Anda di halaman 1dari 3

KEJANG DEMAM

Tanda dan gejala :


Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengn kenaikan
suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan saraf pusat,
misalnya tonsilitis, otitis media akuta, bronkitis, furunkulosis, dan lain-lain. Serangan kejang
biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat
bangkitan kejang dapat berbentuk tonik-klonik bilateral, tonik, klonik, fokal atau akinetik.
Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik keatas dengan disertai kekakuan
atau kelemahan, gerakan semakin berulang tanpa didahului kekakuan atau hanya sentakan atau
kekakuan fokal (Soetomenggolo, 2010).
Sebagian kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang dari 8% berlangsung lebih dari
15 menit. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti anak tidak memberi reaksi
apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit, anak kembali terbangun dan
sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang dapat diikuti hemiparesis sementara (hemiparesis
Todd) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang unilateral yang lama dapat
diikuti oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang lama lebih sering terjadi pada
kejang demam yang pertama. Jika kejang tunggal berlangsung kurang dari 5 menit, maka
kemungkinan cedera otak atau kejang menahun adalah kecil (Mansjoer, 2011).
Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada penderita yang
sebelumnya normal. Kelainan neurologis terjadi pada sebagian kecil penderita, ini biasanya
terjadi pada penderita dengan kejang lama atau berulang baik umum atau fokal. Gangguan
intelek dan gangguan belajar jarang terjadi pada kejang demam sederhana. IQ lebih rendah
ditemukan pada penderita kejang demam yang berlangsung lama dan mengalami komplikasi.
Risiko retardasi mental menjadi 5 kali lebih besar apabila kejang demam diikuti terulangnya
kejang tanpa demam (Sastroamoro, 2011).

DAPUS :
1. Sastroasmoro, S, dkk, Panduan Pelayanan Medis Departmen Ilmu Penyakit Anak.
Cetakan Pertama. RSUP Nasional Dr Ciptomangunkusumo. Jakarta: 2011; Hal 252
2. S, Soetomenggolo; Taslim; Ismail,S. Buku Ajar Neurologis Anak. Cetakan Kedua. BP.
IDAI. Jakarta: 2010; Hal 244-251.
3. Mansjoer, A; Suprohaita; Wardhan, W.I; Setiowulan, W. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid
2. Edisi Ketiga. Media Aesculapius. FK UI. Jakarta: 2011; Hal 434-437.
Pemeriksaan Fisik
Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya kejang pada seorang anak yang mengalami demam
dan sebelumnya tidak ada riwayat epilepsi. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik yang perlu
dilakukan pada anak, yaitu (Behrman, 2009):
1. Pengukuran pertumbuhan : Berat badan, tinggi badan, lingkar kepala
2. Pengukuran fisiologis : Suhu biasanya di atas 38 C, nadi cepat, pernafasan
(mungkin dyspnea nafas pendek, nafas cepat, sianosis)
3. Keadaan umum : Pasien tampak lemah, malaise
4. Kulit : Turgor kulit dan kebersihan kulit
5. Kepala : Bagaimana kebersihan kulit kepala dan warna rambut serta
kebersihannya
6. Mata : Konjungtiva, sklera pucat / tidak, pupil dan palpebra
7. Telinga : Kotor / tidak, mungkin ditemukan adanya Otitis Media Akut / Kronis
8. Hidung umumnya tidak ada kelainan
9. Mulut dan tenggorokan : Bisa dijumpai adanya tonsillitis
10. Dada : Simetris / tidak, pergerakan dada

11. Paru paru : Bronchitis kemungkinan ditemukan


12. Jantung : Umumnya normal
13. Abdomen : Mual mual dan muntah
14. Genetalia dan anus : Ada kelainan / tidak
15. Ekstremitas : Ada kelainan / tidak.
Setelah selesai mengumpulkan data maka selanjutnya data tersebut dikelompokkan.
Pengelompokan data dapat dibagi atas data dasar dan data khusus (Carpenito, 2009). Data
dasar terdiri dari data fisiologis, data psikologis, data sosial dan spiritual. Sedangkan data
khusus adalah data yang bersifat khusus, misalnya pemeriksaan laboratorium,
pemeriksaan rontgen dan sebagainya.

DAPUS :
1. Behrman, Kliegman, Arvinka. Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Vol 3. Edisi 15.
EGC. Jakarta: 2009;
2. Carpenito, 2009:772, Diagnosis Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis.
EGC: Jakarta.