Anda di halaman 1dari 69

,

PEDOMAN PRAKTIKUM

MODUL PRAKTIKUM
KEPERAWATAN MATERNITAS DAN ANAK

BAGIAN LABORAToRiUM JURUSAN


KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES KENDARI
DIGUNAKAN
DIGUNAKAN UNTUK
UNTUK KALANGAN
KALANGAN SENDIRI
SENDIRI

Hj. Rapiah Desi, SKM


Lahir di Ereke, 29 September 1947, Menyelesaikan Pendidikan
Akademi Keperawatan Keperawatan dan S1 di bidang
Kesehatan.
Tahun 2001 hingga sekarang, penulis berkarir sebagai dosen
pengajar dengan mata kuliah KDK, Manajemen keperawatan
Keperawatan komunitas dan Etika Keperawatan pada Jurusan
Keperawatan Politeknik Kesehatan Kendari.
St. Rachmi Misbah, S.Kp., M.Kes
Lahir di Tomba, 1 November 1971, Menyelesaikan Pendidikan S1
Keperawatan di Universitas Indonesia tahun 1995, pada tahun
1995-1998 penulis bekerja sebagai dosen di akper Wijaya
Husada Bogor, selanjutnya 1999 sebagai staf Bapelkes Kendari,
tahun 1999-2000 sebagai dosen di Akper Depkes Kendari, pada
tahun 2000 penulis meraih gelar pascasarjana dalam bidang
kesehatan masyarakat di Universitas Indonesia.
Tahun 2001 hingga sekarang, penulis berkarir sebagai dosen
pengajar dengan mata kuliah Keperawatan profesional,
Keperawatan Komunitas dan Keperawatan Keluarga pada
Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kendari.
Hj. Nuraini Noer, SST
Lahir di Jeneponto, 15 Juni 1951, Menyelesaikan Pendidikan D-III
Keperawatan tahun 1973, pada tahun 1973-1976 bekerja
sebagai staf di RSU Provinsi Sultra, selanjutnya tahun 1971-1982
sebagai staf Dinas Kesehatan TK I, tahun 1983-1995 sebagai
guru SPK Depkes Kendari, pada tahun 1995-2001 Sebagai Dosen
Akper Depkes Kendari, tahun 2000 Penulis Menyelesaikan D-IV
Keperawatan Anak.
Tahun 2001 hingga sekarang, penulis berkarir sebagai dosen
pengajar dengan mata kuliah KDK, Dokumentasi keperawatan,
Keperawatan anak dan Keperawatan komunitas pada Jurusan
Keperawatan Politeknik Kesehatan Kendari.

ii

Taamu, A.Kep., S.Pd., M.Kes


Lahir di Lipu, 9 Oktober 1962, Menyelesaikan Pendidikan D-III
Keperawatan tahun 1992, tahun 1999 penulis Melanjutkan
pendidikan D-IV Keperawatan di Universitas Hasanuddin, tahun
2001 Penulis Menyelesaikan Pendidikan S1 Jurusan Pendidikan di
Universitas Haluoleo, Selanjutnya tahun 2004 penulis meraih
gelar pascasarjana dalam bidang Kesehatan masyarakat/Minat
KIA di Universitas Airlangga .
Tahun 2003 hingga sekarang, penulis berkarir sebagai dosen
pengajar dengan mata kuliah Keperawatan Anak, Anatomi
Fisiologi, dan Riset keperawatan pada Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kendari.
Budiono, S.Kp., M.Kes
Lahir di Kediri, 12 Juli 1969, Menyelesaikan Pendidikan D-III
Keperawatan di Ujung Pandang tahun 1994, pada tahun 19952002 penulis bekerja sebagai dosen tetap di STIKES Panakukang
Makassar, selanjutnya 1998 Penulis Menyelesaikan Pendidikan
S1 Keperawatan di Universitas Padjajaran Bandung, selanjutnya
tahun 2007 penulis meraih gelar pascasarjana dalam bidang
biomedik di Universitas Hasanuddin Makassar.
Tahun 2002 hingga sekarang, penulis berkarir sebagai dosen
pengajar dengan mata kuliah Anatomi fisiologi, Patologi,
Mikrobiologi dan KMB I, II dan III pada Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kendari.
Hj. Sri Asriani, B.Sc.
Lahir di Kendari, 13 Januari 1961, Menyelesaikan Pendidikan
akademi Keperawatan DepKes Makassar pada tahun 1985,
Tahun 1985 sebagai guru pengajar pada SPK DepKes Kendari,
Tahun 2002 hingga sekarang, penulis berkarir sebagai dosen
pengajar dengan mata kuliah KDM dan Etika Keperawatan pada
Jurursan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kendari.

iii

Anita Rosanty, SST., M.Kes


Lahir di Kendari, 17 November 1967, Menyelesaikan Pendidikan
D-IV Perawat Pendidik, tahun 1996-2000 penulis bekerja sebagai
guru perawat, selanjutnya tahun 2000-2003 bekerja sebagai
dosen di Akper Depkes Kendari, Selanjutnya tahun 2006 penulis
meraih gelar pascasarjana dalam bidang ilmu kesehatan
masyarakat di Universitas Airlangga .
Tahun 2003 hingga sekarang, penulis berkarir sebagai dosen
pengajar dengan mata kuliah Keperawatan maternitas,
Dokumentasi keperawatan dan Keperawatan profesional pada
Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kendari.
Sumirah Budi Pertami, S.Kp., M.Kep
Lahir di Purwakarta, 24 Oktober 1976, Menyelesaikan Pendidikan
S1 Keperawatan di Universitas Padjajaran tahun 1999, pada
tahun 1999-2002 Penulis bekerja sebagai staf di RS Akademis
Makassar, Tahun 2006, Penulis Menyelesaikan Pendidikan S2
Keperawatan maternitas di Universitas Indonesia.
Tahun 2002 hingga sekarang, penulis berkarir sebagai dosen
pengajar dengan mata kuliah Keperawatan Maternitas,
Dokumentasi Keperawatan, Keperawatan Anak Dan KDK pada
Jurursan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kendari.
Samsuddin, S.Kep., Ns
Lahir di Tapunggaya Konawe Utara, 25 April 1977,
Menyelesaikan Pendidikan akademi Keperawatan DepKes
Kendari pada tahun 1998, tahun 2009 Penulis menyelesaikan
pendidikan sarjana Keperawatan di Universitas Gadjah Mada.
Tahun 2001 hingga sekarang, penulis bekerja sebagai staf dosen
pengajar dengan mata kuliah KDM, Keperawatan komunitasdan
gadar. pada Jurursan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kendari.

iv

Sahmad, S.Kep., Ns
Lahir di Tamboli, 27 Maret 1978, Menyelesaikan Pendidikan
akademi Keperawatan DepKes Kendari pada tahun 2003, tahun
2006 Penulis menyelesaikan pendidikan sarjana Keperawatan di
Universitas Hasanuddin Makassar, Sekaligus mengambil provesi
Ners tahun 2007
Tahun 2004 hingga sekarang, penulis bekerja sebagai staf dosen
pengajar dengan mata kuliah KDM, KDK, Keperawatan jiwa dan
Keperawatan anak pada Jurursan Keperawatan Poltekkes
Kemenkes Kendari.

DAFTAR ISI

Daftar Isi ........................................................................................

iii

Tata Tertib Laboratorium .................................................................

iv

Asuhan Persalinan Normal (APN) ..................................................

Pemotongan & Pengikatan Tali Pusat/ID bayi). ..............................

20

Perawatan Tali Pusat ......................................................................

23

Perawatan Payudara (PNC ............................................................

25

Pemeriksaan Leopold ( ANC)..........................................................

30

Pengukuran Lingkar Panggul ( ANC) ..............................................

37

Memandikan Bayi Baru Lahir .........................................................

39

Pemberian Imunisasi ......................................................................

47

Daftar Pustaka

vi

KETENTUAN PRAKTIKUM

A. TATA TERTIB UMUM


1. Pengguna Laboratorium adalah mahasiswa, dosen/instruktur dan
pengguna lain diluar Poltekkes Kendari.
2. Pelaksanaan kegiatan praktek Laboratorium

harus disesuaikan

dengan jadwal yang telah disusun, bila terjadi perubahan jadwal,


dosen/instruktur

praktikum

harus

memberitahukan

kepada

Kepala/pengelola Laboratorium minimal 2 hari sebelum praktek


laboratorium dilaksanakan.
3. Untuk pengguna lain didalam dan diluar Poltekkes Kendari yang
memerlukan jasa pelayanan di laboratorium harus atas seizin Ketua
Jurusan Keperawatan melalui surat izin penggunaan laboratorium
Keperawatan yang diserahkan kepada Pengelola Laboratorium 1
(satu) minggu sebelumnya
B. TATA TERTIB KHUSUS
Selama berada di laboratorium, Praktikan diwajibkan :
1. Mengenakan baju laboratorium dan sendal jepit.
2. Mengisi buku daftar hadir sebelum dan sesudah melaksanakan
praktek dan ditandatangani oleh Dosen/instruktur praktikum.
3. Mengisi buku kompetensi (Buku Kontrol) setiap melaksanakan
praktikum dan ditandatangani oleh Dosen/instruktur praktikum.
4. Mahasiswa dilarang membawa makan, minuman, mengaktifkan
Handphone (HP) selama melaksanakan proses praktikum.
5. Mahasiswa dilarang bermain/berkumpul didalam laboratorium bila
tidak melaksanakan praktek.
6. Mahasiswa dilarang menggunakan dan mengambil alat atau bahan
laboratorium tanpa seizin Kepala/pengelola Laboratorium.
7. Membersihkan dan merapikan semua alat yang telah dipakai sebelum
meninggalkan Laboratorium.

vii

C. SANKSI
1. Mahasiswa tidak diperkenankan mengikuti praktek Laboratorium
apabila melanggar tata tertib yang telah ditetapkan.
2. Alat/bahan yang sengaja/tidak sengaja dirusakkan/dihilangkan oleh
salah satu mahasiswa harus diselesaikan/diganti secara bersama oleh
kelompok.
D.
HAK DAN KEWAJIBAN
1. MAHASISWA
a. Mahasiswa mempunyai hak untuk mendapatkan pembelajaran
praktek dilaboratorium.
b. Mahasiswa diwajibkan hadir 10 menit dilaboratorium sebelum
dilaksanakan praktek.
c. Mahasiswa diwajibkan memiliki buku kompetensi ( Buku Kontrol ).
d. Mahasiswa
yang melaksanakan praktek dibagi dalam satu
kelompok maksimal 10 orang / kelompok.
e. Mahasiswa setelah mendapatkan bimbingan dari dosen / instruktur
dapat
f.

melaksanakan

praktek

secara

mandiri

atau

dengan

kerjasama kelompok.
Mahasiswa wajib mentaati semua tata tertib yang berlaku di

laboratorium.
g. Mahasiswa wajib mengikuti proses bimbingan sampai selesai.
2. PEMBIMBING / INSTRUKTUR
a. Dosen/Instruktur mempunyai hak untuk memberikan praktek di
laboratorium.
b. Dosen/Instruktur diwajibkan membuat SOP, RPP, IK dan Proposal
(Khusus untuk Terapi Aktifitas Kelompok dan Terapi Bermain)
sebelum

melaksanakan

praktikum

dan

dimasukan

kepada

Kepala/pengelola Laboratorium paling lambat 1 (satu) minggu untuk


ditindaklanjuti, dan apabila tidak dimasukkan tidak diperkenankan
melaksanakan praktikum dilaboratorium.

viii

c. Dosen/Instruktur

membimbing

dan

mengkoordinir

mahasiswa

dalam melaksanakan praktikum dilaboratorium.


d. Dosen/Instruktur wajib menandatangani Buku Kompetensi (Buku
Kontrol ) setelah selesai memberikan praktikum.

ix

BAB I
ASUHAN PERSALINAN NORMAL
(APN)
A. Pengertian
Suatu tindakan
untuk menolong persalinan dengan memastikan
pembukaan lengkap dan membantu dalam proses persalinan
B. Tujuan
1. Mengetahui kala persalinan
2. Menyiaapkan pertolongan untuk persalinan
3. Memastikan pembukaan lengkap
4. Pertolongan persalinan
5. Sampai perawatan bayi baru lahir
C. Persiapan Alat
1. Partus Set
a. 2 buah Klem Kocher
b. Gunting tali pusat
c. Gunting Episotomi
d. Khasa steril
e. Pengikat tali pusat
f. Sepasang hanndscun
2. Wadah DTT
a. Sepasang hanndscun
b. Duk Steril
c. 5 buah kapas sublimat
d. Kocher
e. Kateter Nelaton
f. Panghisap lendir De Lee
3. Alat-dan Bahan
a. Spuit 3 cc 1 buah
b. Nierbekken
c. Tensi meter
d. Stetoskop
e. Thermometer
f. Fetoskop
g. Laruran klorin 0,5%
h. Air DTT
i. Celemek Waslap 3 buah
j. 2 buah ember
k. 3 buah tempatysampah
l. Pakaian ibu lengkap

m. Handuk bersih
n. Pakaian bayi lengkap
o. Handuk bersih selimut untuk bayi
p. Kaca mata
q. Sepatu boot
r. masker
4. Obat obatan
a. 2 botol ampul oksitoksin
b. 1 botol ampul metergin
D. Prosedur
1. MANAJEMEN AKTIF PERTOLONGAN KALA I
a. Pasang sampiran
b. Memantau tekanan darah dan nadi
c. Melakukan manuver leopold I-IV
d. Monitoring DJJ
e. Pantau pola kontraksi uterus setiap 30-60 detik
f. Lakukan pemeriksaan dalam vagina (vagina touche)
g. Kaji adanya pengeluaran pervagina
h. Pendokumentasian hasil pemeriksaan dan respon klien
2. MELIHAT TANDA DAN GEJALA KALA II
a. Ibu mempunyai keinginan untuk meneran
b. Ibu merasakan tekanan pada anus atau vagiannya
c. Perineum menonjol
d. Vulva vagina dan sfingter anal membuka
3. MENYIAPKAN PERTOLONGAN PERSALINAN
a. Siap alat
a. Memastikan perlenngkapan, bahan dan obat-obatan esensial
siap
b. Mengambil obat dari botol ampul dengan mematahkan obat
oksitosin 10 unit dan memasukan tabung suntik steril sekali
pakai didalam partus set
b. Siap diri
1) Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih
2) Melepaskan perhiasan yang dipakai
3) Mencuci tangan bersih (Langkah 1 s/d 7)
4) Mengeringkan tangan dengan handuk satukali pakai/pribadi
yang bersih
5) Memakai kaca mata sepatu dan masker (Jika diperlukan)
6) Memakai hanndcun
7) Menghisp obat dari botol ampul dengan mematahkan obat
oksitosin 10 unit dan memasukan tabung suntik steril sekali
pakai didalam partus set (dengan teknik 1 tangan)
4. MEMASTIKAN PEMBUKAAN LENGKAP DAN KEADAAN JANANIN

a. Membersihkan Vulva dan perineum


b. Dengan menggunakan teknikaseptik, melakukan pemeriksaan
dalam untuk memastikan pembukaan serviks sudah lengkap
c. Mendekontaminasikan hanndscun dengan cara mencelupkan
tangan yang masih memakai sarung tangan kotor kedalam larutan
klrin 0,5% dan kemudian melepaskannya kedalam lalu direndam
dengan larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
d. Mencuci tangan besih (Langkah 1 s/d 7)
e. Memeriksa DJJ setelah kontaksi berakhir dan memastikan DJJ
dalam batas normal
1) Mengambil tindakan jika DJJ tidak normal
2) Lakukan Pendokumentasian
5. MENYIAPKAN IBU DAN KELUARGA UNTUK MEMBANTU PROSES
PIMPINAN MENERAN
a. Memberitahu ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan
janin baik
b. Mengatur posis ibu dalam posisi yang nyaman sesuai yang
diinginkan
1) Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran
2) Melanjutkan pemantauan kesehatan dan kenyamanan ibu
serta keselamatan janin sesuia dengan pedoman persalinan
3) Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka
dapat mendukung dan memberi semangat kepada ibu saat
mulai meneran
c. Meminta bantu keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk
meneran (pada saat his, danbu ibu dlam posisi setengah duduk
dan pastikan ibu merasa nyaman
d. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang
kuat untuk meneran
1) Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai
keinginan untuk meneran
2) Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu
3) Jika dimungkinkan rangsangkan dengan menggesekkan kedrua
jari di puting susu ibu
4) Mengatur ibu dalam posisi yang nyaman (tidak meminta ibu
untuk berbaring terlentang)
5) Menganjurkan ibu untuk beristirahant diantara kontraksi
6) Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memeberi
samangat
7) Menganjurkan rehidrasi per oral
8) Menilai DJJ setiap 5 Menit
9) Jika bayi belum lahir akan terjadi seger dalam waktu 2 jam
meneran untuk ibu primipara atau 1 jam untuk ibu multipara
segeralah untuk dirujuk

Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk meneran


a). Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok. Dan jka ibu ingin
meneran dalam 60 menit menganjurkan ibu untuk mulai
meneran pada puncak kontraksi dan beristirahat diantara
kontraksi
b). Jika bayi belum lahir dalamn 60 menit lakukan rujukan segera
6. PERSIAPKAN PERTOLONGAN LAHIR
a. Jika kepala bayi telah terlihat di vulva 5-6cm, meletakkan handuk
bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi
b. Meletakkan kain yang bersih, dilipat 1/3 bagian dibawah bokong
ibu
c. Membuka partus set
d. Menggunakan hanndscun steril pada kedu tangan
7. MENOLONG KELAHIRTAN BAYI
a. Kelahiran dengan Kepala
1) Jika kepala bayi telah terlihat di vulva 5-6cm, melindungi
perineuM dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi (ibu jari
pada salah satu sisi perineum dan 4 jari pada sisi yang lain)
meletakkan tangan yang lain dikepala bayi, tahan belakang
kepala bayi agar posisi kepala tetap fleksi pada saat keluar
secara
bertahap
meleweati
introitus
dan
perineum.
Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan0lahan
2) Jika ada mekonium dalam cairan ketuban, segera untuk
menghisap mulut dan hidung
3) Dengan lembut mengusap muka, mulut dan hidung bayi
dengan kain kasa bersih atau DTT
4) Memeriksa lilitan tali pusat dengan memasukkan kedu jari
tengah dan telunjuk secara perlahan-lahan dan merabanya,
mengambil tindakan yang sesuai jika terjadi. Dengan cara :
a) Jika terdapat lilitan tali pusat Longgar, lepaskan lewat
bagian atas kepala
b) Jika terdapat lilitan tali pusat erat/kencang, lepaskan
dengan mengklemnya di dua temapt dan memotongnya
5) Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar
secara spontan
b. Kelahiran dengan Bahu
1) Setelah kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara
spontan letakkan tangan pada sisi kiri dan kanan kepala bayi,
minta ibu meneran kembali, sambil menekan kepala ke arah
bawah dan leteral tubuh bayi hingga bahu depan melewati
simpisis
2) Setelah bahu depan lahir, gerakkan kepala keatas dan lateral
tuhuh bayi sehinga bahu bawah dan seluruh dada dapat dilihat

c. Kelahiran dengan badan dan tungkai


1) Setelah bahu depan lahir, menelusurkan tangan mulai kepa bayi
yang berada di bagian bawah ke arah perineum, gunakan lenmgan
bagian bawah untuk menyangga tubuh bayi saat dilahirkan.
Menggunakan tangan enterior (bagian atas) untuk mengendalikan
siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir
2) Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusurkan tangan di atas
(anterior)untuk menelusuri dan memegang bahu, siku dan
lengan bagian anterior
3) Dari arah belakang, sisipkan jari telunjuk tangan atas diantara
kedua kaki yari yang kemudian dipegang dengan ibu jari dan
ketiga jari tangan lainya
8. PENANGANAN BAYI BARU LAHIR
a. Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakkan bayi diatas
kain/handuk yang telah disiapkan di perut ibu dengan posisi
kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuh (bila tali pusat terlalu
pendek meletakkan bayi ditempat yang memungkinkan
b. Segera keringkan sambil melakukan rangsangan taktil pada tubuh
bayi dengan kain atau selimut diatas perut ibu, membungkus
kepala dan badan bayi kebuali bagian tali pusat setelah itu
melakukan inisiasi ASI dini / kontak kulit ibu, bila tali pusat panjng
(bila talipusat pendek digunting dulu)
c. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat
bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem ke arah
ibu dan merangsang klem kedua 2 cm dari klem pertama (kearah
ibu)
d. Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari
gunting dan memotong tali pusat diantara 2 klem tersebut
e. Menganti handuk basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau
selimut yang bersih dan kering, menutupi bagian kepala dan
membiarkan tali pusat terbuka
f.
Memberi bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu memeluk
bayi dan memulai pemberian asi
9. MANAJEMEN AKTIF PERSALINAN KALA III
a. Oksitoksin
1) Meletakkan kain bersih diatas perut ibu
2) Pemeriksan uterus untuk memastikan tidak ada bayi kedua
3) Memberitahukan kepada ibu bahwa ia akan di suntik
4) Segera (dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir),
memberikan suntikan oksitoksin 10 unit IM 1/3 bagian atas
paha kanan bagian luar setelah mengaspirasi terlebih dahulu
b. Penegangan tali pusat terkendali
1) Berdiri disamping ibu
2) Pindahkan klem pada tali pusat sekitar 5-10cm dari vulva

3) Letakkan tangan yang lain pada abdomen ibu (beralaskan


kain) tepat di atas simpisis pubis. Gunakan tangan ini untuk
meraba kontraksi uterus dan menekan uterus pada saat
melakukan penegangan pada tali pusat. Setelah
terjadi
kontraksi yang kuat, tegangkan tali pusat dengan satu tangan
dan tangan yang lain (pada dinding abdomen) menekan uterus
ke aras lumbal dan kepala ibu (dorsal-kranial). Lakukan secara
hati-hati untuk mencegah terjadinya inversio uteri
4) Bila plasenta belum lepas, tunggu hingga uterus berkontraksi
kembali ( 2 s/d 3 menit berselang) untuk mengulangi kembali
penegangan tali pusat terkendali
5) Saat mulai kontraksi (uterus menjadi bulat atau tali pusat
menjulur)
6) Tegangkan tali pusat ke arah bawah, lakukan tekanan dorsalkranial hingga tali pusat makin menjulur dan korpus uteri
bergerak keatas yang menandakan plasenta telah terlepas dan
dapat dilahirkan
7) Jika langkah 6 diatas tidak berjalan sebagaiman mestinya dan
plasenta tidak turun setelah 30-40 detik dimulainya
penegangan tali pusat dan tidak ada tanda-tanda yang
menunjukan pelepasan plasenta, jangan teruskan penegangan
tali pusat lakukan cara yang lain seperti :
a) Pegang klem dan tali pusat dengan lembut dan tunggu
sampai kontkasi berikutnya. Tika perlu pindahkna klem
lebih dekat ke perineum pada saat tali pusat memanjang.
Pertahankan kesabaran pada saat melahirkan plasenta
b) Pada saaat kontraksi berikutnya terjadi, ulangi penegangan
tai pusat tekendali dan tekan dorsal-kranial pada korpus
uteri secara serentak ikut langkah-langkah pada setiap
kontraksi hingga terasa plasenta terlepas dari dinding
uterus
c. Mengeluarkan plasenta
1) Setelah plasenta terlepas, anjurkan ibu untuk meneran agar
plasenta terdorong kaluar melalui introtius vagina. Tetap
tegangkan tali pusat dengan Arah mengikuti poros jalan lahir
2) Pada saat plasenta terlihat pada introtius vagina. Lahirkan
plasenta dengan mengangkat tali pusat ke atas dan menopang
plasenta dengan tangan lainya untuk diletakkan dalam wadah
penampung. Pegang selaput ketuban karena mudah robek dan
secara l;embut putar plasenta sehingga selaput ketuban
terpilin menjadi satu
3) Lakukan penarikan dengan lembut dan perlahn-lahan untuk
melahirkan selaput ketuban
d. Masase uterus

1) Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan


masase dengan gerakkan mengingkar dan lembut hingga
uterus berkontraksi (fundus menjadi keras)
10.MENILAI PERDARAHAN
a. Memeriksa kedua sisi palsenta baik yang menmpel ke ibu maupun
janin dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa selaput
ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan plasenta di dalam kantung
plastik atau tempat khusus
b. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan
segera menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif
11.MELAKUKAN PROSEDUR PASKA PERSALINAN
a. Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan baik
mnegevaluasi perdarahan pervagina
b. Mencelupka ke2 tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membilas
kedu tangan yang masih bersarung tangan dengan cairan
desinfektan tingkat tinggi dan keringkan tangan
c. Menempatkan klem tali pusat desinfektan tingkat tinggi atau
mengikatkan tali desinfektan tingkat tinggi dengan simpul mati di
sekeliling lati pusat sekitar 1 cm dati pusat
d. Mengikat satu lagi simpul mati di bagian tali pusat yang
berseberangan dengan simpul mati yang pertama
e. Melepaskan klem dan melketakkan kedalam larutan klorin 0,5%
f. Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya.
Memastikan handuk atau kainnya bersih dan kering
g. Memnagjurkan ibu untuk memulai ASI
12.EVALUASI
a. Mengajarkan pada ib/keluarga bagaimana melakukan masase
uterus dan memeriksa kontraksi uterus
b. Mengevaluasi kehilangan darah
c. Memeriksa TTV dan melakukan tindakan sesuai untuk temuantemuan selama pesalinan sampai selesai yang tidak normal
13.KEBERSIHAN DAN KEAMANAN
a. Menempatkan semua alat-alat didalam larutan klorin untuk
dibersihkan 10 menit dan membilas hingga kering
b. Membuang bahan-bahan yang habig pakai yang telah kotor
c. Membersihkan ibu dengan menggunakan air desinfeksi, bersihkan
cairan ketuban, lendir dan darah, membantu memakaikan pakaian
ibu yang bersih dan kering
d. Memastikan bahwa ibu merasa nyaman. Membantu memberikan
asi menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minum dan
makan secukupnya
e. Mendekontaminasikan daerah yang digunakan untuk melahirkan
dengan larutan klorin dan membilas dengan air bersih

f. Mencelupkan sarung tangan yang telah dipakai kedalam larutan


klorin dengan membalikan bagian dalam keluar dan merendamnya
dalam larutan klorin 10 menit
g. Mencuci tangan dan mengeringkannya

14.DOKUMENTASI
a. Melengkapi patograf (bagian depan dan belakang)

I.

VI. T O L O N G
KEPALA :
18. Lindung
19. Usap
20. Cheek
21. Tunggu
KABU
:
22. Biparietal
BADAN :
23 Sangga.
24. Susur

TANDA & GEJALA K-II


Dor-ran
Tek-nus
Per-jol
Vul-ka
II. SIAP ALAT
Partus Set
Wadah DTT
Luar 8
Ibu 8
Bayi

VII. PENANGANAN BAYI


25. Nilai / Letak
28. Potong
26. Kering
29.Ganti
25. Jepit
30. Susu
VIII. PENANGANAN BAYI
: 31. Fundus, Kain Bersih
32. Beritahu
33. Suntik
: 34. Pindah
Plasenta : 37. Tarik
35. Posisi
38. Putar
36. Tegang
Masase : 39. Fundus

Patahkan
Oxytosin
Spuit

SIAP DIIR
3. Celemek
4. Cuci tangan
5. Sarung Tangan
6. Oksi (1/2 kocher)

OKSI
PTT

III. PASTIKAN LENGKAP


7. Bersih
8. P.D.
9. Celup
10. DJ
IV. SIAP IBU & KELUARGA
11. Ibu
12. Keluarga
II. SIAP ALAT
Pimpina

IX. PERDARAHAN
40. Plasenta
41. Robekan
X. PASCA TINDAKAN

I K AT
42-48

42. Tonus
43. Bersih
44. Ikat I
45. Ikat II
46. Klem
47. Bungkus
48. Susu

HIS

49. Kontraksi
50. AJarkan

Puji

13.
HIS

Ictirahat
Minum
DJJ

V. SIAP TOLONG
14. Handuk
15. Bokong
16. Buka
17. Sarung

E VAL
49-52

:4
51. Pendarahan
52. nadi

BERSIH / AMAN
53-59

60.

:7

* T.P.R.S.
* CATAT.
* PARTO.

FORMAT PENILAIAN OSCE

53. Alat
54. Buang
55. Ibu
56. Nyaman
57. Dekontaminasi
58. Celup
59. Cuci

(OBJEKTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION)


NO

ASPEK YANG DINILAI

TAHAP PRE INTERAKSI

Siapkan alat-alat dan dekatkan kepasien

Cuci tangan

Pasang sarung tangan jika perlu


TAHAP ORIENTASI

memberi salam dan senyum kepada klien


(BHSP)

menjelaskan kegiatan dan tujuan yang


akan dilakukan

menjelaskan waktu yang akan dibutuhkan

menjelaskan
kerahasiaan
bila
perlu
pasang sampiran

Atur posisi pasien.


TAHAP KERJA
1. Pasang sampiran
2. memantau tekanan darah dan nadi (pada
kondisi
stres
akan
mengaktifkan
st.
Adrenokortikal, menyebabkan penahanan air
dan natrium serta ekskresi kalium sehingga
menyebabkan hipertensi dan penurunan
aktifitas mimetrik (tonus otot uterus)
3. melakukan manuver loepold I-Iv
4. monitor DJJ dengan Cara mendengarkan
selama 1 menit penuh
5. pantau pola kontraksi uterus setiap 30-60
detik terdiri atas
frekuensi : berapa kali his dalam 1 menit
intensitas : apakah his kuat atau lemah
durasi : tiap his berapa detika lamanya
contoh : his 4 x dalam 10menit selama 45
detik
6. lakuakn pemeriksaan dalam (vagina touche)
caranya
perawat cuci tangan dan gunakan
saruang tangan steril
periksa genetalia eksterna apakah ada
varises, luka lecet, darah lendir, shauw,
darah atau cairan ektuban (bau dan
warnanya)
tangan kiri membeberkan labia, tangan

10

TINDAKAN
YA
TIDAK

kanan mengambil kapas sublimat dan


menghapus vulva dari atas kebawah
dengan menjagga jari tidak mengenai
vulva
jari tengah dan telunjuk tangan kanan
dimasukkan kedalam vagina tangan kiri
pindah diatas simpisisi untuk menahan
bagian depan, sekali jari pemeriksa
masuk maka jari tidak boleh dikeluarkan
sampai [emriksaan selesai
perat yagn diperhatikan adalah kondisi
serviks
(apakah
servik
kaku/lunak/mendatar/belum
dan
pembukaan berapa cm, persentasi janin,
turunnya kepala (bidang hodge)
buka sarung tangan dan rendam dalam
larutan klorin 0,5% kemudian perawat
cuci tangan
kaji adanya pengeluaran pervagina
bila pembukaan belum lengkap anjurkan
klien bernfas pendek dan cepat atau
meniup bila ia merasakan dorongan
utnuk mengejan dan anjurkan klien untuk
berjalan disekitar ruang bersalin

11

FORMAT PENILAIAN OSCE


(OBJEKTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION)
NO

ASPEK YANG DINILAI

TAHAP PRE INTERAKSI

Siapkan alat-alat dan dekatkan kepasien

Cuci tangan

Pasang sarung tangan jika perlu


TAHAP ORIENTASI

memberi salam dan senyum kepada klien


(BHSP)

menjelaskan kegiatan dan tujuan yang


akan dilakukan

menjelaskan waktu yang akan dibutuhkan

menjelaskan
kerahasiaan
bila
perlu
pasang sampiran

Atur posisi pasien.


TAHAP KERJA
MELIHAT TANDA DAN GEJALA KALA II
1.
Ibu mempunyai keinginan untuk
meneran
2.
Ibu merasakan tekanan pada anus
atau vagiannya
3.
Perineum menonjol
4.
Vulva vagina dan sfingter anal
membuka
MENYIAPKAN PERTOLONGAN PERSALINAN
1.
Siap alat
a. Memastikan perlenngkapan, bahan dan
obat-obatan esensial siap
b. Mengambil obat dari botol ampul dengan
mematahkan obat oksitosin 10 unit dan
memasukan tabung suntik steril sekali
pakai didalam partus set
2.
Siap diri
a.
Mengenakan baju penutup

12

TINDAKAN
YA
TIDAK

b.
c.
d.

atau celemek plastik yang bersih


Melepaskan perhiasan yang
dipakai
Mencuci
tangan
bersih
(Langkah 1
s/d 7)
Mengeringkan
tangan
dengan handuk

NO

ASPEK YANG DINILAI


e.
f.

satukali pakai/pribadi yang


bersih

Memakai kaca mata sepatu


dan masker (Jika diperlukan)
g.
Memakai
hanndcun
Menghisap obat dari botol ampul dengan
mematahkan obat oksitosin 10 unit dan
memasukan tabung suntik steril sekali pakai
didalam partus set (dengan teknik 1 tangan)
MEMASTIKAN PEMBUKAAN LENGKAP DAN
KEADAAN JANANIN
1.
Membersihkan Vulva dan perineum
2.
Dengan
menggunakan
teknikaseptik, melakukan pemeriksaan dalam
untuk memastikan pembukaan serviks sudah
lengkap
3.
Mendekontaminasikan hanndscun
dengan cara mencelupkan tangan yang
masih memakai sarung tangan kotor kedalam
larutan
klrin
0,5%
dan
kemudian
melepaskannya kedalam lalu direndam
dengan larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
Mencuci tangan besih
(Langkah 1
s/d 7)
Memeriksa DJJ setelah kontaksi berakhir
dan memastikan DJJ dalam batas normal
1. Mengambil tindakan jika DJJ tidak

13

TINDAKAN
YA
TIDAK

normal
2. Lakukan Pendokumentasian
MENYIAPKAN IBU DAN KELUARGA UNTUK
MEMBANTU PROSES PIMPINAN MENERAN
1.
Memberitahu
ibu
bahwa
pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin
baik

NO

ASPEK YANG DINILAI


2.

Mengatur posis ibu dalam posisi


yang nyaman sesuai yang diinginkan
a.
Menunggu
hingga
ibu mempunyai keinginan untuk meneran
b.
Melanjutkan
pemantauan kesehatqn dan kenyamanan
ibu serta keselamatan janin sesuia
dengan pedoman persalinan
c.
Menjelaskan kepada
anggota keluarga bagaimana mereka
dapat
mendukung
dan
memberi
semangat kepada ibu saat mulai meneran
3.
Meminta bantu keluarga untuk
menyiapkan posisi ibu untuk meneran (pada
saat his, danbu ibu dlam posisi setengah
duduk dan pastikan ibu merasa nyaman
4.
Melakukan pimpinan meneran saat
ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk
meneran
a.
Membimbing
ibu
untuk
meneran saat ibu mempunyai keinginan
untuk meneran
b.
Mendukung dan memberi
semangat atas usaha ibu

14

TINDAKAN
YA
TIDAK

c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

NO

Jika
dimungkinkan
rangsangkan
dengan
menggesekkan
kedrua jari di puting susu ibu
Mengatur ibu dalam posisi
yang nyaman (tidak meminta ibu untuk
berbaring terlentang)
Menganjurkan ibu untuk
beristirahant diantara kontraksi
Menganjurkan
keluarga
untuk
mendukung
dan
memeberi
samangat
Menganjurkan rehidrasi per
oral
Menilai DJJ setiap 5 Menit
Jika bayi belum lahir akan
terjadi seger dalam waktu 2 jam meneran
untuk ibu primipara atau 1 jam untuk ibu
multipara segeralah untuk dirujuk

ASPEK YANG DINILAI


Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk
meneran
1.
Menganjurka
n ibu untuk berjalan, berjongkok. Dan jka ibu
ingin meneran dalam 60 menit menganjurkan
ibu untuk mulai meneran pada puncak
kontraksi dan beristirahat diantara kontraksi
2.
Jika
bayi
belum lahir dalamn 60 menit lakukan rujukan
segera
PERSIAPKAN PERTOLONGAN LAHIR
1. Jika kepala bayi telah terlihat di vulva 5-6cm,
meletakkan handuk bersih diatas perut ibu
untuk mengeringkan bayi
2. Meletakkan kain yang bersih, dilipat 1/3
bagian dibawah bokong ibu
3. Membuka partus set

15

TINDAKAN
YA
TIDAK

4. Menggunakan hanndscun steril pada kedu


tangan
MENOLONG KELAHIRTAN BAYI
1.
Kelahiran
dengan Kepala
a.
Jika kepala bayi telah terlihat di vulva 5-6cm,
melindungi perineuM dengan satu tangan
yang dilapisi kain tadi (ibu jari pada salah
satu sisi perineum dan 4 jari pada sisi
yang lain) meletakkan tangan yang lain
dikepala bayi, tahan belakang kepala bayi
agar posisi kepala tetap fleksi pada saat
keluar
secara
bertahap
meleweati
introitus dan perineum. Menganjurkan ibu
untuk meneran perlahan0lahan
b.
Jika ada mekonium dalam cairan ketuban,
segera untuk menghisap mulut dan
hidung
c.
Dengan lembut mengusap muka, mulut dan
hidung bayi dengan kain kasa bersih atau
DTT

NO

ASPEK YANG DINILAI


d.
Dengan lembut mengusap muka, mulut dan
hidung bayi dengan kain kasa bersih atau
DTT
e.
Memeriksa
lilitan
tali
pusat
dengan
memasukkan kedu jari tengah dan
telunjuk
secara
perlahan-lahan
dan
merabanya, mengambil tindakan yang
sesuai jika terjadi. Dengan cara :
o Jika terdapat lilitan tali pusat Longgar,
lepaskan lewat bagian atas kepala

16

TINDAKAN
YA
TIDAK

Jika
terdapat
lilitan
tali
pusat
erat/kencang,
lepaskan
dengan
mengklemnya di dua temapt dan
memotongnya

f.
Menunggu hingga kepala bayi melakukan
putaran paksi luar secara spontan
2.
Kelahiran
dengan Bahu
a. Setelah kepala bayi melakukan putaran
paksi luar secara spontan letakkan tangan
pada sisi kiri dan kanan kepala bayi,
minta ibu meneran kembali, sambil
menekan kepala ke arah bawah dan
leteral tubuh bayi hingga bahu depan
melewati simpisis
b. Setelah bahu depan lahir, gerakkan
kepala keatas dan lateral tuhuh bayi
sehinga bahu bawah dan seluruh dada
dapat dilihat
3.
Kelahiran
dengan badan dan tungkai
a. Setelah bahu depan lahir, menelusurkan
tangan mulai kepa bayi yang berada di
bagian bawah ke arah perineum, gunakan
lenmgan bagian bawah untuk menyangga
tubuh bayi saat dilahirkan. Menggunakan
tangan enterior (bagian atas) untuk
mengendalikan siku dan tangan anterior
bayi saat keduanya lahir

NO

TINDAKAN
YA
TIDAK

ASPEK YANG DINILAI


b. Setelah
tubuh
menelusurkan
(anterior)untuk

dan
lengan
tangan
di
menelusuri

17

lahir,
atas
dan

memegang bahu, siku dan lengan bagian


anterior
c. Dari arah belakang, sisipkan jari telunjuk
tangan atas diantara kedua kaki yari yang
kemudian dipegang dengan ibu jari dan
ketiga jari tangan lainya
PENANGANAN BAYI BARU LAHIR
a. Menilai bayi dengan cepat, kemudian
meletakkan bayi diatas kain/handuk yang
telah disiapkan di perut ibu dengan posisi
kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuh
(bila tali pusat terlalu pendek meletakkan
bayi ditempat yang memungkinkan
b. Segera
keringkan
sambil
melakukan
rangsangan taktil pada tubuh bayi dengan
kain
atau
selimut
diatas
perut
ibu,
membungkus kepala dan badan bayi kebuali
bagian tali pusat setelah itu melakukan
inisiasi ASI dini / kontak kulit ibu, bila tali
pusat panjng (bila talipusat pendek digunting
dulu)
c. Menjepit tali pusat menggunakan klem kirakira 3 cm dari pusat bayi. Melakukan urutan
pada tali pusat mulai dari klem ke arah ibu
dan merangsang klem kedua 2 cm dari klem
pertama (kearah ibu)
d. Memegang tali pusat dengan satu tangan,
melindungi bayi dari gunting dan memotong
tali pusat diantara 2 klem tersebut
e. Menganti handuk basah dan menyelimuti
bayi dengan kain atau selimut yang bersih
dan kering, menutupi bagian kepala dan
membiarkan tali pusat terbuka

NO

ASPEK YANG DINILAI

18

TINDAKAN

YA
f.

Memberi
bayi
kepada
ibunya
dan
menganjurkan ibu memeluk bayi dan
memulai pemberian asi
MANAJEMEN AKTIF PERSALINAN KALA III
Oksitoksin
1.
Meletakkan kain bersih diatas perut ibu
2.
Pemeriksan uterus untuk memastikan tidak
ada bayi kedua
3.
Memberitahukan kepada ibu bahwa ia akan di
suntik
4.
Segera (dalam 1 menit pertama setelah bayi
lahir), memberikan suntikan oksitoksin 10
unit IM 1/3 bagian atas paha kanan
bagian luar setelah mengaspirasi terlebih
dahulu
Penegangan tali pusat terkendali
a.
Berdiri disamping ibu
b.
Pindahkan klem pada tali
pusat sekitar 5-10cm dari vulva
c.
Letakkan tangan yang lain
pada abdomen ibu (beralaskan kain) tepat
di atas simpisis pubis. Gunakan tangan ini
untuk meraba kontraksi uterus dan
menekan uterus pada saat melakukan
penegangan pada tali pusat. Setelah
terjadi kontraksi yang kuat, tegangkan tali
pusat dengan satu tangan dan tangan
yang lain (pada dinding abdomen)
menekan uterus ke aras lumbal dan
kepala ibu (dorsal-kranial). Lakukan
secara
hati-hati
untuk
mencegah
terjadinya inversio uteri
d.
Bila plasenta belum lepas,
tunggu
hingga
uterus
berkontraksi
kembali ( 2 s/d 3 menit berselang) untuk
mengulangi kembali penegangan tali
pusat terkendali

19

TIDAK

NO

ASPEK YANG DINILAI


e.

Saat mulai kontraksi (uterus


menjadi bulat atau tali pusat menjulur)
f.
Tegangkan tali pusat ke
arah bawah, lakukan tekanan dorsalkranial hingga tali pusat makin menjulur
dan korpus uteri bergerak keatas yang
menandakan plasenta telah terlepas dan
dapat dilahirkan
g.
Jika langkah 6 diatas tidak
berjalan
sebagaiman
mestinya
dan
plasenta tidak turun setelah 30-40 detik
dimulainya penegangan tali pusat dan
tidak ada tanda-tanda yang menunjukan
pelepasan plasenta, jangan teruskan
penegangan tali pusat lakukan cara yang
lain seperti :
o Pegang klem dan tali pusat dengan
lembut dan tunggu sampai kontkasi
berikutnya. Tika perlu pindahkna klem
lebih dekat ke perineum pada saat tali
pusat
memanjang.
Pertahankan
kesabaran pada saat melahirkan
plasenta
o Pada
saaat kontraksi
berikutnya
terjadi, ulangi penegangan tai pusat
tekendali
dan tekan dorsal-kranial
pada korpus uteri secara serentak ikut
langkah-langkah pada setiap kontraksi
hingga terasa plasenta terlepas dari
dinding uterus
Mengeluarkan plasenta
a. Setelah plasenta terlepas, anjurkan ibu
untuk meneran agar plasenta terdorong
kaluar melalui introtius vagina. Tetap
tegangkan tali pusat dengan Arah
mengikuti poros jalan lahir

20

TINDAKAN
YA
TIDAK

NO

ASPEK YANG DINILAI


b. Pada saat plasenta terlihat pada introtius
vagina.
Lahirkan
plasenta
dengan
mengangkat tali pusat ke atas dan
menopang plasenta dengan tangan lainya
untuk
diletakkan
dalam
wadah
penampung. Pegang selaput ketuban
karena mudah robek dan secara l;embut
putar plasenta sehingga selaput ketuban
terpilin menjadi satu
c. Lakukan penarikan dengan lembut dan
perlahn-lahan untuk melahirkan selaput
ketuban
Masase uterus
Segera setelah plasenta dan selaput
ketuban lahir, melakukan masase dengan
gerakkan mengingkar dan lembut hingga
uterus berkontraksi (fundus menjadi
keras)
MENILAI PERDARAHAN
1.
Memeriksa kedua sisi palsenta baik
yang menmpel ke ibu maupun janin dan
selaput ketuban untuk memastikan bahwa
selaput
ketuban
lengkap
dan
utuh.
Meletakkan plasenta di dalam kantung plastik
atau tempat khusus
2.
Mengevaluasi
adanya
laserasi
pada vagina dan perineum dan segera
menjahit
laserasi
yang
mengalami
perdarahan aktif
MELAKUKAN PROSEDUR PASKA
PERSALINAN

21

TINDAKAN
YA
TIDAK

a. Menilai ulang uterus dan memastikannya


berkontraksi dengan baik mnegevaluasi
perdarahan pervagina
b. Mencelupka ke2 tangan ke dalam larutan
klorin 0,5%, membilas kedu tangan yang
masih bersarung tangan dengan cairan
desinfektan tingkat tinggi dan keringkan
tangan

NO

ASPEK YANG DINILAI


c. Menempatkan klem tali pusat desinfektan
tingkat
tinggi
atau
mengikatkan
tali
desinfektan tingkat tinggi dengan simpul mati
di sekeliling lati pusat sekitar 1 cm dati pusat
d. Mengikat satu lagi simpul mati di bagian tali
pusat yang berseberangan dengan simpul
mati yang pertama
e. Melepaskan klem dan melketakkan kedalam
larutan klorin 0,5%
f. Menyelimuti kembali bayi dan menutupi
bagian kepalanya. Memastikan handuk atau
kainnya bersih dan kering
g. Memnganjurkan ibu untuk memulai ASI
EVALUASI
a. Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana
melakukan masase uterus dan memeriksa
kontraksi uterus
b. Mengevaluasi kehilangan darah
c. Memeriksa TTV dan melakukan tindakan
sesuai untuk
temuan-temuan selama
pesalinan sampai selesai yang tidak normal
KEBERSIHAN DAN KEAMANAN
a. Menempatkan
semua
alat-alat
didalam
larutan klorin untuk dibersihkan 10 menit

22

TINDAKAN
YA
TIDAK

dan membilas hingga kering


b. Membuang bahan-bahan yang habis pakai
yang telah kotor
c. Membersihkan ibu dengan menggunakan air
desinfeksi, bersihkan cairan ketuban, lendir
dan darah, membantu memakaikan pakaian
ibu yang bersih dan kering
d. Memastikan bahwa ibu merasa nyaman.
Membantu memberikan asi menganjurkan
keluarga untuk memberikan ibu minum dan
makan secukupnya

NO

ASPEK YANG DINILAI


e. Mendekontaminasikan
daerah
yang
digunakan untuk melahirkan dengan larutan
klorin dan membilas dengan air bersih
f. Mencelupkan sarung tangan yang telah
dipakai kedalam larutan klorin dengan
membalikan bagian dalam keluar dan
merendamnya dalam larutan klorin 10
menit
TAHAP TERMINASI

Pasien dirapikan Alat-alat dirapikan.

Cuci tangan

Perhatikan keadaan umum pasien

Dokumentasi tindakan

23

TINDAKAN
YA
TIDAK

BAB II
PEMOTONGAN & PENGIKATAN TALI PUSAT
A. Pengertian
Memutuskan hubungan antara plasenta dengan bayi dan mengikat tali
pusat yang sudah di potong dengan teknik aseptik dan antiseptik.
B. Tujuan
1. Bayi dapat bernapas sendiri dengan segera
2. Memudahkan perawatan selanjutnya
3. Mencegah perdarahan umbilikalis
C. Persiapan Alat
1. Alat-alat steril
Sarung tangan satu pasang
Klem tali pusat 2 bh
Gunting tali pusat 1 bh
Benang pengikat tali pusat
Kapas lidi secukupnya
Kain kassa
2. Alat tidak steril
Bengkok
3. Obat-obatan
Betadin 10% / yodium tinktur 3%
Alkohol 70%

24

D. Prosedur
Setelah bayi lahir seluruhya diterima di atas kain steril, bebaskan jalan
napas, setelah bayi menangis kuat lakukan segera :
1. Penolong masing memakai sarung tangan, tali pusat di jepit dengan 2
bh klem. Klem 1 dipasang 5 cm dari perut bayi, kemudian tali pusat
di urut ke arah plasenta. Klem II dipasang 5 cm dari klem I.
2. Tali pusat di potong dengan gunting tali pusat diantara kedua klem
tadi. Kira-kira 2,5 cm dari klem I. waktu pemotongan tali pusat,
tangan kiri melindungi perut bayi sehingga gunting tali pusat tidak
langsung bersentuhan dengan daerah perut bayi
3. Sebelum memotong tali pusat, tali pusat diolesi betadin terlebih
dahulu kemudian di potong. Setelah tali pusat di potong, olesi dengan
betadine 10% atau yodium tinktur 3% dengan memakai kapas lidi.
Kemudian tali pusat diikat.
4. Setelah tali pusat diikat dengan kuat, bungkus dengan kain kassa
yang telah diberi alcohol 70% kemudian bungkus kembali dengan
kapas steril.
5. Lakukan perawatan selanjutnya.
FORMAT PENILAIAN OSCE
(OBJEKTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION)
NO

ASPEK YANG DINILAI

TAHAP PRE INTERAKSI


Siapkan alat-alat dan dekatkan kepasien
Cuci tangan
Pasang sarung tangan jika perlu
TAHAP ORIENTASI
memberi salam dan senyum kepada klien
(BHSP)
menjelaskan kegiatan dan tujuan yang akan
dilakukan
menjelaskan waktu yang akan dibutuhkan
menjelaskan kerahasiaan bila perlu pasang
sampiran
Atur posisi pasien.
TAHAP KERJA
Setelah bayi lahir seluruhya diterima di atas
kain steril, bebaskan jalan napas, setelah bayi
menangis kuat lakukan segera :
a.
Penolong masing memakai sarung tangan, tali
pusat di jepit dengan 2 bh klem. Klem 1
dipasang 5 cm dari perut bayi,

25

TINDAKAN
YA
TIDAK

kemudian tali pusat di urut ke arah


plasenta. Klem II dipasang 5 cm dari
klem I.

b.
Tali pusat di potong dengan gunting tali pusat
diantara kedua klem tadi. Kira-kira 2,5 cm
dari klem I. waktu pemotongan tali pusat,
tangan kiri melindungi perut bayi sehingga
gunting tali pusat tidak langsung
bersentuhan dengan daerah perut bayi
c.
Sebelum memotong tali pusat, tali pusat
diolesi betadin terlebih dahulu kemudian
di potong. Setelah tali pusat di potong,
olesi dengan betadine 10% atau yodium
tinktur 3% dengan memakai kapas lidi.
Kemudian tali pusat diikat.
d.
Setelah tali pusat diikat dengan kuat, bungkus
dengan kain kassa yang telah

NO

ASPEK YANG DINILAI

e.
diberi alcohol 70% kemudian bungkus kembali
dengan kapas steril.
f.
Lakukan perawatan selanjutnya.
TAHAP TERMINASI
Pasien dirapikan Alat-alat dirapikan.
Cuci tangan
Perhatikan keadaan umum pasien
Dokumentasi tindakan

26

TINDAKAN
YA
TIDAK

BAB II
PERAWATAN TALI PUSAT
A. Pengertian
Memberikan perawatan terhadap tali pusat pada bayi
B. Tujuan
1. Mencegah terjadinya infeksi
2. Mempercepat pengeringan tali pusat
3. Mempercepat terlepasnya tali pusat
C. Persiapan Alat
2. Alkohol 70%, betadin 10% dalam tempatnya
2. Kasa dan kapas lidi steril dalam tempatnya
3. Korentang dalam tempatnya
4. Perlengkapan pakaian bayi ( gurita, popok, baju )
5. Pengikat tali pusat steril
6. Aquades steril

27

7. Gunting perban
8. Perban
9. Sarung tangan steril
D. Prosedur
Siapkan alat-alat
Cuci tangan dan pasang sarung tangan
Kasa pembungkus tali pusat di tetesi aquades steril dan dibuka
Bersihkan tali pusat dengan kapas alkohol, mulai dari ujung sampai
pangkal tali pusat dan daerah sekitarnya dengan diameter 2 cm

Olesi tali pusat dengan betadin atau obat sejenisnya dengan cara
yang sama seperti di atas
Tali pusat selanjutnya di bungkus dengan kasa steril dan di fiksasi
dengan menggunakan gurita
Pakaian bayi di pakai kembali, alat-alat di rapikan, tidurkan kembali
bayi dengan posisi sesuai dengan kebutuhan.
Rapikan alat-alat
Buka sarung tangan dan cuci tangan
Dokumentasi tindakan
E. Hal hal yang harus diperhatikan
1. Perawatan tali pusat harus di lakukan setiap hari sesudah di mandikan
atau sewaktu-waktu diperlukan
2. Daerah tali pusat harus selalu dalam keadaan bersih dan kering untuk
mencegah infeksi
3. Dilarang menggunakan plester biasa sebagai penutup atau fiksaasi
tali pusat.
FORMAT PENILAIAN OSCE
(OBJEKTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION)
NO
A

ASPEK YANG DINILAI


TAHAP PRE INTERAKSI
Siapkan alat-alat dan dekatkan kepasien
Cuci tangan
Pasang sarung tangan jika perlu
TAHAP ORIENTASI
memberi salam dan senyum kepada klien
(BHSP)
menjelaskan kegiatan dan tujuan yang akan
dilakukan
menjelaskan waktu yang akan dibutuhkan
menjelaskan kerahasiaan bila perlu pasang

28

TINDAKAN
YA
TIDAK

sampiran
Atur posisi pasien.
TAHAP KERJA
Kasa pembungkus tali pusat di tetesi aquades
steril dan dibuka
Bersihkan tali pusat dengan kapas alkohol,
mulai dari ujung sampai pangkal tali pusat dan
daerah sekitarnya dengan diameter 2 cm
Olesi tali pusat dengan betadin atau obat
sejenisnya dengan cara yang sama seperti di
atas
Tali pusat selanjutnya di bungkus dengan kasa
steril dan di fiksasi dengan menggunakan
gurita
Pakaian bayi di pakai kembali, alat-alat di
rapikan, tidurkan kembali bayi dengan posisi
sesuai dengan kebutuhan.
TAHAP TERMINASI
Pasien dirapikan Alat-alat dirapikan.
Cuci tangan
Perhatikan keadaan umum pasien
Dokumentasi tindakan

BAB IV
PERAWATAN PAYUDARA
A. Pengertian
Perawatan Payudara adalah melakukan perawatan khusus lewat
pemberian rangsangan pada otot-otot dada untuk memperbanyak ASI
A. Tujuan
1. Memperbanyak rangsangan pada kelenjar ASI agar Produksi ASI
meningkat
2. Mencegah bendungan ASI pada payudara
3. Payudara tidak kering

29

4. Puting payudara tidak mudah lecet atau pecah-pecah jika menyusui


nanti
B. Persiapan Alat dan Bahan
1. Minyak Kelapa Atau Baby Oil
2. 2 buah handuk
3. 2 buah waslap
4. Air panas + air dingin (bukan air es) dijadikan air hangat
5. 2 buah baskom
6. Kutang bersih sesuai dengan ukuran payudara
C. Prosedur kerja
1. Jelaskan prosedur kepada klien ( Komunikasi terapeutik )
2. Pintu atau jendela di tutup, dan jika perlu pasang sampiran
3. Area yang akan dilakukan tindakan dibebaskan
4. Cuci tangan
5. Atur posisi pasien yang nyaman tanpa menghalangi tindakan
6. Pasang pengalas dan handuk pertama dibawah ibu dan handuk yang
kedua di bawah dada ibu
7. Lakukan pengurutan
a. Pengurutan I (menggunakan telapak tangan)
1) Tediri atas 4 gerakan, yang dilakukan pada kedua payudara
selama 5 menit (20-30 kali)
2) Kedua telapak tangan diulus dengan minyak
3) Tempatkan kedua telapak tangan di kedua payudara
4) Kedua telapak tangan ditempatkan diantara kedua payudara
kearah atas, kesamping kebawah dan melintang sehingga
tangan menyangga payudara
5) Lakukan 25-30 kali selama 5 menit
b. Pengurutan II
1) Licintan telapak tangan dengan minyak
2) Telapak tangan kiri menopang payudara kiri dan jari-jari tangan
kanan saling dirapat
3) Sisi kelingking tangan kanan mengurut payudara kiri dari
pangkal payudara kearah puting susu, demikian pula pada
payudara kanan
4) Lakukan 30 kali selama 5 menit
c. Pengurutan III
1) Oleskan telapak tangan kanan dengan minyak
2) Telapak tangan kiri menopang payudara kiri
3) Jari-jari tangan kanan dikepalkan, kemudian tulang-tulang
kepalan tangan kanan mengurut payudara dari pangkal kearah
putting susu
4) Lakukan 30 kali selam 5 menit
8. Setelah selesai pengurutan, lakukan rangsangan payudara dengan
menggunakan air hangat kemudian air dingin

30

9. Siram/kompres payudara dengan waslap yang dibasahi dengan air


hangat terlebih dahulu kemudian air dingin
10. Siram bergantian selama 5 menit
11. Keringkan dan rapikan kembali pasien
12. Rapikan alat-alat
13. Atur posisi pasien kembali
14. Cuci tangan
7. Dokumensasi dan evaluasi pasien
b. Perhatian
1. Puting susu normal.
Kompres puting susu dengan kapas minyak selama 2 menit. Basahi
kedua telapak tangan dengan minyak kelapa. Tarik kedua puting
bersama-samadan putar ke dalam kemudian keluar sebanyak 20 kali.

2. Puting susu datar atau masuk


Menurut Hoffman :
Dengan jari telunjuk / ibu jari mengurut disekitar puting susu ke arah
berlawanan sampai merata.

2. Basahi kedua telapak tangan dengan minyak kelapa.Tarik kedua


puting bersama-sama dan putar ke dalam kemudian keluar selama 20
kali.
3. Puting susu dirangsang dengan ujung waslap / handuk kering yang
digerakkan ke atas bawah beberapa kali

31

FORMAT PENILAIAN OSCE


(OBJEKTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION)
NO
A

ASPEK YANG DINILAI


TAHAP PRE INTERAKSI
Siapkan alat-alat dan dekatkan kepasien
Cuci tangan
Pasang sarung tangan jika perlu
TAHAP ORIENTASI

32

TINDAKAN
YA
TIDAK

NO

memberi salam dan senyum kepada klien


(BHSP)
menjelaskan kegiatan dan tujuan yang akan
dilakukan
menjelaskan waktu yang akan dibutuhkan
menjelaskan kerahasiaan bila perlu pasang
sampiran
atur posisi pasien
TAHAP KERJA
Pasang pengalas dan handuk pertama
dibawah ibu dan handuk yang kedua di
bawah dada ibu
Lakukan pengurutan
1. Pengurutan I (menggunakan telapak
tangan)
a. Tediri atas 4 gerakan, yang dilakukan
pada kedua payudara selama 5 menit
(20-30 kali)
b. Kedua telapak tangan diulus dengan
minyak
c. Tempatkan kedua telapak tangan di
kedua payudara
d. Kedua telapak tangan ditempatkan
diantara kedua payudara kearah atas,
kesamping kebawah dan melintang
sehingga tangan menyangga payudara
e. Lakukan 25-30 kali selama 5 menit
2. Pengurutan II
a. Licintan telapak tangan dengan minyak
b. Telapak tangan kiri menopang payudara
kiri dan jari-jari tangan kanan saling
dirapat

ASPEK YANG DINILAI


c. Sisi kelingking tangan kanan mengurut
payudarah kiri dari pangkal payudara
keadah putting susu, demikian pula
pada payudara kanan

33

TINDAKAN
YA
TIDAK

d. Lakukan 30 kali selama 5 menit


3. Pengurutan III
b.
Oleskan telapak tangan
kanan dengan minyak
c.
Telapak
tangan
kiri
menorang payudara kiri
d.
Jari-jari tangan kanan
dikepalkan, kemudian tulang-tulang
kepalan
tangan
kanan
mengurut
payudara dari pangkal kearah putting
susu
e.
Lakukan 30 kali selam 5
menit
Setelah selesai pengurutan, lakukan
rangsangan payudara dengan menggunakan
air hangat kemudian air dingin
Siram/kompres payudara dengan waslap
yang dibasahi dengan air hangat terlebih
dahulu kemudian air dingin
Siram bergantian selama 5 menit dan
keringkan
TAHAP TERMINASI
Pasien dirapikan Alat-alat dirapikan.
Cuci tangan
Perhatikan keadaan umum pasien
Dokumentasi tindakan

BAB V
34

LEOPOLD
(PEMERIKSAAN KEHAMILAN)
A. PENGERTIAN
Suatu usahan atau dindakan dengan menggunakan palpasi (perabaan)
dengan menggunakan jari-jari tangan, telapak tangan atau juga
menggunakan alat pengukur (pita pemukur) utnuk mengetahui tuanya
kehmilan dan kelainan-kelainan dalam rahim
B. TUJUAN
1. Besarnya rahim dan dengan ini menentukan tuanya kehamilan
2. Menentukan letaknya janin dalam rahim
3. Bias mengetahui apakah ada tumor atau kelainan dalam rahim
4. Member informasi dan menegakkan suatu dignosa yang akurat
tentang kehamilan
C. PERSIAPAN PASIEN
Birikan penjelaskan kepada pasien tentang tindakan yang dilakukan
D. PERSIAPAN ALAT
1. Pena
2. Buku dokumentasi
3. Mistar atau pita pengukur
4. Perlak dan selimut
5. Minyak telon
E. PROSEDUR KERJA
1. Jelaskan prosedur kepada pasien
2. Cuci tangan
3. Bawa alat kedekat pasien
4. menjaga prifasi pasien dengan membuka bagian yang akan dilakukan
tindakan atau menutup sampiran
5. atur posisi pasien tanpa menghambat bagian yang akan dilakukan
tindakan
6. oleskan tangan dengan minyak telon dan diusap kedalam telapak
tangan
7. lakukan palpasi menurut Leopol ( Leopol I, II, III, IV)
a. LEOPOLD. I
Tujuannya untuk menetukan tuanya kehamilan dan bagian apa
yang terdapat dalam fundus
1. Pemeriksa bersiri disebelah kanan dan melihat kearah muka
pasien
2. Pasein diminta untuk menekuk lututnya sedikit

35

3. Dengan kedua belah tangan, raba bagian saping fundus uteri


dengan memanfaatkan kepekaan jari-jari tangan
4. tentukan TFU dengan cara diketengahkan rahim dengan
tangan kanan kemudian tangan kiri diletakkan pada fundus
uteri dan tentukan batasan-batasannya
5. tentukan bagian janin yang terdapat dalam fundus uteri
sebelum bulan ke-III uteri belum dapat teraba dari luar
akhir bulan ke-III (12mgg) F.UT. 1-2j. atas
symphyiss
akhir bulan ke-IV (16 mgg) pertengahan antara sy-pst
akhir bulan ke-V (20 mgg) 3 jari dibawah pusat
akhir bulan ke-VI (24 mgg) setinggi pusat
akhir bulan ke-VII (28 mgg) 3 jari diatas pusat
akhir bulan ke-VIII (32 mgg) pertengahan Proc.Xyphoideus
-pusat
akhir bulan ke-IX (36 mgg) sampai arcus costarum atau 3
jari dibawah Proc.Xyphoideus-pusat
akhir bulan ke-X (40 mgg) pertengahan antara
Proc.Xyphoideus-pusat
untuk mengikuti pertumbuhan anak dengan cara mengikuti
pertumbuhan rahim maka gunakan pita pengukur (lingkaran
perut setinggi pusat)
b. LEOPOLD. II
Tujuannya untuk mengetahui letak punggung janin dan bagianbagian kecil janin
1) Lakukan penghangatan tangan kembali
2) Kedua tangan perawat dipindahkan ke samping
3) Tentukan dimana punggung janin.(punggung janin teraba
seperti tekanan yang lebih keras dan memanjang dari atas
kebawah, sisi lain dapat teraba bagian kecil kanin
4) Kadang-kadang disamping terdapat kepala atau bokong pada
letak lintang
c. LEOPOLD. III
Tujuannnya menetukan janin yang berada dibawah rahim dan
apakah bagian bawah janin sudah belum terpegang oleh pintu
atas panggul
1) Lakukan penghangatan tangan kembali
2) Dipergunkan 1 tangan
3) Bagian bawah ditentukan antara ibu jari dan jari yang lain
4) Colah apakah bagian bawah masih dapat digoyang
d. LEOPOLD. IV
Tujuannya untuk mengetahui apakah bagian terdepan janin sudah
masuk P A P atau belum

36

1)
2)
3)
4)
5)

Lakukan penghangatan tangan kembali


Bantu pasien untuk mengatur posis (meluruskan kaki)
Pemeriksa mengkadap ke kaki pasien
Kedua tangan diletakkan kedua sisi bagian bawah rahim
Raba dengan sedikit penekanan apakah terasa bagian
terdepan janin telah masuk P A P atau belum
6) Bila jari-jari saling bertemu berarti terdepan belum turun
7) Bila jari-jari saling berjauhan atau tidak bertemu berarti
terdepan sudah turun
8. Atur posisi pasien kembali dan rapikan pasien
9. bereskan alat-alat
10. Cuci tangan
11. dokumentasi tindakan dan penyimpangan dari luka tersebut

37

Daftar Gambar Teknik dalam pengukuran dan palpasi kehamilan :


Menentukan TFU untuk umur kehamilan
simphisys-fundus

pengukuran jarak

Gafik piameter umbilical dan tinggi fundus uteri

38

Teknik dalam melakukan palpasi

FORRMAT PENILAIAN OSCE

39

(OBJEKTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION)


NO

ASPEK YANG DINILAI

TAHAP PRE INTERAKSI


1. Siapkan alat-alat dan dekatkan kepasien
2. Cuci tangan
3. Pasang sarung tangan jika perlu
TAHAP ORIENTASI
1. memberi salam dan senyum kepada klien
(BHSP)
2. menjelaskan kegiatan dan tujuan yang akan
dilakukan
3. menjelaskan kerahasiaan bila perlu pasang
sampiran
TAHAP KERJA
1. Pemeriksaan kepala
kulit kepala
warna dan distribusi rambut
2. Mata
konjungtiva apakah anemis atau tidak
sklera ikterik atau tidak
3. Mulut
Perhatikan warna bibir, adanya ulkus

atau lesi lesi


Keadaan gigi atau adanya caries
Kebersihan mulut
Selaput lendir mulut: warna,
bengkak, tumor, peradangan, ulkus
4. Leher
Amati adanya distensi vena jugularis
Palpasi adanya pembesaran kelenjar
tiroid
5. Payudara
Inspeksi jika adanya pembesaran pada
payudara
Puting susu
Perhatikan :bentuk, kesimetrisan,

warna kulit, vaskularisasi


6. lakukan palpasi menurut Leopol ( Leopol I, II,
III, IV)
a. LEOPOLD. I

40

TINDAKAN
YA
TIDAK

Pemeriksa bersiri disebelah kanan dan


melihat kearah muka pasien
Pasein diminta untuk menekuk lututnya
sedikit
Dengan kedua belah tangan, raba
bagian saping fundus uteri dengan
memanfaatkan kepekaan jari-jari tangan
tentukan TFU dengan cara
diketengahkan rahim dengan tangan
kanan kemudian tangan kiri diletakkan
pada fundus uteri dan tentukan batasanbatasannya
tentukan bagian janin yang terdapat dalam
fundus

b. LEOPOLD. II
Kedua tangan perawat dipindahkan ke
samping
Tentukan dimana punggung janin.
(punggung janin teraba seperti tekanan
yang lebih keras dan memanjang dari
atas kebawah, sisi lain dapat teraba
bagian kecil kanin
Kadang-kadang disamping terdapat
kepala atau bokong pada letak lintang
NO

ASPEK YANG DINILAI


c. LEOPOLD. III
Dipergunkan 1 tangan
Bagian bawah ditentukan antara ibu jari
dan jari yang lain
Colah apakah bagian bawah masih dapat
digoyang
d. LEOPOLD. IV
Bantu pasien untuk mengatur posis
(meluruskan kaki)
Pemeriksa mengkadap ke kaki pasien
Kedua tangan diletakkan kedua sisi
bagian bawah rahim
Raba dengan sedikit penekanan apakah
terasa bagian terdepan janin telah
masuk P A P atau belum
Bila jari-jari saling bertemu berarti

41

TINDAKAN
YA
TIDAK

terdepan belum turun


Bila jari-jari saling berjauhan atau tidak
bertemu berarti terdepan sudah turun

7. Vulva
Lihat jika ada leukorea
Gatal
Bau atau nyeri
8. Lingkar panggul
distantia spinarum : mengekur jarat
antara spina iliaca anterior superior kiri
dan kaana (23-26cm)
distantia cristarum : mengukur jarak
terjauh antara crista iliaca kanan dan kiri
(26-29cm)
conjugata externa (baudeloque) :
mengukur jarak antara pingir atas
simpisis dan ujung processus spinosus
ruas tulang lumbal ke-V (18-20cm)
ukur tinggi lingkar panggul : mengukur
dari pinggir atas simpisis ke pertengahan
antara spina iliaca anterior superior dan
trochanter major sepihak melalui
tempat-tempat yang sama dipihak yang
lain (80-90 cm)
9. Ekstremitas bawah
Lihat adanya varises
Lihat apakah adanya udema pada kaki
Lakukan pemeriksaan refleks partela
TAHAP TERMINASI
1. Pasien dirapikan Alat-alat dirapikan.
2. Cuci tangan
3. Perhatikan keadaan umum pasien
4. Dokumentasi tindakan

42

BAB VI
PENGUKURAN LINGKAR PANGGUL
A. PENGERTIAN
Suatu tindakan yang digunakan untuk mengukur panggul luar dengan
mempergunakan alat tertentu (jangka panggul) agar dapat mengetahui
panggul sempit atau tidak
B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui ukuran-ukuran panggul-panggul luar dan dapat
dapat member petunjuk akan kemungkinan panggul sempiit
2. Member informasi kepada ibu dan keluarga tentang masalah-masah
yang ditimbulkan karena penyempitan panggul
C. PERSIAPAN ALAT
Jangka panggul
Pita pengukur
Pene dan buku dokumnetasi
D. PROSEDUR KERJA
1. Jelaskan prosedur kepada pasien
2. Cuci tangan
3. Bawa alat kedekat pasien
4. menjaga prifasi pasien dengan membuka bagian yang akan dilakukan
tindakan atau menutup sampiran
5. atur posisi pasien tanpa menghambat bagian yang akan dilakukan
tindakan
6. teknik pengukuran yang terdiri dari
a. distantia spinarum : mengekur jarat antara spina iliaca anterior
superior kiri dan kanan (23-26cm)
b. distantia cristarum : mengukur jarak terjauh antara crista iliaca
kanan dan kiri (26-29cm)
c. conjugata externa (baudeloque) : mengukur jarak antara pingir
atas simpisis dan ujung processus spinosus ruas tulang lumbal keV (18-20cm)

43

d. ukur tinggi lingkar panggul : mengukur dari pinggir atas simpisis


ke pertengahan antara spina iliaca anterior superior dan
trochanter major sepihak melalui tempat-tempat yang sama
dipihak yang lain (80-90 cm)
7. Atur posisi pasien kembali dan rapikan pasien
8. bereskan alat-alat
9. Cuci tangan
10. dokumentasi tindakan dan penyimpangan dari luka tersebut
FORMAT PENILAIAN OSCE
(OBJEKTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION)
NO

ASPEK YANG DINILAI

TAHAP PRE INTERAKSI


4. Siapkan alat-alat dan dekatkan
kepasien
5. Cuci tangan
6. Pasang sarung tangan jika perlu
TAHAP ORIENTASI
7. memberi salam dan senyum kepada
klien (BHSP)
8. menjelaskan kegiatan dan tujuan
yang akan dilakukan
9. menjelaskan waktu yang akan
dibutuhkan
10. menjelaskan kerahasiaan bila perlu
pasang sampiran
11. Atur posisi pasien
TAHAP KERJA
12. teknik pengukuran yang terdiri dari
a. distantia spinarum : mengekur jarat
antara spina iliaca anterior superior kiri
dan kaana (23-26cm)
b. distantia cristarum : mengukur jarak
terjauh antara crista iliaca kanan dan kiri
(26-29cm)
c. conjugata externa (baudeloque) :
mengukur jarak antara pingir atas
simpisis dan ujung processus spinosus
ruas tulang lumbal ke-V (18-20cm)
d. ukur tinggi lingkar panggul : mengukur
dari pinggir atas simpisis ke
pertengahan antara spina iliaca anterior
superior dan trochanter major sepihak

44

TINDAKAN
YA
TIDAK

melalui tempat-tempat yang sama


dipihak yang lain (80-90 cm)
TAHAP TERMINASI
13. Pasien dirapikan Alat-alat dirapikan.
14. Cuci tangan
15. Perhatikan keadaan umum pasien
16. Dokumentasi tindakan

BAB VII
MEMANDIKAN BAYI BARU LAHIR
A. Pengertian
Memebershikan tubuh bayi, membersihkan area genitalia, tali pusat dan
mata dengan dengan menggunakan air hangat (37,8C)
B. Tujuan
1. Mencegah terjadinya infeksi
2. Menjaga kebersihan bayi baru lahir
3. Perawatan tali pusat
C. Persiapan Alat dan bahan
1. Tempat mandi bayi baskom/wadah
2. Handuk bayi
3. Spons atau waslap
4. Alat pengganti popok dan popoknya
5. Pakaian bayi 1 set
6. Celemek palstik
7. Kasa dan kapas lidi steril dalam tempatnya
8. Air panas dan air dingin (bukan air es)
9. Pengikat tali pusat steril
10. Gunting perban dan perban
11. Sabun cair khusus bayi
12. Sarung tangan (jika perlu)
13. Termometer air (jika perlu)
D. Prosedur
a. Dapatkan persetujuan tindakan dari orang tua bayi
b. Siapkan alat-alat dan ruangan
c. Cuci tangan dan gunakan celemek (pakai sarung tangan jika perlu)

45

d. Isi baskom atau wadah dengan air


dan periksa suhu air
(menggunakan termometer jika perlu)
e. Buka pakaian bayi, biarkan popok tetap terpasang dan selimut mandi
bayi dengan handuk
f. Basuh wajah bayi dengan air bersih dan gunakan waslap/spons jangan
mengenai mata (bila perlu gunakan sabun cair khusus bayi) untuk
membersih kotoran yang menempel ditubuh bayi
g. Buka popok bayi, bersihkan daerah genitalia bila perlu
h. Masukkan kembali bayi kedalam air untuk membilasnya kembali.
Gunakan tangan dominan untuk melakukan tindakan pada anggota
badan secara menyeluruh
i. Basuh punggung bayi
j. Angkat bayi dengan meggunakan kedua tangan
k. Selimut bayi dengan handuk
l. Keringkan wajah dengan handuk dengan menepuk secara perlahanlahan. Bila perlu pada daerah sekitar mata, mulut, hidung dan lubang
telinga dari sisa air dengan kapas sublimat atau handuk dan jika
dilakukan cuci rambut bayi dengan air, gosok seluruh rambut bayi
secara perlahan-lahan (dapat dilakukan pada kasur atau pangkuan
perawat)
m. Setelah selesai membersihkan,
n. Pakaikan pakaian bayi dengan tepat dan lengkap barulah diserahkan
kembali bayi ke orang tuanya atau ditempatkan ditempat tidur.
o. Buang air bekas mandi bayi dan bereskan alat-alat
p. Lepaskan sarung tangan jika digunakan dan celemek yang telah
dipakai
q. Cuci tangan
r. Evaluasi bayi dan dokumentasi
E. Hal hal yang harus diperhatikan
1. Jangan biarkan bayi direndam terlalu lama didalam air
2. Gunakan sabun cair khusus untuk bayi
3. Pertahankan tubuh bayi tetap hangat
4. Lakukan perawatan tali pusat dengan baik setelah dimandikan bayi
5. Jangan terlalu membasahi daerah wajah bayi (kalau basah dikeringkan
dengan waslap secara cepat)

46

FORMAT PENILAIAN OSCE


(OBJEKTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION)
NO

ASPEK YANG DINILAI

TAHAP PRE INTERAKSI


17. Siapkan alat-alat dan dekatkan
kepasien
18. Cuci tangan
19. Pasang sarung tangan jika perlu
TAHAP ORIENTASI
20. memberi salam dan senyum kepada
orang tua bayi (bhsp)
21. menjelaskan kegiatan dan tujuan
yang akan dilakukan
22. menjelaskan waktu yang akan
dibutuhkan
23. menjelaskan kerahasiaan bila perlu
pasang sampiran
24. atur posisi pasien
TAHAP KERJA
25. Isi baskom atau wadah dengan air
dan periksa suhu air (menggunakan
termometer jika perlu)
26. Buka pakaian bayi, biarkan popok
tetap terpasang dan selimut mandi
bayi dengan handuk
27. Basuh wajah bayi dengan air bersih
dan gunakan waslap/spons jangan
mengenai mata (bila perlu gunakan
sabun cair khusus bayi) untuk
membersih kotoran yang menempel
ditubuh bayi

47

TINDAKAN
YA
TIDAK

28. Buka popok bayi, bersihkan daerah


genitalia bila perlu
29. Masukkan kembali bayi kedalam air
untuk membilasnya kembali.
Gunakan tangan dominan untuk
melakukan tindakan pada anggota
badan secara menyeluruh
30. Basuh punggung bayi
31. Angkat bayi dengan meggunakan
kedua tangan
32. Selimut bayi dengan handuk
33. Keringkan wajah dengan handuk
dengan menepuk secara perlahanlahan. Bila perlu pada daerah sekitar
mata, mulut, hidung dan lubang

NO

ASPEK YANG DINILAI


34. telinga dari sisa air dengan kapas
sublimat atau handuk dan jika
dilakukan cuci rambut bayi dengan
air, gosok seluruh rambut bayi
secara perlahan-lahan (dapat
dilakukan pada kasur atau pangkuan
perawat)
35. Setelah selesai membersihkan,
36. Pakaikan pakaian bayi dengan tepat
dan lengkap barulah diserahkan
kembali bayi ke orang tuanya atau
ditempatkan ditempat tidur.
Buang air bekas mandi bayi dan bereskan
alat-alat
TAHAP TERMINASI
37. Pasien dirapikan Alat-alat dirapikan.
38. Cuci tangan
39. Perhatikan keadaan umum pasien
40. Dokumentasi tindakan

48

TINDAKAN
YA
TIDAK

BAB VIII
PEMBERIAN IMUNISASI
A.

PENGERTIAN
Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif
adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan
atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi
antibodi sendiri. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah
antibodi, sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat

B.

TUJUAN
:
1. Untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar dapat mencegah
penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh
penyakit yang sering berjangkit.
2. Sebagai Pedoman kerja Petugas Imunisasi dalam memberikan
Imunisasi pada bayi.

C.

MANFAAT IMUNISASI :
1. Untuk Anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit,
dan kemungkinan cacat atau kematian.
2. Untuk Keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan
bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua
yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang
nyaman.

49

3. Untuk Negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa


yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara.
D.

SASARAN
:
Petugas Imunisasi dalam mempersiapkan alat / sarana, vaksin serta
kesiapan petugas dalam pemberian Imunisasi kepada bayi
( penyuntikan ).

E.

DIMANA MENDAPATKAN IMUNISASI?


1. Di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)
2. Di Puskesmas, Rumah Sakit Bersalin, BKIA atau Rumah Sakit
Pemerintah.
3. Di Praktek Dokter/Bidan atau Rumah Sakit Swasta
URAIAN UMUM
:
Persiapan alat
:
Spuit lengkap, alat
sterilisator, kapas air hangat.
Persiapan Vaksin
: Vaksin yang sesuai dengan
sasaran dimasukkan dalam termos es ( vaksin carier ).
Persiapan sasaran
: Pemberitahuan kepada orang
tua bayi ( sasaran ) tempat penyuntikan dan efek sampingnya.
Pemberian Imunisasi : Pengambilan vaksin sesuai
dengan dosisnya.
Desinfeksi pada tempat yang akan disuntik.
Pemberian Imunisasi sesuai dengan jenis vaksin sbb :
BCG
: Intra cutan, dosis 0,05 cc.
Polio
: Tetes mulut, dosis 2 tetes.
DPT, HB, Campak : Subcutan, dosis 0,5 cc.
Pemberian obat antipiretik untuk imunisasi DPT,
dijelaskan cara dan dosis pemberian.
Memberikan Informasi kepada orang tua bayi
mengenai jadwal imunisasi berikutnya.
Pencatatan / pelaporan : Imunisasi yang diberikan
dicatat dalam buku catatan imunisasi dan Buku KIA / KMS.

F.

G.

5 JENIS VAKSIN YANG WAJIB


DIBERIKAN OLEH BAYI SEBELUM USIA SETAHUN
1. Imunisasi BGC
Imunisasi BCG, Ketahanan terhadap penyakit TB (Tuberkulosis)
berkaitan dengan keberadaan virus tubercle bacii yang hidup
didalam darah. Itulah mengapa agar memiliki kekebalan aktif,
dimasukkan jenis basil tak berbahaya ini ke dalam tubuh, alias
vaksinasi BCG (Bacillus Celmette-Guerin)
Jumlah Pemberian Imunisasi BCG Cukup 1 kali saja, tak perlu
diulang (booster). Sebab vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga

50

antibodi yang dihasilkannya tinggi terus. Berbeda dengan vaksin


berisi kuman mati, sehingga memerlukan pengulangan.
Usia Pemberian Imunisasi BCG
Dibawah usia 2 bulan. Jika baru diberikan setelah usia 2 bulan,
disarankan tes Mantoux (tuberkulin) dahulu untuk mengetahui
apakah si bayi sudah kemasukan kuman Mycrobacterium
tuberculosis atau belum. Vaksinasi dilakukan bila hasil tesnya
negatif. Jika ada penderita TB yang tinggal serumah atau sering
bertandang ke rumah, segera setelah lahir si kecil diimunisasikan
BCG
Lokasi Penyuntikan
Lengan kanan atas, sesuai anjuran WHO. Meski ada juga petugas
medis yang melakukan penyuntikan di paha.
Efek Samping
Umumnya tidak ada. Namun pada beberapa anak timbul
pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak atau leher bagian
bawah (atau selangkangan bila penyuntikan dilakukan di paha).
Biasanya akan sembuh sendiri.
Tanda Keberhasilan
Muncul bisul kecil dan bernanah di daerah bekas suntikan setelah
4-6 minggu. Tidak menimbulkan nyeri dan tidak diiringi panas.
Bisul akan sembuh sendiri dan meninggalkan luka parut.Jika bisul
tak muncul, jangan cemas. Bisa saja dikarenakan cara
penyuntikan yang salah, mengingat cara penyuntikan perlu
kehlian khusus karena vaksin harus masuk ke dalam kulit. Apalagi
bila dilakukan di paha, proses menyuntiknya lebih sulit karena
lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal. Jadi,
medki bisul tak muncul, antibodi tetap terbentuk, hanya saja
dalam kadar rendah. Imunisasi BCG pun tak perlu diulang, karena
di daerah endemis TB, infeksi alamiah akan selalu ada. Dengan
kata lain, anak akan mendapat vaksinasi alamiah.
Indikasi Kontra
Tak dapat diberikan pada anak berpenyakit TB atau menunjukkan
Mantoux positif
2. Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi Hepatitis B, Imunisasi ini merupakan langkah efektif
untuk mencegah masuknya VHB, yaitu virus penyebab penyakit
hepatitis B. Hepatitis B dapat menyebabkan sirosis atau
pengerutan hati, bahkan lebih buruk lagi mengakibatkan kanker
hati. Malangnya, tak ada gejala khas yang tampak secara kasat
mata. Bahkan oleh dokter sekalipun. Fungsi hati kadang tak
terganggu meski sudah mengalami sirosis. Anak juga terlihat
sehat, nafsu makan baik, berat badan juga normal. Penyakit baru
diketahui setelah dilakukan pemeriksaan darah.

51

Jumlah Pemberian:
Sebanyak 3 kali, dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama
dan kedua, kemudian 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga.
Usia Pemberian
Sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir. Dengan syarat, kondisi
bayi stabil, tak ada gangguan pada paru-paru dan jantung.
Dilanjutkan pada usia 1 bulan, dan usia 3-6 bulan. Khusus bayi
yang lahir dari ibu pengidap VHB, selain imunisasi tsb dilakukan
tambahan dengan imunoglobulin antihepatitis B dalam waktu
sebelum usia 24 jam.
Lokasi Penyuntikan:
Pada anak di lengan dengan cara intramuskuler. Sedangkan pada
bayi di paha lewat anterolateral (antero= otot-otot bagian depan,
lateral= otot bagian luar). Penyuntikan di bokong tidak dianjurkan
karena bisa mengurangi efektivitas vaksin.
Efek Samping:
Umumnya tak terjadi. Jikapun ada (jarang) berupa keluhan nyeri
pada bekas suntikan, yang disusul demam ringan dan
pembengkakan. Namun rekasi ini akan menghilang dalam waktu
dua hari.
Tanda Keberhasilan:
Tak ada tanda klinis yang dapat dijadikan patokan. Namun dapat
dilakukan pengukuran keberhasilan melalui pemeriksaan darah
dengan mengecek kadar hepatitis B-nya setelah anak berusia
setahun. Bila kadarnya di atas 1000, berarti daya tahanya 8
tahun; diatas 500, tahan 5 tahun; diatas 200 tahan 3 tahun.
Tetapi kalau angkanya cuma 100, maka dalam setahun akan
hilang. Sementara bila angkanya 0 berarti si bayi harus disuntik
ulang 3 kali lagi.
Tingkat Kekebalan:
Cukup tinggi, antara 94-96%. Umumnya setelah 3 kali suntikan,
lbih dari 95% bayi mengalami respons imun yang cukup.

3. Imunisasi Polio
Imunisasi Polio, Imunisasi polio akan memberikan kekebalan
terhadap serangan virus polio. Penyakit akibat virus ini dapat
menyebabkan kelumpuhan.
Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak
mendadak lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah
demam selama 2-5 hari. Terdapat 2 jenis vaksin yang beredar,
dan di Indonesia yang umum diberikan adalah vaksin Sabin
(kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya melalui mulut. Di
beberapa negara dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT
dan polio. Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau
berumur beberapa hari dan selanjutnya diberikan setiap 4-6
minggu. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan

52

dengan BCG, vaksin hepatitis B, dan DPT. Imunisasiulangan


diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT Pemberian
imunisasi polio akan menimbulkan kekebalan aktif terhadap
penyakit Poliomielitis. Imunisasi polio diberikan sebanyak empat
kali dengan selang waktu tidak kurang dari satu bulan
imunisasi ulangan dapat diberikan sebelum anak masuk sekolah
( 5 6 tahun ) dan saat meninggalkan sekolah dasar ( 12
tahun ).Cara memberikan imunisasi polio adalah dengan
meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung kedalam
mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang dicampur
dengan gula manis. Imunisasi ini jangan diberikan pada anak
yang lagi diare berat. Efek samping yang mungkin terjadi sangat
minimal dapat berupa kejang-kejang.

4. Imunisasi DPT
Imunisasi DTP, Dengan pemberian imunisasi DTP, diharapkan
penyakit difteri, tetanus, dan pentusis, menyingkir jauh dari tubuh
si kecil.
Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
bakteri Corynebacterium Diphteriae. Mudah menular dan
menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan gejala
Demam tinggi, pembengkakan pada amandel ( tonsil ) dan
terlihat selaput puith kotor yang makin lama makin membesar
dan dapat menutup jalan napas. Racun difteri dapat merusak otot
jantung yang dapat berakibat gagal jantung. Penularan umumnya
melalui udara ( betuk / bersin ) selain itu dapat melalui benda
atau makanan yang terkontamiasi.
Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan
dengan tetanus dan pertusis sebanyak tiga kali sejak bayi
berumur dua bulan dengan selang penyuntikan satu dua bulan.
Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif
terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu
bersamaan. Efek samping yang mungkin akan timbul adalah
demam, nyeri dan bengkak pada permukaan kulit, cara
mengatasinya cukup diberikan obat penurun panas .
5. Imunisasi Campak
Imunisasi Campak, Sebenarnya bayi sudah mendapatkan
kekebalan campak dari ibunya. Namun seiring bertambahnya
usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh
antibodi tambahan lewat pemberian vaksin campak. Penyakit ini
disebabkan oleh virus Morbili.
Campak adalah penyakit yang sangat menular yang dapat
disebabkan oleh sebuah virus yang bernama Virus Campak.
Penularan melalui udara ataupun kontak langsung dengan
penderita.Gejala-gejalanya adalah : Demam, batuk, pilek dan

53

H.

bercak-bercak merah pada permukaan kulit 3 5 hari setelah


anak menderita demam. Bercak mula-mula timbul dipipi bawah
telinga yang kemudian menjalar ke muka, tubuh dan anggota
tubuh lainnya.
Komplikasi dari penyakit Campak ini adalah radang Paru-paru,
infeksi pada telinga, radang pada saraf, radang pada sendi dan
radang pada otak yang dapat menyebabkan kerusakan otak yang
permanen ( menetap ).
Pencegahan adalah dengan cara menjaga kesehatan kita dengan
makanan yang sehat, berolah raga yang teratur dan istirahat
yang cukup, dan paling efektif cara pencegahannya adalah
dengan melakukan imunisasi. Pemberian Imunisasi akan
menimbulkan kekebalan aktif dan bertujuan untuk melindungi
terhadap penyakit campak hanya dengan sekali suntikan, dan
diberikan pada usia anak sembilan bulan atau lebih.

LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN :
Petugas Imunisasi menerima kunjungan bayi
sasaran Imunisasi yang telah membawa Buku KIA / KMS di Ruang
Imunisasi setelah mendaftar di loket pendaftaran.
2.
Petugas memriksa status Imunisasi dalam
buku KIA / KMS dan menentukan jenis imunisasi yang akan diberikan.
3.
Petugas menanyakan keadaan bayi kepada
orang tuanya ( keadaan bayi yang memungkinkan untuk diberikan
imunisasi atau bila tidak akan dirujuk ke Ruang Pengobatan ).
4.
Petugas menyiapkan alat ( menyeteril alat
suntik dan kapas air hangat ).
5.
Petugas
menyiapkan
vaksin
(
vaksin
dimasukkan ke dalam termos es ).
6.
Petugas
menyiapkan
sasaran
( memberitahukan kepada orang bayi tentang tempat penyuntikan.
7.
Petugas
memberikan
Imunisasi
( memasukkan vaksin ke dalam alat suntik, desinfeksi tempat suntikan
dengan kapas air hangat, memberikan suntikan vaksin / meneteskan
vaksin sesuai dengan jadwal imunisasi yang akan diberikan.
8.
Petugas melakukan KIE tentang efek samping
pasca imunisasi kepada orang tua bayi sasaran imunisasi.
9.
Petugas memberikan obat antipiretik untuk
imunisasi DPT, dijelaskan cara dan dosis pemberian.
10.
Petugas memberitahukan kepada orang tua
bayi mengenai jadwal imunisasi berikutnya.
11.
Petugas mencatat hasil imunisasi dalam Buku
KIA / KMS dan Buku Catatan Imunisasi serta rekapitulasi setiap akhir
bulannya.
1.

54

ALUR PELAYANAN IMUNISASI DI RUANG IMUNISASI


BAYI SEHAT

LOKET
PENDAFTARAN

MASUK RUANG
KIA / GIZI

RUANG IMUNISASI
ANAMNESA
Kelengkapan KMS / Buku KIA.
Keadaan Umum.
Riwayat Imunisasi

TIMBANG BB

PEMERIKSAAN KEADAAN UMUM BAYI

PEMBERIAN IMUNISASI
Penyiapan alat dan vaksin.
Vaksin dihisap ke dalam spuit sesuai ketentuan dosis.
Desifeksi tempat penyuntikan dengan kapas air hangat.
Vaksin disuntikkan sesuai jenisnya ( vaksin Polio diteteskan peoral )
Pemberian Antipiretik.

PENYULUHAN
Efek samping Imunisasi.
Kembali bila ada keluhan.
Jadwa imunisasi berikutnya.

PENCATATAN DAN PELAPORAN

PASIEN PULANG

FORMAT PENILAIAN OSCE

55

(OBJEKTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION)


NO

ASPEK YANG DINILAI

TAHAP PRE INTERAKSI


41. Siapkan alat-alat dan dekatkan
kepasien
42. Cuci tangan
43. Pasang sarung tangan jika perlu
TAHAP ORIENTASI
44. memberi salam dan senyum kepada
klien (BHSP)
45. menjelaskan kegiatan dan tujuan
yang akan dilakukan
46. menjelaskan waktu yang akan
dibutuhkan
47. menjelaskan kerahasiaan bila perlu
pasang sampiran
TAHAP KERJA
48. Suntikan Intrakutan
49. Alat-alat didekatkan ke samping
pasien
50. Tentukan area yang akan diberikan
obat
51. Bebaskan daerah yang akan
dilakukan penyuntikan
52. Pasang perlak/pengalas pada bawah
daerah yang akan dilakukan injeksi
intrakutan.
53. Ambil obat yang akan dilakukan tes
alergi. Kemudian larutkan atau
ecncerkan dengan Aguadest (cairan
pelarut) ambil 0,55 cc dan encerkan
dengan lagi dengan samapi 1 cc, lalu
siapkan pada bak steril (bak injeksi).
54. Desinfeksi dengan kapal alkohol
diaerah yang akan dilakukan
penyuntikan
55. Tegangkan daerah penyuntikan
dengan tangan kiri.
56. Lakukan penyuntikan dengan lubang
jarum menghadap ke atas
membentuk sudut 15-200 terhadap
permukaan kulit.
57. Masukkan obat sampai terjadi

56

TINDAKAN
YA
TIDAK

gelembung
58. Tarik spoit dan tidak boleh dilakukan
masase.
59. Suntikan Subkutan
60. Alat-alat didekatkan keasmping
pasien

NO

ASPEK YANG DINILAI


61. Tentukan dan bebaskan area yang
akan di berikan suntikan
62. permukaan kulit didesinfeksi,lalu
diangkat sedikit dengan tangan kiri
63. Jarum ditusukkan dengan lubangnya
menghadap ke atas dan membentuk
susdut 45o dengan permukaan kulit
Tarik spoit dan tahan dengan kapas alkohol.
Spoit bekas suntikan dimasukan ke dalam
bengkok
TAHAP TERMINASI
64. Pasien dirapikan Alat-alat dirapikan.
65. Cuci tangan
66. Perhatikan keadaan umum pasien
67. Dokumentasi tindakan

57

TINDAKAN
YA
TIDAK

58

DAFTAR PUSTAKA
Asih Niluh Gede Yasmin, Effendy Christantie. 2003. Keperawatan Medikal
Bedah : Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan.
EGC : Jakarta
Brenda Goordner RN, MSN, CS dan Linda Skidmore-Roth, RN, MSN, Panduan
Tindakan Keperawatan Kritis Praktis, Seri Pedoman Praktis, Jakarta : EGC
Brenda Goordner RN, MSN, CS dan Linda Skidmore-Roth, RN, MSN, Panduan
Tindakan Keperawatan Kritis Praktis, Seri Pedoman Praktis, Jakarta : EGC
Departemen Kesehatan PPSDM Kesehatan Pusat Pendidikan Tenaga
kesehatan 2006. Kurikulum Inti Pendidikan D.III Keperawatan Buku B, Bakti
Husada, Jakarta.
dr. Hendra Utama, Sp.FK 2007, EKG dan Penanggulangan beberapa penyakit
jantung untuk dokter umum, FKUI, Jakarta.
dr. Hendra Utama, Sp.FK 2007, EKG dan Penanggulangan beberapa penyakit
jantung untuk dokter umum, FKUI, Jakarta.
Eli Nurachman, 2001, Buku Saku Prosedur Dasar Keperawatan Medikal
Bedah, Jakarta : EGC
Hidayat A.Aziz Alimul, Uliyah Musfiratul, (2005), Buku Saku Kebutuhan Dasar
Manusia, ECG : Jakarta.
JKPN-KR, 2004, Asuhan Persalinan Normal, Edisi Baru dengan Resusitasi,
Depkes RI, Jakarta
Kusyati Eni dkk (2006), Ketrampilan dan Prosedur Laboratorium Keperawatan
Dasar, ECG : Jakarta.
Ningsih R.Atih, 2005, Standar Kompetensi Mata Ajar KDM Program D-III.
Keperawatan, Provinsi DKI Jakarta, Jakarta
Ns. Eni K, S.Kep.dkk (2002). Keterampilan dan Prosedur Laboratorium, Jakarta
: EGC
Nurachmah Elly, Sudarsono Ratna S. 2000. Buku Saku Prosedur Keperawatan
Medikal Bedah. EGC : Jakarta
Perry dan Potter, Buku Saku Keterampilan Prosedur Dasar, Edisi ketiga,
Jakarta : EGC
Potter dan Perry, 2006, Buku Ajar Fundamental Keperawatan edisi keempat,
EGC, Jakarta.
Potter dan Perry, 2006, Buku Ajar Fundamental Keperawatan edisi keempat,
EGC, Jakarta.
Sacharin M. Rosa, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi 2, Buku
Kedokteran EGC. Jakarta
Skills Lab, 2006, Program B. PSIK Fak. UGM Jogyakarta