Anda di halaman 1dari 43

GEOLOGI TEKNIK

PENDAHULUAN
Wilayah Indonesia terletak pada daerah tropis dan merupakan kesatuan wilayah
laut yang ditebari pulau-pulau atau kepulauan. Jarak terjauh Barat Timur 5.110 Km.
dan jarak terjauh Utara Selatan 1.118 Km. ini berarti panjang kepulauan Indonesia
menduduki + 1/8 equator.
Secara geotektonik Kepulauan Indonesia terletak pada pertemuan tiga Lempeng
Benua yaitu antara pertemuan Lempeng Australia, Lempeng Pasifik dan Lempeng
Eurasia. Pada daerah pertemuan ketiga Lempeng Benua inilah muncul jalur Mediterania,
jalur pasifik (sircum pasifik) dan jalur Australia. Ketiga jalur ini bersifat vulkanis
seismis, oleh karena itu Kepulauan Indonesia memiliki sifat vulkanis dan sifat seismis.
Sebagai akibat kondisi tersebut maka Kepulauan Indonesia memiliki keadaan geologis
yang komplek oleh kondisi iklim yang basah, menyebabkan variasi geomorfik termasuk
jenis tanah yang ada di Kepulauan Indonesia bervariasi.
Luas daratan wilayah Indonesia 1.919.443 Km2 berupa pulau-pulau, kondisi ini
akan memperkuat keberadaan Group Etnik sehingga memperkaya budaya bangsa.
Berdasarkan sensus bulan Juni 2000 jumlah penduduk Indonesia 203,46 juta jiwa,
jumlah penduduk sebesar itu tersebar pada 992 pulau dan kurang lebih 120 juta orang
berada di Pulau Jawa. Karena sebagian besar penduduk Indonesia masih bersifat agraris
maka sudah barang tentu sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisiografisnya.

Page | 1
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

1. Geomorfologi
1.1.
Geomorfologi Regional
Proses Geomorfologi merupakan perubahan yang dialami oleh permukaan bumi baik
secara fisik secara fisik maupun kimia (THORNBURY 1954) penyebab dari proses
perubahan tersebut dapat dibagi atas 2 golongan yaitu :
1. Tenaga Eksogen
Tenaga ini bersifat merusak,dapat berupa angina,suhu,dan air.Dengan adanya tenaga
Eksogen dapat terjadi proses denudasi berupa erosi,pelapukan,dan degradasi.
2. Tenaga Endogen
Tenaga ini cenderung untuk membangun,dapat berupa gempa,gaya-gaya pembentuk
struktur dan vulkanisme akibat dari adanya tenaga endogen maka dapat terbentuk
struktur gunung api dan agradasi.
Dengan adanya tenaga-tenaga tersebut diatas maka terbentuknya bentang alam
dengan kenampakan yang berbeda satu sama lainnya sesuai dengan tenaga yang
mempengaruhi

pembentukannya.Sebagai

contoh

geomorfologi

regional

adalah

Kabupaten Barru.
Kabupaten Barru dan sekitarnya merupakan pegunungan dan pada umumnya
terdapat didaerah bagian timur,wilayah bagian barat merupakan pedataran yang relative
sempit dan dibatasi oleh selat makasar.Daerah ini menyempit ke Utara dan dibatasi oleh
perbukitan dengan pola struktur yang rumit,kemudian di sebelah selatan dibatasi oleh
pegunungan yang disusun oleh Batu gamping.
Kenampakan bentang alam di daerah Barru umumnya merupakan daerah
perbukitan dan pegunungan dimana puncaknya sudah nampak meruncing dan sebagian
lagi nampak membulat.Perbedaan tersebut disebabkan oleh karakteristik masing-masing
batuannya.Pengaruh struktur dan tingkat perkembangan erosi yang telah berlangsung dan
akhirnya menghasilkan kenampakan bentang alam seperti yang nampak sekarang ini.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka pengelompokan satuan morfologi di daerah
Barru dapat dibagi berdasarkan pada struktur geologi dan batuan penyusunnya serta
proses geomorfologi yang mempengaruhi bentuk permukaan bumi yang nampak
sekarang pembagian satuan morfologi adalah sebagai berikut :

1. Satuan morfologi perbukitan Gawir sesar Aledjang-Buludua.


Page | 2
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

2. Satuan morfologi pegunungan denudasi B.Masula-B.Pitu


3. Satuan morfologi perbukitan Gawir sesar Aledjang-Buludua
Penamaan satuan morfologi ini didasarkan atas struktur geologi yang lebih
dominant terdapat pada daerah tersebut dan memberikan pengaruh terhadap
pembentukan bentang alamnya.
1.2.

Geomorfologi Pulau Sumatera


Pulau Sumatera terletak di bagian barat gugusan Kepulauan Nusantara. Di sebelah

utara berbatasan dengan Teluk Benggala, di timur dengan Selat Malaka, di sebelah
selatan dengan Selat Sunda, dan di sebelah barat dengan Samudera Hindia. Di sebelah
timur pulau, banyak dijumpai rawa yang dialiri oleh sungai-sungai besar, antara lain;
Asahan (Sumatera Utara), Kampar, Siak dan Sungai Indragiri (Riau), Batang Hari
(Sumatera Barat, Jambi), Ketahun (Bengkulu), Musi, Ogan, Lematang, Komering
(Sumatera Selatan), dan Way Sekampung (Lampung).
Di bagian barat pulau, terbentang Pegunungan Barisan yang membujur dari utara
hingga selatan. Hanya sedikit wilayah dari pulau ini yang cocok digunakan untuk
pertanian padi. Sepanjang bukit barisan terdapat gunung-gunung berapi yang hingga saat
ini masih aktif, seperti Merapi (Sumatera Barat), Bukit Kabat (Bengkulu), dan Kerinci
(Jambi). Pulau Sumatera juga banyak memiliki danau besar, di antaranya Laut Tawar
(Aceh), Danau Toba (Sumatera Utara), Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau
Diatas, dan Danau Dibawah (Sumatera Barat), dan Danau Ranau (Lampung dan
Sumatera Selatan).
Luas Pulau Sumatra 435.000 km memanjang dari Barat Laut ke tenggara
dengan panjang 1.650 Km dari UleLhee sampai Tanjung Cina lebar pulau di bagian
Utara berkisar 100 200 Km di bagian Selatan mencapai 350 Km. Pulau Sumatra,
berdasarkan luas merupakan pulau terbesar keenam di dunia.
Pegunungan Bukit Barisan dengan beberapa puncaknya yang melebihi 3.000 m di
atas permukaan laut, merupakan barisan gunung berapi aktif, berjalan sepanjang sisi
barat pulau dari ujung utara ke arah selatan; sehingga membuat dataran di sisi barat pulau
relatif sempit dengan pantai yang terjal dan dalam ke arah Samudra Hindia dan dataran
di sisi timur pulau yang luas dan landai dengan pantai yang landai dan dangkal ke arah
Selat Malaka, Selat Bangka dan Laut China Selatan.
Gambaran secara umum keadaan fisiografi pulau itu agak sederhana. Fisiografinya
dibentuk oleh rangkaian Pegunungan Barisan di sepanjang sisi baratnya, yang
memisahkan pantai barat dan pantai timur. Lerengnya mengarah ke Samudera Indonesia
Page | 3
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

dan pada umumnya curam. Hal ini mengakibatkan jalur pantai barat kebanyakan
bergunung-gunung kecuali dua ambang dataran rendah di Sumatera Utara (Melaboh dan
Singkel/Singkil) yang lebarnya 20 km. Sisi timur dari pantai Sumatra ini terdiri dari
lapisan tersier yang sangat luas serta berbukit-bukit dan berupa tanah rendah aluvial.
Bentuk permukaan Pulau Sumatera terdiri dari 3 bagian besar: (1). Bukit Barian,
(2) Dataran rendah di bagian timur, (3) Jalur perbukitan (kaki timur bukit barisan).
A. Pegunungan Bukit Barisan adalah jajaran pengunungan yang membentang dari
ujung utara (Aceh) sampai ujung selatan (Lampung) pulau Sumatra, memiliki
panjang lebih kurang 1650 km. Rangkaian pegunungan ini mempunyai puncak
tertinggi Gunung Kerinci yang berlokasi di Jambi, berketinggian 3.805 meter di atas
permukaan laut. Pegunungan Bukit Barisan terletak dekat pertemuan antara pelat
tektonik Eurasia dan Australia. Bukit Barisan Pegunungan, Pegunungan Bukit
Barisan di sepanjang jalan raya Bukittinggi-Payakumbuh. Provinsi Aceh, Sumatera
Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung. Titik tertinggi
Gunung Kerinci -elevasi 3.805 m (12.484 ft) Panjang 1.025 mi (1.650 km), utara
selatan.
B. Jalur perbukitan (kaki gunung bukit barisan) adalah bekas cekungan yang
tertimbun oleh endapan tebal, yang kemudian terangkat oleh tenaga endogen. Jalur
ini banyak terdapat minyak bumi seperti: Sungai Komering, Sungai Bila dan antara
Sungai Besitang-Krueng Meureudu.
C. Dataran rendah di bagian timur, berbentuk dataran rendah yang landai dari arah
bukit barisan menuju ke arah laut disebelah timur pulau sumatera. Daerah ini
merupakan daerah dataran rendah yang banyak ditemukan rawa.
Pulau Sumatra memanjang dari Barat Laut ke tenggara dengan panjang 1.650 km
dari Ule Lhee sampai Tanjung Cina (Djodjo dkk, 1985) lebar pulau di bagian Utara
berkisar 100 200 Km dibagian Selatan mencapai 350 Km. Secara garis besar topografi
Pegunungan Sumatra dapat dibagi kedalam tiga bagian yang menjalur dari Barat Laut Tenggara sebagai berikut :
A. Bagian Barat
Daerah ini berupa dataran memanjang sepanjang pantai yang secara tidak
menentu terpotong oleh igir-igir yang menyentuh pantai. Dataran pantai memiliki
lebar yang di berbagai tempat tidak sama. Dataran pantai yang lebar hanya terdapat
di beberapa tempat di antaranya di Meolaboh dan Singkil di Sumatra Utara.
B. Bagian Tengah
Page | 4
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Bagian ini merupakan jalur vulkanis (Inner Arc) yang menduduki bagian
tengah Pulau Sumatra dengan posisi agak ke Barat. Jalur ini dikenal denan sebutan
Bukit Barisan. Bukit barisan ini memiliki lebar yang tidak sama. Bukit Barisan
(Zone Barisan) mengalami peristiwa-peristiwa geologis yang berulang-ulang dan
kenampakan sekarang adalah sebagai hasil fenomena geologis yang terjadi pada
Plio Pleistocene. Berdasarkan fenomena pada Plio Pleistocene maka zone
Barisan dapat diuraikan menjadi tiga yaitu Zona Barisan Selatan, Zone Barisan
Tengah dan Zona Barisan Utara (Van Bemmelen, 1949, 678).
1.

Zona Barisan Sumatra Selatan


Zona barisan Sumatera Selatan dibagi menjadi tiga unit blok sesaran yaitu :
a. Blok Bengkulu (The Bengkulu Block)
Pada Bagian Barat membentuk monoklinal dengan kemiringan 5 10 derajat
ke arah Laut India (Indian Ocean) dan tepi Timur Laut berupa bidang patahan.
Batas Timur Laut Blok Bengkulu adalah Semangko Graben, Ujung Selatan
Semangko Graben berupa Teluk Semangko di Selat Sunda.Sedangkan panjang
Graben Semangko yang membentang dari Danau Ranau Kota Agung di
b.

Teluk Semangko adalah 45 Km dan lebarnya 10 Km.


Blok Semangko (Semangko Central Blok)
Terletak diantara Zone Semangko Sesaran Lampung (Lampung Fault). Bagian
Selatan dari blok Semangko terbagi menjadi bentang alam menjadi seperti
pegunungan Semangko, Depresi Ulehbeluh dan Walima, Horst Ratai dan
Depresi Telukbetung. Sedangkan bagian Utara Blok Semangko (Central

Block) berbentuk seperti Dome (diameter + 40 Km).


c. Blok Sekampung (The The Sekampung Blok)
Blok Sekampung merupakan sayap Timur Laut Bukit Barisan di sumatra
Selatan. Blok ini merupakan Pasang Blok Bengkulu. Kalau dilihat secara
keseluruhan makan Zone Barisan bagian Selatan (di daerah Lampung)
memperlihatkan sebagai geantiklin yang besar di mana Bengkulu Block
sebagai sayap Barat Daya, lebar 30 Km kemudian Sekampung Blok sebagai
sayap Timur Laut, lebar 35 Km dan puncak geantiklinnya adalah central block
(Blok Semangko) dengan lebar 75 Km.
2.

Zona Barisan Sumatra Tengah


Zona Barisan di daerah Padang memiliki lebar 140 Km dan bagian tersempit
selebar 60 Km yaitu di Padang Sidempuan. Blok Bengkulu (the bengkulu Block)
dapat ditelusuri sampai ke Padang sebagai pembentuk sayap Barat Daya bukit
Barisan (Zone Barisan). Di Utara Padang, sayap Bukit Barisan Barat Daya di
Page | 5

KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

duduki oleh Danau Maninjau (a volcano tectonic trought), Gunung Talakmau dan
Gunung Sorikmarapi. Zone Semangko membenteng dari Danau Kerinci sampai ke
Danau Singkarak. Zone ini oleh Tobler disebut Schicfer Barisan (Van Bemmelen,
1949) membentang memanjang searah dengan Sistem Barisan baik di sumatra
Tengah maupun Sumatra Selatan. Sayap Timur Laut yang terletak di Utara Danau
Singkarak ke Tenggara. Di sebelah Utara Danau Singkarak sampai ke Rau
berstruktur Horst dan Graben dengan posisi memanjang.
3. Zona Barisan Sumatra Utara dibagi menjadi dua unit yang berbeda (Van
Bemmelen, 1949, 687) yaitu Tumor Batak dan pegunungan di Aceh.
a. Tumor Batak (The Batak Culmination with the Lake Toba). Tumor Batak,
panjang 275 Km dan lebar 150 Km. puncak tertinggi Gunung Sibuatan 2.457 m
di bagian Barat Laut Toba, Gunung Pangulubao 2151terletak di bagian Timur
Toba. Di bagian Tenggara adalah G. Surungan 2.173 m dan dibagian barat
adalah Gunung Uludarat 2.157 m.
b. Pegunungan di Aceh. Van Bemmelen menyebutkan bahwa pegunungan Barisan
di Aceh belum banyak disingkap sehingga pembicaraan mengenai pengaruh
penggangkatan pada plio-pleistocene terhadapsistem Barisan di Aceh sangat
sedikit.Bagian utara Zone Barisan dimulai dengan pegunungan di Aceh yang
searah dengan Lembah Krueng Aceh. Jalur ini terus menyambung kearah
Tenggara ke pegunungan Pusat Gayo dengan beberapa puncak seperti Gunung
Mas 1.762m, Gunung Bateekebeue 2.840 m, Gunung Geureudong 2.590 m,
Gunung Tangga 2,500 m, Gunung Abongabong 2.985 m, G. Anu 2.750 m,
Gunung Leiser 3.145 m, untuk G. Leuser letaknya agak ke Barat bila dibanding
dengan posisi gunung lainnya.
Dari uraian Zona Barisan maka terdapat satu keistimewaan di mana pada bagian
puncak Zona Barisan terdapat suatu depresi yang memanjang dari Tenggara ke Barat
Laut. Depresi ini di beberapa tempat terganggu oleh lahirnya kenampakan baru
sebagai hasil peristiwa tekto-vulkanik maupun erupsi vulkan.
C. Bagian Timur
Bagian Timur Pulau Sumatra sebagian besar berupa hutan rawa dan
merupakan dataran rendah yang sangat luas. Dataran rendah ini menurut Dobby
merupakan dataran terpanjang yang tertutup rawa di daerah tropik di Asia Tenggara
(Djodjo dkk, 1985). Bagian Timur Sumatra selalu mengalami perluasan sebagai

Page | 6
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

hasil pengendapan material yang terbawa oleh aliran sungai dari sayap Timur Zone
Barisan.
Di bagian arah Barat Pulau Sumatra (di Samudera India) terdapat deretan
pulau-pulau yang bersifat non vulkanik. Rangkaian pulau-pulau ini merupakan
outerarc. Posisi pulau-pulau memanjang arah Barat Laut - Tenggara. Di bagian
Timur Pulau Sumatra terdapat Kepulauan Riau, bangka, Belitung, Lingga, Singkep.
a.
b.
c.

Satuan geomorfik x
Satuan geomorfik y
Satuan geomorfik z

1.3. Pola aliran


Pulau sumatera memiliki luas 473.606 Km (BPS, 1981), merupakan pulau terluas
kedua di Indonesia setelah kalimatan. Pulau sumatera memiliki bentuk memanjang dari
tenggara ke arah barat laut. Panjang pulau ini sekitar 1650 Km, sedangkan lebar pulau
bagian utara 100-200 Km dan bagian selatan sekitar 300 Km.

Sumatera merupakan pulau yang mempunyai relief kasar, karena terdapat bukit
barisanyang memanjang searah dengan panjang pulau dan terletak dibagian barat. Akibat
terdapat bukit barisan sebelah barat pulau sumatera, maka bagian barat pulau sumatera
memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Mempunyai daratan yang sempit.
2. Sungai-sungainya pendek dengan pola aliran tegak lurus dengan garis pantai.
3. Gradient sungai besar sehingga alirannya cukup deras.
Sebaliknya daerah bagian timur bukit barisan mempunyai cirri-ciri:
1. Banyak daratan alluvial yang sebagian merupakan daerah rawa.
2. Daerahnya landai sehingga sungai-sungai mempunyai aliran berbelok-belok dan
banyak mengalami sedimentasi dan muaranya berupa estuarium yang dangkal.
Pada daerah aceh,letak bukit barisan agak sedikit ketengah sehingga bagian
baratnya terdapat dataran yang agak luas (20 Km) dibandingkan dengan daerah
selatannya.
Di bagian tengah punggung bukit barisan tersebut terdapat slenk semangko (lembah
patahan) yang membentang mulai dari selatan Aceh sampai Lampung. Diantara slenk ini
bermunculan volkan-volkan yang sekarang masih aktif, misalnya volkan Abong-abong

Page | 7
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

(3050 m), Ucep Mulu (3127 m), Leuser (3466 m), Bendahara (3030 m), Dompu (3159
m), dan lain-lain.
Beradanya volkan-volkan tersebut menyebabkan tanah disepanjang lembah
patahan ini menjadikan sangat subur dan dimanfaatkan sebagai tanah pertanian dan juga
tempat akumulasi penduduk yang hidup disektor pertanian. Sepanjang lembah patahan
tersebut juga terdapat danau-danau antara lain,danau Toba, danau Minijau, danau
Singkarak, danua Kerinci, dan danau Ranau.
Dataran tinggi gayo (pedalaman Aceh), karo (barat laut danau Toba), pasemah
(sekitar gunung Dempo), dan dataran tinggi Ranau dinyatakan sebagai hasil kegiatan
volkan pada satu juta tahun yang lalu. Aliran-aliran sungai pada umumnya jarang yang
mempunyai mata air di lembah patahan yang merupakan daerah volkanis. Oleh sebab itu,
sungai-sungai disumatera (baik yang mengalir ke arah barat atau kearah timur) tidak
banyak mengandung material Volkanis, sehingga tanah di dataran rendah, terutama
dibagian timur kurang begitu subur.
Pulau-pulau yang terletak dibagian barat disebelah barat sumatera pada umunya
terdiri dari tanah kapur yang tidak subur. Sedangkan pulau-pulau sebelah timur sumatera
(Riau, Linggau, Bangka, dan lain-lain), merupakan kelanjutan dari simenajung Malaka
yang selanjutnya bersambung dengan pulau disebelah barat dan kalimatan.
Busur ini dikenal denga pegunungan sunda tua yang periode pelipatannya pada
zaman mesozolikum. Disepanjang busur ini tidak ditemukan Volkan sehingga termasuk
daerah yang kurang subur. Walaupun demikian, daerah ini dikenal kayak akan deposit
timah dan bauxit. Daerah ini juga dikenal sebagai daerah perbukitan, seperti Diak
(lingga), Maras (banka) Tajamlaki (Belitung).
1.4.

Stadia Daerah dan Erosi


Stadia/tingkatan bentang alam (jentera geomorfik) dinyatakan untuk mengetahui
seberapa jauh tingkat kerusakan yang telah terjadi dan dalam tahapan/stadia apa kondisi
bentangalam saat ini. Untuk menyatakan tingkatan (jentera geomorfik) digunakan
istilah: (1) Muda, (2) Dewasa dan (3) Tua. Tiap-tiap tingkatan dalam geomorfologi itu
ditandai oleh sifat-sifat tertentu yang spesifik, bukan ditentukan oleh umur bentangalam.

1.4.1. Klasifikasi Bentang Alam


Sehubungan dengan stadia geomorfologi yang dikenal juga sebagai Siklus
Geomorfik (Geomorphic cycle) yang pada mulanya diajukan Davis dengan istilah
Geomorphic cycle. Siklus dapat diartikan sebagai suatu peristiwa yang mempunyai
Page | 8
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

gejala yang berlangsung secara terus menerus (kontinyu), dimana gejala yang pertama
sama dengan gejala yang terakhir. Siklus geomorfologi dapat diartikan sebagai
rangkaian gejala geomorfologi yang sifatnya menerus. Misalnya, suatu bentangalam
dikatakan telah mengalami satu siklus geomorfologi apabila telah melalui tahapan
perkembangan mulai tahap muda, dewasa dan tua (gambar 1.1).

Gambar 1.1 Satu siklus geomorfologi : Muda, Dewasa, dan Tua

Page | 9
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Stadium tua dapat kembali menjadi muda apabila terjadi peremajaan


(rejuvenation) atas suatu bentangalam. Dengan kembali ke stadia muda, maka berarti
bahwa siklus geomorfologi yang kedua mulai berlangsung. Untuk ini dipakai formula n
+ 1 cycle, dimana n adalah jumlah siklus yang mendahului dari satu siklus yang
terakhir. Istilah lain yang sering dipakai untuk hal yang sama dengan siklus
geomorfologi adalah siklus erosi (cycle of erosion). Dengan adanya kemungkinan
terjadi beberapa siklus geomorfologi, maka dikenal pula istilah : the first cycle of
erosion, the second cycle of erosion, the third cycle of erosion, etc. Misalnya suatu
plateau yang mencapai tingkat dewasa pada siklus yang kedua, maka disebut sebagai
maturely dissected plateau in the second cycle of erosion.

Page | 10
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

2. Stratigrafi
2.1 Stratigrafi Regional
Proses sedimentasi di Cekungan Sumatra tengah dimulai pada awal tersier (Paleogen),
mengikuti proses pembentukan cekungan half graben yang sudah berlangsung sejak
zaman Kapur hingga awal tersier.
Konfigurasi basement cekungan tersusun oleh batuan-batuan metasedimen berupa
greywacke, kuarsit dan argilit. Batuan dasar ini diperkirakan berumur Mesozoik. Pada
beberapa tempat, batuan metasedimen ini terintrusi oleh granit (Koning & Darmono, 1984
dalam Wibowo, 1995).
Secara umum proses sedimentasi pengisian cekungan ini dapat dikelompokkan
sebagai berikut :
2.1.1. Rift (Siklis Pematang)
Secara keseluruhan, sedimen pengisi cekungan pada fase tektonik ekstensional (rift)
ini dikelompokkan sebagai Kelompok Pematang yang tersusun oleh batu lempung, serpih
karbonan, batu asir halus dan batu lanau aneka warna. Lemahnya refleksi seismik dan
amplitudo yang kuat pada data seismik memberikan indikasi fasies yang berasosiasi
dengan lingkungan lakustrin.
Pengendapan pada awal proses rifting berupa sedimentasi klastika darat dan lakustrin
dari Lower Red Bed Formation dan Brown Shale Formation. Ke arah atas menuju fase
late rifting, sedimentasi berubah sepenuhnya

menjadi lingkungan lakustrin dan

diendapkan Formasi Pematang sebagai Lacustrine Fill sediments.


a) Formasi Lower Red Bed
Tersusun oleh batu lempung berwarna merah hijau, batu lanau, batu pasir
kerikilan dan sedikit konglomerat serta breksi yang tersusun oleh pebble kuarsit dan
filit. Kondisi lingkungan pengendapan diinterpretasikan berupa alluvial braid-plain
dilihat dari banyaknya muddy matrix di dalam konglomerat dan breksi
b) Formasi Brown Shale
Formasi ini cukup banyak mengandung material organik, dicirikan oleh warna
yang coklat tua sampai hitam. Tersusun oleh serpih dengan sisipan batu lanau, di

Page | 11
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

beberapa tempat terdapat selingan batu pasir, konglomerat dan paleosol. Ketebalan
formasi ini mencapai lebih dari 530 m di bagian depocenter.
Formasi ini diinterpretasikan diendapkan di lingkungan danau dalam dengan
kondisi anoxic dilihat dari tidak adanya bukti bioturbasi. Interkalasi batu pasir batu
pasirkonglomerat diendapkan oleh proses fluvial channel fill. Menyelingi bagian
tengah formasi ini, terdapat beberapa horison paleosol yang dimungkinkan terbentuk
pada bagian pinggiran/batas danau yang muncul ke permukaan (lokal horst),
diperlihatkan oleh rekaman inti batuan di komplek Bukit Susah. Secara tektonik,
formasi ini diendapkan pada kondisi penurunan cekungan

yang cepat sehingga

aktivitas fluvial tidak begitu dominan.


c) Formasi Coal Zone
Secara lateral, formasi ini dibeberapa tempat equivalen dengan Formasi Brown
Shale. Formasi ini tersusun oleh perselingan serpih dengan batu bara dan sedikit batu
pasir. Lingkungan pengendapan dari formasi ini diinterpretasikan berupa danau
dangkal dengan kontrol proses fluvial yang tidak dominan. Ditinjau dari konfigurasi
cekungannya, formasi ini diendapkan di daerah dangkal pada bagian aktif graben
menjauhi depocenter.
d) Formasi Lake Fill
Tersusun oleh batu pasir, konglomerat dan serpih. Komposisi batuan terutama
berupa klastika batuan filit yang dominan, secara vertikal terjadi penambahan
kandungan litoklas kuarsa dan kuarsit. Struktur sedimen gradasi normal dengan
beberapa gradasi terbalik mengindikasikan lingkungan pengendapan fluvial-deltaic.
Formasi ini diendapkan secara progradasi pada lingkungan fluvial menuju delta pada
lingkungan danau. Selama pengendapan formasi ini, kondisi tektonik mulai tenang
dengan penurunan cekungan yang mulai melambat (late rifting stage). Ketebalan
formasi mencapai 600 m.
e) Formasi Fanglomerate
Diendapkan disepanjang bagian turun dari sesar sebagai seri dari endapan aluvial.
Tersusun oleh batu pasir, konglomerat, sedikit batu lempung berwarna hijau sampai
merah. Baik secara vertikal maupun lateral, formasi ini dapat bertransisi menjadi
formasi Lower Red Bed, Brown Shale, Coal Zone dan Lake Fill.

Page | 12
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Di beberapa daerah sepertihalnya di Sub-Cekungan Aman, dua formasi terakhir (Lake


Fill dan Fanglomerat) dianggap satu kesatuan yang equivalen dengan Formasi
Pematang berdasarkan sifat dan penyebarannya pada penampang seismik.
2.1.2 Sag
Secara tidak selaras diatas Kelompok Pematang diendapkan sedimen Neogen. Fase
sedimentasi ini diawali oleh episode transgresi yang diwakili oleh Kelompok Sihapas dan
mencapai puncaknya pada Formasi Telisa.
(Siklis Sihapas transgresi awal)
Kelompok Sihapas yang terbentuk pada awal episode transgresi terdiri dari Formasi
Menggala, Formasi Bangko, Formasi Bekasap dan Formasi Duri. Kelompok ini tersusun
oleh batuan klastika lingkungan fluvial-deltaic sampai laut dangkal. Pengendapan
kelompok ini berlangsung pada Miosen awal Miosen tengah.
a) Formasi Menggala
Tersusun oleh batu pasir konglomeratan dengan ukuran butir kasar berkisar dari
gravel hingga ukuran butir sedang. Secara lateral, batupasir ini bergradasi menjadi
batu pasir sedang hingga halus. Komposisi utama batuan berupa kuarsa yang
dominan, dengan struktur sedimen trough cross-bedding dan erosional basal scour.
Berdasarkan litologi penyusunnya diperkirakan diendapkan pada fluvial-channel
lingkungan braided stream.
Formasi ini dibedakan dengan Lake Fill Formation dari kelompok Pematang
bagian atas berdasarkan tidak adanya lempung merah terigen pada matrik (Wain et al.,
1995). Ketebalan formasi ini mencapai 250 m, diperkirakan berumur awal Miosen
bawah.
b) Formasi Bangko
Formasi ini tersusun oleh serpih karbonan dengan perselingan batu pasir halussedang. Diendapkan pada lingkungan paparan laut terbuka. Dari fosil foraminifera
planktonik didapatkan umur N5 (Blow, 1963). Ketebalan maksimum formasi kurang
lebih 100 m.

Page | 13
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

c) Formasi Bekasap
Formasi ini tersusun oleh batu pasir masif berukuran sedang-kasar dengan sedikit
interkalasi serpih, batu bara dan batu gamping. Berdasarkan ciri litologi dan fosilnya,
formasi ini diendapkan pada lingkungan air payau dan laut terbuka. Fosil pada serpih
menunjukkan umur N6 N7. Ketebalan seluruh formasi ini mencapai 400 m.
d) Formasi Duri
Di bagian atas pada beberapa tempat, formasi ini equivalen dengan formasi
Bekasap. Tersusun oleh batu pasir halus-sedang dan serpih. Ketebalan maksimum
mencapai 300 m. Formasi ini berumur N6 N8.
(Formasi Telisa transgresi akhir)
Formasi Telisa yang mewakili episode sedimentasi pada puncak transgresi tersusun
oleh serpih dengan sedikit interkalasi batu pasir halus pada bagian bawahnya. Di beberapa
tempat terdapat lensa-lensa batu gamping pada bagian bawah formasi. Ke arah atas,
litologi berubah menjadi serpih mencirikan kondisi lingkungan yang lebih dalam.
Diinterpretasikan lingkungan pengendapan formasi ini berupa lingkungan Neritik
Bathyal atas.
Secara regional, serpih marine dari formasi ini memiliki umur yang sama dengan
Kelompok Sihapas, sehingga kontak Formasi Telisa dengan dibawahnya adalah transisi
fasies litologi yang berbeda dalam posisi stratigrafi dan tempatnya. Ketebalan formasi ini
mencapai 550 m, dari analisis fosil didapatkan umur N6 N11.
(Formasi Petani regresi)
Tersusun oleh serpih berwarna abu-abu yang kaya fosil, sedikit karbonatan dengan
beberapa lapisan batu pasir dan batu lanau. Secara vertikal, kandungan tuf dalam batuan
semakin meningkat. Selama pengendapan satuan ini, aktivitas tektonik kompresi dan
volkanisme kembali aktif (awal pengangkatan Bukit Barisan), sehingga dihasilkan
material volkanik yang melimpah. Kondisi air laut global (eustasi) berfluktuasi secara
signifikan dengan penurunan muka air laut sehingga terbentuk beberapa ketidakselarasan
lokal di beberapa tempat.

Page | 14
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Formasi ini diendapkan pada episode regresif secara selaras diatas Formasi Telisa.
Walaupun demikian, ke arah timur laut secara lokal formasi ini memiliki kontak tidak
selaras dengan formasi di bawahnya. Ketebalan maksimum formasi ini mencapai 1500 m,
diendapkan pada Miosen tengah Pliosen.
2.1.3 Inversi
Pada akhir tersier terjadi aktivitas tektonik mayor berupa puncak dari pengangkatan
Bukit Barisan yang menghasilkan ketidakselarasan regional pada Plio-Pleistosen. Aktivitas
tektonik ini mengakibatkan terjadinya inversi struktur sesar turun menjadi sesar naik. Pada
fase tektonik inversi ini diendapkan Formasi Minas yang tersusun oleh endapan darat dan
aluvium berupa konglomerat, batu pasir, gravel, lempung dan aluvium berumur Pleistosen
Resen.
2.2 Stratigrafi Pulau Sumatera
Urutan litostratigrafi daerah penelitian dimulai dari batuan-batuan yang paling tua
adalah dari Formasi Semilir, yang terdiri dari perselingan breksi tufa, breksi batu gamping,
tufa dasit, tufa andesit serta batu lempung tufaan. Formasi Semilir bersilang jari di bawah
permukaan dengan batugamping, batupasir napalan dan napal dari Formasi Sentolo.
Diatas Formasi Semilir diendapkan secara selaras breksi andesit, batu pasir, breksi
batu lempung dan batu pasir dari Formasi Nglanggran. Di atas Formasi Ngalangran
diendapkan secara tidak selaras setempat-setempat batuan-batuan dari formasi
Sambipitu,yang terdiri dari perselingan batu pasir dan serpih, kadang-kadang banyak
dijumpai batu lanau, batu lempung dan batu lempung krikilan. Diatas batuan-batuan ini
diendapkan secara selaras batuan-batuan dari Formasi Oyo yang terdiri dari kalkarenit,
kalsirudit dan napal. Formasi-formasi tersebut mempunyai umur Miosen Bawah bagian
akhir sampai Miosen Atas bagian akhir. Diatas batuan-batuan Tersier tersebut secara tidak
selaras diendapkan aluvial yang berumur dengan endapan vuklanik Merapi muda.
Endapan-endapan tersebut dari pasir lanauan, pasir kerikilan, lanau dan lempung yang
merupakan endapan pada sistem sungai.
Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian adalah sesar geser dan sesar
normal. Struktur kekar berkembang pada batuan-batuan yang berumur Tersier.

Page | 15
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Kondisi Geologi terdiri dari beberapa satuan batuan yaitu:


1. Endapan Permukaan Aluvium (Qa)
Koluvium (Qc), batuan Vulkanik . Pasir Koluvium (Qc); Terdiri dari pasir,
lempung, lanau dan kerikil. Formasi ini didominasi oleh pasir. Pasir berwarna coklat
kehitaman, berukuran halus-kasar, gradasi sedang. Secara umum di permukaan, pasir
bersifat agak padat.
2. Endapan Kerucut Abu (Qcc)
Kubah Lava, Leleran Puncak dan Leleran Lereng (Qdf) . Pasir Tufa Endapan
Kerucut Abu (Qcc); Terdiri dari tufa dan breksi tufa. Tufa umumnya melapuk sedang
hingga kuat, berwarna kuning kecoklatan, ukuran butir pasir halus, agak padu dan
mudah hancur. Breksi tufa umumnya melapuk sedang berwarna coklat tua, komponen
tufa dan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai
membulat tanggung, agak padu.
Formasi Batuan :
a. Batu gamping Formasi Sentolo (Tmps)
Terdiri dari batu gamping dan batu asir napalan. Batu gamping umumnya melapuk
sedang, berwarna putih keabuan, berlapis, padu, terdapat nodul-nodul kalsit. Batu
pasir napalan umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu kecoklatan, berlapis,
berbutir sedang-kasar, terdiri dari tufa dan fragmen batuan agak padu. Formasi ini
di permukaan didominasi oleh batugamping dengan kekerasan umumnya sedang.
Di beberapa tempat, nilai tekanan konus (CPT) berkisar antara 5-25 kg/cm2. Tanah
penutup umumnya berupa lempung, coklat kehitaman, lunak, ketebalan tanah
penutup sekitar 1 m. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa
lokasi mempunyai nilai antara lain : Gs=2,693, gn=1,499 g/cm3, wn=26,12%, grup
simbol CH, c=0,1 kg/cm2, f=28,81o.

Page | 16
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

b. Konglomerat Formasi Jonggrangan (Tmj)


Terdiri dari konglomerat, napal tufaan dan batupasir gampingan. Konglomerat
umumnya melapuk ringan hingga sedang, berwarna coklat keabuan, terdiri dari
masadasar pasir sedang, agak padu, ukuran butir komponen kerikil-kerakal (2-30
cm) berbentuk membulat tanggung-menyudut tanggung. Napal tufaan umumnya
melapuk sedang, berwarna abu kecoklatan, padu. Batupasir gampingan umumnya
melapuk sedang, abu-putih kecoklatan, padu, ukran butir sedang hingga kasar.
Formasi ini di permukaan didominasi oleh konglomerat dengan kekerasan
umumnya keras hingga sangat keras.
c. Breksi Formasi Kebobutak (Tmok)
Terdiri dari breksi, tufa, dan aglomerat. Breksi umumnya melapuk sedang
berwarna merah kecoklatan, komponen batuan andesitik (5-30 cm) agak segar
menyudut tanggung, tertanam pada masadasar pasir tufa berbutir kasar, agak padat
sebagian mudah hancur. Tufa umumnya melapuk sedang, berwarna kuning
kecoklatan, batuan dasitik dan andesitik, berukuran butir pasir sedang, agak padu.
Aglomerat umumnya melapuk kuat, berwarna putih keabuan, agak padu, mudah
hancur, komponen batuan andesitik (5-20 cm) tertanam dalam masadasar pasir
kasar, agak padat. Batu lanau umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu
kecoklatan sebagian menyerpih dan mudah hancur. Formasi ini di permukaan
didominasi oleh breksi dengan kekerasan umumnya keras. Dibeberapa tempat nilai
tekanan konus (CPT) berkisar antara 5-40 kg/cm2. Tanah penutup umumnya
berupa lanau, coklat kehitaman, lunak, plastisitas tinggi, ketebalan rata-rata 1,5 m.
Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai
antara lain : Gs=2,716, gn=1,33 g/cm3, wn=28,51%, grup simbol MH, c=0,14
kg/cm2, f=26,79o.
d. Batu pasir Formasi Nanggulan (Teon)
Terdiri dari batu pasir yang bersisipan dengan lignit dan napal pasiran. Batu pasir
umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu kecoklatan, berlapis, berbutir
sedang-kasar, agak padu. Formasi ini di permukaan didominasi oleh batu pasir

Page | 17
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

dengan kekerasan umumnya keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir, coklat
keabuan, agak padat hingga lepas, ketebalan rata-rata 1 meter.
e. Batu gamping Formasi Wonosari (Tmpw)
Terdiri dari batu gamping dan batu pasir tufaan. Batu gamping umumnya melapuk
sedang, berwarna putih keabuan, berlapis, padu, terdapat nodul-nodul kalsit. Batu
pasir tufaan umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu kecoklatan, berlapis,
berbutir sedang-kasar, terdiri dari tufa dan fragmen batuan, agak padu. Formasi ini
di permukaan didominasi oleh batu gamping dengan kekerasan umumnya sedang.
Tanah penutup umumnya berupa lempung lanauan, coklat kehitaman, lunak,
ketebalan rata-rata 1,5 m.
f. Napal Formasi Kepek (Tmpk)
Terdiri dari napal dan batu gamping berlapis. Napal umumnya melapuk sedang,
berwarna putih keabuan, berlapis, padu, terdapat nodul-nodul kalsit. Batu gamping
umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu keputihan, berlapis, padu. Formasi
ini di permukaan didominasi oleh napal dengan kekerasan umumnya sedang.
Tanah penutup umumnya berupa lempung lanauan, coklat kehitaman, lunak,
ketebalan rata-rata 1 m.
g. Tufa Formasi Sambipitu (Tms)
Terdiri dari perselang-selingan lapisan tufa, serpih, batu lanau dan konglomerat.
Tufa umumnya melapuk ringan, berwarna kuning keabuan, ukuran butir pasir
halus, padu. Serpih umumnya melapuk ringan, putih kelabu, padu. Batu lanau
umumnya

sedang,

berwarna

abu-abu

kecoklatan,

sebagian

menyerpih.

Konglomerat umumnya melapuk ringan, berwarna coklat keabuan, terdiri dari


masa dasar pasir sedang, sangat padu, ukuran butir komponen kerikil-kerakal (2-30
cm) berbentuk membulat tanggung-menyudut tanggung. Formasi ini di permukaan
didominasi oleh tufa dengan kekerasan umumnya keras. Tanah penutup umumnya
berupa lempung, coklat kehitaman, lunak plastisitas tinggi, ketebalan rata-rata 1 m.
Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai

Page | 18
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

antara lain : Gs=2,758, gn=1,683 g/cm3, wn=29,78%, grup simbol CH, c=0,14
kg/cm2, f=21,8o.

h. Breksi Vulkanik Formasi Nglanggran (Tmn)


Terdiri dari breksi vulkanik, breksi aliran, aglomerat, lava dan tufa. Breksi
vulkanik umumnya melapuk sedang berwarna coklat tua, komponen terdiri dari
tufa dan batuan andesitik, agak segar berukuran hingga 40 cm, menyudut
tanggung, agak padu. Breksi aliran umumnya melapuk sedang, berwarna coklat
tua, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga
kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu. Aglomerat umumnya
melapuk sedang, berwarna putih keabuan, padu sebagian mudah hancur, komponen
batuan andesitik, agak segar, menyudut tanggung (10-25 cm) tertanam dalam
masadasar pasir sedang-kasar, padat. Lava umumnya melapuk ringan, berwarna
kelabu terang, tekstur halus, masif dan sebagian struktur vesikuler. Tufa umumnya
melapuk sedang, berwarna kuning kecoklatan, berukuran butir pasir halus, agak
padu. Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi vulkanik yang secara
umum mempunyai kekerasan adalah keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir
hingga pasir lanauan, coklat kehitaman, padat hingga agak lepas, ketebalan
berkisar antara 1-2 m.
i. Breksi Tufa Formasi Semilir (Tmse)
Terdiri dari breksi tufa, tufa dan batu lempung tufaan. Breksi tufa umumnya
melapuk sedang berwarna coklat tua, komponen terdiri dari tufa dan batuan
andesitik, agak segar berukuran hingga 40 cm, menyudut tanggung, agak padu dan
sebagian mudah hancur. Tufa umumnya melapuk sedang, berwarna kuning
kecoklatan, batuan dasitik dan andesitik, berukuran butir pasir sedang, agak padu.
Batu lempung tufaan umumnya melapuk sedang berwarna putih kecoklatan, agak
padu. Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi tufa dengan kekerasan
umumnya keras. Tanah penutup umumnya berupa lanau , merah kecoklatan, teguh,

Page | 19
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

plastisitas tinggi, ketebalan rata-rata 1 m. Hasil analisa laboratorium mekanika


tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai antara lain : Gs=2,646, gn=1,606
g/cm3, wn=34,36%, grup simbol MH, c=0,14 kg/cm2, f=28,37o.

j. Andesit (a)
Andesit berwarna abu-abu kehijauan, berkomposisi antara hipersten hingga
andesit-augit-hornblenda dan trakiandesit. Kekerasan umumnya sangat keras. Hasil
pelapukan berupa lanau, berwarna coklat kehitaman, palstisitas sedang, lunak.
k. Dasit (da)
Merupakan intrusi batuan beku dasit yang menerobos andesit. Hasil pelapukan
berupa lanau lempingan, berwarna coklat kehitaman, palstisitas sedang, lunak.
l. Diorit (dr)
Merupakan intrusi batuan beku diorit hornblenda. Kekerasan umumnya sangat
keras. Hasil pelapukan berupa lanau lempungan, berwarna abu-abu kecoklatan,
palstisitas sedang, lunak.

Page | 20
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

3. Geologi Struktur
3.1 Pengenalan Geologi Struktur
Geologi struktur adalah cabang ilmu geologi yang mempelajari bentuk arsitektur
kerak bumi. Geologi struktur mengkajian mengenai batuan, termasuk asal-usulnya,
geometri dan kinetiknya.
Sebagaimana diketahui bahwa batuan-batuan yang tersingkap dimuka bumi maupun
yang terekam melalui hasil pengukuran geofisika memperlihatkan bentuk bentuk
arsitektur yang bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya. Bentuk arsitektur susunan
batuan di suatu wilayah pada umumnya merupakan batuan-batuan yang telah mengalami
deformasi sebagai akibat gaya yang bekerja pada batuan tersebut. Deformasi adalah
perubahan dalam tempat dan/atau orientasi dari tubuh batuan. Deformasi secara definisi
dapat dibagi menjadi :
-

Distortion, yaitu perubahan bentuk.

Dilatation, yaitu perubahan volume.

Rotation, yaitu perubahan orientasi.

Translation, yaitu perubahan posisi.

Gambar 3.1. Jenis-Jenis Deformasi


Page | 21
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Arah dari gaya yang bekerja pada atau dalam kulit bumi dapat bersifat :
a) Berlawanan arah tetapi bekerja dalam satu garis. Gaya seperti ini dapat bersifat:
Tarikan (tension) dan Tekanan (compression).
b) Berlawanan, tetapi bekerja dalam satu bidang (couple)
c) Berlawanan, tetapi bekerja pada kedua ujung bidang (torsion).
d) Gaya yang bekerja dari segala jurusan terhadap suatu benda, yang pada umumnya
berlangsung dalam kerak bumi (tekanan Lithostatis).

Gambar 3.2. Jenis Gaya Tension, Compression dan


Couple

Gambar 3.3. Bentuk Torsion

Page | 22
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Kita dapat membagi material menjadi 2 (dua) kelas didasarkan atas sifat perilaku
dari material ketika dikenakan gaya tegasan padanya, yaitu :
a) Material yang bersifat retas (brittle material), yaitu apabila sebagian kecil atau
sebagian besar bersifat elastis tetapi hanya sebagian kecil bersifat lentur sebelum
material tersebut retak/pecah.
b) Material yang bersifat lentur (ductile material) jika sebagian kecil bersifat elastis
dan sebagian besar bersifat lentur sebelum terjadi peretakan / fracture.

Gambar 3.4. Gambar Deformasi Brittle dan Ductile


Bagaimana suatu batuan / material akan bereaksi tergantung pada beberapa faktor,
antara lain adalah:
a.

Temperatur.
Pada temperatur tinggi molekul molekul dan ikatannya dapat meregang dan
berpindah, sehingga batuan/material akan lebih bereaksi pada kelenturan dan
pada temperatur, material akan bersifat retas.

b. Tekanan bebas
Pada material yang terkena tekanan bebas yang besar akan sifat untuk retak
menjadi berkurang dikarenakan tekanan disekelilingnya cenderung untuk
menghalangi terbentuknya retakan. Pada material yang tertekan yang rendah akan
menjadi bersifat retas dan cenderung menjadi retak.
c.

Kecepatan tarikan
Pada material yang tertarik secara cepat cenderung akan retak. Pada material yang
tertarik secara lambat maka akan cukup waktu bagi setiap atom dalam material
berpindah dan oleh karena itu maka material akan berperilaku / bersifat lentur.

d.

Komposisi
Beberapa mineral, seperti Kuarsa, Olivine, dan Feldspar bersifat sangat retas.
Mineral lainnya, seperti mineral lempung, mica, dan kalsit bersifat lentur. Hal
Page | 23

KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

tersebut berhubungan dengan tipe ikatan kimianya yang terikat satu dan lainnya.
Jadi, komposisi mineral yang ada dalam batuan akan menjadi suatu faktor dalam
menentukan tingkah laku dari batuan. Aspek lainnya adalah hadir tidaknya air.
Air kelihatannya berperan dalam memperlemah ikatan kimia dan mengitari
butiran mineral sehingga dapat menyebabkan pergeseran.
Dengan demikian batuan yang bersifat basah cenderung akan bersifat lentur,
sedangkan batuan yang kering akan cenderung bersifat retas.
Proses yang menyebabkan batuan mengalami deformasi adalah gaya yang
bekerja pada batuan tersebut. Sebagaimana diketahui dalam teori Tektonik Lempeng
dinyatakan bahwa kulit bumi tersusun dari lempeng-lempeng yang saling bergerak satu
dengan lainnya. Pergerakan lempeng-lempeng tersebut dapat berupa pergerakan yang
saling mendekat (konvergen), saling menjauh (divergen), dan atau saling berpapasan
(transform).

Gambar 3.5. Divergen Plate

Page | 24
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Gambar 3.6. Konvergen Plate

Gambar 3.7. Transform Plate

Pergerakan lempeng-lempeng inilah yang merupakan sumber asal dari gaya yang
bekerja pada batuan kerak bumi. Sehingga secara umum pengertian geologi struktur
adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk arsitektur batuan sebagai bagian dari kerak
bumi serta menjelaskan proses pembentukannya. Beberapa kalangan berpendapat bahwa
geologi struktur lebih ditekankan pada studi mengenai unsur-unsur struktur geologi,
seperti perlipatan (fold), rekahan (fracture), patahan (fault), dan sebagainya yang
merupakan bagian dari satuan tektonik (tectonic unit), sedangkan tektonik dan
Page | 25
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

geotektonik dianggap sebagai suatu studi dengan skala yang lebih besar, yang
mempelajari obyek-obyek geologi seperti cekungan sedimentasi, rangkaian pegunungan,
lantai samudera, dan sebagainya.
3.2 Prinsip Dasar Struktur Geologi
Mengenal dan menafsirkan tentang asal-usul dan mekanisme pembentukan suatu
struktur geologi akan menjadi lebih mudah apabila kita memahami prinsip prinsipnya,
yaitu tentang konsep gaya, tegasan (stress/compressive), tarikan (strength) dan faktorfaktor lainnya yang mempengaruhi karakter suatu materi/bahan.
3.2.1. Gaya (Force)
Gaya merupakan suatu vektor yang dapat merubah gerak dan arah pergerakan suatu
benda. Gaya dapat bekerja secara seimbang terhadap suatu benda (seperti gaya gravitasi
dan elektromagnetik) atau bekerja hanya pada bagian tertentu dari suatu benda
(misalnya gaya-gaya yang bekerja di sepanjang suatu sesar di permukaan bumi). Gaya
gravitasi merupakan gaya utama yang bekerja terhadap semua obyek/materi yang ada di
sekeliling kita.
Besaran (magnitud) suatu gaya gravitasi adalah berbanding lurus dengan jumlah
materi yang ada, akan tetapi magnitud gaya di permukaan tidak tergantung pada luas
kawasan yang terlibat. Satu gaya dapat diurai menjadi 2 komponen gaya yang bekerja
dengan arah tertentu, dimana diagonalnya mewakili jumlah gaya tersebut. Gaya yang
bekerja diatas permukaan dapat dibagi menjadi 2 komponen yaitu: satu tegak lurus
dengan bidang permukaan dan satu lagi searah dengan permukaan. Pada kondisi 3dimensi, setiap komponen gaya dapat dibagi lagi menjadi dua komponen membentuk
sudut tegak lurus antara satu dengan lainnya. Setiap gaya, dapat dipisahkan menjadi tiga
komponen gaya, yaitu komponen gaya X, Y dan Z.
3.2.2. Tekanan Litostatik
Tekanan yang terjadi pada suatu benda yang berada di dalam air dikenal sebagai
tekanan hidrostatik. Tekanan hidrostatik yang dialami oleh suatu benda yang berada di
dalam air adalah berbanding lurus dengan berat volume air yang bergerak ke atas atau
volume air yang dipindahkannya. Sebagaimana tekanan hidrostatik suatu benda yang
berada di dalam air, maka batuan yang terdapat di dalam bumi juga mendapat tekanan
yang sama seperti benda yang berada dalam air, akan tetapi tekanannya jauh lebih besar
Page | 26
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

ketimbang benda yang ada di dalam air, dan hal ini disebabkan karena batuan yang
berada di dalam bumi mendapat tekanan yang sangat besar yang dikenal dengan tekanan
litostatik. Tekanan litostatik ini menekan kesegala arah dan akan meningkat ke arah
dalam bumi.
3.2.3. Tegasan
Tegasan adalah gaya yang bekerja pada suatu luasan permukaan dari suatu benda.
Tegasan juga dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi yang terjadi pada batuan sebagai
respon dari gaya-gaya yang berasal dari luar.
Tegasan dapat didefinisikan sebagai gaya yang bekerja pada luasan suatu permukaan
benda dibagi dengan luas permukaan benda tersebut:
Tegasan (P)= Daya (F) / luas (A).
Tegasan yang bekerja pada salah satu permukaan yang mempunyai komponen tegasan
prinsipal atau tegasan utama. Tegasan pembeda adalah perbedaan antara tegasan
maksimal dan tegasan minimal. Sekiranya perbedaan gaya telah melampaui kekuatan
batuan maka retakan/rekahan akan terjadi pada batuan tersebut. Kekuatan suatu batuan
sangat tergantung pada besarnya tegasan yang diperlukan untuk menghasilkan
retakan/rekahan.
3.2.4. Gaya Tegangan (Tensional Force)
Gaya Tegangan merupakan gaya yang dihasilkan oleh tegasan, dan melibatkan
perubahan panjang, bentuk (distortion) atau dilatasi (dilation) atau ketiga-tiganya. Bila
terdapat perubahan tekanan litostatik, suatu benda (homogen) akan berubah volumenya
(dilatasi) tetapi bukan bentuknya. Misalnya, batuan gabro akan mengembang bila gaya
hidrostatiknya diturunkan.
Perubahan bentuk biasanya terjadi pada saat gaya terpusat pada suatu benda. Bila
suatu benda dikenai gaya, maka biasanya akan dilampaui ketiga fasa, yaitu fasa
elastisitas, fasa plastisitas, dan fasa pecah. Bahan yang rapuh biasanya pecah sebelum
fase plastisitas dilampaui, sementara bahan yang plastis akan mempunyai selang yang
besar antara sifat elastis dan sifat untuk pecah. Hubungan ini dalam mekanika batuan
ditunjukkan oleh tegasan dan tarikan. Kekuatan batuan, biasanya mengacu pada gaya
yang diperlukan untuk pecah pada suhu dan tekanan permukaan tertentu.
Page | 27
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Setiap batuan mempunyai kekuatan yang berbeda-beda, walaupun terdiri dari jenis
yang sama. Hal ini dikarenakan kondisi pembentukannya juga berbeda-beda. Batuan
sedimen seperti batupasir, batugamping, batulempung kurang kuat dibandingkan dengan
batuan metamorf (kuarsit, marmer, batusabak) dan batuan beku (basalt, andesit, gabro).
3.3 Struktur Batuan
Struktur batuan terbagi atas tiga, yaitu :
1. Struktur Primer, yaitu struktur yang terjadi pada saat proses pembentukannya, struktur
ini biasanya dikenal sebagai struktur sedimen. contohnya :
-

Graded Bedding

Parallel Lamination

2. Struktur Sekunder, yaitu struktur yang terjadi setelah batuan terbentuk, struktur ini
bisa biasanya dihasilkan oleh interaksi batuan dengan batuan, batuan dengan mahluk
hidup, batuan dengan erosi dan dengan sedimentasi, serta batuan dengan proses
tektonik.
-

Bioturbation (batuan-mahluk hidup)

Load Cast (batuan-batuan)

Flute Cast (batuan-erosi-sedimentasi)

Sesar,Lipatan, Kekar (batuan-tektonik)

Geologi Struktur dalam kajiannya akan mempelajari struktur sekunder batuan yang
terbentuk sebagai akibat interaksi batuan dengan tektonik, walaupun tidak semua struktur
geologi terbentuk akibat interaksi ini.
3.4 Unsur Struktur Batuan
Unsur struktur geologi, berdasarkan pengertian geometrinya

terbagi atas: Struktur

Bidang (3D atau 2D) dan Struktur Garis (2D).


Beberapa unsur struktur yang termasuk struktur bidang adalah :
a.

Bidang Sumbu Lipatan.

b.

Bidang Kekar.

c.

Bidang Sesar.

Beberapa unsur struktur yang termasuk struktur garis adalah:


a.

Sumbu Lipatan.

b.

Gores Garis (Striation) pada Cermin Sesar (Slicken Side).


Page | 28

KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

c.

Lineasi Mineral (Contohnya Foliasi pada Gneiss)

3.5 Struktur Geologi


Struktur Geologi mencakup berbagai skala dan dimensi, dari mulai microstructures
sampai megastructures. Struktur geologi yang dikenal secara umum adalah:
1.

Sesar /patahan (fault).

2.

Lipatan (fold).

3.

Kekar (joint).

3.5.1 Sesar
Sesar atau patahan adalah rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran
yang berarti pada bidang rekahnya. Suatu sesar dapat berupa bidang sesar (Fault Plain)
atau rekahan tunggal. Tetapi sesar dapat juga dijumpai sebagai semacam jalur yang
terdiri dari beberapa sesar minor. Jalur sesar atau jalur penggerusan, mempunyai dimensi
panjang dan lebar yang beragam, dari skala minor sampai puluhan kilometer. Kekar yang
memperlihatkan pergeseran bisa juga disebut sebagai sesar minor.
Rekahan yang cukup besar akibat regangan, amblesan, longsor, yang disebut Fissure,
tidak termasuk dalam definisi sesar.
Beberapa indikasi umum adanya sesar :
1. Kelurusan pola pengaliran sungai.
2. Pola kelurusan punggungan.
3. Kelurusan Gawir.
4. Gawir dengan Triangular Facet.
5. Keberadaan mata air panas.
6. Keberadaan zona hancuran.
7. Keberadaaan kekar.
8. Keberadaan lipatan seret (Dragfolg)
9. Keberadaan bidang gores garis (Slicken Side) dan Slicken Line.
10. Adanya tatanan stratigrafi yang tidak teratur.
Klasifikasi Sesar
a.

Slip (pergeseran relatif)


Pergeseran relatif pada sesar, diukur dari jarak blok pada bidang pergeseran
titik-titik yang sebelumnya berhimpit. Jarak total dari pergeseran disebut dengan Net
Slip.
Slip Fault terbagi atas:

Page | 29
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Strike Slip Fault, sesar yang arah pergerakannya relatif paralel dengan strike
bidang sesar. (Pitch 00 - 100). Sesar ini disebut juga sebagai Sesar Mendatar. Sesar
mendatar terbagi lagi atas :
Sesar Mendatar Sinistral, yaitu sesar mendatar yang blok batuan kirinya

lebih
mendekati pengamat.
Sesar Mendatar Dextral, yaitu sesar mendatar yang blok batuan kanannya
lebih mendekati pengamat.

Gambar 3.8. Strike Slip Fault

Dip Slip Fault, sesar yang arah pergerakan nya relatif tegak lurus strike bidang
sesar dan berada pada dip bidang sesar. (Pitch 800 - 900). Dip Slip Fault terbagi
lagi atas :
Sesar Normal, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relatif turun

terhadap Foot-Wall.
Sesar Naik, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relatif naik
terhadap Foot-Wall.

Page | 30
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Gambar 3.9. Dip Slip Fault


Strike-Dip Slip Fault atau (Oblique Fault), yaitu sesar yang vektor
pergerakannya terpengaruh arah strike dan dip bidang sesar. (Pitch 100 800).

Strike-Dip Slip Fault terbagi lagi atas kombinasi-kombinasi Strike Slip Fault dan
Dip Slip Fault, yaitu:
Sesar Normal Sinistral, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya

relatif turun dan sinistral terhadap Foot-Wall.


Sesar Normal Dextral, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relatif

turun dan dextral terhadap Foot-Wall.


Sesar Naik Sinistral, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relatif

naik dan sinistral terhadap Foot-Wall.


Sesar Naik Dextral, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relatif

naik dan dextral terhadap Foot-Wall.


Separation (Pergeseran Relatif Semu)
Bila pitch tidak dapat ditemukan, maka pergeseran tidak dapat ditentukan,

maka pergeseran disebut separation.


Unsur- unsur struktur sesar
1) Bidang Sesar, yaitu bidang rekahan tempat terjadinya pergeseran yang
kedudukannya dinyatakan dengan jurus dan kemiringan.
2) Hanging-Wall, yaitu blok bagian terpatahkan yang berada relatif diatas bidang
sesar.
3) Foot-Wall, yaitu blok bagian terpatahkan yang relatif berada dibawah bidang
sesar.
Page | 31
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

4) Throw, yaitu besarnya pergeseran vertikal pada sesar.


5) Heave, yaitu besarnya pergeseran horizontal pada sesar.
6) Pitch, yaitu besarnya sudut yang terbentuk oleh perpotongan antara gores garis
(Slicken Line) dengan garis horizontal (garis horizontal diperoleh dari penandaan
kompas pada bidang sesar saat pengukuran Strike bidang sesar).
3.5.2. Lipatan
Terdapat beberapa definisi lipatan menurut ahli geologi struktur, antara lain:
1. Hill (1953).
Lipatan merupakan pencerminan dari suatu lengkungan yang mekanismenya
disebabkan oleh dua proses, yaitu bending (melengkung) dan buckling (melipat).
Pada gejala buckling, gaya yang bekerja sejajar dengan bidang perlapisan,
sedangkan pada bending, gaya yang bekerja tegak lurus terhadap bidang permukaan
lapisan.
2. Billing (1960)
Lipatan merupakan bentuk undulasi atau suatu gelombang pada batuan permukaan.
3. Hob (1971)
Lipatan akibat bending, terjadi apabila gaya penyebabnya agak lurus terhadap
bidang lapisan, sedangkan pada proses buckling, terjadi apabila gaya penyebabnya
sejajar dengan bidang lapisan. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa pada proses
buckling terjadi perubahan pola keterikan batuan, dimana pada bagian puncak
lipatan antiklin, berkembang suatu rekahan yang disebabkan akibat adanya tegasan
tensional (tarikan) sedangkan pada bagian bawah bidang lapisan terjadi tegasan
kompresi yang menghasilkan Shear Joint. Kondisi ini akan terbalik pada sinklin.
4. Park (1980)
Lipatan adalah suatu bentuk lengkungan (curve) dari suatu bidang lapisan batuan.

Page | 32
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Gambar 3.10. Buckling

Gambar 3.11. Bending

Beberapa unsur perlipatan


1.

Plunge, sudut yang terbentuk oleh poros dengan horizontal pada bidang vertikal.

2.

Core, bagian dari suatu lipatan yang letaknya disekitar sumbu lipatan.

3.

Crest, daerah tertinggi dari suatu lipatan biasanya selalu dijumpai pada antiklin

4.

Pitch atau Rake, sudut antara garis poros dan horizontal, diukur pada bidang
poros.

5.

Depresion , daerah terendah dari puncak lipatan.

6.

Culmination, daerah tertinggi dari puncak lipatan.

7.

Enveloping Surface, gambaran permukaan (bidang imajiner) yang melalui semua


Hinge Line dari suatu lipatan.

8.

Limb (sayap), bagian dari lipatan yang terletak Downdip (sayap yang dimulai
dari lengkungan maksimum antiklin sampai hinge sinklin), atau Updip (sayap
yang dimulai dari lengkungan maksimum sinklin sampai hinge antiklin). Sayap
lipatan dapat berupa bidang datar (planar), melengkung (curve), atau
bergelombang (wave).

9.

Fore Limb, sayap yang curam pada lipatan yang simetri.

10. Back Limb, sayap yang landai.


11. Hinge Point, titik yang merupakan kelengkungan maksimum pada suatu
perlipatan.
12. Hinge Line, garis yang menghubungkan Hinge Point pada suatu perlapisan yang
sama.
13. Hinge Zone, daerah sekitar Hinge Point.
Page | 33
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

14. Crestal Line, disebut juga garis poros, yaitu garis khayal yang menghubungkan
titik-titik tertinggi pada setiap permukaan lapisan pada sebuah antiklin.
15. Crestal Surface, disebut juga Crestal Plane, yaitu suatu permukaan khayal
dimana
terletak di dalamnya semua garis puncak dari suatu lipatan.
16. Trough, daerah terendah pada suatu lipatan, selalu dijumpai pada sinklin.
17. Trough Line, garis khayal yang menghubungkan titik-titik terendah ada setiap
permukaan lapisan pasa sebuah sinklin.
18. Trough Surface, bidang yang melewati Trough Line.
19. Axial Line, garis khayal yang menghubungkan titik-titik dari lengkungan
maksimum pada tiap permukaan lapisan dari suatu struktur lapisan.
20. Axial Plane, bidang sumbu lipatan yang membagi sudut sama besar antara sayapsayap lipatannya.

Gambar 3.12. Unsur Lipatan


Klasifikasi lipatan
1. Klasifikasi lipatan berdasarkan unsur geometri, antara lain:
A.

Berdasarkan kedudukan Axial Plane, yaitu:

Upright Fold atau Simetrical Fold (lipatan tegak atau lipatan setangkup).
Asimetrical Fold (lipatan tak setangkup atau lipatan tak simetri)
Inclined Fold atau Over Fold (lipatan miring atau lipatan menggantung).
Page | 34

KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Recumbent Fold (lipatan rebah)

2. Klasifikasi lipatan berdasarkan bentuknya, antara lain:

Concentric Fold.
Similar Fold.
Chevron Fold.
Isoclinal Fold.
Box Fold
Fan Fold.
Box Fold
Fan Fold.
Closed Fold
Harmonic Fold
Disharmonic Fold.
Open Fold
Kink Fold, terbagi lagi atas :
a. Monoklin.
b. Homoklin.
c. Terrace.

Gambar 3.13. Jenis Jenis Lipatan


3.5.3. Kekar
Kekar adalah struktur rekahan pada batuan dimana tidak ada atau relatif sedikit
sekali terjadi pergeseran. Kekar merupakan salah satu struktur yang paling umum pada
batuan.
Page | 35
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Klasifikasi kekar
Secara genetik, kekar terbagi atas:
1. Kekar Gerus (Shear Joint), yaitu kekar yang terjadi akibat stress yang cenderung
mengelincir bidang satu sama lainnya yang berdekatan.
2. Kekar Tarikan (Tensional Joint), yaitu kekar yang terbentuk dengan arah tegak lurus
dari gaya yang cenderung untuk memindahkan batuan (gaya tension). Hal ini terjadi
akibat dari stress yang cenderung untuk membelah dengan cara menekannya pada
arah yang berlawanan, dan akhirnya kedua dindingnya akan saling menjauhi.
3. Kekar Hibrid (Hybrid Joint), yaitu merupakan campuran dari kekar gerus dan kekar
tarikan dan pada umumnya rekahannya terisi oleh mineral sekunder.
a. Kekar Gerus.
Ciri-ciri dilapangan :

Biasanya bidangnya licin.


Memotong seluruh batuan.
Memotong komponen batuan.
Bidang rekahnya relatif kecil.
Adanya joint set berpola belah ketupat.

Gambar 3.14. Kekar Gerus


b. Kekar Tarikan
Ciri-ciri dilapangan :

Bidang kekar tidak rata.


Bidang rekahnya relatif lebih besar.
Polanya sering tidak teratur, kalaupun teratur biasanya akan berpola

kotak-kotak.
Karena terbuka, maka dapat terisi mineral yang kemudian disebut vein.
Page | 36

KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Kekar tarikan dapat dibedakan atas:


1. Tension Fracture, yaitu kekar tarik yang bidang rekahannya searah dengan
tegasan.
2. Release Fracture, yaitu kekar tarik yang terbentuk akibat hilangnya atau
pengurangan tekanan, orientasinya tegak lurus terhadap gaya utama.
Struktur ini biasanya disebut STYLOLITE.

Page | 37
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

4.

Sejarah Geologi
Pada awal berkembangnya geologi, Pemikiran geologi dimulai oleh Leonardo da
Vinci (1452-1519). Pada awalnya perkembangan geologi didominasi pemikiran klasik
(fixist), yang menganggap pembentukan orogenesa dan geosinklin terjadi di tempat yang
tetap. Mewakili pemikiran ini misalnya Erich Haarmann (1930), yang menyatakan
bahwa orogenesa terjadi karena kulit bumi terangkat seperti tumor, dan melengser karena
gaya berat. Selanjutnya pendapat ini diterapkan oleh van Bemmelen (1933) di Indonesia
sebagai Teori Undasi.
Pemikiran lain, mobilist dikemukakan Antonio Snider-Pellgrini (1658) yang
mencermati kesamaan bentuk pantai barat dan timur Atlantik, serta Alfred Lothar
Wegener (1915) yang mengemukakan konsep benua mengembara. Perubahan
mendasar geologi global terjadi setelah Perang Dunia II, ketika data geofisika lantai
samudera menunjukkan bahwa jalur anomali magnet mempunyai rasio yang tetap di
mana-mana. Pada 250 juta tahun yang lalu benua merupakan satu kesatuan benua induk,
atau Pangea. Perputaran bumi mendorong benua untuk bergerak ke arah kutub, sehingga
benua terpecah-pecah sebagai kepingan benua kecil-kecil seperti saat ini: 6 lempeng
utama dengan 14 lempeng yang lebih kecil. Dengan demikian maka seluruh permukaan
bumi berada di dalam satu kesatuan proses geologis yang universal: Tektonik Global.

Gambar 4.1. Peta pembagian lempeng lempeng di Dunia


Proses pengangkatan pertama dimulai pada Paleogen bawah, pada zaman tersebut
terjadi aktivitas persesaran (fault) dan pembentukan rift atau struktur depresi yang
memanjang/ paralel dengan struktur regional. Pada zaman Oligo-miosen lapisan ini
mengalami penurunan dan sebagian dari bukit barisan sampai di bawah permukaan air
laut. Sedimen yang terendapkan terdapat di bagian barat dan timur dari graben tengah
Page | 38
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

yang sifatnya lokal. Pada zaman Oligo-Miosen tersebut di Sumatra Selatan terjadi
aktifitas volkanisme yang menghasilkan larva andesit.
Pada zaman Miosen tengah terjadi pengangkatan yang besar sehingga
membentuk Geantiklin Sumatra. Pada saat itu terjadi blok patahan-patahan yang diikuti
aktivitas vulkanisme. Intrusi granodiorit terjadi juga pada zaman miosen tengah. Pada
zaman ini tidak terjadi penurunan yang berarti dan terjadi proses pandataran yang cukup
lama akibat erosi.
Periode Oregenik yang terakhir terjadi pada zaman Plio-Pleistosen yang
mengakibatkan pembentukan patahan blok dan peremajaan dari rift. Salah satu zone
patahan yang terjadi pada zaman Plio-Pleistosen adalah zone patahan Semangko. Pada
zaman Kuarter terjadi kegiatan gunung api dan kegiatan gunung api pada zaman Kuarter
tersebut sebagian besar berasosiasi dengan sesar, misalnya bila suatu tempat terjadi sesar
akan diikuti bentambahnya gunung api yang baru. Ada juga kegiatan gunung api yang
mengakibatkan depresi yang seolah-olah merupakan hasil dari persesaran.
Pengaruh Tektonik Regional pada Perkembangan Sesar Sumatera, Sejarah
tektonik Pulau Sumatera berhubungan erat dengan pertumbukan antara lempeng IndiaAustralia dan Asia Tenggara, sekitar 45,6 Juta tahun lalu yang mengakibatkan perubahan
sistematis dari perubahan arah dan kecepatan relatif antar lempengnya. Proses tumbukan
ini mengakibatkan terbentuknya banyak sistem sesar geser di bagian sebelah timur India,
untuk mengakomodasikan perpindahan massa secara tektonik. Selanjutnya sebagai
respon tektonik akibat dari bentuk melengkung ke dalam dari tepi lempeng Asia
Tenggara terhadap Lempeng Indo-Australia, besarnya slip-vectorini secara geometri akan
mengalami kenaikan ke arah barat laut sejalan dengan semakin kecilnya sudut
konvergensi antara dua lempeng tersebut.
Keadaan Pulau Sumatera menunjukkan bahwa kemiringan penunjaman,
punggungan busur muka dan cekungan busur muka telah terfragmentasi akibat proses
yang terjadi. Kenyataan menunjukkan bahwa adanya transtensi (trans-tension)
Paleosoikum tektonik Sumatera menjadikan tatanan tektonik Sumatera menunjukkan
adanya tiga bagian pola. Bagian selatan terdiri dari lempeng mikro Sumatera, yang
terbentuk sejak 2 juta tahun lalu dengan bentuk, geometri dan struktur sederhana, bagian
tengah cenderung tidak beraturan dan bagian utara yang tidak selaras dengan pola
penunjaman.

Page | 39
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

Gambar 4.2 penunjaman antar lempeng

Kompleksitas tatanan geologi Sumatera, perubahan lingkungan tektonik dan


perkembangannya dalam ruang dan waktu memungkinkan sebagai penyebab
keanekaragaman arah pola vektor hubungannya dengan slip-ratedan segmentasi Sesar
Sumatera. Hal tersebut antara lain karena perbedaan lingkungan tektonik akan
menjadikan batuan memberikan tanggapan yang beranekaragam pada reaktivasi struktur,
serta struktur geologi yang lebih tua yang telah terbentuk akan mempengaruhi
kemampuan deformasi batuan yang lebih muda.

Page | 40
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

5. Geologi Lingkungan
Geologi Lingkungan adalah geologi terapan yang dipusatkan pada keseluruhan
keadaan spectrum dari kemungkinan saling mempengaruhi antara manusia dan
lingkungan fisik. Geologi Lingkungan sendiri memiliki konsep konsep fundamental.
Yang pada umumnya menjelaskan tentang aktivitas bumi serta dampak dari proses
proses fisik geologi yakni endogen dan eksogen.
5.1 Konsep konsep Geologi Lingkungan
Dalam Ilmu Geologi Lingkungan tidak pernah terlepas dari pemahaman
mengenai bumi beserta isi dan aktivitasnya. Terdapat 7 Konsep Geologi Lingkungan
yang perlu dipahami oleh planner dalam perencanaan suatu wilayah. Secara umum
konsep konsep tersebut menjelaskan bahwa bumi pada dasarnya merupakan suatu
sistem tertutup. Bumi adalah satu-satunya tempat tinggal paling sesuai dengan kehidupan
manusia, akan tetapi SDA yang dimiliki sangat terbatas. Proses proses fisik yang
terjadi dibumi telah merubah keadaan bentang alam yang kita miliki. Banyak proses
proses alam yang terjadi di bumi yang membahayakan umat manusia, bencana alam itu
harus kita kenali dan kita hindari dengan merawat

alam serta meminimalkan

penggunaan SDA. Perencanaan penggunaan lahan dan air harus berusaha memperhatikan
keseimbangan ekonomi dan estetis. Dampak dari penggunaan lahan cenderung
bertumpuk serta komponen fundamental lingkungan merupakan faktor geologi, dan
pemahaman tentang lingkungan memerlukan beberapa pendekatan melalui ilmu ilmu
kebumian dan disiplin ilmu yang lain yang berhubungan.
1. Konsep pertama
Menjelaskan bahwa bumi pada dasarnya merupakan sistem tertutup.
Maksudnya, di bumi terdapat berbagai macam peristiwa yang terjadi karena
aktivitas aktivitas setiap bagian dari bumi. Bumi dikatakan sebagai system
dengan empat buah bagian. Yaitu atmosfer, hidrosfer, biosfer, dan litosfer. Di
setiap bagian system itu terjadi berbagai macam aktivitas yang saling berkaitan.
Itulah mengapa bumi disebut sebagai suatu sistem tertutup.
2. Konsep kedua
Yakni menjelaskan bahwa bumi merupakan satu satunya tempat yang paling
sesuai dengan kehidupan manusia, akan tetapi sumber daya yang dimiliki sangat
terbatas.
Menurut penulis senior dari The Earth and Human Affairs, Leo F. Laporte, dia
mempercayai isi dari konsep kedua termasuk dua kebenaran pokok, pertama
Page | 41
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

bahwa bumi ini tentu saja satu-satunya tempat tinggal yang bisa kita tempati.
Yang kedua, SDA kita terbatas dan walaupun ada beberapa SDA yang bisa
diperbarui, tetapi masih lebih banyak SDA yang tak bisa diperbarui. Tentunya
akan diperlukan tindakan yang tepat untuk bisa memanfaatkannya dengan baik
sekaligus melestarikanya.
3. Konsep ketiga
Menjelaskan bahwa proses proses fisik yang terjadi di bumi mengubah
bentang alam yang kita miliki. Konsep ini memberikan kita suatu pengetahuan
tentang sejarah geologi mengenai proses yang telah terbentuk pada masa lalu
yang saat ini kita masih bisa lihat hasil dari proses proses itu. Dengan kata lain,
sekarang adalah kunci dari masa lalu, yang di ungkapkan oleh James Hutton
(1785). Dengan mampu malihat semua keadaan bentang alam di bumi ini pada
masa kini, kita bisa mengetahui proses proses yang telah terjadi pada masa lalu.
4. Konsep keempat
Yakni menjelaskan tentang banyak proses alam yang terjadi di bumi yang
membahayakan umat manusia. Sebagai contoh, aktivitas gunung berapi
(meletus), tsunami, erosi, longsor, gempa bumi, dan lain sebagainya. Semua
bencana itu merupakan dampak dari proses proses yang terjadi di bumi, karena
bumi merupakan suatu sistem yang terus bergerak. Kita sebagai manusia yang
tinggal di bumi harus bisa mengenali bencana alam dan menghindarinya sebisa
mungkin. Juga kita berkewajiban untuk merawatnya serta menggunakan potensi
yang dimiliki bumi secara tepat dan bertanggung jawab.
5. Konsep kelima
Menjelaskan tentang perencanaan penggunaan lahan dan pengairan harus
berusaha memperhatikan keseimbangan antara pertimbangan segi ekonomi dan
dari segi yang lain seperti estetika. Dewasa ini pertimbangan sumber daya alam
dan evaluasi keindahan sebuah kawasan sebelum dilakukannya pembangunan
menjadi bagian penting dalam teori Environmental impact atau dampak
lingkungan.

6. Konsep keenam
Menjelaskan tentang dampak dari penggunaan lahan yang cenderung
bertumpuk.
7. Konsep ketujuh
Yang menjelaskan tentang komponen fundamental lingkungan merupakan
faktor geologi, dan pemahaman tentang lingkungan memerlukan beberapa
Page | 42
KELOMPOK 1

GEOLOGI TEKNIK

pendekatan melalui ilmu ilmu kebumian dan disiplin ilmu yang lain yang
berhubungan. Terdapat perbedaan dalam mempertimbangkan suatu pembangunan
sebuah wilayah yang dapat digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu fisik,
biologis, dan fungsi kedayagunaan.
Faktor fisik yaitu pertimbangan keadaan geografis, proses geografis, proses
hidrologi, tipe batuan dan tanah, dan klimatologi. Faktor biologis yaitu,
pertimbangan aktivitas mahluk hidup terutama tumbuhan dan hewan, perubahan
keadaan biologis atau proses, spatial analisis terhadap informasi. Faktor fungsi
kedayagunaan yaitu, kegunaan lahan, estetika, keterkaitan antara aktivitas
manusia dengan faktor fisik dan biologis, dan peraturan yang mengatur
lingkungan.

Page | 43
KELOMPOK 1