Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN
Penyakit paru eosinofilik jarang ditemukan dan angka kejadian pasti
belum diketahui. Khusus idiopathic chronic eosinophilic pneumonia kemungkinan
kurang dari 0,1 kasus/100 000 populasi/tahun.
Eosinofil merupakan leukosit polimorfonuklear yang mengandung
beberapa protein spesifik dalam granula di sitoplasmanya. Ada dua tipe granula
sitoplasmik dalam eosinofil, yaitu granula besar yang mengandung suatu elektron
matriks kristaloid padat berisi protein kationik, dan granula amorf kecil yang
mengandung arysulfatase dan asam fosfatase. Eosinofil diproduksi oleh sumsum
tulang atas peran sitokin terutama interleukin-5(IL-5), interleukin-3 (IL-3) dan
granulocyte macrophage colony-stimulating factor (GMC-SF). Setelah 2-6 hari,
eosinofil yang matur akan meninggalkan sumsum tulang dan masuk dalam
sirkulasi darah sebelum ke jaringan target melalui proses yang kompleks yaitu
adhesi, penarikan, diapedesis, dan kemotaksis.
Eosinofil juga melepaskan sitokin proinflamasi, asam arakidonat, berbagai
enzim, dan reactive oxygen species (ROS). Eosinofil dapat berperan sebagai suatu
sel efektor tingkat akhir dan memainkan peranan khusus dalam mekanisme
pertahanan inang (host). Eosinofil terkadang dapat membahayakan inang karena
melepaskan protein spesifik yang bersifat sitotoksik. Protein ini diantaranya
adalah protein yang membentuk Charcot-Leyden crystals yaitu suatu kristal
bipiramidal. Adanya kristal ini di sputum dan jaringan merupakan penanda
penyakit yang berhubungan dengan eosinofila.
Nilai normal eosinofil dalam darah berkisar antara 50-250/uL dan dalam
cairan bronchoalveolar lavage (BAL) adalah <1%. Peningkatan eosinofil sampai
20% dalam cairan BAL merupakan temuan yang tidak spesifik serta menunjukkan
variasi dari penyakit paru interstisial. Peningkatan eosinofil >20% dalam cairan
BAL terdapat pada acute and chronic eosinophilic pneumonia, Churg-Strauss
syndrome, idiopathic hypereosinophilic syndrome, parasitic infestations dan drug
reaction.