Anda di halaman 1dari 10

Menerapkan etika bisnis dalam pemerintahan dan dunia usaha, baik swasta

maupun badan usaha milik negara, dapat mengundang pandangan dan


pernyataan yang skeptikal atau bahkan sinis. Pandangan yang lebih mungkin
skeptik adalah jika unsur keberlanjutan (sustainability) dimasukkan di dalamnya.
Kemudian, dapat muncul sebuah pernyataan atau pertanyaan. Bisnis tidak
harus etis. Di Indonesia, tidak ada bisnis yang etis. Mengapa bisnis harus berlaku
etis? Atau, haruskah dunia usaha berlaku etis? Perlukah institusi pemerintahan
menerapkan etika bisnis dalam pelayanannya?
Jika pernyataan2 atau pertanyaan2 tersebut diterapkan pada institusi/organisasi
atau perusahaan saudara atau perusahaan dimana saudara bekerja.
1. Buatlah analisa etika mengapa organisasi/perusahaan saudara harus
berlaku etis kepada semua stakeholders dan jelaskan kesulitan-kesulitan
yang dihadapi dalam menerapkannya.
2. Dalam situasi apa dan bagaimana etika bisnis diabaikan atau dapat
diabaikan, dan
3. Mengapa dan bagaimana pula para stakeholders (sebaliknya) juga perlu
berlaku etis pada organisasi/perusahaan anda. Jelaskan dengan teori-teori
etika yang sesuai.
Catatan :
1. Tentunya saudara perlu mempergunakan berbagai dasar teori etika dan
sustainability yang relevan dalam berargumentasi
2. Saudara boleh menyamarkan organisasi/perusahaan saudara tapi tidak
pada bidang usaha dan produknya, dan
3. Saudara dapat mendiskusikan pendapat saudara dalam halaman kertas
yang sudah disediakan dapat menulis dihalaman sebaliknya

THEORY
Slide BE 2
Utilitarianism
Rights
Justice
Care
Secara umum dikatakan bahwa Etika Bisnis adalah suatu proses yang secara
rasional mengevaluasi standar moral dan mengaplikasikannya dalam
situasi-situasi bisnis. Jelaskan mengapa aplikasi standar moral ini

diperlukan dalam bisnis dan jelaskan pula keberatan-keberatan yang


muncul dalam aplikasinya Bab 2
Standar moral dalam etika bisnis:
Utilitarian
asas pemanfaatan dilihat dari segi efektivitas dan kelangsungan
bisnis
Right
dalam berbisnis harus mengindahkan hak-hak orang lain maupun
hak lingkungan sekitar
Justice
dalam berbisnis harus mempertimbangkan keadilan, baik bagi
produsen, konsumen, dan lingkungan sekitar
Care
dalam berbisnis harus memperdulikan kelangsungan hidup
lingkungan sekitar, dan juga kepedulian pada konsumen juga
produsen
Hal-hal diatas diperlukan dalam melakukan bisnis karena suatu kegiatan
bisnis sangat berkaitan erat dengan lingkungan dan segala pihak
yang berada di dalamnya. Standar2 moral tsb dapat (menjadi
parameter) mengatur dan memberikan pandangan atas benar atau
tidaknya suatu kegiatan bisnis yang dijalankan, atau juga baik
buruknya segala keputusan yang diterapkan. Diharapkan dengan
adanya standar moral tersebut, suatu kegiatan bisnis dapat berjalan
dengan etika yang baik serta memberikan kebaikan juga bagi orang
banyak
Hambatan
Etiika itu bukan merupakan aturan hanya norma-norma, sehingga
pelanggaran terhadap norma tidak dapat diberikan hukuman atau
sanksi
dalam penerapan tergantung pada intrepertasi masing-masing
individu. Standar moral tersebut memang adalah teori, namun
dalam penerapannya, masing2 belum tentu berjalan selaras.
contoh; dalam menciptakan keadilan (justice) bisa jadi ada hak
(rights) salah satu pihak yang terpinggirkan.

2. Dalam situasi pasar oligopoli, untuk memenuhi perspektif etis dalam


kebijakan publik (public policy) ada pandangan (1) do-nothing view, (2)
antitrust view dan (3) regulatory view. Jelaskan masing-masing argumen
tersebut, menurut saudara pandangan mana yang paling mungkin
diterapkan di Indonesia Bab 4
Oligopoli adalah kondisi dimana pasar dikuasai bersama oleh beberapa
perusahaan besar bersama-sama yang dapat mempengaruhi harga.
Do Nothing View menyatakan bahwa oligopoli tidak perlu dianggap
merisaukan, karena dengan persaingan yang ada di pasar maka industri akan
tereliminasi secara alam, perusahaan yang besar akan semakin bagus karena
dapat mencapai economies of scale dalam melakukan yang akan berdampak
pada penurunan harga
Antitrust view menyatakan bahwa oligopoli tidak boleh dilakukan karena
oligopopli lebih mendukung produsen dibandingkan konsumen. Dengan
oligopoli maka konsumen tidak terlindungi karena produsen akan dengan
seenaknya menetapkan harga tanpa ada hak konsumen untuk memilih
Regulation view, memandang bahwa persaingan dalam pasar harus diatur
oleh suatu regulasi.
Mereka yang mendukung regulasi view tidak ingin kehilangan skala
ekonomi
yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan besar, tetapi mereka
juga ingin memastikan bahwa perusahaan besar tidak
membahayakan
konsumen. Oleh karena itu, terdapat badan dan undang-undang
untuk
mengontrol kegiatan perusahaan besar. Beberapa bahkan
menyarankan bahwa pemerintah harus mengambil alih operasi
perusahaan di mana hanya kepemilikan publik dapat menjamin
bahwa mereka beroperasi untuk kepentingan umum.
Menurut pendapat saya yang tepat diterapkan di Indonesia adalah
regulatory view dimana hal tersebut sesuai dengan amanat yang
terdapat dalam Undang-undang dasar 1945. Dalam regulatory view
kepentingan pengusaha dilindungi dengan adanya aturan-aturan
yang mengatur persaingan sehingga perusahaan-perusahaan pelaku
persaingan terlindungi. Disamping itu hak-hak konsumen terlindungi
dan kondisi harga akan tetap terjaga. Sektor-sektor industri yang

utama diatur secara ketat dan diintervensi oleh pemerintah untuk


melindungi konsumen dan menjaga kestabilan harga

3. Lawrence Kohlberg berpendapat bahwa jika seseorang semakin dewasa


secara moral maka semakin besar kemungkinan orang tersebut mengikuti
atau menuruti norma-norma moral di masyarakatnya. Bab 1 (Moral
development)
a. Jelaskan teori tersebut!
Teori Lawrence Kohlberg mengatakan ada 3 tahapan seseorang
mengalami moral development yaitu:
Level 1: Tahap pre-conventional, yaitu mampu mengidentifikasi
hal baik, buruk, benar, dan salah.
Stage 1 : Punishment and Obedience Orientation
Berbuat baik agar tidak diberi hukuman dan orientasi
ketaatan.
Stage 2 : Instrumental and Relative Orientation
Mulai peduli dengan kebutuhan dan keinginan orang
lain dan menggunakan pengetahuannya untuk
mendapatkan apa yang diinginkan.
Level 2: Tahap conventional, yaitu standar untuk melihat benar
dan salah adalah berdasarkan dari peraturanperaturan yang hidup di dalam norma-norma
konvensional di dalam keluarganya, rekan satu group
dan masyarakat.
Stage 3: Interpersonal Concordance Orientation
Orientasi untuk mendapatkan loyalty, affection, dan
kepercayaan keluarga dan teman
Stage 4: Law and Order Orientation,
yaitu dapat melihat orang lain sebagai bagian dari
social system.
Level 3: Tahap post-conventional, yaitu mampu melihat
kedudukan orang lain sebagai bagian dari social

system yang memiliki peran dan kewajiban masingmasing.


Stage 5: Social Contract Orientation, seseorang akan percaya
bahwa semua nilai moral dan norma moral bersifat
relatif dan toleransi
Stage 6: Universal Moral Principles Orientation, yaitu
seseorang mampu menilai kriteria untuk evaluasi
penerimaan norma dan nilai pada masyarakat.
b.

Jelaskan pula kelemahan2 atau kritik2 yang diajukan pada teori ini?
Teori Kohlberg mengindikasikan bahwa level yang lebih tinggi
akan menjadi lebih bermoral dibanding level yang lebih rendah.
Teori ini bertentangan dengan prinsip moral, yang lebih dekat pada
kriteria yang digunakan tahapan pre-conventional dan
conventional.
Teori Kohlberg hanya terkonsentrasi pada pria bukan wanita.
Hal ini karena analisa hanya dilakukan pada banyak pria.
Sementara teori miliknya gagal dalam menyajikan moral
development pada wanita. Moral issue pada pria berhubungan
dengan keadilan, keseimbangan, abstraksi terhadap prinsip moral.
Sedangkan moral issue pada wanita lebih menitikberatkan pada
kepedulian dan pertanggung jawaban,

Critical Evaluation
Problems with Kohlberg's Methods
1. The dilemmas are artificial (i.e. they lack ecological validity)
Most of the dilemmas are unfamiliar to most people (Rosen, 1980). For example, it is all very well in
the Heinz dilemma asking subjects whether Heinz should steal the drug to save his wife.
However Kohlbergs subjects were aged between 10 and 16. They have never been married, and
never been placed in a situation remotely like the one in the story. How should they know whether
Heinz should steal the drug?
2. The sample is biased
According to Gilligan (1977), because Kohlbergs theory was based on an all-male sample, the
stages reflect a male definition of morality (its androcentric). Mens' morality is based on abstract
principles of law and justice, while womens' is based on principles of compassion and care.
Further, the gender bias issue raised by Gilligan is a reminded of the significant gender debate still
present in psychology, which when ignored, can have a large impact on the results obtained
through psychological research.

2. The dilemmas are hypothetical (i.e. they are not real)


In a real situation, what course of action a person takes will have real consequences and
sometimes very unpleasant ones for themselves. Would subjects reason in the same way if they
were placed in a real situation? We just dont know.
The fact that Kohlbergs theory is heavily dependent on an individuals response to an artificial
dilemma brings question to the validity of the results obtained through this research. People may
respond very differently to real life situations that they find themselves in than they do with an
artificial dilemma presented to them in the comfort of a research environment.
3. Poor research design
The way in which Kohlberg carried out his research when constructing this theory may not have
been the best way to test whether all children follow the same sequence of stage progression. His
research was cross-sectional , meaning that he interviewed children of different ages to see what
level of moral development they were at.
A better way to see if all children follow the same order through the stages would have been to
carry out longitudinal research on the same children.
However, longitudinal research on Kohlbergs theory has since been carried out by Colby et al.
(1983) who tested 58 male participants of Kohlbergs original study. She tested them 6 times in the
span of 27 years and found support for Kohlbergs original conclusion, that we all pass through the
stages of moral development in the same order.

Problems with Kohlberg's Theory


1. Are there distinct stages of moral development?
Kohlberg claims that there are but the evidence does not always support this conclusion. For
example a person who justified a decision on the basis of principled reasoning in one situation
(post conventional morality stage 5 or 6) would frequently fall back on conventional reasoning
(stage 3 or 4) with another story. In practice it seems that reasoning about right and wrong
depends more upon the situation than upon general rules.
What is more individuals do not always progress through the stages and Rest (1979) found that one
in fourteen actually slipped backwards. The evidence for distinct stages of moral development
looks very weak and some would argue that behind the theory is a culturally biased belief in the
superiority of American values over those of other cultures and societies.
2. Does moral judgement match moral behavior?
Kohlberg never claimed that there would be a one to one correspondence between thinking and
acting (what we say and what we do) but he does suggest that the two are linked. However, Bee
(1994) suggests that we also need to take account of:

a) habits that people have developed over time.


b) whether people see situations as demanding their participation.
c) the costs and benefits of behaving in a particular way.
d) competing motive such as peer pressure, self interest and so on.

Overall Bee points out that moral behavior is only partly a question of moral reasoning. It is also to
do with social factors.
3. Is justice the most fundamental moral principle?
This is Kohlbergs view. However, Gilligan (1977) suggests that the principle of caring for others is
equally important. Furthermore Kohlberg claims that the moral reasoning of males has been often
in advance of that of females.
Girls are often found to be at stage 3 in Kohlbergs system (good boy-nice girl orientation) whereas
boys are more often found to be at stage 4 (Law and Order orientation). Gilligan replies:
The very traits that have traditionally defined the goodness of women, their care for and
sensitivity to the needs of others, are those that mark them out as deficient in moral
development.
In other words Gilligan is claiming that there is a sex bias in Kohlbergs theory. He neglects the
feminine voice of compassion, love and non-violence, which is associated with the socialization of
girls.
Gilligan reached the conclusion that Kohlbergs theory did not account for the fact that women
approach moral problems from an ethics of care, rather than an ethics of justice perspective,
which challenges some of the fundamental assumptions of Kohlbergs theory.

4. Masih banyak perdebatan tentang apakah produsen harus bertanggung


jawab jika produknya mengakibatkan kerugian bagi konsumen. Untuk
menjelaskan tanggung jawab perusahaan ini ada teori2 yang sering diacu
Bab 6
a. Jelaskan teori2 tersebut
Due Care Theory : Produsen mempunyai tugas untuk memberikan
perhatian kepada konsumen bahwa produk yang dihasilkan tidak
membahayakan konsumen.
Contractual Theory : Hubungan antara produsen dan konsumen secara
kontraktual dan produsen mempunyai tanggung jawab moral untuk
memenuhi kewajiban sesuai dengan kontrak
Market Approach : perlindungan konsumen dapat dicapai dengan baik
melalui pasar bebas, karena penjual harus merespon keinginan
konsumen jika ingin mendapatkan profit.
Social Cost : Produsen harus membayar biaya cidera yang diakibatkan
kegagalan produk, semua biaya tersebut akan digabungkan kepada
biaya produksi untuk menanggung cidera yang tidak dapat diprediksi.

b.

Menurut pendapat saudara, teori mana yang paling mungkin diadopsi


di Indonesia

Digunakan pendekatan tidak hanya dari Market Approach / persaingan


pasar saja untuk menciptakan proteksi kepada konsumen, akan tetapi
juga dengan menggunakan pendekatan contract view, dimana
produsen wajib memenuhi kewajiban sesuai dengan kontrak, sehingga
konsumen dapat menentukan pilihan sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan.
Pengertian2:
ETHICAL PRICIPAL in BUSINESS (text book)
Utilitarian : tindakan atau kebijakan yang di evaluasi berdasarkan pendekatan
benefits & cost (biaya dan manfaatnya) yang akan dibebankan kepada
masyarakat (society)
Rights : Hak individu untuk bebas memilih dan menjadi sejahtera
Justice : membagi manfaat dan kerugian secara adil dan merata ke semua
orang
TYPES of JUSTICE
1
2
3

Distributive Justice : Hanya distribusi manfaat dan beban (kerugian)


Retributive Justice : Pengenaan hukuman dan penalti
Compensatory Justice : Kompensasi terhadap kesalahan / cidera

Ethics of care : etika yang memberikan perhatian untuk kesejahteraan secara


konkrit kepada seseorang yang memiliki hubungan dekat dan berharga serta
bergantung pada kita
Stakeholder theory
Slides Velazquez _ C1

Pihak yg
mempengar
uhi
keputusan 1

Pihak yg
mempengar
uhi
keputusan 5

Pemega
ng
keputus
an

Pihak yg
mempengar
uhi
keputusan 4

Pihak yg
mempengar
uhi
keputusan 2

Pihak yg
mempengar
uhi
keputusan 3

Etika di abaikan / dapat dibaikan:


contohnya:
1. Jika menyangkut kepentingan umum dan lebih besar keuntungannya
dibandingkan kerugiannya
2. Diskriminasi gender : orang IT preferensi laki-laki dibandingkan
perempuan
3. Ruang menyusui karena memang tidak ada ruangannya
4. Keharusan untuk memiliki fasilitas difable (differently able) toilet difable,
tangga difable,

Mengapa dan bagaimana pula para stakeholders (sebaliknya) juga perlu berlaku
etis pada organisasi/perusahaan anda. Jelaskan dengan teori-teori etika yang
sesuai.
Contoh:
1. Ground vibration ranang
2. Ganti rugi nilai sewajarnya untuk tol cipali bang bone
3.
Utilitarian : tindakan atau kebijakan yang di evaluasi berdasarkan pendekatan
benefits & cost (biaya dan manfaatnya) yang akan dibebankan kepada
masyarakat (society)
Rights : Hak individu untuk bebas memilih dan menjadi sejahtera
Justice : membagi manfaat dan kerugian secara adil dan merata ke semua
orang
TYPES of JUSTICE

4
5
6

Distributive Justice : Hanya distribusi manfaat dan beban (kerugian)


Retributive Justice : Pengenaan hukuman dan penalti
Compensatory Justice : Kompensasi terhadap kesalahan / cidera

Ethics of care : etika yang memberikan perhatian untuk kesejahteraan secara


konkrit kepada seseorang yang memiliki hubungan dekat dan berharga serta
bergantung pada kita