Anda di halaman 1dari 13

Abstark

Limbah adalah bahan sisa pada sesuatu kegiatan atau proses produksi.
Limbah B3 adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan
berbahaya dan beracun yang karena sifat, konsntrasi, dan jumlahnya baik secara
langsung ataupun tidak langsung dapat mencemarkan atau membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup
lainnya. Praktikum ini dilakukan dengan memvarasikan lempung putih dan kuning
dan tinggi unggun lempung dengan ketinggian 3,5 cm dan 5,5 cm dengan air limbah
tekstil yang akan diolah. Percobaan ini didapat panjang gelombang spectrometer
sebersar 670. Dari praktikum ini didapat hasil lempung putih dengan tinggi unggun
5,5 cm dengan hasil yang paling baik, karena hasil olahan dengan nilai absorbansi
yang mengalami penurunan nilai. Semakin kecil nilai absorbansi maka hasil yang
didapat semakin baik.
Keyword : solidifikasi, insenerasi, dan chemical conditioning

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Pendahuluan
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik
industri maupun domestik (rumah tangga). Di mana masyarakat bermukim, di sanalah
berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan
ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).
Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak
dikehendaki kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara
kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa
anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat
berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga
perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang
ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah
Masalah

lainnya adalah muatan bahan organiknya yang tidak dapat

diluruhkan mahluk hidup. Dalam memetaboliskan nutrisi-nutrisi ini, sejumlah besar


organisme limbah dapat dengan cepat menghabiskan oksigen di lokasi tercemar,
khususnya jika lokasi itu adalah air yang tergenang atau bergerak lambat;
perkembangan lingkungan menjadi mikroaerobik atau anaerobik, yang berarti habitat
tidak dapat lagi mendukung organisme yang tergantung pada oksigen (misalnya
ikan). Lebih lanjut, kondisi anaerobik memungkinkan pertumbuhan

bakteri

pereduksi belerang dan mikroorganisme lain yang produk metaboliknya memuat zat
sulfida dan zat berbau busuk lainnya.
Pengolahan limbah memiliki dua tujuan:
1. Menghilangkan (atau mengurangi jumlah) patogen yang menyebabkan penyakit
berbasis air, dan

2. Menghilangkan kapasitas pengurangan oksigen di limbah, yaitu mengurangi BOD


nya.
1.1.1. Pengolahan Limbah B3 Secara Reaksi Kimia/Fisika
Yang hars diperhatikan adalah pada penentuan jenis limbahnya, apakah
limbah organik atau anorganik. Proses reaksi kimia/fisika yang dapat dilakukan
adalah :
pH control
redox potensial control
precipitation
adsorbtion
chemisorption
passivation
ion exchange
diadochy
reprecipitation
encapsulation
1.1.2. Kriteria Proses Pengolahan Limbah B3 dengan cara Stabilisasi
Menghilangkan potensi racun dan kandungan B3
Memperkecil daya larut, pergerakan dan daya racunnya
Penimbunan dalam landfill limbah B3
Umumnya untuk limbah B3 anorganik
Tahapan proses kimia/fisika sangat kompleks, namun operasi sederhana.
Produk stabilisasi merupakan suatu ikatan massa monolit dengan struktur yang masif.
TCLP (Toxicity Characteristic Leaching Procedur), ekstraksi secara dinamik selama
18 jam oleh pelarut buffer pada pH tertentu.

1.1.3. Pengolahan Limbah B3 Secara Biologis

Detoksifikasi kadar polutan dengan agen biologis

Persyaratan material yang diolah

Persyaratan konstruksi pengolahan

Persyaratan operasional

Target kriteria akhir pengolahan

Penanganan bahan hasil olahan

Pemantauan bahan hasil olahan

Pelaporan 6 bulan sekali

1.1.4. Pengolahan Limbah B3 Secara Thermal


Prinsip pengolahan limbah B3 secara thermal adalah pemusnahan limbah
dengan cara pemberian panas dengan suhu tinggi (Self Destruction). Persyaratan
pengolahan limbah B3 secara thermal antara lain :
Limbah : pada umumnya untuk senyawa organik
Incenerator : tipe, suhu pembakaran, waktu tinggal, air supply dan bahan
bakar
Emisi memenuhi baku mutu
Effisiensi pembakaran
DRE dan dioxin (hanya untuk membakar POHCs)
Perkiraan dampak terhadap udara ambient
Limbah B3 dikarakteristikkan berdasarkan beberapa parameter yaitu total
solids residue (TSR), kandungan fixed residue (FR), kandungan volatile solids, kadar
air, volume padatan, serta karakter atau sifat B3 (toksisitas, sifat korosif, sifat mudah
terbakar, sifat mudah meledak, beracun, serta sifat kimia dan kandungan senyawa
kimia).
1.2. Teknologi Pengolahan
Terdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri, tiga metode yang

paling sering digunakan yaitu chemical conditioning, solidification/stabilisation, dan


inceneration.
1.2.1. Chemical Conditioning
Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 yaitu chemical conditioning.
Tuuan utamanya yaitu :
Menstabilkan senyawa organik yang terkandung didalam lumpur
Mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam lumpur
Mendestruksi organisme patogen
memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioning yang masih
memiliki nilai ekonomi
Chemical Conditioning terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut :
1. Concentration Thickening
Tahapan ini bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang akan diolah
dengan cara meningkatkan kandungan padatan. Alat yang umumnya digunakan pada
tahapan ini ialah gravity thickener dan solid bowl centrifuge. Tahapan ini pada
dasarnya merupakan tahapan awal sebelum limbah dikurangi kadar airnya pada
tahapan de-watering selanjutnya. Walaupun tidak sepopuler gravity thickener dan
centrifuge, beberapa unit pengolahan limbah menggunakan proses floatation pada
tahapan awal ini.
2. Treatment, stabilization, and conditioning
Tahapan kedua ini bertujuan untuk menstabilkan senyawa organik dan
menghancurkan patogen. Proses stabilisasi dapat dilakukan melalui proses
pengkondisian secara kimia, fisika, dan biologi. Pengkondisian secara kimia
berlangsung dengan adanya proses pembentukan ikatan bahan kimia dengan partikel
koloid. Pengkondisian secara fisika berlangsung dengan jalan memisahkan bahn
kimia dan koloid dengan cara pencucian dan destruksi. Pengkondisian secara biologis
berlangsung dengan adanya proses destruksi dengan bantuan enzim dan reaksi

oksidasi. Proses-proses yang terlibat padatahapan ini ialah lagooning, anaerobic


digestion, aerobic digestion, heat treatment, polyelectrolite flocculation, chemical
conditioning, dan elutriation.
3. De-watering and drying
De-watering and drying bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi
kadar air dan sekaligus mengurangi volume lumpur. Proses yang terlibat pada tahapan
ini umumnya adalah pengeringan dan filtrasi. Alat yang biasa digunakan adalah
drying bed, filter press, centrifuge, vacum filter, dan belt press.

4. Disposal
Disposal adalah proses pembuangan akhir limbah B3. Beberapa proses yang
telah terjadi sebelum limbah B3 dibuang ialah pyrolysis, wet air oxidation, dan
composting. Tempat pembuangan akhir limbah B3 umumnya ialah sanitary landfill,
crop land, atau injection well.
1.2.2. Solidificatin/Stabilization
Disamping Chemical Conditioning, teknologi Solidificatin/Stabilization juga
dapat diterapkan untuk mengolah limbah B3. Secara umum stabilisasi dapat
didefinisikan sebagai proses pencampuran limbah dengan bahan tambahan dengan
tujuan menurunkan laju migrasi bahan pencemar dari limbah serta mengurangi
toksisitas limbah tersebut. Sedangkan solidifikasi didefinisikan sebagai proses
pemadatan suatu bahan berbahaya dengan penambahan aditif. Kedua proses tersebut
sering kali terkait sehingga sering dianggap mempunyai arti yang sama.
Proses solidifikasi /stabilisasi berdasarkan mekanismenya dapat dibagi
menjadi 6 golongan yaitu :
Macroencapsulation, yaitu proses dimana bahan berbahaya dalam limbah
dibungkus dalam matriks

sruktur yang besar

Microencapsulation, yaitu proses yang mirip Macroencapsulation tetapi bahan


pencemar

terbungkus secara fisik dalam struktur kristal pada tingkat mikroskopik

Precipitation
Adsorbsi, yaitu proses dimana bahan pencemar diikat secara elektrokimia pada
bahan pemadat

melalui mekanisme adsorbsi

Absorbsi, yaitu proses solidifikasi bahan pencemardengan menyerapkannya ke


bahan padat.
Detoxification, yaitu proses mengubah suatu senyawa beracun menjadi senyawa
lain yang tingkat toksisitasnya lebih rendah atau bahkan hilang sama sekali
Teknologi solidifikasi/stabilisasi umumnya menggunakan semen, kapur
(Ca(OH)2), dan bahan termoplastik. Metode yang diterapkan dilapangan ialah metode
in-drum mixing, in-situ mixing, dan plant mixing.
1.2.3. Inceneration
Teknologi pembakaran (inceneration) adalah alternatif yang menarik dalam
teknologi pengolahan limbah. Insenerasi mengurangi volume dan massa limbah
hingga sekitar 90% (volume) dan 75% (berat). Teknologi ini sebenarnya bukan solusi
final dari sistem pengolahan limbah padat karena pada dasarnya hanya memindahkan
limbah dari bentuk padat yang kasat mata. Proses insenerasi menghasilkan energi
dalam bentuk panas. Namun, insenerasi memiliki beberapa kelebihan dimana
sebagian besar dari komponen limbah B3 dapat dihancurkan dan limbah berkurang
dengan cepat. Selain itu, insenerasi memerlukan lahan yang relatif kecil.
Aspek yang penting dalam sistem insenerasi adalah nilai kandunan energi
(heating value) limbah. Selain menentukan kemampuan dalam mempertahankan
berlangsungnya proses pembakaran, heating value juga menentukan banyaknya
energi yang dapat diperoleh dari sistem insenerasi. Jenis insenerator yang paling
umum diterapkan untuk membakar limbah padat B3 adalah rotary kiln, multipl
hearth, fluidized bed, open pit, single chamber, multiple chambre, aqueous waste

injection, dan starved air unit. Dari semua jenis insenerator tersebut, rotary kiln
memiliki kelebihan karna alat tersebut dapat mengolah limbah padat, cair dan gas
secara simultan.
Bahaya fisik bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Bahaya kesehatan meliputi :
1) Irritants : Zat kimia yang menyebabkan iritasi atau reaksi peradangan bila kontak
dengan tubuh.
Contoh :
Powdered Chemicals
Cutting Oils
Solvents
2) Sensitizers : Zat kimia yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan
sementara/alergi
Biasanya tidak ada masalah pada kontak pertama
Dapat menyebabkan alergi pada kontak berikutnya
3) Reproductiv Hazards
4) Carsinogens
5) Beracun (toksik)

BAB II
PEROCOBAAN
2.1. Alat dan Bahan
2.1.1. Alat yang digunakan :

Kolom Adsorpsi

Ayakan Plastik

Gelas Ukur 100 ml

Labu Ukur 1 Liter

Pipet Takar 100 ml

Timbangan

Cawan Porselin

Gelas Piala 1 Liter

Jerigen 2 Liter

Corong Pisah 500 ml

2.1.2. Bahan yang digunakan


1. Limbah cair sintetik zat warna tekstil
2. Limbah sintetik logam berat (Cu, Cd, Cr, Fe, Ni)
3. Lempung dan serbuk kayu
4. Aquades
2.2. Prosedur Percobaan
a. Persiapan adsorbent lempung
Gerus 500 gram lempung menggunakan lumpang, saring dengan ayakan plastik
sampai ukuran

seragam. Untuk serbuk kayu, blender sampai halus dan

berukuran seragam.
Cuci adsorbent dengan aquades berulang kali sampai pH air pencuci netral
Keringkan dalam oven pada suhu 110o C selama 1 jam (sampai berat konstan)
Simpan adsorbent dalam wadah pastik

b. Persiapan sampel limbah cair zat warna tekstil serta logam berat
Buat larutan 1000 ppm masing-masing zat warna tekstil (larutan induk)
Buat sampel logam berat Cr atau Cd, masing-masing 1000 ppm
Siapkan larutan 100 ppm logam berat Cr atau Cd serta zat wana tekstil dari
larutan induknya, masing-masing sebanyak dua liter.
c. Proses adsorbsi limbah cair secara kontiniu
1. Masukkan adsorbent lempung kedalam kolom yang bagian bawahnya ditutup
dengan kapas. Ukur tinggi unggun adsorbent (sesuai instruksi pembimbing)
2. Alirkan larutan sampel limbah tekstil dari corong pisah (1) dengan laju alir tertentu
kedalam kolom

(2), tampung keluaran kolom setiap 25 ml dalam wadah

erlenmeyer (4). Lakukan analisa secara colorimetric atau dengan spectroskopi UVVis, sampai warna larutan tidak berubah lagi konsentrasinya.
3. Lakukan hal yang sama untuk berbagai tinggi unggun (dua variasi tinggi unggun 5
dan 10 cm)

BAB III
Hasil dan Pembahasan
3.1. Perbandingan Nilai Absorbansi Lempung Kuning dan Lempung Putih
Variasi 3,5 cm
Pada praktikum ini dilakukan proses penyaringan dengan media penyaring
berupa lempung kuning dan lempung putih dengan variasi tinggi unggun 3,5 cm dan
5,5 cm. Adapun perbandingan nilai absorbansi tersebut dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1 Perbandingan absorbansi lempung putih dan kuning variasi 3,5 cm
Dari gambar 3.1. dapat dilihat bahwa grafik mengalami penurunan. Pada sampel
lempung kuning maupun lempung putih mengalami penurunan yang drastis. Hal ini
disebabkan karena semakin bagus nilai absorbansi pada lempung kuning. Sedangkan
pada sampel lempung putih mengalami penurunan yang tidak konstan. Hal ini
disebabkan karena terdapatnya pengotor pada sampel yang mempengaruhi nilai

absorbansi pada saat uji spektrometer visibel.

3.2. Perbandingan Nilai Absorbansi Lempung Kuning dan Lempung Putih


Variasi 5,5 cm
Pada praktikum ini dilakukan proses penyaringan dengan media penyaring
berupa lempung kuning dan lempung putih dengan variasi tinggi unggun 3,5 cm dan
5,5 cm. Adapun perbandingan nilai absorbansi dengan variasi tinggi unggun 5,5 cm
dapat dilihat pada gambar 3.2.

Gambar 3.2 Perbandingan absorbansi lempung putih dan kuning variasi 5,5 cm
Dari gambar 3.2. dapat dilihat bahwa grafik mengalami penurunan. Pada sampel
lempung kuning mengalami penurunan yang konstan. Hal ini disebabkan karena
terdapatnya zat pengotor didalam sampel yang berpengaruh terhadap nilai
spektrometer visibel. Sedangkan pada sampel lempung putih mengalami penurunan
yang konstan

BAB IV
Kesimpulan dan Saran
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang dilakukan pada lempung putih didapat hasil akhir
pada lempung kuning lebih terdapat banyak pengotor daripada lempung putih pada
vaariasi 3,5 cm dan 5,5 cm.
4.2. Saran
Sebaiknya saat menentukan panjang gelombang pada alat dilakukan pengamatan
dengan cermat, dan dengan kerja yang bersih karna alatnya sangat sensitive.