Anda di halaman 1dari 22

Bismillahir Rahmaanir Rahiem

Rabbi Zidni Ilman


Tuhanku Tambahkan Ilmu
Kepadaku

KESALAHAN DALAM PENILAIAN


1. Bias secara acak
Terjadi karena kesalahan pengukuran
hasilnya tidak mempengaruhi nilai rata-rata
Bias dapat memperbesar sebaran (deviasi)
dari nilai pengukuran
Dapat dikurangi dengan menambah jumlah
pengamatan tidak dapat dihilangkan
Dapat terjadi pada seluruh responden dan
seluruh hari

2. Bias Sistematik

Tidak dapat dikurangi dengan menambah


jumlah pengamatan
Bias terjadi pada responden tertentu (obes ,
usila) dan pengumpul data tertentu.
Kesalahan kuisioner BM penting tidak
ada
Kesalahan pewawancara sengaja dan
berulang melewatkan pertanyaan BM ttt
Kesalahan alat ukur yang tidak akurat
Kesalahan dari DKBM

SUMBER BIAS
1. Bias dari responden

Tidak memahami pertanyaan interviewer


Terbatasnya daya ingat
Makanan yang baik dilaporkan berlebihan
Makanan tidak baik tidak dilaporkan
Membesarkan konsumsi makanan yang
bernilai sosial tinggi
Keinginan untuk menyenangkan
pewawancara
Kesalahan dalam mencatat (food record)

2. Bias dari pengumpul data


Pengaruh sikap dalam bertanya
mengarahkan jawaban, mencatat hasil
wawancara, sengaja membuat catatan
sendiri
Kesalahan dalam melakukan konversi
makanan masak ke mentah dan URT ke
berat (gram)

3. Kesalahan estimasi dari


ukuran porsi
Merupakan sumber terbesar kesalahan
pengukuran bahan makanan
Responden tidak dapat dengan akurat
mengukur jumlah porsi
Asumsi interviewer bahwa jawaban
responden adalah seperti rata-rata
serving size

4. The flat Slope Syndrome


Kecenderungan over estimate untuk
intake yang rendah
Kecenderungan under estimate untuk
intake yang tinggi
5. Tidak dicantumkan penggunaan
suplemen zat gizi dalam food recall dan
record hasilnya tidak benar saat
menghitung nilai gizi

6. Kesalahan dalam koding dan


perhitungan
Kesalahan penentuan nama bahan
makanan yang digunakan
Perbedaan kandungan zat dari
makanan yang sama karena tingkat
kematangan, tanah dan pupuk yang
dipakai tidak sama
Tidak adanya informasi mengenai
komposisi makanan jadi atau jajanan

UPAYA MENGURANGI BIAS

Pemilihan tenaga pelaksana mempunyai


pengalaman dan latar belakang dalam
penyelenggaraan makanan
Pelatihan petugas pengumpul data (penjelasan
tujuan survei, teknik wawancara)
Standarisasi kuisioner
Uji coba kuisioner
Menggunakan bantuan visual (food model)
Pelatihan responden (URT dan besar porsi)
Menempatkan responden & interviewer dg acak

VALIDASI DATA HASIL PENGUKURAN


KONSUMSI MAKANAN
Sulit dilakukan Gold standar yang
dapat mengukur konsumsi sebenarnya
responden
Menguji validitas membandingkan
satu metode dg metode yg lebih baik
(food recall dg penimbangan BM)

Cara Menguji validitas metode survei


diit (Willet, 1990)
Observasi langsung terhadap makanan
yang dikonsumsi
Menimbang semua BM
Melakukan pemeriksaan biokmia thd
variabel yang berhubungan secara
fisiologis dg zat gizi, misalnya konsumsi
protein dg kadar nitrogen urin 24 jam

FOOD RECORD
Hasil studi pencatatan makan
underestimated, sebagian besar individu
tidak melaporkan semua makanannya
Underreporting terutama pada responden
wanita obese perlu penelitian lebih
lanjut untuk menentukan populasi yang
cenderung tidak melaporkan semua
makanannya

FOOD RECALL 24 HOUR


Studi Bingham food recall
dibandingkan dengan food record pada
individu yang sama, hasilnya bervariasi.
Pada umumnya rata-rata perkiraan
intake recall 24 jam sama dengan intake
pengamatan, meskipun responden
dengan intake pengamatan rendah
cenderung melaporkan lebih, demikian
sebaliknya.

FOOD FREQUENCY
Pendekatan FFQ dengan makanan yang
seharusnya adalah dengan multiple food
recall dan pencatatan makan (studi
kalibrasi) karena recall dan record tidak
menggambarkan periode waktu ttt.
Instrumen FFQ dengan daftar BM yang
panjang cenderung hasil estimasi makanan
dan zat gizi lebih tinggi dibanding recall
dan record

DIET HISTORY
Validitas sulit dinilai karena periode
waktu yang panjang
Estimasi zat gizi hasilnya lebih tinggi
dibandingkan pengukuran intake
dengan metode recall dan record

PENGOLAHAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA


1. Faktor Konversi
Stelah data konsumsi diperoleh, maka pengolahan
tahap pertama adalah mengkonversi dari URT ke gr.
memerlukan : DKBM, DKGJ, DKMM, URT, dsb
a. Bagian yang dapat dimakan,
Yg tidak dikonsumsi o/ kluarga:
Refuse : bagian yg tidak dapat dimakan
(biji, kulit telur,tulang), refuse diperhitungkan saat
konversi dari bentuk BM ke dalam zat gizi
Waste : sisa makanan yang sebenarnya dapat
dimakan tapi tidak dimakan. Banyaknya waste
diperhitungkan dalam menentukan banyaknya
konsumsi makanan responden.

b. Konversi berat mentah masak


Makanan dalam olahan (masak) dan tidak
ada dalam daftar komposisi makanan
jajanan dapat digunakan konversi
mentah masak (puslitbang gizi Bogor,
1974)
BMj = Fj x Boj
Fj = faktor konversi (tabel DMM)
BMj = Berat BM j dalam bentuk mentah
BOj = Berat BM j dalam bentuk masak

Contoh:
Seorang responden mengkonsumsi 75 gr
pepes udang, faktor mentah masak (F) dr
pepes udang adalah 1,3 (hal 298 psg)
kandungan gz? Harus tau berat udang
mentah
= F udang x Gr pepes udang
= 1,3 x 75 gr
= 97,5 gr liat DKBM

lanjutan
2. Ukuran Rumah Tangga
Daftar URT digunakan dalam menaksir jumlah
BM
Koreksi untuk URT (ptg, iris, batang, ikat)
tergantung daerah penilaian
3. Analisis Zat Gizi
Analisa selanjutnya dg menggunakan
komputerisasi or manual sperti DKBM, daftar
kandungan zat gizi makanan jajanan, pedoman
komposisi ASI

DKBM

Banyak jenis BM yg tidak dijumpai diDKBM, SO


gunakan analisis bahan makanan yg relatif
sama.

DKGJ (dftar kndungan zat gz mkanan jajan)


Dirangkum dr hsil penelitian,dibuat terpisah dng
DKBM
Campuran berbagai BM yg tlah diolah
Tidak ada kolom BDD
Hanya memuat energi & 9 jnis zat gz protein,
KH,lmak,Ca,Fe, Vit A, Vit C, Vit B1 dan air