
Tabel 4.
Tabel 5.
Tabel 6.
Tabel 7.
Tabel 8.
Tabel 9.
Tabel 10.
Tabel 11.
Tabel 12.
Tabel 13.

Logo PT. Semen Padang dari masa kemasa


Lokasi Penambangan PT. Semen Padang
Peta Topografi PT. Semen Padang
Curah hujan Kota Padang
Sistem penyaliran tambang
Data pengolahan air bersih PT. Semen Padang
Skema pembagian air PT. Semen Padang
Metode siemens
Metode deep well pump
Metode elektro osmosis
Metode small pipe with vacuum pump
Penyaliran dengan terowongan (tunnel/ adit)
Penyaliran dengan cara sumuran (sump)

3
5
5
6
7
8
9
9
10
10
10
11
11

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sistem penyaliran tambang adalah suatu usaha yang diterapkan pada daerah
penambangan untuk mencegah, mengeringkan, atau mengeluarkan air yang masuk
kedaerah penambangan. Upaya ini dimaksudkan untuk mencegah terganggunya
aktivitas penambangan akibat adanya air dalam jumlah yang berlebihan, terutama
pada musim hujan.
Hal yang perlu diperhatikan adalah kapan cuaca ekstrem terjadi, yaitu ketika air
tanah dan air limpasan dapat membahayakan kegiatan penambangan, oleh sebab itu
kondisi cuaca pada tambang terbuka sangat besar efeknya terhadap aktifitas
penambangan. Apabila hal ini sudah diperhitungkan sebelumnya, maka kegiatan
penambangan akan terhindar dari kondisi yang membahayakan tersebut.
B. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini dimaksudkan untuk memperlambat kerusakan alat serta
mempertahankan kondisi kerja yang aman, sehingga alat alat mekanis yang
digunakan pada daerah tersebut mempunyai umur yang lama.
C. BATAS MASALAH
Dalam penelitian kajian ini penulis membahas tentang :
1. Sistem penyaliran tambang
2. Perencanaan pengelolaan air
3. Sumber air
4. Air limpasan hujan
5. Mine drainage
6. Mine dewatering
D. METODA PENELITIAN
Penanganan dalam masalah air tambang dalam jumlah besar pada tambang
terbuka dapat dibedakan menjadi beberapa metoda :
1. Mengeluarkan Air Tambang (Mine Dewatering)
Merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah masuk kelokasi
penambangan. Beberapa metoda penyaliran tambang (mine dewatering) adalah
sebagai berikut :
a. membuat sump didalam font tambang (pit)
sistem ini diterapkan untuk membuang air tambang dari lokasi kerja. Air tambang
dikumpulkan pada sumuran (sump), kemudian dipompa keluar. Pemasangan jumlah
pompa tergantung pada kedalaman penggalian dengan kapasitas pompa
menyesuaikan debit air yang masuk kedalam lokasi penambangan.

b. Membuat paritan
Pembuatan parit sangat ideal diterapkan pada tambang terbuka open cast atau
kuari. Parit dibuat berawal dari sumber mata air atau air limpasan menuju kolam
penampungan, langsung ke sungai atau diarahkan keselokan (riool). Jumlah parit ini
disesuaikan dengan kebutuhan sehingga bisa lebih dari satu. Apabila parit harus
dibuat melalui lalulintas tambang maka dapat dipasang gorong-gorong yang terbuat
dari beton atau galvanis. Dimensi parit diukur berdasarkan volume maksimum pada
saat musim penghujan deras dengan memperhitungkan kemiringan lereng. Bentuk
standar melintang dari parit umumnya trapesium.
1

2. Penyaliran Tambang (Mine Drainage)


Adalah mencegah air masuk kelokasi penambangan dengan cara membuat
saluran terbuka sehingga air limpasan yang masuk kelubang bukaan dapat
langsung dialirkan keluar lokasi penambangan. Upaya ini umumnya dilakukan
untuk penanganan air tanah yang berasal dari sumber air permukaan. Beberapa
metoda penyaliran tambang (mine drainage) adalah sebagai berikut :
a. Metoda siemens
Pada setiap jenjang dari kegiatan penambangan dipasang pipa ukuran 8 inch, di
setiap pipa tersebut pada bagian ujung bawah diberi lubang-lubang, pipa yang
berlubang ini berhubungan dengan air tanah, sehingga dipipa bagian bawah akan
terkumpul air, yang selanjutnya dipompa keatas secara seri dan selanjutnya dibuang.

b. Metoda elektro osmosis


Bilamana lapisan tanah tediri dari tanah lempung, maka pemompaan sangat sulit
diterapkan karena adanya efek kapilaritas yang disebabkan oleh sifat dari tanah
lempung itu sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan cara elektro
osmosis. Pada metode ini digunakan batang anoda serta katoda. Bila elemen-elemen
ini dialiri listrik, maka air pori yang terkandung dalam batuan akan mengalir menuju
katoda (lubang sumur) yang kemudian terkumpul dan dipompa keluar.

c. Metoda kombinasi dengan lubang bukaan bawah tanah


Dilakukan dengan membuat lubang bukaan mendatar didalam tanah guna
menampung aliran air dari permukaan. Beberapa lubang sumur dibuat untuk
menyalurkan air permukaan kedalam terowongan bawah tanah tersebut. Cara ini
cukup efektif karena air akan mengalir sendiri akibat pengaruh gravitasi sehingga
tidak memerlukan pompa.

E. SISTEM PENELITIAN
1. Permeabilitas
Disamping parameter-parameter lain, permeabilitas merupakan salah satu yang perlu
diperhitungkan. Secara umum permeabilitas dapat diartikan sebagai kemampuan suatu
fluida bergerak melalui rongga pori massa batuan.

2. Rencana Kemajuan Tambang


Rencana kemajuan tambang nantinya akan mempengaruhi pola alir saluran yang akan
dibuat, sehingga saluran tersebut menjadi efektif dan tidak menghambat sistem kerja yang
ada.

3. Curah Hujan
Sumber utama air yang masuk kelokasi penambangan adalah air hujan, sehingga
besar kecilnya curah hujan yang terjadi disekitar lokasi penambangan akan
mempengaruhi banyak sedikitnya air tambang yang harus dikendalikan. Data curah hujan
biasanya disajikan dalam data curah hujan harian, bulanan, dan tahunan yang dapat
berupa grafik atau tabel.
Analisa curah hujan dilakukan dengan menggunakan metode gumbel yang dilakukan
dengan mengambil data curah hujan bulanan yang ada, kemudian ambil curah hujan
maksimum setiap bulannya dari data tersebut, untuk sampel dapat dibatasi jumlahnya
sebanyak data.
Dengan menggunakan distribusi gumbel curah hujan rencana untuk periode ulang
tertentu dapat ditemukan. Periode ulang merupakan suatu kurun waktu dimana curah
hujan rencana tersebut diperkirakan berlangsung sekali. Penentuan curah hujan rencana
untuk periode ulang tertentu berdasarkan distribusi gumbel. Untuk itu data curah hujan
harus diolah terlebih dahulu menggunakan kaidah statistik mengingat kumpulan data
adalah kumpulan yang tidak tergantung satu sama lain, maka untuk proses pengolahannya
digunakan analisis regresi metode statistik.

BAB II
TINJAUAN UMUM
A. SEJARAH SINGKAT PERUSAHAAN
PT Semen Padang (Perusahaan) didirikan pada tanggal 18 Maret 1910 dengan nama NV
Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (NV NIPCM) yang merupakan pabrik
semen pertama di Indonesia. Kemudian pada tanggal 5 Juli 1958 Perusahaan dinasionalisasi
oleh Pemerintah Republik Indonesia dari Pemerintah Belanda. Selama periode ini,
Perusahaan mengalami proses kebangkitan kembali melalui rehabilitasi dan pengembangan
kapasitas pabrik Indarung I menjadi 330.000 ton/ tahun. Selanjutnya pabrik melakukan
transformasi pengembangan kapasitas pabrik dari teknologi proses basah menjadi proses
kering dengan dibangunnya pabrik Indarung II, III, dan IV.
Pada tahun 1995, Pemerintah mengalihkan kepemilikan sahamnya di PT Semen Padang
ke PT Semen Gresik (Persero)Tbk bersamaan dengan pengembangan pabrik Indarung V. Pada
saat ini, pemegang saham Perusahaan adalah PT Semen Indonesia (Persero)Tbk dengan
kepemilikan saham sebesar 99,99% dan Koperasi Keluarga Besar Semen Padang dengan
saham sebesar 0,01 %. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk sendiri sahamnya dimiliki
mayoritas oleh Pemerintah Republik Indonesia sebesar 51,01%. Pemegang saham lainnya
sebesar 48,09% dimiliki publik. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. merupakan perusahaan
yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Gambar 1. Logo PT. Semen Padang dari masa kemasa


Logo PT Semen Padang (PTSP) pertama kali diciptakan pada 1910, semasih bernama
Nederlandsch Indische Portland Cement (Pabrik Semen Hindia Belanda). Logonya berbentuk
bulat, terdiri atas dua lingkaran (besar dan kecil) dengan posisi lingkaran kecil berada di
dalam lingkaran besar. Di antara kedua lingkaran tersebut terdapat tulisan "Sumatra Portland
Cement Works". Di dalam lingkaran kecil terdapat huruf N.I.P.C.M, singkatan Nederlandsch
Indische Portland Cement Maatschappij, sebuah pabrik semen di Indarung, 15 km di timur
kota Padang.
Logo itu hanya berumur 3 tahun karena pada 1913 dibuat sebuah logo baru, meski bentuk
bulat dengan dua garis lingkaran dan kata-katanya tetap dipertahankan. Hanya saja, NIPCM
ditambah dengan NV. Nah, ini yang menarik: ada gambar seekor kerbau jantan dalam
lingkaran kecil tampak sedang berdiri menghadap ke arah kiri dengan latar panorama alam
Minangkabau. Gambar ini menggantikan posisi huruf NIPCM sebelumnya.
Logo itu diubah lagi pada 1928. Kata Nederlandsch Indische diubah menjadi Padang. Jadi,
tulisan di antara kedua lingkaran tersebut adalah N.V. Padang Portland Cement Maatschapij.
Di bagian bawahnya tertulis Fabrik di Indarung Dekat Padang, Sumatera Tengah, yang ditulis
dengan huruf yang lebih kecil. Wah, telah muncul bahasa Melayu, setelah Sumpah Pemuda
pada 1928. Dalam lingkaran kecil, selain gambar kerbau, terdapat gambar seorang laki-laki
yang sedang berdiri di depan sebelah kanan kerbau sambil memegang tali kerbaunya. Ada
pula gambar sebuah rumah adat, kelihatan hanya dua gonjongnya, di belakang sebelah kanan
kerbau. Panorama di latar belakang ditambah dengan lukisan Gunung Merapi, lambang
sumarak ranah Minang. Gambar kerbau tetap ditampilkan mendominasi di lingkaran kecil
tersebut.
Jepang kemudian datang membawa perubahan, NV PPCM diganti dengan Semen
Indarung. Logo PT SP tidak diubah, kecuali perubahan tulisan dari bahasa Belanda ke bahasa
Indonesia. Demikianlah sampai Perang Kemerdekaan (1945-1949). Ada sedikit perubahan,
yaitu digantinya tulisan Semen Indarung dengan Kilang Semen Indarung. Namun, saat
Belanda kembali pada 1950, nama NVPPCM muncul kembali.Logo PTSP dimodifikasi lagi,
pada 1958, seiring dengan kebijakan pemerintah pusat tentang nasionalisasi perusahaan asing.
Logonya yang bulat dipertahankan, tapi tulisan NV PPCM diganti dengan Semen
Padang Pabrik Indaroeng. Gambar kerbau tetap ada. Tapi tiada lagi gambar seorang laki-laki,
rumah adat, dan gambar panorama Gunung Merapi. Penggantinya adalah gambar atap rumah
gadang dengan lima gonjong di atas gambar kerbau.
Logo PTSP diperbarui lagi pada 1970. Dua lingkaran dihilangkan, sehingga tulisan Padang
Portland Cement Indonesia dibuat melingkar sekaligus menjadi pembatasnya. Gambar kerbau
hanya menampilkan kepalanya saja dengan posisi menghadap ke depan. Di atas kepala kerbau
dibuat pula gambar atap/gonjong (5 buah) rumah adat. Muncul pula moto PTSP yang
berbunyi "Kami Telah Berbuat Sebelum yang Lain Memikirkan". Namun, pada 1972 logo
tersebut dimodifikasi dengan memunculkan dua garis lingkaran: besar dan kecil. Perubahan
terjadi lagi pada 1991, saat tulisan Padang Portland Cement menjadi Padang Cement
Indonesia.
Pada 1 Juli 2012, PT SP kembali melakukan perubahan logo. Pada perubahan kali ini, PT
Semen
Padang
tidak
melakukan
perubahan
yang
bersifat
fundamental
karena brand perusahaan tertua di Indonesia ini dinilai sudah kuat. Pergantian ini dilakukan
4

dengan pertimbangan, logo yang dipakai sebelumnya memiliki ciri, tanduk kerbau kecil
dan complicated (rumit). Mata kerbau kelihatan old (tua), gonjong dominan, dan telinga
terlihat off position. Pada logo baru disempurnakan menjadi, tanduk kerbau menjadi besar
dan kokoh/melindungi, mata kelihatan tajam/tegas, gonjong menjadi sederhana (crown) , dan
telinga pada posisi on (selalu mendengar).
Logo baru ini memiliki kriteria dan karakter yang kokoh (identitas semen), universal (tidak
kedaerahan), lebih simpel (mudah diingat/memorable), dan lebih konsisten (aplicable dalam
ukuran terkecil).

B. LOKASI
PT. Semen Padang berlokasi dikelurahan indarung, kec. Lubuk kilangan, kotamadya
padang, provinsi sumatera barat. Terletak 15km disebelah timur kota padang, yaitu secara
geografis terletak pada koordinat 100 0 2720 BT 1000 3212 BT dan 000 5747 LS 010
0048 LS. Indarung terletak dikaki pegunungan bukit barisan, didaerah ini mengalir
beberapa sungai antara lain sungai batang kuranji, sungai batang idas, sungai batang kasumba,
dan sungai batang arau. Kuari batu gamping (bukit karang putih) terletak dikelurahan batu
gadang. Kec lubuk kilangan 2 km dari pabrik semen padang kearah selatan indarung yang
dihubungkan dengan sebuah jalan yang terbuat dari beton. Bukit karang putih ini secara
geografis terletak pada koordinat 100 0 2431 BT 1000 2504 BT dan 000 5747 LS 010
0048 LS, dimana membujur dari arah utara keselatan dengan puncak tertinggi 554m dan
puncak terendah 400m diatas permukaan laut.

Gambar 2. Lokasi Penambangan PT. Semen Padang

C. TOPOGRAFI

Gambar 3. Peta topografi PT. Semen Padang

D. CURAH HUJAN
Kotamadya Padang dan Indarung khusunya beriklim tropis dengan suhu 2232C.
Daerah inidipengaruhi oleh dua musim yaitu musim kemarau terjadi pada bulan
januariseptember dan musim penghujan terjadi pada bulan oktoberdesember. Curah
hujan rata rata tiap bulan adalah28,85 mm.

Gambar 4. Curah hujan kota padang

E. KEADAAN GEOLOGI
Secara regional daerah penelitian terletak pada lereng sebelah barat dari jalur pegunungan
bukit barisan. Dari hasil penyelidikan Kastowo dan Gerhard (1972) diketahui bahwa daerah
batuan yang tertua dan tersingkap disekitar indarung dan sekitarnya berumur tersier jura,
terdiri dari kelompok batuan metamorf yang umumnya mendasari perbukitan dan pegunungan
pegunungan. Kelompok batuan ini terdiri dari batuan metamorf, batu lanau yang berasosiasi
dengan filit dan batu lempung tufa yang bersifat marmeran kristalin. Diatas batuan pratersier tersebut secara tidak selaras diendapkan kelompok batuan vulkanik tersier kuarter dan
endapan kuarter ini terdiri dari aliran aliran (lahar, konglomerat), perselingan antara andesit
dan tufa kristal yang sangat keras. Untuk endapan kuarter terdiri dari endapan kipas alluvial
yang merupakan hasil rombakan dari endapan gunung api dan sebagian kelompok batuan
paling mudah adalah endapan aluvial, terdiri dari bongkah bongkah batuan beku, kerikil,
pasir, dan lanau yang bersifat lepas.
Keadaan geologi daerah ini merupakan bukit yang sangat terjal dengan sudut lereng alami
mencapai lebih dari 450. Bukit karang putih umumnya ditempati oleh batugamping atau
marmer dan terobosan terobosan batuan beku (baslt, andesit, dan granit). Lapisan batu
gamping terletak diatas batu lempung tufaan dengan ketebalan 100 350m. Disebelah selatan
lokasi penambangan ditemukan batuan basalt. Hal ini dapat diperkirakan bahwa didaerah ini
terdapat ekstruksi basalt. Ekstruksi inilah yang menyebabkan terjadinya peleburan
batugamping menjadi kalsit dengan kristal yang besar. Batuan tertua yang dijumpai pada
bukit karang putih ialah batuan kerisikan yang sebenarnya terdiri dari lempung tufaan yang
berasosiasi dengan rijang cherl. Dinding dinding bukit batu ini memperlihatkan gejala
pelarutan melalui kekar kekar yang terlihat dari adanya dua gua gua didaerah tersebut
(PPTM, 1982). Arah umum jurus strike bidang pelapisan yang terdapat dibukit karang putih
adalah N 250 700 E (Departemen Pertambangan PT. Semen Padang) merupakan suatu blok
antiklin dengan proses pelapisan berarah lebih kurang timur laut sampai barat daya, dimana
bagian tengahnya dipotong oleh sesar sehingga membentuk struktur graben. Lapisan tanah
penutup yang dijumpai pada lokasi penambangan terdiri dari lapisan batugamping lapuk dan
rijang dengan ketebalan antara 0,1 5m.

BAB III
KAJIAN PUSTAKA
A. SISTEM PENYALIRAN TAMBANG
PT. Semen Padang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri semen
dengan bahan baku utama berupa batugamping. Lokasi penambangan batugamping terletak di
Bukit Karang Putih, Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Sumatera Barat.
Sistem penambangan yang berada di PT. Semen Padang merupakan Sistem Tambang Terbuka
yang penambangannya berhubungan langsung dengan udara bebas. Air merupakan faktor
yang dapat mengganggu kegiatan penambangan pada tambang terbuka. Apabila penangan air
tidak baik maka akan dapat menghambat jalannya kegiatan penambangan yang ada. Untuk
menangani masalah air tersebut, maka diperlukan sistem penyaliran tambang yang tepat.
Sumber utama air tambang di PT. Semen Padang adalah air hujan yang jatuh ke area
penambangan dan air limpasan hujan. Berdasarkan topografi dan hasil pengamatan, sistem
penyaliran tambang yang digunakan adalah mine drainage dan mine dewatering dengan
menggunakan PUH 3 tahun dan intensitas curah hujan sebesar 44,12 mm/jam. Berdasarkan
bentuk topografi, terdapat 2 daerah tangkapan hujan dengan total debit air sebesar 2,284 m
3 /detik yaitu : a. Daerah Tangkapan Hujan I (lokasi penambangan), luas = 0,183 km 2 b.
Daerah Tangkapan Hujan II, luas = 0,064 km 2 Saluran terbuka berfungsi untuk mencegah air
limpasan masuk ke lokasi penambangan dan untuk mengalirkan air menuju kolam
pengendapan. Berdasarkan debit air yang masuk ke saluran terbuka maka diperlukan saluran
terbuka dengan dimensi : a = 1,3 m ; b = 1,3 m ; B = 2,6 m ; d = 1,1 m Kolam pengendapan
yang ada di PT. Semen Padang perlu di lakukan pemindahan tempat dan dimensi baru. Kolam
pengendapan yang akan dibuat terletak pada koordinat 664393 ; 9893054 dengan jumlah
debit air yang masuk ke kolam pengendapan sebesar 2,284 m 3 /detik. Berdasarkan jumlah
debit air yang masuk maka di dapat luasan kolam pengendapan 192 m 2 dengan ukuran 20m
x 12m x 4m. Dalam upaya perawatan kolam pengendapan maka dilakukan pengerukan 1 kali
per 54,73 hari.

Gambar 5. Sistem penyaliran tambang

B. PERENCANAAN PENGELOLAAN AIR


1. Membaca peta untuk menentukan daerah tangkapan hujan (catchment area) adalah daerah
yang diperkirakan berpotensi untuk mengalirkan air limpasan menuju suatu daerah kerja,
atau dengan kata lain curah hujan yang jatuh dalam daerah tersebut dapat berkumpul
dalam suatu tempat terendah dari daerah tersebut. Penetuan daerah tangkapan hujan
didasarkan pada peta topografi daerah yang akan diteliti, daerah tangkapan hujan dibatasi
oleh punggung bukit. Setelah ditentukan (catchment area) maka dihitung luasanya.
2. Buat jalur saluran dari masing-masing catchment area.
3. Hitung waktu konsentrasi dengan menggunakan rumus Kirpich.
4. Hitung intensitas curah hujan rencana dengan menggunakan metode Gumbel.
5. Tentukan koefisien material yang sesuai dengan kondisi lapangan.
7

6. Hitung debit rencana dengan menggunakan rumus Rasional.


7. Dimensi saluran menggunakan persamaan Manning.

C. SUMBER AIR
PT.Semen Padang dalam penyedian bersih tidak berlangganan dengan perusahaan daerah
air minum (PDAM) dikarenakan membutuhkan biaya yang cukup besar dan juga bisa
menghemat biaya, makadari itu PT. Semen Padang perlu membuat sendiri Water Purification
Plan (WPP) dengan standar ISO, sehingga PT. Semen Padang bisa meyakinkan bahwa WPP
yang dibuatnya akan lebih baik dari PDAM. Tujuan dari PKPM ini yaitu memperoleh
pengetahuan dan keterampilan pada bidang sistem pengolahan air bersih, memahami dan
mengevaluasi prinsip kerja pengolahan air bersih di PT. Semen Padang. Kapasitas air untuk
pabrik Semen Padang mencapai 2750 m3 /jam, yang diambil untuk air proses 750 m3//jam
lalu selebihnya untuk pasokan pabrik dan PLTA yang ada di PT. Semen Padang. Pasokan
sumber air diperkirakan akan selalu mencukupi apabila PT. Semen Padang selalu menjaga
kelestarian lingkungan disekitar sumber air tersebut dan dalam pengolahan air hendaknya bisa
memakai semaksimal mungkin agar mansyarakat juga bisa memakai sumber air Lubuk
Peraku Kata kunci : Air bersih, proses pengolahan, standar ISO.

Gambar 6. Data pengolahan air bersih PT. Semen Padang

Gambar 7. Skema pembagian air PT. Semen Padang

D. AIR LIMPASAN HUJAN


Suatu area ataupun daerah tangkapan hujan dimana batas wilayah tangkapannya
ditentukan dari titik-titik elevasi tertinggi sehingga akhirnya merupakan suatu poligon
tertutup, yang mana polanya disesuaikan dengan kondisi topografi, dengan mengikuti arah
aliran air.
Air hujan yang mempengaruhi secara langsung suatu sistem drainase tambang adalah air
hujan yang mengalir diatas permukaan tanah atau air permukaan (run off) di tambah sejumlah
pengaruh air tanah.
Air hujan atau air permukaan yang mengalir ke area penambangan tergantung pada kondisi
daerah tangkapan hujan yang dipengaruhi oleh daerah disekitarnya. Luas daerah tangkapan
hujan dapat ditentukan berdasarkan analisa peta topografi. Berdasarkan kondisi daerahnya
seperti adanya daerah hutan, lokasi penimbunan, kepadatan alur drainase, serta kondisi
kemiringan (gride).
Sumber utama air limpasan permukaan pada suatu tambang terbuka adalah air hujan, jika
curah hujan yang relatif tinggi pada daerah tambang maka perlu penanganan air hujan yang
baik (sistem drainase) yang tujuannya agar produktivitas tidak menurun.

E. MINE DRAINAGE
Merupakan upaya untuk mencegah masuknya air ke daerah penambangan. Hal ini
umumnya dilakukan untuk penanganan air tanah dan air yang berasal dari sumber air
permukaan. Beberapa metode penyaliran Mine drainage :
1. Metode Siemens.
Pada tiap jenjang dari kegiatan penambangan dibuat lubang bor kemudian ke dalam
lubang bor dimasukan pipa dan disetiap bawah pipa tersebut diberi lubang-lubang. Bagian
ujung ini masuk ke dalam lapisan akuifer, sehingga air tanah terkumpul pada bagian ini
dan selanjutnya dipompa ke atas dan dibuang ke luar daerah penambangan.

Gambar 8. Metode siemens


9

2. Metode Pemompaan Dalam (Deep Well Pump).


Metode ini digunakan untuk material yang mempunyai permeabilitas rendah dan
jenjang tinggi. Dalam metode ini dibuat lubang bor kemudian dimasukkan pompa ke
dalam lubang bor dan pompa akan bekerja secara otomatis jika tercelup air. Kedalaman
lubang bor 50 meter sampai 60 meter.

Gambar 9. Metode deep well pump


3. Metode Elektro Osmosis.
Pada metode ini digunakan batang anoda serta katoda. Bilamana elemen-elemen
dialiri arus listrik maka air akan terurai, H+ pada katoda (disumur besar) dinetralisir
menjadi air dan terkumpul pada sumur lalu dihisap dengan pompa.

Gambar 10. Metode elektro osmosis


4. Small Pipe With Vacuum Pump.
Cara ini diterapkan pada lapisan batuan yang inpermiabel (jumlah air sedikit) dengan
membuat lubang bor. Kemudian dimasukkan pipa yang ujung bawahnya diberi lubanglubang. Antara pipa isap dengan dinding lubang bor diberi kerikil-kerikil kasar (berfungsi
sebagai penyaring kotoran) dengan diameter kerikil lebih besar dari diameter lubang. Di
bagian atas antara pipa dan lubang bor di sumbat supaya saat ada isapan pompa, rongga
antara pipa lubang bor kedap udara sehingga air akan terserap ke dalam lubang bor.

Gambar 11. Metode small pipe with vacuum pump


10

1. MINE DEWATERING
Adalah sistem penyaliran dengan cara mengeluarkan air yang sudah masuk ke dalam
tambang. Sistem ini dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Penyaliran dengan terowongan ( tunnel ) atau terowongan buntu ( adit ).
Cara penyaliran ini hanya bisa diterapkan pada tambang yang terletak didaerah
pegunungan atau berbentuk bukit. Air yang masuk ke dalam tambang dikeluarkan dengan
cara mengalirkan air dari dasar tambang melalui terowongan keluar tambang.

Gambar 12. Penyaliran dengan terowongan (tunnel/ adit)


2. Cara Paritan
Penyaliran dengan cara paritan ini merupakan cara yang paling mudah, yaitu dengan
pembuatan paritan ( saluran ) pada lokasi penambangan. Pembuatan parit ini bertujuan
untuk menampung air limpasan yang menuju lokasi penambangan. Air akan masuk ke
saluran-saluran yang kemudian dialirkan ke suatu kolam penampungan atau dibuang
langsung ke tempat pembuangan dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
3. Penyaliran dengan sumuran ( sump )
Cara penyaliran ini sangat umum diterapkan ditambang terbuka. Air yang masuk ke
dalam tambang dikumpulkan ke suatu sumuran yang biasanya dibuat didasar tambang
dan dari sumuran tersebut air dipompa keluar tambang.

Gambar 13. Penyaliran dengan cara sumuran (sump)

11

BAB IV
PEMBAHASAN
A. HASIL
B. PEMBAHASAN

12