Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ANKLE SPRAIN

1. Tinjauan Teori Penyakit


1.1 Definisi
Ankle merupakan salah satu sendi di tubuh yang berada pas diatas kaki,
yang berfungsi menumpu berat badan, tapi juga mempunyai gerakan harmonis
tertentu waktu berdiri dan berjalan atau bahkan untuk berlari (Kowalak, 2011)
Sprain adalah cedera struktur ligamen di sekitar sendi, akibat gerakan
menjepit atau memutar (Brunner & Suddarth, 2009)
Ankle sprain adalah kondisi terjadinya penguluran dan kerobekan pada
ligamentum lateral compleks. Hal ini disebabkan oleh adanya gaya inversi dan
plantar fleksi yang tiba-tiba saat kaki tidak menumpu sempurna pada lantai/ tanah,
dimana umumnya terjadi pada permukaan lantai/ tanah yang tidak rata (Sutedjo,
2008)
1.2 Etiologi
Penyebab utama ankle sprain yaitu trauma atau ruda paksa langsung.
Gerakan yang sering memicu sprain ankle adalah gerakan inversi dan plantar
fleksi yang tiba-tiba saat kaki tidak menumpu sempurna pada lantai. Jika
pergelangan kaki ditempatkan dalam posisi yang abnormal, peregangan
berlebihan pada ligamen dapat terjadi. Ligamen dari pergelangan kaki yang
berfungsi sebagai menstabilkan sendi akan terulur, sehingga terjadi nyeri,
disfungsi dan limitasi pada ankle.
Selain itu, stabilitas dari ankle juga dapat memicu terjadinya sprain
ankle. Stabilitas sendi berasal dari beberapa factor yaitu susunan struktural
dari tulang yang membentuk sendi dan ligamen disekitarnya. Banyaknya
tulang penstabil pada sisi sebelah medial yang mengakibatkan lebih stabil

dibandingkan sisi lateral. Ketika tekanan cukup besar pada sisi medial , maka
akan menciptakan titik tumpu untuk lebih membalikkan pergelangan kaki.
Ketika serabut otot ligamentum untuk eversi tidak cukup kuat untuk menahan
atau melawan kekuatan inverse, maka serabut ligamentum sisi lateral menjadi
tertekan atau robek.

1.3 Klasifikasi
a. Sprain derajat I (kerusakan minimal)
Nyeri tanpa pembengkakan, tidak ada memar, kisaran pembengkakan aktif dan
pasif, menimbulkan nyeri, prognosis baik tanpa adanya kemungkinan instabilitas
atau gangguan fungsi.
b. Sprain derajat II (kerusakan sedang)
Pembengkakan sedang dan memar, sangat nyeri, dengan nyeri tekan yang lebih
menyebar dibandingkan derajat I. Kisaran pergerakan sangat nyeri dan tertahan,
sendi mungkin tidak stabil, dan mungkin menimbulkan gangguan fungsi.
c. Sprain derajat III (kerusakan kompit pada ligamen)
Pembengkakan hebat dan memar, instabilitas stuktural dengan peningkatan kirasan
gerak yang abnormal (akibat putusnya ligamen), nyeri pada kisaran pergerakan
pasif mungkin kurang dibandingkan derajat yang lebihh rendah (serabut saraf
sudah benar-benar rusak). Hilangnya fungsi yang signifikan yang mungkin
membutuhkan pembedahan untuk mengembalikan fungsinya (Marilynn, 2011)
1.4 Tanda dan Gejala
Tanda-tanda yang biasa dan gejala termasuk rasa sakit (nyeri), bengkak, dan
hilangnya kemampuan untuk bergerak dan menggunakan sendi (kemampuan
fungsional). Namun, tandatanda dan gejala dapat bervariasi dalam intensitas,

tergantung pada tingkat keparahan keseleo tersebut. Sprain ankle dibagi menjadi tiga
tingkatan, yaitu:

1. Grade tingkat I
Pada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamen dan hanya beberapa serabut
yang putus. Cedera menimbulkan rasa nyeri tekan, pembengkakan dan rasa sakit pada
daerah tersebut.
2. Grade tingkat II
Pada cedera ini lebih banyak serabut dari ligament yang putus, tetapi lebih separuh
serabut ligamen yang utuh. Cedera menimbulkan rasa sakit, nyeri tekan,
pembengkakan, efusi (cairan yang keluar) dan biasanya tidak dapat menggerakkan
persendian tersebut.
3. Grade tingkat III
Pada cedera ini seluruh ligamen putus, sehingga kedua ujungnya terpisah. Persendian
yang bersangkutan merasa sangat sakit, terdapat darah dalam persendian,
pembekakan, tidak dapat bergerak seperti biasa, dan terdapat gerakangerakan yang
abnormal.

1.5 Patofisiologi
Adanya tekanan eksternal yang berlebih menyebabkan suatu masalah yang
disebut dengan sprain yang terutama terjadi pada ligamen. Ligamen akan mengalami
kerusakan serabut dari rusaknya serabut yang ringan maupun total ligamen akan
mengalami robek dan ligamen yang robek akan kehilangan kemampuan stabilitasnya.

Hal tersebut akan membuat pembuluh darah akan terputus dan terjadilah edema,
sendi mengalami nyeri dan gerakan sendi terasa sangat nyeri. Derajat disabilitas dan
nyeri terus meningkat selama 2 sampai 3 jam setelah cedera akibat membengkak dan
pendarahan yang terjadi maka menimbulkan masalah yang disebut dengan sprain.

1.6 WOC
Trauma
Gerakan inversi dan plantar fleksi yang tiba-tiba saat kaki tidak menumpu sempurna
pada lantai
Ankle Sprain
Ligamen mengalami kerusakan
Pre Op
Menembus permukaan kulit
Tidak terdapat luka pada permukaan kulit
Gangguan Vasikularisasi

Terjadinya bengkak
Menyebabkan denyut
nadi menurun dan paralisi nyeri hebat

Kerusakan Integritas
kulit

Vaskuler disekitar daerah


ankel sprain menurun

Terjadi iskemia
Operasi
Nyeri

Post op
Adanya luka

Adanya gangguan

Resiko
Pendaraha
n

Kontraktur

Jaringan tulang
nekrosis

Gangguan mobilitas
fisik

Resti
Infeksi

Istrahat tidur
Mobilisasi
Gangguan rasa nyaman

1.7 Pemeriksaan Penunjang


1.

Foto rontgen/ radiologi.

yaitu pemeriksaan diagnostik noninvasif untuk membantu menegakkan diagnosa.


Hasil pemeriksaan di temukan kerusakan pada ligamen dan sendi.
2.

MRI ( Magnetic Resonance Imaging)

Yaitu pemeriksaan dengan menggunakan gelombang magnet dan gelombang


frekuensi radio, tanpa menggunakan sinar x atau bahan radio aktif, sehingga dapat
diperoleh gambaran tubuh yang lebih detail.
1.8 Penatalaksanaan
Segera setelah terjadi cedera, melakukan penatalaksanaan cedera akut pada
umumnya yaitu dengan RICE: Rest, Ice, Compression dan Elevation
1) REST
Mengistirahatkan area yang cedera, dengan meminimalkan gerakan pada area
yang cedera dan bila perlu menggunakan brace/ tapping pada saat melakukan
aktivitas
2) ICE
Melakukan kompres es di lokasi cedera selama 15- 20menit tiap 2-3 jam sekali.
Kompres es sebanyak yang dilakukan 48- 72 jam pertama setelah cedera
3) COMPRESSION
Melalakukan kompresi dengan menggunkan bebat elastic atau adhesive bandage
di lokasi cedera. Fungsi dari bebat ini adalah untuk mengurangi bengkak dan
perdarahan di area cedera.

4) ELEVATION
Mengelevasikan area yang ceder lebih tinggi dari level jantung untuk
mengurangi perdarahan dan bengkak
1.9 Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi pada kondisi ini meliputi:
a.

Dislokasi berulang akibat ligamen yang ruptur tersebut tidak sembuh dengan
sempurna sehingga diperlukan pembedahan untuk memperbaikinya (kadangkadang).

b.

Gangguan fungsi ligamen (jika terjadi tarikan otot yang kuat sebelum sembuh
dan tarikan tersebut menyebabkan regangan pada ligamen yang ruptur, maka
ligamen ini dapat sembuh dengan bentuk memanjang, yang disertai pembentukan
jaringan parut secara berlebihan).

2. Konsep Asuhan Keperawatan


2.1 Pengkajian
1.

Keluhan utama

Keluhan utama adalah nyeri.


2.

Riwayat Kesehatan

a.

Riwayat Penyakit Sekarang

Dikarenakan

nyeri

merupakan

pengalaman

interpersonal,

perawat

harus

menanyakannya secara langsung kepada pasien dengan teknik P, Q, R, S, T.


Provoking (penyebab)

:apa yang menimbulkan nyeri (aktivitas, spontan, stress

setelah makan dll)?


Quality (kualitas)

:apakah tumpul, tajam, tertekan, dalam, permukaan dll?

Apakah pernah merasakan nyeri seperti itu sebelumnya?


Region (daerah)

:dimana letak nyeri?

Severity (intensitas)

:jelaskan skala nyeri dan frekuensi, apakah di sertai dengan

gejala seperti (mual, muntah, pusing, diaphoresis, pucat, nafas pendek, sesak, tanda
vital yang abnormal dll)?
Timing (waktu)

: kapan mulai nyeri? Bagaimana lamanya? Tiba-tiba atau

bertahap? Apakah mulai setelah anda makan? Frekuensi?


b. Riwayat Penyakit Dahulu
1)

Apakah klien sebelumnya pernah mengalami sakit seperti ini atau mengalami

trauma pada muskuloskeletal lainnya?


c.
1)
3.

Riwayat Penyakit Keluarga


Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini?
Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual

a.

Data Biologis

1)

Gerak dan Aktivitas

Kaji kemampuan aktifitas dan mobilitas kehidupan klien sehari-hari.


2)

Kebersihan Diri

Kaji apakah ada kesulitan dalam memelihara dirinya.


b.

Data Psikologis

1) Rasa Aman
Kaji kemampuan pasien dalam melakukan keamanan dan pencegahan pada saat
melaksanakan akitivitas hidup sehari-hari, termasuk faktor lingkungan, faktor sensori,
serta faktor psikososial.
2)

Rasa Nyaman

Kaji apakah pasien mengalami mual dan nyeri (PQRST).


c.

Data Sosial

1)

Sosial

Melalui komunikasi antar perawat, pasien, dan keluarga dapat dikaji mengenai pola
komunikasi dan interaksi sosial pasien dengan cara mengidentifikasi kemampuan
pasien dalam berkomunikasi.

2)

Prestasi

Kaji tentang latar belakang pendidikan pasien.


3)

Bermain dan Rekreasi

Kaji kemampuan aktifitas rekreasi dan relaksasi (jenis kegiatan dan frekuensinya)
4)

Belajar

Kaji apakah pasien sudah mengerti tentang penyakitnya dan tindakan pengobatan
yang akan dilakukan. Kaji bagaimana cara klien mempelajari sesuatu yang baru.
d.

Data Spiritual

1)

Ibadah

Kaji bagaimana klien memenuhi kebutuhan spiritualnya sebelum dan ketika sakit.
4.

Pemeriksaan Fisik

a.

Inspeksi :

1)

Kelemahan

2)

Edema

3)

Ketidakstabilan fungsi ligamen

b.

Palpasi : Mati rasa

2.2 Data fokus


Data yang telah dikumpulkan kemudian dikelompokkan dan dianalisa untuk
menemukan masalah kesehatan klien. Untuk mengelompokkannya dibagi
menjadi dua data yaitu: data subjektif dan data objektif dan kemudian ditentukan
masalah keperawatan yang timbul
2.3 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri b/d Agen injuri fisik
2. Resiko infeksi b/d jaringan tulang nekrosis
3. Kerusakan intergritas kulit b/d edema
4. Gangguan mobilitas fisik b/d Terapi pembatasan gerak

2.4 Intervensi
1 Nyeri

NOC :

NIC :

Definisi :
Sensori yang tidak
menyenangkan dan

Pain Level,

Pain control,

Comfort level
Kriteria Hasil :

pengalaman emosional
yang muncul secara
aktual atau potensial
kerusakan jaringan atau
menggambarkan adanya

kerusakan (Asosiasi
Studi Nyeri
Internasional): serangan

mendadak atau pelan


intensitasnya dari

ringan sampai berat


yang dapat diantisipasi
dengan akhir yang dapat

Mampu
mengontrol nyeri (tahu
penyebab nyeri, mampu
menggunakan
tehnik
nonfarmakologi
untuk
mengurangi nyeri, mencari
bantuan)
Melaporkan bahwa
nyeri berkurang dengan
menggunakan manajemen
nyeri
Mampu mengenali
nyeri (skala, intensitas,
frekuensi dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa
nyaman
setelah
nyeri
berkurang
Tanda vital dalam
rentang normal

Pain Management

diprediksi dan dengan


durasi kurang dari 6

bulan.
Batasan karakteristik :
-

Laporan secara
verbal atau non
verbal
Fakta dari
observasi
Posisi antalgic
untuk menghindari
nyeri
Gerakan
melindungi
Tingkah laku
berhati-hati
Muka topeng

Lakukan
pengkajian nyeri
secara
komprehensif
termasuk lokasi,
karakteristik,
durasi, frekuensi,
kualitas
dan
faktor presipitasi
Observasi reaksi
nonverbal dari
ketidaknyamana
n
Gunakan teknik
komunikasi
terapeutik untuk
mengetahui
pengalaman
nyeri pasien
Kaji kultur yang
mempengaruhi
respon nyeri
Evaluasi
pengalaman
nyeri
masa
lampau
Evaluasi
bersama pasien
dan
tim
kesehatan
lain
tentang
ketidakefektifan
kontrol
nyeri
masa lampau
Bantu pasien dan
keluarga untuk
mencari
dan
menemukan
dukungan
Kontrol
lingkungan yang
dapat
mempengaruhi
nyeri
seperti
suhu
ruangan,

Gangguan tidur
(mata sayu, tampak
capek, sulit atau
gerakan kacau,
menyeringai)
Terfokus pada diri
sendiri
Fokus menyempit
(penurunan
persepsi waktu,
kerusakan proses
berpikir, penurunan
interaksi dengan
orang dan
lingkungan)
Tingkah laku
distraksi, contoh :
jalan-jalan,
menemui orang
lain dan/atau
aktivitas, aktivitas
berulang-ulang)
Respon autonom
(seperti
diaphoresis,
perubahan tekanan
darah, perubahan
nafas, nadi dan
dilatasi pupil)
Perubahan
autonomic dalam
tonus otot
(mungkin dalam
rentang dari lemah
ke kaku)
Tingkah laku
ekspresif (contoh :
gelisah, merintih,
menangis,
waspada, iritabel,
nafas
panjang/berkeluh
kesah)
Perubahan dalam
nafsu makan dan
minum

pencahayaan dan
kebisingan
Kurangi faktor
presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan
penanganan
nyeri
(farmakologi,
non farmakologi
dan
inter
personal)
Kaji tipe dan
sumber
nyeri
untuk
menentukan
intervensi
Ajarkan tentang
teknik
non
farmakologi
Berikan
analgetik untuk
mengurangi
nyeri
Evaluasi
keefektifan
kontrol nyeri
Tingkatkan
istirahat
Kolaborasikan
dengan
dokter
jika ada keluhan
dan
tindakan
nyeri
tidak
berhasil
Monitor
penerimaan
pasien
tentang
manajemen nyeri

Analgesic
Administration

Tentukan lokasi,

Faktor yang
berhubungan :
Agen injuri (biologi,

kimia, fisik, psikologis)

karakteristik,
kualitas,
dan
derajat
nyeri
sebelum
pemberian obat
Cek
instruksi
dokter
tentang
jenis obat, dosis,
dan frekuensi
Cek
riwayat
alergi
Pilih analgesik
yang diperlukan
atau kombinasi
dari
analgesik
ketika pemberian
lebih dari satu
Tentukan pilihan
analgesik
tergantung tipe
dan
beratnya
nyeri
Tentukan
analgesik
pilihan,
rute
pemberian, dan
dosis optimal
Pilih
rute
pemberian secara
IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
Monitor
vital
sign sebelum dan
sesudah
pemberian
analgesik
pertama kali
Berikan
analgesik tepat
waktu terutama
saat nyeri hebat
Evaluasi
efektivitas
analgesik, tanda
dan gejala (efek

2 Resiko infeksi
Definisi : Peningkatan
resiko masuknya
organisme patogen

Immune Status
Knowledge :
control
Risk control
Kriteria Hasil :

Faktor-faktor resiko :
-

Prosedur Infasif
Ketidakcukupan
pengetahuan untuk
menghindari
paparan patogen
Trauma
Kerusakan jaringan
dan peningkatan
paparan lingkungan
Ruptur membran
amnion
Agen farmasi
(imunosupresan)
Malnutrisi
Peningkatan
paparan lingkungan
patogen
Imonusupresi
Ketidakadekuatan
imum buatan
Tidak adekuat
pertahanan
sekunder
(penurunan Hb,
Leukopenia,
penekanan respon
inflamasi)
Tidak adekuat
pertahanan tubuh
primer (kulit tidak
utuh, trauma
jaringan,
penurunan kerja
silia, cairan tubuh
statis, perubahan

samping)
NIC :

NOC :

Infection
Infection

Klien bebas dari


tanda dan gejala infeksi
Mendeskripsikan
proses penularan penyakit,
factor yang mempengaruhi
penularan
serta
penatalaksanaannya,
Menunjukkan
kemampuan
untuk
mencegah timbulnya infeksi
Jumlah
leukosit
dalam batas normal
Menunjukkan
perilaku hidup sehat

Control

(Kontrol infeksi)

Bersihkan
lingkungan
setelah dipakai
pasien lain
Pertahankan
teknik isolasi
Batasi
pengunjung bila
perlu
Instruksikan
pada pengunjung
untuk mencuci
tangan
saat
berkunjung dan
setelah
berkunjung
meninggalkan
pasien
Gunakan sabun
antimikrobia
untuk
cuci
tangan
Cuci
tangan
setiap sebelum
dan
sesudah
tindakan
kperawtan
Gunakan baju,
sarung
tangan
sebagai
alat
pelindung
Pertahankan
lingkungan
aseptik selama
pemasangan alat
Ganti letak IV
perifer dan line
central
dan
dressing sesuai
dengan petunjuk

sekresi pH,
perubahan
peristaltik)
Penyakit kronik

umum
Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan
infeksi kandung
kencing
Tingktkan intake
nutrisi
Berikan
terapi
antibiotik
bila
perlu

Infection Protection
(proteksi

terhadap

infeksi)

Monitor
tanda
dan
gejala
infeksi sistemik
dan lokal
Monitor hitung
granulosit, WBC
Monitor
kerentanan
terhadap infeksi
Batasi
pengunjung
Saring
pengunjung
terhadap
penyakit menular
Partahankan
teknik
aspesis
pada pasien yang
beresiko
Pertahankan
teknik isolasi k/p
Berikan
perawatan kuliat
pada
area
epidema
Inspeksi
kulit
dan
membran
mukosa terhadap

3 Kerusakan intergritas

kemerahan,
panas, drainase
Ispeksi kondisi
luka / insisi
bedah
Dorong
masukkan nutrisi
yang cukup
Dorong masukan
cairan
Dorong istirahat
Instruksikan
pasien
untuk
minum antibiotik
sesuai resep
Ajarkan pasien
dan
keluarga
tanda dan gejala
infeksi
Ajarkan
cara
menghindari
infeksi
Laporkan
kecurigaan
infeksi
Laporkan kultur
positif

NOC : Tissue Integrity : Skin

NIC

kulit b/d edema dan

and Mucous Membranes

Management

menurunnya tingkat

Kriteria Hasil :

aktivitas
Definisi : Perubahan
pada epidermis dan
dermis
Batasan karakteristik :
-

Gangguan pada
bagian tubuh
Kerusakan
lapisa kulit

Integritas
kulit
yang
baik
bisa
dipertahankan
(sensasi,
elastisitas,
temperatur,
hidrasi, pigmentasi)

Tidak ada luka/lesi


pada kulit

Perfusi
jaringan
baik

Menunjukkan
pemahaman dalam proses
perbaikan
kulit
dan

Pressure

Anjurkan pasien
untuk
menggunakan
pakaian
yang
longgar
Hindari kerutan
padaa
tempat
tidur
Jaga kebersihan
kulit agar tetap
bersih dan kering
Mobilisasi
pasien
(ubah
posisi
pasien)

(dermis)
Gangguan
permukaan kulit
(epidermis)
Faktor yang
-

berhubungan :
Eksternal :

mencegah
terjadinya
sedera berulang

Mampu
melindungi kulit dan
mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami

Hipertermia atau
hipotermia
- Substansi kimia
- Kelembaban udara
- Faktor mekanik
(misalnya : alat
yang dapat
menimbulkan luka,
tekanan, restraint)
- Immobilitas fisik
- Radiasi
- Usia yang ekstrim
- Kelembaban kulit
- Obat-obatan
Internal :

Perubahan status
metabolik
Tulang menonjol
Defisit imunologi
Faktor yang
berhubungan
dengan
perkembangan
Perubahan sensasi
Perubahan status
nutrisi (obesitas,
kekurusan)
Perubahan status
cairan
Perubahan
pigmentasi
Perubahan sirkulasi
Perubahan turgor
(elastisitas kulit)

4 Gangguan mobilitas
fisik

setiap dua jam


sekali
Monitor
kulit
akan
adanya
kemerahan
Oleskan lotion
atau
minyak/baby oil
pada derah yang
tertekan
Monitor aktivitas
dan mobilisasi
pasien
Monitor status
nutrisi pasien
Memandikan
pasien
dengan
sabun dan air
hangat

NOC :
Joint Movement : Active

NIC :
Exercise therapy :

Definisi :
Keterbatasan dalam
kebebasan untuk
pergerakan fisik tertentu
pada bagian tubuh atau
satu atau lebih
ekstremitas
Batasan karakteristik :
-

Postur tubuh
yang tidak
stabil selama
melakukan
kegiatan rutin
harian
Keterbatasan
kemampuan
untuk
melakukan
keterampilan
motorik kasar
Keterbatasan
kemampuan
untuk
melakukan
keterampilan
motorik halus
Tidak ada
koordinasi atau
pergerakan
yang tersentaksentak
Keterbatasan
ROM
Kesulitan
berbalik (belok)
Perubahan gaya
berjalan
(Misal :
penurunan
kecepatan
berjalan,

Mobility Level
Self care : ADLs
Transfer performance
Kriteria Hasil :
Klien meningkat dalam
aktivitas fisik
Mengerti tujuan dari
peningkatan mobilitas
Memverbalisasikan
perasaan dalam
meningkatkan kekuatan
dan kemampuan
berpindah
Memperagakan
penggunaan alat Bantu
untuk mobilisasi (walker)

ambulation

Monitoring vital
sign
sebelm/sesudah
latihan dan lihat
respon
pasien
saat latihan
Konsultasikan
dengan
terapi
fisik
tentang
rencana ambulasi
sesuai
dengan
kebutuhan
Bantu
klien
untuk
menggunakan
tongkat
saat
berjalan
dan
cegah terhadap
cedera
Ajarkan pasien
atau
tenaga
kesehatan
lain
tentang
teknik
ambulasi
Kaji kemampuan
pasien
dalam
mobilisasi
Latih
pasien
dalam
pemenuhan
kebutuhan ADLs
secara mandiri
sesuai
kemampuan
Dampingi
dan
Bantu pasien saat
mobilisasi dan
bantu
penuhi
kebutuhan ADLs
ps.
Berikan
alat
Bantu jika klien
memerlukan.
Ajarkan pasien

kesulitan
memulai jalan,
langkah sempit,
kaki diseret,
goyangan yang
berlebihan pada
posisi lateral)
- Penurunan
waktu reaksi
- Bergerak
menyebabkan
nafas menjadi
pendek
- Usaha yang
kuat untuk
perubahan
gerak
(peningkatan
perhatian untuk
aktivitas lain,
mengontrol
perilaku, fokus
dalam anggapan
ketidakmampua
n aktivitas)
- Pergerakan
yang lambat
- Bergerak
menyebabkan
tremor
Faktor yang
berhubungan :
-

Pengobatan
Terapi
pembatasan
gerak
Kurang
pengetahuan
tentang
kegunaan
pergerakan fisik
Indeks massa
tubuh diatas 75
tahun percentil
sesuai dengan

bagaimana
merubah posisi
dan
berikan
bantuan
jika
diperlukan

usia
Kerusakan
persepsi sensori
Tidak nyaman,
nyeri
Kerusakan
muskuloskeletal
dan
neuromuskuler
Intoleransi
aktivitas/penuru
nan kekuatan
dan stamina
Depresi mood
atau cemas
Kerusakan
kognitif
Penurunan
kekuatan otot,
kontrol dan atau
masa
Keengganan
untuk memulai
gerak
Gaya hidup
yang menetap,
tidak
digunakan,
deconditioning
Malnutrisi
selektif atau
umum

2.5 Evaluasi
1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik
nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)

2. Bebas dari tanda dan gejala infeksi


3. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya
cedera berulang
4. Meningkat dalam aktivitas fisik

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth, 2009. Keperwatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Hardy, Kusumo. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Nanda Nic-Noc.
Yogyakarta: Media Hadry.
Kowalak, Jennifer P, 2011. Buku Ajar Patofisologi. Jakarta: EGC
Marilynn. J & Lee. J. 2011. Seri Panduan Praktis Keperawatan Klinis. Jakarta :
Erlangga
Sutedjo, AY., 2008, Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan
Laboratarium, Amara Books, Jakarta