Anda di halaman 1dari 21

TUGAS MAKALAH

MATA KULIAH TEORI HUKUM


JUDUL:
KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM MENANGGULANGI
KEJAHATAN ILLEGAL FISHING DI INDONESIA

DISUSUN OLEH:

H. JUNAIDI, SH, SPN, MH


NIM: PDIH.03VIII.16.0427

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG (UNISSULA) SEMARANG


PROGRAM DOKTOR ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
SEMARANG
2016

Kebijakan Hukum Pidana dalam Menanggulangi


Kejahatan Illegal Fishing di Indonesia
A. Pendahuluan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan (Achipelagic State) terbesar
di dunia dengan 17.499 pulau dan luas perairan laut yang mencapai 5,8 juta km 2 dan garis pantai
sepanjang 81.000 km. sebagai Negara kepulauan yang sering disebut zamrud di khatulistiwa, Indonesia
memiliki konfigurasi unik dan sekaligus amat menantang di samping mempunyai posisi silang yang
strategi antara dua benua dan dua samudra. Sehingga dengan posisi geografis demikian menyebabkan laut
wilayah Indonesia menjadi alur laut yang sangat penting bagi lalu lintas pelayanan nasional maupun
internasional.1 Dengan lebih luasnya laut dibandingkan daratan menjadikan bangsa Indoensia kaya akan
sumber daya di laut dan sekaligus menjadikan bangsa Indoensia salah satu negera kepulauan terbesar.
Berdasarkan hal di atas juga dipertegas dalam ketentuan Pasal 25A Undang-Undang Dasar Tahun 1945
amandemen ke-IV menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara
kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah dan batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan
undang-undang.2Undang-Undang Dasar 1945 yang menjadi konstitusi bangsa Indonesia dengan tegas
menyatakan bahwa negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang harus dijaga dan dipelihara.
Amanat dalam Undang-Undang Dasar tersebut diturunkan baik dalam peraturan perundang-undangan
lainya maupun peraturan internasional melalui ratifikasi. Dalam peraturan internasional, missal Konvensi
PBB tentang Hukum Laut 1982 atau United Nations Convention of the Law of the Sea (UNCLOS) 1982
menjadikan penambahan territorial luas lautan Indonesia sejauh 12 mil.
Dibalik keberhasilan Indonesia yang telah memperjuangkan lebar laut territorial sejauh 12 mil laut dan
perjuangan yang terpenting diterimanya konsep wawasan nustantara menjadi negara kepulauan oleh dunia
internasional adalah tersimpannya tanggung jawab besar dalam memanfaatkan perairan Indonesia
(perairan pedalaman, perairan kepulauan dan laut territorial) dan kekayaan sumber daya alam di
dalamnya dengan seoptimal mungkin bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyar Indonesia. Tanggung
jawab besar yang diemban oleh NKRI ini untuk menjadikan negara ini menjadi negara besar yang
memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia Tahun 1945. Pemerintah Indonesia mempunyai peranan yang maha penting untuk menjaga
Indonesia.3 Pemerintah punya tanggungjawab yang sangat berat dalam mengelola sumber daya laut untuk
1 Jurnal Kajian Lemhanas RI, Penataaan Pengamanan Wilayah Maritim Guna
Memelihara Stabilitas dalam Rangka Menjaga Kedaulatan NKRI,Edisi 14,Desember
2012
2 Lihat Pasal 25A UUD Tahun 1945
3 Laporan Akhir Evaluas Kebijakan dalam Rangka Implementasi Hukum Laut
Internasional (UNCLOS 1982) di Indonesia, Departemen Kelautan dan Perikanan,
Sekretaris Jenderal, Satuan Kerja Dewan Kelautan Indonesia Tahun Anggaran 2008,
hlm.10
2

pertumbuhan ekonomi dan mensejahterakan masyarakat, terlebih lagi biaya pengelolaan berbagai sumber
daya alam yang ada dilaut cukup tinggi untuk menunjang pertumbuhan ekonomi bangsa.
Disisi lain ancaman terhadap laut semakin meningkat, yang berasal dari berbagai hal yang
membahayakan, mulai dari perompakan atau pembajakan, tindak pidana di laut, penangkapan ikan secara
tidak berkelanjutan, pencemaran laut, sampai ke perubahan iklim, dan bersifat transnasional. 4 Khususnya
penangkatan ikan yang dilakukan dengan cara-cara melawan hukum baik dilakukan oleh orangperorangan maupun yang dilakukan oleh korporasi telah semakin meningkat dan sangat memprihatinan.
Berbagai modus korporasi telah semakin meningkat dan sangat memprihatikan. Berbagai modus operasi
dilakukan oleh kapal-kapal nasional maupun asing untuk mendapatkan ikan secara melawan hukum
(Illegal Fishing) diwilayah yuridiksi laut Indonesia. Hal ini jelas bertentangan dengan hukum nasional
maupun hukum internasional. Dalam hukum internasional telah dijelaskan dasar-dasar pengaturan, serta
hak dan kewajiban dari yuridiksi negara yang berdaulat.
Pada tanggal 11 Desember 1982 UNCLOS 1982, menetapkan asas-asas dasar untuk penataan kelautan.
Tidak dapat disangkal lagi bahwa UNCLOS 1982 ini merupakan suatu perjanjian internasional sebagai
hasil dari negoisasi antar lebih dari seratus negara, yang mengatur materi yang begitu luas dan kompleks.
Secara rinci UNCLOS 1982 menetapkan hak dan kewajiban kedaulatan, hak-hak berdaulat dan yuridiksi
negara-negara dalam pemanfaaatan dan pengelolaan laut. 5 Dengan demikian, negara Indonesia
mempunyai hak untuk menegakkan hukum diwilayah yuridiksinya bagi pelaku Illegal Fishing sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Illegal Fishing yaitu kegiatan penangkapan ikan6 :

4 Etty R.Agoes, Penguatan Hukum Internasional Kelautan, Guru Besar Hukum


Internasional (purn) Universitas Padjadjaran, Makalah disampaikan pada Workshop
tentang Membangun Sinergitas Potensi Ekonomi, Lingkungan, Hukum, Budaya dan
Keamanan untuk Meneguhkan Negara Maritim yang Bermartabat, di Universitas
Sumatera Utara, Medan, 5-6 Maret 2015, dapat diakses pada
(http://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=12&cad=rja&uact=8&ved=occqqfjaboap
qfqotckyvu_iegmgfqtkgode18&hzg&url=http%3a%2f%2fusu.ac.id%2fpublic
%2fcontent%2ffiles%2fetty%2520agoespenguat%2520hukum%2520internasional
%2520kelautan.pdf
%usg=afqjcnefhbshtslr5hdlflmvknnmon7sg&bvm=bv.103073922,d.aww,)diakses
pada tanggal 3 november 2015, jam 14:44 WIB
5 Ibid,
6 Mukhtar, Mengenal Illegal, Unreported, Unregulated Fishing (Iuu Fishing), dapat
diakses pada (http://mukhtar-apl-blogspot.com/2008/06/mengenal-illegalunreported-dan.html,) diakses pada tanggal 10 Mei 2015, jam 14:41,WIB
3

1. Yang dilakukan oleh orang atau kapal asing pada suatu perairan yang menjadi yuridiksi suatu
negara tanpa izin dari negara tersebut atau bertentangan dengan peraturan-peraturan perundangundangan yang berlau;
2. Yang bertentangan dengan peraturan nasional yang berlaku atau kewajiban internasional;
3. Yang dilakukan oleh kapal yang mengibarkan bendara suatu negara yang menjadi angota
organisasi pengelolaan perikanan regional tetapi beroperasi tidak sesuai dengan ketentuan
pelestarian dan pengelolaan yang ditetapkan oleh organisasi tersebut atau ketentuan hukum
internasional yang berlaku.
Sebagaimana dikemukakan di atas, sesungguhnya yang dikategorikan kejahatan Illegal Fishing cakupan
cukup luas dan bukan hanya dilakukan oleh orang atau kapal asing saja sebagaimana dalam poin 1 di atas,
tetapi juga dilakukan oleh orang atau kapal Indonesia juga masuk kategori Illegal Fishing. Hal diatas
sebagaimana dijelaskan menurut Internasional Plan of Action (IPOA), Unreported, Unregulated Fishing
(IUU Fishing) diartikan sebagai7 :
a. Illegal fishing/penangkapan ikan secara illegal adalah kegiatan yang (i) dilaksanakan oleh kapalkapal nasional dan asing dalam wilayah yuridisi negara tanpa izin atau bertentangan dengan
peraturan perundangan negara tersebut,(ii) dilaksanakan oleh kapal yang mengibaran bendera
negara anggota organisasi perikanan regional tetapi bertentangan dengan prinsip yang dilakukan
oleh suatu hukum internasional, (iii) bertentangan dengan hukum nasional dan kewajibab
internasional termasuk yang dilaksanakn oleh negara-negara yang berkerjasama dengan
organisasi regional;
b. Unreported fishing adalah kegiatan penangkapan ikan yang (i) tidak dilaporkan atau laporanya
salah kepada instansi berwenang dan bertentangan dengan peraturan perundangan atau (ii)
dilaksanakan didaerah pengelolaan organisasi perikanan regional yang tidak dilaporakan atau
laporan salah dan bertentangan dengan prosedur pelaporan organisasi tersebut;
c. Unregulated fishing adalah kegiatan penangkapan ikan (i) didaerah penerapan pengelolaan
organisasi regional, dilakukan oleh kapal-kapal tanpa kebangsaan atau oleh kapal yang
berkebangsaan bukan anggota organisasi regional atau entitas pengakapan dalam suatu cara tidak
konsisten atau bertentangan dengan prinsip konservasi organisasi regional tersebut; (ii) di area
atau untuk stok ikan yang tidak ditetapkan prinsip konservasi dan peraturan pengelolaan dalam
hal mana pengangkapan dilakukan tidak konsisten dengan negarapenanggung jawab kapal atau
bertentangan dengan prinsip konservasi yang diatur oleh hukum internasional.
Sebagaimana dikemukakan di atas terdapat beberapa isu dalam penangkapan ikan yang dilakukan secara
melawan hukum. Isu-isu tersebut diantaranya adanya gejala penangkapan ikan yang berlebih, pencurian
ikan, dan tindakan illegal fishing lainnya tidak hanya menimbulkan kerugian bagi negara, tetapi juga
mengancam kepentingan nelayan dan pembudidaya ikan, iklim industri, dan usaha perikanan nasional.
Permasalahan tersebut harus diselesaikan dengan sungguh-sungguh, sehingga penegakan hukum di

7 Jerfi Hutagalung, Illegal Fishing,IUU Fishing,Kerugian Illegal Fishing,Penangkapan


Ikan Ilegal,dapat diakses pada
(http://jefrihutagalung.wordpress.com/tag/penangkapan-ikan-ilegal/) diakses pada
tanggal 10 Mei 2015,jam 13:25 WIB.
4

bidang perikanan menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka menunjang pembangunan perikanan
secara terkendali dan berkelanjutan.8
Perikanan itu sendiri sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikann sebagaiman dirubah dengan Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, bahwa
semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan
lingkungannya dimulai dari praproduksi, pengelolaan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dalam
suatu sistem bisnis perikanan. 9 Penangkapan ikan adalah kegitan untuk memperoleh ikan diperairan yang
tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apa pun, termasuk kegiatan yang menggunakan
kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengelola, dan/atau
mengawetkannya.
Sebagaimana dijlaskan latar belakang perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan menjadi Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan disebabkan beberapa faktor,
hal ini dapat dilihat sebagai berikut10 :
1. Mengenai pengawasan dan penegakan hukum menyangkut masalah mekanisme koordinasi antar
instansi penyidik dalam penanganan penyidikan tindak pidana di bidang perikanan, penerapan
sanksi (pidana atau denda), hukum acara, terutama mengenai penentuan batas waktu pemeriksaan
perkara, dan fasilitas dalam penegakan hukum di bidang perikanan, termasuk kemungkinan
penerapan tindakan hukum berupa penenggalman kapal asing yang beroperasi di wilayah
pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia.
2. Masalah pengelolaan perikanan perikanan antara lain kepelabuhanan perikanan, konservasi,
perizinan, kesyahbandaran.
3. Diperlukan perluasan yuridiksi peradilan perikanan sehingga mencakup seluruh wilayah
pengelolaan perikanan Negara Republi Indonesia.
Berbagai contoh kasus Illegal Fishing yang terjadi di Indonesia cukup memprihatinkan dan sekaligus
menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia. Hal tersebut terlihat dalam putusan peradilan sebagai berikut:
1. Putusan Mahkamah Agung Nomor 158 K/PID.SUS/2014. Pelakunya bernama Mr.PHAM DAT
warga begara Vietnam yang amar putusanya sebagai berikut 11 :
Bermula pada tanggal yang Terdakwa (Mr.PHAM DAT, WNA Vietnam.Pen) tidak ingat bulan
Februari tahun 2012 Terdakwa selaku Nahkoda Kapal KM. BV 5440 TS berbendera Vietnam,
berangkat bersama-sama dengan kapal KM BV 5309 TS (Kapal Utama yang pada saat
penangkapan melarikan diri) berangkat dari Vietnam dengan menggunakan bendera Vietnam
menuju ke perairan Vietnam kemudian mereka langsung menuju wilayah perairan Indonesia
8 Lihat Penjelasan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan
9 Lihat Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan
10 Lihat Penjelasan Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan
11 Lihat Putusan Mahkamah Agung Nomor 158 K/PID.SUS/2014
5

Terdakwa sebagai Nahkoda Kapal BV 5440 TS menggunakan alat penangkap ikan berupa jaring
pair trawl yang ditarik oleh dua kapal dimana Kapal KM 5309 TS sebagai Kapal Utama
melempar jaring kelaut dan salah satu ujung tali pada jaring trawl dilemparkan kekapal bantu
yaitu KM BV 5440 TS yang dinahkodai oleh Terdakwa selanjutnya jaring trawl ditarik secara
besama-sama dengan kecepatan yang sama oleh kedua buah kapal tersebut kemudian jaring
ditarik/dinaikan dan ikan diambil dikumpulkan di Kapal KM BV 5309 TS. Dan pada hari Rabu
tanggal 22 Februari 2012 sekitar jam 17:00 WIB Kapal Patroli HIU MACAM 001 yang sedang
melakukan patrol menuju ke tempat kejadian perkara Illegal Fishing dengan koordinat pada
posisi 0431,88N-11021,07 E (nol empat derajat tiga puluh satu menit delapan puluh delapan
detik Lintang Utara seratus sepuluh derajat dua puluh satu menit tujuh detik Bujur Timur) sesuai
Global Posision System/GPS atau 043153LU-110 21 04 BT(nol empat derajat tiga puluh
satu menit lima puluh tiga detik Lintang Utara seratus sepuluh dua puluh satu menit empat detik
Bujur Timur) setelah dikonversi dan dipilot pada peta laut menangkap Kapal KM BV 5440 TS
yang sedang menangkap ikan menggunakan jaring pair trawl bersama-sama dengan Kapal KM
BV 5309 TS (Kapal Utama yang pada saat penangkapan melarikan diri di perairan Zona Ekonomi
Ekslusif Indonesia.
Adapun putusanya sebagai berikut:
1. Terdakwa Mr.PHAM DAT, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan
tindak pidana peridakan yaitu : Dengan sengaja di Wilayah Pengelolaan Perikanan
Republik Indonesia melakukan usaha perikanan dibidang penangkapan ikan yang tidak
memiliki SIUP (Surat Izin Usaha Perikanan), DAN mengoperasikan kapal penangkapan
ikan berbendera ikan berbendera Asing melakukan penangkapan ikan di Zona Ekonomi
Ekslusif (ZEEI) yang tidak memiliki SIPI (Surat Izin Penangkapan Ikan) DAN dengan
senagaja memiliki, menguasai, membawa dan menggunakan alat penangkapan ikan yang
menganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan di kapal penangkap ikan di
Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia;
2. Menjatuhkan denda sebesar Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah);
3. Menetapkan barang bukti berupa :
a. Uang hasil lelang 1 (satu) unit kapal penangkapan ikan KM BV 5440 TS sebesar Rp
26.433.000,00 (dua puluh enam juta empat ratus tiga puluh tiga ribu rupiah) setelah
dipotong pajak, dirampas untuk Negara;
b. 1 (satu) unit alat tangkap trawl, dirampas untuk dimusnahkan
2. Putusan Mahkamah Agung Nomor 80 PK/Pid.Sus/2014 pelakunya bernama KEE CHIN WOOI
alias AHUN warga negara Perak, Malaysia yang amar putusanya sebagai berikut 12 :
Bahwa Terdakwa KEE CHIN WOOI alias AHUN sebagai Nakhoda Kapal pada hari Jumat
tanggal 15 Juni 2012 sekitar pukul 07:30 WIB, atau setidaknya pada waktu lain dalam bulan Juni
2012 atau setidak-tidaknya pada waktu lain dalam tahun 2012, bertempat di Wilayah Perairan
Rokan Hilir Kecamatan Pasir Limau Kapas pada posisi0240 460LU dan 100 40 400 BT
atau setidak-tidaknya pada tempat lain yang masih termasuk di dalam Daerah Hukum Pengadilan
Negeri Rokan Hilir, dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan di Republik Indonesia
melakukkan usaha perikanan di bidang penangkapan, pembudidayaan, pengangkutan,
pengelolaan dan pemasaran ikan yang tidak memiliki SIUP sebagaimana dimaksud dalam pasal
26 ayat (1), perbuatan tersebut dilakukan Terdakwa dengan cara sebagai berikut :
12 Lihat Putusan Mahkamah Agung Nomor 80 PK/Pid.Sus/2014
6

Pada waktu dan tempat sebagiamana tersebut di atas, ketika Terdakwa berangkat dari pelabuhan
di Perak-Malaysia dengan menggunakan kapal nelayan PKFA 7949 dengan Gross Sdr. Asiang
(DPO) dengan 4 orang ABK untuk berlayar ke Perairan Malaysia. Setelah 3 hari berlayar di
Perairan Malaysia, dikarenakan hasil tangkapan yang kurang, maka pada hari ke 4 Kamis tanggal
14 Juni 2012 dengan menggunaan GPS sebagai alat menentukan posisi penangkapan ikan di laut,
Terdakwa mengarahkan kapalnya ke Perairan Indonesia tepatnya di Perairan Rokan Hilir Riau,
kemudian pada hari Jumat tanggal 15 Juni 2012 sekira pukul 07:30 WIB sewaktu Terdakwa akan
mulai mengoperasikan alat tangkap pukat harimau, tanpa disadari datang kapal pengawas dari
Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rokan Hilir menangkap kapal Terdakwa, setalah
dilakukan pemeriksaan diatas kapal Terdakwa, ternyata Terdakwa melakukan penangkapan ikan
di wilayah perairan Indonesia tidak dilengkapi dengan surat izin atau dokumen dan di atas kapal
Terdakwa ditemukan alat tangkap Trawl Net (Pukat Harimau) untuk melakukan penangkapan
ikan di wilayah perairan Rokan Hilir Indonesia, yang mana jenis alat tangkap tersebut dilarang
penggunaanya di wilayah Perairan Indonesia. Setelah diperiksa kemudian Terdakwa bersama
kapal digiring ke pelabuhan Rokan Hilir untuk diproses lebih lanjut.
1. Menyatakan Terdakwa KEE CHING WOOI alias AHUN telah terbukti secara sah
dan meyakinkan bersalah melakukan tindakan pidana DENGAN SENGAJA DI
WILAYAH
PENGELOLAAN
PERIKANAN
REPUBLIK
INDONESIA
MELAKUKAN USAHA PERIKANAN DI BIDANG PENANGKAPAN IKAN
YANG TIDAK MEMILIKI SIUP;
2. Menyatakan Terdakwa KEE CHING WOII alias AHUN telah terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindakan pidanan MEMILIKI DAN
MENGOPERASIKAN KAPAL PENANGKAP IKAN BERENDERA ASING YANG
MELAKUKAN PENANGKAPAN IKAN DI ZEE YANG TIDAK MEMILIKI SIPI;
3. Menyatakan Terdakwa KEE CHING WOOI alias AHUN telah terbukti secara dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana DENGAN SENGAJA
MENGGUNAKAN ALAT PENANGKAP IKAN YANG MENGANGGU DAN
MERUSAK KEBERLANJUTAN SUMBER DAYA IKAN DI KAPAL
PENANGKAP IKAN DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN NEGARA
REPUBLIK INDONESIA;
4. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa KEE CHING WOOI alias AHUN tersebut
oleh karena itu dengan pidana penjara selama 3(tiga) tahun dan 6(enam) bulan dan
pidana denda sebesar Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dengan ketentuan
apabila denda tersebut tidak dibayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama 4
(empat) bulan;
5. Menetapkan masa penangkapan dan masa penahanan yang telah dijalani oleh
Terdakwa dikurangi seluruhnya dari pidana, yang dijatuhkan;
6. Menetapkan agar Terdakwa tetap berada dalam tahanan;
7. Menetapkan barang bukti berupa:
- 1 (satu) unit Kapal Nelayan PKFA 7949 Malaysia 44 GT;
- 1 (satu) buah Dokumen Lesen Vesel;
- 1 (satu) unit GPS Satelit merk Koden type CVS-118MK II;
- 1 (satu) unit GPS Satelit merk Koden type GTD-2000;
- 1 (satu) unit Orari merk Kenwood type P-980
- 1 (satu) unit Orari merk Virage;
Dirampas untuk Negara;
7

2 (dua) set Alat Tangkap Trawl Net/Pukat Harimau;


Ikan campuran lebih kurang 750kg
Undang 20 kg
Dirampas untuk dimusnahkan;
8. Membebani Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 5.000,- (lima ribu
rupiah);
3. Putusan Mahkamah Agung Nomor 168 K/Pid.Sus/2014. Pelakunya bernama Mr. NGUYEN VAN
BE warga negara Vietnam. Yang amar putusanya sebagai berikut 13 :
Bermula dari Terdakwa Mr. NGUYEN VAN BE selaku nakhoda KM BV 0870 TS berangkat dari
pelabuhan Ba Ria Vung Tau Vietnam, menuju di perairan Indonesia dengan tujuan untuk
menangkap ikan di wilayah perairan Indonesia, dan setelah sampai di perairan Indonesia
kemudian Terdakwa selaku nakhoda KM BV 0870 TS bersama-sama dengan Mr. BUI HAN
HANH yang merupakan nakhoda KM BV 0071 TS (dilakukan penuntutan secara terpisah)
melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan alat penangkap ikan berupa trawl dengan
spesifikasi panjang jaring (kantong dan badan jaring) 20-30 m (duapuluh sampai tigapuluh
meter), lebar mulut jaring 20 (duapuluh) meter dan panjang tali dari mulut jaring ke kapal 400
(empat ratus) meter dan terdapat rantai besi yang diletakkan pada sepanjang tali ris bawah jaring
pair trawl dengan berat rantai besi lebih kurang 100 (seratus) kg, selanjutnya dengan posisi dan
kecepatan yang ditentukan oleh Terdakwa, jaring trawl dilempar atau dijatuhkan ke dalam laut
oleh kapal KM BV 0870 TS yang dinakhodai oleh Terdakwa kemudian salah satu ujung tali pada
jaring trawl dilempar ke kapal bantu KM BV 0071 TS yang dinakhodai oleh Mr.BUI HAN
HANH, selanjutnya tali jaring trawl ditarik secara bersama-sama oleh KM BV 0870 TS yang
dinakhodai Terdakwa dan KM BV 0071 TS yang dinakhodai oleh Mr. BUI HAN HANH dengan
kecepatan yang sama sekitar 2 knot selama 6 jam, kemudian jaring ditarik dan dinaikkan ke
dalam kapal KM NV 0870 TS bersama ikan hasil tangkapan dan selanjutnya pada saat kapal KM
BV 0870 TS bersama-sama dengan KM BV 0071 TS sedang melakukan penangkapan ikan
dengan menggunakan alat tangkap jaring trawl, pada hari Rabu tanggal 25 April 2012 pukul
14:23 WIB datanglah KP Hiu Macan 001 yang sedang melakukan patrol dan langsung melakukan
penangkapan dan pemeriksaan terhadap kapal KM BV 0870 TS dan kapal KM BV 0071 TS pada
posisi 05 40,70 N - 109 40,55 E sesuai GPS (05 4042 LU-109 4133 BT setelah
dikonversi dan dipilot pada peta laut) di Laut China Selatan/ZEEI, kemudian saksi RASDIANTO
dan saksi EDUARO DACOSTA yang merupakan ABK KP Hiu Macan 001 melakukan
pemeriksaan terhadap kapal KM BV 0870 TS dan KM BV 0071 TS mengenai dokumen maupun
surat-surat kelengkapan serta izin sah lainnya yang dikeluarkan oleh Pemerintah RI yang dimiliki
oleh Terdakwa maupun oleh Mr. BUI HAN HANH dan pada saat kedua saksi tersebut.
Adapun putusannya bagi pelaku adalah berikut:
1. Menyatakan Terdakwa Mr.NGUYEN VAN BE terbukti secara sah dan meyakinkan
bersalah melakukan tindak pidana perikanan yaitu: Turut serta melakukan penangkapan
ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia di Zona Ekonomi Ekslusip
Indonesia tidak memiliki Surat Ijin Usaha Penangkapan (SIUP) dan melakukan
pengoperasian kapal penangkap ikan berbendera asing melakukan penangkapan ikan di
Zona Ekonomi Ekslusip Indonesia tidak memiliki Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI) dan
13 Lihat Putusan Mahkamah Agung Nomor 168 K/Pid.Sus/2014
8

memiliki, menguasai, membawa dan menggunakan alat penangkap ikan yang menggangu
dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan:
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa Mr. NGUYEN VAN BE oleh karena itu dengan
PIDANA DENDA sebesar Rp 1.500.000.000,00 (satu miliyar lima ratus juta rupiah);
3. Menetapkan barang bukti berupa;
Uang hasil lelang Kapal KM BV 0870 TS Rp 48.000.000,- (empat puluh delapan juta
rupiah), Seluruhnya dirampas untuk Negara;
1 (satu) unit Tali Warp Jaring Trawl dan ikan campur sebanyak 150 kg, seluruhnya
dirampas untuk dimusnahkan;
4. Membebankan kepada Terdakwa Mr.NGUYEN VAN BE untuk membayar biaya perkara
sebear Rp 5.000,00 (lima ribu rupiah);
4. Putusan Mahkamah Agung Nomor 1960 k/pid.sus/2013. Pelakunya bernama NELSON
PANJAITAN BIN MANOKKON PANJAITAN warga negara Indonesia, putusanya sebagai
berikut14 :
Bahwa ia Terdakwa NELSON PANJAITAN bin MANOKKON PANJAITAN sebagai Nakhoda
KM PANBERS GT, 6 Nomor 1198/PHB/S.7 pada hari Jumat tanggal 17 Mei 2013 sekitar pukul
11:00 WIB atau setidak-tidaknya pada suatu wilayah dalam bulan Mei 2013 bertempat di wilayah
perairan Pulau Jamur Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau Indonesia pada posisi 02>59129U100>3650T atau setidak-tidaknya pada suatu tempat yang masih termasuk dalam daerah hukum
pengadilan negeri Rokan Hilir, yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal penangkap ikan
berbendera Indonesia, melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan RI
dan/atau di laut lepas, yang tidak memiliki SIPI (surat izin penangkapan ikan) sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) perbuatan tersebut dilakukan oleh Terdakwa sebagai berikut:
Adapun putusanya sebagai berikut:
1. Menyatakan Terdakwa NELSON PANJAITAN bin MANOKKON PANJAITAN
telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana
Mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera Indonesia yang melakukan
penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia dengan
tidak memiliki SIPI;
2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa NELSON PANJAITAN bin MANOKKON
PANJAITAN tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan;
3. Menjatuhkan pidana denda kepada Terdakwa sebesar Rp 50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, maka diganti
dengan pidana kurungan selama (1) bulan;
4. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa
dikurangi seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
5. Memerintahkan Terdakwa tetap ditahan;
6. Menyatakan barang bukti berupa
a. 1 (satu) unit KM Panbers GT 6 Nomor 1198/PHBS/S.7;
b. 1 (satu) lembar pas kecil kapan penangkap ikan;
c. 1 (satu) lembar Sertifikat kelaikan dan pengawakan kapal penangkap ikan,(sudah
habis masa berlakunya);
d. 1 (satu) lembar data perlengkapan untukk sertifikat kelaikan dan pengawakan
kapal penangkap ikan;
14 Lihat Putusan Mahkamah Agung Nomor 1960 K/PID.SUS/2013
9

e. 1 (satu) lembar Surat Izin Usaha Penangkapan Ikan (SIUP), (sudah habis masa
berlakunya);
f. 1 (satu) lembar Surat Keterangan Layak Tangkap (SKTL) (sudah habis masa
berlakunya);
g. 1 (satu) lembar Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) (sudah habis masa
berlakunya);
h. 1 (satu) lembar Surat Keterangan Kecakapan (SKK) an. Nelson Panjaitan;
i. 1 (satu) set alat tangkap ikan jenis Bottom Gillnet;
Dikembalikan kepada pemiliknya.
Uang sejumlah Rp 2.469.600,00 hasil lelang ikan hasil tangkapan Terdakwa
dirampas untuk negara.
7. Membebani Terdakwa membayar biaya perkara sebear Rp 5.000,00 (lima ribu
rupiah).
Berdasarkan kasus yang dikemukakan di atas, masih terjadi kejahatan Illegal Fishing di beberapa daerah
walaupun sudah diberlakukan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sejak tahun
2004 dan perubahannya sudah berlaku hamper 7 (tahun) hingga sekarang Undang-undang Nomor 45
Tahun 2009 tentang Perikanan sudah diberlakukan, namun dirasakan belum mampu menanggulangi
kejahatan Illegal Fishing di Indonesia dan masih marak terjadi kejahatan Illegal Fishing laut Indonesia.
Hal lain juga bisa diakibatkan instansi para penegak hukum di laut tidak secara intergral atau kurang
terkoordinasinya proses penegakan atau penindakan. Instansi yang mempunyai kewenangan penegakan
hukum dilaut cukup banyak, antara lain TNI AL, Polisi, Kementerian Perhubungan, Kementerian
Kelautan dan Perikanan, Bea Cukai, Badan Keamanan Laut (Bakamla) DAN Satgas Illegal Fishing dan
sebagainya. Misalnya Badan Keamanan Laut (Bakamla) dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden
(Perpres) NOMOR 178 Tahun 2014 tentang Badan Keamanan Laut, yang mempunyai fungsi sebagai
berikut :
a. Menyusun kebijakan nasional di bidang keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia
dan wilayah yuridiksi Indonesia;
b. Menyelenggarakan sistem peringatan dini keamanan dan keselamatan di wilayah perairan
Indonesia dan wilayah yuridiksi Indonesia;
c. Melaksanakan penjagaan, pengawasan, pencegahan dan penindakan pelanggaran hukum di
wilayah perairan Indonesia dan wilayah yuridiksi Indonesia;
d. Menyinergikan dan memonitor pelaksanaan patrol perairan oleh instansi terkait;
e. Memberikan dukungan teknis dan operasional kepada instansi terkait;
f. Memberikan bantuan pencarian dan pertolongan di wilayah perairan Indonesia dan wilayah
yuridiksi Indonesia; dan melaksanakan tugas lain dalam sistem pertahanan nasional.
Adapun kewenangan Badan Keamanan Laut adalah :
1) Dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3,
Bakamla berwenang:
a. Melakukan pengejaran seketika;
b. Memberhentkan, memeriksa, menangkap, membawa dan meyerahkan kapal ke instansi
terkait yang berwenang untuk pelaksanaan proses hukum lebih lanjut; dan
c. Mengintegrasikan sistem informasi keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia
dan wilayah yuridiksi Indonesia.
10

2) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada aya (1) dilaksanakan secara terintegrasi dan terpadu
dalam satu kesatuan komando dan kendali.
Terakhir pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Satgas Pemberantas Illegal
Fishing. Perpres No. 115 Tahun 2015 tentang Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara
Ilegal (Illegal Fishing). Hal ini juga untuk menanggulangi kejahatan Illegal Fishing yang terjadi di
Indonesia yang tugasnya antara lain untuk:
a. Satgas bertugas mengembangkan dan melaksanakan operasi penegakan hukum dalam upaya
pemberantasan penangkapan ikan secara illegal di wilayah laut yuridiksi Indonesia secara efektif
dan efesien dengan mengoptimalkan pemanfaatan personil dan peralatan operasi, meliputi kapal
pesawat udara dan teknologi lainnya yang dimiliki oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan,
Tentara Nasional Indonesia Angkata Laut, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaaan
Agung Republik Indonesia, Badan Keamanan Laut, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan
Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, PT. Pertamina dan instisusi terkait lainnya;
b. Tugas Satgas sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden ini juga meliputi kegiatan
perikanan yang tidak dilaporkan (unreported fishing).
Berdasarkan sebagaimana dikemukakan diatass sudah dilakukan upaya oleh pemerintah dalam bentuk
proses legislasi, hal ini diwujudkan mulai dari merubah Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan menjadi Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan guna efektifitas penegakan
hukum Illegal Fishing dan berbagai upaya lainnya. Namun upaya tersebut belum berdampak signifikan
dan masih terjadi kasus-kasus Illegal Fishing laut Indonesia. Pemberitaan penangkapan kapal-kapal
Illegal Fishing dan diiringi dengan proses pengakan hukum bagi para pelakunya antara lainya berupa
penenggalaman kapal masih menghiasi dipemberitaan nasional baik media cetak maupun elektronik. Hal
ini diperlukan pemikiran yang komprehensif guna menanggulangi kejahatan tersebut. Apalagi salah satu
agenda pemerintah Indonesia sekarang adalah menjadikan bangsa Indonesia menjadi poros maritim
dunia.
Gagasan poros maritim ini juga sebetulnya telah dicanangkan oleh periode pemerintah sebelumnya
dimana tertuang dalam naskah Penyusunan Kembali Rancangan (Redesign) Peraturan PerundangUndangan di Bidang Pelayaran oleh Dewan Kelautan Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan,
pada tahun 2012. Dalam pengantarnya disebutkan bahwa sebagai negara kepulauan sudah selayaknya
Indonesia memiliki armada laut yang sangat kuat, bukan hanya armada militer, melainkan juga armadaarmada/kapal-kapal niaga yang kuat yang mampu bersaing dengan kapal niaga asing. Namun, pada
kenyataanya Indonesia belum banyak memiliki armada-armada kapal yang bisa mendukung keberadaan
sebagai negara kepulauan, apalagi sebagai negara maririm. 15 Berdasarkan uraian di atas bahwa upaya
penanggulangan kejahatan Illegal Fishing dipandang kurang efektif mengatasi tindak pidana tersebut,
karena masih banyak terjadi kasus-kasus Illegal Fishing yang terjadi di Indonesia ditambah lagi dengan
gagasan pemerintah menjadikan poros maritim dunia. Oleh karena itu, dalam penelitian ini , saya tertarik
untuk melakukan penulisan disertai dengan judul : Kebijakan Hukum Pidana dalam Menanggulangi
Kejahatan Illegal Fishing di Indonesia.
15 Lihat Penyusuanan Kembali Rancangan (Redesign) Peraturan PerundangUndangn di Bidang Pelayaran, Dewan Kelauatan Indonesia, Kementerian Kelautan
dan Perikanan Indonesia, 2012
11

B. Permasalahan
1. Bagaiamana penegakan hukum kejahatan illegal fishing dalam praktek pengadilan di
Indonesia?
2. Sejauh mana sanksi pidana yang diberikan terhadap pelaku illegal fishing dapat memenuhi
tujuan pemindahan?
3. Bagaiaman a kebijakan hukum pidana dalam menanggulangi kejahatan illegal fishing untuk
masa yang akan datang?
C. Permasalahan
1. Kebijakan hukum pidana dalam menanggulangi kejahatan.
Menurut Sudarto16 politik hukum ialah kebijaksanaan dari negara dengan perantara badan-badan yang
berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki, yang diperkirakan bisa digunakan
untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam masyarakat dan untuk mencapai apa yang dicitacitakan.
Selanjutanya istilah kebijakan dalam tulisan ini diambil dari istilah policy (Inggris) atau politiek
(Belanda). Bertolak dari kedua istilah asing ini, maka istilah kebijakan hukum pidana dapat pula
disebut dengan istilah politik hukum pidana. Dalam kepustakaan asing istilah politik hukum pidana
ini sering dikenal dengan berbagai istilah, antara lain penal policy, criminal law policy atau
strafrecht politiek.17
Selanjutnya menurut A.Mudler sebagaimana dikutip oleh Brada Nawawi Arief 18 Strafechtspolitiek
ialah garis kebijakan untuk menentukan :
1. Seberapa jauh ketentuan-ketentuan pidana yang berlaku perlu diubah atau diperbaharui;
2. Apa yang dapat diperbuat untuk mencegah terjadinya tindak pidana;
3. Cara bagaimana penyidikan, penuntutan, peradilan dan pelaksanaan pidana harus dilaksanakan.
Strafechtspolitiek is de beleidslijn om te baplen:
- In welk opzicht de bestaande strafbepalingen herzien dienen te worden;
- Wat gedaan kan worden om strafechtelijk gedrag te voorkomen;
- Hoe de opsporing, vervolging, berechting en tenitvoerlegging van straffen dient te
verlopen
Barda Nawawi Arief juga mengemukakan, masalah kebijakan hukum pidana bukanlah semata-mata
pekerjaan teknik perundang-undangan yang dapat dilakukan secara yuridis normative, kebijakan hukum
pidana juga memerlukan pendekatan yuridis factual yang terdapat berupa pendekatan sosiologis, historis
dan komparatif bahkan memerlukan pula pendekatan komprehensif dari berbagai disiplin social lainnya
16 Sudarto, Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat Kajian Terhadap
Pembaharuan Hukum Pidana, Bandung, Sinar Baru, 1983, hlm.93
17Brada Nawawi Arief, Bunga Rampal Kebijakan Hukum Pidana Perkembangan
Penyusunan Konsup KUHP Baru,Jakarta, Kencana Prenada Media Grup,2010,hlm.26
18 Ibld, hlm 27 (dalam A.Mudler, Strafrechspolitiek, Delikt en Delinkwent, Mei 1980,
hlm.333)
12

dan pendekatan integral dengan kebijakan social dan pembangunan nasional pada umumnya
kebijakan criminal dalam mengatasi dan menanggulangi masalah-masalah kejahatan.

19

serta

Marc Ancel menyatakan bahwa modern criminal science terdiri dari tiga komponen Criminologi,
Criminal Law, dan Penal Policy. Dikemukakan olehnya bahwa Penal Policy adalah suatu ilmu sekaligus
seni yang pada akhirnya mempunyai tujuan praktis untuk memungkinkan peraturan hukum positif
dirumuskan secara lebih baik dan untuk memberi pedoman tidak hanya kepada pembuat undang-undang
dan juga kepada para penyelenggara atau pelaksana putusan pengadilan 20
Kebijakan kriminal merupakan kebijakan menanggulangi kejahatan. Menurut Barda Nawawi Arief, 21
terdapat dua masalah sentral dalam kebijakan kriminal dengan menggunaan sarana penal
(hukum pidana) ialah masalah penentuan:
1. Perbuatan apa yang seharusnya dijadikan tindakan pidana itu dan;
2. Sanksi apa yang sebaiknya digunakan atau dikenakan kepada si pelanggar.
Penanggulangan kejahatan dengan menggunakan (hukum) pidana merupakan cara yang paling tua, setua
peradaban manusia itu sendiri. Ada pula yang menyebutnya sebagai older philosophy of crime control22.
Upaya atau kebijakan untuk melakukan pencegahan dan penganggulangan kejahatan termasuk bidang
kebijakan kriminal (criminal policy). Kebijakan kriminal ini pun tidak lepas dari kebijakan yang lebih
luas, yaitu kebijakan social (social policy) yang terdiri kebijakan atau upaya-upaya untuk
kesejahteraan social (social welfare policy) dan kebijakan atau upaya-upaya untuk perlindungan
masyarakat (social defence policy).23
Penanggulangan kejahatan (politik kriminal) dilakukan dengan menggunakan sarana penal (hukum
pidana), maka kebijakan hukum pidana (penal policy), khususnya pada tahapan kebijakan yudikatif
atau aplikatif (penegakan hukum secara in concreto) harus memperhatikan dan mengarahkan tercapai
tujuan dari kebijakan social itu, berupa social welfare dan social defence.24 Kesejahteraan masyarakat

19 Ibid,hlm.24
20 Marc Ancel, Sosial Defence, A.Modern Approach to Criminal Problems (London,
Routledge & Kegen Paul, 1965) hlm. 4-5 dalam Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai
Kebijakan Hukum Pidana Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru, Jakarta,
Kencana Prenada Media Grup,2010,hlm.23
21 Muladi dan Brada Nawawi Arief, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, Bandung,
Alumni, 2005, hlm.160
22 Ibid,hlm 149
23 Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebiijakan Hukum Pidana
dalam Penanggulangan Kejahatan, Kencana, Jakarta,2008,hlm 77
13

dan perlindungan masyarakat dengan menegakan norma-norma hukum yang ada diharapkan masyarakat
akan merasa terlindungi yaitu dengan memberikan sanksi pidana bagi yang melanggar hukum itu.
Penggunaan upaya penal (sanksi/hukum pidana) dalam mengatur masyarakat (lewat perundangundangan) pada hakikatnya merupakan bagian dari suatu langkah kebijakan (policy). Mengingat berbagai
keterbatasan dan kelemahan hukum pidana 25. Keterbatasan kemampuan hukum pidana dari sudut hakikat
terjadi kejahatan dan dari sudut hakikat kejahatan sebagai suatu masalah kemanusiaan dan masalah social,
banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kejahatan. Faktor penyebab terjadi kejahatan itu sangat
kompleks dan berada diluar jangkauan hukum pidana. 26 Hal ini sesuai sebagaimana yang dikemukakan
oleh Sudarto bahwa, penggunaan hukum pidana merupakan penanggulangan sesuatu gejala (Kurieren am
Symtom) dan bukan suatu penyelesaian dengan menghilangkan sebab-sebabnya. 27
Menurut Barda Nawawi Arief, pembaruan hukum pidana pada hakikatnya mengadung makna, suatu
upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi hukum pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sentral
sosiopolitik, sosiofilosofis, dan sosiokultural masyarakat Indonesia melandasi kebijakan social, kebijakan
kriminal, dan kebijakan penegak hukum di Indonesia. 28
Upaya pembaharuan hukum pidana (penal reform) pada hakikatnya termasuk bidang penal policy yang
merupakan bagian dan terkait erat dengan :
a. Law enforcement policy,artinya pembaharuan hukum pidana pada hakikatnya merupakan bagian
dari kebijakan (upaya rasional) mempebaharui substansi hukum (legal substance) untuk lebih
mengefektifkan penegakan hukum;
b. Criminal policy yang berarti bahwa pembaharuan hukum pidana pada hakikatnya merupakan
bagian dari kebijakan (upaya rasional) untuk memberantass/menanggulangi kejahatan dalam
rangka perlindungan masyarakat;
c. Social policy,artinya pembaharuan hukum pidana pada hakikatna merupakan bagian dari
kebijakan (upaya rasional) untuk mengatasi masalah social dan masalah kemanusiaan dalam
rangka mencapai/menunjang tujuan nasional yaitu social defence dan social welfare.29
24 Ibid
25 Barda Nawawi Arief, Beberapa AspeK Kebijakan Penegakandan Pengembangan
Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti,Bandung, 2005,hlm.75
26 Ibid, hlm.72
27 Ibid,hlm.72 (lihat juga dalam buku Sudarto, Hukum Pidana dan Perkembangan
Masyrakat)
28 Op.Cit,Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana
Perkembangan Penyusunan Konsup KUHP BARU..,hlm.29
29 Ibid, hlm.297-298
14

2. Teori-teori dan Tujuan Pemindanaan


Secara umum teori-teori pemindanaan pada umumnya dapat dibagi beberapa kelompok teori, yaitu. 30
1. Teori absolut atau teori pembalasan (retributive/vergeldings theorieen);
Menurut teori ini pidana dijatuhkan semata-mata karena orang telah melakukkan suatu kejahatan
atau tindak pidana (quiapeccatum est). pidana merupakan kaibat mutlak yang harus ada sebagai
suatu pembalasan kepada orang yang melakukan kejahatan. Jadi, dasar pembenaran dari pidana
terletak pada adanya atau terjadinya kejahatan iti sendiri.
2. Teori relative atau teori tujuan (utilitarian/doelhtorieen) 31.
Menurut teori ini memidana bukanlah untuk memuaskan tuntutan absolut dari keadilan.
Pembalasan itu sendiri tidak mempunyai nilai, tetapi hanya sebagai sarana untuk melindungi
kepentingan masyarakat.
Pidana tidak dikenakan demi pidana itu sendiri, tetapi untuk suatu tujuan yang bermanfaat ialah
untuk melindungi masyarakat atau untuk penganyoman. Disamping itu, sebagai pengganti
pembalasan yang disebut sebagai dasar dan pembenaran pidana oleh kebanyakan sarjana hukum
disebut32.
a. Prevensi umum (pencegahan umum)
Para sarjana yang membela prevensi umum berpendapat bahwa pemerintah berwenang
menjatuhkan pidana untuk mencegah rakyat melakukan tindakan pidana.
b. Prevensi khusus (pencegahan khusus)
Mereka yang beranggapan bahwa pidana ialah pembenaran yang terpenting dari pidana itu
sendiri, bertolak dari perliku manusia (pelaku suatu tindak pidana dikemudian hari akan
menahan diri supaya jangan berbuat seperti itu lagi karena ia mengalami belajar) bahwa
perbuatanya menimbulkan dan memperbaiki.
c. Fungsi perlidungan.
Mungkin sekali bahwa dengan pidana pencabutan kemerdekaan selama beberapa waktu,
masyarakat akan terhindar dari kejahatan yang mungkin dilakukannya jika ia bebas.
3. Teori gabungan
Pembebasan memang betul merupakan pembenaran dari pidana namun dalam menjatuhkan
pidana itu harus selalu diperhatikan apa yang dapat dicapai dengan pidana itu. Pellegrino Rossi
memprogandakan teori gabungan dan berpendapat bahwa pembenaran pidana terletak dalam
pembalasan. Hanya yang bersalah boleh dipidana, pidana itu sesuai dengan delik yang dilakukan
dan beratnya pidana, tidak boleh melebihi beratnya pelanggaran, terhadap mana dilakukan
tuntutan.33
30 Op.Cit, Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-teori dan Kebijaka Pidana,hlm.
10-11
31Ibid, hm.16
32 Nyoman, Bandung, Citra Aditya, 2005, hlm. 73-74, lihat juga J.M. van Bemmelen,
Hukum Pidana, Diterjemahkan Oleh Hasnan, Bina Cipta, Jakarta, 1984, hlm.28
15

Hukum adalah rangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota-anggota
masyarakat, sedangkan satu-satunya tujuan dari hukum adalah mengadakan keselamatan, kebahagiaan
dan tata tertib di dalam masyarakat.34
Adapun menurut Wirjo Prodjokoro 35 tujuan hukum pidana adalah untuk memenuhi rasa keadilan.
Diantara para sarjan hukum diutarakan bahwa tujuan hukum pidana adalah sebagai berikut 36.
1. Untuk menakut-nakuti orang jangan melakukan kejahatan, baik secara menakut-nakuti orang
banyak (generale preventive) maupun secara menakut-nakuti orang tertentu yang sudah
menjalankan kejahatan agar dikemudian hari tidak melakukan kejahatan lagi (sepeciale
preventive)
2. Untuk mendidik atau memperbaiki orang-orang yang sudah menandaan suka melakukan
kejahatan agar menjadi orang yang baik tabiatnya sehingga bermanfaat bagi masyarakat.
Tujuan pemidanaan yang pertama berupa mencegah dilakukannya tindak pidana dengan mengakkan
norma hukum demi penganyoman masyarakat merupakan refleksi dari teori Prevensi General
(menegakkan wibawa pemerintah, menegakkan norma dan membentuk norma). Sedangkan tujuan yang
kedua berupa memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang baik
dan berguna mencerminkan teori Previnsi Spesial (mendidik dan memperbaiki). Tujuan pemidanaan
ketiga (menyelesaikan konflik yang timbul oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan,
mendatangkan rasa damai dalam masyarakat) dan tujuan yang keempat (membebaskan rasa bersalah pada
terpidana) mengandung makna destigmatisasi, disamping mengadopsi mereka menganut teori
perlindungan masyarakat di atas yakni bagaimana memupuk perasaan tanggungjawab penjahat sebagai
pertanggungjawaban sesama manusia.37
Barda Nawawi Arief berpendapat bahwa tujuan pidana/pemidanaan harus dikaitkan dengan 4 (empat)
aspek atau ruang lingkup dari perlindungan masyarakat yaitu 38:
33 Ibid, hlm.75
34 Wirjo Prodjodikoro, Asas-asa Hukum Pidana Indonesia, Reflika Aditama, Bandung,
2012, hlm.15
35 Ibid, hlm 19
36 Ibid, hlm 19-20
37 Mokhammad Najih, Politik Hukum Pidana Pasca Reformasi Implementasi Hukum
Pidana Sebagai Instrumen Dalam Mewujudkan Tujuan Negara, In-TRANS Publishing,
Malang, 2008, hl. 23-24
38 Barda Nawawi Arief, Tujuan dan Pedoman Pemidanaan Perspektif Pembaharuan
Hukum Pidana dan Perbandingan Beberapa Negara,BP Undip, Semarang,
2009,hlm.45-46
16

1. Masyarakat memerlukan perlindungan terhadap perbuatan anti social yang merugikan dan
membahayakan masyarakat. Bertolak dari aspek ini, maka tujuan pemidanaan (pengegakan
hukum pidana) adalah mencegah dan meanggulangi kejahatan;
2. Masyarakat memerlukan perlindungan terhadap sifat berbahayanya seseorang. Oleh karena itu,
pidana/hukum pidana bertujuan memperbaiki pelaku kejahatan atau berusaha merubah dan
mempengaruhi tingkah lakunya agar kembali patuh pada hukum dan menjadi warga masyarakat
yang baik dan berguna;
3. Masyarakat memerlukan pula perlindungan terhadap penyalahgunaan sanksi atau raksi dari
penegak hukum maupun dari warga masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu wajar pula
apabila tujuan pidana harus mencegah terjadinya perlakuan atau tindakan yang sewenang-wenang
di luar hukum (tidak manusiawi);
4. Masyarakat memerlukan perlindungan terhadap keseimbangan atau keselarasan berbagai
kepentingan dan nilai yang terganggu sebagai akibat dari adanya kejahatan. Oleh karena itu wajar
pula apabila penegak hukum pidana harus dapat menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh
tindak pidana, dapat memulihkan keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam
masyarakat.
3. Pengertian dan Ruang Lingkup Illegal Fishing
Tindak pidana di bidang perianan atau yang sering disebut Illegal Fishing merupakan tindak pidana yang
sangat merugikan dan salahs atu masalah yang cukupb banyak dibahas di Indonesia. Sebenarnya cakupan
Illegal Fishing sangat luas, yaitu Illegal Fishing, Unreported, dan Unregulated Fishing hal ini dapat
dijelaskan sebagai berikut 39:
Illegal Fishing mengacu kepada berbagai kegiata yang :
1. Dilakukan oleh kapal-kapal nasional atau asing di dalam perairan di bawah yuridiksi suatu
negara, tanpa ijin dari negara tersebut atau dalam keadaan melawan hukum dan regulasi negara
tesebut;
2. Dilakuan oleh kapal-kapal berbendera negara-negara anggota dari suatu organisasi pengelolaan
sumberdaya yang diadopsi oleh organisasi tersebut dimana negara-negara tersebut terikat, atau
melawan hukum internasional yang sedang dilaksanakan atau yang melanggar hukum nasional
atau kewajiban internasional, termasuk yang dilaksakan oleh negara-negara yang bekerjasama
dengan suatu organisasi pengelolaan yang relevan.
Unreported Fishing mengacu kepada kegiatan penangkapan yang :
1. Tidak dilaporkan atau dilaporkan secara tidak benar kepada otoritas nasional yang relevan,
bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan; atau
39 Tri Wiji, Daniel R. Monlntja, Alfi Ramdhani Latar, Strategi Kebijakan untuk
Penanggulangan Kegiatan Penangkapan Ikan Illegal Unreported, Unregulated (IUU
Fishing) di Perairan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia sebelah Utara Papua,
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/45460, diakses pada tanggal 1 Maret
2016 jam 21:52 WIB, lihat juga Widodo. J. Pemanfaatan dan Pengelolaan
Sumberdaya Ikan di Perairan ZEE Indonesia dan Sekitaranya, Jakarta, Balai Riset
Perikanan Laut, Departemen Kelautan dan Perikanan.
17

2. Dilakukan dalam area dibawah suatu organisasi pengelolaan perikanan regional yang tidak
dilaporkan atau dilaporkan dengan tidak benar, bertentangan dengan prosedur peraturan dari
organisasi tersebut.
Unregulated Fishing mengacu kepada kegiatan penangkapan ikan yang terjadi :
1. Di area suatu organisasi pengelolaan perikanan regional yang dilakukan oleh kapal tanpa
nasionalitas atau oleh kapal dengan berbendera suatu negara bukan anggota dari organisasi
tersebut atau oleh suatu fishing entity dengan cara yang tidak konsisten dengan atau melawan
aturan konservasi dan pengelolaan dari organisasi tersebut; atau
2. Di area dari berbagai stok ikan yang berkaitan dengan tiadanya aturan (tindakan) konservasi dan
pengelolaan yang diaplikasikan dan dimana aktivitas penangkapan dilakukan dengan cara-cara
yang tidak kosisten dengan tanggungjawab negara bagi konservasi atas sumberdaya hayati marin
dibawah hukum internasional.
Praktek terbesar dalam IUU Fishing pada dasarnya adalah poaching aluas penangkapan ikan oleh negara
lain tanpa ijin dari negara yang bersangkutan. Pendek kata, pencurian ikan oleh pihak asing atau illegal
fishing. Pada prakteknya keterlibatan pihak asing dalam pencurian ikan dapat digolongkanmenjadi 2 yaitu
pertama, pencurian semi-legal yaitu pencurian ikan yang dilakukan oleh kapal asing dengan
memanfaatkan surat ijin penangkapan legal yang dimiliki oleh perusahaan lokal, dengan menggunakan
kapal berbendera lokal atau bendera negara lain. Praktek ini tetap dikategorikan sebagai illegal fishing
karena selain menangkap ikan di wilayah perairan yang bukan haknya pelaku illegal fihisng ini tidak
jarang juga langsung mengirim hasil tangkapan tanpa melalui proses pendaratan ikan di wilayah yang sah.
Praktek ini sering disebut sebagai praktek pinjam bendera (Flag of Convience, FOC). Kedua adalah
pencurian murni illegal dihasilkan dari proses penangkapan ikan yang juga illegal dimana kapal asing
menggunakan benderanya sendiri untuk menangkap ikan di wilayah kita. 40
Selain itu dengan semakin meningkatya kesadaran bahwa pengelolaan perikanan dalam skala lokal
maupun global adalah perlu maka problem IUU Fishing kemudian tidak hanya mencakup problem klasik
pencurian ikan, tetapi juga masalah (1) perikanan yang tidak dilaporakan (unreported fishing) dan (2)
perikanan yang diatur (unregulated fishing). Praktek pertama menyangkut kegiatan penangkapan ikan
(walaupun legal) yang tidak dilaporkan (unreported), terdapat kesalahan semestinya (underreported).
Sedangkan praktek kedua menyangkut kegiatan penangkapan ikan yang tidak diatur (uregulated) oleh
negara bersangkutan. Argument yang mendasari dilarangnya praktek kedua ini adalah bahwa cadangan
ikan disuatu negara seharusnya diindentifikasi dan diatur pemanfaatanya sehingga tidak terjadi kerusakan
global dimasa depan yang dapat terjadi apabila penangkapan ikan dilakukan dengan prinsip free for all
fishing.41
Melihat potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang begitu besar, maka tantangan lain yang timbul
adalah marakanya kegiatan Illegal Unreported and Unregulated (IUU) Fishing yang berdampak
40 Buku Putih Pengelolaan Perikanan Tuna-Tongkol-Cangkalang di Indonesia,
Kerjsama Antara MPAG (Marenie Protected Governance) dengan Direktorat Sumber
Daya Ikan, Kementerian Kelautan dan Perikanan.
41 Ibid
18

merugikan negara dan mengancam kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan. Disamping itu,
terdapat permasalahan yang dihadapi yang menjadi strageyc issue untuk dilakukan upaya tindak lanjut,
antara lain 42:
a. Masih rendahnya produktivitass dan daya saing usaha kelautan dan perikanan yang disebabkan
struktur armada yang masih didominasi oleh kapal berukuran kecil, belum terintegrasi sistem
produksi hulu dan hilir dan masih terbatasnya sarana dan prasarana yang dibangun. Dalam
pengembangan perikanan budidaya, masih dihadapkan pada permasalahan implementasi
kebijakan tata ruang, distribusi induk dan benih unggul, mahalnya harga pakan dan serangan
hama dan penyakit ikan/udang serta adanaya pencemaran yang mempengaruhi kualitas
lingkungan perikanan budidaya. Indonesia juga masih menghadapi beberapa kondisi yang belum
sepenuhnya dapat mendukung untuk memenuhi persyaratan mutu produk ekspor hasil perikanan
yang semakin ketat dari negara pengimpor, seperti Uni Eropa. Disampng itu, aspek yang
mempengaruhi lemahnya daya saing dan produktivitas yang sangat mendasar adalah aspek
kualitas SDM dan kelembagaannya. Dimana jumlah SDM yang bergantung pada kegiatan usaha
kelautan dan perikanan sangat besar dan denga pengetahuan, penguasaan teknologi dan
kemampuan serta infrastruktur untuk akses informasi yang minim dan tidak merata di seluruh
wilayah Indonesia.
b. Dalam rangka pengembangan usaha permasalahan yang dihadapi adalah masih belum
diperolehnya dukungan permodalan usaha dari perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Dalam
kaitan ini, nelayan/pembudidaya ikan masih kesulitan mengakses kredit karena tidak dapat
memenunhi persyaratan perbankan.
c. Aktivitas pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang berada didaratan maupun
sepanjang pesisir pantai dan dilautan, tidak luput dari tantangan alam dan potensi bencana alam
yang dapat terjadi. Bencana alam seringkali menimbulkan berbagai kerusakan mulai dari tingkat
ringan hingga berat yang merusakan sarana dan prasarana kelautan dan perikanan, perumahan
penduduk hingga korban jiwa, yang memerlukan upaya mitigasi yang lebih baik.
d. Beberapa permasalahan lain diantaranya adalah adanaya degradasi lingkungan perairan, masih
adanya penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, adanya species terntetu yang
belum dilindungi, eksploitasi sumbedaya ikan yang berlebihan di Wilayah Pengelolaan Perikanan
Negara Republik Indonesia (WPP-NRI), produksi hasil perikanan belum dapat dimanfaatkan oleh
Unit Pengelolaan Ikan secara maksimal dan PNBP perikanan yang masih rendah.
D. Hipotesis (kalau ada)
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan
1. Untuk menganalisis dan mengetahui secara mendalam serta menemukan jawaban praktek
penegakan hukum Illegal Fishing selama ini lewat putusan pengadilan;
2. Untuk menganaisis dan mengetahui secara mendalam serta menemukan jawaban tujuan
pemidanaan pelaku Illegal Fishing;
3. Untuk menganalisis dan mengetahui secara mendalam serta menemukan jawaban konsep
yang tepat kebijakan hukum pidana dalam menanggulangi kejahatan illegal fishing di
Indonesia.
42 Laporan Kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2014, hlm 19-20
19

Kegunaan
1. Secara teoritis yaitu mencari jawaban atas permasalahan maraknya kejahatan Illegal Fishing
dan cara mengatasinya khsususnya dengan kebijakan hukum pidana yang tepat dan sekaligus
melengkapi penelitian yang sudah ada untuk dijadikan rujuakan khususnya dibidang Illegal
Fishing;
2. Menambah informasi yang kongkret dalam usaha menanggulangi kejahatan khususnya
dibidang kejahatan Illegal Fishing;
3. Sumbangan pemikiran kepada pihak-pihak terkait dalam mencari solusi penanggulangan
kejahatan Illegal Fishing yang terjadi di Indonesia.
F. Metode Penelitian
1. Metode Pendekatan
Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis Normatif yaitu dengan mengkaji atau
menganalisis data sekunder yang berupa bahan-bahan hukum sekunder dengan memahami
hukum sebagai perangkat peraturan atau norma-norma positif di dalam sistem perundangundangan yang mengatur mengenai kehidupan manusia. Jadi penelitian ini dipadahami
sebagai penelitian kepustakaan yaitu penelitian terhadap data sekunder. Penelitian ini juga
ditunjang dan dilengkapi dengan pendekatan yuridiksi-empiris, pendekatan historis dan
pendekatan yuridis komparatif.
Pendekatan yuridis-empiris dilakukan guna mengetahui sejauh mana penerapan dalam
menanggulangi kejahatan Illegal Fishing selama ini yang dilengkapi juga dengan studi
lapangan. Pendekatan historis digunakan untuk mengetahui bagaiamana proses pembuatan
hingga diundangkan suatu peraturan perundang-undangan itu dibuat, sedangkan pendekatan
komparatif digunakan untuk memnbandingkan berbagai ketentuan dalam menanggulangi
kajahatan Illegal Fishing di beberapa negara.
2. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitis yang merupakan penelitian
untuk menggambarkan dan menganalisa masalah yang ada dan termasuk dalam jenis
peneitian kepustakaan (library research) yang akan disajikan secara deskriptif.
3. Sumber Data
Penelitian ini termasuk penelitian hukum Normatif, maka jenis data yang digunakan adalah
data sekunder. Data sekunder yang diteliti adalah sebagai berikut:
1) Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mengikat seperti Undang-Undang Dasar,
Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah.
2) Bahan hukum sekunder yaitu bahan yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum
primer yaitu berupa dokumen atau risalah perundang-undangan.
3) Bahan hukum tersier yang memberikan penjelasan lebih mendalam mengenai bahan
hukum primer maupun bahan hukum sekunder antara lain:
a) Ensiklopedi Indonesia
b) Kamus Hukum
c) Kamus Bahasa Inggris-Indonesia
d) Berbagai majalah maupun jurnal hukum
4. Metode Pengumpulan Data
Sesuai dengan penggunaan data sekunder dalam penelitian ini, maka pengumpulan data
dilakukan dengan mengumpulkan, mengkaji dan mengolah secara sistematis bahan-bahan
kepustakaan serta dokumen-dokumen yang berkaitan. Data sekunder baik yang menyangut
20

bahan hukum primer, sekunder dan tersier diperoleh dari bahan pustaka dengan
memperhatikan prinsip pemutakhiran dan relevansi.
Selanjutnya dalam penelitian ini , kepustakaan, asas-asas, konsepsi-konsepsi, pandanganpandangan, doktrin-doktrin hukum serta isi kaidah hukum diperoleh melalui dua referensi
utama yaitu:
a) Bersifat umum, terdiri dari buku-buku, teks, ensklopedia
b) Bersifat khusus, terdiri dari laporan hasil penelitian, majalah maupun jurnal.
Mengingat penelitian ini memusatkan perhatian pada data sekunder, maka pengumpulan data
ditempuh dengan melakukan penelitian kepustakaan dan studi dokumen. Namun disamping
itu juga diperlukan tamnbahan studi lapangan untuk memperdalam penelitian ini yang
dilakukan dalam bentuk wawancara dan observasi.
5. Metode Analisa Data
Data dianalisis secara normative-kualitatif dengan jalan menafsirkan dan mengkonstruksikan
pernyataan yang terdapat dalam dokumen perundang-undangan. Normative karena penelitian
ini bertitik tolak dari peraturan peraturan yang ada sebagai norma hukum positif, sedangkan
kualitatif berarti analisis data yang bertitik tolak pada usaha penemuan asas-asas dan
informasi baru.
G. Daftar Pustaka
Sudarto, Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat Kajian Terhadap Pembaharuan Hukum
Pidana, Bandung, Sinar Baru, 1983.
Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana Perkembangan Penyusunan
Konsep KUHP Baru, Jakarta, Kencana Prenada Media Grup, 2010.
Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam
Penaggulangan dalam Penanggulangan Kejahatan,Kencana, Jakarta, 2008.
,Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2005.
,Tujuan dan Pedoman Pemidanaan Perspektif Pembaharuan Hukum Pidana dan Perbandingan
Beberapa Negara, BP Undip, Semarang, 2009.
Muliadi dan Barda Nawawi Arief, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, Bandung, Alumni, 2005.
Nyoman Serika Putra Jaya, Relevansi Hukum Pidana Adat Dalam Pembaharuan Hukum Pidana
Nasional, Bandung Citra Aditya,2005.
Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, Repika Aditama, Bandung, 2012.
Mokhammad Najih, Politik Hukum Pidana Pasca Reformasi Implementasi Hukum Pidana
Sebagai Instrument Dalam Mewujudkan Tujuan Negara, IN-TRANS Publishing, Malang, 2008.

21