Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. DEMAM BERDARAH DENGUE
1. Pengertian
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit menular yang
disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang
ditandai dengan demam mendadak dua sampai tujuh hari tanpa penyebab yang
jelas, lemah atau lesu, gelisah, nyeri ulu hati, disertai dengan tanda-tanda
perdarahan di kulit berupa bintik perdarahan (petechia), ruam (purpura).
Kadang-kadang mimisan, berak darah, muntah darah, kesadaran menurun dan
bertendensi menimbulkan renjatan (syok) dan kematian (Mubin, 2005).
2. Tanda Tanda Penyakit DBD
Pada hari pertama sakit, penderita panas mendadak secara terusmenerus dan badan terasa lemah atau lesu. Pada hari kedua atau ketiga akan
timbul bintik - bintik perdarahan, lembam atau ruam pada kulit di muka, dada,
lengan atau kaki dan nyeri ulu hati serta kadang-kadang mimisan, berak darah
atau muntah. Antara hari ketiga sampai ketujuh, panas turun secara tiba-tiba.
Kemungkinan yang selanjutnya adalah penderita sembuh atau keadaan
memburuk yang ditandai dengan gelisah, ujung tangan dan kaki dingin dan
banyak mengeluarkan keringat. Bila keadaan berlanjut, akan terjadi renjatan
(lemah lunglai, denyut nadi lemah atau tidak teraba). Kadang kadang
kesadarannya menurun (Mubin, 2005).
Pembesaran hati (hepatomegali) pada umumnya dapat ditemukan di
permulaan penyakit. Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan berat
penyakit. Biasanya nyeri tekan seringkali ditemukan tanpa disertai ikterus.

Trombositopeni yaitu jumlah trombosit di bawah 100.000/mm3 biasanya


ditemukan diantara hari ketiga sampai ketujuh sakit (Soedarmo, 2005).
3. Vektor Penularan
Nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopictus merupakan vektor
penularan virus Dengue dari penderita kepada orang lain melalui gigitan.
Nyamuk Aedes aegypti merupakan faktor penting di daerah perkotaan (daerah
urban) sedangkan di daerah pedesaan (daerah rural) kedua jenis spesies
nyamuk Aedes tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes aegypti
berkembang biak di tempat lembab dan genangan air bersih. Sedangkan Aedes
albopictus berkembang biak di lubang-lubang pohon dalam potongan bambu,
dalam lipatan daun dan dalam genangan air lainnya (Soedarmo, 2005).
Tempat perkembangbiakan utama adalah tempat-tempat penyimpanan
air di dalam atau di sekitar rumah, atau di tempat-tempat umum, biasanya
berjarak tidak lebih 500 meter dari rumah. Nyamuk ini tidak dapat
berkembangbiak di genangan air yang berhubungan langsung dengan tanah
(Soedarmo, 2005).
Jenis-jenis tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
a. Tempat Penampungan Air (TPA) untuk keperluan sehari-hari seperti drum,
tangki air, tempayan, bak mandi/WC, ember dan lain-lain.
b. Tempat penampungan Air bukan untuk keperluan sehari-hari seperti: tempat
minum burung, vas bunga, dan barang-barang bekas (ban, kaleng, botol,
plastik dan lain-lain).
c. Tempat penampungan air alamiah seperti: lubang pohon, lubang batu,
pelepah daun, tempurung kelapa, potongan bambu dan lain-lain.

4. Penularan Penyakit DBD


Seseorang yang di dalam darahnya mengandung virus Dengue
merupakan sumber penular penyakit DBD. Virus Dengue berada dalam darah
selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila penderita tersebut digigit
nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terhisap masuk kedalam
lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di
berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk dalam kelenjar liurnya (Depkes RI,
2005).
Virus Dengue di dalam tubuh manusia mengalami masa inkubasi
selama 4-7 hari (viremia) yang disebut dengan masa inkubasi intrinsik. Di
dalam tubuh nyamuk, virus berkembang setelah 4-7 hari kemudian nyamuk
siap untuk menularkan kepada orang lain yang disebut masa inkubasi
ekstrinsik. Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang
hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes aegypti yang menghisap virus
Dengue ini menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan terjadi
karena setiap kali nyamuk menggigit, sebelum menghisap darah akan
mengeluarkan air liur melalui saluran alat tusuknya (probocis), agar darah yang
dihisap tidak membeku. Bersama air liur itulah virus Dengue dipindahkan dari
nyamuk ke orang lain. Nyamuk Aedes aegypti betina umurnya dapat mencapai
2-3 bulan (Depkes RI, 2005).
5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penularan DBD
a. Lingkungan
Lingkungan merupakan tempat interaksi vektor penular penyakit
DBD dengan manusia yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit DBD.

Hal-hal yang diperhatikan di lingkungan yang berkaitan dengan vektor


penularan DBD antara lain:
1) Sumber air yang digunakan
Air yang digunakan dan tidak berhubungan langsung dengan tanah
merupakan tempat perindukan yang potensial bagi vektor DBD.
2) Kualitas Tempat Penampungan Air (TPA)
Tempat penampungan air yang berjentik lebih besar kemungkinan
terjadinya DBD dibandingkan dengan tempat penampungan air yang
tidak berjentik.
3) Kebersihan lingkungan
Kebersihan lingkungan dari kaleng/ban bekas, tempurung, dan lain-lain
juga merupakan faktor terbesar terjadinya DBD (Soegijanto, 2006: 247).
b. Pengetahuan dan Sikap Masyarakat
Analisis dari Green yang dikutip Notoatmodjo (2007: 178)
menyatakan bahwa kesehatan dipengaruhi oleh dua faktor pokok yaitu,
faktor perilaku (behaviour causes) dan faktor non perilaku (non behaviour
causes). Sedangkan perilaku itu sendiri, khusus perilaku kesehatan
dipengaruhi atau ditentukan oleh 3 (tiga) faktor yakni:
1) Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor), yaitu terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya
dari seseorang.
2) Faktor-faktor pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam
lingkungan fisik.
3) Faktor-faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap
dan perilaku petugas kesehatan dan petugas-petugas lainnya termasuk di
dalamnya keluarga dan teman sebaya.
B. UPAYA PENCEGAHAN DBD
1. Partisipasi Masyarakat

Upaya masyarakat dalam pencegahan penyakit DBD dapat dilakukan


secara individu atau perorangan dengan jalan meniadakan sarang nyamuk
dalam rumah. Cara terbaik adalah pemasangan kasa penolak nyamuk. Cara lain
yang dapat dilakukan ialah (a) menggunakan mosquito repellent (anti nyamuk
oles) dan insektisida dalam bentuk spray, (b) menuangkan air panas pada saat
bak mandi berisi air sedikit, (c) memberikan cahaya matahari langsung lebih
banyak kedalam rumah (Soedarmo, 2005).
Peningkatan partisipasi masyarakat adalah suatu proses di mana
individu, keluarga, dan masyarakat dilibatkan dalam perencanaan dan
pelaksanaan pemberantasan vektor di rumahnya. Peningkatan partisipasi
masyarakat menumbuhkan berbagai peluang yang memungkinkan seluruh
anggota masyarakat secara aktif berkontribusi dalam pembangunan (Depkes
RI, 2005). Partisipasi masyarakat adalah ikut sertanya seluruh anggota
masyarakat dalam memecahkan permasalahan-permasalahan masyarakat
tersebut. Partisipasi masyarakat di bidang kesehatan berarti keikutsertaan
seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan mereka
sendiri (Notoatmodjo, 2005). Peningkatan partisipasi masyarakat dapat
dilakukan dengan menunjukkan perhatian dan kepedulian kepada masyarakat,
memprakarsai dialog lintas sektoral secara berkelanjutan, menciptakan rasa
memiliki terhadap program yang sedang berjalan, penyuluhan kesehatan dan
memobilisasi serta membuat suatu mekanisme yang mendukung kegiatan
masyarakat (Depkes RI, 2005).
Partisipasi masyarakat dalam tingkat individu dapat dilakukan dengan
mendorong atau menganjurkan dalam kegiatan PSN dan perlindungan diri

10

secara memadai. Pelaksanaan kampanye kebersihan yang intensif dengan


berbagai cara merupakan upaya di tingkat masyarakat. Memperkenalkan
program pemberantasan DBD pada anak sekolah dan orang tua, mengajak
sektor swasta dalam program pemberantasan virus dengue, menggabungkan
kegiatan pemberantasan berbagai jenis penyakit yang disebabkan serangga
dengan program pemberantasan DBD agar memperoleh hasil yang maksimal.
Selain itu peran partisipasi masyarakat dapat ditingkatkan dengan pemberian
insentif seperti pemberian kelambu atau bubuk abate secara gratis bagi yang
berperan aktif (Soegijanto, 2006).
2. Kebijakan Pemerintah
Bila dilihat dari aspek sistem kebijakan dalam peningkatan derajat
kesehatan melalui pemberantasan penyakit DBD maka ada tiga elemen, bahkan
ada empat elemen yang mencakup hubungan timbal balik dan mempunyai
andil di dalam kebijakan karena memang mempengaruhi dan saling
dipengaruhi oleh suatu keputusan (Koban, 2005). Adapun elemen tersebut
antara lain adalah:
a. Kebijakan publik (Undang-Undang/Peraturan, Keputusan yang dibuat oleh
Badan Pejabat Pemerintah).
b. Pelaku kebijakan (kelompok warga negara, partai politik, agen-agen
pemerintah, pemimpin terpilih).
c. Lingkungan kebijakan (geografi, budaya, politik, struktural sosial dan
ekonomi).
d. Sasaran kebijakan (masyarakat).
Elemen-elemen tersebut secara skematis dapat dilihat pada gambar
di bawah ini:

11

Gambar 1. Hubungan timbal balik antarelemen dalam pembuatan kebijakan


Sejalan dengan teori sistem kebijakan maka keberhasilan program
pemberantasan virus Dengue sangat didukung dengan pembuatan peraturan
perundang-undangan tentang penyakit menular dan wabah. Perundangundangan ini memberikan wewenang kepada petugas kesehatan untuk
mengambil tindakan yang diperlukan saat terjadi wabah atau KLB di
masyarakat

(Koban,

2005).

Penyusunan

undang-undang

harus

mempertimbangkan komponen penting dalam program pencegahan dan


pengawasan virus Dengue dan nyamuk Aedes aegypti, yaitu mengkaji ulang
dan mengevaluasi efektifitas undang-undang, dirumuskan berdasarkan
perundang-undangan sanitasi yang telah diatur oleh Departemen Kesehatan,
menggabungkan kewenangan daerah sebagai pelaksana, mencerminkan
koordinasi lintas sektor, mencakup seluruh aspek sanitasi lingkungan,
mencerminkan kerangka administrasi hukum yang ada dalam konteks
administrasi secara nasional dan sosialisasi undang-undang kepada masyarakat.

12

Di

Indonesia

kelompok

kerja

pemberantasan

DBD

disebut

dengan

POKJANAL DBD dan POKJA DBD tingkat Desa/Kelurahan (Koban, 2005).


Diharapkan perilaku masyarakat akan berubah jika ada peraturan dan
kepastian hukum (law enforcement) yang mengikat dan mewajibkan setiap
anggota masyarakat untuk melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit DBD
di lingkungan keluarga dan masyarakat. Apabila dilanggar akan dikenakan
sanksi/hukuman yang sesuai dengan peraturan yang berlaku (Koban, 2005).
3. Pemberantasan Vektor
Pemberantasan vektor dapat dilakukan terhadap nyamuk dewasa dan
jentiknya. Menurut Soedamo (2005) jenis kegiatan pemberantasan nyamuk
penularan DBD meliputi:
a. Pemberantasan Nyamuk Dewasa
Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa, dilakukan dengan cara
penyemprotan (pengasapan/fogging) dengan insektisida. Hal ini dilakukan
mengingat kebiasaan nyamuk yang hinggap pada benda-benda tergantung,
karena itu tidak dilakukan penyemprotan di dinding rumah seperti pada
pemberantasan nyamuk penular malaria. Insektisida yang dapat digunakan
adalah insektisida golongan organophosphat, misalnya malathion, fenitrothion,
dan pyretroid, sintetik misalnya lambda sihalotrin dan permetin (Soedarmo,
2005).
Penyemprotan insektisida ini dalam waktu singkat dapat membatasi penularan,
akan tetapi tindakan ini perlu diikuti dengan pemberantasan jentiknya
agarpopulasi nyamuk penular tetap dapat ditekan serendah-rendahnya.
Sehingga apabila ada penderita DBD tidak dapat menular kepada orang lain
(Soedarmo, 2005).

13

b. Pemberantasan Larva (Jentik)


Pemberantasan terhadap jentik Aedes aegypti yang dikenal dengan
istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dilakukan dengan cara (Depkes
RI, 2005):
1) Kimia, yaitu dengan cara memberantas jentik Aedes aegypti dengan
menggunakan insektisida pembasmi jentik (larvasida). Ini dikenal dengan
istilah larvasidasi. Larvasida yang biasa digunakan adalah temephos.
Formulasi temephos yang digunakan adalah granules (sand granules). Dosis
yang digunakan 1 ppm atau 10 gr ( 1 sendok makan rata) untuk setiap 100
liter air. Larvasida dengan temephos ini mempunyai efek residu 3 bulan.
Selain itu dapatpula digunakan golonga insect growth regulator.
2) Biologi, yaitu dengan memelihara ikan pemakan larva yaitu ikan nila merah
(Oreochromosis niloticus gambusia sp.), ikan guppy (Poecillia reticulata),
dan ikan grass carp (Etenopharyngodonidla). Selain itu dapat digunakan
pula Bacillus Thuringiensis var Israeliensis (BTI) atau golongan insect
growth regulator.
3) Fisik, yaitu dengan kegiatan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur).
Menguras bak mandi, bak WC, menutup tempat penampungan air rumah
tangga (tempayan,drum dll), mengubur atau memusnahkan barang-barang
bekas (kaleng, ban dll). Pengurasan tempat-tempat penampungan air perlu
dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk
tidak dapat berkembang biak di tempat itu. Apabila PSN ini dilaksanakan
oleh seluruh masyarakat maka diharapkan nyamuk Aedes aegypti dapat
dikurangi sehingga tidak menyebabkan penularan penyakit. Untuk itu
diperlukan usaha penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat secara terus-

14

menerus dalam jangka waktu lama, karena keberadaan jentik nyamuk


tersebut berkaitan erat dengan perilaku masyarakat (Depkes RI, 2005).

C. PENGETAHUAN
1. Pengertian pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah
orang melakukan pengideraan suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi
melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran,
penciuman, perasaan dan perabaan. Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui penglihatan dan pendengaran. Pengetahuan merupakan dasar
untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2005).
Pengetahuan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti segala
sesuatu yang diketahui kepandaiannya yang berkenaan dengan sesuatu hal.
Pengetahuan berasal dari kata tahu yang berarti seseorang mempunyai
pengetahuan tentang suatu cakrawala tertentu, bisa didapat dari pendidikan
formal, nonformal dan informal (Purwodarminto, 1984).
a. Sumber Pengetahuan
Pengetahuan seseorang diperoleh dari pengalaman, informasi yang
disampaikan guru, orang tua, teman sebaya, media masa, buku, petugas
kesehatan dan lain sebagainya. Pengetahuan ini sangat berhubungan dengan
pendidikan, sedangkan pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar
manusia yang sangat dibutuhkan untuk mengembangkan diri. Semakin tinggi
tingkat

pendidikan

semakin

mudah

menerima

dan

mengembangkan

pengetahuan dan teknologi, sehingga semakin meningkatkan produktifitas dan


kesejahteraan keluarga (Notoatmodjo, 2005).

15

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau


angket yang menanyakan tentang materi yang ingin diukur dari subjek
penelitian atau responden. Untuk mengetahui kedalaman pengetahuan dari
responden dapat disesuaikan dengan melihat tingkatannya yang sebelumnya
telah dijelaskan.
b. Faktor- faktor yang mempengaruhi pengetahuan(Notoatmodjo, 2005).
1) Tingkat pendidikan
Pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan, sehingga
terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat.
2) Informasi
Seseorang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan
mempunyai pengetahuan yang lebih luas.
3) Budaya
Tingkah laku manusia atau kelompok masyarakat dalam memenuhi
kebutuhan yang meliputi sikap dan kepercayaan.
4) Pengalaman
Sesuatu yang pernah dialami seseorang akan menambah pengetahuan
tentang sesuatu yang sifatnya nonformal.
5) Sosial Ekonomi
Tingkat kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

D. SIKAP
Sikap adalah suatu bentuk reaksi perasaan. Sikap seserang terhadap
sesuatu objek adalah perasaan mendukung dan memihak maupun perasaan tidak
mendukung atau tidak memihak pada objek (Alken, 1970).
Sikap merupakan respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap
sesuatu stimulus atau objek. Manipestasi sikap tidak langsung dilihat akan tetapi
ditapsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang tertutup. Sikap mempunyai
tiga kelompok pokok yakni (Azwar, 2005):
1. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek

16

2. Kepercayaan, ide, konsep terhadap suatu konsep


3. Kecendrungan untuk bertindak
Sikap memiliki beberapa tingkatan, antara lain : ( Notoatmojo, 2005)
1. Menerima (Receiving)
Mau dan memperhatikan stimulus atau objek yang diberikan
2. Merespon (Responding)
Memberikan jawaban jika ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang
diberikan
3. Menghargai (Voluing)
Mengajak orang lain mengerjakan atau mendiskusikan masalah
4. Bertanggung jawab (Responsible)
Mempunyai tanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dipilihnya dengan
segala resiko.
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan dapat juga tidak.
Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pertannyaan
responden terhadap sesuatu objek, sedangkan pengukuran yang tidak langsung
dapat dilakaukan dengan peryataan-peryataan hipotesis, kemudian ditanyakan
pendapat responden melalui kuisioner dalam bentuk, sangat setuju, setuju, tidak
setuju, dan sangat tidak setuju (Nootoatmodjo, 2005)
E. PRILAKU
Prilaku manusia merupakan hasil dari pengalaman serta interaksi manusia
dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan
tindakan. Sehingga, dapat dikatakan bahwa ada respon individu terhadap stimulus
yang berasal dari luar maupun dalam dirinya (Sarwono, 2004).
Prilaku kesehatan adalah suatu proses seseorang terhadap stimulus yang
berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem playanan kesehatan dan makanan
serta lingkungan.Kalasifikasi prilaku yang berhubungan dengan kesehatan sebagai
berikut:

17

1. Prilaku kesehatan yaitu hal-hal yasng berhunbungan dengsan tindakan atau


kegiatan seseorang dalam
meningkatkan
2. Prilaku sakit yakni segala
oleh

seseorang

yang

Faktor Perilaku
1. Pengetahu
an
2. Sikap
3. Perilaku

memelihara

dan

kesehatannnya.
tindakan yang
merasa

dilakukan

sakit

untuk

merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit.


3. Prilaku peran sakit yakni segala tindakan yang dilakukan oleh indivisu yang
sedang sait untuk memperoleh kesembuhan.
Pengukuran prilaku dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan
metode wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa
jam, hari, atau bulan yang lalu. Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung
yaitu

dengan

melakukan

observasi

tindakan

atau

kegiatan

responden

(Notoatmodjo 2005).

F. KERANGKA KONSEP

Faktor
Lingkungan
Keterangan :
1. Fisik
2. Biologi
3. Sosial
G. HIPOTESIS
4. Budaya
5. Ekonomi

: Tidak diteliti
Insidensi DBD
: DIteliti

Faktor
Pelayanan
Kesehatan
1.
2.
3.
4.

Promotif
Preventif
Kuratif
Rehabilitati

18

1. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat


tentang demam berdarah dengan angka kejadian Demam Berdarah Dengue
(DBD).
2. Semakin tinggi tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang
demam berdarah maka akan semakin kecil angka kejadian Demam Berdarah
Dengue (DBD).

19